Beranda blog Halaman 399

Pola Komunikasi Vertikal dan Horizontal KH Abdullah Said

Oleh Ust Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom*

PENDIRI Hidayatullah KH Abdullah Said adalah komunikator yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam membentuk karakter para aktivis dakwah di nusantara ini. Menurut Prof. Dr. H. Hafied Cangara, M.Sc, komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku komunikan.

Sejak masa kecilnya di Sulsel berkecimpung di pemuda Muhammadiyah, Abdullah Said sudah nampak sebagai sosok yang berbakat dan multi talenta. Beliau selain kutu buku, ahli ibadah, juga sangat kuat dalam mengelola tugas-tugas tarbiyah dan dakwah di lapangan.

Ketika usianya masih belasan tahun ia sudah aktif dalam komunikasi publik melalui khutbah Jum’at dan majelis taklim di wilayah Ujung Pandang dan sekitarnya.

Kekuatan spirit yang dimiliki lewat ibadah, wawasan luas yang didapatkan lewat kekuatan membaca literasi, secara lengkap menyatu dalam etos kerja dan semangat juang yang tinggi dalam mewujudkan cita-cita besarnya membangun peradaban Islam.

Obsesi besar KH Abdullah Said dalam mewujudkan tatanan masyarakat Islam terus menggelora. Tak kenal lelah, malam hari bangun shalat tahajjud, membangun komunikasi vertikal transendental kepada Allah SWT untuk memohon petuntuk.

Di siang hari, dioptimalkan untuk melakukan komunikasi secara horizontal mengajak manusia untuk terlibat dalam mewujudkan cita-cita besar ini.

Membangun peradaban Islam tidak semudah membalik telapak tangan. Cita-cita agung ini ternyata membutuhkan pengorbanan yang tinggi baik secara lahir maupun batin.

KH Abdullah Said terus menjajaki peluang dan memilih tempat yang strategis untuk bisa menyatukan potensi dari berbagai kalangan dalam rangka mewujudkan tatanan hidup yang bernuansa islami itu.

Beliau sangat menyadari bahwa idealisme yang dimilikinya sangat sulit untuk diwujudkan dalam realitas kehidupan tanpa melibatkan khalayak, terutama dukungan para tokoh, dan yang lebih utama lagi adalah dukungan pemerintah.

Pada akhir tahun 1969, KH Abdullah Said menetapkan pilihan untuk mewujudkan harapannya itu di Balikpapan, Kaltim. Disinilah beliau melakukan pola komunikasi yang moderat, membuka ruang koneksi yang lebih besar dengan khalayak.

Sebagai sosok komunikator yang handal, KH Abdullah Said selalu menjadikan komunikasi vertikal transendental kepada Allah SWT sebagai basis kekuatan spiritual, yang pada gilirannya menjadi washilah untuk menemukan solusi terhadap kompleksitas persoalan yang dihadapi. Hal ini diantaranya didasari oleh hadits Rasulullah SAW berkenaan dengan wasiat beliau kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Apabila engkau meminta (hajat), maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Sang komunikator benar-benar menjadikan Allah Ta’ala sebagai tempat bergantung segala urusan, tempat bersandar dalam segala situasi.

Setiap saat beliau berkomunikasi dengan Tuhannya, lewat munajat dan doa, tanpa kenal waktu. Beliau diketahui sebagai ahli tahajjud yang waktunya cukup lama, sering mulai shalat malam pada jam 00.00 sampai jam 04.00.

Struktur bangunan komunikasi vertikal transendental dalam surah al ‘Alaq, al Qalam, al Muzzammil, adalah sumber kekuatan. Selanjutnya surah al Muddatsir dan al Fatihah sebagai landasan filosofis untuk membangun koneksi dengan khalayak.

Prinsip lima surah pertama turun tersebut merupakan konsep dasar beliau yang diyakini sebagai pola nubuwah, yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai pola komunikasi profetik.

Dalam beberapa momen KH Abdullah Said sangat tegas menyatakan bahwa jangan pernah melakukan dakwah, ceramah, kalau anda tidak shalat tahajjud. Dalam perspektif komunikasi, pernyataan itu berarti bahwa jangan anda melakukan komunikasi secara horizontal dengan khalayak, sebelum anda membagun komunikasi secara vertikal transendental kepada Allah Ta’ala.

Para santri dan warga tidak hanya dididik untuk menata komunikasi kepada Allah Ta’ala melalui ibadah mahdhah. Beliau juga sangat peduli terhadap lingkungan sekitar. Setiap saat para warga dan santri Hidayatullah selalu dihimbau untuk menata halaman masjid, halaman sekolah, dan halaman rumah para warga agar selalu nampak bersih dan tertata tapi dengan hiasan taman yang indah.

Dan yang lebih spesifik instruksi KH Abdullah adalah melestarikan hutan lindung yang ada dalam lingkungan pondok pesantren. Beliau melarang seluruh warga dan santri untuk masuk di area tersebut demi menjaga kelestarian tumbuhan dan habitat binatang yang ada di lingkungan itu.

Apa yang dilakukan oleh bapak kyai tersebut adalah sesuatu yang sejalan dengan prinsip komunikasi lingkungan hidup. Pakar komunikasi menjelaskan bahwa defenisi komunikasi lingkungan hidup adalah penggunaan pendekatan, prinsip, strategi dan teknik-teknik komunikasi untuk pengelolaan dan perlindungan lingkungan (Alexander & Cangara, 2018).

Pada tahun 1984, KH Abdullah Said dipanggil ke Istana Negara untuk menerima anugerah Kalpataru yang merupakan penghargaan tertinggi dari Bapak Presiden Republik Indonesia. Pesantren Hidayatullah yang dirintis oleh beliau terpilih sebagai kelompok penyelamat lingkungan hidup.

Sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan bagi sosok KH Abdullah Said. Tidak pernah terbayang sebelumnya, bahwa suatu saat akan dipertemukan oleh orang yang paling berpengaruh di negeri ini yaitu Presiden Republik Indonesia H.M. Soeharto (almarhum), sosok yang paling lama memimpin republik ini.

Pertemuan dengan bapak presiden waktu itu menjadi angin segar bagi sang kyai yang memang lagi membutuhkan dukungan publik dalam mewujudkan harapan besarnya. Karena, beliau sadar betul, bahwa cita-cita membangun peradaban Islam tidak mungkin terwujud tanpa dukungan banyak orang terutama para tokoh.

