Beranda blog Halaman 28

Penugasan 1500 Dai ke Wilayah 3T, Ketum Naspi Ajak Merangkai Mozaik Peradaban dari Pinggiran Negeri

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., secara resmi melepas keberangkatan 1.500 dai yang akan bertugas ke wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di seluruh Indonesia. Program ini merupakan buah kerja sama antara Hidayatullah, Kementerian Agama (Kemenag), dan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Acara pelepasan yang digelar secara hybrid di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026), menjadi momentum penting dalam peta dakwah nasional. Pelepasan juga dihadiri Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Dr. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., dan Ketua Dewan Pengurus Laznas BMH Supendi.

Dalam pengarahannya, KH Naspi Arsyad menekankan bahwa kehadiran Hidayatullah di wilayah 3T bukanlah fenomena baru, melainkan sebuah manifestasi dari nafas gerakan yang telah lama dianut, yakni bergerak memberdayakan pinggiran.

Menggunakan analogi, KH Naspi menggambarkan strategi pergerakan Hidayatullah layaknya cara menikmati bubur panas. Filosofi ini menyiratkan kesabaran, strategi bertahap, dan fokus pada area yang sering kali terabaikan oleh arus utama.

“Kalau berbicara tentang daerah 3T, terdepan, terjauh, terlupakan, ya semua T itu, Hidayatullah sudah lama hadir. Bahkan Hidayatullah ini ada yang mengasumsikan seperti makan bubur panas dari pinggir. Hidayatullah itu hadir dari pinggir. Dari Balikpapan lalu kemudian ke Berau, lalu kemudian ke Irian Jaya,” ujar KH Naspi.

Naspi menegaskan rekam jejak historis organisasi dalam menembus isolasi geografis yang bahkan sulit dijangkau oleh entitas dakwah lainnya pada masa lampau. “Dulu Hidayatullah menyisir Indonesia itu dari pinggir. Di saat dai-dai lain kesulitan menembus Irian, Hidayatullah sudah hadir di Merauke,” tambahnya, menegaskan posisi strategis Hidayatullah dalam menjaga kedaulatan moral di tapal batas negeri.

Sinergi Strategis dengan Kementerian Agama

Dalam kesempatan tersebut, KH Naspi juga memberi apresiasi tinggi terhadap Kementerian Agama, khususnya Direktorat Penerangan Agama Islam, yang dinilainya telah menjadi mitra strategis sekaligus “orang tua” bagi gerakan dakwah di lapangan. Kolaborasi ini dianggap sebagai validasi atas kiprah sunyi para dai Hidayatullah yang selama ini bekerja jauh dari sorotan popularitas media.

“Mungkin Hidayatullah itu mencari dainya yang populer, dainya yang menasional? Mungkin tidak ada. Tapi mohon maaf, kiprah para dai Hidayatullah adalah kiprah yang sudah nyata di daerah-daerah 3T ini,” tegasnya.

“Alhamdulillah hari ini kita telah mendapatkan orang tua. Orang tua kita itu bernama Kementerian Agam. Insyaallah, Kementerian Agama tidak akan membiarkan kita berjalan sendirian,” katanya.

Penugasan 1.500 dai ini, menurut KH Naspi, merepresentasikan sebuah gelombang energi yang besar dalam upaya rekonstruksi sosial dan spiritual masyarakat. Ia menyebutnya sebagai upaya “merangkai mozaik perjuangan” untuk tujuan yang lebih agung, yakni memajukan peradaban.

“Ketika 1.500 ini berdiri sendiri mungkin kita akan mengatakan itu angka yang banyak. Tapi, ini bukan sekedar jati diri, ini adalah bagaimana kita merangkai usaha, merangkai mozaik-mozaik perjuangan ini dalam rangka menegakkan peradaban Islam itu,” jelas KH Naspi.

Dakwah Berbasis Keteladanan dan Rasa

Menutup arahannya, KH Naspi menekankan metodologi dakwah yang harus dibawa oleh para dai. Ia mengingatkan para kader untuk tidak terjebak pada formalitas penyampaian materi yang kaku, melainkan fokus pada transfer pengalaman spiritual.

Beliau mengutip sebuah dialog historis antara pendiri Hidayatullah, Allahuyarham Ustaz Abdullah Said, dengan tiga santrinya—Ustaz Soewardhani Soekarno, Ustaz Hasan Suraji, dan Ustaz Sarbini Nasir—saat mereka ditugaskan merintis dakwah di Kutai tanpa bekal kemampuan bahasa asing atau penguasaan kitab yang mendalam.

Dalam pertemuan tersebut, KH Naspi menceritakan bahwa Ustaz Abdullah Said tidak meminta mereka mengajarkan teori yang rumit, melainkan cukup menularkan kenikmatan ibadah yang mereka rasakan di pesantren induk.

“Sampaikan ke umat bahwa salat berjamaah itu nikmat. Salat tahajud itu nikmat. Baca Al-Qur’an itu nikmat. Sampaikan karena itulah yang umat kita saat ini belum bisa merasakannya,” pesan KH Naspi, mengutip kembali pesan sang pendiri.

Pesan ini menjadi landasan filosofis bagi 1.500 dai yang akan bertugas, bahwa umat di wilayah 3T sedang dalam kondisi “dahaga dan lapar” akan nilai-nilai spiritualitas yang menentramkan. Oleh karena itu, ia menginstruksikan agar para dai bekerja dengan totalitas penuh.

“Maka jangan ada yang bermain-main. Para dai kerahkan semua energinya. Para dai totalitas dalam menjalankan tugasnya. Umat ini membutuhkan, umat ini dahaga, umat ini lapar,” serunya membakar semangat para peserta.

Acara pelepasan ini diakhiri dengan harapan agar program ini tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga membawa keberkahan dan pencerahan bagi bangsa, mewujudkan cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Sinergi Kemenag dan Hidayatullah Perkuat Dakwah di Daerah 3T Selama Bulan Ramadhan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) melalui Direktorat Penerangan Agama Islam (Penais) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan mental dan spiritual masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Dalam momentum penugasan 1500 dai ke daerah wilayah 3T yang berkolaborasi dengan Hidayatullah dan Laznas BMH, Direktur Penais, Dr. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., menyampaikan urgensi kehadiran juru dakwah di tengah dinamika sosial-politik global yang kian kompleks.

Dalam sambutannya Dr. Muchlis menekankan bahwa pengiriman dai ke wilayah perbatasan bukan program tahunan semata melainkan memiliki dimensi filosofis dan peradaban yang jauh lebih substansial.

“Acara ini bukan sekedar acara seremonial biasa, tapi ini adalah jati diri. Saya ingin menambahkan, ini bukan sekedar jati diri, tetapi kita sedang meletakkan tonggak peradaban Al-Qur’an,” ungkap Dr. Muchlis, seraya merujuk pada integrasi program tersebut dengan gerakan nasional dakwah mengajar dan belajar (Grand MBA) yang menjadi inti gerakan Hidayatullah, di mana telah berdiri sekitar 1.600 rumah Al-Qur’an di berbagai penjuru.

Muchlis, yang juga merupakan pakar tafsir lulusan Universitas Al-Azhar, mengajak audiens untuk melihat relevansi dakwah ini melalui kacamata makro.

Ia menyoroti bahwa kondisi dunia saat ini sedang berada dalam fase volatilitas yang tinggi. Tekanan kehidupan yang dirasakan masyarakat di tingkat lokal tidak dapat dilepaskan dari perubahan tatanan dunia yang sedang diatur ulang oleh kekuatan-kekuatan global.

“Kita semua merasakan bagaimana kita hidup di era yang sebenarnya tidak sedang baik-baik saja baik pada tataran global maupun pada tingkat nasional dan lokal kita ini,” paparnya dalam acara penugasan 1500 dai ke daerah wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) kerjasama Hidayatullah, Kemenag, dan Laznas BMH yang diikuti 1500 dai digelar secara hybrid di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026).

Beliau menjelaskan bahwa dampak dari percaturan global tersebut berimbas langsung pada sektor ekonomi domestik. “Karena semua itu akan terimbas di tatanan global bagaimana sekarang ini negara-negara besar itu sedang mengatur kembali tatanan dunia dan ini pasti akan terdampak pada ekonomi bukan hanya di negara-negara mereka tetapi juga di negara-negara kita ini,” tambah Muchlis.

Dampak turunan dari situasi ini adalah sensitivitas sosial yang meningkat. Masyarakat, menurut analisis Muchlis, menjadi lebih rentan ketika dihadapkan pada ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi akibat daya beli yang tergerus. Dalam konteks inilah, kehadiran para dai di wilayah 3T bukan sekedar untuk ceramah agama, melainkan sebagai bentuk advokasi dan pendampingan moral bagi masyarakat yang sedang tertekan.

“Masyarakat kita ini perlu didampingi. Masyarakat kita ini perlu ada yang mengadvokasi. Apalagi di tengah berbagai tekanan kehidupan sekarang ini,” tegasnya.

Keunikan Sinergi Negara dan Ormas di Indonesia

Masih dalam sambutannya, Dr. Muchlis menyoroti keistimewaan struktur sosial Islam di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Muslim lainnya. Ia mencatat bahwa di banyak negara yang memiliki keragaman sekte dan kabilah, persatuan adalah hal yang mahal dan sulit dicapai. Negara-negara tersebut, menurut pengamatannya, menaruh rasa iri terhadap stabilitas sosial di Indonesia yang ditopang oleh kekuatan masyarakat sipil (civil society) melalui ormas keagamaan.

“Mereka iri dengan kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat sipil melalui ormas-ormas keagamaan terutama yang begitu sangat erat hubungannya dengan negara, mereka itu tidak,” jelas Muchlis. Hubungan harmonis antara negara dan Ormas inilah yang disebutnya sebagai aset yang patut disyukuri dan dijaga bersama.

Kesadaran akan keterbatasan negara menjadi landasan utama bagi Kemenag untuk membuka keran kolaborasi seluas-luasnya. Dr. Muchlis mengakui secara terbuka bahwa tugas mulia membangun mentalitas bangsa di pelosok negeri tidak mungkin diemban sendirian oleh pemerintah.

“Negara itu sebesar besarnya pasti memiliki keterbatasan. Nah, organisasi kemasyarakatan ini, ormas keislaman ini punya jaringan yang sangat luar biasa. Mari kita perluas kolaborasinya,” ajaknya.

Peningkatan Signifikan Kuantitas Dai

Program pengiriman dai ke daerah 3T yang telah diluncurkan sejak lima tahun lalu ini menunjukkan tren peningkatan yang positif berkat sinergi dengan Ormas.

Muchlis memaparkan data yang menunjukkan lonjakan jumlah dai yang dikirimkan. Jika tahun sebelumnya jumlah dai hanya berkisar di angka 900-an, tahun ini terjadi peningkatan drastis berkat keterlibatan aktif Hidayatullah dan Dewan Dakwah.

“Tahun lalu itu hanya 1.000, 900 tepatnya sih 970 sekian, tidak sampai 1000. Tahun ini kita perluas dengan menggandeng Ormas seperti Hidayatullah,” urainya.

Muchlis memberikan apresiasi khusus kepada Hidayatullah yang pada tahun ini mengirimkan 1.500 dai tangguh. Kontribusi ini secara otomatis mendongkrak total jumlah dai yang diterjunkan ke lapangan menjadi lebih dari 2.500 orang.

“Lalu saya lihat di sini ada 1.500. Kalau 1500 berarti angkanya sudah 2.503. Dan Hidayatullah sebagai kontributor dan penyumbang terbesar. Terima kasih Hidayatullah,” ucap Dr. Muchlis.

Ikhtiar Menghadirkan Negara

Menutup penyampaiannya, Dr. Muchlis menegaskan kembali bahwa kolaborasi antara Kemenag, DPP Hidayatullah, dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) adalah sebuah ikhtiar strategis. Ini adalah bukti nyata bahwa negara dan umat hadir hingga ke sudut-sudut terjauh republik ini.

“Ini adalah ikhtiar kita bersama. Ikhtiar yang sangat strategis untuk membuktikan kehadiran negara dan umat ke seluruh pelosok negeri,” ujarnya.

Bagi Muchlis, wilayah perbatasan dan daerah 3T adalah beranda negara yang membutuhkan perhatian ekstra. Kehadiran para dai diharapkan dapat mengisi ruang-ruang kosong yang selama ini mungkin belum tersentuh secara maksimal oleh tangan pemerintah.

“Mereka sangat membutuhkan kehadiran negara. Mereka sangat membutuhkan kehadiran umat. Oleh karenanya, kehadiran para dai ini tentu sangat ditungguh oleh mereka,” pungkas Dr. Muchlis.

Pelepasan dai ini diharapkan menjadi momentum penguat persatuan bangsa, sekaligus sebagai jawaban atas tantangan zaman yang menuntut adanya sinergi konstruktif antara pemerintah dan elemen masyarakat sipil demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kualitas Bangsa dan Umat Islam Sangat Bergantung pada Kinerja Para Dai

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Departemen Dakwah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Agung Tranajaya menyampaikan pandangan mengenai tanggung jawab besar umat Islam dan para dai terhadap kondisi bangsa Indonesia. Dia menekankan bahwa baik buruknya kondisi negara ini sangat bergantung pada kualitas umat Islam dan kinerja para dainya.

Agung mengingatkan bahwa Indonesia adalah anugerah besar bagi umat Islam. Namun, ia juga memberikan catatan kritis mengenai korelasi antara kondisi masyarakat dengan peran para pendakwah. Menurutnya, jika kemaksiatan merajalela, hal tersebut menjadi indikator evaluasi bagi kinerja para dai.

“Dan, masyaallah, di Indonesia ini saya sering menyampaikan bahwa negeri ini adalah karunia bagi kita umat Islam. Baik dan buruknya negeri ini tergantung umat Islamnya. Karena mayoritas umat Islam. Baiknya negeri ini yang menikmati umat Islam, buruknya pun yang akan ditanya pasti umat Islam,” uja Agung.

Hal itu ditegaskan Agung dalam sambutannnya pada acara penugasan 1500 dai ke daerah wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) kerjasama Hidayatullah, Kemenag, dan Laznas BMH yang diikuti 1500 dai digelar secara hybrid dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026).

Ia melanjutkan dengan penekanan yang kuat pada fungsi dai di tengah masyarakat. “Dan umat Islam ini tergantung dainya. Kalau masyarakat ini baik itu berarti menunjukkan dainya bekerja. Tapi kalau masyarakatnya buruk, kemaksiatan merajalela, berarti dainya tidak bekerja,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, yang turut dihadiri oleh Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Dr. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., Agung menyoroti pentingnya kolaborasi antara organisasi dakwah dan pemerintah. Ia menyambut baik kehadiran pihak direktorat sebagai momentum untuk memperkokoh dakwah di tanah air.

Agung memaparkan salah satu fokus utama dari organisasi Hidayatullah, yaitu gerakan memberantas buta huruf dan buta makna Al-Qur’an. Ia mengungkapkan bahwa saat ini infrastruktur dakwah berupa Rumah Quran sudah tersebar luas, namun masih memerlukan sinergi agar hasilnya lebih terukur dan masif.

“Hidayatullah punya konsen dakwah yaitu gerakan dakwah mengajar dan belajar Al-Qur’an (Grand MBA). Sudah lebih dari 1600 rumah Quran yang ada di seluruh Indonesia,” ungkap Ustadz Agung.

Ia pun secara terbuka mengajak pemerintah untuk bersinergi lebih erat. “Kami berharap sebenarnya sudah lama ingin berkoordinasi ya, berkolaborasi bagaimana dakwah mengentaskan buta huruf dan buta makna Al-Qur’an ini menjadi lebih masif ya, lebih terukur supaya hasilnya itu semakin lama itu semakin bisa kita lihat ukurannya,” jelasnya.

Inti Dakwah adalah Interaksi dengan Al-Qur’an

Lebih jauh, Ustadz Agung mengingatkan para dai agar tidak terjebak pada retorika semata. Ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan dakwah yang sejati adalah seberapa dekat umat dengan kitab sucinya. Menurutnya, Al-Qur’an memiliki kekuatan yang melampaui kata-kata manusia karena ia adalah firman Allah yang menggenggam jiwa.

“Tugas kita adalah bagaimana mendekatkan umat ini kepada Al-Qur’an. Karena setinggi apapun dakwah kita, sehebat apapun retorika yang kita sampaikan, ujung-ujungnya bagaimana interaksi mereka dengan Al-Qur’an,” tegas Ustadz Agung.

Ia menambahkan, “Karena Al-Qur’an adalah sumber cahaya. Nasihat-nasihat dari ayat Al-Qur’an itu bukan kata-kata manusia tapi firman Allah yang menciptakan manusia yang menggenggam seluruh jiwa manusia.”

Menutup penyampaiannya, Ustadz Agung mengaitkan semangat dakwah ini dengan momentum bulan suci Ramadan sebagai Syahrul Qur’an. Ia mengajak para dai untuk bersyukur karena telah dipilih untuk menjalankan tugas mulia ini, tidak hanya di kota besar tetapi juga hingga ke pelosok negeri, termasuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

“Maka kita sangat beruntung, sangat berbahagia, sangat bersyukur menjadi bagian dari dai yang disiapkan oleh umat, oleh organisasi, oleh pemerintah untuk menyapa, menyampaikan secercah hidayah, menguatkan keimanan, mengokohkan keluhuran akhlak kita, keluhuran akhlak seluruh kaum muslimin termasuk di daerah 3T,” pungkasnya.

Sambut Ramadhan, Hidayatullah Gelar Penugasan 1500 Dai untuk Wilayah 3T dan Perbatasan Negeri

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan, Hidayatullah menggelar pembekalan sekaligus penugasan 1500 dai ke daerah wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang diikuti 1500 dai digelar secara hybrid dan bertitik kordinat acara dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026).

Program strategis ini merupakan buah kerja sama antara Hidayatullah, Kementerian Agama (Kemenag), dan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Pelepasan dai bertajuk “Dai Tangguh Menyapa Negeri” ini dihadiri oleh Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Dr. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., Ketua Umum Dewan Pengurus Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc, dan jajaran pengurus Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Ribuan dai dari 38 provinsi mengikuti agenda ini, dengan lebih dari 500 titik pemantauan yang tersebar di berbagai daerah, baik secara mandiri maupun melalui kegiatan nonton bareng (nobar), mengingat sebagian wilayah binaan belum terjangkau jaringan internet.

Menariknya, dalam agenda ini juga dihadirkan tujuh imam dan dai asal Palestina yang akan turut menyapa jamaah masjid di sejumlah wilayah di Indonesia, menambah semangat ukhuwah dan solidaritas umat Islam lintas bangsa.

Dalam sambutannya, Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama Dr. Muchlis M. Hanafi, menyampaikan bahwa Hidayatullah telah memberikan kontribusi nyata dalam pembinaan umat, mulai dari kawasan urban hingga pelosok negeri.

Sementara itu, Ketua Departemen Dakwah DPP Hidayatullah Muhammad Agung Tranajaya dalam sambutannya melaporkan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Kemenag, khususnya Ditjen Bimas Islam, untuk memaksimalkan pembinaan umat melalui Gerakan Dakwah Belajar dan Mengajar Al-Qur’an (Grand MBA).

“Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Ini momentum strategis untuk memahamkan umat tentang Al-Qur’an, terlebih saat ini Hidayatullah telah memiliki sekitar 1.600 Rumah Qur’an yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, dalam arahannya, Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad menegaskan bahwa kiprah dai Hidayatullah selama ini telah nyata dirasakan di wilayah 3T.

“Jumlah 1.500 itu sebenarnya masih sedikit. Karena itu, tampillah secara totalitas. Umat menunggu, umat butuh pencerahan. Rangkul mereka,” pesan Ketum kepada para dai.

Hidayatullah Tetapkan Sikap Resmi Terkait Penentuan Ramadhan 1447 Hijriah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menegaskan sikap resmi organisasi terkait penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi, menyusul pertanyaan yang muncul di kalangan warga Hidayatullah mengenai waktu dimulainya ibadah puasa. Penegasan ini merujuk pada keputusan organisasi yang telah ditetapkan melalui Majelis Mudzakarah Hidayatullah dan menjadi pedoman bagi seluruh anggota.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan bahwa penetapan awal Ramadhan merupakan bagian dari kesepakatan umat Islam yang harus disikapi dengan prinsip persatuan dan rujukan syariat.

“Kami mengajak seluruh umat Islam, khususnya warga Hidayatullah, untuk menjaga persatuan dan tidak membesar-besarkan perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan, selama semuanya tetap mengacu pada landasan syariat dan mekanisme yang telah disepakati bersama,” ujar Naspi Arsyad dalam keterangannya kepada media ini di Jakarta, Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026).

Sikap Hidayatullah terkait penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah telah ditetapkan secara resmi melalui Panduan Penetapan Bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah dalam Perspektif Fikih Jamaah yang disusun oleh Majelis Mudzakarah Hidayatullah. Panduan tersebut diterbitkan pada tahun 1432 Hijriah atau 2011 Masehi dan menjadi acuan organisasi, sebagaimana tercantum pada halaman 30 hingga 41 dalam dokumen tersebut.

Dalam panduan tersebut, Hidayatullah menetapkan bahwa penentuan awal Ramadhan mengikuti hasil sidang itsbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Sidang itsbat merupakan forum resmi yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama melalui Badan Hisab dan Rukyat, dengan melibatkan berbagai unsur umat Islam di Indonesia, termasuk organisasi keagamaan, ahli falak, dan lembaga terkait lainnya.

Keputusan Majelis Mudzakarah Hidayatullah tersebut menjadi landasan bagi seluruh warga Hidayatullah dalam menentukan awal ibadah puasa Ramadhan. Dengan adanya pedoman tersebut, organisasi telah menetapkan posisi yang jelas dan terstruktur dalam merespons dinamika penetapan awal bulan hijriah.

Hidayatullah juga menyatakan bahwa posisinya sebagai bagian dari umat Islam di Indonesia menempatkan organisasi dalam kerangka kesepakatan bersama yang dihasilkan melalui sidang itsbat.

“Oleh karena itu, sikap mengikuti ketetapan pemerintah melalui Kementerian Agama dipahami sebagai bagian dari keterlibatan dalam kesepakatan umat yang dihasilkan melalui mekanisme kolektif,” kata Naspi.

Dengan adanya panduan resmi yang telah ditetapkan sejak tahun 2011, warga Hidayatullah memiliki rujukan yang jelas dalam menyikapi penentuan awal Ramadhan. Keputusan tersebut merupakan hasil musyawarah Majelis Mudzakarah Hidayatullah yang dituangkan dalam bentuk panduan tertulis dan berlaku sebagai pedoman organisasi.

Kepingan Mata Uang Mahasiswa, Memadukan Intelektualitas dan Integritas

0

RUANG kuliah adalah rahim intelektual tempat logika diasah, namun organisasi adalah kawah candradimuka tempat kematangan diri ditempa. Seorang mahasiswa Muslim tidak sepatutnya terjebak dalam dikotomi semu antara prestasi akademik dan dedikasi berorganisasi. Keduanya bukanlah kutub yang saling meniadakan, melainkan ibarat dua sisi sekeping mata uang; ia hanya akan memiliki daya tukar dan nilai yang utuh jika kedua sisinya sempurna. Memilih salah satu dan menafikan yang lain hanya akan melahirkan sarjana yang gagap realitas atau aktivis yang kehilangan landasan ilmu.

Islam memandang menuntut ilmu sebagai ibadah, sementara berkhidmat bagi kemaslahatan melalui organisasi adalah manifestasi dari sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi sesama juga bernilai ibadah. Di organisasi, mahasiswa belajar tentang etika kepemimpinan, kesabaran dalam perjuangan, dan seni mengelola perbedaan nilai-nilai luhur yang tidak ditemukan di balik lembar diktat kuliah.

Dunia mahasiswa terbelah ke dalam empat kuadran yang menentukan masa depan. Mereka yang hanya terpaku pada bangku kuliah tanpa menyentuh organisasi sering kali berakhir sebagai sarjana kertas yang gagap saat berbenturan dengan realitas sosial. Sebaliknya, mereka yang terjebak dalam romantisme pergerakan hingga abai pada tugas akademik justru melahirkan idealisme yang rapuh; semangatnya membara namun pondasi intelektualnya keropos. Bahkan, ada golongan yang tidak aktif di keduanya, mereka hanyalah “karyawan kampus” yang kehilangan ruh mahasiswa karena sekadar menumpang lewat tanpa meninggalkan jejak pemikiran maupun kontribusi nyata.

Di puncak kuadran, berdirilah para mahasiswa pilihan yang mampu menyeimbangkan ketajaman akademis dengan kematangan organisatoris. Menjalani keduanya memang bukan perkara mudah, namun dari kawah candradimuka inilah lahir para penggerak perubahan dan pemimpin masa depan. Maka, mahasiswa yang paripurna: yang sujudnya di atas sajadah diiringi dengan kening yang tegak di hadapan ketidakadilan, dan yang kecemerlangan otaknya di dalam kelas berbanding lurus dengan kepekaan nuraninya di tengah masyarakat. Mereka yang sanggup menjadi kontrol sosial di tengah masyarakat sekaligus menjadi pakar di bidang keilmuannya, menjadi motor penggerak peradaban pasca-lulus kuliah.

Berikut ini manfaat berorganisasi bagi mahasiswa

Pertama, organisasi adalah laboratorium komunikasi yang menempa mahasiswa untuk berani bersuara di bawah tekanan. Melalui dialektika rapat dan adu argumentasi, kegugupan mental perlahan bertransformasi menjadi kematangan berpendapat. Di sinilah mereka belajar bahwa suara bukan sekadar bunyi, melainkan instrumen pengaruh yang harus memiliki bobot dan logika.

Outputnya, aktivis organisasi memiliki kemampuan storytelling dan narasi di atas rata-rata. Karena terbiasa mendiskusikan realitas dari teknis program hingga isu kenegaraan. Mereka tumbuh menjadi orator yang tangkas dan negosiator yang luwes. Kematangan verbal ini adalah keunggulan kompetitif yang tidak tertulis dalam ijazah, namun menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan di dunia nyata.

Kedua, berorganisasi adalah seni menaklukkan keterbatasan waktu. Mahasiswa aktivis dipaksa sadar bahwa 24 jam adalah ruang sempit yang harus memuat kepadatan kuliah, tumpukan tugas, hingga agenda sosial kemasyarakatan. Tekanan inilah yang membentuk kedisiplinan tingkat tinggi; di mana setiap menit dihitung sebagai investasi, bukan sekadar durasi yang dibuang percuma.

Kesibukan yang terukur mengantarkan mahasiswa pada kematangan tanggung jawab dan ketajaman skala prioritas. Dengan terbiasa mengelola jadwal yang tumpang tindih, mereka tumbuh menjadi pribadi yang menghargai waktu dan secara otomatis menjauhi kesia-siaan. Inilah karakter profesional sejati: mampu tetap produktif di bawah tekanan dan menyelesaikan amanah tepat pada waktunya.

Ketiga, organisasi adalah inkubasi kepemimpinan dan kolaborasi. Di sini, mahasiswa belajar menanggalkan ego untuk bekerja sama dengan individu yang memiliki keberagaman pemikiran, kepentingan, hingga latar belakang suku. Kecakapan menggerakkan orang lain demi mencapai tujuan bersama inilah yang melahirkan jiwa leadership sejati: sebuah kemampuan untuk mengubah perbedaan menjadi kekuatan, dan masalah bersama menjadi solusi nyata.

Pasca-kuliah, mereka yang tertempa di organisasi akan tampil sebagai sosok yang menonjol dan berani mengambil tanggung jawab. Ada insting keterpanggilan dan keberanian yang kuat untuk hadir sebagai penyelesai masalah (problem solver). Pengalaman memimpin tim di kampus menjadi modal utama yang membuat mereka selalu siap berdiri di barisan depan saat masyarakat dan dunia profesional membutuhkan arah perubahan.

Keempat, organisasi adalah jembatan emas menuju jaringan strategis yang melampaui sekat ruang kelas. Di sini, mahasiswa meluaskan lingkar pergaulan, membangun relasi dengan senior, alumni, hingga jejaring lintas kampus yang menjadi modal sosial tak ternilai. Koneksi ini bukan sekadar pertemanan biasa, melainkan akses menuju ekosistem profesional yang lebih luas.

Sebagai insan cendekia, mahasiswa membutuhkan relasi untuk mengakselerasi potensi diri. Berorganisasi menyediakan wadah aktualisasi yang menghubungkan kemampuan pribadi dengan jaringan media dan kemitraan strategis. Pada akhirnya, mereka yang berorganisasi tidak hanya memiliki ijazah di tangan, tetapi juga memiliki “pintu-pintu peluang” yang terbuka lebar berkat investasi relasi yang dibangun sejak bangku kuliah.

Kelima, organisasi adalah sekolah kehidupan yang menempa mentalitas baja melalui kegagalan program, ancaman pembatalan acara, hingga pahitnya konflik internal. Di sinilah mahasiswa belajar untuk tidak tumbang saat ditekan dan tidak lari saat keadaan rumit. Tempaan masalah ini mengubah kerapuhan menjadi kematangan, menjadikan ketangguhan bukan sekadar jargon, melainkan karakter yang melekat kuat.

Pada akhirnya, berorganisasi bukanlah penghambat kuliah, melainkan pelengkap esensial bagi proses belajar yang utuh. Mahasiswa yang berorganisasi secara bertanggung jawab akan jauh lebih siap menghadapi dinamika akademik yang padat serta realitas pasca-kuliah yang sering kali lebih pelik dan tak terduga. Mereka tidak hanya lulus membawa gelar, tetapi juga membawa nyali dan kesiapan untuk menaklukkan setiap tantangan hidup.

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Abdul Ghofar Hadi Tekankan Peran Strategis Mahasiswa, Serukan Penguatan Kader dan Kepedulian Publik

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota, Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd., menghadiri dan memberikan sambutan dalam acara Grand Launching Lembaga Bantuan Hukum (LBH), website, serta logo baru Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) yang digelar di Kota Depok, Jawa Barat, pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (14/2/2026).

Dalam sambutannya, Abdul Ghofar Hadi menegaskan kapasitas mahasiswa sebagai unsur sentral dalam sejarah pertumbuhan Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa sejak fase awal berdirinya, pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said, telah menjadikan mahasiswa sebagai sasaran utama pembinaan. Pendekatan tersebut didasarkan pada kesadaran bahwa mahasiswa memiliki kapasitas intelektual dan potensi kepemimpinan yang kuat dalam membangun masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa pola pembinaan yang dilakukan Abdullah Said berfokus pada lingkungan kampus, yang pada akhirnya menjadi titik awal berkembangnya jaringan Hidayatullah di berbagai daerah. Kehadiran organisasi ini di kota-kota besar, menurutnya, tidak terlepas dari basis kader yang berasal dari komunitas mahasiswa.

“Ustadz Abdullah Said selalu memberikan perhatian lebih kepada mahasiswa, makanya Hidayatullah berkembang di daerah di daerah yang ada kampusnya seperti Surabaya dan Makassar,” katanya.

Ghofar menegaskan bahwa mahasiswa memiliki karakter progresif yang menjadikan mereka sebagai elemen strategis dalam pergerakan sosial dan intelektual. Ia menyebut bahwa kesadaran intelektual yang dimiliki mahasiswa harus diarahkan pada pengabdian yang berdampak bagi masyarakat luas.

Menurutnya, posisi mahasiswa tidak hanya sebagai peserta pendidikan formal, tetapi juga sebagai bagian dari struktur sosial yang memiliki tanggung jawab moral terhadap pembangunan masyarakat.

“Mahasiswa harus ada rasa keterpanggilan untuk membangun masyarakat,” katanya.

Kesadaran dan Tanggung Jawab Sosial

Untuk menggambarkan makna keterpanggilan tersebut, Ghofar menceritakan pengalamannya sendiri ketika menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Luqman Al Hakim (STAIL) Surabaya pada masa reformasi 1998. Ia menjelaskan bahwa pada saat itu terjadi gelombang perubahan politik besar yang melibatkan mahasiswa di berbagai daerah, termasuk Surabaya.

Sebagai mahasiswa, ia merasakan dorongan kuat untuk terlibat dalam dinamika sejarah tersebut. Namun, kebijakan kampus saat itu membatasi keterlibatan mahasiswa dalam aksi demonstrasi. Dalam situasi tersebut, ia menyalurkan aspirasi melalui tulisan reflektif yang menggambarkan dialog imajiner tentang tanggung jawab generasi terhadap perubahan sejarah.

“Saya membuat tulisan imajiner kilas balik tentang peristiwa tahun 1998 itu karena ada rasa keterpanggilan sebagai seorang mahasiswa,” katanya, yang saat itu memimpin pers kampus bernama Buletin Nurani.

Tulisan tersebut kemudian sampai kepada pengurus yayasan dan menjadi salah satu faktor yang membuka ruang partisipasi mahasiswa dalam peristiwa reformasi. Ghofar menjelaskan bahwa keterlibatannya tidak berhenti di tingkat lokal, tetapi juga meluas hingga ke Jakarta.

Ia menuturkan bahwa dirinya menjadi saksi langsung salah satu peristiwa penting dalam perjalanan reformasi nasional. “Saat peristiwa Semanggi, saya hadir di situ,” katanya.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membentuk kesadaran kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks masa kini, ia menegaskan bahwa mahasiswa tetap memiliki peran penting dalam menyuarakan kepentingan publik dan menjaga keberpihakan terhadap masyarakat.

Ia menekankan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara aspirasi masyarakat dan ruang publik yang lebih luas.

“Mahasiswa harus hadir menyuarakan isu kepentingan publik karena mahasiswa adalah corong masyarakat,” kata Ghofar.

Pada bagian akhir sambutannya, Ghofar mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan waktu secara optimal dalam menjalankan peran pengabdian. Ia menekankan pentingnya kesadaran waktu sebagai faktor penting dalam proses perjuangan dan kontribusi sosial.

“Kita harus gerak cepet, nanti keburu kiamat. Kita punya waktu 365 hari untuk berjuang,” katanya.

Acara Grand Launching tersebut juga menandai penguatan infrastruktur kelembagaan GMH melalui pembentukan LBH, peluncuran website resmi, serta pengenalan logo baru sebagai bagian dari konsolidasi identitas organisasi mahasiswa Hidayatullah. Langkah tersebut diharapkan memperkuat peran GMH dalam kaderisasi, advokasi, serta pelayanan kepada masyarakat dan mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.

Tokoh Muslimah Ajak Jadikan Ramadhan Momentum Penguatan Daya dan Produktivitas

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Tokoh nasional muslimah inspiratif, Bunda Aisah, mengatakan bahwa momentum suci bulan Ramadhan harus menjadi titik perubahan bagi Muslimah untuk meninggalkan sikap pasif dan bertransformasi menjadi pribadi yang lebih berdaya dalam berbagai dimensi kehidupan.

Pengawas Vanilla Hijab ini menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan penting untuk memperkuat kualitas diri, baik dalam lingkup keluarga, peran sosial, maupun penguatan spiritualitas.

“Momentum suci bulan Ramadhan ini seharusnya menjadi titik balik untuk meninggalkan kebiasaan pasif dan beralih menjadi pribadi yang lebih berdaya, baik dalam ranah domestik, sosial, maupun spiritual,” ujar Bunda Aisah dalam kegiatan Tarhib Ramadhan yang diselenggarakan Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Depok, pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh ratusan peserta, khususnya kalangan Muslimah, yang mengikuti rangkaian acara dengan antusias. Dalam kesempatan tersebut, Bunda Aisah menyampaikan bahwa Ramadhan tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual seperti menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan sarana pendidikan yang membentuk kedisiplinan dan meningkatkan kapasitas individu.

Bunda Aisah menjelaskan bahwa bulan Ramadhan berfungsi sebagai madrasah kehidupan yang memberikan ruang bagi Muslimah untuk mengembangkan potensi diri secara optimal.

Dalam pemaparannya, Bunda Aisah juga menyinggung tentang peran Muslimah dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, termasuk dalam aspek ekonomi. Ia menjelaskan bahwa Islam memberikan ruang bagi perempuan untuk berkontribusi secara produktif selama tetap memenuhi ketentuan syariat.

“Islam memperbolehkan wanita bekerja membantu suami, bahkan dianggap mulia, asalkan mendapat izin dari suami, halal dan tidak melalaikan kewajiban utama,” katanya, sembari menegaskan bahwa aktivitas produktif yang dilakukan Muslimah dapat berjalan selaras dengan tanggung jawab keluarga dan nilai-nilai agama.

Salah satu bentuk aktivitas produktif yang disampaikan dalam forum tersebut adalah keterlibatan dalam bidang usaha atau bisnis. Bunda Aisah menjelaskan bahwa kegiatan usaha dapat dijalankan dengan prinsip yang sederhana dan terencana. Ia menyebutkan empat unsur utama yang perlu diperhatikan dalam memulai usaha, yaitu niat yang kuat, penentuan produk yang jelas, pemanfaatan teknologi digital, serta pembangunan jaringan kerja yang luas.

“Bisnis itu tidak ribet. Syaratnya ada empat. Pertama, niat dan tekad yang kuat. Kedua menentukan produk. Ketiga, melek dengan teknologi dan dunia digital. Keempat, bangun jaringan, networking,” katanya.

Owner VH Tour ini mendorong Muslimah untuk memanfaatkan perkembangan teknologi secara produktif. Ia menegaskan bahwa penggunaan media sosial dapat diarahkan untuk aktivitas yang memberikan manfaat nyata, termasuk dalam mendukung ekonomi keluarga. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital dapat membuka peluang yang luas bagi Muslimah untuk berkarya tanpa harus meninggalkan peran domestik.

“Kalau itu bisa dilakukan, maka Muslimah kalau main medsos, dia tidak sekadar scrolling. Tapi juga menghasilkan income bagi keluarga, dari rumah bisa meraih banyak berkah,” tukasnya.

Kegiatan Tarhib Ramadhan ini menjadi ruang pembelajaran yang memberikan penguatan pemahaman tentang peran Ramadhan sebagai sarana pembinaan diri. Selain menyampaikan materi tentang pemberdayaan Muslimah, kegiatan tersebut juga menjadi sarana silaturahmi dan penguatan semangat kebersamaan di antara para peserta.

Acara tersebut terselenggara melalui kerja sama berbagai pihak, termasuk dukungan dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) dan Muliamart Swalayan. Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menghadirkan kegiatan edukatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan.

Tarhib Ramadhan, Ketua Umum DPP Hidayatullah Ingatkan Visi Ruhani dan Penguatan Ukhuwah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., mengatakan bahwa bulan suci Ramadhan merupakan momentum strategis untuk memperkuat keimanan sekaligus mempererat hubungan persaudaraan, tidak hanya di antara umat Islam, tetapi juga dalam lingkup kehidupan kebangsaan yang lebih luas.

Hal tersebut disampaikan dalam kajian Tarhib Ramadhan yang berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026), dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Muslimat Hidayatullah Depok sebagai bagian dari persiapan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Dalam tausiyahnya di hadapan jamaah, KH Naspi Arsyad menjelaskan bahwa Ramadhan tidak dapat dipandang semata sebagai siklus ibadah tahunan yang berlangsung secara rutin. Ia menegaskan bahwa bulan Ramadhan memiliki kedudukan strategis dalam membentuk kekuatan spiritual individu sekaligus memperkokoh relasi sosial yang dilandasi nilai-nilai keimanan.

Ia menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan momentum yang memiliki dimensi pembinaan iman dan penguatan ukhuwah yang melampaui batas-batas identitas kelompok, sehingga menjadi ruang pembentukan solidaritas yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua individu yang menjalani ibadah Ramadhan secara otomatis memperoleh manfaat spiritual yang dijanjikan Allah di dalamnya. “Tidak sedikit di antara umat Islam yang memasuki bulan Ramadhan tanpa memiliki visi yang jelas. Boleh jadi mereka hanya mendapatkan pengalaman lapar dan haus,” katanya.

Naspi menekankan pentingnya orientasi spiritual yang terarah agar ibadah yang dijalankan tidak berhenti pada aspek fisik semata, tetapi memberikan dampak nyata dalam pembentukan karakter dan kehidupan setelah Ramadhan.

Menurut KH Naspi Arsyad, keberadaan visi yang jelas menjadi unsur penting dalam memastikan bahwa ibadah Ramadhan berjalan sesuai dengan tujuan pembinaan ruhani. Ia menjelaskan bahwa ibadah yang dijalankan tanpa orientasi yang benar berpotensi kehilangan makna transformasionalnya. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai sarana memperjelas arah kehidupan spiritual, sehingga setiap amal ibadah yang dilakukan memiliki keterkaitan langsung dengan penguatan iman dan perbaikan kualitas diri secara menyeluruh.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan refleksi historis mengenai perjalanan para pendiri Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa kekuatan utama yang dimiliki oleh para perintis organisasi tersebut terletak pada kejelasan visi dan komitmen dalam mewujudkannya.

“Kelebihan para pendiri Hidayatullah ada pada kekuatan visinya. Mereka kuat dalam upaya mengokohkan iman dan ukhuwah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kekuatan visi tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek kelembagaan, tetapi juga berhubungan langsung dengan pembentukan karakter individu dan komunitas. Menurutnya, visi yang kokoh memungkinkan lahirnya konsistensi dalam menjalankan misi dakwah dan pembinaan umat. Dalam konteks Ramadhan, visi spiritual yang jelas menjadi landasan dalam mengoptimalkan seluruh potensi ibadah yang tersedia selama bulan suci.

KH Naspi Arsyad juga mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum pembaruan komitmen dalam kehidupan keagamaan. Ia menekankan pentingnya memperkuat kembali orientasi keislaman yang berlandaskan iman, sekaligus mempererat hubungan persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan sosial.

“Mari kita menjadikan Ramadhan sebagai titik awal penguatan integritas spiritual dan solidaritas sosial,” katanya menekankan.

PP GMH Luncurkan LBH, Website, dan Logo Baru sebagai Bagian Transformasi Organisasi

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) secara resmi meluncurkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH), website resmi organisasi gmh.or.id, serta logo baru dalam sebuah agenda yang berlangsung dengan suasana khidmat dan penuh semangat pembaruan.

Peluncuran yang berlangsung di Kota Depok pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026) ini menjadi bagian dari langkah organisasi dalam memperkuat peran advokasi hukum, meningkatkan kapasitas intelektual kader, serta memperluas jangkauan komunikasi organisasi melalui pemanfaatan teknologi digital.

Direktur LBH PP GMH, Syarif Hidayatullah, yang juga bertindak sebagai Ketua Penyelenggara kegiatan launching, menyampaikan bahwa pembentukan LBH merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam menghadirkan layanan advokasi hukum yang sistematis dan terarah.

Ia menjelaskan bahwa lembaga tersebut didirikan dengan tujuan memberikan kontribusi nyata dalam bidang advokasi hukum sekaligus pengembangan kapasitas intelektual di bidang hukum.

Syarif menyatakan bahwa LBH Gerakan Mahasiswa Hidayatullah hadir sebagai pusat advokasi hukum dan pengembangan intelektual hukum yang progresif serta berpihak kepada masyarakat yang membutuhkan perlindungan hukum.

Syarif menjelaskan bahwa lembaga tersebut memiliki visi untuk menjadi pusat advokasi hukum dan pengembangan intelektual hukum yang progresif serta berpihak pada masyarakat tertindas.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Syarif menyebutkan LBH PP GMH menetapkan sejumlah misi utama yang menjadi landasan operasional lembaga. Di antaranya adalah memberikan bantuan hukum secara konsisten kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya mereka yang tidak memiliki akses memadai terhadap layanan hukum.

Selain itu, LBH PP GMH juga menetapkan fokus pada advokasi hukum yang berorientasi pada perlindungan hak-hak masyarakat, termasuk perempuan dan anak. Lembaga ini juga berkomitmen menyelenggarakan edukasi dan pelatihan hukum sebagai bagian dari upaya mencetak kader intelektual yang memiliki kapasitas dalam advokasi masyarakat.

Kegiatan lain yang menjadi bagian dari misi LBH adalah melakukan kajian dan analisis hukum serta membangun jaringan kerja sama dengan berbagai organisasi masyarakat sipil.

Dalam kesempatan tersebut, turut diperkenalkan logo baru LBH PP GMH yang dirancang untuk merepresentasikan nilai keadilan. Logo tersebut mencerminkan prinsip equality before the law, yaitu prinsip yang menegaskan bahwa setiap individu memiliki kedudukan yang setara di hadapan hukum tanpa perbedaan.

Sebagai bagian dari implementasi program kerja, LBH PP GMH menetapkan dua program prioritas yang akan dijalankan secara berkelanjutan. Program tersebut adalah “Goes to Campus” dan “Bincang Hukum”. Kedua program ini dirancang untuk meningkatkan literasi hukum di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum, sekaligus membangun kesadaran hukum yang lebih luas di lingkungan akademik dan masyarakat.

Transformasi Digital Organisasi

Ketua Umum PP GMH, Rizki Ulfahadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa peluncuran LBH dan website organisasi merupakan bagian dari upaya memperkuat peran Gerakan Mahasiswa Hidayatullah dalam merespons kebutuhan zaman.

Rizki menjelaskan bahwa kehadiran website resmi GMH menjadi bagian dari transformasi digital organisasi yang bertujuan meningkatkan efektivitas komunikasi, koordinasi, dan penyebaran informasi organisasi.

Dalam kesempatan yang sama, Rizki juga memaparkan perkembangan organisasi selama satu tahun masa kepengurusan. Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini enam pengurus daerah telah terbentuk dan dilantik secara resmi.

Selain itu, sejumlah wilayah lainnya tengah berada dalam proses pembentukan kepengurusan yang direncanakan akan dilantik secara serentak di seluruh Indonesia.

Rizki menegaskan bahwa Gerakan Mahasiswa Hidayatullah berkomitmen untuk menghadirkan program yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi mahasiswa dan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa organisasi terus berupaya menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi mahasiswa, sekaligus menghadirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Agenda launching tersebut turut dihadiri oleh Ketua Bidang Pengkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Abdul Ghaffar Hadi, yang menyampaikan apresiasi terhadap berbagai capaian organisasi.

Ia menyatakan bahwa aktivitas GMH menunjukkan tingkat produktivitas yang tinggi dan memberikan kontribusi nyata, seraya mendorong terus mendalami biografi dan pikiran pikiran sosok KH Abdullah Said agar gerakan GMH senantiasa setarikan nafas dengan cita cita pendiri Hidayatullah itu.

“Kami mengapresiasi produktivitas Gerakan Mahasiswa Hidayatullah. Berbagai program yang dilaksanakan menunjukkan komitmen dalam membangun kader yang berdaya dan berkontribusi bagi umat, bangsa, dan negara” katanya.

Ia mengapresiasi inisiatif tersebut yang menegaskan komitmen organisasi dalam menghadirkan kontribusi nyata melalui pendidikan hukum, advokasi masyarakat, serta penguatan kapasitas mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.