Beranda blog Halaman 280

Spirit Metodologi Qurani: Dari Bahan Baku Khoirul Bariyyah Menuju Khoiru Ummah

0

Al QURAN disamping sebagai manhajul fikr (metodologi berpikir) pula sebagai manhajul hayah (metodologi penerapan kehidupan qurani) untuk mencapai sa’adatud darain (kehidupan bahagia pada dua perkampungan). Sebagai petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala Al Quran menyimpan petunjuk dan syarat-syarat keilmuan (asbabul ‘ilm wal makrifah).

Namun, kitab suci yang diturunkan terakhir ini memiliki metodologinya sendiri untuk dipahami/ diserap belum banyak perhatian secara intensif dijadikan materi kajian atau diterapkan orang utamanya umat Islam sendiri.

Al Quran diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan telah ditransmisi serta ditransformasikan oleh beliau kepada umatnya disertai dengan penjelasan-penjelasan yang lengkap (bayyinat minal huda) sebagai sunnahnya sudah dipahami oleh umat Islam.

Tetapi, ada hal penting yang perlu dipahami, Nabi tidak menyampaikan Al-Quran dengan menuruti kehendak beliau, tetapi atas bimbingan langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau menyampaikan setiap kali ada ayat Al-Quran diturunkan, dan berlangsung secara berkesinambungan selama 23 tahun. Bahkan, tata letak urutan surat dalam Al-Quran bukan hasil kreatifitas beliau, tetapi atas arahan & bimbingan Allah Swt (Tafhim al-Quran, Al-Maududi). Merujuk surat Al-Haqqah ayat 44-47.

Bertolak dari tashawwur dapat dipahami bahwa Al-Quran turun dengan caranya sendiri secara bertahap. Dengan demikian metodologi Rasulullah Saw dalam menyampaikan nilai-nilai Al Quran tidak sekaligus/turun 30 juz.

Atas dasar itu secara logis dikatakan bahwa Al-Quran tidak hanya menunjukkan jatidirinya dalam arti menghadirkan subtansinya, tetapi metodologinya sendiri, metodologi qurani. Itulah yang secara lazim dilakukan oleh umat Islam. Kesimpulan ini didukung oleh logika akal dan logika syariat.

Ini diambil karena Al Quran memiliki metodologinya sendiri berdasarkan kenyataan turunnya secara bertahap, bukanlah hujjah akliyah semata tetapi secara eksplisit dinyatakan oleh Allah Swt sebagai metodologi untuk meneguhkan hati dalam memahami, mengajarkan, dan mengamalkan Al-Quran dan mensosialisasikan di tengah-tengah masyarakat.

Jadi fungsi turunnya Al Quran secara sistem memiliki dua fungsi tarbiyah secara internal dan eksternal. Fungsi internal untuk takwinus syakhshiyyah al Jamiah dan secara eksternal untuk takwinul ummah. Agar melahirkan khairul bariyyah dan khairul ummah (QS. Al Furqan (25): 32, QS. Al Isra (17) : 105-106).

Kenyataan sejarah turunnya Al Quran diatas merupakan landasan kuat untuk menyatakan bahwa Al Quran yang tidak diturunkan secara spekulatif tetapi metodologis, yakni tartibun nuzul.

Sejarah membuktikan sepeninggal beliau tidak ditemukan sosok dan komunitas yang memiliki keterikatan yang demikian kuat (iltizam) seperti generasi yang beliau bimbing langsung di pusat pengkaderan di Makkah dan Madinah. Padahal Al-Quran yang diturunkan sama dengan Al-Quran yang kita terima hari ini yang masih terjaga orisinilitasnya.

Apakah sepeninggal beliau sebagai faktor adanya degradasi proses at-ta’amul ma’a al Quran?. Tentu saja tidak, karena beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ketiadaan beliau, al Quran tetap relevan dan potensial untuk dikomunikasikan dari generasi ke generasi melintasi ruang dan waktu. Setelah berlalunya genarasi qurani awal itu, belum muncul person dan umat serupa pada zaman ini.

Padahal materinya tetap terpelihara otentitas dan orisinilitasnya. Dalam hal ini kemungkinan ada dua faktor yang saling terkait.

Pertama, metodologi berquran sudah tidak menggunakan metodologi yang digunakan oleh generasi awal. Kedua, sikap penerimaan generasi berikutnya berbeda secara kontradiktif dengan generasi qurani sebelumnya.

Sistematika Wahyu (SW) harus dipandang demikian. Kebenaran materinya terkait dengan kebenaran cara mengkomunikasikannya kepada umat. Ketika terjadi dikotomi antara maddah (materi) dan manhaj (pola penerapannya) dalam berbagai dimensi kehidupan akan terjadi reduksi makna dan kedahsyatan potensinya.

Adalah benar Al-Quran itu didekati dengan berpikir kritis dan kreatif. Untuk mengembangkan pemahaman terhadap kandungannya. Tetapi pengkajian Al-Quran dengan rekreasi mental dan intelektual betapapun menyodorkan ilmu pengetahuan. Namun, hanya menjadi kekayaan ilmiah semata yang bisa dilakukan oleh siapa saja, baik musyrik, fasiq, kafir, dan zhalim.

Hidayah tidak turun kepada pengkajinya dengan cara demikian. Karena ia menyamakan posisinya dengan ilmu pengetahuan. Hidayah tidak sekedar ilmu pengetahuan. Hidayah tidak sekedar memformat manusia menjadi berilmu, tetapi memberikan kesadaran ilahiyah terhadap pengetahuannya.

Hidayah tidak sekedar memberikan kekuatan berpikir, tetapi memberdayakan potensi dan kekuatan keimanan yang tidak ada habis-habisnya untuk menanam benih-benih kebaikan di taman kehidupan tanpa pamrih.

Adakah metode sekarang ini yang memberi hidayah lebih dari ilmu pengetahuan? Menggugah pola pikirnya yang didahului oleh kesadaran tauhid. Tidak ada. Ia hanya ada pada metodologi qurani yang demikian unik. Metode-Nya dalam menurunkan firman-Nya dan metode itu pula yang diperintahkan kepada Nabi-Nya untuk dipraktekkan dalam kehidupan. Menata ulang pola pikir dan sikapnya untuk menjadi laki-laki qurani (rajulun qurani) yang berjalan di pasar, jalan raya, kantor pemerintah, halte, tempat rekreasi, dst.

Betapa indah cara Allah Swt dalam menjelaskan keadilan-Nya dalam menurunkan kitab-Nya dengan keunikan metodologinya. Ia tidak menghardik kebodohan manusia karena ketidaktahuannya yang seringkali pongah mempertanyakan dengan menantang. Ini adalah sebuah pelajaran yang sangat mendalam bagi yang menentukan pilihan untuk melakukan metodologi ini.

Logika Sistematika Wahyu

Terkait dengan SW sebagai pola dasar, perlu ditinjau dua sisi. Pertama aspek urutan turunnya wahyu. Sampai sekarang ditemukan berbagai perbedaan riwayat. Karena itu, sebagai pola perlu dipilih riwayat mana yang paling logis dan realistis untuk kita ikuti.

