Beranda blog Halaman 337

BMH – SAI Tebar Quran untuk Santri Hidayatullah Bulukumba

BULUKUMBA (Hidayatullah.or.id) — BMH bersama Lembaga Sahabat Anak Indonesia (SAI) tebar mushaf Al Qur’an kepada santri Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bulukumba, Garanta, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu (22/7/2022).

Direktur Lembaga Sahabat Anak Indonesia, Musliadi Raja, mengatakan tebar Al-Qur’an ini dilakukan dalam rangka membumikan Al-Quran serta menambah semangat para santri dalam menghafal Al-Qur’an. Kegiatan didukung penuh oleh Laznas BMH.

“Kebetulan juga mushaf Al Quran yang ada di pondok ini kebanyakan sudah lusuh karena dipakai secara bergantian, sehingga kita sediakan stok mushaf baru untuk para santri dan juga jamaah masjid,” kata Musliadi yang juga Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah ini.

Lembaga Sahabat Anak Indonesia didirikan sebagai alternatif sistem pendidikan dan pemberdayaan anak, utamanya bagi anak dari warga masyarakat kurang mampu (dhuafa).

Selain SAI sebagai tempat pembentukan karakter dan sikap untuk Anak Indonesia sebagai suatu sistem pembinaan dan pemberdayaan, Departemen Sosial DPP Hidayatullah saat ini sedang menggodok sistem pengelolaan panti asuhan yang terstandar.

Departemen Sosial DPP Hidayatullah saat ini juga menggulirkan 2 hal mendasar yaitu penguatan database system panti asuhan Hidayatullah dan pemantapan Jaminan Sosial Kader (Jamsoskad) yang sudah mulai bergulir sebagai upaya penyelenggaraan jaminan sosial bagi semua kader.

Musliadi menargetkan, pada periode ini kedua hal tersebut sudah tuntas dan berjalan sebagaimana mestinya. (ybh/hio)

“Wahai Dai, Inilah Perniagaan Kita Kepada Allah”

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah, Ust Nursyamsa Hadis, mengatakan di hadapan para dai Hidayatullah se-Sumatera bahwa menjadi dai adalah pilihan sadar kita semua.

“Ini adalah pilihan yang benar. Tinggal bagaimana kita mempertahankan konsistensinya,” jelas Nursyamsa dalam acara pembukaan Rakor Dakwah dan Dauroh Mualim Hidayatullah se-Sumatera dengan tema Sentralisasi, Standardisasi, dan Integrasi Sistemik untuk Sukses Gerakan Dakwah Hidayatullah Nasional di Pekanbaru, Riau, Kamis, 29 Dzulhijjah 1443 (28/7/2022).

Pilihan menjadi dai, jelas Nursyamsa lagi, akan menjadi modal besar perniagaan kita kepada Allah Ta’ala. Perniagaan ini tak akan pernah merugi dan kita akan menerima hasil perniagaannya di dunia, terlebih lagi di akhirat.

Selanjutnya, Nursyamsa berpesan agar dai harus mencetak sejarah. Caranya, tinggal dan berdakwahlah di tempat-tempat terpencil, terluar, atau di tempat minoritas. Di sana, para dai bisa membangun masjid, mendirikan Rumah Qur’an, atau pesantren, sehingga masyarakat bisa merasakan nikmatnya ber-Islam.

“Kalau mau merasakan cepatnya pertolonga Allah, maka berdakwalah di daerah-daerah pedalaman, terasing, atau minoritas. Di sana tantangannya luar biasa. Para ustadz sudah merasakan hal itu,” tutur Nursyamsa lagi.

Sementara itu ketua panitia acara, Ust Muhammad Ihsan Taufik menjelaskan bahwa ada 65 dai dari berbagai provinsi di Sumatera yang ikut dauroh dan rakor ini. Acara akan berlangsung selama empat hari, yakni Kamis (28/7) hingga Ahad (31/7).

Di Riau sendiri, kata Ihsan yang juga ketua Pos Dai wilayah Riau, mereka telah membentuk Relawan Dai Muda yang tugasnya memfasilitasi anak-anak muda untuk ikut berdakwah. Jumlah relawan saat ini mencapai 150 orang. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi.

Setiap pekan, mereka berbagi nasi bungkus. Pernah juga mereka mendatangi masyarakat di Pulau Rupat dan Rokan Hilir untuk berbagi makanan. “Mereka senang sekali ikut berdakwah bersama kami, dan kami juga senang mengajak anak-anak muda terjun langsung dalam dakwah,” jelas Ihsan.

Selain itu, PosDai Riau juga membangun Sekolah Dai yang peresmiannya dilakukan bersamaan dengan acara pembukaan Rakor dan Dauroh pada Kamis (28/7). Peresmian dilakukan oleh Ust Nursyamsa Hadis. */Mahladi

Wakil Ketua DPRD Kaltim Apresiasi Kiprah Hidayatullah Bangun SDM

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur Muhammad Samsun mengapresiasi kiprah dan langkah Hidayatullah dalam perannya membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul, beriman, dan tertakwa.

