Beranda blog Halaman 366

Seruan Tegas Pemimpin Umum Hidayatullah: Buru Kebaikan Ramadhan!

Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim,* [Foto: Waqqash/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Bulan suci Ramadhan 1443H berakhir tidak lama lagi. Ini momentum emas bagi setiap Muslim untuk memaksimalkan ibadahnya.

Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, berkali-kali menegaskan kepada segenap warga Hidayatullah untuk berburu kebaikan di bulan Ramadhan.

Apalagi, ia berpandangan ke depan bahwa Hidayatullah akan menghadapi berbagai ujian. Bahwa Hidayatullah pun, tambahnya, akan mengangkat pekerjaan-pekerjaan besar.

“Tidak bisa diangkat (pekerjaan-pekerjaan besar itu) kalau tidak ada keterlibatan Allah yang memberikan kebaikan-kebaikan, sehingga kita ini memiliki semangat,” ujarnya dalam ceramahnya hampir satu jam di Masjid Ar-Riyadh Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Ummulqura, Balikpapan, Kaltim, Ramadhan 1443H ini.

Oleh karena itu, momentum Ramadhan harus terus disergap oleh warga Hidayatullah, jangan sampai dilewatkan. Semangat harus terus dipompakan. Warga Hidayatullah bukan hanya mencari, tapi harus berburu kebaikan di bulan penuh berkah ini.

“Maka cari terus, kejar, buru (kebaikan)! Ini saya pakai istilah ini, berburu kebaikan!” seruan tegas KH Abdurrahman pantauan Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah di Gunung Tembak.

Di antara bentuk perburuan kebaikan di bulan Ramadhan yaitu dengan bersemangat mengikuti shalat tarawih dan tahajud berjamaah di masjid. KH Abdurrahman menegaskan, di balik kebersamaan dalam berjamaah tersebut, ada kekuatan dan kenikmatan.

Selain shalat, kebaikan lain yang harus diburu yaitu lewat berinfaq dengan memberikan yang terbaik.

“Tidak mengeluarkan dana atau uang untuk masuk celengan kecuali uang baru,” ujarnya mencontohkan salah satu bentuk infaq terbaik.

Sang Kiai mengaku, jika mendapatkan uang, maka ia memilih uang yang masih baru, lalu disisihkan untuk berinfaq.

“Biasanya kan kalau ada uang Rp 50 ribu masih diikat dari bank, ada yang baru, masih melengkat. Nah, kusimpan dulu ini,” ungkapnya bertutur dengan harapan menjadi teladan bagi warga Hidayatullah.

“Mungkin itu kecil, tapi ini berpengaruh. Berikan yang terbaik, jangan (infaq dengan uang) yang lusuh-lusuh,” ujarnya tegas tapi bernada agak guyon.

Ahad, 6 Ramadhan 1443H (08/04/2022) bakda ashar itu, warga Gunung Tembak semakin terbakar semangatnya dalam menjalani Ramadhan yang kini telah memasuki 10 hari terakhir.*(SKR/MCU)

Kampus Ponpes Hidayatullah Menggala Lampung Gelar Qur’anic Camp

0

TULANG BAWAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memaksimalkan Ramadhan 1443 H tahun ini, Pesantren Hidayatullah Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung, mengadakan kegiatan Qur’anic Camping, dimulai Kamis, 20 Ramadan 1443 (21/4/2022).

Ketua Yayasan Hidayatullah Menggala, Ustadz Sadarwadi, M.Pd.I, mengatakan kegiatan bertujuan untuk menamkan rasa cinta yang lebih mendalam pada Qur’an.

Kegiatan yang terlaksana selama 2 malam 3 hari, diikuti tidak kurang dari 600 Santri mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 SD dan MI Hidayatullah Menggala.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan motivasi bagi para santri agar bisa lebih memaknai bulan Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an.

Beliau menjelaskan, bahwa diantara kegiatan yang dilaksanakan antara lain adalah Ujian Tahfidz Terbuka untuk santri Tsanawiyah, Al-Qur’an Camp, Pesantren Ramadhan, Buka Puasa dan Sahur Bersama, Dongeng Islami, dan berbagai macam kegiatan lainnya.

“Alhamdulillah acara kami berjalan dengan baik dan lancar, semua elemen dari guru, wali murid, dan para santri, sangat antusias dengan kegiatan ini, terlebih dapat kunjungan dari Dewan pengurus Wilayah Hidayatullah Lampung, itu menambah spirit kami dalam mensukseskan acara ini,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang santri bernama Habib mengaku sangat senang dan gembira bisa mengikuti kegiatan seperti ini. “Saya sangat senang dan bahagia, bisa tidur, shalat dan baca Qur’an di lapangan tempat camping saya, pokoknya keren,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Hendar Hermansyah, salah seorang wali santri. Kata dia, kegiatan Qur’anic Camp seperti ini, sangat bermanfaat.

“Anak-anak saya merasa sangat puas dan bahagia sekali, tentu saya juga ikutan bahagia, karena acaranya menarik, dan anak-anak juga memiliki tambahan ilmu,” ujarnya.

Pesantren Hidayatullah Menggala merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang beralamat di Jl. Rengas Cendung, Gunung Sakti, Menggala Selatan. Pesantren ini telah meluluskan lebih dari 3000 santri yang belajar di sana.*/Agus Nasrullah

SD Integral Hidayatullah Baubau Berbagi Kebaikan Ramadhan

BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — SD Integral Hidayatullah Baubau menggandeng Mitra Zakat Hidayatullah Baubau melalui momen Ramadhan 1443 H berbagi kebahagian dengan sejumlah kaum dhuafa dan anak yatim serta santri tahfidzul Qur’an pada kegiatan #BerbagiKebaikanRamadhan, yang pada tahun ini menyasar beberapa titik salur; Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Ar-Royyan, Panti Asuhan Madin Al-Ikhlas, Panti Asuhan Ulil Albab di Kelurahan Kaisabu Baru, Panti Asuhan Madinatul Qur’an di Kelurahan Kadolokatapi, dan Panti Asuhan Darul Ulum di Kelurahan Kampeonaho, pada Sabtu, 21 Ramadhan 1443 H (23/4/2022).

Kepala SD Integral Hidayatullah Baubau Ust. Akbar Mahaba, S.Pd.I., M.Pd. mengatakan, kegiatan #BerbagiKebaikanRamadhan dilaksanakan dengan bentuk penggalangan bahan sembako dari seluruh siswa, orang tua siswa, asatidz, dan juga donatur Mitra Zakat Hidayatullah.

Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan ini untuk memberikan pelajaran dan pengalaman kepada siswa dalam berbagi kepada sesama di bulan yang mulia ini.

“Alhamdulillah, ini adalah kegiatan yang bertujuan untuk menggugah rasa empati siswa kami dalam berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan. Apalagi bulan ini adalah bulan yang sangat mulia yang ganjarannya berlipat-ganda,” kata Akbar.

