JAKARTA (Hidayatullah.or.id) โ Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta menggelar acara tarhib Ramadhan yang dibarengi dengan prosesi peletakan batu pertama pendirian Pondok Pesantren Tahfidz Global Yatim dan Dhuafa di atas tanah seluas 2087 meter persegi tanah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang dikerjasamakan di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, DKI Jakarta, Kamis, 28 Sya’ban 1443 (31/3/2022).
Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta Muhammad Isnaini dalam sambutannya menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada Pemprov DKI Jakarta atas terjalinnya sinergi ini.
Isnaini juga mengajak serta kaum muslimin dan muhsinin untuk ikut mengambil bagian amal jariyah untuk terbangunnya Pondok Pesantren Tahfidz Global Yatim dan Dhuafa ini.
โPesantren ini akan menjadi pusat gerakan Rumah Qurโan yang saat ini menjadi mainstream program Hidayatullah DKI Jakarta, dimana nantinya santri berasal dari seleksi santri santri rumah Quran yang terbaik,โ kata Isnaini.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta, Premi Lasari, menceritakan asal muasal lokasi ini bisa dikerjakan dan dikerjasamakan dengan Hidayatullah.
Premi mengatakan santri yang akan diterima tentu juga akan lebih mengutamakan santri dari DKI Jakarta dan warga sekitar pondok pesantren sebab pengunaan tanah ini adalah kerjasama sehingga masing masing pihak harus melaksanakan tugas dan kewajibannya sehingga bisa berjalan dengan baik.
Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq menyampaikan dalam sambutannya berkenaan dengan pentingnya pendidikan pondok pesantren.
Nashirul mengatakan, kalau dilihat dari tujuan dan amanat undang undang tentang pendidikan nasional Indoneaia, maka bisa dikatakan penyelenggaraan pondok pesantren amatlah bersesuaian dengan arah tersebut dan sangat sangat mungkin mencapainya.
Hadir juga dalam kesempatan tersebut Ketua MUI DKI Jakarta KH Manahar Mukhtar, Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah Fathul Adhim, Kabid Tarbiyah DPP Hidayatullah Abu Aโla Abdullah, ketua ketua DPD Hidayatullah se-DKI Jakarta, unsur pimpinan ormas keagamaan DKI, Direktur IMS Imran Faizin, unsur pimpinan Laznas BMH, dan juga pimpinan unsur OKP DKI dan nasional.
Hadir pula unsur pejabat BPAD Pemprov DKI, Kepala BPOM DKI Nasir Tajang mewakili pimpinan BAZNAS DKI, Camat Cipayung Fajar Eko Satrio, Lurah Cilangkap Nasir Sugiar, LMK Kec Cipayung, ketua RW 03 dan ketua RT 05 serta ratusan undangan.*/Adam Sukiman LH
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang selalu rindu untuk dapat bertemu dengan tamu agung nan mulia, bulan Ramadhan yang penuh berkah, rahmat serta ampunan-Nya.
Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah saw yang telah memberi teladan yang indah dalam menyambut dan memanfaatkan bulan Ramadhan, baik di siang hari maupun malam harinya. Baik di awal, tengah, juga di akhirnya. Baik dalam bentuk ilmu, ibadah, akhlaq maupun amalan-amalan shalehnya.
Saudaraku jamaโah Hidayatullah dan kaum muslimin dirahmati oleh Allah subhanahu wa taโala. Kini kembali kita sudah berada di akhir bulan Syaโban, berarti beberapa saat lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan yang selalu dirindukan oleh setiap hati yang beriman kepada-Nya.
Kesempatan Ramadhan tentu merupakan kesempatan luar biasa bagi orang-orang yang mengharapkan kemuliaan dunia maupun akhirat yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa taโala. Oleh karenanya sangat disayangkan bila kesempatan yang mahal ini kita lewatkan begitu saja.
Saya berharap, pada Ramadhan kali ini kita dapat memasang tekad dengan menetapkan target yang maksimal, baik untuk peningkatan kualitas diri pribadi kita, keluarga kita, jamaโah kita maupun ummat Islam secara umum.
Secara jamaโi, Saya berharap kita bisa mencanangkan 3 target kesuksesan (TRI SUKSES); yaitu: sukses dalam Ibadah, sukses dalam tarbiyah dan sukses dalam pelayanan ummat.
ISTANBUL (Hidayatullah.or.id) — Dengan izin Allah, mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang belajar di Turki yang mendapat rekomendasi dari Hidayatullah akan dibersamai oleh jaringan UDEF (Federasi Organisasi Mahasiswa Antarbangsa) untuk berbagai keperluannya selama kuliah.
