Beranda blog Halaman 23

Ramadhan sebagai Madrasah Pembentuk Integritas Taat Hukum dan Berkeadilan

0
Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Organisasi, Dr. Dudung A. Abdullah, S.H., M.Ag (Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id)

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Organisasi, Dr. Dudung A. Abdullah, S.H., M.Ag., menekankan pentingnya membangun karakter taat hukum dalam Kajian Ramadhan bertajuk “Membangun Karakter Taat Hukum Melalui Spirit Ramadhan” yang digelar di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu, 11 Ramadan 1447 (28/2/2026).

Dudung menegaskan, Ramadhan bukan hanya sebagai ritual ibadah tahunan, melainkan sebagai proses pembentukan kesadaran hukum, integritas moral, serta tanggung jawab sosial yang berakar pada nilai ketakwaan.

Menurutnya, spirit puasa hendaknya dipahami sebagai latihan untuk menghadirkan kepatuhan yang lahir dari kesadaran, bukan sekadar tekanan aturan, sehingga nilai keadilan dapat terwujud dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Berlatar kisah historis pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, Dudung mengawali dengan menjelaskan relasi antara kekuasaan, keadilan, dan tanggung jawab moral dalam Islam. Ia mengisahkan peristiwa yang melibatkan dua putra Amirul Mukminin, Abdullah dan Ubaidillah bin Umar, ketika keduanya mendapatkan pinjaman modal dari Baitul Maal melalui Gubernur Bashrah, Abu Musa al-Asy’ari.

Modal tersebut digunakan untuk berdagang dan menghasilkan keuntungan ketika kembali ke Madinah. Namun, ketika persoalan itu sampai kepada Umar bin Khattab, sang khalifah mempertanyakan aspek keadilan kebijakan tersebut, khususnya apakah fasilitas serupa diberikan kepada seluruh pasukan Muslim.

Ketika diketahui bahwa pinjaman tersebut hanya diberikan kepada keduanya, Umar memerintahkan agar keuntungan dikembalikan kepada Baitul Maal karena adanya faktor kedekatan sebagai anak pemimpin. Setelah melalui musyawarah para sahabat, transaksi tersebut kemudian disepakati sebagai akad mudharabah sehingga keuntungan dibagi secara adil.

Privilege sebagai Amanah

Melalui kisah tersebut, Dudung Abdullah menegaskan prinsip fundamental Islam dalam memandang kedudukan sosial dan akses kekuasaan. “Islam memandang privilege sebagai amanah yang dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif syariat, keistimewaan bukanlah sesuatu yang dilarang, namun harus ditempatkan dalam kerangka kemaslahatan umum. “Privilege diperbolehkan untuk kebaikan umat, karena ketidakadilan banyak muncul dari penyelewengan penggunaan privilege,” katanya.

Menurutnya, sikap Umar bin Khattab menunjukkan standar etika hukum yang sangat tinggi dalam pemerintahan Islam. Kehati-hatian tersebut menjadi contoh bagaimana kekuasaan harus dijalankan secara transparan dan akuntabel.

“Amirul Mukminin sangat berhati-hati dalam urusan keadilan, bahkan di Islam banyak ayat dalam Al-Qur’an yang tujuannya mendirikan prinsip-prinsip hukum,” jelas advokat yang juga pendiri Kantor Hukum DRDR ini.

Ia menegaskan bahwa sistem hukum Islam dibangun untuk mencegah dominasi kekuasaan oleh kelompok tertentu yang memiliki kedekatan atau pengaruh sosial.

“Islam sangat konsen dalam mengatur hukum keadilan agar kekuasaan tidak hanya dikuasai dan digunakan oleh orang-orang yang memiliki kedekatan, pengaruh, atau privilege, tetapi benar-benar berjalan di atas prinsip amanah dan keadilan bagi seluruh umat,” ujarnya.

Dalam kerangka tersebut, Dudung mengaitkan prinsip keadilan dengan tanggung jawab moral individu Muslim dalam kehidupan sosial. “Allah menginginkan kita menegakkan keadilan, agar kita menjadi figur, role model,” katanya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa Allah menyediakan berbagai sarana pendidikan spiritual agar manusia mampu membangun karakter adil, salah satunya melalui ibadah Ramadhan. “Banyak sarana yang diberikan Allah agar diri kita bisa menjadi diri yang adil. Dan Ramadhan adalah salah satu sarana yang Allah berikan,” ujarnya.

Relasi Ketakwaan dan Kesadaran Hukum

Dudung menegaskan bahwa ketakwaan memiliki hubungan langsung dengan kepatuhan terhadap aturan. Dalam Islam, ketaatan hukum bukan sekadar persoalan administratif, tetapi merupakan konsekuensi keimanan. “Orang-orang yang bertakwa adalah yang menerima perintah Allah dan yang menjauhi apa yang dilarang,” katanya.

Ia melanjutkan dengan menegaskan relasi antara takwa dan kesadaran hukum. “Pribadi yang bertakwa adalah pribadi yang taat hukum, karena mereka menerima dan mematuhi apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah,” ujarnya.

Menurutnya, Ramadhan menghadirkan sistem pendidikan disiplin yang sangat konkret melalui pengaturan waktu dan batasan ibadah.

“Ramadhan adalah madrasah ketakwaan kita, di dalamnya ada perintah, ada larangan, seperti makan itu bolehnya di jam sekian, puasanya itu di jam sekian,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa proses tersebut bertujuan membangun kesadaran internal, bukan sekadar kepatuhan eksternal. “Pada bulan Ramadhan, Allah menyiapkan diri kita menjadi diri yang sadar,” katanya.

Dudung kemudian menguraikan perbedaan antara kepatuhan hukum berbasis pengawasan eksternal dan kesadaran spiritual internal.

“Biasanya seseorang menaati hukum karena takut pada konsekuensinya. Namun di bulan Ramadhan, kita menahan diri karena sadar Allah mengawasi, padahal kita bisa saja makan dan minum diam-diam. Kesadaran inilah yang seharusnya tetap terjaga di luar Ramadhan,” ujarnya.

Dalam perspektif tersebut, Ramadhan diposisikan sebagai ruang pembentukan integritas personal. “Ramadhan adalah inkubator kedisiplinan, madrasah ketakwaan,” katanya.

Ia menekankan bahwa ibadah puasa memiliki karakter unik karena tidak dapat diwakilkan kepada orang lain, sehingga membangun tanggung jawab individual secara langsung.

“Ramadhan merupakan pelatihan untuk membentuk pribadi yang bertanggung jawab, karena ibadah puasa tidak dapat diwakilkan dan hanya dapat dijalankan oleh diri masing-masing,” ujarnya.

Pada bagian akhir kajian, Dudung Abdullah mengingatkan agar momentum Ramadhan tidak berlalu tanpa perubahan karakter. “Jangan kita sia-siakan kesempatan ini, karena efeknya pasti sangat berimbas kepada kita,” katanya.

