JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Walikota Tidore Kepulauan Capt. H. Ali Ibrahim, MH, mengunjungi Kantor Pusat DPP Hidayatullah Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jalan Cipinang Cempedak I No.14, RT.13/RW.6, Cipinang Cempedak, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis, 25 Jumadil Akhir 1443 (27/1/2022).
Kedatangan Ali Ibrahim disambut langsung Ketua Umum (Ketum) DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq yang didampingi Ketua Departemen Perkaderan Muhammad Shaleh Utsman. Kunjuan Ali Ibrahim tersebut dalam rangka silaturahim sebagai kader Hiayatullah.
Ali Ibrahim mengucapkan terima kasih kepada DPP Hidayatullah yang telah menyambut kedatangannya.
“Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih serta merasa terhormat didaulat jadi Dewan Penasehat Dai Hidayatullah Provinsi Maluku Utara. Semoga saya bisa memberikan kontribusi terhadap warga Hidayatullah,” kata Ali Ibrahim.
Sebelumnya, Walikota Ali Ibrahim didapuk menjadi warga kehormatan dan Penasehat Dai Hidayatullah Provinsi Maluku Utara. Ali Ibrahim menyampatkan waktu menghadiri pembukaan dan silaturahmi Da’i dan Rakerwil Hidayatullah se-Maluku Utara di Pondok Pesantren Hidayatullah Maluku Utara, di Ternate, Jum’at lalu (7/1/2022).
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Maluku Utara Ustadz Saleh Sukur mengatakan pengangkatan Walikota Tidore Kepulauan sebagai Ketua Dewan Penasehat Da’i Hidayatullah Maluku Utara menandakan sebagai warga Hidayatullah.
“Sorban yang dikalungkan tadi menandakan bahwa Pak Ali resmi menjadi Ketua Dewan Penasehat Da’i Hidayatullah Maluku Utara dan warga Hidayatullah,” kata Saleh.*/Infopublik
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga swadaya kesehatan nasional Islamic Medical Service (IMS) menargetkan pengadaan klinik kesehatan umum yang gratis untuk dhuafa di 3 titik di Indonesia pada masa kerja tahun 2022. Sasaran tersebut menjadi salah satu rekomendasi hasil Rapat Kerja (Raker) IMS yang digelar selama 2 hari di Jakarta, 26-27 Januari 2022.
Selain itu, IMS juga berkomitmen kian menguatkan layanan yang telah berjalan seperti program Desa Sehat, Hapus Tato, Khitan Gratis Pelosok Negeri, Aksi Peduli Bencana Nusantara (APBN), Tebar Gizi Nusantara (TGN), dan program kemaslahatan lainnya.
Direktur IMS, Imron Faizin, mengatakan target pengadaan klinik kesehatan tidak saja dalam rangka untuk memudahkan masyarakat dapat menjangkau layanan kesehatan terstandar.
Klinik ini juga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan umat di kawasan rentan yang mengalami kendala dalam akses layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas.
“Semoga target ini dapat kita capai yang tentu mengharapkan doa restu serta keterlibatan masyarakat secara luas dalam mendukung ikhtiar ini,” kata Imron.
Dia menambahkan, pihaknya juga berkomitmen terus menguatkan program yang selama ini bergulir, disamping itu pula terus memantapkan sinergi yang telah terjalin selama ini dengan berbagai institusi baik internal maupun eksternal.
Imron menjelaskan, kegiatan Raker IMS merupakan agenda rutin tahunan untuk melakukan berbagai penyempurnaan serta sebagai ajang konsolidasi dan mengevaluasi capaian target program yang telah dicanangkan bersama di awal tahun 2021.
“Ini adalah agenda rutin tahunan yang memang selalu kita gelar dalam rangka memonitoring dan evaluasi program kita pada tahun sebelumnya serta merumuskan program tahun berikutnya,” tuturnya.
Rapat Kerja yang digelar di Pondok Tahfiz Hidayatullah Jakarta Timur ini mengangkat tema, “Penguatan Kelembagaan untuk Menjadi Lembaga Filantropi yang Solid, Kreatif dan Progresif”.
Marwan Mujahidin selaku pembina IMS mengatakan hasil raker ini harus diimplementasi dengan baik, sebab, terangnya, setiap komitmen yang telah diikatkan merupakan janji yang harus ditepati.
“Setiap janji tentunya akan dimintai pertanggungjawaban dan hari ini IMS sudah melaksanakan raker dan hasilnya sudah menjadi konsekuensi untuk diimplementasikan dengan baik,” pesan Marwan.
Dia juga menekankan ejawantah daripada kultur Hidayatullah yang harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam setiap kerja kerja yang dilakukan, yakni meneguhkan nawaitu kepada Allah SWT untuk berkhidmat melayani umat dengan penuh semangat dan berdedikasi.
“Kader Hidayatullah tidak mengenal rumus untuk mundur ke belakang, maka dari itu tidak ada alasan untuk tidak semangat dalam mengawal dan menjalankan program-program keummatan,” katanya.
Marwan berharap semoga program-program yang telah dicanangkan IMS untuk tahun 2022 ini dapat berjalan dengan baik sehingga dapat memberikan sumbangsih dan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.*/ Alamsyah Jilpi
Wasekjen DPP Hidayatullah Ust Abdul Ghofar Hadi (penulis) bersama Ust Sudirman Hambal (pegang sorban) dan beberapa dai Hidayatullah yang berfoto bersama usai pembukaan Rakerwil Hidayatullah Papua di Jayapura, Kamis (27/1/2022) malam.
ALHAMDULILLAH bertemu dengan salah satu saksi sejarah dakwah di tanah Papua yaitu Ust Sudirman Hambal. Beliau termasuk generasi kedua Hidayatullah yang ditugaskan ke Papua dan sekarang dituakan karena dianggap paling senior yang dipertahankan dan bertahan di Papua.