Pengurus Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Ar-Royyan Ust. Faisal saat menerima rombongan siswa & asatidz SD Integral Hidayatullah mengungkapkan rasa terimakasih atas kunjungan silaturrahim ini.

“Terimakasih atas kehadiran ustadz-ustadzah dan para siswa dengan apa-apa yang sudah dikeluarkan dari hartanya. Semoga bermanfaat,” ungkap Faisal seraya mengutip hadits ‘khoirunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya’.

Ust. Faisal juga menyebutkan bahwa ternyata ada beberapa alumni SD Integral Hidayatullah Baubau yang melanjutkan pendidikan dan penghafalan Al-Qur’annya di PTQ Ar-Royyan yang berada di wilayah Bumi Perkemahan Samparona Baubau ini.

Pada kesempatan berbagi kebaikan ini, turut hadir perwakilan siswa, orang tua siswa, dan asatidz ke lokasi penyaluran dimaksud. Siswa sangat antusias mengikuti kegiatan pembelajaran di luar area sekolah ini.

Sekolah di bawah naungan Yayasan Pesantren Hidayatullah Baubau ini selalu menanamkan rasa cinta kepada Al-Qur’an. Hafalan Al-Qur’an menjadi salah satu keunggulan sekolah ini.

Hal ini terlihat siswa selalu dikondisikan untuk selalu membaca dan menghafalkan Al-Qur’an di berbagai kesempatan; di rumah, dalam perjalanan, dan di sekolah.

Sesaat sebelum berangkat ke lokasi, siswa memuroja’ah (mengulang) hafalan Al-Qur’annya hingga dalam perjalan pulang-pergi dari dan ke lokasi penyaluran pun siswa dengan riang gembira berkaraoke murottal Qur’an yang tersedia di mobil khusus antar-jemput sekolah integral ini./*Noer Akbar

Fakta Data dan Tantangan Dakwah di Media Sosial

0

BERDASARKAN laporan dari We Are Social, jumlah penduduk Indonesia adalah 277,7 juta pada Januari 2022. Hal ini menunjukkan bahwa populasi Indonesia meningkat sebesar 2,8 juta (+1,0 persen) antara tahun 2021 dan 2022. Dimana sekitar 49,7 persen penduduk Indonesia adalah perempuan, sedangkan 50,3 persen penduduk adalah laki-laki. Pada awal tahun 2022, 57,9 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan, sementara itu 42,1 persen tinggal di pedesaan.

Ada 204,7 juta pengguna internet di Indonesia pada Januari 2022. Sementara, tingkat penetrasi internet Indonesia mencapai 73,7 persen dari total populasi pada awal tahun 2022. Analisis Kepios menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia meningkat sebesar 2,1 juta (+1,0 persen) antara tahun 2021 dan 2022.

Sebagai gambaran, angka pengguna ini mengungkapkan bahwa 73,05 juta orang di Indonesia tidak menggunakan internet pada awal tahun 2022, artinya 26,3 persen penduduk tetap offline di awal tahun. Namun, masalah yang berkaitan dengan COVID-19 terus memengaruhi penelitian tentang adopsi internet, sehingga angka pengguna internet yang sebenarnya mungkin lebih tinggi daripada angka yang dipublikasikan ini.

Data GSMA Intelligence menunjukkan ada 370,1 juta koneksi seluler di Indonesia pada awal 2022. Namun, perhatikan bahwa banyak orang di seluruh dunia menggunakan lebih dari satu koneksi seluler – misalnya, mereka mungkin memiliki satu koneksi untuk penggunaan pribadi, dan satu lagi untuk bekerja – jadi bukan hal yang aneh jika angka koneksi seluler secara signifikan melebihi angka total. populasi. Angka GSMA Intelligence menunjukkan bahwa koneksi seluler di Indonesia setara dengan 133,3 persen dari total populasi pada Januari 2022. Jumlah koneksi seluler di Indonesia meningkat 13 juta (+3,6 persen).

Pengguna Media Sosial

Hingga Januari 2022, ada 191,4 juta pengguna media sosial di Indonesia. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia pada awal tahun 2022 setara dengan 68,9 persen dari total populasi. Analisis Kepios mengungkapkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia meningkat 21 juta (+12,6 persen) antara tahun 2021 dan 2022.

Berdasarkan publikasi dari Meta, pada awal tahun 2022 Facebook memiliki 129,9 juta pengguna di Indonesia. Sedangkan jangkauan iklan Facebook di Indonesia setara dengan 46,8 persen dari total populasi pada awal tahun 2022. Namun, Facebook membatasi penggunaan platformnya untuk orang-orang berusia 13 tahun ke atas, jadi perlu juga digarisbawahi bahwa 60,0 persen audiens yang “memenuhi syarat” di Indonesia menggunakan Facebook pada tahun 2022.

Untuk konteks tambahan, jangkauan iklan Facebook di Indonesia setara dengan 63,4 persen dari basis pengguna internet lokal (pada semua jenis usia) pada Januari 2022. Pada awal tahun 2022, sekitar 44,0 persen audiens iklan Facebook di Indonesia adalah perempuan, sedangkan 56,0 persen adalah laki-laki.

Berdasarkan data dari Google menunjukkan bahwa YouTube memiliki 139,0 juta pengguna di Indonesia pada awal 2022. Angka ini berarti bahwa jangkauan iklan YouTube tahun 2022 setara dengan 50,0 persen dari total penduduk Indonesia di awal tahun.

Sebagai gambaran, iklan YouTube mencapai 67,9 persen dari total basis pengguna internet Indonesia (tanpa memandang usia) pada Januari 2022. Saat itu, 46,9 persen penonton iklan YouTube di Indonesia adalah perempuan, sedangkan 53,1 persen adalah laki-laki.

Angka yang dipublikasikan di alat periklanan Meta menunjukkan bahwa Instagram memiliki 99,15 juta pengguna di Indonesia pada awal 2022. Angka ini menunjukkan bahwa jangkauan iklan Instagram di Indonesia setara dengan 35,7 persen dari total populasi di awal tahun. Namun, Instagram membatasi penggunaan platformnya untuk orang berusia 13 tahun ke atas, jadi ada baiknya mengetahui bahwa 45,8 persen audiens yang “memenuhi syarat” di Indonesia menggunakan Instagram pada tahun 2022.

Perlu diketahui juga bahwa jangkauan iklan Instagram di Indonesia pada awal tahun 2022 setara dengan 48,4 persen basis pengguna internet lokal (tanpa memandang usia). Pada awal tahun 2022, 52,3 persen audiens iklan Instagram di Indonesia adalah perempuan, sedangkan 47,7 persen adalah laki-laki.

Angka yang dipublikasikan di sumber periklanan ByteDance menunjukkan bahwa TikTok memiliki 92,07 juta pengguna berusia 18 tahun ke atas di Indonesia pada awal 2022. Perhatikan bahwa ByteDance memungkinkan pemasar untuk menargetkan iklan TikTok kepada pengguna berusia 13 tahun ke atas melalui alat periklanannya, tetapi alat ini hanya menampilkan data pemirsa untuk pengguna berusia 18 tahun ke atas.