Kesepakatan itu diresmikan kemarin, Rabu, 27 Sya’ban 1443 (30/32022), lewat penandatanganan โAgreement to Cooperation in Goodโ. Hidayatullah diwakili Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat Dzikrullah W. Pramudya, sedangkan UDEF diwakili Wakil Presiden Muhammad Malik Taylan.
UDEF adalah payung organisasi mahasiswa antarbangsa terbesar di Turki, beranggotakan 69 perhimpunan mahasiswa di 53 provinsi dan 75 kota di seluruh negeri itu.
Diantara isi kesepakatan itu, bagi mahasiswa-mahasiswi yang direkomendasi Hidayatullah, UDEF akan membantu mencarikan tempat tinggal yang termurah dan bermutu, bahkan jika mungkin cuma-cuma.
UDEF juga membantu mempermudah hubungan mahasiswa dengan universitas; membukakan peluang-peluang beasiswa; serta melibatkan mahasiswa-mahasiswi dalam berbagai kegiatan tahunan untuk pengembangan diri dan prestasi.
โKami ingin agar setiap mahasiswa mendapat semua keperluan belajarnya sebaik mungkin, agar prestasinya setinggi mungkin, sekaligus memperluas pergaulan antarbangsanya,โ jelas Muhammad Malik Taylan, Wakil Presiden UDEF.
โKerja sama ini memastikan setiap mahasiswa kita punya abang dan kakak yang siap membantu dan menolong dalam keadaan apapun, sehingga di masa depan mereka melakukan hal yang sama untuk adik-adiknya,โ kata Dzikrullah W. Pramudya, Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah.
Pertukaran
Selain yang di Turki, kesepakatan ini juga menjadikan Hidayatullah sebagai tuan rumah bagi pengiriman mahasiswa Turki dan bangsa-bangsa lain yang direkomendasi UDEF untuk menjadi relawan-relawan mengajar di berbagai pesantren dan sekolah Hidayatullah di seluruh Indonesia.
โMereka akan liburan dengan kegiatan bermanfaat, misalnya mengajar bahasa Inggris, bahasa Turki, sains, olah raga dan lain-lain tinggal bersama para santri dan keluarga kita, memperkuat persaudaraan,โ tukas Dzikrullah. Semoga Allah meridhoi. (ybh/hio)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — STIS Hidayatullah kembali mengadakan Praktik Kuliah Dakwah (PKD) untuk mahasiswi STIS Hidayatullah semester enam Prodi Hukum Ekonomi Syariah dan Prodi Hukum Keluarga.
Sebelum berangkat ke tempat PKD, seluruh mahasiswi semester 6 diberikan pembekalan oleh beberapa dosen di Aula STIS Putri, Gunung Tembak, Balikpapan, pada tanggal 15-17 Syaโban 1443 H (18-20/03/2022).
Kegiatan pembekalan itu dimulai pada Jumโat pagi, yang dibuka langsung oleh Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan Ustadz Muhammad Zaim Azhar.
Pada sambutannya, Ustadz Zaim berpesan kepada mahasiswi agar bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat di tempat PKD.
โBerikan pelayanan terbaik, pelayanan yang luar biasa di tempat tugas kalian nanti. Semoga tugas PKD kalian sukses, dan dapat kembali ke tempat ini (STIS) untuk menyelesaikan skripsi,โ ujarnya berpesan.
Ustadzah Ummi Salami selaku Wakil Ketua 4 juga memberikan nasihat pentingnya pembekalan bagi para mahasiswa tersebut.
โ(Ini) merupakan salah satu bekal untuk kalian di tempat tugas dakwah nanti, dan tentu hal itu tidak cukup, tetapi sangat membantu kalian dalam menghadapi problem-problem di tempat tugas. Ketika teman-teman mendapatkan masalah, jangan putus asa! Itulah seharusnya yang kalian hadapi,โ ucapnya.
Tidak ketinggalan, pada acara , Ustadzah Irma juga memberikan semangat dan nasihat kepada seluruh mahasiswi.
โHargai dari setiap tim dari kalian, sesungguhnya mereka punya sumbangsih, peran sesuai dengan kapasitas masing-masing,โ ujar Ustadzah Irma.
Meski PKD adalah program rutin STIS Hidayatullah setiap tahun, namun Ustadz Masykur selaku Ketua LPPH Gunung Tembak mengingatkan bahwa itu adalah proses belajar.
โPKD adalah proses belajar dan semua hal itu adalah dalam bingkai dakwah,โ ujarnya.
