BULAN Rabi’ul Awwal adalah moment mengenang kelahiran junjungan kita, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Secara khusus, bulan ini pun sering disebut sebagai bulan Maulid, artinya “waktu kelahiran”, yang merujuk kepada kelahiran beliau di dalamnya.
Terlepas dari perbedaan pandangan yang ada terkait hukum memperingati maulid beliau, khathib ingin mengajak hadirin sekalian untuk membicarakan satu topik terkait beliau. Yaitu, pentingnya mempelajari siroh (sejarah kehidupan) beliau.
Untuk membuka uraian ini, kita akan mengawalinya dari syahadatain. Sebagai mukmin tentulah kita telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah. Artinya, kita semua pasti telah mempersaksikan bahwa Allah adalah Tuhan kita dan tidak ada Tuhan yang kita sembah selain-Nya. Di saat bersamaan, kita juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ada tantangan buat para penggiat desain grafis! Panitia Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023 menggelar sayembara desain logo Silatnas Emas Hidayatullah 2023. Hadiahnya uang tunai total Rp 10 juta.
Untuk diketahui, Hidayatullah akan kembali melaksanakan Silatnas insya Allah di Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, pada November 2023.
Sebagaimana disampaikan Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, silatnas mendatang merupakan Silatnas Emas Hidayatullah, kerena bertepatan dengan usia 50 tahun kedua perkumpulan itu.
Dalam rangkaian “Road to Silatnas Hidayatullah 2023″, digelar berbagai perlombaan, di antaranya lomba desain logo.
“Panitia Silatnas Hidayatullah 2023 memanggil para desainer logo, baik profesional maupun amatiran, untuk mengikuti Lomba Desain Logo Silatnas Hidayatullah 2023,” keterangan Ketua Panitia Silatnas Hidayatullah 2023 Dr Muhammad Arfan AU di Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu, 12 Rabiul Awal 1444 (08/10/2022).
Ketua Media Center Silatnas Hidayatullah 2023, M A Syakur, mengatakan, lomba desain logo itu digelar untuk mensyiarkan Silatnas Hidayatullah 2023 sekaligus semakin mengakrabkan Hidayatullah kepada publik.
“Lomba ini terbuka untuk umum semua WNI. Secara khusus, lomba ini sekaligus mewadahi talenta desain grafis para santri/kader/warga/jamaah/pengurus Hidayatullah di seluruh penjuru dunia,” ujarnya.
Lomba Desain Logo Silatnas Hidayatullah ini memperebutkan hadiah menarik. “Total hadiah Rp 10.000.000,” jelasnya.
Dewan juri akan mepilih sejumlah finalis yang kemudian menetapkan 4 pemenang, yaitu Juara 1, Juara 2, Juara 3, dan Juara 4.
Lomba desain logo Silatnas Hidayatullah 2023 ini dimulai pada 9 Oktober 2022. Adapun batas waktu terakhir pengiriman karya logo yaitu pada 28 Oktober 2022 pukul 23.59 WITA.
Terkait informasi lebih lengkap serta syarat dan ketentuan Lomba Desain Logo Silatnas Hidayatullah 2023 ini, silakan baca dengan cermat di website Hidayatullah.com, Hidayatullah.or.id, Ummulqurahidayatullah.id, serta media-media sosial yang telah ditetapkan panitia. Atau klik pada tautan ini!*(SKR/MCU)
TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Tak hanya belajar agama dan mendalami berbagai ilmu terapan lainnya, Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah di Kelurahan Gambesi Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, juga mengarahkan santrinya dalam pengembangan skil di bidang agribisnis khususnya budidaya tanaman konsumsi.
Hasil budidaya garapan santri ini kini sudah dapat dinikmati dan telah dilaunching beberapa waktu lalu, Kamis (6/10/2022). Peresmian bertempat di halaman pertanian Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah Kota Ternate dan disambut gembira oleh ibu ibu yang hadir.
Lokasi acara di halaman pertanian Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah Kota Ternate dipilih oleh panitia pelaksana karena peluncuran produk santri ini sekaligus dirangkaikan dengan panen raya tomat dan semangka yang ditanam oleh para santri beberapa bulan yang lalu.
Hadir dalam acara tersebut unsur pejabat Kementerian Agama (Kemenag) Kota Ternate yang diwakili oleh Kepala Seksi Pendidikan Islam H. Lukman Hatari, M.Pd.I.
Dalam sambutannya, Lukman mengapresiasi capaian dan kreativitas santri Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah Kota Ternate.
“Dengan hadirnya produk santri ini maka warga masyarakat tidak lagi sibuk dan terbebani mencari kebutuhan pangan konsumsi di luar daerah sehingga ketergantungan dengan pihak yang lain dapat diminimalisir,” kata Lukman.
