Beranda blog Halaman 22

Hidayatullah Apresiasi Respons Cepat Pemkab Bojonegoro Tangani Dampak Puting Beliung

0
Tangkapan layar Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Bojonegoro (Foto: JTV Bojonegoro/ Youtube)

BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Nanang Noerpatria, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang sedalam-dalamnya kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, khususnya kepada Wakil Bupati Nurul Azizah, atas respons cepat dan terkoordinasi dalam menangani dampak musibah angin puting beliung yang menimpa Kampus Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Bojonegoro.

Demikian disampaikan Nanang Noerpatria selaku pendamping wilayah Hidayatullah Jawa Timur, sebagai bentuk penghargaan atas langkah-langkah penanganan yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama jajaran terkait.

“Kepemimpinan yang hadir di saat sulit adalah kepemimpinan yang melayani. Terima kasih Pemkab Bojonegoro atas dedikasinya menyelamatkan masa depan generasi penjaga Al-Qur’an,” ujarnya dalam keterangannya pada Kamis, 17 Syaban 1447 (5/2/2026).

Musibah angin puting beliung yang terjadi di lingkungan kampus pesantren tersebut mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas. Menanggapi kejadian itu, jajaran Pemerintah Kabupaten Bojonegoro hadir langsung di lokasi bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, aparat kepolisian, serta relawan. Kehadiran tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya penanganan awal yang bersifat tanggap darurat terhadap dampak bencana.

Nanang menyampaikan bahwa kehadiran jajaran pemerintah daerah di lokasi memberikan dorongan moral bagi para santriwati dan pengasuh Pondok Pesantren Putri Hidayatullah. Ia menyebut bahwa langkah tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap keberlangsungan pendidikan keagamaan di wilayah Bojonegoro.

Nanang menilai kehadiran Wakil Bupati Bojonegoro bersama tim BPBD, kepolisian, dan relawan sebagai wujud nyata kehadiran negara dalam situasi sulit yang dihadapi lembaga pendidikan keagamaan. Ia menyampaikan bahwa langkah cepat yang dilakukan melalui BPBD dan dinas terkait mencerminkan sinergi yang berjalan antara pemerintah daerah dan lembaga kemasyarakatan dalam menghadapi bencana.

Nanang Noerpatria juga menegaskan kesiapan Hidayatullah untuk berkolaborasi dalam proses rehabilitasi bangunan yang terdampak. Ia menyampaikan bahwa kerja sama tersebut diarahkan agar kegiatan belajar mengajar para santriwati dapat kembali berlangsung secara normal dalam waktu yang secepatnya.

Nanang menyatakan bahwa Hidayatullah akan terus memposisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah termasuk Kabupaten Bojonegoro. Ia menegaskan bahwa kemitraan bersama membangun sumber daya manusia yang unggul dan berakhlakul karimah.

Ia juga menyampaikan pesan kepada keluarga besar Hidayatullah Bojonegoro, khususnya para santriwati, agar tetap tegar menghadapi ujian yang terjadi.

Nanang menyampaikan penguatan bahwa ujian yang dihadapi merupakan bagian dari ketentuan, serta menekankan bahwa dukungan yang datang dari pemerintah daerah dan masyarakat menjadi tanda adanya kebersamaan dalam menghadapi situasi sulit.

Tiga Tema Pembicaraan Terbaik Menurut al-Qur`an

0

Al- Ikhlas Nirwana, 03 Januari 2026

Ust. Muhammad Agung TJ, M.Si

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا..مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ..   أُوصِيكُم وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُونَ

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menaati seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu wujud nyata dari ketakwaan itu adalah menjaga dan meningkatkan kualitas pembicaraan kita, karena setiap kata yang terucap akan dicatat dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Di dalam al-Qur`an Surat an-Nisa ayat 114 Allah memberikan petunjuk tentang apa saja topik terbaik yang perlu dihadirkan dalam ruang percakapan kita sehari-hari. Allah berfirman:

۞ لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا ١١٤

Artinya : Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan mereka, kecuali  orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar.

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, ayat yang mulia ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa ada tiga tema pembicaraan atau obrolah terbaik yang diridhoi Allah dan mendatangkan pahala yang sangat besar, yaitu:

Pertama, percakapan yang mengandung ajakan untuk bersedakah (   اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ   ). Satu ajakan sedekah dapat melahirkan banyak amal. Kebaikan yang awalnya kecil bisa berkembang luas dan terus mengalir pahalanya.  Mengajak pada sedekah bukan hanya menggerakkan tangan orang lain, tetapi juga membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia.  Mengajak sedekah dengan hikmah dan keteladanan adalah dakwah yang hidup, mudah diterima, dan berdampak langsung. Menganjurkan sedekah berarti membuka pintu pahala berlipat, meski kita belum mampu memberi banyak.

Kedua, percakapan yang mengandung ajakan berbuiat kebaikan (   اَوْ مَعْرُوْفٍ   ).

