Beranda blog Halaman 371

Semarakkan Ramadhan, Jangan Banyak Mengisi Perut

Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim,* [Foto: Waqqash/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad memberikan pesan dan nasihat terkini untuk segenap warga Hidayatullah di bulan Ramadhan.

Usai shalat ashar berjamaah di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur, sang kiai naik ke mimbar masjid memberi nasihat kepada seluruh jamaah.

Pemimpin Umum mengajak seluruh warga Hidayatullah agar semakin bersemangat dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

“Terus kita semangat (menjalankan ibadah di) bulan suci Ramadhan,” ucapnya pada awal arahannya tersebut, Senin, 2 Ramadhan 1443 H (04/04/2022).

Momentum Ramadhan merupakan ajang kaum Muslimin sedunia –termasuk warga Hidayatullah- untuk berlomba-lomba mencari ridha Allah.

Pemimpin Umum mengatakan, shalat tarawih dan shalat lail berjamaah setiap malam di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak merupakan syiar. “(Ini) menjadikan syiar shalat tarawih dan luar biasa,” ungkapnya.

“Yang saya cari itu shalat tarawih 1 juz dan shalat malam itu 1 juz. Itu sudah seperti selama sebulan itu 60 juz,” lanjutnya.

“Itu yang saya kejar, mendengarkan bacaan Al-Qur’an 30 juz dengan bacaan imam yang tidak ada salah-salahnya,” ucapnya.

Kiai Abdurrahman mengaku, ada yang berbeda dengan Ramadhan tahun lalu. Meski tahun lalu juga menjumpai Ramadhan, namun tidak terasa begitu nikmat karena tidak bebas beribadah akibat pandemi Covid-19.

“Waktu Covid kemarin saya tetap melakukan shalat tarawih dan shalat malam. Kadang di masjid kadang juga di rumah, karena ada pembatasannya,” tuturnya.

Kiai Abdurrahman pun mengajak seluruh warga Hidayatullah agar menyemarakkan kegiatan Ramadhan 1443H dan mengurangi makan.

“Harus semarak terus ini, semarak segalanya, jadi jangan banyak-banyak isi perut ini, nanti ndak bisa lama-lama (ibadahnya),” ungkapnya dengan nada berguyon.

Setelah menyampaikan arahan, Kiai Abdurrahman Muhammad memberikan hadiah berupa sajadah kepada beberapa ustadz senior.* (Muas/MCU)

Lepas Tim Safari Ramadhan Santri Hidayatullah Konawe

KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Salah satu Program Ramadhan Pesantren Hidayatullah Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) tahun 1443 H adalah Safari Ramadhan. Baru-baru ini, Pesantren Hidayatullah Konawe mengadakan acara pelepasan Tim Safari Ramadhan Santri yang dilaksanakan di Kampus Putra Hidayatullah Puosu, Sabtu, 30 Sya’ban 1443 H (2/4/2022).

Sejumlah 10 orang Santri akan ditugaskan untuk menjadi penceramah Tarawih di 5 (lima) kecamatan di Kabupaten Konawe. Kesepuluh santri itu adalah santri SMP-SMA Integral Hidayatullah Konawe; Muh. Aksar, Kaysar Raya Umar, Aidil Dermawan, Adnan, Ishak, Shidiq Azhar, Angga Pratama, Irwansyah Saputra, Ikram, dan Hatar Ramadhan.

Kegiatan ini diagendakan akan dimulai pada malam ke-5 hingga ke-9 Ramadhan. Dimulai dari kecamatan Unaaha, Wawotobi, Konawe, Uepai, lalu berakhir di kecamatan Abuki dan ditargetkan para da’i muda ini mengisi sebanyak 50 masjid di lima kecamatan tersebut.

Menurut pengasuh santri Hidayatullah Puosu Ust. Ilham kegiatan ini bertujuan disamping untuk melatih mentalitas santri turun berdakwah ke masyarakat, juga dalam rangka menyampaikan ilmu yang telah mereka dapatkan selama belajar di pesantren.

Ketua Badan Pembina Pesantren Hidayatullah Puosu Ust. Amin Suharman, S.Pd.I. dalam sambutannya memotivasi para santri untuk melaksanakan 3 program sukses Ramadhan yang diantaranya adalah sukses layanan ummat.

“Sukses layanan ummat salah satunya yang dimaksud adalah kegiatan Safari Ramadhan Santri seperti yang kita laksanakan ini. Kehadiran Hidayatullah melalui dai-da’inya sangat dibutuhkan dan dirasakan manfaatnya guna pencerahan di tengah-tengah ummat. Untuk itu, santri yang kita tugaskan agar selalu menjadi mujahid dakwah Ramadhan yang amanah dan sejak dini dipersiapkan menjadi da’i muda. Da’i yang militan dan progresif,” pesan Suharman yang juga merupakan Anggota Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sultra.

Acara pelepasan Tim Safari Ramadhan Santri ini juga dihadiri oleh Sekretaris DPW Hidayatullah Sultra Ust. Lutfiuddin, SS., M.Pd., Ketua Departemen Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sultra Ust. Syarifuddin, A.Ma., dan Pembina Pesantren Hidayatullah Puosu Ust. Masykur, MS. */Noer Akbar

Intinya Pengendalian Diri

Gambar ilustrasi oleh Gerd Altmann/ Pixabay

ALHAMDULILLAH, Allah masih memberikan kesempatan dan kesehatan kepada kita semua untuk bertemu dan menikmati Ramadhan. Perlu ada review untuk menajamkan makna ibadah puasa yang kita jalani.