“Kita dukung pembinaan SDM di Kaltim terutama di bidang spiritual dan pendidikan,” katanya saat menerima kunjungan silaturrahim rombongan perwakilan Pondok Pesantren Hidayatullah dan LPI Luqman Al-Hakim Hidayatullah Balikpapan di Ruang Kerjanya, Kantor DPRD Kaltim, Jalan Teuku Umar, Kota Samarinda, Selasa, 27 Dzulhijjah 1443 (26/7/2022).

Pondok Pesantren Hidayatullah yang berada dibawah ormas Hidayatullah memiliki cabang di berbagai daerah ini, sebut Samsun, mempunyai visi misi yang kuat dalam peningkatan dan kesejahteraan pendidikan keagamaan. “Sehingga, kita support semaksimal mungkin,” tukasnya.

Tujuan dari kunjungan ini yaitu untuk mempererat silaturahmi dan mengajukan permohonan anggaran untuk pengembangan yayasan dan pondok pesantren di Kota Balikpapan.

Menurut pria kelahiran Jember berusia 48 tahun itu, wajar saja perwakilan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan ini menemui wakil rakyat ketika membutuhkan pendanaan dan dukungan APBD. “Sebab, kita punya hubungan yang baik sejak lama dengan ustadz dan pengasuh ini,” jelasnya.

Hal itu dibenarkan Ali Sarwanto yang merupakan Humas Sekolah Islam Terpadu Hidayatullah Balikpapan. “Pagi ini kita bersilaturahmi sekaligus minta dukungan untuk meningkatkan pembangunan SDM agar lebih baik lagi,” bebernya.

Dalam kesempatan itu, ia memaparkan bahwa pihak yayasan baru saja menyelesaikan pembangunan SMA Integral Luqman Al-Hakim di Balikpapan. “Jumlah murid saat ini sudah 107 dari kapasitas asrama sekitar 108 orang,” terangnya.

Dengan kapasitas tersebut, pihak yayasan merasa perlu adanya penambahan satu gedung agar dapat menerima lebih banyak murid.

“Semoga terealisasi permohonan kami di tahun 2023, Insha Allah siswa kami bisa ditambah 75 orang lagi bila terealisasi,” katanya.

Bukan tanpa alasan permohonan tersebut diajukan, namun melihat situasi ke depannya bahwasanya Balikpapan merupakan salah satu kota penyanggah Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. “Tentunya, harus ada sekolah yang bisa menampung banyak murid,” paparnya.

Harapannya, tidak hanya menjadi sekolah yang memiliki kapasitas besar. Akan tetapi, sekolah ini dibangun untuk menciptakan generasi bertauhid dan berperadaban unggul. “Semoga bisa membawa manfaat bagi kemajuan bangsa dan Negara,” harapnya.*/Fatih

[Khutbah Jumat] Hijrah Menuju Iman Paripurna dan Doa Muslim Uyghur

Sebentar lagi kaum Muslimin memasuki tahun baru 1444 hijriah. Momentum tahunan yang mengingatkan kita pada sejarah maha dahsyat, yaitu peristiwa hijrah Rasulullah saw bersama sahabatnya dari Makkah ke Madinah. Sebuah peristiwa yang menjadi tonggak kebangkitan peradaban Islam yang kemudian menjadi rahmat bagi seluruh alam. Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), berikut selengkapnya:

Hari Khutbah Internasional Stand4Uyghurs: Teruslah Kuatkan Saudara Kita, dengan Apa pun yang Kita Bisa!

“Ketika mereka memukuli saya, saya berteriak ‘Ya Allah!’ Hal itu justru membuat mereka semakin memukuli saya, dan mengejek saya dengan mengatakan, ‘Pergi dan temukan tuhanmu, sana!’”

Itu adalah kata-kata saudari perempuan Anda, Zumrat Dawut, yang menggambarkan apa yang terjadi padanya di sebuah kamp konsentrasi di Turkistan Timur yang diduduki Cina, yang juga disebut sebagai Xinjiang.

Ia adalah satu di antara banyak Muslimah Uyghur pemberani yang memberikan kesaksian atas kejahatan rezim komunis Cina, di sebuah pengadilan yang diadakan di Westminster, London, beberapa pekan lalu.

Apa yang dialami saudari kita ini menjadi pelajaran yang sangat penting bagi kita semua.

Anda lihat, banyak dari kita yang sadar betul akan genosida yang masih terus terjadi terhadap saudara dan saudari Uyghur kita. Adanya kamp konsentrasi, kerja paksa, pengambilan organ tubuh, pemisahan anak dengan orang tua, sterilisasi paksa, penyiksaan, pemerkosaan, penghancuran masjid, pembakaran Al-Qur’an, kamp indoktrinasi atheisme, dan masih banyak lagi.

Para peneliti, kelompok hak asasi manusia, dan wartawan telah mengungkap dan membongkar bukti-bukti kejahatan genosida terhadap Muslim Uyghur dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu hambatan terbesar untuk membantu saudara dan saudari Uyghur kita adalah perasaan tidak berdaya yang coba dihasutkan syaithan ke dalam diri kita.

“Apa yang bisa kita lakukan melawan negara besar dan adidaya seperti Cina? Bagaimana bisa seorang individu melawan negara tersebut?”

Pelajaran penting dalam kisah saudari Zumrat Dawut adalah apa yang dilakukan seorang pria untuk membantunya. Ketika dia disiksa di kamp konsentrasi selama lebih dari 60 hari, suaminya, yang merupakan warga negara Pakistan, mengancam para pejabat Cina bahwa dia akan mengungkapkannya ke media. Dan coba tebak—Zumrat Dawut kemudian dibebaskan.