Saling mengajak kepada kebaikan menumbuhkan rasa saling peduli, cinta, dan tanggung jawab antar sesama muslim. Mengajak kepada kebaikan bukan mencela, tetapi menyelamatkan, dunia dan akhirat. Sebagaimana Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

 “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim).

Ketiga, percakapan yang mendamaikan pertikaian ( اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ ).

Allah mencintai orang-orang yang berusaha memperbaiki hubungan dan menebarkan kedamaian di tengah umat. Dalam kondisi konflik, mendamaikan pihak yang berselisih lebih didahulukan daripada memperbanyak amalan sunnah yang bersifat individual. Sebaginama Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ قَالُوْا بَلَى قَالَ إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ

“Maukah kukabarkan kepada kalian perkara yang lebih afdal dibandingkan derajat puasa, shalat, dan sedekah?” Para sahabat menjawab, “Tentu saja.” Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Perbaikilah (hubungan) di antara sesama kalian. Dan rusaknya hubungan adalah pencukur (perusak agama).” (HR. Abu Daud).

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, siapa yang mengamalkan tiga hal yang dijelaskana tadi dengan ikhlas dan mengharapkan ridha Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā makka akan diberkan pahala yang sangat besar (  فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا  )

Semoga kita semua jama’ah juma’at yang dimuliakan Allah mendapatkan pertolongan, hidayah dan taufiq untuk dapat mengamalkan tiga amalan tersebut.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .. أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ..   أُوصِيكُم وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُونَ

اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Ketika Kebenaran Disampaikan Namun Tak Lagi Didengar

0

DALAM kehidupan sosial, ada satu ironi yang kerap berulang. Yaitu, ketika kebenaran disampaikan, namun justru ditolak, nasihat diucapkan, tetapi melahirkan jarak dan resistensi. Ironi ini sering kali tidak bersumber dari kesalahan isi, melainkan dari cara kebenaran itu dihadirkan. 

Dalam ruang komunikasi manusia, kebenaran hampir tidak pernah berdiri telanjang. Ia selalu datang melalui bahasa. Dan, bahasa, memiliki kuasa untuk membuka atau justru menutup pintu hati.

Tidak sedikit kebenaran yang gugur bukan karena lemah secara substansi, melainkan karena disampaikan dengan diksi yang kasar, tergesa, atau tanpa kepekaan.

Di sinilah kita diingatkan bahwa niat baik, setulus apa pun, tidak otomatis menjelma menjadi kebaikan yang diterima. Ia menuntut tanggung jawab etis dalam bertutur. Bahasa bukan sekadar alat, tetapi cermin dari kedalaman akhlak dan keluasan hikmah seseorang.

Islam sejak awal telah menempatkan bahasa pada posisi yang sangat sentral. Mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ bukanlah fenomena alam yang memukau mata, melainkan Al-Qur’an. Sebuah teks yang menantang akal, rasa, dan keindahan bahasa sekaligus. 

Allah SWT menyebutnya sebagai ahsanal hadîts, perkataan terbaik yang pernah diturunkan kepada manusia (QS. Az-Zumar: 23). Ini memberi pesan kuat bahwa kebenaran ilahiah tidak disampaikan secara kasar atau serampangan, tetapi melalui struktur bahasa yang paling sempurna dan beradab.

Para ulama klasik membaca pesan ini dengan kesadaran mendalam. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa lisan adalah pintu terbesar keselamatan sekaligus kebinasaan manusia. Menurutnya, banyak kebenaran kehilangan nilainya bukan karena salah, tetapi karena diucapkan tanpa hikmah. 

Bahkan, ucapan yang benar, jika disampaikan dengan niat pamer, nada merendahkan, atau tanpa empati, dapat berubah menjadi sebab dosa. Dalam pandangan Al-Ghazali, menjaga adab bahasa adalah bagian dari tazkiyatun nafs—penyucian jiwa.

Al-Qur’an sendiri memberi teladan etika bahasa yang sangat halus. Tidak ada keburukan yang disandarkan kepada Allah SWT dengan redaksi yang buruk. Bahkan ketika menjelaskan musibah, kesesatan, atau azab, Al-Qur’an menggunakan konstruksi bahasa yang penuh keagungan dan kehati-hatian. Ini bukan semata keindahan sastra, melainkan pendidikan moral bagi manusia: bahwa kebenaran yang agung harus dibungkus dengan adab yang agung pula.

Prinsip ini ditegaskan dalam firman Allah SWT: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qawlan sadîdâ)” (QS. Al-Ahzab: 70). 

Menariknya, perintah berkata benar diletakkan berdampingan dengan perintah takwa. Seolah Allah ingin menegaskan bahwa kesalehan tidak hanya tercermin dari keyakinan batin, tetapi juga dari cara seseorang mengekspresikan kebenaran kepada orang lain.

Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarijus-Salikin menjelaskan bahwa hikmah dalam berbicara adalah kemampuan menempatkan kata pada waktu, tempat, dan kondisi yang tepat. Menurutnya, banyak kebenaran gagal memberi hidayah bukan karena keliru, tetapi karena disampaikan pada saat yang salah atau dengan bahasa yang menutup pintu hati. 

Bahasa yang tepat, dalam pandangan Ibn Qayyim, adalah bagian dari rahmat; sementara bahasa yang ceroboh dapat berubah menjadi alat pemaksaan.

Hal ini semakin terang ketika kita membaca kisah pengutusan Nabi Musa AS kepada Firaun. Firaun adalah simbol kezaliman dan kesombongan, namun Allah SWT tetap memerintahkan Musa dan Harun untuk berbicara dengan qawlan layyinâ—kata-kata yang lembut (QS. Thaha: 44). 

Perintah Tuhan kepada Musa ini menunjukkan bahwa kelembutan diksi bukanlah tanda kompromi terhadap kebenaran, melainkan strategi ilahiah agar kebenaran memiliki peluang untuk diterima. Jika kepada tiran saja bahasa lembut diperintahkan, maka sungguh janggal jika kebenaran di antara sesama manusia disampaikan dengan nada merendahkan dan melukai.

Adab ini tercermin pula dalam sikap intelektual para ulama. Imam Asy-Syafi’i pernah berkata bahwa ia tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali berharap kebenaran tampak melalui lisan lawannya. 

Ungkapan peletak dasar ilmu Ushul Fiqih tersebut mencerminkan kedewasaan berpikir dimana bagi beliau tujuan berbicara bukan memenangkan ego, melainkan menghadirkan kebenaran. Dan tujuan semacam ini hanya mungkin dicapai jika bahasa yang digunakan membuka ruang dialog, bukan mematikan percakapan.

Di sinilah perintah pertama wahyu—Iqra’—menemukan relevansinya dalam konteks bahasa dan diksi. Membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan proses pembentukan cara berpikir dan bertutur. Kemiskinan bacaan sering kali berbanding lurus dengan kemiskinan kosakata. Seseorang yang jarang membaca akan kesulitan menemukan kata yang tepat, sehingga mudah terjebak pada bahasa yang emosional, repetitif, atau tidak presisi.

Membaca, dalam makna yang luas, melatih kepekaan terhadap realitas, data, dan konteks psikologis. Ia mengajarkan bahwa tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang sama, dan tidak setiap situasi menuntut bahasa yang keras. Ibn ‘Athaillah As-Sakandari menyebut kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya sebagai tanda hikmah—dan hikmah inilah ruh dari komunikasi yang beradab.

Pada akhirnya, kebenaran yang diniatkan dengan tulus, diperiksa melalui tabayyun, dan disampaikan dengan diksi yang tepat akan memiliki daya tembus yang jauh lebih kuat. Ia tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga mengetuk hati. Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup manusia, termasuk dalam cara bertutur. Maka menjaga adab bahasa bukanlah sekadar etika tambahan, melainkan bagian dari amanah risalah.

Sebab sering kali, yang membuat kebenaran ditolak bukan karena ia salah, melainkan karena ia datang tanpa adab bahasa.[]

*) Ahmad Sabil, S.Pd.I., S.H.I., penulis adalah Sekertaris Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Makassar

Wakil Bupati Nurul Azizah Tinjau Ponpes Hidayatullah Bojonegoro Pasca Diterjang Angin Puting

Tangkapan layar Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Bojonegoro (Foto: JTV Bojonegoro/ Youtube)

BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, mengakibatkan atap Gedung Pondok Pesantren (Ponpes) Putri Hidayatullah roboh pada Selasa sore, 15 Sya’ban 1447 (03/02/2026). Insiden ini terjadi di Dusun Kalisari, Desa Banjarsari, sekitar pukul 16.30 WIB.

Merespons kejadian tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, turun langsung meninjau lokasi pada Rabu pagi untuk memastikan kondisi para santri dan penanganan pascabencana.

Petugas gabungan dari BPBD, kepolisian, SAR dan BMH serta relawan Tagana terlihat bergotong royong membersihkan puing-puing bangunan yang berserakan.

Dalam kunjungannya, Wabup Nurul Azizah menyampaikan keprihatinannya dan menginstruksikan pendataan untuk persiapan bantuan perbaikan fisik bangunan. Ia juga mengimbau masyarakat Bojonegoro untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan angin puting beliung yang masih mungkin terjadi.

Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, meninjau Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Bojonegoro (Foto: JTV Bojonegoro/ Youtube)

Kapolsek Trucuk, AKP Mulyono, menjelaskan bahwa kerusakan parah terjadi pada bagian atap lantai dua yang terbuat dari galvalum dengan rangka besi, serta runtuhnya plafon ruang kelas dan asrama.

Pelaksana Tugas (Plt) Kalaksa BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, menambahkan bahwa atap yang roboh meliputi satu gedung kelas dan empat gedung asrama putri dengan dimensi kerusakan mencapai panjang 30 meter dan lebar 7 meter.

Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. Sebelum kejadian, petugas keamanan pondok telah sigap mengimbau para santriwati untuk menjauh dari lokasi rawan menuju tempat yang lebih aman.

Meski demikian, kerugian material akibat bencana ini ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Untuk keamanan, para santriwati yang sebelumnya menempati asrama lantai dua kini dipindahkan sementara ke gedung lantai satu dan masjid.

Penguatan Mutu Pendidik, Hidayatullah dan Uhamka Bahas Kolaborasi Akademik

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Pendidikan, Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D., menerima kunjungan silaturrahim dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 16 Sya’ban 1447 (4/2/2026).

Pada pertemuan dalam rangka penguatan komunikasi antarlembaga dalam pengembangan pendidikan tinggi tersebut, Muzakkir Usman didampingi Ketua Departemen Pendidikan Tinggi dan Litbang DPP Hidayatullah, Muhammad Saddam, S.E., M.Ak.

Dari pihak universitas, rombongan dipimpin oleh Ketua Program Studi Pendidikan Dasar UHAMKA, Dr. Yessy Yanita Sari, M.Pd., bersama Ketua Program Studi Pendidikan Matematika S2, Dr. Sigid Edy Purwanto, M.P., Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam S2, Dr. Tohirin, S.H.I., M.Pd.I., serta Staf Bidang Promosi & Administrasi Julius Irawan.

Pertemuan diawali dengan perkenalan kelembagaan. Kedua pihak memaparkan visi, misi, serta fokus pengembangan pendidikan yang tengah dijalankan masing-masing institusi. Dialog kemudian berlanjut pada pembahasan isu-isu pendidikan terkini, khususnya tantangan peningkatan kualitas pendidik dan dosen di tengah tuntutan profesionalisme dan akreditasi akademik.

Dalam suasana yang hangat, dilakukan penjajakan kerja sama antara Hidayatullah dan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Pembahasan difokuskan pada peluang pengembangan program Sarjana untuk mendukung linearitas kualifikasi guru-guru di lingkungan Hidayatullah, serta program Pascasarjana yang diarahkan pada peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya dosen.

Muzakkir Usman menegaskan pentingnya sinergi antarlembaga pendidikan dalam menjawab kebutuhan peningkatan mutu.

“Kolaborasi akademik menjadi jalan strategis untuk memastikan peningkatan kualifikasi pendidik berjalan terarah dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia menilai kerja sama lintas institusi merupakan langkah relevan untuk memperkuat ekosistem pendidikan nasional.

Sementara itu Yessy Yanita menyampaikan keterbukaan terhadap inisiatif kolaboratif tersebut. Ia menilai pertemuan ini sebagai awal yang positif untuk membangun kerja sama yang saling menguatkan, khususnya dalam pengembangan program studi yang relevan dengan kebutuhan praktis dunia pendidikan.

Silaturrahim ini diharapkan menjadi fondasi bagi kerja sama konkret di bidang pendidikan tinggi, sekaligus mempererat hubungan kelembagaan antara Hidayatullah dan Uhamka. Kedua pihak sepakat untuk menindaklanjuti hasil pertemuan melalui pembahasan teknis pada tahap berikutnya.[]

SAR Hidayatullah dan Laznas BMH Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Pekalongan

0

PEKALONGAN (Hidayatullah.or.id) — Aksi siaga bencana kembali dilakukan oleh SAR Hidayatullah bersama Laznas BMH dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak banjir di Desa Karangjompo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, pada Selasa, 16 Syaban 1447(4/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari respon darurat atas kondisi banjir berkepanjangan yang masih melanda wilayah tersebut.

Sebanyak 100 paket bantuan sembako didistribusikan langsung kepada warga terdampak. Relawan SAR Hidayatullah turut terjun ke lapangan untuk memastikan bantuan diterima oleh masyarakat yang membutuhkan. Aksi ini diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang aktivitas kesehariannya terganggu akibat genangan air yang belum surut.

Relawan SAR Hidayatullah, Johan Winarno, menyampaikan bahwa kehadiran tim kemanusiaan diharapkan dapat meringankan beban warga. “Kami berharap bantuan ini bisa sedikit membantu kebutuhan warga dan kondisi segera membaik agar masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti semula,” ujarnya singkat di sela pendistribusian.

Banjir di Kecamatan Tirto dilaporkan telah memasuki fase mengkhawatirkan. Selama kurang lebih dua pekan, empat desa yakni Jeruksari, Mulyorejo, Tegaldowo, dan Karangjompo terendam air. Banjir dipicu oleh kombinasi puncak musim hujan, fenomena rob, serta jebolnya tanggul sungai yang memperparah luapan air ke permukiman warga.

Camat Tirto, Siswanto, melaporkan bahwa kondisi tersebut memaksa sedikitnya 1.600 jiwa meninggalkan rumah dan kini tersebar di 17 titik pengungsian. Di lapangan, kebutuhan medis mulai menipis, sementara fasilitas sanitasi di posko pengungsian dinilai tidak lagi memadai.

