Beranda blog Halaman 27

Fondasi Iman dan Ilmu Dalam Menunaikan Amanah

0

DALAM perhelatan di dunia ini, jabatan sering kali menjadi seperti piala yang diperebutkan dengan peluh dan pengorbanan. Secara manusiawi, egoisme memang senang ketika diakui, haus saat dihormati, dan merasa kuat ketika memegang kendali, meski hanya dalam lingkup terkecil seperti menduduki kursi Ketua RT. Namun, bagi seorang Muslim, jabatan bukanlah destinasi kebanggaan, melainkan beban dan ujian.

Islam datang dengan peringatan yang menggetarkan nurani. Rasulullah SAW mengajarkan orang beriman sebuah etika kepemimpinan yang kontras dengan hiruk-pikuk duniawi. Beliau bersabda:

“Janganlah engkau meminta jabatan. Karena jika engkau diberi jabatan karena memintanya, maka jabatan itu akan diserahkan sepenuhnya kepadamu (tanpa pertolongan Allah). Tetapi jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan karena memintanya, maka engkau akan ditolong dalam melaksanakannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Bahkan, dalam ketegasan beliau, orang-orang yang terlalu berambisi mengejar kedudukan diingatkan dengan metafora “lemparan pasir”sebuah simbol bahwa ambisi pada jabatan adalah kerendahan, bukan kemuliaan.

Amanah bukan sekadar jabatan tapi amanah adalah ukuran iman. Al-Qur’an berkali-kali menegaskan bahwa para nabi memperkenalkan diri mereka dengan kalimat yang sama: “Sesungguhnya aku adalah rasul yang terpercaya bagi kalian.” (QS. Asy-Syu’ara: 107, 125, 143, 162, 178).

Seolah Allah ingin mengajarkan satu hal mendasar: sebelum memegang jabatan, sebelum visi besar, sebelum perubahan peradaban yang pertama adalah memiliki sifat amanah. Tidak mungkin para rasul bisa diterima risalah dakwahnya oleh umat jika tidak memiliki karakter amanah. Demikian juga menjadi pejabat sukses di level apapun juga sangat memerlukan karakter amanah.

Rasulullah ﷺ bahkan menjadikan amanah sebagai parameter keimanan. Salah satu sifat Rasulullah adalah amanah. Dalam khutbah-khutbahnya beliau sering mengingatkan:

Tidak ada iman (yang sempurna) bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad)

Artinya jelasnya amanah bukan kebanggaan di tengah masyarakat, aksesioris untuk menaikkan status sosial. Amanah menjadi indikator kesempurnaan iman. Jika seorang pemegang amanah tidak memiliki iman ( tidak percaya Allah, pahala dan dosa, surga dan neraka) maka kemungkinan besar akan mengkhianati amanahnya dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan dengan jabatannya.

Al-Qur’an memuji orang-orang beriman sebagai orang yang menjaga amanah dan janji-janji sebagaimana dalam (QS. Al-Mu’minun: 8) dan (QS. Al-Ma‘arij: 32)

 وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ

Artinya, “Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janji-janji mereka.”

Apalagi bagi mereka yang sudah diambil sumpah janjinya saat mendapatkan amanah/tugas dengan diangkat kitab suci di atas kepalanya, mengucapkan janji yang dipersaksikan oleh banyak orang. Tentu Allah dan malaikat juga mempersaksikan untuk meminta pertanggung jawabannya bukan di akhir tahun atau akhir periode tapi nanti hari kiamat.

Allah memperingatkan dengan keras agar tidak mengkhianati amanah

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan (jangan pula) kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)

Bahkan pengkhianatan terhadap amanah disebut sebagai salah satu tanda kemunafikan sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ancaman Allah terhadap orang-orang munafik luar biasa.

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرً

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (akan ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa: 145)

Di sinilah harga sebuah amanah menjadi begitu mahal. Ia bisa mengangkat derajat seseorang, atau justru menjatuhkannya ke lapisan terdalam kehinaan. Maka iman harus menjadi bekal pertama dalam menerima amanah, iman yang bisa menuntun dan menyelamatkan dari khianat dalam amanah.

Amanah dan Ilmu

Namun ada satu hal yang sering terlupakan: amanah tidak cukup hanya dengan niat baik dan semangat yang menyala-nyala. Amanah membutuhkan ilmu, pengetahuan dan skill yang memadai.

Mendapatkan amanah apapun, sebagai presiden, gubernur, direktur, gubernur, bupati, guru, pegawai dan pekerja apa saja ataupun level menjadi kepala rumah tangga memerlukan ilmu. Khususnya tentang manajerial dan leadership untuk menjadi pemimpin dan menunaikan amanah dengan baik.

Imam Bukhari dalam Shahih-nya membuat satu bab khusus: “Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.”

Itulah sebabnya wahyu pertama bukan “berbuatlah”, bukan “bergeraklah”, bukan “shalatlah”  tetapi Iqra’  bacalah. Membaca  adalah perintah revolusioner yang menjadi fondasi peradaban dan modal berkemajuan. Membaca bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi proses membangun kesadaran tauhid, idealisme, meluaskan wawasan pengetahuan, menggali gagasan, ide, inspirasi dan tanggung jawab keimanan.

Allah SWT berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra: 36)

Salah satu kunci mendapatkan ilmu adalah dengan membaca. Pemimpin atau pemegang amanah yang tidak membaca buku akan dikalahkan oleh realitas. Mereka mudah menyerah, mengeluh dan sering kali menyalahkan orang lain untuk menutupi ketidakmampuannya dalam mengatasi masalah.

Menunaikan amanah bukan sekadar soal niat baik atau ledakan semangat yang menyala sesaat; ia adalah bangunan yang berdiri di atas fondasi iman dan diperkokoh dengan pilar ilmu. Tanpa ilmu, semangat hanya akan menjadi api yang membakar tanpa arah, dan tanpa inspirasi serta insight, amanah akan terasa sebagai beban yang menjemukan, bukan pengabdian yang menghidupkan.

Sebagai seorang mukmin yang profesional, harus menyadari bahwa kecintaan kepada Allah menuntut untuk memberikan kualitas terbaik (ihsan) dalam setiap tanggung jawab. Ilmu memandu bekerja dengan benar, sementara wawasan (insight) membantu  menembus kerumitan zaman. Jangan biarkan amanah yang diemban layu karena kedangkalan cara berpikir; siramilah ia dengan cahaya literasi dan hikmah, agar setiap tugas ditunaikan menjadi saksi keimanan yang nyata di hadapan-Nya.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Hidayatullah Jakarta Selatan Luncurkan Lima Program Strategis untuk Menjawab Tantangan Zaman

0

POLTANGAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Jakarta Selatan, Azim Arrasyid Sofyan, memaparkan lima program strategis yang akan menjadi fokus gerakan organisasi dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang diselenggarakan di Rumah Qur’an Jayakarta & Sipapa Cafe kawasan Poltangan, Jakarta Selatan, pada Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026).

Dalam forum tersebut, Azim menegaskan bahwa organisasi harus memiliki kemampuan membaca dinamika zaman dan merumuskan langkah konkret dalam merespons perubahan yang berlangsung cepat.

“Ini realitasnya kawan, kita harus mampu membaca zaman, memahami masalah riil, dan menawarkan solusi konkret. Kita tidak cukup hanya menyampaikan pesan, tetapi juga harus menghadirkan perubahan,” katanya.

Azim menjelaskan bahwa perubahan merupakan bagian dari realitas yang tidak dapat dihindari, sehingga organisasi perlu melakukan transformasi agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia menekankan bahwa kompleksitas dakwah pada era modern memerlukan pendekatan yang adaptif dan inovatif.

“Kita hidup di zaman yang bergerak sangat cepat. Teknologi berkembang pesat, informasi mengalir tanpa batas, dan kecerdasan digital menjadi bagian dari keseharian,” ujar anak muda yang kerap nongkrong di Jaksel ini.

Ia juga mengaitkan arah gerakan organisasi dengan visi Indonesia Emas 2045, yang menurutnya sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia. Ia menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan untuk membentuk generasi yang memiliki integritas, kapasitas intelektual, dan kepemimpinan.

“Generasi emas tidak lahir secara instan. Ia dibentuk melalui proses panjang penguatan nilai, ilmu, dan kepemimpinan,” ujarnya.

Azim menjelaskan bahwa Jakarta Selatan memiliki posisi strategis sebagai salah satu wilayah dengan populasi lebih dari dua juta jiwa yang didominasi oleh usia produktif. Kawasan ini menjadi pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, jasa, serta sektor kreatif dan digital. Kondisi tersebut menjadikan Jakarta Selatan sebagai ruang penting dalam proses pembinaan kader dan penguatan peran organisasi di tengah masyarakat urban.

Dalam kesempatan tersebut, Azim memaparkan lima program strategis yang akan menjadi prioritas gerakan organisasi. Program pertama adalah Southgate Poltangan, yang dirancang sebagai pusat kolaborasi, inovasi, dan kaderisasi kepemimpinan.

“Ini adalah ruang bertumbuh dan ruang pengkaderan yang kami siapkan untuk menyongsong Generasi Emas 2045,” katanya. Dia menjelaskan, program ini diproyeksikan sebagai wadah pembinaan yang terintegrasi untuk memperkuat kualitas kader organisasi.

Program kedua adalah Beasiswa Pengurus, yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan, pengembangan kompetensi, dan studi lanjut hingga jenjang magister. Azim menyampaikan bahwa penguatan kapasitas pengurus merupakan bagian penting dalam membangun organisasi yang memiliki tata kelola profesional dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Program ketiga adalah Halalnomics, yang berfokus pada edukasi halal, penguatan ekosistem ekonomi syariah, serta pengembangan pusat halal. Ia menegaskan bahwa dakwah harus hadir dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk sektor ekonomi. “Dakwah harus hadir dalam sistem ekonomi dan keuangan, dan dalam praktik kehidupan sehari-hari umat,” katanya.

Program keempat adalah Touring For Ukhuwah, yang dirancang sebagai kegiatan silaturahmi dengan pendekatan kreatif melalui kunjungan ke berbagai lokasi yang memiliki nilai historis, edukatif, dan spiritual. Azim menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memperkuat hubungan antaranggota sekaligus meningkatkan kesadaran spiritual. “Menikmati ayat-ayat kauniyah inikan bagian dari perintah Allah,” cetusnya.

Program kelima adalah Growlab, yang diposisikan sebagai pusat riset, pengembangan kepemimpinan, dan pengkajian organisasi. Program ini dirancang untuk menjadi think tank yang mendukung lahirnya pemimpin dan pemikir masa depan. “Kita ingin melahirkan pemikir, pemimpin, dan penggerak bukan hanya mengikuti arus zaman,” tegasnya.

Selain itu, DPD Hidayatullah Jakarta Selatan juga melakukan pembaruan terhadap program Komunitas Ojol Mengaji dan Rumah Quran untuk memperluas jangkauan dakwah kepada masyarakat urban, termasuk pengemudi ojek online. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat pembinaan spiritual dan literasi keislaman di tengah masyarakat perkotaan.

Azim menegaskan pentingnya integrasi antara nilai keimanan, ilmu pengetahuan, dan teknologi dalam gerakan dakwah. “Hidayatullah Jakarta Selatan berikhtiar mengintegrasikan iman, ilmu, dan teknologi menjadikan dakwah relevan dengan zaman tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.

Kegiatan Rakerda tersebut dihadiri oleh Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Isnaini, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta Suhardi Sukiman yang didampingi Bendahara Deden Sugianto Darwin, anggota Dewan Murabbi Wilayah Munawwir Baddu, serta unsur pengurus daerah dan organisasi pendukung di lingkungan Hidayatullah Jakarta Selatan.

Dr Kunthi Tridewiyanti Tekankan Urgensi Perlindungan Hukum dan Pendidikan bagi Lansia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dalam upaya meneguhkan eksistensi dan perlindungan hak asasi manusia bagi warga lanjut usia, Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja resmi diluncurkan di Pancoran, Jakarta Selatan, pada Selasa, 29 Sya’ban 1447 (17/2/2026).

Program ini merupakan inisiatif Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang dijalankan di wilayah DKI Jakarta dan secara teknis berada di bawah koordinasi Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta serta didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Acara peluncuran dan kuliah perdana ini menghadirkan Dr. Kunthi Tridewiyanti, SH.MA, dari IRL (Indonesia Ramah Lansia) DKI Jakarta dan Yayasan Lansia Mandiri Sejahtera sebagai pembicara utama. Mengusung tema “Sekolah Lansia sebagai Ruang Tumbuh dan Cahaya di Masa Senja”, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mengubah paradigma masyarakat terhadap keberadaan lansia di Indonesia.

Dalam kuliah perdananya, Dr. Kunthi memaparkan landasan intelektual dan yuridis mengenai pentingnya pendidikan berkelanjutan bagi kaum lanjut usia. Ia menegaskan bahwa keberadaan institusi pendidikan non-formal seperti Sekolah Lansia bukan sekadar wadah pengisi waktu luang, melainkan sebuah manifestasi dari perjuangan hak asasi.

“Pendidikan sekolah lansia merupakan suatu kampanye nasional untuk melawan ketidakadilan atas hak-hak lansia serta meningkatkan kesadaran keluarga dan masyarakat tentang kewajiban melindungi lansia,” tegas Dr. Kunthi.

Secara konstitusional, Dr. Kunthi mengingatkan bahwa negara telah menjamin kesetaraan bagi seluruh warga negara, termasuk mereka yang berusia senja. Ia merujuk pada UUD 1945 Pasal 28H ayat (2) yang menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat guna mencapai persamaan dan keadilan.

“Landasan hukum kita sangat kuat. Selain konstitusi, kita memiliki UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia yang secara eksplisit mengatur hak lansia atas pelayanan kesehatan, kesempatan kerja, pendidikan, sosial, dan perlindungan hukum,” paparnya.

Lebih lanjut, akademisi dan aktivis lansia ini menjelaskan posisi lansia dalam perspektif Hak Asasi Manusia. Mengacu pada UU No. 39 Tahun 1999, lansia dikategorikan sebagai kelompok rentan yang berhak mendapatkan perlindungan lebih. Kerentanan ini sering kali luput dari perhatian publik, sehingga lansia kerap menghadapi risiko kekerasan, baik fisik maupun psikis, bahkan di dalam lingkup domestik.

Oleh karena itu, Dr. Kunthi menegaslan, instrumen hukum seperti UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) menjadi payung hukum yang krusial untuk melindungi lansia dari kekerasan dalam keluarga.

Dalam sesi pendalaman materi, Dr. Kunthi menguraikan berbagai hak fundamental yang harus dipenuhi untuk menjamin kesejahteraan lansia. Hak-hak tersebut meliputi hak atas perawatan kesehatan dan akses pelayanan medis yang layak, serta hak atas jaminan sosial seperti pensiun dan bantuan bagi lansia terlantar. Tidak kalah pentingnya adalah hak partisipatoris, di mana lansia memiliki “hak untuk tetap berpartisipasi dalam masyarakat sesuai kemampuan,” serta hak atas perumahan dan lingkungan yang aman.

Namun, realisasi pemenuhan hak-hak tersebut memerlukan strategi perlindungan yang komprehensif. Dr. Kunthi menjabarkan tiga bentuk perlindungan utama bagi lansia. Pertama adalah perlindungan preventif, yang mencakup sosialisasi hukum dan pemberdayaan lansia—seperti yang dilakukan melalui Sekolah Lansia ini—serta penguatan keluarga agar tidak melakukan penelantaran. Kedua, perlindungan represif berupa penegakan hukum tegas terhadap pelaku kekerasan atau penipuan terhadap lansia. Ketiga, perlindungan rehabilitatif yang berfokus pada pemulihan kondisi fisik, mental, dan sosial lansia yang menjadi korban.

Kerjasama Lintas Sektor

Menutup materinya, Dr. Kunthi menekankan bahwa tanggung jawab ini tidak dapat dipikul oleh satu pihak saja. Ia menyerukan pendekatan “Pentahelix” yang melibatkan lima pilar utama pemangku kepentingan.

“Sinergi sangat diperlukan. Pemerintah melalui Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan berperan dalam kebijakan dan layanan medis. Akademisi berkontribusi melalui Tridarma Perguruan Tinggi dan bantuan hukum. Pelaku usaha dapat terlibat melalui program CSR, sementara komunitas masyarakat menyediakan ruang sosial seperti pesantren lansia. Terakhir, media berperan penting dalam amplifikasi isu-isu kelansiaan,” jelasnya merinci peran masing-masing sektor.

Peluncuran Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja ini diharapkan menjadi embrio bagi terciptanya ekosistem yang ramah lansia di DKI Jakarta. Melalui kurikulum yang terintegrasi dengan pemahaman hukum dan kesehatan, para siswa lansia diharapkan mampu menjadi individu yang tangguh, mandiri, dan tetap menjadi “cahaya” yang memberikan inspirasi bagi generasi di bawahnya.

Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja Diresmikan, Hidayatullah Hadirkan Ruang Pembinaan Holistik bagi Lansia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Imron Faizin, meresmikan peluncuran dan kuliah perdana Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja yang mengangkat tema “Sekolah Lansia sebagai Ruang Tumbuh dan Cahaya di Masa Senja” di Pancoran, Jakarta Selatan, pada Selasa, 29 Sya’ban 1447 (17/2/2026).

Imron menegaskan bahwa program tersebut dirancang sebagai wadah pembinaan yang mencakup aspek pengetahuan, penguatan spiritual, kesehatan, dan interaksi sosial.

“Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja ini hadir sebagai wadah pembinaan yang tidak hanya menekankan aspek pengetahuan tetapi juga penguatan spiritual, kesehatan, serta interaksi sosial yang hangat. Kita ingin para lansia tetap merasa dihargai, dicintai, dan memiliki peran penting dalam kehidupan,” katanya.

Program ini merupakan inisiatif Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang dijalankan di wilayah DKI Jakarta dan secara teknis berada di bawah koordinasi Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta serta didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja ini berlokasi di Jakarta Selatan dan menjadi bagian dari program pelayanan sosial organisasi yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia.

Peluncuran program tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pengurus dan mitra, di antaranya pewakilan Laznas BMH Firjun Muhammad, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta Suhardi Sukiman, Bendahara Deden Sugianto Darwin, Ketua Departemen Sosial DPW Hidayatullah DKI Jakarta Tjahjadi, serta perwakilan Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Tuti Darwati.

Hadir pula unsur mitra eksternal, termasuk Direktur Indonesia Ramah Lansia dr. Soeharijanto Ari Soekadi dan Dr. Kunthi Tridewiyanti dari Indonesia Ramah Lansia DKI Jakarta dan Yayasan Lansia Mandiri Sejahtera.

Dalam sambutannya, Imron Faizin menyampaikan bahwa peluncuran Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang pembinaan yang memandang fase usia lanjut sebagai bagian bermakna dalam perjalanan kehidupan manusia.

“Kita berikhtiar menghadirkan sebuah harapan bahwa setiap fase kehidupan, termasuk usia lanjut, adalah fase yang tetap bermakna, produktif, dan penuh keberkahan,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan menghadirkan perspektif pembinaan yang memandang usia lanjut sebagai fase yang tetap memiliki nilai kontribusi dan pembelajaran.

“Seringkali usia senja dipandang sebagai masa penurunan. Namun melalui Sekolah Lansia ini, kita ingin menghadirkan sudut pandang yang berbeda: bahwa usia lanjut adalah masa penuh hikmah, masa untuk semakin mendekat kepada Allah, dan masa untuk tetap memberi manfaat bagi sekitar,” ujarnya.

Imron menambahkan bahwa para lansia merupakan individu yang telah melewati berbagai pengalaman kehidupan dan memiliki nilai kebijaksanaan yang penting bagi masyarakat.

“Para lansia adalah sosok-sosok yang telah melewati berbagai fase kehidupan. Mereka adalah sumber pengalaman, kebijaksanaan, dan keteladanan. Sudah sepatutnya kita menghadirkan ruang bagi mereka untuk terus belajar, berbagi, dan merasakan kebahagiaan dalam kebersamaan,” tukasnya.

Program Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja juga menjadi bagian dari agenda strategis Departemen Sosial Hidayatullah tahun 2026 yang mencakup berbagai program pelayanan sosial dan pemberdayaan umat. Selain program pendampingan lansia, Departemen Sosial Hidayatullah menetapkan sejumlah program wajib, antara lain Jaminan Sosial Kader, Beasiswa Anak Dhuafa, serta Penguatan dan Profesionalisasi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak.

Sementara itu, program pilihan mencakup kegiatan Sahabat Tobat, Pendampingan Kota Terpadu Mandiri, Hidayatullah Peduli Negeri, dan Pelita Cahaya Senja sebagai program pelayanan khusus bagi lansia.

Imron Faizin juga mengajak berbagai pihak untuk terlibat dalam penguatan program tersebut. “Kami mengajak seluruh pihak—para donatur, relawan, dan mitra—untuk bersama-sama mendukung dan menguatkan program ini. Karena memuliakan lansia bukan hanya tentang kepedulian sosial, tetapi juga bagian dari ibadah dan investasi kebaikan yang pahalanya terus mengalir,” serunya.

Imrom berharap Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja menjadi ruang pembinaan yang memberikan manfaat berkelanjutan. “Semoga Sekolah Lansia ini menjadi tempat bertumbuhnya kebahagiaan, menguatnya iman, dan lahirnya keberkahan bagi kita semua,” ujarnya menandaskan.

Hari Bhakti ke-54 Basarnas, SAR Hidayatullah Turut Semarakkan Pameran dan Jambore Potensi SAR

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — SAR Hidayatullah, sebagai lembaga relawan kemanusiaan nasional dan badan pendukung organisasi kemasyarakatan Islam Hidayatullah, turut berpartisipasi dalam kegiatan Pameran dan Jambore Potensi SAR yang digelar pada 13–16 Februari 2026 di Green Belt, Pantai Indah Kapuk 2, Banten, sebagai rangkaian peringatan Hari Bhakti ke-54 Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).

Ketua Umum SAR Hidayatullah, Alfarabi Nurkarim Enta, menyampaikan apresiasi atas peringatan Hari Bhakti ke-54 Basarnas. Ia menyampaikan harapan agar Basarnas terus meneguhkan posisinya sebagai leader sector dalam pertolongan kebencanaan, mitigasi, dan kewaspadaan dini.

“Keikutsertaan SAR Hidayatullah dalam kegiatan Pameran dan Jambore ini merupakan bagian dari keterlibatan unsur potensi SAR nasional yang terintegrasi dalam sistem pencarian dan pertolongan,” kata Alfarabi kepada media ini, Selasa, 29 Sya’ban 1447 (17/2/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Alfarabi juga menyampaikan harapannya terkait peran strategis Basarnas dalam mengoordinasikan berbagai unsur potensi SAR di Indonesia.

Ia menyebutkan bahwa keberadaan Basarnas memiliki fungsi penting dalam memandu dan mengintegrasikan berbagai komponen SAR yang berasal dari unsur pemerintah maupun masyarakat.

“Kami berharap Basarnas dapat terus menjadi pemimpin dan konsolidator yang memandu segenap potensi SAR secara nasional,” kata Alfarabi.

Pameran dan Jambore Potensi SAR merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Basarnas dalam rangka memperingati Hari Bhakti ke-54. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana untuk memperkuat koordinasi, kolaborasi, dan sinergi antar unsur SAR. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi media untuk mempererat jejaring antar lembaga yang terlibat dalam sistem pencarian dan pertolongan di Indonesia.

Basarnas memiliki tanggung jawab dalam pembinaan potensi SAR nasional. Pembinaan tersebut dilakukan melalui pengaturan, pengendalian, dan pengawasan terhadap unsur-unsur potensi SAR.

Proses pembinaan ini mencakup penguatan sikap dan perilaku, peningkatan kompetensi teknis, serta penguatan sinergi dan soliditas antar unsur SAR. Pembinaan tersebut dilaksanakan dalam kerangka pelayanan pencarian dan pertolongan kepada masyarakat dengan prinsip satu jiwa satu rasa dalam lingkup Keluarga Besar SAR Nasional.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Jambore Potensi SAR dan Pameran SAR menghadirkan berbagai bentuk aktivitas yang melibatkan peserta dari berbagai unsur potensi SAR.

Kegiatan tersebut meliputi pameran, mini challenge, fun run 5 kilometer, workshop, serta kegiatan character building. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan selama empat hari, mulai 13 hingga 16 Februari 2026, di kawasan Green Belt, PIK 2, Banten.

GMH Kepri Gelar Tarhib Ramadhan sebagai Penguatan Spiritualitas dan Konsolidasi Gerakan Mahasiswa

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) Kepulauan Riau selenggarakan kegiatan Tarhib Ramadhan yang mengusung tema “Menjemput Ramadhan untuk Meningkatkan Ketaqwaan demi Meraih Keridaan-Nya.” Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Asia Raya, Kampus Dua Hidayatullah, Batam, pada Ahad, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026), sebagai bagian dari upaya membangun kesiapan spiritual mahasiswa dalam menyambut bulan suci Ramadhan sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi di tingkat daerah.

Kegiatan ini menjadi salah satu agenda awal kepengurusan GMH Kepulauan Riau setelah dilantik secara resmi oleh Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah. Ketua Pengurus Daerah GMH Kepulauan Riau, Ardiansyah Syafruddin, menjelaskan bahwa pembentukan kepengurusan daerah merupakan bagian dari proses penguatan struktur organisasi mahasiswa Hidayatullah di berbagai wilayah Indonesia.

“Pelantikan pengurus daerah GMH dilakukan secara serentak melalui daring oleh Pengurus Pusat pada 25 September 2025. Insyaallah ke depan, GMH Kepulauan Riau dapat bersinergi dengan berbagai organisasi kemahasiswaan yang ada di wilayah ini,” katanya.

Kegiatan Tarhib Ramadhan tersebut menghadirkan Ketua Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Muhammad Hasan, S.Pd.I., Lc., sebagai pemateri utama. Kehadiran narasumber dari unsur lembaga dakwah tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan penguatan nilai-nilai keislaman kepada peserta kegiatan, khususnya dalam menyambut bulan Ramadhan sebagai momentum peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan.

Acara ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor II Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, Dr. Sumarno, M.Pd.I., yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif organisasi mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan berbasis pembinaan spiritual.

“Kegiatan ini sangat baik. Ke depan, GMH perlu memperbanyak silaturahmi ke instansi terkait agar fungsi dan arah gerakan mahasiswa ini semakin dikenal,” kata Sumarno.

Kegiatan Tarhib Ramadhan ini juga dihadiri oleh berbagai unsur organisasi mahasiswa dan civitas akademika di Kota Batam. Di antara organisasi yang hadir adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO Cabang Batam Madani, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAI Hidayatullah Batam, serta unsur civitas akademika dari lingkungan kampus IAI Hidayatullah Batam. Kehadiran berbagai organisasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dan sinergi antarorganisasi mahasiswa di wilayah tersebut.

Sumarno mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini sebagai salah satu langkah organisasi dalam membangun kesadaran spiritual mahasiswa sekaligus memperkuat identitas organisasi di tingkat daerah.

Selain sebagai forum pembinaan spiritual, kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan komunikasi antarorganisasi mahasiswa yang memiliki kesamaan perhatian terhadap pembinaan generasi muda.

Kegiatan Tarhib Ramadhan ini menjadi bagian dari rangkaian aktivitas awal kepengurusan GMH Kepulauan Riau dalam membangun fondasi organisasi.

“Semoga forum ini menjadi sarana memperkuat koordinasi, komunikasi, dan konsolidasi organisasi mahasiswa dalam menjalankan peran pembinaan generasi muda di lingkungan kampus dan masyarakat,” tandasnya.

Hidayatullah Jawa Tengah Perkuat Koordinasi Daerah melalui Sistem Klaster dan Pendampingan Wilayah

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah, Akhmad Ali Subur, menyatakan bahwa untuk memastikan keselarasan kebijakan dan menjaga kualitas pelaksanaan program, DPW Hidayatullah Jawa Tengah menugaskan pendamping wilayah pada masing-masing klaster daerah. Kebijakan ini menjadi bagian dari mekanisme penguatan koordinasi antara tingkat wilayah dan daerah dalam pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Tahun 2026 yang dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Jawa Tengah pada Senin, 28 Syaban 1447 (16/2/2026).

Pelaksanaan Rakerda tersebut merupakan kelanjutan dari Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang sebelumnya digelar di tingkat provinsi. Forum Rakerda dirancang sebagai instrumen konsolidasi organisasi di tingkat daerah sekaligus sebagai sarana penyelarasan arah kebijakan strategis yang telah dirumuskan dalam forum wilayah. Dengan pelaksanaan yang terstruktur dan terkoordinasi, Rakerda menjadi ruang implementasi kebijakan organisasi secara operasional di tingkat daerah.

Akhmad Ali Subur menjelaskan bahwa penugasan pendamping wilayah bertujuan untuk memastikan bahwa kebijakan yang telah dirumuskan di tingkat wilayah dapat diterjemahkan secara tepat oleh jajaran Dewan Pengurus Daerah (DPD).

“Untuk memastikan keselarasan kebijakan dan kualitas pelaksanaan, DPW Hidayatullah Jawa Tengah menugaskan pendamping wilayah pada masing-masing klaster daerah,” katanya. Ia menambahkan bahwa pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu struktur daerah dalam mengimplementasikan kebijakan strategis secara konkret dan sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.

Pelaksanaan Rakerda Tahun 2026 dibagi ke dalam delapan klaster wilayah yang terdiri atas beberapa daerah dengan kedekatan geografis. Pembagian klaster ini dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas koordinasi, mempercepat proses komunikasi organisasi, serta memperkuat pengawasan terhadap implementasi program kerja di tingkat daerah.

Delapan klaster tersebut mencakup wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Semarang dengan pendamping Mufti Wahyu dan Ahmad Suwarno; wilayah Kudus dengan pendamping Imam Suja’i dan Masrukhin; wilayah Grobogan dengan pendamping Eviq Erwiandy dan Imam Syahid; serta wilayah Kendal dengan pendamping M. Ali Shodikin.

Selanjutnya, klaster yang meliputi wilayah Salatiga, Banjarnegara, Boyolali, Wonosobo, dan Purbalingga didampingi oleh Suharto dan Sunoto Achmad. Wilayah Kabupaten Tegal dan Kota Tegal didampingi oleh Usman Wahyudiono., sedangkan wilayah Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Pemalang didampingi oleh Widodo. Adapun wilayah Pati, Blora, Jepara, dan Rembang didampingi langsung oleh Akhmad Ali Subur.

Rakerda melibatkan unsur strategis organisasi di tingkat daerah, meliputi Dewan Pengurus Daerah (DPD), Dewan Pengurus Cabang (DPC), organisasi pendukung tingkat daerah, serta unsur amal usaha dan badan usaha. Keterlibatan berbagai unsur ini menjadikan Rakerda sebagai forum evaluasi kinerja organisasi sekaligus sebagai ruang perumusan program kerja yang akan dilaksanakan pada periode berikutnya.

Tema yang diusung dalam Rakerda Tahun 2026 adalah Konsolidasi Jatidiri dan Transformasi Organisasi menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh. Tema tersebut, diterangkan Akhmad Ali, menjadi kerangka kerja organisasi dalam memperkuat identitas kelembagaan, meningkatkan kualitas tata kelola, serta mengoptimalkan kapasitas organisasi dalam menjalankan fungsi dakwah, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.

Melalui pelaksanaan Rakerda secara serentak dan terstruktur, DPW Hidayatullah Jawa Tengah mengharapkan seluruh jajaran DPD dapat bergerak secara terkoordinasi dalam melaksanakan kebijakan organisasi.

“Pendampingan wilayah yang diterapkan dalam sistem klaster diharapkan dapat memastikan bahwa seluruh program kerja dilaksanakan secara konsisten dan sesuai dengan arah kebijakan organisasi di tingkat wilayah,” kata Akhmad Ali.

Pertemuan IAI Hidayatullah Batam dan Bupati Lingga Bahas Kolaborasi Peningkatan Pendidikan

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Institut Abdullah Said (IAI) Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Sidik, melakukan pertemuan dengan Bupati Lingga, M. Nizar, S.Sos, dalam rangka memperkuat sinergi pengembangan sumber daya manusia berbasis nilai keislaman di Kabupaten Lingga.

Pertemuan tersebut berlangsung di Kedai Kopi Pak Tani, Kabupaten Lingga, beberapa waktu lalu dan ditulis pada Selasa, 29 Sya’ban 1447 (17/2/2026), sebagai bagian dari upaya membangun kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat.

Pertemuan ini difokuskan pada pembahasan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk memperluas kontribusi institusi akademik dalam mendukung pengembangan pendidikan formal dan nonformal di wilayah tersebut. Inisiatif ini menjadi bagian dari agenda penguatan kerja sama antara IAI Hidayatullah Batam dengan Pemerintah Kabupaten Lingga dalam menghadapi tantangan pembangunan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Bupati Lingga, M. Nizar, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif yang diajukan oleh IAI Hidayatullah Batam. Ia menegaskan bahwa peran institusi pendidikan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya dalam konteks peningkatan kapasitas masyarakat melalui pendidikan.

“Kami sangat mengapresiasi keinginan IAI Hidayatullah Batam untuk berkontribusi membangun SDM di Kabupaten Lingga,” kata Nizar, seraya menyatakan komitmennya dalam melibatkan institusi akademik dalam proses pembangunan sosial dan pendidikan di wilayah Lingga.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lingga membuka ruang kerja sama bagi IAI Hidayatullah Batam untuk melaksanakan sosialisasi program pendidikan di berbagai sektor. Program tersebut direncanakan menjangkau Aparatur Sipil Negara (ASN), lembaga pendidikan formal seperti sekolah-sekolah, serta masyarakat secara luas. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperluas akses pendidikan berbasis nilai keislaman sebagai fondasi pembentukan sumber daya manusia yang berkarakter.

Muhammad Sidik menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan bagian dari komitmen institusi yang dipimpinnya dalam memperkuat kontribusi pendidikan tinggi terhadap masyarakat. Ia menyampaikan bahwa keterlibatan kampus dalam pembangunan daerah merupakan bagian dari visi kelembagaan yang diarahkan pada penguatan kualitas pendidikan nasional.

“Kami berharap ini menjadi awal yang konkret bagi perguruan tinggi untuk memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Lingga,” kata Sidik, seraya kembali menegaskan komitmen institusi pendidikan dalam menjalankan peran akademik sekaligus peran sosial di tengah masyarakat.

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh sejumlah pejabat dan unsur akademik yang terlibat dalam proses pengembangan kerja sama ini. Wakil Rektor I IAI Hidayatullah Batam, Dr. Mohammad Ramli, turut hadir dalam pertemuan tersebut sebagai bagian dari representasi kelembagaan. Selain itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga, Jhoni Indra, juga hadir sebagai representasi pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap sektor pendidikan.

Kehadiran unsur pemerintah daerah dan institusi pendidikan dalam forum ini dinilai menjadi bagian dari mekanisme koordinasi awal untuk merancang langkah-langkah lanjutan.

Sebagai bagian dari tindak lanjut konkret, IAI Hidayatullah Batam dijadwalkan melaksanakan kunjungan lanjutan ke sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga. Kunjungan tersebut bertujuan untuk melakukan sosialisasi program pendidikan secara lebih intensif kepada para pemangku kepentingan di tingkat sekolah.

Gerakan Dakwah Perlu Ditopang oleh Sistem Ekonomi yang Mandiri dan Berkelanjutan

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Ekonomi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Drs. H. Wahyu Rahman, M.E, menegaskan bahwa organisasi dakwah tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan ideologis dan struktur kelembagaan, tetapi harus ditopang oleh sistem ekonomi yang mandiri, profesional, dan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Wahyu Rahman dalam arahannya pada Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah Tahun 2026, yang diselenggarakan di Gedung Kartini Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah, Semarang, pada Jumat–Sabtu, 25–26 Sya’ban 1447 (13–14/2/2026).

Dalam forum tersebut, Wahyu Rahman hadir sebagai pendamping Rakerwil dari unsur Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ia menyampaikan bahwa keberadaan sistem ekonomi yang kokoh menjadi faktor penting dalam mendukung keberlangsungan dan efektivitas program organisasi. Ia menegaskan bahwa penguatan ekonomi organisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memastikan seluruh program berjalan secara konsisten.

“Penguatan ekonomi organisasi bukan sekadar pelengkap, tetapi fondasi strategis agar seluruh program dapat berjalan secara optimal dan berkesinambungan,” katanya, seraya menegaskan posisi ekonomi organisasi sebagai instrumen pendukung utama pelaksanaan dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Wahyu Rahman, kemandirian ekonomi memungkinkan organisasi memiliki kemampuan yang lebih stabil dalam menjalankan program-programnya tanpa bergantung pada faktor eksternal yang bersifat sementara. Ia juga menekankan bahwa sistem ekonomi yang terkelola secara profesional memberikan dukungan struktural terhadap pelaksanaan agenda organisasi secara berkelanjutan.

Dalam arahannya, ia mendorong seluruh jajaran pengurus di tingkat wilayah dan daerah untuk mengoptimalkan berbagai potensi ekonomi yang tersedia. Optimalisasi tersebut dapat dilakukan melalui penguatan badan usaha organisasi, pengembangan amal usaha, serta peningkatan kualitas tata kelola sumber daya yang dimiliki organisasi. Ia menekankan pentingnya pengelolaan yang produktif, transparan, dan akuntabel sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi organisasi.

Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah Tahun 2026 diikuti oleh berbagai unsur strategis organisasi dari seluruh wilayah provinsi. Peserta kegiatan meliputi Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Dewan Pengurus Daerah (DPD) se-Jawa Tengah, organisasi pendukung seperti Muslimat dan Pemuda Hidayatullah, pengelola Kampus Madya, unit amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah, serta petugas perintisan daerah.

Transformasi Kelembagaan

Rakerwil tahun ini mengangkat tema Konsolidasi Jatidiri dan Transformasi Organisasi menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh. Tema tersebut menjadi kerangka kerja bersama dalam memperkuat identitas organisasi sekaligus mendorong transformasi kelembagaan agar mampu menjalankan peran secara efektif di tengah masyarakat.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah, Akhmad Ali Subur, mengatakan melalui forum ini, penguatan sektor ekonomi menjadi salah satu fokus utama dalam mendukung keberlangsungan gerak organisasi.

Penguatan tersebut mencakup pengembangan badan usaha, peningkatan kualitas manajemen ekonomi organisasi, serta optimalisasi sumber daya yang dimiliki untuk mendukung pelaksanaan program dakwah, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.

Akhmad menambahkan, rapat kerja wilayah ini menjadi bagian dari agenda konsolidasi organisasi yang bertujuan memperkuat koordinasi antarstruktur organisasi di tingkat wilayah dan daerah.

“Selain itu, forum ini juga menjadi sarana penyelarasan visi dan program kerja dalam rangka mendukung keberlanjutan aktivitas organisasi secara sistematis dan terencana,” katanya.

Melalui pelaksanaan Rakerwil tersebut, seluruh unsur organisasi di wilayah Jawa Tengah diharapkan memiliki kesamaan arah dalam menjalankan program kerja yang terintegrasi dengan penguatan kemandirian ekonomi.

Resmikan Kebun Durian Premium Sekolah Dai Hidayatullah, Dr. Ahmad Munawir Dorong Konsep Eko-Teologi

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Direktur Konservasi Spesies dan Genetik pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan RI, Dr. Ahmad Munawir, S.Hut., M.Si, menekankan pentingnya peran pemuka agama atau dai dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan membangun kemandirian ekonomi umat.

Hal tersebut disampaikan Ahmad Munawir saat sambutan dalam acara pencanangan dan peresmian Usaha Kemandirian Pesantren “Wisata Kebun Durian Premium” di Sekolah Dai Hidayatullah, Ciomas, Bogor, Jawa Barat, Ahad, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026).

Ahmad Munawir mengapresiasi langkah Sekolah Dai Hidayatullah yang memanfaatkan lahan seluas 4.000 meter persegi untuk budidaya durian premium. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan spiritual, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi dan konservasi lingkungan.

Ia menegaskan bahwa seorang dai yang ideal di masa kini harus memiliki tiga kompetensi utama. Tidak hanya alim dalam konteks spiritual dan dalil agama, tetapi juga peduli terhadap kelestarian ekologi serta memiliki kemandirian ekonomi.

“Dai juga harus memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, kelestarian ekologi, dan yang ketiga, dai itu juga harus memiliki kemampuan dalam konteks kemandirian ekonomi,” ujar Ahmad Munawir. Ia menambahkan, jika ketiga hal ini digabungkan, maka sosok dai tersebut akan menjadi paripurna dalam berdakwah di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Ahmad Munawir menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan sering terjadi akibat putusnya rantai makanan dan ketidakseimbangan ekosistem. Ia mencontohkan bagaimana hilangnya predator alami seperti ular dapat menyebabkan ledakan populasi hama yang merugikan manusia.

“Maka keseimbangan hilang. Maka di situlah terjadi bencana alam, di situlah terjadi hama penyakit, di situlah terjadi hama padi yang gagal panen. Sebenarnya dari alam sudah mengajarkan kita dan Tuhan yang memberikan itu,” jelasnya.

Kementerian Kehutanan memandang pelibatan dai sangat strategis dalam kampanye konservasi. Masyarakat dinilai lebih mendengar seruan tokoh agama dibandingkan himbauan pejabat pemerintah yang seringkali dianggap hanya menjalankan tugas formal.

Oleh karena itu, ia mendorong para calon dai untuk menggali ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan alam, gunung, dan sungai, serta menyampaikannya kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan konsep “Eko-Teologi” yang juga sedang didorong oleh pemerintah, khususnya Kementerian Agama, di mana nilai-nilai teologis diimplementasikan dalam menjaga lingkungan.

Terkait peresmian Wisata Kebun Durian Premium, Ahmad Munawir menilai langkah ini sangat relevan dengan visi pemerintah dan mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang mendorong kemandirian ekonomi melalui UMKM dan koperasi.

“Asta cita mendorong kemandirian ekonomi kita melalui UMKM. Dan salah satu contoh adalah yang begini. Padahal cuma nanam-nanam durian aja. Tapi sebenarnya itulah esensinya,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Kementerian Kehutanan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi kebutuhan bibit tanaman, baik tanaman buah (MPTS) maupun tanaman hutan, bagi pesantren-pesantren yang memiliki lahan untuk dikelola. Ahmad Munawir berharap, inisiatif di Ciomas ini dapat menjadi percontohan (role model) bagi sekolah dai dan pesantren lainnya di seluruh Indonesia untuk membangun ketahanan ekonomi sekaligus memulihkan lingkungan.

“Insyaallah dari 4.000 meter bertambah jadi 4.000 hektar, menjadi 4 juta hektar,” doanya yang diamini oleh seluruh hadirin.

Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus pusat Hidayatullah yaitu Bendahara Umum Suwito Fatah, Wakil Sekretaris Jenderal Muhammad Isnaeni, Ketua Departemen Dakwah Muhammad Agung, Ketua Departemen Pembinaan Anggota Iwan Abdullah, dan ⁠Ketua Departemen Sumberdaya Insani Sumariadi.

Tampak pula Koordinator Grand MBA Pusat Muhdi Muhammad, Ketua Posdai Pusat Abdul Muin, ⁠Ketua Yayasan Sekolah Dai Saifudin Abdullah dan Ketua Pengawas Samani Harjo, serta Munir salah satu penyuluh pertanian, serta para santri Sekolah Dai yang bersiap terjun ke daerah-daerah untuk berdakwah dan memberdayakan masyarakat.