Ini adalah pelajaran penting tentang besarnya kekuatan yang kita semua miliki, namun kebanyakan dari kita tidak menyadarinya.

Para tokoh senior dalam gerakan keadilan untuk Uyghur terus-menerus menyebutkan satu hal: bahwa umat Islam—di mana pun mereka berada—memiliki kekuatan dan pengaruh yang luar biasa dalam hal membantu Uyghur.

Langkah pertama adalah kita harus menyadari bahwa Allah telah memberi kita potensi yang luar biasa. Tidak boleh ada Muslim yang mengatakan: “Saya hanya seorang diri. Apa yang bisa saya lakukan?”

Mengapa?

Pertama, karena anggapan seperti itu mengabaikan tujuan utama kita hidup di dunia ini: yakni beribadah kepada Allah, dengan semata mengharapkan ridha Allah Ta’ala. Termasuk di dalamnya menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Kita tidak bertanggung jawab atas hasilnya bagaimana, melainkan kita harus memastikan bahwa kita telah bertindak dengan benar dan ikhlas untuk Allah.

Allah mengisahkan kepada kita tentang Bani Isra’il yang diuji dengan sebuah perintah. Mereka yang melanggar perintah Allah dihukum, sementara mereka yang menaati perintah Allah terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok berkata kepada yang lain:

Allah berfirman, yang artinya “Mengapa kamu masih menasihati [atau memperingatkan] suatu kaum yang Allah [akan] hancurkan atau mengazab dengan siksaan yang berat?”

Apa gunanya? Mengapa kamu membuang-buang waktumu, padahal Allah akan membinasakan orang-orang yang zalim tersebut? Jawaban kelompok kedua harus terpatri di hati kita, karena itulah dasar dari perjuangan dan dakwah kita:

“Agar diberi ampunan di hadapan Tuhanmu dan mudah-mudahan mereka menjadi takut kepada-Nya.” (QS Al-A’raf: 164)

Ketika ketidakadilan terjadi, itu merupakan ujian bagi kita semua. Tujuan utama kita adalah untuk lulus dalam ujian tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR Muslim, no.49).

Tidak ada pilihan keempat, yakni mengabaikannya karena merasa tidak mampu mengubahnya, bagi orang beriman. Sebagaimana kisah Bani Isra’il tadi, tujuan utama kita adalah “untuk mendapat ampunan di hadapan Allah” sehingga pada Hari Pembalasan, kita dapat mengatakan bahwa setidaknya kita telah mencoba melakukan apa yang kita bisa. Dan “mungkin mereka akan menjadi takut akan azab-Nya”; artinya, bisa jadi kita mampu mencapai hasil yang kita inginkan. Akan tetapi, bagian itu kita serahkan kepada Allah.

Itulah alasan pertama seorang Muslim tidak boleh berkata, “Apa yang bisa saya lakukan? Saya hanya seorang diri.”

Masalah kedua dari pernyataan itu adalah bahwa pernyataan tersebut benar-benar salah—bahkan jika Anda benar-benar hanya seorang diri. Sebagaimana suami Zumrat Dawut, kita pun bisa membuat perubahan.

Dengan kata lain, hanya karena kita tidak bisa memecahkan masalah secara penuh, bukan berarti kita lalu berdiam diri. Allah tidak akan bertanya kepada kita, mengapa kita tidak membebaskan Palestina, misalnya. Karena hal itu bukan dalam lingkup kemampuan kita.

Akan tetapi, bukankah kita masih bisa berbicara dengan anggota parlemen lokal tentang hal itu? Atau meningkatkan kesadaran orang-orang di sekitar kita, atau menyumbangkan sebagian harta untuk membantu perjuangan mereka, dan seterusnya.

“Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali [menurut] apa yang telah Dia berikan kepadanya.” (Terjemah QS Ath-Thalaq: 7)

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham.“ Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau jelaskan, “Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR An Nasai no. 2527 dan Imam Ahmad 2: 379. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Akan tetapi, hal yang menakutkan adalah bahwa hal yang sama juga berlaku untuk dosa dan hukuman. Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

“Ada tiga golongan manusia yang tidak diajak bicara oleh Allah di Hari Kebangkitan, Allah tidak akan menyucikan, atau bahkan tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: orang tua pezina, raja pembohong, dan orang miskin yang angkuh.”

Ketiga golongan ini mendapat kehinaan sedemikian rupa karena dengan kondisi mereka yang sudah seperti itu, namun masih saja melakukan dosa, akibat begitu rusaknya jiwa mereka.

Seorang lelaki tua semestinya memiliki hasrat dan keinginan yang jauh lebih sedikit untuk melakukan zina; seorang miskin seharusnya tidak memiliki apa-apa untuk disombongkan; dan seorang raja tentu tidak perlu berbohong kepada siapa pun.

Mengapa kami menyebutkan ini?

Bayangkan betapa marahnya kita kepada para penguasa maupun politisi Muslim dan orang-orang berpengaruh yang tidak melakukan hal-hal untuk membantu saudara-saudari Uyghur kita, yang tidak berbicara di panggung global mereka, maupun mengajak orang lain untuk melakukan hal tersebut.

