Beranda blog Halaman 342

Korps Muballigh Hidayatullah Gelar Sarasehan dan Pelatihan Khatib

Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah Ust Nursyamsa Hadis membuka acara

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Salah satu lembaga di Hidayatullah yang secara khusus mengkoordinasi dan mendelegasi sumber daya dai, Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), menggelar kegiatan sarasehan dakwah dan pelatihan khatib yang berlangsung intensif sehari di Aula Abdullah Said, Komplek Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu, 3 Dzulhijjah 1443 (2/7/2022).

Ketua Korps Mubaligh Hidayatullah Pusat, Ust Iwan Abdullah, mengatakan, program yang digelar ini disiapkan untuk memberikan pembekalan kepada para dai atau muballigh muda Hidayatullah agar memiliki kecakapan di dalam menggunakan media sebagai sarana dakwah di Megapolitan.

“Harapannya, agar dai nantinya bisa tampil prima dalam memberikan layanan kepada masyarakat dan semakin banyak yang merasakan manfaatnya,” kata Iwan saat yang ditemui di lokasi acara.

Dengan pelatihan ini, lanjut Iwan, diharapkan nantinya dapat membantu para dai dalam menyampaikan dakwahnya serta mencetak dai muda baru yang siap mengemban risalah dakwah yang dapat memberikan pencerahan kepada ummat.

Ia menambahkan, kini saatnya yang tepat bagi para pemuda untuk memproses diri untuk menjadi dai. Ditengah arus kehidupan yang serba materialistis ini sangat jarang pemuda yang mau terjun ke dunia dakwah.

“Maka apabila ada pemuda yang mau mendedikasikan dirinya di dalam dunia dakwah, tentunya pemuda itu adalah pemuda terbaik yang dipilih Allah untuk menjadi pewaris para Nabi,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, dilakukan pelantikan pengurus KMH cabang Depok yang dilantik langsung oleh Iwan Abdullah.

Dia berharap, dengan terbentuknya KMH di Depok dan daerah lainnya di Indonesia, akan semakin menguatkan gerakan dakwah dengan semangat sinergis bersama masyarakat dan elemen umat lainnya.

Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah Ust Nursyamsa Hadis yang membuka kegiatan ini menekankan keutamaan seorang muslim yang melakoni dakwah. Menurutnya, dai adalah pekerjaan mulia yang luar biasa nilainya.


Ketua Korps Mubaligh Hidayatullah Pusat, Ust Iwan Abdullah

“Bagi saya, menjadi dai itu pekerjaan yang paling bergengsi,” katanya seraya mengutip kitabullah Al Qur’an Surah Fussilat Ayat 33 yang memuat pesan agar seorang muslim melakukan kerja kerja dakwah yang mengajak kepada kebajikan.

Nursyamsa mengatakan, mumpung masih muda maka ambillah langkah untuk terjun ke masyarakat. Melayani umat dengan pengajaran agama Islam bahkan pada hal hal yang barangkali dianggap sederhana seperti mengajarkan alif ba tsa, mengajarkan iqra’, membina aqidah, dan berupaya meretas problem keseharian yang dihadapi oleh masyarakat sesuai kapasitas yang dimiliki.

Olehnya itu, dia berharap kegiatan sarasehan dakwah dan pelatihan khatib ini semakin meneguhkan kultur gerakan Hidayatullah sebagai instrumen dakwah yang hidup dan terus bergerak bersama nadi keseharian umat.

“Siapkan energi yang besar untuk memperbanyak silaturrahim, menjumpai umat, dari lorong ke lorong. Dengan Al Quran yang kita bawa yang berisi peringatan dan kabar gembira, insya Allah umat akan menyambut dengan suka cita,” tandasnya.

Acara sarasehan dakwah dan pelatihan khatib ini menghadirkan narasumber lainnya yaitu pembina Korps Muballigh Hidayatullah KH Zainuddin Musaddad dan aktivis muda yang juga pegiat dakwah digital Imam Nawawi.