Untuk konteksnya, angka ByteDance menunjukkan bahwa iklan TikTok mencapai 47,6 persen dari semua orang dewasa berusia 18 tahun ke atas di Indonesia pada awal tahun 2022. Sementara itu, jangkauan iklan TikTok di Indonesia setara dengan 45,0 persen basis pengguna internet lokal di awal tahun, tanpa memandang usia. Pada awal tahun 2022, 66,0 persen audiens iklan TikTok di Indonesia adalah perempuan, sementara 34,0 persen adalah laki-laki.

Menurut publikasi Meta menunjukkan bahwa iklan di Facebook Messenger mencapai 28,40 juta pengguna di Indonesia pada awal tahun 2022. Sehingga pengguna Facebook Messenger di Indonesia setara dengan 10,2 persen dari total populasi di awal tahun. Facebook Messenger membatasi penggunaan platformnya untuk orang-orang berusia 13 tahun ke atas, jadi perlu juga disoroti bahwa iklan mencapai 13,1 persen dari audiens Facebook Messenger yang “memenuhi syarat” di Indonesia pada tahun 2022.

Untuk konteks tambahan, jangkauan iklan Facebook Messenger di Indonesia setara dengan 13,9 persen basis pengguna internet lokal (berapa pun usia). Pada awal tahun 2022, 45,0 persen audiens iklan Facebook Messenger di Indonesia adalah perempuan, sedangkan 55,0 persen adalah laki-laki.

Angka yang dipublikasikan di sumber periklanan LinkedIn menunjukkan bahwa LinkedIn memiliki 20,00 juta “anggota” di Indonesia pada awal 2022. Angka jangkauan iklan perusahaan menunjukkan bahwa audiens LinkedIn di Indonesia setara dengan 7,2 persen dari total populasi pada awal tahun 2022. LinkedIn membatasi penggunaan platformnya untuk orang berusia 18 tahun ke atas, jadi ada baiknya juga mengetahui bahwa 10,3 persen audiens yang “memenuhi syarat” di Indonesia menggunakan LinkedIn pada tahun 2022.

Untuk konteks tambahan, jangkauan iklan LinkedIn di Indonesia setara dengan 9,8 persen basis pengguna internet lokal (berapa pun usia) di awal tahun. Pada awal tahun 2022, 44,6 persen audiens iklan LinkedIn di Indonesia adalah perempuan, sedangkan 55,4 persen adalah laki-laki.

Data yang dipublikasikan di sumber periklanan Snap menunjukkan bahwa Snapchat memiliki 3,30 juta pengguna di Indonesia pada awal 2022. Angka ini berarti jangkauan iklan Snapchat di Indonesia setara dengan 1,2 persen dari total populasi di awal tahun. Namun, Snapchat membatasi penggunaan platformnya untuk orang berusia 13 tahun ke atas, jadi perlu juga dicatat bahwa 1,5 persen dari audiens yang “memenuhi syarat” di Indonesia menggunakan Snapchat pada tahun 2022.

Untuk konteks tambahan, jangkauan iklan Snapchat di Indonesia setara dengan 1,6 persen basis pengguna internet lokal (berapa pun usia) di awal tahun.Pada awal tahun 2022, 77,6 persen audiens iklan Snapchat di Indonesia adalah perempuan, sementara 19,7 persen adalah laki-laki.

Angka yang dipublikasikan di sumber periklanan Twitter menunjukkan bahwa Twitter memiliki 18,45 juta pengguna di Indonesia pada awal 2022. Angka ini berarti jangkauan iklan Twitter di Indonesia setara dengan 6,6 persen dari total populasi saat itu. Namun, Twitter membatasi penggunaan platformnya untuk orang-orang berusia 13 tahun ke atas, jadi mungkin bermanfaat untuk mengetahui bahwa 8,5 persen audiens yang “memenuhi syarat” di Indonesia menggunakan Twitter pada tahun 2022. Untuk konteks tambahan, jangkauan iklan Twitter di Indonesia setara dengan 9,0 persen basis pengguna internet lokal (berapa pun usia) di awal tahun.

Berdasarkan data Statista, Indonesia merupakan negara dengan pengguna whatsApp terbanyak ketiga di dunia. Jumlah pengguna whatsApp di Tanah Air mencapai 84,8 juta pengguna pada Juni 2021. Dan menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan setiap hari dengan 88% dari total pengguna medi sosial pasti menggunakan WhatsApp.

Peluang dan Tantangan

Data di atas sesungguhnya menjadikan peluang dan tantangan bagi semua aktifitas baik yang sifatnya organisasi bisnis maupun organisasi sosial, tak terkecuali lembaga dakwah. Jika mampu memanfaatkan potensi sebagaimana tersebut di atas, maka dakwah akan semakin diterima disemua kalangan, melalui platform media tersebut.

Selanjutnya apa dan bagaimana yang harus dilakukan oleh lembaga dakwah untuk memasuki dunia digital terutama menerobos dan mewarnai dakwah di media sosial ini. Berikut ini ada sepuluh tawaran dari pemahaman hingga langkah teknis yang bisa dilakukan:

Pertama, dakwah itu kewajiban setiap muslim, sehingga tidak ada alasan bagi siapapun yang mengaku muslim untuk tidak terlibat dalam proyek dakwah ini. Sehingga disemua platform media sosial, selalu sebarkan kebaikan (dakwah) sesuai dengan kemampuan, kapasitas dan keahlian masing-masing.

Kedua, niat karena Allah ta’ala, karena dunia media sosial ini bisa melenakan dan bisa jadi malah mensihir kita. Sehingga jangan sampai belok niat kita seharusnya niat untuk dakwah ilaLlah menjadi melenceng ke tujuan lainnya.

Ketiga, tingkatkan pemahaman diniyah kita dan perdalam kedekatan dengan Allah. Jangan sampai karena kita asyik di media sosial untuk niat berdakwah, kita malah lupa membangun kedekatan dengan Allah. Sesibuk apapun di medsos, shalat jamaah harus tepat waktu di masjid, dan perbanyak pula ibadah sunnah lainnya.

Keempat, memilih akun media sosial, kita berusaha memiliki berbagai akun media sosial, bukan untuk eksistensi diri semata, akan tetapi dalam kerangka dakwah tersebut. Karena memiliki akun media sosil saat ini menjadi sebuah keniscyaan. Akan tetapi, tidak semua platform kita bisa isi secara optimal. Maka sebaiknya dipilih beberapa platform yang memang sesuai dengan passion kita sekaligus sesuai dengan karakteristik pengguna platform tersebut, sehingga akan ada titik temu yang optimal.

Kelima, pelajari karakteristik platform media sosial, dimana setiap platform media sosial sesungguhnya memiliki karakteristik baik dari aspek pengguna, maupun algoritma yang ada didalamnya. Maka mempelajari dan memahaminya menjadi salah satu kunci dakwah di media sosial.

Keenam, pahami obyek dakwah (mad’u), sebagaimana keberadaan beberapa platform media sosial tersebut di atas, ternyata juga berpengaruh terhadap audiens (obyek dakwah). Sehingga dengan memahami obyek dakwah kita (yang menjadi pengguna media sosial), maka pesan-pesan dakwah itu sesuai dengan preferensi dari obyeknya masing-masing. Maka pemetaan (mapping) dakwah ini menjadi penting. Dilain pihak, jika kita dapat mengerti apa yang menjadi kebutuhan ummat, kita dapat menyampaikan dakwah yang sesuai dengan apa yang menjadi keresahan mereka.

Ketujuh, muatan (konten) dakwah yang up to date, karena beragamnya obyek dakwah sebagaimana tersebut di atas, maka siapapun akan memiliki spesifikasi berdasarkan konten dakwah yang dibawa. Maka sejatinya seorang juru dakwah masa kini juga mennjadi konten kreator, sehingga konten yang disampaikan tidak membosankan dan tepat sasaran.

Kedelapan, sinergi dan kolaborsi. Salah satu keberhasilan dari dakwah jika antar juru dakwah saling kolaborasi dan sinergi. Dimana setiap juru dakwah tentu memiliki spesifikasi di beberapa bidang, tetapi kurang di beberapa bidang yang lain, jika saling mengisi, maka kolaborasi dan sinergi dakwah ini akan mendapatkabn hasil yang dahsyat.

Kesembilan, memilih tools yang tepat, karena dakwah media sosial ini sarat dengan penggunaan teknologi, maka memilih tool, berupa aplikasi yang tepat untuk menyebarkan dakwah secara masif juga menjadi penting. Disini juru dakwah tidak harus ahli, akan tetapi bisa meminta bantuan kepada yang ahli dibidangnya, untuk menginstallakan dan mengajari cara penggunaanya. Sehingga du’at tinggal menggunakan sesuai dengan keperluannya.

Kesepuluh, istiqomah. Ini menjadi salah satu kunci. Dakwah di media sosial tidak bisa hanya hit and run. Akan tetapi konsistensi ini sangat menentukan. Terutama terkait dengan waktu (keajegan) dalam menyebarkan konten dakwah. Sehingga pengguna platform juga akan ter-update terus, akan tetapi juga jangan terlalu berlebihan dengan konten yang sama, hal ini menyebabkan kejenuhan.

Tentu realitasnya tidak hanya yang tertulis sebagaimana tersebut di atas. Masih banyak lagi cara yang bisa dilakukan. Jadi tidak ada lagi alasan bagi kita, apalagi dakwah melalui media sosial ini bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Akan tetapi setidaknya ini menjadi gambaran untuk memenangkan dakwah di media sosial. Sebab jika lembaga dakwah gagal merespon secara memadai, berkenaan dengan perkembangan teknologi tersebut, maka tidak menutup kemungkinan menjadi ancaman serius bahkan menjadi lonceng kematian bagi dakwah itu sendiri.

Setidaknya agar optimis dalam berdakwah di media sosial, kita bisa merujuk QS Ali Imran : 110


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”

Wallahu a’lam


Asih Subagyo│Sekretaris Jenderal Muslim Information Technology Association

Sekolah Dai Bogor Gelar Wisuda Angkatan ke-VII dan Penugasan

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Sekolah Dai Ciomas Bogor menggelar acara wisuda dan penugasan dakwah yang digelar di komplek Sekolah Dai, Desa Sukaharja, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jum’at, 20 Ramadhan 1443 (22/4/2022).

Acara wisuda dan penugasan mahasantri Sekolah Dai Bogor tahun akademik 2021-2022 ini dihadiri juga oleh Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Shohibul Anwar dan Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah, Nursyamsa Hadis

Hadir pula pembina Sekolah Dai Ust Samani Harjo, Ketua Departemen Sumberdaya Insani DPPH Arfan AU, Penyuluhan Agama Islam Ciomas Ust Aziz Siswanto, perangkat desa, unsur TNI, Bhabinkamtibmas Desa Sukaharja, dan perwakilan unsur lembaga dan badan pendukung seperti BMH, MTT, Andalan, dan Hisana Chicken.

Ketua Yayasan Sekolah Dai Hidayatullah oleh Ust Saepudin Abdullah, Lc mengatakan sebanyak 28 santri Sekolah Dai angkatan ke-VII ini telah mengikuti program kuliah dai intensif selama setahun.

Ia pun menyampaikan keharuannya menyaksikan wajah ceria penuh semangat para wisudawan dai yang siap ditugaskan mengemban amanah dakwah ke berbagai titik di Nusantara yang membutuhkan.

“Sebanyak 28 orang santri ini bertahan selama setahun dalam mengenyam pendidikan dai,” kata Ust Saepudin.

Saepudin pun berpesan kepada wisudawan untuk selalu bersemangat menyambut tugas dakwah dengan menjunjung tinggi adab dan hikmah dalam menebar risalah Islam. Dia juga menekankan pentingnya bagi para dai muda untuk selalu belajar.

“Semoga kelak dimanpun tempat tugasnya, jangan lupa untuk terus belajar dan belajar,” katanya berpesan.

Sementara itu Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Shohibul Anwar, dalam pidato wisuda dan penugasan mahasantri Sekolah Dai Bogor tahun akademik 2021-2022 ini menyampaikan apresiasi dan rasa syukurnya atas penyelenggaraan program kuliah dai ini.

“Alhamdulillah Sekolah Dai telah banyak mencetak dai yang tersebar di masyarakat. Mereka tinggal dan berbaur dengan masyarakat, menyelesaikan problem dari masyarakat di usia mereka yang relatif muda,” kata Shohibul.

Shohibul lantas mengungkapkan pengalamannya menyaksikan langsung kiprah para alumni Sekolah Dai dari ujung timur sampai barat Indonesia.

“Pernah ada santri dari Mentawai masih muallaf sampai dikhitan di sini. Ada yang dari Mentawai juga minta ditugaskan di tempat lain, di Halmahera,” katanya.

Shohibul yang rutin melakukan safari dakwah ini sering menjumpai dai yang mengabdi di berbagai pelosok negeri. Belum lama ini ia ke Kepulauan Aru, Maluku dan Desa Dobo, Nusa Tenggara Timur (NTT) menemui dai yang bertugas di pedalaman kawasan itu.

“Kalau dulu dia muallaf, sekarang bikin orang muallaf. Ada yang mengabdi di suku asli sana, suku Togutil. Ada juga yang di Ambon, suku Wana, ada di Flores dan masih banyak lagi,” katanya.

Shohibul merasa terharu dan bangga sebab disaat banyak orang seusia mereka mencari kemapanan, para dai muda ini malah memilih berkecimpung sibuk mengurus dakwah.

“Mereka mengabdi di tengah masyarakat untuk membangun negeri. Kami berharap semakin banyak anak-anak muda dikirim ke sini untuk kemudian dididik dan setelahnya disebarkan ke seluruh penjuru negeri untuk berdakwah,” katanya.