Ia juga berharap dengan hadirnya produk santri ini maka Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah Kota Ternate bisa menjadi model bagi pondok-pondok pesantren yang lain di Kota Ternate bahkan di Maluku Utara.
Selain Kemenag Kota Ternate, acara peluncuran juga dihadiri oleh Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Ternate, Marliza Tauhid Soleman, yang juga istri Walikota Ternate Dr. M. Tauhid Soleman, M.Si bersama rombongan.
Dalam sambutannya, Marliza turut memotivasi para santri dan pondok untuk terus meningkatkan program program lifeskill berupa pemberdayaan lahan pertanian karena hal ini juga relevan dengan program tim penggerak PKK Kota Ternate.
“Santri dan warga pondok hanya menanam dan memproduksi, adapun pemasarannya kita siap menjadi tim marketingnya sehingga pondok tidak lagi sibuk mencari pembeli,” kata Marliza yang juga Bunda Literasi Kota Ternate ini.
Pernyataan yang berisi dukungan dari Ketua Tim Penggerak PKK Kota Ternate tersebut disambut dengan tepuk tangan tidak hanya dari para santri akan tetapi riuh tepuk tangan juga diramaikan oleh ibu ibu Dharma Wanita Kota Ternate dan ibu ibu majelis taklim binaan Ustadzah Hj. Jubaidah Hi. Hayat, S.Pd.B.
Tamu undangan pada acara launcing produk santri kali ini memang lebih didominasi oleh kalangan ibu-ibu. Harapannya, agar produk-produk santri lebih cepat dikenal oleh publik yang disosialisasikan oleh ibu-ibu saat pertemuan di majelis taklim dan juga penjualan online di media sosial.
Peluncuran program budidaya agribisnis Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah ini juga menyemarakkan Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2022 yang diperingati serentak secara nasional setiap tanggal 22 Oktober 2022.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Ternate, Ust Saleh Sukur, mengatakan produk santri ini sekaligus menguatkan kemandirian dan juga sebagai wujud kontribusi positif para santri dalam mensyukuri nikmat Hari Santri Nasional.
Beberapa produk santri tampak ikut menyemarakan ini yang didominasi oleh makanan ringan berupa kripik pisang mulu bebe, makanan penyedap rasa berupa sambal roa original, sambal roa kenari, sambal cakalang fufu, dan juga lauk pauk berupa abon ikan garampati.
Produk-produk tersebut secara bersamaan diolah dan diracik langsung di rumah produksi yang berlokasi di Pondok Pesantren Hidayatullah Putri, Kalumata Puncak, Kota Ternate, yang juga diinisiasi langsung oleh ketua yayasan Ust Saleh Sukur.
Saleh Sukur mengatakan, inisiatif ini dalam rangka upaya dan ikhtiar agar para santri memiliki kepedulian untuk berinovasi serta mengasah dan mengembangkan potensi diri agar lebih kreatif sehingga santri memiliki daya saing di era milenial saat ini.
“Inisiatif produk santri selain sebagai bentuk pengembangan potensi juga bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai kearifan lokal karena bahan dasar sebagai komposisi utama produk santri sangat mudah dijumpai di Kota Ternate seperti pisang mulu bebe, ikan roa, dan ikan garampati,” kaat Ust Saleh.
Produk yang dijajakan Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah mendapat sambutan positif. Menurut Ketua TP-PKK Kota Ternate, Marliza Tauhid Soleman, produk santri ini memiliki nilai kearifan lokal sehingga ia menyarankan agar produk tersebut ikut dipajang di Swalayan Taranoate sebagai pusat pembelanjaan oleh-oleh khas Ternate.*/La Ode Ilman
AMBISI dan keinginan manusia seringkali sangatlah muluk. Apa saja yang dimilikinya selalu terasa kurang. Oleh karenanya, ada yang mengibaratkan perlombaan hidup duniawi seperti menaiki kendaraan di jalan raya. Setiap kali melihat kendaraan lain di depan, kita selalu berhasrat untuk mendahuluinya. Segala daya dikerahkan, dan sekecil apa pun peluang dimanfaatkan.
Namun, ketika kendaraan itu telah berhasil dilampaui, kepuasannya hanya sekejap mata. Sebab, di depan kita ternyata sudah ada lagi ratusan bahkan ribuan kendaraan lain. Maka, berkobarlah kembali hasrat itu, bahkan semakin menggila. Tanpa sadar, kita pun terjun dalam perlombaan yang tak berujung.