Namun jumhurul ulama menempatkan surat al alaq 1-5 sebagai wahyu pertama. Sisi kedua, sebagai pola/pendekatan ia juga harus mencerminkan kaidah umum dari keseluruhan ajaran Islam. Ini yang tidak kalah pentingnya untuk digali dan dikuatkan secara berkesinambungan. Misal: iman mendahului adab dan ilmu. Ini menguatkan Al Alaq sebagai yang pertama. Karena iman adalah prinsip berislam.

Prinsip adalah landasan berpikir dan bersikap. Ibarat pondasi dalam bangunan keislaman maka tentu harus dibangun lebih dahulu. Kemudian al adab qablal ilmi, ini menggambarkan al qalam (akhlaq) pada urutan kedua (sebagai pola dasar), meskipun ada riwayat yang mengatakan bahwa al qalam setelah dakwah.

Perbaikan individu sebelum perbaikan sosial. Ini menguatkan al muzzammil lebih dulu dari al muddatstsir, sekalipun ada riwayat yang mengatakan urutan sebaliknya. Sedangkan Al Fatihah sebagai ummul Qur’an merupakan muara SW sekaligus gerbang untuk memasuki semua ayat dan surat Al Qur’an. Al-Quran, hulu dan hilirnya adalah surat Al-Fatihah.

Yang paling urgen, sebagai gerakan perjuangan, dituntut lurus dalam berinteraksi dengan kemutlakan kebenaran wahyu. Untuk menghindari anti otoritas wahyu. Seperti yang dilakukan oleh peneliti Sistematika Wahyu dari seberang sana. Sebagaimana yang dikenalkan selama ini, dalam berinteraksi dengan metodologi qurani ini memerlukan dua pendekatan. Keduanya tidak perlu didikotomikan.

Pertama, Sistematika Wahyu sebagai materi kajian agar melahirkan pencerahan (kesadaran bertauhid). Yang kedua, sebagai manhaj. Yang kedua ini bagaimana menggulirkan perubahan pada realitas sosial masyarakat jahiliyah saat wahyu diturunkan dan setelahnya.

Tergantung kita perubahan itu hanya bisa dilakukan dengan dua cara yaitu evolusi (gradual) dan revolusi (frontal). Merujuk sejarah, perubahan itu dilakukan selama kurang dari 1/4 abad. Dan sukses memperoleh kemenangan yang bersifat mikro (intishar shughra) dan kemenangan yang bersifat makro (intishar kubra).

Implementasi Sistematika Wahyu

Konsep pendidikan qurani ini disebutkan dalam al-Quran Surat al-Baqarah ayat 151, yang artinya: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu (kandungan) Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.”

Konsep pendidikan ideal itu telah diterapkan oleh Nabi Muhammad saw, dan terbukti melahirkan manusia-manusia terbaik terbaik (khoirul bariyyah). Hasil pendidikan Nabi yang mulia itu. Misalnya, dari 40 orang yang dididik di Makkah oleh Rasulullah saw, kemudian menghasilkan 12 ribu manusia-manusia pilihan di Madinah.

Pada khutbatul wada’ dihadiri oleh 130.000 sahabat. Dari jumlah tersebut melahirkan 111 ulama besar. Dari ratusan ulama memproduksi tujuh ulama kibar. Dari ulama kibar melahirkan sahabat kibar yang dimulai dengan nama Abdullah, termasuk didalamnya khulafaur Rasyidin (I’lamul Muwaqiin, Ibnul Qayyim).

Selama kurang dari 1/4 abad masa kenabiannya, Rasulullah saw berhasil melahirkan beberapa pengusaha besar. Misalnya, Utsman bin Afwan r.a. yang kekayaannya senilai 850 juta USD, Zubair bin Awwam r.a. senilai 1 miliar USD atau setara dengan Rp 72 ribu triliun, serta Abdurrahman bin Auf r.a. dengan kekayaan sebesar 3,5 miliar USD dirupiahkan.

Pendidikan Nabi Muhammad saw juga berhasil melahirkan 35 panglima perang. Kualitas seorang panglima perang Nabi itu memiliki kemampuan menaklukan Persia dan Romawi — dua imperium besar terbesar di zaman itu.

Seorang panglima daerah – seperti Pangdam di Indonesia – di wilayah Afrika Utara, mampu membebaskan Andalusia dan kemudian terbangun peradaban Islam lebih dari tujuh abad di sana. Islam memimpin Andalusia mulai tahun 711-1492 M.

Dari madrasah kenabian telah lahir para ulama yang tak terhitung jumlahnya, para birokrat, ahli hukum, mujahid, dan manusia-manusia hebat lainnya yang namanya dicatat dengan tinta emas dalam sejarah manusia dan kemanusiaan.

Dari 6.236 ayat al-Quran, jika dijabarkan, maka akan menjadi kurikulum yang sesuai dan terkolerasi dengan semua aktifitas kehidupan di muka bumi. Misalnya, ada 70 ayat tentang rumah tangga.

Dari penjabaran dan pengaplikasian ayat-ayat itu, telah lahir keluarga-keluarga hebat dalam sejarah Islam, seperti keluarga Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Keduanya adalah anak yatim yang telah ditinggal ayahnya sejak kecil.

Ada 779 ayat tentang peningkatan pengetahuan, 25 ayat tentang tata negara, 70 ayat hukum pidana, 13 ayat hukum acara, 10 ayat tentang bisnis dan seterusnya.

“Apa yang Nabi ajarkan, yang bersumber dari al-Quran, kemudian diterangkan dalam hadits, itu secara luar biasa telah mengubah masyarakat jahiliyah yang tadinya terbelakang, menjadi masyarakat yang tercerahkan dan berkemajuan, bahkan mendapatkan persetujuan dan legitimasi langsung dari Allah.

Masyarakat jahiliyah di tengah gurun tandus berbatu itu telah berhasil bertransformasi menjadi khairu ummah sebagaimana tersebut dalam QS Ali Imran ayat 110 : “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka.”

Bertolak dari lintasan sejarah semakin menguatkan keyakinan kita, bahwa umat Islam sejatinya telah memiliki kurikulum pendidikan yang sempurna bersumber dari al-Quran dan Sunnah. Konsep itu telah terbukti dalam sejarah, berhasil melahirkan insan-insan cerdas dan berkarakter.

Manusia-manusia terbaik itu pun kemudian sukses membangun peradaban mulia di seluruh penjuru dunia sepanjang sejarah. Di masa saja Islam hadir, senantiasa menyebarkan rahmat, melalui proses ta’dib, yaitu proses mengadabkan manusia.

Konsep pendidikan qurani itu begitu jelas. InsyaAllah, kita terus berjuang menerapkannya dalam pendidikan integral kita. Tentu saja, kita akan menghadapi tantangan dan ujian yang besar, baik dari luar maupun dari dalam.

Tantangan terbesar dari diri kita sendiri; dari jiwa kita sendiri. Tantangan tersebut tidak mudah dan tidak sederhana. Semoga Allah memandu dan mengarahkan kita untuk menguatkan keyakinan kita terhadap konsep itu. Aamiin. .

Parameter Keislaman Merujuk Sistematika Wahyu

Lantas apa indikasinya bahwa keislaman kita sesuai “Manhaj Nubuwwah”? setidaknya ada delapan indikator yang bisa memudahkan kita sebagai alat ukur mutu keislaman seseorang;

Pertama: Terkikisnya Virus Thagha’

Istilah tagha’ (baca thogho) ini diambil dari surat Al-‘Alaq pada ayat 6. Secara bahasa artinya melampaui batas. Seperti air yang tumpah dari gelas, karena diisi melebihi dari ukurannya. Manusia bersikap thagha karena merasa dirinya serba cukup (ayat 7). Merasa dirinya sudah berharta, berilmu dan berkuasa. Tidak lagi memerlukan bimbingan dari Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎).

Jadi, pertama kali yang harus dilakukan oleh orang yang ingin berhasil mengenal Islam adalah tazkiyatun nafsi (membersihkan hati), berfikir obyektif dan terbuka. Melihat ke langit (Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎)), ke tengah (ayat diri sendiri) dan ke bawah (alam dan seisinya dan tempat kembali manusia).

Jika hati kita belum bisa disterilkan dari kepentingan hawa nafsu, dunia dan kekuasaan, maka mustahil Islam bisa kita serap dan kita nikmati secara baik. Islam yang bisa dijadikan pencegah dari perbuatan fahsya dan mungkar.

Bukan sekedar Islam sebagai pencuci dosa. Bangsa kita yang mayoritas Muslim, tapi buktinya masih banyak melakukan korupsi. Karena ajaran Islam hanya dijadikan penebus dosa sebagaimana agama lain. Dari sini sesungguhnya sudah cukup memadai mutu keislaman kita.

Bahaya laten thagha’ akan berakibat fatal dan krusial. Yaitu membatalkan keislaman kita. Penyakit thagha’ melahirkan tiga kejahatan yang menjadi pemicu penyimpangan manusia sepanjang sejarah. Yaitu, sombong yang diwariskan oleh iblis, serakah (thama’) yang ditularkan oleh Adam as dan hasud yang diwariskan oleh Qabil.

Thagha’ dan iman akan terus berhadap-hadapan sampai hari kiamat. Kebenaran dan kebatilan, keimanan dan kemusyrikan, al Haqq wal Batil, tidak akan bisa dipertemukan sepanjang sejarah peradaban manusia. Buah dari terkikisnya thagha’ akan mendidik manusia untuk memiliki sikap tawadhu. Rendah hati, selalu memerlukan bimbingan wahyu.

Kedua: Keimanan kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎)

Sasaran al-Quran adalah orang-orang yang beriman. Sekalipun tinggi kualitas keilmuan, peradaban manusia, ketika berinteraksi dengan al-Quran dengan memaksakan pemahamannya atau menyimpan niat yang buruk, al-Quran yang demikian terang, menjadi kabur. Jadi, iman adalah modal utama dan pertama untuk At-Ta’amul ma’a Al-Quran.

Iman, bagaikan air sumur zamzam. Sumber yang dipancarkannya tidak akan pernah kering dan habis sepanjang sejarah peradaban manusia. Iman itulah yang memotivasi pemiliknya untuk istiqomah (konsisten), mudawamah (berkesinambungan), istimroriyah (terus-menerus), tanpa mengenal lelah, dengan sabar, tegar, teguh, tekun, tawakkal, mengajak kepada kebaikan dan mencegah segala bentuk kemungkaran tanpa tendensi apapun, pura-pura dan pamrih. Tidak mengharapakan pujian, ucapan terima kasih dan balasan serta tidak takut celaan orang yang mencela.

Imanlah yang menjadikan seseorang terus bergerak menyemai kebaikan-kebaikan di taman kehidupan ini tanpa kenal letih. Karena, ia yakin dalam setiap gerakan yang dimotivasi oleh nilai-nilai keimanan itu tersimpan potensi kebaikan-kebaikan melulu (barakah).

“Taharrak fa-inna fil harakati barakah” (bergeraklah, karena setiap gerakan ada tambahan kebaikan). Dan kebaikan yang ditanam itu akan ia panen, kembali kepada dirinya. Baik secara kontan (langsung) ataupun secara kredit (tidak langsung). Bukan dipanen orang lain. Justru, jika berhenti bergerak, potensi yang dimilikinya tinggal sebuah potensi. Tidak tumbuh dan berkembang. Air yang tidak mengalir, akan menjadi sarang berbagai kuman yang mematikan.

Imanlah yang menjadikan seseorang terus aktif membendung/ menghalangi berbagai pengaruh negatif kejelekan, kefasikan, kezhaliman, kemungkaran. Karena, semua perbuatan dosa dan maksiat akan menghancurkan dirinya sendiri. Manusia yang bergelimang dalam perbuatan dosa, di dunianya tersiksa, sedangkan di akhirat siksanya lebih menyakitkan.

Imanlah yang mencegah pemiliknya untuk menelola hawa nafsu (syahwat), nafsu perut dan nafsu kelamin. Karena kedua nafsu duniawi itu semakin dicicipi dengan cara yang salah bagaikan meminum air laut. Semakin di minum, bertambah haus.

Ali bin Abi Thalib mengatakan: Tiga hukuman bagi orang yang berbuat maksiat, yaitu penghidupan yang serba sulit, sulit menemukan jalan keluar dari himpitan persoalan, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan pangannya kecuali dengan melakukan maksiat kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎).

Ketiga: Menjadikan Diri Sebagai Alat Peraga al-Quran

Kita sepakat bahwa al-Quran adalah kitab suci yang orisinil. Ini sudah diberitakan oleh kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Namun secara jujur kita mengakui, betapa jauhnya jarak antara kaum muslimin dengan kitab sucinya.

Bagaikan pemain layang-layang. Umat Islam belum mampu menjadikan dirinya sebagai gambaran kongkrit “al-Quran yang berjalan di pasar, di gedung parlemen, di jalan raya, di rumah tangga, di lembaga pendidikan, di dunia militer” dll.

Faktanya, al Quran sekedar dijadikan mantra, sehingga tidak berefek apa pun pada perubahan pola pikir, sudut pandang, arah kehidupan, orientasi dan perilaku kehidupan dalam skala individu, keluarga, bangsa dan negara.

Agar kita menjadi orang-orang yang berorientasi al-Quran, hendaklah al-Quran menjadi penuntun dan pemandu seluruh kehidupan kita. Sehingga al-Quran merubah kehidupan kita secara total dan merujuk referensi isi al-Quran.

Sikap seorang Muslim terhadap al-Quran seharusnya ada empat hal. Tasmi’, (mendengarkan dengan merenungi isinya), tafhim (memahami), ta’lim (mengajarkan kepada orang lain), tathbiq (mengamalkan), kemudian mengajak orang lain ke jalan Al Quran tersebut. Mustahil mendakwakan al-Quran jika kita sendiri tidak mengamalkannya.

Jadiakan al-Quran sebagai pembelamu (hujjatun laka) atau penggugatmu (hujjatun ‘alaika), demikian Sabda Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Artinya, al-Quran bisa memperkuat sikap kita sebaliknya bisa menghancurkan kita atas sikap-sikap kita yang tak sesuai dengan nilai yang terkandung salam al-Quran.

Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran Ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat[mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri].” (QS. Al Araf (7): 203-204).