Puasa berasal dari bahasa Arab “shoum” atau “shaum”. Arti dari kata tersebut adalah menahan diri dari sesuatu. Ada juga yang mengatakan “shiyam”, kata ini juga memiliki arti yang sama.

Menahan diri di sini dapat berupa banyak hal, bukan hanya makan, minum dan berhubungan suami istri di siang hari. Dalam konteks puasa, menahan diri berarti tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Pengertian puasa menurut istilah adalah menahan diri untuk tidak makan dan minum, serta beberapa hal yang membatalkannya. Menahan diri ini dimulai dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Puasa harus dikerjakan dengan mengucap niat terlebih dahulu, dan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Menahan diri itu identik dengan pengendalian diri. Subyek dan obyek dari pengendalian diri adalah masing-masing individu orang beriman. Subyek artinya yang memiliki peran dalam pengendalian diri, apapun situasi dan dimanapun berada maka berusaha untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Adapun obyeknya juga diri sendiri, ketika diri orang beriman sudah dewasa. Jika masih kecil maka harus dikendalikan atau dikondisikan untuk mentarbiyah mereka gar suatu saat nanti bisa mengendalikan dirinya.

Sekarang pengendalian yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman, untuk tingkatan awwam atau pemula hanya makan, minum dan berhubungan suami-istri. Adapun tingkatan orang beriman yang sesungguhnya adalah pengendalikan dari segala bentuk nafsu, perbuatan sia-sia yang bisa mengurangi nilai dari puasa ramadhan.

Salah satu contohnya saat memiliki target membaca al Qur’an 3 juz se-hari. Secara hitungan matematika waktu itu mudah dicapai dengan hitungan satu juz 30 menit, maka hanya perlu waktu satu setengah jam setiap hari.

Tapi dalam perjalanannya, seringkali ada gangguan seperti ngantuk, ada teman mengajak ngobrol, capek, ada telpon masuk, anak minta maaf, ada undangan rapat mendadak dll. Saat seperti itulah pengendalian itu diperlukan. Ada manajemen, perencanaan, dan konsitensi dari semua niat hingga tercapai, itu semua memerlukan pengendalian.

Ramadhan dengan dibuka lebar-lebar pintu surga, ditutup rapat-rapat pintu neraka dan diikat kuat-kuat setan. Maka pekerjaan yang masih berat adalah pengendalian nafsu selama bulan Ramadhan. Meski relatif lebih mudah dan ringan, tapi jika tidak dibiasakan maka pengendaliaan nafsu itu berat.

Semoga selama Ramadhan ini, ada kekuatan bagi kita semua untuk mengendalikan diri mencapai puasa yang hakiki. Pengendaliaan untuk mencapai sebuah niat suci.

Abdul Ghofar Hadi

Ramadhan sebagai Bulan Literasi untuk Merevolusi Diri

0
Foto ilustrasi oleh Lubos Houska/ Pixabay

BULAN Ramadhan, telah tiba. Di dalamnya mengandung keutamaan yang tak terbatas. Salah satu dari keutamaannya adalah disebut sebagai syahr al-Qur’an. Hal ini disebabkan arena al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Sebagaimana firman Allah SWT:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al Baqarah: 185).

Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz menjelaskan bulan puasa diistimewakan dengan turunnya Al-Qur’an di dalamnya pada malam lailatul qadar, atau dengan turunnya Al-Qur’an dalam satu jumlah dari lauhil mahfudz ke langit dunia sebagai petunjuk bagi manusia dari kesesatan dan ayat-ayat muhkamat yang memberi penjelasan berupa hidayah Tuhan yang kuat, jelas dan terang bagi akal sehat, yaitu pemisah antara yang haq dan bathil.

Sedangkan ayat pertama yang turun, sebagaimana diuraikan dalam hadits yang panjang dibawah ini adalah surat Al-Alaq ayat 1-5.

“Awal turunnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulai dengan ar ru’ya ash shadiqah (mimpi yang benar dalam tidur). Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi rasa ingin untuk menyendiri. Nabi pun memilih gua Hira dan ber-tahannuts. Yaitu ibadah di malam hari dalam beberapa waktu. Kemudian beliau kembali kepada keluarganya untuk mempersiapkan bekal untuk ber-tahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hira. Malaikat Jibril datang dan berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)” (HR. Bukhari no. 6982, Muslim no. 160).

Korelasi dari QS Al-Baqarah: 185 dengan hadits di atas cukup terang benderang. Bahwa surat Al-Alaq ayat 1-5 adalah surat yang pertama diturunkan di bulan Ramadhan. Disamping itu, juga menegaskan bahwa ayat pertama yang diturunkan tersebut berkenaan dengan perintah membaca dengan dimensi yang sangat luas. Sebab, kata Iqra’, dalam kamus memiliki beragam macam makna; menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan beberapa makna lainnya.

Syaikhul Azhar Dr. Abdul Halim Mahmud, mengatakan, “dengan kalimat iqra’ bismi Rabbika dalam kalimat dan semangatnya seakan mengatakan, bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu. Begitupun ketika hendak berhenti dari aktivitas. Sehingga, segala seluruh kehidupan, sujud, cara dan tujuan seseorang dilakukan karena Allah.”

Dalam Li Yaddabbaru Ayatih/Markaz Tadabbur, Prof. Dr. Umar bin Abdullah bin Muqbil, Profesor Syariah di Universitas Qashim menjelaskan bahwa, pada firman Allah : { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ } adalah isyarat yang mengajarkan bahwa kunci utama dari kemajuan dan perkembangan suatu peradaban (dalam pandangan Islam) adalah dengan ilmu pengatahuan, bukan pada kemajuan kekayaan dan kekuatan pertahanan.

Lebih jauh beliau menjelaskan bahwa. { اقْرَأْ } “Bacalah” Adalah kata pertama yang di wahyukan kepada Rasulullah Muhammad, perhatikan isyarat yang terkandung didalamnya, dan susunan hurufnya : قراءة : membaca , : رقي : meninggi , رقية : mengobati, dari tiga kata ini masing-masing memilki sejumlah huruf yang sama, dan maknanya pun saling berkaitan satu sama lainnya, maka قراءة mengandung makna: pintu ilmu ( membaca ), dan itu merupakan sesuatu yang dapat meninggikan derajat seseorang.

Dengan demikian maka, sudah seharusnya umat Islam faham bahwa, sejak awal turunnya Al-Qur’an didesain dan diproyeksikan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan itu artinya unggul dalam literasi.

Kesadaran ini penting, selanjutnya diajarkan dan ditransformasikan kepada khalayak, hingga menjadi syaksiyah islamiyah. Parameternya jelas. Dapat dilihat sebagaimana dipraktekkan sejak jaman Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’n, hingga abad pertengahan, dimana Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dan turunannya di berbagai bidang kehidupan saat itu.

Demikian halnya kita juga harus belajar, mengapa peradaban Islam bisa jatuh. Sejarah telah mencatat itu semua dengan lengkap, dari berbagai perspektif. Bahkan, ketika Barat karena keterbelakangannya menyebut dirinya sebagai periode dark age, pada saat yang sama Islam berada pada golden age. Akan tetapi kita tidak bisa hanya bernostalgia atas kejayaan masa lalu. Kita mesti melihat realitas kekinian dan apa yang terjadi dimasa depan.

Jika kemudian saat ini, terjadi ketertinggalan yang jauh antara dunia Islam dengan Barat, maka kita tidak perlu menyalahkan keadaan. Kita mesti introspeksi, lalu bangkit. Banyak sarjana dan cendekiawan Islam yang telah melakukan upaya itu semua, dengan berbagai gagasan besar, disertai dengan model dan tahapan yang bisa dirujuk. Pun berbagai kelompok yang juga melakukan upaya-upaya itu. Tidak usah saling merasa benar, harus sinergi dan saling melengkapi.

Siapapun kita, dan dalam kapasitas apapun juga, hendaknya kita harus memulai dari diri kita dan orang-orang disekitar untuk melakukan revolusi diri, saat ini juga. Melakukan perbaikan terus menerus. Dan Ramadhan ini adalah momentumnya.

Kita jadikan Ramadhan sebagai bulan literasi, hingga melahirkan aksi yang nyata. Jika ini istiqomah sepanjang masa, dan nawaitu-nya benar, bahwa semuanya sebagai bismirabbik, bukan bismi yang lain, Insya allah pada gilirannya nanti, kita bisa mengubah keadaan, dan membuktikan serta mengembalikan peradaban Islam ini unggul dan menguasai dunia. Bukan hanya cerita, tetapi fakta. Wallahu A’lam.

ASIH SUBAGYO, instruktur pada Hidayatullah Institute

Mushida Tanjung Pinang – Bintan Rakerda Gabungan

TANJUNG PINANG (Hidayatullah.or.id) — Geliat gerakan tarbiyah dan dakwah yang menyasar kalangan perempuan terus dipacu oleh pengurus daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Tanjung Pinang dan Bintan melalui program kerja yang terukur.

Karena itu pada, Jumat, 29 Sya’ban 1443 (1/4/2022), Mushida Tanjung Pinang dan Bintan menggelar rapat kerja daerah (Rakerda) secara gabungan di aula Hidayatullah Matador, Tanjung Pinang.

Secara bergilir para kepala departemen mempresentasikan capaian-capian sebagai bahan evaluasi dan program kerja untuk satu tahun ke depan.

Menurut ketua Mushida Tanjung Pinang, Ustz Husnul Khotimah, salah satu target dari rakerda kali ini untuk memetakan ruang-ruang tarbiyah dan dakwah dengan segmentasi kalangan perempuan atau muslimah.

“Mushida akan melakukan penguatan tarbiyah di internal Mushida sekaligus juga melakukan ekspansi dakwah ke kalangan eksternal, agar kesadaran berislam di kalangan muslimah semakin meningkat,” tutur Husnul Khotimah di sela-sela rakerda.

Hal senada diungkapkan ketua Mushida Bintan, Ustz Mahfudzoh, menurutnya tantangan Mushida tidak hanya melebarkan sayap tarbiyah dan dakwah tetapi yang lebih penting pembinaan di kalangan internal sebagai starting point sebelum melangkah melakukan gerakan tarbiyah dan dakwah ke para muslimah.*/Mujahid M. Salbu

Sekolah Dai Samarinda Mulai Buka Pendaftaran Baru

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dai Posdai Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) masih membuka pendaftaran penerimaan calon peserta didik baru dalam program kuliah dakwah intensif berasrama untuk lulusan SMA/ sederajat dengan batas pendaftaran akhir hingga 15 Mei 2022.

Pandaftara Sekolah Dai Samaridan Kaltim ini sendiri telah dibuka sejak 1 Maret lalu dengan pemberlakuan limitasi peserta sehingga hanya pendaftar yang lulus seleksi dan memenuhi syarat saja yang dapat mengikuti program.

Pengurus Sekolah Dai Samarinda Kaltim, Ust Carles Yusuf, mengatakan Sekolah Dai Kalimantan Timur adalah wadah pendidikan untuk mencetak kader dai yang berdiri pada awal tahun 2022 di Samarinda.

“Lembaga pendidikan ini fokus dalam mendidik dan membina putra-putra daerah untuk mencetak kader-kader dai yang siap ditugaskan sebagai dai di daerah-daerah yang membutuhkan sentuhan dakwah,” kata Ust Carles.

Ust Carles menambahkan, masa pendidikan Sekolah Dai adalah selama 1 tahun dengan program berasrama untuk menciptakan sistem pendidikan yang berkualitas.

Dia menyebutkan, setelah masa pendaftaran dan seleksi, peserta mulai masuk asrama pada tanggal 23 Mei 2022 dan kegiatan belajar mengajar akan dimulai tanggal 25 Mei 2022.

Sekolah Dai memiliki sejumlah keunggulan yaitu diantaranya full beasiswa, dosen pengampu berlatar dari kampus dalam maupun luar negeri dengan basis kampus LIPIA Jakarta, UIN Antasari Banjarmasin, Universitas Sudan dan lainnya. Dosen pengampu juga sudah berpengalaman berdakwah di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Selain itu, kurikulum Sekolah Dai juga mengacu pada tujuan pendidikan nasional dalam rangka pembentukan karakter kader yang Islam yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, terampil, unggul dan terampil.

Alumni Sekolah Dai juga mendapat kesempatan jaminan bursa kerja ikatan dinas di jejaring Hidayatullah seluruh Indonesia. Untuk membekali peserta dengan kemampuan soft dan hard skill, mereka akan mendapatkan mentoring selama masa pedidikan di asrama.

Adapun sarana dan fasilitas untuk menunjang sukses penyelenggaraan program Sekolai Dai, diantaranya adalah pusat kegiatan yang berlokasi di kawasan asri, luas, dan rekreatif. Juga tersedia gedung kuliah yang representatif, asrama mahasantri yang juga memadai, serta adanya sarana ibadah dan olahraga.

Untuk menjadi peserta didik, Sekolah Dai Posdai Samarinda Kalimantan Timur mensyaratkan sejumlah hal kepada peminat, yaitu mengisi formulir pendaftaran, ada surat rekomendasi DPW atau DPD Hidayatullah terdekat, menyerahkan foto copy Ijazah SMA/ sederajat 3 lembar, dan mampu membaca Al Quran.

Calon peserta juga harus mengikuti tes tulis dan tes wawancara, menyerahkan berkas foto copy KTP & KK yang masih berlaku 1 lembar, menyerahkan foto berwarna ukuran 2×3 & 3×4 masing-masing 4 lembar, bersedia mengikuti seluruh peraturan yang berlaku, tidak merokok, dan dipastikan pendaftar adalah lulusan SMA atau berusia minimal 18 tahun.

Bagi yang ingin mendaftar, dapat melalui tautan link pendaftaran berikut atau klik di sini. Pendaftaran juga dapat dilakukan dengan datang langsung ke lokasi Sekretariat Kampus Sekolah Dai Samarinda Kaltim, Jl. Jalan Antasari Rt. 52 Samarinda, Kaltim. Jika ada pertanyaan dan hal hal lain yang ingin disampaikan, silahkan hubungi kontak person via jalur Whatsapp: 0812-5442-0060 (Ust. Jafruddin, S.HI) dan 0822-1082-3280 (Ust Carles Yusuf). (ybh/hio)

Kapan Lagi Banyak Membaca Al Qur’an

SALAH SATU amalan utama yang harus diperbanyak orang-orang beriman di bulan Ramadhan adalah memperbanyak tilawah al-Qur’an. Sebab salah satu yang menjadi kemuliaan bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya pertama kali al-Qur’an.

Banyak contoh kisah para ulama dalam mengisi bulan Ramadhan dengan menyibukkan diri membaca al-Qur’an. Mereka bermujahadah untuk memperbanyak membaca al-Qur’an dengan khatam 3 hari sekali. Seperti Imam Qotadah, An-Nakhai.

Adapun al Aswad mengkhatamkan dua hari sekali. Sedangkan Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah mengkhatamkan 60 kali selama Ramadhan artinya, sehari khatam dua kali.

Sebenarnya ini sebagai gambaran dari kesungguhan dan perjuangan mereka dalam meraih keutaamaan al-Qur’an. Mungkin untuk ukuran kita sangat berat untuk bisa mengikuti tradisi mereka dalam membaca al-Qur’an tapi minimal ada mujahadah lebih baik dibandingkan di luar bulan Ramadhan.

Setiap hari, seharusnya menyadari bahwa mata punya hak melihat huruf-huruf al Quran, Telinga punya hak mendengar ayat-ayat Allah, lisan punya hak melafadzkan surat-surat al Quran. Jangan sampai mereka akan menuntut hak nya di hari kiamat. Karena kelalaian kita sendiri.

Dengan membaca al Quran setiap hari, meski satu baris atau satu ayat maka otomatis kita memberikan hak anggota badan kita untuk dekat dengan al Quran. Ada ketenangan dan kenikmatan.

Mentalitas membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan harus dikuatkan. Membaca al-Qur’an harus menjadi prioritas utama, ketika menjadi prioritas utama maka memerlukan pengorbanan.

Jika al Qur’an masuk daftar prioritas, maka kita harus mengalokasikan waktu, perhatian dan tenaga untuk membacanya setiap hari. Kita tidak boleh lagi menerima alasan kesibukan yang membuat tidak membaca al Qur’an.

Mengapa kita harus membaca al Qur’an setiap hari? Karena membaca al Qur’an masuk dalam daftar prioritas. Dengan demikian, mebaca al Quran termasuk salah satu hal yang membuat kita sibuk. Alangkah indah dan bahagianya bisa sibuk dan asyik dengan al Qur’an

Salah satu motivasi Pemimpin Umum

“Jangan beralasan SIBUK sehingga tak sempat berinteraksi dengan al Qur’an. Tapi sibuklah dengan al Qur’an, apapun profesinya. Karena SIBUK dengan al Qur’an adalah SPIRIT, ENERGI, BERKAH di dunia dan Syafaat di akherat”

Tantangan

Setiap kebaikan pasti ada tantangan atau godaannya. Demikian juga ketika berusaha untuk istiqomah membaca al Qur’an.

Contohnya saat kita duduk untuk membaca al Quran, tiba-tiba ponsel kita berdering. Apalagi panggilan masuk dari teman lama. Atau banyak notifikasi masuk ke ruang chat kita. Sesaat kita melirik, ternyata belasan pesan dari teman masuk secara japri. Belum lagi di grup chating, ratusan pesan masuk belum terbaca.

Kita mulai galau, atau ada berita menarik di Facebook, Instagram. Tontonan di Youtube juga ada yang menarik. Ini adalah perang. Jika tergoda maka waktu lewat satu jam tidak terasa dan belum satu ayatpun dibaca.

Membaca al Qur’an diperlukan kesungguhan. Namanya bersungguh-sungguh itu, jika tidak sempat, ya disempat sempatkan. Jika mengantuk, ya di buka matanya. Jika ada halangan harus disingkirkan untuk bisa menang dan istiqomah mencapai target membaca al Qur’an.

Kapan lagi kita banyak membaca al Qur’an, menunggu bulan apa lagi. Tentu di bulan Ramadhan inilah kita perbanyak membaca al Qur’an.

Abdul Ghofar Hadi

Memadukan Kepemimpinan Qolbu dan Akal

0
Gambar ilustrasi (Foto: ElisaRiva/ Pixabay)

RASULULLAH SAW bersabda, “Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya aka rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tulisan sebelumnya tentang lead by heart dan manage by head, mendapat respon yang cukup beragam dari berbagai pihak. Terlepas dari pro dan kontra, itu adalah keniscayaan dari sebuah tulisan. Tetapi, sebenarnya istilah itu memang lazim, ketika membahas tentang kepemimpinan.

Di akhir tulisan terdahulu, simpulannya adalah bagaimana mampu mengintegrasikan dan memadukan antara hati (qolbu) dan kepala (akal) dalam sebuah kepemimpinan, dan tidak mendikotomikannya. Ini menjadi PR besar dan tantangan bagi kita. Sebab telunjuk kita tidak bisa diarahkan kepada orang lain. Melainkan terarah ke diri kita sendiri. Sebab masing-masing diri kita adalah pemimpin. Tulisan ini akan menguraikan PR tersebut.

Adalah Ivette K. Cabalero yang menulis sebuah artikel dengan judul 12 Qualities of Leaders Who Lead with Head & Heart Together, cukup dapat menjelaskan, bagaimana model kepemimpinan dengan hati (qolbu) itu bisa berjalan beriringan dengan mengelolanya dengan kepala (akal).

Dia mennguraikan dengan sangat apik, bahwa pemimpin yang memiliki kemampuan untuk memimpin dengan kepala dan hati, yang bersinergi dan berjalan bersama-sama sangat berdampak dan berpengaruh dalam kehidupan orang-orang yang mereka pimpin. Seperti kutipan kata bijak Nelson Mandela, “Kepala yang baik dan hati yang baik selalu merupakan kombinasi yang hebat.”

Pemimpin yang memimpin hanya dengan kepala memberi kesan bahwa mereka tidak peduli dan tidak memiliki emosi, dan pemimpin yang hanya memimpin dengan hati memberi kesan bahwa mereka sepenuhnya emosional dan takut menyakiti perasaan orang lain dengan kata-kata dan tindakan mereka. Oleh karena itu, kunci untuk memimpin dengan kepala dan hati adalah kombinasi yang tangguh dari keduanya.

Ketika seorang pemimpin memimpin dengan kepala dan hati secara bersama, dia menciptakan lingkungan dimana orang lain merasa diberdayakan, didorong, dilibatkan, dan aman. Lebih dari itu, tipe pemimpin ini jelas dalam visinya dan bekerja dengan standar tinggi untuk keuntungan semua orang, bukan untuk kepentingan diri dan kelompoknya.

Seorang pemimpin yang memimpin dengan kepala dan hati yang berkolaborasi bersama, akan melampaui panggilan tugasnya untuk membangun hubungan yang langgeng dengan pengikutnya (rakyatnya). Dia mengutamakan orang karena dia tahu bahwa ketika orang terlibat dalam apa yang mereka lakukan, mereka menjadi lebih termotivasi dan lebih produktif. Sehingga menghasilkan kolaborasi dan sinergi yang dahsyat. Bahkan melampau program, target dan ekspektasi yang dibuat.

Berikut adalah beberapa kualitas pemimpin yang memimpin dengan kepala dan hati mereka:

Mereka membuat orang merasa istimewa.

Mereka mengenali bakat dan kontribusi unik dari orang-orang yang mereka pimpin dengan meluangkan waktu untuk mengenal mereka secara pribadi. Mereka memperhatikan apa yang dilakukan orang dan berinisiatif untuk menyampaikan rasa terima kasih, penghargaan, dan juga memberi semangat. Tidak pelit terhadap pujian dan reward terhadap siapapun yang memiliki prestasi. Dan dihadapannya tidak setiap orang adlah istimewa, apapun kedudukan, jabatan dan perannya.

Mereka terhubung dan memiliki relasi dengan banyak orang

Mereka mencintai orang-orang mereka dan terhubung dengan mereka dengan bersikap hormat dan dengan memiliki sikap yang konstan. Mereka sadar bahwa berhubungan dengan orang lain sangat penting untuk memimpin secara efektif.

Mereka menginspirasi kepercayaan dan peka terhadap kebutuhan dan kepentingan orang lain. Sehingga banyak relasi yang menjadi partnernya. Mereka menjadi relasi bukan karena kepentingan dan jabatan, akan tetapi memang kualitas, kapasitas dan integritas diri, sehingga melahirkan hubungan yang baik dengan berbagi pihak.

Mereka mendengarkan orang.

Mereka peduli tentang apa yang orang katakan dan menempatkan diri mereka di tempat mereka untuk melihat sesuatu dari sudut pandang objektif. Mereka mengakui bagaimana perasaan orang lain dan benar-benar terlibat dalam percakapan, dan memberikan balasan yang sesuai. Masukan dari orang lain, apapun bentuknya diendapkan dulu, tidak langsung reaktif untuk ditanggapi, sambil mencari kebenaran dari berbagai pihak.

Mereka menciptakan lingkungan yang aman.

Mereka fokus pada keselamatan orang-orang mereka karena sangat penting bagi mereka untuk mendorong keterlibatan kerja, kesempatan belajar, dan peningkatan kinerja. Keselamatan mempromosikan tingkat produktivitas yang lebih tinggi dan komunikasi yang efektif, secara pribadi dan profesional. Memberikan rasa aman, dengan selalu menunjukkan apa yang hendak dituju, dan saat ini sampai mana, dan dengan apa tujuan itu akan dicapai.

Mereka mendorong dialog terbuka dengan semua orang.

Mereka mempromosikan dialog sebagai cara untuk membangun fondasi kepercayaan yang kuat di mana setiap orang merasa disertakan, didengarkan, dan dihargai. Gaya komunikasi mereka jelas, sederhana, dan mengundang empati semua orang.

Dialog terbuka sangat penting dalam membangun hubungan yang sehat. Tidak takut jika dikritik atau dinasihati oleh orang lain. Sebab nasihat orang lain, sesungguhnya adalah cermin diri untuk berubah lebih baik. Sanjungan yang tidak pada tempatnya, sesungguhnya adalah mesin pembunuh yang sempurna.

Mereka masuk akal.

Mereka terbuka dan bersedia bekerja dengan baik dengan semua orang. Mereka lebih peduli untuk mendengarkan dan membantu orang lain daripada memaksakan aturan.

Menilai dan mengkritik didepan umum adalah tindakan yang sama sekali mereka hindari. Sehingga penilain yang dilakukan sangat obyektif, bukan karena faktor like or dislike. Tetapi dalam rangka perbaikan dan kebaikan bersama.


Mereka menghargai nilai.

Mereka membangun fondasi kepemimpinan yang kuat berdasarkan nilai-nilai yang terlihat dan mengagumkan bagi orang lain. Rasa hormat, kejujuran, integritas, kepercayaan, komunikasi, akuntabilitas, kolaborasi, kerja tim, dan keunggulan adalah beberapa nilai yang mereka pegang. Nilai-nilai itu berasal dari visi, misi, jati diri ataupun budaya dalam organisasi, yang kemudian telah mnegkristal dalam model kepemimpinannya.

Mereka sangat bijaksana dan tidak rentan.

Mereka mengenali kelemahan mereka, mengakui kesalahan mereka, meminta maaf, membuka diri kepada orang lain, dan tidak berpura-pura baik-baik saja padahal sebenarnya tidak. Kerentanan menunjukkan transparansi dan kemanusiaan di pihak mereka, dan bekerja dengan kuat untuk membangun kepercayaan. Sehingga tetap berwibawa, dan berjiwa tangguh. Tidak terbang ketika disanjung, dan tidak tumbang ketika mengakui kesalahan.

Mereka bersyukur.

Mereka menunjukkan dan mengungkapkan rasa terima kasih melalui tindakan dan kata-kata mereka. Tidak ada yang terlalu kecil atau terlalu besar yang tidak mereka syukuri. Mereka menekankan dalam mengakui upaya orang lain sebagai cara untuk menunjukkan penghargaan. Setiap keberhasilan tidak di daku sebagai keberhasilannya. Pun demikian, tidak semua kesalahan, ditimpakan menjadi kesalahan anak buahnya.

Mereka fleksibel.

Mereka menyadari bahwa segala sesuatunya tidak akan selalu berjalan sesuai rencana. Mereka menyesuaikan rencana mereka sesuai kebutuhan dan ramah dengan orang-orang mereka. Mereka menawarkan dukungan tanpa syarat kepada orang-orang yang mereka pimpin tanpa bersikap kasar, atau ofensif. Fleksibel bukan berti tidak memiliki sikap, akan tetapi lebih disorong untuk memberikan solusi setiap terjadi hambatan dn kendala.

Mereka murah hati.

Mereka berbagi sumber daya ; pengetahuan, waktu, kebijaksanaan, keuangan, dll.- untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan pengikutnya. Mereka selalu menginspirasi orang lain untuk menjadi lebih dan mencapai lebih banyak melalui tindakan mereka. Menjadi murah hati adalah nilai dan lifestyle/suluk yang mendarah daging di dalamnya.

Mereka sederhana.

Mereka mengakui bahwa menjadi seorang pemimpin mengandung komitmen dan tanggung jawab yang besar. Mereka terus belajar untuk lebih siap dan lebih banyak akal untuk orang lain. Yang terpenting, mereka dengan sepenuh hati tahu bahwa orang-orang mereka adalah alasan mengapa mereka memimpin. Sehingga tidak ada niat untuk pamer kekuasaan apa lagi pamer kekayaan. Yang ada adalah kesederhanaan, yang selalu mewarnai laku hidupnya.

Mereka beriman

Dan sebagai kuncinya adalah bahwa kepemimpinan yang dilakukan dilandaskan atas dasar iman, sebab dengan Iman dia akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya itu, baik kepada dirinya sendiri, kepada yang dipimpin dan terlebih kepada Allah SWT. Sehingga dia akan memegang amanah dengan sebaik baiknya, memimpin secara adil dan tidak dzolim terhadap yang dipimpin.

Dari urutan 1 hingga 12 sebagai parameter kualitas kepemimpinan yang disodorkan oleh Ivette dengan sedikit modifikasi di atas, secara manejerial dan dalam kehidupan sehari-hari, bisa jadi akan berhasil, serta menghasilkan kepemimpinan yang lengkap efektif dan evisien.

Akan tetapi, tanpa ada Iman, maka tidak akan memiliki nilai yang memadai bagi kepentingan umat. Sebab point 1-12, merupakan proses ber-iqra’, yang Allah berikan kemampuan terhadap siapapun juga, jika mereka bersungguh-sungguh dalam mujahadah. Akan tetapi poin ke-12 menjadi kunci.

Dan olehnya dengan Iman itulah, seorang pemimpin dipandu untuk memimpin. Dan sudah barang tentu bisa memadukan antara qolbu dan akal. Karena dengan hadirnya iman, para pemimpin itu memimpin setelah melakukan literasi yang panjang dan mendalam yang didasari oleh iqra’ bismirabbik.

Wallahu a’lam.

Asih Subagyo
Hidayatullah Institute

Ramadhan, Kedermawanan dan Al-Qur’an

0
Gambar ilustrasi oleh Wagner Cvilela/ Pixabay

CHARITIES Aid Foundation (CAF) menobatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan pada 2020. Berdasarkan World Giving Index 2021 yang disusun CAV, Indonesia memiliki skor 69%, naik dibandingkan pada 2019 yang sebesar 59%, yang juga pada urutan pertama. Faktor utamanya adalah kontribusi muslimin Indonesia yang menyumbangkan uangnya karena didorong kewajiban berzakat serta didukung sedekah dan infaq.

Dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa pembayaran zakat secara global sangat tinggi pada 2020. Dan Ramadhan biasanya identik dengan banyaknya muslimin yang membayar zakat, infaq, sedekah serta wakaf. Meski tidak ada kewajiban dan syariat yang mengatur untuk melakukannya khusus di bulan Ramadhan, kecuali zakat fitrah, akan tetapi ini sudah menjadi budaya yang baik bagi kaum muslimin Indonesia, melihat keutamaan Ramadhan itu sendiri.

Hal ini juga didorong adanya semangat untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia yang sempurna dan paripurna di muka bumi, Rasulullah SAW adalah contoh utama dan tiada tanding diberbagai aspek kehidupan. Tidak ada sedikitpun celah kehidupan beliau yang tidak patut untuk di-ittba’i (diikuti) oleh siapapun, apalagi kita yang menjadi umat beliau.

Sudah selayaknya menjadikan Nabi Muhhammad SAW, sebagai uswah dan qudwah dimanapn, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Salah satu dari sisi yang patut dicontoh adalah aktifitas beliau selama bulan Ramadhan ini.

Pertama, berkenaan dengan bagaimana kedermawanan beliau. Dan, yang kedua, adalah bagaimana sikap beliau terhadap al-Qur’an. Hadits berikut ini, cukup memberikan gambaran yang jelas tentang hal tersebut.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه

“Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan: “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda), dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihissalam beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (Muttafaqun ‘alaih).

Imam An-Nawawi r.a (676 H) menjelaskan, “Ada beberapa pelajaran penting dari kandungan hadits ini : 1) besarnya sifat dermawan Nabi Muhammad SAW, 2) dianjurkannya memperbanyak kedermawanan pada bulan Ramadhan, 3) Bertambahnya kedermawanan dan kebaikan tatkala berjumpa dengan orang saleh dan beberapa saat setelah berpisah dengan mereka. Hal itu karena pengaruh kebaikan dalam berjumpa dengan orang saleh, dan 4) dianjurkannya saling mempelajari Al-Qur’an di bulan Ramadhan.” (Syarh Shahih Muslim 15/69).

Sedangkan Ibnu Hajar Al Asqalaani menjelaskan bahwa kedermawanan dalam syariat adalah memberi sesuatu yang pantas/layak kepada yang pantas/layak menerimanya. Dengan demikian, kedermawanan lebih luas cakupannya dibanding sedekah. Selanjutnya dengan bertadarus (muraja’ah) al-Qur’an dengan malaikat Jibril, menjadikan Rasulullah SAW semakin memahami kandungannya, sehingga mendorong beliau untuk semakin merasa kecukupan, dan terbebas dari sifat tamak.

Dan perasaan kecukupan semacam inilah yang mendasari setiap kedermawanan. Ditambah lagi pada bulan Ramadhan, karunia Allah kepada umat manusia berlipat ganda, karenanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam senang untuk meneladani sunnatullah dengan melipat gandakan kedermawanan beliau. Dengan bersatunya beberapa hal di atas, keutamaan waktu ditambah perjumpaan dengan Malaikat Jibril bersatu padu dalam diri beliau sehingga kedermawanan beliau berlipat ganda. (Fathul Bari 1/31)

Bercermin hadits beserta syarahnya tersebut di atas, melihat realitas kekinian maka hipotesa sederhananya adalah, dua hal tersebut di atas biasanya mengalami peningkatan, di bulan Ramadhan, sedangkan berapa besarnya peningkatan itu memang perlu pembuktian dan kajian lebih jauh.

Namun untuk mengujinya, setidaknya dapat dilakukan dengan mengajukan berbagai pertanyaan sederhana berikut ini. Sudahkan kita benar-benar ittiba’ rasul dalam kaitannya dengan dua hal ini? Sudahkan tingkat kedermawanan kita di bulan Ramadhan ini meningkat dibanding dengan bulan-bulan sebelumnya.

Bagaimana dengan zakat, infaq dan sedekah kita? Demikian juga halnya, bagaimana dengan interaksi kita di bulan Ramadhan ini dengan al-Qur’an, sudahkah lebih baik secara kuantitas dan kualitasnya dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Adakah target untuk menghatamkan al-Qur’an berapa kali, mentadaburi dan seterusnya. Adakah semua aktifitas kita di Ramadhan ini terus mengarah ke-perbaikan dan peningkatan diri, atau sebaliknya?

Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang bisa diajukan, untuk menguji dan memverifikasi diri sendiri sebagai bahan sekaligus bisa sebagai sarana untuk muhasabah (introspeksi) diri.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut layak kita ajukan untuk diri kita masing-masing, mumpung masih berada di awal-awal Ramadhan. Masih terbuka dan terbentang waktu untuk melakukan perbaikan dengan menyusun perencanaan, sekaligus strategi implementasinya.

Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. Tiba-tiba sudah berada di penghujung Ramadhan. Dan ternyata tidak ada perubahan dan perbaikan yang signifikan terjadi pada diri kita. Padahal keutamaan Ramadhan itu, begitu luar biasa.

Jika menggunakan kalkulasi matematika ilahiyah, justru bulan Ramadhan ini momentumnya. Saat semua ibadah dan amal kebajikan dilipatgandakan pahalanya.

Sekali lagi, masih belum terlambat. Masih ada waktu dan kesempatan. Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput kita. Masihkan kita dapat bertemu Ramadhan tahun depan? Sehingga, jangan sampai lepas kesempatan berharga ini. Mari kita mulai dari hal-hal kecil.

Tunjukkan kedermawanan kita kepada orang-orang di sekitar kita. Paksakan, lalu biasakan diri untuk selalu berinterkasi dengan al-Qur’an diberbagai waktu, tempat dan kesempatan. Setapak demi setapak, dari saat ini, di Ramadhan kali ini dan mulai dari diri kita sendiri.

Awalnya bisa jadi berat dan menjadi beban, namun lambat laun akan terasa ringan, lalu menjadi kebiasaan dan meningkat menjadi kebutuhan. Jika semua dilakukan dengan kesadaran dan kesabaran penuh, dan bukan untuk riya’ agar di sanjung mahluk, tetapi dilakukan secara Lillah, In Syaa Allah perubahan akan terjadi, cepat ataupun lambat.

Semuanya butuh proses, tidak bisa instan. Sebenarnya hal ini merupakan konsekwensi logis menjadi orang beriman. Semuanya, kita niatkan untuk meneladani Rasulullah SAW semampu kita.

Kemudian dari sini, kita berharap akan menjadi habits (kebiasaan) lalu menjadi kebutuhan ruhiyah kita dihari-hari berikutnya, hingga ajal menjemput kita. Dan semua ibadah dan amal yang kita lakukan itu, bermuara pada tujuan akhir dari Ramadhan ini, dan itu juga tujuan dari kehidupan kita, yaitu menjadi insan yang bertakwa. Wallahu a’lam.

ASIH SUBAGYO, instruktur pada Hidayatullah Institute

Plh Kemenag Aru Minta DPD Hidayatullah Jadi Pelopor Pembangunan

0

DOBO (Hidayatullah.or.id) — Plh. Kepala Kemenag Kabupaten Kepulauan Aru, Kepala Subbag Tata Usaha, Wati Mangar, membuka dan memberikan sambutan pada Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gabungan DPD Hidayatullah Tual dan DPD Hidayatullah Kepulauan Aru, Sabtu, 9 Sya’ban 1443 (12/3/2022).

Pembukaan Rakerda yang berlangsung di Aula Kankemenag itu mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik”.

Dalam sambutannya Wati Mangar meminta DPD Hidayatullah untuk berperan aktif menjadi pelopor pembangunan, di mana saat ini di era reformasi oleh sebagian orang disalahartikan untuk berbuat sesuatu yang tidak diinginkan, tanpa memperhatikan aturan-aturan yang berlaku.

Untuk itu DPD Hidayatullah dituntut untuk lebih mengutamakan dan memiliki kekuatan daya pikir dan rasionalitas daripada emosi (mind power) dalam menyikapi hal dimaksud.

Wati Mangar juga berharap dengan adanya Rakerda ini dapat melahirkan pikiran-pikiran dan pandangan program kerja yang realistis dengan upaya pembinaan umat yang berkesinambungan sehingga dapat mewujudkan masyarakat adil, makmur dan sejahtera.

Acara ini dihadiri oleh Ketua DPW Hidayarullah Prov. Maluku Ust Sulaiman, Sekretaris DPW Hidayarullah Prov. Maluku, Ust. M. Alwi beserta para Kandep, Ketua DPD Hidayatullah Tual, Syahrir Hasan dan pengurus, Ketua DPD Hidayatullah Kep. Aru, Jumadil Azhar dan pengurus serta tokoh agama. (Humas Kemenag Maluku)