Beranda blog Halaman 370

Dai Mengabdi Tanamkan Wawasan Islam dan Wasbang di desa Eksodus Timor Leste

TOBADAK (Hidayatullah.or.id) — Berada di kecamatan Tobadak kabupaten Mamuju Tengah, desa Sejati sebelumnya Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Tobadak VIII ini didiami suku Jawa, Bugis, Mandar dan eksodus Timur Leste.

Sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani dan seluruhnya muslim. Jumlah penduduk desa ini tahun 2020 berjumlah 1.236 jiwa, dimana laki-laki sebanyak 662 jiwa dan perempuan sebanyak 574 jiwa. Desa ini terbagi menjadi 5 dusun, 5 Rukun Warga (RW) dan 12 Rukun Tetangga (RT).

Batas timur desa Sejati adalah hutan lindung yang berbatasan dengan hutan lindung Sulawesi Selatan sehingga akses dari desa lain termudah adalah desa Saluadak dengan kondisi jalan yang menantang andrenalin anda sampai saat ini.

Sedangkan bagi dai dai Hidayatullah rute itu wajib dilaui setiap bulannya untuk mengisi pengajian rutin oleh seluruh warga apapun cuaca dan kondisinya.

Setiap hari Ahad akhir bulan Ustadz Muhajirin Bukhari dai mengabdi yang berdomisili di Taranggi, Kabupaten Pasangkayu itu harus hadir memberikan materi pengajian.

Di musim hujan ia harus menyiasati perjalanan biasanya menginap di Hidayatullah Saluada dan kalau sudah diguyur hujan akses bawah yang menghubungkan ke dua desa tersebut kondisinya lebih layak disebut sungai.

Kendati demikian ada beberapa ruang jalan yang lumayan bagus dan menghibur pengendara yang melaluinya.

Masih lumayan jika ‘hanya’ becek dan berlumpur setidaknya jalan akan licin dan akibat paling ringannya adalah tersungkur dengan sepeda motor dan barang bawaannya.

Belum lagi alasan lain jika harus membonceng istri tercintanya karena jamaahnya kebanyakan ibu ibu, tentu tingkat ribetnya berbeda bisa empat level di atas istilah rempong.

“Cukup melelahkan tentunya tapi sangat indah jika dinikmati,” katanya kepada Bashori, kontributor Hidayatullah.or.id di Sulbar.

Rangkaian tantangan yang disuguhkan oleh Yang Maha Kuasa untuk orang orang bernyali di atas rata rata saja, bahkan bagi warga Sejati membawa hasil panen mereka ke pasar terdekat adalah sebuah tantangan tersendiri.

Begitu juga tentang pemenuhan kebutuhan mereka, hanya mereka yang punya kebutuhan penting saja yang ‘keluar’, karena dibayang bayangi kondisi jalan.

“Kondisi jalan memang masih menjadi salah satu kendala utama di sini,” terangn Muhajirin.

Untuk Muhajirin dan dai lainnya yang mendapat giliran tentu sudah lumrah mulai persiapan, perjalanan berangkat dan pulang dari majelis taklim Sejati. Seperti itu berjalan secara terus menerus hingga hari ini sebagaimana yang ia tuturkan beberapa hari lalu.

Materi ajar juga tidak ada bedanya dengan desa desa binaan lain di Sulawesi Barat umumnya, mulai perbaikan bacaan al Quran atau tahsin, tajwid dan tafsirnya. Sesekali membahas tatacara penyelenggaraan jenazah.

Desa Sejati didominasi eksodus Timor Leste paska Referendum Timur Leste tahun 1999 silam, hal itu membuat mereka harus punya passport jika akan silaturahmi dengan keluarganya di negara asal mereka Timor Leste.

Para dai Hidayatullah pun dalam setiap materi taklim selalu menyelipkan tentang wawasan Islam (ummah), wawasan kebangsaan (wasbang), dan cinta tanah air dan menjaganya, selain hal tersebut juga bagian dari ajaran Islam itu sendiri.

Muhajirin pun dengan rendah hati mengatakan dirinya bukanlah seorang ustadz apalagi kyai atau ulama yang pandai serta menguasai beragam jenis kitab. Ia mengaku hanya sebagai pembelajar yang berdakwah membahasakan nikmatnya berislam sebagaimana apa yang ia rasakan.

“Kami lakukan (pembinaan) ini bukan karena keilmuan kami sudah banyak, hanya mengajak belajar mengaji bersama, belajar menjalankan agama ini dengan baik dan sama sama mau selamat dunia dan akhirat,” tandas Mujahirin.

Pembinaan warga desa Sejati oleh Hidayatullah sendiri sudah berjalan sejak awal dibukanya UPT Tobadak 1996 dan berjalan hingga hari ini.

Nur Salam, warga dan tokoh masyarakat asal Timor Leste itu menyatakan rasa syukurnya atas pendampingan Hidayatullah di desanya.

Kendati jauh dari infrastruktur atau fasilitas kehidupan modern seperti ketersediaan penerangan dari PLN, sinyal internet, dan berbagai hal lainnya, mereka mengaku bersyukur karena tetap dapat belajar agama dengan baik.