Ramadhan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Terbaik

DALAM tiga dekade terakhir, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) telah bereskalasi menjadi isu sentral dan investasi strategis, baik di tingkat global maupun nasional. Untuk menjawab tantangan ketersediaan talenta yang kompeten, Indonesia telah membangun arsitektur pengembangan SDM yang terintegrasi

Program sederhana dengan membangun fasilitas dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pengangkatan guru honorer menjadi ASN, peningkatan gaji guru. Makan Bergizi Gratis (MBG) ceritanya juga dalam rangka peningkatan kualitas SDM anak bangsa.

Di setiap perusahaan membentuk Human Resources Development (HRD) atau Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM)  untuk mendapatkan SDM yang berkompeten. Berbagai kegiatan seperti training, pelatihan, upgrading dilakukan dengan mendatangkan pakar SDM internasional dan nasional.

Islam memiliki konsep yang sederhana tapi terjamin bisa menghasilkan SDM yang berkualitas dan diakui sebagai paling mulia yaitu taqwa. Allah menyampaikan dengan sangat jelas dengan firman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Qs. Al-Hujurat: 13).

Taqwa adalah puncak kemuliaan seorang hamba di sisi Allah. Ia bukan sekadar simbol ketakwaan lahiriah, tetapi cahaya yang menerangi hati dan membimbing setiap langkah dalam kehidupan

Derajat taqwa bukan diwariskan, bukan pula ditentukan oleh status duniawi, melainkan diperjuangkan. Namun, jalan menuju taqwa tidaklah mudah. Ia membutuhkan mujahadah, kesabaran, dan keikhlasan yang tak tergoyahkan. Salah satunya dengan jalan melaksanakan puasa di bulan Ramadhan.

Taqwa di hadapan Allah adalah SDM terbaik apalagi di hadapan manusia. SDM yang bekerja dengan prinsip taqwa tidak akan bekerja “asal bapak senang” (ABS), sekadar memenuhi SOP atau bukan karena pengawasan CCTV. Ia akan memberikan performa terbaiknya karena ia tahu bahwa Allah mencintai hamba yang jika melakukan pekerjaan, ia melakukannya secara itqan (profesional/sempurna)

Pertanyaannya mengapa taqwa menjadi salah satu indikator SDM terbaik.  

Pertama, bertaqwa memiliki kemampuan problem solving (Makhraja)

“… Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Thalaq: 2)

Dalam dunia profesional, SDM berkualitas tinggi dinilai dari kemampuannya menyelesaikan masalah (pemecahan masalah) atas pertolongan Allah. Bukan lari dari masalah atau membuat masalah. Orang bertaqwa memiliki ketenangan batin yang memungkinkannya berpikir jernih saat krisis. Sebuah jalan keluar yang seringkali tidak terpikirkan oleh logika linear manusia. Ini adalah SDM yang transformatif, bukan sekadar administratif.

Kedua, bertaqwa mempunyai efisiensi rezeki dan sumber daya (Min Haitsu La Yahtasib)

“… dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 3)

SDM yang bertaqwa seringkali Allah memberikan kemudahan akses, kemitraan yang jujur, dan hasil yang melimpah meskipun dengan sumber daya terbatas. Inilah SDM yang mampu menghasilkan high impact dengan cara-cara yang tak terduga.

Ketiga, memiliki akselerasi dan kemudahan urusan (Yusra)

“… dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)

SDM berkualitas adalah mereka yang bekerja secara efektif dan efisien. Dalam ayat ini, Allah menjanjikan Yusra (kemudahan). Bagi SDM bertaqwa, hambatan birokrasi, teknis, maupun sosial tidak menjadi alasan. Mereka adalah SDM yang urusannya selalu tuntas dengan cepat bukan karena orang dalam, melainkan karena jalur langit yang mempermudah langkahnya.

Keempat, mempunyai akurasi kerja dan penghapusan kesalahan (Yukaffir ‘Anhu Sayyi’atihi)

“… Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At-Thalaq: 5)

Manusia pasti salah, namun SDM yang bertaqwa memiliki mekanisme self-correction (taubat/muhasabah) yang sangat kuat. Kesalahan-kesalahan masa lalu ditutup dengan perbaikan performa yang luar biasa. Mereka tidak hanya bekerja untuk hari ini, tapi untuk nilai yang abadi. SDM bertaqwa bisa meminimalisir kesalahan.

Taqwa bukan sekadar tentang seberapa lama di atas sajadah, seberapa banyak memutar tasbih, seberapa lama di hadapan mushaf al-Qur’an, tapi seberapa profesional dan tangguh dalam menemukan jalan keluar di tengah kebuntuan dunia kerja dan menyelesaikan problematika keummatan.

Tujuan utama puasa Ramadhan adalah mendapatkan taqwa, bukan sekedar memperoleh baju taqwa, THR, parcel ataupun aksesioris duniawi. Taqwa sebagai sebuah karakter sehingga menjadi SDM yang unggul.

Ramadhan dihadirkan untuk upgrading dan update diri orang-orang beriman mencapai derajat taqwa.

Bagaimana puasa Ramadhan yang menghasilkan insan taqwa?

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Upgrading Pengurus SAR Hidayatullah Perkuat Sistem Alur Komando dalam Mitigasi Krisis

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Guna meningkatkan efektivitas manajerial dan ketangkasan operasional di lapangan, SAR Hidayatullah menyelenggarakan acara Upgrading Pengurus yang berlangsung selama dua hari, dimulai pada hari ini, Sabtu, 10 Ramadhan 1447 (28/2/2026). Berlangsung secara hibryd, kegiatan ini mengusung tema sentral “Taat Komando, Tanpa Tapi, Tanpa Nanti,” sebagai manifestasi dari komitmen lembaga dalam mewujudkan kedisiplinan tinggi dalam setiap misi kemanusiaan.

Acara dibuka dengan pengarahan dari Pembina SAR Hidayatullah, Abbas Usman. Ia menekankan bahwa keberhasilan operasi Search and Rescue (SAR) tidak hanya bertumpu pada kemampuan fisik, melainkan pada ketepatan koordinasi dan kepatuhan terhadap hierarki.

“Koordinasi dan taat komando adalah fondasi dari setiap keselamatan operasi. Tanpa struktur koordinasi yang jelas, niat baik untuk menolong bisa menjadi beban bagi tim lain di lapangan,” tegas Abbas Usman.

Abbas memaparkan secara komprehensif mengenai penerapan Prosedur Standar Operasional (SOP) Tanggap Darurat Bencana (TDB) versi 2.0 yang kini menjadi panduan lapangan utama.

Dia menjelaskan bahwa setiap pergerakan personil harus didasarkan pada data yang terverifikasi secara ketat. Menurut Abbas, manajemen krisis modern menuntut validitas informasi agar keputusan strategis yang diambil tepat sasaran.

Dalam paparannya, Abbas merujuk pada pentingnya peran Pusat Informasi Nasional (PIN) SARHID sebagai filter utama informasi. “Semua informasi masuk harus melalui pintu gerbang PIN SARHID. Tidak ada pergerakan tanpa validasi,” katanya.

Hal ini, jelasnya, dimaksudkan untuk menghindari simpang siur data yang sering terjadi saat fase awal bencana, di mana sumber informasi bisa berasal dari laporan langsung warga lokal maupun data sekunder dari Basarnas, BMKG, BNPB, dan media sosial.

Tantangan Kebencanaan di Masa Depan

Senada dengan hal tersebut, Ketua SAR Hidayatullah Pusat, Alfarabi Nurkarim Enta, menjelaskan mekanisme penetapan status TDB. Keputusan strategis ini tidak diambil secara sepihak, melainkan melalui sinergi antara komando operasi dan dukungan logistik.

“Penetapan status TDB secara resmi dinyatakan melalui keputusan bersama antara Ketua SAR Hidayatullah dan Ketua BMH Pusat,” kata Alfarabi. Menurutnya, koordinasi lintas lembaga ini krusial untuk memastikan bahwa setiap unit yang diterjunkan memiliki dukungan pendanaan dan logistik yang memadai di lapangan.

Setelah status TDB ditetapkan, alur koordinasi beralih pada fase teknis. Alfarabi menegaskan bahwa pengendalian teknis sepenuhnya berada di bawah kendali Kepala Divisi Operasi. “Kadiv Operasi bertanggung jawab menerjemahkan keputusan strategis menjadi pergerakan unit di lapangan,” terangnya.

Alfarabi menyebutkan, pergerakan tersebut mencakup mobilisasi “Empat Pilar” SAR Hidayatullah, yang terdiri dari Team Advance sebagai perintis, PW SAR/SRU untuk pencarian dan pertolongan, DPW/DPD untuk koordinasi wilayah, serta BMH Perwakilan untuk dukungan logistik dan pendanaan lokal.

Dia menambahkan, kegiatan upgrading ini diharapkan mampu melahirkan pengurus yang tidak hanya responsif, tetapi juga sistematis dalam bekerja.

“Dengan semangat ‘Taat Komando, Tanpa Tapi, Tanpa Nanti,’ SAR Hidayatullah berkomitmen terus memantapkan langkah sebagai lembaga kemanusiaan yang tangguh, teruji, dan profesional dalam menghadapi tantangan kebencanaan di masa depan,” pungkasnya.

Selain aspek operasional di lapangan, agenda upgrading hari pertama ini juga menghadirkan Sekretaris SAR Hidayatullah, Tafdhilul Umam. Ia menyampaikan materi vital mengenai penguatan sistem keanggotaan dan Kartu Tanda Anggota (KTA) SAR Hidayatullah.

Tafdhilul menekankan bahwa profesionalisme personil harus tersertifikasi dan terdata secara digital untuk mempermudah pemetaan kompetensi anggota di seluruh Indonesia. Sistem keanggotaan yang rapi dianggap sebagai bagian dari pendukung utama kelancaran rantai komando.

Di penghujung sesi pertama, para peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai “Ringkasan Alur TDB” yang menjadi siklus kerja organisasi saat bencana terjadi. Siklus ini dimulai dari penerimaan informasi, validasi oleh PIN SARHID, penetapan keputusan oleh pimpinan, pengambilalihan kendali teknis oleh Kadiv Operasi, hingga aksi mobilisasi unit-unit terkait. Target akhir dari seluruh rangkaian ini adalah berdirinya Posko Bencana yang berfungsi sebagai titik fokus manajemen operasi terpusat.

Mengapa Mengejar Ampunan di Bulan Ramadhan?

0

DALAM riuh rendah dunia yang kian bising oleh narasi materialisme, manusia modern seringkali kehilangan satu hal yang paling esensial: ampunan atas kekhilafan masa lalunya. Manusia berjalan memikul beban yang tak kasat mata; tumpukan kesalahan dan dosa, noda hitam kemaksiatan, hingga residu ego yang seringkali mengeras menjadi tabir tebal antara seorang hamba dan Sang Pencipta.

Di tengah keletihan spiritual inilah, Allah SWT dengan kasih sayang-Nya yang tak bertepi menurunkan Ramadhan sebuah oase surgawi di tengah gurun dunia yang gersang. Satu bulan yang istimewa dibandingkan sebelas bulan lainnya.

Ramadhan bukan sekadar repetisi ritualistik tahunan atau ajang transformasi fisik dengan kesemarakannya. Ramadhan menyediakan momentum “Amnesti Massal” melalui instrumen shaum dan qiyamul-lail. Sebagaimana Rasulullah menyampaikan dalam dua hadistnya.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya, “Barangsiapa yang ibadah malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Al-Bukhari).

Sebenarnya meminta ampunan Allah bisa kapan saja dan di mana saja, namun dua hadist di atas menunjukkan bahwa hanya di bulan Ramadhan yang spesial karena sepanjang siang malam selama 24 jam Allah membuka pintu ampunan. Ramadhan waktu strategis yang efektif untuk meraih ampunan Allah, siang melalui puasa dan malam dengan qiyamul lail plus senantiasa istighfar dan munajat taubat.

Dalam perspektif sains manajemen ruhani, keberhasilan meraih ampunan dan terhapus memori dosa tersebut dari catatan amal berarti mengnihilkan “biaya beban” (overhead cost) masa lalu yang menghambat potensi hamba.

Dengan ampunan, seorang Muslim kembali ke titik nol (fitrah) suci seperti bayi yang baru lahir karena مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ itu artinya seluruh dosa yang pernah dilakukan masa lalu. Ini yang memungkinkan terjadinya lonjakan performa ibadah dan amal sosial tanpa hambatan mental-spiritual dari kesalahan masa lalu.

Dalam kacamata cendekiawan, dosa bukanlah sekadar pelanggaran hukum formal agama. Dosa adalah “Karat Organik” yang merusak fungsi-fungsi ruhani. Hati yang tertutup noda dosa akan kehilangan sensitivitasnya terhadap kebenaran, pikirannya akan tumpul dalam menangkap hikmah, dan langkahnya akan terasa berat untuk melakukan ketaatan. Inilah mengapa ampunan Allah adalah “Kunci Induk” (master key) bagi seluruh perbaikan hidup.

Dosa yang menumpuk menciptakan asimetri (ketidakseimbangan) dalam hubungan vertikal, yang berdampak langsung pada hilangnya keberkahan dalam urusan horizontal (duniawi). Mengejar ampunan di bulan Ramadhan adalah upaya sadar untuk melakukan sinkronisasi ulang dengan kehendak Ilahi. Ketika pengampunan diraih, saluran rahmat kembali terbuka lebar, yang secara empiris termanifestasi dalam bentuk ketenangan batin, kejernihan visi hidup, dan kemudahan dalam menghadapi kompleksitas problematika harian.

Dengan Ramadhan, Allah ingin orang beriman memasuki masa depan tanpa beban utang moral masa lalu. Bagaimana mungkin sebuah peradaban besar bisa dibangun jika individu-individunya masih terbelenggu oleh trauma kesalahan dan kegelapan jiwa? Ampunan adalah prasyarat bagi kemerdekaan ruhani, dan Ramadhan adalah momentum untuk menjemput kemerdekaan itu.

Ramadhan adalah mahkamah kasih sayang, di mana setiap hamba yang mengaku bersalah dan meminta ampunan secara tulus maka akan dipeluk dengan ampunan dan dihadiahi kemuliaan yaitu surga.

Maka, kejarlah ampunan itu seolah-olah ini adalah Ramadhan terakhir. Karena pada akhirnya, keberuntungan sejati bukanlah milik mereka yang perutnya kenyang, melainkan milik mereka yang jiwanya tenang karena telah mendapatkan ampunan dari Allah.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Menulis sebagai Panggilan Manhaj, Analisis Qur’ani dan Relevansinya bagi Mahasiswa

0

“MENULIS itu panggilan manhaj” adalah ungkapan dari Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Fuad Fahruddin. Ia mengutarakan itu saat silaturahmi dengan santri Hidayatullah yang kini menimba ilmu di Institut Muslim Cendekia (IMC) Ar Rayah, Sukabumi, Jawa Barat, pada Kamis, 8 Ramadhan 1447 (26/2/2026).

Basis dari idenya itu adalah Surah Al-Alaq ayat ke-4 dan Al-Qolam, ayat ke-1 dengan perhatian utama pada lafadz “Qolam” yang biasa kita kenal artinya dengan pena.

Pena dalam hal ini bukan alat tulis, tapi simbol transmisi ilmu, simbol peradaban dan simbol otoritas pengetahuan. Dan, menulis adalah langkah penting dalam upaya “mengabadikan” ilmu.

Dalam kata yang lain, kita bisa menangkap dua pesan utama. Pertama, Islam adalah agama yang mendorong umatnya menuntut ilmu. Kedua, cara memperoleh ilmu yang terbaik adalah dengan menulis. Maksudnya menulis adalah cara efektif untuk menguatkan dan mengkristalkan ilmu yang telah kita peroleh.

Kita bisa mengenal cara Nabi SAW salat, puasa, dan lain sebagainya karena ada tulisan berupa hadits dan sirah yang para ulamam lakukan. Oleh karena itu pantas jika orang mengatakan bahwa menulis adalah tanggung jawab peradaban. Dan, dalam pandangan Hidayatullah secara manhaj, menulis adalah panggilan manhaj.

Wajib Bagi Mahasiswa

Bagi mahasiswa, menulis bukan hanya tuntutan akademik, tetapi juga kebutuha intelektual. Hal ini karena selain menjalani syariat Islam sehari-hari, mahasiswa juga bertemu dengan “syariat” akademik, yaitu menulis. Entah menulis makalah atau pun skripsi.

Mewajibkan diri menulis bagi mahasiswa akan mendatangkan begitu banyak benefit. Saya dalam artikel “Mengapa Mahasiswa Harus Menulis? Ini Alasan Ilmiah dan Spiritualnya” (bisa klik di sini) telah memberikan dua poin penting.

Pertama, mahasiswa perlu memaksa pikiran mereka bekerja dengan rapi. Seringkali nyaris setiap orang merasa idenya sudah rapi, tapi baru di kepala. Begitu mau dituangkan, sebagian orang mulai merasa bertemu jalan buntu. “Mulai dari mana ini, ya.”

Kedua, terkadang niat sudah kita hadirkan untuk menulis. Namun, berbagai macam ide dalam kepala saling memaksa untuk naik ke permukaan. Alhasil, mereka yang gagal fokus, akan sulit untuk bisa segera memulai aktivitas menulis. Masalah semakin runyam kalau tulisan itu adalah tugas kuliah. Sebagian pun memaksa diri dan menulis dengan kondisi jiwa dan pikiran yang belum seutuhnya siap.

Makna Panggilan Manhaj

Nah, sekarang kita masuk pada sisi makna, apa sebenarnya yang dimaksud dari kalimat “Menulis adalah panggilan manhaj”. Sebelum saya lanjutkan, kita perlu definisikan manhaj itu sendiri.

Dalam konteks Hidayatullah, manhaj merujuk pada sistem nilai dan metodologi perjuangan yang bersumber dari wahyu (Al-‘Alaq hingga Al-Fatihah). Maka, ketika menulis disebut sebagai panggilan manhaj, ia bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi bagian dari tanggung jawab menjaga dan mengembangkan sistem nilai tersebut.

Pertama, Allah menegaskan bahwa transmisi keilmuan harus berjalan dengan baik dan itu butuh kemampuan umat Islam memainkan peran strategis pena.

Seorang teman bertanya, mengapa sampai sekarang kita masih suka mengkonsumsi pikiran Karl Marx dan lainnya. Saya katakan karena gagasan alternatif yang kuat dan sistematis dari kalangan Muslim belum banyak yang hadir dan mendominasi ruang diskursus publik.

Kedua, kalau kita ingi umat Islam ini maju, maka perkuat pena, dalam arti tradisi keilmuan, kecintaan pada ilmu dan penyebaran ilmu.

Ketiga, ini pesan paling inti. Menulis membuat kita sadar bahwa kuliah bukan semata untuk lulus, tapi bagaimana bisa ikut aktif bahkan terdepan dalam upaya-upaya mencerdaskah kehidupan bangsa. Bangsa yang kuat adalah yang penduduknya cinta ilmu, gemar menulis.

Karena tanpa tradisi menulis, cinta ilmu hanya menjadi slogan; dengan tradisi menulis, ilmu menjadi warisan.[]

Mas Imam Nawawi

Guru Ngaji Dampingi Anak-Anak Kampung Beting Melalui Rumah Qur’an Hidayatullah

0

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan pembinaan Al-Qur’an bagi anak-anak di Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Kampung Beting, bantaran sungai Kapuas, Kecamatan Pontianak Timur, menjadi bagian dari rangkaian aktivitas pendidikan keagamaan pada bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.

Momentum Ramadhan tahun ini dimanfaatkan untuk memperkuat pendampingan belajar mengaji bagi anak-anak yang tinggal di kawasan Kampung Beting, salah satu permukiman tertua di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Kampung Beting terletak di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, wilayah yang memiliki sejarah panjang sejak berdirinya Kesultanan Pontianak pada abad ke-18. Kawasan ini dikenal sebagai bagian awal perkembangan Kota Pontianak.

Dalam perjalanan sosialnya, Kampung Beting juga kerap dikaitkan dengan berbagai persoalan sosial yang berkembang di lingkungan perkotaan padat penduduk.

Sejumlah laporan sebelumnya mencatat adanya tantangan sosial di wilayah tersebut, termasuk persoalan kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba.

Data yang pernah dirilis Badan Narkotika Nasional menunjukkan bahwa dari sekitar 3.000 penduduk Kampung Beting, kurang lebih 200 orang tercatat dalam kasus terkait narkoba. Kondisi geografis kawasan perairan yang terhubung langsung dengan jalur sungai dan akses laut disebut menjadi salah satu faktor tingginya peredaran barang terlarang di wilayah tersebut.

Di tengah kondisi tersebut, Rumah Qur’an Hidayatullah Kampung Beting mulai menjalankan aktivitas pendidikan Al-Qur’an sebagai bagian dari pembinaan masyarakat. Lembaga pendidikan nonformal ini telah beroperasi sekitar tiga bulan dan menjadi ruang belajar bagi anak-anak di lingkungan sekitar untuk mempelajari bacaan Al-Qur’an serta pembinaan dasar keagamaan.

Pengajar Rumah Qur’an Hidayatullah Kampung Beting, Ustadz Muhammad Yusnaini, S.Sy, yang mengabdi sebagai guru ngaji dan pendidik anak-anak kampung, menyampaikan bahwa peserta didik yang mengikuti kegiatan berasal dari berbagai latar belakang sosial termasuk diantaranya ada yang sebelumnya pernah terlibat dalam tindakan kriminal.

“Kami berharap melalui pembelajaran Al-Qur’an dan pembinaan yang berkelanjutan, mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan membawa perubahan bagi keluarganya,” ujar Muhammad Yusnaini dalam keterangan diterima media ini beberapa waktu dan ditulis Sabtu, 10 Ramadhan 1447 (28/2/2026).

Kegiatan belajar mengaji dilaksanakan secara rutin dengan pendekatan pembinaan bertahap. Anak-anak mengikuti pembelajaran membaca Al-Qur’an, hafalan dasar, serta pembiasaan ibadah harian.

Program pembinaan masyarakat ini dijalankan melalui kerja sama antara Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Kota Pontianak dan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Barat yang memberikan dukungan operasional dan pendampingan program.

Selain pembinaan anak-anak, pengelola Rumah Qur’an Hidayatullah Kampung Beting juga merencanakan kegiatan pengajian yang melibatkan orang tua peserta didik. Program tersebut diarahkan untuk memperluas pembinaan agar tidak hanya berfokus pada anak-anak, tetapi juga menjangkau lingkungan keluarga sebagai bagian dari proses pendidikan sosial berbasis masyarakat.

Rangkaian kegiatan pembinaan tersebut terus berlangsung dengan melibatkan warga setempat dan tenaga pengajar yang menetap di wilayah tersebut. Rumah Qur’an Hidayatullah Kampung Beting menjalankan fungsi pendidikan berbasis komunitas dengan fokus pada pembelajaran Al-Qur’an bagi generasi anak-anak di lingkungan Kampung Beting.[]

IAI Hidayatullah Batam Perkuat Reputasi Akademik Melalui Akreditasi Jurnal Nasional

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Rektor Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Sidik, M.Pd.I, menegaskan bahwa dampak penguatan pengelolaan jurnal ilmiah tidak semata berkaitan dengan pemenuhan administrasi akreditasi, melainkan menjadi representasi nyata kualitas riset perguruan tinggi. Ia menyampaikan bahwa reputasi institusi akademik pada era pendidikan tinggi modern sangat ditentukan oleh mutu publikasi ilmiah yang dihasilkan.

“Dampak terhadap reputasi institusi diharapkan bukan sekadar akreditasi jurnal dan administrasi saja, melainkan wajah dari kualitas riset kampus,” ujarnya saat membuka Workshop Pengelolaan Jurnal Penelitian – Persiapan Akreditasi Jurnal Nasional yang digelar di Ruang Rapat Kampus Marina IAI Hidayatullah Batam, Kepri, pada Jumat, 9 Ramadhan 1447 H (27/2/2026).

Kata Sidik, kegiatan ini menjadi agenda strategis institusi dalam meningkatkan reputasi akademik melalui penguatan tata kelola jurnal ilmiah menuju akreditasi nasional Sistem Indeksasi Jurnal Ilmiah Nasional (SINTA). Workshop diwajibkan bagi seluruh dosen struktural serta pengelola jurnal di lingkungan kampus sebagai bagian dari konsolidasi akademik internal.

Menurut Sidik, pelaksanaan workshop secara kolektif dengan menghadirkan seluruh pengelola jurnal dalam satu ruang menjadi bagian penting dari strategi percepatan akreditasi. Ia menjelaskan bahwa koordinasi antar-editor kerap menghadapi kendala komunikasi apabila dilakukan secara terpisah, terutama ketika pembahasan menyangkut persoalan teknis yang membutuhkan penyelesaian langsung.

Ia menyampaikan bahwa kehadiran fisik peserta memungkinkan diskusi lanjutan berlangsung lebih intensif setelah pemaparan materi narasumber. Pendekatan tersebut dinilai mampu mempercepat identifikasi hambatan administratif maupun substansi dalam proses pengajuan akreditasi.

Lebih lanjut, Sidik menjelaskan bahwa fokus institusi pada tiga jurnal utama menunjukkan adanya arah klasterisasi pengembangan publikasi ilmiah yang terukur. Workshop tidak lagi diarahkan pada pengenalan teori dasar pengelolaan jurnal, melainkan memasuki tahap pembahasan kasus teknis secara mendalam. Ia menyebut pendekatan ini sebagai proses bedah kendala yang bertujuan mempercepat peningkatan peringkat akreditasi jurnal.

“Jika ketiga jurnal tersebut berhasil naik peringkat, hal ini akan berdampak langsung pada nilai akreditasi institusi dan mempermudah para dosen dalam memenuhi persyaratan kenaikan jabatan fungsional,” jelasnya.

Rektor IAI Hidayatullah Batam juga menyampaikan harapan agar jurnal-jurnal yang dikelola setiap program studi mampu segera memperoleh akreditasi nasional dan berkembang menjadi rujukan ilmiah yang kredibel bagi masyarakat akademik maupun publik luas.

Sebagai narasumber utama, institusi menghadirkan Eko Wahyu Nur Sofianto, M.Pd., yang memiliki pengalaman dalam pendampingan pengelolaan jurnal ilmiah.

Materi yang disampaikan Eko berfokus pada aspek teknis pengelolaan jurnal, mekanisme editorial, hingga strategi pemenuhan standar akreditasi nasional.

Tiga Jurnal Prioritas

Sebelumnya, dalam sambutannya Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAI Hidayatullah Batam, Muthmainnah, M.Pd., memberikan penekanan khusus kepada pengelola tiga jurnal internal yang menjadi prioritas dalam proses pra-akreditasi.

Ketiga jurnal tersebut meliputi Jurnal Ta’limuna yang berada di bawah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurnal Al-Amal dari Fakultas Ekonomi Syariah, serta Jurnal Cerdas Hukum yang dikelola Fakultas Syariah.

Melalui kegiatan ini, Muthmainnah menjelaskan, IAI Hidayatullah Batam menempatkan publikasi ilmiah sebagai instrumen strategis dalam penguatan ekosistem akademik kampus.

“Akreditasi jurnal memiliki implikasi langsung terhadap pengembangan karier dosen, peningkatan kualitas penelitian, serta pengakuan institusi di tingkat nasional,” terang Muthmainnah.

Muthmainnah menegaskan, pelaksanaan workshop ini sebagai bagian dari komitmen institusi dalam membangun budaya riset yang terstruktur, profesional, dan berkelanjutan.

“Penguatan tata kelola jurnal tidak hanya diarahkan pada pencapaian administratif, tetapi pada upaya menghadirkan standar mutu akademik yang mencerminkan kapasitas keilmuan perguruan tinggi secara utuh,” imbuh Muthmainnah menandaskan.

Makna Hidup di Tengah Budaya Validasi Sosial

SEBAGIAN orang mendambakan mobil, motor, atau gawai bermerek dengan harga tinggi. Jika itu untuk kebutuhan profesional dan efisiensi kerja, tentu tidak masalah. Namun persoalannya muncul ketika semua itu dikejar semata-mata agar tampak “hebat” di hadapan manusia.

Demikian pula dengan gelar dan kehormatan. Memiliki gelar tinggi bukanlah kesalahan. Yang perlu kita waspadai adalah ketika gelar menjadi sumber utama harga diri, bukan sekadar amanah keilmuan.

Untuk itu kita perlu berpikir ulang agar tidak kehilangan identitas yang hakiki, yakni sebagai hamba Allah sebelum menjadi apa pun di hadapan manusia.

Mengulas soal hamba, artinya kita penting memahami tentang identitas kita sendiri. Semakin kita jelas dan tegas dalam hal identitas, semakin fokus dan kokoh kita menjalani kehidupan ini.

Mengapa ada fenomena haus validasi? Karena orang lupa identitasnya atau tidak tahu lagi identitasnya.

Meski demikian fenomena haus validasi tidak lahir begitu saja. Ia bisa tumbuh dari trauma, pola asuh, budaya kompetitif, hingga arus media sosial. Namun di atas semua itu, ada satu akar yang lebih dalam: kaburnya kesadaran sebagai hamba Allah.

Alhasil orang yang selalu haus akan validasi menjadi orang yang bingung. Orang yang kehilangan identitas akan kehilangan landasan dan tujuan. Ia tidak tahu dari mana ia memulai hidup dan ke mana ia mengarahkannya.

Bagaimana tidak, ia terus memikirkan hal yang semu. Siang dan malam ia gunakan untuk menumpuk sesuatu yang tak bisa jadi sandaran apalagi andalan. Oleh karena itu penting bagi kita merenung sejenak, bahwa cukuplah kita sebagai hamba Allah SWT.

Wahai Jiwa yang Tenang

Pada empat ayat penutup Surah Al-Fajr, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia yang dalam hidup ini jiwanya tenang, itulah yang Allah terima sebagai hamba.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ. ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ. فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ. وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku!”

Jiwa yang tenang akan berupaya untuk ridha dan ingin diridhai oleh Allah. Kalau itu bisa kita capai, maka Allah akan terima kita sebagai hamba yang shaleh. Kemudian Allah berikan jalan untuk masuk ke dalam surga-Nya.

Kalau kita tarik dalam realitas sosial, Allah tidak mencari direktur. “Wahai direktur”. Tidak pula Allah memanggil orang kaya, “Wahai orang kaya”. Allah memanggil wahai jiwa yang tenang.

Dalam kata yang lain, hamba Allah itu terus berupaya hidupnya tenang. Tidak panik, tidak kagetan, tidak pula ikut-ikutan. Ia tahu jalan, ia fokus menyusurinya dengan segenap daya dan kekuatan.

Oleh karena itu ia istiqomah dalam kebaikan, dalam dakwah dan dalam ke-Islam-an.

Sederhana dalam Perkara Dunia

Menjadi hamba Allah artinya siap hidup secara bermakna dalam fase dunia ini.

Buya Hamka dalam bukunya, Falsafah Hidup, menerangkan “orang yang sederhana tidak terlalu condong dan tidak terlalu rebah. Syahwat yang diperbolehkan oleh syara’ sekalipun tidaklah melebihi mesti. Misalnya boleh makan enak, tetapi tidak dilahap secara berlebihan.”

Kalau kita cermati sejarah, orang-orang yang visinya itu akhirat, hidupnya sederhana saja.

Umar, meski dia pemimpin tertinggi umat Islam, tidur di bawah pohon bukanlah hal yang mengurangi kemuliaannya. Tapi ini tidak berarti kita harus menjadi asketisme total. Sebab dari sahabat Nabi ada juga sahabat-sahabat yang kaya secara harta.

Artinya, sederhana adalah alat bagi manusia mencapai kemuliaan hidup. Sebaliknya orang yang bermewah-mewah, mungkin ada yang kagum, tapi orang seperti itu cenderung sulit memiliki ketenangan hidup. Apalagi kalau hidupnya tidak peduli kepada anak yatim, orang miskin. Kemungkinan Allah terima sebagai hamba-Nya akan semakin tipis.

Dengan demikian orang yang menyadari identitasnya sebagai hamba Allah akan fokus pada kebaikan dunia dan akhirat.

Kala memiliki amanah berupa harta, ia akan meneladani sikap Utsman bin Affan ra. Kita tahu Utsman adalah sahabat yang kaya raya, sangat senang membaca Al-Qur’an dan gemar membantu sesama.

Ketika ia mendapat amanah dari Allah berupa kecerdasan, ia akan mengikuti cara hidup sahabat Nabi yang cinta ilmu, senang mengajarkan dan mendakwahkannya. Tidak sama persis, tapi prinsip hidupnya seperti itu.

Dalam kata yang lain, sejarah menunjukkan bahwa orang-orang yang berorientasi akhirat tidak menjadikan dunia sebagai pusat hidupnya. Sebagian hidup dalam kesederhanaan, sebagian dalam kelapangan harta. Namun hati mereka sama: tidak diperbudak oleh dunia.

Pada akhirnya, kemuliaan tertinggi bukanlah disebut sebagai orang sukses oleh manusia, tetapi diakui sebagai hamba oleh Allah. Bahkan Nabi Muhammad SAW, pada momen paling agung dalam Isra’ Mi’raj, disebut sebagai “hamba-Nya”. Di situlah letak kehormatan yang sejati.[]

Mas Imam Nawawi

KH Hamim Thohari Ingatkan Jangan Sampai Perjuangan Berubah Menjadi Rutinitas Tanpa Makna

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Drs. Hamim Thohari, M.Si, menyampaikan refleksi mengenai orientasi perjuangan dalam acara Kajian Kelembagaan Serial Ramadhan bertajuk “Apakah Kita Masih Tahu Tujuan Perjuangan, atau Hanya Mengulang Rutinitas?” Kegiatan tersebut digelar secara hybrid dari Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta pada Jumat, 9 Ramadhan 1447 H (27/2/2026).

Hamim Thohari mengajak untuk berkaca ke dalam. Ia menggambarkan adanya kontras yang nyata di tengah barisan aktivis perjuangan umat dimana sebagian tampak penuh optimisme dan keikhlasan, sementara sebagian lain menunjukkan kelelahan yang berat secara emosional.

Ia menggambarkan realitas tersebut sebagai fenomena yang kasatmata. Ada yang wajahnya memancarkan optimisme dan semangat berjuang tanpa tekanan, namun ada pula yang menampilkan raut letih dan nyaris putus asa. Kondisi ini, menurutnya, memerlukan refleksi mendalam.

Mengaitkan fenomena tersebut dengan pesan pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, ia mengingatkan kembali bahwa perjuangan Islam sejatinya menghadirkan kenikmatan spiritual yang tidak tergantikan oleh kenikmatan material.

“Kenikmatan hidup tidak karena makanan yang lezat, tidur di atas kasur yang empuk atau istirahat yang cukup. Justru dari kelelahan berjuang kenikmatan itu hadir, timbul kelezatan dan kenikmatan iman,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pilihan untuk berjuang bukan sekadar kewajiban organisasi, melainkan jalan yang menghadirkan dimensi kenikmatan iman. “Maka berjuang, jihad, menjadi pilihan kita karena di sana tersedia berbagai kelezatan dan kenikmatan iman,” katanya.

Namun demikian, ia mengajak untuk melakukan introspeksi atas melemahnya semangat. Ia mempertanyakan kemungkinan adanya pergeseran orientasi perjuangan. “Jangan-jangan ini adalah akibat kita kehilangan orientasi perjuangan itu sendiri,” katanya reflektif.

Ia menjelaskan bahwa perjuangan bersifat jangka panjang dan lintas generasi. Karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran historis bahwa perjuangan tidak selesai dalam rentang waktu singkat.

“Berjuang itu memang jangka panjang. Berjuang itu memang tidak hanya sehari, dua hari, selesai. Sebulan, dua bulan, setahun dua tahun, tidak. Bertahun-tahun, bergenerasi-generasi. Pergantian satu generasi ke generasi, itu belum menyelesaikan perjuangan,” ujarnya.

Menurutnya, panjangnya rentang perjuangan sering kali menjadi sumber kelelahan psikologis. “Karena panjangnya perjuangan itu seringkali membawa kepada kita menjadi lemah, lelah, capek,” katanya.

Ia menambahkan bahwa ketika energi telah terkuras sementara tujuan masih terasa jauh, muncul potensi kelesuan.

“Sementara tujuan masih jauh. Padahal kita sudah habis-habisan mengerahkan seluruh pikiran perasaan dan lain sebagainya. Ini yang seringkali menyebabkan kita loyo,” ujarnya.

Rutinitas Tanpa Kesadaran Nilai

Hamim Thohari kemudian menyoroti bahaya lain yang muncul akibat kelelahan berkepanjangan, yaitu terjebak dalam rutinitas tanpa kesadaran nilai. Ia menggambarkan rutinitas yang berjalan mekanis dan berulang tanpa refleksi makna.

“Pagi bangun, berangkat ke kantor, buka laptop, buka hp, sambil ngantuk-ngantuk. Pulang lagi, terus begitu setiap hari. Dan, itu terulang-terulang. Hidup kita menjadikan tidak ubah seperti robot semata,” katanya.

Ia menegaskan bahwa jika kondisi tersebut menimpa seorang pejuang, maka dampaknya sangat serius secara eksistensial. “Kalau itu menimpa kita, betapa sengsaranya kehidupan kita,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak melakukan koreksi diri atas kemungkinan terjebak dalam rutinitas tanpa kesadaran nilai. Menurutnya, rutinitas tidak selalu negatif, tetapi kehilangan makna dapat berdampak fatal.

“Rutinitas tidak selamanya negatif. Ada yang positif seperti salat malam, salat berjamaah, sedekah, itu sangat berdampak positif dalam kehidupan kita. Tetapi rutinitas yang tidak kita sadari, walaupun itu benar, walaupun itu baik, tapi rutinitas yang tidak kita isi dengan nilai-nilai, yang hanya sekadar kebaikan yang tidak ada nilai di dalamnya, itu berakibat sangat fatal,” jelasnya.

Ia kemudian menguraikan dampak konkret dari rutinitas tanpa kesadaran. Pertama, muncul kebosanan, stres, dan kecemasan yang dapat berdampak pada relasi sosial.

“Pertama, kita bisa menjadi bosan dan kehilangan minat, bahkan menjadi stres dengan kecemasan yang luar biasa. Itu kadang-kadang kita lampiaskan kepada keluarga, istri, anak, lingkungan, anak buah, dan lain lain,” ujarnya.

Kedua, ia menyebut hilangnya kreativitas dan stagnasi gagasan. “Kita bisa kehilangan kreativitas. Mandeg dalam ide dan inovasi, pikiran-pikiran baru. Gagasan yang baru, segar, yang menggairahkan, yang memberikan semangat. Stagnan,” katanya.

Ketiga, muncul ketergantungan pada pola lama tanpa adaptasi terhadap perubahan zaman. “Muncul ketergantungan terhadap pola yang sama. Kalau 20 tahun itu yang kita kerjakan, ini juga yang kita lakukan sekarang. Padahal waktu berubah, manusia berubah, lingkungan berubah. Tapi kita tidak berubah apapun. Itu-itu saja yang kita lakukan. Merasa cukup dengan pola yang sama,” ujarnya.

Ia juga menyebut dampak lanjutan berupa tindakan otomatis tanpa kesadaran, ketidakseimbangan emosi, kehilangan identitas, kelelahan emosional bagi aktivis, hingga kelemahan mental yang membuat seorang pejuang lebih banyak dipengaruhi daripada memengaruhi.

Sebagai jalan keluar, ia mengajak peserta melakukan jeda reflektif yang ia analogikan sebagai wukuf di Arafah.

“Jadi, kita perlu meninggalkan semua rutinitas itu, kegiatan itu. Kita tinggalkan semua untuk melakukan satu hal, wukuf di Arafah. Kita hanya duduk tanpa kegiatan apapun. Betul-betul kita diam,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa diam yang dimaksud bukan stagnasi, melainkan ruang refleksi batin.

“Diam secara fisik, tapi pikiran dan hati kita, kita biarkan untuk bergerak, berjalan, melakukan muhasabah dan evaluasi. Bertanya dengan pertanyaan paling mendasar, siapa kita,” ujarnya.

Dalam konteks Ramadhan, ia menegaskan bahwa bulan suci merupakan momentum kolektif untuk refleksi mendalam.

“Inilah yang kita renungkan, mulai dari dzuhur sampai maghrib. Ramadhan adalah wukufnya kaum Muslimin yang tidak berhaji. Kita bermuhasabah. Bertanya pada diri masing-masing, siapa saya,” katanya.

Sebagai penutup, KH Hamim Thohari mengajak untuk memperbarui iman dan meninjau kembali kelayakan diri sebagai pejuang nilai.

“Oleh karena itu perbarui iman kita, jangan sampai mandeg, stagnan. Ayo kita bertanya, masih pantaskah saya ini (disebut) sebagai pejuang,” ujarnya.

Penugasan Alumni Ma’had Aly Ikhtiar Membangun Pemahaman Realitas dan Kasih Sayang Antargenerasi

0

MODEL lembaga pendidikan Islam di Indonesia saat ini sangat beragam. Salah satunya ma’had aly, sebuah model lembaga pendidikan Islam pasca tingkatan SMA dan berfokus pada ulumuddin. Adapun konsentrasi studi ulumuddin bisa berbeda antarma’had.

Sebagian ma’had berkonsentrasi pada satu cabang ulumuddin semisal pembelajaran Al-Qur’an, sebagian lainnya pada dua cabang ulumuddin, dan sebagian lainnya pada tiga cabang. Meskipun demikian masih langka ma’had yang berkonsentrasi pada tiga cabang ulumuddin, atau bahkan lebih.

Setelah lulus, biasanya alumni ma’had aly mendapat penugasan karya selama satu atau dua tahun. Penugasan ini bertujuan mengenalkan dan mengadaptasikan alumni ke kehidupan nyata masyarakat. Sehingga alumni benar-benar matang saat dilepas dari ma’had aly dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Biasanya penugasan karya ini tidak satu lokasi. Sebagian alumni ditugaskan di ma’had aly tersebut. Sebagian lainnya dipencar. Sejumlah pertimbangan dimiliki oleh pengelola ma’had aly dalam penyebaran lokasi penugasan alumni.

Permintaan masyarakat inilah satu pertimbangan utama penugasan alumni ma’had aly. Masyarakat yang dimaksud bisa pesantren, sekolah, ataupun masjid. Masyarakat membutuhkan tenaga pembina keagamaan. Di sisi lain masyarakat percaya terhadap kualitas alumni ma’had aly.

Ada satu catatan penting yang perlu digarisbawahi dari aktivitas penugasan karya ini: Menghubungkan alumni dengan masyarakat (bridging).

Bagaimanapun, selama belajar, alumni memiliki keterbatasan dalam mengenali dan memahami kehidupan nyata masyarakat. Sehingga saat meninggalkan ma’had aly dan mulai berinteraksi dengan masyarakat, alumni butuh dibimbing agar paham. Nah senior di tempat tugas alumni memiliki peranan penting dalam bridging ini.

Dalam teori pendidikan, dikenal zona perkembangan proksimal (ZPP) dari Vigotsky. ZPP memiliki pengertian ‘rentang antara apa yang dapat dilakukan seorang anak secara mandiri dengan apa yang dapat dilakukannya dengan bantuan orang dewasa, bisa juga teman sebaya’.

ZPP tidak hanya digunakan untuk anak saja dan tidak hanya dalam konteks pendidikan. ZPP juga digunakan dalam konteks kepemimpinan dan pengembangan sumber daya insani sebagaimana artikel yang ditulis Enno von Fircks berjudul Between Lewin and Vygotsky: Understanding Leader-Follower Interactions Through a Cultural Psychological Lens dalam buku Culture and Leadership.

Dengan ZPP, seorang pendidik atau pelatih dapat memperkirakan sejauh mana bantuan yang bisa diberikan kepada seseorang agar mencapai hasil maksimal, ketimbang seseorang itu dibiarkan sendiri. Agar terjadi percepatan. Sehingga capaian yang lebih tinggi bisa digapai.

Dalam konteks penugasan alumni, sangat baik jika senior di tempat tugas alumni memiliki pemahaman tentang ZPP. Sehingga alumni dapat dibantu sedemikian rupa untuk melakukan percepatan pemahaman terhadap kehidupan nyata masyarakat. Dengan demikian alumni dapat melakukan aksi-aksi yang sangat relevan dan efektif di masyarakat.

Membiarkan alumni untuk belajar sendiri bukan tindakan bijak. Dalih bahwa alumni sudah dewasa tetap tidak dibenarkan. Karena, sebagaimana telah disampaikan, alumni memiliki keterbatasan dalam memahami kehidupan nyata masyarakat. Beban studi di ma’had aly telah menyita hampir seluruh konsentrasi yang alumni punyai.

Oleh karena itu sangat dianjurkan kepada ma’had aly untuk mengedukasikan ZPP kepada senior di tempat tugas alumninya. Agar alumninya tertangani dengan baik. Syukur jika ma’had aly memiliki standardisasi dalam penentuan tempat tugas. Misalkan ada senior yang menguasai teknik pembimbingan orang dewasa menuju perkembangan maksimalnya.

Apabila ini tidak dilakukan, maka alumni bisa mengalami banyak masalah di tempat tugas. Berawal dari kesulitan memahami situasi tempat tugasnya, alumni kesulitan beradaptasi. Berikutnya alumni tidak bisa mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya.

Parahnya kemudian senior di tempat tugas alumni menganggap alumni tidak kompeten. Konflik tiga pihak terjadi: Ma’had aly, alumni, dan tempat tugas.

Semoga dengan penjelasan ini, terjadi sinergi para pihak, terutama ma’had aly dengan tempat tugas. Tujuan utamanya satu, yakni alumni mengalami percepatan perkembangan. Apabila ini terjadi, efek dominonya bisa luas. Alumni bahagia dan kontribusinya kepada masyarakat bisa efektif.

Lebih jauh alumni akan mencatat penugasan sebagai satu aktivitas pendidikan yang bermakna dan perlu terus dilestarikan. Karena di penugasan, alumni mendapatkan uluran kasih sayang nyata dari senior. Sebuah mindset tertanam, senior itu pihak yang penuh kasih, bukan penindas.[]

Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah