Beranda blog Halaman 36

Jaringan Luas Percepat Respons dan Bantuan Kemanusiaan Pascabanjir Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Pemulihan pascabanjir di Desa Semadam, Kabupaten Aceh Tamiang, menunjukkan wajah lain dari kerja kemanusiaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Gedung Pendidikan Baitina yang sebelumnya dipenuhi lumpur kini kembali bersih dan berfungsi.

Pada Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025), ruang ini menjadi titik pertemuan sekitar 250 warga yang hadir dalam rangka syukuran Milad ke-24 Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Momentum tersebut menjadi penanda bangkitnya harapan masyarakat setelah masa sulit akibat bencana.

Pemilihan lokasi kegiatan tidak terlepas dari nilai historis dan simboliknya. Gedung yang sempat lumpuh akibat banjir kini pulih dan kembali dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan warga.

Kehadiran masyarakat dari berbagai kelompok usia mencerminkan ikatan sosial yang kembali menguat, seiring upaya bersama untuk menata kehidupan pascabencana dalam semangat kebersamaan dan gotong royong, nilai yang lekat dengan keindonesiaan.

Dalam kegiatan tersebut, BMH menghadirkan dai lapangan, Ustaz Aswin Solin, yang memiliki pengalaman panjang dalam pengabdian dakwah di berbagai daerah. Ia mengajak warga memaknai musibah dengan sudut pandang keimanan.

Menurutnya, setiap peristiwa yang berat selalu menyimpan pelajaran bagi orang beriman. “Kita tidak tahu hari ini, tapi tidak mungkin ini tanpa hikmah,” ujarnya. Ia menegaskan pentingnya memperkuat persaudaraan dan kebersamaan agar masyarakat dapat bangkit dengan lebih kokoh dan taat.

Sementara itu, Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi. Ia menjelaskan bahwa kecepatan dan kesinambungan bantuan BMH tidak terlepas dari jaringan organisasi yang tersebar luas di berbagai wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Jaringan tersebut memungkinkan respons kemanusiaan dilakukan secara cepat, tepat, dan berkelanjutan. “BMH memiliki dai dan relawan yang menetap di lokasi,” kata Imam. Keberadaan sumber daya lokal ini, lanjutnya, membuat distribusi bantuan lebih akurat sesuai kebutuhan penyintas.

Pendekatan tersebut menunjukkan model kerja filantropi Islam yang terintegrasi antara dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial. BMH menempatkan relawan dan dai sebagai bagian dari masyarakat setempat, sehingga proses pemulihan tidak bersifat sementara, melainkan berkesinambungan.

“Pola ini juga berupaya meneguhkan peran zakat dan sedekah sebagai instrumen penguatan solidaritas sosial dalam konteks kebangsaan,” katanya.

Dampak kegiatan paling terlihat pada anak-anak yang menjadi penyintas banjir. Salah satunya Aninita Khairin Niswa, remaja berusia 15 tahun, yang menerima paket perlengkapan sekolah dan kebutuhan lainnya. Selain itu, anak-anak diajak mengikuti aktivitas kreatif dan pembelajaran interaktif.

“Saya sangat senang karena bisa tetap bermain dengan teman-teman,” ujar Aninita. Kegiatan tersebut memberi ruang pemulihan psikososial bagi anak-anak melalui suasana belajar yang menyenangkan.

Sementara itu, warga dewasa memperoleh perhatian melalui penyediaan makan sore secara gratis. Sri, salah seorang warga, menyebut bantuan tersebut sederhana namun relevan dengan kebutuhan pascabencana.

Kegiatan Milad BMH ke-24 di Aceh Tamiang dinilai menjadi simbol kerja kemanusiaan berbasis nilai Islam yang berpadu dengan semangat kebangsaan, menghadirkan harapan baru bagi masyarakat yang tengah bangkit dari bencana.

Lawatan ke Tinigi, Naspi Arsyad Sampaikan Pesan Ramadhan dan Solidaritas Bangsa

0

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., melakukan kunjungan silaturrahim ke Desa Tinigi, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, Kamis, 5 Rajab 1447 (25/12/2025) sebagai bagian dari lawatan mempererat hubungan kultural kelembagaan antara pimpinan pusat, struktur wilayah, dan basis jamaah.

Pada kesempatan itu, KH Naspi Arsyad menyampaikan pengajian umum ba’da Magrib hingga Isya di Masjid Darul Hijrah Tinigi. Dalam tausiyahnya, ia menempatkan persiapan mental dan spiritual sebagai pokok utama dalam menyambut Ramadhan.

Menurutnya, bulan suci tidak cukup disambut dengan kesiapan lahiriah, tetapi menuntut kesiapan ruhiyah yang ditopang oleh keikhlasan niat dan penguatan iman.

“Ramadhan adalah momentum pembinaan diri. Karena itu, kesiapan hati, keikhlasan niat, dan keteguhan iman menjadi bekal utama agar ibadah memberi dampak nyata bagi kehidupan,” ujarnya.

Selain itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah juga mengajak jamaah untuk menumbuhkan kepedulian sosial sebagai bagian dari spirit Ramadhan. Ia secara khusus mengingatkan pentingnya mendoakan dan membantu para korban bencana, terutama yang terjadi di wilayah Sumatera dan Aceh.

Dia menegaskan dimensi keislaman yang berpadu dengan tanggung jawab kebangsaan, di mana solidaritas kemanusiaan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengamalan iman.

Desa Tinigi sendiri dikenal sebagai kampung kecil di pinggiran Kota Tolitoli yang memiliki karakter alam dan sosial yang khas. Hamparan sawah, kebun kelapa, serta ladang hijau yang dialiri sungai kecil membentuk lanskap pedesaan yang asri.

