Beranda blog Halaman 388

Kabid Papkis Hadiri Rakerwil Hidayatullah Gorontalo

0

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam (Kabid Papkis) Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Gorontalo, Fitriyani Humokor, mengapresiasi Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Gorontalo dalam membangun masyarakat lebih baik, berkualitas, serta meningkatkan eksistensi Hidyatullah itu sendiri.

Hal tersebut diungkapkan pada Rakerwil yang dilaksanakan di Asrama Haji Antara Provinsi Gorontalo, Jum’at, 12 Jumadil Akhir 1443 (14/01/2021).

Dalam sambutannya, Fitri mengatakan Kemenag selalu menyampaikan bahwa Indonesia ada sebuah bangsa yang besar dan mempunyai populasi muslim terbesar di dunia yang tentunya mempunyai kewajiban dan tantangan bagaimana umat islam itu menjadi muslim yang bermartabat dan berkualitas.

“Kemenag selaku instansi yang diberi tugas oleh pemerintah dalam menghandle keagamaan diharapkan Aparatur Sipil Negara (ASN) mampu menjangkau umat hingga ke pelosok. Berangkat dari itulah Kemenag membutuhkan organisasi-organisasi dan lembaga keagamaan dalam mendukungnya salah satunya Hidayatullah,” ungkap Fitri.

Lebih lanjut, Fitri mengungkapkan misi Hidayatullah sudah sejalan dengan program yang dicanangkan oleh Kemenag diantaranya meningkatkan pemerataan layanan pendidikan yang berkualitas dan peningkatan produktivitas serta daya saing yang dimana Hidayatullah sudah menempatkan ini menjadi program kerjanya.

“Kemenag sudah mencanangkan program dalam menjangkau umat yang dimana program itu sudah tercover dalam program kerja Hidayatulah. Program yang salah satunya juga yakni revolusi mental dan ideologi pancasila yang sudah tersirat melalui himne yang dibawakan tadi,” ujarnya.

“Penguatan moderasi beragama yang sudah menjadi tugas Kemenag selama ini dan kehadiran Hidayatullah ditengah-tengah masyarakat menjadi oase bagi kami untuk menjadi mitra bagaimana menciptakan peradaban muslim di Indonesia,” tambahnya.

Menutup penyampaiannya, Fitri menuturkan satu hal yang pasti kehadiran Hidayatullah membantu kami yang diberikan tugas untuk melayani peningkatan kehidupan beragama di Indonesia.

Sumber: Kemenag Gorontalo

Ulama Harus Ikut Tentukan Arah Perjalanan Bangsa

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua DPD RI, Ahmad Abdullah (AA) LaNyalla Mahmud Mattalitti, menegaskan ulama harus ikut menentukan arah perjalanan bangsa.

“Para ulama dan tokoh agama adalah representasi dari negarawan dan seorang negarawan tidak berpikir next election, tetapi berpikir next generation,” kata LaNyalla dalam Kuliah Umum di Pondok Pesantren Hidayatullah Ummulqura, Gunung Tembak, Balikpapan, Sabtu (15/01/2022).

Pentingnya ulama dan tokoh agama berperan karena LaNyalla mengaku prihatin melihat perjalanan sistem tata negara bangsa setelah dilakukan amandemen Konstitusi pada tahun 1999 hingga 2002 silam. Sejak saat itu, kedaulatan rakyat sudah tidak memiliki wadah yang utuh.

Pada acara bertema “Sumbangsih Pondok Pesantren Dalam Lahirnya NKRI” itu, LaNyalla juga menjelaskan sebelum kemerdekaan, pondok pesantren adalah prototype dari masyarakat madani atau komunitas civil society.

Pada era itu, pondok pesantren tidak hidup dari dana atau santunan yang diberikan penjajah. Tetapi hidup mandiri dari cocok tanam dengan semangat gotong royong santri dan masyarakat sekitar.

“Pondok pesantren juga sekaligus menjadi solusi bagi masyarakat sekitar. Ada yang sakit, minta doa ke kiai. Ada yang tidak punya beras, datang ke pondok pesantren. Ada yang punya masalah, minta nasehat kiai dan seterusnya,” ujarnya.

Peran para ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren saat itu juga tidak bisa dihapus dari sejarah kemerdekaan Indonesia.

“Termasuk peran para ulama dan kiai se-Nusantara dalam memberikan pendapat dan masukan kepada Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yang kemudian menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia,” paparnya.

Sejarah juga mencatat lahirnya Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari di Surabaya.

Dengan demikian, hal itu berarti peran dan kontribusi para ulama dan kiai dalam wajah sejarah lahirnya Indonesia bukanlah kecil. “Bahkan sudah selayaknya disebut sebagai salah satu pemegang saham bangsa ini,” ujarnya menegaskan.

LaNyalla menilai peran pondok pesantren saat ini tidak kalah besar. Karena, pondok pesantren tetap menjadi prototype institusi masyarakat madani.*

Sumber: ummulqurahidayatullah.id

Makna Ikhtiar dan Tuntunan Berusaha Sesuai Ajaran Islam

0

BILA berhadapan dengan orang yang hidup berkekurangan, diantara saran yang sering kita berikan adalah agar ia tidak berhenti berikhtiar memenuhi kebutuhannya.

