Beranda blog Halaman 393

Meneladani Ibunda Aida Chered

Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq mencium tangan Ketua Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah,Ustadzah Aida Chered (kiri), Sabtu (26/12/2020) sore (Foto: Nisa/ Mushida.org)

“JIKA BUKAN pandemi, jamaah Hidayatullah akan datang berbondong – bondong takziyah wafatnya ibunda Aidah Chered di Gunung Tembak ini,” kata bapak Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad saat memberikan kalimat takziyah di pemakaman.

Subhanallah Allahu Akbar

Ini salah satu indikator dari kebaikan almarhumah. Persaksian kebaikan dari segenap kader, anggota dan jamaah Hidayatullah.

Kisah dan persaksiannya memberikan inspirasi dan motivasi bagi banyak kader, santri dan jamaah Hidayatullah.

Sebagaimana ada seorang ibu muda gelisah, setelah mendengar beberapa kalimat takziyah dari beberapa ustadz yang mempersaksikan ibunda Aida Chered.

“Bi, apa yg harus kita kerjakan di sini?”

“Memangnya umi kenapa?”

“Umi malu dengan almarhumah Ibunda Aida Chered. Tapi juga bingung, umi harus bagaimana?”

“Alhamdulillah, itu perasaan positif. Artinya umi ada keinginan untuk bisa lebih baik.
Sebab ada orang yang mendengar cerita itu biasa saja, tidak termotivasi untuk meneladani. Ada yang merasa sudah baik, bahkan ada yang lebih baik. Na ‘udzubilahi min dzalik,” jawab suaminya

” Iya, tapi umi harus bagaimana?,” tanyanya mendesak

“Tenang umi, tidak juga langsung bisa seperti almarhumah Ibunda Aida Chered. Bertahap lah dan pelan-pelan, perbaiki ibadah dulu, harus lebih aktif halaqah, semakin semangat infak, santun dan tidak mudah marah,” jawab suaminya

Satu sisi kita sedih kehilangan ibunda Aidah Chered. Kehilangan figur, teladan, mujahidah dan penasehat yang tulus ikhlas.

Satu sisi lain, ada rasa salut dan haru memiliki ibunda Hidayatullah yang luar biasa. Haru menjadi bagian dari santri atau kader Hidayatullah yang dikenal atau tidak oleh beliau.

Satu sisi lain lagi, ada pelajaran dan peringatan bagi kita.

Apakah bisa meneladani beliau dengan segala keterbatasan yang kita miliki?

Terlalu banyak jika kita urai tentang keteladanan yang beliau sampaikan dan tunjukkan selama hidup.

Apakah kita selama ini sudah memberikan perjuangan dan pengorbanan dalam Islam di Hidayatullah sebagaimana beliau?

Ini pertanyaan penting untuk evaluasi diri, sekaligus meningkatkan kualitas diri. Momentum seperti ini sangat bagus utk memompa semangat bisa lebih baik

Apakah kelak saat kita wafat juga bisa dipersaksikan oleh banyak orang?

Apa kira-kira yang dipersaksikan saudara, teman dan orang-orang terhadap kematian kita nanti?

Dua pertanyaan yang menggelitik dan auto kritik bagi diri kita sendiri. Ada rasa harap dan was-was dalam menghadapi kematian dengan segala persaksian.

Ibunda Aida Chered, wafatnya pun menjadi inspirasi bagi santri, kader dan jamaah Hidayatullah untuk termotivasi bisa berjuang dan berkorban lebih baik.

Beliau wafat dengan segala amal kebaikannya. Kita yang ditinggalkan tidak cukup hanya membanggakan beliau tapi harus meneruskan cita citanya dengan meneladani karakternya dan kerja kerasnya.

ABDUL GHOFAR HADI

STIS Hidayatullah Wisuda 187 Dai Sarjana Hukum

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) -– Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan melaksanakan prosesi Wisuda Sarjana Hukum ke-VII di Kampus Hidayatullah UmmulQura Balikpapan, Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Perhelatan tahunan yang harusnya dilaksanakan pada tahun 2020 itu tertunda karena pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia. Wisuda baru terlaksana pada Sabtu, 11 Shafar 1443H (18/09/2021).

Mengingat masih terjadi pandemi Covid-19, prosesi wisuda diikuti sebanyak 187 orang wisudawan dan wisudawati dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, sebagaimana anjuran pemerintah. Pelaksanaan wisuda pun dilakukan dengan dua cara yaitu offline dan online.

Acara wisuda ini dihadiri langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq, Wakil Gubernur Kalimantan Timur Hadi Mulyadi, dan Prof Dr Mujiburrahman (Ketua Kopertais Wilayah XI Kalimantan/Rektor UIN Antasari Banjarmasin) yang sekaligus mengisi orasi ilmiah pada Acara wisuda itu.

Pada sambutannya, Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi memberikan lima pesan kepada para wisudawan dan wisudawati mengenai hal yang harus senantiasa mereka miliki meski sudah bertatus sarjana.

“Saya akan memberikan kalian lima pesan yang harus senantiasa kalian pegang,” ujarnya.

Pertama, kerja dengan tulus dan ikhlas. Jangan bayangkan dapat membuat karya besar tanpa ada ketulusan dan keikhlasan. Siapa pun yang bekerja dengan tulus dan ikhlas akan melahirkan karya besar.

Kedua, jangan berhenti belajar, jangan pernah merasa sudah S-1 lalu tidak lagi belajar.

Ketiga, miliki cita-cita jauh ke depan, ilmu dan latar belakang menjadikan seorang memiliki cita-cita jauh ke depan.

Keempat, bekerja sama. Tidak bisa bekerja dengan sendiri, tapi kita membutuhkan orang lain. Dan ingat tidak ada orang yang sukses tanpa keterlibatan orang lain.

Pesan kelima Wagub Hadi, yaitu bekerjalah dengan cinta. Bagi alumni yang diwisuda hari itu, “Modal utama yang harus dilakukan adalah ada kecintaan terhadap dakwah, cinta terhadap pekerjaan,” ujarnya.

Sementara itu, Ahmad Taufan, salah seorang alumni STIS Hidayatullah angkatan ke-15 yang mengikuti prosesi wisuda secara offline, merasa sangat terkesan. Sebab, wisuda yang harusnya dilaksanakan pada tahun lalu itu tertunda karena adanya pandemi Covid-19.

Hingga pada tahun 2021 ini dapat terwujud dan dapat melaksanakan wisuda tiga angkatan sekaligus.

“Saya menamai Gunung Tembak itu sebagai kampung halaman ideologis hingga saya secara pribadi merasa sangat terkesan apalagi dengan diadakannya wisuda tiga angkatan, ditambah lagi kami (angkatan 15) merupakan angkatan pertama HES (Hukum Ekonomi Syari’ah),” ujar Ahmad Taufan kepada Media Center UmmulQura (MCU) pada Sabtu (18/09/2021).

“Apalagi sebagaimana kita tahu bahwa para alumni itu bertugas di berbagai cabang Hidayatullah di seluruh Indonesia, sehingga perjuangan untuk hadir dalam prosesi wisuda ini begitu sangat-sangat terasa, seperti harus vaksin, PCR. Belum lagi harus berjuang di perjalanan melewati laut yang luas. Alhasil ketika kita hadir, Alhamdulillah, itu terbayar dengan megahnya acara wisuda pada tahun ini,” tambahnya.

Setelah diwisuda, dilakukan acara simbolis penugasan kepada para dai-daiyah muda tersebut dalam mengemban amanah dakwah di berbagai derah se-Indonesia.* (Asrijal/Media Center UmmulQura/STIS)

Sekilas Dzurriyah Rasulullah (Almarhumah) Syarifah Aida “Khirid”, Istri Pendiri Hidayatullah

0
Almarhum Ustadzah Hj. Aida Chered (Foto: Abdus Syakur/ Hidayatullah.com)

Oleh Habib Abu Umar*

DI sela-sela ceramah takziyah atas wafatnya istri Pendiri Hidayatullah, Ustadzah Aida Chered, Ustadz Amin Mahmud –hafidzahullah– mengingatkan jamaah agar tidak salah baca ketika menyebut kata Chered.

“Bacanya khered, bukan cered,” tegas sang ustadz yang disampaikan bakda shubuh di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Hidayatullah UmmulQura, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu, 11 Shafar 1443 H(18/09/2021).

Agaknya beliau mengingatkan hal itu lantaran masih ada sebagian santri bahkan ustadz yang membaca “cered“, bukan “khered“.

Kesalahan baca terhadap kata “Chered“, boleh jadi karena penutur telah mendengar dari orang lain yang dianggap kredibel, atau sekadar menebak-nebak dengan mentransliterasi sendiri. Persoalan ini perlu diseriusi, karena kesalahan transliterasi ini bisa mengakibatkan perubahan arti kata, atau menghilangkan artinya. Dan ini merupakan salah satu problematika transliterasi di Indonesia.

Memang terdapat kecenderungan di sebagian masyarakat untuk mentransliterasi huruf huruf Arab semampunya saja, padahal sebenarnya pemerintah sudah menerbitkan Pedoman Transliterasi melalui Kementerian Agama tahun 1987, agar menjadi acuan dalam transliterasi huruf huruf Arab tersebut.

Pertanyaannya, jika kata “Chered” berasal dari bahasa Arab, maka bagaimana penulisan aslinya, dan apa arti “Chered” itu sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya teringat dengan sebuah buku berjudul “Al-Mu’jamul Latif”. Sebuah buku unik karangan Muhammad Asy-Syatiry, dicetak tahun 1986 di Arab Saudi. Buku itu mencatat sekitar 180 fam keluarga Arab di Hadramaut yang jalur nasabnya terhubung ke Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Salah satu dari fam keluarga itu adalah keluarga Chered atau khered (baca: Khirid). Menurut Asy-Syatiry bahwa bacaan atau penyebutan yang benar terhadap kata Khirid adalah Kharid, bukan Khirid. Hanya saja kebanyakan orang-orang di Hadramaut lebih terbiasa menyebut Khirid.

Keluarga Khirid adalah keturunan Alawi Khirid bin Muhammad Humaidan bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah Ba Alawi. Gelar Khirid (baca: Kharid) berasal dari nama sebuah gua di sebuah gunung di lembah Aqrun, Yaman Utara.

Alawi Khirid menjadikan gua itu sebagai tempat bertahannuts selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Kegiatan tahannuts itu bertujuan agar dirinya lebih konsentrasi mengerjakan dua jenis ibadah, yaitu tafakkur hati dan pikiran serta ibadah ibadah amaliyah jasmaniyyah.

Lebih jauh mengenai nasab keluarga Khirid, sesungguhnya kelanjutan nasab itu tersambung kepada Alawi Al Gayur bin Al Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali al-Uraidhy bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib; Suami Fatimah bin Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ibunda Aida Khirid sesungguhnya satu di antara anak cucu keturunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Almarhumah Aida adalah syarifah ahlul bait Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam dirinya ada unsur Khadijah, Fatimah, Ali bin Abi Talib radhiallahuanhum ajma’in, sosok-sosok sabar, zuhud, tawadhu, serta kokoh dan tegar dalam mengemban amanah perjuangan Islam.