Jarak desa ini sekitar 25 kilometer dari pusat kota, dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit perjalanan darat, namun memiliki peran penting dalam sejarah kaderisasi Hidayatullah.

Sejak dekade 1980-an, Tinigi telah melahirkan banyak santri yang menempuh proses pendidikan di pesantren Hidayatullah. Pada masa kapal Pelni masih rutin melayani rute Tolitoli–Balikpapan, arus kader dari desa ini menjadi bagian dari perjalanan dakwah yang terus berlanjut hingga kini. Konsistensi tersebut menjadikan Tinigi dikenal sebagai salah satu basis penyumbang kader dakwah di kawasan Sulawesi Tengah.

Kunjungan silaturahmi ini dinilai menjadi penguat ikatan antara pusat dan daerah, sekaligus penegasan bahwa dari kampung-kampung sederhana di Nusantara, lahir generasi yang berproses, berkhidmat, dan menyebarkan nilai-nilai Islam dalam bingkai keindonesiaan.

“Dari Tinigi, spirit dakwah dan pengabdian terus dirawat untuk menjawab tantangan umat dan bangsa,” pesan Naspi, seraya menekankan kesinambungan dakwah Hidayatullah yang mengintegrasikan penguatan spiritual, konsolidasi organisasi, dan pembinaan umat secara berkelanjutan.

Dalam kunjungan tersebut, KH Naspi Arsyad didampingi Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tengah, Sarmadani Karani, bersama jajaran pengurus wilayah. Kehadiran rombongan disambut jamaah setempat dengan suasana kekeluargaan yang hangat, yang merefleksi relasi panjang antara Hidayatullah dan masyarakat Tinigi yang telah terjalin sejak puluhan tahun lalu.

Agenda silaturahmi ini juga menjadi bagian dari persiapan menjelang pelaksanaan Tabligh Akbar yang dijadwalkan berlangsung di Masjid Agung Tolitoli pada Jumat, 26 Desember 2025.

Posisi Strategis Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak sebagai Cermin Jati Diri

0
Kabid Yanmat DPP Hidayatullah Shohibul Anwar dalam Rapat Pleno Laporan Akhir Kepengurusan YPPH Balikpapan periode 2021-2025, di Kantor YPPH Gedung WKP, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Selasa (23/12/2025). [Foto: LPPH/@Uqreat/@Ummulqurahidayatullah]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak di Kota Balikpapan kembali ditegaskan sebagai simpul utama yang merepresentasikan jati diri gerakan Hidayatullah. Penegasan tersebut disampaikan Ketua Bidang Pelayanan Umat (Kabid Yanmat) DPP Hidayatullah, Ust. Drs. Shohibul Anwar, M.Pd.I., dalam Rapat Pleno Laporan Akhir Kepengurusan YPPH Balikpapan periode 2021–2025 yang berlangsung di kawasan Gunung Tembak, Selasa, 3 Rajab 1447 (23/12/2025).

Dalam forum tersebut, Shohibul Anwar menempatkan Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak sebagai gambaran paling sederhana sekaligus paling utuh untuk memahami Hidayatullah. Menurutnya, siapa pun yang ingin mengetahui wajah Hidayatullah secara langsung tidak perlu menelusuri konsep yang rumit, melainkan cukup menyaksikan kehidupan yang berjalan di lingkungan pesantren tersebut.

“Seorang senior di Kampus Gunung Tembak pernah bercerita, ketika ada orang bertanya, ‘Apa itu Hidayatullah?’ maka jawabannya sederhana: Gunung Tembak,” ujar Shohibul Anwar dalam sambutannya yang mewakili Ketua Umum DPP Hidayatullah. Pernyataan ini, menurutnya, menggambarkan posisi strategis Gunung Tembak sebagai titik temu antara nilai, praktik, dan tradisi gerakan.

Ia menjelaskan bahwa identitas Hidayatullah memang dirumuskan secara konseptual dan sistematis. Namun, pemahaman yang lebih komprehensif justru diperoleh melalui pengalaman langsung menyaksikan dinamika kehidupan pesantren.

“Jati diri Hidayatullah memang disusun secara konseptual, namun akan jauh lebih mudah memahaminya jika datang langsung dan melihat kehidupan di Gunung Tembak,” katanya.

Shohibul Anwar juga membagikan pengalaman personalnya sejak pertama kali menjadi santri pada 1992. Pada masa itu, ia memiliki keinginan kuat untuk mengunjungi Kampus Hidayatullah di Gunung Tembak sebagai pusat gerakan.

“Saat itu yang saya cari adalah praktik Islam dalam kehidupan nyata. Alhamdulillah, hal tersebut saya temukan di Gunung Tembak. Sejak itu saya menetap dan bertahan di Hidayatullah,” tuturnya.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menegaskan bahwa Gunung Tembak bukan semata lokasi fisik yang membentang, tetapi ruang aktualisasi nilai-nilai keislaman yang menyatu dengan konteks keindonesiaan. Kehidupan pesantren yang terbangun di dalamnya memperlihatkan praktik pendidikan, pengabdian umat, dan pembinaan karakter yang berjalan seiring dengan semangat peradaban Islam yang membumi.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa para Pembina, Pengawas, dan Pengurus YPPH Balikpapan, bersama seluruh warga Hidayatullah di Kampus Induk Gunung Tembak, merupakan representasi hidup dari nilai-nilai organisasi. Keberadaan mereka dipandang sebagai “alat peraga” yang memudahkan publik memahami arah, etos, dan tujuan perjuangan Hidayatullah secara konkret.

Rapat Pleno YPPH Balikpapan sendiri digelar selama tiga hari, Senin hingga Rabu, 22–24 Desember 2025, bertempat di Kantor YPPH Gedung WKP, kawasan Gunung Tembak, Balikpapan. Forum ini menjadi ruang evaluasi sekaligus refleksi atas perjalanan kepengurusan, serta penguatan komitmen untuk menjaga kesinambungan peran pesantren sebagai pusat kaderisasi dan pelayanan umat.