Sejumlah kepala desa juga menyampaikan keterbatasan stok obat-obatan, terutama salep kulit untuk kutu air, obat diare, selimut, susu formula, serta pakaian dalam bagi warga pengungsi.

Rakerwil Hidayatullah Jatim Catat Kontribusi BTH bagi Kemandirian Organisasi

0

BATU (Hidayatullah.or.id) — Direktur Baitut Tamwil Hidayatullah Jawa Timur, M Daud, menyampaikan bahwa Baitut Tamwil Hidayatullah Jawa Timur telah memberikan kontribusi kepada organisasi sebesar Rp 191 juta sepanjang tahun 2025. Kontribusi tersebut dilaporkan sebagai bagian dari pertanggungjawaban kinerja lembaga keuangan syariah tersebut dalam forum organisasi tingkat wilayah.

Hal itu disampaikan M Daud dalam agenda Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Kota Batu pada Jumat, 12 Syaban 1447 (31/1/2026).

Dalam laporan kinerjanya, M Daud menjelaskan bahwa hingga akhir tahun 2025 total aset Baitut Tamwil Hidayatullah Jawa Timur telah mencapai Rp 40 miliar.

Dengan capaian aset tersebut, BTH Jawa Timur mampu membagikan Sisa Hasil Usaha kepada para anggota sebesar Rp 990 juta. Pembagian SHU tersebut disampaikan sebagai bagian dari komitmen lembaga dalam memberikan manfaat langsung kepada anggota.

“Alhamdulillah, dengan aset yang ada, BTH sudah bisa berbagi SHU kepada anggota sebesar Rp 990 juta. Selain itu, kami juga berkontribusi kepada organisasi sebesar Rp 191 juta sepanjang tahun 2025,” ujar M Daud saat menyampaikan laporan di hadapan peserta Rakerwil.

Kontribusi sebesar Rp 191 juta yang disampaikan BTH Jawa Timur kemudian diserahkan secara simbolis kepada Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie. Penyerahan tersebut menjadi bagian dari rangkaian agenda Rakerwil untuk mendukung perjuangan dan kemandirian organisasi secara berkelanjutan.

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie, dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi atas capaian kinerja BTH Jawa Timur. Ia menilai BTH menunjukkan konsistensi pertumbuhan serta kebermanfaatan yang dirasakan baik oleh anggota maupun oleh organisasi. Apresiasi tersebut disampaikan sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi unit usaha dalam menopang aktivitas organisasi.

“Pesan saya, terus semangat dan tetap istiqamah. Semoga ke depan BTH bisa memberikan kontribusi yang lebih besar lagi, tidak hanya untuk organisasi dan perjuangan, tetapi juga dalam mensejahterakan anggota dan kader,” kata Amun Rowie, dinukil dari laman resmi Hidayatullahjamtim.com.

Amun Rowie juga menyampaikan harapannya agar capaian BTH Jawa Timur dapat menjadi contoh bagi unit-unit usaha lain di lingkungan Hidayatullah.

Ia berharap unit-unit usaha tersebut dapat terus tumbuh secara profesional, mandiri, dan berorientasi pada kemaslahatan umat, sejalan dengan nilai dan tujuan organisasi.

Amun mengapresiasi Laporan kinerja yang disampaikan BTH Jawa Timur yang menunjukkan keterpaduan antara pengelolaan usaha dan kontribusi organisasi. Pembagian SHU kepada anggota dan penyaluran kontribusi kepada organisasi menurutnya menjadi dua aspek yang saling melengkapi dalam penguatan ekonomi berbasis keumatan.

Rakerwil Hidayatullah Jawa Timur sendiri menjadi forum strategis untuk menyelaraskan arah gerak organisasi dan amal usaha. Melalui forum ini, unit-unit usaha seperti BTH diberikan ruang untuk menyampaikan capaian dan komitmen kontribusinya secara terbuka di hadapan struktur organisasi.

Membangun “Pabrik” Kader Pemimpin

DALAM sejarah peradaban, keberlanjutan (sustainability) bukanlah sebuah kebetulan atau alamiah. Ia adalah buah dari desain besar yang bernama kaderisasi. Sebuah negara, institusi, organisasi, bahkan keluarga akan mengalami “kematian sejarah” jika ia gagal melahirkan generasi pengganti yang lebih tangguh dari pendahulunya. Menyiapkan kader bukanlah sekadar pilihan personal, melainkan amanah keumatan yang menjadi penentu masa depan umat.

Di dunia ini pernah terlahir peradaban yang bisa bertahan ratusan tahun dengan pergantian beberapa generasi karena kaderisasi berjalan dengan baik. Salah satu alasan mengapa Utsmaniyah mampu bertahan selama lebih dari 600 tahun adalah keberadaan Sekolah Enderun di Topkapi. Ini contoh “kaderisasi” paling sistematis di zamannya. Mereka mengambil input talenta terbaik, menempa mereka dengan proses tarbiyah jasmani dan rohani yang ketat, hingga menghasilkan output birokrat dan panglima sekaliber Muhammad Al-Fatih. Mereka memastikan bahwa suksesi kepemimpinan didasarkan pada meritokrasi, bukan sekadar warisan biologis tapi digabungkan dengan kompetensi.

Satu sisi ada juga peradaban yang berjalan sesaat atau satu generasi saja karena tidak menyiapkan kader dengan baik. Contoh Kekaisaran Mongol setelah era Genghis Khan dan Kublai Khan. Mengapa? Karena mereka hebat dalam penaklukan (acquisition), namun gagal dalam kaderisasi sistemis (pengembangan bakat). Kepemimpinan mereka bersifat atomistik, bergantung pada karisma individu  sehingga saat sang tokoh wafat maka imperium hancur dan punah.

Keruntuhan peradaban sering kali berasal dari internal yaitu melemahnya kaderisasi. Adapun faktor eksternal sebagai titik balik yang mempercepat kehancuran.

Dialektika Kader: Antara Takdir Fitrah dan Rekayasa Kaderisasi

Perdebatan klasik mengenai apakah pemimpin itu dilahirkan (born) atau dibentuk (made) menemukan titik temu yang indah dalam Islam. Rasulullah SAW mengibaratkan manusia seperti “logam” (ma’adin); ada yang bak emas, ada yang bak perak dan perunggu.

Namun, seberapa pun mahalnya emas, ia tidak akan menjadi perhiasan yang indah tanpa proses pemurnian, pembakaran, dan penempaan. Di sinilah letak peran pendidikan (tarbiyah) berbasis kaderisasi dan lingkungan (bi’ah). Kita tidak bisa hanya mengandalkan faktor genetika meski itu juga aspek yang tidak bisa disepelekan, namun jika hanya mengandalkan previlige tanpa mengikuti proses kaderisasi menjadi pemimpin maka kehancuran menunggu waktu saja.

Tugas besar kita bukan sekadar mengumpulkan orang, melainkan membangun sebuah “Pabrik Kader”. Sebuah sistem manufaktur talenta yang terintegrasi untuk mengubah potensi mentah (fitrah) menjadi kompetensi kepemimpinan yang nyata.

Istilah “pabrik” di sini bukan berarti menyamakan manusia dengan mesin, melainkan sebuah penekanan pada presisi proses dan standarisasi kualitas. Dalam manajemen kaderisasi modern, pabrik ini bekerja mengintegrasikan aspek Input, Process, Output, dan Outcome:

Penggunaan istilah pabrik juga sebuah kritik terhadap pola kaderisasi “asal-asalan” yang selama ini terjadi di banyak organisasi. Terkadang input calon kader dengan kualitas apa adanya, tanpa seleksi dan kreteria. Sebagian memiliki input yang bagus tapi tidak memiliki proses yang jelas dan sistematis.

Banyak lembaga yang punya berhasil melahirkan output dengan kuantitas banyak tapi kompetensi kurang memadai. Salah satu sebabnya mesin prosesnya tidak berjalan dengan baik, prosesor sebagai pusat kendali dan teladan tidak ada.

Kemudian  outcome (sejauh mana alumni tersebut berkontribusi) kepada almamater ataupun masyarakat secara luas kurang mendapatkan porsi perhatian. Padahl ini menjadi titik balik evaluasi yang krusial dan pengembangan kaderisasi.

Istilah “Pabrik Kader” juga merupakan antitesis dari “Accidental Leadership (Kepemimpinan kebetulan). Banyak organisasi Islam terjebak dalam pola survival mode karena mereka tidak memiliki stok pemimpin cadangan, banyak orang tapi seperti tidak ada orang. Mereka mengalami apa yang disebut dalam teori manajemen sebagai Leadership Gap atau ada jurang antara kompleksitas tantangan zaman dengan kapasitas pemimpin yang tersedia.

Membangun “Pabrik Kader” berarti kita berkomitmen pada disiplin manajerial dengan memperhatikan empat proses di atas. Kita tidak lagi menunggu pemimpin jatuh dari langit; kita menjemputnya dengan sistem yang terukur. Karena kepemimpinan yang kuat bukan lahir dari kebetulan, melainkan hasil dari rekayasa sistemik yang matang.

Pabrik kader bisa dalam bentuk formal, non formal dan informal. Institusinya bisa mengikuti sesuai dengan kebutuhan dan tujuan dari out put yang akan dilahirkan dari pabrik kader tersebut. Perlu nafas panjang untuk mengelola pabrik kader karena hasilnya tidak instan, bin salabin yang tiba-tiba mendidik sesaat langsung menjadi kader.

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa organisasi yang memiliki program pengembangan kepemimpinan internal yang kuat (pabrik kader) memiliki ketahanan tiga kali lipat lebih tinggi dalam menghadapi krisis ekonomi global. Tentu dibandingkan dengan organisasi yang tidak memiliki program kaderisasi. Maka masa depan sebuah organisasi ataupun peradaban ditentukan oleh kaderisasi.