Kegiatan sarasehan dan pelatian dai ini dihadiri 83 peserta dengan materi berupa pembekalan terkait bagaimana menjadi dai, kiat, retorika dan jatidiri dai dan bagaimana seorang dai memanfaatkan perangkat teknologi untuk berdakwah. (ybh/hio)

Orang Muslim tak Ngangggur karena Sibuk Mengurus Islam

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust Abdul Ghofar Hadi mengatakan idealnya seorang muslim tidak pernah menganggur karena sangat sibuk dengan waktu produktif yang dihabiskan dalam rangka mengurus agama Alllah SWT semata-mata agar agar agama ini jalan dan agar agama ini tegak.

“Orang beriman pasti sibuk, tidak ada yang menganggur. Karena banyak pekerjaan orang beriman. Mengajak dan mengenalkan Islam, mengajarkan shalat, baca al Quran,” kata Ust Ghofar saat mengisi materi dalam acara Kajian Kelembagaan Bulanan Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Jum’at, 2 Dzulhijjah 1443 (1/7/2022).

Namun, sayangnya, masih banyak saudara-saudara muslim kita yang belum tahu apa itu syahadat, shalat dan membaca al Quran. Akibatnya, waktu dan kesempatan yang dimiliki habis begitu saja tanpa makna. Gersang rohaninya, tak tenang hidupnya, sempit hati, dan tak tahu apa orientasi hidup.

Beriman tentu ada risiko. Konsekwensi beriman pada Islam diantaranya akan memunculkan picingan mata dari orang tak suka bahkan dibenci setengah mati, sebab setiap zaman, kebenaran pasti selalu berhadapan dengab kebatilan.

Rasulullah sendiri merasakan ngerinya kebencian orang kafir itu, sebab beliau membawa sesuatu yang menakutkan orang orang yang melembagakan kemunafikan dan mempertontonkan kedzaliman.

“Konsekwensi orang beriman seringkali dianggap gila, pembohong, penyihir dan semisalnya dari orang-orang kafir. Itu adalah cara untuk pembunuhan karakter agar orang tidak percaya kepada apa yang didakwahkan oleh orang beriman,” katanya.

Muhammad yang sebelum mendapatkan wahyu digelari al Amin atau orang terpercaya karena kebaikan dan kejujurannya. Namun setelah mendapatkan wahyu, diangkat menjadi nabi, beliau langsung spontan dianggap gila, pembohong, dan penyihir.

“Padahal Allah menurunkan surat al Qolam, salah satu ayatnya menjelaskan bahwa dengan nikmat Allah, Muhammad tidak gila,” terangnya.

Ghofar menjelaskan, “nikmat” yang dimaksud dalam surah Al Qolam tersebut bukan materi dunia berupa harta bendawi, tahta dan wanita. Tapi nikmat Islam, iman, hidayah, dan al Quran yang merupakan nikmat terbesar untuk bahagia dunia akhirat.

Ia mengatakan, hari ini masih banyak orang yang menganggap “gila” kepada orang yang rajin dan taat beribadah. Dianggap gila karena aneh dan tidak sesuai dengan standar dan orientasi mereka. Padahal gila yang sesungguhnya adalah mereka yang tidak mengenal Allah. Padahal Allah yang memberikan hidup, imbuhnya.

“Salah satu nikmatnya di Hidayatullah adalah keberkahan dalam hidup,” katanya kemudian di hadapan seluruh mitra jihad pengurus yayasan, dosen, guru, karyawan, security, pengasuh, bapak-bapak dan ibu-ibu Kampus Hidayatullah Depok.

Dalam kesempatan menyampaikan materi taushiahnya tersebut, Ust Abdul Ghofar banyak mentransformasikan pengalamannya ber-Hidayatullah saat menjadi guru dan sejak menjadi mahasiswa hingga sekarang tugas ke Jakarta.

“Kenikmatan di Hidayatullah selain keberkahan hidup. Juga terantar menjadi taat. Arahan, program, peraturan dan lingkungan yang menumbuhkan kesadaran untuk taat. Baik dalam ibadah maupun dalam menjalankan tugas,” katanya.

Menurutnya, berbagai macam pengalaman tugas dari para dai Hidayatullah sangat menarik dan menggugah. Itu semua menjadi inspirasi dan motivasi untuk bisa menjalankan tugas.

Di akhir materinya, Ust Ghofar menegaskan bahwa konsekwensi nyata dari orang yang telah bersyahadat atau beriman, yaitu terus terpanggil untuk berbuat dan berkarya.

Kegiatan digelar di Masjid Ummul Qura setelah shalat Jumat hingga menjelang shalat Ashar ini dipandu oleh Ketua Departemen Dakwah Hidayatullah Depok Ust Muhammad Hafidz Bahar, MM.

Kegiatan kajian kelembagaan ini dilaksanakan rutin setiap bulan sekali. Pemateri bergantian didatangkan dari pengurus tingkat pusat Hidayatullah atau para senior dengan tujuan memberikan, pencerahan, motivasi, dan transformasi nilai-nilai kelembagaan kepada seluruh karyawan dan staf. (ybh/hio)

Pentingnya Dakwah Soskes untuk Membangun Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad menyampaikan pentingnya dakwah sosial dan kesehatan (soskes) untuk membangun umat yang kuat, sehat, dan bermartabat.

“Kemuliaan aktifitas sosial dan kesehatan itu luar biasa. Karena kita tidak cukup hanya dengan ceramah, tapi harus datang kepada umat ini dengan memberikan makanan, minuman, kepada yang memerlukan di sekitar kita,” katanya dalam taujihnya dalam Rapat Rakornas Departemen Sosial dan Kesehatan di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Kamis, 1 Dzulhijjah 1443 (30/6/2022).

Beliau menegaskan, dakwah dengan tindakan nyata (dakwah bilhal) dalam bidang sosial dan kesehatan amatlah sangat penting dalam rangka memberikan pelayanan terbaik dan membantu orang yang memerlukan.

Hal tersebut beliau sampaikan dengan menukilkan bunyi Pedoman Dasar Organisasi (PDO) Pasal 3 Ayat 2 bahwa Hidayatullah adalah sarana pelayanan dan pemberdayaan bagi ummat.

“Dalam memberikan layanan kepada umat harus punya semangat seperti kuda perang. Sebagaimana ayat yang dibacakan oleh sekretaris DPW DKI tadi yaitu surat Al Aadityat,” terangnya semringah.

Pada kesempatan tersebut, Pemimpin Umum mengaku sangat bersyukur dapat hadir dalam acara tersebut. “Berkah bisa berkumpul dengan seluruh aktifis sosial dan kesehatan Hidayatullah dari seluruh Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan, ini adalah momentum berharga karena bisa bersilaturahim ketemu teman, masih sehat dan segar. Ada senyumnya maka itu ada transformasi nilai dan semangat. Sehingga, terangnya, tidak enak melewatkan momen Rakornas Departemen Sosial dan Kesehatan untuk silaturahim dengan bertemu peserta.

“Mencetak kemenangan itu sederhana, sebagaimana kisah nabi Muhammad memukul batu saat perang Khandaq dan mengganjal perut dengan batu untuk menahan lapar,” imbuhnya memotivasi.

Ia pun berpesan kepada aktivis sosial dan kesehatan umat dari 34 provinsi yang hadir dalam Rakornas ini hendaknya terus bergerak dan berkarya demi untuk kemaslahatan dan kejayaan umat, agama, bangsa, dan negara.

“Ini tugas kita semua untuk berdakwah lebih optimal,” tandasnya. Pada kesempatan tersebut Pemimpin Umum turut didampingi Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq dan Kabid Dakwah dan Pelayanan Umat Ust H. Nursyamsa Hadis.

Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama yang berlangsung di Aula Utama Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah itu.*/Abdul Ghofar Hadi

Sumur Bor dan Qurban untuk Warga Kampung Tanah Merah Bintan

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Puluhan warga kampung muslim Tanah Merah, kabupaten Bintan, menyambut kehadiran tim sinergi BMH Kepri dan DPW serta DPD Hidayatullah Bintan yang dipimpin, General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz, Rabu, 30 Dzulqaidah 1443 (29/62022).

Bertempat di balai desa, dalam kesempatan itu dicanangkan program sumur bor dan penyaluran hewan qurban.

“Insya Allah BMH akan membangun sekitar 10 sumur bor di kampung ini, kami juga akan menyalurkan hewan qurban berupa sapi dan kambing agar warga dapat juga mencicipi daging qurban saat hari raya Idul Adha nanti,” terang Aziz.

Beberapa kali warga secara spontan bertepuk tangan ketika Abdul Aziz menyampaikan program pengadaan sumur bor dan penyaluran hewan qurban. Maklum saja, sudah puluhan tahun warga merindukan air bersih, selama ini mereka hanya mengandalkan air hujan dan sumur resapan dengan debit air terbatas.

“Masyarakat di sini sangat membutuhkan air bersih, kadang malam jadi siang, siang jadi malam dan mereka rela antri demi mendapatkan air bersih, untuk kebutuhan beribadah pengurus mushollah terpaksa membeli air,” curhat bapak Idris, tokoh masyarakat setempat.

Kampung Tanah Merah dihuni sekitar 150 KK atau sekitar 400 jiwa. Mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan kecil dan petani.

Keterbatasan ekonomi membuat mereka tak mampu membangun sumur bor. Termasuk pada momen hari raya Idul Adha, belum pernah sekalipun ada penyembelihan hewan qurban di musholla kampung.

“Mudah-mudahan air bersih segera ada karena kami hanya menadah air hujan dan kalau musim utara air di sumur terasa asin tapi terpaksalah kami ambil pak, karena tak ada air lagi, kami tak dapat membeli karena pekerjaan kami hanya kuli ketam (kepiting-red),” tutur Ibu Tina penuh haru.*/Mujahid M. Salbu

Training Parenting Mushida Sulsel Perkuat Wawasan Berumah Tangga

BONE (Hidayatullah.or.id) — Departemen Sosial Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (PW Mushida) Sulawesi Selatan didukung Laznas BMH menyelenggarakan Training Parenting Jenjang I digelar di Bone, 28-29 Dzulqaidah 1443 (27-28/6/2022).

Ketua Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Ustz Hani Akbar berharap training dengan tema “Mencetak Ibu dan Istri yang Memiliki Wawasan Benar dalam Berumah Tangga ” dapat memenuhi kebutuhan pemahaman kader dalam berumah tangga.

“Agar para pengurus dan ibu bisa kuat dan cerdas dalam menyiapakan generasi pelanjut,” katanya.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 53 kader Muslimat Hidayatullah. Sambil menukil Al Quran surah An Nisa ayat 9, Hani menambahkan pelatihan juga sebagai penguatan pemahaman jatidiri organisasi dan tambahan spirit kelembangan.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang merekakhawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”

Ketua DPD Hidayatullah Bone Ust Burhanuddi SAg MPdi bersyukur atas terselenggaranya kegiatan pelatihan parenting ini, “Sebab kegiatan seperti ini akan membantu tugas suami dalam melahirkan rumahku syurgaku, jika istri telah sholehah, dan ibu yang cerdas maka rumah akan menjadi syurga buat keluarga,” ujarnya.

Kepala Departemen Sosial PW Mushida Sulsel Afiah Amiruddin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar besarnya kepada para instruktur yang luar biasa yang telah menyampaian 6 materi parenting kepada para peserta.

Juga apresiasi kepad PD Mushida Bone yang telah berbesar hati mengambil lelang program besar ini.

“Insya Allah akan diadakan kembali training larenting 2 sebagai materi lanjutannya, Yang mana materinya akan lebih dahsyat lagi,” ucapnya.

Pada kesempatan sama Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust Nasri Bukhari juga berkesempatan hadir memberi taushiyah sekaligus menutup kegiatan Training Parenting angkatan 1.

Ust Nashri menjelaskan, semakin banyak kita bicara, maka harus juga semakin tinggi ilmu dan pengalaman. “Ilmu parenting ini bisa berkelanjutan dan bermanfaat jika ilmu yang kita dapat diaplikasi dan dibagi kepadaa yang lain,” tandas Nasri.*/Humas Hidayatullah Sulsel

Maksiat Pemicu Kehancuran, Siksaan dari Atas dan dari Bawah

BILA manusia telah menyimpang dan jahat di mata Allah, maka Dia tidak akan kekurangan cara untuk memperingatkan serta menghukum mereka di dunia. Dulu, Allah mengirimkan para Nabi dan Rasul, dengan membawa wahyu-Nya. Ketika manusia membangkang, kehancuran pun ditimpakan serta-merta. Cukuplah kisah kaum Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib sebagai peringatan.

