Beranda blog Halaman 357

Hidayatullah Kepri Bersinergi dengan BMH Gelar Training Paralegal

BATAM (Hidayatullah.or.id) — DPW Hidayatullah Kepri bersinergi dengan BMH Kepri menggelar Training Paralegal Da’i dan Guru di Kampus Batu Aji, Hidayatullah, 11-12 Dzulqaidah 1443/10-12 Juni 2022.

Kegiatan ini bagian dari edukasi hukum bagi para pengurus dan dai se Kepri, Direktur LBH Hidayatullah Dr. Dudung A. Abdullah turut hadir sekaligus menjadi narasumber.

Pelatihan diikuti 40 peserta dari DPD se Kepri dan pengurus kampus utama Hidayatullah Batam. Menurut General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz, BMH Kepri memberikan dukungan penuh atas kegiatan ini karena gerakan dakwah merupakan salah satu bagian dari program BMH.

“Kita terus berupaya mengupgrade kemampuan para da’i termasuk pemahaman tentang hukum, apalagi di era digital ini sangat rentan sehingga jangan sampai para da’i dalam menyampaikan syiar Islam mudah terjebak dengan persolan hukum karena minimnya pengetahuan,” tutur Abdul Aziz.

Dalam acara pembukaan, ketua DPW Hidayatullah Kepri, Darmansyah turut memberikan sambutan, ia mengungkapkan dibentuknya LBH Hidayatullah Kepulauan Riau agar dapat memberikan pendampingan hukum kepada para aktivis dakwah dan tarbiyah di kawasan Kepulauan Riau.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada BMH Kepri yang mendukung DPW dalam berbagai program, khususnya program mainstream yaitu tarbiyah dan dakwah,” tutur Darmansyah antusias.

Training bertema “Menyiapkan para guru dan da’i untuk membangun Kepulauan Riau yang bermartabat dan berkeadilan” ini diikuti dengan penuh antusias para peserta.

Salah seorang peserta, Ustadz Hamka Kedang, dai dari Kabupaten Lingga, mengatakan selama ini ia sangat minim pengetahuan tentang hukum, tetapi setelah mengikuti pelatihan yang diadakan DPW Hidayatullah Kepri dan BMH Kepri ini, ia mengaku mendapatkan ilmu dan pengalamab baru.

“Kami merasa punya bekal dan tanggung jawab lebih untuk membantu guru, dai atau masyarakat di daerah kami dalam menghadapi persoalan hukum. Alhamdulillah kami sebagai guru dan dai pedalaman merasa sangat bersyukur diadakan kegiatan training paralegal ini,” kata Hamka menandaskan.*/Mujahid M. Salbu

Kampus Ummulqura Gutem Tuan Rumah TOT Pemuda

Pelangi di balik papan nama Kampus Induk Hidayatullah Ummulqura, Gunung Tembak, Balikpapan, Rabu (22/12/2021).* [Foto: Muh. Abdus Syakur/MCU]
Pelangi di balik papan nama Kampus Induk Hidayatullah Ummulqura, Gunung Tembak, Balikpapan, Rabu (22/12/2021).* [Foto: Muh. Abdus Syakur/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Kampus Ummulqura Hidayatullah Gunung Tembak (Gutem), Balikpapan, Kalimantan Timur, kembali menjadi tuan rumah kegiatan Training for Trainer (TOT) Leadership Training Center (LTC) dan Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ) Pemuda Hidayatullah yang ke-2. Acara ini akan berlangsung selama sepekan mulai Selasa, 15 Dzulqaidah 1443 (14/6/2022).

LTC dan LPQ sendiri adalah merupakan program nasional yang disediakan oleh Pemuda Hidayatullah sebagai sarana kaum muda meningkatkan kapasitas diri dalam hal kepemimpinan dan kiprah, pemberantasan buta aksara Arab, kacakapan baca tulis Al Qur’an, sehingga bisa lebih progresif dan beradab di dalam kehidupan ini.

Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah, Mas Imam Nawawi, mengatakan bukan tanpa alasan Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak menjadi tempat kegiatan acara nasional ini.

“Kampus Gunung Tembak adalah wahana konservasi untuk merawat gerakan kultural Hidayatullah sebagai titik awal perlangkahannya dalam mengabdi untuk dakwah dan umat, maka kita harapkan peserta TOT pun dapat merasakan suasana itu dan menyerap langsung spirit dari para senior di sini,” kata Imam dinukil Kaltim.news di kantor Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak, Senin (13/6/2022).

Imam menjelaskan, TOT LTC ini bertujuan untuk melahirkan para pemimpin yang siap berkiprah mendidik generasi bangsa yang memiliki mental, wawasan, dan komitmen kepemimpinan sebagai sebuah upaya turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kegiatan ini juga memberikan satu pengalaman belajar secara langsung kepada generasi muda untuk ikut andil mengambil peran bertanggungjawab untuk membangun diri, keluarga, lingkungan, seluruh bangsa, umat, dan rakyat Indonesia.

Imam menerangkan, TOT LPQ ini digelar sebagai upaya untuk melahirkan instruktur untuk mencetak generasi yang melek terhadap al Quran sebagai upaya konkrit menjawab tantangan umat dalam memberantas buta aksara Quran.

Diharapkan dari sini akan mendorong gerakan dakwah Al Quran sehingga semakin banyak umat Islam terutama generasi mudanya yang semakin melek Al Quran, yang, tidak saja mampu membaca namun juga menginternalisasikan nilai nilai yang dikandungnya.