Keempat: Menjadikan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam sebagai Idola

Tujuan puncak orang beriman adalah mencari ridha Allah (Ya Allah Ya Rabbana Anta Maqshuduna, Ridhaka Mathlubuna Dunyana Wa Ukhrona). Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) adalah manusia yang dipilih oleh-Nya untuk menyampaikan wahyu kepada umat manusia.

Tujuan berislam adalah mencari ridha Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) atau “Allahu Ghoyatuna”. Dan salah satu strategi menjalankannya dalam kehidupan adalah mengikuti Rasulullah Muhammad.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah (QS. Al Ahzab (33) : 21)

Tapi mari kita saksikan pada diri kita semua, saudara kita, atau anak-anak kita. Siapa sosok yang menjadi idola kita atau mereka? Nabikah? Yang cukup menggenaskan, wanita-wanita yang mengidolakan artis pelaku pornografi justu gadis-gadis berjilbab. Jangan-jangan di antara mereka adalah anak kita. Na’udzu Billah min dzalik.

Kelima: Ibadah, Refleksi dari Keimanan

Agar hati bisa dirawat dari berbagai penyakit yang mengotori dan merusaknya, memerlukan ketekunan dalam ibadah kepada-Nya. Untuk menguji kualitas komitmen keimanan seseorang adalah giat beribadah kepada Allah. Baik yang wajib ataupun yang sunnah. Ketaatan beribadah merupakan turunan dari keimanan.

Pengertian iman adalah, “Al imanu tashdiqu bil qalb, iqraru bil lisan wal ‘amalu bil arkan.” (Iman itu diyakini di dalam hati, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan). Bukan disebut beriman hanya karena dia memakai songkok putih, bergelar haji, tetapi tindak-tanduknya belum mencerminkan seorang Muslim.

Atau tidak bisa seseorang dikatakan sholeh hanya karena dia baik, suka menyumbang fakir-miskin, tetapi dia kafir atau tidak pernah sholat. Seorang yang beriman namanya mukmin. Dan orang Mukmin, dia pasti rajin beribadah dan kuat memegang syariat Allah.

Keenam: Bangkit untuk Inqadzul Ummah

Tidak cukup seorang muslim puas jika melihat dirinya shalih, sedangkan membiarkan orang lain jahat. Islam yang benar, di samping dirinya shalih, pula mengajak saudaranya menjadi shalih pula.

Seorang muslim yang tidak memiliki kepekaan sosial, maka suatu saat keimanan yang dimilikinya akan mengalami degradasi. Karena secara individual orang yang shalih disebut khairul bariyyah, dan membentuk umat sehingga menjadi khairu ummah.

Mustahil menjadi khairu ummah tanpa bahan dasar khairul bariyyah. Insan shalih tidak bisa dipisahkan dari al mujtama’ ash-shalih (masyarakat yang shalih). Jadi, kita dituntut untuk shalih linafsihi dan shalih lighairihi.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran (3) : 110).

Ketujuh: Menegakkan Kepemimpinan Imamah dan Jamaah

Konsekwensi keimanan seseorang adalah berjamaah (berkumpul karena ikatan la ilaha illallah muhammadur rasulullah). Bukan sekedar ikatan kerja. Manusia adalah makhluk sosial. Sekalipun memikul pekerjaan sederhana, misalnya tertawa, mencukur rambut, memerlukan keterlibatan orang lain.

Lebih-lebih melaksanakan ajaran Islam yang demikian lengkap dan mengandung persoalan yang kompleks. Islam bukan sekedar makanan akal, pula konsumsi hati dan perasaan. Islam tidak sebatas dipahami, tetapi perlu diperagakan dalam kehidupan nyata.

Din (konsep) tidak bisa dipisahkan dari daulah (penerapannya). Orang Islam dituntut menunjukkan bahwa dirinya adalah alat peraga al-Quran dan as-Sunnah. Yang berjalan di alam nyata.

Dan Islam tidak akan berdiri tegak dan teraplikasikan secara kaffah tanpa adanya sebuah jamaah yang kuat dan berwibawa. Kita sangat diuntungkan dengan berjamaah, untuk menjaga keshalihan kita. Di samping itu, tidak ada satupun ayat yang menjelaskan orang beriman dengan menggunakan kata tunggal (mufrad), – aman – tetapi memakai isim jama’ – amanuu -.

Kepemimpinan yang dibangun tidak berdiri di atas prinsip laa ilaaha illah muhammadurrasulullah, maka mustahil bisa menguatkan ikatan hati. Sebagaimana kondisi masyarakat Yahudi yang digambarkan dalam al-Quran. Karena masing-masing individu berjiwa kerdil.

Imamah jamaah adalah media yang paling efektif untuk menyederhanakan perbedaan kita dan menonjolkan persamaan.

Mengecilkan persoalan furuiyah (cabang agama) dan membesarkan persoalan ushul (pokok). Karena, perkumpulan kita diikat oleh ikatan yang prinsip (ideologis), La ilaha illah wa Muhammadur Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassalam. Bukan kepentingan pragmatis dan sesaat serta jangka pendek.

Kedelapan: Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Inilah nikmat tertinggi yang kita rasakan setelah nikmat iman kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ukhuwwah Islamiyah inilah yang berhasil memutus mata rantai ‘ashabiyah (fanatisme kesukuan), ananiyah (egoisme), keangkuan, kesombongan, atribut dan asesoris lahiriyah, yang menjadi pilar berdirinya masyarakat jahiliyah. Persaudaraan yang diikat oleh ikatan tauhid ini yang bisa mengungguli ikatan kekeluargaan seketurunan.

Inilah sebuah ikatan yang kokoh, karena dibingkai oleh prinsip. Saling cinta mencintai karena Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎). Maka, lahirlah sebuah ungkapan; “Seandainya cinta dan kasih sayang itu telah merasuk dalam kehidupan maka manusia tidak memerlukan keadilan dan undang-undang.”

KH. Kasman Singodimejo salah satu pendiri Muhammadiyah pernah mengatakan;

“Sesungguhnya kaum muslimin sekalipun hanya mengumpulkan kerikil, dalam waktu dekat akan menjadi gunung.” Seandainya jumlah kaum muslimin yang demikian besar dan berhasil menyingkirkan perbedaan-perbedaan kecil di antara mereka (furuiyah), maka hanya sekedar kencing secara berjamaah di pemukiman Yahudi di Palestina, mereka akan “tenggelam”.

Imam Syafii mengatakan’ “Allah tidak akan menolong umat yang bercerai-berai, baik dahulu, kini dan umat yang akan datang.”

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, kata pepatah Indonesia. Karena, tangan Allah di atas orang yang berjamaah (berkumpul karena ikatan iman), bukan sekedar berhimpun dan bergerombol karena hobi.

Semoga, tulisan ini semakin memperkokoh dan memperkuat identitas keislaman kita semua. Amin.*

*) Ust. H. Sholih Hasyim S. Sos. I, penulis adalah anggota Dewan Murabbi Hidayatullah

SAR Hidayatullah Peserta Penyusunan Pedoman Atribut dan Tanda Kecakapan Potensi

SURAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pusat Lembaga Relawan Kemanusiaan Pencarian dan Pertolongan Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, Irwan Harun, menjadi salah satu peserta undangan dalam acara pembahasan Penyusunan Pedoman Atribut dan Tanda Kecakapan Potensi Pencarian dan Pertolongan Tahun 2023 yang digelar Direktorat Bina Potensi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).

