MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Albayan Hidayatullah kampus utama Makassar dan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel akan kembali melaksanakan Pernikahan Mubarak 2022.
“Pernikahan Mubarak Hidayatullah insyallah direncanakan pelaksanaan pada 18 Juni mendatang,” ungkap Ketua Steering Committe (SC) Ust Abd Qadir Mahmud MA di Makassar, seperti dikutip media ini dari laman Hidayatullahmakassar.id, Sabtu, 12 Syawal 1443 (14/5/2022).
Pernikahan Mubarak merupakan agenda rutin tahunan Hidayatullah di setiap kepengurusan wilayah dan daerah bekerjasama pelaksanaanya dengan kampus utama maupun kampus madya.
Kegiatan ini menikahkan para kader Hidayatullah secara bersamaan. Prosesnya dilakukan dengan standar ketat sesuai syariat Islam. Telah menjadi tradisi dilaksanakan hampir seusia Hidayatullah, 50 tahun.
Ketua Departemen Dakwah dan Layanan Ummat Yayasan Albayan tersebut mengungkapkan, pihaknya menargetkan Pernikahan Mubarak 2022 ini akan mengikutkan 20-an pasangan ustadz dan ustazah muda Hidayatullah.
Untuk itu pihaknya berharap bagi keluarga dan kader atau pihak lain yang telah memiliki niat untuk menjadi peserta Pernikahan Mubarak agar dapat menghubungi pihak panitia bagi SC maupun OC.
Ketua Organizing Committe Ust Muh Alyas menjelaskan, sebagaimana pelaksanaan Pernikahan Mubarak Hidayatullah selama ini, akan diawali dengan menjaring kader yang dianggap sudah layak nikah, perjodohan sekufu sesuai syari’at, proses khitbah (pelamaran), hingga walimah (acara pernikahan). Seluruh rangkaian proses tersebut diusahakan sesuai dengan tuntunan sunnah Nabi.
Yang tak kalah penting, tambahnya, pasangan calon pengantin akan mengikuti pembekalan pra nikah atau karantina. Pembekalan akan diadakan selama 10 atau 14 hari berturut-turut.
“Selama masa karantina, berbagai bekal ilmu telah disiapkan oleh panitia. Mulai dari kesiapan mental, penguatan visi misi Pernikahan Mubarakah hingga kedudukan nikah dalam syariat Islam. Tak ketinggalan beberapa adab fiqh dan doa-doa juga diajarkan kepada calon mempelai, terkait adab penyerahan mahar, etika malam pertama, hingga teori komunikasi bertemu dengan calon mertua,” urai Ketua Dept Ekonomi Yayasan Albayan tersebut.*/Firmansyah Lafiri
KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Kerukunan antar umat beragama merupakan salah satu kunci terciptanya demokrasi yang aman dan damai. Karena itu, seluruh tokoh agama dan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) diharapkan mampu untuk menjadi penyejuk dan memberi pencerahan kepada masyarakat untuk terus saling menghargai serta menghormati antar sesama pemeluk agama, terutama dalam menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) pada tahun 2024 mendatang.
Hal tersebut diungkapkan oleh Drs. H. Yakub Akbar Moita, Ketua FKUB Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) saat menjadi narasumber dalam Dialog Forum Umat Beragama bertema “Meneguhkan dan Menjaga Kerukunan Umat Beragama, untuk Mensukseskan Pemilu Serentak 2024” yang diselenggarakan oleh Kantor Kesbangpol Kabupaten Konawe, Jumat, 12 Syawwal 1443 H (13/5/2022).
Di hadapan 35 orang peserta yang merupakan para pengurus FKUB, pimpinan ormas, pengurus pesantren, dan tokoh lintas agama tersebut Yakub juga menjelaskan, salah satu tahapan pemilu yang sangat rentan menimbulkan bibit permusuhan yang berakibat pada pemilu yang tidak damai dan aman, adalah kampanye.
Oleh karena itu, jelas Yakub, pada masa-masa kampanye, peran para tokoh agama menjadi sangat penting dalam meredam potensi perpecahan yang mungkin terjadi dalam tahapan ini.
Yakub juga menjelaskan bahwa, idealnya dalam tahapan ini para peserta pemilu dapat mengkondisikan pihaknya dengan cara tidak melakukan kampanye jahat dan kampanye hitam (black campaign), menghindari model kampanye yang provokatif baik verbal, visual, dan fisik.
Yakub juga menekankan menjauhi perasaan intimidatif dan koruptif yang dijadikan alat untuk mengendalikan masyarakat pada pilihan-pilihan tertentu.
“Damai tak cukup dideklarasikan, damai harus dibuat (menjadi) nyata. Kedamaian pemilu akan terwujud jika kampanye benar-benar jadi ajang edukasi politik untuk adu gagasan dan program,” tukas Yakub.
Pada akhirnya Yakub pun berpesan agar para tokoh agama dan pengurus FKUB dapat terus aktif menumbuhkan rasa kebangsaan diantara umat beragama agar terwujud Pemilu yang damai.
Sejurus dengan itu, Muh. Azwar, S.Sos., M.Si. Ketua KPU Konawe yang juga menjadi pemateri dalam dialog tersebut mengapresiasi peran serta FKUB dalam memberikan pencerahan kepada umat beragama agar bersama mewujudkan sukses pemilu pada tahun 2024 nanti.
Dalam sesi diskusi Ust. La Bihanas, S.Pd selaku Sekretaris DPD Hidayatullah Konawe mengharapkan agar kegiatan seperti ini lebih intens digelar, terutama agar dapat menghadirkan ketua-ketua partai politik dalam diskusi bersama menciptakan kondusifitas semasa pemilu.*/Noer Akbar
KONTEN “Tutorial Jadi G4y di Indo” di acara siniar (podcast) milik YouTuber Deddi Corbuzier mendadak viral dan menuai banyak kecaman sejak pertama kali diunggah pada 7 Mei 2022. Hingga kemudian Protes yang dilayangkan tersebut sampai meramaikan linimasa Twitter beberapa hari lalu. Tagar Unsubscribe Podcast Corbuzier sempat menjadi trending topic di Twitter Indonesia dengan lebih dari 12 ribu tweet pada 9 Mei 2022.