“Kami di desa Sejati ini memang jauh dari sinyal dan keramaian, tapi dai dai Hidayatullah sejak awal membekali banyak tentang ilmu-ilmu agama sehingga selalu mendapatkan bekal ruhani,” kata Nur Salam.

Menurutnya, desa Sejati, meski jauh dari hingar bingar kota dan mengalami kelangkaan jaringan internet bukan berarti masyarakatnya aman dari dampak negatif budaya global dan butuh pembinaan untuk menjaga kehidupan beragamanya.*/Bashori

Sosialisasi PO Keuangan di Forum DPD se-Jatim, Bendum Ungkap 3 Pilar Utama

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatulllah Jawa Timur melaksanakan kegiatan sosialisasi Peraturan Organisasi (PO) Keuangan yang digelar secara virtual dan menghadirkan narasumber Bendahara Umum (Bendum) DPP Hidayatullah, Ust Marwan Mujahidin, Kamis, 9 Rajab 1443 (10/2/2022).

Kegiatan sosialisasi ini merupakan rangkaian dari program pra Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-Jatim tahun 2022 yang rencananya akan dilaksanakan pada 11-13 Februari 2022.

Dalam pengantarnya Marwan menyampaikan pentingnya penyamaan persepsi sebagai proses awal membangun kesepahaman diantara pengurus dan pihak terkait lainnya tentang pengelolaan keuangan sebagaimana dalam PO.

“Persepsi pengurus tentang Peraturan Organisasi harus dalam bingkai iman,” kata Marwan.

Marwan mengatakan, iman meniscayakan syura atau musyawarah. Oleh sebab itu di Hidayatullah, terang dia, semua regulasi baik Peraturan Dasar Organisasi (PDO), Peraturan Organisasi (PO), dan Standar Operasional Prosedur dan Kebijakan (SOP) diputuskan melalui mekanisme musyawarah di forum yang disebut Majelis Musyawarah Syuro (MMS).

“Sehingga, apapun yang diputuskan oleh musyawarah, sebagai kader harus menerima dengan sikap sami’na wa atha’na,” kata Marwan

Dalam rangka mensukseskan hal tersebut, pilar-pilar organisasi harus diperkuat. Marwan lantas mengungkapkan tiga pilar organisasi yang amat penting selalu dikuatkan dan diinternalisasi. Ketiga pilar itu adalah Sistem atau regulasi, Kepemimpinan dan Keteladanan.

Dia menerangkan, regulasi tidak akan bisa dijalankan dengan baik jika tidak ada kepemimpinan yang baik. Sementara tanpa uswah yang baik maka regulasi dan kepemimpinan tidak akan berjalan dengan maksimal.

“Karenanya tiga pilar itu harus betul-betul diperkuat. Regulasi yang telah disusun oleh organisasi harus dijalankan dengan kepemimpinan yang kuat dan dikawal dengan keteladanan,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Bendahara DPW Hidayatullah Jawa Timur, Ust H. Muhammad Ali dalam sambutannya mengharapkan sosialisasi PO Keuangan ini menjadi bekal pengurus DPD dalam menyusun program kerja dan anggaran pendapatan atau belanja organisasi sehingga penting untuk diketahui oleh pengurus organisasi.

Lebih jauh Ali mengemukakan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari melaksanakan konsolidasi organisasi. Sebagai bagian penting dari organisasi, jelas Ali, wawasan tentang peraturan organisasi akan membantu kita dalam melaksanakan fungsi organisasi.

“Sehingga dengan peningkatan wawasan tersebut dapat menyamakan persepsi kita tentang keuangan,” sambut Ali.

Dalam sosialisasi ini dibahas beberapa hal berkenaan dengan PO Keuangan diantaranya Peraturan Dividen BUMO, Sharing Lembaga Amil Zakat, Kontribusi Amal Usaha, Infaq Pembangunan, Infaq Halaqah, Infaq GNH dan Infaq Siswa.

Setiap pembahasan dilengkapi dengan simulasi agar memudahkan memahami aturan keuangan organisasi tersebut. Para pengurus antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Setiap sesi pembahasan dilanjutkan dengan tanya jawab.

“Apa yang disampaikan oleh Bendahara Umum dalam sosialisasi ini adalah berita gembira untuk kita yang menjadi ujung tombak organisasi di daerah-daerah,” kata Ust. Ridho Suripto, Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Kediri.

Tindaklanjut dari pada program ini adalah realisasi PO Organisasi dalam APBO dan memasukkannya ke dalam bagian program kerja tahun 2022.*/Muhammad Idris

Inilah Nominasi Manusia Manusia Terbaik

0

SETIAP tahun, biasanya kita akan mendengar pengumuman tokoh terbaik versi lembaga A, atau figur paling berpengaruh menurut majalah B. Belum lagi berbagai kontes dan kompetisi yang akan menghasilkan nominasi “manusia-manusia terbaik”, menurut versi dan kriteria yang beraneka ragam.