Bila ada orang yang melamar pekerjaan namun tidak kunjung lolos seleksi, kita juga mengatakan kepadanya agar tidak putus asa dalam berikhitiar.

Bila ada lajang cukup umur yang belum juga menemukan pasangan hidupnya, lagi-lagi kita menyarankannya untuk terus berikhtiar.

Sungguh, betapa banyak hal yang bisa dilabuhkan kepada saran ini: mulai dari sakit ringan sampai yang mengancam jiwa, sulit mendapat sesuap nasi sampai sulit mendapat keturunan, dimusuhi teman sekantor sampai saudara kandung, dan seterusnya.

Tetapi, apakah ikhtiar itu?

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefiniskan “ikhtiar” sebagai alat, syarat untuk mencapai maksud; daya upaya; mencari daya upaya; pilihan (pertimbangan, kehendak, pendapat, dsb). Dalam penggunaan umum, ikhtiar adalah usaha, atau sebentuk aktifitas yang diharapkan menjadi solusi atas persoalan yang tengah membelit.

Pengertian ini tidak sepenuhnya keliru, namun mengandung masalah serius. Sebab, pada dasarnya ikhtiar adalah istilah keagamaan yang baku. Ia memiliki pengertian dan klasifikasi tersendiri atas persoalan-persoalan yang bisa dicakup di dalamnya.

Memahami ikhtiar seharusnya dikembalikan kepada makna Islaminya, sehingga segala sesuatu menjadi jelas dan memiliki nilai ibadah.

Sebagai ilustrasi, seorang wanita tuna susila di kompleks pelacuran mungkin bisa mengatakan bahwa ia menjual diri sebagai ikhtiar memenuhi kebutuhan hidup, membiayai sekolah anaknya, menyewa tempat tinggal, dan aneka alasan lain.

Pun demikian seorang pencuri bisa saja berdalih ia mengambil harta orang lain sebagai ikhtiar. Seorang lajang bisa juga menyatakan pacaran adalah ikhtiarnya untuk mencari jodoh.

Orang miskin juga beralasan bahwa membeli kupon togel sebagai ikhtiar mengatasi belitan kebutuhan, toh siapa tahu beruntung dan nomernya tembus. Bahkan, uang suap bisa dianggap sah dalam seleksi pegawai, siswa/mahasiswa baru, karena dianggap bagian dari ikhtiar.

Apakah hal-hal seperti itu dapat diterima sebagai bagian dari “ikhtiar”?

Ikhtiar – dalam bahasa Arab – berakar dari kata khair, yang artinya baik. Maka, segala sesuatu baru bisa dipandang sebagai ikhtiar yang benar jika di dalamnya mengandung unsur kebaikan. Tentu saja, yang dimaksud kebaikan adalah menurut syari’at Islam, bukan semata akal, adat, atau pendapat umum.

Dengan sendirinya, ikhtiar lebih tepat diartikan sebagai “memilih yang baik-baik”, yakni segala sesuatu yang selaras tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Ikhtiar bukan sekadar usaha yang bebas dipilih dan ditentukan sendiri, namun ia adalah bagian dari upaya sangat serius untuk memperoleh kepastian spiritual dalam segala pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seseorang itu mencuri, pada saat mencuri itu ia dapat disebut mukmin. Tidaklah seseorang itu berzina, pada saat berzina itu ia dapat disebut mukmin. Tidaklah seseorang itu minum khamr, pada saat minum khamr itu ia dapat disebut mukmin. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari kalian merampas sesuatu yang berharga dimana mata kaum muslimin berselera kepadanya, pada saat merampas itu ia dapat disebut mukmin. Dan, tidaklah salah seorang dari kalian mengambil harta ghanimah sebelum resmi dibagikan, pada saat mengambilnya itu ia dapat disebut mukmin.” (Hadits riwayat Ahmad. Sanadnya shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim).

Pada saat seseorang berzina, mencuri, berjudi, mabuk, menyuap, dan sederetan maksiat yang lain, walaupun alasan-alasannya sekilas dapat dibenarkan dan seringkali mengundang simpati, pada kenyataannya ia bukan bagian dari ikhtiar. Sebab, ikhtiar adalah ibadah, dan pelakunya mendapatkan pahala dari Allah.

Sementara berzina, mencuri, mengonsumsi miras, berjudi, menyuap dan lain-lain adalah kemaksiatan. Adakah kemaksiatan yang diizinkan oleh Allah dan bahkan diberi-Nya pahala?

Maka, sesungguhnya ikhtiar bukan hanya usaha, atau semata-mata upaya untuk menyelesaikan persoalan yang tengah membelit. Ikhtiar adalah konsep Islam dalam cara berpikir dan mengatasi permasalahan.

Dalam ikhtiar terkandung pesan takwa, yakni bagaimana kita menuntaskan masalah dengan mempertimbangkan – pertama-tama – apa yang baik menurut Islam, dan kemudian menjadikannya sebagai pilihan, apapun konsekuensinya dan meskipun tidak populer atau terasa berat.

Mencari pekerjaan memang sulit, tetapi menyuap untuk melicinkan jatah kursi bukan pilihan yang baik. Meredakan ketegangan akibat stres adalah alami dan wajar, namun melakukannya dengan menenggak miras atau narkoba bukan pilihan yang baik.

Bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup adalah kelaziman, namun menjual diri dan mencuri bukan pilihan yang baik. Jodoh pun tidak bisa datang dengan sendirinya, namun mencarinya dengan berasyik-masyuk dalam pacaran adalah kemaksiatan yang dibenci Allah.

Uang juga tidak turun dari langit, akan tetapi berjudi dengan cara apapun sama saja haramnya. Terjerat kemiskinan atau mengidap penyakit tidak pernah menjadi sesuatu yang nyaman dan indah, namun mendatangi dukun dan meminta jampi-jampi adalah jalan syetan.

Maka, berikhtiarlah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita, yakni: dengan memilih jalan-jalan keluar yang baik-baik.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Bangun Sumur Bor Pertama di Berastagi Tahun 2022

KARO (Hidayatullah.or.id) — Sejak awal pekan ini para donatur bersama BMH memulai kembali pengeboran sumur di Lingkungan 1 Desa Gundaling Kecamatan Berastagi Kabupaten Tanah Karo. Tepatnya, di lokasi tanah wakaf Pesantren Tahfidz Alpurbanta Hidayatullah Karo.

Pengeboran sumur ini dilakukan lantaran santri dan warga kerap mengeluh minimnya air yang dapat di gunakan untuk bersuci, mandi dan konsumsi, karena hanya mengandalkan air hujan.

Ponpes Alpurbanta Hidayatullah merupakan pesantren penghafal Al-Qur’an yang khusus membina santri putri, meski ditengah kondisi yang belum menentu akibat varian covid-19, pengurus dan pengasuh terus berjuang melengkapi berbagai sarana dan fasilitas untuk kebutuhan santrinya.

“Selama ini hanya mengandalkan air hujan dan bila habis kami harus membeli air. Perhari dibutuhkan air sekitar 1 ton air untuk 27 santri,” cerita Ust Habibullah Lubis, dai yang bertugas di sana.

Desa Gundaling yang berada 1.400 meter di atas permukaan laut tentu sangat kesulitan air, terutama saat kemarau.

“Sehingga, satu-satunya yang bisa dilakukan untuk mendapatkan air bersih adalah dengan membangun sumur bor dengan kedalaman yang cukup,” terang Lukman dari Tim BMH Sumut, Selasa (11/1/2021)

Sumur yang membutuhkan biaya sekitar 60 jutaan ini ditarget bisa mencapai kedalaman 150 meter. Insya Allah tidak hanya digunakan untuk keperluan santri di pondok, tapi juga kebutuhan warga sekitar.

“Melalui sumur ini, semoga Allah Subhana wata’ala membalas donatur dan semua pihak yang terlibat dengan pahala jariyah, mengalirkan berkah sebagaimana mengalirnya air tersebut,” ujar Lukman.

Lukman mengatakan, pembangunan sumur bor ini menjadi ikhtiar utama dalam menyediakan air bersih untuk santri, pengasuh, pengurus pesantren dan masyarakat sekitar.

Dia menambahkan, masih ada kesempatan bagi masyarakat yang ingin titip donasi untuk pembangunan Sumur ini. Ini menjadi Sumur bor perdana di tahun 2022 yang dibangun BMH Sumut.*/Herim

BMH Salurkan Qur’an ke Santri di Desa Sempajaya Karo

0

KARO (Hidayatullah.or.id) — Dari beberapa program tahun lalu yang masih dijalankan tahun ini, diantaranya adalah Sedekah Mushaf Qur’an. Dijalankan tidak hanya dalam hal penghimpunannya, namun juga dalam hal penyaluran kepada masyarakat.

Terbaru, beberapa waktu lalu, Tim BMH Sumut salurkan Mushaf Qur’an kepada santri Qur’an di Karo. Lokasi penyaluran tepatnya di Dusun V Teknol Desa Sempajaya, Kecamatan Berastagi Karo (11/1/2022).

Puluhan Qur’an yang disalurkan tersebut di antar langsung oleh tim BMH setelah melakukan perjalanan sekitar 3 jam dari Kantor BMH di Medan ke rumah ibu Nilawati.

“Bantuan ini sangat membantu kami untuk memutus rantai buta aksara Qur’an untuk anak-anak di kampung ini,” ujar Nilawati (47) yang mulai mengajar sejak 24 tahun lalu.

“Saya berharap mereka tidak hanya pandai baca Qur’an tapi juga kelak menjadi Guru Qur’an. Maklum ya, di Karo ini sangat langka yang mau mengajar Qur’an,” tambah ibu yang bersuamikan muallaf yang menjadikan rumahnya tempat mengaji anak-anak prasejahtera di lingkungannya.

Dikatakan oleh Lukman selaku Kadiv Program BMH Sumut. “Di rumah ini, ada 36 anak-anak yang belajar Qur’an setiap hari dari sore hingga malam. Ini penyaluran perdana di tahun 2022 ini.

Masih kata Lukman, Penyaluran Qur’an kedepan akan di prioritaskan penyalurannya ke wilayah yang sangat membutuhkan. “Terimakasih kepada donatur, semoga menjadi amal jariah bagi donatur beserta keluarga”. Pungkas Lukman.