Ustadz Sudirman bergabung di Hidayatullah Gunung Tembak pada tahun 1980. Sebelumnya beliau belajar di Darul Istiqomah Maccopa Sulawesi Selatan.
Saat di Darul Istiqomah sudah beberapa kali mendengar ceramah Ust Abdullah Said saat silaturahim ke pesantren Maccopa. Tapi saat itu biasa saja dan belum begitu tertarik.
Setelah kakaknya yang menjadi teman Ustadz Abdullah Said, yang baru datang dari Gunung Tembak bercerita tentang menariknya Pesantren Hidayatullah maka ada ketertarikan untuk ke Gunung Tembak.
Ustadz Sudirman mengaku hanya sekali saja mengalami guncang selama di Hidayatullah yaitu saat TC 40 hari. Guncangnya karena berat kerja keras dan ibadah, tidak sesuai dengan bayangan dan ada perasaan gimana gitu dengan teman-teman yang sudah selesai TC.
Saking guncangnya, maka selesai TC beliau minta ijin pulang kampung tapi tidak diijinkan. Kemudian Allahuyarham Abdullah Said memberikan solusi dengan tugas dakwah ke kampung. Kalau ijin itu harus diistighfarkan karena belum tentu tanpa interest dan tidak tahu apa yang terjadi di perjalanan.
Ini pelajaran berharga dan nasehat yang sangat menyentuh hatinya dan membuatnya tenang. Ada perasaan senang dan bahagia, meski diolok teman-teman karena baru tiga bulan sudah ijin pulang kampung.
Setelah kembali dari pulang kampung, Ustadz Sudirman di TC 40 hari lagi karena dianggap kelamaan di kampung. Tapi beliau jalani dengan ikhlas dan semangat tanpa guncang lagi. Jadi Ust Sudirman salah satu santri yang di TC dua kali dengan kerja keras dan ibadah tiap malam.
Selesai TC 40 hari yang kedua, beliau ditugaskan ke Samarinda bersama pak Mathori Suyuthi dan pak Arbain. Tapi bukan yang di Sempaja.
Tahun 1983 awal, ia ditarik lagi ke Gunung Tembak untuk tugas ke Hidayatullah Tarakan. Belum genap satu tahun, ditarik kembali ke Gunung Tembak untuk memgikuti pernikahan massal.
Setelah menikah Ust Sudirman disuruh kembali ke Hidayatullah Tarakan selama kurang lebih dua tahun. Tahun 1986, dipindahkan tugas ke Hidayatullah Tolitoli, Sulawesi Tengah. Selama kurang lebih 6 tahun di Toli-Toli.
Tahun 1992 ditugaskan ke Papua dengan membawa istri dan 3 anaknya. Bersama beberapa ustadz yang lain dengan naik kapal.
Beliau tugas di Hidayatullah Sorong menggantikan Ustadz Majid Aziz yang ditemani oleh Ustadz Baharudin Belanda dan Ustadx Ismael Kalosi.
Selanjutnya berpindah ke Merauke dan Jayapura serta kembali lagi ke Hidayatullah Sorong. Dakwah yang dinamis untuk tour of duty di tanah Papua
Subhanallah luar biasa perjuangan dakwah mereka. Meski dengan alam yang keras, banyak daerah texas, dukungan dakwah yang minim dan belum lagi fasilitas yang terbatas.
Terbayang betapa beratnya merintis dan mengawali dakwah Hidayatullah di Papua beberapa puluh tahun yang lalu. Nyawa senantiasa terancam oleh malaria dan gerakan separatis.
Kendatipun kondisinya tidak mudah, Ust Sudirman tetap bertahan dengan bekal keyakinan akan pertolongan Allah SWT dan ketaatan menjadi kata kunci melaksanakan tugas berat itu.
Sebagaimana nama pahlawan nasional yang disandangnya, dalam diri Ust Sudirman mengalir darah pejuang. Nampaknya itulah pula yang mewarisi ketekunan, keberanian, kesabaran, dan etos kerja tinggi yang dimilikinya.
Berbagai jerih payah dilakukan untuk dakwah, keringat menjadi catatan sejarah dan amal jariyah dunia akherat. Mencari tanah, dan tak lupa membangun komunikasi dengan pemerintah setempat yaitu pejabat dan aparat.
Ust Sudirman juga membangun relasi dengan banyak orang untuk membangun pesantren dan mencari santri-santri dari pedalaman dan daerah transmigrasi. Menjadi dinamika yang menarik untuk membuka lembaran dakwah di tanah Papua.
Tidak ada rasa ragu, khawatir, dan takut menjalani tugas dakwah di Papua. “Dulu santri itu bingung dan bertanya-tanya kalau tidak mendapatkan SK tugas dan langsung loncat berangkat jika mendapatkan SK tugas,” katanya mengisahkan.
Pengalaman puluhan tahun di Papua bersama keluarga dan anak cucu menjadikan Ust Sudirman semakin cinta dengan Papua. Bahkan ia tidak berfikir pulang atau meninggalkan Papua.
Apalagi ada pesan khusus dari bapak Pemimpin Umum saat Silatnas di Gunung Tembak: “Pak Sudirman tetap tugas di Papua dan meninggal dunia di sana, Pak Bakhtiar AR juga tetap di Sumatera dan wafat di sana untuk menjadi tonggak sejarah di sana”.
Ini pesan yang luar biasa bagi seorang kader. Sebagaimana para sahabat yang banyak ditugaskan Rasulullah berdakwah keluar Madinah dan wafat di tempat tugasnya.
Beliau kalau pulang kampung, dipastikan keliling berdakwah dan mengajak saudara dan anak-anak di kampung untuk turut berdakwah.