Anda mungkin menyebut mereka pengkhianat, munafik, dan sebagainya. Sekarang bayangkan bahwa Anda dan mereka dibangkitkan bersama-sama secara setara pada Hari Pembalasan!

Itu adalah hal yang tentu menakutkan, tetapi sangat mungkin terjadi jika kita tidak melakukan apa pun untuk membantu saudara-saudari kita—bahkan jika kita menganggapnya kecil secara materi. Allah yang menilai kita, tahu persis seberapa banyak kemampuan yang telah kita berikan.

Bisa jadi dengan kepedulian kita kepada saudara-saudari Uyghur tersebut, Allah akan membangkitkan kita setara dengan para pahlawan besar masa lalu yang membebaskan banyak negeri maupun yang telah menghabiskan banyak harta di jalan Allah.

Karena, satu dirham bisa mengalahkan 100.000 dirham…

===================================================

Mengingat fakta bahwa kita tidak boleh meremehkan upaya apa pun yang dilakukan dengan ikhlas, betapa pun kecilnya, lantas apa saja yang dapat kita lakukan untuk saudara-saudari kita yang sedang mengalami genosida?

Saat ini, masjid di seluruh dunia membicarakan hal yang sama sebagai bagian dari Hari Khutbah Internasional Stand4Uyghur untuk membela dan menolong keluarga-keluarga Uyghur kita.

Ahad 31 Juli besok, akan ada umat Islam yang berdiri dan mengucapkan kalimat-kalimat kebenaran di depan kedutaan besar Cina di London, Manchester, Edinburgh, Brisbane, Sydney, Toronto, Washington DC, Istanbul, Afrika Selatan, dan banyak lagi, In syaa Allah.

Saudara-saudari Uyghur kita telah meminta kita untuk berdiri membela mereka hanya selama satu hari dalam setahun, supaya kita terus memberi tekanan kepada Cina dan menunjukkan bahwa mereka yang menjadi sasaran genosida itu memiliki miliaran saudara-saudari yang akan membela hak-hak mereka.

Tahun lalu ketika umat Islam berkumpul di depan Kedutaan Besar Cina di London dan Manchester, orang-orang Uyghur merasa lega bahwa; Alhamdulillaah umat Islam terus bersama mereka. Dukungan moral dan solidaritas mereka rasakan untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Mereka mengatakan bahwa Partai Komunis Cina menjadi sangat takut sehingga untuk pertama kalinya dalam 4-5 tahun terakhir mereka terpaksa membuka masjid di Turkistan Timur untuk shalat Idul Fitri, dan memaksa orang untuk masuk untuk mengambil gambar, meski dengan tujuan propaganda!

Salah satu bisikan syaithan paling beracun adalah ketika dia datang kepada umat Islam yang sedang menderita dan mengatakan bahwa umat Islam telah melupakan mereka.

Ini adalah kesempatan kita untuk menghabiskan hanya beberapa jam dari begitu banyaknya waktu yang telah Allah berikan kepada kita, untuk menggunakan kebebasan kita dalam berbicara dan bersolidaritas, serta memberikan dukungan moral kepada saudara-saudari Uyghur kita, dan secara terbuka mengutuk kejahatan dengan lidah kita, sebagaimana perintah Nabi Shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang disebutkan sebelumnya.

Ini adalah hal pertama yang bisa kita semua lakukan–memberikan dukungan moral. Jangan pernah meremehkan hal ini. Bahkan Allah berkali-kali memberikan dukungan moral kepada Nabi Shallallaahu ‘alayhi wa sallam ketika beliau dianiaya dan diserang, dalam QS Al-Qalam 1-4:

“Nuun. Demi pena dan apa yang mereka tulis,

Engkau, [Oh Muhammad], dengan nikmat Tuhanmu, bukanlah orang gila.

Dan sesungguhnya bagimu pahala yang tiada putus-putusnya.

Dan sungguh, kamu memiliki akhlak yang agung.”

Selain dukungan moral secara fisik, kita juga dapat menunjukkan dukungan moral melalui media elektronik, dan membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan penderitaan mereka.

Gerakan Stand4Uyghurs ini telah menyediakan sumber informasi bagi kita semua untuk mendapatkan pengetahuan tentang apa yang terjadi pada saudara-saudari Uyghur kita, serta berbagai konten multimedia untuk dibagikan di media sosial kepada keluarga dan teman kita.

Mari kita semua membuat komitmen untuk berbagi informasi tentang saudara-saudari Uyghur kita, sedikitnya sehari sekali.

Hal ketiga yang bisa kita semua lakukan saat ini adalah berdoa kepada Allah untuk melindungi dan menjaga iman saudara-saudari Uyghur kita, yang telah diserang selama beberapa dekade.

Carilah waktu-waktu mustajab ketika doa lebih dicintai Allah, seperti pada hari Jumat, waktu antara azan dan iqamat, ketika puasa, ketika bepergian, di sepertiga malam terakhir, dan sebagainya.

Semoga Allah menolong saudara dan saudari Muslim kita di Turkistan Timur, mengampuni kita atas kekurangan kita dalam menolong dan membela mereka, serta membangunkan dan menguatkan umat kita untuk membela mereka. Gerakan Stand4Uyghurs ini akan menyediakan lebih banyak contoh dan materi untuk aksi yang kita semua dapat lakukan In syaa Allah.