Mencintai ahlul bait adalah bagian dari prinsip ajaran ahlus sunnah wal jama’ah. Sehingga Abu Bakr As Siddiq mengatakan:

“Demi Allah, aku lebih menyukai menyambung tali silaturahim dengan kerabat Muhammad daripada dengan keluarga sendiri”. (H.R Muslim, No 1759)

Selamat jalan Ibunda Aida menuju surga-Nya. Selamat berjumpa dengan moyangmu yang termulia, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, berjumpa dengan orang -orang shaleh yang engkau cintai di keabadian sana. Terima kasih telah menjadi teladan yang baik buat kami semua. Terima kasih!*

Penulis adalah dai di Balikpapan

Selamat Jalan Hj Aida Chered, Ibunda Para Kader Hidayatullah

Ustadzah Hj Aidah Chered dalam satu kesempatan memberikan ceramah di acara Muslimat Hidayatullah (Foto: Ainuddin Chalik/ Hidayatullah.or.id)

Hidayatullah.or.id – DI HARI kemuliaan, Jum’at, 17 September 2021 beredar berita duka, bahwa Ibunda Aida Chered telah berpulang ke rahmatullah.

Sontak segenap ruang media komunikasi online kader senyap sejenak dan kemudian berhambur kalimat istirja dan doa-doa untuk istri dari Pendiri Hidayatullah, KH. Abdullah Said.

Ibunda Aida adalah sosok teduh dan murah hati. Tahun 2007, kala saya ke Gunung Tembak untuk melakukan sesi wawancara dengan para sahabat KH. Abdullah Said dan santri senior, termasuk Ibunda Aida sendiri guna penuntasan skirpsi, saya sempat berdialog dengan beliau.

Dialog yang tidak panjang sebenarnya namun memberi kenangan tak kan pernah mungkin terlupakan.

Kala saya datang ke kediaman beliau untuk wawancara, beliau mengarahkan agar saya melakukan interview dengan Ustadzah Hani Akbar yang kini menjadi Ketua Umum Mushida. Hanya saja beliau berpesan agar kembali menemui beliau jika telah selesai.

Saya pun menjalankan arahan Ibunda Aida. Hingga tiba saya kembali untuk menghadap dan bertemu sesaat untuk dialog singkat, tiba-tiba Ibunda Aida bertanya.

“Setelah selesai wawancara mau langsung ke Surabaya?”

Saya jawab, “Tidak, insha Allah masih ingin silaturrahim sama guru saya di Pesantren Hidayatullah Tenggarong.”

Mendengar itu, beliau langsung menyambut. “Oh, kalau begitu bisa ikut mobil bareng saja, sampai di Loajanan, ya,” ungkapnya kala itu, karena beliau tujuannya ke Samarinda.

Saya pun ke Tenggarong bersama Ibunda Aida Chered. Sepanjang jalan saya bertasbih kepada Allah, karena ini pasti momen yang tidak akan terulang di masa mendatang.

Di hadapan para Ustadz dan santri di Marangan, Loa Kulu, Kutai Kartanegara saya sampaikan nikmat ini dengan penuh kesyukuran.

Ungkapan Bahagia

“Senang dan penuh haru, memandang satu demi satu wajah mujahidah-mujahidah yang nampak lelah namun tersenyum bahagia. Wajah-wajah yang telah berkerut termakan usia, namun tetap memancarkan semangat,” tutur istri dari Pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said ini kala memberi tausyiah yang disiarkan melalui zoom di arena Munas V Muslimat Hidayatullah (26/12/2020).

“Semoga semangat Munas ini, bisa menjadi bekal perjuangan mujahidah Muslimat Hidayatullah dalam perjuangan menjemput kemenangan abadi di daerah masing-masing,” imbuhnya.

Kalimat itu memberi pesan tersirat bahwa Ibunda Aida sangat mengharapkan segenap kader, khususnya Muslimat Hidayatullah terus berjuang walau sulit, terus tersenyum walau lelah, terus semangat walau termakan usia. Tak boleh ada yang membatasi, mengurani atau merduksi semangat dakwah dan tarbiyah ini.

Lebih jauh Ibunda sangat ingin usaha-usaha itu dijalani dengan konsistensi tinggi agar kemenangan bisa dijemput dengan segera, tidak lama lagi, insha Allah.

Pesan Mendasar dan Kesedihan Kader

Kepergian Ibund Aida tidak saja memberikan sejuta pelajaran, tetapi juga pesan yang tidak ringan.

Dan, satu ungkapan yang ditulis oleh Sekjen PP Mushida, Ustadzah Sarah Zakiyah dari Ibunda Aida Chered juga sangat bertenaga walau singkat.

“Sarah, jaga diri, titip generasi.”

Ustadzah Sarah pun menuliskan di akun facebook-nya, “Robbaah, pesan pendek itu menyadarkanku, bahwa bukanlah mudah menjalankan pesannya. Untuk pesan pertama pun diri terlampau berleimang dosa, apalagi pesan kedua.”

Sementara itu, Ustadzah Miftah Assa’adah juga menyampaikan rasa dukanya yang mendalam.

“Ibu Ideologis yang selalu membisikkan pesan-pesan rahasia ditelingaku setiap memeluknya.
Ibu yang selalu membisikkan kekuatan padaku.
Ibu yang selalu kurindukan sapaan lembutnya. (Kini) Tidak akan kutemui lagi dalam moment apa pun,” tulisnya di akun facebook miliknya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat, maghfirah dan kemuliaan kepada Ibunda ideologis seluruh kader Hidayatullah, Ibunda Aida Chered.

Di akhir naskah, saya merasakan dada bergetar dan tangan mulai lemas. Selamat jalan, Ibunda Aida Chered, semoga pesan-pesanmu Allah tanamkan ke dalam hati segenap kader lembaga ini.*/Imam Nawawi

Kuliah Umum Tandai Mulainya Sekolah Dai Sultan Batara ke-3

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dai Hidayatullah Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara (Sultan Batara) menandai dimulainya penyelenggaraan pendidikan untuk angkatan ke-3 dengan Kuliah Umum.

Kuliah Umum ini menandai dimulainya pendidikan pengkaderan dai di Sekolah Dai tahun 2021/2022 yang digelar pada 10-12 September bertempat di Gedung Peradaban Pusat Dakwah Hidayatullah Sulsel, Kota Parepare, dengan tema “Mencetak Kader Dai untuk Khidmat Umat dan Bangsa Bermartabat”.

“Kegiatan ini menjadi kegiatan pembuka bagi peserta angkatan ke-3 yang akan dilanjutkan dengan orientasi sebelum perkuliahan di mulai pada akhir bulan September,” kata Direktur SDH Sultanbatara Parepare Ust Habibi Nur Salam.

Habibi megatakan, untuk tahun ini SDH Sultanbatara yang berpusat Parepare menerima sebanyak 25 peserta yang sebaran utusannya dari tiga wilayah yaitu, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat.

Kuliah Umum kali ini terasa cukup spesial karena diisi langsung oleh Ketua dan Anggota Dewan Pertimbangan, Ketua Umum DPP dan Ketua Dewan Murabbi Pusat.

“Kita memanfaatkan keberadaan beliau semua di sini yang juga hadir sebagai Pemateri pada Daurah Marhalah Wustha di Pinrang, untuk memberikan suntikan semangat agar para peserta SDH semakin kuat azzamnya untuk mengikuti seluruh rancangan pembelajaran di SDH selama setahun ini,” terang Ust Reskyaman, Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel.

Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, dalam penyampaiannya mengatakan, kehadiran peserta menempuh masa pendidikan di SDH adalah sebuah karunia dari Allah SWT.

“Inilah jalan terbaik yang dipilihkan untuk kita. Setahun itu adalah waktu yang sangat singkat, namun dengan begitu kita dapat lebih fokus dan konsentrasi menerima materi pembelajaran,” katanya berpesan.

Beliau menyampaikan, sebagai calon dai, berdakwah itu tak hanya sebatas menguasai ilmu sebagai bentuk teori.

Menurutnya, menjadi seorang dai dalam mengemban misi dakwah maka ada tiga proses yang mesti dilewati. Proses pertama, jelas dia, adalah tilawah, yaitu proses pembentukan karakter dengan al-Qur’an.

“Maka tidak ada waktunya terlewatkan kecuali bersama Al-Qur’an, sehingga menjadi dai yang kuat karakternya dan tangguh jiwanya,” kata Ust Nashirul.

Proses yang kedua, adalah tazkiyah. Melalui proses ini, seorang dai harus selalu berupaya “membersihkan” diri agar disucikan perilakunya sehingga senantiasa ikhlas dan sabar dalam menjalan misi dakwah sehingg siap ditugaskan kapan saja dan dimana saja.

“Mau ke Maroko atau ke Merauke, mau ke Washington atau ke Wamena, sama saja,” imbuhnya.

Lalu, proses yang ketiga adalah taklim. Beliau menjelaskan, dengan proses ini, seorang dai menjadikan dirinya sebagai pembelajar dimana yang tak pernah lelah untuk belajar dan menjadikan kerendahhatian sebagai perangainya.*/Sumariyadi

Marhalah Wustha Sulsel Ikhtiar Kuatkan Layanan Keummatan

0

PINRANG (Hidayatullah.or.id) — Gelaran pelatihan lanjutan atau Marhalah Wustha yang digelar Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan dimaksudkan sebagai ikhtiar untuk terus menguatkan layanan keummatan khususnya di kawasan.

Demikian disampaikan Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah Muhammad Shaleh Utsman, saat membuka Daurah Marhalah Wustha Hidayatullah Sulawesi Selatan, belum lama ini.

“Sulawesi Selatan adalah diantara wilayah yang menjadi target penyuplai SDI untuk memenuhi kebutuhan layanan keumatan pada masa mendatang, karena begitulah tradisinya sejak masa allahuyarham Ustadz Abdullah Said,” kata Shaleh.

Menurut Shaleh, kader dai Sulawesi Selatan senantiasa hadir mengisi ruang itu dimana usianya juga relatif masih muda dan penuh semangat.

“Masih terasa hingga kini dimana kita masih mendapatkan mereka yang bertugas di ujung barat dan timur jauh dari kampung halaman mereka,” imbuh Shaleh dalam sambutannya.

Hal tersebut juga diaminkan oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Nasri Bohari. Namun, dia mengingatkan, bahwa tradisi itu bukan hanya untuk diceriterakan tetapi juga harus menjadi nilai gerakan yang perlu selalu dijaga.

“Tradisi tersebut hendaknya juga menjadi pemantik penyemangat kita untuk terus berikhtiar merekayasa lahirnya kader-kader pelanjut, makanya kita buatlah acara seperti ini. Sebagai sebuah proses awal yang selanjutnya akan terbina di halaqah-halaqah nantinya,” kata Nasri.

Menurut Nasri, kegiatan ini sengaja diadakan di awal periode, agar pihaknya dapat melakukan pemetaan potensi SDI sehingga dapat merasionalisasi penempatan dan penugasannya sesuai kebutuhan daerah.

Daurah Marhalah Wustha kali ini berlangsung selama 5 hari tepatnya pada 9-13 September 2021 di Taman Qur’an Pustaka Parengki, Kabu[aten Pinrang yang diikuti 40 orang peserta.

Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulsel, Nasrullah Alwi, mengatakan marhalah kali ini merupakan salah satu marhalah dengan peserta yang memenuhi keterwakilan dari seluruh daerah se-Sulawesi Selatan.

Selain itu, pihaknya mengaku bersyukur karena marhalah ini dapat dihadiri langsung oleh Dewan Pengurus Pusat ditengah kesibukan dan padatnya agenda mereka.

“Bahkan, inilah barangkali pertama kalinya training yang dihadiri langsung oleh Ketua Dewan Pertimbangan, Ketua Umum dan Ketua Dewan Murabbi Pusat secara bersamaan,” tambahnya.

Hadir sebagai Pemateri Ketua dan Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Hamim Thohari dan Ust Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq serta Ketua Dewan Murabbi Pusat Ust Tasyrif Amin.

Di saat yang sama pula di Aula Kampus Madya Parepare, PW Muslimat Hidayatullah (Mushida) Sulawesi Selatan menggelar Daurah Marhalah Wustha dan Daurah Marhalah Ula dengan menghadirkan Pemateri dari PP Mushida yaitu diantaranya Ustz Irawati Istadi, Ustz Sabriati Aziz dan Ustz Sarah Zakiyah binti Abdul Mannan Elkindy.

“Sengaja kami mengadakan training ini mengikuti waktu training yang diadakan DPW agar pelaksanaannya lebih efektif dan efisien, oleh karena juga kebutuhan kegiatannya lebih kurang sama,” terang Rahmatiah, Ketua PW Mushida Sulawesi Selatan.*/Sumariyadi

Mencari Negeri Utopia

0

Oleh Mujahid M. Salbu

UTOPIA merupakan khayalan tentang sebuah sistem sosial dengan kualitas-kualitas yang sangat didambakan ataupun nyaris sempurna. Kata ini diciptakan dari bahasa Yunani oleh filsuf Thomas More yang menjadi judul bukunya, Utopia.

Para filsuf berasumsi ada negeri yang sama dengan surga yaitu negeri Utopia yang selalu diidam-idamkan. Negeri Utopia sudah bergaung, bahkan sejak abad ketujuh sebelum Masehi bergulir.

Saat itu Hesiodos, seorang penyair Yunani yang hidup di separuh bagian dari abad kedelapan Sebelum Masehi, sangat mendambakan dirinya untuk bisa pergi ke Utopia.

Banyak yang mendambakan, atau setidaknya berandai-andai untuk bisa pergi ke sana. Mulai Hesiodos, Plato, Socrates, Aristoteles, Thomas Moore, sampai Karl Marx.

“Di Utopia tidak ada perang!” Kata Plato, “Perang muncul karena ketamakan, ketamakan muncul karena ada rasa kepemilikan, dan Utopia tidak memiliki itu!”, teriak Plato berapi-api sambil disaksikan muridnya.

Begitulah, kisah tentang negeri antah-berantah yang katanya digdaya, Utopia dielu-elukan tetapi mulai sirna seiring berkembangnya zaman. Ada yang mengklaim Amerika Serikat sebagai negeri Utopia yang ternyata penuh masalah dan sangat rapuh.

Kapitalisme dan materialisme di Amerika justru melahirkan sosok seperti Al Capone yang dermawan dan kerap membantu rakyat yang tidak mampu tetapi dari harta yang bersumber dari kejahatan.

Sementara konsep Islam melahirkan sosok seperti sahabat Usman bin Affan yang sangat dermawan tetapi hartanya didapatkan dari aktivitas bisnis yang legal, dalam Islam, materi bukan orientasi utama, sehingga tidak segan dikeluarkan untuk perjuangan dan jalan kebaikan lain, misalnya saat perang Tabuk.

Dalam perang tersebut, para sahabat berlomba menyumbangkan hartanya untuk keperluan perang. Utsman bin Affan saat itu menyumbangkan 950 ekor unta dan 50 ekor kuda serta uang tunai sebesar 1.000 dinar.

Jika disesuaikan dengan harga zaman sekarang di mana harga unta adalah sebesar Rp 12-32 juta per ekor, harga kuda perang Arab sebesar Rp1,2 miliar, dan nilai dinar (emas 4,25 gram) adalah Rp 4 juta, itu artinya, dalam perang Tabuk, Utsman menyumbang tak kurang dari Rp 80 miliar.

Di akhir-akhir hidupnya, Al Capone menderita kerusakan mental dan fisik akibat neurosifilis (infeksi pada sistem saraf pusat) stadium akhir, ia meninggalkan harta berupa tumpukan emas yang misterius, sementara sahabat Usman bin Affan wafat sebagai syahid dan meninggalkan warisan harta yang hingga hari ini masih dirasakan manfaatnya oleh kaum muslimin.

Surga dan Imajinasi Para Filsuf

Utopia adalah penggabungan dunia nyata dan imajiner, ia berada dalam rentang antara dua posisi ini. Di dalam buku Utopia disebutkan masyarakat bekerja dan beraktivitas tanpa ada kejahatan, tetapi buku ini tidak dapat menawarkan cara di mana masyarakat yang ada dapat ditransformasikan menjadi model utopis.

Karl Marx mengatakan tatanan masyarakat komunis sebagai titik sempurna sejarah yang tak terhindarkan dan merupakan surga di muka bumi. Frans Magnis Suseno menulis dalam sebuah artikel, “Komunisme memang gagal. Gagal secara fenomenal. Terutama komunisme Soviet. Komunisme Soviet gagal membangun suatu sistem ekonomis yang bisa memenuhi harapan rakyatnya dan karena itu kehilangan daya tarik. Tahun 1989 secara mengejutkan kekuasaan Soviet di Eropa Timur runtuh dan dua tahun kemudian Uni Soviet sendiri runtuh.” (kompas.id, 10 Juli 2020)

Sampai wafat, Hesiodos, Plato, Socrates, Aristoteles, Thomas Moore, sampai Karl Marx tidak berhasil menemukan negeri Utopia yang didambakannya, mereka berbaris di jalan buntu tentang sebuah harapan tatanan sosial yang ideal.

Mereka menutup usia dengan warisan pemikiran tentang tatanan ideal yang menguap ke langit dan bergerak liar memasuki sisi gelap modernitas.

Surga Bukan Imajinasi

Islam tidak masuk di antara pragmatisme dunia versus idealisme filosofis yang rumit dan penuh imajinasi. Sebab, negeri Utopia yang dimaknai surga yang terletak di dunia bukanlah sesuatu yang imajiner dalam Islam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis:

‎أن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة

“Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga di akhirat”.

Allah Ta’ala juga menyebutkan dalam firman-Nya,

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).

Surga tersebut adalah manisnya iman; ketenangan hati dalam ibadah dan muamalah, beriman kepada Allah, beramal shalih dan ridha dengan takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan.

Surga atau negeri Utopia akan hadir di hati seseorang ketika dia dekat dengan Rabb-Nya dan ikhlas serta mengikuti petunjuk-Nya.

Utopia hadir di dalam gerakan-gerakan sholat wajib maupun sunnah, mewujud dalam tahajjud, bacaan al Quran, dzikir, sholawat dan munajat doa juga dalam derap langkah kebaikan lainnya sebagai hamba dan khalifah.

Di harakah Hidayatullah pintu gerbang negeri Utopia atau surga dunia terdapat pada Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) yang mencakup enam hal, yakni memakmurkan masjid dengan cara shalat fardhu berjamaah dan shalat sunnah rawatib, membaca kitab suci Alquran setiap hari minimal satu juz, rutin mendirikan shalat malam, membaca wirid pagi dan petang dan dakwah fardiyah setiap hari Sabtu atau hari lain sepekan sekali.

Memang tidak selalu bisa menghadirkan surga dalam ibadah dan muamalah, karena karakter iman yang fluktuatif, tetapi seorang muslim atau kader setidaknya sudah mengetahui pintu gerbang untuk memasuki surga dunia maupun surga akhirat.

Potensi konflik sosial bisa diredam dengan mengeliminir penyakit-penyakit hati seperti pamer (riya’), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).

Penyakit hati dapat tereliminir ketika seseorang telah berikhtiar mendekatkan diri kepada Rabb dan merasakan manisnya iman. Ketika jiwa dan hati sehat dan muthmainnah (tenang atau ikhlas) maka setiap titik dalam peta dunia, setiap tempat yang dipijak di muka bumi adalah surga.

Jika surga versi filsuf dan pengikutnya bersumber dari akal maka surga bagi orang beriman bersumber dari hati. Wallahu a’lam.

*)Mujahid M. Salbu, penulis adalah pengurus DPW Hidayatullah Kepri

Prof Arskal Salim: Sarjana Muslim Harus Jadi SDM Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Sarjana muslim harus menjadi bagian dari masyarakat SDM unggul dalam proses peningkatan kualitas manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Demikian hal itu disampaikan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi, Balitbang-Diklat, Kementerian Agama RI Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag, pada acara Stadium General, Kuliah Umum Pendidikan Tinggi Hidayatullah Batam, di Kampus 02 Putri Tanjung Uncang, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau, Selasa, 7 Shafar 1443 H (14/9/2021).

Kata Prof. Arskal, demikian ia akrab disapa, dalam menuju SDM unggul maka pilar pembangunan Indonesia 2045 adalah masyarakat yang unggul, berbudaya, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Pilar berikutnya setelah SDM Unggul, yaitu ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Pembangunan yang merata dan inklusif. Negara yang demokratis, kuat, dan bersih,” imbuh Guru Besar Shiyasah Syar’iyyah (Ilmu Politik Islam) ini.

Kegiatan yang menandai kuliah perdana tahun akademik 2021/2022 tersebut, lebih lanjut Prof Arskal memaparkan sejumlah data tentang fenomena perubahan global. Misalnya, perubahan penduduk (demographic chages).

Prof. Arskal menyebut data, bahwa penduduk dunia akan bertambah menjadi 8 milyar pada 2025 dan penduduk Afrika meningkat 100 persen pada 2050, sedangkan Eropa turun drastis.

“Fenomena lainnya juga yaitu shift economic power, peralihan kekuatan ekonomi dunia pada kelas menengah di Asia Pasifik jauh lebih besar daripada gabungan Eropa dan Amerika. Sedangkan Bangladesh, Kolombia, Maroko, Nigeria, Peru, Filipina, dan Vietnam, yang disebut dengan F7 Frontier Markets akan menjadi pasar utama,” paparnya memberi pengantar dalam tema “Tantangan dan Peluang Budaya Literasi Sarjana Muslim di Era Digital Menuju Indonesia Emas 2045.”

Belum lagi perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya alam (climate change and resource scarcity), katanya lebih lanjut, bahwa sejak revolusi industri suhu bumi terus naik dari 2,5-10 derajat hingga satu abad ke depan.

Begitu juga permintaan energi, makanan, dan air yang semakin meningkat seiring bertambahnya populasi.

“Dan perubahan paling masif adalah technology breaktrough, yaitu terobosan teknologi yang mengubah seluruh tatanan sosial dan interaksi manusia hari ini yang kita sebut dengan revolusi industri 4.0, sistem digitalisasi secara total,” jelas Guru Besar UIN Jakarta ini.

Sehingga bagi sarjana muslim, jelasnya lebih lanut, mesti ada kecakapan hidup abad 21 yaitu apa yang disebut dengan 21st Century learning to know, to do, to be, and to live together, maka mesti punya kemampuan digital literacy, yaitu keterampilan untuk mampu membaca segala hal di era digital sekarang ini.

“Inilah tantangan generasi hari ini, yaitu meningkatkan budaya literasi. Sebab hari ini, literasi dimaknai sebagai kecakapan berbahasa dan menggunakan informasi. Literasi juga sebagai proses pembelajaran yang melibatkan kegiatan membaca dan menulis sebagai media berpikir,” ungkap Alumnus Universitas Melbourne lebih lanjut.

Untuk diketahui, terang Prof Arskal, bahwa salah satu penyebab rendahnya mutu lulusan perguruan tinggi adalah rendahnya budaya literasi. Era media sosial semakin menambah faktor kemalasan mahasiswa dalam membaca dan mencari literatur akademik.

“Bangsa yang besar ditandai dengan masyarakatnya yang memiliki budaya literasi dan peradaban tinggi dan aktif memajukan masyarakat dunia,” pungkas Prof Arskal.

Acara yang diadakan di Aula Serbaguna Gedung Hidayatullah Asia Raya ini dihadiri Ketua Badan Pembina Kampus Utama Hidayatullah Batam, Ustadz Jamaluddin Nur, Ketua Yayasan Ustadz Khoirul Amri, anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ustadz Khairil Baits, Rektor Institut Agama Islam Abdullah Said, Dr (Cand.) M. Sidik, Ketua STIT Hidayatullah Batam, M. Ramli M.PdI, dewan dosen, dan 150 an peserta mahasiswa baru.*/Azhari

BMH – SAR Hidayatullah Kirim Bantuan untuk Korban Banjir Katingan Kalteng

0

KATINGAN (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH dan tim penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan SAR Hidayatullah mengirim bantuan untuk korban banjir Kabupaten Katingan.

Dengan dukungan umat, pihaknya terus bergerak menyampaikan amanah kebaikan untuk warga yang membutuhkan. Terbaru hal itu diwujudkan dalam bentuk bantuan logistik untuk masyarakat korban banjir di Desa Karuing, Kecamatan Kampang, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

“Alhamdulillah pada hari Selasa (14/9), BMH dapat hadir menembus banjir yang masih menggenang ke Desa Karuing di mana ada 173 KK terdampak banjir,” kata Kadiv Program dan Peberdayaan BMH Kalteng, Muhammad Dzunnun, dalam keterangannya kepada media ini, Selasa, 7 Shafar 1443 H (14/9/2021).

Alhamdulillah, Dzunnun menyebutkan, semua KK itu kini sedikit terhibur dengan bantuan yang BMH berikan kepada mereka.

Memasuki lokasi banjir tidaklah mudah, tim mengalami beberapa kesulitan. Aksi kerelawanan yang juga melibatkan Pemuda Hidayatullah tersebut menyasar titik yang masih minim bantuan.

“Jadi warga sangat senang karena BMH bisa menembus titik desa yang warganya memang minim sekali dapat bantuan,” imbuh Dzunnun.

Upaya sinergi kebaikan BMH – SAR Hidayatullah ini mendapat apresiasi dari Sekretaris Desa Karuing Bapak Api, demikian pula dari warga terdampak banjir.

“Semoga Allah membalas kebaikan teman-teman dan para donatur, sehingga kami bisa terbantu. Ini adalah banjir yang cukup parah dan telah berlangsung selama tujuh hari,” ungkap Cimin, salah satu warga Desa Karuing.

“Terima kasih atas upayanya yang tak mudah kirim bantuan ke desa kami. Kami kesulitan tapi Allah kirimkan juga bantuan lewat BMH,” imbuh warga lainnya, Syamsuddin.*/Herim

Kesungguhan Amal, Bukan Keanehan Amal

ADA SEBAGIAN orang yang tidak puas dengan hal-hal normal, baik dalam beragama maupun bermasyarakat. Lalu, ia melakukan sesuatu yang janggal dan tidak biasanya.

Sepertinya, mereka berprinsip bahwa perhatian Allah hanya bisa didatangkan oleh amal-amal yang aneh, tidak oleh sesuatu yang biasa-biasa saja. Ini mirip ungkapan klise: “jika ada anjing menggigit orang, itu bukan berita; tapi kalau ada orang menggigit anjing, itu baru berita.”

Maka, amalan yang dijalani pun aneh-aneh, tidak merasa cukup dengan pedoman Al-Qur’an dan Sunnah. Ada yang berlebih-lebihan (ghuluw/ifrath), tapi ada juga yang sembrono dan sangat kurang (taqshir/ tafrith). Mereka menyangka bahwa Allah akan terpesona oleh keanehan yang dipersembahkannya, padahal Dia justru murka.

Banyak motif yang melatari tindakan-tindakan janggal mereka, antara lain ingin termasyhur. Hasrat kepada popularitas memang laten dalam jiwa manusia.

Oleh karenanya, sebagian orang – dengan nada jengkel – berkata kepada orang-orang yang sangat berambisi untuk terkenal ini, “Kencingi saja sumur Zamzam, kamu pasti tersohor!” Sebab, bila hati sudah gelap, tidak penting apakah tindakannya benar atau salah, asalkan tujuan tercapai.

Dalam konteks ini, Hudzaifah bin Yaman pernah menasehati para ahli ibadah dan ulama’ di zaman Tabi’in, ketika beliau melihat kesungguhan mereka dalam beramal.

Beliau (Hudzaifah bin Yaman) berkata, “Wahai para Qurra’, istiqamahlah kalian! Sungguh, kalian telah mendahului (orang-orang yang sezaman dengan kalian) dengan sangat jauh. Namun, jika kalian melenceng ke kanan dan ke kiri, sungguh kalian telah tersesat sejauh-jauhnya.” (Riwayat Bukhari).

Artinya, jalan satu-satunya untuk meraih ridha Allah bukan dengan amalan-amalan yang aneh, tetapi dengan kesungguhan untuk menetapi jalan Al-Qur’an dan Sunnah.

Ketika menjelaskan hadits di atas, Syeikh Dr Mustafa al-Bugha berkata, “Istiqamahlah kalian, maknanya: tempuhlah jalan keistiqamahan, yakni (istilah yang digunakan) untuk menyatakan keadaan berpegang teguh kepada perintah Allah dan meneladani Sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dalam bentuk melakukan suatu amalan maupun meninggalkannya.”

Ringkasnya, bila Allah menyuruh melakukan sesuatu maka kerjakan saja seperti yang disuruhkan itu dengan serius, dan bila diminta menjauhi sesuatu maka tinggalkanlah sebagaimana adanya secara sungguh-sungguh. Inilah yang disebut dengan tepat (sadad) dan mengena (shawab) pada kebenaran (haqq).

Ini pula yang harus ada bersama dengan keikhlasan. Sebab, amal yang benar tidak diterima bila tidak ikhlas semata-mata karena Allah, akan tetapi niat yang ikhlas tidak akan bermanfaat jika amalnya salah apalagi maksiat.

Adapun mereka yang berharap mendapat simpati manusia dengan amalnya, pada dasarnya hanya mempersulit diri sendiri.

Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata:

“Keikhlasan itu bagaikan minyak wangi yang tersimpan rapat-rapat di dalam hati, yang mana aromanya mampu membangkitkan orang yang membawanya. Amal adalah bentuk yang terlihat, sedangkan keikhlasan merupakan ruhnya. Orang yang ikhlas menganggap amal ketaatannya (kepada Allah) seperti benda, karena ia menilainya sebagai sesuatu yang remeh, sementara pena-pena (catatan amal) telah mengabadikannya sebagai suatu esensi yang murni. Keikhlasan yang sedikit itu sebenarnya banyak (nilainya) …… Amal orang yang riya’ itu dengan seluruh jaringannya adalah kulit belaka. Orang yang riya’ akan memenuhi guci-guci amalnya dengan pasir yang akan memberatinya dan tidak memberinya manfaat. Aroma riya’ itu bagaikan bangkai yang dihindari oleh hati, dan orang yang riya’ itu tidak akan bisa bersembunyi dari pengamatan orang yang cerdik.” (Al-Mud-hisy, hal. 418).

Amal yang tidak benar dan tidak ikhlas juga mudah ditunggangi setan. Disisipkannya ujub, riya’, dan takabbur ke dalam hati pelakunya. Ia akan dibuat merasa hebat, kemudian meremehkan orang lain.

Jiwanya digembungkan melebihi kadar sebenarnya, sehingga lupa diri. Ia akan melihat semua orang lain salah, tetapi tidak bisa merasakan secuil pun kekurangan dirinya sendiri. Maka, tersesatlah ia dari jalan kebenaran, sejauh-jauhnya.

Kerugiannya pun sudah tampak nyata, sebab ketidaktulusan pasti berbuah penolakan baik dari Allah maupun sesama makhluk. Allah Maha Tahu rahasia jiwa manusia, sehingga kebusukan amalnya segera ditolak dari lembar-lembar catatan kebajikan.

Di saat bersamaan, jiwa manusia pada dasarnya berkomunikasi secara langsung dengan jiwa yang lain. Seringkali kita dapat merasakan ketidaktulusan dan pamrih di balik perbuatan seseorang, walau kita tidak tahu isi hatinya.

Oleh karena itu, perbaikilah niat dan motivasi di hadapan Allah, agar tidak melenceng dan sia-sia. Lalu, serahkan selebihnya kepada kebijaksanaan dan pengaturan-Nya. Dia tidak pernah lalai, dan janji-Nya selalu ditepati.

Inilah makna pernyataan Muhammad bin Wasi’ (Tabi’in, w. 123 H), “Ketika seseorang telah berfokus hanya kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan hati para hamba-Nya (yang lain) kepadanya.” (Riwayat Ibnu Abi Dunia dalam al-Ikhlash wan Niyyat no. 12).

Betapa banyak usaha dan dana yang dikerahkan sebagian kalangan untuk menarik simpati dan kekaguman pihak lain dengan tindakan yang aneh dan spektakuler, namun karena isi hatinya yang tidak tulus, semua kemudian berubah menjadi arena penelanjangan aib belaka.

Sebaliknya, ada orang-orang yang samasekali tidak tertarik untuk menyiar-nyiarkan diri, namun Allah ingin agar kebaikannya menjadi teladan di tengah-tengah hamba-Nya, sehingga amal yang sangat tersembunyi pun akhirnya tersebar juga.

Bukankah Allah sebaik-baik pengatur rencana, dan tidak ada sesuatu pun yang terhalang dari penglihatan-Nya. Wallahu a’lam.

Ustadz Alimin Mukhtar