Membangun Umat Kerja Panjang yang Menuntut Keteguhan Niat dan Kesinambungan Amal

0

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menyampaikan pesan agar para pengurus dan kader Hidayatulah tidak mudah merasa lelah dalam mengemban amanah dakwah. Menurutnya, membangun umat merupakan kerja panjang yang menuntut keteguhan niat, ketahanan spiritual, dan kesinambungan amal.

“Dinamika organisasi dan tanggung jawab kelembagaan tidak boleh melemahkan semangat pengabdian kepada umat. Membangun umat merupakan kerja panjang yang menuntut keteguhan niat, ketahanan spiritual, dan kesinambungan amal,” katanya.

Hal itu ia utarakan saat menyampaikan Taushiyah Kelembagaan kepada peserta Musyawarah Daerah Gabungan (Musdagab) DPD Hidayatullah se-Sulawesi Tengah yang dirangkaikan dengan Musyawarah Wilayah (Muswil) Muslimat Hidayatullah Sulawesi Tengah di Tolitoli, Kamis, 5 Rajab 1447 (25/12/2025).

Kehadiran Ketua Umum di Tolitoli juga bertepatan dengan agenda Tabligh Akbar yang dijadwalkan digelar di Masjid Agung Al-Mubarak Tolitoli. Rangkaian kegiatan ini menjadi ruang penguatan nilai, refleksi sejarah perjuangan, serta peneguhan orientasi dakwah Hidayatullah dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum juga membagikan kisah inspiratif perjalanan dakwah bersama almarhumah Ustadzah Syarifah Aida Chered, istri dari almarhum KH Abdullah Said, pendiri Hidayatullah. Ia menuturkan dialog yang pernah terjadi terkait perbedaan kondisi Hidayatullah pada masa awal perintisan dibandingkan dengan situasi organisasi saat ini yang relatif lebih mapan.

Menurut penuturan KH Naspi Arsyad, Ustadzah Syarifah Aida Chered pernah menyampaikan bahwa kader Hidayatullah patut banyak bersyukur. Meski usaha yang dilakukan terasa kecil, Allah SWT telah memberikan limpahan nikmat yang besar. Pesan tersebut, kata Ketua Umum, menjadi pengingat agar setiap kader tidak lalai dalam mensyukuri amanah dakwah yang diemban.

Ia menegaskan bahwa Ustadzah Syarifah Aida Chered merupakan salah satu srikandi awal perintisan Hidayatullah. Sosok tersebut dikenal dengan pengorbanan yang luar biasa, kerja yang nyaris tanpa mengenal lelah, waktu istirahat yang sangat terbatas, serta ketekunan ibadah yang panjang di tengah kondisi serba keterbatasan. Kisah ini, menurutnya, merupakan cerminan keteguhan iman dan ketulusan dalam berjuang.

Ketua Umum juga mengisahkan perjuangan srikandi lain pada masa awal Hidayatullah yang tetap menjalankan dakwah masyarakat meski dalam kondisi hamil dan hidup sangat sederhana. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan makan, mereka hanya mengonsumsi nasi dengan batang pisang bagian dalam, setelah bekerja sejak pagi hingga menjelang siang.

“Usaha para dai daiyah senior ini menunjukkan beratnya perjuangan generasi perintis dalam meletakkan dasar-dasar dakwah,'” katanya.

Melalui rangkaian kisah tersebut, KH Naspi Arsyad mengajak seluruh peserta Musdagab dan Muswil Muslimat untuk melakukan refleksi mendalam. Ia menegaskan bahwa apabila para perintis saja memandang pengorbanan mereka masih sedikit, maka generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan dakwah dengan kualitas yang lebih baik dan lebih terstruktur.

Lebih lanjut, ia berpesan agar kesibukan mengelola lembaga tidak dijadikan alasan untuk melemahkan kualitas ibadah. Ia secara khusus mengingatkan pentingnya menjaga shalat berjamaah dan shalat malam, serta memastikan khidmat kepada masyarakat tetap terjaga di mana pun berada.

“Jangan sampai karena alasan mengurus lembaga, kita meninggalkan shalat berjamaah atau tidak bangun shalat malam. Justru kekuatan lembaga itu lahir dari kuatnya ibadah para pengembannya,” tegasnya.

Naspi menegaskan bahwa kekuatan dakwah Hidayatullah tidak hanya terletak pada sistem dan struktur organisasi, tetapi juga pada kualitas spiritual para pengurus dan kader yang terus berkhidmat bagi umat dan Indonesia.

Hidayatullah Maluku Diharapkan Jadi Pelopor Kerukunan Menuju Indonesia Emas 2045

0

AMBON (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Maluku Tahun 2025 resmi dibuka oleh Pemerintah Provinsi Maluku dalam sebuah forum yang sarat makna kebangsaan dan keumatan. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, pada Senin, 2 Rajab 1447 (22/12/2025).

Pembukaan Muswil dilakukan oleh Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Achmad Jais Ely.

Dalam sambutan tertulis Gubernur yang dibacakan oleh Achmad Jais Ely, Pemerintah Provinsi Maluku menyampaikan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang konsisten menjalankan peran dakwah, pendidikan, serta kerja-kerja sosial kemasyarakatan di Maluku. Kiprah tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat Maluku yang majemuk dan menjunjung tinggi nilai kerukunan.

Gubernur menegaskan bahwa Muswil VI menjadi momentum strategis bagi Hidayatullah Maluku untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perjalanan organisasi, sekaligus menyusun program kerja yang terarah dan berkelanjutan. Forum musyawarah ini juga dipandang penting dalam proses regenerasi kepemimpinan agar organisasi mampu menjawab tantangan zaman secara adaptif dan konstruktif.