Putra putrinya telah memegang amanah di Hidayatullah. Ustadz Fadlurrahman Anshori sebagai ketua PW Pemuda Hidayatullah. Ustadz Miftahuddin sebagai sekretaris DPW Hidayatullah Papua Barat. Menantunya juga alumni STAIL yaitu Anang Makruf dan alumni STIS yaitu Qoyyim. Dan beberapa yang lain.
Baru beberapa bulan ini, Ust Sudirman mendapatkan SK baru dari Sorong Papua Barat ke Jayapura Papua untuk menjadi ketua Dewan Murobbi Wilayah (DMW) menggantikan Ust Haris Amin almarhum.
Padahal, Ust Sudirman sudah paling senior, umur 62 tahun, tapi masih girang betul menerima amanah penugasan. Di usianya tersebut, ia bisa saja memilih istirahat menikmati perjuangan sambil bermain dengan cucunya yang sudah berjumlah 13.
Belum lagi istri dalam kondisi sakit stroke. Tapi itu semua tidak menghalangi untuk menjalankan ketaatan. Allahu Akbar. Ini ujian keikhlasan dan ketaatan yang tidak mudah bagi seorang kader.
“Umur boleh tua tapi semangat tetap muda. Tidak ada kesuksesan diraih dengan malas-malasan atau tanpa kerja keras. Tanah Papua menuntut kita bekerja keras,” katanya.
Inilah salah satu tonggak sejarah, spirit, teladan bagi generasi pelanjut Hidayatullah untuk membangun pesona dakwah di Papua dan semua wilayah.
Semoga beliau istiqamah, husnul khotimah, dan kita bisa menteladani perjuangan beliau. Aamin yaa Rabbal Alamin.
BANYUASIN (Hidayatullah.or.id) — Ditengah berbagai potensi ketegangan dan disintegrasi, Hidayatullah terus menguatkan peran kohesi dalam merawat persatuan dan merekatkan persaudaraan antar sesama anak bangsa serta menjaga sinergitas antar elemen umat.
“Peran kohesifvitas sosial ini senafas dengan semangat wasathiyah sebagai jatidiri Hidayatullah, yaitu kehadiran kita betul betul menjadi solusi dalam upaya perbaikan dan menghadirkan kemaslahatan,” kata Ketua DPP Hidayatullah Bidang Perekonomian, Drs. Wahyu Rahman, M.M, dari arena Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sumatera Selatan, Kamis, 25 Jumadil Akhir 1443 (27/1/2022).
Wahyu menjelaskan, peran kohesi sosial dalam rangka mengeratkan persaudaraan menjadi sesuatu yang amat penting dilakukan tiada lelah. Sebab, terangnya, tanpa persaudaraan dan soliditas yang kuat kita akan dapat dengan mudah terpecah belah.
Oleh sebab itu, menurut Wahyu, pengarusutamaan program dakwah dan pendidikan yang dicanangkan Hidayatullah merupakan bagian dari ikhtiar menjaga persatuan serta menopang ketahanan bangsa yang maju dan bermartabat.
“Mari kuatkan kontribusi kita sehingga semakin dirasakan oleh masyakatat dan terus merawat sinergi dengan berbagai pihak baik pemerintah maupun berbagai elemen umat yang hadir melalui program mainstrem dakwah dan tarbiyah,” kata Wahyu.
Ia pun berpesan kepada peserta Rakerwil agar senantiasa memiliki kepedulian terhadap problem umat dan berupaya mengentaskannya seoptimal yang diampu dan tidak justru menjadi bumerang. Karenanya, ia mengingatkan pentingnya memanifestasi nilai nilai hikmah dan akhlaqul karimah dalam diri setiap setiap kader.
“Hidayatullah memiliki gaya dakwah yang mengedepankan persaudaran dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin sehingga diterima di hati umat,” ujarnya.
Wahyu menambahkan, fungsi Rakerwil adalah sebagai wadah konsolisasi jatidiri bagi para kader agar tetap on the track dalam visi Hidayatullah. Selain itu, Rakerwil ini juga sebagai ajang evaluasi terhadap kinerja tahun sebelumnya dan juga alam rangka menyusun program tahun 2022.
Dia menyebutkan, dengan jaringan DPW di 34 di propinsi, 393 DPD di kabupaten/ kota, 420 DPC di kecamatan, 34 ranting di kelurahan/ desa, serta 823 RQH, Hidayatullah berkomitmen hadir berkhidmat untuk umat, agama, bangsa, dan negara.
“Demikian juga dengan khidmat Hidayatullah di bidang pendidikan terus ditingkatkan mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi dengan memberi kuota seluas luasnya bagi yatim dan dhuafa,” tandasnya.
Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sumatera Selatan berlangsung di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Rambutan, Kabupaten Banyuasin selama 2 hari, 26-27 Januari 2022.
Acara yang bertema “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik” ini dibuka oleh Kepala Biro Kesra Setda Pemprov Sumatera Selatan, Drs. H. Abdul Hamid, M.Si mewakili Gubernur Sumsel H. Herman Deru yang berhalangan hadir.
Dalam sambutannya membuka acara tersebut, Abdul Hamid mendorong Hidayatullah agar terus menguatkan kiprahnya dalam membangun masyarakat berkualitas yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, serta turut menopang program program pemerintah secara sinergis dan berkesinambungan.
“Tugas pemerintah Provinsi Sumsel telah dilaksanakan oleh Hidayatullah melalui program dakwah dan pendidikannya, teruslah berkiprah dan pemerintah daerah akan terus mendukung,” kata Abdul Hamid.
Mewakili Gubernur Sumsel, Abdul Hamid dalam kesempatan itu sekaligus meluncurkan program pendirian 500 Rumah Quran Hidayatullah (RQH).
“RQH ini sejalan dengan program pemerintah daerah berupa satu desa satu hafidz hafidzah,” kata Abdul Hamid dalam peluncuran tersebut yang turut didampingi Ketua DPW Hidayatullah Sumsel Lukman Hakim.
