Beranda blog Halaman 178

Silaturahmi dan Evaluasi Produktif Hidayatullah Sultra Perkuat Misi Dakwah

0

KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Semangat persaudaraan dan optimisme mewarnai acara Silaturahmi Dai dan Evaluasi Semester Ganjil Hidayatullah se-Sulawesi Tenggara (Sultra) tahun 2024 di Konawe Kepulauan, Ahad, 15 Muharam 1446 (21/7/2024).

Acara yang digelar di Villa Pantai Kampa, Kabupaten Konawe Kepulauan ini menjadi ajang berkumpulnya berbagai tokoh penting Hidayatullah Sultra, termasuk perwakilan pemerintah daerah.

Bupati Konawe Kepulauan, H. Amrullah, menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi Hidayatullah dalam bidang pendidikan Islam di wilayahnya.

“Hidayatullah telah menjadi mitra penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Konawe Kepulauan,” ujar Bupati Amrullah.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara, Ahmad Syahroni, mengajak seluruh dai untuk terus bersemangat dalam menyebarkan kebaikan. “Mindset berpikir optimis adalah kunci dalam menjalankan misi dakwah kita,” tegasnya.

Syahroni mengatakan acara ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi momen refleksi dan evaluasi terhadap program-program yang telah dilaksanakan selama semester ganjil.

Dengan tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi Dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi Dan Integrasi Sistemik”, acara ini diharapkan dapat menjadi pijakan untuk meningkatkan kinerja Hidayatullah dalam menyebarkan dakwah dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Dengan semangat kebersamaan dan dukungan dari berbagai pihak, lanjut Syahroni, Hidayatullah Sulawesi Tenggara optimis dapat terus melangkah maju dalam menjalankan misi dakwahnya. “Semoga semangat ini terus menginspirasi dan memberikan manfaat bagi umat,” tandasnya.*/Herim

Berbagi di Bulan Muharram Bahagiakan Keluarga Mualaf di Kampung Timur

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Semangat berbagi dan kepedulian mewarnai bulan Muharram di bilangan Kampung Timur, Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), pada Senin, 16 Muharam 1446 (22/7/2024).

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), melalui program “Muharram Berbagi”, membawa kebahagiaan bagi 8 keluarga mualaf yang tinggal di daerah tersebut.

Wajah-wajah sumringah terpancar dari para penerima manfaat saat menerima paket sembako dari BMH. Bapak Herman, koordinator mualaf Kampung Timur, mewakili mereka mengungkapkan rasa syukur dan bahagia atas bantuan yang diberikan.

“Terima kasih kepada BMH atas perhatian dan kepeduliannya. Bantuan ini sangat berarti bagi kami,” ujarnya dengan penuh haru.

Zaini Akbar, Koordinator BMH Gerai Nunukan, dan timnya turut merasakan kebahagiaan yang sama.

“Kami sangat senang bisa berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara mualaf di Kampung Timur. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban mereka dan memberikan semangat baru dalam menjalani kehidupan,” ungkapnya.

Program “Muharram Berbagi” ini merupakan wujud nyata komitmen BMH dalam membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama di bulan Muharram yang penuh berkah.

Bantuan sembako ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga mualaf dan memberikan mereka semangat untuk terus belajar dan berkembang.

BMH percaya bahwa setiap kebaikan yang diberikan akan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Kami berharap semangat berbagi ini terus menginspirasi kita semua untuk terus peduli dan memberikan yang terbaik bagi sesama menghadirkan makna dan kepedulian untuk kebahagiaan yang luas dan menggerakkan,” tutup Zaini.*/Herim

Sumur Bor Baru Sumber Kebahagiaan dan Harapan di Pondok Miftahul Ulum

0

BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Tawa riang dan wajah-wajah ceria santri Pondok Miftahul Ulum di Dusun Tulung, Desa Karangan, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, menjadi pemandangan yang mengharukan.

Mereka tengah merayakan hadirnya air bersih yang melimpah dari sumur bor baru yang dibangun oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Sumur bor ke-158 distribusi BMH di Jawa Timur ini bukan hanya sekadar sumber air, tetapi juga sumber kebahagiaan dan harapan bagi 122 santri dan warga sekitar.

“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa menikmati air bersih dengan mudah,” ujar Kyai Agus Wafa, pengasuh pondok pesantren, dengan mata berkaca-kaca.

“Sebelumnya, kami harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih. Kini, semua aktivitas di pondok menjadi lebih lancar dan nyaman,” sambungnya

Sumur bor ini bukan hanya memenuhi kebutuhan air minum dan sanitasi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kegiatan belajar mengajar di pondok.

Para santri kini dapat lebih fokus belajar dan mengembangkan potensi mereka tanpa harus khawatir akan kesulitan air bersih.

Imam Muslim, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan program ini.

“Kami sangat terharu melihat kebahagiaan para santri. Ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian kita dapat memberikan manfaat yang besar bagi mereka yang membutuhkan.”

Program pembangunan sumur bor ini merupakan bagian dari komitmen BMH untuk terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah-daerah yang kesulitan mendapatkan air bersih.

BMH berharap, sumur bor ini dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat di sekitar Pondok Miftahul Ulum.

“Kami percaya bahwa akses air bersih adalah hak dasar setiap manusia. Melalui program ini, kami ingin berkontribusi dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat,” tambah Imam Muslim.*/Herim

Menjaga Generasi Perempuan Kita Agar Tidak Menjadi Fitnah

SEPERTINYA tidak ada tema yang lebih kontroversial untuk diperbincangkan selain “wanita”. Para Nabi, ulama’, penyair, filosof, politikus, dan kalangan awam pun membahasnya.

Bahkan, salah satu surah Al-Qur’an dinamai An-Nisa’ (para wanita), sementara tidak ada yang dinamai Ar-Rijal (para lelaki). Banyak peristiwa besar juga bermula dari atau melibatkan mereka. Sejak kejatuhan Nabi Adam dari surga, perseteruan antara Qabil dan Habil, dan terus berlanjut hingga kini dalam aneka variasinya.

Namun di saat bersamaan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa hanya ada dua bagian dari dunia ini yang mana beliau telah dibuat sangat menyukainya, yaitu wanita dan wewangian.

Beliau bersabda, “Aku telah dijadikan (oleh Allah) menyukai bagian dari dunia ini, yaitu wanita dan wewangian. Dan penyejuk mataku telah dijadikan (oleh Allah) di dalam shalat.” (Riwayat an-Nasa’i, dari Anas. Hadits hasan-shahih).

Dalam hadits lain, beliau ternyata sangat menghargai anak perempuan. Siapa saja yang merawat anak-anak perempuannya dengan baik dijanjikan pahala sangat besar, sebagaimana sabdanya:

“Barangsiapa yang membesarkan dan mendidik dua orang anak perempuan sampai mereka baligh, maka ia akan datang pada Hari Kiamat nanti sedangkan aku dan dia (seperti ini).” Beliau merapatkan jari-jemarinya. (Riwayat Muslim, dari Anas).

Akan tetapi, di lain kesempatan, beliau justru mewanti-wanti umatnya agar berhati-hati terhadap para wanita, sebagaimana dinyatakan dalam sabdanya: “Aku tidak meninggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki selain para wanita.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Usamah bin Zaid).

Dengan nada lebih keras, beliau pernah memperingatkan umatnya perihal dahsyatnya fitnah wanita itu, yang bahkan telah menghancurkan umat terdahulu:

“Sungguh dunia ini ‘manis’ lagi ‘hijau’, dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian beramal. Maka, berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan para wanita, sebab awal mula fitnah di kalangan Bani Israil adalah pada wanita.” (Riwayat Muslim, dari Abu Sa’id).

Dalam kesempatan shalat Idul Fitri atau Idul Adha, Rasulullah pun pernah berpesan kepada kaum wanita agar banyak-banyak bersedekah, sebab beliau melihat mayoritas penghuni neraka adalah wanita. (Riwayat Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudriy, dan Muslim dari Ibnu Umar).

Di sini, timbul aneka pertanyaan. Mengapa Rasulullah mengaku sangat menyukai wanita dan menghormati anak-anak perempuan, namun di saat bersamaan memperingatkan kita dari mereka? Jika orangtua yang merawat dua anak perempuan sampai dewasa dijanjikan masuk surga, mengapa para wanita justru menjadi mayoritas penghuni neraka?

Mu’adz bin Jabal, salah seorang Sahabat, memiliki penjelasan menarik untuk masalah ini. Beliau berkata, “Sungguh kalian telah diuji dengan fitnah kesulitan, lalu kalian bisa bersabar. Kelak kalian akan diuji dengan fitnah kesenangan. Sungguh yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah fitnah para wanita, yakni ketika mereka telah mulai mengenakan gelang-gelang emas dan memakai kain mantel (pakaian luar) dari negeri Syam, sehingga mereka membuat (para lelaki) yang kaya kepayahan dan yang fakir memaksakan diri untuk (mencari) apa yang tidak mereka miliki.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah).

Jadi, di situlah letak sumbernya. Ketika para wanita mulai menggemari kemewahan dan kemudian menekan para ayah, saudara atau suami untuk memenuhinya, maka fitnah (bencana) pasti segera berkobar. Pria kaya pun sampai kelelahan untuk memuaskan keinginan mereka, apalagi yang miskin. Bila kaum lelaki menolak atau gagal memenuhinya, mereka pun menuntut untuk boleh mengejarnya sendiri, persis yang terjadi di negara-negara Barat.

Kini, kita mengerti sepenuhnya bahwa isu-isu feminisme, kesetaraaan gender, atau emansipasi wanita yang digembar-gemborkan oleh Barat pada kenyataannya hanya dikompori oleh kecemburuan duniawi. Di baliknya bercokol hasrat menggelora untuk mendapatkan kesenangan, kemewahan, kekuasaan, dan sejenisnya. Tiba-tiba, kita tersadar bahwa semua itu bukan demi iman dan kehidupan akhirat, tetapi semata-mata atas nama hawa nafsu dan kerakusan duniawi.

Maka, wanita-wanita yang sangat dicintai Rasulullah pun bukan dari golongan itu. Karakter mereka secara nyata tercermin dalam diri Khadijah, Fathimah, ‘Aisyah, Hafshah, Shafiyyah, Ummu Salamah, dan lain-lainnya. Mereka benar-benar layak dihormati, dicintai, dan “diperjuangkan”. Bukan hanya karena kecantikannya, namun ditopang pula oleh kualitas dirinya.

Mereka tidak silau oleh harta benda duniawi, sebaliknya menjadi legenda dalam sedekah dan pengorbanan. Mereka tidak sibuk bersolek untuk dipamerkan dalam aneka kontes, digelar di jalanan, atau sekedar dipajang di Facebook, namun menghabiskan detik-detiknya dalam pengabdian kepada Allah, keluarga, dan masyarakatnya.

Mereka tidak membuat suami dan ayahnya capek memenuhi tuntutan duniawinya yang selangit, namun justru meringankan beban dan menjadi tambahan kekuatan di tengah aneka cobaan. Ibadah, ilmu, jihad, mujahadah, akhlak, dan seluruh kehadiran mereka merupakan berkah bagi keluarga dan masyarakatnya.

Oleh karenanya pula, kita memaklumi jika – menurut Rasulullah – wanita terbaik untuk dinikahi adalah yang paling ringan permintaan maharnya. Memang kaum lelaki tidak boleh sembrono, namun mahar adalah hak kaum wanita untuk menentukannya. Maka bagaimana, berapa, atau mengapa mereka memintanya dalam kadar dan bentuk tertentu akan menunjukkan siapa mereka sesungguhnya.

Beliau bersabda, “Wanita yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan maharnya.” (Riwayat al-Hakim, dari ‘Aisyah. Hadits shahih ‘ala syarthi muslim).

Bila kaum wanita berperilaku seperti wanita-wanita yang dicintai Rasulullah dalam kehidupannya, maka merekalah sebaik-baik kesenangan duniawi, tidak lagi menjadi fitnah dan bencana.

“Dunia adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan duniawi adalah wanita yang shalihah.” (Riwayat Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash).

Di atas landasan inilah para ulama menekankan agar anak-anak dibiasakan hidup sederhana sejak kecil, agar kelak tidak menjadi fitnah (bencana) bagi siapa saja di sekelilingnya.

Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihya’ Ulumiddin (VIII/1468-1472):

“Bila seorang ayah selalu menjaga keluarganya dari api dunia, maka menjaganya dari api akhirat jelas lebih diprioritaskan. Cara menjaganya adalah dengan mendidik, membiasakan, dan mengajarkan kepadanya akhlak-akhlak yang baik serta menjaganya dari qurana’ as-suu’ (teman karib yang buruk). Jangan membiasakannya dengan kemewahan. Jangan pula membuatnya gemar bersolek dan bersenang-senang, yang akan membuatnya menghabiskan usianya untuk mengejarnya bila kelak telah dewasa, hingga akhirnya binasa untuk selama-lamanya …… Hendaknya seorang ayah membiasakan anaknya dengan roti kering sekali waktu, sehingga anak tidak serta-merta menilai bahwa lauk-pauk itu harus selalu ada …… Jagalah anak dari anak-anak lain yang terbiasa dengan kesenangan dan kemewahan, serta mengenakan pakaian-pakaian yang megah. Jaga pula anak dari bergaul rapat dengan siapa saja yang akan menceritakan kepadanya hal-hal yang mendorongnya menginginkan pakaian seperti itu. Sebab, bila seorang anak dibiarkan begitu saja pada awal-awal masa pertumbuhannya, pada umumnya ia akan menjadi manusia berakhlak rendah, pendusta, banyak iri-dengki, tukang menggosip, sering merengek, berlebihan (“lebay”), banyak tertawa, dibuat-buat (tindak-tanduknya), dan suka berkelakar. Anak harus dilindungi dari semua itu dengan pendidikan yang baik.

Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur

Program Wakaf Sejuta Al-Qur’an Menyulut Semangat Spiritual di Pelosok Bontang

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kaltim gerai Bontang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung kegiatan keagamaan di daerah terpencil.