Usai podcast Deddy Corbuzier ramai diperbincangkan, melalui akun Instagramnya, ia pun meminta maaf atas video tersebut. Dalam unggahan itu, ia juga memberikan penjelasan mengenai video podcast yang dibuatnya tersebut.
“Sejak awal saya bilang tidak mendukung kegiatan LGBT. Saya hanya melihat mereka sebagai manusia. Hanya membuka fakta bahwa mereka ada di sekitar kita dan saya Pribadi mereka tidak berhak menjudge mereka,” tulisnya seperti dikutip dari akun Instagram @mastercorbuzier.
Lewat unggahan itu pula, ia menjelaskan video tersebut sudah di-take down dan kini sudah tidak bisa ditemukan di kanal Youtube-nya. Tidak hanya itu, ia juga mengunggah video klarifikasi bersama dengan Gus Miftah. Lewat video tersebut, Deddy menyebut alasannya mengangkat video tersebut karena fenomena pasangan sesama jenis nyata adanya.
Bagaimana Islam memandang kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) ini?
Sebelum masuk kesana ada baiknya kita memahami dulu bahwa LGBT adalah kelompok manusia pengidap penyakit seks menyimpang (Gender Identity Disorder). Di akhir zaman yang bercirikan liberalisme ini mereka secara terang-terangan menyebarkan ‘penyakit’ mereka ke seluruh elemen masyarakat melalui lobi-lobi politik dan sosial demi mendapatkan hak yang sama dengan orang-orang normal lainnya.
Sejak 1952 melalui DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder), menyebutkan bahwa homoseksual adalah gangguan sosio-phatik. Gangguan tersebut tidak sesuai dengan norma sosial, sehingga merupakan perilaku yang abnormal. Tapi kemudian teks book DSM tersebut kelak disusun kembali oleh American Psychiatric Association (APA), yang menyatakan bahwa homoseksual bukan suatu gangguan mental atau kejiwaan.
Sedangkan WHO pada tahun 1992 menyatakan, homoseksual bukanlah suatu penyakit. Perubahan status itu adalah hasil kerja keras dan lobi militan para pegiat LGBT.
Menurut Sekjen Aliansi Cinta Keluarga (AILA), Rita Soebagio, M.Si seperti dikutip dari Hidayatullah.com, lima dari tujuh orang tim task force DSM adalah homoseksual dan lesbian, sisanya adalah aktivis LGBT. Maka, menurutnya, sangat wajar jika kini LGBT tidak dianggap lagi sebagai bagian dari gangguan sosio phatic dan penyimpangan, sebab yang merubahnya adalah para aktivis LGBT sendiri.
Bagaimana pandangan Islam?
Bagi Islam, yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Meski seandainya seluruh dunia menetapkan sesuatu yang haram menjadi halal sekalipun, maka dalam Islam hukum haram sesuatu itu tetaplah tidak berubah.
Contohnya perbuatan kaum LGBT ini, atau populer disebut liwath adalah perbuatan yang diharamkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan ijma. Oleh karena itulah, para ulama bersepakat (ijma’) atas keharamannya, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah:
أجمع أهل العلم على تحريم اللواط ، وقد ذمه الله تعالى في كتابه ، وعاب من فعله ، وذمه رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Ulama bersepakat atas keharaman sodomi (liwath). Allah Ta’ala telah mencelanya dalam Kitab-Nya dan mencela pelakunya, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mencelanya.” (lihat Kitab Al-Mughni).
Di dalam Al-Qur’an begitu banyak celaan atas perbuatan yang memiliki orientasi seksual kepada sesam jenis ini.
Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?” (QS.al-A’raaf: 80)
Allah Ta’ala menyebutkan bahwa perbuatan yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth ‘alaihis salam (kaum Sadum/Sodom), merupakan perbuatan fahisyah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menyebutkan bahwa Fahisyah adalah suatu perbuatan yang sangat hina dan mencakup berbagai macam kehinaan serta kerendahan.
“الخصلة التي بلغت – في العظم والشناعة – إلى أن استغرقت أنواع الفحش”.
“Perbuatan yang sampai pada tingkatan mencakup berbagai macam kehinaan, jika ditinjau dari sisi besarnya dosa dan kehinaannya!”. (lihat Tafsir As-Sa’di).
Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas. (Al-A’raaf: 81).
Imam al-Baghawi rahimahullah, menjelaskan makna “musyrifiin (melampui batas)” yakni مجاوزون الحلال إلى الحرام. Melampui batasan yang halal (beralih) kepada perkara yang haram”. (Lihat Tafsir Al-Baghawi).
Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat dosa itu. (Al-A’raaf: 84)
Mereka ini sesungguhnya layak untuk disebut “penjahat seksual”, karena telah melakukan kejahatan (kriminal) dalam menyalurkan hasrat seksual mereka ditempat yang terlarang.
(Nabi) Luth berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan adzab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zhalim“. (QS. al-Ankabut: 30-31)
Kemudian Allah membinasakan kaum Sodom ini dengan siksaan yang sangat ngeri. Allah Berfirman:
Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras (QS.al-Hijr: 73-74).
Rasulullah Saw juga melaknat perbuatan kaum Sodom ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, beliau sampaikan sampai tiga kali ”. (HR. Ahmad, dihasankan Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth)
Bahkan Nabi Shalallahu alaihi wasallam, mencegah kecenderungan yang mengarah ke perbuatan tersebut sejak awal.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki”. (HR. Bukhari)
Dan telah diketahui, bahwa perbuatan yang terkena laknat Allah atau Rasul-Nya termasuk dosa besar. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Definisi dosa besar yang terbaik adalah: dosa yang ada had (hukuman tertentu dari agama) di dunia, atau ancaman di akhirat, atau peniadaan iman, atau mendapatkan laknat atau kemurkaan (Allah) padanya.” (Lihat Tafsir as-Sa’di, Qs.4:31)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar mereka diusir dari dalam rumah.