Pembukaan juga dihadiri Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemkab Banyuasin, Hamsi, S.Sos., MSi yang mewakili Bupati Kabupaten Banyuasin H. Askolani Jasi, S.H., M.H, Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Sumatera Selatan, H. Askweni, S.Pd, Kapolsek Rambutan, AKP Beni Okimu, S.H, dan perwakilan Kecamatan Rambutan.
Rakerwil Hidayatullah Sumatera Selatan 2022 ini diikuti oleh pengurus DMW, DPW, 10 DPD Hidayatullah se-Sumatera Selatan, orpen Mushida dan Pemuda, badan dan amal usaha BMH, Pos Dai, serta perwakilan dari Kampus Madya Banyuasin.
Acara diakhiri dengan pembacaan kesepakatan dan penyampaian kebijakan DPW Hidayatullah Sumatera Selatan dalam mendukung dan menghargai para perintis amal usaha berupa yayasan di daerah dengan menetapkan pembina di setiap yayasan.
Dalam kesempatan itu sekaligus menetapkan ketua DPD sekaligus ketua yayasan di setiap daerah guna terbangunnya harmonisasi dan sinergi antara program organisasi dan amal usaha dengan mengangkat Program Hidayatullah Nasional Pendirian 500 Rumah Quran Hidayatullah di Sumatera Selatan.(ybh/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga relawan kemanusiaan Search and Rescue (SAR) Hidayatullah menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) sekaligus Bimbingan Teknik (Bimtek) pembinaan potensi dasar pertolongan pertama bagi potensi pencarian dan pertolongan yang digelar selama 2 hari di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, 24-25 Jumadil Akhir 1443 (26-27/1/2022).
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust H Dr Nashirul Haq, MA, dalam sambutannya membuka acara ini berterimakasih dan memberi apresiasi atas kiprah SAR Hidayatullah atas kontrbusinya selama ini.
“Kiprahnya telah dirasakan baik secara internal di Hidayatullah maupun masyarakat Indonesia. Hampir di setiap bencana, SAR Hidayatullah selalu terdepan untuk memberikan layanan umat dalam bentuk pencarian dan pertolongan,” kata Nashirul Haq dalam sambutannya membuka acara tersebut.
SAR Hidayatullah menurutnya multi fungsi, inilah kata dia yang membedakannya dengan SAR secara umum. Selain sebagai relawan bencana dan kemanusiaan, SAR Hidayatullah juga wadah kaderisasi untuk melahirkan kader kader handal, militan, dan tangguh yang memiliki integritas dan kapabilitas sebagai calon calon pemimpin umat dan bangsa kedepan.
“Itu yang harus menjadi orientasi utama. SAR Hidayatullah juga sebagai wadah pengembangan diri terutama skill di bidang search and rescue. Dan juga sebagai wadah layanan umat dalam bidang kebencanaan terkhusus pencarian dan pertolongan,” terangnya.
Oleh karenanya, Nashirul berpesan, SAR Hidayatullah harus dikelola secara profetik dan profesional sebagaimana amanat dalam PDO bahwa misi Hidayatullah adalah menjalankan kegiatan dan program dengan segala dimensinya secara profetik dan profesional.
Nashirul juga mendorong SAR Hidayatullah terus melakukan berbagai terobosan, melahirkan inovasi, dan kreatifitas yang bermanfaat untuk umat dengan nyali sebagamana mottonya: tanpa tapi tanpa nanti.
“Dan kayaknya kalau tidak punya nyali, selalu bilang nanti nanti. Sebatas wacana. Kalau Pak Nanang kan memang tanpa nanti karena dia punya nyali,” candanya seraya menyebut nama salah seorang sejawatnya.
Lebih jauh, Nashirul juga menekankan pentingnya membangun sinergi dan kolaborasi baik dengan institusi internal maupun eksternal. Dia mengatakan, apapun tupoksi kita, tidak bisa dijalankan tanpa ditopang institusi lain.
“Terlalu besar amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita untuk memakmurkan bumi. Jadi kalau ada orang Islam yang hanya ingin menikmati kehidupan ini dan tidak mau mencari tantangan, itu berarti sudah menyalahi fitrahnya dan menyalahi amanah dari Allah SWT ” katanya seraya menukil QS. Hud ayat 61.
Dia menerangkan, Allah SWT menciptakan kita dalam rangka untuk memakmurkan bumi. Oleh karena itu, rasa tanggung jawab memikul amanah sangat tinggi karena ada keterpanggilan, bukan karena orientasi duniawi.
“Dan ketika memberikan pertolongan kepada siapapun selalu teringat dengan sabda Rasulullah SAW bahwa Allah pun akan meringkankan dan menolong kita,” pesannya.
Terakhir, UNH mengajak berdoa semoga SAR Hidayatullah kedepan semakin maju dan semakin progresif. Ia pun menitipkan pesan bahwa salah satu tantangan SAR Hidayatullah kedepan adalah ketersediaan instruktur putri sehingga kultur Hidayatullah tetap terjaga.
Pada pembukaan Rapimnas dan Bimtek SAR Hidayatullah ini dilakukan penandatangan kerjasama antara SAR Hidayatullah dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok yang memuat beberapa poin kesepakatan kerjasama yaitu pelaksanaan training center untuk mahasiswa, pembentukan SRU STIE Hidayatullah, pelaksanaan Halaqoh Hidayatullah Rescue (H2R), dan beasiswa Kuliah Kader Relawan SAR Hidayatullah.
Dalam kesempatan pembukaan Rapimnas dan Bimtek SAR Hidayatullah ini turut hadir jajaran pengurus DPP Hidayatullah diantaranya Kabid Organisasi Asih Subagyo, Kabid Yanmat yang juga pembina SAR Hidayatullah Nursyamsa Hadis, Kadep Sosial Musliadi Raja, Kadepkes Imran Faizin, Kadep SDI Muhamamad Arfan Abdau dan Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi.
