Beranda blog Halaman 338

PT Telkom – LPH Hidayatullah Kerjasama Penerapan Blockchain Sertifikasi Industri Halal

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom) dan Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah (LPH Hidayatullah) resmi menjalin kerjasama dalam upaya pemanfaatan teknologi digital secara lebih maksimal. Penandatanganan MoU tersebut dilakukan di The Telkom Hub, Jl. Gatot Subroto No. 52 Jakarta Selatan, Jakarta, Senin, 16 Safar 1444 (12/09/2022).

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Ery Punta Hendraswara sebagai Deputy EVP Digital Tech & Platform – Divisi Digital Business & Technology PT. Telkom Indonesia, dan Muhammad Faisal sebagai Ketua Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah (LPH Hidayatullah).

Acara ini juga dihadiri dan disaksikan oleh Asih Subagyo (Ketua Bidang Pembinaan & Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah – Pembina LPH Hidayatullah) dan Muzakkir (Direktur Hidayatullah Institute). Kerjasama itu dimulai dengan pemanfaatan teknologi blockchain yang diinisiasi oleh PT. Telkom Indonesia Tbk.

Dalam keterangannya, Ketua Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah Muhammad Faisal, mengatakan terjalinnya kerjasama ini bertujuan eksplorasi dan proof of concept teknologi blockchain pada proses sertifikasi industri halal untuk profesi pelaksana sertifikasi, produk dan entitas usaha.

Faisal menjelaskan, LPH Hidayatullah merupakan perkumpulan yang memiliki lembaga pemeriksa halal yang pada tujuan pembentukannya adalah menjadi pelopor halal food dengan cara mengedukasi masyarakat lebih memperhatikan soal kehalalan makanan yang dikonsumsi setiap hari serta membantu pemerintah untuk memberikan perlindungan dan jaminan tentang kehalalan produk yang dikonsumsi dan digunakan masyarakat.

“Nantinya, berkat penggunaan teknologi blockchain yang disediakan oleh Telkom, LPH Hidayatullah bisa semakin mengeksplorasi dan memaksimalkan potensi dalam memudahkan pelaku usaha mengurus proses sertifikasi halal dan mengecek keabsahan sertifikasi tersebut,” kata Faisal.

Ery Punta Hendraswara selaku Deputy EVP Digital Tech & Platform – Divisi Digital Business & Technology PT. Telkom Indonesia menambahkan, sebagai perusahaan berplat merah yang bergerak di bidang jasa layanan teknologi dan informasi (TIK), Telkom tentu tidak mau tertinggal dalam pengembangan teknologi blockchain.

Melalui divisi Digital Business & Technology dengan payung Leap-Telkom Digital, Telkom tengah mengembangkan teknologi blockchain yang bisa dijadikan sarana untuk penyimpanan data yang lebih tersusun dan tercipta keabsahan sertifikat untuk produk sertifikasi profesi, penelitian, industri halal, dan tata kelola lembaga yang dikelola oleh Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah.

“Hingga saat ini, tidak sedikit perusahaan-perusahaan di Indonesia dan negara-negara di dunia yang terus mengembangkan teknologi blockchain sebagai garda terdepan untuk mengelola data. Seiring perjalanannya di era digital, teknologi blockchain digadang sebagai teknologi yang memiliki karakteristik transparan dan desentralisasi dari setiap pencatatan transaksi data. Sehingga setiap data yang ada di blockchain terdistribusikan ke semua orang di jaringan dan informasi yang disimpan dalam blockchain, tidak bisa diubah dan dihapus,” terangnya.

Agar masyarakat di tanah air bisa menikmati pengalaman pemanfaatan teknologi blockchain, Telkom turut membangun dan membantu masyarakat untuk bisa memiliki data yang aman serta transparan, seiring dengan perkembangan industri digital di Indonesia yang tumbuh sangat cepat.

“Kehadiran teknologi blokchain yang dikembangkan oleh Telkom diharapkan dapat berkontribusi untuk memastikan nilai-nilai dari teknologi digital, sehingga bisa memberikan manfaat ke banyak pihak terutama mereka yang bergerak di perusahaan dan lain sebagainya,” imbuh Ery.

Kerjasama antara Telkom dan LPH Hidayatullah diantaranya meliputi Costumer Experience Exploration berupa sertifikasi profesi, penelitian, industri halal, dan tata kelola lembaga. Keduanya juga melakukan eksplorasi kerja sama dalam pengembangan literasi dan menjadikan harta benda wakaf lebih produktif.

Kerjasama juga meliputi proof of concept pada pengembangan penggunaan teknologi blockchain yang diterapkan pada sertifikasi profesi, industri halal, tata kelola lembaga. Serta dapat memudahkan seluruh konsumen untuk mengetahui rekam jejak sertifikat halal suatu produk/jasa dan memudahkan LPH Hidayatullah dalam memonitor kinerja dan rekam jejak para pendamping proses produk halal dan auditor halal.

Leap-Telkom Digital merupakan umbrella brand produk dan layanan digital Telkom termasuk teknologi blockchain, untuk mendongkrak kemapanan digitalisasi data pada masyarakat Indonesia.

Dengan adanya Leap, diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekosistem digital di tanah air demi mengakselerasi terwujudnya kedaulatan digital nasional, sejalan dengan target pemerintah dalam beberapa tahun mendatang. Untuk informasi lebih lanjut, dapat mengakses https://leap.digitalbisa.id/.

Orientasi untuk Optimalkan Peran Kepengasuhan Ponpes di Sumut

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) – Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama Dewan Pengurus Hidayatullah Wilayah (DPW) Sumatera Utara menggelar Orientasi Kepengasuhan Santri. Kegiatan dilaksanakan di sela acara Rapat Koordinasi Departemen Sosial Hidayatullah Sumut yang bertempat di ruang serbaguna Pesantren Hidayatullah Deli Serdang, Sabtu, 14 Safar 1444 (10/9/2022).

Ketua Laznas BMH Perwakilan Sumut, Andi Lukman Muthalib, mengatakan kegiatan senafas dengan agenda pembangunan sumber daya insani bangsa Indonesia sejak dini dengan mendapat perlindungan dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang dalam kepengasuhan yang memadai secara optimal baik fisik, mental, maupun sosial, sebagaimana amanat yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Pengasuh adalah unsur penting dalam keberhasilan pesantren mendidik santri menjadi cerdas dan takwa. Menjadi pengasuh butuh berbagai talenta dan skil keterampilan, tuntuan itu selaras dengan semakin bertambahnya jumlah santri,” kata Lukman.

Hadir sebagai narasumber Direktur Sahabat Anak Indonesia (SAI), Musliadi Raja. Materi disajikan dalam bentuk teori dan simulasi sederhama yang diikuti oleh 26 peserta dari berbagai pesantren di Sumatera Utara, Aceh dan Riau.

Menurut Musliadi yang juga Kadepsos DPP Hidayatullah ini, praktik kepengasuhan anak baik di rumah maupun di lembaga pendidikan berasrama (boarding school) seperti pondok pesantren amat dipengaruhi oleh integritas dan kapasitas pengasuh.

Untuk itu, terang dia, aspek ini perlu mendapat perhatian khusus dengan beragam upgrading yang terstuktur, sistematis, dan massif.

“Hal-hal yang sederhana bila terkelola dan terencana dengan baik dan sistematis tentulah akan memberikan dampak perubahan yang nyata dan manfaatnya meluas,” tandas Musliadi.

Lebih lanjut dituturkan Lukman, acara ini diadakan untuk meningkatkan kompetensi pengasuh dalam membina dan mengasuh santri di asrama.

Diharapkan mereka mampu menjadi orang tua bagi santri. Sosok yang hadir saat mereka susah, sedih, terpojok, atau saat menanggung beban berat untuk mendengar curahan hati mereka kemudian mengajaknya bangkit.

Peserta tampak antusias mengikuti kegiatan ini, salah satunya Yudi Irawan. Yudi yang merupakan pengasuh 27 santri asal Pesantren Darul Muttaqin Batubara mengaku senang mengikuti orientasi ini.