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang bergaya wanita dan wanita yang bergaya laki-laki”. Dan beliau memerintahkan, “Keluarkan mereka dari rumah-rumah kamu”. Ibnu Abbas berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengeluarkan si fulan, Umar telah mengeluarkan si fulan. (HR.Bukhari)
Hikmahnya adalah agar mereka tidak menemui para wanita atau laki-laki di dalam rumah sehingga akan membawa kerusakan di dalam rumah.
Jadi, perbuatan kaum LGBT (liwath) adalah bentuk perbuatan yang keji, hina, menjijikkan serta salah satu dosa besar. Liwath juga merupakan penyakit yang menyimpang dari fitroh yang lurus, ketidaksesuaian tabiat, kodrat, dan merusak tatanan kehidupan sosial. Semoga kita semua dijaga Allah SWT. Aamiin.*/
Azhari Tammase, dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatullah Batam
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Ormas dan pesantren Hidayatullah didorong untuk meningkatkan pemberdayaan aset berupa lahannya yang tersebar di berbagai kampus/kota se-Indonesia.
Hal ini mencuat dalam sebuah diskusi ekonomi keumatan di Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, beberapa waktu lalu.
Salah seorang narasumber dalam talkshow itu, Ir Satria Iman Pribadi, memberi contoh ormas Islam lainnya yang memiliki banyak aset lahan. Misalnya Muhammadiyah. Ada pula Nahdlatul Ulama yang, menurut Satria, aset NU dimiliki oleh setiap pesantren NU di berbagai daerah.
“Kalau dilihat aset lahan, dugaan saya lebih besar lahan yang dipunya Hidayatullah dibanding Muhammadiyah. Muhammadiyah punya sedikit-sedikit di kota tapi nilainya besar, ada perguruan tinggi,” ujar Satria sebagaimana tayangan di Youtube Ummulqura Hidayatullah, pantauan Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah, pertengahan Syawal 1443H/Mei 2022M.
Sementara Hidayatullah, tambahnya, memiliki aset yang hitungannya hektare-hektare di berbagai kampus pesantren di kota-kota se-Indonesia.
“(Aset) Muhammadiyah ratusan triliun, besar. Hidayatullah perlu mendata juga berapa nilai aset(nya),” ujar Direktur Yayasan International Islamic School (INTIS) Balikpapan ini.
“Kita perlu berdayakan lahan-lahan kita ini. Itu yang kami coba insya Allah di Ahlus Shuffah,” ujar Pembina Agrobisnis dan Eduwisata Ahlus Shuffah Gunung Binjai ini di depan ratusan jamaah offline dan online hari itu, Ahad, 22 Ramadhan 1443H (24/04/2022).
Dalam menggarap lahan-lahan Hidayatullah itu, Satria menyarankan agar pesantren melibatkan peran serta para santrinya.
“Siapa yang mau mengerjakan? Kalau profesional mahal harganya, harus bayar orang. maka kita punya santri. Banyak pesantren sukses dari upaya santri,” ujarnya dalam diskusi bertema “Menguatkan Ekonomi Keumatan Menuju Hidayatullah Sejahtera, Mandiri, dan Berpengaruh 2030” itu.
Sebenarnya pelibatan santri dalam penggarapan lahan bukan hal aneh bagi Hidayatullah. Dari dulu hingga saat ini, proses pendidikan lapangan terus berkelanjutan, tentu dengan berbagai penyesuaian.* (SKR/MCU)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Promosi yang mengkampanye perilaku menyimpang Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) terutama di internet dinilai sangat terstruktur, sistematis dan masif. Oleh sebab itu, gempuran tersebut harus dilawan, ditolak, bahkan dihilangkan dengan cepat.
“Jangan sampai anak anak, murid murid, para remaja bahkan kaum dewasa terpapar pola pikir LGBT. Oleh karena LGBT sangat membahayakan, maka harus ditolak, dilarang dan dihilangkan. Jangan sampai terlambat. Harus gerak cepat,” kata ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI kepada media ini, Kamis, 11 Syawal 1443 (12/5/2022).
Abdullah menjelaskan, LGBT adalah penyimpangan dari ajaran Islam dan hukumnya haram. Perilaku menyimpang ini banyak sekali dampak negatif bahkan sangat berbahaya yang merupakan penyimpangan seksual dari fitrah manusia dan penyimpangan dari tujuan syariah Islam.
“Tujuan syariah Islam adalah menjaga agama, menjaga akal, jiwa, keturunan dan harta. Jika penyimpangan LGBT berkembang maka akan kacau dan hancurlah ajaran agama, paradigma berfikir, kesucian jiwa, kesucian keturunan, dan tuntunan tentang harta,” terang Abdullah.
Abdullah menegaskan bahwa LGBT membahayakan eksistensi manusia dan keharmonisan kehidupan. Bahkan, terangnya, akan menyebabkan kehancuran generasi penerus Bangsa dan Negara.
Abdullah mendorong siapa saja yang memiliki otoritas baik pribadi, keluarga, komunitas, negara, permerintah dan otoritas internasional, harus bergerak untuk menolak, melarang dan menghilangkan LGBT. Kemudian diganti dengan ajaran dan budaya yang suci, fitrah, adil, tulus, membahagiakan manusia secara hakiki, serta menyelamatkan eksistensi manusia dan alam semesta secara berkelanjutan.
Lebih jauh Abdullah menekankan, dalam tataran keluarga, sekolah dan pesantren sebagai institusi pendidikan, harus menyelamatkan anak-anak, murid-murid, peserta didik dan remaja dari gempuran kampanye penyimpangan LGBT.
“Penyebaran LGBT dilakukan para pendukungnya lewat dunia digital maupun konvensional secara terstruktur, sistematis dan masif. Maka yang harus dilakukan adalah memberi pemahaman secepat mungkin dan sejelas-jelasnya kepada generasi muda bahwa LGBT itu ajaran buruk, sesat, merusak dan menghancurkan kehidupan manusia,” katanya menekankan.
Abdullah menegaskan bahwa dalam hidup tidak ada kebebasan mutlak, yang, oleh karena itu, hidup harus ditata dan diatur dengan tatanan dari Allah SWT, Tuhan Pencipta dan Pengatur alam semesta.
Di sisi lain, pengembangan LGBT dilakukan dengan sangat rapi, cerdas dan tersistem, yang hanya bisa dilawan, dicegah, dan dihilangkan dengan tuntunan dan cara hidup berdasarkan ajaran bimbingan Tuhan.
Olehnya itu, lanjut Abdullah, pencegahan dan pemberantasan LGBT harus dilakukan dengan pemahaman, pendalaman, dan pelaksanaan ajaran Al Qur’an, Sunnah Nabi, serta ajaran Islam secara keseluruhan dengan baik dan berkelanjutan.
“Ajaran tentang Tauhid, akhlak, syariah, ibadah, muamalah, amar ma’ruf nahi munkar serta hidup berjamaah dan berkepemimpinan yang jujur, adil dan mulia, harus diajarkan kepada seluruh rakyat secepat mungkin dan seluas-luasnya,” tambahnya.
“Semoga Allah senantiasa menjaga, melindungi, dan menyelamatkan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda sebagai penerus Bangsa dan Negara menuju NKRI yang adil, makmur dan berperadaban mulia,” imbuhnya menandaskan.
Seperti diketahui, kian masifnya kampanye LGBT dan perilaku permisif menyimpang lainnya yang dilakukan secara terselubung terutama di dunia maya berupa siaran podcast meresahkan masyarakat. Apalagi kampanye perilaku menyimpang ini sukar dibendung karena belum ada undang undang yang mengaturnya.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dalam cuitannya di Twitter, mengungkapkan bahwa (podcast) LGBT tidak dapat dilarang karena tidak ada hukum Indonesia yang bisa menjerat pengusung dan penyiarnya.
Menurutnya, berdasar asas legalitas orang hanya bisa diberi sanksi heteronom (hukum) jika sudah ada hukumnya. Jika belum ada hukumnya maka sanksinya otonom (seperti caci maki publik, pengucilan, malu, merasa berdosa, dll). (ybh/hio)
ALHAMDULILLAH, segala puji bagi Allah yang telah memberi kesempatan kesekian kalinya kepada kita untuk menikmati hidangan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri. Jamuan Ramadhan tak sebatas sahur dan berbuka dengan aneka makanan dan minuman yang lezat.
Jamuan Ramadhan yang paling utama adalah gemblengan dari Allah swt berupa shiyam dan qiyam. Di siang hari kita menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami isteri, sedang di malam harinya disunnahkan memperbanyak berdiri, ruku’ dan sujud, serta tilawah al-Qur’an dan bermunajat.
Inilah Training Center yang terbesar dan spektakuler. Bayangkan, dalam training ini Allah sendiri bertindak sebagai instrukturnya, sedang semua kaum muslimin di seluruh penjuru dunia menjadi pesertanya. Tak ada diskriminasi kecuali yang berhalangan. Semua yang berpuasa wajib mengikuti ketentuan yang sama, yaitu tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
Training atau lebih tepatnya Madrasah Ramadhan ini terbuka untuk umum. Siapa saja yang mengaku beriman, akan terpanggil memenuhi kewajiban sebagai peserta. Yang kafir, yang munafiq, yang setengah beriman, yang pura pura beriman, silahkan minggir dulu.
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah: 183)
Ayat di atas diawali dengan seruan wahai orang yang beriman. Artinya orang yang tidak beriman, sekalipun memenuhi semua ketentuan berpuasa, tidak makan dan minum sepanjang hari, mereka terkena diskualifikasi. Puasanya sia-sia. Mereka tidak mendapat hasil training ini kecuali lapar dan dahaga saja.
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i).
Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang beriman, orang yang diseru menjalankan ibadah shiyam Ramadhan. Mudah-mudahan kita dapat meraih gelar muttaqin, lulus sebagai orang-orang yang bertaqwa. Mudah-mudahan kita menjadi juara di sisi Allah SWT.
Allah adalah Rabb, pendidik seluruh alam. Dia Maha hidup, tidak tidur, tidak ngantuk, dan tidak mudah lupa. Dia mendidik dan mentarbiyah kita setiap saat dan waktu. Dia telah mengajarkan kepada kita tentang berbagai hikmah di semua peristiwa. Sayang hanya kelompok ulul albab, orang-orang cerdas saja yang mau mengambil pelajaran. Adapun sebagian besar manusia yang lain, baru mengambil pelajaran ketika diberi peringatan berupa bencana, musibah dan malapetaka.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (QS. Ali Imran: 190)
Ramadhan adalah salah satu ayat Allah. Orang yang cerdas dapat mengambil pelajaran dari ibadah puasa tersebut. Puasa merupakan bukti bahwa Allah itu aktif, tidak pasif dalam mentarbiyah manusia. Bayangkan, selama sebulan penuh Allah mendidik kita dengan puasa. Puasa atau Ash-Shiyam, oleh para ulama diartikan sebagai Al-Imsak yang artinya menahan diri dari makan dan minum selama terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari. Sepintas tarbiyah ini sangat sederhana, tapi dampaknya luas dan luar biasa.
Puasa melatih kaum muslimin untuk berbuat dan berperilaku jujur, peduli, disiplin, sabar, qana’ah, zuhud, ridha, dan ramah. Sifat sifat di atas merupakan elemen dasar pembentuk karakter taqwa. Karakter taqwa itulah yang menjadi target utama puasa Ramadhan. La’allakum tat-taqun.
Khusus mengenai tarbiyah kejujuran, puasa Ramadhan merupakan lahan subur untuk menumbuhkan dan mengembangkannya. Bibit bibit kejujuran sejak dini dirawat, ditumbuhkan dan dikembangkan melalui kebiasaan sehari-hari. Kebiasaan membentuk habit, sedang habit membentuk karakter, sedang karakter membentuk kepribadian.
Mari kita perhatikan, musuh pertama orang yang mulai belajar berpuasa adalah bohong. Ketika perut sudah mulai melilit lapar atau tenggorokan kering kehausan, tidak ada orang yang mengintip, sementara makanan sudah terhidang lezat di meja, apa yang akan dilakukan jika sekiranya boleh berbohong?
Inilah tarbiyah kejujuran itu mulai masuk. Sekalipun waktu Maghrib tinggal 2 menit, kita tak tergoda untuk mencolek sedikitpun makanan yang terhidang. Meski di ruang sendirian, di tempat gelap gulita dan tidak ada yang melihat, orang yang berpuasa tidak akan berani meminum air meski hanya setetes air, karena yakin Allah melihatnya dan itu membatalkan puasanya. Kita yakin bahwa puasa itu pada hakekatnya adalah menahan diri dan jujur.
Internalisasi nilai nilai kejujuran tidak bisa dilakukan melalui transformasi akademik dan kajian ilmiah semata. Internalisasi kejujuran itu harus melalui praktik nyata sehari-hari. Harus dirasa dan dialami. Kejujuran tidak bisa diajarkan melalui seminar dan diskusi.
Mengapa kejujuran menjadi sasaran utama madrasah Ramadhan? Bukan karena nilai-nilai yang lain tidak perlu, tapi kejujuran disepakati merupakan pangkal semua kebaikan.
Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga. Seseorang senantiasa berlaku jujur dan bermaksud jujur, maka ia akan ditetapkan di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan bermaksud dusta maka ia akan ditetapkan di sisi Allah sebagai pendusta. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kejujuran senantiasa menghasilkan dampak yang positif dan keberuntungan yang berlimpah ruah. Karena kejujuran adalah kebaikan yang akan menuntun kita untuk melakukan berbagai kebaikan dan kemuliaan. Kejujuran akan menjadi bukti kebaikan perilakunya, kemurnian tabiatnya, ketinggian mentalitasnya, dan kecerdasan akalnya.
Sebaliknya orang yang suka berdusta, mudah berbohong, dan gampang menipu hidupnya pasti sengsara. Di dunia tidak bahagia, sedang di akheratnya pasti menderita. Di dunianya hina, sedang di akherat masuk neraka. Na’udzu billah.
Sekalipun berat, tetaplah memilih jujur sebagai jalan hidup sebab kejujuran akan membawa kepada ketenangan. Apalah artinya citra positif, harga diri, status sosial jika dibangun di atas kedustaan. Apalah artinya ketenaran jika dibangun di atas kepalsuan. Apalah artinya kemuliaan dan kewibawaan jika dibuat-buat. Semua yang tidak jujur akan mudah hilang dan sirna. Meski ditutupi dengan narasi-narasi yang menarik dan argumentasi ilmiah.
Orang yang jujur hatinya akan tenang, muthmainnah. Sebaliknya orang yang bohong hatinya selalu gelisah.
Sesungguhnya kejujuran itu mendatangkan ketenangan, sedangkan dusta itu mendatangkan kebimbangan. (HR. Tirmidzi)
Orang yang berbohong selalu dihantui oleh kebohongannya. Hidupnya tidak tenang dan merasa dikejar-kejar oleh bayangan kebohongannya sendiri. Mereka takut suatu saat kebohongannya terbongkar. Sehingga satu kebohongan harus ditutupi dengan 10 kebohongan dan 10 kebohongan harus disiasati dengan 100 kebohongan dan seterusnya. Mereka takut terungkap kebohongannya sehingga dipermalukan oleh ulah perbuatannya sendiri.
Untuk itu, jadilah orang yang jujur. Jujur pada diri sendiri dan jujur kepada orang lain. Jujur kepada anak, kepada orangtua, kepada suami dan isteri. Jujur kepada atasan, jujur kepada bawahan, juga jujur kepada rakyat kebanyakan. Hindari berdusta, sekalipun dusta itu mudah dilakukan. Allah wanti-wanti agar kita senantiasa jujur.
Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur (benar). (QS. At-Taubah: 119)
Kejujuran dalam Islam tak hanya persoalan akhlaq. Tak hanya soal budi pekerti. Kejujuran itu persoalan ajaran yang paling asas, yaitu aqidah atau keimanan. Orang yang tidak jujur berarti mencederai aqidahnya sendiri.
Dalam kitab Al-Muwath-tha’, kumpulan hadits yang dihimpun Imam Malik disebutkan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. Wahai Rasulullah, apakah seorang mukmin bisa menjadi pengecut? Beliau menjawab, Ya. Lalu beliau ditanya lagi, Apakah seorang Mukmin bisa menjadi kikir? Beliau menjawab, Ya. Lalu beliau ditanya lagi, Apakah seorang Mukmin bisa menjadi pendusta? Beliau menjawab, Tidak.
Menurut Rasulullah, bisa jadi seorang mukmin memiliki sedikit sifat yang kurang terpuji, seperti penakut, kikir, bahkan menjadi pengecut. Tapi satu hal yang tidak boleh ada dalam diri seorang mukmin adalah sifat pendusta. Mukmin itu tidak boleh bohong. Ini harus dicamkan baik-baik.
Kejujuran adalah kesesuaian antara ucapan, perbuatan, dan kenyataan. Adalah sebuah kebohongan yang terang-terangan jika seseorang berkata A, padahal kenyataannya adalah B. Dia berkata sedang ke selatan, padahal realitasnya sedang menuju ke utara.
Orang yang jujur disebut Ash-Shadiq, sedang lawannya adalah Al-Kadzib. Orang yang jujur mempunyai kesesuaian antara batin dengan yang dzahir. Antara yang disembunyikan dan dinampakkan. Antara yang dipikirkan dengan kenyataan. Orang yang jujur mustahil menyembunyikan niat jahatnya dengan berpura-pura baik secara penampilan. Musang berbulu domba, istilahnya.
Kita semua harus mewaspadai kebohongan karena kebohongan dapat mengantarkan pelakunya pada kekufuran, kemunafikan, dan keluar dari Islam secara perlahan. Lagi-lagi, kebohongan bukan persoalan sederhana. Kebohongan itu masuk dalam persoalan keimanan dan aqidah.
Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang yang tidak beriman pada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong. (QS. An-Nahl: 105)
Melalui khutbah kali ini, kembali diingatkan bahwa kebohongan adalah jembatan menuju neraka, jalan kerusakan dan keburukan yang bakal meruntuhkan muru’ah dan kewibawaan kita. Jauhi sejauh-jauhnya kebohongan, karena kebohongan sedikitpun tidak membawa keuntungan.
Kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa kebohongan bukan anak tangga menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Bohong bukan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah yang rumit. Justru sebaliknya kebohongan akan menimbulkan masalah baru yang lebih pelik dan rumit.
Jalan terbaik Ketika menghadapi masalah pelik dan jalan buntu adalah tawakkal kepada Allah dan memperbaiki niat. Jangan-jangan niat kita yang salah. Luruskan niat dan bertawakkal kepada-Nya. Sekali-lagi, jangan menambah masalah dengan berbohong.
Yang ingin kami ingatkan, kita harus mempunyai komitmen yang kuat agar tidak berbohong. Jangan sekali-kali meremehkan kebohongan-kebohongan kecil. Bisa jadi kebohongan kecil itu justru merupakan batu kerikil yang menjatuhkan marwah dan martabat kita. Jangan menjadikan kebohongan dalam canda dan gurauan kita. Khawatir, perilaku negative itu lama-kelamaan menjadi habit dan kebiasaan sehari-hari. Belum puas kalau belum berbohong.
Aku yang menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan al-Mira’ (berdebat) sekalipun benar, dan (aku yang menjamin) sebuah rumah di tengah surga untuk siapa saja yang meninggalkan kedustaan meskipun dia bercanda. (HR. Abu Dawud)
Tugas utama kita, baik sebagai ibu atau bapak, demikian seorang guru adalah memberikan Pendidikan terbaik, teladan yang mulia serta mendorong anak-anak untuk selalu berbuat jujur. Kita harus memberi peringatan yang keras tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi di dunia dan di akherat bagi pelaku kedustaan. Berikan motivasi yang kuat agar anak-anak kita senantiasa berbuat jujur. Sampaikan bahwa dalam setiap kejujuran Allah telah menyiapkan pahala yang besar.
Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung. (QS. Al-Maidah: 119)
Mari kita didik anak-anak kita sejak kecil agar memiliki karakter jujur dan menjauhi kebiasaan berbohong. Insya Allah mereka akan menjadi generasi yang sholeh, mandiri dan tangguh.
Mari kita bina generasi muda berkepribadian jujur agar kelak saat menjadi pemimpin yang jujur dan tidak suka berbohong dan mengingkari janji. Masyarakat saat ini sudah muak dengan pemimpin yang suka berbohong. Janjinya mensejahterakan, kenyataannya menyengsarakan. Janjinya memajukan, nyatanya malah kebalikannya. Janjinya kemandirian, ujung-ujungnya malah nambah utang lagi.
(Artikel ini disadur dari naskah Khutbah Idul Fitri 1443 H yang diterbitkan oleh DPP Hidayatullah dengan penyesuaian seadanya pada judul)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ust H Hanifullah Hannan menyampaikan tentang 3 macam orang di dunia ini dalam memposisikan kekayaan atau harta. Hal ini ia sampaikan dia pada salah satu postingan singkatnya di Facebook miliknya.
Menurut Gus Hanif, begitu ia karib disapa, jenis orang pertama adalah orang yang merasa bahwa dalam harta orang lain ada haknya yang musti direbutnya.
“Meski sudah kaya masih ingin mengambil dan mengambil. Tidak ada rumus memberi. Hidupnya penuh konflik dan sengketa. Dia tidak akan merasakan ketenangan, yang ada justru kesengsaraan,” katanya.
Kemudian, jenis Kedua, adalah orang yang merasa bahwa hartanya adalah mutlak miliknya. Karena menurutnya murni hasil usahanya. Adalah haknya untuk memuaskan keinginannya.
“Orang yang demikian merasa berat jika harus berbagi pada orang lain. Karena seolah akan mengurangi apa yang menjadi haknya,” terangnya.
Lalu, orang jenis Ketiga adalah orang yang merasa dalam hartanya ada hak orang lain; seperti fakir miskin dan sesamanya. Karena baginya harta hakekatnya adalah karunia dan titipan Allah.
“Orang yang demikian merasa beruntung bisa berbagi pada sesama. Inilah orang yang hidupnya penuh rahmat, persaudaraan dan kasih sayang. Hidupnya bahagia,” tandasnya.
Itulah sekelumit tentang kepribadian manusia menurut Ust H Hanifullah Hannan. Semoga kita dapat menyadap dan menyedot berbagai hikmah dari setiap tanda tanda yang ada di sekitar kita, atau barangkali ada pada kita sendiri. Wallahu ‘alam. (ybh/hio)
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ada yang unik di Hidayatullah Sulsel, takbir Ied 1443 H masih menggema. Buras masih banyak. Nasu Palekko dan opor ayam, juga masiih hangat.
Tapi sore itu, di 1 Syawal itu, Kader Hidayatullah Sulsel tidak mudik. Mereka harus berkumpul di kampus Hidayatullah Parepare untuk menggelar silaturahmi Syawal, 2-3 Syawal 1443 H.
Para kader Hidayatullah Sulsel dapat warning. Dilarang pulang kampung sebelum melakukan silaturahmi Syawal. Pertemuan perdana tercepat, setelah Idul Fitri.
“Kader-kader dan pengurus inti Hidayatullah Sulsel wajib ikuti silaturahmi Syawal sebelum pulang kampung,” ujar Sekretaris DPW Hidayatullah Sulsel, Sumaryadi, S.Pd.I, dilansir HidayatullahSulsel.com.
Silaturahmi Syawal Hidayatullah Sulsel diikuti oleh seluruh pengurus DPW Hidayatullah Sulsel, pengurus DPD se-Sulsel, dan Kampus Madya Hidayatullah se Sulel. Hadir pula pengurus Kampus Utama Hidayatullah Makassar.
Selain itu, hadir pula organisasi-organisasi pendukung Hidayatullah Sulsel, seperti Pemuda Hidayatullah Sulsel, Muslimat Hidayatullah Sulsel, dan seluruh amal usaha tingkat wilayah. Acara silaturahmi yang digelar 2-3 Syawal ini, dihadiri oleh 23 DPD Hidayatullah seSulsel. DPD Hidayatullah yang tidak sempat hadir, adalah DPD Toraja Utara.
Silaturahmi kader Hidayatullah Sulsel pada 2 Syawal ini sudah menjadi rutinitas tahunan. Silaturahmi Syawal ini awalnya dicetuskan oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel periode lalu, Ustad Mardhatillah. Dan terus dilanjutkan oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel saat ini Ust Drs Nasri Bukhari MPd.
Syawalan Hidayatullah Sulsel 1443 H ini mengangkat tema: Teguhkan Jati diri Kader; Merekatkan Ukhuwah dan Mengokohkan Jama’ah, secara khusus menghadirkan Ustad Abdurrahman dari Hidayatullah Surabaya.
Ustad Abdurrahman, adalah salah seorang pendiri Hidayatullah Surabaya. Ia juga mantan Ketua DPP pertama Hidayatullah, periode 2000-2005. Saat ini menjabat sebagai anggota Badan Pertimbangan Hidayatullah.
Dalam taushiyahnya, Ustad Abdurrahman menegaskan, tentang pentingnya semangat jihad para kader dalam mengemban amanah di Hidayatullah.
“Keterlibatan kita di lembaga ini, adalah dalam rangka jihad. Mengurus pondok dan organisasi ini harus penuh dengan semangat jihad,” ucapnya.
Ia menegaskan, meskipun dalam mengelola amal usaha atau yayasan yang sudah bergelimang materi, tapi para kader harus tetap menjaga spirit dan nawaitu jihadnya.
Ustad Nasri Buhari, selaku Ketua DPW Hidayatullah Sulsel menjelaskan acara ini sebagai ajang silaturahim pasca Ramadhan. Juga untuk menyerap aspirasi dan inspirasi, setelah bulan suci Ramadhan. Selain itu juga untuk menguji komitmen para kader.
“Acara ini untuk menguji komitmen para kader Hidayatullah Sulsel, juga untuk menyerap inspirasi kader selama bulan suci Ramadhan. Jika ada kader yang tidak hadir tanpa alasan syar’i, akan menjadi catatan tersendiri,” ungkap mantan ketua DPW Sultra periode lalu ini.
“Kami berharap, semua kader tetap hangat, dan semangat dalam menjalankan amanat organisasi. Dan Ramadhan kali ini, bisa menjadi inspirasi sukses para kader dalam mengemban amanah” jelasnya.
Silaturahmi kali ini juga mendapat penguatan spirit dari tiga tokoh senior Hidayatullah Sulsel; Ustad Abdul Majid, (Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulsel), Ustad Ahkam Sumadiana (instruktur nasional Hidayatullah), dan Ustad Ir Abdul Aziz Qahhar Dewan Pertimbangan, yang memberikan pencerahan secara online, langsung dari kota Jeddah.*/Sarmadani Karani
SUATU hari, kami membeli sejenis makanan tertentu dari pedagang kaki lima di bilangan Tugu Monas, Jakarta. Sambil menunggu makanan disiapkan, iseng-iseng kami bertanya tentang asal-usul si pedagang itu. Dengan logat Madura yang kental, spontan ia menjawab, “Sayya dari Sollo, dhik!”. Kami semua tertawa.
Terasa lucu saja, karena ada orang Solo yang sangat kuat aksen Maduranya, tanpa bisa ditutupi. Kami tidak tahu, apakah ia berbohong atau menjawab sekenanya, karena kami pun sebetulnya tidak ambil pusing ia berasal dari mana. Akan tetapi, syaraf humor kami – sekitar lima orang – rupanya bisa merasakan kelucuan itu tanpa dikomando. Kami tahu ada yang tidak cocok, antara logat bicara orang itu dengan pengakuan asal daerahnya.
Sekarang, mari kita tinggalkan pedagang kaki lima yang lucu itu dan beralih ke topik “tanda-tanda kenabian”. Apakah ada hubungannya?
Sebenarnya, setiap perkara memiliki penanda, yang dengannya kita bisa mengenali dan membedakan dari selainnya. Seperti cerita di atas, logat orang Solo dengan orang Madura jelas berlainan, dan karenanya kita mengerti bahwa ada yang aneh di sana.
Berkat pengenalan tersebut, jika saja persoalannya lebih serius, kita tidak akan mudah tertipu. Sama halnya dengan kenabian. Ia adalah perkara khusus yang memiliki tanda-tandanya sendiri.
Kenabian jauh berbeda dengan prediksi peramal, sihir tukang tenung, sulap magician, jampi-jampi dukun, hikmah sastrawan dan orang bijak, atau teori filosof. Inilah yang membuat kaum kafir kebingungan. Al-Qur’an merekam bagaimana mereka berdebat diantara sesamanya, sekedar menemukan padanan yang tepat dari jatidiri seorang utusan Allah (misal, Qs. Al-Anbiya’: 5; al-Haqqah: 40-43; ash-Shaffat: 35-36; ad-Dukhan: 14; adz-Dzariyat: 39). Tapi, mereka gagal dan disesatkan oleh angan-angannya sendiri (Qs. Al-Isra’: 48).
Dewasa ini, diantara musibah yang memperberat beban kaum muslimin adalah tampilnya figur-figur yang – secara terbuka – mengaku-aku sebagai nabi. Orang-orang ini, silih berganti muncul. Satu belum tuntas kehebohannya, tiba-tiba mencuat yang baru dengan klaim serupa. Anehnya, selalu saja ada yang mau menjadi pengikut dan pendukungnya. Kok bisa?
Masalahnya, sebagian besar mereka tidak tahu-menahu bahwa kenabian pun memiliki tanda-tandanya yang khas. Tanda-tanda inilah yang memilah kenabian dari perdukunan, ramalan, magic, intelektualitas, dan filsafat.
Akan tetapi, ternyata diantara orang-orang yang mengaku sebagai nabi di zaman sekarang, sebenarnya kebanyakan lebih tepat disebut dukun, penganut ilmu hitam atau orang yang kesurupan jin (majnun).
Oleh karenanya, para ulama’ dulu banyak menulis karya bertema “tanda-tanda kenabian”. Mungkin kita bertanya, buat apa mereka sibuk mencatat informasi semacam itu, toh kenabian telah berakhir? Sekilas, mereka seolah-olah menuliskan perkara tak berguna; seperti tabib kuno yang memberikan resep kadaluwarsa.
Jenis karya semacam ini cukup banyak, misalnya A’lamu an-Nubuwwah karya Abul Hasan al-Mawardi (w. 456 H), atau empat kitab yang sama-sama berjudul Dala’ilu an-Nubuwwah karya Abu Bakr al-Firyabi (w. 301 H), Abu Nu’aim al-Ashbahani (w. 430 H), Abu Bakr al-Baihaqi (w. 458 H), dan Abul Qasim al-Ashbahani (w. 535 H). Kedua judul ini sama-sama berarti “tanda-tanda kenabian”.
Namun, setelah 14 abad lebih berselang dari kenabian terakhir, sesungguhnya karya-karya itu kembali menemukan relevansi dan momentumnya. Sebab, dewasa ini betapa sering kita mendengar orang-orang yang mengaku nabi, dan menyebarkan aneka ajaran yang – katanya – diwahyukan dari langit.
Hampir semua “nabi” itu mendasarkan klaimnya dari mimpi-mimpi, dan secara terbuka menyebutnya sebagai wahyu, wangsit, bisikan langit, atau apapun lainnya. Padahal, Rasulullah pernah bersabda, “Mimpi yang baik adalah satu dari 46 bagian kenabian” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, Anas bin Malik, dll.).
Dengan kata lain, sekedar mimpi tidak akan pernah cukup untuk mendukung pengakuan kenabian. Sebab, masih tersisa 45 pertanda lain yang seharusnya bisa kita minta dan tuntut, sebagai bukti kebenaran dirinya. Bahkan, dalam salah satu riwayat Imam Muslim, terdapat tidak kurang dari 70 tanda kenabian.
Jika ingin bukti, tantanglah orang-orang yang mengaku Nabi itu untuk memenuhi sepuluh saja diantaranya, dan saksikan mereka bertekuk-lutut, terbongkar tuntas kebohongannya!
Di sisi lain, Rasulullah juga bersabda, “Mimpi itu ada tiga macam. (Pertama), mimpi yang baik, yaitu kabar gembira dari Allah. (Kedua), mimpi pembangkit kesedihan, maka ia bersumber dari syetan. (Ketiga), mimpi yang merupakan bagian dari percakapan seseorang dengan dirinya sendiri.” (Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah).
Bisa jadi seseorang telah lama menginginkan dirinya dipuja dan berpengaruh. Keinginan ini begitu kuat menguasai pikiran serta perasaannya. Lalu, syetan datang membisik-bisikkan godaan. Inilah yang disebut dengan “percakapan seseorang dengan dirinya sendiri” oleh Rasulullah, atau “dialog imajiner”. Mimpinya itu sebenarnya bukan dari Allah, juga bukan bisikan syetan, akan tetapi bagian dari ambisinya sendiri yang kebetulan mengambil bentuk “kenabian”. Syetan hanya menunggangi, sebab pada dasarnya orang itu sendiri yang menginginkannya. Na’udzu billah.
Hakikat inilah yang disadari dengan baik oleh para ulama’, sehingga dalam al-‘Aqidah ath-Thahawiyah dinyatakan, “Seluruh klaim kenabian setelah beliau (Nabi Muhammad) adalah sesat dan (didasari) hawa nafsu belaka.”
Jadi, kenalilah segala sesuatu dengan benar, agar tidak tertipu oleh orang-orang yang berhati culas dan ambisius; yang tega memanfaatkan keluguan dan kejahilan kita demi kepentingan nafsu mereka sendiri. Wallahu a’lam.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan siap menggelar dua acara besar sekaligus pada bulan Syawal 1443H (Mei 2022) ini.
Kedua acara itu adalah Silaturahim Syawal dan Pernikahan Mubarak yang insya Allah digelar di Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim.
Silaturahim Syawal siap digelar pada Sabtu-Ahad, 13-14 Syawal 1443H (14-15/05/2022). Sedangkan Pernikahan Mubarak siap digelar di sela-sela Silaturahim Syawal tersebut.
“Berkah Ramadhan Teguhkan Ukhuwah, Jati Diri, dan Perjuangan,” ujar Ketua Panitia Syawalan 1443H Hidayatullah Balikpapan, Ustadz Muhammad Dinul Haq, menyebutkan spirit Syawalan itu di Gunung Tembak, dikutip dari laman Ummul Qura Hidayatullah.
Bulan Ramadhan 1443H baru saja berlalu dengan begitu padatnya tugas-tugas kepanitiaan yang cukup menguras banyak energi, waktu, dan sebagainya. Namun Hidayatullah Gunung Tembak nyaris tak kenal istilah berhenti dalam memberikan pelayanan termasuk lewat kedua acara itu.
“Satu di antara ciri amal ibadah seseorang diterima adalah ia dimudahkan untuk melakukan ibadah yang lain setelahnya,” ujar Dinul Haq.
“Kita sudah difasilitasi untuk memastikan diri memiliki ciri di atas dalam gelaran Syawal 1443 Hijriyah nanti,” tambahnya memberi semangat kepada para panitia Syawalan itu.
Berdasarkan keterangan dari panitia yang diterima Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah, acara itu akan dihadiri para peserta, dai, dan pengurus Hidayatullah di Kalimantan dan Sulawesi.
Di antara agendanya yaitu Refleksi Ramadhan Tokoh-tokoh Senior Hidayatullah. Insya Allah diisi oleh Ustadz Amin Mahmud, Ustadz Sarbini Nasir, Ustadz Abdul Latif Usman, dan Ustadz Yusuf Suraji.
Kemudian oleh Ustadz Abdul Qadir Jailani, Ustadz Mannandring Abdul Ghani, Ustadz Syamsu Rijal Palu, dan Ustadz Anwari Hambali.
Syawalan ini juga diisi dengan Talkshow Tokoh Muda Hidayatullah Ummulqura, Dr Abdurrohim, Ustadz Syarif Bastian, Ustadz Zaim Azhar, dan Ustadz Imam Muhammad.
Adapun akad nikah akan digelar pada Ahad pagi di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak.
Taujih Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad insya Allah disampaikan pada hari Ahad pula dengan tema seputar “Rajut Ukhuwah, Bangun Peradaban”.*/SKR/MCU