Dalam konteks sosial-keagamaan Maluku, Gubernur menyampaikan harapan agar Hidayatullah terus mengambil peran sebagai pelopor dalam menjaga dan merawat kerukunan antarumat beragama.

Harapan tersebut ditekankan mengingat Maluku memiliki sejarah panjang sebagai ruang hidup bersama berbagai komunitas dengan latar belakang agama dan budaya yang beragam.

“Saya berharap pengurus Hidayatullah Maluku, yang juga merupakan para dai dan pendidik, dapat menjadi pelopor harmoni serta mampu menjalankan fungsi organisasi dalam membangun umat yang kuat, solid, dan berakhlakul karimah,” demikian pernyataan Hendrik Lewerissa dalam sambutan resminya.

Lebih lanjut, Gubernur menyoroti pentingnya sinergi antara organisasi keagamaan dan pemerintah daerah. Ia menjelaskan bahwa salah satu prioritas Pemerintah Provinsi Maluku saat ini adalah mendorong terwujudnya masyarakat yang maju dan sejahtera, dengan pendidikan sebagai sektor kunci. Peningkatan kualitas guru dan mutu pendidikan diposisikan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia menuju masa depan Maluku.

“Kolaborasi antara Hidayatullah dan Pemerintah Daerah sangatlah penting dalam proses kemajuan bangsa. Mari kita bersama-sama mewujudkan Transformasi Maluku yang Adil dan Sejahtera menyongsong Indonesia Emas 2045,” lanjutnya.

Muswil VI Hidayatullah Maluku dihadiri oleh perwakilan pengurus pusat, di antaranya Kepala Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr Muzakkir Usman, Ketua DPW Hidayatullah Maluku Sulaiman Sandre dan jajaran, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.

Kehadiran berbagai unsur tersebut dinilai memperkuat posisi Muswil sebagai forum musyawarah yang tidak hanya bersifat internal organisasi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan kebangsaan.

Melalui Muswil ini, diharapkan lahir rumusan kebijakan dan rekomendasi strategis yang berorientasi pada kemaslahatan umat serta mendukung agenda pembangunan Provinsi Maluku.

Mengakhiri sambutannya, Gubernur Hendrik Lewerissa secara resmi menyatakan pembukaan Musyawarah Wilayah VI Hidayatullah Maluku Tahun 2025, dengan harapan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat Maluku dan Indonesia.

Perjalanan Darat Tim Siaga Bencana Hidayatullah Hadirkan Refleksi Dakwah dan Kemanusiaan

0
ist – tim-siaga

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Derap perjalanan panjang akhirnya berhenti di kawasan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Pada Kamis, 5 Rajab 1447 (25/12/2025), Posko Utama Tanggap Darurat Bencana Hidayatullah bersama Laznas Baitul Maal Hidayatullah secara resmi menerima kedatangan tim transisi yang menempuh perjalanan darat dari Jakarta menuju Sumatera Utara. Rombongan ini dipersiapkan untuk memperkuat penanganan bencana banjir di Aceh Tamiang.

Kedatangan para relawan ditandai wajah-wajah letih yang menyimpan kepuasan. Mereka baru saja menyelesaikan lintasan panjang melintasi Pulau Sumatera, sebuah perjalanan yang tidak hanya menguji fisik, tetapi juga keteguhan mental dan ruhani. Misi utama perjalanan tersebut adalah memastikan kesinambungan kerja kemanusiaan tim dalam merespons bencana secara cepat dan terkoordinasi.

Perjalanan dimulai sejak Senin, 22 Desember 2025, dan berlangsung hingga Kamis. Rentang waktu itu dipenuhi tantangan durasi tempuh yang panjang, kondisi jalan yang beragam, serta tuntutan stamina yang tinggi.

Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, yang memimpin langsung rombongan, menggambarkan perjalanan ini sebagai pengalaman lapangan yang sarat ujian.

“Bisa dibilang kami menempuh perjalanan tiga kali dua belas jam, mulai dari Palembang ke Jambi, Jambi ke Pekanbaru, dan Pekanbaru ke Medan. Hanya ruas Lampung–Palembang yang relatif bersahabat dengan waktu tempuh sekitar empat jam,” ujarnya.

Selebihnya, perjalanan menuntut konsentrasi dan daya tahan ekstra. Beberapa etape mengharuskan tim berada di jalan selama dua belas jam penuh, bahkan satu lintasan mencapai sekitar tujuh belas jam tanpa jeda panjang. Kondisi tersebut, menurut Imam, menjadi tantangan sekaligus pembelajaran penting.

“Di satu sisi ini jelas berat, tetapi di sisi lain menjadi pelajaran berharga bahwa mengantarkan kebaikan melalui jalur darat memang memerlukan stamina kuat dan semangat yang tidak boleh surut,” lanjutnya.

Di tengah kelelahan, perjalanan ini juga diwarnai momen penguatan ruhani. Tim menyempatkan diri bersilaturahmi ke basis-basis dakwah di sepanjang jalur Sumatera. Di Jambi, mereka disambut oleh dai setempat, sementara di Pekanbaru pertemuan serupa berlangsung di lingkungan pesantren jaringan Hidayatullah. Pertemuan singkat tersebut menjadi ruang berbagi doa dan penguat moral bagi para relawan sebelum melanjutkan perjalanan ke utara.

Bagi Imam Nawawi, perjalanan Jakarta–Medan ini memunculkan refleksi mendalam. Ia menilai, jika di era kendaraan modern perjalanan semacam ini saja terasa melelahkan, maka pengorbanan para perintis dakwah di masa lalu jauh lebih besar.