“Pengetahuan yang didapatkan dalam kegiatan ini sangat membantu dalam menjalankan tugas kami dalam mengasuh santri. Akan kami terapkan secara bertahap. Terimakasih kepada semua pihak yang sudah turut bantu kegiatan ini,” kata Yudi menandaskan.*/Anchal

[Khutbah Jumat] Menjadi Orang Miskin yang Kaya

0

KETIKA kita ditanya, siapakah orang – orang miskin? Maka pada umumnya, kita memiliki jawaban yang sama, bahwa orang miskin adalah orang – orang yang hidup di bawah standar kelayakan secara ekonomi. Orang miskin adalah orang – orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, memiliki tempat tinggal yang layak huni serta memenuhi standar kehidupan lainnya.

Dalam Al – qur’an, Allah sesungguhnya telah menginformasikan kepada manusia tentang siapakah orang miskin. Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

Perhatikanlah Siapa Temanmu!

0

SIAPAKAH teman-teman kita? Apakah mereka mendatangkan ketentraman, kebahagiaan, dan semakin mendekatkan kita kepada Allah? Atau justru sebaliknya, mereka menjadi sumber kegelisahan, kesedihan, dan kelalaian terhadap akhirat?

Mari sejenak merenungkan diri kita sendiri, juga orang-orang di sekitar kita, selagi Allah masih memberi kesempatan. Sebab, hidup ini hanya sekali. Tidak ada peluang kedua.

Secara sederhana, Rasulullah telah mengajarkan bagaimana cara menilai teman-teman kita. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada para Sahabat, “Maukah kalian kuberitahu siapa orang-orang terbaik diantara kalian?” Mereka menjawab, “Mau, ya Rasulullah.”

Rasulullah lantas menjawab, “Yaitu, orang-orang yang jika mereka terlihat (oleh kalian), maka mengingatkan kepada Allah.” Beliau kemudian bersabda lagi, “Maukah kalian kuberitahu siapa orang-orang terburuk diantara kalian? Yaitu, orang yang kesana-kemari menebar fitnah, yang suka merusak kesetiaan diantara orang-orang yang saling mencintai, dan yang mengusahakan timbulnya kerusakan serta dosa di tengah-tengah orang-orang yang bersih (kehidupannya).” (Hadits riwayat Ahmad, sanad-nya hasan li ghairihi).

Jadi, menurut beliau, ciri orang yang baik adalah jika kita melihat mereka maka kita akan teringat kepada Allah. Berapa banyak orang seperti ini di sekitar kita; yang kepribadian serta tindakannya menyejukkan hati dan meningkatkan keimanan, menambah rasa syukur dan menenangkan jiwa? Berapa banyak orang yang membuat kita segan bermaksiat di dekatnya, membuat kita lebih berhati-hati, dan menyemangati ibadah?

Atau, justru sebaliknya, justru lebih banyak orang yang semakin menjauhkan kita dari Allah, menambah kegilaan kepada dunia, merongrong jiwa dan mengotori hati, mengobarkan syahwat dan mengerdilkan taqwa? Dan, jika kriteria ini diterapkan kepada diri kita sendiri, sebenarnya termasuk kelompok manakah kita?

Maka, kita harus selalu mawas diri. Sebab, hati manusia sebenarnya sangat lemah dan mudah berubah. Oleh karenanya, hati disebut al-qalbu dalam bahasa Arab, artinya berbolak-balik. Dan, itulah gambaran dari hati manusia yang sesungguhnya.

Bukalah surat kabar hari ini, dan bacalah. Mungkin, awalnya Anda geregetan oleh tingkah para koruptor; setelah itu iba menyaksikan para korban bencana alam; selanjutnya terkagum-kagum oleh berita sains-teknologi; lalu dibuat heran oleh isu-isu dunia selebritis; dan kemudian disuguhi ulasan-ulasan olahraga yang beraneka ragam. Dalam sekali duduk, sudah berapa kali hati kita berubah? Bagaimana jika sehari?

Oleh karenanya, kita perlu memperhatikan baik-baik pengaruh macam apa yang akan memasuki hati kita. Ahmad bin Harb berkata, “Tidak ada yang bermanfaat bagi hati seorang hamba selain bergaul dengan orang-orang shalih dan menyaksikan amal mereka. Sebaliknya, tidak ada yang berbahaya bagi hati seorang hamba selain bergaul dengan orang-orang fasiq (ahli maksiat) dan melihat amal mereka.”

Artinya, kita bisa memutuskan sejak masih di dunia ini siapa saja yang kelak menjadi teman-teman kita di akhirat. Dengan izin Allah, kita pasti akan bersama-sama dengan mereka disana. Sebagai misal, jika di dunia ini kita selalu bersama orang-orang yang tidak memperdulikan shalat, hidup penuh kesia-siaan, dan tidak mengenal halal-haram, sementara kita sendiri tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan justru larut, maka apakah yang bisa diharapkan pada Hari Perhitungan kelak? Jelasnya, pengaruh teman memang tidak bisa diabaikan.

Ibnu Abi Dunia meriwayatkan dalam kitab al-Ikhwan, bahwa Washil maula Abu ‘Uyainah berkata: aku pernah bersama Muhammad bin Wasi’ di Marw. Lalu, ‘Atha’ bin Abu Muslim al-Khurasani mendatangi beliau bersama anaknya, ‘Utsman. ‘Atha’ kemudian berkata kepada Muhammad, “Amal apakah yang paling utama di dunia ini?” Beliau menjawab, “Menemani teman dan bercakap-cakap dengan saudara, apabila mereka saling bersahabat diatas kebajikan dan taqwa.” Beliau melanjutkan, “Pada saat itu, Allah akan menghadirkan kemanisan diantara mereka, sehingga mereka terhubung dan saling menyambungkan hubungan. Tidak ada kebaikan dalam menemani teman dan bercakap-cakap dengan saudara jika mereka adalah budak dari perutnya masing-masing, sebab jika mereka seperti ini maka satu sama lain akan saling menghalangi dari akhirat.”

Maka, segenap persahabatan, pernikahan, organisasi, parpol, juga kehidupan berbangsa dan bernegara, hanya akan melahirkan kebahagiaan jika masing-masing orang di dalamnya diikat oleh nilai-nilai kebajikan dan ketakwaan. Sebaliknya, jika mereka hanya terikat oleh “kepentingan perutnya”, maka hasilnya pasti runyam. Setiap orang akan dengan mudah saling mengintai dan menjegal demi keuntungan pribadinya. Jangankan saling menolong, saling perduli pun tidak. Yang ada hanyalah jiwa-jiwa oportunis. Tentu saja, semua orang akan merasa terancam dan tidak tenang, sehingga kebahagiaan hakiki sukar didapatkan.

Oleh karenanya, Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk mengedepankan kriteria “ketaatan beragama” dalam memilih pasangan (suami/istri). Logika di baliknya cukup jelas, sebab ketaatan beragama merupakan benih tanaman kebajikan, ketakwaan, dan akhlak mulia; yang seterusnya akan membuahkan kebahagiaan.

Jika sebuah pernikahan tidak memperdulikan aspek ini, maka ia hanya merupakan “kontrak” yang menjemukan dan memenjara. Tidak lama lagi keduanya akan bosan, dan justru sangat bersyukur jika bisa bercerai secepat mungkin. Subhanallah!

Maka, perhatikanlah siapa orang-orang di sekitar kita. Sebab, kebahagiaan kita – baik di dunia maupun akhirat – turut ditentukan oleh mereka. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

IAIAS Hidayatullah Batam Gelar Kuliah Umum

BATAM (Hidayatullah.or.id) Institut Agama Islam Abdullah Said Batam (IAIAS) menggelar kegiatan kuliah umum perdana (stadium general) dalam rangka penyambutan mahasiswa baru sekaligus menandai dimulainya tahun akademik 2022/2023. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Aula Asia Raya, Rektoran IAI-AS, Lantai 2, Senin, 16 Safar 1444 (12/09/2022).

Pada Stadium General kali menghadirkan Rektor UIN SUSKA Riau Prof. DR. Khairunnas Rajab, M.A, yang turut didampingi Ketua Umum DPP Hidayatullah KH. Nashirul Haq dan Ketua Badan Pembina Hidayatullah Batam Ust. H. Jamaluddin Nur.

Materi orasi ilmiah disampaikan Prof. DR. Khairunnas Rajab berjudul “Pengembangan Akademik Perguruan Tinggi Islam di Era 4.0”. Acara dimulai pukul 08.45 dihadiri oleh ratusan mahasiswa baru Institut Agama Islam Abdullah Said Batam.

Dalam materi kuliah umum yang disampaikan oleh Ketua Koportais Wilayah XII (Riau dan Kepulauan Riau) ini, Prof. Khairunnas menyampaikan pentingnya memiliki kemampuan berkomunikasi di era abad ke 21 ini.

“Kemampuan ini dalam rangka menjawab tantangan di tengah masyarakat. Kampus perguruan tinggi terkait juga harus berpacu untuk menghadapi tantangan tersebut,” katanya.

Rektor Institut Agama Islam Abdullah Said Batam, Muhammad Sidik, mengatakan, stadium general merupakan kegiatan yang memberikan pembekalan dan persiapan yang baik dan prima kepada para mahasiswa baru.

“Selain itu juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa baru tentang akademik, terbangunnya budaya akademik yang baik, memberikan motivasi kepada mahasiswa juga memberikan pelayanan yang baik bagi civitas akademik,” katanya.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa baru dari tiga fakultas yaitu Fakultas Tarbiyah, Fakultas Ekonomi Syariah, dan Fakultas Syariah (Hukum). Serta turut hadir Badan Pengurus serta pengawas Kampus Utama Hidayatullah Batam dan Ketua DPW Hidayatullah Kepri beserta jajaran./Abu Nafi

Orang yang Berbangga dengan Kesesatannya

0

KETIKA menyebut kaum ‘Ad dan Tsamud, dua bangsa kuno yang pernah berjaya di Jazirah Arab, Allah melekatkan satu sifat tertentu kepada mereka.

Allah berfirman:

“(Juga) kaum ‘Ad dan Tsamud. Sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Syetan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.” (Qs. al-‘Ankabut: 38).

Apa yang dimaksud dengan “berpandangan tajam” disini?

Frasa itu tidak merujuk kepada fenomena fisik, seperti mampu melihat dalam jarak sangat jauh atau mengamati benda-benda yang amat kecil. Akan tetapi, ia mengarah kepada aspek pemikiran dan ideologi.

Menurut pada ulama’ mufassirin, kalimat ini mengindikasikan bahwa ‘Ad dan Tsamud merupakan kaum yang tersesat namun memiliki struktur argumen dan pemikiran yang sangat mapan. Misalnya, Imam ath-Thabari berkata, “Mereka memiliki pandangan sangat tajam dalam kesesatannya itu, bangga dengannya, serta yakin bahwasanya mereka berada diatas hidayah dan kebenaran, padahal sebenarnya tersesat.”

Kita memang tidak tahu seperti apa persisnya pemikiran mereka, namun ayat-ayat Al-Qur’an mengesankan bahwa ia tidak jauh dari paganisme (penyembahan berhala) dan politeisme (penyembahan banyak tuhan).

Dalam surah Hud: 53-54, misalnya, dinyatakan:

“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami hanya karena perkataanmu. Kami pun sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

Ayat-ayat ini merekam kebanggaan mereka terhadap keyakinan musyriknya, tanpa sedikit pun terbersit keraguan dan perasaan rendah diri. Mereka bahkan menuduh Nabi Hud gila. Dewasa ini, fenomena mereka sangat mirip dengan pemikiran-pemikiran materialisme, ateisme, sekularisme, liberalisme, pluralisme, dsb; yang dibangga-banggakan, canggih dan terkesan sangat logis, namun sebenarnya sesat dan menyesatkan.

Syetan benar-benar telah menghias kebatilan itu sehingga terlihat indah dan menawan. Pada saat itulah mereka tidak akan bertaubat atau menyesal, karena memang tidak pernah merasa bersalah. Na’udzu billah!

Sehubungan dengan ini, telah diriwayatkan dalam Sunan Darimi dengan sanad shahih, bahwa Iblis bertanya kepada pasukannya, “Dari sisi mana kalian menggoda anak-cucu Adam?” Mereka menjawab, “Dari mana saja.” Ia bertanya lagi, “Apakah kalian juga menggoda mereka dari sisi istighfar?” Mereka menjawab, “Tidak mungkin! Itu adalah sesuatu yang beriringan dengan tauhid.” Iblis pun berkata, “Sungguh aku akan menyebarkan di tengah-tengah mereka sesuatu yang tidak akan mereka mintakan ampunan kepada Allah.” Maka, ia pun menyebarkan ahwa’ (kecenderungan memperturutkan hawa nafsu) di tengah-tengah manusia.

Maksud atsar ini adalah: jarang atau hampir tidak mungkin seorang penganut ahwa’ dan bid’ah itu bertaubat, sebab mereka tidak merasa bersalah. Hasan al-Bashri berkata, “Allah enggan mengizinkan pertaubatan seorang penganut hawa.” – yakni, penganut bid’ah dan orang-orang yang hanya memperturutkan keinginan hawa nafsunya dalam beragama.

Pada dasarnya, inti beragama adalah pasrah kepada aturan dan kehendak Allah. Inilah makna asli dari “al-islam”. Oleh karenanya, generasi salaf sangat serius mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab, mustahil bisa pasrah secara benar tanpa berbekal ilmu, sedangkan sumber ilmu terpercaya adalah Al-Qur’an dan Sunnah.

Masruq berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang kami tanyakan kepada para Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melainkan ilmu tentangnya sudah ada dalam Al-Qur’an, hanya saja pengetahuan kami terhadapnya sangat terbatas.” (Kitabul ‘Ilmi karya Abu Khaytsamah, no. 51).

Diceritakan pula dalam kitab Taghliqu at-Ta’liq, bahwa Imam Bukhari berkata, “Saya tidak mengetahui sesuatu pun yang diperlukan melainkan ia sudah ada di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah memungkinkan untuk mengetahui hal itu?” Beliau menjawab, “Ya.”

Ulama’ Salaf sangat enggan menggunakan analogi logika (ra’yu dan qiyas) dalam urusan agamanya. Mereka berusaha semaksimal mungkin mengikuti atsar (riwayat dari Nabi dan Sahabat). Sungguh, kisah umat-umat terdahulu mengajarkan bahwa memperturutkan logika tanpa dinaungi wahyu adalah benih penyimpangan.

‘Urwah bin Zubair berkata, “Urusan Bani Israil tetap tegak dan lurus, tidak ada masalah apa pun, sampai kemudian tumbuh generasi keturunan para tawanan perang dari berbagai umat lain, yakni anak-anak para wanita yang ditawan oleh Bani Israil dari bangsa-bangsa lain. Lalu mereka berbicara dalam urusan-urusan Bani Israil berdasarkan ra’yu (rasio) mereka semata, sehingga akhirnya mereka pun menyesatkan Bani Israil secara keseluruhan.” (Riwayat Darimi no. 120. Isnad-nya jayyid).

Bahkan, dengan nada yang lebih tajam lagi Ibnu Sirin berkata, “Yang pertamakali menggunakan qiyas (analogi) adalah Iblis. Matahari dan bulan pun tidak disembah melainkan dengan berbagai qiyas.” (Riwayat Darimi no. 189. Isnad-nya jayyid).

Tentu saja, yang dimaksud adalah qiyas bathil. Dan, orang yang di dalam dirinya telah bersemayam qiyas semacam ini, jelas sangat sulit bertaubat dan pasti bangga dengan kesesatannya. Na’udzu billah. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Kerennya Kerajinan Bernilai Ekonomis oleh Penghuni Lapas Kelas II B Brebes

BREBES (Hidayatullah.or.id) — Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Brebes tak semata menjadi penghuni lapas hingga masa terungku selesai. Ternyata mereka pun telah banyak melakukan hal positif, diantaranya membuat beragam kerajinan yang bernilai ekonomis.

Hal itulah yang disaksikan langsung oleh tim Islamic Medical Service (IMS) saat diajak berkeliling di lapas itu disela kegiatan tabligh akbar dan hapus tato dalam rangka menyemarakkan perayaan HUT RI yang ke 77 tahun belum lama ini.

“Alhamdulillah, warga binaan memiliki kreatifitas yang luar biasa sehingga bisa membuat kerajinan yang bernilai ekonomis,” kata Ahmad Sathuri dari IMS dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 12 Safar 1444 (12/9/2022).

Kedatangan IMS bersama MTT ke Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Brebes juga sekaligus melakukan kegiatan hapus tato dengan Tema “Hijrah Kemerdekaan Hakiki”, dimana bertepatan masih dalam suasana tahun baru hijriyah 1444 H dan peringatan HUT RI ke 77 tahun.

Sathuri menjelaskan, kegiatan di Lapas Kelas IIB Brebes ini merupakan kegiatan perdana yang dilakukan IMS, namun untuk di Jawa Tengah, Brebes merupakan lapas ketiga yang disambangi pihaknya dalam rangka ikut memberikan layanan terhadap WBP yang ingin hapus tato.

“Sebelumnya IMS sudah melaksanakan kegiatan yang sama di Lapas Kedungpane Semarang dan Lapas Perempuan Semarang,” imbuhnya.

Dalam sambutan acara tabligh akbar, Kepala Lapas IIB Brebes, Isnawan, menyampaikan bahwa yang berada di dalam belum tentu jahat dan yang berada di luar belum tentu baik. Untuk itu, ia berpesan pentingnya selalu bermujahadah menjadi pribadi yang semakin baik dari hari ke hari.

Kalapas Isnawan juga mengajak tim IMS untuk berkeliling melihat bengkel kerja WBP yang telah secara aktif menghasilkan kerajinan berupa pembuatan tali tambang, keset, hingga sandal hotel dan juga goody bag.

Tabligh akbar diikuti oleh semua warga binaan pemasyarakatan dengan jumlah sebanyak 289 WBP, sementara yang mengikuti kegiatan hapus tato berjumlah 22 orang.

“Alhamdulillah kesedaran WBP dalam mengikuti kegiatan tabligh akbar sangat baik, itu karena pembinaan kerohanian selama ini sudah berjalan secara rutin di lapas,” kata Sathuri.

Demikian juga dengan hapus tato, tidak ada paksaan bagi WBP untuk mengikuti kecuali kemauan sendiri untuk menghilangkan citra negatif yang melekat di tubuh nya barupa tato.

Isnawan berharap kegiatan ini bisa berjalan berkelanjutan, karena kehadiran masyarakat umum sangat membantu lapas dalam memberikan layanan kepada WBP yang belum bisa memenuhi semua kebutuhan yang dibutukan WBP.*/Alamsyah Jilpi

SAR Hidayatullah Observer Helatan INSARAG AP ERE 2022 di Bali

NUSA DUA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga relawan kemanusiaan pencarian dan pertolongan/ Search and Rescue (SAR) Hidayatullah menjadi salah satu peserta undangan sebagai observer dalam kegiatan latihan penanganan kedaruratan gempa berskala internasional dengan melibatkan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik yang berlangsung di Hotel Grand Hyatt Nusa Dua, Bali, mulai tanggal 5 – 9 September 2022.

Helatan akbar yang bertajuk International Search and Rescue Advisory Group Asia-Pacific Regional EarthQuake Response Exercise (INSARAG AP ERE) 2022 itu dihadiri ratusan delegasi dari dalam dan luar negeri yang terlibat pada kegiatan tersebut. Delegasi dari dalam negeri diantaranya, BNPB, kementerian luar negeri, TNI, Polri, dan stakehokder lainnya.

Sementara delegasi dari luar negeri diantaranya Australia, Singapura, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Bangladesh, Fiji, New Zeland, Pakistan, Philipina, Korea, Samoa, Sri Langka, Mongolia, Nepal, dan Canada.

Kepala Basarnas Marsdya TNI Henri Alfiandi dalam keterangan resminya mengatakan, program latihan tahunan tersebut bertujuan untuk memperkuat kapasitas setiap negara dalam merespons gempa bumi yang merusak serta meningkatkan interoperabilitas perbantuan internasional pada saat tanggap darurat bencana.

“Selain latihan bersama, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan koordinasi tanggap darurat secara nasional maupun internasional dalam rangka merespon dengan cepat saat terjadi kedaruratan yang tidak terduga,” katanya seperti dilansir laman Basarnas.

Dijelaskan, latihan bersama tersebut menjadi momentum bagi seluruh peserta untuk mendapatkan pengalaman dan praktik terbaik dengan jaringan INSARAG dan mitra.

Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun menyambut baik gelaran tersebut serta menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Basarnas yang telah memberikan kepercayaan padanya sebagai satu potensi yang terlibat sebagai observer dalam kegiatan tersebut.

“Sebuah kehormatan bagi SAR Hidayatullah telah dipercaya menjadi bagian dari kegiatan bertaraf internasional ini. Apresiasi dan terimakasih kami sampaikan kepada Basarnas atas kepercayaan ini dan segenap pihak yang terus bersama sama merawat kepedulian dalam penanganan bencana alam,” kata Irwan.

Dalam kegiatan INSARAG AP ERE 2022 yang dihadiri 20 negara dan 105 partisipan tersebut, SAR Hidayatullah mengutus 2 anggota terbaiknya yaitu Tafdilul Umam yang juga Sekjen SAR Hidayatullah dan Kepala Divisi Diklat Murdianto.

Diketahui, INSARAG yang menginduk pada United Nations Office of the Coordinator Humanitarian Affairs (UN OCHA) telah menentukan spesifikasi atau kualifikasi tim Urban SAR sebuah negara yang kapabel untuk terlibat dalam operasi SAR di negara lain yang terdampak. Basarnas sendiri telah memperoleh klasifikasi medium USAR team sehingga dapat memberikan bantuan Urban SAR ke negara lain.

Kegiatan INSARAG ERE 2022 tersebut juga dalam rangka memberikan jaminan kepada dunia, khususnya peserta KTT G20, bahwa tim SAR Indonesia bersama negara-negara lain siap menangani bencana gempa bumi.*/Ainuddin

[Khutbah Jumat] Menjadi Mukmin Sejati

0

KITA hadir di sini menunaikan kewajiban sebagai laki-laki. Perempuan tidak diwajibkan shalat Jum’at. Lewat kewajiban shalat dan khutbah Jum’at ini, seakan-akan Allah ingin meng-upgrade kelaki-lakian kita dengan menyimak khutbah dan menegakkan solat
Jum’at berjamaah. kita dilarang bicara saat khutbah disampaikan.

Inti pesan khutbah Jum’at,ّ sejak zaman Rasulullah ّصلى الله عليه وسلم sampai kiamat itu sama: yaitu mengingatkan kita untuk bertaqwa. Takut dan taat kepada Allah. Maka taqwa adalah syarat sukses kita sebagai laki-laki. Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

Santri Ponpes Hidayatullah Fakfak Papua Barat ikut Pelatihan Kreatif Digital

0

FAKFAK (Hidayatullah.or.id) — Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Politeknik Negeri Fakfak atau Polinef, menyelenggarakan pelatihan peningkatan kemampuan menulis melalui pembuatan dan pengelolaan blog, yang diselenggarakan 3 dan 4 September 2022 diikuti santri putri bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Fakfak, Papua Barat.

Membuka kegiatan, Ustadz Iping Hanafi, S.Pd.I. Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Fakfak mengatakan, Ilmu agama merupakan pondasi kehidupan seseorang yang wajib untuk dimiliki, sehingga dapat ditunjang dengan ilmu-ilmu lainnya, sesuai minat dan bakat para santri.

Menurut Ustadz Iping, selama ini di Pondok Pesantren Hidayatullah Fakfak, belum pernah dilaksanakan pelatihan serupa, sehingga hal ini tentu sangat berguna bagi santri .

“Melalui bekal ilmu agama diharapkan, ilmu penunjang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat,” ujarnya.

Ustadz Iping berharap, kegiatan ini rutin dilakukan sehingga dapat mengasah kemampuan para santri di bidang teknologi informasi.

Sementara itu, Ketua tim PkM yang juga merupakan salah satu narasumber kegiatan, Riyadh Arridha, S.Kom., M.T. menjelaskan bahwa, kegiatan ini merupakan bentuk dedikasi tenaga pendidik pendidikan tinggi.

“Kewajiban kami adalah melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, dimana salah satu muaranya adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta wawasan masyarakat,” jelas Riyadh

Lebih jauh Riyadh menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Riyadh berharap, melalui pelatihan peningkatan kemampuan menulis, pembuatan dan pengelolaan blog ini, dapat membantu para santri untuk memiliki ilmu penunjang lainnya yang dapat dimanfaatkan dalam menyebarkan informasi.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini, menampilkan tiga narasumber, dua diantaranya Titing Magfirah, S.Pd., M.Pd. dan Andi Roy, S.Kom., M.M.

Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan delapan instruktur dari mahasiswa D3 Manajemen Informatika Polinef, yaitu Ananta Sukarno, Abdullah Iribaram, Putra Armando, Beato Aprillio Sirwutubun, Dwiky P.T Ardian, Icha Ashari, Humairoh A. Aisyah.*/Jojie Muskita Matitaputty