SEMARANG (Hidayatullah.or.id) – Departemen Dakwah Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah menggelar kegiatan upgrading untuk peningkatan mutu serta kualitas kompetensi dalam penguasaan baca dan hafalan Al Quran, belum lama ini.
Acara yang digelar intensfi 2 hari di Gedung BP2KLK Semarang, Jl. Raya Sendangmulyo, Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, ini dipesertai oleh dai/daiyah Hidayatullah perwakilan dari daerah dan amal usaha yang ada di Jawa Tengah.
Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Ust Ali Subur, SE, mengatakan kompetensi merupakan salah satu dari sekian banyak syarat menjadi seorang dai.
Menurut Subur, tanpa memiliki kompetensi seorang dai akan mengalami kesulitan dalam menyampaikan nilai-nilai dakwah di masyarakat.
“Hal inilah yang menjadi kepedulian dari organisasi untuk melakukan upgrading bagi dai-dai Hidayatullah di Jawa Tengah,” kata dia dalam keterangannya diterima media ini, Senin, 24 Muharram 1444 (22/8/2022).
Subur menambahkan, DPW Hidayatullah Jateng memberikan penekanan pada kompetensi al Qur’an khususnya dari segi hafalan.
Pada kesempatan ini, dihadirkan narasumber seorang praktisi al Qur’an yang telah belasan tahun berkecimpung di bidang ini yaitu Ust H. Muhammad Marzuki Ihsan.
Ust Muhammad Marzuki Ihsan sudah sekian tahun tinggal di Malaysia. Di sana ia melanglang buana memburu ilmu dan berusaha mencari metode yang tepat agar al Qur’an lebih mudah dihafal.
Dari penelitian dan uji coba berbagai cara yang ia geluti dengan tekun, akhirnya ditemukanlah sebuah metode yang terbukti mampu memberikan akselesasi dalam kemampuan menghafal al Qur’an.
“Nama metodenya Super Tahfidz, yang terbukti mampu memberikan akselesasi dalam kemampuan menghafal al Qur’an baik dari sisi jumlah hafalan maupun tingkat kemutqinannya,” kata Ust Muhammad Marzuki Ihsan.
Dalam upgrading dai Hidayatullah yang dilaksanakan di Gedung BP2KLK Semarang ini, hadir kader-kader dai dari Jawa Tengah, baik dari elemen-elemen struktural organisasi maupun dari pegawai fungsional di amal usaha dan unit-unit sekolah.
Salah seorang peserta, Abdullah, mengatakan pelatihan ini memberikan nuansa dan pandangan baru dalam eksplorasi metode menghafal al Qur’an. “Semoga menjadi nilai tambah dalam proses dakwah di masyarakat, khususnya dalam ilmu al Qur’an,” imbuhnya.*/Yusran
PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Lembaga relawan kemanusiaan pencarian dan pertolongan atau Search and Rescue (SAR) Hidayatullah menggelar kegiatan pendidikan dan latihan (Diklat) Dasar SAR Regional Kalbar – Kalteng yang digelar selama 10 hari, dimulai sejak 15 Agustus hingga 24 Agustus 2022.
Diklat ini dibuka langsung oleh Bupati Ketapang yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM Maryadi Asmuie di Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Ketapang. Diklat ini mengangkat tema “Tanggap Tangguh, Sigap Siaga, Untuk Indonesia Maju”.
Maryadi Asmuie berharap dengan terselenggaranya diklat SAR Hidayatullah ini para pelatih, instruktur dan peserta mendapatkan ilmu mengenai SAR sehingga kedepannya bisa menjadi bekal relawan dalam membantu dan menyelamatkan korban bencana.
“Berharap ilmu yang didapatkan para pelatih dan peserta bisa menjadi bekal para relawan nantinya ikut membantu dan menyelamatkan korban bencana. Kami berharap tidak sampai disini saja, silahkan berkoordinasi dengan stakeholder terkait termasuk dengan BPBD Ketapang,” ucapnya seperti dilansir RRI.