“Diharapkan dari sini akan lahir kesadaran untuk menata diri dan lingkungan dengan nilai nilai Quran yang sangat menginspirasi dunia yang melahirkan kecintaan terhadap ilmu, kedisiplinan, komitmen dalam ibadah, dan hadir di garda depan dalam mengentaskan masalah masalah sosial,” katanya.

Pengentasan masalah sosial, terang Imam, itulah sebenarnya yang menjadi inti dari pesan pesan Al Quran yang melalui LPQ ini diharapkan lahir generasi yang cinta Al Quran, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan mentarbiyyahkannya dalam kehidupan sehari hari.

Tak lupa, ia menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada pengurus dan keluarga besar Yayasan Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak yang telah menerima mereka dengan terbuka beserta berbagai layanan maksimal yang diberikan.

“Hanya Allah Subhanahu Wata’ala yang mampu membalas segala kebaikan, keramahan, dan segala perhatian luar biasa yang diberikan Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak untuk kesuksesan acara ini,” kata Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak.

Dari pantauan media ini, peserta TOT LTC dan LPQ ini sudah mulai tiba di Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak yang akan dihadiri utusan PW Pemuda Hidayatullah dari seluruh provinsi di Indonesia.

“Alhamdulillah persiapan sudah hampir 100 persen, temen temen panitia juga sudah stand by bekerja sejak beberapa hari ini mulai dari penjemputan, akomodasi, konsumsi, dan lain lain,” kata Ketua PW Pemuda Hidayatullah Kaltim, Shabirin Hambali.

Selain menggunakan armada udara, tidak sedikit peserta yang datang menggunakan kapal laut, seperti dilakukan perwakilan PW Maluku Utara, Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, dan lainnnya.*/

LBH Hidayatullah Kepri Resmi Terbentuk dan Dikukuhkan

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah terus meluaskan kiprahnya. Kali ini jejaring kerja LBH Hidayatullah kembali bertambah dengan dideklarasikannya pembentukan LBH Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri), Ahad, 13 Dzulqaidah 1443 (12/6/2022).

Pendirian LBH Hidayatullah Kepri ditandai dengan pembacaan deklarasi pembentukannya yang oleh Ketua Badan Pembina Kampus Utama Hidayatullah Kepri, KH Jamaluddin Nur, yang juga Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Hidayatullah.

Dalam sambutannya, Jamaluddin Nur menyampaikan pentinganya pelatihan ini diselenggarakan sebagai bekal untuk membantu laju pergerakan dakwah dalam ruang garapan masing-masing, baik sebagai guru, dai maupun pengambil kebijakan dalam luang lingkup Provinsi Kepri ini.

Dengan pemahaman hukum yang konfrehensif, lanjut dia, diharapkan juga akan menumbuhkan kesadaran imparsialitas sehingga dai, ulama, dan guru ngaji tak seenaknya dikriminalisasi. Penegakan hukum pada mereka pun mestinya dilakukan dengan berimbang, adil, dan beradab.

“Dengan terbentuknya LBH Hidayatullah Kepri ini, masyarakat juga dapat menyampaikan persoalan hukum yang dihadapi dengan harapan tidak ada lagi, ulama, dan dai masyarakat yang mendapatkan perlakuan yang tidak adil,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ust Jamaluddin menyampaikan rasa bangga dan gembira atas adanya pelatihan paralegal dan juga dibentuknya LBH Hidayatullah Kepri yang diharapkan dia semakin menguatkan peran keumatan Hidayatullah di bidang hukum.

Ia pun berkomitmen memberikan support kepada LBH Hidayatullah Kepri bahkan menyatakan akan menfasilitasi kantor khusus. “Harapannya agar LBH Hidayatullah Kepri bisa memberikan manfaat bagi lembaga dan umat,” tandasnya.

Sebelumnya, selama 3 hari pengurus Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Riau melaksanakan kegiatan Training Paralegal Satu (I) Dai dan Guru dengan tema “Menyiapkan Dai dan Guru sebagai Paralegal untuk Membangun Kepulauan Riau yang Bermartabat dan Berkeadilan”.

Turut hadir dalam kegiatan ini 3 orang narasumber dari Lembaga Bantuan Hukum Hidayatullah yaitu Dr. Dudung A. Abdullah, Agus Gunawan, S.H, M.Pd, Fahrul Ramadhan, S.H, M.Kn, dan Faris, M.Ak, pengurus Kampus Utama Hidayatullah Batam, GM Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Hidayatullah Kepri Abdul Aziz Elhaqqy, dan Rektor Institut Agama Islam Abdullah Sadi Batam Muhammad Ramli.

Direktur LBH Hidayatullah Dr. Dudung A. Abdullah dalam keterangannya mengatakan, kegiatan pelatihan ini guna membekali dai di Kepulauan Riau dengan pengetahuan dasar hukum dan hak asasi manusia yang dapat melindungi haknya dalam melakukan perjuangan ditengah masyarakat, sehingga mampu membuat solusi atau strategi dalam penyelesaian kasus-kasus yang berhadapan dengan hukum.

Selain itu, kegiatan yang digelar intensif 3 hari ini diharapkan memberikan keterampilan dalam melakukan advokasi yang berkaitan dengan penerapan norma-norma hukum serta dapat membentuk jaringan antar Paralegal lintas sektor dan membentuk posko- posko Bantuan Hukum, sehingga dapat menjadi “unit reaksi cepat” atau menjadi pertolongan pertama pada kasus dan atau kejadian yang mereka hadapi.

“Dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat umum, khususnya dai dan aktifis keagamaan yang berada di tengah masyarakat, sudah seyogyanya mereka diberikan pengetahuan dasar tentang hukum dan hak asasi manusia,” tukasnya menandaskan.

Seremonial dalam acara penutupan diantaranya pengambilan sumpah paralegal oleh Direktur LBH Hidayatullah kepada para peserta yang telah sah menjadi Paralegal Hidayatullah.

Masih dalam rangkaian acara, dilakukan pelantikan pengurus LBH Hidayatullah Kepri, serta penanda tanganan MoU kerjasama pengabdian masyarakat antara Institut Agama Islam Abdullah Said (IAIAS) Batam dengan LBH Hidayatullah.*/Ain

Shalat Tapi Maksiat? Ketahui Hakikat Doa doa Kita

Ilustrasi orang sedang shalat (Foto: Purwaka Seta/ Pixabay)

APAKAH yang paling sering kita mohonkan kepada Allah dalam doa-doa kita? Apa alasan kita meminta kepada Allah hal-hal itu? Ya, benar. Mungkin, karena ia sangat penting, mendesak, atau menjadi pusat gravitasi kehidupan kita sehari-hari. Menurut kita, jika hal-hal itu tidak terpenuhi atau gagal, hidup kita akan terganggu, rusak, bahkan tidak bermakna lagi.

Demikianlah, karena doa adalah cermin kecenderungan dan pengharapan seseorang. Ia tidak berisi hal-hal remeh, namun ia merefleksikan siapa jatidiri pengucapnya.

Doa menunjukkan bagaimana seseorang menilai hakikat kehidupan serta perkara-perkara yang disertakan dalam doanya itu. Memang, sangat mungkin bahwa isi doa seseorang akan dianggap sepele oleh orang lain, tetapi secara subyektif ia sangatlah penting bagi orang yang memanjatkannya.

Di sisi lain, secara alamiah manusia hanya akan berdoa ketika merasa lemah dan tidak mampu meraih sesuatu dengan bersandar pada dirinya sendiri. Doa hanya diucapkan oleh orang yang merasa tidak berdaya di hadapan Tuhannya. Orang sombong tidak akan pernah berdoa, sebab ia merasa dirinya kuat dan mampu mewujudkan segalanya dengan kemampuannya sendiri.

Oleh karenanya, doa termasuk inti ibadah, dan Allah murka jika kita tidak mau berdoa. Diriwayatkan oleh al-‘Askary dalam al-Mawa’izh, dengan sanad dha’if, bahwa Allah berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi, “Barangsiapa yang tidak berdoa kepadaku, maka Aku murka kepadanya.”

Oleh karenanya, ada banyak doa dalam Al-Qur’an dan hadits. Bahkan, seluruh momen hidup Rasulullah dipenuhi dengan doa. Mulai dari bangun tidur, masuk dan keluar kamar mandi, memakai baju, bercermin, makan, keluar rumah, naik kendaraan, dst. Beliau terbiasa berdoa di hadapan orang banyak seperti ketika berhaji atau memimpin shalat, dan tetap berdoa di saat-saat paling privat yang beliau jalani bersama istri-istrinya.

Lalu, apa pentingnya doa bagi kita? Pada dasarnya, doa akan mengajarkan kita untuk merendahkan diri, tawadhu’ dan mengakui keterbatasan diri sendiri. Sikap-sikap inilah yang akan melembutkan jiwa dan memudahkan masuknya nasihat, pesan-pesan kebaikan, serta bisikan hati-nurani.

Sebaliknya, manusia yang tidak pernah atau tidak mau berdoa, hatinya akan mengeras bagaikan batu, bahkan lebih keras lagi. Ia sulit mengenali kebenaran dan tidak peka kepada kebajikan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, ia akan kehilangan sifat manusiawinya dan berubah menjadi Iblis.

Tahukah Anda, bahwa penyakit pertama yang menyesatkan Iblis adalah kesombongan? Karena sombong, ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Kesombongan membuat Iblis gagal mengenali hakikat perintah itu. Ia secara sempit hanya “memandang Adam”, dan tidak “melihat Allah” yang memerintahkannya bersujud.

Oleh karenanya, kita diperintahkan menjaga shalat lima waktu. Rasulullah bersabda, “Perjanjian diantara kami dan mereka adalah shalat. Siapa saja yang meninggalkannya, maka dia telah kafir.” (Riwayat Nasa’i, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Buraidah al-Aslami. Isnad-nya shahih).

Mengapa shalat? Ya, karena – secara bahasa – shalat berarti doa. Dalam shalat lah kita diajarkan untuk membungkukkan diri, duduk bersimpuh, dan bahkan meletakkan wajah kita di tanah, semata-mata untuk menunjukkan kerendahan dan kelemahan kita di hadapan Allah.

Tidak ada perbedaan dan keistimewaan tatacara shalat diantara sesama muslim. Sebab, kita semua sama-sama manusia, dan yang besar hakikatnya hanyalah Allah. Sebaliknya, jika seseorang tidak mau lagi membiasakan diri untuk merendah di hadapan Allah dan bersikap tawadhu’ kepada sesama, maka benih-benih kesombongan Iblis akan tumbuh subur dalam jiwanya. Sebentar lagi, kemungkinan besar, ia pun akan menjadi kafir seperti Iblis.

Diantara manfaat lain dari menjaga shalat adalah menciptakan kepekaan untuk mengenali kemunkaran dan kemudian diberi kekuatan untuk meninggalkannya. Allah berfirman, “Tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” (Qs. al-‘Ankabut: 45).

