Beranda blog Halaman 359

Pernikahan Tak Kenal Pacaran, Sudah Aqad Nikah Masih Deg-degan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Biasanya pengantin baru deg-degan sebelum menikah. Tapi ada juga pengantin baru yang masih tetap deg-degan setelah menikah. Ya, karena dalam pernikahan itu tak dikenal istilah pacaran.

Ini salah satu cerita menarik dari Pernikahan Mubarak 6 Pasang Santri yang digelar Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan baru-baru ini.

Pernikahan 12 santri-santriwati itu disaksikan secara langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dan sejumlah pengurus tingkat pusat Hidayatullah dari Jakarta.

Salah seorang peserta pernikahan, Muhammad Irfanuddin, menuturkan, yang mendebarkan dirinya saat menunggu akad nikah.

“Tadi kan sempat memperhatikan teman-teman yang akad nikah duluan, rasanya itu deg-degan,” ucap putra Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Hairil Bais ini, saat ditemui hidayatullah.com.

Pernikahan itu berlangsung di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Ahad pagi, 14 Syawal 1443 H (15/05/2022).

“Saya deg-degan itu karena ini kan hal yang sakral ya. Kita deg-degan karena ini merupakan perpindahan amanah dari seorang bapak terhadap anak perempuannya kepada seorang suami. Kalau ada salah-salah kan bahaya,” lanjutnya sambil tertawa kecil.

Ia mengaku, saat namanya disebut oleh Ust Sukman selaku MC untuk melakukan akad, seketika perasaannya campur aduk.

“Pas disebut nama saya tadi itu kan untuk maju melakukan akad, weeh, gemetaran saya. Kayak gimana ya, pokoknya campur aduk lah. Apalagi saya ini kan orang yang demam panggung,” ucapnya tapi dengan raut wajah bahagia karena telah sah sebagai seorang suami.

Pernikahan itu disaksikan pula oleh ratusan santri, ustadz, warga, kader, pengurus, serta jamaah Hidayatullah secara offline dan ribuan warganet melalui siaran langsung di YouTube.

Aqad nikah berlangsung sakral. Sebagian pengantin tampak lancar saat proses ijab kabul. Sebagian lainnya ada yang harus mengulang. “Sah! Sah! Barakallah!” doa dari para jamaah untuk para mempelai.

Rayhan Ahmad Khairullah, pengantin lainnya, juga mengaku sangat deg-degan saat akan akad nikah.

“Kami itu akad nikahnya yang terakhir. Nah pas nama kami yang dipanggil tadi ya itu ada rasa-rasa bergetar gitu,” ucapnya sembari tertawa kecil kepada hidayatullah.com sesuai pernikahan.

“Kami bergetar itu karena kami lihat teman-teman sebelum kami itu kan lancar-lancar aja. Nah kami itu takutnya pas bagian kami itu ada gangguan gitu nah,” lanjutnya dengan gaya bicara khas Balikpapan.

Yang berbeda, aqad nikah Rayhan dilangsungkan dengan berbahasa Arab, baik oleh wali calon istrinya, yaitu Faruq, maupun oleh Rayhan. Saat pengucapan ijab qabul, pantauan hidayatullah.com, salah seorang saksi meminta agar aqad diulang. Nah, pada ijab qabul kedua, saksi pun menerima. “Barakallah! Sah!” ucap jamaah.

“Tapi Alhamdulillah kami semua tadi lancar-lancar aja,” ucap Rayhan, putra Ruhyadi (Ketua Departemen Ekonomi Keumatan DPP Hidayatullah) ini.

Usai acara di masjid selama 1,5 jaman itu, para pengantin berfoto bareng hadirin. Mereka pun diguyur doa dan jabatan tangan. Sementara para pengantin putri ditempatkan pada lokasi acara terpisah.

Para pengantin lalu putra dikumpulkan di kantor YPPH Balikpapan untuk mendapatkan pembekalan lanjutan terkait penyerahan mahar. “Sudah halal istri antum,” kelakar seorang panitia penyelenggara pernikahan, Hidayat Jaya Miharja.

Di kantor ini sekaligus digelar ramah tamah sederhana. Kemudian, satu per satu pengantin putra diantar ke rumah-rumah yang telah ditentukan untuk penyerahan mahar bagi istri masing-masing.

“Sudah Aqad Belum Adem”

Uniknya pula, meski sudah melangsungkan akad nikah, sejumlah pengantin putra mengaku belum tenang. “Ya meskipun sudah akad tadi bang ya, belum lega,” ucap Rayhan tertawa kecil.

Kenapa? “Karena kita kan belum ketemu istri, jadi masih belum adem,” jelasnya.

Owalah!

Wajar saja. Sebab, para pengantin putra memang baru akan melihat langsung istrinya setelah acara pernikahan itu. Tepatnya saat penyerahan mahar di rumah-rumah warga yang telah ditetapkan.

Pernikahan Mubarak adalah program rutin tahunan Hidayatullah yang tidak mengenal istilah pacaran.

Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ust H Zainuddin Musaddad, dalam nasihat pernikahan, menegaskan pentingnya pernikahan yang digelar secara syar’i, termasuk pada rangkaian acaranya. Pernikahan tidak harus digelar secara mewah dengan tamu undangan yang melimpah.

Bagi Hidayatullah, pernikahan bukan soal penyelenggaraan resepsi, tapi bagaimana agar generasi bisa menjalankan syariat Allah lewat menikah.*/Hidcom

Kesungguhan, Kemalasan, Rehat, dan Buaian Masa Kini

Ilustrasi perjalan kaki sibuk (Foto: Brian Merrill/ Pixabay)

AL-HAFIDZH Abul Faraj Ibnul Jauzi menceritakan dalam Shaydu al-Khathir, bahwa pada suatu perjalanan Imam Sufyan ats-Tsauri membawa bekal faludzaj (sejenis makanan mewah) dan daging panggang.

Orang-orang pun keheranan melihat makanan tersebut, namun beliau berkata, “Sungguh, binatang tunggangan itu, jika diperlakukan dengan baik, maka ia akan bekerja (dengan baik pula).” Ya, beliau menunjuk kepada dirinya sendiri, agar diperlakukan dengan baik sehingga giat dalam menggapai cita-cita yang mulia.

Memberi makanan yang baik hanya sebagian bentuk perlakuan. Masih banyak lainnya, yang dalam hadits disebut dengan “memberikan hak-haknya”.

Salman al-Farisi pernah berkata kepada Abu Darda’, “Sungguh Tuhanmu memiliki hak atas kamu, dirimu punya hak atas kamu, dan keluargamu pun punya hak atas kamu. Maka, berikanlah kepada setiap yang berhak hak mereka.” Rasulullah pun membenarkan ucapan Salman. (Riwayat Bukhari).

Islam mengajarkan keseimbangan, yakni menjaga posisi tengah-tengah diantara dua ekstrem. Dalam Ilmu Akhlaq kita diajarkan bahwa ada tiga daya (al-quwa) dalam diri manusia, yaitu: daya nalar, emosi dan syahwat. Akhlaq mulia adalah titik keseimbangan diantara dua ekstrem yang selalu muncul dari ketiganya.

Pertama, kebijaksanaan (hikmah) adalah puncak kesempurnaan daya nalar, yaitu pertengahan antara kedunguan dan kejeniusan. Kedua, keberaniaan (syaja’ah) adalah puncak kesempurnaan daya emosi, yakni pertengahan antara pengecut dan sembrono. Lalu, ketiga, ‘iffah (menjaga diri) adalah puncak kesempurnaan daya syahwat, yaitu pertengahan antara dingin-beku dengan liar.

Maka, memaksakan diri (takalluf) tidak disukai, sama dengan kemalasan (kaslan). Karenanya, kesungguhan (mujahadah) ada diantara keduanya. Nabi melarang kerahiban (rahbaniyah), dimana seseorang membujang dan fokus beribadah.

Beliau pun tidak mengizinkan berpuasa sepanjang tahun (shaum dahr), tanpa ada hari-hari berbuka di dalamnya. Sebaliknya, beliau mencela orang yang tidur sepanjang malam seperti bangkai, tidak sedikitpun terbangun untuk bermunajat menyeru Tuhannya.

Beliau juga menegur Sahabat yang shalat dengan cepat dan terburu-buru, karena tidak mencerminkan kesungguhan yang wajar. Kehidupan Rasulullah dan para Sahabatnya adalah kisah manusia biasa, sama dengan kita kaum muslimin sesudah mereka.

Andai kehidupan mereka seperti malaikat, tentu tiada faedahnya samasekali, sebab mustahil dicontoh. Maka, ada saatnya mereka berperang dan berjibaku menantang maut, namun ada pula saat-saat dimana mereka bergembira dan berdendang.

Suatu hari ‘Aisyah – bersama lainnya – mengantarkan seorang pengantin wanita dari kaum Anshar kepada pengantin prianya, maka Nabi bertanya, “Hai Aisyah, apakah bersama kalian tidak disertai permainan? Sebab, kaum Anshar sangat menyukai permainan.” (Riwayat Bukhari). “Permainan” disini adalah menabuh rebana dan mendendangkan nyanyian yang mubah, bukan pengundang syahwat dan maksiat.

Mereka tidak malas, namun tidak pula berlebihan. Maka, di sela-sela kesungguhannya, mereka pun menyempatkan rehat. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Ibrahim bin Adham, “Sesungguhnya hati itu, jika dipaksa, maka ia akan menjadi buta”.

Demikianlah, stres dan tekanan berat terus-menerus akan membuat hati kehilangan keseimbangan dan kebijaksanaan. Keputusan yang dibuatnya bisa jadi berlawanan dengan kebaikan, dan mungkin sekali akan menjadi bahan penyesalan di masa depan.

Maka, jangan sampai kita lebih sibuk mencari-cari riwayat bagaimana generasi Sahabat bersantai, lalu membesar-besarkannya. Kita memperdebatkan hukum hiburan serta nyanyian yang sebenarnya mubah dan bersifat sesekali, namun lupa membicarakan bagaimana mereka bersungguh-sungguh mengisi waktunya, yang mengambil porsi terbesar.

Lebih disayangkan bila kita justru memadati kehidupan ini dengan kesantaian, diatas dalih bahwa para Sahabat pun bersantai. Belum lagi, ternyata kita pun tidak mewaspadai apa jenis hiburan yang kita nikmati. Namun, terus-menerus memadati hidup dengan keseriusan akan merusak diri kita sendiri. Jadi, seimbangkanlah.

Sebenarnya, tidaklah mengapa merehatkan jiwa sesekali, dengan cara-cara yang mubah. Sebab, rehat akan membangkitkan kekuatan dan memperbaharui motivasi. Hanya saja, jangan berlebihan, karena berkubang dalam senda-gurau dan permainan adalah bukti kelemahan serta kemalasan.

Dalam as-Sunan, al-Hafizh Sa’id bin Manshur al-Khurasani mengutip bahwa Mu’awiyah bin Qurrah berkata: aku bertanya kepada al-Hasan, “Mana yang lebih Anda sukai: saya membaca mushhaf (Al-Qur’an) atau duduk mendengarkan penutur kisah?” Beliau menjawab, “Bacalah mushhaf-mu.”

Aku bertanya lagi, “Mana yang lebih Anda sukai: saya menjenguk orang sakit atau duduk mendengarkan penutur kisah?” Beliau menjawab, “Jenguklah orang sakit.” Aku bertanya lagi, “Mana yang lebih Anda sukai: saya mengiringkan jenazah atau duduk mendengarkan penutur kisah?” Beliau menjawab, “Iringkanlah jenazah.”

Aku bertanya lagi, “Ada seseorang meminta tolong kepada saya untuk suatu keperluan, mana yang lebih Anda sukai: apakah saya pergi menolongnya atau duduk mendengarkan penutur kisah?” Beliau menjawab, “Pergilah menolong keperluan saudaramu.” Sehingga beliau menjadikan (kegiatan-kegiatan lain itu) sebaik-baik pengisi waktu luang. (Sanad-nya shahih).

Atsar di atas sebetulnya merekam sesuatu yang sangat modern dan tidak pernah berubah. Dulu, para pelajar dan kaum muslimin dibuai oleh para penutur kisah (al-qash atau al-wa’izh) yang kata-katanya memikat, namun seringkali hanya membuang waktu, sedikit manfaatnya, condong dusta serta dibuat-buat (fiktif), bahkan adakalanya berbau bid’ah dan dosa.

Kita sekarang pun sama. Jika saja Imam al-Hasan al-Bashri hidup di zaman kita, apa yang akan dikatakannya saat menyaksikan para pelajar, mahasiswa dan kaum muslimin berasyik-maksyuk terbuai oleh novel, komik, film, sinetron, kartun, nyanyian, gadget, games, play-station, gosip, issu, sport news, chatting, content Youtube, Facebook, Twitter, dsb? Astaghfirullah.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Hidayatullah Surabaya Gelar Silaturrahim Kultural Syawalan 1443

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, menggelar acara Silaturrahim Kultural Syawalan 1443 H.

Acara kultural yang dilakukan setiap tahun setelah bulan suci Ramadhan kali ini diisi oleh Ketua Dewan Pembina Surabaya Ust H Abdul Rachman, Sabtu, 13 Syawal 1442 H (14/5/2022).

Acara ini dihadiri ribuan jamaah dan aktivis Hidayatullah Surabaya. Diawali dari sambutan dari Wakil wali siswa sekolah integral, Bapak Wisnu kemudian sambutan oleh Ustadz Syamsuddin, Ketua Badan Pengurus Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Semarak rangkaian acara lainnya yaitu tausyiah agama oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad yang disiarkan secara virtual dari Ma’had Ummul Quro Hidayatullah Balikpapan dan Ust H Abdul Rachman, Murabbi Am Hidayatullah Jawa Timur. (ybh/hio)

Pemuda Hidayatullah Ajak Milenial Tumbuhkan Minat Baca

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Mas Imam Nawawi, menyentil kesadaran generasi milenial untuk membaca serta mengajak mereka untuk berupaya menumbuhkan minat dan daya baca di tengah gempuran informasi era digital saat ini.

“Siapa yang menguasai ‘peta’ maka ia menguasai dunia. Tantangan kita adalah tantangan membaca agar kita berpikir. Dalam konteks era digital, siapa membaca memahami data maka dia menguasai. Inilah tantangan kita,” kata Mas Imam Nawawi di Balikpapan, Kaltim, Selasa malam, 15 Syawwal 1443 H (17/5/2022).

Hal itu disampaikan Imam saat menjadi narasumber dalam acara NGOPI BAPER (NGObrol PIntar BAwa PERubahan) sebagai bagian dari rangkaian Roadshow Pemuda Hidayatullah Kaltim yang bertepatan dengan peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei.

Menurut Imam, rendahnya minat dan daya baca bangsa menjadi salah satu problem yang tak boleh diabaikan. Untuk itu, ia mendorong generasi muda terus menumbuhkan daya baca karena ia merupakan salah satu indikator majunya sebuah bangsa.

Ia lantas mencontohkan kepeloporan negara Tiongkok dalam minat baca. Dalam hal penerbitan buku Indonesia jauh tertinggal dari negara TIrai Bambu itu. Indonesia hanya 18 ribu buku per tahun. Sedangkan negeri Tiongkok menerbitkan 440 ribu buku per tahun. Bahkan, dia menukil data UNESCO, Tiongkok telah mengungguli Amerika Serikat yang hanya menerbitkan buku 314.912 judul buku per tahun.

“Kalau kita kemudian mudah dipecah belah dan diprovokasi, itu boleh jadi memang akibat salah satunya kurang membaca. Kurang membaca, maka ukhuwah kita tidak kuat, mudah dibuat retak dan seterusnya,” imbuhnya seperti dinukil dari Republika.co.id.

Mengutip data dari Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, diketahui minat baca masyarakat Indonesia juga rendah yang hanya 0,001 persen. Indonesia berada di urutan 62 dari 70 negara yang disurvei.

Mestinya, terang Imam lebih lanjut, sebagai negara dengan mayoritas Muslim, Indonesia menjadi pelopor dalam minat baca. Namun kenyataannya tak demikian.

“Kalau beriman kepada Allah dan mengikuti Rasulullah maka membaca adalah hal yang harus diamalkan. Apalagi kita sudah ada pelajaran Alquran yang harus dibaca, dihafal, di-murajaah, dan ditadabbburi. Itu semua adalah membaca,” terang penulis buku Mindset Surga ini.

Imam menjelaskan, yang disebut membaca adalah “kita menangkap makna, mendapatkan pengertian, dan itu membuat kita mengerti tentang sesuatu. Membaca melibatkan pikiran, perasaan, bahkan keimanan.”

Dia menjelaskan, umumnya orang Indonesia tak tertarik membaca karena mereka hanya melakukan aktivitas melihat huruf. Kelihatannya membaca tapi sebenarnya mereka hanya melihat lihat.

“Yang disebut membaca, kita menangkap makna. Maka, sejauh yang kita lakukan adalah membaca dalam rangka menangkap makna, menyerap intisari pikiran, dan mengembangkan cara berpikir kita menjadi lebih baik, itulah hakekat membaca,” katanya.

Imam menegaskan, bangsa Indonesia khususnya generasi muda harus melakukan upaya membaca dengan sebenar-benarnya.

Dalam pada itu, menurut penulis produktif itu, membaca bukan untuk tahu belaka tapi membaca untuk menjadikan diri kita lebih kuat, baik dalam keilmuan, karakter diri, maupun kebermanfaatan diri termasuk di dalamnya keterampilan.

“Kalau membaca kita hanya sebatas membaca biasa itu pada akhirnya seperti keluhan banyak mahasiswa yang mengantuk ketika membaca. Minat bacanya bagus seperti kuat baca Whatsapp atau Facebook, tapi ketika berhadapan dengan buku lima menit dia tidur. Minat bacanya tinggi, daya bacanya rendah,” katanya seraya menukil ungkapan pendiri Indonesia Mengajar Anies Baswedan.

Lebih jauh pria yang menulis setiap hari di website masimamnawawi.com itu mengungkapkan, membaca yang baik adalah yang menjadi kekuatan dalam diri kita. Ia lantas mengemukakan teori Gus Baha, bahwa membaca untuk memahami.

“Banyak orang membaca untuk menceritakan lagi, bukan membaca untuk memahami. Apa yang kita baca nggak perlu dihafal karena membaca itu bukan menghafal tapi untuk menangkap. Kemudian memanifestasikan, dan karena kita seorang Muslim, maka kita juga mendakwahkan apa yang kita baca,” kata Imam.

Pada kesempatan tersebut Imam juga berbagi kiat menjaga motivasi dan semangat membaca. Bagi Imam, untuk bisa mempertahankan gairah membaca, maka seseorang harus paham betul bahwa membaca adalah perintah Allah SWT.

“Berarti kalau kita membaca kita dapat pahala. Kita tahu banyak kebaikan tapi kita tidak mengamalkan, kenapa tidak mengamalkan, karena akal kita tidak menerjemahkan. Kita tahu tapi kita tidak bisa jadikan itu sebagai kekuatan dalam diri kita,” katanya berevaluasi.

Menurut pria yang juga aktif keliling Indonesia itu, ayat Alquran banyak sekalimemerintahkan membaca dengan kosa kata derivatif dari kata iqra’ yang pada gilirannya didapati pesan universal agar manusia menggunakan akal budi, hati, dan pikirannya untuk menemukan kebenaran dan memperjuangkannya.

“Dengan demikian, maka setiap tarikan nafas seorang mukmin aktivitas utama yang dia lakukan adalah membaca. Dengan ia membaca, ia berpikir sekaligus berdzikir, itulah ulul albab,” tandasnya dalam acara yang juga ditayangkan secara live di channel LPPH Gunung Tembak itu. (ybh/hio)

Dunia Panggung Sandiwara dan Allah Selamanya Maha Kuasa

HIDUP ini memang sandiwara dan sutradaranya langsung oleh Allah subhanahu wa Ta’ala. Menjalani kehidupan dunia yang sudah menjadi skenario atau taqdir Allah dengan modal keimanan. Hakekat dari taqdir Allah semuanya baik dan untuk kebaikan manusia itu sendiri, sehingga orang beriman harus tetap menjaga prasangka yang baik kepada Allah, apapun yang terjadi.

Ketika ada hal-hal yang terjadi terasa kurang baik, kurang beruntung, kurang berpihak maka saat itulah kita intropeksi diri, evaluasi diri atau bermuhasabah. Mungkin ada kesalahan dan khilaf yang pernah kita lakukan atau Allah ingin menaikkan derajat kita dengan ujian tersebut.

Di hadapan Allah kita tidak bisa bersandiwara karena Allah Maha mengetahui terhadap segala yang kita lakukan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi bahkan apa yang terbersit dalam hati. Allah Maha Mendengar semua pembicaraan yang kita ucapkan secara terang maupun bisik-bisik.

Sandiwara biasanya di hadapan manusia. Baik sandiwara by desaign dengan sutradara profesional untuk siaran film, sinetron dan lain sebagainya. Ini sifatnya kolosal dengan ditunjang oleh teknologi dan naskah yang dirancang menarik.

Ada juga sandiwara personal yang dilakukan sendiri dengan motivasi yang bermacam-macam dan berbeda-beda. Bersandiwara untuk bisa menarik simpati orang lain, menutupi kegalauannya, menampakkan kedewasaannya, menjebak atau menipu orang lain, menjaga harga diri dan status sosialnya. Sandiwara pribadi terkadang profesional, terkadang amatiran tergantung pengalaman dan kemahirannya masing-masing.

Kehidupan ini terkadang banyak sandiwara. Tapi catatan penting bagi orang beriman bahwa sandiwara yang dilakukan oleh manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sehingga harus berhati-hati dalam bersandiwara, apalagi di hadapan Allah karena bisa terjerat dalam sifat munafik.

Bersandiwara di hadapan manusia bisa dianggap penjilat dan pembohong. Bersandiwara di hadapan istri dan anak-anak bisa menjadi bom waktu yang bisa mecerai berai akad pernikahan karena dianggap berkhianat.

Hidup memang bersandiwara, bagi orang beriman bersandiwara dengan skenario yang telah dirancang oleh Allah. Berusaha tetap on the track sesuai dengan tuntutan dan tatanan yang Allah gariskan melalui rambu-rambu dalam syariat Islam.

Terkadang seseorang akan memperlihatkan bahwa ia sangat bahagia untuk menutupi kesedihannya. Terkadang seseorang memperlihatkan tawanya untuk menutupi tangisnya. Terkadang harus menyampaikan narasi yang baik untuk menghindarkan tangis yang terjadi. Maka dari itu, seseorang perlu bersandiwara di depan orang lain agar terlihat baik-baik saja. Terkadang seseorang terlalu naif untuk menolak taqdir peran yang sudah ditentukan dan tidak menerima keadaan.

Rasa gengsi? Rasa gengsi juga salah satu yang mendorong seseorang harus bersandiwara. Gengsi untuk menunjukkan bakti ke orang tua, cinta dengan istri, sayang dengan anak-anak, gengsi untuk menunjukkan hormat pada orang lain dan banyak lagi.

Rasa gengsi dan sandiwara membuat orang sulit untuk selalu bersyukur terhadap nikmat dari Allah. Sehingga hindari bersandiwara, terutama di hadapan Allah dan manusia.

Allah berfirman dalam surat al Hadid ayat 4:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“ …..Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

Ust Abdul Ghofar Hadi

Silaturrahim Syawal Hidayatullah Provinsi Sulawesi Utara

BOLAANG MONGONDOW (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Ibolian, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, berlangsung Silaturrahim Syawal Hidayatullah Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu, 12 Syawal 1443 (14/5/2022).

Adapun tema yang diangkat dalam hajatan tahunan Hidayatullah wilayah Sulut ini mengikuti tema Syawalan di Kampus Induk Gunung Tembak yakni “Momentum Syawal Teguhkan Ukhuwah, Jatidiri dan Perjuangan”.

Acara ini sendiri merupakan rangkaian yang disiapkan dan diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulut yang dihadiri pengurus DPW, Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Organisasi Pendukung (Orpen), Amal Usaha dan masyarakat umum.

Peserta mulai check-in sejak hari Jum’at kemudian dilanjutkan dengan qiyamul lail dihari Sabtu dinihari mulai jam 03.00 secara berjamaah, sholat subuh, wirid/ dzikir dan taushiyah kelembagaan oleh DMW. Kemudian peserta sarapan dan mandi untuk persiapan mengikuti acara inti.

Ada dua pemateri yang dihadirkan yaitu Ust H Zainuddin Musaddad, MA selaku anggota Dewan Murabbi Pusat dan Ust Asih Subagyo yang merupakan Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah. Materi kedua narasumber ini disampaikan secara online (daring).

Dalam taushiyahnya, narasumber pertama Ust Zainuddin Musaddad menyampaikan bahwa kecewa, sakit hati, dengki, hasad, fitnah, ghibah, ujub, riya’, takabbur dan tajassus adalah sebagian dari penyakit hati yang sering menghinggapi setiap manusia.

Sehingga, terang dia, jika berbagai penyakit tersebut terkait dengan hubungan sesama manusia, maka semua jenis penyakit hati tersebut akan terobati dengan kita berjabat tangan dengan ketulusan hati dan sambil melihat wajah saudara-saudara kita dengan seksama saat bersalaman.

“Maka penyakit hati pelan tapi pasti akan terkikis dan selanjutnya akan hilang,” katanya.

Sementara itu, Ust Asih Subagyo menambahkan bahwa kekuatan umat Islam dalam skala apapun juga adalah dengan menjaga ukhuwah. Prasyarat ukhuwah itu harus diawali dengan ta’aruf, dimana saling mengenal luar dalam kepada sesama saudaranya.

“Kemudian tafahum, dimana kita saling memahami kelebihan dan kekurangan atau pun kekuatan dan kelemahan masing-masing,” kata Asih.

Lalu, prasyarat kokohnya kekuatan umat selanjutnya, kata Asih, adalah ta’awun atau saling tolong menolong. Konsepnya bisa berupa yang kuat menolong yang lemah atau yang dirasa mampu agar menolong yang kekurangan.

“Dan terakhir adalah takaful, adanya sikap saling memberikan jaminan. Artinya sesama umat muslim harus saling memberikan rasa aman dan terhindar dari kekhawatiran serta kecemasan,” imbuh Asih yang saat ini masih harus menjalani perawatan intensif karena sakit ini.

Lebih jauh, Asih menekankan bahwa jika ukhuwah ini kendor atau hilang, maka bicara tentang jamaah itu hanya omong kosong belaka.

Oleh karenanya, dia menyampaikan, membangun ukhuwah ini dalam kerangka kosolidasi organisasi yang tidak bisa ditawar tawar lagi. Demikian halnya dengan penguatan, pemahaman dan implementasi jatidiri, juga menjadi sebuah keharusan.

“Dengan demikian maka membangun ruhul jihad sebagai bekal dalam perjuangan di medan dakwah akan bisa dijalankan dengan baik” tandasnya.

Selepas shalat dzhuhur berjamaah, acara dilanjutkan dengan penyampaian program kerja dan pembacaan beberapa SK. Kemudian dilanjutkan dengan anjangsana silaturrahim kepada wakif tanah yang sering dipanggil dengan Habib.

Habib hanyalah nama panggilan yang karib digunakan untuk menyapanya. Nama sebenarnya beliau adalah Klaus Neven. Setelah menjadi mualaf, nama hijrahnya Habiburrahman. Habib mewakafkan sebuah lahan tanah dan bangunan di Niniha seluas 26 hektar.

Sore harinya seluruh peserta kembali ke tempat tugas masing-masing dengan semangat ukhuwah yang semakin meningkat.*/Taufiqurrahman

Hidayatullah Diharapkan Jadi Barometer Peradaban Islam di Indonesia

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Wali Kota Balikpapan H Rahmad Mas’ud, berharap Hidayatullah terus memberikan manfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara serta dapat menjadi barometer peradaban Islam khususnya di Indonesia.

“Selain itu, ke depan Pondok Pesantren Hidayatullah ini terus berkembang menjadi barometer dan sebagai central peradaban Islam di Indonesia,” ujarnya.

Hal itu disampaikan Wali Kota Balikpapan dalam acara peletakan batu pertama pembangunan guest house Peradaban Ummul Quro Pondok Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Jalan Mulawarman, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Balikpapan, Kaltim, Sabtu, 12 Syawal 1443 (14/5/2022).

Dalam kegiatan ini hadir Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Balikpapan Subari, anggota DPRD Provinsi Kaltim H Yusuf Mustafa, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Quro Balikpapan KH Hamzah Akbar, Ketua Bawaslu Balikpapan Agustan, termasuk Ketum PP Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi serta tampak pula tokoh senior Hidayatullah Ustadz Abdul Latif Usman yang ikut meletakkan batu di Pondok Pesantren Hidayatullah.

Wali Kota Balikpapan dalam sambutannya mengatakan, Peradaban Ummul Quro Pondok Pesantren Hidayatullah ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan doanya bisa melindungi bangsa khususnya kota Balikpapan.

Apalagi, lanjut Wali Kota, Balikpapan kini menjadi penyangga dan pintu gerbang Ibu Kota Negara (IKN) sehingga sudah saatnya harus bisa menyiapkan pendidikan formal maupun pendidikan religi dalam hal ini pondok pesantren.

“Kita harus berpegang pada ilmu agama. Kalau kita menciptakan anak-anak yang pintar tapi tidak benar hidupnya juga percuma. Saya yakin melalui pondok pesantren yang melahirkan santri-santri tentunya sudah banyak berbuat dengan bangsa yang kita cintai,” ungkapnya.

Menurut Wali Kota, apabila membangun bangunan untuk kegiatan dakwah atau syiar Allah SWT akan datangkan dan mudahkan dari penjuru manapun.

Untuk itu, Rahmad mengajak pengusaha muslim, anggota DPRD Balikpapan maupun Provinsi, saudara-saudara muslim dan para dermawan di Kota Balikpapan, supaya dapat terpanggil hatinya untuk bisa memberikan harta yang dititipkan kepadanya, agar dapat bermanfaat dalam syiar Islam di Kota Balikpapan.

“Tidak menutup kemungkinan juga kami dari keluarga. Insyaallah dengan izin Allah SWT, dengan harta yang dititipkan kepada kami dan keluarga. Mudah-mudahan harta yang dititipkan ini dapat bermanfaat kepada kami sebagai penyiar syariat Islam di permukaan bumi ini,” jelasnya.

Rahmad mengungkapkan, dalam tahun ini yayasan Bani Mas’ud sedang proses pembangunan Masjid dan Rumah Tahfidz Bani Mas’ud yang dikumpulkan dari zakat keluarga Bani Mas’ud.

“Saya minta para ustad dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah dapat membantu. Saya yakin tidak mungkin bisa sendiri untuk penyebaran agama kita,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Quro Balikpapan KH Hamzah Akbar mengatakan Pondok Pesantren Hidayatullah ini membuka jariyah sebesar-besarnya.

“Tidak hanya untuk melakukan pembangunan guest house saja, melainkan untuk kebutuhan lain dalam memajukan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak semakin maju dan berkembang,” ujarnya. (ybh/hio)

Momentum Syawal dan Maaf Memaafkan

MUDIK yang dua tahun terakhir ini dilarang karena covid-19, tahun ini seperti meledak sehingga jalan-jalan macet dari H-8 hingga H+8. Berbagai transportasi umum habis dipesan, baik darat, laut maupun udara. Jutaan kendaraan merayap keluar Jakarta saat akhir Ramadhan dan merayap di arus baliknya.

Salah satu motivasi mudik adalah maaf. Mereka ingin meminta maaf kepada orang tuanya, saudaranya, tetangga, dan teman-teman di kampungnya. Mereka tidak peduli dengan jalan macet, tiket mahal, berdesak-desakan dan lain sebagainya yang sekilas mudik itu susah dan berat. Spirit maaf yang menguatkan dan mendorongnya untuk mudik.

Sebuah kata yang trending topic untuk di bulan Syawal ini. Semua umat Islam seolah ingin berlomba mendahului dan memperbanyak maaf kepada orang lain. Bagi yang mudik merasa tidak sah maaf jika tidak mencium tangan orang tuanya, memeluk hangat saudaranya. Mereka merasa tidak cukup hanya sekedar telepon, mengirim pesan di media sosial atapun video call.

Maaf menjadi penyempurna ibadah di bulan Ramadhan. Allah menjanjikan ampunan terhadap dosa-dosa yang telah lalu kepada orang beriman yang berpuasa dan berdiri di malam hari Ramadhan karena iman. Itu dosa yang terkait dengan Allah dengan istighfar dan taubat.

Adapun dosa kepada manusia atau orang lain, harus dengan meminta maaf langsung atau mengembalikan hak orang lain. Maaf yang tulus dan ikhlas, bukan formalitas, apa adanya dan ikut-ikutan.

Maaf itu mencairkan suasana, mendinginkan jiwa dan melembutkan hati. Sehingga para Wali Songo menyebut Syawal dengan lebaran. Asal katanya lebar yang berarti lapang, setelah Ramadhan harus ada kelapangan hati, kebesaran jiwa kepada orang lain untuk maaf dan memaafkan.

Maaf yang paling penting adalah kepada orang-orang terdekat. Keluarga inti, orang tua, suami istri dan anak. Lapis kedua, saudara dan tetangga dekat, lapis ketiga rekan kerja, atasan, bawahan yang hari-hari berinteraksi dan berhubungan. Karena mereka yang paling sering berinteraksi hampir setiap saat dan setiap hari.

Semakin sering interaksi maka semakin besar kemungkinan pernah berbuat salah, salah ucap, menyinggung, mengecewakan, dan lain sebagainya. Itu semua bisa terhapus dengan maaf.

Maaf untuk menghilangkan gengsi, harga diri yang terlalu tinggi, jaim. Syawal ini harus ada kelapangan hati dan jiwa untuk maaf memaafkan. Allah memberikan indikasi orang yang bertaqwa dengan salah satunya memaafkan manusia atau orang lain. Sebagaimana dalam al Qur’an surat ali Imron ayat 133-134:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dalam surat al A’raf ayat 199 juga ada perintah yang sangat jelas untuk kita semua menjadi orang yang pemaaf.


خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.

Menjadi pemaaf dan meminta maaf memang tidak dibatasi hanya di bulan Syawal. Tapi bulan Syawal ini adalah momentum untuk menjadi pemaaf dan meminta maaf, jika bulan Syawal enggan, maka menunggu bulan apa lagi untuk maaf dan memaafkan.

Ust Abdul Ghofar Hadi

Memaknai Sami’na Wa Atho’na

SALAH satu kunci sukses dalam sebuah kepemimpinan di dalam organisasi apapun juga adalah, jika setiap keputusan ada ditaati dan dilaksanakan. Dengan catatan bahwa pemimpin tersebut saat mengambil keputusan dalam kerangka melaksanakan dan menjalankan amanah organisasi. Sehingga sesuai dengan digariskan dalam visi, misi dan tujuan organisasi yang diderivasikan dalam serangkaian rule of the game, regulasi, aturan serta tata kelola yang menjadi guidelines (petunjuk) bagi organisasi tersebut.

Dan, dalam konteks organisasi Islam yang paling utama adalah menjadikan al-Qur’an dan As-Sunah sebagai pedomannya. Al-Qur’an telah memberikan petunjuk yang indah tentang ketaatan ini di dalam Surat An-Nur ayat 51:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Ada satu kalimat yang menjadi kunci di situ, yaitu سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا (“Kami mendengar, dan kami taat”). Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, dalam Tafsir Al-Wajiz saat menafsirkan ini beliau menjelaskan: “Sesungguhnya ucapan: “Kami mendengarkan hukumNya, menaati perintahNya, dan meridhai hukumNya” adalah ucapan orang-orang mukmin saat diajak mematuhi hukum Allah dan rasul-Nya supaya bisa menentukan hukum di antara mereka. Orang-orang yang mendeklarasikan diri untuk taat itu adalah orang-orang yang memenangkan kebaikan dunia akhirat”.

Sedangkan Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar di dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, menjelaskan: “Yakni sepatutnya bagi orang-orang beriman untuk berlaku demikian, yaitu apabila mengengar seruan tersebut maka ia harus menanggapinya dengan ketaatan dan ketundukan; mereka tetap mengatakan “kami mendengar perkataannya dan mentaati perintahnya” meski hal itu adalah sesuatu yang tidak mereka suka dan merugikan mereka”.

Disinilah letak ujian dari ketaatan itu. Seringkali kita merasa berat untuk menerima sebuah keputusan dari pemimpin, hanya karena tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Padahal, dengan sami’na wa atho’na, seberat apapun yang kita rasakan, sesungguhnya kita akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan di dunia dan akhirat, sebagaimana ayat di atas.

Untuk itu, Syaikh Dr. Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di menjelaskan bahwa, “Allah melingkupkan kemuliaan untuk mereka, karena (hakikat) kebahagiaan itu adalah mendapatkan sesuatu yang dipinta dan selamat dari hal-hal yang dibenci. Dan tidaklah berbahagia kecuali orang yang berhukum dan taat kepada Allah dan RasulNya”.

Konsekwensi logisnya, dengan memegang prinsip “sami’na wa atho’na” ini, maka sebagai muslim yang selalu mengharapkan ridho dan petunjuk jalan yang lurus dari Allah ta’ala, adalah harus selalu komitmen (iltizam) untuk benar-benar secara total menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, dan meninggalkan secara total larangan Allah dengan tanpa terkecuali.

Seberat apapun masalah yang datang, serumit apapun persoalan yang dihadapi jangan pernah memilih menyelesaikan dengan jalan keluar yang bertentangan dengan syariat Allah SWT. Demikian juga jangan mengambil jalan pintas berdasarkan nafsu dan kepentingan diri sendiri/ kelompoknya, diluar apa yang sudah ditetapkan dan digariskan dalam sebuah ketetapan dan keputusan. Dan ketaatan terhadap keputusan itu, juga merupakan ujian tersendiri.

Oleh karena itu Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar terkait dengan sami’na wa atho’na di surat lain, yaitu surat al-Baqarah ayat 285, beliau menjelaskan,” { وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ } Ummat ini adalah ummat yang mengikuti perintah, maka ketika Alllah datangkan kepadanya akal sehat yang menunjukkan kepada kebenaran Rasul-Nya dan kebenaran kitab-Nya, maka sesungguhnya ummat ini tidak akan membantah dalil-dalil yang didatangkan kepada mereka dengan akal yang mereka punya, justru mereka akan mendengarnya dan taat kepadanya”.

Kita menyadari bahwa, seorang pemimpin dalam mengambil keputusan, sudah barang tentu mempertimbangkan berbagai aspek. Menyelaraskan dengan visi, misi, tujuan dan jatidiri organisasi. Mendengarkan berbagai pihak yang berkompeten. Berdasarkan data kualitatif dan kuantuitatif. Terlepas faktor subyektifitas (like or dislike). Juga melalui serangkaian laku ruhiyah dengan meminta petunjuk kepada Allah ta’ala termasuk melalui shalat isthikarah. Sampai kemudian sebuah keputusan itu diambil.

Seorang kawan baik dalam diskusi di WAG menyampaikan data yang menarik. Saat meneliti untuk kepentigan tesisnya, dengan sampel 10 lembaga, didapatkan data sekitar 80-85% rata rata anggota sebuah organisasi yang taat terhadap keputusan pimpinan. Menurutnya tidak ada yang 100%, kecuali yang benar-benar militan, itupun tidak bisa persis seratus persen.

Dia memberi contoh ketaatan santri dalam sebuah pesantren yang memang dituntut untuk sami’na wa atho’na dengan kiainya. Akan tetapi santri yang tidak sefaham dengan aturan pesantren dan kiainya, dia bakal taat dan akan pergi sebelum proses persantriannya selesai.

Alasan ketidaktaatan itu, masih berdasarkan penelitian kawan tadi, selain berbagai hal yang disebutkan di atas, juga adanya realitas yang berbicara bahwa seringkali pimpinan dilihat oleh anggota adalah adanya kekurangan, kelemahan bahkan keburukannya. Sehingga menyebabkan ketidakpercayaan atas keputusan yang diambil. Apapun itu bentuknya. Padahal bisa jadi semua penilaian anggota itu didorong faktor subyektifitas semata, dan tidak berdasar data serta fakta yang memadai.

Dengan demikian maka, tugas dari yang dipimpin (anggota) selanjutnya adalah senantisa berusaha mentaati dan menjalankan setiap keputusan itu. Dengan memegang teguh prinsip sami’na wa atho’na ini. Sehingga berdasar berbagai penjelasan di atas, akan membawa kepada keharmonisan dan keberlangsungan sebuah organisasi/ jama’ah dan akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan dikemudian hari. Dan inilah yang dicontohkan dan dipraktikkan dengan indah oleh Rasulullah beserta sahabatnya. Demikian juga contoh implementasi di berbagai organisasi apapun bentuk dan besarnya di muka bumi ini. Wallahu a’lam.

Asih Subagyo│Senior Researcher Hidayatullah Institute

Tanpa Ukhuwah yang Kuat Kita Mudah Sekali Diporak-porandakan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Salah satu pendiri Hidayatullah, anggota Majelis Penasehat Hidayatullah yang juga Ketua Dewan Pembina Ummulqura Balikpapan Ustadz Hasyim HS berpesan agar selalu menjaga ukhuwah atau persaudaraan. Kokohnya persaudaraan akan menguatkan perjalanan dalam perjuangan dakwah.

“Tanpa ukhuwah yang kuat kita mudah sekali diporak-porandakan, akan mudah diganggu, akan mudah dilemahkan oleh orang-orang yang kurang baik,” kata Ustadz Hasyim dalam penyampaian di Aula Bawah Kubah Kampus PUZ (STIS Hidayatullah).

Hal itu disampaikan beliau dikala membuka acara Silaturahmi Kultural Syawalan 1443 H Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Sabtu 13 Syawal 1442 H (14/5/2022).

Acara yang mengangkat tema ‘Berkah Ramadhan Teguhkan Ukhuwah, Jati diri dan Perjuangan’ itu dihadiri juga oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dan jajaran lainnya.

Pada penyampaiannya di depan seluruh kader Hidayatullah yang hadir secara langsung dari seluruh penjuru Indonesia, Ustadz Hasyim mengungkapkan bahwa acara silaturahim ini adalah alat yang penting bagi para kader untuk mempererat kembali ukhuwah para kader.

“Alhamdulillah pagi ini kita kita semua dikumpulkan di masjid ini dalam rangka berusaha dan berupaya membuat acara ini agar ukhuwah kita semakin terjalin, semakin rapat dan semakin kuat, karena itu merupakan satu-satunya alat yang bisa kita pakai untuk perjalanan jauh kedepan,” ucapnya.

Selain itu, dalam acara yang juga dilaksanakan secara online itu Ustadz Hamzah Akbar, ketua Yayasan Hidayatullah Ummulqura Balikpapan dalam sambutannya merasa bersyukur diadakan acara Silaturahmi Syawalan ini.

Hamzah mengaku bahwa acara kultural ini juga sangat penting bagi kader karena tanpa acara kultural ini maka terasa begitu sulit untuk saling bertemu,

“Alhamdulillah kita hadir, baik di dari struktural dan kita juga yang lintas kultural semuanya hadir di sini (Kampus Ummulqura). Kalau tidak ada acara-acara kegiatan atau acara-acara kultural seperti ini semua kita terbatasi, ini momentum buat kita,” kata Hamzah di hadapan peserta Silaturahmi Syawalan.

Ustadz Hamzah mengungkapkan bahwa pada acara Silaturahmi Syawalan ini tidak memiliki batasan, dan ia mengaku khawatir hanya karena struktural membuat kader tidak bagus ukhuwahnya.

“Acara kita di Gutem (Gunung Tembak) ini tidak ada batasan. Alhamdulillah, karena memang esensi, muatan tema dan acara ini yang kita proyeksikan. Jangan sampai gara-gara struktur, ukhuwah kita jadi tidak tersambung, gara-gara sekat-sekat struktur kita jadi renggang,” tuturnya.

Ustadz Hamzah Akbar berharap agar acara kultural di Gunung Tembak selalu dilaksanakan. Karena, menurutnya, ini merupakan tolok ukur esensi imamah jamaah dan kekuatan ukhuwah kembali bisa direkatkan.

Acara silaturahmi yang terjadwal selama tiga hari tersebut, tidak saja mendapat sajian kenikmatan beribadah dan silaturahmi saja, juga diberikan spirit Ramadhan langsung oleh para pembimbing dan santri senior Hidayatullah serta beragam sajian jamuan lezat dari shahibul bait. (ybh/hio)