Beranda blog Halaman 239

Komunitas M3RCI Malang Salurkan Dana untuk Palestina Melalui BMH

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Komunitas M3RCI menyalurkan dana sebesar Rp25 juta untuk kemanusiaan Palestina melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Dana tersebut diserahkan secara simbolis oleh Ketua M3RCI, Luthfi Ardhobi, kepada perwakilan BMH di Malang.

Luthfi Ardhobi mengatakan, penyaluran dana ini merupakan bentuk dukungan komunitas M3RCI terhadap Muslim Palestina yang saat ini tengah menghadapi situasi sulit.

“Ini merupakan wujud konkret solidaritas kami terhadap saudara-saudara kita di Palestina. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban mereka dan memberi kontribusi positif bagi kemanusiaan di wilayah tersebut,” kata Luthfi dalam keterangannya kepada Hidayatullah.or.id, Selasa, 7 Jumadil Awal 1445 (21/11/2023).

Perwakilan BMH Jatim, Imam Muslim, mengapresiasi penyaluran dana dari Komunitas M3RCI.

Ia mengatakan, dana tersebut akan disalurkan untuk membantu berbagai program kemanusiaan di Palestina, seperti bantuan pangan, air bersih, dan kesehatan.

“Kami akan menyalurkan dana ini secara tepat sasaran dan transparan. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat bagi saudara-saudara kita di Palestina,” jelasnya.

Komunitas M3RCI merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan.

Komunitas ini telah aktif melakukan berbagai kegiatan sosial, seperti bakti sosial, bantuan bencana, dan bantuan kemanusiaan.

Penyaluran dana untuk Palestina ini merupakan salah satu kegiatan sosial yang dilakukan oleh komunitas bernama Masyarakat Muslim Malang Raya Cinta Indonesia atau disingkat M3RCI ini.

Komunitas ini berharap, kegiatan ini dapat membantu meringankan beban saudara-saudaranya di Palestina.*/Herim

Menakar Ulang Eksistensi Organisasi: Menjadi Organisasi Benar atau Organisasi Tenar

0

LEBIH dari tiga tahun lalu, dalam acara pembukaan acara Musyawarah Nasiona V Hidayatullah di Depok, Pemimpin Umum Hidayatullah Ust. H. Abdurrahman Muhammad, saat menyampaikan sambutan pembukaan, mengajukan sebuah pertanyaan retorik: “Kita ini akan menjadi organisasi benar atau organisasi tenar”.

Dua pilihan diksi yang ketika diperhadapkan secara diametral, nampaknya akan saling menegasikan. Namun, jika mampu mensinergikan dalam sebuah gerak akan menjadi kekuatan yang dahsyat bagi setiap organisasi.

Dalam era dunia yang terus berkembang dan perubahan begitu cepat serta penuh ketidakjelasan ini, pertanyaan mengenai bentuk ideal eksistensi organisasi, menjadi relevan untuk diperbincangkan.

Dia akan muncul sebagai titik fokus, sebagai jawawaban atas fenomena yang ada. Sehingga dua paradigma yang sering menjadi sorotan adalah menjadi organisasi benar atau organisasi tenar. Perbedaan antara keduanya menciptakan perdebatan strategis tentang arah yang sebaiknya diambil oleh suatu entitas.

Organisasi besar sering diukur melalui parameter finansial, termasuk pendapatan, aset, sebaran jaringan dan jumlah anggota. Keseimbangan keuangan yang sehat dan kapasitas untuk bersaing di kancah nasional, bahkan global menjadi poin kunci dalam perjalanan menuju ukuran yang besar.

Namun, pertanyaannya adalah, seberapa besar ukuran ini dapat mencerminkan dampak positif organisasi terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya? Sumbangsih apa yang dapat diberikan? Baik dalam konteks internal maupun eksternal?

Di sisi lain, organisasi tenar menempatkan fokus pada pengenalan brand dan reputasi yang kuat. Termasuk program-program dan kerja-kerja nya yang populis. Keunikan, visi yang jelas, dan komunikasi yang efektif menjadi senjata utama dalam mencapai ketenaran ini.

Pada saat bersamaan juga seringkali memanfaatkan kekuatan media terutama media sosial, sebai tools untuk membantu mempromosikannya. Namun, pertanyaan yang dapat diajukan adalah apakah popularitas dan ketenaran sebanding dengan kontribusi nyata organisasi terhadap perkembangan sosial dan nilai-nilai keberlanjutan?

Harmonisasi Organisasi

Realitas dan juga pertanyaan-pertannyaan di atas, sesunggunya semakin menegaskan betapa pentingnya menakar ulang eksistensi organisasi menciptakan ruang bagi pendekatan yang seimbang.

Organisasi yang merangkul konsep “besar dan bermanfaat” dapat menciptakan dampak positif melalui pertumbuhan aset/finansial yang sehat sambil, mengembangkan jaringan serta tanggung jawab sosial. Ini melibatkan integrasi nilai-nilai inti berupa jatidiri organisasi, di mana keberlanjutan, keadilan, dan kepedulian terhadap masyarakat menjadi pijakan strategis.

Untuk menjadi organisasi yang tidak hanya besar tetapi juga tenar, membangun citra positif, kepercayaan masyarakat, dan memperkuat keterlibatan nyata dalam menjawab kebutuhan masyarakat menjadi krusial. Sehingga memanfaatkan keberadaan media terutama media sosial untuk meneyebarkan hal-hal yang diprogramkan dan dikerjakan oleh organisasi dapat menjadi sarana menuju ketenaran.

Sebab, kesuksesan dan juga kebesaran sebuah organisasi bukan hanya diukur dan disederhanakan dari deretan angka-angka atau statistik belaka. Melainkan juga berasal dari warisan positif, berupa nilai yang ditinggalkan organisasi untuk generasi mendatang.

Legacy dalam bentuk nilai inilah yang sesungguhnya akan menjadi semacam bola yang akan terus membesar di kemudian hari, dibandingkan dengan warisan yang dalam bentuk materi atau fisik, yang pada saatnya akan tidak berguna lagi.

Dengan demikian maka, dalam perjalanan menakar ulang eksistensi organisasi, harmonisasi mesti dilakukan, yaitu dengan mempertimbangkan keselarasan dengan nilai-nilai jatidiri organisasi yang tertuang dalam visi dan misinya, akan dapat menjadi landasan yang kokoh.

Dengan menggabungkan konsep modern dan moralitas, organisasi dapat menjadi agen perubahan yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat dan menyongsong masa depan yang berkelanjutan. Sehingga eksistensi organisasi akan semakin kokoh, sebab telah teruji dan dirasakan kehadirannya.

Sedangkan pada saat yang sama juga seluruh elemen organisasi juga berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan bagaimana mengantarkan menjadi organisasi besar dengan mengimplementasikan jatidiri, termasuk visi dan misinya, yang dibarengi dengan pencapaian program dalam ukuruan statistik.

Serta memperkuat brand, organisasi sehingga juga mendapatkan ketenaran. Karena ketenarannya bukan berasal dari hal-hal yang sensasional, akan tetapi berpangkal dari kebermanfaatan yang memberikan sumbangsih yang nyata bagi umat dan masyarakat. Wallahu a’lam

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Kisah Getir Dakwah Nawir, Motornya Raib ketika Diparkir

CERITA tentang lika liku dakwah di daerah selalu jadi sesi menarik di momen Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah.

Ribuan jamaah yang memadati Masjid Ar-Riyadh Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan di sela waktu Maghrib dan Isya tampak menyimak kisah perjuangan tersebut.

Malam itu, Senin, 6 Jumadil Awal 1445 (20/11/2023), giliran Ustadz Muhammad Nawir, dai Hidayatullah yang bertugas di Lampung menyampaikan laporan perkembangan dakwah di provinsi yang juga dikenal dengan angka kriminalitas yang cukup tinggi.

Soal peristiwa kriminal, rupanya ustadz yang juga diamanahi sebagai Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Lampung tersebut mengaku telah kenyang sebagai korban peristiwa.

“Selama tugas di Lampung, sudah empat kali kendaraan motor saya dicuri orang,” ucapnya yang disambut senyum hadirin di masjid. Mulai dari kehilangan motor di rumah, raib di kantor, hingga motor lenyap di parkiran masjid saat ditinggal shalat berjamaah.

Bukan sekali, ia melapor kejadian kehilangan motor kepada aparat kepolisan yang bertugas. Namun yang didapat justru cibiran dari oknum seragam warna coklat itu.

“Malah dia mencibir saya. Dia bilang, Pak saya ini polisi. Rumah itu digembok. Saya punya senjata, tapi motor yang ada di dalam rumah saya gembok lagi,” ucap aparat tersebut.

Hal itu, lanjut Munawir, menunjukkan saking parahnya aksi premanisme di kota yang menjadi tempat tugasnya.

Namun di balik getirnya tantangan itu, dakwah Islam melalui Hidayatullah juga terus berkembang.

Pelan tapi pasti, orang-orang mulai tersentuh dakwah. Bahkan ikut berkontribusi dan memberikan support yang luar biasa untuk pengembangan dakwah di Lampung.

“Walau dakwah ini berat, tapi selalu ada hiburan dari Allah. Pernah ada donatur yang berinfak sampai milyaran rupiah. Belum lagi yang menghibahkan tanah untuk lokasi pesantren,” ucap ustadz yang semasa santri dahulu pernah tugas jadi tukang masak di dapur umum dan takmir masjid di Gunung Tembak.

Hal itu, menurut Munawir, tak lepas dari pesan Ustadz Abdullah Said yang selalu diingat dan menjadi motivasi dirinya. “Jangan mengeluh, kerjakan saja. Sebab semua pekerjaan itu dikontrol dan dilihat oleh Allah,” terangnya sambil menyebut ayat “fa idza faraghta fanshab”.

Di hadapan ribuan peserta Silatnas Hidayatullah, Munawir tak lupa mengingatkan pentingnya silaturahim digencarkan kepada siapa saja dalam menyampaikan dakwah.

“Perbanyak silaturahim dan doakan terbuka hati-hati mereka,” tutupnya masih dengan penuh semangat. (masy/hidayatullah.or.id)

RI Kutuk Sekeras kerasnya Serangan Penjajah Israel ke RS Indonesia di Gaza

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Pemerintah Republik Indonesia (RI) mengutuk sekeras kerasnya serangan penjajah Israel terhadap Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina, yang menewaskan warga sipil.

Indonesia meminta semua pihak yang memiliki hubungan dekat dengan Israel menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan kekejaman tersebut.

“Indonesia mengutuk sekeras-kerasnya serangan Israel ke Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang menewaskan sejumlah warga sipil,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi seperti dikutip Hidayatullah.or.id dari laman resmi YouTube Kemenlu, Selasa, 7 Jumadil Awal 1445 (21/11/2023).

Indonesia menilai serangan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional.

Indonesia juga meminta negara yang memiliki hubungan dengan Israel menggunakan pengaruhnya agar Israel menghentikan serangannya.

“Semua negara, terutama yang memiliki hubungan dekat dengan Israel, harus menggunakan segala pengaruh dan kemampuannya, untuk mendesak Israel menghentikan kekejamannya,” katanya.

Berikut ini pernyataan lengkap Menlu Retno terkait penyerangan Israel di RS Indonesia di Gaza:

Indonesia mengutuk sekeras-kerasnya serangan Israel ke Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang menewaskan sejumlah warga sipil. Serangan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional.

Semua negara, terutama yang memiliki hubungan dekat dengan Israel, harus menggunakan segala pengaruh dan kemampuannya, untuk mendesak Israel menghentikan kekejamannya.

Hingga saat ini, Kementerian Luar Negeri masih hilang kontak dengan 3 orang WNI yang menjadi relawan di Rumah Sakit Indonesia.

Saya sendiri telah menghubungi UNRWA di Gaza, untuk menanyakan situasi RS Indonesia dan memperoleh jawaban bahwa UNRWA juga tidak dapat melakukan kontak dengan siapa pun di RS Indonesia saat ini.

Saya juga sudah berusaha menghubungi WHO dan Palang Merah Internasional namun belum mendapatkan jawaban. Saya akan terus berusaha untuk menghubungi berbagai pihak, guna memperoleh informasi terkait RS Indonesia dan keselamatan 3 WNI tersebut.

Koordinasi dengan MER-C Jakarta juga terus kita lakukan. Dan mari kita doakan agar mereka selamat dan selalu diberi perlindungan Allah SWT.

Rekan-rekan yang saya hormati,

Saat ini saya sedang berada di Beijing, RRT, bersama dengan Menlu Arab Saudi, Yordania, Mesir, Palestina dan Sekjen OKI, untuk menggalang dukungan terutama negara-negara anggota tetap DK PBB atau sering kita sebut P5 agar gencatan senjata dapat segera dilakukan dan bantuan kemanusiaan dapat juga dilakukan tanpa hambatan.

Kunjungan beberapa Menlu OKI tersebut adalah tindak lanjut Paragraf 11 dari Resolusi KTT Luar Biasa OKI-Liga Arab Yang diselenggarakan di Riyadh 11 November lalu.

Bulan ini RRT memegang Presidensi DK PBB. Para Menlu OKI mengharapkan agar RRT dapat mendukung upaya yang sedang dilakukan para Menlu OKI tersebut.

Menurut rencana akan dilakukan pertemuan pada tingkat Menteri Luar Negeri Di DK PBB untuk membahas kembali Isu Gaza di bulan ini. Besok para Menlu OKI akan melanjutkan penggalangan dukungan ke Moskow.

Demikian yang dapat saya sampaikan, dan perkembangan selanjutnya akan saya sampaikan pada kesempatan pertama.

Terima kasih.

(ybh/hio)

Kader Hidayatullah Harus Miliki Kompetensi sebagai Alat Peraga Dakwah

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust. Ir. Khairil Bais mengisi Kuliah Shubuh di Masjid Al Mabrur Asrama Haji Embarkasi Balikpapan, Jln Mulawarman RT.53, Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kaltim, Selasa, 7 Jumadil Awal 1445 (21/11/2023).

Jamaah sebagian besar adalah peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2023 yang digelar di kawasan selama 3 hari ini.

Dalam taujihnya, Khairil berbagi pengalaman dan inspirasi. Dia memiliki pengalaman panjang bertugas Hidayatullah di berbagai tempat dari Makassar, Kendari, Palu dan lainnya.

Setelah itu ia ditarik menjadi pengurus Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah selama dua periode sebagai Ketua Bidang Organisasi. Sekarang menjadi anggota Dewan Mudzakarah (DM).

Beliau menyampaikan konskwensi kader adalah menjadi alat peraga dakwah Islam di masyarakat. Ketika menjadi alat peraga tentu harus memiliki kompetensi sebagai peraga dakwah.

“Kompetensi yang distandarisasi secara intelektual, moral, mental, dan spritual. Perlu menguatkan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) secara konsisten,” katanya.

Dia menegaskan, salah satu standar mental kader adalah ketaatan. Taat dalam menjalankan tugas yang diberikan kepadanya.

“Ketaatan itu tidak mudah, karena banyak halangan, gangguan, dan tantangan. Ketaatan juga nilai seorang kader,” imbuhnya.

Ia menekankan bahwa solidaritas dan soliditas seorang kader sering kali ditekankan oleh pendiri Hidayatullah, Allahuyarhan Ustadz Abdullah Said.

“Sebagai peraga dakwah, kader Hidayatullah bisa membangun solidaritas komponen masyarakat dan kesolidan di internal,” tandasnya. (agh/hidayatullah.or.id)

Rekayasa Organisasi: Mencegah Penurunan dan Terus Bertumbuh

0

SETIAP Organisasi secara sunnatullah akan melewati dengan apa yang disebut dengan siklus hidup organisasi. Secara konsepsi, siklus hidup organisasi digambarakan sebagai cerminan perjalanan evolusioner dari awal hingga akhir, melalui berbagai tahapan.

Secara teori biasanya dimulai dari fase pembentukan (lahir), pertumbuhan, dewasa, puncak kejayaan, penurunan, lalu mati. Sehingga diperlukan sebuah upaya yang serius agar siklus hidup organisasi, tidak segera mencapai fase penurunan apalagi mati.

Oleh karenanya, setiap organisasi perlu merumuskan dan juga melakukan peninjauan ulang sekaligus koreksi setiap fase dan tahapan tahapan yang akan dimulai atau yang telah dilalui itu.

Pada fase perintisan misalnya, organisasi menetapkan fondasi yang kuat dengan merumuskan visi, misi, dan strategi yang menentukan arahnya.

Pertumbuhan menjadi aspek kritis ketika organisasi mengembangkan kapasitasnya, membangun sumber daya, dan memperluas dampak positifnya dalam masyarakat.

Dewasa dan puncak kejayaan adalah puncak dari usaha-usaha tersebut, di mana organisasi mencapai tujuan awalnya dan memperoleh pengakuan serta dampak yang signifikan.

Namun, seiring berjalannya waktu, organisasi dihadapkan pada tantangan perubahan lingkungan, perkembangan teknologi, atau pergeseran nilai di masyarakat. Ini memerlukan penyesuaian dan adaptasi agar organisasi tetap relevan di jamanya dan menghadapi tantanga kehadapan.

Jika tidak ditangani dengan serius, sistematis dan bijak, maka organisasi dapat mengalami penurunan kinerja atau kehilangan relevansinya, bahkan mati.

Sehingga dalam fase terakhir, organisasi perlu merevitalisasi diri dengan mengganti strategi, merevitalisasi budaya organisasi, atau menghadapi tantangan internal lainnya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa, siklus hidup organisasi akan menciptakan kerangka kerja yang penting bagi pemimpin untuk memahami dan mengelola perubahan, serta memastikan kelangsungan dan pertumbuhan jangka panjang, dan mengantarkan jadi pemenang.

Model Rekayasa Organisasi

Setiap organisasi sebagaimana dalam penjelasan di atas, mengalami siklus hidup yang mencakup fase fase perkembangan, puncak kejayaan, dan kemungkinan penurunan dan mati.

Untuk memastikan kelangsungan dan pertumbuhan berkelanjutan, pemimpin organisasi Islam perlu memahami dan mengelola siklus hidup ini dengan bijak. Sehingga organisasi akan senantiasa menjaga vitalitasnya disetiap tahapan. Maka, rekayasa tiap tahapan dalam fase siklus hidup organisasi menjadi penting dilakukan.

Pertama, Siklus Perintisan dan Pembentukan

Setiap organisasi dimulai dengan niat baik dan tekad untuk mengabdikan diri pada tujuan mulia. Pada fase perintisan, kepemimpinan dan visi yang kuat membentuk dasar organisasi, mengidentifikasi misi, dan merancang strategi untuk mencapainya.

Bahkan tidak jarang pada fase ini, pemimpin dan orang-orang generasi awal sebsagai perintis, dapat merepresntasikan organisasi itu sendiri yang dimanifestasikan dalam program, kerja, aktifitas dan akhlak dari para perintis itu. Sehingga perintis, merupakan raw model dari organisasi.

Kedua, Pertumbuhan dan Pengembangan

Fase ini melibatkan ekspansi dan pertumbuhan organisasi. Pemimpin harus menjaga fokus pada tujuan awal dan memastikan bahwa pertumbuhan berkualitas dan bersifat berkelanjutan.

Pengembangan kapasitas dan peningkatan keberlanjutan organisasi menjadi kunci untuk tetap relevan dalam masyarakat. Pada tahapan ini strukturisasi sudah diangun, demikian halnya dengan program-program yang lebih strategis dan sifatnya ekspansif. Semua elemen organisasi, terlibat secara aktif untuk terus membangun organisasi.

Ketiga, Dewasa dan Puncak Kejayaan serta Pemeliharaan

Organisasi akan terus tumbuh menjadi dewasa dan mencapai puncaknya ketika tujuan dan misi tercapai. Namun, tantangan terletak pada pemeliharaan prestasi tersebut. Sebab pada fase ini justru menjadi tahapan yang rawan, dikarenakan sebagaian elemen organisasi sudah merasa pada comfort zone (zona nyaman).

Sehingga kondisi itu rentan menghilangkan atau setidaknya mengurangi etos kerja, lemahnya inovasi, dan kreatifitas dan lain sebagainya. Karena itu, Pemimpin perlu memastikan bahwa nilai-nilai inti dan identitas (jatidiri) tetap terjaga, sambil terus berinovasi untuk menjawab tuntutan zaman.

Keempat, Penyesuaian dan Adaptasi

Seiring perubahan dalam masyarakat dan lingkungan, organisasi perlu mampu menyesuaikan diri. Organisasi yang tidak mampu melakukan penyesuian dan adaptasi terhadap perubahan baik yang bersumber dari internal mapun dinamika eksternal organisasi, akan ditinggalkan dan bisa jadi akan mengalami penurunan yang tajam bahkan mati.

Oleh karenanya, Pemimpin harus menjadi pemandu utama dalam mengubah strategi, memperbarui metode, dan menghadapi tantangan baru untuk tetap relevan dan efektif.

Kelima, Renovasi dan Revitalisasi

Fase terakhir mencakup upaya untuk merevitalisasi organisasi yang mungkin mengalami penurunan, bahkan berada dalam ancaman kematian.

Bisa jadi dalam tahapan ini, pada aspek yang sifatnya material tercapai, akan tetapi pada saat yang bersamaan jatidiri yang menjadi ruh dan nilai inti organisasi yang dituangkan dalam visi, misi dan tujuan organiasi, sudah terjadi deviasi.

Organisasi mengalami disorientasi dari tujuan awal. Jika tidak dilakukan renovasi dan revitalisasi, maka kematian didepan mati. Atau bisa jadi organisasinya hidup, namun sesungguhnya Ia telah mengalami kematian.

Pada titik ini, pemimpin harus memotivasi anggota, merevitalisasi struktur, dan mengembalikan semangat organisasi agar dapat menciptakan fondasi baru untuk pertumbuhan di masa depan.

Dengan melihat kelima hal tersebut di atas, maka elemen penting seperti menjaga nilai-nilai spiritual, kepemimpinan yang kuat dan bijak, serta adaptasi yang responsif terhadap perubahan zaman, akan membawa organisasi dapat melewati siklus hidupnya dengan integritas dan terus tumbuh untuk memenuhi visi, misi dan tujuannya.

Dan, inilah sesungguhnya sebuah rekayasa organisasi yang akan membawa kepada pertumbuhuan yang berkelanjutan dan pada saat yang sama juga mencegah penurunan atau bahkan kematian. Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Puluhan Karya Literasi Buku Semarakkan Silatnas Hidayatullah

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Peluncuran karya literasi buku turut menyemarakkan helatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang akan digelar di Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, pada 23-26 November mendatang.

Salah satu buku yang paling ditunggu sejak dibukanya open order (PO) sejak Oktober lalu adalah “50 Tahun Hidayatullah Mengabdi” yang diterbitkan oleh Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah.

Selain memuat sejarah perjuangan, nilai-nilai, budaya, dan kultur Hidayatullah hingga usianya yang kini telah memasuki 50 tahun kedua, buku ini menyita perhatian karena direkomendasikan langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah agar menjadi bacaan wajib para kader dan jamaah.

Buku yang tak kalah penting dan menarik lainnya adalah “Manhaj Nabawi Merujuk Sistematika Wahyu” yang ditulis oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH. Dr. Nashirul Haq. Buku ini tentu tidak lepas dari hasil perenungan dan pengembaraan intelektual penulis selama bertahun tahun.

Selain itu, ada buku berjudul “Lembaga Zakat Lebih dari Sekedar Filantropi” yang ditulis oleh Drs. Wahyu Rahman, MM. Buku monograf ini merupakan republikasi dari karya disertasi Pascasarjana penulis yang diselesaikan di Universitas Ibn Khaldun, Indonesia.

Berikutnya, ada buku “Panduan Pangkalan Data Dikdasmen” yang diterbitkan Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah.

Buku panduan ini menyajikan pembahasan seputar perencanaan berbasis data (database) yang penting diketahui satuan pendidikan oleh lingkungan pendidikan dasar dan menengah.

Lalu ada buku baru yang ditulis oleh Mas Imam Nawawi berjudul “77 Pesan Kepemimpinan Kaum Muda” yang diterbitkan oleh Sigma Pustaka Yogyakarta.

Karya buku kelimanya Mas Imam Nawawi ini merupakan bunga rampai dari refleksi naratif yang dilakukannya selama rentang waktu 2020-2022 ketika ia mengemban amanah sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah.

Selain buku buku yang disebutkan di atas, masih ada sedikitnya 80 buku dalam berbagai topik lainnya karya para santri dan kader yang akan menyemarakkan acara Silatnas Hidayatullah kali ini. (ybh/hidayatullah.or.id)

Geliat Dakwah Hidayatullah di Sultra Terus Berjalan Dinamis

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Geliat dakwah Hidayatullah di Sulawesi Tenggara (Sultra) terus berjalan dinamis. Demikian disampaikan Ust. Suherman, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Sulawesi Tenggara, saat memberikan laporan dakwah di Masjid Ar-Riyadh Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, lepas Magrib, Senin, 6 Jumadil Awal 1445 (20/11/2023).

Dalam perjalanannya, dia bersyukur bisa tiba di markas peradaban Islam Indonesia di Balikpapan, meskipun masih ada 100 orang yang belum hadir.

Malam ini, diharapkan tiba 90 orang Sultra dari Parepare ke Balikpapan, menciptakan semangat kebersamaan.

Sulawesi Tenggara memiliki 17 kota/kabupaten, dengan total 4 kampus madya.

“Dengan sebaran itu, kami telah memberikan SK kepada 13 murabbi wustha dan juga 6 murabbi halaqah ula,” katanya.

“Memang ini tidak lazim. Kalau kita lihat Jawa Timur, jumlah halaqah ula jauh lebih banyak daripada halaqah wustho. Tetapi di Sultra, terbalik, lebih banyak wustha daripada ula,” tuturnya.

Suherman menekankan konsolidasi untuk memahami dan menerapkan jati diri dengan sebaik-baiknya. Dengan perjalanan dakwah dan pembinaan kader yang demikian itu, ia berharap halaqah berjalan dinamis dan baik.*/ (min/hidayatullah.or.id)

Total Kafilah Sulawesi Tiba di Balikpapan, Kesan Annisa: Excited Banget!

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Puluhan kendaraan roda empat menjemput para dai-dai’yah di Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Senin dini hari, 6 Jumadil Awal 1445 (20/11/2023).

Mesin-mesin berbahan bakar bensin dan solar itu telah siaga sejak pukul 01.00 WITA di Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan.

Tampak pula bus bak terbuka bantuan armada transportasi dari Basarnas untuk membantu memobolisasi kepadatan tamu Silatnas di pelabuhan menuju tempat acara.

“Dini hari ini para dai-dai’yah dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Gorontalo tiba di Pelabuhan Semayang Balikpapan pada Senin dini hari,” terang Koordinator Tamu Silatnas Hidayatullah 2023, Haji Malik.

Kedatangan kafilah ini mengawali rangkaian acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023 yang akan digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Qura’, Gutem (Gunung Tembak), Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sekitar 1600 peserta Silatnas Hidayatullah 2023 ini mengarungi lautan selama 24 jam, jalur laut via kapal KM (kapal motor) Bukit Siguntang dan KM Lambelu.

“Peserta Silatnas dari Sulawesi Selatan sendiri sekitar 1.321 peserta,” ungkap Nabila Izzah, mahasiswi Al-Bayan semester 5 yang turut hadir menjadi peserta.

Tamu tiba di pesantren secara bertahap. Menurut Dora Kardila, tim registrasi, tamu dari kafilah bagian Sulawesi masih sekitar 65% yang tiba, selebihnya masih dalam perjalanan dari Pelabuhan ke Gutem.

Tampak terlihat bahwa puluhan kendaraan roda empat dan roda enam memadati jalur registrasi dan penginapan.

Peserta juga didominasi dari para santri dan mahasiswi PTH (Perguruan Tinggi Hidayatullah). Karena jumlah yang cukup banyak, PIN Keputrian yang tersediapun langsung habis.

“Karena kehabisan PIN Keputrian, mahasiswi dan santri kita kasih pin untuk ibu-ibu,” ujar tim registrasi.

Annisa, santri kelas 3 SMK, Hidayatullah cabang Makassar, mengaku senang bisa mengikuti Silatnas Hidayatullah 2023.

“Izin dari orang tua susah,” ungkapnya. “Tapi setelah menyakinkan orang tua, saya segera mendaftar jadi salah satu peserta.”

“Nggak sia-sia aku kesini, excited banget karena dari sekian banyak cerita yang saya baca tentang bagaimana suasana disini (Hidayatullah Pusat), Alhamdulillah saya sudah bisa melihat langsung,” ujarnya lagi.

Annisa berharap kehadirannya di Silatnas Hidayatullah 2023 dapat bermanfaat untuk menjalin silaturahmi, menambah ilmu, dan yang pasti sangat bermanfaat untuk kelangsungan dakwah Hidayatullah kedepannya.

“Hadir sebagai peserta juga sebagai pengobat rindu bagi saya,” ungkap Zahra Al-Fath, alumni SMH RM putri.

Zahra mengaku sudah lama ingin kembali ke Gutem, tempatnya pernah menimba ilmu selama tiga tahun.

“Saya ingin bertemu dengan para guru dan teman-teman yang dulu pernah bersama-sama berjuang di sini,” ujar Zahra.

Silatnas Hidayatullah 2023 akan digelar selama empat hari, mulai tanggal 23 hingga 26 November 2023. Acara ini akan diisi dengan berbagai kegiatan, seperti seminar, workshop, dan tausiyah.*[]

Laporan Nur Afifah, kontributor magang Hidayatullah.or.id di Balikpapan

Rakernas Hidayatullah Kembali Tajamkan Standardisasi dan Sentralisasi

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Organisasi Hidayatullah kembali menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Asrama Haji Embarkasi Balikpapan, Jln Mulawarman RT.53, Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kaltim, dibuka pada Senin, 6 Jumadil Awal 1445 (20/11/2023).

Rakernas ini dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, pengurus harian DPW, pimpinan amal dan badan usaha Hidayatullah, serta pimpinan kampus (pesantren) induk dan utama Hidayatullah.

Tema Rakernas tahun ini masih mirip dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan, Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik.”

Tema ini, menurut Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, masih akan dipakai hingga tahun 2025, atau saat berakhirnya periode kepengurusan sekarang ini.

“Artinya, program standardisasi dan sentralisasi ini harus sukses saat periode ini berakhir atau tahun 2025,” ungkap Nashirul.

Adapun hal yang distandardkan, kata Nashirul lagi, adalah program kerja. Misal, program pendirian Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH). Harapannya, RQH yang ada di Sumatera kelak akan sama dengan RQH di Papua.

“Kalau program-program ini tidak distandarkan maka akan menjadi beban organisasi,” ungkap Nashirul.

Adapun program sentralisasi bertujuan untuk menajamkan garis komando. Instruksi dari pengurus pusat, terlebih lagi dari Pemimpin Umum, harus sampai dan terlaksana hingga struktur paling rendah.

Demikian juga pada acara “pesta demokrasi” di awal tahun 2024 mendatang. Instruksi dari pemimpin Hidayatullah harus bisa dilaksanakan oleh seluruh kader Hidayatullah dengan penuh kesadaran.

Rakernas Hidayatullah ini akan disusul dengan acara Silaturahim Nasional Hidayatullah pada Kamis (23/11) hingga Ahad (26/11), bertempat di Kampus Induk Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur. Acara yang digelar lima tahun sekali ini akan dihadiri sekitar 20 ribu kader Hidayatullah dari seluruh Indonesia. */(mah/hidayatullah.or.id)