Beranda blog Halaman 179

[KHUTBAH JUM’AT] Mendidik Manusia Agar Tetap pada Keadaan Fitrahnya

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Bagi orangtua muslim, standar keberhasilan sesungguhnya dalam mendidik adalah ketika bisa melahirkan anak yang shaleh. Inilah anak yang akan membahagiakan orang tua di dunia, menyelamatkannya di akhirat.

Jika ilmu yang menjadi panduan mendidik manusia itu berasal dari orang yang tidak beriman bagaimana mungkin akan lahir anak-anak yang shaleh.

Orang yang tidak beriman itu tidak mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala. Ia tidak memahami tujuan Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia. Dan sudah pasti mereka tidak memahami manusia ini dengan baik.

Wahyu yang pertama kali turun yaitu Surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5, berbicara tentang penciptaan manusia. Kehadiran manusia di dunia mutlak karena kehendak dan kemauan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Tidak ada satupun manusia yang pernah punya keinginan menjadi manusia atau meminta kepada Allah agar dijadikan manusia. Demikian juga Allah Subhanahu wa ta’ala tidak pernah meminta pertimbangan kepada siapapun ketika hendak menciptakan kita.

Allah Subhanahu wa ta’ala juga tidak pernah meminta pendapat atau persetujuan kita sebelum menciptakan kita. Hal itu mustahil terjadi karena pada waktu itu kita belum ada.

Sehingga, bagaimana seharusnya manusia hidup satu-satunya jalan adalah mengikuti kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala, pencipta manusia. Perintah yang pertama kali turun adalah “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (Al-Alaq [96] : 1).

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

Ayat ini mengisyaratkan bahwa karena segala sesuatu Allah Subhanahu wa ta’ala yang menciptakan, maka segala sesuatu akan benar dan mencapai tujuannya apabila mengikuti kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala.

Lantas, bagaimana Allah menciptakan manusia dan bagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala mendidiknya? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Berbeda dengan Teori Tabularasa John Lock yang menyatakan bahwa manusia lahir dalam keadaan kosong, dalam Islam setiap manusia dilahirkan lengkap dengan sistem yang bekerja sempurna dalam jiwanya. Setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah.

Fitrah itu sendiri artinya Islam, bertauhid. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Al-A’raf [7] : 172)

Tauhid inilah sumber segala kebaikan, kebenaran, dan keindahan yang senantiasa dirindukan oleh manusia selama hidupnya.

Manusia yang paling ideal adalah manusia yang masih berada dalam keadaan fitrahnya, yaitu sejak Allah Subhanahu wa ta’ala meniupkan ruh ke dalam jasadnya sampai ia dilahirkan ke dunia.

Setelah dilahirkan ke dunia, maka tugas orangtualah untuk menjaga anak agar tumbuh dan berkembang dalam keadaan fitrah.

Maka, tugas mendidik adalah menjaga dan mengembalikan manusia kepada keadaan fitrahnya. Dan, satu satunya cara menjaga fitrah manusia adalah dengan berpegang teguh kepada agama yang lurus yaitu agama Islam.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Rum [30] : 30)

Kebanyakan ilmuwan Barat melihat manusia secara keliru dan parsial. Hal ini bisa dipahami karena ilmu mereka lahir dari pandangan hidup yang sekuler dualistik, mengandalkan rasionalisme, dan menolak hal-hal yang bersifat wahyu.

Karl Marx, peletak dasar ideologi Marxisme, memandang manusia sebagai makhluk materi. Menurutnya, materi adalah dasar dari semua realitas. Maka manusia hidup adalah untuk pemenuhan kebutuhan materi.

Sigmund Freud, pengusung aliran psikologi yang disebut psikoanalisa, memandang manusia sebagai makhluk biologis yang digerakkan oleh syahwat. Puncak pencarian manusia adalah pemenuhan kebutuhan seksual.

Pandangan kedua tokoh ini secara umum mewakili cara pandang orang kafir sebagaimana digambarkan Allah Subhanahu wa ta’ala:

وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ ٱلْأَنْعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad [47] : 12)

Ketika para ilmuwan itu melakukan penelitian empiris tentang jiwa manusia, yang mereka maksud tentang jiwa itu sebenarnya adalah manifestasi dari hawa manusia. Maka wajarlah kalau kemudian lahir pandangan pandangan tentang manusia yang rendah.

Para ilmuwan Barat mutakhir mencoba untuk merevisi pandangan-pandangan tersebut. Tetapi hasilnya tetap bermasalah karena tetap lahir dari pandangan hidup yang bermasalah.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain yang diciptakan-Nya. Manusia diciptakan dengan struktur jasmani dan ruhani yang kompleks dan digerakkan oleh sistem yang sempurna bekerja.

Hanya Allah Subhanahu wa ta’ala yang tahu persis keadaan manusia ini, jasmani maupun ruhaninya. Allah juga yang Maha Tahu bagaimana seharusnya mendidik manusia. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ. عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq [96] : 4-5)

Maka Islam adalah pendidikan untuk totalitas manusia. Bukan hanya untuk jasmaninya tetapi juga ruhaninya. Bukan hanya untuk pikirannya tapi juga perasaannya.