Hadir pula pembina SAR Hidayatullah Muhammad Musyafir, Ketua Dewan Pakar SAR Hidayatullah Abbas Usman, Penasehat SAR Hidayatullah Syaharuddin Yusuf, Direktur BMH Supendi, Ketua STIE Hidayatullah Muhammad Saddam, Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta Muhammad Isnaini, ketua ketua PW SAR Hidayatullah se-Indonesia serta tamu undangan.*/Ain
TANJUNG PINANG (Hidayatullah.or.id) — Program dan kiprah Laznas BMH khususnya di Kepulauan Riau (Kepri) mendapat apresiasi dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Kepri.
Apresiasi tersebut disampaikan kepada Kepala Kantor Perwakilan BMH Kepri, Abdul Aziz, beserta rombongan ketika diterima saat bertandang ke kedua kantor tersebut hari ini, Rabu, 24 Jumadil Akhir 1443 (26/1/2022).
Kedatangan ke kantor Baznas Provinsi di Tanjung Pinang untuk menyerahkan laporan tahunan BMH Kepri. Annual Report yang diterima oleh ketua Baznas Provinsi Kepri, Drs. H. Arusman Yusuf, M.H.I, merupakan wujud pertanggungjawaban BMH Kepri kepada para donatur dan pemerintah melalui Baznas.
Menurut Abdul Aziz, pada tahun 2021, BMH mendapatkan penghargaan dari Baznas kategori Laporan Tahunan Terbaik, apresiasi yang semakin memacu semangat manajemen untuk terus meningkatkan kinerja termasuk kedisipilinan dalam memberikan laporan tahunan.
Selain sebagai prinsip transparansi dan akuntabilitas, menurut Abdul Aziz, juga agar pemerintah dapat melacak jejak pengabdian BMH Kepri dalam memberikan pelayanan kepada umat melalui laporan tahunan.
“Para donatur dan publik sendiri dapat dengan mudah melihat kiprah BMH Kepri melalui medsos dan channel youtube milik BMH Kepri,” tutur Abdul Aziz, di kantor Baznas Provinsi di kawasan Dompak, Tanjung Pinang.
Usai penyerahan, ketua Baznas Provinsi, Arusman Yusuf, menyampaikan apresiasinya dan menuturkan langkah yang dilakukan oleh BMH Kepri merupakan harapan Baznas yaitu seluruh laznas yang berada di Kepulauan Riau secara aktif berkomunikasi dan berkordinasi.
“Semoga BMH Kepri semakin maju dan berkembang,” harapnya yang diamini Abdul Aziz dan jajaran pengurus baik dari BMH maupun Baznas.
Selain ke Baznas, Abdul Aziz juga mengunjungi Kantor Kemenag Provinsi untuk agenda yang sama.
Kepala Seksi Pemberdayaan Zakat Wakaf Kanwil Kemenag Kepri, Hj. Halimah menyambut hangat dengan ucapan selamat kepada BMH yang meraih award dari Baznas.
“Semoga prestasi itu dapat dipertahankan termasuk raihan 196 persen penghimpunan dari BMH Kepri yang diluar dugaan karena saat penghimpunan dari laznas lain turun di masa pandemi, BMH malah meningkat,” terangnya dengan senyum sumringah.*/Mujahid M. Salbu
Penulis (tengah) berfoto di depan Kantor Gubernur Provinsi Papua
SAAT penulis masih kecil dan remaja sebelum menjadi santri Hidayatullah, persepsi tentang Papua itu hanya sekitar masalah prestasi sepakbolanya yaitu Persipura. Dengan pemain-pemain yang kuat dengan bakat alami.
Juga tentang burung cantiknya yaitu cendrawasih dan kesan seramnya yaitu gerakan separatisme OPM. Persepsi tentang perusahaan besarnya, Freeport.
Namun, setelah menjadi santri di Hidayatullah, ada pesona lain yang lebih menarik dan membuat penasaran yaitu geliat dakwah di tanah Papua.
Cerita tantangan mengenalkan Islam kepada suku-suku pedalaman, nyamuk yang banyak dan sebesar anak ayam. Bagaimana perjalanan membelah hutan, menggigil menahan serangan malaria. Cerita heroik yang mengundang penasaran dan menumbuhkan spirit tugas dakwah para santri.
Tahun lalu sebenarnya ada kesempatan juga untuk mendampingi Rakerwil. Tapi karena covid-19 yang saat itu masih ketat dengan PPKM maka hanya online saja.
Setelah sekian tahun mendengar cerita dakwah Islam di tanah Papua dari para dai Hidayatullah. Alhamdulillah, Allah mentaqdirkan penulis bisa menginjakkan kaki di tanah Papua.
Saat berangkat dari rumah, berpamitan dengan keluarga dan semua teman-teman. Tidak ada perasaan apa-apa, artinya ini perjalanan tugas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Namun saat tiba di bandara Sukarno Hatta diingatkan sama istri.
“Abi.. kalau ada toko, beli Autan atau apa untuk dipakai jika sudah tiba di Papua”
“Kenapa?”
“Kan, banyak nyamuk malaria di sana” jawabnya
” Oh iya. Insyaallah. Doanya”
Dari situ ada perasaan lain-lain. Baru teringat ganasnya nyamuk malaria di Papua. Akhirnya berusaha cari autan di bandara. Sebagai ikhtiar antisipatif dan bermunajat.
Tiba di bandara Papua, dijemput teman-teman.
Di selasela pembicaraan, ada cerita bahwa bahwa saat awal-awal datang dulu, nyamuk ribuan mengerumuni santri saat shalat di masjid. Tidak bisa shalat lama-lama karena tidak tenang dan bisa luka kaki digigit oleh nyamuk yang banyak dan hitam.