Termasuk melobi para politisi, lembaga publik, dan tokoh masyarakat untuk mendukung tindakan hukum terhadap para pejabat Cina, memutus hubungan antara perusahaan milik negara Cina dengan universitas yang mengembangkan berbagai teknologi yang digunakan untuk menindas warga Uyghur, serta lebih banyak lagi.

Kita semua memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada saudara dan saudari Uyghur kita bahwa kita tidak akan tinggal diam di saat orang-orang mengurung mereka di kamp konsentrasi, mengambil rambut dan organ mereka, memperbudak dan menyiksa mereka, maupun hal-hal yang jauh lebih buruk lagi.

Kita tidak akan duduk diam, melainkan akan hadir dalam jumlah yang banyak In syaa Allah, pada tanggal 31 Juli untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan moral kepada mereka.

Jangan remehkan kekuatan amal yang ikhlas, meski mungkin kecil secara materi; ingatlah bahwa tujuan utama kita adalah untuk meraih ridha Allah dan dibebaskan dari kesalahan-kesalahan kita, ketika nanti bertemu dengan-Nya.

Sumber: Islam21c.com yang diterjemahkan oleh Sahabat Al Aqsha

BMH Bantu Bangun Asrama Pesantren Hidayatullah Savana Jaya Namlea

AMBON (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH dengan jaringan di seluruh Tanah Air terus menghadirkan kebaikan dalam ragam bentuk bantuan penyaluran dari penghimpunan dana zakat, infak dan sedekah.

“Alhamdulillah BMH Maluku terus memberikan dukungan untuk pengembangan dan kemajuan lembaga pendidikan, khususnya pesantren. Tepatnya Pesantren Hidayatullah Savana Jaya yang berada di Pulau Buru, Namlea, Maluku,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Maluku, Ali Ikrom Tihurua, beberapa waktu lalu, 22 Dzulhijjah 1443 (21/7/2022).

Pesantren Hidayatullah tersebut telah berdiri di Namlea sejak 2016. Dan, sampai sekarang telah banyak kegiatan berlangsung, seperti pendidikan dan sosial.

Ali Ikrom mengatakan, sampai sekarang masih ada beberapa hal yang penting dan belum ada, seperti asrama permanen untuk santri. Sekarang para santri tinggal di asrama sementara.

“Padahal sejak berdiri sampai sekarang banyak anak-anak dari beberapa pulau menimba ilmu di sini, seperti dari Pulau Geser, Tual, dan Pulau Seram,” imbuh Ali Ikrom dalam keterangannya.

Pengurus pesantren, Ustadz Ahmad Fatih Helut menjelaskan bahwa pesantren yang berada di Desa Savana Jaya, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru itu telah banyak mendapat perhatian dari BMH.

“Kami selaku pengurus pesantren menyaksikan dan merasakan betul bagaimana kontribusi BMH dalam pembangunan dan pendidikan santri di sini. Memang yang sangat kami idamkan sekarang adalah hadirnya asrama santri yang permanen,” tegasnya.

Menuju ke pesantren ini tim BMH harus menempuh perjalanan dengan waktu tempuh sembilan jam menggunakan kendaraan laut berupa kapal fery.

“Insya Allah BMH akan terus memberikan perhatian dan dukungan terhadap pesantren ini, terlebih para santri umumnya berasal dari keluarga dhuafa, yatim dan yatim piatu,” tutup Ikrom.*/Herim

CFW dan Momen Hari Anak, Ketum Pemuda Hidayatullah Suarakan Pendidikan Adab

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pendidikan adab dan akhlak bangsa menjadi hal penting yang harus menjadi perhatian pemerintah sebagaimana telah diamanatkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Mas Imam Nawawi.

“Pendidikan adab dan akhlak harus menjadi arus utama pendidikan bangsa ini. Termasuk bagaimana lingkungan menerapkannya dengan baik,” kata Imam dalam forum bincang pemuda memperingati Hari Anak Nasional di kantor PP Pemuda Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista Polonia, Jatinegara, Jakarta, Rabu, 28 Dzulhijjah 1443 (27/7/2022).

Sebagaimana amanat konstitusi, menurut Imam, pemerintah berkewajiban menguatkan tujuan pendidikan nasional untuk kembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menekankan pendidikan nasional juga harus diorientasikan untuk menegakkan akhlak mulia, melahirkan generasi yang sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Mas Imam juga menyoroti isu kekinian kaitannya generasi muda dengan fenomena gaya hidup seperti Citayam Fashion Week (CFW) yang banyak disoroti belakangan ini.

Menurut Imam, fenomena seperti CFW di satu sisi merupakan pemanfaatan ruang publik untuk berinteraksi, namun di sisi lain ia merupakan buah kreatifitas yang bias karena berangkat dari gimmick belaka yang tampaknya kehilangan nilai dan jatidiri sebagai bangsa yang berketuhanan.

“Namun kita harus mendukung segala bentuk ide dan kreatifitas anak muda dengan mengarahkan mereka sebaik baiknya pada pemahaman tentang pentingnya menerapkan nilai nilai ketuhanan,” kata Imam.