Sebagai catatan, Pembakalan PKD yang dilaksanakan selama tiga hari ini memiliki 12 sesi, dengan masing-masing tema yang disampaikan oleh ustadz/ustadzah yang ahli di bidang masing-masing.
Adapun para instrukturnya adalah Ustadz Hidayat Jaya Miharja yang menyampaikan tema tema โKomunikasi Efektifโ, Ustadz Fathun Qarib dengan tema โKarakteristik Daiโyah Tangguhโ, Ustadz Masykur dengan tema โPenajaman Spirit PKDโ, Ustadz Abul Aโla Maududi dengan tema โManajerial Teamโ, Ustadz Zaim dengan tema โEsensi Amanah Bagi Seorang Kaderโ.
Juga, Ustadzah Fathila dengan temaโMengatasi Futur dalam Tugasโ, Ustadzah Irma dengan temaโManajemen Kepengasuhanโ,Ustadzah Ummi Salami dengan tema โKonsep Berimamah dalam Berlembagaโ, Ustadzah Rifdah dengan temaโMeneladani Metode Dakwah Nabiโ, Ustadzah Maryam dengan tema โPengajaran Metode Al- Hidayahโ, dan Ustadzah Yuni dengan โMateri Panduan Hidayatullahโ.* (Ris-Nha/MCU)
BUTENG (Hidayatullah.or.id) โ Standardisasi dan ekspansi senantiasa dilakukan oleh Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Tenggara yang merupakan Program Mainstream DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara.
Kini, hadir di Kab. Buton Tengah (Buteng) dengan kegiatan Launching Pesantren Hidayatullah Lombe Kab. Buton Tengah yang ditandai dengan Peletakan Batu Pertama Masjid At-Taufiq oleh Sekretaris Daerah Kab. Buton Tengah, H. Kostantinus Bukide, Rabu, 27 Sya’ban 1443 H (30 Maret 2022).
Ketua DPD Hidayatullah Buton Tengah Ust. Muhammad Nurdin, SE. sebagai tuan rumah pada acara ini mengucapkan terimakasih terkhusus kepada pewakaf tanah pesantren Bapak H. La Baheri juga kepada seluruh masyarakat dan pemerintah yang telah mendukung akan berdirinya Pesantren Hidayatullah Lombe di Kabupaten Buton Tengah ini, tepatnya di Kelurahan Watulea, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Dia sangat optimis bila ada dukungan masyarakat dan pemerintah Pesantren Hidayatullah Buton Tengah akan eksis dan berkembang.
“(Lokasi) ini adalah lokasi yang kelima yang kita dapat untuk pendirian Pesantren. InsyaAllah akan kita wujudkan niat dan cita-cita yang diamanahkan kepada kami. Dan terakhir kami meminta dukungan dari Pemerintah Kabupaten Buton Tengah, Kecamatan, Kelurahan, pihak TNI-Polri, dan seluruh masyarakat agar pesantren ini segera terbangun dan memberi manfaat yang lebih luas kepada ummat,” harap Nurdin.
Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara Ust. Ahmad Syahroni, S.Pd.I., S.HI turut memberikan sambutan menyampaikan beberapa hal yang sangat penting dengan hadirnya pesantren ini yakni; Pertama, bersyukur kepada Allah SWT atas berdirinya Pesantren Hidayatullah di Kabupaten Buton Tengah ini sebagai salah satu wadah pembinaan ummat.
Kedua, lanjut dia, wadah terbaik buat pendidikan masa kini adalah Pesantren. Ketiga, dibutuhkan kebersamaan dari semua unsur untuk pembangunan pesantren.
“Dan keempat, berharap dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Buton Tengah untuk terus bersinergi dalam pengembangan Pesantren ke depan,” kata Syahroni.
Sebelum lanjut pada acara prosesi peletakan batu pertama Masjid At-Taufiq Pesantren Hidayatullah Lombe, Sekretaris Daerah yang mewakili Bapak Bupati Buton Tengah memberikan sambutannya agar Hidayatullah bisa hadir membina dan mencerahkan ummat di setiap kecamatan di Buton Tengah.
“Hadirnya Pesantren Hidayatullah Lombe di sini sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang akan membawa anak-anak kita sebagai generasi penerus dan masyarakat secara umum lebih religius,” ujarnya.
Selanjutnya, mantan Kadis Sosial Kab. Buton Selatan ini berharap agar sinergi pemda, masyarakat, dan pengurus pesantren Hidayatullah Lombe terus dikuatkan. Setelah peletakan batu pertama diharapkan agar segera menyusul tahap berikutnya.
Dalam kesempatan ini Sekda dan Kadis Sosial menyumbangkan masing-masing 50 sak semen dalam pembangunan awal Masjid At-Taufiq.