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah

Disrupsi Digital, Polarisasi Informasi dan Perubahan Cepat Geopolitik Global Menjadi Tantangan Gen Z

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH), Rizki Ulfahadi, mengingatkan bahwa generasi Z saat ini dihadapkan pada tantangan disrupsi digital, polarisasi informasi, serta perubahan geopolitik global yang berlangsung cepat. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut mahasiswa memiliki fondasi intelektual dan spiritual yang kokoh agar mampu membaca realitas secara utuh dan bertanggung jawab.

Rizki mengutarakan itu dalam rangkaian Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan PP GMH secara daring pada Sabtu, 12 Sya’ban 1447 (31/1/ 2026), yang mengangkat tema “Daya Kritis Mahasiswa: Modal Gen Z Membaca Dunia”.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan menjadi ruang diskusi lintas kampus untuk membahas peran strategis mahasiswa dalam merespons dinamika kebangsaan dan global.

Rizki Ulfahadi menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga arah perjalanan bangsa. Ia menyampaikan bahwa daya kritis mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari nilai dan integritas.

Menurut pria asal Sumatera Barat ini, identitas keislaman dan keindonesiaan merupakan pijakan utama dalam membangun perspektif yang menyeluruh ketika membaca fenomena sosial, politik, dan budaya.

“Daya kritis harus dibangun di atas nilai dan integritas. Mahasiswa tidak boleh tercerabut dari identitas keislaman dan keindonesiaannya. Justru dari sanalah lahir perspektif yang utuh dalam membaca realitas,” ujarnya.

Rizki menjelaskan, Dialog Kebangsaan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan jejaring intelektual mahasiswa lintas daerah. Melalui kegiatan tersebut, PP GMH menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan forum-forum diskusi strategis yang mendorong lahirnya mahasiswa yang kritis, berintegritas, dan berkontribusi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kegiatan ini juga sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi agenda Indonesia Emas 2045. Sebagai organisasi berbasis kader, kami berharap dialog ini menjadi titik awal konsolidasi pemikiran mahasiswa dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai, ilmu, serta keberpihakan pada kepentingan umat dan bangsa,” imbuhnya.

Kecermatan Membaca Konteks

Dialog ini menghadirkan tokoh literasi nasional, Imam Nawawi, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Imam Nawawi menekankan pentingnya penguatan budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis di kalangan generasi Z, khususnya mahasiswa.

Penulis buku Mindset Surga ini menyampaikan bahwa derasnya arus informasi global menuntut kemampuan membaca konteks dan memilah informasi secara cermat.

Menurut Imam Nawawi, daya kritis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyampaikan kritik, tetapi juga mencakup kecakapan memahami dinamika sosial-politik, menilai relevansi informasi, serta menawarkan solusi yang berbasis pengetahuan.

“Mahasiswa harus menjadi pembaca dunia yang aktif, bukan sekadar konsumen informasi,” tegas Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) ini, lalu menekankan peran mahasiswa sebagai subjek aktif dalam produksi dan pemaknaan pengetahuan.

Ia juga menjelaskan bahwa pada era informasi yang berlimpah, mahasiswa perlu mengembangkan nalar kritis agar tidak terjebak pada pengulangan narasi populer tanpa memahami esensi di baliknya.

Menurutnya, nalar kritis merupakan kemampuan untuk memberi jarak terhadap otoritas, tren, maupun algoritma digital, sehingga ruang bagi pertanyaan yang jujur dan pemikiran independen tetap terjaga.

“Nalar kritis bukan sekadar kemampuan berdebat, tetapi kemampuan menunda kepatuhan pada otoritas, tren, atau algoritma demi memberi ruang bagi pertanyaan yang tulus dan pemikiran independen, sehingga mahasiswa dapat membedakan fakta dari propaganda serta data dari narasi yang bermuatan kepentingan tertentu,” papar Imam.

Diskusi ini dipandu oleh moderator, Giri Novela, yang juga menjabat sebagai Ketua Departemen Organisasi dan Pengembangan Jaringan PP GMH.

Selama forum berlangsung, sesi tanya jawab menunjukkan antusiasme peserta. Mahasiswa dari berbagai kampus menyampaikan pandangan, pertanyaan, serta refleksi kritis terkait tantangan generasi muda dalam menghadapi banjir informasi, budaya instan, dan fenomena post-truth di era digital.

Bergembira karena Datangnya Ramadhan, Tanda Hati yang Masih Hidup

0

GEMBIRA menyambut bulan Ramadhan bukanlah perkara sepele dalam ajaran Islam. Ia bukan sekadar rasa senang karena pergantian waktu atau datangnya satu bulan tertentu dalam kalender.

Lebih dalam dari itu, kegembiraan atas hadirnya Ramadhan adalah ekspresi iman yang hidup, tanda hati yang peka, dan bukti kecintaan seorang hamba terhadap musim ketaatan yang Allah bentangkan.