Demikianlah, jika seseorang bersungguh-sungguh mengerjakan shalat dan memahami doa-doanya, jiwanya akan sangat sensitif tetapi sekaligus sangat kuat. Ia sensitif terhadap hal-hal di sekitarnya, apakah ma’ruf atau munkar, namun juga kuat berpegang pada prinsipnya dan tidak takut dimusuhi orang lain karenanya.

Dikisahkan bahwa Nawwas bin Sam’an al-Anshari bertanya kepada Rasulullah tentang kebajikan dan dosa, maka beliau menjawab, “Kebajikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa-apa yang terasa mengganjal di hatimu dan engkau tidak suka jika hal itu diketahui oleh orang lain.” (Riwayat Muslim).

Inilah kepekaan hati seorang muslim sejati. Dalam hadits lain, beliau bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu, dan beralihlah kepada apa yang tidak meragukanmu.” (Riwayat Nasa’i dan Tirmidzi. Hadits hasan-shahih).

Tentu saja, tidak sembarang orang bisa merasakan seperti ini. Banyak orang yang hatinya justru telah mati dan tidak nyambung samasekali terhadap sinyal-sinyal kemunkaran. Ia tidak ubahnya hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi (Qs. al-A’raf: 79 dan al-Furqan: 43-44).

Maka, agar hati kita tetap hidup, kita harus selalu menjaganya dengan berdoa, terutama dalam shalat. Jangan sampai kita tidak mengerti untuk apa doa-doa itu, karena – jika tidak dipahami – ia tidak akan membekaskan pengaruhnya dalam diri kita. Mungkin, inilah penyebab mengapa ada banyak orang terbiasa yang mengerjakan shalat, namun sekaligus ahli maksiat. Astaghfirullah!

Ust. M. Alimin Mukhtar

Lembar Jawaban Pikiran dan Islam sebagai Peradaban Ilmu

Oleh Misran Abdullah

DI DALAM sejarah tidak ada satupun peradaban yang tidak memiliki pondasi ilmu pengetahuan, dalam mengawali dan membangun peradabannya. Bisa dipastikan peradaban yang tidak memelihara ilmu pengetahuan dengan baik, peradaban itu tidak akan bertahan lama dan akan mengalami kehancuran. Sebaliknya peradaban yang memelihara ilmu pengetahuan dengan baik peradaban itu akan eksis dan akan mengalami kemajuan yang pesat.

Islam adalah peradaban ilmu pengetahuan. Di dalam konsep Islam, belajar dan membaca adalah suatu hal yang diwajibkan kepada seluruh pemeluk agamanya. Sebagaiman Wahyu yang pertama, yaitu surat Al-alaq ayat 1-5:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ – ١خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ – ٢اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ – ٣الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ – ٤عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ – ٥

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2), Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3), Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”

Lebih jauh lagi, diawal penciptaan manusia pertama yaitu, nabi Adam Alaihissalam secara tersirat Tuhan ingin menyampaikan kedudukan ilmu pengetahuan begitu mulia disisi-Nya. Peristiwa yang sangat menarik disaat Tuhan ingin memperlihatkan keunggulan manusia dari mahluk lainnya kepada seluruh malaikat dan Iblis, sebagai bentuk jawaban keraguan para malaikat atas eksistensi keberadaan manusia di muka bumi.

Diperlihatkan bagaimana kemudian para malaikat dan Iblis ditantang untuk menyebutkan nama-nama benda di surga, namun mereka tidak menyanggupinya. Sedangkan Adam (Alaihissalam) dapat menyebutkan seluruh nama-nama benda di surga, lalu para malaikat dan Iblis didiperintah oleh Tuhan untuk sujud kepada Adam (Alaihissalam). Merekapun sujud kecuali Iblis ia enggan dan menyombongkan diri, Al-Baqarah (33-34).

Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, “Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?”(33)

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”(34)

Di zaman sekarang ini, bangsa-bangsa yang yang memiliki tingkat belajar dan membaca yang tinggi memiliki kemajuan yang luar biasa, lihat saja negara Jepang, China, Singapura. Contoh negara di Asia yang memiliki budaya minat baca yang tinggi maka jangan heran bila mereka memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan kompetitif.

Saya ingin mengatakan, bahwa ilmu pengetahuan itu adalah power atau kekuatan jadi rumusnya orang, bangsa, atau negara. Yang menghormati dan memilihara ilmu pengetahuan dengan baik, ia sedang mempersiapkan kekuatan yang luar biasa.

Secara historis negara Indonesia dapat dapat dijajah begitu lama oleh para penjajah, karena para penjajah memiliki strategi membatasi dan melarang anak-anak bangsa ini mendapatkan pendidikan. Sehingga, anak bangsa timbul sebagai orang bodoh yang mudah dipermainkan, diadudomba, diperbudak, dirampas kebebasannya, dan kehidupan sosial ekonominya direbut oleh para penjajah.

Dan, anehnya, kita sebagai bangsa yang sudah merdeka tidak belajar dari peristiwa sejarah itu. Lihat saja tingkat minat baca Indonesia. Berdasarkan data UNESCO, Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Minat baca masyarakat Indonesia terhitung memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Berdasarkan studi World Most Literate Countries yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU), John W Miller, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara pada 2016.

Minat baca Indonesia yang sangat rendah, kontras dengan Singapura walau memiliki kurang lebih lima juta penduduk tetapi memiliki persentase minat baca di angka 88,7%. Tidak heran bila generasi kita semakin terpuruk dewasa ini.

Semakin terbelakang dan bodoh atau sengaja membodohkan diri yang tidak memiliki visi dan kendali jelas untuk meneruskan estafeta perubahan besar!

Suatu waktu seorang teman pernah bertanya kepada saya, “mengapa kita harus rajin membaca?”. Saya jawab, “untuk memberikan asupan pada pikiran, sehingga kita memiliki argumentasi dan nalar yang tajam”.

Diantara urgensinya kenapa kita harus rajin membaca adalah supaya kita memiliki argumentasi yang tajam untuk menolak serangan-serangan pemikiran/ opini yang menyimpang tanpa dasar kebenaran.

Salah contohnya adalah kisah hidup seorang Ahmad Deedat, seorang lulusan sekolah dasar yang terkenal sebagai cendikiawan muslim dalam perbandingan agama. Ia juga pendebat lintas agama yang handal.

Ketika ia hijrah ke Afrika dan di sana ia bekerja sebagai pegawai di salah satu toko yang dekat dengan sekolah menengah Kristen di pantai selatan Natal.

Tuduhan-tuduhan kasar yang menentang ajaran Islam dari siswa seminari selama kunjungan mereka ke toko tersebut membuat Ahmad Deedat hanya bisa mengangkat tangan. Lidahnya kelu, sama sekali tidak sanggup membantah apa yang dituduhkan tersebut.

Ahmad Deedat tak mampu membela diri dari apa yang dilekatkan kepada dirinya. Semua kebisuan tersebut terjadi karena Ahmad Deedat tidak memiliki pengetahuan untuk dapat membantahnya.

Peristiwa tersebut membuatnya merenung panjang. Ia akhirnya menanamkan tekad pada diri untuk membalaskan perlakuan tersebut. Hingga pada suatu hari, Deedat menemukan sebuah buku berjudul Izharul-Haq karya Syekh Rahmatullah al Kairanawi, seorang Kristolog. Ia pun membaca dan mempelajarinya. Dengan begitu ia dapat mengalahkan dan membantah segala tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya.

Ini jugalah yang kemudian memotivasinya untuk banyak membaca dan belajar tentang Islam dan perbandingan agama sehingga kita pun mengenal beliau sebagai pendebat handal dengan logika-logikanya yang sangat masuk akal dan banyak mempermalukan lawan-lawan debatnya.

Hikmanya kemudian mari kita banyak belajar dan membaca tidak lain untuk menjaga dan memajukan agama, bangsa, dan negeri ini.

Misran Abdullah, penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah dan member dalam forum diskusi Ngaji Ideologi dan Logika (Idilog)

SD Luqman Al Hakim Surabaya Gelar Haflah Tahfidz Al-Quran ke-IX

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Anak merupakan harta paling berharga bagi kedua orang tua. Kebahagiaan kedua orang tua adalah ketika mereka melihat putra-putrinya tumbuh sebagai anak yang sholih-sholihah. Hati orang tua mana yang tidak bangga dan bahagia melihat anak-anaknya berahklaqul karimah serta memiliki hafalan Al-Quran.

Apalagi ditambah mampu mengharumkan nama kedua orang tua melalui prestasi-prestasi yang diraihnya. Sungguh pengorbanan orang tua tidaklah sia-sia. Demi melihat anaknya tumbuh berkembang sesuai tuntunan Islam, para orang tua rela berkorban serta berusaha keras memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Itulah sambutan Kepala SD Luqman Al-Hakim Pondok pesantren Hidayatullah Surabaya, Ust. Adi Purwanto, M.Pd, ketika opening Haflah IX Tahfidz Al-Quran edisi ke-sembilan pada Sabtu, 12 Dzulqaidah 1443 (11/6/2022).

Acara ini diikuti sekitar 200 peserta mulai santri penghafal Al-Qur’an, orang tua wali santri, hingga para undangan. Acara ini berlangsung di aula Lt. 3 Gedung SD Luqman Al-Hakim Surabaya.

Ust. Adi juga menjelaskan bahwa SD Luqman Al Hakim merupakan sekolah full day yang mampu menghasilkan banyak prestasi serta penghafal Al Quran.

Dengan 2 program, yakni kelas reguler dan kelas takhasus tahfidz, salah satu sekolah Islam terbaik di Surabaya ini berusaha mewujudkan generasi yang tak hanya pandai secara intelektual, tapi juga memiliki hafalan Al Quran serta kemandirian dalam beribadah.

Sementara itu, Koordinator Bidang Al-Quran, Ust. Syamsul Alam Jaga, M.I. Kom menjelaskann bahwa Haflah IX tahfidz Al-Quran ini dilaksanakan secara rutin tiap semester. Santri yang telah menyelesaikan target hafalan yakni minimal hafal 1 juz akan diuji.

Dia mengatakan, santri yang mampu lulus dalam ujian, akan mendapatkan syahadah (ijazah) tahfidz Al Quran yang akan diserahkan ketika wisuda tahfidz.

“Seremonial ini sebagai bentuk apresiasi kita terhadap ikhtiar dan perjuangan santri sekaligus orang tua dalam menghafalkan kalam illahi. Sekaligus sebagai bentuk syiar Islam, agar semakin banyak lahir para penghafal-penghafal Al Quran, para penjaga Al Quran di usia khususnya sekolah dasar,” tandasnya.

Dalam sesi tausiyah, hadir sebagai pembicara Ust. Herman Sutarman, Lc, dosen STAI Luqman Al Hakim Surabaya. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan nasehat bahwa kita tidak diperbolehkan hasad dan iri hati kecuali terhadap 2 orang. Yakni, pertama orang yang dikaruniai kemampuan oleh Allah untuk membaca atau menghafal Al Quran lalu ia gemar membaca dan menghafal Al Quran tersebut. Kedua, orang yang dikaruniai harta oleh Allah dan gemar bersedekah.

Alumni salah satu universitas di Madinah ini juga menukil sebuah hadist dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa barang siapa yang ingin mengetahui apakah orang tersebut cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka, lihatlah apakah dia mencintai Al Quran.

Ustadz Sutarman menutup tausiyahnya dengan sebuah pertanyaan yang menyentuh, seberapa cintakah kita dengan Al Quran?

Hadir dalam acara tersebut, Ust. H. Syamsuddin, SE, MM selaku Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Turut pula memberikan sambutan, Ibu Cacik Suci Astuti, M.T, Ketua Komite SD Luqman Al Hakim.

Acara ditutup dengan doa tepat pukul 11.00 WIB, oleh Ust. Zainun Nasich, M.Pd trainer nasional Metode Baca Al Quran Al Hidayah.*/Rudi Trianto (Humas Siluqim)

BMH-SAR Hidayatullah Kirim Logistik untuk Korban Gempa daerah Terisolir di Sulbar

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Simpul sinergi tim gabungan BMH dan Tim SAR Hidayatullah Sulawesi Barat bergerak menuju dusun Salunangka, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Jum’at, 11 Dzulqaidah 1443 (10/6/2022).

Keberangkatan tim ini dalam rangka mendistribusikan bantuan logistik berupa sembako kepada korban terdampak gempa berkekuatan 5.8 Magnitudo kedalaman 43 kilometer barat daya berpusat di Mamuju, Sulawesi Barat dengan kedalaman 10 kilometer.

Ketua Perwakilah Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulawesi Barat Rahmat Wijaya, menjelaskan aksi kemanusiaan pendistribusian bantuan itu adalah aplikasi asesmen sehari sebelumnya.

Menariknya, perjalanan menuju dusun yang terbilang terisolir diantarai perbukitan dari dusun lainnya itu bertemu dengan beberapa orang yang sedang menandu pasien dari rumah sakit.

Sontak, dari tim relawan gabungan BMH–SAR Hidayatullah dengan sigap mengambil bagian untuk mengangkat tandu sederhana yang terbuat dari kursi kayu yang dirakit dengan bambu agar pasien tetap dalam posisi duduk.

Diketahui pasien bernama Lilis (17 tahun) yang harus ditandu paska operasi caesar kelahiran anak pertamanya di Rumah Sakit Regional Mamuju.

Lilis yang dalam kondisi lemas itu memilih ditandu di jalan berbatu, melewati daerah perbukitan menuju dusun Salunangka tempat ia tinggal dari pada harus menaiki mobil bak terbuka milik warga.

“Dia pilih ditandu dari pada harus naik mobil bak terbuka,” ujar Hadik, orangtua pasien yang juga kepala dusun Salunangka.

Masih meurut kepala dusun tersebut, di jalan yang bagus saja mobil terebut sering mogok dan suspensinya bermasalah. “Apalagi jalan seperti ini,” katanya sambil menunjuk ke kondisi jalan berbatu dan mendaki.

Kondisi itu membuat keluarga memilih menandu Lilis meski harus menempuh jarak sekira 2 kilometer dengan kondisi jalan berbatu.

Tim gabungan selanjutnya shalat Jumat di Masjid Nurul Amin, satu satunya masjid di dusun tersebut dalam kondisi yang sudah mengkhawatirkan. Tak ada pilihan lain, tidak ada tempat lain yang layak untuk dipakai shalat selain tempat tersebut.

Sementara itu, jarak dengan dusun lain lumayan jauh sehingga warga harus tetap melaksanakan shalat jumat sembari waspada jika seketika gempa memmaksa mereka bubar.*/Bashori

IMS Koordinasi Peresmian Ponpes Pertama di Lapas Nusakambangan

CILACAP (Hidayatullah.or.id) — Lembaga layanan sosial kesehatan nasional, Islamic Medical Service (IMS), melakukan kunjungan koordinasi dalam rangka membicarakan peresmian Pondok Pesantren (Ponpes) pertama di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu, 9 Dzulqaidah 1443 (08/06/2022).

Sebelum melakukan penyebrangan ke Pulau Nusakambangan, Imron Faizin selaku Direktur IMS beserta timnya disambut baik oleh Kepala Lapas IIA Kembangkuning Nusakambangan Agus Wahono dan Kepala Lapas Kelas IIA Permisan Nusakambangan, Mardi Santoso di lingkungan Masjid Agung Cilacap.

Semula pertemuan diagendakan di Lapas Kembangkuning, namun karena salah satu mantan Kapalapas Kembangkuning meninggal dunia, seluruh kalapas di Nusakambangan melakukan takziyah ke Purwokerto.

Dalam kesempatan tersebut, Imron Faizin mengatakan bahwasanya kedatangan IMS beserta timnya dalam rangka membicarakan tindak lanjut peresmian pesantren di Lapas Nusakambangan.

“Kedatangan IMS ke Nusakambangan tentunya sudah sangat sering dan hari ini kita datang lagi dalam rangka membicarakan peresmian pesantren di Nusakambangan tepatnya di Lapas Kembangkuning,” kata Imron.

Ketua Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah ini menyebutkan, jika tak ada halangan, insya Allah peresmian pesantren tersebut akan digelar pada bulan Muharram mendatang atau bertepatan dengan bulan Agustus tahun 2022 sebagai bulan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia (HUT RI) ke-77 tahun.

“Semoga dengan adanya pesantren di lapas, khususnya di Lapas Kembangkuning bisa menjadi acuan dan contoh bagi lapas-lapas lain yang ada di Indonesia,” kata Imron.

Sementara itu, KH Hasan Makarim selaku pembina rohani di Lapas Nusakambangan mengatakan bahwasanya banyak di antara narapidana yang tertarik dengan adanya program ini.

“Alhamdulillah, sebenarnya program ini sudah berjalan beberapa tahun belakangan ini, semenjak adanya program santri lapas, banyak diantara narapidana yang hijrah juga diantara mereka sudah banyak hafalan Qur’an,” KH Hasan.

Ikhtiar mulia itupun bak gayung bersambut dimana Kalapas Kembang Kuningkuning juga mendukung kegiatan peresmian ini.

Kepala Lapas IIA Kembangkuning Nusakambangan Agus Wahono menambahkan program ponpes ini akan optimalkan pembinaan terhadap narapidana yang ada di lapas Nusakambangan khususnya di Lapas Kembangkuning.

Beberapa tahun belakangan ini, lanjut dia, dengan adanya program santri tentunya sangat terlihat perubahan para santri di antaranya mereka lebih sering ke masjid, dan banyak membaca Al-Quran. “Ini tentunya sangat kami syukuri,” imbuhnya.

Dia menambahkan, dalam rangka menyambut tahun baru Islam dan memperingati HUT RI, insya Allah selain peresmian pondok pesantren lapas, juga akan dilaksanakan istighosah akbar dan layanan hapus tato bekerjasama dengan IMS.*/Alamsyah Jilpi

DPP Hidayatullah Menuntut Pemerintah India Berhenti Memusuhi Islam

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menyusul serangkaian tuduhan, tindakan provokatif dan brutal yang dilancarkan kepada Muslim oleh sekelompok masyarakat di India selama enam bulan terakhir, dunia kembali dikejutkan dengan rendahnya kualitas pemerintah India.

Baru-baru ini, seorang juru bicara partai nasionalis Hindu India, yang juga pembantu Perdana Menteri Narendra Modi, Nukur Sharma telah menghina Rasulullah ﷺ dan istri beliau, Sayyidah Aisyah.

Hidayatullah sebagai bagian dari bangsa Indonesia menuntut pemerintah India dan para pemimpin masyarakatnya mengambil langkah serius untuk menghentikan negara dari jurang kekacauan nasional.

“Perbaiki perilaku permusuhan individu atau kelompok India terhadap Muslim dan Islam sebelum terlambat,” demikian pernyataan resmi DPP Hidayatullah hari Selasa, 8 Dzulqaidah 1443 (7/6/2022).

Dalam pernyataan yang ditandatangani Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr Nashirul Haq dan Sekjen Hidayatullah Candra Kurnianto, organisasi mengatakan, Muslim Indonesia sebagai mayoritas di negara ini telah menjaga kehidupan damai dengan tetangga dan ‘saudara-saudara Hindu mereka’.

Di dunia di mana negara-negara mencari perdamaian dan resolusi damai untuk setiap konflik, orang bertanya-tanya apa tujuan yang diharapkan pemerintah dan negarawan India sebagai hasil dari perkembangan terbaru di negara mereka.

“Hidayatullah sebagai bagian dari bangsa Indonesia menuntut pemerintah India dan para pemimpin masyarakat India untuk mengambil tindakan serius untuk menghentikan negara itu dari jurang kekacauan nasional,” tulis pernyataan itu.

“Perbaiki perilaku bermusuhan individu atau kelompok India terhadap Muslim dan Islam sebelum terlambat,” tambahnya.

Hidayatullah mengatakan, pemerintah India dan negarawan India tidak boleh menunda untuk segera menghentikan perkembangan negatif ini. “Kami percaya Anda bisa,” demikian tulis pernyataan tersebut.*/Sumber: Press release DPP Hidayatullah

[Teks Khutbah Jum’at] Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah

Oleh Asih Subagyo, M.Kom

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jumat Rahimakumullah…

Alhamdulillah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, penguasa jagad raya, dan penggenggam seluruh hati manusia, atas segala nikmat yang diberikan kepada kita, yaitu nikmat keimanan, kesehatan dan ketenangan hati atas agama Islam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada pembawa risalah Islam, penerima wahyu -Al-Quran suci kalam Ilahi- Nabi Muhammad SAW.

Diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah sebagai khatimul anbiya (penutup para Nabi) sekaligus penyempurna atas semua rislah yang telah Allah ta’ala perintahkan atas Nabi dan Rasul sebelumnya. Oleh karenanya Rasulullah SAW, juga merupakan teladan yang dalam setiap perkataannya, akhlaknya dan aktifitas kesehariannya.

Dari Al Mustafa ini, dapat kita teladani bahwa Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalah, menunaikan amanat, menasehati ummat, dan berjihad di jalan Allah ta’ala hingga sampai batas waktu yang Allah ta’ala tentukan. Sehingga seluruh manusia tercerahkan dengan risalah Islam ini. Yang keluar dari kegelapan dunia, yang bersatu hati setelah sebelumnya tercerai berai. Maka cahayapun datang menyinari jagad raya.

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah…

Kita menyadari bahwa negara Indonesia terdiri dari berbagai suku dan bahasa dari Aceh sampai Papua. Menurut data dari Biro Pusat Statistik, ada 652 bahasa dan lebih dari 1.340 suku bangsa di Indonesia. Demikian juga jika kita lihat dalam peta dunia, tentu lebih banyak lagi suku, bangsa dan bahasa yang beraneka ragam.

Sebagai orang beriman, selayaknya kita menyadari bahwa ketika Allah ta’ala menciptakan manusia di dunia dengan keadaan berbeda suku, bangsa, ras, bahasa, warna kulit tersebut adalah supaya saling mengenal. Tidak untuk saling menjatuhkan dengan berbagai bentuk intimidasi dan diskriminasi kepada salah satu kelompok tapi supaya saling ta’aruf (mengenal satu dengan lainnya).

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Subhanallahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat (49) ayat 13.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Dalam Tafsir As Sa’di di jelaskan bahwa keberadaan kelompok/suku baik besar maupun kecil itu agar masing-masing orang tidak menyendiri. Sebab jika demikian, maka tentu tidak akan tercapai tujuan saling mengenal satu sama lain yang bisa menimbulkan saling tolong menolong, bahu-membahu, saling mewarisi satu sama lain serta menunaikan hak-hak kerabat.

Adanya manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bertujuan agar berbagai hal positif tersebut bisa terwujud yang bergantung pada proses saling mengenal satu sama lain serta pemaduan nasab. Namun ukuran kemuliaan di antara mereka adalah takwa.

Orang yang paling mulia di antara sesama adalah yang paling bertakwa kepada Allah, paling banyak melakukan ketaatan serta paling mampu mencegah diri dari kemaksiatan, bukan yang paling banyak kerabat serta kaumnya, bukan yang keturunannya paling terpandang (karena level sosial).

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah…

Sampai saat ini isu-isu negatif tentang Islam bahkan kebencian terhadap islam atau lebih dikenal dengan sebutan islamofobia, masih sangat gencar dimuat oleh banyak media. Baik media elektronik, media sosial, atau media massa lainnya. Isu yang dibangun adalah bahwa umat Islam tidak toleran dengan umat lain, umat Islam tidak Pancasilais, umat Islam tidak cinta NKRI dan narasi sejenis lainnya. Akibatnya, banyak individu atau kelompok yang mengaku paling toleran, paling pancasila, paling cinta NKRI.

Sehingga dalam memandang fenomena yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut, kita merasakan adanya upaya untuk melakukan pembelahan sesama anak bangsa. Seolah hilang rasa persaudaraan diantara kita, hanya karena hal-hal yang sepele dan tidak terverifikasi dengan baik, tidak ada tabayun tidak berbasis data dan fakta, sehingga cenderung hoax (kebohongan). Padahal dulu kita selalu hidup damai dan saling berdampingan, tidak membedakan suku, agama, ras dan seterusnya.

Oleh karenanya, sebagai orang beriman, tidak pantas individu atau satu kelompok orang yang mengaku beriman untuk berbuat buruk tersebut. Apalagi kepada sesama saudara muslim, tidak seharusnya saling membenci. Karena Islam sudah mengajarkan bahwa orang-orang beriman adalah saudara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Berdasarkan ayat tersebut dikatakan bahwa hanya orang-orang yang beriman saja yang bersaudara. Artinya, dengan keimanan dalam dada mereka, mereka saling terpaut dan saling berpegang teguh pada tali agama Allah, tidak untuk bercerai berai.

Syaih Prof Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al Wajiz menjelaskan bahwa,” Sesungguhnya orang-orang mukmin itu saling bersaudara dalam agama dan akidah. Berdamailah dengan saudara kalian saat terjadi perselisihan dan pertentangan. Bertakwalah kepada Allah saat terjadi perselisihan tentang hukum-hukumNya dan berlakulah sebagai penengah, supaya kalian dirahmati dan ditolongNya dalam menciptakan perdamaian, sebagai hasil dari ketakwaan kalian.”

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Memang jika kita melihat berbagai perbedaan yang ada tersebut, dapat menyimpan potensi konflik yang cukup besar. Jika tidak dikelola dengan baik, tentu saja hal tersebut akan mengkristal dan menimbulkan peristiwa yang kontraproduktif. Karenanya, kita perlu menekankan satu titik temu di antara berbagai perbedaan yang ada, mulai dari bangsa, suku, agama, hingga bahasanya, yaitu kita adalah manusia.

Oleh sebab itu, sudah sepatutnya kita saling bersinergi, menjaga, menghormati, dan memuliakan satu sama lain agar dapat menjalani hidup dengan penuh damai. Dalam hal ini maka, menjaga ukhuwah Islamiyah adalah kuncinya.

Jangan mau kita diadu domba, dipecah belah, diintervensi dan lain sebagainya, hanya karena urusan remeh temeh, oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan persatuan. Sehingga tidak ada kata lain, sebagai seorang beriman, maka kita harus senantiasa menjaga dan meningkan ukhuwah islamiyah ini kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun juga.

Hal ini dipertegas dengan sebuah hadits berikut.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ … أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah…..

Pada khutbah kedua ini, khatib mengajak seluruh jama’ah untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan selalu menjaga dan menguatkan ukhuwah Islamiyah semampu kita.

Semoga kita diberi kekuatan untuk menjauhi segala hal yang bisa merusak ukhuwah Islamiyah. Mari kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari yang diberkahi ini:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي اْلأُمُوْرِ، وَنَسْأَلُكَ عَزِيْمَةَ الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِكُلَّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

—-ooo000()000ooo—