Kegiatan ini sendiri akan berlangsung selama 3 yang dibuka pada Senin (12/6/2023) berlangsung di komplek Yayasan Majelis Tafsir Al Qur’an (MTA) Surakarta Provinsi Jawa Tengah.

Selain Irwan, tutut hadir pula personil SAR Hidayatullah Solo yaitu Bang Mizan, Bang Hengki dan Bang Zafran Muhammad.

Acara dibuka oleh Direktur Bina Potensi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Basarnas Drs. Mochamad Hernanto, M.M serta turut hadir secara online Deputi Bidang Bina Tenaga dan Potensi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Moh. Barokna Haulah.

Pada kesempatan itu akan dilakukan pemaparan dan diskusi yang membahas Penyusunan Pedoman Atribut dan Tanda Kecakapan Potensi Pencarian dan Pertolongan Basarnas seperti pemaparan draft pedoman penggunaan atribut potensi pencarian dan pertolongan.

Selain itu, juga ada pemaparan drat design atribut potensi Pencarian dan Pertolongan dan pemaparan draft SK tentang bentuk tanda kecakapan petugas Pencarian dan Pertolongan yang dimiliki oleh potensi Pencarian dan Pertolongan.

Menurut Irwan, Pedoman Atribut dan Tanda Kecakapan Potensi Pencarian dan Pertolongan sangat penting selain sebagai pengarah juga sebagai penerapan mutu dan standardisasi. (ybh/hio)

BMH Launching Tempat Wudhu dan MCK di Pulau Penaah Lingga Kepri

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Harapan warga di kampung muslim pulau terpencil Penaah, kabupaten Lingga hadirnya fasilitas tempat wudhu dan MCK di masjid Al Qanaah telah diwujudkan oleh BMH perwakilan Kepulauan Riau.

General Manager BMH Kepulauan Riau, Abdul Aziz, melaunching penggunaan tempat wudhu dan MCK yang telah rampung dibangun itu, Sabtu, 22 Dzulqa’idah 1444 (11/6/2023).

Fasilitas yang sangat representatif disambut gembira para pengurus dan tokoh masyarakat pulau Penaah yang hadir dalam seremonial di masjid Qanaah.

“BMH Kepri berkomitmen untuk secara aktif memberikan bantuan kebutuhan warga khususnya di pulau-pulau terpencil seperti di pulau Penaah ini, selain tentu saja pembinaan berkelanjutan dengan menempatkan da’i tangguh di beberapa pulau,” terang Abdul Aziz dalam sambutannya.

Pulau Penaah terletak kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, dari Batam dibutuhkan waktu sekira 6 jam menggunakan feri cepat hingga Daik, Lingga, kemudian mencarter kapal untuk menjangkau pulau yang dihuni sekira 105 KK atau sekira 400 jiwa itu.

Sekretaris pengurus Masjid Al Qanaah, pulau Penaah, Taufik, mengungkapkan rasa syukurnya karena untuk pertama kalinya mendapat bantuan pembangunan tempat wudhu dan MCK, sekian lama terpaksa menggunakan tempat wudhu ala kadarnya dan tanpa MCK.

“Alhamdulillah BMH Kepri berkenan membantu kami di pulau Penaah ini yang jauh dari kabupaten, kami ucapkan terima kasih kepada para donatur dan dermawan yang telah menyisihkan rezekinya untuk pengadaan fasilitas ibadah di pulau ini,” imbuh Taufik.

Selain tim BMH Kepri, hadir juga perwakilan DPW Hidayatullah Kepri, DPD Hidayatullah kabupaten Lingga dan unsur yayasan Hidayatullah serta ustadz Badiu, ketua Majelis Ulama Indonesi (MUI) kabupaten Lingga sebagai mitra strategis BMH Kepri. (ybh/hio)

BMH Salurkan Sembako ke Pulau Terpencil di Lingga Kepri

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) perwakilan Kepulauan Riau konsisten melakukan pembinaan terhadap para mualaf di pulau-pulau terpencil di kawasan Kepulauan Riau.

Diantara bentuk kepeduliaan tersebut, General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz bersama tim Prodaya menyambangi pulau Kojong dan Selat Kongki untuk menyalurkan sembako sekaligus melakukan evaluasi program pembinaan, Sabtu, 22 Dzulqa’idah 1444 (11/6/2023).

“Alhamdulillah pada hari ini, kami bisa kembali mengunjungi pulau Kojong untuk menyampaikan amanah dari para donatur berupa sembako sekaligus mendengarkan aspirasi warga terkait fasilitas dan pembinaan keagamaan yang sangat mereka butuhkan,” tutur Abdul Aziz.

Abdul Aziz menambahkan, salah satu yang mengemuka dalam pertemuan dengan warga, yaitu kebutuhan genset karena sudah beberapa bulan azan menghilang dari pulau ini karena mesin yang menjado satu-satunya tumpuan mengalami kerusakan parah.

Setali tiga uang dengan persoalan yang dialami warga mualaf suku laut di selat Kongki, setelah menyerahkan bantuan sembako yang disambut penuh kebahagiaan oleh warga, unek-unek yang disampaikan oleh warga yang diwakili ketua RT setempat, Abdullah, adalah kebutuhan genset untuk penerangan di rumah dan agar suara azan bisa dilantunkan dari masjid.

“Kami juga berharap, BMH Kepri bisa membantu pengadaan kapal atau pompong untuk anak-anak yang bersekolah di desa Penaah yang untuk menjangkaunya harus menyeberangi lautan,” harap Abdullah lirih.

Pembinaan terhadap para mualaf suku laut di pulau Kojong dan Selat Kongki merupakan bagian dari upaya BMH Kepri membentengi aqidah mereka dari serbuan pihak lain yang terus mencoba mengembalikan mereka ke agama yang mereka anut sebelumnya.

Dalam kunjungan tersebut hadir juga perwakilan DPW Hidayatullah Kepri, DPD Hidayatullah kabupaten Lingga dan unsur yayasan Hidayatullah serta ustadz Badiu, ketua Majelis Ulama Indonesi (MUI) kabupaten Lingga sebagai mitra strategis BMH Kepri.*(ybh/hio)

Pemahaman Masyarakat Tentang Berqurban Dinilai Belum Menyeluruh

0

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Penulis dan influenser kebaikan, Maman Suherman menyatakan pemahaman tentang Hari Raya Idul Qurban sesungguhnya belum benar-benar dipahami secara menyeluruh oleh masyarakat Indonesia.

Hal demikian ia sampaikan saat menjadi pembicara di kegiatan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dengan tajuk ‘Lumbung Ternak Kampung Mualaf Baduy’, di Desa Cibungur, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten Sabtu, 21 Dzulqa’idah 1444 (10/06/2023).

“Perintah pertama kita jelas Iqra, tapi berapa banyak orang Indonesia yang menjalankan perintah itu. Minat baca kita rendah pemahaman kita tentang qurban bahkan mungkin tidak komprehensif,”ujar Kang Maman, sapaan akrabnya saat tanya jawab dengan wartawan.