Islam menanamkan kebaikan dalam nuraninya dan mendidik nafsunya. Islam memberi panduan pendidikan intelektual, sosial, spiritual, moral, seksual, finansial, seni, dan keindahan.

Islam juga pendidikan untuk seluruh fase kehidupan. Dalam setiap fase kehidupan manusia, Islam memberikan panduan terbaik.

Pendidikan anak dalam Islam dimulai sejak sebelum menikah dengan memilih calon suami atau istri yang shaleh-shalehah yang akan menjadi ayah atau ibu bagi anak-anaknya. Orangtua yang saleh pada umumnya akan melahirkan anak-anak yang saleh.

Islam memberikan panduan bagaimana mendidik anak ketika anak masih di dalam kandungan. Diperintahkan kepada orangtua untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan selalu berdoa agar diberi anak yang shaleh.

Islam memberikan panduan ketika melahirkan anak. Diperintahkan memberi nama yang baik, mencukur rambutnya, mengaqiqahinya. Di masa bayi dan kanak-kanak Islam memberi tuntunan dalam masalah penyusuan, pengasuhan, perwalian, nafkah, dan sebagainya.

Singkatnya, Islam menyertai perkembangan hidup manusia semenjak masih dalam kandungan sampai masa tua.

Dalam semua periode itu Islam telah menetapkan tuntunan terbaik bagi hidup manusia. Tidak ada jenjang kehidupan manusia yang berlalu begitu saja, kecuali Islam mempunyai arahan dan ketentuan di dalamnya.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Islam inilah satu-satunya ajaran yang compatible dengan jiwa manusia. Itulah sistem yang sempurna yang bekerja dalam jiwa manusia.

Karena itu sejak dini, anak harus diajarkan untuk iltizam dengan agamanya. Dan itu berarti bahwa kita harus mempertautkan hatinya kepada Al-Quran.

Di mulai sejak di dalam kandungan, orangtua harus sering perdengarkan Al-Quran karena bayi di dalam kandungan sudah bisa mendengar dan mengenali suara dari luar rahim.

Ketika lahir dan di masa bayi, lantunan ayat-ayat Al-Quranlah yang harus paling sering ia dengar. Di masa kanak-kanak, Al-Quranlah pelajaran pertama dan paling utama. Demikian seterusnya.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jumu’ah [62] : 2)

Maka, tidak bisa disebut pendidikan kalau tidak mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bukan ilmu kalau tidak bersumber atau sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Kajari Fakfak Jhon Ilef Malamassam bersama Jajaran Anjangsana ke Pesantren Hidayatullah

FAKFAK (Hidayatullah.or.id) – Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Fakfak, Jhon Ilef Malamassam, SH, MH, yang memimpin rombongan jajaran pegawai Kejaksaan Negeri (Kejari) Fakfak dan Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Daerah Fakfak meluangkan waktu melakukan anjangsana ke Pondok Pesantren Hidayatullah Fakfak, Papua Barat, Rabu, 11 Muharam 1446 (17/7/2024).

Anjangsana sekaligus bakti sosial tersebut dalam rangka memperingati Hari Bhakti Adhyaksa (HBA) ke-64 dan Hari Ulang Tahun Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) ke-24 tahun 2024, tanggal 22 Juli 2024 mendatang.

Kajari Fakfak, Jhon Ilef Malamassam, turut didampingi Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini, Ny Febriyanti P, menyerahkan bantuan paket sembako kepada Pimpinan Pesantren Hidayatullah.

Kajari Jhon mengatakan, bakti sosial dan anjangsana berupa kegiatan kunjungan pernaja sebagai bagian rasa cinta pihaknya terhadap keluarga kejaksaan dan kegiatan kunjungan ke Pesantren Hidayatullah.

“Hal ini merupakan bentuk hadirnya Kejaksaan di tengah-tengah masyarakat untuk menjaga kearifan lokal, kedekatan dan silaturahmi kejaksaan,” ujar Kajari Jhon Ilef Malamassam.

Kedatangan rombongan pegawai Kejaksaan Negeri dan Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Daerah Fakfak disambut para santri dan diterima oleh pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Fakfak.

Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Fakfak, Ust. Ajruddin Abidin Shahab, menyambut gembira anjangsana ini dan berharap silaturrahim ini senantiasa terjalin.

Ust. Ajruddin pun menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas Hari Bhakti Adhyaksa ke-64 dan Hari Ulang Tahun Ikatan Adhyaksa Dharmakarini ke-24 tahun 2024. Dia mendoakan semoga keduanya semakin jaya dan penuh berkah dalam mengabdi untuk Indonesia.

“Teruslah menjadi pilar keadilan dan kebanggaan bangsa, serta memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Sukses selalu untuk seluruh anggota Adhyaksa dan keluarga besar IAD,” kata Ajruddin.

Dia pun menyampaikan terima kasih atas dedikasi dan pengabdianya yang tak kenal lelah demi tegaknya keadilan dan kemajuan bangsa.

“Semoga seluruh anggota Adhyaksa dan keluarga besar Ikatan Adhyaksa Dharmakarini selalu diberkahi kesehatan, kekuatan, dan semangat dalam menjalankan amanah,” katanya, mendoakan.*/Miftahuddin

Rapat Pleno Wantim MUI Garis Bawahi Peran Pelayanan Umat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin memimpin rapat pleno Wantim MUI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 11 Muharam 1446 (17/7/2024).

Dalam kesempatan ini, Kiai Ma’ruf Amin yang juga Wakil Presiden RI ini menggaris bawahi sejumlah masalah mengenai pelayanan terhadap umat.

Hal ini, kata Kiai Ma’ruf Amin, sesuai dengan visi dan misi MUI sebagai pelayan umat dan mitra pemerintah, harus senantiasa tercermin dalam setiap program dan langkah yang diambil pengurus MUI.

“Saya ingin lebih mendalami tentang masalah pelayanan keumatan. Tugas utama kita itu adalah keumatan. Ada tiga saya kira, tugas keumatan itu, yaitu menjaga umat, memberdayakan umat, dan menyatukan umat,” kata Kiai Ma’ruf Amin, dikutip dari laman resmi MUI.or.id.

Terkait tugas menjaga umat, Kiai Ma’ruf menekankan pentingnya MUI untuk menjaga akidah umat dari ajaran-ajaran dan pemikiran yang menyimpang, serta menjaga umat dari muamalah yang tidak sesuai syariah.

“Nah, bagaimana kita menjaga ini. Bagaimana kita mengawal umat dalam bermuamalah, jangan sampai tidak sesuai dengan syariah. Maka itu, kita membangun ekonomi syariah,” ungkapnya.

Dalam upaya memberdayakan umat, Kiai Ma’ruf meminta seluruh pengurus MUI agar lebih efektif dalam membangun bidang pendidikan, khususnya untuk mencetak para ulama dan pemakmur bumi.

“Kita harus menyediakan dua sumber daya manusia ini, ulama paham agama dan mereka yang memakmurkan bumi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi,” sambungnya.

Lebih lanjut, terkait tugas MUI dalam menyatukan umat, Wapres RI menjelaskan bahwa penyatuan umat yang dimaksud adalah dalam hal-hal strategis seperti menyamakan manhaj dan pemahaman agama.

“Perbedaan yang menyimpang harus diamputasi. Kita harus menyatukan pendapat dalam hal-hal yang tidak boleh berbeda,” tegasnya.

Di akhir arahannya, Wapres RI meminta agar Dewan Pertimbangan MUI untuk membuat rekomendasi tertulis yang terperinci mengenai langkah-langkah yang perlu diluruskan dan ditingkatkan terkait beberapa hal di atas.

“Dewan Pertimbangan harus memberikan rekomendasi kepada Pengurus Harian. Anda harus begini, Anda harus begini. Jadi Dewan Pertimbangan kerjanya bukan hanya bicara di luar, tetapi juga membuat rekomendasi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kiai Ma’ruf Amin memberikan pesan kepada pengurus untuk mengabdi di MUI dengan penuh waktu. Tidak boleh mengabdi sebagai sambilan.

“Kerja di MUI tidak boleh sambilan, harus penuh waktu. Kita sedang berdagang dengan Allah. Allah membeli harta kita, membeli badan kita. Itu surga (balasannya),” kata Kiai Ma’ruf.

Oleh karena itu, Kiai Ma’ruf menekankan agar para pengurus MUI untuk mengabdi secara penuh di MUI. Tidak boleh pengabdian tersebut dilakukan dan dianggap sebagai pekerjaan sampingan.

Selain itu, Wapres RI berpesan kepada seluruh pengurus MUI untuk bekerja sesuai dengan manhaj (kaidah dan ketentuan) yang telah ditetapkan dan selaras dengan visi dan misi MUI.

“MUI ini ada manhajnya, artinya cara kita berorganisasi. MUI seperti kereta api, tidak bisa dibelokkan ke kanan atau kiri karena ada relnya,” katanya.

Hadir dalam kesempatan ini, antara lain, Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, Ketua MUI Bidang Hukum dan HAM yang juga Ketua Baznas RI Prof Noor Achmad, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH M Cholil Nafis, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI KH Zainut Tauhid Sa’adi, Ahmad Heryawan, Hamdan Zoelva, Muhyiddin Junaidi, dan Sadeli Karim, Sekretaris Wantim MUI Prof Dadang Khamad, Anggota Wantim MUI HM. Jusuf Kalla, KH Nashirul Haq, dan sejumlah anggota lainnya.*/

Momen Bahagia ‘Lebaran Yatim’ Semai Harapan dan Keceriaan Anak di NTB

0

MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Lebaran selalu menjadi momen istimewa yang penuh kebahagiaan. Namun, bagi anak-anak yatim, momen ini bisa terasa berbeda. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB) memahami hal ini dan berkomitmen untuk menghadirkan keceriaan di hati mereka melalui program “Lebaran Yatim”.

Bertepatan dengan 10 Muharram 1446 H (16/7/2024) BMH NTB menggelar acara penuh kehangatan di kantor perwakilannya.