Para ulama sejak generasi awal telah menaruh perhatian besar pada makna kegembiraan ini. Mereka menegaskan bahwa menghadirkan rasa gembira ketika datang musim-musim ibadah, terlebih Ramadhan, adalah bagian dari pengamalan iman. Karena Islam tidak hanya mengatur gerak lahiriah, tetapi juga kehidupan batin, termasuk rasa, harap, dan cinta kepada Allah.

Landasan utama tentang kegembiraan yang benar ditegaskan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itulah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

Ayat ini menegaskan bahwa kegembiraan yang diperintahkan dalam Islam bukan kegembiraan duniawi semata. Bukan pula sekadar rasa puas karena harta, kedudukan, atau keberhasilan materi. Kegembiraan yang bernilai adalah kegembiraan karena karunia agama, iman, hidayah, dan kesempatan untuk taat kepada Allah.

Makna firman Allah, “Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan,” menunjukkan bahwa iman, Islam, Al-Qur’an, As-Sunnah, serta peluang untuk beribadah jauh lebih bernilai daripada seluruh harta dunia yang dikumpulkan manusia. Harta bersifat sementara dan pasti ditinggalkan, sedangkan iman dan amal saleh adalah bekal yang akan menyertai seorang hamba menuju akhirat.

Dalam penjelasan para ulama, ayat ini mengarahkan manusia agar bergembira dengan petunjuk dan agama yang benar, yaitu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Inilah kegembiraan yang paling pantas dirasakan seorang mukmin. Sebab ia berkaitan dengan keselamatan hidup, ketenangan hati, dan masa depan yang abadi.

Sebuah kisah yang sering disebutkan untuk memperjelas makna ini adalah peristiwa ketika harta pajak dari Irak dibawa kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. Jumlah unta yang datang sangat banyak hingga mengagumkan. Umar ra memuji Allah dengan ucapan, Alhamdulillah.

Namun, ketika ada yang berkata, “Ini adalah karunia dan rahmat Allah,” beliau menegaskan bahwa harta bukanlah maksud karunia dan rahmat Allah dalam ayat tersebut. Yang dimaksud adalah iman dan hidayah, sedangkan harta hanyalah sesuatu yang dikumpulkan manusia di dunia.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa melimpahnya harta bukan ukuran utama kegembiraan seorang beriman. Kegembiraan sejati adalah ketika Allah memberi iman dan membuka kesempatan untuk beramal serta menegakkan ketaatan.

Makna ini juga ditegaskan oleh para ulama kontemporer. Tidak ada amalan khusus yang disyariatkan untuk menyambut Ramadhan selain menyambutnya dengan rasa gembira, syukur, dan bahagia kepada Allah. Sebab dipertemukan dengan Ramadhan adalah nikmat besar.

Rasulullah ﷺ sendiri membahagiakan para sahabat dengan kabar datangnya Ramadhan, menjelaskan keutamaannya, serta pahala besar bagi orang yang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.

Menyambut Penuh Kesungguhan Persiapan

Generasi salafus shalih menyambut Ramadhan dengan kesungguhan yang luar biasa. Mereka mempersiapkan diri jauh hari, menyambutnya dengan harapan dan kegembiraan, karena mereka memahami betapa luasnya karunia Allah di bulan ini.

Waktu mereka dipenuhi dengan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, doa, sedekah, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya. Mereka sadar bahwa Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya pahala, dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan dibelenggunya setan-setan.

Ramadhan bagi mereka adalah musim semi iman, masa panen amal, dan pasar besar bagi kebaikan. Tidak ada bulan yang lebih berharga bagi seorang mukmin selain Ramadhan.

Kondisi ini patut dibandingkan dengan keadaan kita hari ini. Bagi sebagian orang, Ramadhan justru lebih identik dengan kesibukan mengurus makanan, hiburan, dan berbagai kesenangan duniawi. Waktu yang seharusnya digunakan untuk ibadah sering tersita oleh hal-hal yang kurang bernilai.

Tentu tidak semua demikian, karena masih ada hamba-hamba Allah yang diberi taufik untuk memuliakan Ramadhan. Namun secara umum, perbedaan ini layak menjadi bahan muhasabah bersama.

Betapa jauhnya perbedaan kegembiraan salafus shalih dengan kegembiraan kita. Kegembiraan mereka lahir dari peluang memperbanyak ibadah, sedangkan kegembiraan kita sering bercampur dengan urusan dunia.

Karena itu, sudah seharusnya kita memperbaiki cara menyambut Ramadhan. Menjadikan kegembiraan sebagai bentuk syukur karena Allah masih memberi umur, kesempatan, dan kemampuan untuk taat.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan hati kita, dan menjadikan Ramadhan sebagai bulan perubahan menuju ketaatan yang lebih baik.

Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan bimbinglah kami, wahai Rabb seluruh alam.[]

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis adalah Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara, alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, pengasuh kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan