Beranda blog Halaman 358

Rindu itu Berat, Biar Allah Ta’ala Saja Tempat Bersandar

“Baru kali ini, saya merasakan rindu yang paling berat” kata seorang ustadz
“Rindu kepada siapa, ustadz?” tanya saya terlalu polos.
“Rindu kepada istri yang sudah pergi menghadap Allah,” jawabnya sambil pandangan matanya menerawang dan mengoyang-goyangkan kursi kerjanya.

“Afwan ustadz, saya baru sadar dan ingat.” Kata saya, agak menyesal karena baru ingat bahwa istri ustadz ini baru wafat belum genap satu bulan.

“Kalau rindu dengan seseorang di dunia ini, masih ada harapan untuk ketemu. Bisa juga tersambung rindunya dengan telepon, video call atau surat. Bisa juga tanya dengan teman atau saudaranya. Hanya masalah waktu saja ketemunya” kata beliau menerangkan.

“Betul ustadz, rindu untuk perasaan mau ketemu” tanya saya
“Bukan sekedar mau ketemu, tapi mau tahu kabarnya, kondisinya. Ada yang kita sampaikan dan banyak yang mau diceritakan kepadanya” katanya dengan semangat sambil berharap bisa ketemu.

Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah” dalam hati saya berdikir.
“Alhamdulillah, karena masih ada iman, sehingga ada cara yang Allah dan Rasulullah ajarkan untuk mengobati rindu dengan doa. Kalau tidak ada iman, bisa stress dengan namanya rindu ini”

“Sudah pernah bermimpi ketemu istri ustadz?”
“Saya sudah sering berdoa untuk bermimpi bisa bertemu dengannya, tapi Allah belum memperkenankan. Semoga Allah memberikan kesempatan saya bertemu dengannya dalam mimpi”
“Aaamin Yaa Rabbal Alamin”

Cerita nyata di atas, memberikan pelajaran dan nasehat kepada kita semua. Betapa pasangan suami istri yang dibangun karena Allah itu indah dan berkah. Meski sudah dipisahkan dengan kematian oleh salah satunya tapi masih ada rasa rindu yang luar biasa.

Bagi pasangan suami istri yang masih hidup, pegang erat tangan pasangannya jika disampingnya, banyaklah bercerita dan ngobrol, tukar pikiran dan informasi. Jangan diam-diaman, mager-mageran, sering ditinggal dan disia-siakan pasangannya.

Ketika ada rindu, segeralah pulang untuk bertemu pasangannya. Mumpung masih di dunia yang bisa saling ketemu. Sebelum dipisahkan dua alam berbeda yang tak mungkin bertemu lagi hingga hari kiamat datang.

Akan ada rindu yang sangat berat jika sudah dipisahkan oleh kematian salah satunya. Rindu yang tidak ada tepian dan kepastian waktu bisa bertemu kembali.

Hujjatul Islam Al-Ghazali (wafat 505 H) dalam kitabnya memberikan definisi bahwa rindu adalah konsekuensi dari adanya mahabbah (cinta) terhadap suatu objek. Dengan cinta, rindu akan datang dengan sendirinya. Rindu sendiri merupakan sesuatu yang sifatnya emosional tinggi untuk bisa bertemu dengan orang yang dirindukan.

Dalam Islam, rindu bukanlah hal yang tercela, tetapi tetap perlu disertai dengan kerendahan hati, kesucian, dan menjaga diri. Apalagi kepada istri atau sahabat dalam Islam. Rindu itu ingin bertemu dan ingin berbagi kebahagiaan dengan orang yang kita rindu.

Rindu yang paling berat adalah ingin bertemu dengan orang yang kita cintai dan dia sudah dipanggil oleh Sang Pemilik Rindu yaitu Allah subhanahu wa Ta’ala.

Ust Abdul Ghofar Hadi

Pemuda Harus Jadi Solusi Persoalan Bangsa dan Dunia

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Dengan bekal ilmu yang memadai serta kebugaran fisiknya yang masih muda dan bertenaga, pemuda harus menjadi pelopor perubahan. Tidak malah asyik dengan rutininas yang tidak produktif.

“Pemuda jangan tenggelam dengan zona nyamannya dan terlalu asyik hanya berada di dalam mihrab. Pemuda harus berkontribusi dan menjadi solusi terhadap persoalan bangsa dan dunia hari ini,” kata Ketua Departemen Hubungan Antar Bangsa DPP Hidayatullah, Dzikrullah W Pramudya di Makassar.

Hal itu disampaikan beliau saat bersilaturrahim dan menyapa Pemuda Hidayatullah dan Mahasiswa Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) Makassar di Asrama Pesmadai Makassar, Rappocini, Makassar, Ahad, 21 Syawal 1443 (22/05/2022).

Turut membersamai sosok yang akrab disapa Babeh Dzikrul tersebut, Ketua Yayasan Al-Bayan Hidayatullah Makassar Ust Suwito Fatah MM dan Kadiv Operasi SAR Hidayatullah yang juga Pengurus Hidayatullah Sukoharjo Achmad Hamim serta relawan Sahabat Al Aqsa dr Aldi.

Di hadapan pemuda dan mahasiswa, mantan Pemimpin Redaksi majalah Suara Hidayatullah dan itu menyampaikan persoalan-persoalan yang seharusnya menjadi kesadaran ummat Islam, khususnya pemuda.

Ia juga mengutip perkataan pendiri Hidayatullah Allahyarham KH. Abdullah Said bahwa bersyahadat Jundullah, jangan bersyahadat egois, artinya jangan egois (tidak mau tahu) dengan persoalan bangsa dan ummat Islam.

“Tapi jadilah mujahid yang terlibat dalam perjuangan umat ini,” tegas wartawan senior ini.

Babeh Dzikru juga mengingatkan pemuda untuk meningkatkan literasi dan keilmuaan, sebab, terangnya, jihad yang benar dimulai dengan pemahaman atau ilmu yang benar.

Pada kesempatan yang sama peserta forum diskusi akhir pekan Pemuda Hidayatullah Sulsel turut mendengarkan pemaparan dan pengalaman sebagai relawan di daerah bencana dan konflik dari dr Aldi dan Achmad Hamim.

Diskusi selama dua jam tersebut dipandu Ketua PW Pemuda Hidayatullah Suls Abdurrahman Sibghatullah. Hadir pula Ketua PD Pemuda Hidayatullah Makassar Rachmat Ghafur Hamran serta mahasiswa dari Banglades, Syahid.*/Abid, Firman

Inilah 3 Teladan Menonjol KH Abdullah Said

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad menyapa segenap hadirin Sarasehan Pendiri Perintis dan Silaturahim Dai/ Daiyah Hidayatullah ke-8 di Masjid Jabal Nur, Kampus Madya Hidayatullah Berau, Kalimantan Timur.

Pada kesempatan itu, Ustadz Abdurrahman menerangkan 3 hal menonjol dari sosok Pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said. Ia menilai, pria yang sangat aktif membaca dan dakwah itu adalah sosok penuh kharisma. Itulah di antara yang patut diteladani dari Sang Pendiri Hidayatullah itu.

Sosok Kiai Abdullah Said, katanya, memang tampil beda dari usia sangat belia. Umur 12 tahun sudah biasa mengisi khutbah Jum’at di masjid-masjid besar Makassar dan sekitarnya.

“Beliau (Ustadz Abdullah Said) itu orang hebat. Usia belia sudah berdampingan dengan ustadz-ustadz kondang. Ia kemudian menjadi tokoh gerakan,” jelas Ustadz Abdurrahman Muhammad, pria asal Sulsel ini, Ahad, 21 Syawal 1443 (22/05/2022).

Hal pertama yang sangat menonjol dari sosok Ustadz Abdullah Said ialah taqarrubnya kepada Allah. Taqarrub itu bahkan menjadikan Ustadz Abdurrahman Muhammad mengetahui bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kalau shalat memang lama, tenang, dan nikmat.

Apalagi kalau bicara shalat tahajud. KH Abdullah Said bisa dari jam 00.00 sampai menjelang Shubuh alias jam 04.00. Menurut Ustadz Abdurrahman Muhammad, kalau seseorang ingin menjadi kader haraki, taqarrub harus menjadi modal utamanya.

Hal kedua yang menonjol dari KH Abdullah Said adalah keberaniannya. Keberanian beramal sebagaimana teladan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan keberanian dalam mengambil keputusan.

Pada masa Kiai Abdullah Said, tuturnya, shalat zhuhur bisa sangat panjang dilaksanakan. Itu butuh keberanian. Dan, itu menjadi kultur ibadah sepanjang Allahuyarham memimpin.

Begitu pula, menempa segenap kader muda terjun bebas ke seluruh Indonesia untuk dakwah, itu juga butuh keberanian. Allahuyarham membuktikan itu. Kini Hidayatullah hadir di seluruh provinsi di Indonesia. Modalnya taqarrub dan berani.

Hal ketiga yang sangat luar biasa, tambah Ustadz Abdurrahman, ialah pengorbanan Kiai Abdullah Said yang habis-habisan. Itulah yang menjadi satu magnet terbesar bagi banyak orang bergabung dan dakwah peradaban bersama Hidayatullah.

Dalam hal pengorbanan, Ustadz Abdurrahman Muhammad berkata, “Sekecil apa pun pengorbanan dilakukan akan ada energi yang Allah masukkan (ke dalam hati).”

Tiga hal ini penting menjadi satu pemahaman dari segenap kader muda umat agar selalu tumbuh gairah untuk menjadikan dakwah dan tarbiyah sebagai jalan perjuangan.

Ustadz Abdurrahman Muhammad juga memberikan penekanan perihal hadirnya kesungguhan (mujahadah). Secara tidak langsung ia menegaskan, tiga hal menonjol dari Ustadz Abdullah Said harus tumbuh dalam kesadaran kita dalam membawa kebaikan umat, bangsa, dan negara.

“Allah akan memberi sesuai dengan mujahadah (kesungguhan) kita semua,” tegasnya.

Jadi, jangan pernah ragu bergerak dalam barisan jamaah untuk mencerdaskan umat, bangsa, dan negara melalui jalur dakwah dan tarbiyah (pendidikan).*/Mas Imam Nawawi

Memulai dengan Bismillah

ADA hadist yang terkenal dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.” (HR. Al-Khatib dalam Al-Jami’, dari jalur Ar-Rahawai dalam Al-Arba’in, As-Subki dalam tabaqathnya)

Bisa dipastikan bahwa sebagian besar kita tentu sudah mengetahui terjemahan atau arti dari basmalah. Bahkan anak-anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak pun sudah banyak yang mengetahui terjemahan basmalah, yakni “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Hadist di atas nampaknya sederhana dan mudah untuk dilaksanakan. Namun pada kenyataannya tidak mudah dan tidak semua orang bisa melaksanakan hadist di atas. Apalagi memulai pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya rutin seperti makan, mandi, minum, berangkat kerja dan lain sebagainya. Seringkali orang lupa untuk memulai dengan bismillah.

Ada yang tidak lupa dengan bismillah tapi mengucapkannya sekedar formalitas tanpa pemaknaan yang mendalam karena terlanjur rutin. Ini berbeda dengan pekerjaan insidentil apalagi yang cukup berat atau besar maka biasanya mengawali dengan bismillah menjadi sangat terasa.

Memaknai Bismillah

Pelajaran dari hadist di atas bahwa setiap akan melaksanakan sesuatu, kita dianjurkan untuk membaca basmalah. Hal ini disebabkan karena agar segala sesuatu itu diberkahi dan dimudahkan oleh Allah Swt.

Jika sesuatu itu tidak dimulai dengan basmallah maka terputus atau tidak ada keberkahan. Saat tidak mendapatkan keberkahan dari Allah, apa nilai dan guna dari pekerjaan tersebut. Astaghfirullah wa na’udzubillahi min dzalik

Bagi orang beriman, yang dicari dalam kehidupan ini adalah keberkahan yaitu kebaikan yang banyak bagi dunia dan akherat. Jika terputus atau hilang sebuah keberkahan dari suatu pekerjaan kita maka berarti kecelakaan atau kemubadziran yang akan kita dapatkan.

Bacaan basmalah juga menjadi penanda bahwa kita melakukan segala sesuatu itu atas nama Allah Swt., bukan atas nama yang lainnya. Artinya bacaan bismillah di awal pekerjaan adalah untuk menegaskan keikhlasan kita dalam bekerja dengan menghadirkan Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Berusaha untuk ikhlas karena Allah bukan untuk yang lain.

Bismillah juga sebagai bentuk penguatan tauhid kita kepada Allah. Tanpa pertolongan Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang maka kita tidak bisa memulai pekerjaan apapun yang akan kita lakukan. Ada pengakuan dalam diri bahwa kita tidak mampu berbuat dan bekerja apapun tanpa pertolongan dari Allah.

Mari kita membiasakan dan menyadarkan diri untuk memulai aktifitas dengan Bismillahirrahmanirrahim.

Ust Abdul Ghofar Hadi

Leader dan Manager

KITA seringkali merasa kesulitan untuk membedakan antara leader (pemimpin) dan manajer. Bahkan jika diminta untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan keduanya, banyak yang  bingung dan tidak tahu.

Meskipun secara formal seseorang itu telah menjadi pemimpin ataupun level manajer disebuah organisasi apapun juga dan dalam sekala apapun juga. Banyak yang tidak paham membedakan keduanya.

Bisa jadi secara dejure kita adalah seorang pimpinan dalam sebuah organisasi, namun belum tentu kita adalah seorang pemimpin sebenarnya, jika kita masih dipengaruhi oleh orang lain atau masih ada yang lebih berpengaruh dari kita dalam organisasi tersebut.

Pendek kata, pemimpin adalah dia yang paling besar pengaruhnya, meskipun dia tidak berada dalam posisi sebagai seorang pimpinan. Jika dalam kontek kenegaraan, bisa jadi dia bukan seorang Presiden, tapi dia bisa mempengaruhi kebijakan presiden.

Maka siapapun yang dapat mempengaruhi kebijakan itulah sejatinya pemimpin tersebut, bisa asing, bisa seorang pimpinan partai atau siapapun juga.

Adalah Prof.Warren G Bennis (seorang pelopor bidang studi kepemimpinan) yang merumuskan sebuah kalimat “Leaders are people who do the right thing; managers are people who do things right”.

Maksud Warren, seorang pemimpin adalah orang yang melakukan hal yang benar (do the right things), sedangkan manajer adalah orang yang melakukan hal dengan benar (do things right).

Kalimat ini kemudian seolah menjadi mantra, yang digunakan membedakan antara pemimpin (leader) dan manajer. Selanjutnya memenuhi diskursus akademis tentang kepemimpinan.

Konsekuensi dari hal tersebut di atas adalah bahwa pemimpin dan manajer menjadi tidak identik dan tidak bisa disamakan. Demikian juga terkait dengan model kepemimpinannya.

Sekilas memang keduanya nampak sama, namun sebenarnya memiliki makna berbeda. Manajer memang banyak di dunia ini. Akan tetapi hanya segelintir yang memang benar benar seorang pemimpin.

Secara garis besar perbedaan antara manager dengan pemimpin adalah, manajer mengelola resource (sumber daya), sedangkan pemimpin memimpin orang.

Dengan kata lain pemimpin menggunakan energi bernama kepedulian (care) dan manager menggunakan energi berupa kekuatan (power). Para pemimpin memiliki spirit yang memotivasi, sementara para manager memiliki strategy untuk menyelesaikan tugas.

Sehingga seorang manajer sesungguhnya memiliki tugas untuk melaksanakan fungsi klasik manajemen, antara lain planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pengarahan) dan controlling (pengendalian).

Sementara itu, seorang pemimpin adalah orang yang dapat merumuskan dan menciptakan visi, misi dan tujuan organisasi ke depan dan memberdayakan orang yang dipimpinnya untuk mencapai visi tersebut.

Mencari Titik Temu

Pertanyaannya kemudian adalah, mana yang lebih dibutuhkan leader atau manager? Jawabanya adalah tentu saja keduanya dibutuhkan. Kita membutuhkan kualitas pemimpin yang di satu sisi sebagai seorang leader, namun di sisi lain juga seorang manager.

Kita membutuhkan pemimpin tipe leader yang memiliki semangat, pemimpin yang mencintai yang dipimpinnya, pemimpin yang memahami, pemimpin yang memiliki visi dan rencana besar, dan memiliki seni dan rasa dalam memimpin orang dan mengelola semua aspek yang di pimpinnya serta mampu menggerakkan semua elemen dalam organisasi.

Kita juga membutuhkan para pemimpin tipe manager yang tahu apa yang harus dilakukan, pemimpin yang mampu menganalisa situasi, pemimpin yang mampu mengelola semua yang di pimpinnya dan memiliki pengetahuan teknis dan rasio dalam mengelola aspek yang dipimpinnya serta dapat memanfaatkan seluruh resource (smber daya) dalam organisasi untuk mencapai visi, misi dan tujuan organisasi.

Dengan demikian maka, seorang pemimpin akan menggunakan keterampilan manajemen untuk membimbing timnya untuk tujuan yang tepat, dengan cara yang halus dan efisien saat para pemimpin tersebut mengatur arah. Seorang manajer akan mengambil sisi positif yang ada pada pemimpin untuk menginspirasi dan menggerakkan timnya.

Jalan tengahnya adalah leader dan manager sama-sama dibutuhkah secara bersama-sama. Sebab sebuah organisasi membutuhkan satu leader dan ratusan bahkan ribuan manager. Sebuah organisasi membutuhkan satu orang yang visioner dan membutuhkan ratusan bahkan ribuan orang yang mampu merealisasikan visi menjadi tindakan-tindakan nyata.

Ala kulli hal, apapun peran kita sebagai seorang muslim dalam memajukan risalah Islam, atau dalam lingkup organisasi Hidayatullah sebagai wadah perjuangan, maka, sesungguhnya, kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah ta’ala, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

”Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829). Wallahu a’lam

Asih SubagyoSenior Researcher Hidayatullah Institute

Melekat Pesan KH Abdullah Said: “Pahamilah Orang dan Jangan Minta Dipahami”

BERAU (Hidayatullah.or.id) – Sosoknya kini tak lagi muda. Namun jangan tanya semangat dan masa lalunya yang penuh kiprah dan perjuangan. Tak heran jika pria asal Magelang, Jawa Tengah, itu punya banyak kisah pengalaman dalam dakwah.

Ustadz Hasyim HS kala muda memiliki keterampilan yang bagus. Sebagai alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, tentu ia menguasai beberapa bidang ilmu. Namun itu semua tak menghalanginya untuk memilih dakwah bersama KH Abdullah Said, Pendiri Hidayatullah.

Jumat malam, 19 Syawal 1443 (20/05/2022) ia kembali mendapat kesempatan menyampaikan kisah dan pengalaman dakwahnya. Dalam rangkaian acara Sarasehan Pendiri Perintis dan Silaturahim Dai Hidayatullah ke-8 di Kampus Madya Hidayatullah Berau, Tanjung Redeb bertema “Menggali Pemikiran dan Kiprah Abdullah Said”.

Seperti gayanya selama ini, Ustadz Hasyim sangat santai dan runtut. Selalu ada hentakan quote-quote penting yang masih diingatnya dari sang sahabat tercinta Ustadz Abdullah Said.

Di awal-awal penuturannya, Ustadz Hasyim menceritakan kisah dari pertanyaan seorang peserta sarasehan itu. “Apa perasaannya mendapatkan tugas dari Ustadz Abdullah Said kala itu?”

Ustadz Hasyim menjawab. “Ya, kaget. Kaget karena tidak pernah saya bayangkan.”

“Kaget sekaligus mikir-mikir. Apa ya? Tidak punya pengalaman, tidak punya referensi. Tidak pernah ada cerita,” imbuhnya.

Hal itu wajar ada dalam diri Ustadz Hasyim HS. Karena selain muda, ia adalah sosok pegiat dakwah yang terbiasa dengan dunia kepesantrenan modern.

Namun pada akhirnya, Ustadz Hasyim HS mendapati satu hikmah penting dari tugas yang mengagetkan itu. Bahwa dalam hidup ini adalah satu kesempatan emas jika mendapatkan tugas dakwah. Mungkin diri tidak mampu, banyak kelemahan, tetapi kalau mau taat kepada pemimpinan, insya Allah akan selalu ada pertolongan Allah.

“Ya, sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat) saja,” ujarnya.

Bekal Utama Berdakwah

Nah, sebelum pergi dakwah ke Berau, Ustadz Hasyim meminta nasihat kepada Ustadz Abdullah Said.

Ia pun diberi satu nasihat yang sebenarnya ia tidak terlalu puas saat itu. Karena sangat pendek, hanya satu kalimat. Sementara ia butuh sekali banyak nasihat panjang untuk bekal dakwah.

Nasihat Ustadz Abdullah Said itu singkat, “Pahamilah orang dan jangan minta dipahami.”

Belakang hari, Ustadz Hasyim sadar bahwa kalimat pendek itu adalah upaya Ustadz Abdullah Said agar Ustadz Hasyim dapat mengembangkannya di medan dakwah.

Hingga Ustadz Hasyim mendapati satu ilmu sosial yang amat penting dalam tugas dakwah, yaitu jangan merasa diri hebat. Rajinlah silaturahim, dan mintalah doa dan dukungan para alim ulama dimanapun berada.

Subhanallah, sebuah kisah penting yang beliau tuturkan dalam waktu 17 menit. Sebuah spirit dakwah bahwa yang sangat utama untuk sukses dakwah ialah yakin kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia.

Untuk diketahui, Sarasehan itu digelar pada 20-24 Syawal 1443H (21-25/05/2022). Acara sarasehan ini pada tahun-tahun sebelumnya digelar di Pesantren Hidayatullah Kota Batam, Kepulauan Riau. Ustadz Hasyim merupakan salah satu dari 5 orang pendiri Hidayatullah.*/Mas Imam Nawawi

Kampus Berau Tuan Rumah Sarasehan Pendiri dan Perintis Hidayatullah

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Ketua DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) Makmur HAPK membuka acara Sarasehan Pendiri Perintis dan Silaturahim Dai Hidayatullah ke-8, Sabtu pagi, 20 Syawal 1443 (21/05/2022).

Acara pembukaan ini digelar di Masjid Jabal Al-Nur, Kampus Pesantren Al-Ihsan Hidayatullah Berau, Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, selaku tuan rumah hajatan kultural tahunan ini.

“Mari kita bersama-sama (Sarasehan ini) dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim,” ujar Makmur di depan ratusan hadirin di masjid yang sedang dalam pembangunan tersebut.

Dalam sambutannya sebelum membuka acara itu, Ketua DPRD Kaltim memuji kiprah pesantren dan dai-dai Hidayatullah selama ini.

“Mereka (berdakwah) tanpa pamrih. Saya tak pernah mendengar ada keluhan dari para ustadz-ustadzah (Hidayatullah),” ujar Bupati Berau masa jabatan 15 September 2005 – 15 September 2015 ini.

Semangat itulah, pesan Makmur, yang harus terus dijaga oleh para dai Hidayatullah saat ini.

“Kita harapkan para dai, perjuangan ini jangan sampai luntur. Saya tidak abaikan yang lain. Harapan saya Hidayatullah harus jadi contoh bagaimana menyebarkan agama,” ujarnya.

Ia berharap lewat sarasehan itu Hidayatullah terus mempertahankan spirit para Pendiri dan Perintis Hidayatullah yang telah diwariskan selama ini.

Bupati Berau saat ini, Sri Juniarsih, turut mengapresiasi Hidayatullah. Ia mengatakan, peran pondok pesantren sejak dulu hingga kini tak pernah diragukan dalam membangun keimanan dan ketaqwaan.

Ia pun bangga dengan kehadiran Pesantren Al-Ihsan Hidayatullah di Berau selama ini. “Apresiasi setinggi-tingginya kepada Al-Ihsan (Hidayatullah) Berau tulus ikhlas memajukan pesantren,” ujarnya, sejalan dengan Misi Pemkab Berau “Cerdas, Sejahtera, dan Berbudi Luhur.”

Semoga Pesantren Hidayatullah selalu dapat kesan yang baik dalam pembangunan menuju Berau yang baik, kata Bupati lewat sambutan terutulisnya yang dibacakan Sekretaris Daerah Pemkab Berau Muhammad Ghazali.

Hadir dalam acara pembukaan sarasehan ini Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Pendiri Hidayatullah Ustadz Muhammad Hasyim HS, Wakapolres Berau Kompol Ramadhanil, para pembimbing Hidayatullah, Ketua Yayasan Hidayatullah Berau Adri Al-Amin, para pengurus, kader, dai, dan jamaah Hidayatullah dari tingkat pusat hingga daerah.

Sarasehan Pendiri Perintis dan Silaturahim Dai Hidayatullah ke-8 digelar pada 20-24 Syawal 1443H (21-25/05/2022) bertema “Menggali Pemikiran dan Kiprah Abdullah Said”.* (SKR/MCU)

Perbedaan Serta Titik Temu Antara Leader dan Manager

Ilustrasi (Foto: Mahesh Patel/ Pixabay)

KITA seringkali merasa kesulitan untuk membedakan antara leader (pemimpin) dan manajer. Bahkan jika diminta untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan keduanya, banyak yang bingung dan tidak tahu.

Meskipun secara formal seseorang itu telah menjadi pemimpin ataupun level manajer di sebuah organisasi apapun juga dan dalam sekala apapun juga. Banyak yang tidak paham membedakan keduanya.

Bisa jadi secara dejure kita adalah seorang pimpinan dalam sebuah organisasi, namun belum tentu kita adalah seorang pemimpin sebenarnya, jika kita masih dipengaruhi oleh orang lain atau masih ada yang lebih berpengaruh dari kita dalam organisasi tersebut.

Pendek kata, pemimpin adalah dia yang paling besar pengaruhnya, meskipun dia tidak berada dalam posisi sebagai seorang pimpinan. Jika dalam kontek kenegaraan, bisa jadi dia bukan seorang Presiden, tapi dia bisa mempengaruhi kebijakan presiden. Maka siapapun yang dapat mempengaruhi kebijakan itulah sejatinya pemimpin tersebut, bisa asing, bisa seorang pimpinan partai atau siapapun juga.

Adalah Prof. Warren G Bennis (seorang pelopor bidang studi kepemimpinan) yang merumuskan sebuah kalimat “Leaders are people who do the right thing; managers are people who do things right”. Maksudnya seorang pemimpin adalah orang yang melakukan hal yang benar (do the right things), sedangkan manajer adalah orang yang melakukan hal dengan benar (do things right). Kalimat ini kemudian seolah menjadi mantra, yang digunakan membedakan antara pemimpin (leader) dan manajer. Selanjutnya memenuhi diskursus akademis tentang kepemimpinan.

Konsekwensi dari hal tersebut di atas adalah bahwa pemimpin dan manajer menjadi tidak identik dan tidak bisa disamakan. Demikian juga terkait dengan model kepemimpinannya. Sekilas memang keduanya nampak sama, namun sebenarnya memiliki makna berbeda.

Manajer memang banyak di dunia ini. Akan tetapi hanya segelintir yang memang benar benar seorang pemimpin. Secara garis besar perbedaan antara manager dengan pemimpin adalah, manajer mengelola resource (sumber daya), sedangkan pemimpin memimpin orang.

Dengan kata lain, pemimpin menggunakan energi bernama kepedulian (care) dan manager menggunakan energi berupa kekuatan (power). Para pemimpin memiliki spirit yang memotivasi, sementara para manager memiliki strategy untuk menyelesaikan tugas. Sehingga seorang manajer sesungguhnya memiliki tugas untuk melaksanakan fungsi klasik manajemen, antara lain planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pengarahan) dan controlling (pengendalian).

Sementara itu, seorang pemimpin adalah orang yang dapat merumuskan dan menciptakan visi, misi, dan tujuan organisasi ke depan dan memberdayakan orang yang dipimpinnya untuk mencapai visi tersebut.

Mencari Titik Temu

Pertanyaannya kemudian adalah, mana yang lebih dibutuhkan leader atau manager? Jawabanya adalah tentu saja keduanya dibutuhkan. Kita membutuhkan kualitas pemimpin yang di satu sisi sebagai seorang leader, namun di sisi lain juga seorang manager.

Kita membutuhkan pemimpin tipe leader yang memiliki semangat, pemimpin yang mencintai yang dipimpinnya, pemimpin yang memahami, pemimpin yang memiliki visi dan rencana besar, dan memiliki seni dan rasa dalam memimpin orang dan mengelola semua aspek yang di pimpinnya serta mampu menggerakkan semua elemen dalam organisasi.

Kita juga membutuhkan para pemimpin tipe manager yang tahu apa yang harus dilakukan, pemimpin yang mampu menganalisa situasi, pemimpin yang mampu mengelola semua yang dipimpinnya dan memiliki pengetahuan teknis dan rasio dalam mengelola aspek yang dipimpinnya serta dapat memanfaatkan seluruh resource (sumber daya) dalam organisasi untuk mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi.

Dengan demikian maka, seorang pemimpin akan menggunakan keterampilan manajemen untuk membimbing timnya untuk tujuan yang tepat, dengan cara yang halus dan efisien saat para pemimpin tersebut mengatur arah. Seorang manajer akan mengambil sisi positif yang ada pada pemimpin untuk menginspirasi dan menggerakkan timnya.

Jalan tengahnya adalah leader dan manager sama-sama dibutuhkah secara bersama-sama. Sebab sebuah organisasi membutuhkan satu leader dan ratusan bahkan ribuan manager. Sebuah organisasi membutuhkan satu orang yang visioner dan membutuhkan ratusan bahkan ribuan orang yang mampu merealisasikan visi menjadi tindakan-tindakan nyata.

‘Ala kulli hal, apapun peran kita dalam organisasi maka, sesungguhnya kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah ta’ala, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829).

Wallahu a’lam

Asih SubagyoSenior Researcher Hidayatullah Institute

Teman yang Mahal

Ilustrasi tongkrongan anak muda (Foto: Joseph Redfield Nino/ Pixabay)

SEMUA orang membutuhkan nasehat. Sekaya apapun seseorang, meski memiliki emas satu gudang, uang milyaran yang tidak berseri. Biar pangkat dan kedudukan yang tinggi tetap memerlukan nesehat.

Manusia yang buruk adalah yang tidak mau menerima nasehat, semiskin-misnya orang adalah yang tidak punya teman memberikan nasehat. Biar miskin jika punya banyak teman maka banyak jalan untuk hidupnya.

Di akhir zaman ini yang sulit adalah mencari teman baik yang senantiasa memberikan nasehat kebaikan. Teman yang peduli dan membantu untuk mengingatkan kita bisa terus rajin ibadah dan tidak terjerumus dalam kemaksiatan.

Bukan teman yang mengajak main game, begadang malas-malasan, main foya-foya, jalan-jalan adventure, mager dan apalagi yang mengajak pergaulan yang tidak baik.

Teman itu seperti makanan yang tak bisa kita tinggalkan walau sehari pun. Seperti seseorang butuh makanan setiap hari maka kita pun butuh akan teman ini. Namun yang perlu diperhatikan adalah memilik teman-teman yang baik, sebagaimana mengkonsumsi makanan juga harus yang baik dan halal.

Teman yang sholeh, memberikan keteladanan dan mengajak kepada kebaikan dunia akherat. Teman juga seperti obat yang sangat dibutuhkan ketika terjadi permasalahan.

Kita membutuhkan teman untuk sharing, curhat dan partner membantu memecahkan suatu masalah hidup yang dialami. Teman bisa menjadi solutor terhadap permasalahan yang dialaminya. Pentingnya memilih teman tersirat dalam sebuah sabda Rasulullah Saw:

“Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasullulah Saw bersabda:

Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang mukmin yang bertaqwa”. Dalam hadits lain ditegaskan, “Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Ahmad).

Dari dua hadist di atas, maka ada kriteria utama yang menjadi prioritas pertama orang yang harus dijadikan teman yaitu orang beriman dan orang-orang saleh. Selain karena sesama mukmin memang bersaudara, juga karena orang beriman dengan benar melahirkan dalam dirinya perilaku yang baik (akhlaqul karimah) dan kita akan termotivasi melakukan hal yang sama.

Beberapa ulama generasi salaf menyarankan kepada kita untuk: ”Bersahabatlah dengan orang-orang yang keadaannya bisa menunjukkan kamu ke jalan Allah”. Bukan mengajak kepada jalan setan dan nafsu yang kelihatannya nikmat, bahagia dan santai tapi menjerumuskan dalam dosa dan neraka.

Jika punya teman baik, pegang erat tangannya, terus dekati dan jaga karena itu barang mahal yang bisa menjaga kita dalam kebaikan dengan nasehat-nasehatnya dan teladannya.

Teman baik hari ini mahal dan kita berharap mendapatkan keberkahan dari kebaikannya. Baik teman baik di dunia maya atau media sosial ataupun teman di dunia nyata.

Ust. Abdul Ghofar Hadi

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional, HI Ingatkan Penjajahan Ekonomi Baru

Ilustrasi penggalian kandungan alam (Foto: Khusen Rustamov/ Pixabay)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ditengah sedang memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada hari ini, 20 Mei, bangsa Indonesia diingatkan untuk tetap waspadai penjajahan gaya baru dimana negara sedang dilanda sejumlah ujian terutama tantangan bidang ekonomi.

Diketahui total utang Indonesia 9.000 trilyun rupiah, yang jika dibagi dengan 276 juta penduduk Indonesia, maka setiap kepala, menanggung utang 32 juta rupiah.

“Jadi ini bukan Kebangkitan Nasional agar terlepas dari penjajah. Akan tetapi Kebangkitan Utang Nasional, menuju penjajahan ekonomi baru, dimana anak cucu kita yang akan menanggung,” kata Senior Researcher Hidayatullah Institute (HI), Asih Subagyo, dalam catatan refleksinya dinukil dari laman pribadinya, Jum’at, 18 Syawwal 1443 (21/5/2022).

Dia mencatat, Kementerian Keuangan pada bulan April lalu melaporkan bahwa utang pemerintah pusat mencapai Rp 7.052,50 triliun di akhir Maret 2022. Utang ini naik dibandingkan akhir Februari yang sebesar Rp 7.014,58 triliun, dengan rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 40,39%

Sebagaimana dalam investor, INDEF juga memproyeksikan, pembiayaan APBN melalui utang mencapai Rp 7.500 triliun tahun ini. Perhitungan ini berdasarkan realisasi utang pemerintah pada akhir Januari 2022. Namun utang tersebut belum termasuk utang BUMN, yang jumlahnya di atas Rp 2.000 triliun. Secara rinci, proyeksi total jumlah utang publik (utang pemerintah plus utang BUMN) tercatat pada triwulan III-2022 mencapai Rp 9.052,50 triliun.

Dengan beban utang yang terus meningkat, diperkirakan tingkat fleksibilitas fiskal yang semakin ketat dari keuangan negara. Alhasil total pembayaran bunga utang di APBN pada 2022 menjadi naik sebesar Rp 405,9 triliun pada 2022 atau 20% dari total belanja pemerintah pusat.

Asih juga mengingatkan pejabat, penyelenggara, dan pihak terkait untuk sungguh sungguh mengentaskan problem ekonomi ini. Karena, sebagai pejabat, selain digaji dari uang rakyat melalui pajak dan retribusi lainnya, juga mendapatkan fasilitas yang tidak sedikit.

“Tugas negara dan juga yang ditunjuk untuk mengatur dan mengelola negara adalah bagaimana mensejahterakan hajat hidup orang banyak ini,” katanya. (ybh/hio)