Alhamdulillah sejak pertemuan dengan Kepala Negara yang berkuasa selama 32 tahun itu, khalayak sebagai komunikan sang komunikator KH Abdullah Said memberi respon dan apresiasi yang sangat tinggi terhadap Pondok Pesaantren Hidayatullah.

Visualisasi salaman sang kyai dengan Bapak Presiden kedua itu menjadi pintu gerbang komunikasi horizontal yang terbuka lebar. Hampir semua tokoh dari pemerintahan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat umum memberikan perhatian serius terahadap derap langkah Pesantren Hidayatullah yang dibawah pimpinan KH Abdullah Said.

Hidayatullah saat ini sudah berumur 50 tahun. Apa yang telah dicapai dari berbagai prestasi saat ini adalah hal yang tak terpisahkan dengan warisan pola komunikasi yang telah ditata oleh KH Abdullah Said semasa hidupnya.

Para kader perlu selalu diarahkan untuk cerdas dalam menata komunikasi kepada semua pihak. Baik dengan pemerintah maupun masyarakat secara umum.

Kesemuanya itu dilakukan dengan penataan komunikasi vertikal transendental melaui munajat dan doa, yang kemudian akan melahirkan kecerdasan dalam komunikasi secara horizontal kepada semua khalayak. Wallahu ta’aala a’lam.

*)Penulis adalah Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Dari Gunung Tembak Menyebar ke Nusantara

Oleh Mahladi Murni

Ada ungkapan menarik dari Ust Abdullah Said, sang pendiri Hidayatullah, yang dikutip oleh Ust Hasyim HS, juga pendiri Hidayatullah, saat memberi tausiyah subuh pada acara Sarasehan Pendiri dan Perintis Hidayatullah, 11 Juni 2015, di Batam, Kepulauan Riau.

“Kader Hidayatullah harus kerja ‘gila’!” kata Ust Hasyim.

Ungkapan seperti ini tak hanya sekali diucapkan oleh Ust Abdullah Said, namun berkali-kali dalam berbagai kesempatan. Kerja gila? Ya! “Itulah totalitas dalam berdakwah,” jelas Ust Hasyim.

Ust Abdurrahman Muhammad, sahabat dekat Ust Abdullah Said, punya cerita lain soal “kegilaan” para kader Hidayatullah. Kisah ini ia ceritakan dalam sebuah majelis yang dihadiri para tetua Hidayatullah pada Oktober 2012 di Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Suatu ketika di awal perintisan Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, cerita Ust Abdurrahman yang kini menerima amanah sebagai Pemimpin Umum Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said mengumpulkan sejumlah santri muda. Sebenarnya, mereka bukanlah santri-santri pilihan. Mereka tak memiliki banyak keahlian, juga tak terlalu menguasai ilmu-ilmu agama. Mereka hanya santri-santri biasa.

Namun, yang membuat mereka luar biasa adalah keberanian memikul amanah yang rasanya tak akan sanggup bila dipikul anak muda kebanyakan. Yakni, membuka kampus Hidayatullah di Papua, wilayah paling timur Indonesia.

Sekelompok anak muda ini berangkat dengan bekal seadaanya. Uang yang dibawa hanya cukup untuk perjalanan hingga ke atas kapal penyeberangan. Selebihnya, mereka dipersilahkan berikhtiar sendiri seraya selalu berharap pertolongan dari Allah Ta’ala.

Setibanya di Papua, cerita Ust Abdurrahman lagi, para santri tersebut harus memanggul sendiri bahan-bahan bangunan yang kelak akan dipakai untuk membangun kampus, melewati belantara berjarak puluhan kilometer.

Jika ada persoalan berat yang sulit sekali dipikul, para santri ini diminta mengadukan seluruh persoalan mereka kepada Allah Ta’ala lewat shalat malam. “Mengadulah kepada Allah lewat rukuk dan sujud yang lama,” ucap Ust Abdurrahman menirukan nasehat sahabatnya Ust Abdullah Said kepada para santri tersebut.

Bertahun-tahun kemudian sekelompok anak muda ini telah berhasil mendirikan Kampus Hidayatullah di tanah Papua. Namun, tugas belumlah selesai. Sebagian dari mereka kembali ditugaskan membuka kampus-kampus baru di daerah lain. Bukan di timur, tapi di barat, tepatnya di sebelah utara Pulau Sumatera.

“Beginilah kader-kader Ustadz Abdullah Said digembleng. Mereka bukan dai biasa. Mereka dai pejuang. Kita semua adalah kader beliau. Kita adalah buah dari kiprah beliau,” jelas Ustadz Abdurrahman di hadapan para tetua Hidayatullah.

Apa yang dikisahkan oleh Ust Abdurrahman Muhammad ini diamini oleh Ust Anshor Amiruddin, kader senior Hidayatullah dalam acara Sarasehan Pendiri dan Perintis Hidayatullah 11 Juni 2015 di Batam, Kepulauan Riau.

“Saat itu, tidak ada rasa takut pada diri kader ketika ditugaskan ke mana saja. Sebab, Allahuyarham Ust Abdullah Said selalu berkata ‘Allah yang di Gunung Tembak sama dengan Allah yang ada di tempat tugas yang baru. Jadi, mintalah pertolongan kepada Allah sebagaimana kita di Gunung Tembak juga meminta pertolongan kepada Allah’,” kata Ust Anshor yang pada Agustus 2020 lalu telah dipanggil oleh Allah Ta’ala.

Hal senada juga diutarakan oleh Ust Sarbini Nasir, di acara Sarasehan Pendiri dan Perintis Hidayatullah. “Sejak awal perintisan kita telah didik untuk berani tampil. Saya yang dulu masih bodoh tak takut berceramah meskipun penguasaan ilmu agama saya terbatas. Sampai-sampai, ketika diminta berceramah di atas kapal (penyeberangan), saya salah menyebutkan lafaz intansurullah yansurkum. Saya sebut intansurkum,” cerita Ust Sarbini seraya tertawa mengenang masa lalunya.

Lain lagi cerita Ust Yusuf Suraji, kader senior Hidayatullah, di acara yang sama. “Saya pernah dipanggil Ust Abdullah Said, disuruh menikah. Alasannya, karena saya gagah. Jadi, kata beliau, berbahaya jika tidak segera menikah. Padahal banyak ustad yang lebih gagah dari saya,” kata Ust Yusuf.

Mendapati Ust Yusuf masih terlihat ragu, Ust Abdullah Said kembali berkata, “Sudah saya buatkan SK-nya.”

Ust Yusuf yang berperawakan tinggi besar dan murah senyum itu merasa heran dan bertanya, “Apa itu SK, ustad?”

“Surat Keputusan,” kata Ust Abdullah Said singkat.

“Bayangkan, menikah saja pakai SK. Saya tentu tak bisa menolak,” cerita Ust Yusuf sambil tersenyum.

Ust Yusuf melanjutkan ceritanya ketika ia ditugaskan oleh Ust Abdullah Said untuk berdakwah dan membuka kampus Hidayatullah di Papua. “Uang dikasih hanya Rp 25 ribu. Mana cukup? Tapi saya berangkat juga,” kata Ust Yusuf.

Di Papua, Ust Yusuf sempat diminta menjadi juri Musabaqoh tilawatil Qur’an (MTQ). Padahal, ketika itu, ia belum lancar mengaji. Ia juga diminta mengisi ceramah di depan anggota Muspida (Musyawarah Pimpinan daerah). Lagi-lagi, dengan segala keterbatasannya, Ust Yusuf menerima permintaan itu. “Bilal itu kulitnya hitam. Semua hitam, kecuali giginya saja yang putih,” cerita Yusuf menirukan materi ceramahnya dulu.

Ust Yusuf lupa kalau orang-orang Papua juga berkulit hitam. Rupanya, seorang Bupati yang ikut mendengar ceramah Ust Yusuf merasa tersinggung. Untunglah Ust Yusuf menyadari kekeliruannya dan segera meminta maaf.

Kisah yang lebih menegangkan dialami oleh Ust Sabaruddin, salah seorang kader Hidayatullah yang ditugaskan membuka kampus baru di Wemena, Papua, pada tahun 2000. “Nyawa saya hampir melayang,” cerita Ust Sabar, panggilan akrabnya, saat ditemui penulis pada akhir tahun 2002 .

Ketika itu, kata Ust Sabar, ia dan beberapa keluarga Muslim dikepung di sebuah masjid. Para pengepung banyak sekali. Mereka menari-nari sambil memegang parang, tombak, dan panah. Mereka hanya berpakain koteka.

Ust Sabar hanya bisa mengintip dari balik mimbar. Mau melawan, jelas tidak mungkin. Keluarga Muslim yang berada di masjid itu kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak.

Di saat genting seperti itu, Ust Sabar berdoa sangat khusuk kepada Allah Ta’ala. Muncullah perasaan berani dan yakin akan pertolongan Allah Ta’ala. Lalu, ia kumpulkan ibu-ibu dan anak-anak yang bersembunyi di masjid tersebut, dan ia ajak berjalan pelan mengikutinya dari belakang.

Sepanjang perjalanan, Ust Sabar tak henti-hentinya membaca surat Yasin ayat 8, mengharap pertolongan Allah Ta’ala. Ajaib! Para pengepungnya sama sekali tak melihat kalau Ust Sabar dan rombongan telah berjalan melewati mereka. “Kami berjalan tenang, padahal jarak kami hanya 3 meter saja. Allah telah membutakan mata mereka,” jelas Ust Sabar.

Setelah jauh, barulah para pengepung menyadari kalau buruannya telah kabur. Mereka marah dan membakar masjid tempat Ust Sabar tadi bersembunyi. Ust Sabar baru tahu kalau masjid itu dibakar setelah beberapa hari kemudian.

Cerita-cerita seperti ini banyak sekali tersimpan dalam memori para kader Hidayatullah yang ditugaskan berdakwah di wilayah-wilayah terpencil. Mereka berani menerima tantangan dengan segala keterbatasan. Mereka amat yakin dengan pertolongan Allah Ta’ala. Mereka rela memilih jalan yang tak banyak dipilih orang.

Ketika mereka dihadapkan masalah, mereka segera menengadahkan tangan, meminta tolong kepada Allah. “Ya Allah, bantulah kami … ya Allah, bantulah kami,” suara rintihan mereka.

Rupanya, keberanian dan keyakinan seperti ini telah mengundang pertolongan Allah Ta’ala kepada mereka. Buah dari segala pengorbanan tersebut telah mereka rasakan sekarang.

Kini, mereka bisa tersenyum senang melihat Hidayatullah telah ada di lebih dari 370 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Sesuatu yang dulu tak pernah terbayangkan oleh mereka, juga oleh Ust Abdullah Said.

Ust Hasyim, salah seorang pendiri Hidayatullah, mengutip kembali perkataan Ust Abdullah Said yang selalu terngiang-ngiang di telinga para kader. “Tampilah ke gelanggang, walau seorang.” * (Bersambung)

Wisuda Sekolah Dai Sultan Batara Kirim Dai Mengabdi ke Berbagai Titik

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dai Hidayatullah Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara (Sultan Batara) melakukan wisuda Sekolah Dai Sultanbatara Angkatan II sekaligus penugasan untuk selanjutnya mengabdi sebagai di berbagai titik di kawasan tersebut.

Selain Posdai, penyelenggaraan Sekolah Dai serta acara wisuda dan penugasan berlangsung di Gedung Peradaban Kampus Hidayatullah Parepare Sulawesi Selatan yang digelar pada 28 Dzulhijjah 1442 H (78/2021) ini turut didukung oleh 3 DPW Hidayatullah yaitu Sulawesi Selatan, Barat & Tenggara, DPD Hidayatullah Parepare dan BMH.

Dalam kegiatan ini dihadiri oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel sekaligus Ketua Badan Pembina Yayasan Pendidikan dan Pelatihan Dai Sekolah Dai Sultanbatara Ustadz. Drs. Nasri Buhori, M.Pd, Kadep Dakwah DPW Sulsel Ustadz Reskyaman S.W, S.Pd, MM.

Hadir juga Ustadz Anwar Baits, S.Pd selaku Kadep Organisasi DPW Sulsel, Ustadz Nasrullah Alwi, Lc selaku Kadep Perkaderan DPW Sulsel, Ustadz Muharram, S.Pd.I sebagai Ketua DPD Hidayatullah Parepare dan Ustadz Habibi Nur Salam B, S.Pd.I selaku Mudir Sekolah Dai Sultanbatara.

Dalam sambutannya Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ust. Reskyaman S.W, S.Pd, MM, melaporkan bahwa sejatinya wisudawan berjumlah 20 orang pada angkatan ke-II mahasantri SDH tahun 2021 ini, namun dalam perjalanannya terjadi seleksi alam hingga kemudian hanya tersisa 10 Orang.

Reskyaman mengatakan, selama dalam proses pendidikannya, para peserta Sekolah Dai mendapatkan berbagai materi termasuk ditugaskan mengabdi di berbagai titik di Sulsel dan Sulbar pada Ramadhan lalu yang bekerjasama dengan Yayasan Kalla dan BMH Sulawesi Selatan.

“Pengaruh keberhasilan itu dapat diukur dengan respon dari masyrakat setempat apatahlagi jika ada masyarakat setempat yang sampai ingin masuk ke Sekolah Dai akibat dari pengaruh dakwah oleh mahasantri Sekolah Dai, sebagaimana ditunjukkan masyarakat di Gunung Latimojong, Kabupaten Luwu yang mempunyai kesan luar biasa sampai ada yang ingin mendaftar di Sekolah Dai Hidayatullah,” kata Reskyaman.

Para wisudawan juga sebelumnya bertugas ke kampung muallaf Kabupaten Pinrang yang mana di kampung tersebut sempat tidak melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah oleh karena tidak adanya imam.

“Bergeraknya salah satu mahasantri Sekolah Dai ke kampung tersebut memberikan efek, diantaranya sholat tarawih secara berjama’ah dapat terlaksana kembali sampai akhir ramadhan dan adanya tambahan muallaf 2 orang,” kata Reskyaman.

Reskyaman berharap mahasantri Sekolah Dai angkatan ke III Tahun 2021-2022 nanti bisa bertambah banyak sehingga diharapkan ada semakin banyak pula sumber daya dai yang akan menguatan dakwah islamiyah di kawasan tersebut.

Ia juga berharap terus adanya dukungan oleh DPW Sultanbatara untuk kemudian mempressur DPD-DPD agar dapat mengirimkan alumni SMA/sederajat ke Sekolah Dai Sultanbatara untuk digembleng selama 1 tahun.

Sementara itu, Ketua DPD Hidayatullah Parepare Ust. Muharram, mengatakan bahwa Parepare siap mengawal persoalan tempat untuk keberlangsungan Sekolah Dai ini, sebagai upaya mendukung perkaderan sumber daya insani yang spesifikasinya pada pembelajaran Al-Qur’an.

Adapun Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan Ust. Drs. Nasri Bukhori, M.Pd dalam sambutannya sekaligus memberikan pencerahan kepada wisudawan Mahasantri SDH angkatan ke II, mengatakan bahwa ilmu itu penting untuk kemudian diimplementasikan sehingga yang dibutuhkan adalah kepekaan dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

“Semangat keilmuan ini jangan berhenti sampai di kalian saja. Ajaklah keluarga, kawan, kenalan untuk bersama bergerak dalam menghidupkan dakwah atau masuk ke Sekolah Dai,” kata Nasri.

Nasri mengingatkan bahwa mahasantri Sekolah Dai yang diwisuda ini tidak serta merta sudah jadi. Apa yang telah mereka dapatkan selama pendidikan belumlah seberapa sehingga tak boleh berpuas diri. Mereka dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas dirinya sebagai dai.

“Mereka butuh bimbingan dan arahan agar keilmuan dan pengalamannya dapat terupgrade. Dan yang lebih terpenting adalah jangan sampai tugas yang diberikan kepada mereka tidak sesuai dengan kompetensi yang mereka pelajari selama di Sekolah Dai,” kata Nasri.

Nasir juga berharap agar semakin banyak lagi kegiatan yang dilakukan di Gedung Peradaban Hidayatullah Sulawesi Selatan bertempat di Parepare ini meningat tempat tersebut merupakan tempat bersejarah yang merupakan pertemuan dua Pemimpin Hidayatullah sebelum Hidayatullah didirikan yakni Ust. Abdullah said dan Ust. Abdurrahman Muhammad.

Acara wisuda dan penugasan ini menerapkan protokol kesehatan covid-19 ketat dengan pembatasan peserta serta direlay secara streaming yang diikuti beberapa pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Barat dan Tenggara yang tidak sempat hadir secara sekemuka di Gedung Peradaban, Hidayatullah Parepare.*/Alamsyah Jilpi

Milad Hidayatullah ke 50, Sejenak Menepi Menakar Diri

Oleh Dzulkifli M. Salbu

LIMA PULUH tahun perjalanan Hidayatullah tentu bukan waktu yang singkat. Sudah cukup jauh kita berjalan. Tak ada salahnya, sejenak kita menepi. Menghela nafas untuk mengembalikan stamina, sembari memastikan, apakah kita masih on the track.

Hal ini penting, sebab sedikit saja kita keluar jalur, maka akselerasi sekalipun yang kita lakukan justru menjadi musibah, karena akan makin menjauhkan kita dari tujuan utama. Begitu nasehat yang sering disampaikan para pembimbing.

Salah satu pertanyaan sederhana yang bisa jadi acuan adalah, benarkah saat ini kita masih berjuang? Jika iya, di mana letak perjuangan kita?

Allahuyarham Abdullah Said pernah mengatakan, jika jalan yang kita tempuh sama seperti jalan yang pernah dilalui oleh Rasulullah dan para sahabat, maka dipastikan kita pun akan menemui apa yang pernah dirasakan oleh Rasulullah dan sahabatnya.

Berjuang memang tidak identik dengan penderitaan. Akan tetapi secara objektif harus diakui bahwa pengorbanan yang kita lakukan, untuk terbangunnya peradaban Islam sebagai visi besar Hidayatullah, masih sangat minim, masih sangat berjarak dengan Rasulullah dan para sahabat.

Fakta sederhana, yang diamanahi mengabdi di amal usaha, baik di pendidikan, ekonomi, yayasan atau amal usaha lainnya, kadang terjebak dalam rutinitas tugas, tanpa pernah menyadari atau mencicipi sensasi nikmatnya berjuang.

Terkadang pertanyaan nakal menggelitik perasaan, dimana letak perjuangan kita di Hidayatullah? Jika kita seorang guru, kita digaji. Pengurus yayasan ada natura, yang mengelola usaha ada bagi hasil, menghadiri rapat atau musyawarah, biaya ditanggung lembaga, dinikahkan. Dilengkapi kendaraan dinas, rumah dinas, dan fasilitas lainnya, secara umum tak ada bedanya, bahkan tidak mustahil bisa lebih sejahtera dari ASN.

Para petinggi lembaga telah melakukan rekayasa sosial, dengan membuat regulasi secara maksimal, agar seluruh kader menjadi muslim ideal, ada; GNH, halaqah, mutasi, dan program lain yang bernuansa spiritual. Nah, jika ini juga masih ditawar, masih beranikah kita mengaku berjuang?