Demikian pulalah ambisi kehidupan duniawi, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Seandainya anak Adam mempunyai harta sebanyak dua lembah, niscaya dia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang bisa memenuhi rongga (perut) anak Adam kecuali tanah, dan Allah akan menerima pertaubatan siapa saja yang mau bertaubat.” (Riwayat Bukhari dari Ibnu ‘Abbas, dan Muslim dari Anas bin Malik).
Benar. Tidak akan ada yang bisa menghentikan ambisi seperti itu selain kematian; tatkala tanah telah memenuhi rongga perut manusia. Ketika itulah segala ambisinya padam, dan ia pergi hanya berbekal secarik kain kafan. Dilepasnya segala yang selama ini ia perjuangkan mati-matian: rumah dan kendaraan, emas dan perak, anak dan istri, karir dan jabatan, bahkan seluruh dunia ini. Hanya amal yang menyertai, entah baik atau buruk.
Jika nasib seluruh manusia akan seperti itu, mengapa kita tidak memilih meringankan beban dan menyederhanakan hidup? Mengapa kita tidak mengambil dari dunia ini seperlunya karena ia pasti ditinggalkan, dan memperbanyak bekal yang pasti dibawa menghadap Allah, yakni amal shalih?
Dikatakan dalam sebuah hadits, “Orang cerdik adalah seseorang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk (mempersiapkan kehidupan) setelah kematian. Sedangkan orang lemah adalah seseorang yang memperturutkan hawa nafsunya, kemudian berangan-angan (mendapat rahmat) Allah.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Syaddad bin Aus, dengan isnad lemah).
Maka, demikianlah peragaan nyata yang diperlihatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabatnya. Tempat tinggal dan perabot rumah tangga mereka bersahaja, tidak tergoda oleh kemewahan. Makanan dan pakaian mereka pun sederhana, tidak berlebihan. Tetapi, jangan tanya amal mereka: shalatnya, puasanya, sedekahnya, jihadnya, tilawahnya, dzikirnya, tawakkalnya, sabarnya, dsb.
Kehidupan mereka secara tepat digambarkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Fadhalah bin ‘Ubaid, “Beruntunglah orang yang diberi hidayah ke dalam Islam, penghidupannya mencukupinya, dan ia merasa puas dengannya.” (Riwayat Tirmidzi. Hadits hasan-shahih).
Sungguh, inilah kebahagiaan: hidup dalam naungan Islam, diberi rezeki yang cukup, dan memiliki hati yang puas (qana’ah). Jika salah satunya hilang, maka yang lain menjadi limbung bahkan ambruk tanpa daya. Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad itu mencukupi.” (Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah). “Cukup” artinya: tidak kurang sehingga menggelisahkan, dan tidak berlebih sehingga menyibukkan.
Mungkin, ada yang terpikir, bahwa pilihan itu berarti hidup berkekurangan, melarat, dan memprihatinkan. Namun, kehidupan para Sahabat dan generasi Salaf ternyata tidak seperti itu. Banyak diantara mereka yang penghasilannya “mencengangkan”. Abu Bakar, Umar, Utsman dan Abdurrahman bin ‘Auf adalah contoh-contoh klasik dalam kategori ini. Tetapi, mereka mengambil secukupnya bagi diri sendiri, lalu menyalurkan selebihnya di jalan Allah.
Sejarah mencatat bagaimana Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya, Umar menginfakkan setengah hartanya, dan Utsman menyiapkan ribuan kuda perang lengkap dengan persenjataan dan perbekalannya. Tidak ketinggalan, Ali bin Abi Thalib pernah bersedekah senilai 40 ribu dirham (setara 2,7 milyar rupiah lebih). Penghasilan tahunan Laits bin Sa’ad sekitar 20 ribu dirham, sedangkan ‘Abdurrahman bin Mahdi meraup 2 ribu dinar per tahun (senilai 4,4 milyar lebih).
Apakah mereka hidup mewah? Ternyata tidak. Lalu, kemana larinya uang sebanyak itu? Ya, mereka membagikannya. Mereka berbahagia telah menjadi perantara Allah dalam membagikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya.
Barangkali, disinilah letak perbedaan generasi mereka dengan sebagian orang di masa sekarang. Keduanya sama-sama bekerja keras meraih apa yang bermanfaat bagi mereka, namun setelah berhasil sikap hidupnya ternyata berbeda. Yang satu tetap bersahaja dan tidak enggan berbagi, sementara yang lain segera berubah dan semakin pelit.
Jika demikian masalahnya, maka benarlah perkataan Imam Syafi’i, “Kefakiran para ulama’ adalah pilihan mereka sendiri, sedangkan kefakiran orang-orang bodoh adalah karena terpaksa.” (Dikutip an-Nawawi dalam Tahdzibul Asma’ wal Lughat).
Para pendahulu kita itu memilih hidup bersahaja diatas segala kelimpahan materi yang mereka miliki, secara sengaja, dan sadar. Sementara sebagian dari kita memburu kelimpahan itu lalu menumpuknya untuk diri sendiri, dan terkadang samasekali tidak memperdulikan kehalalannya. Jika pun hidup bersahaja, seringkali karena tidak ada pilihan lain.
Maka, berhati-hatilah orang yang menjadikan Abdurrahman bin ‘Auf sebagai idolanya! Jangan semata-mata tergiur dengan besarnya harta yang beliau miliki, namun tidak memperhatikan bagaimana beliau hidup dan kemana harta itu disalurkan! Wallahu a’lam.
Group Head Digital Strategic Partnership BSI, Achmad Syafii – Direktur Information Technology Bank Syariah Indonesia, Ir. H. Candra Kurnianto – Plt. Ketua Umum PP Hidayatullah, Yogi Rizkian Bahar – CEO LinkAja, R. Alpha Amirrachman, Ph.D – CEO Edumu Cipta Utama, dan Niko Fajar Utama – VP LinkAja Syariah berbincang di sela penandatangan kerjasama di Jakarta, Kamis (6/10/2022). (Foto: Isra Triansyah/ Sindo)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menjalin kerjasama dengan layanan keuangan digital dari Telkomsel dan anggota Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Linkaja (PT Fintek Karya Nusantara) dalam digitalisasi ekosistem keuangan komunitas Islam yang ditandai dengan seremoni penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Jakarta, Kamis, 10 Rabbiul Awal 1444 (6/10/2022).
Pada kesempatan yang sama, dari industri fintech, terdapat penandatanganan nota kesepahaman anggota Asosiasi Fintek Syariah Indonesia (AFSI) dengan beberapa Lembaga antara lain PT Ethis Fintek Indonesia yang berkerjasa sama dengan PT BPRS Wakalumi untuk penyaluran pembiayaan produktif, PT Rachmad Dharma Anugrah (Sobat Syariah) bersama PT Zurich General Takaful Indonesia (Asuransi Zurich Syariah), serta PT Astra Kreasi Digital (Moxa Mabroor) bersama PT Zurich General Takaful Indonesia (Asuransi Zurich Syariah).
Acara kemudian dilanjutkan dengan seremoni pembiayaan syariah untuk Pengembangan Kebun Sawit sebesar antara Bank Syariah Indonesia dengan PT. Ujong Neubok senilai Rp190 miliar.
Seperti diketahui, sebagai bagian dari rangkaian main agenda Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2022 dan penutup rangkaian Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) 2022, Bank Indonesia menyelenggaran kegiatan Business and Financing Deals (6/10) sebagai bentuk showcasing atau promosi berbagai bentuk kerja sama dan penyaluran pembiayaan oleh Lembaga Jasa Keuangan Syariah (LJKS).
Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Ita Rulina, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi berbagai mitra strategis untuk mendorong perkembangan industri keuangan syariah sesuai dengan tema acara yaitu “Strengthening Strategic Collaboration in Islamic Economic and Finance Industry for Inclusive Recovery”.
Kegiatan ini melibatkan perbankan syariah dan konvensional, perusahaan fintech, penyedia jasa pembayaran dan lembaga keuangan syariah lainnya.
Dalam kesempatan tersebut terselenggara juga tiga seremoni penandatanganan Perjanjian Kerja Sama yang diprakarsai oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk, PT Bank Jabar Banten Syariah, dan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.
Bank Syariah Indonesia menandatangani PKS Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank (SiPA) dengan delapan bank syariah antara lain Bank Mandiri, Bank Aladin Syariah, Bank Mega Syariah, UUS BPD Kaltimtara, Bank Victoria Syariah, Bank Riau Kepri Syariah, BCA Syariah, dan BTPN Syariah.
BJB Syariah menandatangani PKS SiPA dengan tujuh bank syariah yaitu Bank Mandiri, Bank Mega Syariah, UUS BPD Kaltimtara, Bank Victoria Syariah, BCA Syariah, BPD NTB Syariah, dan Bank Aladin Syariah.
Sesi seremoni kemudian dilanjutkan dengan Bank Muamalat yang menandatangani PKS Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank (SiPA) dengan tujuh bank syariah yaitu Bank Mega Syariah, Bank Victoria Syariah, BCA Syariah, Bank Aladin Syariah, UUS BPD Kaltimtara, Bank BTPN Syariah dan BPD NTB Syariah.
Rangkaian kegiatan dilaksanakan secara hybrid dengan penyelenggaraan seremoni penyaluran pembiayaan syariah untuk Pengembangan Pondok Pesantren antara UUS Bank Jatim dan YPI Ar Rohmah Putri Malang senilai Rp30 miliar.
Pada kesempatan ini, Bank Muamalat juga menandatangani nota kesepahaman pembiayaan umrah dan haji khusus dengan NRA Group untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan haji dan umrah di Indonesia.
Kegiatan dilanjutkan dengan seremoni Perjanjian Kerja Sama LinkAja Syariah yang mendukung digitalisasi sistem pembayaran nasional berupa kerjasama Implementasi Layanan Tarik Tunai Saldo LinkAja Syariah Tanpa Kartu di ATM Bank Syariah Indonesia, dan Layanan PPOB LinkAja Syariah di Aplikasi EDUM.
Rangkaian kegiatan pada siang hari tersebut ditutup dengan seremoni pembiayaan syariah untuk Pembangunan Graha 2 RS Islam Surabaya antara Bank Mega Syariah dengan Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (YARSIS)./Isef
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Panitia Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023 telah resmi ditunjuk melalui Surat Keputusan (SK) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Nomor 53 Tahun 2022 Tentang Panitia Silaturahim Nasional Hidayatullah 2023.
SK ini diteken oleh Plt Ketua Umum DPP Hidayatullah Candra Kurnianto dan Wakil Sekretaris Jenderal Ustadz Abdul Ghofar Hadi di Jakarta tertanggal 25 Shafar 1444H (21/09/2022M).
Dalam SK tersebut, antara lain ditetapkan 7 orang Panitia Pengarah (Steering Committee/SC) yang diketuai oleh Ustadz Drs H Tasyrif Amin MPd.
Adapun 6 SC lainnya yaitu Ustadz Drs H Zainuddin Musaddad MA, Ustadz Ir H Abu A’la Abdullah MHI, Ustadz Ir H Candra Kurnianto, Ustadz Drs H Nursyamsa Hadis, Ustadz H Aqib Junaid, dan Ustadz Hamzah Akbar SSosI (Ketua YPPH Balikpapan, red).
Selain itu, pada SK tersebut juga ditetapkan jajaran Panitia Pelaksana (Organizing Committee/OC) Silatnas Hidayatullah 2023.
Di antaranya adalah Ketua (Ustadz Muhammad Arfan AU), Sekretaris (Ustadz Abu A’la Maududi), Wakil Sekretaris 1 (Ustadz Sirajuddin), Wakil Sekretaris 2 (Ustadz Sukman), Wakil Sekretaris 3 (Ustadz Risky Kurnia Sah), Bendahara (Ustadz Fathun Qorib), Wakil Bendahara 1 (Ustadz Saiful Harahap), dan Wakil Bendahara 2 (Ustadz Abdul Aziz).
Kepanitiaan Silatnas Hidayatullah 2023 menggelar rapat perdana di Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Rapat perdana ini berlangsung selama dua hari, Ahad-Senin (02-03/10/2022). Diikuti sebagian besar SC dan OC.
Dalam pengantarnya pada rapat perdana tersebu, Ahad malam, Ketua SC Ustadz Tasyrif Amin mengatakan bahwa Silatnas Hidayatullah mendatang berbeda karena bertepatan momennya dengan setengah abad perjalanan Hidayatullah.
“Pas momennya… 50 tahun (kedua) Hidayatullah,” ujar Ustadz Tasyrif dalam rapat yang digelar di Kantor YPPH Balikpapan itu.
Dalam rapat ini, SC dan OC merumuskan sejumlah hal penting terkait persiapan silatnas, baik yang sifatnya strategis maupun teknis.
Waktu yang tersisa kurang lebih setahun ini diharapkan bisa dimaksimalkan dalam penyelenggaraan silatnas.
Rapat antara lain menetapkan target peserta Silatnas Hidayatullah 2023. “20 ribu orang peserta,” ujar Ustadz Tasyrif.
Dalam silatnas mendatang, katanya juga, Hidayatullah akan menguatkan kontribusinya terhadap NKRI.
Adapun konsep besar acara Silatnas Hidayatullah 2023 adalah mengedepankan sisi-sisi kultural Hidayatullah, yang tujuan utamanya adalah menguatkan silaturahim antara warga/ kader/ pengurus Hidayatullah se-dunia.
Pada rapat hari kedua, turut hadir Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad serta para pembimbing (ustadz-ustadz senior) Hidayatullah Gunung Tembak. Mereka memberikan banyak arahan dan masukan demi suksesnya Silatnas Hidayatullah 2023.* (SKR/MCU)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah (Mushida) menyelenggarakan Training of Trainer (TOT) Pandu Keputrian dan Training Paralegal Muslimat Hidayatullah yang digelar serentak selama 3 hari di Gedung & Wisma Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, 7-9 September 2022/11-13 Rabiul Awwal 1444 H.
Ketua Umum PP Mushida Ustz Hani Akbar menyampaikan bahwa Training Paralegal merupakan amanah Rapat Kerja Nasional Mushida yang harus ditunaikan agar daiyah dapat berlaku adil dan dekat kepada takwa sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 8.
“Adapun syakhsiyyah seorang muslimah harus terbentuk melalui lima profil Pandu yaitu shohihul aqidah, mutakhalliqun bil Qur’an, mujiddun fil ibadah, daa’in ilallah, multazimun bil jama’ah,” terang Hani dalam menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara Training of Trainer Pandu dan Training Paralegal Muslimat Hidayatullah.
Ketua Panitia Penyelenggara Ustz Wulan Sari dalam keterangannya mengatakan pembentukan kader yang menjadi benih merupakan salah satu aspek terpenting dalam mewujudkan peradaban Islam. Oleh sebab itu, kegiatan ini digelar.
Kata Wulan, kegiatan training pengkaderan ini meliputi aktivitas indoor, outdoor, teori dan praktik, fisik dan pemikiran, spiritual dan emosional, imajinatif dan realistik, individual dan sosial.
Dia menjelaskan, kurikulum Kepanduan meliputi materi tsaqofah Islamiyah dan keterampilan. Kompetensi ini perlu disosialisasikan dan dilatihkan kepada seluruh guru pandu.
“Harapan dari diselenggarakan ToT Pandu ini agar mencetak Trainer Pandu Putri yang Profetik dan Profesional. Sedangkan Training Paralegal bertujuan menyiapkan daiyah cerdas hukum sebagai pilar membangun negara hukum yang berkeadilan,” kata Wulan.
Selain itu, terang dia, sebagaimana diketahui hukum dan keadilan masih menjauhi rakyat terutama kelompok rentan. Dengan pengetahuan yang diberikan, diharapkan mereka akan mampu memperjuangkan apa yang memang menjadi haknya, sehingga pemerintah serius menyejahterakan rakyat.
Dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat, khususnya dai dan aktivis keagamaan yang berada di tengah masyarakat, sudah seyogyanya mereka diberikan pengetahuan dasar tentang hukum dan hak asasi manusia, kata Wulan.
Wulan menambahkan, panitia penyelenggara menghaturkan terima kasih kepada semua pihak, mitra sponsor dan donator atas berlangsungnya acara ini.
Training of Trainer Pandu diikuti oleh lebih dari 50 peserta dan Training Paralegal Muslimat Hidayatullah diikuti oleh 40 peserta dari berbagai wilayah Mushida di Indonesia.
Acara ini terlaksana atas kerja sama Muslimat Hidayatullah dengan Baitul Maal Hidayatullah, CIMB Niaga Syariah, Pustaka Imam Syafii, Wakaf Qur’an Majalah Suara Hidayatullah, PT Mumtaz Teknologi Indonesia, Dr. Yuni, Santri Grafika, dan Finita Fasion.
Kegiatan ini juga didukung sponsor Toko Ummu Maher, Hidayaturrahman Ciawi, Melek Emas, BTH Depok, Pendidikan Integral Hidayatullah Depok, Pemuda Hidayatullah, dan pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.*/Arbi Ramli
SIFAT dasar dunia adalah fana’, tidak abadi. Segala yang kita temui disini pada hakikatnya tidak pernah menetap, namun selalu berubah. Sebagai misal, betapa banyak penguasa yang tumbang.
Di masa jaya penguasa, setiap mata merasa iri kepada yang mereka miliki, namun belum lagi siang berganti malam, tiba-tiba roda nasib melibas mereka. Sekarang, mereka tidak dilirik barang sedikit pun, bahkan secara terbuka dicaci dan dinistakan martabatnya.
Alkisah, dulu di Jazirah Arab terdapat sebuah kerajaan bernama Hirah. “Kerajaan bayangan” dari Kekaisaran Persia ini kemudian runtuh pada zaman ‘Umar bin Khattab, seiring kejatuhan induknya.
Suatu kali, Ziyad bin Muhallab, seorang jenderal termasyhur pada zaman Umawiyah, berjumpa dengan Hindun binti Nu’man, putri penguasa terakhir Hirah. Ziyad pun memintanya bercerita, lalu Hindun berkata, “Kami memasuki waktu pagi dari hari ini, sementara tidak seorang pun dari bangsa Arab melainkan pasti mengharapkan kami. Lalu, kami memasuki waktu senja, sementara tidak seorang pun diantara bangsa Arab melainkan pasti merasa kasihan kepada kami.” (Riwayat Ibnu Abi Dunia dalam al-I’tibar, no. 10).