“Bulan September (silakan pengurus) buat Proposal. InsyaAllah untuk diajukan masuk anggaran perubahan,” ujar Kostantinus.
Kolaborasi kebaikan nampak dalam acara ini, antara Pemerintah, Ormas Hidayatullah, Tokoh Masyarakat, TNI-Polri, masyarakat, dan Pewakaf lahan pembangunan pesantren, bergandengan tangan merajut keberkahan menghadapi bulan suci Ramadhan dalam rangka mewujudkan niat menggapai ampunan dari Allah SWT dengan bersama mendirikan pesantren sebagai wadah pembinaan ummat generasi masa depan yang berkarakter Qurโani.
Turut hadir dalam Acara Launching Pesantren hasil wakaf dari keluarga H. La Baheri seluas 1,5 hektare ini dari jajaran pemerintah Buton Tengah, Kadis Sosial, Camat dan lurah setempat, hadir pula dari jajaran TNI dan Polri yaitu Danramil 1413-10 Gu dan Kapolsek Gu, juga dihadiri oleh Pengurus DPW dan DMW Hidayatullah Sulawesi Tenggara, tidak ketinggalan pula beberapa tokoh masyarakat setempat. */Noer Akbar
DIRI KITA memang harus ditarbiyah secara terprogram dan berkesinambungan. Selain syariat Islam, tidak ada yang memperbaiki jiwa seseorang (ishlahun nafs). Karena, dua sifat kontradiktif di dalam diri kita terus berbenturan, tanpa henti. Untuk mengarahkan, memandu diri ini agar memiliki kecondongan kepada takwa dan memilih mewaspadai sifat fujur, itu tidak mudah dan tidak sederhana. Memerlukan kerja keras, kerja ikhlas dan kerja cerdas.
Ramadhan mendidik kita untuk berubah. Tentu, tidak sekedar berubah. Diri kita ditata ulang (rekonstruksi) supaya berubah menjadi lebih baik (berkualitas) secara hissiyan (lahir) dan maknawiyyan (batin). Dengan puasa Ramadhan mudah-mudahan pasca puasa nanti, kita menjadi manusia yang lebih baik.
Manusia yang memiliki perlindungan (perisai) dari sesuatu yang dimurkai oleh Allah di dunia dan di perkampungan akhirat. Merujuk asal kata taqwa, waqaa, yaqii, wiqayatan, ittaqa. Apa saja yang perlu kita lindungi. Melindungi diri, akal, keturunan, harta, agama. Melindungi lima kebutuhan primer (fhaturiyyatul khams). Ini perlu pembahasan khusus.
Al-Qur’an mengatakan bahwa tujuan diwajibkannya berpuasa di bulan Ramadan adalah la’allakum tattaqun . La’alla memiliki arti littarajji (harapan). Berbeda dengan layta bermakna littamanni, mengandung arti angan-angan yang mustahil dapat diwujudkan. Jadi, la’allakum tattaqun (agar kalian orang-orang beriman itu, berharap besar menjadi insan yang bertakwa).
Harapan inilah yang dititipkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada umat islam, meminjam istilah Bapak Sosiolog Muslim, Ibnu Khaldun. Dengan spirit harapan itulah, kita bisa menikmati dan memsknai penderitaan, mengurai kesulitan, menghalau kendala, bersahabat dengan tantangan, dan menunda mata’ menuju nikmat. Menunda kenikmatan sesaat menuju kenaikmatan yang bersifat permanen.
Jika takwa adalah barometer kemuliaan (miqyasud darajah) seseorang di sisi Allah, meningkatnya ketakwaan setelah Ramadhan berarti meningkatnya kemuliaan seseorang dalam pandangan Allah. Orang yang mulia dan memuliakan orang lain. Sosok yang langka di era kontemporer ini..
Siapakah orang yang mulia (karim) itu ?. Pujangga Arab berkata :
Orang yang mulia adalah ketika aku memujinya, diikuti oleh banyak orang. Ketika aku mencelanya, aku mencerca seorang diri.
Jika takwa adalah tolok ukur derajat kemuliaan dan kewalian seseorang di sisi Allah maka penjagaan dan meningkatnya ketakwaan pasca berpuasa Ramadhan berarti peningkatan level kewalian seseorang disisi Allah.
Wali Allah, akan mendapat pembelaan-Nya ketika sedang disakiti oleh tangan-tangan yang jahil dan tidak bertanggung jawab.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu โanhu, dia berkata: โRasulullah shallallahu โalaihi wa sallam bersabda: โSesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah seorang hambaโKu mendekatkan diri kepadaโKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada halโhal yang telah Aku wajibkan baginya. Senantiasa hambaโKu mendekatkan diri kepadaโKu dengan amalanโamalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk memegang dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepadaโKu pasti Aku memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepadaโKu pasti Aku akan melindunginya.โ (HR. Al Bukhari).