Sejenak, mari kita bertanya, apakah Islam tidak menjelaskan siapa manusia-manusia terbaik itu, sehingga kita layak berlomba-lomba menjadi – paling kurang – salah satunya? Lalu, siapakah manusia-manusia terbaik menurut Islam itu? Inilah sebagian diantaranya.

Pertama, orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an

Diriwayatkan dari ‘Utsman: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang terbaik diantara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Hadits riwayat Bukhari).

Inilah Abu ‘Abdirrahman as-Sulami, seorang tabi’in yang merasa terhormat dan bangga telah duduk di masjid mengajarkan Al-Qur’an selama 40 tahun. Adakah kita termasuk kelompok ini? Jika bukan, bagaimana dengan manusia terbaik berikutnya?

Kedua, orang yang paling baik dalam melunasi hutangnya

Abu Hurairah bercerita, bahwa ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menagih hutang. Namun, ia bersikap kasar kepada beliau. Sebagian sahabat pun hendak menghajarnya, namun dicegah oleh beliau.

Beliau lalu bersabda, “Biarkan dia, sebab orang yang mempunyai hak memang berhak berbicara. Berikan kepadanya unta yang seusia dengan unta (yang kupinjam) darinya.” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak menemukan kecuali unta yang lebih baik dari unta (yang Anda pinjam) darinya?” Beliau menjawab, “Berikan saja itu padanya, sebab orang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik dalam melunasi hutangnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, redaksinya milik Bukhari).

Lihatlah Nabi kita itu, betapa lapang dada dan pemurahnya! Beliau dikasari umatnya, namun tidak mengizinkan sahabat-sahabatnya yang hendak menghajar orang itu. Justru beliau membayar hutangnya dengan nilai yang lebih baik dan lebih besar!

Tentu ini tidak ada hubungannya dengan rentenir yang mengejar-kejar pedagang kecil di pasar-pasar dengan bunga pinjaman yang mencekik leher. Sebab yang terakhir ini adalah riba yang diharamkan, sementara apa yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kelapangdadaan seorang pemimpin, ketulusan dalam memberi, dan komitmen untuk menjaga hak-hak orang lain. Apakah kita bisa seperti ini? Jika belum, bagaimana dengan manusia terbaik berikutnya?

Ketiga, orang yang bisa dipercayai kebaikannya dan tidak dikhawatirkan kejahatannya

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiri dan berbicara di hadapan sekelompok orang yang duduk, “Maukah kalian kuberitahu siapa orang terbaik diantara kalian, dibandingkan orang terburuk?” Mereka diam tidak menjawab, dan beliau mengulangi perkataannya sampai tiga kali.

Lalu, ada salah seorang dari mereka yang berkata, “Mau, wahai Rasulullah. Beritahu kami siapa yang lebih baik diantara kami dibanding yang buruk.”

Beliaupun bersabda, “Orang terbaik diantara kalian adalah yang bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dikhawatirkan kejahatannya, sebaliknya orang terburuk diantara kalian adalah yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan (kalian) tidak merasa aman dari kejahatannya.” (Hadits hasan-shahih, riwayat Tirmidzi).

Siapakah kita di mata orang-orang di sekitar kita? Apakah mereka merasa aman dan percaya pada keselamatan diri dan hartanya tatkala berada di dekat kita; saat berjumpa dan berbicara dengan kita; ketika berinteraksi dan berurusan dengan kita?

Atau sebaliknya, mereka selalu diliputi ketakutan dan terancam sekedar mendengar kita akan datang; dan langsung berputus asa saat kita benar-benar telah hadir? Hamba Allah macam apa kita ini jika tidak bisa menciptakan rasa aman bagi sekelilingnya?!

Keempat, orang yang memperlakukan istrinya dengan baik

Ummul Mu’minin ‘Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik dalam memperlakukan istrinya. Dan aku adalah yang terbaik diantara kalian dalam memperlakukan istrinya.” (Hadits shahih, riwayat Tirmidzi, bagian akhirnya diringkas).

Maka, para ulama’ selalu memperhatikan dengan teliti siapa calon suami dari anak-anak perempuannya. Sebagian mereka memberitahu putrinya, mengapa menikahkannya dengan seorang calon suami yang dipilih karena keshalihan dan agama, bukan yang lain.

Dikatakannya, “(Orang yang shalih itu), jika ia mencintaimu maka ia akan memuliakanmu, namun jika ia membencimu maka ia tidak akan menzhalimimu.”

Ya, keshalihannya akan menjadi kendali yang memacunya berbuat baik bila hatinya ridha, namun segera mengekangnya agar berhati-hati ketika marah. Betapa besar kerusakan yang ditimbulkan oleh suami yang bejat dan rusak moralnya; yang tidak beragama dan fasiq (ahli maksiat).

Bisa jadi, di rumah ia menzhalimi istrinya, sementara di luar sana ia menggoda istri orang lain. Tercelalah para suami yang di siang hari memukuli istrinya seperti menyiksa budak, namun di malam hari ia menggaulinya!

Inilah sebagian dari manusia-manusia terbaik yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Masih banyak yang lain, yang dapat kita temukan dalam kitab-kitab hadits. Maka, seharusnya kita tidak berkecil hati jika tidak dinominasikan sebagai “yang terbaik” dalam kontes-kontes buatan manusia.

Bila kita belum bisa menjadi pengkaji atau guru Al-Qur’an, berusahalah menjadi orang yang melunasi pinjaman dan kredit dengan baik. Atau, berusahalah menjadi orang yang bisa dipercayai kebaikannya dan tidak dikhawatirkan kejahatannya.

Atau, jadilah sorang suami yang baik. Semoga Allah membimbing agar salah satu, atau sebagian besar sifat-sifat baik itu, terpatri dalam jiwa kita. Amin.

Ust, M. Alimin Mukhtar

Mudahkan Tugas Da’i Tangguh, BMH Bantu Perabotan Rumah Tangga

0

SIMALUNGUN (Hidayatullah.or.id) – BMH Perwakilan Sumatera Utara bantu perabotan rumah tangga kepada Da’i yang tugas dakwah ke daerah, terutama daerah pelosok dan pedalaman.

Penyerahan perabotan oleh BMH diwakilkan kepada Ust Isa Abdul Barry yang juga sebagai Pengurus Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara kepada Ust Fatih Muammal Intifadhah. Serah terima tersebut dilakukan di teras rumah warga yang menjadi tempat tinggal sementara Ust Fatih bersama istrinya untuk membina masyarakat, Rabu, 8 Rajab 1443 (9/2/2022).

Ust Fatih (20), Da’i Tangguh yang masih sangat muda tersebut, Ia bersama istrinya akan bertugas mendirikan Pesantren di Desa Sugarang Bayu, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun.

Kepala BMH Perwakilan Sumatera Utara Lukman BAMS menyebutkan dukungan bantuan perabotan rumah tangga tersebut guna memudahkan Da’i dalam tugas dakwah di daerah.

Kata Lukman, ini merupakan bentuk kepedulian donatur melalui BMH di bidang dakwah. Bantuan perabotan ini adalah turunan dari program penugasan dai yang digagas akhir tahun kemarin. Artinya, terang dia, dalam penugasan Da’i, BMH berupaya memenuhi biaya transport ke lokasi tugas, membantu perabotan rumah tangga hingga tersedianya tempat tinggal sementara.

“Semua ini dimaksudkan agar para Da’i terbantu dalam jalankan tugas dakwah,” ujar Lukman seperti dalam keterangan tertulisnya diterima media ini.

Dia menambahkan, para da’i tangguh yang diberangkatkan tugas ke daerah merupakan sosok personal yang memiliki komitmen tinggi untuk mencerahkan masyarakat, baik dari sisi keagamaan maupun wawasan keilmuan lainnya.

“Mereka bertugas tidak dengan kontrak tertentu dengan berbagai fasilitas yang menyertainya. Mereka bertugas tanpa batas waktu dan tidak dengan iming-iming gaji,” imbuhnya.*/Elong

Hidayatullah Luncurkan Badan Pengembangan Tilawah al-Qur’an

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Mengusung gerakan tarbiyah dan dakwah, Hidayatullah terus melakukan giat sinergi mendukung dua program utama tersebut. Baru-baru ini, Dewan Pengurus Pusat (DPP) dan Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah meluncurkan Badan Koordinasi Pengembangan Tilawah al-Qur’an (BKPTQ) pada sela Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional dan Pembekalan Dewan Murabbi Hidayatullah, di Gedung Aula Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) Hidayatullah Balikpapan, Sabtu, 4 Rajab 1443 (05/02/2022).

Surat Keputusan (SK) yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah tersebut dibacakan oleh Ustadz Abu A’la Abdullah, Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah.

Secara tertulis, disebutkan dalam SK, bahwa tujuan BKPTQ adalah sebagai perpanjangan tangan organisasi dalam pengembangan tilawah al-Qur’an di Hidayatullah agar bisa mewujudkan visi membangun peradaban Islam. Selanjutnya, badan koordinasi ini secara langsung berada di bawah koordinasi dan pengawasan DPP Hidayatullah.

Disampaikan oleh Ustadz Tasyrif Amin, Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, BPTQ berfungsi sebagai pusat koordinasi berkaitan dengan pengajaran dan pembelajaran al-Qur’an.

“Ia akan mengkoordinir para musyrif dan muallim al-Qur’an dalam satu gerakan al-Qur’an. (Yaitu) gerakan meng-Quranisir, gerakan talaqqi al-Qur’an, gerakan pondok tahfidz al-Qur’an, dan semua program al-Qur’an yang sudah berjalan selama ini,” ucap Doktor Pendidikan tersebut.

Masih dalam sambutan di Pembukaan Rakornas Dewan Murabbi Hidayatullah, Ustadz Tasyrif mengingatkan, tak ada kata terlambat dalam belajar al-Qur’an.

“Di Dewan Murabbi Pusat juga terus berjuang sekuat tenaga untuk belajar al-Qur’an dan ilmu agama yang lain. Karena proses transformasi jati diri kader Hidayatullah membutuhkan kemampuan untuk itu,” lanjutnya seperti disitat dari laman Ummulqura Hidayatullah.

Untuk itu, lanjut Tasyrif, para murabbi diharapkan bisa berperan lebih optimal dalam mencerahkan umat. Sehingga tidak hanya bertugas internal tapi murabbi juga diharap melakukan ekspansi dakwah di tengah masyarakat.

“Inilah bentuk sinergi tersebut. Ada proses tarbiyah serta dakwah dan pelayanan umat sekaligus,” terang ustadz Tasyrif menerangkan potongan ayat “kuntum khaira “dan “ukhrijat linnas” tersebut.

Untuk diketahui, selama acara Rakornas dan Pembekalan Dewan Murabbi tersebut, seluruh peserta terbagi dalam sejumlah halaqah (kelompok) belajar al-Qur’an yang didampingi oleh masing-masing musyrif atau instruktur.

Para peserta tampak semangat belajar al-Qur’an dan memperbaiki bacaan (tahsin tilawah) al-Qur’an mereka. “Alhamdulillah, selalu semangat untuk belajar al-Qur’an,” ujar Ustadz Abu Bakar Muis, peserta Rakornas dari Gorontalo.*/Masykur/MCU

Tasyakuran dan Peresmian Pondok Quran Hidayatullah Kobi Maluku Tengah

0

MALUKU TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Kobi, Maluku Tengah, menggelar acara syukuran sekaligus peresmian dimulainya program Pondok Quran Maluku yang mengangkat tema “Bersama Kita Bangun Generasi Qur’an” berlangsung di Kampus Hidayatullah Kobi, Desa Leaway, Kabupaten Maluku Tengah, Selasa, 7 Rajab 1443 (8/2/2022).

Acara ini menghadirkan Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ust Akib Junaid. Selain itu, sejumlah tokoh juga hadir dari berbagai unsur seperti perwakilan Kapolsek, Danramil, Kepala Ranting PLN, Kepala Ranting BRI, perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) dan beberapa kepala Desa.

Ketua Departemen Dakwah Ust Naharuddin yang dibersamai Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Provinsi Maluku, Ust Mashuri, mendampingi Camat Kobi Didik Prasutiyo membuka sekaligus meresmikan Pondok Quran Hidayatullah Kobi, Maluku Tengah.

Sementara itu, Ust Akib Junaid dalam taushiahnya mengapresiasi kampus Hidayatullah Kobi mengadakan program Pondok Quran untuk melahirkan lebih banyak lagi penjaga Al Qur’an untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki.

“Al-Qur’an adalah jalan yang akan mengantarkan seseorang untuk merasakan kebahagiaan hakiki dalam kehidupan dunia, apa lagi kesalamatan di akhirat,” katanya.

Ia menjelaskan, Al Quran adalah satu satunya jalan yang akan membawa seseorang meraih kebahagiaan. Tanpa petunjuk Al Qur’an maka kesengsaraanlah yang dialami.

“Mencoba mencari jalan lain yang tidak sesuai apa lagi nyata-nyata bertentangan dengan nilai-nilai Al-Qur’an, niscaya kesengsaraan akhirnya, cepat atau lambat, kita akan saksikan dan rasakan bersama,” terangnya.

Ustadz Akib pun menyampaikan keprihatinan betapa masih rendahnya perhatian umat terhadap Al Qur’an padahal inilah mukjizat akhir zaman dari Allah untuk manusia yang merupakan kitabullah dan kalamullah sebagai petunjuk kepada keslamatan bagi semua.

“Sangat ironis, apa yang disampaikan Bapak Wakil Ketua DMI beberapa waktu yang lalu, bahwa hasil riset terakhir, hanya 35 persen umat Islam Indonesia yang bisa baca Qur’an,” terangnya.

Oleh karena itu, dai lintas nusantara ini mengapresiasi upaya Kampus Hidayatullah Kobi untuk terus meluaskan dakwah Al Qur’an dan mendorong semua pihak untuk turut serta mendukung ikhtiar ini.

“Adalah karunia besar dengan hadirnya rumah Quran Hidayatullah di tempat ini, yang In Syaa Allah, akan menjadi sumber cahaya, mengundang rahmat dan ridha Allah. Sehingga kedamaian dan ketenangan akan kita nikmati bersama,” tandasnya.

Acara tasyakuran dan peresmian Pondok Quran Hidayatullah Kobi Maluku Maluku ini berjalan khidmat dan lancar yang turut dikawal rekan rekan dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Ansor Kabupaten Kobi.*/Ainuddin

Seorang Mukmin adalah Cermin bagi Saudaranya

APAKAH yang dapat kita ambil manfaat dari sebuah cermin? Ya, diantara manfaat terbesarnya adalah kita tahu persis kekurangan dan kelebihan kita, sehingga bisa terjaga dari aib dan kehormatan kita senantiasa terpelihara. Begitulah setiap cermin.

Cermin menampakkan bayangan diri kita sendiri padanya, lalu mendorong kita untuk membereskan yang buruk dan mempertahankan yang baik. Ini adalah manfaat cermin kaca bagi kita. Lalu, menurut Anda, bagaimana jika cermin itu adalah seorang manusia hidup dan aktif?

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Seorang mukmin adalah cermin bagi sesamanya. Bila melihat suatu aib pada saudaranya, maka ia akan memperbaikinya.” (Riwayat Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod. Sanad-nya hasan).

Berbahagialah seorang mukmin, dimana sesama mukmin yang ada di sekitarnya akan menjadi cermin baginya. Mereka akan menegur kesalahannya, menunjukkan kekurangannya, dan menasihati kekhilafannya.

Sebaliknya, cermin-cermin hidup itu akan meneguhkan kebaikannya, mendorong ketaqwaannya dan menghargai prestasi-prestasinya. Betapa sering kita tidak bisa mengerti kekurangan diri sendiri, namun segalanya menjadi tampak jelas saat kita bercermin. Kejelasan bayangan itulah yang membuat kita lebih mudah bertindak secara tepat dan tuntas.

Namun, cermin-cermin kaca yang kita miliki biasanya diletakkan di area-area privat, tempat kita menyendiri untuk memeriksa dan memperbaiki kekurangan. Maka, demikian pulalah watak cermin-cermin hidup itu.

Seorang mukmin akan mengingatkan saudaranya sendirian, bukan di depan umum dan di hadapan setiap orang. Maka, bila kita saksikan seorang mukmin yang mencela saudaranya di tengah-tengah khalayak ramai, sungguh ia telah melanggar hak saudaranya itu. Saat itu, ia bukan lagi cermin yang menyenangkan, namun bayangan teror yang menakutkan!

Bahkan lebih jauh lagi, seorang mukmin akan memenjaga agar saudaranya tidak rugi dan sia-sia hidupnya, entah itu dalam urusan agama, waktu, perdagangan, harta, keluarga, jabatan, atau aspek-aspek lain dari dirinya.

Sudah barang tentu, tidak layak seseorang mengaku mukmin jika telah merekayasa dan mendalangi aksi-aksi keburukan dan penistaan terhadap saudaranya. Ini adalah pelanggaran terbesar; mengekor tindakan kaum kafir yang selalu mendengki seorang muslim, sehingga seharusnya ia bertaubat.

Seyogyanya, seorang muslim berusaha menjaga kehormatan dan nama baik saudaranya. Maka, segala upaya menjatuhkan kehormatan dan nama baik sesama muslim adalah penistaan terhadap agamanya sendiri.

Akan tetapi, bagaimana jika cermin yang kita miliki buram dan bahkan retak dimana-mana? Tentu saja bayangan yang ditunjukkannya akan kabur dan sukar dimengerti. Pada gilirannya, kita bisa salah bertindak dan justru memperburuk keadaan.

Maka, sudah sewajarnyalah kita memperhatikan siapa-siapa orang di sekitar kita, entah teman, tetangga, terlebih-lebih istri atau suami.

Dikisahkan bahwa Abul Aswad ad-Du’ali – imam dalam ilmu nahwu dan bahasa Arab – mempunyai seorang tetangga yang jahat, sehingga beliau merasa sangat terganggu dan akhirnya menjual rumahnya. Dengan uang itu beliau membeli rumah baru di tempat lain.

Orang-orang pun keheranan dan bertanya mengapa beliau menjual rumahnya. Dijawab, “Sebenarnya saya tidak menjual rumah saya, tetapi menjual tetangga saya!” Dari sinilah orang Arab kemudian membuat ungkapan, al-jaar qabla ad-daar (lihat dulu tetangga Anda sebelum memilih rumah Anda). Sebab, jika tetangga Anda buruk, maka hidup Anda pasti “terancam bahaya”!

Menurut Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ada seorang sahabat yang mengeluhkan keburukan tetangganya. Beliau kemudian menasihatinya untuk bersabar. Namun, orang itu kembali mendatangi beliau dua atau tiga kali dan mengeluhkan masalah yang sama.

Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pulanglah, dan keluarkan semua isi rumahmu ke jalan!” Diturutinya perintah Rasulullah itu, sehingga setiap orang yang lewat pun selalu menanyainya tentang apa yang terjadi, dan setiap kali itu pula ia memberitahu mereka tentang keburukan tetangganya.

Maka, semua orang yang mendengarnya pun melaknatnya dan mendoakan aneka macam keburukan baginya. Dengan tergopoh-gopoh, tetangganya yang buruk itu pun datang dan berkata, “Pulanglah, engkau tidak akan melihat lagi sesuatu pun yang tidak engkau sukai dariku!” (Hadits hasan-shahih, diriwayatkan Abu Dawud).

Memang benar, orang-orang yang tidak baik di sekitar kita harus selalu diingatkan dan diperbaiki. Inilah fungsi cermin itu. Kita menjadi cermin bagi mereka, dan mereka menjadi cermin bagi kita. Kita memperbaiki dan menjaga mereka, mereka pun memperbaiki dan menjaga kita.

Namun, jika sudah ditegur dan tidak juga berubah, maka ia harus diberi sanksi agar kapok. Ketika orang-orang di sekitar kita buruk, mereka tidak akan menjadi cermin bagi kita. Justru akan mengganggu dan merusak. Ketika keburukannya tidak bisa lagi dibenahi, dan ketika kesabaran telah sampai di penghujungnya, maka benarlah Abul Aswad ad-Du’ali yang memilih “menjual tetangga buruknya” dan “membeli tetangga baik” di tempat lain.

Pilihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah juga dilatari sebab yang mirip. Demikian pula Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang berhijrah bersama pengikutnya dari Babylonia ke Palestina. Setelah bertahun-tahun bersabar menyeru ke jalan Allah, ternyata hati kaum kafir lebih keras dari batu.

Para kekasih Allah itupun diperintahkan untuk pergi dan mencari tempat baru; tempat dimana orang-orang di dekat mereka bisa menjadi cermin baginya. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Muslimat Hidayatullah Akan Gelar Rakernas di Jakarta Maret Mendatang

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Muslimat Hidayatullah (Mushida) akan menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dengan mengangkat tema, “Konsolidasi Jatidiri, Wawasan, dan Organisasi untuk Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” yang akan digelar di Jakarta, 2-3 Sya’ban 1443 H/ 5-6 Maret 2022.

Ketua Panitia Pelaksana Rakernas Mushida, Mutiah Najwati, S.H.I, mengatakan Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah merupakan salah satu forum yang sangat penting dalam dinamika organisasi untuk melaksanakan tri Konsolidasi: konsolidasi jatidiri, wawasan, dan organisasi, kepada para pengurus di tingkat wilayah dan daerah secara langsung.

“Alhamdulillah, progres persiapan Rakernas oleh panitia secara keseluruhan sudah mencapai 75 persen,” kata Mutiah seperti dalam keterangannya diterima Hidayatullah.or.id, Senin, 6 Rajab 1443 (7/2/2022).

Mutiah menjelaskan, Rakernas Mushida kali ini menargetkan optimalnya kinerja seluruh PW dan terwujudnya kemandirian ekonomi berbasis keummatan.

Selain itu, pihaknya juga menghadirkan Menteri Investasi Indonesia/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, S.E, yang sekaligus membuka acara tersebut.

“Bapak Bahlil hadir sebagai bintang tamu sekaligus pembuka acara Rakernas. Beliau adalah tokoh muda bangsa yang sudah berjibaku dengan berbagai pengalaman baik sebagai aktivis organisasi, pengusaha, hingga menjadi Menteri,” kata Mutiah.

Mushida juga menggandeng BMH sebagai mitra untuk terlibat mendukung kesuksesan Rakernas yang akan dihadiri oleh Pengurus Pusat Mushida, Pengurus Inti Wilayah Mushida 34 Provinsi, Kepala PAUD/ TK Kampus Utama Hidayatullah, dan Anggota BPM PAUD.

Mutiah menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan seperti mensterilkan ruang acara maupun ruang penginapan dengan penyemprotan disinfektan, mengatur tempat duduk, dan jarak ruang acara antara satu dengan yang lain, serta menerapkan 3 M yakni menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker.

“Selain menjaga protokol kesehatan, panitia dan peserta juga diimbau membekali diri dengan vitamin dan suplemen untuk menjaga imunitas tubuh,” katanya.

Dia menyebutkan diantara rangkaian Rakernas ada kegiatan pameran produk-produk unggulan dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Muslimat Hidayatullah se-Indonesia.

Pameran UMKM ini merupakan salah satu program pemberdayaan ekonomi keummatan yang diinisiasi oleh Departemen Ekonomi Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah.*[]

Teguhkan Jatidiri Kader, Rakornas DMP Digelar di Hidayatullah Balikpapan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Meneguhkan jati diri kader sebagai murabbi, Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah mengadakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan Pembekalan Dewan Murabbi Hidayatullah di Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan, 2-10 Rajab 1443 (04-12/02/2022).

Acara yang berlangsung di Aula Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah tersebut dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) dan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) se-Indonesia.

Dalam sambutan tuan rumah, Ustadz Hamzah Akbar mewakili seluruh warga Hidayatullah Gunung Tembak menyatakan rasa syukur atas kepercayaan ditunjuk sebagai tempat pelaksanaan event-event nasional.

Menurut Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan itu, warga Gunung Tembak tak pernah bosan menyambut tamu-tamu yang datang berkunjung. “Apapun agendanya, ini semua adalah kampung dan tempat kembali kita bersama,” ucap Ustadz Hamzah.

Lebih jauh, Ustadz Tasyrif Amin, Ketua DMP Hidayatullah menjelaskan dalam acara Pembukaan Rakornas tersebut tentang peran penting murabbi. Murabbi disebutnya berperan sentral dalam mengkoordinasi dan melahirkan alat peraga tarbiyah dakwah.

“Murabbi ialah sosok manusia yang memberi uswah (teladan). Ia sebagai etalase jati diri kader dakwah. Lihat saja para murabbi jika ada yang bertanya soal jati diri kader dakwah,” jelas ustadz yang menyandang doktor bidang pendidikan itu.

Ustadz Tasyrif meyakini, jika transformasi jati diri mulai dari kompetensi materi, integritas, spritualitas, hingga kultur kelembagaannya hidup, niscaya sosok demikian itu layak menjadi murabbi teladan di lingkungan sekitarnya.

“Itulah yang paling dibutuhkan dalam proses transformasi nilai-nilai tarbiyah dan dakwah ini,” lanjutnya.

Acara Pembukaan Rakornas dan Pembekalan Dewan Murabbi tersebut dihadiri oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr. Nashirul Haq, MA, serta Majelis Penasihat Hidayatullah Ustadz Muhammad Hasyim dan Ustadz Abdul Qadir Jaelani.

Turut hadir pula, Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Ustadz Abu A’la Abdullah, Ketua Bidang Pelayanan Umat DPP Hidayatullah Ustadz Nursyamsa Hadits serta Ketua Departemen Pengkaderan Ustadz Muhammad Shaleh Usman dan Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota Ustadz Iwan Abdullah.

Diketahui, kegiatan Rakornas Dewan Murabbi kali ini mengusung tema “Meneguhkan Jati Diri Murabbi Menuju Sukses Tarbiyah dan Dakwah”. Selain pengayaan materi jati diri kader, acara tersebut juga diperkaya dengan pendalaman ulumuddin (ilmu-ilmu agama) dan tahsin tilawah al-Qur’an.

Khusus kebutuhan yang terakhir, panitia menyiapkan hingga belasan musyrif (pendamping) yang berkompeten dalam halaqah tahsin atau perbaikan bacaan al-Qur’an para murabbi nanti. Mereka adalah para penghafal al-Qur’an 30 juz dan kebanyakan sudah menyandang sanad bacaan dan hafalan al-Qur’an.*/

Sumber: ummulqurahidayatullah.id

Jeda Rutinitas Sejenak untuk Meneropong Ujung dari Perjalanan Hidup

SETIAP hari manusia melakukan pekerjaan yang sama dan berulang-ulang. Berangkat kerja pagi-pagi di jam yang sama, pakai kendaraan yang sama, di tempat kerja yang sama, bertemu dengan teman yang sama. Melakukan pekerjaan yang kurang lebih sama, ngobrol terkait masalah yang nyaris sama, pulang lagi di jam yang hampir sama, dengan kendaraan yang sama.

Pekerjaan itu berulang-ulang setiap hari selama berbulan-bulan bahkan ada yang bertahun-tahun. Ada yang menikmati, ada yang tidak menyadari, ada yang stress dengan rutinitas tersebut.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rutinitas seperti itu. Pada umumnya manusia memang beraktifitas rutin seperti itu. Terasa membosankan jika diceritakan pengalaman yang nyaris sama berulang setiap hari.

Namun jika terjebak dengan rutinitas seperti itu dan tidak menyadari ujung dari kehidupan ini maka itu yang berbahaya. Seolah hidup hanya untuk melakukan rutinitas pekerjaan yang sama seperti itu.

Mereka baru tersadar saat ada surat PHK, waktu tubuh mulai renta, umur semakin senja, anggota tubuh mulai lunglai tak berdaya, datang penyakit mendera, mata rabun, rambut beruban.

Lebih tragis lagi, baru tersadar saat malaikat pencabut nyawa datang menghampiri. Atau saat sakaratul maut sduah memaksa untuk meninggalkan dunia ini.

Hidup ini ada ujungnya yaitu kematian. Sehebat, sekuat, sesehat, setinggi, sejenius apapun seseorang pasti akan berada di ujung perjalanan hidup yaitu kematian.

Entah siap atau tidak siap, sadar atau tidak menyadari, mau ataupun tidak mau, cepat ataupun lambat. Manusia akan meninggalkan dunia ini, karena bergiliran dengan generasi manusia yang lain.

Sudah milyaran manusia pernah hidup di dunia ini. Dengan berbagai kejayaannya ataupun kejahatannya, semua sekarang hanya meninggalkan kisah dan cerita. Mereka sudah berkalang kembali ke asal yaitu tanah. Jutaan kuburan menjadi saksi bisu, hanya batu nisan dan tulisan nama yang tersisa, itupun jika masih ada.

Kesadaran terhadap ujung perjalanan hidup harus senantiasa dibangun. Maka sangat penting berjamaah dalam satu kepemimpinan yang saling mengingatkan, menasehati, amar makruf nahi mungkar. Komunitas kepemimpinan yang paling kecil adalah halaqah, di sana ada murabbi dan ketua yang harus tugas mengingatkan anggotanya.

Kita semua perlu ada jeda untuk menerima nasehat dari orang lain yang disampaikan dari hati ke hati. Ada titik kesadaran yang harus disentuh dengan duduk bersama teman-teman satu fikrah agar paham bahwa hidup di dunia ini ada akhirnya. Tujuan kita adalah akhirat.

Ust Abdul Ghaffar Hadi