Di sisi yang lain, terang Imam, generas muda Islam harus melihat bahwa campaign kebaikan bisa dilakukan dengan cara yang ringan, santai, sederhana, dan dikemas secara fun tanpa kehilangan identitas fundamennya. “Dengan begitu, ia bisa diikuti dengan mudah terutama bagi anak anak yang membutuhkan pencerahan,” katanya.

Masalah kenakalan dan kekerasan anak juga tak luput dari sorotan Imam, khususnya praktik perundungan (bullying) anak yang masih acapkali terjadi. Ia mengajak seluruh pihak menjaga anak-anak secara bersama-sama dari perundungan, terutama orangtua, pendidik, sekolah dan masyarakat.

“Perilaku itu (bullying) kalau kita mau timbang pakai Pancasila, jelas tidak baik. Lebih-lebih kalau menurut Islam, itu sangat-sangat tidak baik. Tapi apakah bisa anak-anak selamat dari perundungan saat orang dewasa utamanya pada ruang media sosial justru tidak menampilkan teladan kebaikan,” katanya.

Karenanya, kalau perlu media masa tidak lagi menampilkan berita yang isinya hanya soal bantah-membantah dan pertengkaran yang tak sepatutnya masuk ruang publik yang anak-anak juga ada di sana.

“Termasuk adab dalam media sosial, satu sama lain jangan ada lagi baku balas komentar dengan kalimat atau pun diksi-diksi yang saling menjatuhkan,” tukasnya.

Imam mengakui perkara ini tidak mudah diatasi terlebih kadangkala budaya olok-mengolok saja tidak terjadi pada anak-anak semata. Kadang ada cekcok bahkan tindakan membunuh karena olok-olokan pada kalangan orang dewasa.

Ia menegaskan bullying tak dapat diabaikan karena memberi dampak serius. Apalagi berbagai peristiwa terjadi karena bullying sudah cukup terang bagaimana dampak itu menjalar hingga ke psikis dan kesehatan bahkan nyawa.

Anak korban bullying akan mengalami dampak serius meliputi beberapa hal seperti cemas, merasa sendiri, rendah diri, tingkat kompetensi sosial yang rendah, depresi, simptom psikomatik, penarikan sosial, keluhan pada kesehatan fisik, pergi dari rumah, terjerembab pada alkohol dan obat, bunuh diri dan penurunan performansi akademik.*/Yacong B. Halike

Inilah 4 Orang Jahat di Mata Allah

ADA banyak kriteria kejahatan. Namun, seringkali semua itu hanya fenomena luar dari kejahatan yang sebenarnya, yakni apa yang tersimpan di dalam hati dan pikiran pelakunya.

Ketika membicarakan kejahatan manusia, Allah tidak hanya menunjuk perbuatan fisik, namun juga memperlihatkan sebab-sebab internal yang melatarinya.

Nah, siapakah orang-orang jahat di mata Allah itu? Apa sajakah tanda-tanda mereka? Mari sejenak merenungkan pesan-pesan Allah tentang mereka, agar kita bisa menghindarinya.

Dalam Al Quran surah al-Muddatsir: 43-47, Allah mengisahkan penyesalan orang-orang jahat itu, ketika mereka telah tercebur ke dalam neraka.

Saat ditanya apa yang menyebabkan mereka masuk neraka, “Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan. Hingga datang kepada kami kematian.”

Ayat-ayat ini merekam benih-benih utama segala kejahatan yang mereka perbuat di dunia ini, sehingga menyebabkan mereka masuk neraka.

Pertama, tidak mengerjakan shalat.

Dalam Islam, shalat merupakan pilar utama agama (‘imadu ad-diin), dimana agama ini takkan eksis tanpanya. Shalat juga menjadi simpul Islam (‘uro al-Islam) yang paling akhir, dimana jika ia lepas terurai dalam diri seseorang, maka lenyap pulalah seluruh ciri keislaman dari dirinya.

Shalat adalah cermin hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Ketika para penghuni neraka Saqar mengakui bahwa mereka tidak shalat selama di dunia, itu berarti hubungan mereka dengan Allah sangat buruk.

Kalau tidak tergolong sebagai musuh Allah, minimal mereka adalah orang yang tidak pernah memperdulikan Allah dalam hidupnya. Mereka ini orang-orang yang tidak beragama, atau tidak memperdulikan agama dalam kehidupannya. Sehingga, akar-akar kebaikan pun telah tercerabut dari jiwanya. Merekalah sejahat-jahat makhluk.

Kedua, tidak memberi makan orang-orang miskin.

Pengakuan ini juga menjadi ciri lain yang umum berlaku para diri calon penghuni neraka: hubungan mereka dengan sesama manusia yang sangat buruk. Mereka hidup hanya untuk dirinya sendiri. Egois dan individualis.

Jika memiliki harta, hanya untuk ego dirinya sendiri. Jika memiliki kekuasaan, hanya untuk memuaskan ambisi pribadinya. Jika memiliki ilmu, hanya untuk kebanggaan individualnya.

Sebaliknya, Al-Qur’an sangat sering menonjolkan ciri keimanan dengan keperdulian kepada kaum lemah dan tertindas, kesediaan berbagai, sekaligus memperlihatkan perilaku kekufuran sebagai menindas dan zhalim kepada sesamanya.

Islam tidak melarang orang memiliki harta, namun mencela orang-orang yang egois dan tidak mau berbagi. Jika keinginan berbuat kebaikan kepada sesama telah mati dari hati, apakah lagi yang bisa bersemi dan tumbuh di dalamnya, selain rayuan iblis?

Ketiga, mempermainkan Al-Qur’an, Islam atau Rasulullah.

Mereka senang duduk-duduk berkumpul bersama membicarakan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Dalam menyikapi Al-Qur’an, mereka senang untuk berolok-olok dan bermain-main. Terhadap Rasulullah pun tidak tampak kecintaan maupun sikap ta’zhim (penghormatan).

Ketika membahas Islam, tidak ada keinginan sejati untuk beramal. Terkadang, secara terbuka mereka akan sangat terganggu mendengar bacaan Al-Qur’an atau kutipan hadits Rasulullah. Mereka juga tidak suka melihat sunnah-sunnah yang diamalkan.

Jika secara lahiriah saja mereka begitu sangat membencinya, maka jangan harapkan hati mereka rela mengamalkannya. Na’udzu billah!

Keempat, menolak adanya Hari Pembalasan.

Padahal, fokus indzar para Rasul adalah meyakinkan umat akan adanya akhirat dan kewajiban kita untuk mempersiapkan kedatangannya, baik dengan atau tanpa argumen. Sebab, masalah akhirat dan hal-hal ghaib lainnya hanya tergantung iman, bukan bukti, dalil, maupun hujjah.

Kalau saja akhirat tidak ada, maka agama pun tidak lagi perlu. Inilah inti keyakinan orang-orang jahat itu, bahwa akhirat tidak ada, dan – bila perlu – Tuhan pun tidak usah ada. Supaya mereka bisa hidup bebas semau-maunya!!

Ini adalah empat induk kejahatan manusia. Perhatikanlah seperti apa karakter orang-orang jahat ini. Sejak awal, hubungan mereka dengan Allah sangat buruk, bersikap egosentris dan individualis, suka mempermainkan agama dan hal-hal yang berhubungan dengannya, lalu terakhir mereka tidak mempercayai Hari Kebangkitan. Entahlah, manakah dari keempat penyakit ini yang paling parah dan lebih dahulu muncul. Jelasnya, semua buruk.

Ketika mengomentari ayat ini, ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Adakah Anda melihat dalam diri orang-orang ini suatu kebaikan pun? Ingatlah, tidak tersisa kebaikan sedikipun bagi orang yang di dalam dirinya ada (empat perkara) ini.”

Benar. Jika dalam hidupnya seseorang tidak lagi memperdulikan Tuhan, ia pasti hanya menuruti hawa nafsunya. Apakah yang bisa diharapkan dari seseorang yang hanya memperturutkan hawa nafsu?

Jika ia enggan berbuat baik kepada orang lain, mungkin jiwanya telah mati. Terlebih, bila ia tidak memiliki penghormatan yang semestinya kepada Al-Qur’an dan Rasulullah. Lalu, ia menolak Hari Pembalasan. Hidupnya hanya untuk dunia, dunia dan dunia!!

Tentu saja, dapat diasumsikan, jika ada cacat pada salah satu dari empat pokok persoalan di atas, kemungkinan besar akan diiringi dengan ketidaksempurnaan pada aspek lainnya.

Keempat aspek itu adalah: ibadah yang tersimpul dalam shalat; kepekaan sosial yang terangkum dalam memberi makan kaum miskin; pengagungan terhadap pokok-pokok agama; lalu mengimani Hari Kebangkitan. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Muslimat Hidayatullah Kuatkan Silaturrahim dengan Wanita Al-Irsyad

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Perkuat ukhuwah, Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah jalin silaturahmi dengan Pengurus Besar (PB) Wanita Al-Irsyad di kantor pusat PB Wanita Al-Irsyad, Jl. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta pada Rabu, 21 Dzulhijjah 1443 (20/07/2022).

Silaturrahim rombongan PP Muslimat Hidayatullah ini hadir Sekretaris Jenderal Sarah Zakiyah, Kabid Organisasi Dede Agustina, Kabid Tarbiyah Marsiti, Departemen Hubungan Antar Lembaga Wulansari, dan Humas Arsyis Musyadahah.

“Pertemuan kali ini tidak hanya sekadar pertemuan biasa, bukan sekadar pertemuan antar raga saja, tapi kita berharap silaturahmi ini akan menautkan hati. Semoga kita bisa menjalin sinergi, saling mewarnai dan saling melengkapi,” tutur Ketua Bidang Organisasi PP Muslimat Hidayatullah, Dede Agustina.

Dalam kesempatan yang sama, Sarah Zakiyah, mengucapkan syukur dan rasa terima kasihnya atas sambutan PB Wanita Al-Irsyad yang luar biasa pada silaturahmi kali ini.

“Mushida merupakan organisasi pendukung yang berinduk pada ormas Islam Hidayatullah yang dideklarasikan pada tahun 2000 bertepatan dengan Musyawarah Nasional Hidayatullah pertama di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur,” urainya dalam mengenalkan Muslimat Hidayatullah di hadapan peserta yang hadir.

Harapannya dengan momentum ini, lanjut Sarah, ukhuwah terjalin semakin kuat, saling melembutkan hati hingga dapat bersinergi dalam membangun ketahanan keluarga.

“Hati yang saling bertaut dan komunikasi yang intens dapat saling melengkapi satu sama lain dan saling mendukung,” imbuh Kepala Sekolah SMP Integral Putri Hidayatullah Depok ini.

Ia lantas mengitup perkataan Rasulullah dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim: “Ruh-ruh itu (seperti halnya) tentara yang direkrut, yang saling mengenal satu sama lain akan saling menyesuaikan, sedangkan yang bertentangan akan terpecah satu sama lain”.

Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga PP Muslimat Hidayatullah, Wulansari, menambahkan bahwa menjalin hubungan baik dengan sesama manusia merupakan salah satu tanda ketakwaan seorang hamba kepada Rabb-Nya.

Sebagai informasi, Wanita Al-Irsyad adalah organisasi wanita Islam yang merupakan badan otonom dari Jam’iyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah sejak tahun 1939.

Dalam sambutannya Ketua Umum PB Wanita Al-Irsyad, Fahimah Abdul Kadir Askar, mengucapkan ahlan wa sahlan.

Fahimah memperkenalkan pengurus yang hadir, lalu menguraikan beberapa program Wanita Al-Irsyad di antaranya peduli bencana alam, menjalin kerja sama internal maupun eksternal.

Beragam program Wanita Al Irsyad lainnya adalah membuat Kurikulum TK Al-Irsyad, pembinaan rutin di rumah tahanan wanita Pondok Bambu Jakarta, layanan konsultasi, dan sekolah ibu muda.

“Semoga silaturahmi ini dapat menjalin ukhuwah yang erat, sehingga kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya seraya menyitir sabda Rasulullah diriwayatkan Imam Bukhari:

“Sungguh mukmin yang satu dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain”

Selain Ketua Umum Pengurus Besar Wanita Al-Irsyad, turut hadir pula pengurus lainnya pada kesempatan ini yaitu Ketua Departemen Pendidikan Wasilah Achmad Sungkar, Ketua Departemen Organisasi, Kaderisasi, dan Hubungan Antar Lembaga Mufidah Said Bawazir, Ketua Departemen Ekonomi Saidah Mas’ud Baradja, Ketua Departemen Keputrian Syeima Gues Jabri.

Kemudian Ketua Departemen Media dan Komunikasi Eva Anisa Hasan Ambadar, Ketua Departemen Sosial Nafisah Ibrahim Sungkar, dan Ketua Departemen Dakwah Fairus Abdillah Hatim.

Hadir juga Ketua pengurus Wanita Al Irsyad Cabang Depok, Ketua Pengurus Cabang Jakarta Utara, Ketua Pengurus Cabang Jakarta Pusat, dan Ketua Pengurus Cabang Jakarta Timur, dan Staf Kantor.

Acara dilanjutkan dengan menggali inspirasi, berbagi informasi, serta diskusi hangat seputar program dari berbagai bidang dan penyerahan cinderamata dari kedua belah pihak. (ybh/hio)

Sekolah Dai Sultanbatara Gelar Wisuda Angkatan III dan Penugasan

0

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara (Sultanbatara) mewisuda dan kembali menugaskan alumninya berdakwah ke berbagai penjuru nusantara. Wisuda angkatan III dilaksanakan di Gedung Dakwah Hidayatullah Sulsel, Parepare, Ahad, 25 Dzulhijjah 1443 (24/7/2022). Program SDH ini didukung oleh Laznas BMH.

Agenda wisuda dirangkaikan dengan ujian terbuka Matan Mandzumah Al Jazariyah sebagai tahap ujian Qur’an terakhir sebagai bekal wisudawan terjun berdakwah ke masyarakat membumikan Al Qur’an.

Kabag TU Kemenag Kota Parepare Ir Syaiful Mahsan MAg dalam sambutannya mengatakan “Alumni yang akan disebar hari ini akan menjawab tantangan ummat masa kini. Dimana moderasi beragama sudah harus dilaksanakan, tampil baik, dan memberikan pelayanan terbaik kepada ummat.”

Ia memastikan pihak Kemenag akan terus mensupport kegiatan-kegiatan dakwah Hidayatullah khususnya di Parepare. “Karena ini adalah berlian yang harus terus ditampakkan,” tambahnya seperti dilansir laman Hidayatullah Sulsel.

Turut hadir pada Wisuda alumni SDH Sultanbatara itu Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd dan jajaran pengurus DPW Hidayatullah Sulsel, anggota DMW Sulsel, BMH Perwakilan Sulsel dan ketua DPD Hidayatullah se-Sulsel.

Hadir pula jajaran pengurus DPW Hidayatullah Sulbar beserta BMH Perwakilan Sulbar. Dalam sambutan Ust Nasri memaparkan tentang suksesi dakwah dengan Manhaj Sistematika Wahyu.

“Para alumni ini harus mampu mentransformasikan nilai-nilai manhaji dalam amanah tugas yang diemban nantinya agar seluruh rangkaian dakwah tertata dengan baik dan sukses,” ujarnya.

Sebagai parnert sinergi SDH, BMH Perwakilan Sulsel juga mendukung penuh kegiatan, juga secara simbolis BMH Perwakilan Sulsel menyerahkan motor bantuan Dai tangguh pedalaman Toraja Utara untuk ekspansi dakwah di daerah minoritas Islam tersebut.*/Abu Haniyyah