Sementara itu Ketua SAR Nasional Hidayatullah Irwan Harun mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya Diklat SAR Hidayatullah Regional Kalbar – Kalteng.
Harun menjelaskan bahwa SAR Hidayatullah telah tersebar di 23 titik di Indonesia yang nantinya selesai diklat ini akan dilakukannya pelantikan pengurus wilayah untuk kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
“SAR Hidayatullah sudah berada di 23 titik se Indonesia, di akhir diklat ini akan ada pelantikan pengurus wilayah untuk Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, kami mengucapkan selamat dan sukses atas terlaksananya Diklat SAR Hidayatullah Regional Kalbar – Kalteng,” jelasnya.
Ketua panitia pelaksanaan Afendi menjelaskan, kegiatan Diklat SAR Hidayatullah ini terdiri dari 30% materi dan 70% kegiatan lapangan, dari kegiatan ini nantinya akan terbentuk SAR unit atau SERU di setiap kabupaten yang diikuti oleh 50 peserta dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
“Kegiatan ini terdiri dari 30% materi dan 70% lapangan, kegiatan materi dilaksanakan di Ponpes Hidayatullah sedangkan kegiatan lapangan bisa di lapangan maupun di Hutan Kota, materi-materi yang disampaikan kepada peserta berupa navigasi, mountaineering, rescue dan beberapa kegiatan pertolongan lainnya,” tutupnya.*/
DALAM kitab Syu’abul Iman, Imam al-Baihaqi menyitir bahwa mencari ilmu merupakan cabang iman yang ke-17. Artinya, mencari ilmu merupakan suatu aktifitas yang sangat mulia.
Akan tetapi, sebuah hadits justru menyatakan bahwa ada sebagian orang yang masuk neraka karenanya. Bagaimana mungkin mencari ilmu bisa menjadi salah satu cabang iman, namun pada saat bersamaan justru menjadi penyebab masuk neraka?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ilmu (dengan niat) untuk menyaingi para ulama’, atau mendebat orang-orang bodoh, atau menarik perhatian orang lain kepadanya, pasti Allah memasukkannya ke neraka.” (Riwayat Tirmidzi, dari Ka’ab bin Malik. Hadits hasan).
Beliau juga bersabda, “Sungguh sekelompok orang dari umatku akan mendalami ilmu agama dan membaca Al-Qur’an. Mereka berkata: ‘Kita datangi para penguasa, lalu kita memperoleh sebagian dari (kenikmatan) duniawi mereka dan kita menjauhi mereka dengan agama kita.’ Hal itu takkan tercapai, sebagaimana tidak ada yang bisa dipetik dari Qatad (pohon berduri) selain duri, demikian pula tidak ada yang bisa dipetik dari kedekatan dengan penguasa itu selain kesalahan-kesalahan.” (Riwayat Ibnu Majah, dari Ibnu ‘Abbas. Sanad-nya lemah).
Ternyata, niatlah pangkal persoalannya. Disini, sebuah “amal mulia” justru menjungkalkan pelakunya ke jurang neraka, akibat buruknya niat.
Oleh karenanya, Ibnul Mubarak berkata, “Sangat boleh jadi amal kecil dibuat besar oleh niatnya, dan sangat boleh jadi pula amal besar dibuat kecil oleh niatnya.” (Riwayat Ibnu Abi Dunia dalam al-Ikhlash wan Niyat).
Mari kita renungkan! Adakalanya, selepas berhaji seseorang bukannya telah menyempurnakan Rukun Islam kelima, namun justru pulang dengan memanggul dosa-dosa syirik (kecil), karena ibadahnya didasari riya’ (pamer).
Di zaman Nabi, ada seseorang yang berhijrah ke Madinah namun menjadi olok-olokan masyarakat, karena ia berhijrah semata-mata demi mengejar wanita pujaan hatinya.
Maka, dewasa ini, ketika bersekolah, belajar dan mencari ilmu sudah menjadi sesuatu yang sangat lazim, adalah penting untuk senantiasa memperhatikan niat kita di dalamnya. Jangan sampai seluruh sumberdaya yang telah kita kerahkan malah menyeret ke dalam kemurkaan Allah.
Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin dan Faidhul Qadir, diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud berkata seperti berikut ini:
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana tawarnya hati berubah menjadi asin, sehingga pada hari itu para guru maupun pelajar tidak bisa lagi mengambil manfaat ilmu. Maka, hati para guru mereka menjadi seperti rawa-rawa bergaram yang disiram oleh air hujan, namun tetap tidak bisa menjadi tawar. Hal itu terjadi ketika hati para guru telah condong kepada cinta dunia dan lebih mengutamakannya dibanding akhirat.
Pada saat itulah Allah merampas sumber-sumber hikmah dan memadamkan pelita-pelita hidayah dari hati mereka. Lalu, (salah seorang dari) guru mereka memberitahumu dengan lisannya – pada saat engkau berjumpa dengannya – bahwa ia merasa takut kepada Allah, sedangkan kedurjanaan tampak nyata dalam amal perbuatannya.
Betapa suburnya lidah dan betapa gersangnya hati pada masa itu! Demi Allah yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain-Nya, hal itu tidak lain dikarenakan para guru mengajar (niatnya) untuk selain Allah dan para pelajar pun belajar (niatnya) untuk selain Allah.”
Jika demikian, bukankah kita sangat layak untuk khawatir? Lalu, apakah niat yang benar dalam mencari ilmu itu?
Maulana al-Husain bin Manshur al-Yamani berkata dalam Adabul ‘Ulama’ wal Muta’allimin, “(Hendaklah pelajar) memasang niat yang baik dalam menuntut ilmu, yakni semata-mata bermaksud mencari ridha Allah, hendak mengamalkan ilmu, menghidup-hidupkan syari’ah, menerangi hati, menghiasi jiwa (dengan kebajikan), ingin dekat dengan Allah di hari perjumpaan dengan-Nya, menyongsong ridha Allah yang telah Dia siapkan bagi para ahli ilmu serta menyambut karunia-Nya yang agung.”
Jadi, menurut pandangan Islam, mencari ilmu merupakan aktivitas spiritual, yakni serangkaian usaha mematangkan jiwa dan membekalinya dengan kemampuan mengabdi kepada Allah.
Alhasil, betapa menyedihkannya ketika – dewasa ini – jutaan anak-anak kita digiring memasuki lembaga-lembaga pendidikan hanya demi meraih kenikmatan duniawi semisal jabatan, status sosial, pekerjaan dan harta.
Menurut Alija Ali Izetbegovic (mantan Presiden Bosnia-Herzegovina) dalam buku Islam between East and West, saat ini sangatlah mungkin membayangkan seorang anak muda yang telah lulus dari semua jenjang pendidikan, sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi, tanpa pernah diberitahu apakah dia seorang baik-baik dan jujur!
Mungkin ada yang bertanya: apakah mempelajari keterampilan profesional dilarang oleh Islam? Bukan begitu! Akan tetapi, luruskanlah niatnya.
Abu al-Layts as-Samarqandi berkata dalam Adab at-Ta’lim, “Dulu, di zaman-zaman awal, mereka (generasi salaf) mempelajari ketrampilan profesional kemudian juga mempelajari ilmu, sehingga mereka tidak tamak kepada harta milik orang lain. Sebab, ketamakan sebenarnya merupakan kefakiran yang paling nyata.” Beliau juga berkata, “Sebaik-baik amal di muka bumi adalah mencari ilmu, berjihad dan bekerja (untuk memenuhi kebutuhan hidup).”
Perhatikanlah, betapa generasi salaf tidak mengabaikan bekerja mencukupi penghidupan. Namun, pada saat bersamaan, mereka juga belajar bagaimana menjaga diri agar tidak tamak kepada harta orang lain. Bukankah ketamakan adalah bibit korupsi?
Sangat boleh jadi ketamakan itu telah disemai sejak para pelajar masih duduk di bangku sekolah, yakni tatkala niat mereka dalam belajar bukan untuk Allah, tetapi demi meraih kenikmatan duniawi. Wallahu a’lam.
TANA TORAJA (Hidayatullah.or.id) — Rombongan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel melakukan safari dakwah di Lembang Bau, Kecamatan Bonggarakadeng, Kabupaten Tana Toraja, Jumat, 21 Muharram 1444 (19/8/2022).
Agenda tersebut digawangi langsung Kepala Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz Reskyaman, M.Ag.
Menurut Resky, demikian dia disapa, ada beragam agenda dalam rangkaian safari dakwah tersebut. Mulai dari silaturahmi tokoh masyarakat muslim, khutbah Jumat di beberapa titik masjid, dan tabligh akbar di masjid pusat desa.
“Terkahir agendanya adalah penyerahan simbolis tanah hibah untuk keperluan perintisan pesantren dari salah seorang warga,” terang Resky.
Tanah hibah seluas 1,5 hektare tersebut diterima langsung ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz Drs. Nasri Bohari, M.Pd. yang pada kesempatan tersebut juga ikut dalam rombongan.
Lebih lanjut Resky menjelaskan, kegiatan tersebut terlaksana berkat kerjasama lintas internal lembaga di Hidayatullah di Susel. Mulai pengurus DPW, hingga pengurus beberapa DPD ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
“Total dalam rombongan ada sebelas orang,” terang dia.
Rinciannya, tambah Resky, 4 orang dari unsur DPW, 4 orang dari DPD Enrekang, 1 orang dari DPD Tana Toraja, 1 orang dari DPD Toraja Utara dan ada 1 orang dai alumni Universitas Al-Azhar Mesir.
Rombongan berangkat dari titik kumpul di Pesantren Hidayatullah Sudu sekitar jam 9 pagi. Terdiri dari satu unit mobil Innova dan 6 kendaraan roda dua.
“Harus ada yang pakai motor, sebab akses ke jantung desa hanya bisa dilalui roda dua,” terang Ust Abdullah Wahid, Ketua DPD Hidayatullah Tana Toraja.
Rombongan tiba di kampung Sangbua sekitar jam 11.30 wita. Kampung ini merupakan titik pertama yang ditemui jika berkunjung ke Lembang Bau Selatan dari arah Masalle, Kabupaten Enrekang. “Kampung ini sekaligus menjadi akses terakhir yang bisa dilalui mobil,” kata Abdullah.
Menurut Abdullah, kampung Sangbua juga merupakan batas area yang menandai pemukiman kampung muslim di Bau Selatan.
“Sangbua ini kampung muslim pertama. Ke arah selatan, ada Lamba, Sepon, Nusa, dan Bake. Semuanya muslim,” ungkap Abdullah.
Sebaliknya, tambah dia, ke arah utara menuju Lembang Bau, semuanya kampung yang dihuni mayoritas non muslim.
“Perbandingannya mungkin 60:40, atau 70:30,” ungkap salah satu warga Sangbua memberi gambaran jumlah penduduk muslim yang lebih banyak.
Untuk bergeser ke Sepon, tim akhirnya harus berangkat menggunakan motor. Dari 6 kendaran roda dua yang berangkat, 2 di antaranya merupakan motor donasi dari para donatur di BMH Sulsel dan POS Dai Pusat di Jakarta.
Tim akhirnya berpencar ke masjid-masjid yang ada di berbagai kampung untuk menjadi khatib Jumat. Dan semua kembali bergeser ke Sepon, di Masjid Darussalam untuk mengikuti Tabligh Akbar yang diisi oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, dan berakhir di waktu Ashar.
Kegiatan Safari Dakwah ditutup dengan kunjungan ke lokasi tanah hibah yang rencananya akan diserahkan ke Hidayatullah di kampung Nusa.*/Ibrahim, Aziz, Abu Ayman
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Tim Humas Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang terdiri dari berbagai unit mulai TK Yaa Bunayya 1, 2, Cahaya Ananda, SD, SMP, dan SMA mengikuti acara Workshop Press Rilis yang dilaksanakan di Aula Rahmat Rahman, Surabaya, Jum’at, 21 Muharram 1444 (19/8/2022).
Acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas kemampuan dari tim humas pph maupun unit dalam menjalankan tugasnya sebagai kehumasan khususnya pembuatan press rilis yang baik dan bagus.
Acara diisi oleh wartawan senior dari Majalah Suara Hidayatullah, Akbar Muzakki, dimulai dari pukul 8 hingga 11.
“Membuat press rilis harus betul-betul unik dan berbeda, selain itu juga harus segera dipublish, jangan telat” ujar Akbar.
Acara ini ditutup dengan arahan oleh Ust Mashud. Ia menyampaikan perihal konsistensi masing-masing unit dalam melakukan pemberitaan kegiatan disetiap unitnya. Acara sangat antusias sekali dilihat dari interaktifnya para peserta dengan pembicara.*/Faruq
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-77 Republik Indonesia (RI) di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, berlangsung khidmat, lancar, dan tertib.
Ada dua kegiatan upacara di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Yang pertama di kampus putra, yang kedua di kampus putri.
Kegiatan pada Rabu pagi, 17 Agustus 2022 bertepatan dengan 19 Muharram 1444H ini untuk putra digelar di Lapangan Sepakbola Aglasra Gunung Tembak.
Upacara ini berlangsung khidmat sejak awal hingga akhir, di bawah langit yang agak cerah berawan. Menariknya, detik-detik menjelang pengibaran Bendera Merah Putih, tampak pelangi “menyertai” hingga upacara berakhir.
Pantauan Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah dari lokasi upacara, warna-warni pelangi membentang cukup jelas di sisi barat langit, meskipun tidak ada hujan yang mengguyur Gunung Tembak.
“Kurang lebih 600-santri tingkat MI, SMH, dan Mahasiswa mengikuti upacara dengan khidmat. Tampak juga bapak-bapak pembimbing, pengurus dan staf yayasan, serta guru yang juga mengambil bagian dalam kegiatan ini,” keterangan dari LPPH Gunung Tembak.
Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Ketua LPPH Gunung Tembak, Ustadz Masykur. Dalam amanatnya, Ustadz Masykur antara lain menekankan substansi kemerdekaan khususnya bagi para santri dan ustadz di Hidayatullah.
17 Agustus sebagai hari besar bangsa Indonesia, menurut Ustadz Masykur, “hari yang menjadi penanda bahwa kita semua bangsa Indonesia ini benar-benar adalah bangsa yang merdeka, adalah masyarakat yang merdeka, adalah rakyat yang merdeka, adalah seorang Muslim yang merdeka.”
Peringatan tersebut menurutnya juga merupakan penanda para santri sebagai penuntut ilmu yang merdeka.
Selain itu, tentunya peringatan kemerdekaan Republik Indonesia juga merupakan bentuk dan bukti sebagai warga negara yang baik.
Merdeka, tambahnya pula, merupakan suatu kemuliaan bagi kaum santri Hidayatullah pada khususnya, serta kaum Muslimin dan rakyat Indonesia pada umumnya.
Upacara ini disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Ummulqura Hidayatullah, tonton melalui tautan ini >>> https://youtu.be/o6-BFVxQdvE.
Upacara dimulai sekitar pukul 07.20 WITA dan berakhir pada sekitar pukul 08.20 WITA.
Usai kegiatan tahunan ini, para guru, ustadz, pengurus yayasan, dewan pembina/pengawas melakukan ramah tamah.
Sementara itu, khusus putri, upacara digelar di lapangan putri, depan gedung Madrasah Ibtidaiyyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putri.
HUT Ke-77 RI tahun ini masih dalam suasana pandemi Covid-19 yang belum berakhir.
“Pulih lebih cepat
Bangkit lebih kuat
Belajar lebih giat
Ibadah lebih taat
Iman lebih sehat
Ukhuwwah lebih erat
Berjuang lebih semangat
Bangsa kian bermartabat,” ungkap Ustadz Masykur lewat media sosial yang viral sejak kemarin, mengutip tema resmi HUT Ke-77 RI Tahun 2022 ini.*
Ketua Departemen Hubungan Antar Bangsa, Babeh Dzikrullah, mengatakan untuk membawa Indonesia unggul, kader muda bangsa, terutama Pemuda Hidayatullah harus memiliki penguasaan yang mendalam tentang “wawasan nusantara.”
“Pemuda Hidayatullah harus menguasai narasi wawasan kebangsaan, ketahanan nasional, dan konsolidasi teritorial Indonesia, sebaik mungkin,” kata Babeh Dzikru saat menjadi narasumber Majelis Online Pemuda (MOP) Pemuda Hidayatullah yang mengangkat topik “Wawasan Nusantara dalam Percaturan Dunia”, disiarkan langsung channel YouTube Hidayatullah ID, Jum’at, 7 Muharram 1444 (5/8/2022).
Peringatan Tahun Baru Hijriah hampir berbarengan dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-77. Relevan kiranya untuk mencari keterhubungan filofosis antara momentum hijrah kenabian dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Jika hijrah ialah peristiwa pembebasan Nabi Muhammad dan pengikutnya dari penindasan kaum kafir Quraisy, maka kemerdekaan Indonesia ialahmomentum awal lepasnya bangsa dari cengkeraman penjajah.
Kemerdekaan ialah momentum kita untuk menentukan nasib sendiri dan masa depan bangsa. Kemerdekaan tentu tidak sebatas bebas dari cengkeraman penjajah. Kemerdekaan yang hakiki ialah lepas dari perpecahan bangsa. Maka, merawat kemerdekaan pada dasarnya ialah merawat persatuan dan kesatuan bangsa. Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:
HALMAHERA (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH juga melangsungkan perayaan HUT RI ke 77 bersama suku terasing di pedalaman Halmahera, Maluku Utara, bersama Suku Togutil, Rabu, 19 Muharram 1444 (17/8/2022).
“Alhamdulillah, memeriahkan HUT RI ke 77 BMH juga menggelar upacara peringatan HUT RI ke 77 bersama Suku Togutil di Desa Woda, Kecamatan Oba, Kabupaten Tidore Kepulauan. Upacara dikomandani langsung oleh perangkat desa setempat,” terang Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Perwakilan Maluku Utara, Dzul Ikram.
Gelaran itu terselenggara atas kolaborasi BMH bersama Mahasiswa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Khairun (Unkhair).
Salah satu mahasiswa Unkhair Kak Ivan (25) mengaku bangga bisa hadir dalam even ini.
“Sangat bangga dengan kegiatan ini. Berbeda dengan yang lain, upacara bersama suku pedalaman ini memberi warna kebangsaan tersendiri, selain ini juga hal yang baru bagi saya dalam kehidupan saya,” ungkapnya.
Sejak lima tahun terakhir, peringatan HUT RI ke 77 ini berhasil menarik hati masyarakat Suku Togutil.
“Biasanya sebelum ini masyarakat yang ikut dari suku tidak begitu banyak. Sekarang ada 51 orang ditambah 73 masyarakat Desa Woda,” imbuh Dzul Ikram.
Selain upacara, BMH juga menyediakan beragam perlombaan untuk mengenalkan interaksi sosial yang lebih intens sekaligus menyelipkan pesan-pesan kebangsaan untuk suku pedalaman ini.
“Lomba yang digelar seperti tarik tambang, panjat pinang, dan lempar tombak, dengan penilaian terbaik adalah yang terjauh,” urai dai tangguh BMH di lokasi, Ustadz Nur Hadi.
Menuju ke Desa Woda ini tim BMH melakukan perjalanan selama 4 jam dari Ternate dengan menggunakan jalur laut dan darat. Setelah tiba di titik terdekat lokasi, tim harus rela berjalan kaki selama 2 jam guna memanggil para suku agar dapat mengikuti upacara HUT RI ke 77 di Desa Woda.
“Selain itu BMH juga hadirkan program “Muharram Bangkit” untuk berikan kebahagiaan kepada anak-anak Suku Togutil.*/Herim
MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Memanfaatkan pekarangan untuk ditanami tumbuhan produktif adalah pilihan yang baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itulah yang saat ini tengah dilakukan oleh Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Pesantren yang memiliki murid sebanyak 41 orang dengan luas lahan dan bangunan total 10 hektare ini memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan setidaknya untuk konsumsi pribadi.
Pesantren juga memiliki peternakan sapi yang bisa dilakukan konsep pertanian berkelanjutan. Pengelola pesantren sudah mulai merangkul santriwan/wati untuk menanam seperti sayuran, jagung dan terong namun hasilnya belum bisa mencukupi kebutuhan pesantren.
Untuk mengoptimalkan potensi ini, peserta Sekolah Lapangan yang didamping Yayasan FIELD Indonesia dan ASB berkesempatan berbagi pengetahuan untuk pembuatan pupuk organik cair (POC) di pondok pesantren Hidayatullah.
Santi Lestari sebagai Pemandu sekolah lapangan di Sipora Jaya menyampaikan langkah-langkah pembuatan POC dengan menggunakan bahan dari limbah dapur organik yang ditambahkan dengan molase gula merah, santriwan/wati mempraktekan membuat POC yang dicampur dengan air kelapa dan cucian beras.
“Penggunaan bahan organik juga menekan percepatan perubahan iklim yang biasa kita sebut global warming dimana ketika kita menggunakan bahan kimia seperti pertisida keseimbagngan ekosistem dalam tanah akan rusak sehingga tanah akan kehilangan kesuburannya,” katanya seperti dilansir laman Berita Minang, Ahad, 16 Muharam 1444 (14/8/2022).
Ia menyampaikan tindakan atau perilaku tersebut kemudian berdampak pada kenaikan suhu permukaan bumi. Sehingga lapisan ozon akan menebal menyebabkan panas dibumi terperangkap.
“Makanya kita merasa suhu lebih panas tentu itu juga yang akan dirasakan tanaman,” jelasnya.
Sementara Rachmadi sebagai kepala divisi Loby dan advokasi yayasan FIELD Indonesia juga menyampaikan tanaman itu mencari makan yang disediakan di dalam tanah melalui akar namun dia butuh yang akan memasaknya.
“Nah melalui POC ini akan menghidupkan mikro organisme lokal yang berfungsi sebagai tukang masak tanaman sehingga tanaman terpenuhi kebutuhannya,” sebutnya.
Selain itu, dalam pelatihan tersebut juga mempraktekan cara pengolahan lahan dengan menggunakan bedengan kayu dimana tanah digali sedalam 30 centimeter, lalu kayu-kayu ranting dimasukan disusun berdasarkan ukuran terbesar pada bagian bawah ditambah ranting dan rumputan kering lalu ditimbun dengan tanah.
Menurutnya ini merupakan salah satu cara pengelolaan pertanian yang akan meringankan pengolahan, ke depan hanya perlu menambahkan mulsa diatasnya tanpa dilakukan pengolahan kembali untuk menanam selanjutnya.
“Makanan tanaman dari ranting-ranting yang lapuk di dalam sudah tersedia juga akan mengurangi pertumbuhan gulma karena menggunakan mulsa organik dari rumput-rumput kering yang digunakan,” ucapnya.
Kepala sekolah pondok pesantren Hidayatullah Mentawai, Muslimin menyambut baik kegiatan road to school yang diadakan Yayasan FIELD Indonesia dan ASB, harapannya ini akan berdampak menambah semangat santriwan/wati kedepannya dalam mengelola lahan pesantren sebagai bekal ilmu mereka kedepan. (ybh/hio)