“Tapi sekarang sudah tidak seperti itu lagi kan?” Tanya penulis untuk menenangkan diri.
“Alhamdulillah sudah tidak ustadz, karena sudah ramai penduduk, hutan banyak di tebang dan jalan raya sudah banyak dibangun” Jawab teman.
” Tapi hari ini ada beberapa santri dan ustadz. sedang sakit malaria.” Tambahnya
“Subhanallah ternyata masih ada nyamuk malaria tapi insyaallah baik baik saja”
Ada statement bahwa belum dianggap sah datang ke Papua jika belum kena malaria
Itu hanya sekedar candaan dan sebagai gambaran betapa malaria itu adalah nyata adanya.
Ada juga yang mengatakan bahwa malaria lebih berbahaya dan mematikan daripada corona. Orang Papua tidak takut dengan corona karena sudah terbiasa hidup berdampingan dengan malaria. Ada banyak macam jenis malaria di Papua.
Jika orang kena malaria maka resiko paling ringan adalah panas menggigil dari dalam. Selanjutnya bisa halusinasi bahkan stress karena tidak tahan dengan suhu badan yang sangat tinggi.
Dakwah di Papua sudah terbiasa hidup dengan under pressure atau di bawah tekanan. Mentalitas para dai Hidayatullah tertempa kondisi alam dan suasana Papua sehingga kuat dan membaja.
Bukan hanya nyamuk malaria dan corona. Tapi ancaman dari gerakan separatis yang tiba-tiba datang, isu pribumi dan pendatang, angka kriminalitas dengan pembunuhan di jalanan karena banyak oknum yang masih suka mabuk.
Dua kali mendengarkan ceramah para ustadz Hidayatullah di masjid dan melihat performance para santri. Memang spirit dan mentalitasnya menunjukkan eksistensinya untuk eksis hidup di jalan dakwah.
Menurut ustadz Mualimin Amin sebagai ketua DPW Hidayatullah Papua mengatakan bahwa tugas berat kita di Papua, selain ekspansi adalah menjaga militansi dan mentalitas teman-teman. Tapi kita yakin dengan doa jamaah maka Hidayatullah akan terus mempesona dengan gerakan dakwah dan tarbiyah.*/
POLMAN (Hidayatullah.or.id) — Keberadaan Hidayatullah di kabupaten Polewali Mandar (Polman) harus terus dikuatkan, utamanya dalam kiprah kebajikan membangun kawasan itu dengan program dakwah dan pendidikan sebagaimana telah menjadi mainstream gerakan Hidayatullah serta semakin memaksimalkan kiprah di bidang sosial kemasyarakatan.
Demikian komitmen progresifitas kerja yang menjadi salah satu hasil rekomendasi Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Polman.
“Hidayatullah Polewali Mandar akan terus menguatkan kiprah kebajikannya di tengah umat pada ranah sosial, dakwah, dan pendidikan,” kata Ketua DPD Hidayatullah Polman, Taufik Malik, dalam keterangannya diterima Rabu, 24 Jumadil Akhir 1443 (26/1/2022).
Taufik mengatakan Kampus Hidayatullah Polewali Mandar selain telah selenggarakan pendidikan sebagai bagian dari khidmat keumatan, pihaknya juga melakukan pembinaan pembelajaran Al Qur’an kepada masyarakat di berbagai titik dengan menghadirkan Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH).
“RQH sudah hadir di lebih lima kecamatan Kabupaten Polewali Mandar,” imbuh Taufik seraya menambahkan bahwa program tersebut butuh sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak baik internal maupun eksternal.
Di kesempatan yang sama, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Drs. Mardhatillah menyoroti problem kebangsaan dan keumatan dewasa ini yang menurutnya harus memicu Hidayatullah terutama di Sulbar untuk mengambil peran solutif yang konfrehensif, progresif, dan berkesinambungan.
“Kita ikut prihatin dengan masalah kekinian seperti perilaku menyimpang yang abnormal dan mudahnya merebak isu pendangkalan aqidah,” kata Mardhatillah.
Keprihatinan tersebut, menurut dia, haruslah mewujud dalam bentuk program kerja yang tertaksir, fokus, dan tetap adaptif sesuai dengan dinamika daerah setempat. Terlebih lagi, yang amat penting, adalah membangun silaturrahim dan sinergitas.
“Sinergi mutlak dilakukan dalam bingkai kebersamaan demi terwujudnya Sulawesi Barat yang maju dan bermartabat, sebagaimana motto Sulbar, ‘mellete diatonganan’ – meniti pada kebenaran,” tukas Mardhatillah.
Tak lupa Mardhatillah juga berpesan kepada peserta Rakerda DPD Hidayatullah Polman untuk terus melakukan evaluasi terutama pada penguatan sumber daya insani. Selain itu, mendorong semua penyelenggaraan program yang mengacu pada terlaksananya visi dan misi.
Sebelumnya, pada pembukaan Rakerda DPD Hidayatullah Polman, Asisten Administrasi kabupaten Polewali Mandar Muhammad Nawir, yang hadir membuka acara mewakili bupati Polman, mengapresiasi kehadiran Hidayatullah di kabupaten Polewali Mandar telah lama dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Selamat bekerja semoga Rakerda DPD Hidayatullah Polewali Mandar menghasilkan program yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Nawir membacakan sambutan tertulis Bupati Mandar, Andi Ibrahim Masdar.
Bupati juga mengapresiasi Hidayatullah Polewali Mandar yang selama ini telah memberikan banyak sumbangsih terhadap pembinaan masyarakat.
Di akhir sambutan tertulisnya yang dibacakan tersebut, Bupati Polman mengajak berdoa agar terbebas dari pandemi Covid 19 dan menyukseskan program vaksinasi massal sebagai ikhtiar agar Allah berkenan menghilangkan pandemi ini di Indonesia.
Pada kesempatan tersebut juga hadir mewakili kepala Kementerian Agama kabupaten Polman, Kasi Bimas Islam, Abdul Haris Nawawi, tokog agama dan tokoh masyarakat serta perwakilan pimpinan ormas Islam se-Polewali Mandar.*/Muhammad Bashori
JAKARTA SELATAN (Hidayatullah.or.id) — Pesantren Tahfidz Fathan Mubiina Putri Hidayatullah Jakarta Selatan menggelar tasyakuran wisuda Khotmil Qur’an angkatan pertama di Villa Edensor, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 23 Jumadil Akhir 1443 (25/01/2022).
Pengurus Pesantren Tahfidz Fathan Mubiina Putri Hidayatullah Jakarta Selatan, Ust Ahmad Dahlan, menyampaikan tasyakuran ini merupakan perdana yang dilaksanakan Pesantren Tahfizh Fathan Mubiina Putri secara semarak dengan penuh khidmat.
“Kami menganggap ini adalah proyek besar yang Allah berikan dan tentunya proyek besar ini harus bersungguh-sungguh kita jalankan dengan kerja sama antara ustadz, ustadzah, dan orangtua,” kata Dahlan saat sambutannya.
Dahlan mengatakan tasyakuran ini penting sebagai bentuk apresiasi usaha keras dari keberhasilan 5 hafidzah santriwati dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam program satu tahun.
“Ini adalah ungkapan rasa syukur kita pada Allah dan juga sebagai syiar untuk generasi muda agar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman di dalam menjalankan kehidupan,” katanya seraya berharap semoga kelak dari Pesantren Tahfizh Fathan Mubiina Putri lahir generasi tangguh yang bermanfaat untuk agama, bangsa, negara, dan dunia secara luas.
Anggota Dewan Murobbi Pusat Hidayatullah, Ust H Zainuddin Musaddad, yang diundang menyampaikan taushiah mengaku bersyukur karena dilibatkan mempersaksikan 5 penghafal Qur’an.
“Berbahagia sekali, bersyukur, karunia Allah berkumpul di tempat ini, mempersaksikan lima keangungan besar, lima manusia yang dipilih oleh Allah, menjadi pelindung, pejuang dan pecinta Al-Qur’an,” katanya.
Ustadz yang karib disapa dengan Abah Zain ini dalam tausiahnya mengatakan bahagia betul orang-orang yang mengambil bagian dari program ini. Lebih khusus kepada orangtua para hafidzah, sebab tak kecil pengorbanan mereka.
“Mereka paling wajib berbahagia hari ini, kedua orangtua yang hadir. Sebab saat ini ada mahkota, ada 70 anggota keluarga yang dijamin masuk surga kata Rasulullah,” kata Abah Zain.
“Terima kasih, saya sudah dibawa dalam kemuliaan dan kebaikan. Tidak menjadi penghafal kalau orangtuanya tidak hebat, ada pengorbanan,” terusnya.
Ayah dari 6 anak ini menyampaikan kepada para orangtua bahwa prestasi 5 anak anaknya ini ada rahmat yang dijanjikan oleh Allah. Bahkan, lanjut Abah Zain, seandainya ada upaya mengumpulkan tenaga dan materi yang ada di langit dan bumi maka tidak ada bandingannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
“Ini hadiah, bukan berupa jumlah uang, sebab Qur’an ini rahmat Allah. Berbahagialah mereka, dunianya gembira, akhiratnya gembira,” ungkapnya.
Kepada hadirin, ustadz asal Tasikmalaya Jawa Barat ini juga berpesan bahwa hidup ini tidak boleh gagal. Oleh sebab itu, ia mengajak untuk selalu berdoa dan istiqamah dalam kebaikan.
Diakhir tausiah, Abah Zain mengatakan semua pengorbanan para hafidzah menjadi amal jariah yang tidak akan terputus bagi siapapun yang mengambil bagian dalam jalan-jalan kemuliaan ini.
“Para penghafal ini mahal harganya. Menghafal ini proyek seumur hidup bahkan sesudah matipun ketika dia dihidupkan kembali oleh Allah, karena mati dulu baru ada surga,” ucapnya.
Kepada siapapun yang berkomitmen, berkontribusi dalam tasyakuran ini, Abah Zain mendoakan, makin banyak materi tenaga yang kita keluarkan utamanya untuk Qur’an makin besar gantinya oleh Allah. Dia mengingatkan agar jangan kikir dengan agama, kelak di hari akhirat mungkin itu yang akan menolong kita.
Kegiatan ini terlaksana atas dukungan dari berbagai pihak, terutama keluarga Priyo Budi Santoso selaku sahibul bait (tuan rumah) yang menyediakan berbagai fasilitas untuk terselengaranya kegiatan tasyakuran ini.
Pesantren Tahfidz Fathan Mubiina Putri merupakan pesantren yang dikembangkan Hidayatullah DPD Jakarta Selatan. Ahmad Dahlan meminta doa dan restu semoga di tahun ini 2022 cita-cita mewujudkan pesantren tahfiz putra dapat direalisasikan pula.*/Azim Arrosyid SB
SETIAP perbuatan kita, kecil maupun besar, terang-terangan atau tersembunyi, pada kenyataannya akan membawa konsekuensi atau akibat tertentu.
Adakalanya konsekuensi itu kecil dan tidak terasa, namun adakalanya justru sangat besar dan menakutkan. Bisa jadi akibat itu akan tampak di dunia, atau ditunda sampai di akhirat kelak.
Oleh karenanyalah, dari waktu ke waktu kita dianjurkan untuk beristighfar, memohon ampunan kepada Allah, agar terhindar dari akibat buruk perbuatan-perbuatan kita sendiri. Sebab, sangat boleh jadi kita merasa hanya mengerjakan sesuatu yang sepele, namun di mata Allah sangat besar!
Tidakkah Anda pernah mendengar kisah orang yang masuk neraka gara-gara seekor lalat?
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seseorang bisa masuk surga karena gara-gara seekor lalat dan ia juga bisa masuk neraka karena gara-gara seekor lalat pula.” Mereka (para shahabat) bertanya: “Bagaimana hal itu bisa terjadi ya Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Ada dua orang laki-laki melewati suatu kaum yang menyembah patung. Mereka tidak akan membiarkan seorang pun lewat kecuali setelah mempersembahkan sesuatu kepada patung tersebut. Mereka berkata kepada salah satu dari keduanya, “Berkorbanlah!” Ia menjawab, “Aku tidak punya sesuatu pun untuk aku persembahkan kepadanya.” Mereka berkata, “Berkorbanlah meskipun hanya seekor lalat.” Kemudian ia berkorban dengan seekor lalat, mereka pun membiarkannya lewat, maka ia masuk neraka.
Kemudian mereka berkata kepada yang satunya, “Berkorbanlah!” Ia menjawab, “Aku tidak akan berkorban dengan sesuatu pun kepada selain Allah Ta’la.” Kemudian mereka membunuhnya, maka ia masuk surga”. (Riwayat Ahmad. Hadis ini mursal-shahabiy dari Thariq bin Syihab)
Tampaknya hanya mengorbankan seekor lalat, bukan? Bukankah ia sangat sepele? Berapakah harga seekor lalat? Atau, adakah seekor lalat itu cukup berharga untuk dikorbankan? Lalu, mengapa di mata Allah ia menjadi sangat besar sehingga mengantar orang itu ke neraka?
Ternyata, bukan lalatnya, namun tujuan pengorbanannya. Ketika ia dipersembahkan sebagai bukti kepatuhan kepada berhala, maka kemusyrikan pun telah terjadi. Wajar saja ia berbuah neraka, bukankah “syirik adalah kezhaliman yang paling besar”? (QS Luqman: 13).
Dan, bukankah “Allah tidak bersedia mengampuni dosa syirik, namun mau mengampuni yang selain itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya?” (QS an-Nisa’: 48 dan 116).
Disinilah pentingnya sikap hati-hati dan waspada, sebab kita seringkali lalai dan tidak begitu mempertimbangkan tindakan-tindakah kita sendiri. Kehati-hatian adalah inti taqwa dan wara’ (menjauhi yang haram dan syubhat), yang merupakan pilar utama agama dalam diri kita.
Tanpa ketaqwaan dan sikap wara’, sangat boleh jadi segala hal menjadi boleh dan diterjang tanpa keberatan sedikitpun.
Sifat taqwa dapat diibaratkan ketika kita berjalan di sebuah jalan yang penuh lobang dan duri, sehingga setiap langkah yang kita pijakkan diperiksa betul-betul. Atau, seperti seorang prajurit yang terpaksa menembus ladang ranjau. Ia tahu persis bahwa di petak tanah di hadapannya tertanam ranjau-ranjau, walau ia tidak tahu di sebelah mana disembunyikan.
Maka, pengetahuannya itu akan membimbingnya untuk bersikap ekstra hati-hati. Setiap langkah akan diperiksa, sebab keselamatannya tergantung pada keputusannya untuk melangkah ke suatu titik, atau menghindar dan mencari pijakan lain.
Namun, inilah kita manusia. Sungguh banyak persoalan yang berlalu dan kita tidak benar-benar mempertimbangkannya dengan matang. Kita juga tidak tahu apakah akibatnya nanti baik atau buruk bagi kita, entah di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Sebagai misal, di masa muda, kita sering tidak pikir panjang untuk melahap apa saja yang dapat kita temukan. Belakangan, kita akhirnya terserang aneka penyakit dan gangguan, seperti diabetes, hipertensi, stroke, gagal ginjal, serangan jantung, dan lain sebagainya.
Di sisi lain, kita memiliki jiwa, yang bisa sehat atau sakit. Tentu saja, ia akan jatuh sakit dan bahkan mati oleh tumpukan dosa dan kesalahan yang kita perbuat, sebagaimana fisik kita bisa ambruk gara-gara kesembronoan gaya hidup dan pola makan.
Kematian fisik akan menutup amal dan tinggallah kita menanti hisab, namun bagaimana dengan kematian jiwa? Tatkala jiwa kita yang mati, maka ia akan terus-menerus menumpuk dosa dan kesalahan, semakin menggunung dan akhirnya membuat kita tidak bisa bangkit samasekali.
Pada saat itu, kebenaran akan terasa pahit dan amal-amal kebajikan akan terasa memuakkan. Na’udzu billah. Bukankah Allah telah berfirman, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS al-Muthaffifin: 14).
Oleh karenanya, berdoa memohon perlindungan Allah itu sangat penting, terutama dari keburukan tindakan-tindakan kita sendiri. Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa seperti berikut sebagaimana diriwayatkan dari Bukhari-Muslim:
“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, tindakan melampaui batas yang kuperbuat, dan juga segala perkara yang Engkau sendiri lebih mengetahuinya dibanding diriku.
Ya Allah, ampunilah apa yang kuperbuat dengan sungguh-sungguh, yang kulakukan dengan main-main, yang terjadi tanpa kusengaja, dan juga yang kusengaja, semua itu dariku.
Ya Allah, ampunilah apa yang telah kuperbuat maupun yang belum, apa yang kurahasiakan maupun terang-terangan, dan juga segala perkara yang Engkau sendiri lebih mengetahuinya dibanding diriku. Engkaulah yang menyegerakan maupun menunda (siapa saja dari rahmat maupun hukuman-Mu), dan Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”