Namun, kini wahyu dan kenabian telah berakhir. Bagaimana cara Allah memperingatkan dan menghukum pembangkangan manusia di dunia?

Dalam surah al-An’am: 65, Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Dia lah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kalian keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).”

Demikianlah. Sungguh, siksaan-Nya bisa datang kapan saja dan dari mana saja. Maka, kita tidak bisa bersandar pada teknologi macam apapun. Sebab, kita tidak pernah tahu bencana mana lagi yang akan datang berikutnya.

Kita harus ingat, seluruh alam raya ini milik-Nya dan ada di tangan-Nya. Mereka akan tunduk kepada apa saja yang Dia perintahkan, apakah menurunkan rahmat atau adzab. Sebuah tanah datar yang tenang, bisa saja dibuat-Nya memuntahkan lahar gunung berapi.

Lihatlah, kawasan yang hiruk-pikuk bisa tenggelam oleh banjir lumpur vulkanik dalam waktu sekejap, padahal ia tidak berada di kawasan pegunungan. Sebaliknya, adalah kuasa-Nya untuk menahan titik-titik rawan agar tetap stabil dan memberi ruang yang lega bagi kehidupan.

Imam Ibnul Jauzi dalam Tafsir Zadul Masir menyitir bahwa bencana “dari atas” bisa ditafsirkan pada dua arah. Pertama, berupa bencana alam yang turun dari langit, yakni meteor, petir, angin puyuh, dsb. Kedua, berupa bencana yang diakibatkan oleh para penguasa yang buruk dan jahat, atau para pemimpin yang bejat.

Sementara itu, bencana “dari bawah” bisa jadi datang dari bumi, seperti gempa, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, dll; atau dari rakyat jelata yang tidak bermoral, tidak taat hukum dan liar; atau para budak, hamba sahaya, kaum buruh dan pembantu.

Akhir-akhir ini, kita telah menyaksikan bencana “dari atas” dan “dari bawah” pada dua bentuknya sekaligus. Seiring perjalanan Abad XXI, skala dan intensitas bencana alam semakin meningkat, dan tampaknya tidak ada gejala untuk menurun.

Di sisi lain, kita juga menyaksikan bencana yang diakibatkan ulah sebagian penguasa dan pemimpin yang buruk – bahkan, bejat dan tidak bermoral. Hampir tidak ada elemen yang tidak ternoda. Dan, pada saat bersamaan, bencana “dari bawah” pun semakin marak, yakni dari sebagian rakyat jelata yang bermoral rendah, tidak taat hukum dan cenderung liar. Kekerasan demi kekerasan, atas nama apapun, oleh sebab apapun, kecil maupun besar, justru meluas dan meningkat.

Tidak cukupkah semua ini sebagai peringatan? Kapan kita bertaubat, kembali kepada-Nya, tunduk menyerahkan diri pada kebijaksanaan hukum dan syari’at-Nya? Apakah kita hendak menunggu sampai tibanya bencana lebih dahsyat, sebagaimana diisyaratkan oleh penghujung surah al-An’am: 65 diatas? Yakni, ketika Allah memecah belah suatu bangsa sehingga satu sama lain saling berperang dan membunuh.

Sungguh, ketika manusia melanggar aturan-Nya, maka dosa mereka akan memicu permusuhan satu sama lain, sehingga pecahlah pertumpahan darah dan kematian menyebar dimana-mana. Ini bencana yang lebih dahsyat dan perih. Sebab, ketika bencana alam yang jatuh, manusia akan bertekuk-lutut di hadapan kuasa-Nya yang tak tertandingi.

Akan tetapi, tatkala bencana timbul dari kejahatan sesama, yang muncul bukan kepasrahan, namun dendam dan angkara-murka. Maka, api pun semakin berkobar dan adzab Allah akan semakin menggelora. Na’udzu billah.

Rasulullah bersabda, “Seorang muslim adalah saudara dari sesama muslim, dia tidak boleh menzhalimi dan menelantarkannya.” Beliau melanjutkan, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah dua orang yang berkasih-sayang itu kemudian terpisahkan kecuali karena suatu dosa yang diperbuat oleh salah seorang dari mereka.” (Riwayat Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Menurut al-Mundziri: sanad-nya hasan).

Benar apa yang beliau katakan. Sepasang suami istri yang mesra bisa mendadak berseteru secara tragis, karena ada dosa diantara mereka. Saudara sekandung bisa bercekcok dan tidak saling menyapa, karena ada dosa diantara mereka.

Para pengelola yayasan, ormas, partai, dan perkumpulan apapun, yang semula solid bisa pecah berantakan dalam sekejap, pasti karena ada dosa diantara mereka. Itulah jalan syetan, sebab dia paling membenci kerukunan dan terangkainya hati. Sebaliknya, dia sangat menginginkan perpecahan, kebencian, dan permusuhan di tengah-tengah umat manusia.

Setiap maksiat, pada dasarnya adalah cara syetan untuk memicu kehancuran itu. Al-Qur’an menjelaskan misi syetan di balik setiap perkara yang Allah haramkan,

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syetan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamer dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka, berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Qs. al-Ma’idah: 90-91).

Maka, wahai manusia, waspadalah!!

Ust. M. Alimin Mukhtar

Departemen Sosial dan Kesehatan Hidayatullah Gelar Rakornas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Sosial dan Kesehatan DPP Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) selama 2 hari di Komplek Wisma dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta, dibuka Rabu, 30 Dzulqaidah 1443 (29/6/2022). Acara ini turut didukung Laznas BMH.

Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq dalam sambutannya membuka Rakornas ini menyampaikan pentingnya menguatkan eksistensi gerakan sosial dan kesehatan dalam memujudkan masyarakat yang sejahtera, maju, dan berperadaban.

Salah satu yang ia tekankan adalah penguatan peran panti asuhan atau lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) yang berada di bawah naungan Hidayatullah. Menurutnya, pemenuhan hak anak-anak merupakan hal mendasar yang tak boleh diabaikan.

“Tugas LKSA atau Pusat Pendidikan Anak Shaleh Hidayatullah merupakan amanah yang besar karena ini peran untuk memuliakan anak anak yatim, piatu, terlantar, dan dhuafa,” katanya.

Ia juga mendorong dilakukannya penyetaraan dan pemantapan standardisasi panti asuhan dan gerakan sosial lainnya dibawah pengelolaan Hidayatullah.

“Penting ada satu model dan standar dalam gerakan sosial dan kesehatan Hidayatullah yang kemudian itu dikembangkan ke daerah daerah,” imbuhnya.

Dalam pada itu, tak kalah penting yang menjadi pemikirannya selama ini ialah menjadikan distribusi pendidikan lebih berkualitas dan merata untuk anak yatim dan dhuafa pada semua daerah di Indonesia sehinggga mereka tak harus sekolah ke Jawa.

“Masalah pendidikan untuk yatim dan dhuafa Ini yang perlu juga dipikirkan oleh Departemen Sosial,” katanya seraya menekankan bahwa masalah sosial ini amat penting karena dengan masalah sosial teratasi maka akan ada kesejahteraan.

Nashirul juga menyoroti beragam problem kesehatan dewasa ini. Menurutnya, masalah kesehatan tidak semata pola makan tetapi juga pola hidup serta perlunya ada mekanisme yang didukung oleh pemerintah. Ia mencontohkan, di luar negeri seperti Jepang, warga masyarakat bahkan dikondisikan untuk harus berjalan kaki sekian kilo dalam sehari.

Ia menilai masalah kesehatan amat penting dipedulikan, sebab demikianlah pula Rasulullah SAW yang menjaga kesehatan dan kebugarannya bahkan hingga meninggal dunia. Apalagi ditengah kondisi seperti sekarang ini dimana penyakit bisa menjangkiti bahkan pada usia yang masih belia.

“Pencegahan lebih utama daripada mengobati. Untuk melakukan pencegahan adalah dengan edukasi. Jadi, tidak mengobati orang sakit, tapi melakukan pencegahan agar orang tidak sakit. Jadi yang paling penting adalah edukasi kesehatan,” katanya.

Diakhir sambutannya, Nashirul berpesan agar terus dilakukan penguatan sistem Jaminan Sosial Kader (Jamsoskad) Hidayatulah yang sudah mulai bergulir sebagai upaya penyelenggaraan jaminan sosial bagi semua kader.

Disela pembukaan acara dilakukan penandatanganan kerjasama antara Laznas BMH dan Sahabat Anak Indonesia (SAI) yang masing masing diwakili oleh Supendi selaku Direktur Utama BMH Pusat dan Musliadi selaku Ketua SAI Pusat.

Dalam kesempatan tersebut hadir sejumlah pengurus DPP Hidayatullah seperti Kabid Dakwah dan Pelayanan Umat Nursyamsa Hadis, Ketua Departemen Kesehatan Imron Faizin, Ketua Departemen Sosial Musliadi, Ketua Departemen Keuangan Saiful Anwar, Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota Iwan Abdullah serta pengurus Departemen Sosial Hidayatullah dari 34 provinsi.

Hadir pula perwakilan unsur amal dan badan usaha serta organisasi pendukung seperti BMH, Posdai, IMS, SAR Hidayatullah, TASK, Pemuda Hidayatullah, SAI, Aphida, dan lainnya.*/Ainuddin

[KHUTBAH JUM’AT] Belajar dari Nabi Ibrahim AS Dalam Mewujudkan Lingkungan Sosial Islami

PADA momentum yang berbahagia ini, marilah kita tingkatkan rasa syukur kita kepada Allah atassegala nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada kita, nikmat sehat dan kesempatan sehingga bisa bermuwajahah di tempat yang sangat mulia, di hari hari yang sangat agung. Semoga langkah kita diberkahi oleh Allah.

Teks Khutbah Jum’at kerjasama Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai), Pemuda Hidayatullah dan Hidayatullah.or.id, berikut selengkapnya:

Posdai Berencana Bangun Kampung Mualaf untuk Suku Toghutil

MALUKU UTARA (Hidayatullah.or.id) — Suku Toghutil yang tinggal di hutan Halmahera, Maluku Utara, masih gemar hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Jika menemukan tempat yang bagus di pinggir sungai, jelas Ust Nurhadi, dai muda Hidayatullah yang lama membina masyarakat suku Togutil, mereka akan mendirikan gubuk tanpa dinding di sana.

Mereka tinggal bersama keluarga besarnya di tempat itu untuk beberapa waktu. Selama tinggal di tempat itu, mereka tak suka berinteraksi dengan orang-orang di luar kelompoknya, apalagi dengan masyarakat kampung. Jika mereka merasakan gangguan atau ada anggota keluarga yang meninggal maka mereka akan segera pergi ke tempat lain.

Selama ini, Nurhadi telah berupaya mendekati mereka dan mengajak mereka menjalani kehidupan yang lebih baik. Nurhadi juga sering mengantar bantuan untuk mereka dari para muhsinin yang bersimpati dengan upaya Nurhadi mengubah kehidupan mereka. Sebagian dari mereka sudah mulai terbuka. Bahkan, sebanyak 83 warga Suku Togutil sudah mengucapkan syahadat.

Hanya saja, proses pembinaan selanjutnya tak akan efektif bila mereka tak punya tempat tinggal yang permanen dan sumber penghasilan yang baik.

Karena itu, Nurhadi, bekerja sama dengan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Hidayatullah, berencana membangun sebuah perkampungan untuk mereka. Di perkampungan itu kelak, selain berdiri rumah-rumah sederhana, juga musholla dan sekolah.

“Alhamdulillah kami sudah punya lahan seluas hampir 3 hektar,” jelas Nurhadi. Lahan tersebut terletak di Kampung Tutukur, Maba Utara, Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, tepatnya di dekat Satuan Pemukiman (SP) warga transmigrasi.

Pada Selasa, 21 Juni 2022, tim PosDai Hidayatullah bersama Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Shohibul Anwar, mengunjungi lokasi tersebut.

Menurut Shohibul, apa yang dilakukan Nurhadi dan PosDai Hidayatullah patut didukung oleh semua pihak. Sebab, masyarakat Suku Toghutil adalah warga Indonesia yang berhak mendapatkan penghidupan yang layak sebagaimana warga negara Indonesia lainnya.

Selain itu, jelas Shohibul lagi, mereka juga berhak merasakan manisnya iman dalam Islam. “Jika kita di perkotaan bisa dengan mudah belajar tentang Islam, maka mereka (warga Suku Toghutil) yang tinggal di hutan-hutan ini tidak seperti kita. Karena itu sudah menjadi tugas kita untuk menyampaikan Islam kepada mereka,” kata Shohibul.

Kegiatan pembinaan Muallaf Suku Toghutil kali ini dibantu oleh Majelis Telkomsel Taqwa atau MTT dan beberapa juga sahabat Da’i lainnya.

Terimakasih kami ucapakan, semoga Allah SWT membalas seluruh kebaikan-kebaikan yang diberikan kepada kami. Aamiin Yaa Robbal’alamiin.*/Mahladi Murni

Bangsa ini Punya Harapan Bila Anak Mudanya Rajin ke Masjid

0

TOBELO BARAT (Hidayatullah.or.id) — Masa depan bangsa ini tergantung pada anak mudanya. Demikian diungkap Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Shohibul Anwar, saat berceramah di depan para santri dan pengasuh Pondok Pesanten Hidayatullah Tobelo Barat, Halmahera Utara, Maluku Utara, pada 21 Dzulqaidah 1443 (20/6/2022).

“Jika bertemu anak-anak muda yang rajin ke masjid seperti kalian maka bangsa ini punya harapan,” jelas Shohibul lagi.

Sebaliknya, jika banyak dijumpai anak muda yang gemar nongkrong tanpa tujuan yang jelas, maka masa depan bangsa ini akan suram.

Hidayatullah, sebagai organisasi Islam, bertugas mencetak anak-anak muda yang paham tujuan hidupnya. Pesantren-pesantren Hidayatullah yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air, mendidik ribuan santri agar dekat kepada Allah Ta’ala, memiliki ahlak mulia, serta paham apa yang baik dan yang tidak.

Shohibul kemudian bercerita tentang kisah perjalanannya mengunjungi pesantren Hidayatullah di Dobo, ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, beberapa bulan silam. Di sana rupanya ada warga non Muslim yang menyekolahkan anaknya di pesantren Hidayatullah.

Saat diberitahu bahwa itu sekolah Islam, warga tersebut tidak mempermasalahkannya. “Saya lihat anak-anak di pesantren ini baik-baik. Tidak ada yang mabuk-mabukan (minum-minuman keras). Saya ingin anak saya baik seperti itu,” kata Shohibul mengutip perkataan warga tersebut.

Rupanya warga tersebut paham bahwa anak muda yang suka minum minuman yang memabukkan tak akan punya masa depan. Ketika orang mabuk, jelas Shohibul, zat yang memabukkan tersebut akan menyerang otak.

“Jika otak sudah rusak, akal pun ikut rusak. Bila akal sudah rusak, mana mungkin ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,” katanya.

Shohibul memberi contoh penduduk Aborigin yang tinggal di Australia. Mereka sebenarnya penduduk asli di benua tersebut. Namun, saat ini mereka hampir punah. Jumlahnya tinggal sedikit saja. Apa penyebabnya?

Rupanya, kata Shohibul, mereka ditampung di dinas-dinas sosial setempat, diberi uang dan makanan, serta minuman yang memabukkan. Akibatnya, angka kematian mereka tinggi. Begitulah jika harta paling berharga, yakni otak, sudah dirusak. Apalagi bila pengrusakan telah terjadi sejak usia remaja, usia di mana pada masyarakat Barat sering memimbulkan masalah.

Padahal, sejarah Islam menunjukkan para sahabat Rasulullah SAW dan pahlawan-pahlawan Islam justru sudah menoreh prestasi gemilang pada usia remaja. Sebut saja Ali bin Abi Thalib, pada usia 10 tahun sudah menjadi pendamping dan pembela Rasulullah SAW. Zaid bin Tsabit, sejak usia 11 tahun sudah menjadi sekretaris Rasulullah SAW. Imam Syafii, pada usia 15 tahun sudah memberi fatwa. Thoriq bin Ziyad, pada usia 21 tahun mampu menaklukkan Romawi.

Shohibul kemudian menghimbau kepada para santri Hidayatullah Tobello Barat agar giat belajar dan tidak terpengaruh oleh kehidupan tanpa nilai di luar sana. Sebab, masa depan bangsa ini berada di pundak anak-anak muda, utamanya para santri.*/Mahladi