Klai ini melalui program Wakaf Sejuta Al-Qur’an, BMH menyalurkan puluhan mushaf Al-Qur’an kepada Masjid Adz Dzikru di Jl. Kol RT. 04 Kelurahan Gunung Elai, Kecamatan Bontang Utara, Bontang, Selasa, 10 Muharam 1446 (16/7/2024).

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas bantuan ini,” ungkap Pak Widarminto, pengurus Masjid Adz Dzikru, dengan mata berkaca-kaca.

“Al-Qur’an sangat dibutuhkan di sini, dan bantuan ini akan menambah semangat jamaah untuk belajar dan mengamalkan Al-Qur’an,” tambahnya.

Agus Suwandi, Koordinator BMH Bontang, menjelaskan bahwa penyaluran Al-Qur’an ini merupakan amanah dari para donatur yang peduli terhadap kegiatan keagamaan di daerah terpencil.

“Kami berharap dengan adanya Al-Qur’an baru ini, jamaah Masjid Adz Dzikru dapat lebih bersemangat dalam membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an,” ujarnya.

BMH Kaltim berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan keagamaan di daerah terpencil melalui berbagai program, termasuk program Wakaf Sejuta Al-Qur’an.

“Semoga bantuan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat dan menjadi amal jariyah bagi para donatur,” tutup Agus.*/Herim

Muharram sebagai Momentum Muhasabah Menuju Masa Depan Berperadaban

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Depok memperingati Muharram Tahun Baru Islam 1446 Hijriyah dengan menggelar acara bertema “Muharram sebagai Momentum Muhasabah Menuju Masa Depan yang Berperadaban”.

Acara bersama narasumber Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust. Dr. H. Abdul Aziz Qahar Mudzakkar, M.Si, ini berlangsung di Aula Sekolah Pemimpin Relokasi Masjid Ummul Quraa, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jalan Raya Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, pada Ahad malam, 16 Muharram 1446 (21/7/2024).

Abdul Aziz membuka materi dengan menyajikan sejarah singkat penanggalan hijriyah dan menapaktilasi hubunganya dengan hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Dalam taushiahnya, Aziz menggarisbawahi pentingnya peristiwa hijrah Nabi sebagai cermin spirit peradaban Islam.

Dia mengatakan ada dua hikmah sebagai simbol besar peradaban Islam yang dapat ditarik dari sejarah hijrah Rasulullah ke Madinah tersebut.

Hikmah simbol perabadan Islam yang Pertama, adalah pembangunan infrastruktur berupa masjid sebagai pilar peradaban Islam yang menyebarluaskan petunjuk kebenaran (hidayah Allah).

“Masjid adalah sentral peradaban Islam,” katanya menegaskan.

Simbol Kedua, adalah persaudaraan, dimana dalam peristiwa hijrah ini Rasulullah mempersatukan dan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar yang menciptakan ikatan yang kuat di antara mereka.

Dalam konteks Indonesia, kata Aziz, semangat ini tercermin dalam Sila ke-4 Pancasila “Persatuan Indonesia”.

Karena itu, dia menekankan bahwa ukhuwah atau persaudaraan adalah pilar utama dalam membangun masyarakat yang peduli.

“Jadi kalau kita di Indonesia ini namanya Sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, yang sebenarnya konsep yang Islami,” imbuhnya.

Karena itu, jelas Aziz, pilar pembangunan sosial masyarakat yang paling utama adalah adanya ukhuwah atau menjalin persaudaraan diantara masyarakat sehingga terbangun kepedulian. Termasuk gerakan dan ucapan salam setelah shalat berjamaah merupakan simbol perhatian dan kepedulian Islam pada masalah umat.

Aziz menjelaskan, masjid adalah pusat peradaban, kebudayaan, dan kepemimpinan Islam. Sebagaimana di zaman Nabi, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual seperti shalat berjamaah, tetapi juga sebagai pusat konsolidasi umat. Di masa Rasulullah, masjid menjadi pusat segala aktivitas umat, termasuk urusan perang dan infak.

Maklumat Pertama Nabi

Pada kesempatan tersebut, Aziz memaparkan empat pengumuman, instruksi, atau maklumat pertama Nabi sebagaimana disampaikan Rasulullah ketika beliau hijrah ke Madinah ditengah kerumunan kaum muslimin yang menyambut kedatangannya ketika itu. Menurut Aziz, maklumat tersebut menjadi peneguh pilar peradaban Islam.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, ad-Daarimi, Ibnu Maajah, dan al-Haakim, dikisahkan bahwa ketika Rasulullah datang ke Madinah, orang-orang segera pergi menuju beliau karena ingin melihatnya. Sebagian ada yang berteriak bahwa Rasulullah telah datang sehingga semakin banyak orang berkerumun untuk menyaksikan wajahnya.

Pada kesempatan itulah Rasulullah menyampaikan pesan moumental di hadapan massa yang berkumpul agar selalu menyebarkan salam, memberikan makan, menyambung silaturrahim, dan mendirikan shalat tahajjud di waktu malam ketika orang-orang tertidur. Dalam hadist disebutkan bahwa bagi siapa yang menjalankan keempatnya akan diganjar masuk surga.

“Jadi ada empat instruksi yang dikeluarkan pertama kali Rasulullah di Madinah, selain tadi mempersaudarakan,” katanya, seraya menukil maklumat Rasulullah yang juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah tersebut:

أيُّهَا النَّاسُ : أَفْشُوا السَّلامَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلاَمٍ

“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan sejahtera.”

Aziz menjelaskan, maklumat Nabi agar menyebarkan salam mengandung pesan esensi bahwa umat Islam harus senantiasa menyebarkan kebaikan dan kesejahteraan serta kehadirannya dimanapun selalu membawa kedamaian.

Sementara maklumat memberi makan adalah cerminan bahwa hendaknya kaum muslimin memiliki empati dan kepedulian untuk menghilangkan problem kelaparan yang melanda umat manusia. Dia mencotohkan sosok Nabi Ibrahim yang enggan makan sendiri dan selalu memanggil orang lain untuk makan bersamanya.

“Tradisi para nabi itu adalah suka memberi makan, mudah mudahan kita bisa meniru walaupun sedikit sedikit. Jangan sampai ada diantara kita ini yang tidak pernah mengundang orang makan ke rumah kita,” katanya.

Berikutnya, maklumat Rasulullah agar umat Islam menghidupkan silaturrahim diantara mereka. Silaturrahim ini relevan dengan persaudaraan, karenanya ia akan meneguhkan kebersamaan bahkan ia suatu amalan yang sangat dahsyat dalam Islam.

Bahkan, Aziz melanjutkan, surah Annisa ayat 1 salah satu isinya adalah perintah silaturrahim (tasaaluna bihi wal arham) dan ia merupakan satu dari dua ayat Al Qur’an yang dalam satu ayat tersebut dua kali menekankan perintah “takwa”. Surah lainnya adalah Surat Al-Hasyr ayat 18.

Dan, terakhir maklumat Nabi agar kaum muslimin shalat di waktu malam (tahajjud/lail) ketika orang-orang tertidur. Menurut Aziz, shalat lail secara fiqih adalah amalan yang sangat infiradi (pribadi), yang ketika tidak dilakukan pun tidak berdosa.

Namun, terangnya, dalam konteks Hidayatullah sebagai lembaga dakwah dan pembinaan umat, shalat lail tidak hanya dilihat secara fiqih tetapi juga secara manhaji.

Sehingga, lanjutnya menerangkan, kultur shalat lail di Hidayatullah dipandang sebagai proses pembinaan dan pembiasaan dimana para kader dan santri dianjurkan untuk melaksanakannya.

“Kalau mau kajian shalat lail dalam konteks manhaj Sistematika Wahyu, (maka) shalat lail itu wajib. Wajibnya tanda petik ya, jangan sampai disalahpahami. Maksudnya, dalam konteks Sistematika Wahyu, mutlak kita masuk kepada tahapan Al Muzzammil yang di sana ada shalat malam,” terangnya.

Selain itu, terang Aziz, shalat lail termasuk yang dilaksanakan secara berjamaah adalah dalam rangka latihan dan pembiasaan karena Hidayatullah ingin melahirkan orang yang berkarakter ahli ibadah.

Hal ini menurutnya sejalan dengan temuan para pakar bahwa pembangunan karakter intinya adalah dengan dua cara yaitu adanya teladan dan adanya pembiasaan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Kursus Muballigh Profesional KMH ke-III Komitmen Pelayanan Umat melalui Dakwah Tarbiyah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) kembali menggelar kegiatan Kursus Muballigh Profesional Angkatan ke-III yang mengangkat tema “Mencetak Muballigh Profesional, Visoner dan Tangguh” berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Sabtu, 14 Muharam 1446 (20/07/2024).

Kursus Muballigh Profesional Angkatan III KMH merupakan helatan pertama dari dua rangkaian kegiatan yaitu Sesi Pertama yang digelar selama 2 hari pada Sabtu-Ahad, 20-21 Juli 2024. Berikutnya, Sesi Kedua diagendakan selama 2 hari yaitu pada tanggal 27-28 Juli 2024 bertempat di tempat yang sama.

Kegiatan yang diikuti oleh 35 peserta dibuka langsung oleh Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Drs. Nursyamsa Hadis yang juga ketua Pembina Korps Muballigh Hidayatullah.

Dalam penyampaiannya, Nursyamsa mengajak peserta untuk menjadikan dakwah sebagai profesi utama dalam kehidupan ini karena inilah pekerjaan yang amat mulia.

“Menyeru manusia kepada jalan Allah Ta’ala, bukan hanya kewajiban, tapi juga menjadi sebuah profesi mulia,” tegasnya.

Nursyamsa menjelaskan, dakwah profesional berarti menyampaikan risalah Islam dengan keahlian, pengetahuan, dan dedikasi yang tinggi, sehingga menjadi pelita yang menerangi kehidupan dan membimbing umat menuju jalan yang benar.

Dia berharap dengan kegiatan kursus ini, kita semua dapat berkontribusi dalam menyebarkan dakwah dengan berbagai cara, sesuai dengan kemampuan dan kesempatan masing-masing.

“Mari kita bersama-sama menggaungkan dakwah dengan penuh keikhlasan dan kebijaksanaan, menjadikan diri kita sebagai agen dakwah, dan menyebarkan cahaya Islam di seluruh penjuru dunia,” tegas Nursyamsa.

Nusyamsa juga berbagi inspirasi, bagaimana pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said bersama para sahabatnya dalam melaksanakan misi dakwahnya ditengah keterbatasan ilmu serta minimnya fasilitas.

“Namun, perjuangan Ustadz Abdullah Said bersama para sahabatnya dapat berjalan dan sukses karena berangkat dari niat yang tulus serta tekad yang kuat agar risalah agama Allah ini sampai kepada umat,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Korps Muballigh Hidayatullah, Ust. H. Iwan Abdullah, M.Si menyampaikan harapannya agar para peserta yang mengikuti kursus maksimal dalam mengikuti kegiatan agar kemampuan dakwahnya bisa lebih baik.

“Kursus angkatan ketiga ini hanya berlangsung selama empat hari, sehingga kami berharap para peserta dapat memaksimalkan waktu dengan baik, menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari para guru-guru kita sebagai bekal menjadi muballgh profesional,” harap Iwan.

Dia menambahkan, kursus muballigh ini sebagai upaya mencetak generasi muballigh yang handal dan profesional dalam menyampaikan dakwah Islam di tengah umat sekaligus sebagai wujud komitmen Hidayatullah dalam memberikan pelayanan kepada umat melalui gerakan dakwah dan tarbiyah.*/Adam Sukiman

Anugerah Zakat Award untuk BMH atas Dedikasi Pendidikan Dai Tangguh Pelosok Negeri

0

PADANG (Hidayatullah.or.id) — Semangat berbagi dan kepedulian mewarnai Musyawarah Nasional (Munas) ke-10 Forum Zakat (FOZ) dengan mengangkat tema “Gerakan Zakat Menyonsong Indonesia Emas 2045” digelar selama tiga hari di Padang, Sumatera Barat, yang dibuka pada Rabu, 11 Muharam 1446 (17/7/20241110).

Acara yang dihadiri oleh 119 lembaga zakat dari seluruh Indonesia ini menjadi ajang berbagi inspirasi dan pengalaman dalam upaya meningkatkan efektivitas pengelolaan zakat di tanah air.

Salah satu momen istimewa dalam Munas ini adalah penganugerahan Zakat Award, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada lembaga zakat dengan program dan inovasi terbaik.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) pada kesempatan istimewa tersebut berhasil meraih penghargaan bergengsi ini dengan predikat Silver untuk Program Dakwah Skala Nasional.

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi BMH dalam program Pendidikan Dai Tangguh melalui Pendidikan Sekolah Dai Hidayatullah. Baik yang jenjang sarjana ataupun pendidikan dai setahun untuk menguatkan kapasitas dai muda dalam berdakwah.

Program itu telah berhasil melahirkan ribuan dai sarjana yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara, terutama di wilayah pedalaman. Program ini menjadi bukti nyata komitmen BMH dalam membangun dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui dakwah yang berkualitas.

Firmanza, Ketua Pengurus BMH, mengatakan, penghargaan ini adalah amanah bagi BMH untuk terus meningkatkan kualitas program dakwah dan pendidikan dai.

“Kami berharap dapat terus berkontribusi dalam membangun generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia dan berwawasan luas,” ujar Firmanza.

Penghargaan ini juga menjadi inspirasi bagi lembaga zakat lainnya untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas program-programnya.

Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian, diharapkan gerakan zakat di Indonesia dapat semakin maju dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi BMH untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan dakwah dan pendidikan di Indonesia, terimakasih seluruh donatur BMH se-Indoensia,” tutup Firmanza.*/Herim

Darah Organisasi : Menciptakan Kemandirian Pendanaan Berkelanjutan

0

DALAM setiap organisasi, baik itu perusahaan, lembaga pendidikan, organisasi nirlaba, ataupun berupa komunitas kecil, apalagi negara keberadaan pendanaan memiliki peran yang sangat vital. Sehingga dana dapat diibaratkan bagaikan darah yang menghidupi seluruh organ dan jaringan tubuh manusia, mengantarkan oksigen dan nutrisi vital untuk keberlangsungan hidup, sekaligus memastikan setiap bagian berfungsi dengan baik. Tanpa pendanaan yang cukup dan terdistribusi dengan baik, hampi dapat dipastikan bahwa sebuah organisasi akan kesulitan menjalankan operasional dan mencapai tujuannya.

Oleh karenanya, keberadaan pendanaan ini menjadi penting ketersediannya untuk disistribusikan ke seluruh elemen organisasi secara merata dan proporsional. Tak boleh ada  elemen dalam organisasi yang kekurangan dan tak boleh ada yang berlebih. Ketidakseimbangan dalam distrubusi, dapat mengakibatkan penyakit dalam tubuh, menghambat fungsi dan kinerja organisasi, tidak jarang menyebabkan bagian tubuh tertentu menjadi lumpuh bahkan diamputasi.

Konsekwensinya, manajemen puncak organisasi harus berupaya semaksimal mungkin untuk senantiasa menjamin keberadaan dan ketersediaan pendanaan ini. Selain itu, diversifikasi sumber pendanaan juga menjadi salah satu kunci utama dalam masalah pendanaan ini. Mengandalkan hanya pada satu sumber saja, bagaikan berjalan di atas tali tipis, penuh risiko dan ketidakpastian, selanjutnya dapat mengantarkan organisasi untuk terjerembab ke lembah kematian.

Sumber Pendanaan yang Sehat dan Berkelanjutan

Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu mandiri secara finansial. Sumber pendanaan yang ideal berasal dari usaha dan sumber internal organisasi, seperti iuran anggota, temasuk berbagai bentuk usaha di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, dakwah, zakat, infaq, shadaqah dan waqaf serta berbagai layanan sosial lainnya. Pada yang sama juga mengharuskan organisasi mengembangkan berbagai jenis bisnis produktif mulai dari investasi di berbagai sektor usaha yang menguntungkan, hingga program-program danan berbayar lainnya yang ditawarkan oleh organisasi, termasuk melalui kerjasama dengan pihak lain yang saling menguntungkan.

Selanjutnya, pendapatan melalui keuntungan dari usaha internal tersebut akan melahirkan pendanaan organisasi yang memberikan daya tahan bagi organisasi, sekaligus memberikan kebebasan bagi organisasi untuk menentukan arah dan prioritas program sesuai dengan visi dan misinya, tanpa tekanan dan dikendalikan oleh kepentingan dari pihak luar manapun juga. Pada saat yang sama juga menciptakan stabilitas finansial yang memungkinkan organisasi untuk bertahan jika terjadi situasi krisis terutama ketika pendanaan eksternal menurun.

Namun, sekali lagi sebagaimana dijelaskan di atas, maka diversifikasi sumber pendanaan tetaplah penting. Mendapatkan dana dari hibah, donasi, bantuan eksternal termasuk dari pemerintah, corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan, serta sponsorship, dan berbagai jenis dana eksternal lainnya dapat membantu organisasi untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan skalanya. Dengan catatan, beragam sumber eksternal tersebut tidak terikat dengan perjanjian yang menyebabkan organisasi kehilangan ruh dan jatidirinya, apalagi mengakibatkan melenceng dari visi dan misi organisasi itu sendiri.

Dana Bukan Segalanya, Tapi Segalanya Perlu Dana

Memang benar bahwa dana bukan segalanya dalam organisasi. Faktor-faktor lain seperti kepemimpinan, budaya organisasi, manajemen organisasi serta sumber daya manusia yang kompeten juga sangat menentukan keberhasilan sebuah organisasi. Namun, hampir semua aspek dalam organisasi realitasnya, seringkali akan berhubungan dengan kebutuhan akan dana. Program-program yang inovatif, pembiayaan dakwah dan kegiatan sosial, pembinaan dan pelatihan untuk anggota, kegiatan operasional sehari-hari, hingga infrastruktur fisik, dan berbagai jenis program lainnya, pada kenyataannya, semuanya memerlukan pendanaan.

Tanpa dana yang memadai, maka banyak inisiatif dan program potensial di atas tidak dapat diwujudkan dengan baik. Oleh karena itu, penting bagi setiap organisasi untuk memiliki strategi pendanaan yang jelas dan efektif. Ini juga melibatkan perencanaan keuangan yang matang, diversifikasi sumber pendapatan, dan pengelolaan dana yang transparan dan akuntabel.

Dengan demikian maka, semakin jelas bahwa dana dibutuhkan untuk membiayai berbagai kegiatan program dan operasional sebagai diuraikan di atas, dan faktanya dalam berbagai program memang kebanyakan bersifat cost center. Sehingga kehadiran dana ini, sekaligus juga diperlukan untuk menjalankan program dan kegiatan yang bertujuan untuk mencapai visi dan misi organisasi.

Distribusi Proporsional

Hal yang tidak kalah penting adalah, berapapun pendanaan yang dimiliki oleh organisasi, maka distribusi dana dalam organisasi harus dilakukan dengan cermat dan proporsional. Biasanya organisasi juga memiliki regulasi terkait mekanisme distribusi pendanaan ini. Tetapi tidak jarang organisasi yang tidak mampu menimplementasikan secara baik dan proporsional, karena gagal  paham dalam mengindentifikasikan sekala prioritas, disamping juga kerapkali ketidakpahaman urgensi pendanaan pada level departemen ataupun bagian/unit dalam organisasi, yang menyebabkan salah paham bahkan disharmonis dalam organisasi.

Sebagaimana dijelaskan di atas, maka mesti kembali kepada perumpamaan dana  seperti darah yang harus mengalir ke seluruh tubuh secara seimbang, dana dalam organisasi juga harus dialokasikan ke setiap departemen dan bidang/unit sesuai kebutuhan dan prioritasnya. Jika ada bagian yang kekurangan dana, maka kinerja bagian tersebut akan terganggu, dan pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja seluruh organisasi. Sebaliknya, jika ada bagian yang menerima dana berlebihan, hal ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan dan inefisiensi.

Distribusi yang tidak proporsional dapat menimbulkan berbagai “penyakit” dalam organisasi, seperti ketimpangan sumber daya, ketidakpuasan antar departemen, dan penggunaan dana yang tidak efektif. Oleh karena itu, manajemen dana harus dilakukan dengan prinsip keadilan dan efisiensi, memastikan bahwa setiap bagian organisasi mendapatkan dana sesuai dengan kebutuhan dan kontribusinya terhadap pencapaian visi dan misi organisasi. Dan dalam satu tarikan nafas juga wajib melakukan laporan yang transparan dan akuntabel.

Penutup

Akhirnya, jelas bahwa dana memainkan peran yang sangat vital dalam kehidupan organisasi. Ibarat darah yang mengalir dalam tubuh, dana harus didistribusikan secara proporsional dan bijaksana untuk memastikan kesehatan dan kelangsungan organisasi. Upaya untuk menjamin pendanaan yang cukup dan berkelanjutan harus menjadi prioritas utama, dengan mengandalkan sumber-sumber internal yang kuat dan beragam.

Organisasi yang mampu mengelola dana dengan baik akan memiliki fondasi yang kokoh untuk mencapai tujuan-tujuannya, beradaptasi dengan perubahan, dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan dana yang efektif bukan hanya tentang keberhasilan jangka pendek, tetapi juga tentang keberlanjutan dan kemandirian organisasi dalam jangka panjang.[]

*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Berbagi Cinta dan Keberkahan di Tahun Baru Islam 1446 Hijriah di Sultra

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Semangat berbagi dan kepedulian mewarnai peringatan Tahun Baru Islam 1446 Hijriah di Sulawesi Tenggara (Sultra) di Aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sultra, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Wuawua, Pondambea, Kecamatan Kendari, Kota Kendari, Selasa, 10 Muharam 1446 (16/7/2024).

Dalam suasana penuh kehangatan itu, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Kementerian Agama Sulawesi Tenggara, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dan berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) se-Sulawesi Tenggara bersatu dalam program “Berbagi Cinta Berlimpah Berkah” tersebut.

Aula Kanwil Kemenag Sultra menjadi saksi bisu dari momen mengharukan saat ratusan anak yatim menerima bingkisan berisi kebutuhan sehari-hari. Senyum lebar dan tawa riang mereka adalah bukti nyata bahwa kebaikan dan kepedulian mampu menghadirkan kebahagiaan yang tak ternilai.

Kepala Kanwil Kemenag Sultra, H. Muhammad Saleh, mengungkapkan rasa syukurnya atas kolaborasi yang sukses ini.

“Alhamdulillah, berkat kerjasama semua pihak, kita berhasil mengumpulkan 11 ribu paket sembako untuk anak-anak yatim di Bumi Anoa. Semoga ini menjadi awal dari lebih banyak lagi kegiatan positif untuk membantu mereka yang membutuhkan,” ujarnya.

BMH Sultra berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.

“Kami ingin anak-anak yatim merasa dicintai dan diperhatikan. Semoga mereka tumbuh menjadi generasi yang kuat, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama,” ungkap M. Armin, Kepala BMH Perwakilan Sultra.

Semangat kebersamaan dan kepedulian ini menurut Armin menjadi bukti bahwa ketika bersatu, kita bisa menciptakan perubahan yang berarti. Karenanya, dia berharap kolaborasi antara BMH, Kemenag, BAZNAS, dan LAZ se-Sulawesi Tenggara semakin solid dalam rangka menguatkan kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata.*/Herim