Menurut Kang Maman yang juga pernah menjadi jurnalis, menjadi penting untuk terus menerus mengkomunikasikan pemahaman berqurban kepada masyarakat termasuk memberi edukasi sekaligus dan BMH konsisten menyuarakan hal tersebut.

“Saya mengajak masyarakat Muslim untuk berkurban melalui Baitul Maal Hidayatullah. Saya bagian provokator aja dengan harapan 1 kambing lalu kemudian 4000 orang ikut berqurban,”ujarnya.

Kang Maman menambahkan qurban itu bukan mengorbankan harta tapi justru melipatgandakan. “Paling penting bagaimana menjadikan harta kita bermanfaat untuk sesama,”tutur pria berkepala pelontos itu.

Lebih lanjut kata Kang Maman teman-teman BMH menyampaikan dakwah sederhana, berqurban, tetapi berdampak bagi banyak orang dan ekosistem perekonomian di Indonesia.

“Ada nilai yang luar biasa dalam qurban. Ini bukti pengabdian seorang Muslim kepada Allah dengan berbagi harta untuk kaum dhuafa,”tegasnya.

Kang Maman menyebut 4 I dampak dari berqurban. Pertama, terdapat nilai silaturahmi yang kuat. “Silaturahmi ini merupakan ajaran Rasulullah SAW. Jangan sekadar potong tetapi juga makan bersama dan duduk bersama,”ungkapnya.

Kedua, lanjut Kang Maman, juga punya fungsi ekonomi. Kambing yang disembelih menghidupi banyak orang. Berikutnya ketiga, kurban juga mengandung literasi finansial. Hal inilah yang dilakukan oleh Dai Tangguh BMH Ustadz Supriyanto dengan membuat lumbung ternak atas dukungan BMH.

“Memberdayakan warga sekitar. Ada peternak, penanam rumput, yang secara ekonomi punya nilai. Pemberdayaan menjadi hidup. Ekonomi menjadi hidup. Mari terus suarakan qurban ini. Mari menjadi generasi qurban,”pungkasnya.*/Azim Arrasyid Sofyan

Program Qurban BMH Fokus Pada Penguatan Dakwah

0

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Direktur Utama Baitul Mal Hidayatullah (BMH) Supendi menyatakan Qurban adalah salah satu umat Islam yang memiliki dimensi ketaatan dan dimensi sosial. Karena disana ada spririt berbagi.

Hal itu ia sampaikan dalam dalam kegiatan ‘Lumbung Ternak Kampung Mualaf Baduy’ di Desa Cibungur, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Sabtu, 21 Dzulqa’idah 1444 (10/6/2023).

“BMH sebagai Laznas sudah 20 tahun berkecimpung menyelenggarakan qurban. Alhamdulillah dari waktu ke waktu semakin baik,”kata Supendi saat menjelaskan persiapan Qurban tahun 1444 H, kepada media yang hadir.

Selama itu BMH, lebih dari 150 ribu hewan qurban yang sudah tersalurkan, dengan penerima manfaat lebih dari 9 juta dari Sabang sampai Merauke bahkan Mancanegara.

Dalam kurun waktu itu lanjut Supendi ada yang tidak berubah, dan terus dipertahankan yakni qurban BMH fokus pada penguatan dakwah. Kami menyakini bahwa qurban ini bagian dari syiar yang cukup efektif.

Dia menjelaskan BMH pada Idul Qurban selalu menyalurkan hewan qurban ke berbagai wilayah terpencil, terluar dan terdalam di tanah air. Namun untuk tahun ini BMH akan melaksanakan qurban juga ke sejumlah negara di Afrika dan Asia.

Adanya mitra kerja seperti Dai Tangguh memudahkan BMH mendistribusikan kebaikan qurban ini. “Mereka bukan sekadar melaksanakan penyaluran, tetapi juga mitra pengadaan. Maka qurban itu dari jauh-jauh hari kita siapkan,”ungkapnya.

Mengenai qurban di luar negeri BMH berkerja sama dengan Al-Khair Foundation. Negara-negara yang akan menerima hewan kurban BMH di antaranya Kenya, Uganda, Somalia, Myanmar (Muslim Rohingya), dan beberapa negara lain.

“Kita punya mitra di luar negeri, baik di Afrika maupun di Myanmar. Salah satunya Al-Khair Foundation. Kami juga mendalami agar punya peluang untuk mengirim kurban ke negara-negara ASEAN, seperti Timor Leste, dan para Muslim Moro di Filipina,”tuturnya.

Sementara itu, tambah Supendi semua Qurban di BMH tetap disalurkan dalam bentuk daging, sehingga masyarakat bisa menikmati, memasak sesuai dengan kearifan lokal daerahnya. Adapun tahun ini, BMH mengambil tema Qurban Bukti Nyata Kebaikan.

“Kami mengajak masyarakat mari kita berazzam tahun ini bisa berqurban, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing melalui BMH,”ujar Supendi mengakhiri.

Hadirkan Lumbung Ternak

BMH mengenalkan lumbung ternak yang berada di Kampung Mualaf Baduy. “Saat ini ada 30 ekor hewan ternak yang telah disiapkan,”ujar Mahmudin penanggungjawab pelaksana Qurban BMH tahun ini.

Mahmudin mengatakan Lumbung Ternak ini merupakan program pemberdayaan masyarakat. “Jadi kami berharap konsep ini meningkatkan kualitas dan kuantitas qurban BMH yang terus meningkat setiap tahunnya,” ungkapnya.
Di atas lahan seluas 3 ribu meter persegi itu terdapat kandang, tempat pakan, dan penanaman rumput. Menariknya lumbung ternak ini tidak hanya hadir Baduy saja, ada juga di Jasinga, Gunung Kidul, termasuk 2 derah di NTT satu diantranya di Amanuban Selatan.

Untuk di Baduy, Da’i Tangguh BMH, Suprianto bertugas memimpin pengelolaan Lumbung Ternak. Ia menjelaskan bahwa Kampung Mualaf Baduy memiliki potensi bagus peternakan, lahan luas hingga ada SDM nya.

“Kampung ini berpotensi untuk jadi Lumbung Ternak. Pertama, lahan cukup luas. Bisa juga langsung untuk menanam pakan ternaknya. Selain itu, masyarakat mualaf di sini bisa kita berdayakan langsung dengan memperkerjakan mereka,” ucap ustadznya para mualaf Baduy ini.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Supendi (Direktur Utama BMH Pusat), Imam Nawawi (Kepala Humas BMH Pusat), BMH Banten, warga mualaf Baduy, dan hadir juga Maman Suherman (Penulis, influencer kebaikan). Selain itu, juga hadir wartawan dari berbagai media.*/Azim Arrasyid Sofyan

Program Lumbung Ternak BMH Mudahkan Berqurban Berkualitas sesuai Syariah

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka menyambut Idul Adha 1444 Hijriyah atau Lebaran Qurban, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) hadir dengan program bertajuk “Bukti Nyata Kebaikan”.

Dalam pada itu, BMH menggulirkan program Lumbung Ternak. Menurut Humas BMH Pusat Imam Nawawi, program Lumbung Ternak BMH hadir dilatari oleh idealisme untuk memenuhi tersedianya hewan kurban yang berkualitas, sesuai syariah.

Dia menyebutkan, program ini telah berlangsung sejak 2020, tersebar di 4 titik, seperti Baduy Lebak, Jasinga Bogor, Gunungkidul Yogyakarta, dan Noemuke di Kabupaten TTS, NTT.

Hal ini karena Qurban di BMH selalu memberikan dampak kebaikan yang nyata, bagi masyarakat pedalaman, peternak pelosok, dan para santri yatim piatu di seluruh Indonesia.

“Bahkan BMH ikut menggerakkan dakwah pencerahan secara langsung para dai tangguh di pedalaman dan perbatasan serta kepulauan Indonesia,” kata Humas BMH Pusat Imam Nawawi dalam keterangannya disela sela Konferensi Pers Qurban Bukti Nyata Kebaikan di Lebak, Banten, Sabtu, 21 Dzulqa’idah 1444 (10/6/2023).

Pada kesempatan tersebut hadir Direktur BMH Supendi, tokoh literasi bangsa Maman Suherman, dan tokoh agama muallaf Suku Baduy Lebak.

Untuk itu, lanjut Imam, Qurban di BMH akan membantu pemerintah menggerakkan roda ekonomi, dan menghidupkan kehangatan sosial masyarakat.

“Serta menghadirkan pemenuhan kebutuhan gizi bagi masyarakat pedalaman yang umumnya dalam setahun, hanya makan daging saat tiba hari Idul Adha,” imbuhnya.

Dengan jaringan di 34 provinsi BMH merupakan lembaga yang tepat jadi mitra kaum Muslimin yang ingin berqurban dengan memberikan bukti nyata kebaikan berupa kebahagiaan kepada sesama nun jauh di sana, yang tak ada listrik, yang sangat jarang memakan daging dan tentu saja yang hidup dalam segenap keterbatasan.

Lebih jauh Imam menjelaskan hadirnya program Lumbung Ternak BMH juga didorong oleh kiprah BMH selama ini, yang setiap tahun menyalurkan ribuan hewan kurban ke seluruh Indonesia bahkan mancanegara dengan penerima manfaat mencapai ratusan ribu jiwa.

“Momentum Idul Adha tidak saja memudahkan orang yang ingin berqurban, tetapi juga memberi dampak pemberdayaan, maka Lumbung Ternak ini BMH hadirkan sebagai wadah bersama meningkatkan ekonomi peternak di pelosok-pelosok,” katanya.

Dengan demikian, lanjutnya, skill peternak meningkat, ekonomi bergerak, dan hewan yang mereka pelihara akan jadi hewan qurban yang memudahkan umat Islam menjalankan sunnah di hari Idul Adha.

Program Lumbung Ternak BMH mendapat dukungan positif dari PT Paragon dan UPZ Bank DKI. Sinergi ini telah menghadirkan program Lumbung Ternak berjalan dengan baik sampai sekarang dan semoga terus berkelanjutan.

Melalui kesempatan ini BMH memastikan bahwa pengelolaan dana zakat, infak dan sedekah (ZIS) diarahkan pada pemberdayaan secara ekonomi bagi masyarakat pelosok dan pedalaman.

“Sebagaimana poin dalam pembangunan berkelanjutan (SDGs) bahwa kita perlu memberikan pekerjaan yang layak untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat,” imbuhnya.

Dalam kata yang lain, lanjutnya, Program Lumbung Ternak menjawab kebutuhan hewan kurban sekaligus membuka kesempatan kerja yang produktif dan menyeluruh.

“Sisi yang tak kalah penting, dimana ada program Lumbung Ternak di sana pembinaan moral dan peningkatan skill dalam beragam program upgrading BMH lakukan bersama dai-dai pedalaman, yakni mereka yang kita sebut dai tangguh BMH,” tandasnya.

YACONG B. HALIKE

[Download Khutbah Jumat] Lima Indikator Orang yang Bahagia

Ketenangan dan kebahagiaan yang dicari semua manusia di dunia ini hanyalah fatamorgana belaka. Orang-orang berlomba mencari kebahagiaan dan ketenangan yang mereka gambarkan dengan tumpukan harta.

Mereka juga terjebak oleh ketenangan semu, tapi mengalami kegersangan batin, karena tidak beriman. Akhirnya mereka mencari ketenangan sesaat dg menikmati liburan ke tempat-tempat yang indah, dan kegersangan bathin itu puncaknya dicari dengan menikmati narkoba.

Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. Dr. Abdurohim, M.Hum

Unduh sekarang:

Pemuda Hidayatullah DKI Dukung FGD Raperda Berantas Narkotika

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta bersama dengan sejumlah organisasi pemuda lainnya menghadiri undangan rapat persiapan Forum Group Discussion (FGD) yang bertujuan untuk menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Fasilitasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) dan Prekursor Narkotika di Provinsi Jakarta.

Rapat tersebut berlangsung di Ruang Rapat Bakesbangpol Provinsi DKI Jakarta yang terletak di lantai 15 Gedung Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Selasa, 17 Dzulqa’idah 1444 (6/6/2023).

Kehadiran elemen pemuda tersebut menandai komitmen mereka dalam memerangi penyalahgunaan narkotika yang semakin mengkhawatirkan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

Ketua PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta, Adam Sukiman Langgu, mengatakan pihaknya siap untuk turut mensukseskan kegiatan yang menurutnya sangat positif tersebut.

Adam mengamini bahwa masalah narkotika menjadi ancaman serius bagi generasi muda terutama di Jakarta. Oleh sebab, kata dia, melibatkan unsur pemuda dalam pengentasannya merupakan terobosan menarik dan sangat progresif dari pemerintah kota dalam hal ini Kesbangpol.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Kesbangpol DKI Jakarta dalam menyelenggarakan kegiatan ini,” kata Adam.

Adam yang juga dai muda di Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) mengatakan penyalahgunaan narkotika di negeri ini terutama di Ibukota Jakarta telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan terutama di kalangan remaja.

“Oleh karena itu, sangat penting bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengadakan regulasi yang memadai guna mencegah dan membatasi peredaran dan penggunaan narkotika,” katanya.

Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta bergabung dengan berbagai organisasi pemuda lainnya, seperti Gerakan Pemuda Ansor DKI Jakarta, Pemuda Melayu DKI Jakarta, Pemuda Batak Bersatu DKI Jakarta, Srikandi Pemuda Pancasila DKI Jakarta, dan Wanita Kosgoro DKI Jakarta, dalam upaya bersama merumuskan naksah akademis Perda P4GN dan Prekursor Narkotika di Provinsi DKI Jakarta.

Adam menjelaskan, rapat persiapan FGD ini menjadi langkah awal yang penting dalam rangka menyusun rancangan peraturan daerah yang akan menjadi acuan dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Jakarta.

“Dengan kolaborasi antara berbagai organisasi pemuda yang berkomitmen dalam melawan narkotika, diharapkan langkah-langkah konkret dapat diambil untuk mengatasi masalah ini dan melindungi generasi muda dari bahaya penyalahgunaan narkotika,” imbuh guru madrasah ini.