Shohibul mengatakan peran dan kipah Sekolah Dai tak lepas dari dukungan banyak pihak, sehingga amanah pengembangan dakwah yang dipikul ini dapat berjalan dengan baik.

“Tentu ini pengorbanan yang luar biasa dari para pengurus, pengajar, serta dukungan yang luar biasa dari organisasi dan para donatur, sehingga kegiatan Sekolah Dai bisa berkembang seperti saat ini,” imbuhnya.

Pada saat yang sama, lanjut Shohibul, para dai yang ditugaskan di berbagai titik terdepan, terpencil dan tertinggal selalu membangun komunikasi dan silaturahmi denga aparat setempat. Sehingga dai juga meneguhkan peran menjaga keutuhan NKRI dan dalam bingkai kohesi dan sinergitas.

“Dai mengabdi menjadi penggerak merajut daerah terluar dan terpencil dalam dakwah seperti yang saya saksikan sendiri di Kepulauan Aru,” tandasnya.

Senada dengan itu, Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah, Nursyamsa Hadis, mengemukakan pentingnya peran dai dalam merawat NKRI sebagaimana juga telah menjadi misi Hidayatullah.

“Salah satu peran yang paling vital adalah menjadi dai yang mengajak ke jalan kebenaran, menyerukan kebaikan, keselamatan, kemajuan, dan mengikatkan persatuan. Maka adakah pekerjaan yang lebih baik dari mengajak pada Allah dan beramal shaleh,” kata Nursyamsa.

Kendatipun wisudawan yang akan ditugaskan masih belum seberapa jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan sumber daya dai untuk total wilayah Indonesia, namun menurut Nursyamsa apa yang telah berjalan ini merupakan terobosan yang harus terus digulirkan.

Ia pun membekali para dai agar selalu menjadi pribadi pembelajar dan terus belajar memperdalam agama, karena, terangnya, bagaimana bisa memberi kalau tidak ada yang dapat diberikan.

D‌ikatakan Nursyamsa, segala sumber daya yang ada mesti diarahkan untuk menggapai ridha Allah SWT. Oleh sebab itua dia mendorong hendaknya pengelolaan apapun berkenaan dengan kepentingan dakwah mesti selalu dikuatkan termasuk dalam mempersiapkan dai melalui program Sekolah Dai.

Dia berpesan agar dai muda yang diwisuda dan akan menjalani tugas dakwah ini harus menjadi solusi pada setiap permasalahan yang ada termasuk turut memikirkan problem kebangsaan yang diantara tantangan terbesarnya adalah mengentaskan kemiskinan.

“‌Tidak ada permasalahan yang tidak selesai jika kita dapat membangun komunikasi. Jadikan shalat dan sabar sebagai penolong. Sabar bukan berarti diam, tetapi aktif dan progresif,” tandasnya.*/ Ainuddin, Makrifatullah

Kodam XVIII/Kasuari Gelar Buka Puasa Bersama Santri Hidayatullah

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) – Kodam XVIII/Kasuari gelar acara buka puasa bersama santri Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari serta antara prajurit Kodam dan masyarakat yang berada di wilayah Manokwari.

Acara ini digelar bertepatan dengan Nuzulul Qur’an Tahun 1443 Hijriyah/2022 Masehi (18/4/22), di pelataran Masjid Istiqlal Kodam, Trikora, Arfai 1, Manokwari, Papua Barat.

Dalam acara buka puasa bersama ini sekaligus dilaksanakan pemberian santunan dari Pangdam XVIII/Kasuari, Mayjen TNI Gabriel Lema, S.Sos bersama Ibu, kepada anak Yatim Pesantren Hidayatullah Manokwari.

Pangdam dalam sambutannya menghimbau agar bulan Ramadhan ini tidak berlalu begitu saja tanpa ada perbaikan dalam diri.

“Maka sudah seharusnya kita melakukan penilaian atas kualitas ibadah puasa Ramadhan yang telah kita jalani selama ini, artinya terus kita tingkatkan ibadah dan amal soleh kita di bulan Ramadhan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, ibadah yang dilaksanakan di bulan Ramadhan harus membawa perubahan positif dalam kehidupan sebagai umat Islam sekaligus aparat negara.

“Tidak hanya dalam konteks kehidupan pribadi, tetapi harus dapat memotivasi peningkatan keikhlasan dan semangat pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara yang kita cintai ini,” kata Pangdam.

Acara ini turut dihadiri dihadiri oleh Kasdam XVIII/Kasuari, Brigjen TNI Yusuf Ragainaga, Kapoksahli Pangdam, Irdam, para pejabat Kodam, Wakil Gubernur Provinsi Papua Barat, Mohamad Lakotani.

Hadir pula para prajurit beserta istri, PNS dan Ketua Persit KCK Daerah XVIII/Kasuari, Ny. Alin Gabriel Lema, S.Sos, beserta pengurus, Ketua Baznas Manokwari, Ketua BKPRMI, dan Santri dan Santriwati dari pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari. (ybh/hio)

Menggapai Lailatul Qadr dan Meraih Predikat Taqwa

0

Oleh Azhari Tammase

KINI, kita telah sampai pada 21 Ramadhan 1443 H (23/4/2022), untuk memasuki detik-detik krusial, ending Ramadhan kita, 10 hari terakhir. Ibarat babak final, inilah fase akhir kompetisi tersebut: bagaimana menggapai Lailatul Qadr.

Karena itu, perjuangan besar seharusnya diakukan ketika berada di penghujung amalan. Termasuk ketika di penghujung Ramadhan.

Al-Hafidz Ibnu Rajab (w.1393) berkata:


“يا عباد الله إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إِلّا قليل فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى.”

“Wahai para hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit. Karena itu, siapa saja yang telah beramal baik di dalamnya hendaklah dia menyempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia mengakhirinya dengan yang terbaik.”

Nabi shalallahu alaihi wasallam memberi contoh sikap dan respon ketika berada di fase ini. Yaitu, adanya mujahadah yang berlebih, kesungguhan yang bertambah, dan tekad, serta mental kesiapan diri untuk lebih maksimal.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha:


كان النبي يجتهد في العشر الأواخر ما لا يجتهر في غيره. (رواه مسلم)

“Adalah Nabi shalallahu alaihi wasallam sangat bersungguh-sungguh di 10 hari terakhir, apa yang tidak dilakukan di waktu lainnya.” (HR.Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:


عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: كان النبي إذا دخل العشر شد مئزره، وأحيا ليله، وأيقظ أهله.

Dari Aisyah ra, bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam, ketika masuk 10 hari terakhir, ia kencangkan ikat pinggangnya, ia hidupkan malamnya, dan ia bangunkan keluarganya. (HR. Bukhari-Muslim)

Kata Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 1449), ahya lailahu, bermakna begadang yang diisi ketaatan (sahirahu bit tha’ah). Sedangkan menurut Imam an-Nawawi (w. 1277), begadang dengan shalat lail dan selainnya.

وقال النبي صلى الله عليه وسلم : من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه. (رواه البخاري ومسلم)

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang bangun berdiri di malam Lailatul Qadr karena iman dan mengharap balasan, niscaya diampuni dosanya yang telah lampau.” (HR. Bukhari-Muslim)

Oleh karenanya, Lailatul Qadr mesti dicari. Mencarinya pun di 10 hari terakhir. Caranya dengan dihidupkan malamnya dengan taqarrub kepada Allah, sebagaimana nabi saw contohkan: qiyamullail, baca Al-Qur’an, dzikir, doa, munajat dan selainnya.

Lailatul Qadr tidak mungkin didapat dengan tidur. Tidak juga didapat di pusat pusat perbelanjaan dan tempat keramaian lainnya saat menjelang lebaran. Apatah lagi waktunya memang sangat singkat, usai shalat Isya sampai terbitnya fajar.

فقال عليه الصلاة والسلام :التمسوها في العشر الأواخر من رمضان ،التمسوها في كل وتر.

“Carilah ia di 10 hari terakhir, bahkan carilah di malam yg ganjil”, sebut Nabi saw memberi keterangan. Betapa beruntungnya orang yang mendapatkan malam kemuliaan tersebut. Malam yang lebih baik dari 1000 bulan, khairun min alfi syahr.

Seorang hamba beribadah 1000 bulan lamanya. Ia ikhlas, khusyu, fokus taqarrub, dan amalan itu diterima oleh Allah. Ternyata, itu lebih baik bagi hamba yang mendapatkan Lailatul Qadr, di malam tersebut.

Ibnu Jarir at-Thabari berkata:


عن مجاهد قال: كان في بني إسرائيل رجل يقوم الليل حتى يصبح، ثم يجاهد العدوّ بالنهار حتى يُمْسِيَ، ففعل ذلك ألف شهر، فأنـزل الله هذه الآية: ( لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ) قيام تلك الليلة خير من عمل ذلك الرجل

Dari Mujahid (w.104 H, murid Ibnu Abbas ra.) berkata: seorang hamba dari Bani Israil qiyamullail hingga pagi, kemudian berjihad melawan musuh di siang hari hingga sore, dan ia lakukan itu selama 1000 bulan lamanya. Maka Allah menurunkan ayat “lailatul qadr lebih baik dari 1000 bulan”. Bahwasanya: qiyam (ibadah) di lailatul qadr lebih baik dari seorang hamba tadi. (Tafsir At Thabari)

وقيل : إن العابد كان فيما مضى لا يسمى عابدا حتى يعبد الله ألف شهر ، ثلاثا وثمانين سنة وأربعة أشهر ، فجعل الله تعالى لأمة محمد – صلى الله عليه وسلم – عبادة ليلة خيرا من ألف شهر كانوا يعبدونها .

Dikatakan: “Dahulu, seseorang dikatakan abid (ahli ibadah) hingga ia beribadah kepada Allah selama 1000 bulan: 83 tahun 4 bulan. Maka untuk umat Nabi Muhammad saw, Allah jadikan ibadah semalam saja (di Lailatul Qadr), lebih baik dari seorang abid tersebut.” (Lihat Tafsir al-Qurthubi)

Lebih lanjut Imam Al-Qurthubi mengutip, bahwa Abu Bakr al-Warraq berkata: “Kerajaan nabi Sulaiman as. 500 bulan dan kerajaan Zulkarnain juga 500 bulan. Maka keduanya 1000 bulan lamanya. Kemudian Allah Taala menjadikan amalan di malam tersebut, bagi siapa yg mendapatinya, itu lebih baik dari kedua kerajaan besar tersebut. (Tafsir Al-Qurthubi)

Sehingga, di fase akhir Ramadhan kita ini, menarik merenungi ungkapan Ibnul Jauzi (w.1201) berikut:


إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع…

“Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu! Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya.. Karena itu, ketika kamu termasuk orang yang tidak baik dalam penyambutan, semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan.”

Semoga kita semua diberi taufiq dan kemudahan oleh Allah SWT, bermujahadah, dan memacu diri, bertekad untuk meraih kemenangan Ramadhan, sebagai akhir yang bahagia: menggapai Lailatul Qadr dan meraih predikat taqwa.

Azhari Tammase, pengajar di STIT Hidayatullah Batam

Bukber Hidayatullah Medan, KH Dr Arso Sampaikan 3 Spirit Ramadhan

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) KH Dr Arso, SH, MAg, menjadi narasumber dalam acara buka bersama dan sekaligus tabligh akbar bertajuk “Ramadhan Berkah, Buka Bersama di Pondok Pesantren Hidayatullah Medan” yang digelar di halaman Masjid Baitul Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Kamis sore, 20 Ramadan 1443 (21/4/2022).

Pada kesempatam taushiahnya, KH Dr Arso menyampaikan 3 hal berkenaan dengan spirit Ramdhan yang harus berupaya kita dapatkan.

Pertama, kata KH Dr Arso, adalah spirit takwa. Dia menekankan bahwa spirit takwa hendaknya menjadi buruan yang harus disergap kaum muslimin dengan penuh ketekunan ibadah agar menjadi pribadi yang muttaqin.

“Manakala kita bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan berikan keberkahan dalam hidup kita di dalam bulan Ramadhan maupun diluar bulan Ramadhan,” katanya sambil menukil firman Allah dalam Al Quran Surah Al-A’raf 7 Ayat 96:

“وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ”

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”

Kedua, lanjutnya, adalah spirit untuk meraih keutamaan Ramadhan. Yakni, bagaimana kita bisa memperoleh Rahmat Allah, dihapus dosa dosa kita yang telah lalu dan yang akan datang, serta dikabulkan doa doa kita dan dilipatgandakan pahala setiap amalan kebaikan kita.

“Karena itu, sungguh celaka, orang yang datang kepadanya peluang dan kesempatan bulan Ramadhan tetapi ternyata ia tidak mendapatkan Rahmat-Nya. Aduhai, sungguh meruginya, dan betapa ia akan menyesalinya nanti,” katanya.

Ketiga, adalah spirit meraih prestasi dan kemenangan di Bulan Ramadhan. Arso menamsilkan prestasi itu sebagaimana yang terjadi pada perang Badar yang juga terjadi di bulan Ramadhan.

Dia menyebutlan, dalam perang Badar ini, Rasulullah SAW memimpin pasukan muslim dengan jumlah hanya 313 orang, 8 pedang, 6 baju perang, 70 ekor unta dan 2 ekor kuda. Sedangkan kaum kafir Quraisy berjumlah 1000 orang, 600 senjata lengkap, 700 unta dan 300 kuda.

“Alangkah tidak sebandingnya jumlah itu. Namun jangan dikira jumlah yang sedikit itu serta puasa mereka yang mereka jalankan, kemudian membuat mereka lemah dan loyo. Tidak!,” imbuhnya.

Dia menerangkan, meskipun diizinkan bagi mereka untuk berbuka, namun tetap saja ada banyak yang berpuasa dan ternyata kemenangan ada di pihak kaum muslimin ketika itu.

“Oleh karena itu jangan lewatkan hembusan rahmat-Nya di bulan suci penuh berkah ini kali ini,” sambungnya.

KH Arso pun mengajak merenung bahwa anggaplah ini adalah Ramadhan terakhir kita sehingga kita harus tingkatkan ibadah dan kejuangan kita. Karena kita toh juga tidak tahu, apakah kita masih diperkenankan oleh Allah SWT untuk kembali bertemu dengan bulan Ramadhan tahun depan.

Sehingga, dengan begitu, lanjut Arso, kita bisa menambah dan menambal amal shaleh kita yang jauh dari sempurna dan masih kurang. Di Ramadhan kali ini kita harus tingkatkan ibadah dan kejuangan kita.

“Manusia ini, di dunia ini, sebenarnya terbagi menjadi dua saja. Pertama, manusia yang mengundang rahmat-Nya, dan, Kedua, manusia yang mengundang laknat-Nya,” katanya.

Beliau selanjutnya berpesan kepada para santri dan warga Hidayatullah agar hendaknya menjadi manusia manusia yang berada do barisan hamba Allah yang mengundang Rahmat-Nya.

Lantas bagaimana cara mengundang rahmat Allah SWT? KH Arso mengatakan bahwa hal itu telah dijelaskan oleh Allah di dalam surat Taubat ayat 71:

وَا لْمُؤْمِنُوْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۘ يَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. “Mereka akan diberi rahmat oleh Allah swt.” Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Disamping itu, beliau selanjutnya menyampaikan kultumnya selepas shalat jamaah Isya’ bersama santri dan warga. Dalam kultumnya KH Arso menyatakan kesannya setelah kurang lebih tiga jam berada di Pondok Pesantren Hidayatullah Medan ini.

Ia megaku merasakan dan mengamati suasana Pondok Pesantren Hidayatullah Medan ini. Selain suasanya yang teduh, rindang, sejuk oleh banyaknya pepohonan, ia juga mengapresiasi bahwa inilah tempat menangkal bala’.

Kalimat itu ia lontarkan disertai takbir yang kemudian dikuti oleh takbir seluruh jamaah yang mengema memenuhi ruangan masjid yang besar dan indah itu.

Arso mengaku terharu melihat para santri di dalam masjid. Santri di sana sini pegang Al Qur’an, dibacanya, shalat berjamaah di masjid,
sholat sunnah, damn juga pakaiannya serba putih.

“Mereka di sini selalu beribadah kepada Allah di masjid, mengaji, tadarraus, berdoa di masjid. Inilah yang akan menangkal bala’,‘” kata beliau.

Kemudian beliau menyitir sebuah hadits qudsi yang diambil dari Tafsir Jaamiul Bayan Li Ahkamil Qur’an oleh As – Syaikh Al Qurthuby ketika menafsirkan Surat An-Nur ayat 36 hingga 38, yang berbunyi:

فِيْ بُيُوْتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ ۙ يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِا لْغُدُوِّ وَا لْاٰ صَا لِ

“(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang” (QS. An-Nur 24: Ayat 36)

رِجَا لٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَا رَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِ قَا مِ الصَّلٰوةِ وَ اِيْتَآءِ الزَّكٰوةِ ۙ يَخَا فُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَا لْاَ بْصَا رُ

“Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),”
(QS. An-Nur 24: Ayat 37)

لِيَجْزِيَهُمُ اللّٰهُ اَحْسَنَ مَا عَمِلُوْا وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ ۗ وَا للّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ بِغَيْرِ حِسَا بٍ

“(mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.” (QS. An-Nur 24: Ayat 38)

Di dalam tafsirnya, Al Qurthuby menyitir sebuah hadits qudsi sebagai berikut:

قال مالك بن دينار: بلغنا أن الله عز وجل يقول: «إني أهم بعذاب خلقي، فأنظر إلى جلساء القرآن وعمار المساجد، وولدان الإسلام، فيسكن غضبي»

Malik bin Dinar berkata , telah sampai kepada kami bahwa Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Aku (Allah) betul-betul ingin mengazab makhlukku ( ummat manusia ) , akan tetapi kemudian Aku melihat majlis Al – Qur’an ( membaca, mempelajari, mentadabburi ,mengkaji Al Qur’an ) , Aku melihat orang – orang yang memakmurkan masjid , dan Aku melihat anak- anak muslim ( generasi muslim ) , maka serta merta meredalah murkaKu ( padamlah AmarahKu)” ( Tafsir Jamiul Bayan Li Hakamil Qur’an).

Maka dengan berapi api beliau meninggikan suaranya yang lantang, meskipun beliau sudah berusia 81 tahun:

“Saya melihat, disinilah tempat menangkal bala’ dan bencana itu. Saya yakin inilah tempat yang mengundang berkah itu. Maka kalian wahai para santri, tetaplah semangat belajar di tempat ini, jadilah kalian para pejuang. Jadilah kalian hamba Allah yang shaleh, teruslah kalian belajar dan beribadah kepada Allah. Kalian akan dimuliakan oleh Allah,” demikian pesan beliau yang diikuti sekali lagi gempita takbir para jamaah dan santri”.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan kepada kita semua bahwa hari ini sedang terjadi usaha pendangkalan aqidah, pelemahan ibadah, dan pendagrasian moral.

“Oleh karena itu kita harus menyiapkan kader kader yang tangguh untuk membendung usaha tersebut,” tandasnya.

Pada kesempatan buka bersama ini turut hadir Ketua DPW Hidayatullah Sumut Ust Subur Pramudya beserta sejumlah jajaran, Ketua Yayasan Hidayatullah Medan Ust Ali Ibrahim Akbar beserta staf yayasan serta guru dan pengasuh.*/Choirul Anam

Wakil Ketua MUI Provinsi Sumut Serukan Sinergitas Dakwah

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) KH Dr Arso, SH, MAg, menyampaikan kebanggaannya kepada Kampus Hidayatullah Medan atas kiprahnya selama ini dan menyerukan hendaknya terus mengeratkan sinergi untuk bersama teguh di jalan dakwah.

KH Dr Arso menyampaikan itu saat menjadi narasumber dalam acara buka bersama dan sekaligus tabligh akbar bertajuk “Ramadhan Berkah, Buka Bersama di Pondok Pesantren Hidayatullah Medan” yang digelar di halaman Masjid Baitul Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Kamis sore, 20 Ramadan 1443 (21/4/2022).

Pada kesempatan tersebut, KH Arso melaporkan ihwal terobosan MUI Sumut yang menggulirkan program “Pendidikan Tinggi Kader Ulama” yang fokus belajarnya adalah mendalami ilmu keislaman terutama penguasaan bahasa Arab dan kitab kuning.

Arso menyebutkan, semua biaya pendidikan program tersebut mulai dari fasilitas asrama, makan dan biaya hidup, serta kitab-kitabnya ditanggung penuh oleh MUI. “Alhamdulillah tahun ini ada 24 orang mahasantri yang sedang menyelesaikan tugas belajarnya,” katanya.

Para alumni program pendidikan MUI Sumut tersebut diterjunkan ke daerah daerah minoritas yang membutuhkan para da’i untuk mengembangkan sayap dakwah disana. Diantaranya dikirim ke Pulau Samosir Kabupaten Simalungun.

Karena tantangan dakwah yang cukup luas dengan beragam dinamikanya, KH Dr Arso pun berharap Hidayatullah juga terus menguatkan gerakan dakwah di pedalaman tersebut. “Semoga Hidayatullah juga turut andil mengirimkan dai dainya ke sana,” katanya.

Arso mengatakan, ia sebenarnya baru saja pulang dari mengunjungi daerah binaan MUI di pulau Samosir tersebut yaitu tepatnya di desa Panguluran. Beliau menceritakan bagaimana kondisi ummat Islam di sana yang minoritas.

Arso menyebutkan, sekira 50 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1972, ia pernah datang kesana pertama kalinya dalam rangka dakwah.

“Ketika itu ummat Islam di sana hanya memiliki mushalla kecil yang lantainya belum disemen, jorok dan kotor, terkesan tidak terurus, karena memang hampir tidak pernah ditempati untuk shalat warganya. Namun sekarang sudah berubah menjadi masjid besar bahkan bertingkat. Ada madrasahnya dan ada rumah ustadznya atau imam,” kata ulama ini penuh haru.

Hingga kini MUI Sumatera Utara masih juga mengirimkan tenaga da’inya ke sana yang diambil dari alumni Pendidikan Tinggi Kader Ulama yang dikelola MUI Sumatera Utara.

“Tidak hanya di Samosir, MUI Sumut juga mengirimkan dai sebanyak 15 orang tahun ini, ke tanah Karo untuk mengembangkan dakwah Islam di sana,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Anggota Dewan Fatwa Pengurus Besar (PB) Al Washliyah ini menyapa para santri dan pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Sumatera Utara. Dia mengungkapkan rasa bangganya kepada kader Hidayatullah Medan karena pengurusnya adalah generasi muda semua.

“Jarang sebuah pesantren yang dikelola oleh kaum muda,” katanya seraya berpesan kepada semua kader Hidayatullah agar jangan segan segan bersilaturrahmi dengan MUI karena MUI adalah rumah besar umat Islam.

Selaku petinggi MUI di kawasan yang masyhur dengan senandung “Mar Sipature Hutana Be”, Arso juga menginformasikan dan mengundang ormas Islam hadir dalam agenda rumah besar umat Islam itu dalam beberapa waktu ke depan diantaranya bersilaturrahim dengan Gubernur.

“Semoga pengurus Pesantren Hidayatullah dan perwakilan dari Pimpinan Wilayahnya bisa turut hadir dalam acara tersebut nantinya,” katanya.

Berkaitan dengan momentum Ramadhan, KH Arso menyampaikan pesan pesan spiritual yang menggugah para santri dan warga Hidayatullah. Beliau menyitir sebuah hadits Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam yang berbunyi:

“أتاكم رمضانٌ ، شهرُ بركةٍ ، يغشاكم اللهُ فيه ، فَيُنزِلُ الرحمةَ ، ويَحُطُّ الخطايا ويَستجيب فيه الدعاءَ ، وينظر اللهُ تعالَى إلى تنافُسِكم فيه ، ويُباهي بكم ملائكتَه ، فأَرُوا اللهَ من أنفُسِكم خيرًا ، فإنَّ الشَّقِيَّ من حُرِمَ فيه رحمةَ اللهِ عزَّ وجلَّ.” أخرجه الطبراني

“Telah datang kepada kamu sekalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Bulan dimana Allah SWT mengunjungi kalian, kemudian Dia menurunkan Rahmatnya, Allah hendak menghapus dosa – dosa kalian, Allah hendak mengabulkan do’a kalian, Allah hendak melihat kalian berlomba – lomba dalam kebaikan didalamnya, dan Allah membangga – banggakan kalian dihadapan para malaikatNya. Oleh karena itu tampakkanlah oleh kalian akan kebaikan kalian kepada Allah. Karena sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang tidak mendapatkan Rahmatnya Allah SWT. (Saat Allah membagi rahmatNya di bulan Ramadhan ini)” (HR. Tabraniy).

“Ramadhan telah menaungi kita. Ramadhan bagaikan tenda yang menaungi kita. Marilah kita masuk ke dalam tenda Ramadhan untuk Meramadhankan diri kita, meramadhankan hidup kita, meramadhankan siang dan malam kita yang kita lalui. Kerja dan istirahat kita harus bernilai Ramadhan,” katanya beramanat.*/Choirul Anam

Inilah 5 Titipan Wejangan untuk Santri Hidayatullah dari Ulama Sepuh

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) KH Dr Arso, SH, MAg, menjadi narasumber dalam acara buka bersama dan sekaligus tabligh akbar bertajuk “Ramadhan Berkah, Buka Bersama di Pondok Pesantren Hidayatullah Medan” yang digelar di halaman Masjid Baitul Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Kamis sore, 20 Ramadan 1443 (21/4/2022).

Pada kesempatam taushiahnya, ulama sepuh berusia 81 tahun KH Dr Arso menitipkan 5 poin wejangan kepada santri dan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Medan.

Pesan KH Dr Arso yang pertama adalah hendaknya menegakkan nilai nilai “Julasaa’ul Qur’an”. Yaitu, senantiasa berada di dalam majelis Al Qur’an dan harus dihidupkan terus menerus dengan membaca , mentadabburi, memahami, mengkaji dan mendalaminya melalui tafsirnya.

“Kedua, ‘Ummaarul Masaajid’, yaitu jadilah orang orang yang memakmurkan masjid. Hidupkan shalat berjamaah, galakkan shalat sunnah, dan membudayakan ta’lim diniyyah,” katanya.

Ketiga, lanjut KH Arso, adalah menguatkan nilai “Wildaanul Islam”, yakni menyiapkan generasi Islam seperti bagaimana selalu menyiapkan kader Islam untuk menyongsong masa depan kejayaan Islam dalam membangun Peradaban Islam.

Keempat, “Alhubb Bainal Muslimin” atau saling mencintai sesama muslim. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Rawe – rawe rantas, malang- malang tuntas.

“Kelima, ‘Wal Mustaghfiriina Bil Ashaar’, yakni membiasakan bangun malam untuk istighfar, tahajjud, dan qiyamullail,” tandasya.

Pada kesempatan buka bersama ini turut hadir Ketua DPW Hidayatullah Sumut Ust Subur Pramudya beserta sejumlah jajaran, Ketua Yayasan Hidayatullah Medan Ust Ali Ibrahim Akbar beserta staf yayasan serta guru dan pengasuh.*/Choirul Anam