Yang dididik dalam puasa adalah hawa nafsu kita. Efeknya, kita menjadi orang yang kuat.
Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat (pisik), orang yang kuat itu hanyalah orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya ketika sedang marah (al Hadits).
Ketika kita terkontrol, kita bisa lebih baik dalam mengendalikan nafsu makan, minum, dan syahwat. Bukan hanya mengendalikan dari makan, minum, dan syahwat yang haram, melainkan juga mengendalikan semua itu, walaupun halal, selama belum tiba waktu berbuka (wara’).
Inilah kisah teladan sosok pemimpin yang wara’.
Suatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khattab melakukan inspeksi pasukan yang bertugas di Sham, sampai di perkemahan pasukan muslimin, Amirul Mukminin menginap di tenda Komandan Pasukan, saat itu dipimpin oleh Sahabat Agung, Abu Ubaidah bin Jarrah.
Ketika waktu makan tiba, Sidna Abu Ubaidah berkata, ” Amirul Mukminin mau makan makanan prajurit apa makanan para komandan?”
“Coba bawa dua-duanya.” Kata Sidna Umar.
Tidak lama kemudian, datanglah seorang prajurit membawa makanan yang dimakan oleh para prajurit. “Daging dan sup”.
“Mana makanan para komandan?”, kata Sidna Umar.
Tidak lama kemudian, datanglah seorang prajurit membawa makanan yang dimakan oleh para komandan. “Roti kering dan sedikit susu”.
Melihat itu, Amirul Mukminin tak sanggup menahan air matanya, dan memeluk Abu Ubaidah, “Tidak keliru Rasulullah ketika menamakanmu Aminul Ummah (penjaga umat)”.
Ketika kembali ke Madinah, dalam munajatnya, Amirul Mukminin mengatakanโฆ.”Dunia telah mengubah kita semua, kecuali kamu wahai Abu Ubaidahโฆ”Rahimahumullah. Jadi seorang muslim yang akhlaqnya mulia bisa..
****
Jadi, definisi Islam orang yang kuat adalah orang terkontrol. Orang yang berjiwa besar. Orang yang lemah adalah orang yang tidak terkontrol, berjiwa kerdil. Ia belum selesai untuk reformasi diri. Maka, memiliki jiwa yang terkontrol membutuhkan mujahadah dan riyadhah.
Selanjutnya juga agar kita bisa mengendalikan nafsu berbicara agar tidak berbohong, menggunjing, mengumpat, dan mengadu domba. Sia-sialah orang puasa yang tidak bisa mempuasakan lidahnya dari perkataan dosa. Pengalaman empiris membuktikan, ternyata belajar diam itu lebih sulit daripada belajar berbicara.
Juga mempuasakan diri dari nafsu amarah (shoum). Ada orang mengajak ribut dan bertengkar, jangan dilayani. Cukuplah dijawab dengan, “Saya sedang puasa !”
Jika banyak aspek diri kita yang menjijikkan, maka semoga puasa Ramadhan memberikan banyak aspek keindahan. Ibarat sebelum puasa Ramadan, diri kita ibarat ulat yang membuat gatal pihak lain lewat mulut dan sikap kita, maka sesudahnya harus berubah ibarat kupu-kupu yang indah menakjubkan sejauh mata memandang. Kita menjadi pribadi yang menarik karena bercahaya (hawiyyah mu’jibah).
Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami – hingga sampai ke surga, – sedangkan orang-orang munafik cahaya mereka padam – (dan ampunilah kami) wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala seduatu (QS. At Tahrim : 8)..
Anda bisa mengubah diri dengan mengubah kebiasaan secara berulang-ulang (kultur). Meneladani da-abus shalihin (kultur orang-orang shalih). Mereka kokoh imannya, ibadahnya dan akhlaknya. Keimanan perlu bukti ibadah. Dan ibadah membuahkan akhlak yang mulia. Iman yang tidak membuahkan amal shalih sama jeleknya dengan amal yang tidak didasari oleh iman. Sebenarnya beramal itu mudah, yang lebih sulit adalah menjaga amal dari hal-hal yang membatalkan (mubthilul amal, muhbithul amal).
Jika dulu biasa tidak shalat jamaah di masjid, biasakan berjamaah di bulan ini. Jika dulu tidak biasa membaca Al-Quran, biasakan membacanya di bulan ini. Jika dulu jarang bersedekah, biasakan melakukannya di bulan ini. Jika dulu jarang menghadiri pengajian, biasakan menghadirinya di bulan ini. Jika dulu tidak biasa shalat malam, biasakan melaksanakannya di bulan ini. Jika dulu tidak peduli halal-haram makanan, biasakan memperhatikannya di bulan ini. Jika dulu jarang wirid, biasakan untuk zikir rutin. Jika dulu ahli mengisap rokok, biasakan untuk cerai dari rokok. Jika dulu tidak mengendalikan ucapan, biasakan berbicara yang baik-baik di bulan ini.
Ala bisa karena biasa. Ketaatan yang semula berat akan terasa nikmat setelah terbiasa. Puasa Ramadhan kita berhasil, jika setelah Ramadhan nanti kita menjadi manusia lebih baik, yang lebih bertakwa kepada Allah. Tidak mungkin kita tidak berubah, karena lingkungan strategis kita terus mengalami perubahan yang demikian cepat. Bahkan, perubahannya sulit kita prediksi.
TANJUNG SELOR (Hidayatullah.or.id) — Dua kampus Hidayatullah yaitu Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Tanjung Selor, Kalimantan Utara (Kaltara) menggelar acara pernikahan massal mubarak 4 pasang santri dai-daiyah Hidayatullah yang masing masing digelar Sabtu dan Ahad, 23-24 Sya’ban 1443 (26-27/3/2022).
Helatan walimah di Mataram, hadir memberikan sambutan dan penguatan kepada para dai dan daiyah, Gubernur NTB, DR. H. Zulkeflimansyah,SE.,MSc.
Sementara itu DR.TGH. L. Ahmad Zainuri, Lc,MA memberikan nasihat pernikahan penuh hikmah dan inspirai kepada para mempelai.
Pernikahan mubarak ini menurut Ketua DPW Hidayatullah NTB, Ustadz Muslihuddin Mustaqim, adalah juga dalam rangka syiar Islam perihal pernikahan.
โProses pernikahan mubarak ini dilakukan dengan penuh kerja keras, perjuangan yang luar biasa, serta yang paling utama adalah dari sisi syariatnya, dimana para peserta nikah mubarak ini sama sekali belum saling kenal satu sama lain, tanpa melalui pacaran dan segala bentuk pendekatan yang tidak diridhoi oleh Allah,โ ungkapnya.
Salah seorang dai muda NTB, Ustadz Amrael Hasani mengatakan bahwa dirinya memilih ikut pernikahan mubarak ini dalam rangka ikut menguatkan barisan dakwah di tengah-tengah umat.
โMelalui pernikahan ini saya tidak sekedar ingin membangun keuarga, tetapi juga bagaimana dapat ikut menguatkan dakwah Islam di tengah-tengah umat bersama istri tercinta,โ ungkapnya dengan tersenyum malu.
Di tempat lain, resepsi pernikahan di Tanjung Selor, Kaltara, juga berlangsung semarak yang dihadiri keluarga 4 pasang mempelai. Ketua DPW Hidayatullah Kaltara, Ustadz Endi Haryono, pernikahan mubarak ini adalah dalam rangka syiar Islam.
โDalam prosesi pernikahan mubarak ini ada hal yang berbeda bila dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya, dimana para peserta nikah mubarak ini sama sekali belum pernah saling kenal satu sama lain, tidak mengenal pacaran dan pertemuan pertama setelah dinyatakan sah,โ ungkapnya.
Abu Bakar salah satu dai muda peserta pernikahan di Kaltara ini mengatakan bahwa dirinya memilih ikut pernikahan mubarak ini dalam rangka turut menguatkan syiar dakwah.
โDengan pernikahan ini, saya tidak sekedar ingin membangun rumah tangga, tetapi bagaimana saya dan istri nantinya dapat ikut menguatkan syiar dakwah Islam,โ ungkap dai muda yang sejak kecil telah menjadi yatim piatu.
Gelaran acara ini disponsori oleh Laznas BMH dalam rangka terus mendukung upaya penguatan keluarga terlebih untuk dai dan daiyah. Hal ini karena eksistensi mereka dapat menguatkan syiar dan kiprah dakwah di tengah-tengah umat.*/Herim
FAKFAK (Hidayatullah.or.id) — Menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1443 H, Komando Resor Militer Tentara Nasional Indonesia (Korem TNI) 182/JO bersilaturahim dan memberikan bantuan sembako ke Pondok Pesantren Hidayatullah di Kampung Sekru, Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Selasa, 26 Sya’ban 1443 (29/3/2022).
Kasrem 182/JO Letkol Arm. Rico Ricardo Sirait, B.S., MDS. dalam keterangannya yang disampaikan oleh Kapenrem 182/JO Mayor Inf. Hikmat illahi menjelaskan, kunjungan anggota Korem ke Pesantren Hidayatullah yang dihuni 70 santri ini, merupakan bentuk silaturahmi prajurit Korem 182/JO kepada komponen bangsa yang ada di Kabupaten Fakfak.
Kasrem 182/JO berpesan kepada para santri dan santriwati, bahwa santri merupakan aset bangsa yang kelak menjadi generasi penerus kehidupan bangsa yang memiliki bekal akhlak, budi pekerti serta sopan santun yang diberikan selama belajar di pesantren. Bekal tersebut, kata Kasrem, tentunya akan sangat berguna bagi diri sendiri, orang tua dan masyarakat.
“Saya berpesan agar menjadi suri tauladan yang baik serta tidak mudah percaya pada berita hoaks yang belum jelas, yang mungkin mengatasnamakan agama yang dapat merusak dan memecah belah bangsa dan negara,โ pesan Kasrem.
Kedatangan anggota Korem 182/JO juga untuk memberikan bantuan berupa sembako, kepada para santri yang sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Hidayatullah.
Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Fakfak Ustadz Hanafi, S.IP menyampaikan terimakasihnya kepada Korem 182/JO atas kunjungannya di Ponpes Hidayatullah.
โSemoga kegiatan ini bisa menambah hubungan dan mempererat tali silaturahmi,โ ujar Ustadz Hanafi.
โAda 70 santri yang ada disini, berasal dari berbagai daerah di Papua maupun Papua Barat. Mereka menimba ilmu tanpa dipungut biaya,โ pungkas Hanafi. (penrem/hio)
Gambar ilustrasi lampu penerang (Foto: Sergei Akulich/ Pixabay)
DALAM Surat Shad (38) : 26, Alah SWT berfirman,”Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah SWT. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah SWT akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”
Dalam tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa dalam ayat ini terkandung pesan kepada ulil amri (pemerintah, dan siapapun yang memimpin-red) agar mereka menetapkan hukum dengan berpijak kepada kebenaran yang diturunkan dari Allah swt dan tidak menyimpang darinya karena hal itu akan menyesatkan mereka dari jalann-Nya.
Demikian halnya dengan Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar r.a:
โSaya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya, seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tangggung jawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memlihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin akan ditanya (diminta pertangggung jawab) dari hal yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hal yang paling mendasar yang dapat diambil dari hadis di atas adalah bahwa dalam level apapun, manusia adalah pemimpin termasuk bagi dirinya sendiri. Setiap perbuatan dan tindakan memiliki resiko yang harus dipertanggungjawabkan.
Setiap orang adalah pemimpin meskipun pada saat yang sama setiap orang juga membutuhkan pemimpin dan kepemimpinan ketika ia harus berhadapan untuk menciptakan solusi hidup dimana kemampuan, keahlian, dan kekuatannya dibatasi oleh sekat yang ia ciptakan sendiri dalam posisinya sebagai bagian dari komunitas.
Masih banyak lagi sebenarnya dalil yang berkaitan dengan kepemimpinan dan urgensinya hingga level implementasi bahkan juga monitoring dan evaluasinya. Akan tetapi, setidaknya, kita tersontak ketika diingatkan oleh Bapak Pemimpin Umum saat Tarhib Ramadhan, Selasa (29/3/2022), bahwa dalam memimpin disetiap level apapun, harus Leading with Heart dan Managing with Mind.
Memimpin dengan hati, artinya, mengedepankan perasaan yang bersumber dari kuatnya ibadah dan amal sholeh (ahsanu amala) yang dilakukan. Dimana akan melahirkan sebuah intuisi yang ilhami untuk melahirkan sejumlah konsepsi ilahiyah, yang akan memandu setiap pemimpin dalam memimpin apa yang dipimpinnya, dalam level apapaun termasuk memimpin dirinya sendiri ataupun dalam keluarga.
Konsekwensi logisnya akan terjadi kedekatan antara pemimpin dengan yang dipimpin, seperti hubungan saudara (kal jasadil wahid), bukan hubunga transaksional, sebagaimana hubungan bos dan majikan.
Oleh karenanya, seorang pemimpin akan memimpin secara adil, dan jauh dari hawa nafsu, serta kepentingan pribadi. Karena jika dalam memimpin sudah dipandu dengan hawa nafsu, pasti akan merugikan bahkan menyesatkan. Cepat atau lambat, sebagaimana yang digambarkan dalam QS -Shad ayat 26 di atas.
Selanjutnya, dimana letak manajemen, akal dan rasio. Inilah kemudian yang diistilahkan dengan manage by head. Artinya seorang pemimpin harus menggunakan โkepalanyaโ dalam me-manage yang dipimpin. Kepalanya tidak boleh kosong. Sehingga, seorang pemimpin juga dituntut untuk memiliki wordview yang cermerlang, dengan wawasan yang luas, otak yang encer, serta kemampuan managerial skill yang memadai. Untuk mendapatkannya, bisa melalui jalur pendidikan formal maupun non formal, literasi (baca/tulis) dan lain sebagainnya.
Tuntutan berikutnya adalah, seorang pemimpin juga mesti memahami dan tidak alergi terhadap adanya tools manajemen modern yang disesuaikan dengan visi, misi dan budaya organisasi, sehingga dalam me-manage yang dipimpinnya berlaku kaidah SMART (Specific, Measureable, Achievable, Relevant, dan Time-bound). Sebab seorang pemimpin juga mesti mampu men-direct dalam menyusun perencanaan strategis.
Dan, tools ini akan membantu dalam merealisasikan seluruh program yang telah dirumuskan tersebut. Karena, manage by head, itu outpunya adalah hasil kerja yang bisa dirasakan perubahannya, bahkan yang nampak bisa dilihat secara fisik.
Dengan demikian maka, kemampuan seorang pemimpin dalam menintegrasikan dan memadukan antara manage by heart dan manage by head, akan melahirkan kepemimpinan yang visioner dan melakukan quantum leap, yang bisa jadi dapat menerobos dimensi ruang dan waktu.
Implementasinya dapat dimulai dari sekala yang paling kecil, sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, sebab pemimpin itu sebenarnya adalah diri kita masing-masing. Wallahu aโlam
Asih Subagyo, penulis adalah instruktur Hidayatullah Institute
SUKABUMI (Hidayatullah.or.id) — Ma’had Tahfizh Al Qur’an Putri Al Humaira Sukabumi menggelar kegiatan Daurah Marhala Ula (DMU) digelar selama 3 hari yang dibuka pada Senin, 25 Sya’ban 1443 (28/3/2022)/
Kegiatan yang digelar mulai 25 hingga 27 Sya’ban/ 28-30 Maret 2022 ini diselenggarakan di komplek Ma’had Tahfizh Al Qur’an Al Humaira, Sukabumi dengan sebanyak 33 peserta santri.
DMU ini menghadirkan pemateri Ust. Fakhruddin Rifa’i (Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Sukabumi) Ust. Naspi Arsyad, Lc (Direktur Ma’had Tahfizh Al Humaira) dan Ustazah Rusmina (Ketua Majlis Murabbiyah Hidayatullah Jawa Barat).
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Daurah Marhalah Ula, Aisyah S.H.I menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pemateri dan peserta atas partisipasinya dalam acara ini.
Aisyah juga menuturkan tujuan pelaksanaan daurah ini sebagai media bagi peserta untuk mengenal Hidayatullah lebih jauh.
Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Hidayatullah (STIS) Balikpapan ini menegaskan bahwa para pemateri adalah pihak yang mengenal konsep Hidayatullah sangat baik sebab telah bergabung dengan Hidayatullah sejak puluhan tahun sebelumnya.
Acara yang digelar untuk santri kelas XI dan XII ini dibuka secara resmi oleh Ust. Fakhruddin Rifai. Dalam sambutannya, Fakhruddin meminta agar seluruh peserta mengikuti daurah ini dengan maksimal karena seluruh rangkaian materinya bagaikan golden gate dalam mengenal dan memahami Hidayatullah.
“Daurah ini diadakan bukan sekedar untuk menambah agenda kegiatan santri, bukan sekedar acara seremonial. Daurah ini adalah jenjang formal yang ditetapkan oleh Hidayatullah agar peserta dapat menjadi kader Hidayatullah lebih utuh,” kata pria murah senyum ini.
Fakhruddin menambahkan bahwa Hidayatullah adalah lembaga perkaderan yang menetapkan tarbiyah dan dakwah sebagai mainstream gerakannya.
Dan, terang dia, sebagai lembaga tarbiyah dan dakwah, Hidayatullah harus diback-up oleh pelaku dakwah yang memahami konsep gerakan Hidayatullah dengan benar agar mainstream gerakannya selalu on the track.
Acara pembukaan DMU juga dihadiri oleh unsur Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, pimpinan DPD Hidayatullah Kabupaten Sukabumi dan jajaran pengelola Ma’had Tahfizh Al Humaira Sukabumi. (ybh/hio)