Melalui program Sedekah Qur’an yang hingga saat ini terus di jalankan adalah upaya mendorong pemenuhan kebutuhan terhadap mushaf Al-Quran di daerah minoritas.*/BMH Sumut

Hidayatullah Jakarta Terima Amanah Lahan untuk LKSA dan Pondok Tahfidz Qur’an

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta mendapatkan kepercayaan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupa amanah untuk mengelola lahan milik Pemprov sebagai Ponpes Tahfidz Al Quran, Pusat Pendidikan Anak Shaleh (PPAS) atau Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).

Penyerahan amanah tersebut dilakukan dalam acara seremoni sekaligus penandatanganan perjanjian kerjasama antar Dinas Sosial DKI Jakarta dengan DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Kamis, 11 Jumadil Akhir 1443 (13/1/2022).

Hadir dalam penandatangan MOU tersebut Kepala Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, Premi Lasari, Plt Kepala Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta, Reza Phahlevi, turut sejumlah jajaran yang mendapinginya serta hadir pula Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Ust Muhammad Isnaini, didampingi Suhardi Sukiman selaku sekretaris DPW Hidayatullah DKI Jakarta.

Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Ust Muhammad Isnaini, dalam keterangannya, menyambut sangat baik kepercayaan yang diberikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut.

“Bagi Hidayatullah yang kegiatannya memang berfokus kepada pendidikan, dakwah, dan soaial tentu amanah Pemprov ini adalah sesuatu yang memang sejalan dengan program keummatan kita,” kata Isnaini.

Kata Isnaini, Hidayatullan telah gulirkan sejumlah program yang telah berjalan beberapa tahun terakhir ini dengan pelibatan berbagai elemen umat seperti penyelenggaraan Rumah Qur’an di 145 titik di Jakarta.

“Sinergi dan kemitraan dengan pemerintah ini diharapkan terus menguatkan pembinaan umat melalui pendidikan dan pengajaran Al Qur’an dan santri yang nantinya akan menempati Ponpes tahfidz Al Quran diprioritaskan kepada mereka yang saat ini menjadi santri di Rumah Rumah Qur’an,” kata Isnaini.

Apa yang menjadi concern pihaknya ini, jelas Isnaini, merupakan bagian dari upaya keterlibatan aktif Hidayatullah dalam rangka membangun DKI Jakarta yang memiliki motto “Maju Kotanya Bahagia Warganya”.

“Penandatangan perjanjian ini adalah dalam rangka mewujudkan kerja kerja terbaik bagi Pemprov DKI jakarta Jakarta sebagai tugas dan tanggung jawab kepemimpinan, yang tentu, ini menjadi kebaikan dan pahala yang terus akan mengalir bagi mereka yang berhubungan langsung dengan kegiatan tersebut,” imbuhnya.

Dalam Memorandum Of Understanding (MOU) ini memuat kesepakatan menggunakan tanah milik Pemprov DKI Jakarta untuk dipergunakan oleh DPW Hidayatullah DKI Jakarta sebagai Ponpes Tahfidz Al Quran dan Pusat Pendidikan Anak Shaleh( PPAS) atau Lembaga Kesejahteraan Soaial Anak (LKSA).

Sebidang tanah yang luasnya kurang lebih 2087 meter persegi yang diamanatkan oleh Pemprov DKI Jakarta melalui dua institusi yakni Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta dan Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta ini terletak di Cipayung, Cilangkap, Jakarta Timur.

“Ini menjadi peluang bagi kita dan terutama bagi Hidayatullah DKI Jakarta untuk memaksimalkan pengabdiannya kepada umat, agama, bangsa, dan negara. Dukungan semua pihak tentu menjadi kekuatan untuk kita mempersembahkan kontribusi terbaik kita secara khusus kepada warga DKI Jakarta,” pungkas Isnaini.*/Ain

Buka Rakerwil, Supriadi Harap Hidayatullah Dukung Jabar Juara Lahir Batin

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Hidayatullah (DPW) Jawa Barat menggelar acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) bertema Konsolidasi Manhaj, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standarisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik.

Acara ini dibuka oleh Kabag Kesra Prov Jabar Dr. Supriadi yang mewakili Wakil Gubernur Jawa Barat H. Uu Ruzhanul Ulum, S.E di Wisma Wanita, Jl. RE. Martadinata, Bandung, Jawa Barat, Kamis, 11 Jumadil Akhir 1443 (13/1/2022).

Dalam sambutannya, Supriadi berharap Hidayatullah Jawa Barat bisa bersinergi dengan pemerintah provinsi Jawa Barat.

“Saya mewakili Pak Wagub yang tidak bisa hadir. Harapan Pak Wagub terharap kegiatan ini bisa mendukung program Jabar Juara Lahir dan Batin. Karena itu, Hidayatullah Jawa Barat harus berkolaborasi dengan komponen yang ada di Jabar,” ujarnya.

Menurutnya, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (RK) mempunyai beberapa program, seperti program satu desa memiliki satu hafidz Qur’an.

“Nantinya di setiap desa ada penghafal al-Quran, yang menjadi imam masjid dan mengajarkan kepada yang lainnya,” katanya.

“Dan pada tahun 2020 sebanyak 4500 hafidz sudah di launching, dan sudah ditempatkan di desa-desa,” imbuhnya.

Kata Supriadi, program Jabar Juara Lahir Batin juga menyasar ke pesantren. “Program ini diberinama Trenmart One Pesantren One Product. “Pesantren dapat memproduksi suatu produk yang dapat dijual ke masyarakat,” katanya.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jabar, Ustadz Taufik Wahyudiono, S.Pd dalam sambutannya menyampaikan bahwa Rakerwil ini merupakan agenda rutin tahunan.

Tujuannya, lanjut Taufik, menyampaikan laporan tahunan DPW, menetapkan dan mengevaluasi program kerja tahun sebelumnya, menetapkan program dakwah yang rahmatan lilaalamiin dan juga penguatan dan pengembangan program ekonomi, pendidikan dan sosial.

“Selain itu, melakukan sinergi dan kerjasama baik dengan ormas Islam maupun pemerintah dalam mendukung pembangunan dan kebangkitan ekonomi,” ujarnya.

“Hadirnya Pak Kabag Kesra ini menjadi tanda bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan dukungan terhadap program yang dilakukan oleh Hidayatullah se-Jawa Barat. Ini karena program-program Hidayatullah se-Jawa Barat selaras dengan program penerintah,” ujar Taufik.

Sementara itu, Ustadz Drs. Wahyu Rahman, Kabid Perekonomian DPP Hidayatullah menyampaikan bahwa kehadiran Hidayatullah patut disyukuri. “Di usianya 52 tahun Hidayatullah dengan berbagai program bisa bersinergi dengan pemerintah mulai tingkat RT sampai Nasional,” ungkapnya.

“Karena itu, kehadiran Hidayatullah hendaknya menjadi perekat umat di mana saja,” ucapnya.

Anggota DPRRI dari Komisi XI, Ahmad Najib Qadratullah, S.E, berharap Hidayatullah turut dalam membangkitkan ekonomi syariah.

“Alhamdulillah, Indonesia kini semakin maju di bidang ekonomi syariah. Bahkan, ekonomi syariah kita pernah menjadi peringkat ke 4 dunia,” ujarnya.

“Pemerintah menyadari betul fungsi pesantren bahwa pesantren sebagai agen ekonomi. Sehingga Hidayatullah pun turut dalam membangkitkan ekonomi syariah.”

“Jadi perlu kolaborasi dengan elemen yang ada antara pemerintah, masyarakat, pesantren, ormas Islam. Dengan sinergitas maka umat Islam yang dulu menguasai ekonomi bisa diraih kembali,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu pula dilakukan MoU antara Baznas dengan BMH dalam mengoptimalkan organisasi pengelolaan zakat (OPZ) dan sinergi program pemberdayaan masyarakat berbasis masjid. Hadir dari Baznas Triyanto, SE, Kepala Divisi Penghimpunan dan Mahfud Al Afghani, Kepala BMH Jawa Barat.

Selain itu, diadakan pula Seminar Ekonomi Berbasis Pesantren. Seminar menghadirkan Dr. Asep Effendy, S.E, M.Si, Rektor Universitas Sangga Buana, Dr. Amir Machmud, S.E, MSi, Direktorat Inovasi dan Pusat Unggulan Universitas Pendidikan Indonesia dan Arief, pengusaha properti syariah. Acara ini dipandu oleh Uzroni Al Fatih, Owner el-Eyifa.

Acara ini dihadiri oleh Wakil Ketua MUI Jabar Prof. Dr. Badruzzaman M Yunus, Lc, MA, perwakilan ormas Islam, pengurus pusat, pengurus wilayah, pengurus daerah, murabbi wilayah, organisasi pendukung, dan amal usaha Hidayatullah se-Jawa Barat.*/Dadang Kusmayadi

Mengharap Kebaikan Bagi Orang Lain

SETIAP kita sangat menginginkan agar mendapati kebaikan, keberuntungan, nasib baik, untuk diri kita sendiri. Sebaliknya, kita pun banyak memohon agar terhindar dari keburukan, kemalangan, dan nasib sial.

Lalu, pernahkah kita mengharap agar orang lain juga mendapatkan kebaikan, keberuntungan dan nasib baik, sama seperti yang kita angan-angankan untuk diri kita sendiri?

Pencapaian iman tertinggi bagi seorang muslim adalah saat ia mampu mengangankan kebajikan tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga untuk orang-orang lain. Secara umum, sikap ini tertuju kepada sesama manusia, termasuk orang-orang kafir.

Kita seharusnya berharap agar mereka mendapatkan kebaikan iman dan hidayah, sehingga bisa merasakan apa yang kita nikmati saat ini. Lalu, secara khusus, harapan itu tertuju kepada sesama muslim, agar mereka mendapati juga segala kebaikan yang kita angankan dan kejar untuk diri kita sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sebelum ia merasa senang jika saudaranya mendapatkan seperti apa yang ia inginkan untuk dirinya sendiri.” [Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim]

Seringkali hadits ini diterjemahkan secara tidak tepat, menjadi “tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” Ini adalah harapan yang tidak realistis, dan secara bahasa tidak selaras dengan maksud teks aslinya dalam bahasa Arab. Sebab, adakah kita sanggup mencintai orang lain sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri?