Proses penyusunan Perda ini juga akan melibatkan stakeholder lainnya, termasuk unsur pemerintahan, lembaga penegak hukum, masyarakat, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Diharapkan dengan kerjasama antarorganisasi pemuda yang kuat, diharapkan langkah-langkah pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika di Jakarta dapat berhasil dilaksanakan.*/Yacong B. Halike

Meminta, Bersandar, dan Mengeluh Hanya kepada Allah

0

“ALLAH adalah Tuhan yang kepada-Nya segala sesuatu bergantung”. Demikianlah kurang lebih terjemahan dari kalimat singkat yang terdapat pada ayat ke-2 dari surah al-Ikhlas, yaitu ‘allahus shamad’. Kita pun pasti sudah sangat akrab dengannya.

Tampaknya, surah ini bersama surah al-Fatihah dan al-Mu’awwidzatain, termasuk bacaan yang paling sering dilafalkan kaum muslimin di seluruh dunia. Makna surah ini memang luar biasa, sehingga dalam Riwayat Bukhari dari Abu Sa’id, dan Muslim dari Abu Hurairah surah ini disebut sebagai sepertiga Al-Qur’an oleh Rasulullah.

Menurut Abu Bakr Ibnul Anbari (seorang pakar bahasa Arab, w. 328 H), kata ash-shamad berarti sayyid (tuan, pemimpin) yang tidak ada lagi yang lebih tinggi di atasnya, dimana semua orang bersandar kepadanya dalam segala urusan dan kebutuhan mereka.

Demikianlah pengertiannya secara bahasa. Alhasil, ketika sifat tersebut dilekatkan kepada Allah, berarti tidak ada lagi siapa pun atau apa pun di atas-Nya, dimana semua makhluk melabuhkan seluruh pengharapan dan keperluan mereka.

Dialah Allah Ta’ala sebagai puncak tertinggi, harapan utama dan terakhir, satu-satunya yang senantisa bisa diandalkan pada saat semua telah menyerah. Dan, sungguh siapa saja yang bersandar kepada-Nya tidak akan kecewa.

Ayat yang hanya terdiri dari dua kata tersebut mengajarkan kepada kita satu nilai penting yang tidak ada duanya dalam Islam. Bahwa semestinya hanya kepada Allah-lah kita bersandar, bergantung, menjadikan andalan.

Bukan bersandar kepada yang lain, entah yang kasat mata maupun gaib. Inilah inti tauhid. Ini pulalah yang semestinya kita pertajam dari waktu ke waktu, dan kita ajarkan pula kepada anak-anak dan murid-murid kita.

Perkara Utama dan Penting

Mengapa pembicaraan seputar masalah ini dirasa penting? Sebab, ada banyak fenomena memprihatinkan yang terjadi. Misalnya, anggapan bahwa profesi dan pekerjaanlah yang menjamin rezeki seseorang, sehingga masyarakat beramai-ramai menyerbu lowongan pekerjaan tertentu, atau pendidikan yang bisa mengantarkan kepada pekerjaan tertentu.

Sebagian mereka bahkan bersedia membayar “biaya siluman” hingga ratusan juta rupiah, hanya untuk memastikan dirinya diterima.

Sungguh, fenomena seperti ini tidak mungkin lahir kecuali dari lemahnya fondasi akidah tauhid, bahwa Allah-lah yang memberi rezeki, menentukan hidup dan mati, dan satu-satunya andalan bagi segala sesuatu. Bukan pemerintah, bukan universitas, bukan bank, bahkan bukan siapa pun atau apa pun selain Allah!

Sebetulnya, memilih pekerjaan apa saja bukanlah sebuah dosa, sepanjang tidak mengandung maksiat di dalamnya. Yang menjadi persoalan adalah keyakinan-keyakinan keliru yang tertanam di balik pilihan tersebut.

Dengan tanpa bermaksud untuk buruk sangka atau menggeneralisir, samar-samar sebenarnya kita bisa mencium aroma ketidakberesan akidah itu ketika membaca berita penipuan dan kasus suap-menyuap dalam seleksi pegawai negeri atau penerimaan siswa/mahasiswa baru.

Diceritakan bahwa dulu setiap kali memberi pembekalan tugas ke suatu daerah, Allahu-yarham Ustadz Abdullah Said (pendiri Hidayatullah) sering berpesan kepada para santri, kurang lebih demikian: “Allah di Papua adalah sama dengan Allah di Gunung Tembak!”. Nama daerah yang disebut terakhir adalah lokasi tempat Kampus Pusat Hidayatullah di Balikpapan (Kaltim) berada.

Artinya, jika doa-doa kita didengar serta dikabulkan oleh Allah di suatu tempat, maka di tempat lain pun demikian. Sebab, Dia adalah Tuhan di sini, juga Tuhan di sana. Bukankah seluruh jagad raya adalah milik-Nya semata?

Keyakinan inilah yang melecut semangat para santri untuk menembus rimba belantara, menyusuri sungai-sungai berliku, dan berupaya mendakwahkan Islam ke mana pun mereka ditugaskan.

Bekal keyakinan seperti inilah yang sesungguhnya tertanam dalam jiwa para da’i muslim di masa silam, semisal Wali Songo. Bayangkanlah bagaimana Wali Songo tertua, yaitu Syaikh Ibrahim Samarqandi yang berasal dari Uzbekistan (Asia Tengah) datang ke Tanah Jawa, lalu mengajarkan Islam kepada penduduknya yang mayoritas menganut Hindu, Buddha, atau Animisme.

Bayangkanlah kendala-kendala bahasa, budaya, makanan, iklim, dsb. Tetapi, bukankah Allah yang beliau sembah di Asia Tengah adalah Tuhan yang juga menguasai Tanah Jawa? Jadi, beliau tidak pernah merasa sendirian dan terasing, karena Allah selalu menyertainya, mendengar permohonannya, mengawasi gerak-geriknya, bahkan seandainya beliau mengembara hingga ke lubang semut sekali pun!

Oleh karenanya, betapa pentingnya menyemai serta mengukuhkan keyakinan semacam ini dalam jiwa kita, kemudian mewariskannya kepada generasi di belakang kita. Warisan harta bisa dengan mudah berakhir, entah karena dipergunakan, rusak, dicuri, diberikan, dibagi, dan seterusnya.

Warisan pekerjaan pun bisa saja tamat seiring pergantian zaman. Kita semua pasti mengerti, betapa banyak jenis pekerjaan atau usaha yang dulu ada namun kini telah punah atau di ambang kepunahan, seperti usaha wartel, atau tukang patri dan penjual minyak tanah. Pekerjaan dan bisnis yang kini mentereng bisa saja diabaikan suatu saat nanti.

Namun, jika anak-anak itu mewarisi keyakinan yang kukuh dari pendahulunya, maka kehidupan mereka tidak berguncang oleh ketiadaan orangtua, entah karena meninggal atau terpisah jarak dan tempat.

PHK atau mutasi pun tidak akan pernah menciutkan nyalinya, sebab mereka masih memiliki Allah yang tidak pernah mati dan selalu hadir.

Sampai kapan pun mereka hidup, sejauh mana pun mereka berkelana, sesulit apa pun persoalan yang membelit, mereka selalu bisa menengadahkan tangan dan seketika itu pula Allah mendengar doanya. Bukankah demikian? Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar