SALAH satu amalan utama di bulan Ramadhan adalah sedekah. Ada beberapa hadist yang mempertegas tentang keutamaan sedekah di bulan Ramadhan. Rasulullah melakukannya sendiri sebagai teladan dan memberikan kabar keutamaan dari sedekah di bulan Ramadhan, meski hanya sebiji kurma, segelas air.
Dari Ibnu Abbas yang berkata, “Rasulullah Saw adalah orang yang paling dermawan dan saat beliau paling dermawan adalah di bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau. Malaikat Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam dalam bulan Ramadhan untuk saling mempelajari Al-Qur’an. Pada saat itu Rasulullah lebih dermawan dalam melakukan amal kebajikan melebihi (cepat dan luasnya) hembusan angin.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bulan Ramadhan membawa suasana kepada orang-orang beriman untuk berbagi. Semua merasa rugi jika tidak turut berbagi di bulan Ramadhan ini, terutama saat menjelang buka puasa. Salah satu yang semarak dan menjadi tradisi yang baik sejak dulu adalah di Haramain masjidil Haram dan masjid Nabawi.
Di dua masjid itu, luar biasa orang berlomba untuk berbagi. Orang yang kaya menyiapkan makanan dan minuman yang banyak dengan mengkapling tempat di masjid. Ada orang yang diutus khusus untuk mengajak jamaah bisa ikut makan di tempat yang disediakan. Utusan itu terkadang harus berebut dan “berkelahi” dengan yang lain. Luar biasa berkelahi untuk memberi kebaikan.
Bagi orang yang tidak mampu, mereka juga ikut berbagi meski dengan beberapa lembar tisu, air minum mineral, beberapa biji kurma dan hal-hal yang sederhana. Intinya mereka ingin berbagi.
Di masjid-masjid Indonesia juga melimpah makanan dan minuman. Meski tidak seperti di Haramain. Terkadang harus dijadwal dan dibatasi orang yang membawa makanan karena khawatir mubadzir.
Momentum berbuka puasa menjadi saat yang tepat untuk berbagai dan bersedekah. Salah satu motivasinya adalah hadist Rasulullah
Rasulullah Saw bersabda, “barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala dari orang yang berpuasa itu sedikitpun. (HR. Al-Tirmidzi).
Inilah yang menjadi motivasi iman yaitu sedekah di bulan Ramadhan sangat utama karena sedekah di bulan tersebut membantu orang lain untuk melaksanakan ibadah puasa. Bahkan orang yang memberikan makan orang yang berpuasa akan diberikan ganjaran sebagaimana orang yang berpuasa tersebut.
Ironisnya ada sebagian orang yang menikmati Ramadhan sebagai bulan orang banyak memberi, berbagi dan sedekah. Menikmati dengan hanya menjadi penerima atau penikmat dari pemberian orang lain. Padahal sebagian mereka ada kemampuan untuk berbagi.
Seharusnya penerima sedekah adalah orang-orang faqir miskin, anak-anak yatim dan tidak mampu yang menikmati Ramadhan penuh berkah dengan banyak pemberian dari para dermawan dan muhsinin.
Salah satu rangkaian Safari Ramadhan, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs Nasri Bohari didampingi Ketua Yayasan Al Jihad Pesantren Hidayatullah Belopa, Ustadz Hamzah Sultan serta sejumlah pengurus Pesantren Hidayatullah Belopa mengadakan kunjungan silaturahim ke kantor Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu, Kamis (7/4/2022).
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan mengadakan safari Ramadhan di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, mulai Rabu, 5 Ramadan 1443 (6/4/2022).
“Dalam kegiatan tersebut, seluruh pengurus DPW dan DMW dibagi dalam 4 tim. Setiap tim mengunjungi 6 kabupaten/kota,” jelas Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel, Ust Reskyaman SW MPd .
Beberapa kegiatan dalam safari Ramadhan tersebut di antaranya mulai dari dakwah mimbar, berupa ceramah Ramadhan, kultum shubuh, khutbah Jum’at, penguatan keorganisasian/manhaj bagi para warga dan jama’ah Hidayatullah.
Kegiatan lainnya berupa dakwah fardiyah, dikhususkan kepada para pejabat kab/kota, tokoh masyarakat, tokoh agama serta rektor-rektor perguruan tinggi. Serta dakwah digital.
Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust Nasri Bohari, MPd, menjelaskan safari dakwah merupakan upaya penguatan dan perluasan jaringan Hidayatullah di masjid-masjid raya dan masjid-masjid besar di Sulawesi Selatan.
“Sehingga diharapkan Hidayatullah semakin bersinergi dengan pemerintah daerah setempat serta tokoh-tokoh dengan menggencarkan silaturrahim dan penguatan program,” jelasnya.
Safari dakwah tersebut juga sebagai kunjungan kerja serta evaluasi DPD di setiap daerah terkait pelaksanaan program kerja dan pengembangan amal usaha khususnya di bidang pendidikan.*/Albayan Media Center
BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Ramadhan 1443 H kali ini dimaksimalkan oleh DPW Hidayatullah Kepri bersama BMH dan Pemuda Hidayatullah (Pemhida) untuk melakukan safari Ramadhan di kawasan Kepulauan Riau. Di hari ke-lima Ramadhan, Kamis, (7/4/2022), tim sinergi melaksanakan serangkaian kegiatan dakwah dan sosial di kabupaten Bintan.
Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust Darmansyah menjelaskan bahwa safari Ramadhan kali ini dimaksimalkan membangun soliditas di intenal Hidayatullah dan penguatan tarbiyah untuk kalangan eksternal melalui safari dakwah ke masjid-masjid.
Di awali penyerahan bantuan bahan pokok berupa beras, telur dan minyak goreng kepada pengelola Pondok Tahfidz Al Qur’an Hidayatullah di Toapaya kemudian dilanjutkan buka bersama dengan para pengurus serta santri penghafal Al Qur’an.
Di sela ramah tamah usai shalat magrib, Kepala Perwakilan BMH Kepri, Abdul Aziz mengungkapkan bahwa substansi dari kunjungan kali ini adalah upaya membangun sinergitas untuk menguatkan kebersamaan dan keharmonisan di kalangan kader.
“Dengan ukhuwah yang kuat maka organisasi akan produktif,” tegasnya.
Pada kesempatan kali ini, DPW bersama Pemhida melakukan safari dakwah ke beberapa masjid di Bintan dan Tanjung Pinang yang difasiltasi oleh BMH Kepri, di antaranya, Ust Muhammad Hasan di masjid Jami’ Al Hidayah, Bintan, Ust Darmansyah di masjid Nurul Hikmah, Bintan, Ust Humeydi di masjid Al Amal, Bintan, Ust Rahmat Ilahi Hadis di masjid Al Mujahadah, Bintan dan Ust Rizky Fauzan Simbolon di masjid Al Muhajirin di Tanjung Pinang.
Ustadz Humeydi sebagai tuan rumah sangat berbahagia dengan silaturrahim pada safari Ramadhan kali ini, karena menurutnya para kader perlu terus memantapkan diri baik dari sisi pemikiran maupun aplikasi dan sebagaimana pernah disampaikan Ust Abdullah Said Rahimahullah bahwa Ramadhan adalah momentum penguatan spirit untuk mengembalikan semangat yang mulai kendur.
“Para kader di daerah sangat membutuhkan support seperti silaturrahim dari DPW dan BMH serta Pemhida sebagai penyemangat,” kata Humeydi.
Sebab, Humeydi menambahkan, kader kerap kali menghadapi dinamika yang tak terduga dan harus selalu siap merespon persoalan yang terjadi di tengah-tengah ummat.
Sebagaimana kejadian di tengah tamah tamah malam itu, tiba-tiba dua orang jamaah datang ke kediaman ustadz Humeydi meminta tolong untuk menangani anaknya yang tiba-tiba mengalami stres; tidak mau makan dan tidur serta berperilaku aneh. Ustadz Humeydi pun merespon akan segera menangani selepas tarawih dan ceramah.*/Mujahid M. Salbu
Foto ilustrasi berpikir dan bekerja (Mohamed Hassan/ Pixabay)
SERINGKALI kita menghadapi diskusi atau bahkan pertengkaran yang hebat. Bahkan menjadi perdebatan seperti chicken and egg, duluan mana antara telur atau ayam. Sehingga terjadi debat kusir berkepanjangan. Sebab ada juga yang menilai bahwa, berfikir itu bukan kerja. Dan hanya yang menggunakan fisik alias otot dan berkeringat itulah yang bekerja. Atau dengan bahasa lain lihatlah hasilnya yang dapat dilihat, dan biasanya diasosiasikan dalam bentuk material yang kasat mata.
Meskipun hal tersebut sudah berlangsung lama, berulang-lang dan berjilid-jilid jika dibukukan. Tetapi saya yakin hal itu akan masih terus terjadi perdebatan hingga kini. Problemnya adalah tidak ada yang mendudukkan persoalan pada tempatnya. Semua berargumen, bahwa pendapatnya yang paling benar. Lalu jika semua menganggap paling benar, lalu pendapat mana yang paling benar dari yang paling benar itu. Tambah pusing jadinya.
Mari kita urai, dengan kepala dingin. Gambar di atas menunjukkan sebuah diagram yang mudah untuk dibaca. Dan ini lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa sebenarnya, siapapun yang ingin melakukan sesuatu (bekerja), pasti berfikir dulu.
Dalam grafik itu ditunjukkan sekitar 90% waktu yang digunakan untuk berfikir sebelum mengerjakan sesuatu. Dan sekitar 10% waktu yang digunakan untuk mengeksekusi dan merealisasikan apa yang dipikirkan itu. Jadi yang paling benar berarti berfikir dulu, bukan bekerja dulu?
Tunggu dulu, ada kaidah yang terkenal di dunia manajemen, namanya hukum Pareto, yang bersumber dari penelitiannya di Italia awal tahun 1900an. Intinya Hukum Pareto atau The Pareto Principle atau sering disebut prinsip 80/20, menyatakan bahwa untuk banyak kejadian, 80 persen dari efeknya itu disebabkan oleh 20 persen dari penyebabnya.
Sehingga, dalam konteks kepemimpinan sering kali diterapkan kaidah bahwa manejemen puncak menggunakan 80% sumberdaya yang dimikinya untuk berfikir secara strategis, dan 20% sumberdayanya digunakan untuk mengerjakan hal teknis. Demikian juga sebaliknya, staff (anggota) biasanya menggunakan 80% sumberdayanya untuk mengerjakan hal teknis (fisik) dan 20% digunakan untuk berfikir.
Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana dengan yang berada di middle management? Disini dipelukan azas proporsional, disesuaikan dengan beban dan tanggungjawabnya masing-masing. Biasa 70/30, 60/40, 50/50 dan seterusnya.
Saya teringat sebuah tulisan dari Prof. Amien Rais, saat memberikan testimoni pada buku Mencetak Kader, mengenai sosok AllahuyarhamUstadz Abdullah Said pendiri Hidayatullah. Dimana Pak Amien menyampaikan bahwa beliau merupakan gabungan dari Man Of Idea dan Man Of Action.
Artinya Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, berhasil memadukan dan mengintegrasikan antara berpikir dan bekerja dengan fisik secara proporsional. Sehingga menghasilkan karya nyata pada zamannya, berupa manhaj gerakan dan terus berkembang hingga sekarang, serta jaringan Hidayutullah yang terus tumbuh di seantero Bumi.
Kendatipun jika ditelisik lebih dalam lagi, kemampuan beliau tersebut sesungguhnya merupakan buah dari riyadhoh, yang bersumber dari kuatnya literasi beliau dan yang lebih utama lagi adalah kuatnya ibadah beliau, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya.
Dengan demikian maka tidak perlu lagi ada perdebatan lagi antara berpikir dan bekerja. Keduanya sesungguhnya sangat bisa dikombinasikan secara proporsional, sesuai dengan kapasitas, beban, dan tanggung jawab masing-masing, tanpa harus merasa yang paling sendiri.
Kita banyak menjumpai dalil urgensi berpikir dan bekerja dalam Al-Qur’an dan al-Hadits. Pun demikian Rasulullah SAW sebagai pemimpin tertinggi umat Islam, dengan sangat indah mempraktikkannya, diberbagi kesempatan. Salah satunya sebagaimana dijelaskan oleh As-Sa’di dalam Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, ketika menafsirkan surat Ash-Shof ayat 4:
“…. Ketika Rasulullah menghadiri peperangan, beliau menata para sahabat dalam beberapa barisan serta mengatur mereka dalam berbagai posisi, agar masing-masing tidak mengandalkan pada yang lain, tapi masing-masing kelompok berkonsentrasi di posisinya dan menunaikan tugasnya. Dengan cara seperti ini, pekerjaan bisa tuntas dan kesempurnaan bisa di dapatkan”.
Wallahu a’lam
Asih Subagyo –Senior Researcher pada Hidayatullah Institute Research Center
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Muslimat Hidayatullah (Mushida) bekerjasama dengan dari BAZNAS (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta mengadakan sejumlah acara di Lapas Perempuan kelas IIA Jakarta Timur, Rabu, 4 Ramadhan 1443 H (6/4/2022).
Acara dimulai dengan pemeriksaan kesehatan, penghapusan tato, pemberian bingkisan, tausiah dan buka puasa bersama.
Pada kesempatan kali ini hadir memberikan tausiah Ustadzah Sulmiati Saleh dari muslimat Hidayatullah (mushida).
Acara yang digelar di Mushola Lapas Perempuan Pondok Bambu Jakarta Timur ini dihadiri sekitar 50 warga binaan pemasyarakatan.
Ustadzah Sulmiati dalam lawatannya ke lapas perempuan ini memberikan materi tentang meraih ampunan di bulan Ramadhan.
Dalam kuliah singkat ini beliau mengajak semua yang hadir untuk memaksimalkan 1 bulan pada ramadhan kali ini untuk muhasabah diri, bertaubat, memperbanyak istighfar, bermunajat dan mendekatkan diri kepada Allah.
Selain warga binaan, hadir juga pihak Kalapas beserta beberapa stafnya untuk membersamai para warga binaan lapas perempuan kelas II A Jakarta Timur.
Rangkaian agenda pada hari ini ditutup dengan buka puasa bersama. Namun buka puasa dilakukan di kamarnya masing-masing. Para petugas dibantu oleh warga binaan tamping mendistribusikan menu takjil dan makan malam ke seluruh kamar warga binaan.
Sebanyak 400 paket menu takjil dan makan malam kiriman dari BAZNAS (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta.
Program mulia ini dapat berlangsung dengan baik dan lancar berkat sinergi dari berbagai pihak, diantaranya adalah BAZNAS (BAZIS) DKI, Lapas Kelas II A Pondok Bambu, Islamic Medical Service (IMS) dan Muslimat Hidayatullah (Mushida).*/Alamsjah Jilpi
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ramadhan 1443 H, Islamic Medical Service (IMS) bersama Baznas (Bazis) DKI sinergi berikan layanan hapus tato keliling. Terbaru untuk warga binaan pemasyarakatan perempuan Kelas II A Jakarta Timur, Rabu, 4 Ramadhan 1443 H (6/4/2022).
Dalam sesi pembukaan hadir para pejabat teras BAZNAS (BAZIS) DKI seperti Ahmad H. Abu Bakar, Nasir Tajang, Ahmad Sholeh dan Ibu Rini.
Dalam kesempatan itu IMS menerjunkan seorang dokter, dua perawat, tiga operator dan dua orang paramedis.
Hadirnya program ini disambut baik oleh Plt Kalapas Ibu Aan Aeni.
“Terima kasih kepada BAZNAS (BAZIS) DKI dan IMS yang berkenan datang dengan layanan hapus tato. Mungkin bisa berlangsung secara rutin, ya,” ungkapnya.
Sementara itu Direktur IMS, Imron Faizin menyampaikan terima kasih atas kepercayaan BAZNAS (BAZIS) DKI dan penyambutan yang sangat baik dari Kalapas beserta jajarannya.
“Alhamdulillah, teirma kasih, IMS kembali dapat kepercayaan dari mitra kerja, BAZNAS (BAZIS) DKI dan Lapas di sini, insha Allah kebaikan dan kemaslahatan semakin mudah kita wujudkan dengan kolaborasi seperti ini, utamanya dalam membantu mereka yang hijrah lebih baik lagi,” jelasnya.
Layanan hapus tato IMS ini mendapat sambutan positif dari warga binaan.
“Program ini lama saya tunggu. Jadi senang sekali akhirnya datang hari ini IMS. Saya insha Allah kalau sudah bebas akan bersih dari keburukan dan juga tato ini,” ungkap Intan (35).
Senada dengan itu Santi (32) juga menyampaikan perasaan bahagianya.
“Terima kasih IMS. Saya sudah punya niat hapus tato ini sebelum masuk penjara. Namun, ternyata biaya hapus sangat mahal. Jadi saya sangat bersyukur justru dalam penjara saya bisa hapus tato gratis dari IMS,” tuturnya penuh haru.
Selain layanan hapus tato, BAZNAS (BAZIS) DKI juga membagikan bingkisan Ramadhan berupa seperangkat alat sholat berupa mukena.
Sesi paling akhir acara dipuncaki dengan buka puasa bersama dengan total 400 paket takjil dan 400 paket makanan semua untuk warga binaan binaan di lapas itu.*/Alamsjah Jilpi
IMAN adalah ucapan dengan lisan, amal dengan anggota badan, keyakinan (dan amal) hati. Ada tiga kompenen penting yang harus terpenuhi dan ada pada seseorang yang mengaku dirinya beriman. Tiga komponen tersebut tidak terpisahkan satu dengan yang lain dan saling menguatkan.
Iman harus diucapkan dengan pernyataan syahadat dan dipersaksikan oleh banyak orang bahwa dirinya orang beriman. Namun tidak cukup hanya sebuah pernyataan, status, omongan saja tapi harus teralisasi dalam kehidupan sehari-hari dengan amal anggota badan berupa ibadah dan akhlaq. Ketiganya diyakini dalam hati sehingga ucapan dan perbuatan itu memiliki makna yang mendalam dan ikhlas sebagai sebuah keyakinan.
Iman juga tidak cukup dalam hati, tapi harus terucap dengan lesan dan teraktualisasikan dalam perbuatan. Jika berbeda keyakinan dengan ucapan maka bisa terjebak dalam kemunafikan. Jika tidak ada keyakinan dan perbuatan yang benar maka masuk dalam jerat kesesatan.
Ramadhan sebagai bulan mulia yang diperuntukkan khusus untuk orang-orang beriman, sebagai madrasah keimanan yang terkondisikan orang-orang beriman mudah untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. Semua umat Islam di seluruh penjuru dunia menyambut Ramadhan dengan suka cita.
Secara lesan dhahir nampak syiar yang semarak menampakkan keimanannya, secara perbuatan juga terkondisikan semua berkumpul di masjid-masjid untuk melaksanakan buka puasa bersama, sahalat tarawih, shalat lail, tadarus dan infak-infak amal sholeh. Secara hati semakin tumbuh keyakinan di bulan Ramadhan tentang janji-janji Allah.
Ramadhan adalah momentum untuk upgrading iman, secara eksternal Allah sudah mengkondisikan alam ini dengan angin surga yang orang mudah untuk melaksanakan ketaatan. Pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, syetan dibelenggu. Banyak nasehat, tausyiah dari para ustadz, tulisan, flyer, spanduk, video pendek yang semua mengajak kepada kebaikan di bulan Ramadhan.
Secara internal, ada keinginan dan cita-cita dalam diri orang beriman untuk meraih keberkahan dan kemuliaan Ramadhan. Dalam hati mendalam, meskipun mungkin kecil tapi secara naluri semua orang ingin mendapatkan kebahagiaan dunia akherat.
Ramadhan terbuka lebar dengan tangga yang sangat mudah dan jelas untuk meningkatkan kualitas keimanan kita. Semua tergantung mujahadah kesungguhan dan pengorbanan kita dalam memanfaatkan momentum Ramadhan ini.
Salah satu cara paling mudah dalam upgrading iman yaitu dengan melaksanakan ketaatan melalui berbagai ibadah wajib dan sunnah. Semakin serius melaksanakan ketaatan maka semakin menikmati dan meningkat keimanan seseorang.
Banyak peluang dan kesempatan untuk naik tingkat keimanan kita, ada banyak jalan dan cara untuk upgrading iman kita di bulan Ramadhan ini.
MAKASSSAR (Hidayatullah.or.id) — Hari Kebudayaan Kota Makassar yang diperingati setiap 1 April kembali dilaksanakan secara serentak di lembaga-lembaga pemerintah dan juga seluruh sekolah di Kota Makassar belum lama ini.
SD Integral Al Bayan Hidayatullah sebagai salah satu sekolah dibawa naungan Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar juga turut memeriahkan hari Kebudayaan tersebut yang diikuti oleh semua siswa dan dewan guru.
Juga dimeriahkan para orangtua yang mengantar dan melihat anak-anaknya memakai baju adat Makassar. Tagline Hari Kebudayaan Kota Makassar kali ini “Warna Warni Budaya Kota Makassar”.
Rangkaian kegiatan Hari Kebudayaan Kota Makassar di SD Integral Al Bayan dipusatkan di Lapangan Pesantren Hidayatullah Makassar dengan apel kebudayaan dipimpin oleh Kepala Sekolah Ruslan SPd MPd. Membacakan Pengarahan Hari Kebudayaan Wali Kota Makassar.
Kegiatan dimulai jam 08:00-10:00 memberikan semangat kepada siswa dalam suasana merawat budaya. “Semoga kegiatan ini bisa menumbuhkan kesadaran merawat dan menjaga budaya untuk generasi muda, generasi masa depan Makassar,” ujar Ruslan.*/Hidayatullah Makassar
BATULICIN (Hidayatullah.or.id) – Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah yang berpusat di Balikpapan Kalimantan Timur akan membangun cabang pondok pesantren di Kabupaten Tanah Bumbu.
Rencana pembangunan pondok pesantren yang telah memiliki 600 pondok di seluruh Indonesia ini akan dibangun di Desa Mattone, Kampung Baru, Kecamatan Kusan Hilir.
Nantinya konsep bangunan pondok akan dibuat menyesuaikan dengan kearifan lokal setempat.
Lahan pembangunan ponpes sendiri merupakan hibah dari salah satu warga setempat yang berlokasi di Jalan Tanete RT 4 Desa Mattone Kampung baru seluas kurang lebih 4 Hektar.
Ketua Yayasan sekaligus pimpinan Ponpes Hidayatullah Tanah Bumbu, Ust Saliemul Qolbi, mengungkapkan saat ini pihaknya tengah melakukan tahapan pembersihan lahan dan pengukuran batas tanah bersama perangkat desa.
Saliem menambahkan,setelah pembersihan lahan tahap awal pembangunan nantinya akan dibangun kantor yayasan,rumah pengasuh, ruang kelas santri dan masjid serta dapur ponpes.
“Alhamdulillah kemarin kami sudah bertemu langsung bapak bupati memohon doa juga dukungan dan beliau menyampaikan sangat merespon rencana ini,” ujarnya.
Selain tanah hibah seluas 4 hektar pihak yayasan juga menerima hibah bangunan berupa rumah di jalan Arif Rahman Hakim Desa Pasar baru.
”Nah ini insya Allah akan kita jadikan pusat kegiatan dakwah, majelis Qur’an dan PAUD,” katanya.
Dirinya berharap, hadirnya ponpes Hidayatullah di Kabupaten Tanah Bumbu mampu memberikan kontribusi positif terhadap pendidikan keagaaman generasi muda di daerah ini.
Dikesempatan lain, Bupati Tanah Bumbu, abah HM Zairullah Azhar dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya pendidikan keagamaan kepada generasi muda di daerah ini.
Menurut bupati, pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan, hal ini tidak lain karena pendidikan merupakan kata kunci menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas sekaligus beraklakul karimah sebagai modal utama pembangunan daerah.
Ayah anak yatim ini juga dikenal dengan kepeduliannya terhadap keberadaan kaum duafa dan anak yatim dengan membangunkan Istana Anak Yatim di Tanah Bumbu yang dihuni ribuan anak yatim.
Sementara itu Kepala Desa Mattone Kampung baru, Andi Satria Jaya, menyambut baik rencana pembangunan ponpes di wilayahnya.
Menurutnya kehadiran ponpes ini akan menjadi berkah tersendiri bagi warganya juga masyarkat Tanah Bumbu.
“Ya tadi bersama pihak yayasan dan petugas desa kita sudah meninjau langsung lokasi, melihat batas tanah dan lainnya mudah mudahan setelah ini pembangunannya bisa segera dimulai,” ujarnya.
Dirinya berharap keberadaan ponpes di Desa Mattone ini mampu memberikan pengaruh positif terutama dalam bidang pendidikan keagamaan.
”Saya sendiri sudah lama kenal ponpes Hidayatullah bahkan dulu bertahun tahun selalu mendapat kiriman majalah Suara Hidayatullah dengan jaringan masyarakat bertauhid,” pungkasnya.
Hidayatullah sendiri merupakan lembaga yang bergerak dalam pelayanan umat meliput dakwah sosial, pendidikan, penaggulangan bencana dan lainnya.
Khusus untuk Kabupaten Tanah bumbu Hidayatullah mengambil peran strategis di bidang dakwah sosial dan pendidikan juga menyantuni kaum mustadhaffin, anak yatim terlantar.*/Wartatanbu
Umat muslim Amerika shalat tarawih di Time Square (Foto oleh Ken Lopez/ Freedomnews.tv)
MASYARAKAT dunia dibikin heboh. Sabtu, 2 April 2022, Time Square tepat di jantung kota New York Amerika Serikat bergelora. Tidak seperti biasanya, kurang lebih 2.000 orang kaum muslimin baik para imigran maupun penduduk tempatan, memenuhi jalanan untuk iftar dan shalat tarawih secara berjamaah.
Tempat dimana lokasinya dekat dengan peristiwa 911, yang terjadi lebih dari dua puluh tahun silam. Sontak kejadian yang pertama di wilayah ini, menjadi sorotan dunia dan viral dimana-mana. Gambar dan video berseliweran diberbagai media sosial, dan memenuhi pemberitaan dan perbincangan, di berbagai media.
Event Organizernya adalah Project ZamZam. Sebuah lembaga yang berdasarkan website resminya, merupakan lembaga sosial yang mengimpor air zam-zam untuk wilayah Amerika Serikat dan Kanada. Dimana 100% keuntungan dari penjualannya didonasikan untuk membangun sekolah-sekolah di Palestina.
Targetnya acara itu adalah mengkampanyekan bahwa, Islam itu sebagai agama damai, rahmatan lil ‘alamiin, dan menghapus stigmatisasi negatif yang ada. Tanpa keributan semua berjalan dengan indah. Dan sejauh ini terlihat bahwa target itu sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan.
Demikian juga halnya belahan dunia lain, kita bisa melihat semarak Ramadhan dengan berbagai kegiatan. Baik di negara-negara yang minoritas muslim apalagi di negara-negara yang mayoritas muslim, dapat dengan mudah kita saksikan lewat berbagai media.
Di London misalnya, sebagaimana laporan myLondon.news, kegiatan open iftar (buka bersama), dilakukan oleh berbagai kalangan muslim di taman-taman, di masjid, dan di tempat keramaian lainnya, di bebagai sudut kota di Inggris.
Demikian juga diberbagai negara-negara Eropa lainya, seperti Jerman, Belanda, Belgia, Perancis, Italia dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan juga di Jepang, Korea, Hongkong, Taiwan dlsb, meskipun muslim minoritas di negara-negara itu, akan tetapi semarak Ramadhan terus tumbuh. Merekapun tetap mengikuti aturan disetiap negara mereka masing-masing tersebut.
Tentu saja hal ini sangat menggembirakan, dan sekaligus sejalan dengan berbagai prediksi yang dilakukan oleh berbagai pihak, bahwa Islam adalah agama masa depan. Menurut laporan WorldPopulation, dari live data yang ditampilkan terus berubah, menunjukkan bahwa populasi dunia saat ini adalah 7,9 miliar manusia.
Hal ini meningkat jauh dari perkiraan populasi dunia oleh Biro Sensus AS pada Juni 2019 yang diperkirakan berjumlah 7.577.130.400 orang di bumi, yang jauh meningkat dari populasi dunia 7,2 miliar di tahun 2015. Sedangkan berdasarkan data PBB menunjukkan populasi dunia saat ini melebihi 7,7 miliar.
Sementara itu dari sumber yang sama dijelaskan bahwa saat ini, bumi adalah rumah bagi lebih dari 1,9 miliar Muslim (24,67%). Islam juga merupakan agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Populasi Islam sebagian besar terbagi antara 1,5 miliar Muslim Sunni dan 240-340 juta Muslim Syiah, dengan sisanya tersebar di antara beberapa denominasi (aliran) yang lebih kecil lagi.
Sedangkan menurut prediksi dari Pew Research Center, yang dilakukan pada tahun 2010, dipekirakan pada tahun 2050, di Asia-Pacific jumlah populasi muslimnya adalah 29,5% dari total populsi 4.937.900.000 atau 1.457.720.00. Di Timur Tengah dan Afrika Utara 93,7% dari total pupulasi 588.960.000 atau 551.900.000.
Di Sub-Sahara Afrika 35,2% dari total populasi 1.899.960.000 atau 669.710.000. Di Eropa ada 10,2 % dari total populasi 696.330.000 atau 70.870.000. Di Amerika Utara terdapat 2,4% dari total populasi 435.420.000 atau 10.350.000. Sedangkan di Amerika Latin dan Karibia ada 0.1% dari populasi 748.620.000 atau 940.000.
Melihat geliat dakwah saat ini, terutama di Eropa, nampaknya prediksi tersebut akan meleset, artinya populasi muslim akan meningkat signifikan. Laporan yang dilakukan oleh iERA, salah satu lembaga dakwah yang berpusat di Inggris, setidaknya berhasil membimbing orang masuk Islam rata-rata 100 orang perhari di seluruh dunia.
Data ini tidak berlebihan, apalagi jika melihat dari besarnya arus imigrasi dari negara-negara Islam, ke berbagai negara-negara Eropa. Sehingga memicu terjadinya gelombang muallaf, baik melalui proses pernikahan maupun interaksi lainnya. Dan hal ini juga dikonfirmasi dengan terjadinya pertumbuhan masjid di Eropa, baik yang dibangun baru ataupun konversi dari gereja ke Masjid, juga terus bertambah.
Sementara itu, kajian secara akademik juga dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh [Piere dan Alexandra: 2019) dari Higher Colleges of Technology, Abu Dhabi, United Arab Emirates, terkait dengan pertumbuhan muslim di Eropa.
Berdasarkan data dasar dari Pew Research, melalui algoritma dengan pendekatan matematis dan statistik tertentu, menggunakan 3 (tiga) sekenario: tanpa migrasi, migrasi moderat/menengah, dan migrasi tinggi. Selanjutnya dikombinasikan dengan 3 variabel lain, yaitu: pertumbuhan populasi muslim rendah, pertumbuhan populasi muslim menengan dan pertumbuhan populasi tinggi. Kemudian masing-masing dimatrikkan melalui 5 tahap pengujian.
Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian itu, cukup mencengangkan. Dengan sekenario menengah saja, maka pada rentang tahun 2085 hingga tahun 2215, maka terdapat 13 negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, dengan urutan sebgai berikut: Siprus (pada tahun 2085), Swedia (2125), Prancis (2135), Yunani (2135), Belgia (2140), Bulgaria (2140), Italia (2175), Luksemburg (2175), Inggris (2180), Slovenia (2190), Swiss (2195), Irlandia (2200), dan Lituania (2215).
Sedangkan, 17 negara lainnya, rerata populasi muslimnya pada saat itu sudah di kisaran 20-30% di negaranya. Dan pada 200 tahun kemudian, mayoritas muslim akan menyusul di 17 negera tersebut.
Dari penelitian ini, sebenarnya telah mengkonfirmasi mengapa di beberapa negara Eropa, menerapkan kebijakan ketat bagi imigran dari negara islam. Demikian halnya sebagaimana di Perancis, dan beberapa negra lainnya yang menjadi begitu represif terhadap umat Islam di negaranya.
Jadi tantangan dakwah kini semakin mengglobal. Namun sunnatullah pasti akan terus berjalan, dimana yang namanya dakwah itu tidak akan pernah berhenti dan tidak dapat dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Dakwah akan terus bergerak, selama ada muslim yang masih bernafas. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nahl: 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”
Mari kita berdakwah sesuai dengan kemampuan, kapasitas dan kompetensi diri kita masing masing. Sebagaimana wasiat dari Rasulullah SAW dari Abdullah bin Amr r.a, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”(HR. Bukhari no. 3461). Wallahu a’lam
Asih Subagyo – Senior Researcher pada Hidayatullah Institute Research Center