Tuntutan seberat ini hanya layak disejajarkan dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya, bukan mencintai manusia lain yang sepadan dengan diri kita sendiri. Bahkan terhadap orangtua, istri dan anak pun, dimana kecintaan kita kepada mereka biasanya lebih besar, ternyata masih sukar untuk menerapkan terjemahan yang seperti ini.

Sesungguhnya, hadits ini tidak berbicara tentang sesuatu yang mustahil. Allah pun tidak meminta kita mencintai sesama muslim dengan cara seperti itu. Namun, yang tepat adalah, Allah meminta kita untuk tidak egois dan bersedia berbagi.

Allah meminta kita melawan kecenderungan jiwa kita untuk membenci jatuhnya kebaikan kepada orang lain dan berbedanya mereka dengan kita. Bukankah kita lebih sering berharap orang lain sama dengan kita, atau bahkan lebih rendah saja?

Jika kita – sebagai misal – menyukai dan mengharapkan kesejahteraan material untuk diri sendiri, maka Allah meminta kita untuk juga merasa suka dan berharap bila orang lain meraihnya. Ketika kita merasa nikmat dengan sandang, pangan, dan papan yang mencukupi, maka Allah menyuruh kita untuk menyempurnakan iman melalui pengharapan yang sama bagi saudara-saudara kita.

Lebih tinggi dari itu adalah, bila kita tidak merasa keberatan dan tersaingi ketika saudara-saudara kita mencapai prestasi dan kebajikan yang juga kita capai. Kita juga tidak sakit hati bila ada orang yang menjadi lebih shalih, lebih pintar, lebih kaya, lebih dermawan, lebih ini, lebih itu, dan seterusnya.

Dengan kata lain, hadits ini menegaskan larangan sikap hasud (iri-dengki), menganjurkan sikap itsar (mengutamakan orang lain), dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebab, ketika seseorang tidak sanggup merasa senang jika orang lain memperoleh apa yang juga sangat ia harapkan untuk dirinya sendiri, maka ia telah terjangkiti penyakit hasud.

Ketika menjelaskan hadits ini, Imam Nawawi mengutip pernyatan Imam Ghazali tentang 3 (tiga) tingkatan hasud. Pertama, berharap lenyapnya kenikmatan dari orang lain dan berpindah kepada dirinya sendiri.

Kedua, berkeinginan agar kenikmatan yang ada pada orang lain itu lenyap meski pun tidak berpindah kepada dirinya sendiri, misalnya karena ia juga memiliki hal yang sama dan merasa enggan disaingi. Ini lebih buruk dari jenis yang pertama.

Ketiga, tidak ada keinginan lenyapnya kenikmatan dari orang lain, namun ia merasa sesak jika orang lain itu menjadi lebih tinggi dan lebih baik, dan hanya rela jika sama-sama tanpa ada kelebihan. Jenis ini pun sama haramnya.

Demikianlah. Islam memerintahkan kita untuk bekerja sebaik-baiknya meraih segala kebaikan yang kita harapkan, namun pada saat bersamaan melarang kita merasa berat hati jika ada orang lain yang juga menginginkannya.

Bukankah dunia modern sedang dilanda oleh penyakit-penyakit ini? Nafsu monopoli, persaingan usaha yang tidak sehat, jegal-menjegal promosi jabatan rekan sekantor, praktik suap-menyuap dalam penentuan jatah kursi PNS atau siswa baru, bukankah semua itu anak kandung dari sikap hasud?

Apa lagi nama dari tindakan-tindakan tidak rela bila ada pelaku usaha lain yang lebih maju, rekan sekantor yang naik jabatan, teman yang diterima sebagai PNS, anak orang lain yang sukses masuk sekolah favorit, selain sikap iri, dengki, alias hasud?

Inilah salah satu penyakit paling berbahaya yang sering diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya, hadits di atas adalah bentuk implisit dan tidak langsung dari larangan yang beliau sampaikan dalam redaksi lain, “Jauhilah hasud (iri-dengki). Sebab hasud akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar – atau, menurut riwayat lain – rumput.” [Hadits riwayat Abu Dawud].

Karena iri-dengki pulalah permusuhan antar pelaku usaha terjadi, hidup bertetangga menjadi tidak harmonis, pertemanan berubah menjadi permusuhan, dan sesama saudara kandung akhirnya tidak saling menyapa. Na’udzu billah min dzalik.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Perjalanan Membina Muallaf di Lereng Gunung Sibayak

0

KARO (Hidayatullah.or.id) — Rombongan dai Sumatera Utara melakukan kegiatan safari dakwah ke daerah titik desa muallaf binaan di lereng Gunung Sibayak. Tepatnya di Desa Lau Gedang yang masih berada dibawah wilayah antara Kabupaten Karo dan Kabupaten Deli Serdang.

Perjalanan safari dakwah perdana awal tahun 2022 ini merupakan program simpul sinergi antara DPW Hidayatullah, Kampus Utama Hidayatullah Medan, dan Posdai, start dari Kampus Hidayatullah Polonia, Medan, Rabu, 10 Jumadil Akhir 1443(10/1/2021).

Perjalanan ini terbilang istimewa karena dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah yang sekaligus ketua Pembina Kampus Utama Hidayatullah Medan, Ust. H. Drs. Hamim Thohari, MA. M.Si.

“Saya termasuk dalam rombongan tersebut sebagai unsur Dewan Murobbi Hidayatullah Sumut,” kata Ust Khoirul Anam dalam reportasenya seperti disitat dari laman Kampus Hidayatullah Medan.

Dalam rombongan juga ada sekretaris DPW Hidayatullah Sumut Ust Isa Abdul Barri, Lc, ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al Quran Hidayatullah Medan Ust Drs Darmawan, MA, M.Si.

Dalam rombongan terdapat juga ketua Posdai Hidayatullah Sumut Ust Syukron Khoiri, S.Pd, ketua Kampus Utama Hidayatullah Medan Ust Ali Ibrahim Akbar, M.Pd, dai Ust Mu’tasimbillah, Ust Fahri Fathullah M.Pd,Ust Izzudin Al Hafidz Lc, dan yang spesial karena turut dibersamai Syeikh Ibrahim Ali Al Hasani MA, dai internasional dari Gaza Palestina.

Anam mengatakan, pada awalnya agenda safari dakwah ini sejatinya diagendakan dilakukan siang hari. Namun, berhubung ada kegiatan yang sudah dijadwalkan sebelumnya yaitu Daurah Qur’an di Kampus III Polonia Medan hingga penutupan, rombongan tim berangkat pukul 21.00 WIB.

Perjalanan menuju lereng Gunung Sibayak biasanya memakan waktu cukup 2,5 jam. Tetapi ternyata jalan malam ini agak padat merayap.

Sekira pukul 12.00 malam, tim baru menempuh setengah perjanan. Akhirnya diputuskan untuk singgah di tempat pemandian air panas Pariban yang berlokasi di ujung Desa Sidebuk-debuk, Kecamatan Berastagi.

Di sini rombongan menyempatkan rehat sekaligus mandi di air panas untuk menghilangkan penat, apalagi setelah 3 hari maraton Dauroh Qur’an dan Rapat Kampus Utama Hidayatullah Medan. Dengan harapan besok pagi bisa lebih fresh untuk melakukan dakwah membina muallaf.

Tidak terasa, hari sudah berganti, dini hari itu sudah sudah pukul 02.00 WIB. Tim pun bergegas menuju cottage untuk melakukan sholat tahajjud berjamaah dengan Syeikh Ibrahim Ali Al Hasani sebagai imam hingga kurang lebih pukul 03.00. Bacaan imam begitu syahdu, kian menambah dalam ibadah malam itu.

Usai tahajjud, dilanjutkan sejenak dengan kegiatan muhasabah bersama yang membuat tim berderai air mata, mengingat banyaknya bengkalai tugas dakwah yang disebabkan oleh kelalaian dan kealpaan.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.00. Rombongan pun bergegas untuk lekas berangkat mengingat jarak yang dilalui baru separuh perjalanan.

Kendaraan roda empat yang digunakan pun dipacu untuk melaju lebih kencang. Akhirnya sampailah di tempat di mana para muallaf dikumpulkan yaitu di Brastagi, tepatnya di kampus baru Pondok Pesantren Hidayatullah Tanah Karo.

Sebenarnya, titik pertemuan dengan muallaf harus masuk lagi menempuh jalan ke daerah bernama Lau Gedang yang merupakan kampung dimana mereka menetap.

Namun, jalan menuju desa Lau Gedang sedang banyak mengalami kerusakan dan longsor yang tidak mungkin dilalui oleh kendaraan roda empat. Sehingga, mereka, para muallaf ini, harus diangkut ke Brastagi.

Tak lama kemudian, adzan subuh berkumandang. Tim berangkat menuju Masjid Besar dengan berjalan kaki yang agak jauh. Sepanjang jalan anjing tidak berhenti menggonggongi tim dan terus merangsek . Membuat semua deg-degan.

Rasa penat sudahlah pasti dirasakan rombongan. Usai imam salam ke kanan dan kiri mengakhiri shalat shubuh berjamaah itu, sebagian langsung mengalami “patah leher”. Hingga tak terasa usai sudah shalat subuh itu, romongan beristirahat karena semua belum tidur sama sekali.

Sebelum matahari terlalu tinggi, rombongan sudah bersiap kembali dan sukses melicintandas sajian sarapan pagi. Selanjutnya, pada pukul 10.00 WIB, rombongan langsung menuju tempat pembinaan muallaf.

Masya Allah!

Rupanya, para muallaf sudah menunggu sejak tadi untuk mendapatkan suntikan ruhani, apalagi mereka sudah mendengar bahwa salah satu anggota tim adalah seorang syaikh dari Palestina.

Para muallaf ini dibina oleh dai muda Hidayatullah, Ust Habibullah Lubis, alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa Medan yang ditugaskan mengabdi di daerah ini.

Secara rutin juga dikirim dai yang lebih senior untuk membantu menguatkan dan meningkatkan kualitas keislaman mereka secara bergantian oleh DPW Hidayatullah Sumut, Kampus Utama Medan maupun Pos Dai Hidayatullah Sumut.

Menurut Ust Habibullah Lubis, ada 70 orang mullaaf dari kalangan ibu ibu maupun remaja putri. Dan 24 orang anak muallaf putra usia SD dan SMP yang menjadi umat binaan Hidayatullah Sumut dan Kampus Utama Medan yang tinggal di Desa Lau Gedang lereng Gunung Sibayak ini.

Jarak tempuh ke desa ini cukup menyita waktu dengan kondisi jalan yang kurang kondusif. Sudah begitu, letaknya pun sudah sangat jauh dari Kota Lubuk Pakam yang menjadi pusat kota Kabupaten Deli Serdang.

Tapi, soal jarak ini, merupakan hal yang wajar karena kabupaten ini adalah kawasan yang sangat luas di Sumut, layaknya Kutai Kartanegara kalau di Kaltim. Atau Sukabumi kalau di Jawa Barat.

Alhamdulillah, kegiatan berjalan sangat baik dan para muaallaf sangat bersemangat mengikuti pembinaan, apalagi sang Syaikh sangat humoris dalam menyampaikan ceramahnya hingga menjelang waktu dzuhur.*/ Khoirul Anam

Posdai Pusat Gelar Raker, Angkat 3 Program Utama

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) Pusat menggelar Rapat Kerja (Raker) yang digelar intensif di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta, Rabu, 10 Jumadil Akhir 1443 (13/1/2022).

Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nursyamsa Hadis, dalam sambutannya membuka acara tersebut, mengatakan Posdai harus berfokus pada gerakan membangun peradaban Islam melalui turunan program yang dicanangkannya.

“Visi Hidayatullah adalah membangun peradaban Islam dan salah satu instrumen dalam membangun peradaban Islam adalah PosDai,” katanya seperti dikutip dari laman Posdai.

Menurut Nursyamsa, diantara aspek seperti pendidikan dan sosial masuk ke dalam cakupan gerakan Posdai yang dibingkai dalam satu wadah besar program dakwah.

Berkenaan dengan pendidikan, terang dia, Posdai telah menyelenggarakan program Sekolah Dai yang telah berjalan di beberapa daerah seperti Bogor, Parepare, Palu dan lain sebagainya.

Menurutnya, tujuan pendidikan Sekolah Dai sejalan dengan amanat konstitusi sebagaimana dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 yakni dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Dengan semakin banyak lahir dai dan kemudian Posdai terus menguatkan peran mereka, maka diharapkan peradaban bangsa semakin maju dan bermartabat yang dijiwai oleh nilai nilai Islam,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga berpesan kepada pengurus Posdai Pusat agar senantiasa menjaga niat tulus kepada Allah SWT serta menyelenggarakan program yang telah ditetapkan secara profetik dan profesional.

Di satu sisi, Posdai harus terus berpacu mengembangkan sumber daya yang mumpuni, andal, kapabel, profesional, dan berintegritas. Di sisi lain, terang dia, Posdai juga menjadikan etos kerja profetik sebagai nilai utama.

“Etos kerja profetik mengambil inspirasi dari ajaran nabi Muhammad SAW yang memiliki prinsip mengutamakan integrasi atau holistik,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Posdai Pusat Ust Samani Harjo mengatakan, selain melakukan evaluasi, sosialisasi, dan egalisasi persepsi, raker ini juga menyepakati 3 Program Utama Nasional yang selanjutnya akan diderivasi ke Posdai wilayah dan daerah.

Adapun ketiga Program Utama Nasional tersebut adalah Desa Mengaji, Sekolah Dai, dan Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA). Selain itu, juga menyepakati Program Nasional lainnya yaitu Sahabat Dai, Sahabat Muallaf, Sarana Dakwah, dan Funding.

“Sebagai ikhtiar untuk memantapkan gerakan, Posdai menerapkan key performance indicator yang diharapkan dapat mengukur sejauh mana langkah dan khidmat dakwah keumatan telah dicapai,” kata Samani.

Samani berharap, Posdai dengan jaringannya yang terbesar dari Sabang sampai Merauke mampu berkontribusi lebih optimal lagi dalam memajukan dakwah untuk kebaikan umat, agama, bangsa, dan negara dalam bingkai peradaban Islam yang universal penuh keberkahan.

Dia juga berharap Posdai dapat terus memberikan kontribusi dalam memdukung berbagai kegiatan dakwah di pedalaman, terluar, terpencil, dan minoritas, serta mendukung kiprah para dai mengabdi di berbagai titik.

“Semoga Posdai terus melangkah maju dengan tagline Bersamai Dai Membangun Negeri dalam bingkai peradaban Islam yang kehadirannya untuk seluruh alam dan rahmat bagi semua. Kaffatan linnas rahmatan lil ‘aalamiin,” pungkasnya.

Raker ini dipesertai oleh seluruh pengurus Posdai Pusat. Hadir juga unsur Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ust Iwan Abdullah dan Anggota Dewan Mudzakarah Ust Akib Junaid sekaligus pengawas Posdai serta Koordinator Grand MBA Ust Muhdi Muhammad.

Pembukaan raker ini juga dihadiri oleh Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah Drs. Shohibul Anwar, M.Pd.I yang juga memberikan pengarahan selaku dewan pembina Posdai.*/Makrifatullah