Tulisan ini tak bermaksud mengecilkan perjuangan para kader yang telah menjual diri di lembaga ini. Namun terselip harapan, tulisan ini menjadi bahan evaluasi, untuk mengantisipasi potensi penyimpangan, yang bisa saja terjadi setiap saat.

Sebab tak menutup kemungkinan, jabatan struktural yang sakral, bisa dimanfaatkan oleh oknum yang nakal, amanah fungsional bisa disalah gunakan oleh mereka yang bermental kriminal, katanya ingin profesional, padahal itu alasan abal-abal, orientasinya finansial yang terbungkus dengan bahasa yang sangat rasional.

Kelihatan ingin menambah amal, padahal untuk menambah modal. Kalau sudah begini, yang haram jadi halal, kawan seiring akan dijegal, demi tujuan yang bersifat material.

Terkadang lupa kalau ada ajal, yang akan datang sesuai jadwal. Dia menjadi tumbal, oleh syetan yang pembual. Pikirannya dangkal, kebijakannya janggal, keputusannya tak masuk akal, semoga aqidahnya tidak ikut terjual, yang membuat imannya jadi batal.

Terakhir, besar harapan semoga milad Hidayatullah ke 50, tidak membuat kita hanyut dalam eforia atas capaian spektakuler yang telah diraih Hidayatullah.

Wassalam
Dzulkifli M. Salbu
Banjarbaru 9 Agustus 2021

DPP Hidayatullah Lakukan Asesmen Standarisasi Yayasan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah mulai tahun 2021 ini melakukan penataan berkelanjutan berupa program kegiatan asesmen standarisasi Yayasan Pesantren Hidayatullah.

Pelaksanaan asesmen ini dilakukan berdasarkan amanat Pedoman Organisasi (PO) No. 3 Tahun 2015 dengan melibatkan unsur terkait berkenaan dengan keorganisasian, kelembagaan, keuangan dan lain sebagainya.

“Program dimulai dari Kamous Induk dan Kampus Utama. InsyaAllah akan disusul berikutnya oleh Kampus kampus Madya dan Pratama se-Indonesia,” kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Abdul Ghofar Hadi kepada Hidayatullah.or.id, Ahad, 29 Zulhijjah 1442 (8/8/2021).

Ia menambahkan, kegiatan asesmen standarisasi yayasan ini diawali dengan tahapan sosialisasi dan bimbingan teknis.

Kemudian selanjutnya disusul dengan asesmen secara online untuk melakukan verifikasi kesiapan Kampus Induk maupun Kampus Utama.

Kemudian, tahapan terakhir adalah dilakukan asesmen secara offline atau visitasi lapangan oleh tim Asesor untuk Kampus Induk maupun Kampus Utama yang semuanya berasal dari unsur pengurus Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

“Mohon doa sekalian agar semua kegiatan asesmen ini berjalan dengan sukses dan lancar,” pungkasnya. (ybh/hio)

Islamic Medical Service Buka Layanan Homecare Gratis untuk Dai dan Masyarakat Duafa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pelayanan kesehatan di rumah saat ini menjadi sebuah kebutuhan di lingkup masyarakat, apalagi di masa pandemi Covid-19.

Islamic Medical Servis (IMS) sebagai salah satu lembaga sosial kesehatan merespon perihal tersebut dengan membuka program layanan datang ke rumah (homecare) sebagai bentuk partisipasi dalam penanganan kasus Covid-19 yang kian melonjak.

Direktur IMS Imron Faizin mengatakan progam homecare ini sudah berjalan di daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasio (Jabodetabek) dan sudah ada puluhan dai dan masyarakat duafa yang telah mendapatkan layanan ini.

“Melaului homecare, para dai dan masyarakat dhuafa bisa mendapatkan layanan kesehatan berupa kunjungan dari petugas medis ke rumahnya,” ujar Imron.

Imron menerangkan bahwasanya program ini dimaksudkan untuk menjangkau para dai dan warga yang tidak bisa menjangkau layanan puskesmas maupun rumah sakit, baik mereka yang sakit biasa, dan sedang melakukan isolasi mandiri di rumah.

Dia menambahkan, dalam homecare ini ada perawat yang setiap Ahad mengecek dan memberikan pelayanan kesehatan langsung di rumah dai dan warga yang terdapampak ujian berupah sakit.

“Program ini juga melibatkan tim Satgas Covid-19 Hidayatullah Jabodetabek dan semoga dengan adanya program ini dapat sedikit meringankan beban para dai dan masyarakat duafa,” pungkas Imron yang juga Kadep Kesehatan DPP Hidayatullah ini.*/Alamsyah Jilpi

Membaca Catatan Harian Abba, Resonansi Milad Hidayatullah ke-50

Oleh Mujahid M. Salbu*

SAAT tiba di Batam sekitar enam bulan lalu dan membongkar barang bawaan dari Balikpapan, ternyata terselip buku catatan harian Abba (ayahanda) Rahimahullah, dua buku catatan harian itu tahun 1982 dan tahun 1999.

Buku agenda harian itu semacam diorama dengan resonansi yang mengesankan karena merefleksikan aktivitas sekumpulan pemuda yang memiliki cita-cita besar membangun kampus sebagai wadah menghadirkan Islam yang indah (ilmiah, alamiah dan islamiyah).

Mereka datang dari penjuru nusantara, meninggalkan kehidupan yang sudah nyaman; sebagai guru, karyawan di perusahaan minyak, pedagang, dan lainnya.

Di Gunung Tembak, atas ajakan ustadz Abdullah Said Rahimahullah, mereka menjalani kehidupan penuh perjuangan; tempat tinggal dan makanan seadanya.

Jika ada waktu senggang, saya membaca kembali catatan yang ditulis tangan. Kebiasaan Abba sejak dulu mencatat setiap kejadian, termasuk yang biasa-biasa, misalnya saat beliau pulang dari Karang Bugis, mampir membeli ikan bandeng dan majalah Tempo, harian Kompas, Manuntung, dll, termasuk mampir membeli ikan bandeng lengkap dengan harganya dicatat.

Ini pula yang akhirnya menjadi oleh-oleh terindah buat kami yang masih bocah; majalah Tempo dan harian Kompas, dulu kalau hari Jumat, Kompas menyediakan bonus tabloid Bola. Kadang juga membawa buku-buku terbaru.

Selain itu beliau juga mencatat yang terbilang penting; merangkum materi pembicaraan ketika Ustadz Abdullah Said Rahimahullah membrifing pengurus atau diskusi dan juga ceramah dari pimpinan dan pengurus lain.

Dari catatan harian tersebut, ternyata budaya diskusi telah tumbuh di era 80-an. Beberapa kali dibuat forum dan pengurus bergantian menjadi narasumber kemudian ada yang ditunjuk sebagai penyanggah dan juga moderator. Dalam catatan itu nama-nama yang terlibat dalam diskusi semua dicatat.

Selain aktif berdiskusi, para pengurus awal harus aktif di lapangan dan ini porsinya lebih besar. Misalnya menggali empang, mencabut tunggul, dalam pembinaan hampir semua juga terlibat, ustadz Usman Palese Rahimahullah misalnya pernah menjabat sebagai kepala asrama yang mengurusi santri. Lalu ada puang Baking Rahimahullah sebagai kepala keamanan, ustadz Wakiyo Rahimahullah sebagai kepala koperasi dan lainnya.

Seni kepemimpinan ustadz Abdullah Said, sedikit banyak terungkap di catatan harian itu, misalnya, bagaimana dalam sebuah brifing menjelang ke Jakarta, sang pemimpin berpesan agar disiapkan asupan khusus berupa telur setengah matang dan susu untuk petugas pencari kayu bakar, pertimbangannya, getaran mesin geregaji kayu atau senso bisa berdampak pada kondisi dada mereka. Sedemikian detailnya beliau memikirkan para kadernya.

Abba juga menuangkan dalam buku agendanya sebuah statement ustadz Abdullah Said dalam sebuah pertemuan, “Saya kadang menunda menegur seseorang yang melakukan kesalahan, jika saya merasa yang bersangkutan belum siap untuk ditegur.”

Perhatian dan perlakuan ustadz Abdullah Said Rahimahullah kepada para kader terdahulu yang sangat detail diungkapkan karena beliau pernah dipimpin oleh tokoh-tokoh besar dan merasa para tokoh besar itu tidak memberikan perhatian yang detail dan maksimal kepada para kadernya.

Perjalanan awal Hidayatullah ditandai dengan keterbatasan termasuk kebutuhan pokok seperti beras, hal ini terungkap lewat sebuah risalah rapat tahun 1982. Jika hari ini, di beberapa tempat Hidayatullah melalui Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kerap membagikan beras ke warga tidak mampu.

Sebaliknya di tahun 80-an, dalam setiap rapat bulanan diatur strategi mencari beras untuk memenuhi kebutuhan warga dan santri meski sering terjadi keajaiban, tiba-tiba ada donatur yang datang membawa beras puluhan karung. Bahkan pengurus diberi target misalnya ustadz Manandring mencari beras satu karung, puang Rahman Rahimahullah dua karung dan seterusnya.

Semoga dilain kesempatan saya bisa menuangkan kembali kilas balik perjalanan Hidayatullah yang terangkum dalam catatan harian Abba sejak tahun 80-an hingga beliau wafat pada tahun 2010.

Batam, 28 Dzulhijjah 1442 H

*)Penulis adalah Sekwil DPW Hidayatullah Kepulauan Riau & anak dari almarhum Ust Mansur Salbu, salah satu perintis awal Hidayatullah yang menulis buku Sejarah Hidayatullah/ Mencetak Kader.

Kampus Ber-Qur’an Itu Bernama Hidayatullah

Oleh Mahladi Murni

مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ

“Dengan karunia Tuhanmu (al-Qur’an), engkau (Muhammad) bukanlah orang gila.” (al-Qolam [68]: 2).

Ayat ini menjadi salah satu inspirasi Abdullah Said saat membangun sebuah perkampungan pengkaderan di Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Abdullah Said meyakini bahwa manusia ber-Qur’an bukanlah orang gila meskipun banyak orang yang masih menganggap asing orang-orang tersebut.

Abdullah Said ingin membuktikan kebenaran ayat tersebut lewat sebuah perkampungan kecil yang biasa ia sebut “kampus”. Dan, kampus ber-Qur’an tersebut bernama Hidayatullah.

Yang menarik, orang-orang yang tinggal di kampus ini tidak semata belajar membaca al-Qur’an, namun juga belajar menerapkan al-Qur’an. Ini diakui oleh Syamsurijal Palu, salah seorang perintis Hidayatullah, dalam acara Sarasehan Pendiri dan Perintis Hidayatullah di Tanjung Uncang, Batam, Kepulauan Riau, pada Juni 2015.

“Sebelum bergabung dengan Hidayatullah, saya telah sering mempelajari al-Qur’an. Namun, ketika itu, saya merasa ada yang kurang. Saya merasa baru mempelajari al-Qur’an, tetapi belum ber-Qur’an. Di Kampus Hidayatullah, saya baru mengalami proses ber-Qur’an.,” jelas Syamsurijal.

Ia juga mengaku amat percaya diri setelah bergabung dengan Hidayatullah. “Terasa sekali Allah memberikan garansi yang membuat kita tak merasa rendah, apalagi hina dan takut, di hadapan manusia,” kata Syamsurijal lagi.

Ketika itu, masih banyak masyarakat yang menganggap apa yang dilakukan Abdullah Said dan rekan-rekannya sebagai pekerjaan gila. Namun, Abdullah Said tak mempedulikannya.

Ia, Syamsurijal, dan kader Hidayatullah lainnya, terus saja berdakwah dan membangun kampus. “Bukankah dulu Rasulullah juga dianggap gila?” kata Syamsurijal mengutip perkataan Abdullah Said saat membesarkan hati mereka.

Justru sebaliknya, kata Abdullah Said lagi, orang-orang yang tinggal di Kampus Hidayatullah tak akan merasa gila. Sebab, jadwal hidup mereka sudah diatur sesuai dengan aturan Sang Pencipta, termasuk cara berpakaian, bergaul antara pria dan wanita, bekerja, dan bermuamalah.

Bahkan, di kampus Hidayatullah, pernikahan akan dimudahkan. Ini terbukti dengan diselenggarakannya pernikahan massal —atau pernikahan mubarokah— di kampus ini. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.

Pernikahan masal pertama diselenggarakan pada 6 Maret 1977, diikuti oleh 2 pasang kader. Yang terbesar pada 1997, diikuti oleh 100 pasang kader.

Buat sebagian orang, menjalani kehidupan ber-Qur’an mungkin tidak mudah. Namun, Abdullah Said meyakini, bila sudah terbiasa akan terasa mudah. Dalam beberapa ceramah, Abdullah Said sering menganalogikan mudahnya hidup ber-Qur’an dengan kebiasaan memakan tempe dan ikan.

Orang Jawa, kata Abdullah Said, suka sekali makan tempe. Sebab, sejak lahir, mereka sudah terbiasa dengan tempe. Setiap hari mereka mendengarnya, melihatnya, lalu memakannya, bahkan menjadikannya santapan utama. Ini berbeda dengan orang Bugis yang sejak kecil sudah diperkenalkan dengan ikan. Setiap hari mereka sudah terbiasa menyantap ikan. Bahkan mereka merasa ada yang kurang jika tak ada ikan yang yang tersaji.

Demikian pula al-Qur’an. “Kalau sejak bangun tidur sudah al-Qur’an yang dibaca dan dibicarakan, akhirnya al-Qur’anlah yang akan lengket di otak dan di perasaan kita,” kata Abdullah Said dalam buku Mencetak Kader karya Mansyur Salbu.

Bahkan, orang yang sudah demikian akrab dengan al-Qur’an akan merasa sia-sia hidup tanpa Qur’an. “Kalau bukan karena itu, yakni untuk membangun peradaban Islami berlandaskan al-Qur’an, buat apa kita berpayah-payah menekuni pekerjaan ini,” kata Abdullah Said lagi.

Namun, bukan berarti tak ada kader yang goncang dan menyerah. Terhadap kader yang demikian, Abdullah Said biasanya memberi nasehat: “Saya telah kehabisan kata-kata untuk meyakinkan Anda tentang prospek di lembaga perjuangan ini. Bahasa Indonesia terlalu miskin untuk mengungkapkan apa yang semestinya dijelaskan untuk meyakinkan Anda. Maka, berangkatlah Anda mencari tempat yang lebih bagus dari tempat ini. Kalau Anda telah menemukannya, segeralah memberi informasi kepada kami. Insya Allah kita akan berlomba-lomba menuju tempat itu.”

Penyakit Thagha

Di awal perintisan Hidayatullah, Abdullah Said amat mengkhawatirkan berjangkitnya penyakit thagha (melampaui batas) pada diri kadernya. Karena itu, kata Hasan Ibrahim, salah seorang pendiri Hidayatullah saat memberi ceramah itiqaf di Masjid Baitul Karim, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, pada September 2010, rumah para penghuni kampus di Gunung Tembak sama. “Tak boleh ada yang lebih mencolok dibanding yang lain,” kata Hasan Ibrahim.

Keadaan ekonomi warga Hidayatullah ketika itu juga nyaris sama. Tidak ada yang memiliki motor. Semua menggunakan sepeda. Bahkan, kata Hasan Ibrahim lagi, saking khawatirnya Abdullah Said dengan penyakit thagha ini, ia pernah menegur salah seorang penghuni kampus yang mengecat rumahnya.

“Dia diceramahi lama sekali. Dia diingatkan agar tidak terjangkiti penyakit meterialis, cinta dunia. Sebab, akan juga dijangkiti penyakit takut mati,” cerita Hasan lagi.

Kesamaan ini tak sekadar terlihat pada kondisi ekonomi. Dalam hal berpakaian pun, warga Hidayatullah di Gunung Tembak nyaris sama. Semua laki-laki berpakaian koko putih dan berkopiah, sedang perempuan berjilbab lebar. Ini menjadi ciri sangat khas kader Hidayatullah pada masa itu.

Pengikisan penyakit thagha juga dilakukan dengan cara menempatkan para kader yang mulai banyak bergabung di kampus Hidayatullah pada posisi yang kontradiktif dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman sebelumnya.

Mereka dilatih untuk beramal tanpa terbebani oleh status dan jabatan sebelumnya. Mereka mengisi bak wadhu, bak mandi, membajak sawah, menggali empang, membantu tukang, mencari donatur, dan lain-lain.

Amal-amal seperti ini, selain akan mengikis perasaan sombong, juga akan menjadi cerita yang indah bagi para kader kelak. Bahkan, mereka juga tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang siap ditugaskan berdakwah ke manapun juga.

Beginilah cara Abdullah Said membangun perkampungan pengkaderan yang dulu dicita-citakannya. Perkampungan berbentuk kampus itu kian lama kian membesar karena dukungan dan partisipasi masyarakat di Balikpapan. Luas kampus bahkan sudah mencapai 120 hektar.

Sebuah masjid besar bernama Ar-Riyadh juga berdiri kokoh di kampus ini. Bahkan, masjid ini adalah bangunan pertama yang dibangun Abdullah Said, dan menjadi bangunan pertama juga yang akan Anda saksikan manakala Anda memasuki kawasan kampus.

Kawasan putri terpisah dengan kawasan putra. Dinding pemisahnya berupa pagar kayu setinggi 1.5 meter, memanjang ke belakang dan melingkar, tertutup dari luar.

Di tengah-tengah kampus itu ada danau buatan sebagai resapan air bagi kawasan Desa Gunung Tembak. Lalu, di belakangnya lagi ada ladang tempat para santri bercocok tanam.

Selamat datang di Kampus Perjuangan, Hidayatullah Gunung Tembak, kampus pengkaderan, kampus ber-Qur’an.*/

50 Tahun Konsisten dalam Perubahan

“HIDAYATULLAH sudah berubah ya?” tanya Aco. “Tidak, Hidayatullah sejak dulu ya seperti ini,” kata Becce’.

“Berubah, Hidayatullah yang saya kenal tidak seperti ini,” kata Aco.

“Kamu lihat Hidayatullah berubah dilihat dari sisi apanya, Bang Aco?” tanya balik Becce’.

“Hidayatullah dulu hanya mengurusi santri yatim piatu, rumahnya juga kecil-kecil, kendaraannya juga tidak ada yang roda empat,” jawab Aco.

“Kalau melihat jumlah dan fasilitasnya ya tentu berubahlah, itu mengikuti perkembangan zaman. Dulu jumlahnya sedikit dan sekarang ya tidak,” kata Becce’.

“Terus yang kamu maksud tidak berubah itu apanya?” tanya Aco lagi.

“Cita-cita atau idealismenya, karakter ibadah kadernya yang tetap menjaga shalat berjamaah, shalat lail dan sunnah lainnya, kesantunan dalam mendakwahkan Islam,” jawab Becce’.

Saat masih kumpulan santri kecil, perbincangan masalah Hidayatullah berubah dan tidak berubah menjadi diskusi hangat dan bahkan terkadang memanas di kalangan para santri. Karena kengototan dari masing-masing pihak dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

Sebenarnya tidak ada salah dari pendapat dialog imajiner (Aco dan Becce’) sesuai dengan pemahaman yang dimilikinya. 50 tahun perjalanan Hidayatullah tentu banyak berubah.

Tidak mungkin Hidayatullah mempertahankan diri dengan keterbatasan sarana, fasilitas, bentuknya, program kerjanya seperti 50 tahun lalu. Justru ketika tidak berubah maka Hidayatullah dianggap tidak berkembang bahkan akan dianggap ketinggalan zaman.

Perubahan adalah sunnatullah, sebagaimana pribadi kita sebagai manusia juga berubah secara fisik dari tahun ke tahun. Islam dari pertama kali hingga sekarang juga mengalami dinamika perubahan kecuali rukun Iman, rukun Islam dan hal-hal yang prinsip. Adapun bentuk masjid, cara berdakwah, manajemen masyarakat muslim berubah-ubah sesuai dengan zamannya

Hidayatullah hari ini dianggap eksis dan berkembang karena sangat dinamis dalam melakukan perubahan. Dari awalnya dalam bentuk sebagai sebuah pesantren, selanjutnya berubah menjadi organisasi sosial (orsos). Kemudian berubah lagi menjadi organisasi massa (ormas) sejak tahun 2000. Ini era perubahan cukup fundamental dan banyak pro-kontra dari para kader Hidayatullah.

Alhamdulillah, karena itu hasil ijtihad kolektif dan musyawarah dari para senior maka 21 tahun setelah perubahan dari Orsos menjadi Ormas menjadi langkah strategis.

Selanjutnya berubah lagi menjadi Badan Hukum Perkumpulan (BHP) Hidayatullah sesuai regulasi. Ini memudahkan dalam konsolidasi Hidayatullah yang semakin besar dengan jaringan yang semakin banyak.

Ada nilai dan prinsip yang harus tetap ada sejak 50 tahun lalu hingga mungkin 50 tahun atau 500 tahun Hidayatullah ke depan. Di antaranya idealisme untuk berislam secara baik dan benar sesuai dengan manhaj nubuwwah. Ini diaktualisasikan dengan program jenjang marhalah dan halaqah ula, wustha dan ulya.

Karakter dari para kader Hidayatullah yang khas sejak dulu adalah senantiasa menjaga ibadah. Dari shalat wajib berjamaah di masjid, shalat lail dan shalat sunnah rawatib.

Meminjam istilah almarhum Dr. Abdul Manan bahwa cacat spritual bagi kader Hidayatullah yang meninggalkan shalat lail atau lalai tidak membaca al-Qur’an satu juz dalam sehari.

Tarbiyah dan dakwah sebagai konsentrasi gerakan dari awal Hidayatullah, hingga sekarang dipatenkan menjadi mainstream gerakan organisasi ini. Hal ini mewarisi tugas para nabi dan rasul untuk mengajak dan mengajarkan hidup bertauhid dan menyembah kepada Allah.

Mentalitas ketaatan dari para kader juga tidak boleh berubah. Sami’na wa atho’na (kami taat dan kami mendengar) menjadi prinsip dari para kader dalam menjalankan tugas dakwah.

Penugasan menjadi perkaderan terbaik di organisasi ini dari dulu hingga sekarang dan akan mendatang. Inilah prinsip yang mempercepat perkembangan Hidayatullah dari hutan Kalimantan bisa ke Aceh, Papua dan ibukota Jakarta.

Ada banyak nilai dan karakter Hidayatullah yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang, meski zaman berubah dan ditugaskan di mana saja, yang sekarang terangkum dalam jati diri Hidayatullah.

Kesimpulannya dalam milad 50 tahun ini, Hidayatullah banyak mengalami perubahan tapi masih konsisten dengan jati dirinya. Sehingga para kader harus menguatkan jati dirinya sebagai kader Hidayatullah agar bisa mengikuti perubahan menuju cita-cita besar Hidayatullah membangun peradaban Islam.*/Abdul Ghofar Hadi

Kunker Kasipendis Kemenag ke Kampus Manokwari Selatan

MANSEL (Hidayatullah.or.id) — Kepala Seksi (Kasi) Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua Barat, Edy Yorkuran, S.HI dan Kasi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas) Islam, Penyelenggara Pendidikan, dan Haji Kemenag Manokwari Selatan, Hj. Damayanti Rambe, S.Sos, melakukan kunjungan kerja ke Yayasan Peduli Insan Kampus Hidayatullah Manokwari Selatan (Mansel) beralamat Jl. Kenangan, RT. 01 RW. 01, Kampung Margorukun, Kamis, 27 Zulhijjah 1442 (5/8/2021).

Yayasan Peduli Insan Kampus Hidayatullah Manokwari Selatan menjadi yayasan perdana di tahun 2021 di Kabupaten Manokwari selatan yang dikunjungi.

Kunjungan ini dipandu oleh Ketua Pembina Yayasan Peduli Insan Pondok Tahfidz Hidayatulllah Ust. Sulton S.Pd.I. Acara silaturrahim dan silatul informasi dalam kunjungan kerja Kemenag di Pondok Tahfidzh Hidayatullah ini berlangsung khidmad dan penuh kekeluargaan.

Dalam kesempatan ini, Ketua Yayasan Ust. Maghfuri, S.Pd menyampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada pihak Kanwil Kemenag Papua Barat dan Kemenag Mansel atas silaturrahimnya serta arahannya agar keberadaan Pondok Tahfidz Hidayatullah Yayasan Peduli Insan Mansel ini dapat diakui bukan hanya secara de facto tapi juga secara de jure sesuai peraturan yang berlaku.

“Ibu-Bapak, antusias masyarakat akan keberadaan pondok tahfidz ini sangat besar, mulai dari wakaf tanah, bantuan material, dukungan moril tokoh masyarakat, tokoh adat dan lain sebagainya, sehingga dalam waktu beberapa bulan atau insya Allah kurang dari setahun rumah ustadz, mushalla, dan asrama telah berdiri di tanah wakaf ini,” lanjut Maghfuri.

Sambil mengamati master plan yayasan yang terpampang di dinding depan mushalla pondok, Kasi Pendis berpesan untuk kedepan, yayasan melengkapi pondok tahfidz dengan pendidikan madrasah agar pendidikan secara formalpun tetap berjalan di lingkungan pondok.

Diakhir acara diskusi, dilakukan acara serah terima berkas awal yang selanjutkan akan disempurnakan oleh pihak yayasan sebagai bentuk Komitmen yayasan bersinergi dan taat aturan dalam menjalankan amanah dakwah di Kabupaten Mansel tercinta.*/Miftah