Demikianlah faktanya. Saat ini, terlalu banyak contoh serupa untuk disajikan. Kita bisa menderetkan kisah-kisah terbaru dari Irak, Tunisia, Mesir, dan Libya. Negeri kita sendiri pun merupakan gudang kasus-kasus kebangunan dan kejatuhan para penguasa, politikus serta selebritis.
Masih terbayang dalam benak kita lambaian tangan dan senyum mereka di podium-podium kehormatan, namun belum lagi siang berganti malam, tiba-tiba perputaran nasib telah menjungkalkan mereka. Sebagian mereka ditahan dan menghadapi dakwaan berlapis, tanpa harapan lolos.
Sebagian lagi tewas terbunuh dan diperlakukan lebih buruk dari seekor anjing. Lalu, sebagian lainnya mati dalam keadaan putus asa, atau hidup nista dan diabaikan. Ini baru masalah-masalah pelik yang mereka hadapi di dunia, dan entah bagaimana nanti nasib mereka di akhirat.
Ini adalah contoh-contoh spektakuler. Bila skala kejadian dan pelakunya dikecilkan, maka tidak terbilang lagi padanannya. Pelajaran yang mestinya diambil adalah: jangan terlampau mendalam menyikapi dunia ini, karena segalanya mudah sekali berganti.
Kegembiraan, kekayaan, kelapangan, kesehatan, dan canda tawa, betapa mudah berubah menjadi kesedihan, kemelaratan, kesempitan, sakit, dan dukacita. Kematian pun bisa menghapus kehidupan dengan seribu satu macam cara.
Maka, tiada pilihan terbaik kecuali bersiaga menghadapi pasang-surutnya. Dalam pandangan Islam, ia mestinya ditempuh pertama-tama dengan memperbaiki hati. Karena hati adalah raja, maka dialah kunci nasib dari seluruh anggota kerajaannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ingatlah, bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Nu’man bin Basyir).
Masalahnya, manusia tidak berkuasa atas hatinya sendiri. Hati sepenuhnya berada di bawah kendali Allah. Kita mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hati anak Adam itu berada diantara dua jari Allah yang Maha Pengasih, seolah-olah satu hati saja. Dia akan memalingkannya kemana saja yang Dia kehendaki.” Beliau kemudian melanjutkan dengan berdoa, “Ya Allah, Dzat yang kuasa memalingkan hati, palingkanlah hati-hati kami ke arah ketaatan kepada-Mu.” (Riwayat Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash).
Jika memperbaiki hati merupakan keharusan, sementara hati berada di bawah kuasa Allah, maka tiada cara lain kecuali menuruti kehendak-Nya. Dia paling tahu apa yang bisa merusak atau memperbaiki hati itu. Lalu, apa yang Dia kehendaki dari kita? Allah berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Qs. adz-Dzariyat: 56).
Tepatnya, Allah meminta kita beriman dan beramal shalih. Hanya iman dan amallah yang bisa memperbaiki hati dan menjadikannya tangguh dalam mengarungi samudera kehidupan. Dikatakan dalam sebuah hadits: “Perkenalkanlah dirimu kepada Allah pada saat engkau sejahtera, niscaya Dia mengenalimu pada saat engkau mengalami kesulitan.” (Riwayat Ahmad, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits shahih).
Menurut Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum wal Hikam, maksud hadits di atas adalah: “Bila seorang hamba bertakwa kepada Allah, tidak melanggar batas-batas aturan-Nya, dan senantiasa memelihara hak-hak-Nya pada saat ia sejahtera, maka ia telah memperkenalkan dirinya kepada Allah, sehingga ada (hubungan) perkenalan khusus diantara dirinya dengan Tuhannya. Maka, Tuhannya pasti akan mengenalinya pada saat ia tertimpa kesulitan dan memelihara (hubungan) perkenalan dengannya (sebagaimana) pada saat ia sejahtera. Maka, berkat perkenalan inilah Allah menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan. Ini adalah (hubungan) perkenalan khusus yang dapat diartikan sebagai telah dekatnya hamba itu dengan Tuhannya, kecintaan-Nya kepadanya, dan dikabulkan-Nya doannya.”
Jadi, hanya dengan menaati Allah jiwa kita akan terbekali ketahanan untuk menghadapi pasang-surut kehidupan, sebab ia didukung oleh Allah secara langsung. Tanpanya, jiwa akan mudah ambruk dan akhirnya binasa.
Oleh karenanya, Qatadah bin Di’amah (seorang Tabi’in) berkata, “Sesungguhnya amal shalih itu mengangkat (derajat) pelakunya pada saat ia kuat, dan tatkala ia terjatuh maka ia mendapati tempat bersandar.” (Riwayat Ahmad dalam kitab az-Zuhd, no. 183). Dan, Allah-lah sebaik-baik penolong serta tempat bersandar. Wallahu a’lam.
BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Bertepatan di hari yang mulia, hari kelahiran nabiullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Sabtu, 12 Rabiul Awwal 1444 H/8 Oktober 2022, BMH Perwakilan Kepulauan Riau menggelqr peresmian asrama Tahfidz Putra di ponpes Hidayatullah Bintan.
Peresmian asrama yang telah lama dinanti kehadirannya ini dirangkaikan tabligh akbar yang diadakan di tengah kampus Hidayatullah Bintan, sebagai narasumber yaitu Dr H Nashirul Haq, Lc, MA (ketua pembina BMH Pusat), Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Darmansyah dan jajaran pengurus serta sejumlah pejabat, tokoh agama, tokoh masyarakat hadir berbaur bersama masyarakat dan santri.
Pada seremoni peresemian, Dr H Nashirul Haq, Lc, MA menyampaikan rasa terima kasih kepada BMH Kepri dan para donatur, sekaligus mendoakan agar kontribusi ini menjadi amal jariyah dan mendapat balasan dari Allah Ta’ala dengan balasan yang berlipat ganda.
Sementara itu kepala Kemenag kabupaten Bintan, H Erman Zaruddin, kepala Kemenag Kabupaten Bintan menyampaikan apresiasi kepada BMH yang telah banyak memberikan kontribusi terhadap ummat selain itu ia juga mengaku kagum dengan Hidayatullah Bintan, karena perkembangannya sangat pesat.
“Semoga Bintan sebagai rumah kita bisa lebih baik dan anak-anak kita tangguh di bidang agama,” komentarnya di hadapan para undangan.
Laznas BMH Kepri telah menyalurkan bantuan dari para donatur ke berbagai pihak yang membutuhkan seperti yang dihadirkan di Hidayatullah Bintan berupa fasilitas asrama putra untuk tahfidz putra.
General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz menuturkan BMH Kepri memiliki komitmen untuk memberikan dukungan ke pondok-pondok pesantren agar santrinya tumbuh sebagai generasi yang unggul.
Asrama tahfidz putra ini merupakan kado terindah di hari yang mulia, hari kelahiran nabiullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan hari Santri Nasional di bulan Oktober ini.
“Alhamdulillah program BMH Kepri sudah menyentuh hingga pulau terluar Indonesia yaitu Natuna, selain pulau-pulau terpencil di kawasan Kepulauan Riau,” imbuh Abdul Aziz.
Pimpinan ponpes Hidayatullah Bintan, ustadz Meydi tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya atas kehadiran asrama tahfidz putra di kampus yang terletak di kecamatan Toapaya Bintan itu, sebab, selama ini, pengurus terpaksa menyulap kelas menjadi asrama karena keterbatasan tempat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada BMH Kepri atas dukungannya sehingga pembangunan asrama tahfidz Putra bisa selesai, kami juga mengucapkan terima kasih kepada donatur lain dan para wali santri yang turut mendukung acara hari ini,” pungkas ustadz Meydi.*/Mujahid M. Salbu
BULAN Rabi’ul Awal adalah saksi bisu akan kehadiran seorang hamba terpilih. Seorang lelaki pilihan dari bangsa Arab yang akan terus dikenang sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia.
Sejak kelahirannya, telah tampak tanda-tanda kebesaran yang mengiringinya. Ia menjadi sosok santun dan berkarakter, terpuji di tengah kaumnya dengan gelar Al Amin atau terpercaya, bahkan sebelum Allah mengutusnya menjadi Nabi. Dialah Nabi Muhammad Saw.
Beliau telah menginspirasi jutaan bahkan miliaran manusia sejak kenabiannya. Semua umatnya mengidolakan beliau, berusaha mengikuti jalan hidupnya hingga berkorban untuknya sebagai wujud cinta terhadap sosok yang rela mengorbankan diri dan jiwanya demi umat yang dituntunnya.
Tawaran dunia yang begitu menggiurkan ditolak mentah-mentah agar dapat total dalam membimbing para pengikutnya. Wajar dan pantas jika cinta suci kita persembahkan untuk beliau. Cinta yang menjadi syarat untuk mendapatkan pengakuan beliau Saw.