Sejumlah 50 anak yatim hadir dan disambut dengan pelukan hangat serta senyum tulus dari para donatur dan kepala lingkungan setempat.

Acara ini tidak hanya tentang pemberian bingkisan roti mokoh, alat tulis sekolah, dan santunan uang tunai, tetapi juga tentang menciptakan kenangan indah yang akan mereka ingat sepanjang hidup.

Dongeng Islami yang dibawakan dengan penuh semangat menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak. Mereka tertawa lepas, terhanyut dalam cerita yang sarat akan nilai-nilai kebaikan.

Momen ini menjadi bukti bahwa kebahagiaan sederhana bisa hadir dari hal-hal kecil yang penuh makna.

“Lebaran Yatim adalah program nasional BMH yang kami laksanakan dengan penuh sukacita di NTB,” ungkap Nur Kholis, Kepala Perwakilan BMH NTB.

“Kami ingin anak-anak yatim merasakan kehangatan dan kebahagiaan Lebaran seperti anak-anak lainnya,” katanya.

Fauzi, Kepala Lingkungan Suradadi Barat, Mataram, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada BMH atas kepedulian yang telah diberikan kepada anak-anak yatim di lingkungannya.

“BMH bukan hanya sekali dua kali memberikan manfaat, tapi berkali-kali. Ini adalah pelengkap kebahagiaan bagi anak-anak yatim kami,” ujarnya haru.

Kebahagiaan anak-anak yatim ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Roti Mokoh ALV Bakery, PT. Aflah Azaria, Beacukai Mataram, dan para donatur lainnya. Kolaborasi ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian bersama dapat menciptakan dampak yang luar biasa.

Program “Lebaran Yatim” BMH NTB telah berhasil menebarkan senyum di wajah anak-anak yatim, memberikan mereka harapan, dan mengingatkan kita semua akan pentingnya berbagi kebahagiaan.

“Semoga semangat ini terus menginspirasi kita untuk selalu peduli dan memberikan yang terbaik bagi mereka yang membutuhkan,” tutur Nur Kholis.*/Herim

Membangun Harapan di Tengah Kesulitan dengan Tetesan Air Bersih di Gaza

0

GAZA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah kondisi Gaza yang masih berjuang pulih dari luka perang, secercah harapan hadir melalui tetesan air bersih. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), dengan penuh kasih, telah membangun sumur-sumur air bersih di beberapa kamp pengungsi, membawa kebahagiaan bagi 221 jiwa yang selama ini kesulitan mendapatkan air bersih.

Bayangkan, 97% air di Gaza tercemar akibat invasi dan penjajahan berkepanjangan oleh zionis Israel. Kondisi ini membuat para pengungsi harus berjuang ekstra keras untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Namun, berkat uluran tangan BMH dan para donatur yang dermawan, senyum kini kembali merekah di wajah mereka.

“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mendapatkan air bersih dengan mudah,” ujar seorang ibu pengungsi di Khan Younis, sambil menggendong anaknya yang riang bermain air.

“Terima kasih kepada BMH dan para donatur yang telah memberikan kami harapan baru,” sambungnya, seperti dalam keterangan tertulis BMH kepada media ini, Rabu, 11 Muharam 1446 (14/7/2024).

Imam Muslim, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan program ini.

“Kami sangat terharu melihat senyum bahagia para pengungsi saat bisa menikmati air bersih. Ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian kita bisa memberikan dampak yang luar biasa bagi mereka yang membutuhkan,” katanya.

BMH berkomitmen untuk terus hadir di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan, baik di dalam maupun luar negeri. Program bantun air bersih ini meneguhkan harapan, semangat, dan solidaritas antar sesama muslim dan juga sesama manusia.

“Kami percaya bahwa setiap tetes air bersih yang mengalir dari sumur-sumur ini adalah doa dan harapan dari para donatur. Semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka dengan pahala yang berlimpah,” tutup Imam Muslim dengan penuh haru.*/Herim

Sinergi Mushida dan BKMT Gelar Daurah Guru Qur’an di Masjid Terapung BJ Habibie

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) dan Pengurus Daerah Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Parepare kembali menjalin sinergi yang kuat dengan menggelar Daurah Guru Qur’an Majelis Taklim dengan Metode Mengajar Belajar Al-Qur’an Sistem 8 Jam.

Acara ini berlangsung di Masjid Terapung Bj. Habibie, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 7 Muharram 1446 (13/7/2024).

Kegiatan ini diikuti oleh puluhan guru Qur’an yang merupakan perwakilan dari berbagai Majelis Taklim se-Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Mereka berkumpul dengan semangat untuk meningkatkan kompetensi dan metode pengajaran Al-Qur’an melalui pendekatan yang inovatif.

Acara yang berlangsung hingga menjelang waktu Ashar ini dipandu langsung oleh instruktur berpengalaman, Ustadzah Juhriah. Beliau adalah anggota Majelis Murabbiyah Pusat (MMP) Muslimat Hidayatullah.

Setiap sesi halaqah didampingi oleh para mu’allimat dari Mushida Parepare, memastikan bahwa setiap peserta mendapatkan bimbingan yang optimal.

Nashrah, selaku Ketua Departemen Dakwah PD Mushida Parepare, menyampaikan apresiasinya atas kesuksesan kegiatan ini.

“Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan sukses. Semoga sinergitas program departemen Dakwah Mushida bersama BKMT Kota Parepare serta lembaga dakwah lainnya senantiasa terjalin dengan baik untuk menjalankan tugas keummatan,” ungkapnya.

Nashrah menyampaikan sinergi antara Mushida dan BKMT Kota Parepare ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Dengan adanya pelatihan ini, para guru Qur’an diharapkan dapat menyebarkan metode pengajaran yang lebih efektif dan efisien, sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur’an khususnya di kota Parepare,” imbuh Nashrah.

Kegiatan ini juga menegaskan komitmen Mushida dan BKMT untuk terus berkolaborasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an di Parepare. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan akan lahir generasi yang lebih paham dan mencintai Al-Qur’an.

Kegiatan Daurah Guru Qur’an ini merupakan bagian keberlangsungan dari kolaborasi yang harmonis antara Mushida dan BKMT Kota Parepare.

Nashrah optimis, dengan dukungan instruktur berpengalaman dan antusiasme para peserta, acara ini berhasil mencapai tujuannya.

Nashrah juga menyampaikan harapannya sinergi ini terus terjalin dan membawa manfaat yang besar bagi masyarakat Parepare dalam upaya meningkatkan pemahaman dan pengajaran Al-Qur’an.*/Sahlah al-Ghumaishaa

Kiat Menikmati Semua Keadaan dalam Situasi Apapun

0

PERNAHKAH kita merasa terjebak dalam pusaran emosi negatif, di mana segala sesuatu tampak suram dan tak ada harapan? Pikiran dipenuhi kekhawatiran, motivasi merosot, dan semangat untuk berbuat baik seolah memudar.

Dunia seakan hanya menampilkan sisi gelapnya, menguatkan pandangan buruk yang telah tertanam dalam benak.

Namun, perlu kita ingat bahwa kehidupan ini terdiri dari siang dan malam, suka dan duka, baik dan buruk datang silih berganti.

Itu berarti dalam setiap keadaan, ada pelajaran berharga yang menanti untuk dipetik, ada keindahan yang tersembunyi menunggu untuk ditemukan.

Mengapa Menikmati Keadaan Itu Penting?

Menikmati keadaan, apapun itu, bukanlah berarti pasrah pada nasib atau mengabaikan masalah yang ada. Sebaliknya, ini adalah tentang menerima kenyataan dengan lapang dada, mencari hikmah di balik setiap peristiwa, dan tetap berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam situasi apapun.

Ketika kita mampu menikmati keadaan, kita akan merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati, terlepas dari apa yang sedang terjadi di sekitar kita.

Hal itulah yang bisa kita ambil petikan pelajaran dari kisah Katara dan Soka dalam serial The Last Airbender. Keduanya awalnya meratapi nasib dan kondisi. Namun seiring dengan kemauan memahami keadaan, ia tumbuh menjadi sosok yang bermanfaat dalam banyak hal.

Kisah itu memang fiksi, tapi kita bisa tetap mengambil sisi positif. Sebab kalau tidak, film hanya akan jadi tontonan belaka. Membuat kita kehilangan waktu, energi dan sekaligus tenaga. Karena setelah itu tak ada manfaat yang bisa kita petik.

Langkah-Langkah

Pertama, Syukuri Nikmat yang Ada

Seringkali, kita terlalu fokus pada apa yang kurang dalam hidup kita, sehingga lupa akan nikmat yang telah kita terima.

Cobalah untuk melihat sisi positif dari setiap situasi, sekecil apapun itu. Syukuri kesehatan, keluarga, teman, pekerjaan, atau bahkan udara segar yang kita hirup.

Lihatlah sisi positif dari siapapun. Sebagai orang tua kala melihat anak, jangan hanya kekurangannya. Perhatikan pula kelebihan dan keunggulannya. Dari anak-anak itu ada yang tekun membaca, ada yang lembut hati, juga ada yang terampil memasak. Semua berbeda, tugas kita memahami dan menghargainya.

Kedua, Fokus pada Hal yang Dapat Dikontrol

Ada banyak hal dalam hidup ini yang berada di luar kendali kita. Daripada membuang energi untuk meratapi hal-hal tersebut, lebih baik fokus pada hal-hal yang dapat kita kontrol, seperti sikap, pikiran, dan tindakan kita.

Ketiga, Cari Pelajaran dan Hikmah

Setiap pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, memiliki pelajaran dan hikmah yang dapat kita ambil. Jadikan setiap peristiwa sebagai kesempatan untuk belajar dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Menikmati Keadaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Menikmati keadaan bukanlah sesuatu yang hanya dapat dilakukan dalam situasi yang ideal. Justru, kemampuan untuk menikmati keadaan akan sangat berguna dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup.

Misalnya, ketika kita menghadapi kegagalan, kita dapat memilih untuk menyerah dan putus asa, atau kita dapat memilih untuk bangkit, belajar dari kesalahan, dan mencoba lagi.

Ketika kita kehilangan sesuatu yang berharga, kita dapat memilih untuk larut dalam kesedihan, atau kita dapat memilih untuk mengenang kenangan indah dan melanjutkan hidup.

Jadi, menikmati keadaan adalah kunci untuk hidup yang bahagia dan bermakna.

Dengan menerima kenyataan, mencari hikmah, dan tetap berusaha untuk menjadi yang terbaik, kita dapat melewati setiap cobaan dengan kepala tegak dan hati yang penuh syukur.

Ingatlah, kehidupan ini adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Mari kita nikmati setiap detiknya dengan penuh kesadaran dan rasa syukur dengan mental maju terus dalam kebaikan.[]

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Kuatkan Ketahanan Bangsa dari Rumah, Pemuda Hidayatullah Luncurkan Akademi Keluarga Sakinah

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Sebagai respon terhadap gejala pelemahan institusi keluarga yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, Pemuda Hidayatullah Jawa Timur meluncurkan program gerakan Akademi Keluarga Sakinah (AKSI) yang dirangkai dengan gelaran seminar keluarga di Aula Lt 3 Gedung Integral, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, Ahad, 8 Muharam 1446 (14/7/2024).

Kegiatan bertema ‘Mencetak Generasi Muslim yang Unggul’ ini menghadirkan satu keluarga inspiratif sebagai narasumber, yaitu Ario Muhammad, Ph.D, dan sang istri, Ratih Nur Esti Anggraini, Ph.D, serta anak mereka Muh DeLiang Al Farabi, yang menjadi representasi keluarga muda muslim yang layak menjadi contoh dalam mendidik anak-anak yang cerdas dan sholeh.

Dalam sambutannya, ketua panitia, Muhammad Faruq, menekankan bahwa langkah ini merupakan strategi penting dalam membantu bangsa Indonesia mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

“2045 itu 20 tahun lagi, sehingga kita masih punya waktu 20 tahun untuk mendidik putra-putri kita menjadi generasi unggul,” ujar pemuda asal Palu, Sulawesi Tengah ini.

Senada dengan Faruq, Ketua PW Pemuda Hidayatullah Jawa Timur, Adib Nur Syahid, juga menyampaikan keseriusan Pemuda Hidayatullah khususnya di Jatim dalam menangkal pemikiran-pemikiran yang dapat merusak institusi keluarga Indonesia sekaligus mengokohkan ketahanan bangsa mulai dari rumah.

“Itulah mengapa kita perlu konsep yang konsisten dalam membina keluarga Indonesia, terutama keluarga muda. Semoga hadirnya Akademi Keluarga Sakinah ini bisa memberi solusi atas permasalahan tersebut,” tutur Adib, seperti dalam keterangannya kepada media ini.

Peluncuran Akademi Keluarga Sakinah

Acara yang dihadiri ratusan peserta ini berlangsung khidmat sejak pukul 08.00 hingga berakhir pada pukul 11.20 WIB. Kesempatan tersebut juga digunakan Pemuda Hidayatullah Jatim untuk meluncurkan program AKSI atau Akademi Keluarga Sakinah.

Adib menjelaskan, program AKSI akan fokus pada pembinaan keluarga muda muslim secara berkelanjutan. Pembinaan ini mencakup berbagai bidang seperti agama, sosial, dan ekonomi keluarga, serta aspek-aspek lain yang relevan untuk menciptakan keluarga yang harmonis dan berkualitas.

“Tujuan utama dari program ini adalah untuk membentuk generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan nilai-nilai Islam yang kuat dan kokoh,” terang Adib.

Dengan adanya program seperti AKSI, Adib berharap keluarga-keluarga muda muslim di Jawa Timur dan Indonesia pada umumnya dapat lebih terarah dalam mendidik anak-anak mereka.

Adib menukaskan Akademi Keluarga Sakinah sebagai ikhtiar Pemuda Hidayatullah dalam kontribusinya dalam membentuk karakter yang baik, nilai-nilai moral yang kuat, dan kemampuan untuk menjadi pemimpin yang berintegritas.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, Adib mentatakn program Akademi Keluarga Sakinah ini diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat.

“Pemuda Hidayatullah Jawa Timur berkomitmen dalam memperkuat institusi keluarga karena ini salah satu agenda yang diderivasi dari program nasiona kita. Dengan berbagai program yang direncanakan, termasuk AKSI, harapannya ini mampu mencetak generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga sholeh dan berakhlak mulia,” kata Adib menandaskan.

Sementara itu, sebagai narasumber dalam seminar, keluarga Ario Muhammad dan Ratih NEA berbagi pengalaman mereka dalam mendidik anak serta beragam tantangan dan dinamikanya.

Mereka memberikan inspirasi mengenai bagaimana membentuk lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan anak-anak secara optimal baik dari segi akademis maupun spiritual.

Muh DeLiang Al Farabi, anak mereka, memiliki bakat dan talenta luar biasa. Ia juga berkesempatan menyapa peserta seminar dan berbagi inspirasi kepada ratusan peserta.

DeLiang Al Farabi lahir di Taiwan dan dibesarkan di Bristol, Inggris, ini menjadi contoh nyata hasil pendidikan yang berfokus pada pengembangan karakter dan pengetahuan yang seimbang. Penulis cilik ini juga berhasil menelurkan 2 novel yang bisa tembus Top 15 kategori Dark Comedy Amazon Amerika Serikat dan Inggris.

Seminar ini juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak-anak. Dalam era modern yang penuh dengan tantangan, keluarga menjadi benteng pertama dalam melindungi anak-anak dari pengaruh negatif.

Oleh karena itu, menurut Ario, pembinaan keluarga muda menjadi krusial untuk memastikan bahwa generasi penerus dapat tumbuh dengan nilai-nilai yang baik dan kemampuan yang memadai untuk berkontribusi pada masyarakat. (ybh/hidayatullah.or.id)

Manifestasi Kepedulian Pancaran Kebahagiaan bagi Santri Ponpes Al Mahrus

0

SERANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) tak pernah berhenti menunjukkan komitmennya dalam membantu sesama, kali ini dengan menyalurkan bantuan beras kepada 25 santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mahrus, Serang, Banten, Senin, 9 Muharam 1446 (15/7/2024).

Kebahagiaan terpancar di wajah Nisfi Nurlailati Santoso, salah satu santri Ponpes Al-Mahrus, saat menerima bantuan beras dari BMH.

“Alhamdulillah saya dan teman-teman santri lainnya jadi tidak khawatir kekurangan beras lagi untuk makan,” ungkapnya sambil tersenyum lebar.

Bantuan beras ini merupakan wujud kepedulian BMH terhadap para santri yang membutuhkan. Di tengah situasi ekonomi yang sulit, bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban mereka dan memastikan mereka tetap mendapatkan makanan yang bergizi.

“Kami memahami bahwa para santri di pesantren ini membutuhkan banyak bantuan, terutama dalam hal kebutuhan pokok seperti beras,” ujar Koordinator BMH Gerai Serang, Roni Hayani.

“Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi para santri dan membantu mereka dalam fokus belajar dan menimba ilmu,” imbuh Roni Hayani.

Abdul Hudri, pengasuh Ponpes Al-Mahrus, menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada BMH atas bantuan beras yang diberikan. Menurutnya, bantuan beras ini sangat luar biasa, apalagi pesantren yang diasuhnya memang tidak memungut biaya sedikitpun kepada para santri.

“Semoga para donatur BMH yang sudah bersedekah beras ini mendapat balasan pahala yang lebih baik dari Allah SWT,” paparnya dengan penuh antusias.

Roni Hayani menambahkan, penyaluran bantuan beras ini merupakan salah satu bentuk program BMH dalam membantu masyarakat yang membutuhkan. “BMH berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat dan memberikan bantuan yang tepat sasaran,” tandas Roni Hayani.*/Herim

Risaulah tak Sanggup Melunasi di Dunia, Apalagi Sampai Masuk Daftar ‘Blacklist’

MEMBELI barang dengan cara kredit sudah menjadi kelaziman di zaman ini. Besar atau kecil, mulai dari rumah sampai penggorengan, semua bisa dimiliki dengan cara diangsur. Akan tetapi, perilaku masing-masing orang berlainan di dalamnya.

Ada yang berdisiplin pada perjanjian yang telah disepakati, tetapi ada pula yang membandel sehingga dikejar-kejar oleh debt-collector (penagih hutang). Ada yang menyelesaikan kewajibannya pas sesuai tenggat, ada yang telat, tetapi ada juga yang lunas sebelum jatuh tempo.

Sekarang, pernahkah Anda membayangkan kehidupan ini sebagai semacam kontrak untuk “membeli” sesuatu di akhirat nanti? Kita telah meneken perjanjian sejak di alam ruh dengan mengakui Allah sebagai satu-satunya Rabb, dan itu berarti kita siap menerima konsekuensinya yaitu hidup dalam iman dan amal shalih.

Allah berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan: “sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al-A’raf: 172).

Namun, ternyata kehidupan ini mempertontonkan pertunjukan yang mirip kasus kredit barang-barang tadi. Ada manusia-manusia yang taat pada akad yang telah disepakati, tetapi ada juga yang berbuat semau sendiri. Oleh karena itu, nasib mereka di akhirat pun berbeda-beda.

Bila kita menengok kehidupan para Sahabat Nabi, kita mendapati orang-orang yang membeli surga dan keridhaan Allah dengan seluruh milik mereka di dunia ini. Waktu, tenaga, pikiran, harta, ilmu, kedudukan, pengaruh, keluarga, seluruhnya dikerahkan untuk melunasi harga yang Allah tetapkan.

Sedemikian serius dan sungguh-sungguhnya mereka mengangsur harga itu, sampai-sampai banyak diantara mereka yang bahkan telah melunasinya ketika masih segar-bugar.

Kita mendengar ada 10 orang Sahabat yang telah dijamin masuk surga, juga Sahabat-sahabat lain yang dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai ahli surga. Mereka masih hidup sekian tahun lagi setelah beliau mengucapkan jaminan itu, namun harga surga sudah mereka lunasi.

Sa’id bin Zaid berkata, “Aku bersaksi atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa aku mendengar beliau bersabda: ada sepuluh orang yang berada di surga; Nabi di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair bin Awwam di surga, Sa’ad bin Malik (Abu Waqqash) di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, dan andai aku mau pasti aku sebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang bertanya, “Siapa dia?” Sa’id diam. Orang-orang bertanya lagi, “Siapa dia?” Beliau menjawab, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” (Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih).

Dalam riwayat lain disebutkan juga nama Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai salah satu dari 10 Sahabat itu. (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Hibban, dari Abdurrahman bin Auf. Hadits shahih).

Apakah mereka hanya kelompok istimewa yang tidak ada duanya di kalangan Sahabat? Ternyata tidak. Sebab, dalam berbagai kesempatan Rasulullah pun menyebut nama-nama lain seperti Bilal bin Rabah, Ukasyah bin Mihshan, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah az-Zahra’, Aisyah, dan masih banyak lagi.

Iman dan amal shalih mereka sangat luar biasa dan patut dicontoh, sehingga sebelum ajalnya tiba sudah dinyatakan meraih apa yang diimpi-impikan di akhirat nanti. Meski sebenarnya surga tidak bisa diraih semata-mata dengan amal, akan tetapi tanpa amal maka ia tidak mungkin diberikan.

Sebenarnya, harga surga sangatlah mahal, sehingga kita hanya bisa memperolehnya berkat rahmat dan karunia Allah semata. Hanya saja, rahmat dan karunia itu juga tergantung pada seberapa serius dan tulusnya iman serta amal kita.

Rasulullah bersabda, “Berusahalah untuk tepat dan mendekati (amal terbaik), dan bergembiralah! Sungguh, tidak seorang pun yang dibuat masuk surga oleh amalnya.” Para Sahabat bertanya, “Tidak juga Anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga saya, kecuali jika Allah melimpahi saya dengan rahmat-Nya. Beramallah kalian, karena sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu, meskipun hanya sedikit.” (Riwayat Muslim, dari ‘Aisyah).

Dalam riwayat lain, dikatakan: “Tidak seorang pun yang diselamatkan oleh amalnya.” Para Sahabat bertanya, “Tidak juga Anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga saya, kecuali jika Allah melimpahi saya dengan rahmat-Nya. Berusahalah untuk tepat dan mendekati (amal terbaik)! Beramallah di pagi hari, siang hari, dan sebagian dari penghujung malam! Bersikaplah pertengahan dalam beramal! Bersikaplah pertengahan dalam beramal! Niscaya kalian akan sampai (kepada tujuan).” (Riwayat Bukhari, dari Abu Hurairah).

Sebaliknya, di zaman itu pun terdapat kelompok lain yang berdiri di seberang mereka. Kelompok ini adalah orang-orang yang telah melunasi harga neraka bahkan ketika masih segar-bugar di dunia. Salah satunya adalah Abu Lahab, paman Rasulullah sendiri. Ia adalah sosok yang dinyatakan pasti masuk neraka jauh sebelum kematiannya!

Diceritakan bahwa tatkala Rasulullah mulai berdakwah secara terang-terangan, beliau berdiri di Bukit Shafa dan memanggil kerabatnya dari kaum Quraisy. Setelah mereka berkumpul, beliau menyatakan kenabiannya secara terbuka dan mengajak mereka untuk menjadi rombongan pertama pendukung risalahnya, sebelum orang lain.

Mereka diam, kecuali Abu Lahab yang berseru marah, “Hanya untuk inikah kaukumpulkan kami?! Binasalah engkau, hai Muhammad!” Rasulullah sangat terpukul mendengar umpatan sang paman ini, sampai Allah menghiburnya dengan menurunkan surah Al-Lahab: 1-5:

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam neraka yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, si pembawa kayu bakar itu. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”

Menurut para ahli tarikh, peristiwa ini terjadi pada tahun ke-3 setelah kenabian, sementara Abu Lahab diketahui mati mendadak pada tahun 2 Hijriyah, karena sangat terkejut setelah mendengar kekalahan besar kaum musyrikin dalam Perang Badar.

Rasulullah sendiri berdakwah di Makkah selama 13 tahun, sebelum akhirnya diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Alhasil, tidak kurang dari 12 tahun sebelum kematiannya, Abu Lahab telah lunas membayar angsuran nerakanya! Na’udzubillah!

Sekarang, terbentang dua masa yang entah masih berapa lama lagi disediakan oleh Allah untuk masing-masing dari kita. Bila kita menginginkan surga dan keridhaan-Nya, maka jangan lengah membayar harganya.

Walau kita tidak sanggup melunasinya di dunia ini, minimal Allah tidak menggolongkan kita sebagai kaum yang melalaikan kewajiban dan masuk blacklist (daftar hitam). Adapun harga surga selebihnya, semoga Allah melimpahi kita dengan rahmat-Nya dan mengizinkan Rasulullah mengulurkan syafa’atnya. Amin. Wallahu a’lam.[]

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur