Beranda blog Halaman 240

Hidayatullah Gelar Rapat Kerja Nasional di Balikpapan, Kuatkan Tri Konsolidasi

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Organisasi kemasyarakatan Hidayatullah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) selama 3 hari yang bertempat di Asrama Haji Embarkasi Balikpapan, Jln Mulawarman RT.53, Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kaltim, dibuka pada Senin, 6 Jumadil Awal 1445 (20/11/2023).

Rakernas Hidayatullah tahun 2023 yang mengangkat tema “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” ini dibuka oleh Pemimpin Umum Hidayatullah Ust. H. Abdurrahman Muhammad.

Pada kesempatan tersebut tampak hadir unsur Majelis Penasehat, Dewan Pertimbangan, Dewan Mudzakarah, dan Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah serta Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, MA, beserta jajaran.

Ketua Panitia Rakernas Hidayatullah 2023, Sirajuddin Rajab, mengatakan rapat kerja nasional kali ini kembali meneguhkan tri konsolidasi Hidayatullah yaitu konsolidasi jatidiri, konsolidasi organisasi, dan konsolidasi wawasan.

Menurut Sirajuddin, tri konsolidasi ini mencerminkan konsep utama yang berkaitan dengan pengembangan dan peningkatan organisasi Hidayatullah sebagai bagian dari kaum muslimin (jamaatun minal muslimin) yang ingin terus berkhidmat untuk agama, bangsa, dan negara.

“Konsolidasi jatidiri sebagai proses untuk menyatukan dan memperkuat identitas Hidayatullah yang mencakup nilai-nilai, budaya, citra, atau kultur kita selama ini,” katanya.

Dengan penguatan konsolidasi jatidiri diharapkan akan semakin meningkatkan pemahaman mengenai tujuan dan nilai-nilai organisasi sekaligus menciptakan kesatuan di antara kader dan jamaah.

Lebih lanjut Sirajuddin menjelaskan konsolidasi organisasi sebagai upaya memantapkan pengelolaan sumber daya, tugas, dan tanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi yang tidak saja mencakup struktur, tata kelola, dan sistem secara internal, tetapi juga peran lebih luas secara eksternal.

Berikutnya, konsolidasi wawasan yang merujuk pada pemahaman mendalam terhadap berbagai aspek yang mempengaruhi organisasi, termasuk faktor internal dan eksternal. Menurut Sirajuddin, wawasan di sini mencakup pemahaman terhadap jatidiri Hidayatullah, tren masa kini, perubahan kedisinian, dan dinamika lingkungan.

Diharapkan Sirajuddin, dengan terus dikuatkannya tri konsolidasi tadi akan menguatkan pula standardisasi dan sentralisasi yang ingin dicapai organisasi secara sistemtik terintegrasi.

“Dengan menggabungkan sistem dan proses organisasi secara menyeluruh untuk meningkatkan keterkaitan dan kohesivitas, diharapkan ini semakin memajukan kiprah Hidayatullah ditengah umat sebagai bagian dari kaum muslimin,” imbuhnya.

Seraya itu Sirajuddin kembali menekankan pentingnya mengkonsolidasikan identitas, membangun struktur organisasi yang efisien, memiliki wawasan mendalam terhadap lingkungan, dan menerapkan standar, sentralisasi, serta integrasi sistemik.

“Semoga dengan melalui forum Rakernas ini, para peserat nanti kembali ke daerah tempat pengabdiannya telah menyerap materi Rakernas sehingga organisasi semakin memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan,” tandasnya.

Rakernas yang diikuti oleh DPP Hidayatullah, 37 DPW, 24 perwakilan dari Kampus Induk dan Kampus Utama, 2 Organiasi Pendukung serta 14 Amal dan Badan Usaha kali ini terbilang istimewa karena bertepatan dengan helatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang akan berlangsung di Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim.

Silatnas yang akan berlangsung dari tanggal 23 hingga 26 November mendatang ini diharapkan menjadi momen kultural yang mengakar kuat, memberikan harapan baru, dan mentransformasikan ukhuwah islamiyah ke dimensi yang lebih luas. (ybh/hidayatullah.or.id)

Ingin Berkhidmat Sukseskan Silatnas, Kafilah Tamu Ikut Turun Tangan Bekerja

UNGKAPAN “tamu adalah raja” sepertinya tidak berlaku bagi sebagian tamu yang mulai datang memadati arena Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang digelar Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, beberapa hari ke depan.

Bukan karena mereka dicuekin atau tidak dilayani oleh tuan rumah. Tetapi yang datang sebagai tamu atau peserta Silatnas tersebut justru tidak merasa sebagai tamu yang harus dilayani apalagi diperlakukan bak raja.

Setidaknya itulah yang terjadi beberapa waktu lalu. Tepatnya di lokasi kerja bakti depan Aula Abdullah Said, tempat penginapan sebagian tamu Silatnas.

Bukan hanya panitia, warga, atau santri yang menetap di Gunung Tembak yang bergelut di lapangan. Tetapi juga diramaikan oleh tamu peserta Silatnas.

“Ini peserta tapi kok ikut kerja bakti?” pancing Miftahuddin, asal Manokwari, Papua Barat, di sela kerja bakti.
“(Kita) bukan tamu, (atau) tamu sebagai tuan rumah,” balas Yusuf Islam, dai Hidayatullah yang mengemban amanah dakwah di Timika, Papua Barat.

Menurut Yusuf, para tamu peserta Silatnas yang datang ke kampus Gunung Tembak adalah sekaligus menjadi tuan rumah pula.

“Balikpapan adalah rumah kita, rumah kita bersama dari kader seluruh Indonesia,” ucap Ustadz Yusuf penuh semangat.

“Jangankan dua gundukan, lebih dari itu kita juga siap selalu,” timpal Muhammad Nur, dai asli Papua lainnya. “Kita ini sudah pengalaman meratakan gundukan begini,” lanjutnya sambil tertawa lepas.

Pantauan media di lapangan, hampir seluruh kafilah tamu Silatnas yang telah tiba di kampus Gunung Tembak juga ikut meramaikan kerja bakti kolosal tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, warga, santri, dan tamu peserta Silatnas dibagi ke beberapa titik lokasi kerja. Mulai dari meratakan tanah, mengangkat paving, hingga melakukan giat kerbersihan lingkungan di masjid ar-Riyadh.

“Ini adalah pekerjaan kita bersama. Sebagai mujahid (jika) ditugaskan kerja (maka) langsung kerjakan,” pungkas Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua, Ustadz Mus Mulyadi, yang turut membersamai kerja bakti tersebut. (msy/hidayatullah.or.id)

Kafilah Silatnas NTB – Sulsel Nikmati Hamparan Lautan dengan Tafakkur

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Rombongan peserta tamu Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah secara bergelombang terus berdatangan ke Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, sebagai pusat kegiatan helatan lima tahunan ini.

Diantara kafilah tersebut adalah rombongan dari Nusa Tenggara Timur (NTB) yang saat ini masih berlayar menuju Balikpapan dengan menggunakan Kapal Motor (KM) Kirana 7.

Sementara itu, ada kurang lebih 1.200 orang rombongan Sulawesi Selatan menyusuri Selat Makassar menuju Semayang Port Balikpapan dan telah tiba dini hari tadi malam di Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Senin, 6 Jumadil Awal 1445 (20/11/2023).

Membelah lautan menggunakan KM Lambelu, kafilah Sulsel menaiki kapal yang berkapasitas total 2160 itu setelah lepas landas dari Larantuka dan Baubau.

Rombongan Sulsel menaiki kapal milik perusahaan pelayaran negara (PT Pelni) itu melalui 2 pelabuhan yaitu Makassar dan Parepare.

Selama pelayaran, berbagai kegiatan digelar yang bikin suasana di kapal semakin hidup. Selain mengidupkan shalat berjamaah di kapal, rombongan juga rutin mengadakan halaqah pagi.

Seperti pagi ini, rombongan dari Hidayatullah NTB mengadakan tausiah selepas shalat dan wirid subuh yang diisi oleh Ketua Dewan Murabbi Wilayah Ust. Ismuji.

Taushiah yang memuat pesan pesan tafakkur akan Kemahabesaran Allah Ta’ala itu berlangsung khidmat. Selain karena materi taushiah yang menarik, suasananya juga terasa sejuk karena digelar di top deck (anjungan menghadap buritan kapal).

Perjalanan Kapal Motor (KM) Kirana 7 ini meninggalkan Lombok menuju Surabaya. Menurut perkiraan jadwal, kapal milik PT. Damai Lautan Utama ini akan tiba di Balikpapan pada hari Rabu (22/11/2023).

Bulan November 2023 membawa kebahagiaan tersendiri bagi para kader, jama’ah, dan simpatisan Hidayatullah.

Hidayatullah akan menggelar Silatnas hajatan 5 tahunan yang digelar di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Acara yang akan berlangsung dari tanggal 23 hingga 26 November mendatang ini diharapkan menjadi momen kultural yang mengakar kuat, memberikan harapan baru, dan mentransformasikan ukhuwah islamiyah ke dimensi yang lebih luas. (ybh/hio)

Laznas BMH – UMKM Tuban Gelar Bazar Pakaian Anak untuk Palestina

0

TUBAN (Hidayatullah.or.id) — Peduli terhadap saudara-saudara di Palestina, UMKM Tuban, Ibu Fitria, bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Tuban mengadakan bazar penjualan pakaian anak-anak di SD Integral dan TK Integral Hidayatullah Tuban pada Selasa-Sabtu, 30 Rabiul Akhir – 4 Jumadil Awal 1445 (14-18/11/2023).

Hasil penjualan dari bazar tersebut akan didonasikan untuk membantu saudara-saudara di Palestina yang sedang mengalami konflik.

Ibu Fitria mengatakan bahwa bazar ini merupakan bentuk kepedulian dalam memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan di Palestina. Ia juga berharap, bazar ini dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang kondisi Palestina.

“Saya ingin masyarakat Tuban mengetahui kondisi saudara-saudara kita di Palestina. Saya berharap, dengan bazar ini, masyarakat dapat tergerak untuk membantu mereka,” kata Ibu Fitria.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim, mengaku apresiatif terhadap sinergi antara UMKM Tuban dan BMH. Ia mengatakan, sinergi ini merupakan bukti nyata kepedulian masyarakat terhadap Palestina.

“Kami sangat mengapresiasi sinergi antara UMKM Tuban dan BMH. Ini merupakan bukti nyata kepedulian masyarakat terhadap Palestina,” kata Imam Muslim.

Bazar ini mendapat antusiasme yang tinggi dari masyarakat Tuban. Dalam kurun waktu empat hari, total donasi yang terkumpul mencapai Rp100 juta. Donasi tersebut akan disalurkan oleh BMH untuk membantu saudara-saudara di Palestina.

Bazar ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk membantu saudara-saudaranya di Palestina. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban mereka dan membantu mereka untuk meraih kemerdekaan.*/Herim

Rakernas Mushida 2023 Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah (Mushdia) yang digelar di Asrama Haji Embarkasi Balikpapan, Jln Mulawarman RT.53, Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kaltim, resmi dibuka pada Ahad, 5 Jumadil Awal 1445 (19/11/2023).

Rakernas Mushida yang digelar selama 3 hari ini mengangkat tema “Konsolidasi Jati Diri, Wawasan dan Organisasi untuk Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik”.

Rakernas dengan target optimalnya kinerja seluruh PW dengan standardisasi, sentralisasi dan integrasi sistemik dihadiri oleh Pengurus Pusat Mushida, Pengurus Inti Wilayah Mushida 35 Provinsi, dan Kepala PAUD/TK Kampus Utama Hidayatullah pada 19-21 November 2023/5-6 Jumadil Awwal 1445 H.

Pembukaan Rakernas Muslimat Hidayatullah diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Ketua PW Mushida Kaltim Erni Kartika.

“Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada panitia dan seluruh pihak yang telah berkontribusi moril maupun materiil dalam penyelenggaraan acara Rakernas,” kata Erni.

Pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf jika tidak maksimal dalam memberikan pelayanan karena berturut turutnya acara yang dilaksanakan dan dinahkodai oleh PW Kaltim.

Sementara itu Ketua Umum PP Mushida Hani Akbar menyampaikan apresiasi kepada PW Kaltim yang telah menunjukkan militansi dan mujahadahnya dalam menjalankan tugas sebagai EO (event organizer) di semua acara yang diadakan bulan November ini di Balikpapan.

Hani mengatakan, konsolidasi dan koordinasi menjadi hal yang paling penting dalam menjalankan organisasi, dan yang tidak kalah penting adalah militansi. Dia menegaskan, tanpa militansi maka organisasi ini tidak akan berjalan maksimal.

“Tarik menarik antara kepentingan pribadi dan organisasi pasti selalu mewarnai perjalanan organisasi, maka tanpa militansi gerak organisasi ini akan kalah,” jelas Hani Akbar.

Tri Konsolidasi

Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (Kabid PPO DPP) Hidayatullah, Asih Subagyo, memberi materi dengan tema “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan.”

Menurutnya, keluarga bukan hanya sebagai unit terkecil masyarakat, tetapi juga fondasi utama dalam membangun peradaban Islam yang berkembang dan berkelanjutan.

Kata dia, keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai Islam membentuk individu yang berkontribusi positif pada masyarakat.

“Sehingga melibatkan keluarga sebagai mitra utama dalam membangun peradaban Islam menjadi penting dalam konteks pembangunan masyarakat yang berdasarkan pada nilai-nilai agama,” imbuhnya.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan makna konsolidasi dan tri konsolidasi.

“Konsolidasi ialah usaha yang terus menerus oleh pimpinan dan seluruh elemen organisasi untuk memperteguh, memperkuat, memperkokoh serta mengkoordinasikan berbagai aspek dalam sebuah organisasi,” urainya.

Konsolidasi jatidiri berkaitan dengan gagasan dasar dalam berorganisasi yang merupakan falsafah ber-Hidayatullah. Sedangkan konsolidasi organisasi bermakna upaya pengurus untuk membangun kekuatan dan kesolidan di tubuh organisasi.

“Adapun konsolidasi wawasan sesungguhnya ditujukan untuk mengantarkan semua anggota dan kader, untuk memiliki wawasan (tsaqofah) Islamiyah, yang bersifat lokal, nasional, regional hingga global yang selaras dengan jati diri dan manhaj,” lanjutnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kekuatan sebuah organisasi akan luar biasa, jika semua elemen dapat terintegrasi dalam sebuah sistem yang transparan dan akuntabel. Integrasi sistemik berarti menjadikan kekuatan organisasi berbasis sistem.

Sebagai motivasi, Kabid PPO menutup materinya dengan sebuah pantun:

Sungguh indah bunga melati
Tumbuh mewangi di beranda
Jadilah muslimah sejati
Hidup dan besarkan Mushida

Rombongan Silatnas Kalbar Tiba di Gunung Tembak, Rela 3 Hari Lebih Tempuh Jalan Darat

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Satu lagi rombongan tamu yang akan menyemarakkan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yaitu kafilah Kalimantan Barat (Kalbar) yang tiba di Kampus Ummulquro Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, Sabtu malam, 4 Jumadil Ula 1444 (18/11/2023).

Rombongan ini berjumlah sekitar 30 orang dan masih akan menyusul rombongan selanjutnya.

“Kita menggunakan perjalanan darat selama 3 hari 4 malam,” ujar Ustadzah Elly Syahadati, ketua rombongan.

“Kalau lewat udara bisa, tapi mahal sampai 1 atau 2 juta. Jadi kita berinisiatif untuk menggunakan mobil, meski agak lama tapi Alhamdulillah sudah sampai,” imbuhnya.

Ustadzah Elly mengatakan bahwa rombongan ini merupakan orang-orang yang baru mengikuti Silatnas dan mereka terlihat sangat bersemangat.

“Mereka sangat antusias untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di sini,” ujarnya.

Ustadzah Elly juga mengaku bahwa lelahnya hilang karena bertemu teman-teman seperjuangan dalam dakwah.

Elly sendiri merupakan salah satu tenaga pengajar di Hidayatullah yang sudah bergabung pada tahun 2000 dan bertugas di Balikpapan selama 15 tahun kemudian mendapat tugas dakwah ke Kalimantan Barat.

Rombongan ini disambut hangat oleh panitia. Mereka disambut dengan lagu-lagu Islami. Panitia juga menyediakan berbagai macam fasilitas untuk para peserta, seperti tempat penginapan, makanan, dan kegiatan-kegiatan keagamaan.

“Semoga lelah mereka terbalaskan dengan keadaan yang ada di Gunung Tembak ini,” sambut Ustazah Umi Salami, panitia Silatnas putri.*/Anggun Damayanti

Kisah Putri Temukan Tambatan Hati di Walimatul Urs 40 Pasang Santri

ist pernikahan massal mubarak Hidayatullah (dok. hidayatullah.or.id)

“KALAU hari ini capek (karena) banyak kerjaan, tapi besok kalau ada kerjaan lagi rasanya tetap semangat bekerja. Kenapa begitu, ya?”

Tampak kalimatnya bernada tanya, tapi sebenarnya itulah rasa yang terpendam sejak hijrah ke lingkungan barunya.

Putri, sebut saja namanya begitu, adalah sarjana manajemen jebolan kampus swasta ternama di kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Setahun belakangan, Putri memang sedang bahagia-bahagianya dengan suasana baru tempat tinggalnya sekarang di ujung timur Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Tepatnya di sebuah pondok pesantren yang kini menapak usia emasnya, 50 tahun.

Sebelum hijrah, Putri menetap di Pinrang, Sulawesi Selatan. Namun ajakan tante dan adik-adiknya yang lebih dulu hijrah, membuat penyuka fotografi dan desain grafis ini berubah pikiran.

Meski jauh terpisah secara fisik dengan kedua orangtuanya, tapi persaudaraan itu justru kian hangat dirasakan.

Putri yang kini diamanahi staf keuangan di pendidikan putri itu bersyukur, kasih sayang orangtua berganti dengan kepedulian dan kepekaan orang-orang di sekelilingnya.

“Kurang tahu juga kenapa. Tapi orang-orang di sini seperti bersaudara dan berkeluarga semua. Selalu ada yang menyapa. Ikatan jamaahnya kuat sekali,” ungkap Putri menceritakan yang dialaminya.

Kini, kebahagiaan itu terasa kian membuncah. Melalui wasilah Pernikahan Mubarak 40 pasang yang diadakan oleh Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, Sabtu, 4 Jumadil Ula 1444 (18/11/2023), Putri sulung dari tiga bersaudara tersebut telah menemukan jodoh dambaan hatinya.

Terakhir, pengantin baru tersebut tak banyak meminta, kecuali ketulusan doa dari orang-orang shaleh dan keberkahan pernikahan sesuai dengan tagline Pernikahan Mubarak “Mengokohkan Tarbiyah, Merajut Berkah, dan Menebar Dakwah”.[]

“Cukup itu Saja, yang Penting Shalehah dan Mujahidah”

“YAKIN? Kriteria calon yang diinginkan “cuma” ini saja yang ditulis?”
“Iya ustadz. Cukup itu saja. Yang penting shalehah dan mujahidah”

Penuh semangat, laki-laki asal Bojonegoro, Jawa Timur, itu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dalam interview peserta Pernikahan Mubarak Hidayatullah, baru-baru ini.

Anak muda bernama Muhammad Ibnu ini merupakan salah satu peserta Pernikahan Mubarak 40 Pasang yang diadakan oleh Kampus Ummulquro Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, yang digelar Sabtu, 4 Jumadil Ula 1444 (18/11/2023).

Biasanya, pertanyaan “kriteria” pasangan adalah lumbung jawaban bagi peserta untuk mengisi “sepuas hati”. Mereka boleh menulis apa saja yang menjadi impian atau harapan selama ini. Mulai dari yang bersifat prinsip soal keshalehan agama hingga nasab keturunan, dan kecantikan, serta kemapanan ekonomi, dan sebagainya.

Uniknya, lajang yang diamanahi sebagai pengasuh santri di Pesantren Ashabul Kahfi, Bekasi, ini cukup mencantumkan dua hal di atas.

“Soal cantik bagaimana? Biasanya rata-rata orang menulis itu semua. Mau wanita yang cantik,” telisik yang mewawancara.
“Sebenarnya cantik itu relatif saja, Pak Ustadz. Artinya itu tergantung siapa yang memandangnya,”

Menurutnya, jadi kalaupun dianggap tidak cantik, itu biasa saja baginya.

“Malah itu jadi keistimewaan kalau kurang cantik. Biar cantiknya nanti di surga saja insya Allah,” jelasnya panjang lebar soal perspektif kecantikan wanita dambaannya.

“Lalu apa yang dibayangkan dengan perempuan mujahidah? Kenapa memilih kriteria tersebut?”

Makin ke sini rasanya dialog menjadi semakin berisi bahkan penuh semangat. Dalam Pernikahan Mubarak, urusan wawancara memang menjadi satu elemen penting untuk menggali seluasnya pemikiran dan karakter setiap peserta.

“Iya ustadz. Pernikahan ini kan untuk perjuangan dakwah. Jadi harus jadi mujahid dan mujahidah. Kalau bukan mujahidah, nanti malah tahan-tahan suaminya kalau mau berangkat tugas dakwah”

Ibarat roket yang diluncurkan oleh para Mujahid Gaza Palestina ke jantung pertahanan musuhnya. Ungkapan itu juga meluncur deras dari lisan pemuda tersebut. Seakan sukses menghantam dan meluluhlantakkan ego yang masih bercokol dalam diri.

Terima kasih atas nasihatnya sang pemuda. Benar! Hidup ini hanya bernilai jika diisi dengan perjuangan dan pengorbanan untuk dakwah dan agama tercinta.[]

Dari Kabupaten Bungo Menjemput Jodoh di Kampus Ummulquro

BERASAL dari Kabupaten Bungo, Jambi, pemuda ini terbilang nekat saat menjajaki takdir jodohnya hingga ke Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Tak ada kenalan apalagi sanak saudara di kota penghasil minyak mentah tersebut. Tapi itu tak menghalangi tekad kuatnya mengikuti Pernikahan Mubarak yang diadakan oleh Kampus Ummulquro Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim

Saat diwawancara, laki-laki penghobi membaca itu baru saja tiba dari Bangka Belitung, ujung timur dari Pulau Sumatera. Di sana, ia sedang mengemban amanah berdakwah di masyarakat usai lepas pendidikan di Sekolah Dai Hidayatullah di Ciomas, Bogor, Jawa Barat.

Lalu bagaimana kisah pemuda suku Kubu tersebut mengenal bahkan menjadi pegiat dakwah?

“Tidak ada yang istimewa, ustadz,” jawab singkat pria bernama Pebra Rudi ini. Ia mengaku masa kecilnya justru jauh dari lingkungan dan pergaulan yang Islami.

Sejak remaja ia nyaris sudah terbiasa bekerja keras dan banting tulang demi membantu ekonomi kedua orangtuanya.

“Kalau di kampung dulu, biasa kerja kelapa sawit atau ikut ke lokasi menambang logam mulia,” ucapnya. Sebagai buruh tambang tradisional, penghasilan pun juga naik turun dan kadang tidak menentu.

“Kadang dapat paling rendah 150.000, tapi kalau lagi rezeki bisa sampai 400.000 atau 800.000 perhari,” jelasnya panjang lebar.

Hidayah! Begitulah jika Allah berkehendak. Meski terbilang sudah punya penghasilan, kerap kali ia merasa hidupnya seperti kosong dan tak punya arti.

Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seseorang yang menawarinya untuk belajar agama secara mendasar. Tak buang waktu, ia pun segera mendaftar dan menjadi peserta Sekolah Dai Hidayatullah yang terletak di Ciomas, Bogor, Jawa Barat.

Tekad yang kuat mengantarnya bisa menyelesaikan pendidikan tepat waktu hingga dinyatakan lulus. Selanjutnya, ia bersegera berkemas usai mendengar langsung pembacaan SK Penugasan Dakwah ke Bangka Belitung, daerah yang terkenal sebagai penghasil timah di Indonesia.

Jika dulu setiap waktu bergulat menambang logam mulia atau emas di Muara Bungo, kini ia sibuk menambang generasi emas yang siap melanjutkan estafeta perjuangan dakwah Islam.

Tak banyak yang ditulisnya di formulir Pendaftaran Pernikahan Mubarak. Soal motivasi misalnya, ia hanya menulis untuk menjaga semangat diri untuk terus bisa bermanfaat bagi umat.

Ia sadar, sudah banyak waktu yang terbuang percuma di masa remajanya dahulu. Kini pemuda yang telah dipanggil ustadz oleh santri-santrinya itu ingin menebusnya dengan berkontribusi dan berbagi manfaat seluas-luasnya kepada umat.

“Mohon doanya dari semua,” tutupnya. (mss/hidayatullah.or.id)

Kisah Unik Nikah Mubarak, Modal Rp300 Ribu, Tekad Kuat Akhirnya Akad

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Banyak dari umat muslim yang sejatinya dari sisi usia dan kemapanan sudah cukup matang, namun tak kunjung akad karena berbagai pertimbangan. Sebaliknya, ada yang sudah ingin sekali menikah dengan niat menjaga diri dari maksiat, namun terhambat karena kendala biaya.

Nah, pernahkah terbayang kalau ada yang menikah tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun? Tentu sebagian besar dari masyarakat kita tidak akan percaya. Padahal, kejadian seperti ini benar benar ada.

Itulah yang ada di helatan Pernikahan Mubarak yang diselenggarakan Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, yang diselenggarakan pada Sabtu, 4 Jumadil Ula 1444 (18/11/2023).

Hal unik dan hampir sulit dipercaya ini terjadi pada penikahan Mubarak Hidayatullah yang diikuti 40 pasang santri/ santriwati tersebut.

Pada helatan tersebut, ada peserta yang tidak mengeluarkan sepeserpun biaya. Hal ini seperti diakui peserta, salah satunya Nur Wahid.

“Alhmdulilah ustadz, saya ndak ada keluarkan biaya. Padahal di saku saya cuma ada 300 ribu saja,” kata Wahid dalam obrolan dengan Media Center Silatnas Hidayatullah, Sabtu, 4 Jumadil Ula 1444 (18/11/2023).

Teman Bangunkan Shalat Tahajjud

Kader Hidayatullah yang saat ini bertugas di Laznas BMH Balikpapan perwakilan Kaltim ini mengaku sempat tidak nyambung ketika ditawari menikah oleh panitia dan menjadi peserta dari acara Walimtul Urs’ ini.

Pada awalnya, Wahid ditawari untuk menikah oleh Sekretaris Yayasan Kampus Ummulqura Hidayatullah Balikpapan Ust. H. Abu ‘Ala Al Maududi.

Pada kesempatan penawaran menikah itu, Wahid rupanya tidak langsung ngeh karena Ust. Al Maududi menggunakan bahasa tidak langsung alias berupa kode kode bahwa Wahid sudah waktunya ada yang bangunkan shalat tahajjud.

“Ketika beliau bilang begitu, saya bilang gini, Alhamdulillah ustadz saya di BMH ada juga sudah teman teman yang bangunkan untuk shalat,” kisah Wahid.

“Karena saya belum paham baru di jelaskan sama Ustadz Dudi, baru saya paham,” sambungnya sambil tertawa bahagia.

Wahid mengungkapkan momen pernikahan itu sempat membuat suasana keluarga kaget, tegang, dan sempat tidak percaya, karena secara mendadak izin untuk melakukan akad nikah.

“Saya telpon keluarga, ya begitulah kaget semua keluarga saya. Namanya juga pernikahankan, saya ditanya orang mana, diminta fotonya dan lain-lain, saya bilang nanti ada sama panitia,” terang Wahid kepada Media Center Silatnas Hidayatullah.

Setelah dijelaskan, keluarganya akhirnya paham dan memberikan doa restu. “Alhamdulillah, setelah itu keluarga saya baru paham, dan Alhamdulillah saya juga sudah ketemu calon mertua,” ujar Wahid.

Meski sempat ragu karena belum memiliki tempat tinggal, kini tekadnya sudah mantap dan siap mengikuti pernikahan.
.
“Saya loh awalnya ndak mau karena saya bilang tidak ada tempat tinggal (rumah) saya, tapi Alhamdulillah ada aja rezeki dari Allah.” tutup alumnus STIS Hidayatullah Balikpapan itu.*/Abana Asrijal