“Ada hikmah besar yang kami rasakan. Sekarang saja perjalanan ke Sumatera terasa panjang dan melelahkan, lalu bagaimana dengan para dai perintis dahulu?” tuturnya.

Ia membayangkan fase-fase awal pembangunan pesantren dan dakwah di berbagai titik Sumatera, ketika akses transportasi dan fasilitas masih sangat terbatas. “Sungguh, napas perjuangan mereka sangat luar biasa,” tambahnya.

Setelah menuntaskan perjalanan darat yang panjang, tim BMH kini memusatkan perhatian pada tugas utama, yakni menyalurkan amanah kemanusiaan bagi para penyintas banjir di Aceh Tamiang. Etape perjalanan telah usai, namun kerja nyata bagi kemanusiaan dan pengabdian untuk negeri baru saja dimulai.

Sebelumnya, Baitul Maal Hidayatullah bersama anggota Forum Zakat (FOZ) DKI Jakarta telah secara resmi melepas armada bantuan kemanusiaan menuju wilayah Sumatera. Prosesi pelepasan berlangsung khidmat di Halaman Kantor Gubernur DKI Jakarta pada Selasa, 23 Desember 2025.

Pengiriman bantuan tersebut merupakan langkah strategis dalam merespons dampak bencana yang meluas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dalam konteks itu, BMH tengah memasuki masa transisi dari fase tanggap darurat menuju fase recovery atau pemulihan jangka panjang.

Melalui kolaborasi lintas lembaga tersebut, berhasil dihimpun dana kemanusiaan sebesar Rp3 miliar yang seluruhnya dialokasikan untuk penyaluran bantuan, disertai dukungan logistik lebih dari 60 ton berupa bahan pangan, sembako, obat-obatan, serta perlengkapan darurat lainnya sebagai wujud kontribusi kemanusiaan bagi para penyintas.

Tasyrif Amin Ungkap Etos Kerja Positif sebagai Amanah Iman Setiap Muslim

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ust. Dr. H. Tasrif Amin, M.Pd, mengungkap pentingnya pengarusutamaan etos kerja positif dan produktif sebagai amanah iman setiap muslim. Hal itu disampaikan saat membuika Rapat Pleno Laporan Akhir Kepengurusan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kampus Utama Timika, Papua Tengah, Periode 2021-2025 pada Rabu, 4 Rajab 1447 (24/12/2025).

Tasrif Amin mengingatkan landasan filosofis yang sejak awal menjadi motor penggerak gerakan Hidayatullah, yakni spirit Surah At-Taubah ayat 105. Dia menjelaskan, ayat ini mengandung perintah bekerja secara aktif dan bertanggung jawab, dengan kesadaran etos kerja yang tinggi bahwa setiap amal akan disaksikan oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.

“Katakanlah, ‘bekerjalah!’ maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu,” kutipnya.

Taysrif menegaskan, kita hendaknya menjadikann kerja organisasi dalam bingkai ibadah yang menyatu dengan nilai keislaman dan tanggung jawab kebangsaan. Prinsip tersebut, menurutnya, menumbuhkan etos kerja positif sekaligus sikap mawas diri dalam menjalankan amanah.

“Kita bekerja bukan karena perintah atasan semata atau karena mengejar materi, melainkan karena Allah, Rasul, dan orang mukmin melihat kerja kita. Kelak, seluruh khidmat ini akan dipertanggungjawabkan di hadirat Allah Ta’ala,” katanya.

Rapat Pleno ini, lanjut Tasyrif, diharapkan semakin menguatkan kiprah strategis serta memperkuat peran Kampus Utama Yayasan Hidayatullah Timika, sehingga keberadaannya semakin memberi dampak nyata bagi masyarakat Papua Tengah, khususnya di wilayah Mimika, dalam kerangka pembangunan umat dan bangsa yang berkelanjutan.

“Rapat Pleno Akhir Kepengurusan ini sebagai ruang strategis bersama untuk melakukan evaluasi menyeluruh atas perjalanan organisasi selama satu periode kepengurusan,” pesan Ketua Dewan Pembina Yayasan Hidayatullah Timika ini.

Tasyrif menegaskan bahwa capaian organisasi tidak dapat dipahami semata sebagai hasil kerja administratif atau teknis. Dalam pada itu, dia menegaskan bahwa kerja organisasi adalah ikhtiar kolektif yang berkelindan dengan dimensi keimanan.

Menurutnya, keberlangsungan dan pencapaian yayasan selama lima tahun terakhir bertumpu pada spiritualitas yang terus dijaga melalui munajat, musyawarah, khidmat yang meluas dan universal, dan mujahadah yang konsisten.

“Apa yang kita hasilkan hari ini adalah hasil munajat, musyawarah, dan mujahadah kita selama lima tahun terakhir. Kita telah memberikan yang terbaik sesuai kemampuan, namun tentu saja di sana-sini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki,” ujarnya.

Tasrif Amin juga menyampaikan rasa syukur atas keberlangsungan yayasan di tengah berbagai ujian dan tantangan. Ia menilai eksistensi organisasi dapat terjaga berkat soliditas jamaah, kompetensi sumber daya manusia, serta integritas para pengurus dalam menjalankan amanah.

Agenda ini dihadiri oleh jajaran Pembina, Pengawas, serta seluruh fungsionaris yayasan, dan diposisikan sebagai forum pertanggungjawaban kelembagaan sekaligus refleksi atas khidmat yang telah dijalankan.

Dalam rangkaian acara, Pelaksana Tugas Ketua Yayasan Hidayatullah Timika, Ustadz Akbar Ridloy, mengajak mendoakan para pendahulu dari unsur Pembina, Pengawas, dan Ketua Yayasan yang telah wafat.

“Kita berada di sini melanjutkan estafet perjuangan mereka. Semoga amal jariyah para pendahulu kita diterima di sisi Allah SWT dan kita mampu meneruskan cita-cita besar mereka untuk kemaslahatan masyarakat yang lebih luas,” tuturnya.

KHUTBAH JUM’AT Bencana Menguji Iman dan Tiga Wujud Kepedulian

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jama’ah hadirin sidang Shalat Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah ﷻ,

Marilah kita panjatkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah ﷻ. Dialah yang masih memberi kita nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan hidup.

Nikmat-nikmat itu sejatinya bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi untuk digunakan sebagai jalan meraih kebaikan dunia dan keselamatan akhirat.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi dan Rasul junjungan kita, suri teladan yang baik bagi umat ini, yakni Nabi Agung Muhammad ﷺ.

Khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jama’ah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa. Karena bekal terbaik yang akan menemani kita ketika menghadap Allah ﷻ bukan harta, bukan jabatan, bukan pula popularitas, melainkan takwa.

Allah ﷻ berfirman:

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ

“Berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Di penghujung tahun 2025 ini, Allah ﷻ kembali menguji bangsa ini. Musibah datang bertubi-tubi menghampiri saudara-saudara kita terutama di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.

Banjir besar melanda wilayah-wilayah tersebut, merendam pemukiman, melumpuhkan fasilitas umum, menghanyutkan kendaraan, merusak masjid, serta memusnahkan harta benda yang selama ini mereka kumpulkan dengan jerih payah.

Data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 25 Desember 2025 menunjukkan betapa besar dampak musibah ini. Lebih dari seribu jiwa meninggal dunia, ratusan orang dinyatakan hilang, ribuan infrastruktur rusak, ratusan rumah ibadah, sekolah, jembatan, dan fasilitas kesehatan lumpuh.

Tidak sedikit warga yang kehilangan tempat tinggal, sumber penghidupan, bahkan orang-orang tercinta. Bahkan ada yang meninggal dunia karena kelaparan.

Tak seorang pun pernah mengetahui kapan musibah datang. Hujan deras yang turun tanpa henti berubah menjadi banjir yang datang tiba-tiba.

Kerusakan hutan dan lingkungan yang terjadi selama bertahun-tahun, akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, memperparah bencana dan memperbesar penderitaan.

Banyak saudara kita terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah, kehilangan harta, bahkan kehilangan nyawa. Tangisan anak-anak, kegelisahan orang tua, dan kesedihan keluarga menjadi pemandangan yang memilukan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Musibah yang menimpa mereka sejatinya bukan hanya ujian bagi korban, tetapi juga ujian bagi kita semua. Musibah mereka adalah cermin bagi nurani kita. Derita mereka adalah pertanyaan bagi kepedulian kita. Kesedihan mereka adalah panggilan bagi iman kita.

Sejauh mana empati kita terhadap sesama? Seberapa besar solidaritas kita sebagai umat manusia dan umat Islam?

Rasulullah ﷺ telah memberi teladan agung dalam merespons penderitaan sesama. Beliau mengajarkan bahwa meringankan beban orang lain adalah jalan untuk diringankan bebannya kelak di akhirat.

Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa meringankan satu kesusahan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Dan barang siapa memudahkan orang yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Hari ini, saudara-saudara kita di wilayah terdampak bencana sangat membutuhkan uluran tangan. Mereka kehilangan rumah, pakaian, makanan, dan rasa aman.

Anak-anak kebingungan, orang tua diliputi kecemasan, dan keluarga bertahan dalam keterbatasan di tenda pengungsian.

Semua itu terjadi bukan karena mereka lalai, tetapi karena takdir Allah ﷻ dan akibat kerusakan yang dilakukan manusia.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Setidaknya ada tiga langkah nyata yang dapat kita lakukan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.

Pertama, memperbanyak doa.

Doa adalah senjata orang beriman. Doa adalah bukti bahwa hati kita terikat dengan penderitaan saudara kita, meski raga tak selalu bisa hadir.

Allah ﷻ berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ

“Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah mustajab.” (HR. Muslim)

Bahkan malaikat mendoakan balik orang yang mendoakan saudaranya. Maka jangan anggap remeh doa. Doa adalah pertolongan besar yang mengundang rahmat Allah ﷻ.

Kedua, menyalurkan bantuan dan sedekah.

Islam mengajarkan bahwa dalam setiap harta kita terdapat hak orang lain.

وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْم

“Pada harta mereka terdapat hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)

Besar atau kecil bantuan bukan ukuran di sisi Allah. Yang dinilai adalah keikhlasan dan kepedulian.

Ketika harta saudara kita musnah oleh banjir, Allah memindahkan ujian itu kepada kita: apakah kita mau berbagi atau berpaling?

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللهُ في عَونِ العَبدِ ما كانَ العَبدُ في عَونِ أَخيهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Ketiga, mendampingi hingga bangkit.

Islam tidak mengajarkan kepedulian sesaat. Banjir mungkin surut, tetapi luka batin dan trauma membutuhkan waktu panjang untuk pulih.

Karena itu, kita harus mendampingi saudara saudara kita semampu yang bisa kita lakukan agar mereka pulih kembali. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ

“Barang siapa memudahkan orang dalam kesulitan, Allah akan memudahkannya.” (HR. Muslim)

Pendampingan psikososial, pemulihan pendidikan anak-anak, dan penguatan ekonomi korban adalah bagian dari ibadah sosial jangka panjang.

Tidak ada sedekah yang sia-sia. Tidak ada kepedulian yang hilang. Semua akan Allah balas dengan kebaikan yang lebih besar.

Karena manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi sesama:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Jama’ah yang dimuliakan Allah,

Musibah ekologis yang berdampak luas ini juga menjadi seruan taubat kolektif, khususnya bagi para pengambil kebijakan. Kerusakan lingkungan yang berulang menunjukkan kegagalan tata kelola alam. Allah ﷻ telah mengingatkan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Negara wajib hadir membenahi tata kelola lingkungan, menghentikan kebijakan yang merusak alam, dan melindungi keselamatan rakyat. Taubat yang sejati adalah perubahan kebijakan dan keberpihakan pada keberlanjutan kehidupan.

Semoga Allah menjauhkan kita dari musibah yang berat, dan jika pun ujian datang, semoga Allah mengiringinya dengan hadirnya orang-orang yang peduli.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Khitanan Berkah Nusantara di Bandung Perkuat Kolaborasi Sosial dan Keumatan

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Agenda sosial bertajuk Khitanan Berkah Nusantara kembali digelar oleh Laznas Baitulmaal Hidayatullah (BMH) sebagai bagian dari program rutin akhir tahun.

Perwakilan Manajemen BMH Jawa Barat, Yosep Suhendar, mengatakan kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi kebaikan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap anak-anak dai, guru ngaji, serta warga sekitar pesantren.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Bandung yang berlokasi di wilayah Padasuka, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Selasa, 3 Rajab 1447 (23/12/2025).

Rangkaian acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh salah satu orang tua peserta khitan, yang juga berkhidmat sebagai guru pesantren. Suasana khidmat tersebut menjadi pengantar pembukaan kegiatan, dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak, mulai dari perwakilan BMH, pimpinan yayasan pesantren, tim medis, hingga unsur pemerintahan kelurahan setempat. Nuansa keislaman dan kebersamaan tampak kuat mewarnai seluruh rangkaian acara.

Yosep Suhendar dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur kepada Allah atas terselenggaranya program ini berkat dukungan para donatur dan sinergi berbagai pihak. Ia mengapresiasi kepercayaan orang tua peserta, pengurus yayasan, serta dukungan pemerintah kelurahan.

Menurutnya, BMH sebagai lembaga amil zakat nasional terus berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi umat melalui jaringan cabang dan pesantren binaan yang tersebar di berbagai daerah.

Sebagai tuan rumah kegiatan, Ketua Yayasan Hayatan Thayyibah Pesantren Hidayatullah Bandung, Ustadz Abdul Wakit, menyambut pelaksanaan Khitanan Berkah Nusantara dengan penuh kegembiraan.

Ia mendoakan para amil BMH, donatur, dan seluruh peserta khitan agar senantiasa diberi kesehatan serta keberkahan. Ungkapan syukur tersebut mencerminkan semangat ukhuwah dan kepedulian sosial yang menjadi bagian dari nilai dakwah pesantren.

Pokok perhatian dalam kegiatan ini disampaikan oleh Lurah Padasuka, M. Fahlah Hudaya Mimbar, S.I.P., yang secara resmi membuka acara. Ia mengapresiasi langkah BMH sebagai wujud konkret kepedulian terhadap masyarakat.

Fahlah menyatakan ketertarikannya untuk melanjutkan kolaborasi kebaikan tersebut melalui rencana penandatanganan nota kesepahaman atau MOU bersama BMH di bidang kesehatan, pendidikan, dan sektor sosial lainnya.

“Kami ingin meneruskan kebaikan kolaborasi ini secara lebih terstruktur sebagai bentuk tanggung jawab kepada pimpinan dan masyarakat,” ujarnya. Pada kesempatan tersebut, ia juga memberikan dukungan langsung kepada peserta khitan berupa bantuan uang tunai.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan sesi foto, sebelum memasuki proses khitan. Momentum ini menjadi pengalaman bermakna bagi para peserta dan keluarga.

Salah satu orang tua peserta, ayah dari Umar dan Hamzah, mengungkapkan rasa syukurnya dapat mengikuti program ini karena sangat membantu meringankan beban biaya, sekaligus memperoleh uang saku, bingkisan, dan layanan konsultasi medis gratis.

Program Khitanan Berkah Nusantara diikuti oleh 20 anak dari lingkungan sekitar pesantren dengan penanganan langsung tenaga medis profesional dari Klinik Amanah Padasuka. Selain layanan khitan tanpa biaya, peserta juga menerima bingkisan sebagai bentuk perhatian.

Melalui program ini, Yosep menambahkan, BMH berharap sinergi antara lembaga sosial, pemerintah, dan masyarakat terus terjaga demi kemaslahatan bersama dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan.

Menjaga Masa Depan Organisasi melalui Sistem Regenerasi

0

JIKA tidak ada rekrutmen, maka dua puluh tahun ke depan tinggal nama. Demikian pesan itu berseliweran seperti palu yang diketukkan perlahan di meja sejarah, tidak memekakkan telinga, tetapi mengguncang kesadaran. Sebuah peringatan struktural tentang masa depan sebuah organisasi.

Kalimat tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan tidak pernah bersifat otomatis; ia harus dirawat melalui kesadaran, perencanaan, dan tindakan yang konsisten.

Setiap organisasi hidup melalui manusia. Manusia adalah subjek yang menggerakkan nilai, menjalankan struktur, dan memikul amanah kolektif. Namun manusia juga tunduk pada hukum alam dan sunnatullah yang tidak dapat ditawar: menua, melemah, dan pada akhirnya wafat.

Karena itu, rekrutmen tidak dapat diposisikan sebagai aktivitas administratif belaka atau program kerja yang bisa ditunda. Rekrutmen adalah hukum keberlanjutan. Tanpanya, organisasi apa pun hanya menunggu waktu hingga kehilangan denyut kehidupannya.

Prinsip ini dipahami secara serius dalam pengelolaan negara modern. Setiap tahun, rekrutmen dibuka di sektor militer, kepolisian, dan birokrasi sipil karena selalu ada kekosongan akibat pensiun dan kematian.

Negara bahkan tidak cukup hanya menunggu pelamar, tetapi membangun sekolah-sekolah kedinasan untuk menyiapkan kader secara sistematis, berjenjang, dan disiplin. Masa depan, dalam perspektif negara, tidak boleh diserahkan pada kebetulan, melainkan harus dirancang melalui perencanaan jangka panjang.

Dunia usaha bergerak dengan logika yang serupa. Walaupun menggunakan bahasa yang lebih pragmatis, substansinya tetap sama, yakni regenerasi. Tanpa rekrutmen yang berkelanjutan, perusahaan hanya akan bertahan sebagai nama dagang dan arsip masa lalu. Prinsip ini bersifat universal, melintasi sektor, ideologi, dan latar budaya organisasi.

Perjuangan Nilai

Dalam konteks tersebut, Hidayatullah sejatinya telah memahami hukum keberlanjutan ini sejak awal kelahirannya sebagai pesantren dan kini sebagai ormas yang berkhidmat untuk khalayak luas. Dakwah tidak dimaknai semata sebagai ceramah, melainkan sebagai ajakan untuk bergabung dan hidup di dalam nilai.

Santri yang pulang ke kampung halaman tidak hanya membawa kerinduan, tetapi juga amanah sosial untuk mengajak keluarga, tetangga, dan lingkungan terdekat. Rekrutmen berlangsung secara alami, dari mulut ke mulut dan dari hati ke hati.

Sejarah mencatat bahwa pola ini pernah melahirkan peristiwa sosial yang penting. Dalam beberapa fase awal, rekrutmen bahkan terjadi secara kolektif, yang melibatkan keluarga besar atau komunitas dalam satu wilayah. Fenomena ini adalah fakta sejarah yang menunjukkan bahwa rekrutmen pernah menjadi gerakan sosial yang hidup, kolosal, organik, dan berakar di masyarakat.

Namun pengalaman panjang juga mengajarkan bahwa tidak semua rekrutmen menghasilkan dampak yang sama. Ada rekrutmen yang memiliki daya ungkit lebih besar dan berpengaruh dalam jangka panjang.

Rekrutmen di kalangan mahasiswa merupakan salah satu contoh paling menentukan. Kelompok ini membawa tradisi berpikir kritis, kapasitas intelektual, dan energi perubahan yang kuat. Tidak mengherankan jika struktur kepemimpinan organisasi pada masa kini banyak diisi oleh kader-kader yang dahulu direkrut pada fase ini.

Mereka tidak hadir secara instan, melainkan melalui proses panjang tarbiyah, pengabdian, dan pembelajaran organisasi. Pada masanya, mereka datang sebagai mahasiswa yang membawa semangat intelektual, lalu ditempa dalam medan dakwah dan kepemimpinan hingga matang secara visi dan karakter. Fakta ini menunjukkan bahwa investasi kaderisasi berbasis rekrutmen mahasiswa memiliki dampak struktural yang signifikan dalam menjaga kesinambungan organisasi.

Fenomena serupa terlihat pada cabang-cabang organisasi yang berkembang pesat. Cabang yang berada di kota-kota dengan ekosistem pendidikan tinggi umumnya menunjukkan dinamika pertumbuhan yang lebih kuat. Kesamaan mendasarnya terletak pada keberanian merekrut mahasiswa dan mempercayai mereka sebagai kader pelopor.

Walakin, kepercayaan ini bukan tanpa risiko, namun sejarah telah membuktikan bahwa keputusan tersebut melahirkan generasi pemimpin yang mampu menjaga arah dan identitas organisasi.

Beberapa dekade kemudian, kader-kader hasil rekrutmen strategis tersebut berdiri sebagai pelaku sejarah, bukan sekadar pengisi struktur. Mereka mampu menangkap, menerjemahkan, dan meneruskan cita-cita pendiri dan perintis, meskipun generasi awal telah banyak berpulang atau memasuki usia senja. Di titik inilah tampak bahwa eksistensi organisasi tidak ditopang oleh figur personal, melainkan oleh sistem rekrutmen dan kaderisasi yang visioner.

Dimensi Perguruan Tinggi

Kesadaran akan pentingnya kaderisasi ini mendorong lahirnya Perguruan Tinggi Hidayatullah pada pertengahan dekade 1990-an. Dalam bahasa organisasi, lembaga ini dapat dipahami sebagai sekolah kedinasan yang berfungsi sebagai pintu rekrutmen kader intelektual dan calon pemimpin masa depan.

Hingga kini, berbagai perguruan tinggi di bawah naungan organisasi telah berdiri dan meluluskan alumni yang mengisi posisi strategis di tingkat pusat, wilayah, dan daerah.

Data internal menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus tingkat pusat, wilayah, dan satuan pendidikan berasal dari jalur perguruan tinggi ini. Namun capaian tersebut belum sepenuhnya memuaskan.

Daya dobraknya belum sebanding dengan rekrutmen mahasiswa pada fase awal, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Masih terdapat tantangan berupa ketidakkonsistenan pengabdian dan belum optimalnya pelaksanaan amanah oleh sebagian alumni.

Kemungkinan besar, ini adalah persoalan waktu dan proses. Kiprah alumni perguruan tinggi organisasi relatif masih muda dibanding generasi awal. Artinya, ruang harapan belum tertutup.

Regenerasi dan estafet kepemimpinan di semua level masih terbuka lebar, dengan satu prasyarat utama: peningkatan kompetensi yang berkelanjutan serta komitmen yang teguh pada jati diri organisasi.

Sejarah tidak pernah selesai. Ia hanya menunggu apakah sebuah organisasi memiliki keberanian untuk terus merekrut, membina, dan menyiapkan generasi penerusnya secara sadar dan terencana.

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah