BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Malam kedua Ramadhan (19/2/2025) di Masjid Jami’ Al-Mubaarok, Jalan Dewi Sartika RT 002/008, Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi, terasa berbeda. Lantunan ayat suci tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga mengikat kepedulian untuk Palestina.
Kehadiran Syaikh Mohammad Adnan Kayed Abu Jalil dalam rangkaian tarawih, kultum, dan penggalangan dana kemanusiaan menghadirkan suasana haru dan penuh makna. Program ini terselenggara atas kerja sama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH).
Dalam tausiyahnya, Syaikh Abu Jalil menyampaikan apresiasi mendalam kepada masyarakat Indonesia.
“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terus mendukung Palestina. Bersama BMH menjadi satu bukti persaudaraan itu semakin kuat,” ungkapnya di hadapan jamaah.
Ketua DKM, H. Jami’, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran Syaikh dan sinergi dengan Laznas BMH menjadi energi baru bagi jamaah untuk memperluas kepedulian.
“Kami sangat bersyukur. Kerja sama ini mempererat ukhuwah dan membuka ruang kontribusi nyata,” tuturnya.
Jamaah menunjukkan antusiasme tinggi sepanjang kegiatan. Mereka mengikuti kultum dengan khusyuk dan terlibat aktif dalam penggalangan dana. Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai momentum solidaritas kemanusiaan.
Malam itu, tarawih menjadi lebih dari sekadar rutinitas ibadah. Suasananya berubah menjadi ruang persaudaraan lintas batas.
“Dari Bekasi Timur, doa dan dukungan mengalir untuk Palestina—menguatkan harapan bahwa kepedulian umat tetap hidup dan terus bergerak,” tutup Koordinator BMH Bekasi, Ariyan.[]
ACEH (Hidayatullah.or.id) — Zakat, infak, dan sedekah umat yang dihimpun LAZNAS BMH menghadirkan kesiapan ibadah bagi penyintas bencana di Kabupaten Aceh Tamiang menjelang Ramadhan 1447 H.
Melalui program bersih masjid dan penyaluran perlengkapan ibadah, BMH bersama relawan bergerak di Masjid Babut Taqwa, Pematang Durian, Kecamatan Sekerak, serta Masjid Al Hidayah, Pantai Cempa, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, beberapa waktu lalu dan ditulis Jum’at, 2 Ramadhan 1447 (20/2/2026).
Tim membersihkan lantai, dinding, area wudhu, dan fasilitas MCK yang terdampak banjir bandang. Mereka juga menyalurkan karpet sajadah, jam dinding, serta perlengkapan penunjang ibadah untuk mengganti fasilitas yang rusak.
“Kondisi Masjid Babut Taqwa sebelumnya masih jauh dari ideal. Lantai keramik belum terpasang. Dinding dan plafon belum tersedia sehingga burung bebas masuk dan meninggalkan kotoran. Jamaah menggunakan terpal dan karpet seadanya untuk shalat berjamaah. Sound system pun rusak akibat banjir,” ungkap Adnan Korlap BMH di lokasi.
Jamaah Lebih Siap
Imam Masjid Babut Taqwa, Umar, menyampaikan bahwa bantuan karpet dan aksi bersih masjid membuat jamaah lebih siap menyambut Ramadhan.
“Alhamdulillah, luar biasa kepedulian BMH kepada jamaah masjid. Insya Allah mereka lebih siap lagi menyambut dan mengisi Ramadhan,” ujarnya.
Di Masjid Al Hidayah Pantai Cempa, kebutuhan karpet layak pakai juga menjadi perhatian utama. Lebih lanjut Imam setempat menyebut kehadiran kembali tim BMH membawa semangat baru bagi jamaah yang masih dalam proses pemulihan pascabencana.
Selain pemulihan fisik, BMH menyalurkan mushaf melalui program Tebar Sejuta Al-Qur’an. Distribusi ini memperkuat aktivitas tilawah di bulan yang dikenal sebagai Syahrul Qur’an.
Adnan sebagai Korlap BMH menegaskan bahwa zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan umat tidak berhenti pada bantuan darurat.
“Dana tersebut diarahkan untuk memastikan penyintas dapat memasuki Ramadhan dengan sarana ibadah yang bersih, layak, dan mendukung kekhusyukan,” ungkapnya.
Program ini menunjukkan bahwa solidaritas umat melalui zakat bukan hanya mengatasi kebutuhan sesaat, tetapi mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan pemulihan sosial masyarakat.[]
BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) — Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi air bersih titik ke-17 di Pesantren Pertanian At-Taqwa, Kampung Pangkalan, Desa Cimanggu, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Pengerjaan berlangsung lima hari dan tuntas pada Rabu, 18 Februari 2026, sehari sebelum Ramadhan.
Program ini menghadirkan sumber air bersih bagi santri, jamaah masjid, dan warga sekitar. Sebelumnya, pesantren kerap mengalami kesulitan air yang mengganggu aktivitas belajar, ibadah, dan kebutuhan harian.
Kepala Divisi Prodaya Laznas BMH Jabar, Yusep Suhendar, menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata pengelolaan dana umat yang berdampak langsung.
“Air bersih itu kebutuhan dasar. Kalau airnya ada, ibadah lancar, belajar juga nyaman,” ujarnya singkat dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 1 Ramadan 1447 (19/2/2026).
Pipanisasi ini menjadi bukti bahwa zakat, infak, dan sedekah tidak berhenti sebagai angka laporan. Dana umat bertransformasi menjadi infrastruktur yang menopang pendidikan dan kekhusyukan ibadah. Momentum penyelesaiannya yang tepat sebelum Ramadhan memperkuat kesiapan pesantren menyambut bulan suci dengan kondisi yang lebih layak.
Pengurus Pesantren, Affan Palas, mengungkapkan rasa syukur atas bantuan tersebut.
“Dulu kami sering kesulitan air. Sekarang, Alhamdulillah lebih tenang. Santri bisa fokus belajar,” katanya.
Titik ke-17 ini menandai kesinambungan program air bersih yang akan dilanjutkan ke titik ke-18 di wilayah lain yang masih mengalami keterbatasan akses.
Kehadiran air bersih di pesantren itu bukan sekadar proyek teknis. Ia adalah bentuk nyata transformasi dana umat menjadi kemudahan hidup, keberlanjutan pendidikan, dan kesiapan beribadah.
“Dari kesadaran memberi, lahir perubahan yang bisa dirasakan setiap hari,” tutup Yusep.
MAKKAH (Hidayatullah.or.id) — Ketua Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah, Muhammad Faisal, menegaskan bahwa keikutsertaan lembaganya dalam Makkah Halal Forum 2026 merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi lembaga sekaligus mempertegas peran Indonesia dalam percaturan industri halal global.
Ia menyampaikan bahwa forum internasional tersebut menjadi ruang penting untuk memperluas jejaring dan memastikan bahwa sistem pemeriksaan halal yang dijalankan selaras dengan standar nasional dan internasional.
Faisal mengatakan Makkah Halal Forum 2026 ketiga ini menjadi momentum penting bagi LPH Hidayatullah untuk memperluas kolaborasi internasional dan memastikan bahwa sistem pemeriksaan halal yang pihaknya jalankan sesuai dengan standar halal nasional serta internasional.
“Dan kami ingin menghadirkan layanan sertifikasi halal yang profesional, kredibel, dan terpercaya, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam ekosistem halal dunia,” kata Faisal dalam keterangannya diterima media ini, Kamis, 1 Ramadan 1447 (19/2/2026).
Tim LPH Hidayatullah menghadiri Makkah Halal Forum 2026 yang berlangsung pada 14–16 Februari 2026 di Makkah Chamber Exhibition and Events Center, Arab Saudi. Forum ini diselenggarakan di bawah naungan Kementerian Perdagangan Arab Saudi dan menjadi edisi ketiga sejak pertama kali digelar.
Mengusung tema “Halal as a Professional Industry,” forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk regulator, lembaga sertifikasi halal, pelaku industri, akademisi, investor, serta perwakilan pemerintah dari lebih dari 16 negara, termasuk Indonesia.
Partisipasi LPH Hidayatullah dalam forum ini merupakan bagian dari upaya memperkuat jaringan internasional dan meningkatkan kualitas layanan pemeriksaan halal. Keterlibatan ini juga menjadi bagian dari proses pembelajaran terhadap praktik terbaik pengelolaan lembaga halal di tingkat global.
Dalam rangkaian kegiatan forum, tim LPH Hidayatullah mengikuti berbagai sesi diskusi yang membahas harmonisasi standar halal internasional, digitalisasi sistem sertifikasi halal, penguatan industri halal, serta peluang kerja sama lintas negara dalam pengembangan ekosistem halal global.
Muhammad Faisal menyampaikan bahwa forum tersebut memberikan kesempatan untuk membangun komunikasi langsung dengan berbagai pihak yang memiliki peran penting dalam industri halal internasional.
“Alhamdulillah, selama dua hari kami di acara Makkah Halal Forum ini, banyak ketemu dengan para pelaku usaha lintas negara, konsultan, lembaga pemeriksa, akademisi dan perwakilan pemerintah,” katanya.
Menurutnya, forum tersebut menjadi sarana pertukaran pengetahuan sekaligus penguatan kemitraan lintas negara yang bertujuan meningkatkan kesadaran global terhadap potensi industri halal serta memperluas peluang investasi di sektor tersebut.
Disamping itu, kehadiran berbagai entitas pemerintah, badan semi-pemerintah, sektor swasta, dan organisasi internasional dinilai menjadikan forum ini sebagai platform strategis dalam pengembangan industri halal secara global.
“Dan tentu kami banyak belajar sekaligus mengajak semua untuk berkolaborasi dalam menguatkan ekosistem halal dunia,” kata Faisal.
Bagi LPH Hidayatullah, keterlibatan dalam forum internasional ini menjadi bagian dari langkah untuk meningkatkan kapasitas lembaga, termasuk dalam penguatan kompetensi auditor halal dan penyempurnaan sistem pemeriksaan halal.
Faisal menjelaskan bahwa perkembangan industri halal global menuntut lembaga pemeriksa halal untuk terus beradaptasi dengan perubahan, termasuk dalam aspek teknologi, transparansi, dan harmonisasi regulasi internasional.
Dia menambahkan, keikutsertaan LPH Hidayatullah juga menjadi bagian dari kontribusi dalam mendukung visi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia pada tahun 2030. Dengan mengikuti perkembangan regulasi dan standar global, Faisal berharap, lembaganya terus memastikan bahwa layanan pemeriksaan dan sertifikasi halal dilakukan secara profesional sesuai prinsip syariah, meningkatkan kualitas layanan, serta memperkuat kontribusi Indonesia dalam industri halal global yang terus berkembang.
RAMADHAN bukan sekadar pergantian kalender, melainkan oase spiritual di mana ampunan dan keberkahan tumpah ruah melampaui batas logika manusia.
Isyarat agung mengenai kemuliaan bulan ini terpancar dari tradisi langit yang diajarkan Rasulullah SAW; melalui untaian doa di bulan Rajab dan Sya’ban, beliau menuntun kita untuk merawat kerinduan mendalam agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan.
Betapa tipisnya tabir antara kehidupan dan keabadian; banyak wajah yang Ramadhan lalu masih bersujud di samping kita, kini mereka sudah di alam kubur, tidak lagi taraweh, buka puasa dan tilawah bersama. Menyadari bahwa kita masih dianugerahi “mukjizat kesempatan” bertemu Ramadhan, sebuah undangan eksklusif dari Allah untuk memperbaiki neraca amal.
Namun, sekadar bertemu tanpa menyuguhkan pengabdian terbaik adalah bentuk kesia-siaan yang nyata; karena nikmat pertemuan dengan bulan suci ini menuntut bukti ketaatan, bukan sekadar basa-basi, agar Ramadhan kali ini tak berlalu sebagai tradisi yang hampa pahala.
Ibnul Jauzi rahimahullah menyatakan:
تالله لو قيل لأهل القبور تمنوا لتمنوا يوما من رمضان
“Demi Allah, kalau seandainya dikatakan kepada penghuni kubur berangan-anganlah kalian, niscaya mereka akan akan berangan-angan agar mendapati Ramadan (meskipun hanya satu hari saja).”
Kalimat ini adalah tamparan bagi kita yang masih bernapas namun membunuh detik-detik Ramadhan dengan kesiasiaan.
Bagi mereka yang telah terputus amalnya, satu sujud di bulan ini adalah kemewahan yang lebih mahal dari seluruh isi dunia. Maka, saat kita hari ini masih menghirup udara Ramadhan, sadarilah bahwa kita sedang menjalani “mimpi terbesar” jutaan ahli kubur yang kini hanya bisa menangis dalam penyesalan.
Jangan biarkan undangan eksklusif dari Allah ini berlalu dalam kelalaian, kesia-siaan dan habis waktu untuk scrol-scrol layar ponsel. Karena esok, bisa jadi kitalah yang akan meratap merindukan satu detik saja di bulan suci ini.
Ketegasan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak cukup diuji dengan kata-kata, melainkan dengan seberapa khidmat kita memuliakan apa yang telah mereka muliakan.
Jika langit saja menyambut Ramadhan dengan membukakan pintu surga dan membelenggu setan, maka sungguh naif jika seorang mukmin hanya menyambutnya dengan kegembiraan seremonial tanpa penghambaan yang total.
Ramadhan adalah kompetisi detik demi detik; setiap embusan napas di dalamnya adalah aset abadi yang tak boleh tercecer.
Ramadhan kita sering kali terjebak dalam keriuhan pasar; ada yang merayakannya sebagai musim panen pundi-pundi dunia melalui kuliner, busana, hingga jasa transportasi.
Berbisnis di bulan suci bukanlah dosa, namun menjadi sebuah tragedi spiritual jika orientasi hanya tertuju pada laba material hingga melupakan esensi meraih taqwa, ampunan, keberkahan, lailatul qadar di bulan Ramadhan.
Keuntungan materi yang berlipat ganda bukanlah indikator suksesnya Ramadhan seorang mukmin jika batinnya tetap gersang dari zikir dan ampunan.
Sama halnya dengan fenomena pengemis musiman yang mengeksploitasi kedermawanan demi kepentingan pribadi, baik di trotoar jalan maupun di jagat maya. Ramadhan adalah momentum untuk memberi, bukan sekadar menadahkan tangan; untuk berbagi, bukan hanya menimbun bingkisan dan THR.
Sungguh naif mereka yang merasa menang karena tumpukan parsel dan jamuan buka puasa yang melimpah, padahal mereka kehilangan esensi “lapar” yang seharusnya menyucikan jiwa.
Kesuksesan Ramadhan tidak diukur dari apa yang masuk ke dalam saku, rekening atau perut, melainkan dari apa yang terpancar dari hati sebagai bukti ketakwaan.
Puncak peringatan yang paling menggetarkan nurani setiap mukmin. Ketika Rasulullah SAW menaiki tangga mimbar dan mengucap “Aamiin” hingga tiga kali, beliau sedang mengaminkan doa malaikat Jibril, sosok makhluk paling mulia di langit. Salah satu kutukan yang diaminkan itu adalah: “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan, namun ia keluar darinya tanpa mendapatkan ampunan.”
Bayangkan, betapa dahsyatnya kerugian itu; didoakan celaka oleh Jibril malaikat terbaik dan diaminkan oleh Rasulullah manusia terbaik. Ini adalah peringatan keras bahwa Ramadhan bukan sekadar festival tahunan atau tradisi tanpa makna.
Bertemu Ramadhan tanpa membawa pulang pengampunan adalah sebuah tragedi spiritual yang mengenaskan.
Jangan sampai kita menjadi golongan yang hanya bertemu “mampir” di bulan suci, sibuk dengan euforia duniawi, namun membiarkan pintu ampunan tertutup rapat bagi kita.
Jadikanlah setiap hembusan napas di bulan ini sebagai upaya sungguh-sungguh untuk mengetuk pintu tobat, agar kita tidak termasuk ke dalam barisan orang-orang yang celaka di akhir pencarian.
Ibarat ayam yang mati kelaparan di tengah lumbung padi, sungguh sebuah ironi yang menyayat hati jika seorang hamba melewati Ramadhan namun jiwanya tetap kering dari ampunan. Peringatan Rasulullah adalah alarm keras bahwa sekadar “bertemu” Ramadhan bukanlah jaminan keselamatan, apalagi tiket otomatis menuju surga.
Keberkahan dan keutamaan bulan suci tidak akan menyapa mereka yang membiarkan lisan kelu dari istighfar, malas tilawah al-Qur’an, hati beku dari taubat, dan raga enggan bersujud lebih lama di siang ataupun malam hari.
Tidak cukup hanya bertemu Ramadhan untuk mendapatkan keberkahannya dan menjauhkan dari api neraka. Menjalani Ramadhan dengan sikap “biasa-biasa saja”seperti bulan-bulan lainnya atau justru menukar kemuliaan detik-detiknya demi ambisi materi duniawi, adalah kerugian abadi yang tak terlukiskan.
Ramadhan menuntut transformasi, bukan sekadar rotasi waktu. Jika amal shalih tak bertambah dan kemaksiatan tak tanggal, maka kita hanyalah musafir yang kehausan di tepi samudera; melihat limpahan air rahmat Allah di depan mata, namun membiarkan diri kita binasa dalam kekeringan iman.
Menyadari bahwa Ramadhan tahun depan belum tentu menjadi milik kita adalah puncak dari kesadaran iman. Setiap detak jam di bulan suci ini adalah permata yang tak ternilai harganya, sebuah “jeda surgawi” yang Allah pinjamkan agar kita bisa bercakap-cakap mesra dengan-Nya melalui zikir yang khusyuk, wirid yang mendalam, dan tilawah yang menggetarkan sukma.
Kurangilah keriuhan duniawi yang sering kali mencuri jatah waktu akhirat. Berhenti sejenak dari obrolan kosong yang menghabiskan hari, “ngopi dan ngopi” yang melalaikan malam, atau jemari yang terpaku pada scrol-scrol media sosial selama berjam-jam.
Ramadhan menuntut kita untuk “puasa” dari segala gangguan yang menjauhkan hati dari Rabb kita.
Pilihlah untuk lebih banyak diam di hadapan manusia agar lisan kita lebih fasih bermunajat di hadapan Allah, sebab di dalam sunyinya dialog dengan-Nya, terdapat ketenangan yang takkan pernah ditemukan dalam keriuhan dunia.[]
*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie, menegaskan bahwa ketertiban administrasi merupakan indikator penting dalam mencerminkan profesionalisme dakwah. Ia menyampaikan bahwa tata kelola organisasi yang tertib dan akuntabel menjadi bagian dari tanggung jawab kelembagaan dalam menjaga amanah umat.
“Tertib administrasi adalah cermin dari profesionalisme dakwah,” kata Amun dalam rangkaian kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Sosialisasi Kebendaharaan yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur.
Agenda Bimtek dan Sosialisasi Kebendaharaan tersebut berlangsung pada Selasa, 17 Februari 2026, bertempat di Kantor DPW Hidayatullah Jawa Timur, yang berlokasi di kawasan Keputih Gang IIIC Nomor 51–53, Surabaya.
Amun Rowie menyampaikan apresiasi atas inisiatif Bidang Kebendaharaan dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa penguatan sistem administrasi keuangan merupakan bagian penting dalam menjaga integritas organisasi. Menurutnya, tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel akan memperkuat kepercayaan publik terhadap organisasi.
“Saya sangat mengapresiasi langkah ini. Dengan tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel, organisasi akan semakin sehat dan dipercaya oleh umat,” katanya dalam keterangannya diterima media ini, Kamis, 1 Ramadan 1447 (19/2/2026).
Selain itu, ia menyampaikan harapan bahwa kegiatan sosialisasi ini dapat membantu seluruh pengurus memahami sistem pelaporan secara lebih baik. Dengan pemahaman tersebut, proses administrasi diharapkan dapat berjalan lebih tertib dan terstruktur. Ia juga berharap bahwa setelah kegiatan ini, kendala teknis yang sebelumnya dihadapi dalam pelaporan keuangan dapat diminimalkan, sehingga organisasi dapat menjalankan program-program keumatan secara lebih optimal.
Perkuat Sistem Pengelolaan Internal
Sementara itu Bendahara DPW Hidayatullah Jawa Timur, Muhammad Ali, melaporkan bahwa pelaksanaan Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Kebendaharaan ini menjadi bagian dari langkah organisasi dalam memperkuat sistem pengelolaan internal.
Melalui kegiatan ini, terangnya, DPW Hidayatullah Jawa Timur berupaya memastikan bahwa seluruh pengurus memiliki kapasitas yang memadai dalam menjalankan fungsi administrasi keuangan sesuai prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Muhammad Ali menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyeragamkan standar pelaporan keuangan organisasi. Ia menekankan bahwa pemahaman yang komprehensif terhadap sistem administrasi keuangan merupakan elemen penting dalam menjaga akuntabilitas organisasi.
“Kami ingin memastikan seluruh bendahara memiliki kompetensi yang mumpuni. Itulah mengapa pada Bimtek kali ini peserta wajib membawa laptop, karena kami akan langsung melakukan simulasi teknis dan praktik penginputan data secara real-time,” kata Ali.
Kegiatan yang berlangsung intensif sehari yang menghadirkan Wakil Bendahara Umum II Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Firmanza, S.E, M.Ak ini dalam rangka untuk memberikan solusi terhadap berbagai kendala administratif yang selama ini dihadapi oleh pengurus di tingkat wilayah maupun daerah. Melalui pendekatan berbasis praktik, para peserta mendapatkan kesempatan untuk mempelajari secara langsung mekanisme pencatatan, penginputan, serta pelaporan keuangan yang sesuai dengan standar organisasi.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wataala. Atas rahmat dan karunia-Nya, kaum muslimin telah melalui bulan Sya’ban dan kini berada dalam suasana bulan suci Ramadhan.
Ramadhan hadir sebagai bulan yang penuh berkah, penuh rahmat, dan penuh ampunan. Oleh karena itu, kita umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa kepada Allah, memohon agar diberikan keberkahan dan kesempatan untuk menjalani ibadah di dalamnya.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengajarkan doa yang dapat diamalkan dalam menyambut Ramadhan. Beliau membaca:
“Ya Allah, sampaikan aku menuju Ramadhan. Sampaikan Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.”
Doa ini menunjukkan permohonan agar seseorang diberikan kesempatan untuk menjumpai Ramadhan, menjalani ibadah di dalamnya, serta memperoleh penerimaan amal dari Allah Subhanahu wataala.
Ketika hilal Ramadhan terlihat, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga membaca doa berikut:
“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkanlah bulan ini kepada kami dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta taufiq untuk menjalankan apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Rabb kami dan Rabb bulan sabit ini adalah Allah.” (HR Ahmad)
Doa tersebut berisi permohonan keamanan, keimanan, keselamatan, serta kemampuan menjalankan syariat selama Ramadhan.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Ramadhan adalah bulan yang membawa keberkahan. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.” (HR Ahmad)
Hadis ini menjelaskan bahwa Ramadhan memiliki kedudukan khusus sebagai bulan yang penuh keberkahan, dengan terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:
“Jika malam pertama Ramadhan tiba, setan-setan dan jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada yang ditutup. Dan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka pada setiap malam.” (HR Tirmidzi)
Hadis ini menyebutkan bahwa setiap malam Ramadhan terdapat hamba yang dibebaskan dari neraka.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Ramadhan juga disebut sebagai waktu penghapusan dosa. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut.” (HR Ahmad)
“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat.” (HR Ahmad)
Perjalanan kita ini dapat diibaratkan seperti seseorang yang memasuki musim panen setelah masa menanam.
Pada masa menanam, seseorang mempersiapkan tanah, menanam benih, dan merawatnya. Ketika musim panen tiba, hasil yang dipetik berasal dari apa yang ditanam sebelumnya.
Demikian pula Ramadhan hadir sebagai waktu pelaksanaan ibadah seperti puasa, doa, sedekah, dan membaca Al-Qur’an yang disebutkan dalam hadis-hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
Demikianlah Ramadhan disebut sebagai bulan puasa, bulan doa, bulan sedekah, dan bulan Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
Oleh karena itu, mari kita bersama sama selalu memperbanyak doa, memperbanyak ibadah, dan memohon kepada Allah Subhanahu wataala agar diberikan kesempatan menjalani Ramadhan dan memperoleh penerimaan amal.
Semoga Allah Subhanahu wataala menerima amal ibadah yang dilaksanakan di bulan Ramadhan dan memberikan keberkahan kepada seluruh kaum muslimin. Aamiin.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) kembali meneguhkan komitmen strukturalnya dalam mewujudkan pemerataan literasi dan bimbingan keagamaan di seluruh pelosok negeri. Komitmen ini diejawantahkan melalui perhelatan “Ceremony Pembekalan dan Pelepasan Da’i 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dan Wilayah Perbatasan Tahun 2026” di Hotel Aston Kartika, Jakarta, pada Senin, 28 Sya’ban 1447(16/2/2026).
KH Naspi Arsyad menegaskan urgensi melihat realitas kebangsaan dari kacamata yang lebih holistik. Ia menekankan bahwa pembangunan peradaban tidak boleh terjebak pada bias urban, melainkan harus menyentuh urat nadi masyarakat di titik-titik pinggiran yang kerap dipandang sebelah mata.
Menurut KH Naspi, kehadiran da’i di wilayah 3T merupakan sebuah imperatif keagamaan sekaligus jawaban atas ketimpangan yang masih menjadi tantangan nyata. “Salah satu layanan dasar yang sangat terbatas di daerah 3T adalah layanan bimbingan keagamaan. Minim da’i, guru ngaji, serta literasi keagamaan sehingga tingkat pengetahuan dan pengamalan ajaran Islam masih tergolong rendah,” ungkapnya.
Guna meretas problem struktural tersebut, beliau menyerukan orkestrasi gerakan lintas sektoral yang berkesinambungan. Menurutnya, pengembangan dakwah masyarakat Islam di wilayah 3T menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, lembaga dakwah, dan lembaga filantropi Islam untuk memberikan perhatian khusus agar dakwah tidak dinamis di kota saja,” katanya.
KH Naspi Arsyad turut membumikan gagasannya dengan membagikan refleksi dari perjalanan dakwahnya. Ia menceritakan pengalaman terakhirnya saat merintis sebuah pesantren di Kabupaten Sukabumi. Naspi mengajak para da’i muda untuk menajamkan kepekaan sosial terhadap kebutuhan umat yang sesungguhnya di lapangan. Berdakwah, menurutnya, adalah sebuah jalan hidup yang menuntut dedikasi secara paripurna.
“Menjadi da’i harus ada dua syarat, yaitu siang pintu harus terbuka, malam lampu harus menyala, artinya peran da’i harus 24 jam dan totalitas,” pesannya di hadapan para peserta. Dia menegaskan, pendakwah adalah pelayan umat seutuhnya yang senantiasa hadir menjadi oase intelektual dan spiritual tanpa mengenal batas waktu.
Kepada para da’i yang akan mengarungi medan juang di tapal batas negara selama bulan suci Ramadhan, KH Naspi memberikan injeksi moral agar mereka memelihara kebanggaan atas tugas yang diemban. “Jangan minder menjadi da’i 3T karena itu profesi mulia,” tuturnya.
Ia meyakinkan bahwa entitas pendakwah sejatinya sedang mengemban misi peradaban kelas wahid, sejalan dengan risalah kenabian. “Dakwah ini sangat mulia, nabi sudah mengatakan dalam hadis bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia,” tambahnya.
Dalam kerangka praksis, KH Naspi memaparkan konstruksi taktis bertajuk “Strategi Dakwah Da’i 3T” yang memuat empat pilar krusial. Pertama, sinergi program yang mencakup penyelarasan visi-misi hingga pemetaan objek dakwah berdasarkan program unggulan.
Kedua, pemetaan objek dakwah secara mendetail yang meliputi wilayah geografis, karakteristik penerima, hingga analisis tantangan dan rumusan solusinya. Ketiga, kolaborasi potensi yang menuntut sinergi sumber daya, sarana dan prasarana, anggaran dakwah, serta sistem monitoring dan evaluasi yang terukur.
Dan, Keempat, dukungan mutlak dari pemerintah, tidak sekadar pada ranah kebijakan dan anggaran, namun juga informasi program strategis yang dapat ditindaklanjuti oleh Lembaga Amil Zakat maupun lembaga dakwah di akar rumput.
Kolaborasi yang solid ini diyakini akan menjadi katalisator terbukanya keberkahan bagi bangsa. Hal ini beresonansi kuat dengan dustur Ilahi yang ia sampaikan dalam mukadimahnya, merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 96: “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah secara resmi menyampaikan Seruan Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi sebagai panduan spiritual dan kelembagaan bagi seluruh anggota, kader, dan umat Islam dalam menyambut bulan suci. Seruan tersebut ditandatangani Ketua Umum K.H. Naspi Arsyad, Lc dan Sekretaris Jenderal Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd di Jakarta pada Selasa, 29 Sya’ban 1447 (17/2/2026).
Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum yang memiliki makna mendalam bagi setiap insan beriman. Kedatangan bulan suci ini dipandang sebagai kesempatan untuk memperkuat kualitas jasmani dan ruhani.
Seruan tersebut menyatakan, “Setiap hati yang beriman pasti punya kerinduan dan kegembiraan akan kedatangan bulan suci Ramadhan. Sebuah training yang nikmatnya luar biasa untuk mengasah jasmani dan ruhani orang-orang beriman.”
DPP Hidayatullah juga menetapkan awal Ramadhan 1447 H mengikuti keputusan pemerintah Republik Indonesia melalui Sidang Isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama bersama Majelis Ulama Indonesia dan berbagai organisasi Islam. Dalam seruan itu disebutkan bahwa tanggal 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026. Keputusan tersebut didasarkan pada hasil hisab dan rukyat yang telah melalui proses verifikasi dan pertimbangan para ulama serta pakar terkait.
Dokumen tersebut menegaskan bahwa Ramadhan memiliki dimensi spiritual yang kuat. Bulan ini dipandang sebagai waktu yang efektif untuk memperbaharui komitmen keimanan, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, Ramadhan juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas umat, termasuk mendoakan saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia, khususnya masyarakat Palestina yang menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan.
Selain aspek spiritual, Ramadhan juga memiliki dimensi sosial dan material. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk menunaikan zakat, memperbanyak infak dan sedekah, serta memperkuat kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan. Seruan tersebut mengingatkan bahwa Rasulullah dikenal sebagai sosok yang paling dermawan, terutama pada bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang dikutip dalam dokumen.
DPP Hidayatullah juga menekankan pentingnya persiapan menyeluruh dalam menyambut Ramadhan. Seruan tersebut menyampaikan, “Mempersiapkan diri, keluarga, dan lembaga yang dipimpin untuk bersemangat dan bersungguh-sungguh sejak awal. Baik persiapan iman, ilmu, mental, kesehatan dan finansial agar bisa beribadah lebih maksimal.”
Selain itu, anggota dan kader Hidayatullah diajak untuk meningkatkan kualitas ibadah melalui berbagai program, termasuk memperbanyak shalat sunnah, meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an, serta memperdalam pemahaman keislaman melalui kajian dan pembelajaran. Kepedulian sosial juga menjadi bagian penting dari seruan tersebut, dengan mendorong umat untuk berbagi kepada kaum dhuafa dan masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai lembaga dan program yang tersedia.
Dalam seruan tersebut juga disampaikan pentingnya penguatan komitmen pribadi melalui berbagai tahapan pengendalian diri, seperti mu’ahadah atau memperbaharui komitmen, mujahadah atau kesungguhan menjalankan ibadah, mutaba’ah atau pemantauan diri, serta muhasabah atau evaluasi terhadap amal yang telah dilakukan.
DPP Hidayatullah juga mengajak seluruh struktur organisasi, mulai dari tingkat wilayah hingga ranting, untuk memperkuat koordinasi dan silaturahim dalam rangka menjadikan Ramadhan sebagai momentum penyebaran nilai kebaikan. Ramadhan dipandang sebagai sarana untuk memperkuat kualitas spiritual, moral, intelektual, dan sosial umat Islam.
Seruan tersebut ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh amal ibadah yang dilakukan selama Ramadhan diterima oleh Allah SWT dan menjadi bagian dari upaya membangun peradaban Islam yang berlandaskan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, dan kepedulian sosial.[]
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Konselor, pendidik, sekaligus pendiri Yayasan Peduli Sahabat, Agung Sugiarto yang dikenal sebagai Kak Sinyo Egie, memaparkan bahwa ketidakseimbangan antara perkembangan fisik dan kematangan berpikir menjadi salah satu faktor penting yang perlu mendapat perhatian dalam pembinaan remaja.
Hal itu ia sampaikan dia dalam seminar bertajuk “Aqil Baligh: Siap Menghadapi Kedewasaan” yang diselenggarakan oleh SMP–MA Sekolah Pemimpin di Aula Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu dan ditulis Rabu, 30 Sya’ban 1447 (18/2/2026).
Kak Sinyo menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase transisi yang memerlukan pendampingan serius agar tidak memunculkan perilaku negatif.
“Teman-teman itu sekarang ada di tahap kembang atau fase tengah-tengah yang bahasa biologisnya adalah remaja. Kenapa kata remaja muncul? Karena tubuhnya besar tapi otaknya belum siap. Badan dewasa, otak anak-anakm” katanya. Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pembinaan yang tepat agar perkembangan fisik dan psikologis berjalan seimbang.
Kak Sinyo menegaskan bahwa fase remaja merupakan periode penting dalam perkembangan manusia. Ia menjelaskan bahwa ketidakseimbangan antara perkembangan tubuh dan kematangan mental dapat memunculkan risiko apabila tidak dibimbing dengan benar. Ia juga menyoroti peran keluarga sebagai faktor utama dalam pembentukan karakter remaja.
“Pola umum pertama adalah kondisi keluarga yang tidak ideal, dekat secara fisik tapi tidak lekat secara emosional,” terangnya. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi perilaku remaja, terutama dalam menghadapi pengaruh lingkungan dan perkembangan teknologi.
Ia juga menjelaskan dampak penggunaan teknologi digital yang tidak diawasi dengan baik. “Dengan mulainya teman-teman menonton video porno diam-diam di HP tanpa memberitahu orang tua, itu artinya ada indikasi kondisi keluarga yang tidak ideal. Mestinya kita tidak ada rahasia dengan keluarga,” imbuhnya.
Selain faktor keluarga, Kak Sinyo juga menyoroti pengaruh sistem sosial terhadap perkembangan remaja. “Kita dari kecil diajarkan P3K, pertolongan pertama dalam kecelakaan. Tapi apakah kita diajarkan P3K untuk kejahatan sosial?,” katanya, seraya menegaskan bahwa kesadaran terhadap risiko sosial perlu ditanamkan sejak dini agar remaja memiliki kesiapan dalam menghadapi lingkungan.
Pemahaman Rasional Terhadap Keimanan
Lebih jauh dalam pembahasan penguatan aqidah, Kak Sinyo menekankan pentingnya pemahaman rasional terhadap keimanan. Ia menyampaikan analogi tentang keteraturan alam semesta untuk menjelaskan keberadaan Tuhan.
“Sama seperti alam semesta. Alam ini nggak mungkin kebetulan. Presisinya akurat semua. Logikanya nggak masuk akal kalau dibilang kebetulan. Pasti ada yang menciptakan dan mengatur,” Kak Sinyo. Ia juga menegaskan bahwa penguatan aqidah menjadi landasan penting dalam menjaga perilaku remaja.
Dalam pada itu, Kak Sinyo juga menguraikan mengenai edukasi seks, ia menjelaskan bahwa dorongan biologis merupakan bagian dari fitrah manusia yang perlu dikelola secara benar.
“Energi remaja itu besar. Kalau tidak diarahkan, dia cari pelampiasan,” tegasnya mengingatkan. Ia juga memberikan penjelasan mengenai pentingnya aktivitas positif, olahraga, dan penguatan kontrol diri sebagai bagian dari proses pembinaan remaja.
Pada sesi diskusi, santri aktif mengajukan pertanyaan terkait berbagai isu yang dihadapi remaja. Kak Sinyo juga menyoroti pentingnya sistem pengawasan dalam lingkungan pendidikan berasrama. “Sekolah bisa diukur kualitasnya lewat akreditasi. Tapi asrama? Belum ada standar yang jelas. Ini celah yang harus diperbaiki,” tekannya.
Seminar ditutup dengan doa oleh Dimas Rizqy Tajrian dari kelas XII. Para santri mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian. Salah satu peserta, Rayhan Al Farisi, menyampaikan kesan terhadap materi yang disampaikan. “Wawasan ana bertambah. Kak Sinyo menjelaskan hal-hal yang sulit jadi lebih mudah dimengerti. Dari awal sampai akhir ana fokus,” kata Raihan.
Kepala SMP–MA Hidayatullah Depok, Ust. Amin Fawaid, M.M, menegaskan komitmen lembaga pendidikan untuk membekali santri dengan pemahaman yang komprehensif mengenai fase remaja.
Ia menyampaikan harapan agar materi yang diberikan dapat menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan remaja dan dewasa sesuai dengan tuntunan syariat.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pendidikan dalam memberikan pemahaman menyeluruh kepada santri mengenai fase baligh, baik dari aspek biologis, psikologis, maupun spiritual, sebagai bagian dari proses pembentukan pribadi yang matang dan bertanggung jawab,” pungkas Amin.