Beranda blog Halaman 398

Segitiga Emas: Iman, Hijrah dan Jihad

Oleh Abdul Ghofar Hadi*

DI BULAN Muharam ini, tema sentral pembicaraan dan pembahasan umat Islam adalah tentang hijrah. Sebagai sejarah fenomenal dari perjalanan dakwah Rasulullah yang harus meninggalkan Makkah sebagai tempat kelahiran dan kampung halaman menuju Madinah. Ini bukan perjalanan biasa tapi bertaruh nyawa dengan ancaman dari para pemuda pilihan kaum Quraisy.

Mereka sudah melakukan musyawarah mufakat untuk membunuh Rasulullah. Sebuah konspirasi direncanakan matang, mengepung rumahnya, menunggu detik-detik malam dengan peralatan dan personel yang lengkap untuk mengeksekusi Rasulullah di malam yang sudah ditentukan.

Tapi Allah tidak pernah tidur dan terlambat untuk menolong hamba-Nya. Semua pemuda dibuat ngantuk tertidur beberapa saat sehingga Rasulullah keluar rumah dengan aman ditemani sahhabat dekatnya yaitu Abu Bakar.

Rasulullah hijrah bukan karena pengecut atau takut dengan berbagai resiko di Makkah. Meski sudah diboikot kurang lebih dua tahun, diintimidasi dan beberapa sahabat sahabiyah juga sudah dibunuh menjadi syahid dan syahidah. Bukan karena takut mengambil risiko itu, meski seandainya Rasulullah terbunuh di Makkah pasti akan tercatat syahid tapi Rasulullah tidak berpikir egois karena perjalanan dakwah masih panjang.

Bukan juga karena cengeng dengan wafatnya istri tercintanya Siti Khadijah dan pamannya yang senantiasa melindunginya yaitu Abu Thalib. Secara kemanusiaan memang mengeluarkan air mata dan sedih tapi bukan itu yang menjadi sebab hijrah.

Rasulullah hijrah juga bukan karena tidak percaya dengan mukjizat. Allah pasti akan memberikan pertolongan atas berbagai ancaman kaum kafir Quraisy Makkah. Tidak mungkin Allah membiarkan kekasih-Nya teraniaya dalam memperjuangan perintah-Nya.

Hijrah merupakan konsekuensi dari keimanan yang tumbuh dan mendorong Rasulullah dan orang-orang beriman untuk mengaktualisasikan imannya. Hijrah juga bagian dari tarbiyah strategi dakwah yang dilakukan Rasulullah kepada umatnya. Tidak ada hijrah tanpa iman, tidak mungkin seseorang mau berhijrah tanpa didahului dengan iman.

Ketika iman tumbuh maka ada keinginan dalam diri untuk berubah menjadi lebih baik. Kemudian meningkat lagi mengajak orang lain dan membuat kondisi di lingkungan sekitarnya juga bisa lebih baik. Keinginan baik yang besar sering dibahasakan sebagai bentuk idealisme.

Iman itu memerlukan aktualisasi dan hijrah adalah jalan untuk mendapatkan tempat dan kondisi untuk mengaktualisasikan iman. Iman ada kerisauan dalam dirinya terhadap kondisi di sekitar yang belum baik dan ada keterpanggilan iman untuk mengubahnya lebih baik. Iman bukan hanya diam, stagnan, egois, cuek dan pasif terhadap kondisi yang ada.

Kemudian dalam perjalanan hijrah tentu tidak mudah dan banyak tantangan. Terkadang harus berdarah-darah, mengorbankan harta, keluarga, waktu dan hal-hal yang kita cintai. Maka Islam mensyariatkan jihad atau berjuang seoptimalkan mungkin.

Tanpa ada kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan yang menjadi nilai jihad maka tidak mungkin berhasil dalam hijrah. Jihad bukan hanya dalam makna qital atau perang.

Sehingga iman, hijrah dan jihad adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan seorang muslim. Itulah segitiga emas yang akan mengantar kepada kejayaan Islam dan muslimin.

Ada dua ayat berikut ini secara jelas menunjukkan keterkaitan antara iman, hijrah, dan jihad sebagai tiga hal yang tidak terpisahkan.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللهِ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah:218).

الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (QS. At-Taubah: 20).

Pemaknaan yang benar terhadap iman, hijrah dan jihad akan melahirkan paradigma dan kekuatan moral bagi orang beriman untuk meraih kemenangan.

Hari ini ada banyak usaha dalam pendangkalan makna iman, hijrah dan jihad, bahkan mendistrosi bahkan mendelete kurikulum hijrah dan jihad dari ajaran Islam. Dengan berbagai seminar, penerbitan buku, pemberedelan kitab yang seolah jihad itu menjadi penyebab ketertinggalan dan kejumudan dalam Islam.

Sehingga di bulan Muharam ini, pendiri Hidayatullah Allahuyarham Abdullah Said dan Hidayatullah hingga hari ini senantiasa menjadikan Muharam dan hari-hari besar Islam sebagai momentum untuk konsolidasi idiil dan silaturahim antar kader untuk menguatkan paradigma iman, hijrah, jihad bagi para kader, dai Hidayatullah dalam mengemban amanah dakwah dan tarbiyah.

Pengamalan Iman, hijrah dan jihad adalah kata kunci untuk membuka kejayaan Islam yang pernah diraih generasi Rasulullah di awal Islam.[]

*)ABDUL GHOFAR HADI, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah

Kepakkan Sayap Ukhuwah

Oleh Dzulkifli M. Salbu*

ABU QATADAH menuturkan, suatu malam Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam mendapati Abu Bakar sedang shalat tahajjud, dengan suara yang nyaris tak terdengar, di lain waktu Nabi menjumpai Umar sedang shalat, dengar suara yang keras.

Saat keduanya berada di Majelis yang sama, Nabi bertanya, “Wahai Abu Bakar, kenapa suaramu terdengar lirih ketika engkau shalat?”

Abu Bakar menjawab “Aku sedang menikmati bacaanku di hadapan Allah”, lalu Nabi juga bertanya kepada Umar, tentang suaranya yang keras saat shalat, dan jawaban Umar, “Dengan suara keras aku ingin mengusir kantuk dan syetan”.

Keduanya menerima dari sumber yang sama, namun memiliki cita rasa yang berbeda. Dalam pentas kehidupan, kita akan banyak menjumpai “Abu Bakar” dan “Umar”. Keduanya mengajarkan kita, agar tak terjebak pada perbedaannya (volume suara) tapi fokus pada persamaannya (shalat lail).

Perbedaan itu sebuah keniscayaan, tapi bukan untuk membeda-bedakan. Allahuyarham Abdullah Said didampingi oleh kader-kader awal, yang menerima hidangan sistimatika wahyu dari sumber yang sama, tapi mereka mengunyah dan menikmatinya dengan cara yang berbeda, karakteristik mereka berbeda, namun semua istimewa di mata Allahuyarham Abdullah Said.

Maka kita akan mencicipi kelezatan yang tak sama, ketika kajian sistimatika wahyu disuguhkan oleh Allahuyarham Ust Amin Bahrun dengan Allahuyarham Ust Hasan Suraji. Beda antara Ust Hasyim HS dengan Allahuyarham Ust Abdul Mannan, antara Ust Qadir Jailani dengan Ust Anwari.

Begitulah dengan pembimbing yang lain, masing-masing punya racikan tersendiri, semua spesial, dengan gaya bahasa yang beda, tapi dengan substansi yang sama.

Esensi perbedaan sejatinya menghadirkan persaudaraan, dan itulah yang tersaji dalam sejarah kehidupan Nabi bersama para sahabat, kisah ukhuwah diantara mereka, kaya dengan adegan-adegan dramatis, yang diperagakan dengan sangat fantastis. Dan, Allahuyarham Abdullah Said berhasil mencetak klise cerita, menjadi adegan nyata, ukhuwah bukan sekedar lukisan indah di dinding sejarah, tapi menjadi mutiara di alam nyata.

Masih terbayang dengan jelas bagaimana keakraban antara Ust Hasan Ibrahim, Ust Abdul Latif Usman, Allahuyarham Ust Sudiono, Allahuyarham Ust Manshur Salbu, saat menjadi staf di Karang Bugis, indahnya tawa canda warga saat kerja bakti, semua lebur dalam kebersamaan, semua menikmati persaudaraan.

Ukhuwah adalah warisan terindah, dari Allahuyarham Abdullah Said dan para pembimbing yang telah mendahului kita, keindahan yang semoga tidak tergerus oleh asset dan kekayaan yang insya Allah akan terus bertambah, tak boleh terciderai oleh sikap kita yang pongah, jangan digadai dengan dunia yang murah, jangan ditukar dengan harta yang bisa jadi fitnah.

Hari ini, Hidayatullah telah mengepakkan sayap kesemua wilayah, bahkan hampir semua daerah telah terjamah, kampus-kampus telah berdiri dengan megah, walau masih ada juga yang terengah-engah, ada yang asetnya melimpah, ada pula yang masih payah, tapi itu semua tak boleh membuat kita terpecah, karena kita satu jamaah di Hidayatullah.

Salah satu kunci merekatkan ukhuwah adalah pengikisan thaga, istilah yang sejak awal, dipopulerkan Allahu yarham Abdullah Said, karena disadari dan diyakini, thaga menjadi penghalang utama terbangunnya persaudaraan, merasa diri lebih baik dari yang lain, entah karena harta (kesombongan finansial), atau karena ilmu (kesombongan intelektual), atau karena ibadah (kesombongan spritual), atau karena yang lain.

Faktor lain perekat ukhuwah adalah kesamaan visi. Bila visi kita berbeda, maka yang bersatu hanya fisik, tapi tidak dengan hati, seperti yang Allah nyatakan dalam QS. Al Hasyr ayat 14:

تَحۡسَبُهُمۡ جَمِیعࣰا وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ

“Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah”

Lima puluh tahun usia lembaga, semoga ditengah gemerlap milad Hidayatullah, ukhuwah tetap terjaga.

*)Dzulkifli M. Salbu, penulis adalah Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Selatan

Milad Ke-50, Haedar Nashir Ajak Hidayatullah Jadi Suluh dan Penggerak Kehidupan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan selamat milad ke-50 tahun bagi organisasi Islam Hidayatullah. Tahun ini, milad Hidayatullah mengusung tema: “Bersama Umat Membangun Bangsa Bermartabat”.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si berharap kepada Hidayatullah dan kekuatan ormas keagamaan lain untuk bersama membangun ummat sebagai khaira ummah. Yaitu ummat terbaik dalam berbagai aspek kehidupan, baik di bidang akidah, keyakinan, yang selalu melahirkan sikap taqarrub dan habluminallah.

Dengan begitu, terangnya melanjutkan, akan hadir ummat beragama yang taat beribadah, berakhlak mulia, menjadi suri teladan bagi siapa pun, dan mewujudkan kemajuan dalam muamalah duniawi.

“Jika kaum muslimin warga Hidayatullah dan semua pengikut umat beragama di negeri tercinta ini dengan nilai utama maka akan mejadi teladan, menjadi suluh dan sekaligus menjadi penggerak kehidupan yang lebih baik,” tutur Haedar, dilansir situs web Muhammadiyah, Selasa (10/8/2021).

Menurut Haedar, Hidayatullah sebagai organisasi Islam yang moderat dan berpikiran maju dengan semangat bersama umat hadir di tengah kaum muslimin sebagai basis gerakan juga menjalankan peran mebangun bangsa yang bermartabat.

“Dengan kehadiran medsos selain membawa kemajuan, di saat yang sama telah menggerus nilai akhlak dalam kehidupan. Bertebaran hoaks, kebencian, permusuhan dan nilai nir keadaban masih dijumpai di dunia medsos, sehingga Indonesia disebut nilai keadabannya rendah dalam bermedsos,” kata Haedar.

Haedar juga berharap Hidayatullah dan seluruh kekuatan Islam dan keagamaan dapat bersama menggerakan umat membangun bangsa yang bermartabat, mulia dan utama.

DPW Hidayatullah Papua Barat Gelar Refleksi Milad ke-50 dan Tasyakuran Kantor Baru

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — DPW Hidayatullah Papua Barat menggelar acara kajian refleksi milad 50 tahun Hidayatullah sekaligus tasyakuran kantor DPW baru.

Kegiatan yang bermuatan Silaturrahim Muharram se-Papua Barat ini dilaksanakan di Komplek Ponpes Hidayatullah Manokwari, Jl. Trikora Anday, Kabupaten Manokwari, Selasa, 1 Muharram 1443 H (10/8/2021).

Ketua panitia Muhammad Refra Elthanimbary menjelaskan acara ini diikuti oleh seluruh pengurus serta kader dan jamaah Hidayatullah se-Papua Barat.

“Ada yang online dan offline, acara ini sekaligus kita rangkai dengan tasyakuran kantor DPW Hidayatullah Papua Barat yang baru selesai dibangun,” kata Refra.

Dalam sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat Us Hasdar Ambal menyampaikan bahwa milad ke-50 tahun Hidayatullah ini bukan ikut-ikutan tetapi ini merupakan refleksi sejarah ormas Hidayatullah untuk dijadikan spirit oleh kader-kader dan generasi muda Islam dalam mendakwahkan Islam.

Ia menambahkan, semua yang berperan di dalam gerakan Hidayatullah ini pada semua bidang dan amanah adalah pelaku sejarah yang akan tercatat sebagai bagian dari ummat Islam yang sedang membangun peradaban mulia dan utama.

Senada dengan itu, Ketua DMW Hidayatullah Papua Barat Ust Sulton mengatakan milad ini adalah momen spesial bagi kader Hidayatullah dimana di dalamnya ada sejarah, ada spirit, ada motivasi dan ada silaturrahim yang harus terus dilakukan.

Beliau menambahkan, Hidayatullah yang lahir di Balikpapan Kalimantan Timur, bisa kemudian hadir dimana-mana sampai ke Tanah Papua karena adanya spirit ibadah karena Allah SWT tersebut. Begitupun dengan terbentuknya ratusan jaringan Pesantren Hidayatullah se-Indonesia.

“Tentunya ini bukan kerja yang sederhana, bukan kita yang hebat tetapi karena Allah SWT yang Maha Hebat membantu kita. Sehingga ibadah adalah perkara mutlak dimaksimalkan oleh setiap kader Hidayatullah. Karena tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah menghendaki,” kata Ust Sulton.

Dalam sesi refleksi, Ust Sudirman Ambal selaku ketua DMW Hidayatullah Papua berbagi spirit kepada segenap kader yang hadir. Sudirman diketahui adalah kader dai senior yang ditugaskan awal awal membuka cabang di Tanah Papua.

Dalam refleksinya, Sudirman mengawali pemaparannya dengan mengutarakan sejarah awal Hidayatullah dibuka di Balikpapan Kalimantan Timur yang berawal dari hutan dan gubuk pembuatan batu bata.

“Berawal dari kemauan dan tekad anak-anak muda sebagai perintis kini lahir ribuan kader muda Islam yang siap mendakwahkan Islam keseluruh penjuru dunia,” katanya.

Beliau menambahkan, perjalanan Hidayatullah masih panjang. Maka, dia berpesan, sebagai kader harus berbuat semaksimal mungkin untuk Islam, sebab masa muda itu singkat maka jangan siasiakan hingga peradaban utama ini tegak.

Pada kesempatan tersebut hadir pula unsur organisasi pendukung, ortom Hidayatullah, BMH Papua Barat, Muslimat Hidayatullah Papua Barat, SAR Hidayatullah Papua Barat, Pos Dai Papua Barat.*/Miftahuddin

Tidak Hanyut dalam Euforia

Oleh Dzulkifli M. Salbu*

50 TAHUN perjalanan Hidayatullah, tentu bukan waktu yang singkat. Sudah cukup jauh kita berjalan, tak ada salahnya, sejenak kita menepi, menghela nafas untuk mengembalikan stamina, sembari memastikan, apakah kita masih on the track.

Ini penting, sebab sedikit saja kita keluar jalur, maka akselerasi sekalipun yang kita lakukan justru menjadi musibah, karena akan makin menjauhkan kita dari tujuan utama, begitu nasehat yang sering disampaikan para pembimbing.

Salah satu pertanyaan sederhana yang bisa jadi acuan adalah, benarkah saat ini kita masih berjuang, jika ya, di mana letak perjuangan kita.

Allahuyarham Ust Abdullah Said pernah mengatakan, jika jalan yang kita tempuh sama seperti jalan yang pernah dilalui oleh Rasulullah dan para sahabat, maka dipastikan kita pun akan menemui apa yang pernah dirasakan oleh Rasulullah dan sahabatnya.

Berjuang memang tidak identik dengan penderitaan, tapi secara objektif harus diakui, bahwa pengorbanan yang kita lakukan, untuk terbangunnya peradaban Islam sebagai visi besar Hidayatullah, masih sangat minim, masih sangat berjarak dengan Rasulullah dan para sahabat.

Fakta sederhana, yang diamanahi mengabdi di amal usaha, baik di pendidikan, ekonomi, yayasan atau amal usaha lainnya, kadang terjebak dalam rutinitas tugas, tanpa pernah menyadari atau mencicipi sensasi nikmatnya berjuang.

Terkadang pertanyaan nakal menggelitik perasaan, dimana letak perjuangan kita di Hidayatullah. Jika kita seorang guru, kita digaji, pengurus yayasan ada natura, yang mengelola usaha ada bagi hasil, menghadiri rapat atau musyawarah, biaya ditanggung lembaga.

Dinikahkan, dilengkapi kendaraan dinas, rumah dinas, dan fasilitas lainnya. Secara umum tak ada bedanya, bahkan tidak mustahil lebih sejahtera dari ASN.

Para petinggi lembaga telah melakukan rekayasa sosial, dengan membuat regulasi secara maksimal, agar seluruh kader menjadi muslim ideal, ada GNH, halaqah, mutasi, dan program lain yang bernuansa spiritual, nah, jika ini juga masih ditawar, masih beranikah kita mengaku berjuang?

Tulisan ini tak bermaksud mengecilkan perjuangan para kader yang telah menjual diri di lembaga ini, namun terselip harapan, tulisan ini menjadi bahan evaluasi, untuk mengantisipasi potensi penyimpangan, yang bisa saja terjadi setiap saat.

Sebab tak menutup kemungkinan, jabatan struktural yang sakral, bisa dimanfaatkan oleh oknum yang nakal, amanah fungsional bisa disalah gunakan oleh mereka yang bermental kriminal, katanya ingin profesional, padahal itu alasan abal-abal, orientasinya finansial, tapi terbungkus dengan bahasa yang sangat rasional.

Kelihatan ingin menambah amal, padahal untuk menambah modal, kalau sudah begini, yang haram jadi halal, kawan seiring akan dijegal, demi tujuan yang bersifat material, lupa kalau ada ajal, yang akan datang sesuai jadwal, dia jadi tumbal, oleh syetan yang pembual, pikirannya dangkal, kebijakannya janggal, keputusannya tak masuk akal, semoga aqidahnya tidak ikut terjual, yang membuat imannya jadi batal.

Terakhir, besar harapan semoga milad Hidayatullah ke 50, tidak membuat kita hanyut dalam euforia atas capaian spektakuler yang telah diraih Hidayatullah.

*)Dzulkifli M. Salbu, penulis adalah Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Selatan

Kiprah dan Tantangan Ekonomi Hidayatullah

0

Oleh Drs Wahyu Rahman, MM*

SEKALIPUN secara historis Hidayatullah berangkat dari sebuah gerakan dakwah berbasis kader dan pesantren, tidak berarti kesadaran dan gerakan ekonomi tidak ada sama sekali. Terlebih sepanjang sepak terjang selama 50 tahun ini, kesadaran dan gerakan ekonomi itu ada walau belum menjadi satu kekuatan yang capaiannya sama dengan mainstream gerakan Hidayatullah itu sendiri, yakni dakwah dan tarbiyah.

Sejak masa Hidayatullah di bawah kepemimpinan Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, wacana, kajian, implementasi bahkan gerakan nyata ekonomi secara langsung telah dimulai dan dijalankan.

Dari sisi wacana dan kesadaran berekonomi, Ustadz Abdullah Said sering mengatakan, “Suatu saat, kita akan memiliki toko, yang pada hari ini orang pesan, besok barang diantar.”

Kemudian dikatakan pula, “Kita akan membuat toko, dimana kita menjual terasi sampai helikopter.”

Kala ungkapan itu disampaikan, belum satu pun kader dan jamaah yang memandang ungkapan itu “realistis.”sebab di saat itu makan saja masih sangat sulit. Namun, kini sudah dapat dirasakan bagaimana orang belanja tidak perlu ke toko, hingga delivery order dan marketplace menjadi gaya hidup baru masyarakat di era digital.

Jelas ungkapan itu mengajak segenap kesadaran kader dan jama’ah Hidayatullah untuk melihat keadaan masa depan, dimana kaum Muslimin, setidaknya melalui Hidayatullah dapat memiliki kekuatan ekonomi secara riil.

Sudah barang tentu untuk sampai pada visi tersebut perlu gerakan perantara. Maka sejak awal, Hidayatullah telah aktif dalam gerakan ekonomi mikro, seperti membuat toko sembako disamping untuk media pembelajaran juga untuk memenuhi kebutuhan santri dan warga, jasa fotocopi, peternakan, perikanan, percetakan, penerbitan, hingga penyiaran dan lembaga keuangan.

Bidang Ritel

Kini gerakan ekonomi Hidayatullah terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan, seiring dengan hadirnya supermarket dan mini market, serta usaha dalam bentuk retail lainnya, di berbagai kota di Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Jakarta.

Brand utama jaringan retail ini bernama Sakinah Mart yang tertidiri dari 17 cabang. Meskipun tetap ada yang berjalan dengan menggunakan brand lain, seperti Amanah Mart, Mulia Mart, U Mart dan lainnya.

Meskipun serangan digitalisasi di bidang percetakan dan penerbitan, majalah suara Hidayatullah (SAHID) masih tetap eksis hingga saat ini dengan berbagai inovasi baik konten maupun distribusinya.

Agro Bisnis

Optimalisasi lahan yang cukup luas dimiliki oleh pesantren Hidayatullah yang tersebar di seluruh Nusantara menghadirkan bisnis di bidang agro.

Bisnis di sektor agro ini menjadi salah satu program fokus untuk memperkuat gerakan ketahanan pangan terutama di masa pandemi covid-19 yang sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat dan berdampak pada keberlangsungan pesantren.

Oleh karena itu bidang perekonomian Hidayatullah mengoptimalkan lahan untuk sawah, perkebunan dan peternakan.

Lembaga Keuangan Mikro

Satu lagi bidang usaha yang juga digarap dan sedang dikembangkan dengan begitu kuat dan massif ialah lembaga keuangan. Meski masih berskala mikro dan berbadan hukum koperasi, upaya ini terus dikembangkan dengan brand Baituttamwil Hidayatullah (BTH).

Kini BTH telah eksis di 10 kabupaten/ kota di Indonesia. Sejauh ini, BTH masih fokus pada layanan simpanan dan pembiayaan syariah.

Harapannya, BTH kelak dapat menjadi satu lembaga keuangan yang dapat melayani kebutuhan umat, sehingga kekuatan ekonomi umat benar-benar dapat mengangkat harkat dan martabat umat itu sendiri.

Membangun Ekosistem Bisnis

Semua jenis usaha ekonomi di atas dipayungi dalam bentuk CV, PT dan Koperasi, oleh karena jumlahnya yang terus bertambah maka didirikanlah payung besar berupa holding yang melakukan koordinasi, penguatan, pengembangan dan konsolidasi usaha.

Adapun para kader dan anggota sebagai pelaku ekonomi dihimpun dalam sebuah wadah asosiasi untuk dapat berbagi informasi, pengetahuan dan peluang bisnis melalu APHIDA (Asosiasi Pengusaha Hidayatullah). Di samping itu asosiasi ini dihadirkan untuk melakukan pembinaan dan rekruitmen anggota yang akan melakukan berbagai kegiatan ekonomi.

Begitu juga para anggota dan kader yang telah memiliki produk sendiri difasilitasi dengan HiMall sebuah marketplace yang sengaja dihadirkan sebagai pasar online yang tidak lagi disekat oleh batas-batas teritorial, kita bisa menjual dan membeli produk yang dibutuhkan kapan dan di mana saja, dari kita dan untuk kita.

Begitu juga dengan alat bayar untuk memudahkan transaksi maka kita meluncurkan sebuah paperless yang diberi nama HiCash. Kemudahan tekhnologi di era 4.0 harus direspon dan dimanfaatkan untuk memudahkan membangun ekosistem bisnis agar proses pengembangannya lebih cepat melesat.

Gerakan Ekonomi ke Depan

Pengembangan ekonomi ke depan meliputi tiga sektor, yakni ekonomi lembaga, ekonomi umat dan ekonomi sosial. Ekonomi lembaga mendorong pengembangan Badan Usaha Milik Organisasi (BUMO) baik di tingkat pusat hingga wilayah dan daerah. Harapannya untuk memberikan provitsharing dan kontribusi ke organisasi.

Kemudian ekonomi umat, yakni pola pengembangan ekonomi yang didesain sebagai kepemilikan para kader dan jamaah, baik pribadi maupun kelompok (halaqah).

Konsep ini mendorong para kader dan jama’ah untuk memiliki usaha yang dikembangkan dalam bentuk koperasi, syirkah, atau privat company. Goal-nya adalah berdayanya para kader, sehingga potensi kontribusi terhadap gerakan dakwah dan tarbiyah melalui organisasi bisa semakin baik.

Terakhir ialah ekonomi sosial, hal ini mengarah pada potensi ekonomi yang terdapat pada kegiatan amal usaha di bidag sosial seperti pengembangan yayasan pendidikan, yayasan pesantren dan yayasan sosial asuhan anak.

Dari tiga sektor inilah ekonomi Hidayatullah akan dikembangkan, sehingga ekonomi sebagai salah satu pilar peradaban dapat berkontribusi secara nyata dalam mewujudkan visi Hidayatullah.

Sebagaimana sejarah Nabi Muhammad SAW, dimana beliau adalah seorang pedagang kemudian berubah menjadi pelaku ekonomi besar dan menguasai sistem perekonomiaan di Jazirah Arab pada masa itu, sejatinya umat Islam menjadikan sirah nabi sebagai benchmark untuk bersinergi membangun kekuatan ekonomi.

Semoga pada 50 tahun kedua Hidayatullah, gerakan ekonomi bisa diwujudkan dengan baik, luas dan merata, sehingga kontribusi Hidayatullah untuk mewujudkan bangsa yang bermartabat benar-benar dapat dihadirkan dan dirasakan semua pihak. Allahu ‘alam.

*)DRS WAHYU RAHMAN, MM, penulis adalah Kabid Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Rejuvenasi Organisasi

Oleh Asih Subagyo*

SATU dasawarsa lalu, Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad sudah menyampaikan gagasan yang briliant, bahwa untuk mewujudkan visi dan misi Hidayatullah ke depan, maka organisasi perlu melakukan rejuvenasi. Sebuah diksi yang cukup asing ketika itu, atau setidaknya jarang didengar oleh sebagian kader, meski bisa jadi sudah mengimplementasikannya.

Dalam KBBI, rejuvenasi diartikan sebagai peremajaan. Akan tetapi, beliau menjelaskan secara implementatif bahwa rejuvenasi adalah proses peremajaan organisasi, berarti juga termasuk kepengurusannya. Artinya, dalam konteks ini, penggerak organisasi harus diisi oleh orang-orang muda dari sisi usia, atau setidaknya mereka yang selalu berjiwa muda.

Dinamika ini sudah dimulai sejak Munas IV, secara bertahap. Hal ini dapat disaksikan, saat beberapa hari menjelang MUNAS V, Allahuyarham Al-Ustadz Dr. Abdul Mannan, menyampaikan bahwa melihat data SDI (sumber daya insani) yang ada, setelah di olah dan dilakukan analisis yang mendalam, saat itu rejuvenasi masih belum sepenuhnya dapat terwujud. Sehingga perlu di combine antara kader senior dan yunior dalam kepengurusan Hidayatullah di semua level.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Bukanlah dari golongan kami mereka yang tidak menyayangi yang lebih muda, dan mereka yang tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. Tirmidzi).

Dari kebijakan ini maka dalam struktur kepengurusan Hidayatullah kader-kader muda mulai mengisi amanah di strukturtural organisasi, termasuk juga di amal usaha dan badan usaha. Sehingga tercipta harmonisasi dan gerakan organisasi yang semakin dinamis.

Gelombang Milenial

Sebagaimana kita mafhum, bahwa dalam konteks Indonesia, saat ini memasuki bonus demografi. Dimana saat ini, dan puncaknya nanti diprediksi terjadi pada tahun 2030, populasi masyarakat akan didominasi oleh individu-individu dengan usia produktif. Usia produktif yang dimaksud adalah rentang usia 15 hingga 64 tahun.

Hal ini terkonfirmasi, hasil sensus penduduk tahun 2020, yang menegaskan bahwa 70,7% penduduk Indonesia adalah usia produktif. Dari 270,2 juta penduduk itu, maka ada satu generasi yang lahir tahun 1981 – 1996, atau lebih dikenal dengan generasi milenial yang jumlahnya 25,87% itu, saat ini banyak mempengaruhi kehidupan di Indonesia. Demikian halnya dengan generasi Z, generasi alfa dan sesudahnya.

Dengan demikian maka, mau tidak mau, suka tidak suka, gelombang milenial dan generasi sesudahnya, menjadi tantangan. Sebab, menua adalah sebuah kepastian. Sehingga merekalah yang akan melanjutkan kepemimpinan dimanapun dan disegala level.

Oleh karenanya sudah selayaknya generasi ini, perlu untuk mendapatkan perhatian yang serius, untuk kemudian di-manage secara terprogram, terencana dan terukur. Untuk melahirkan generasi pelanjut yang handal.

Tak terkecuali hal ini juga akan dialami oleh Hidayatullah itu sendiri, dimana sebagaimana dalam konteks Indonesia, maka distribusi normal itu, juga terjadi dalam populasi anggota dan kader organisasi.

Generasi milenial dan post milenial di Hidayatullah, rata-rata secara akademis lebih baik dari generasi sebelumnya. Banyak diantara yang sudah bergelar master dan doktor, dari dalam dan luar negeri. Dan yang lebih menggembirakan rerata mereka juga banyak yang sudah hafidzul Qur’an.

Dalam berbagai literatur, kita dijumpai bahwa generasi milenial dan sesudahnya diprediksi akan men-drive kehidupan umat manusia. Bahkan akan mendeterminasi peradaban. Apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan teknologi, termasuk hubungkan dengan industry 4.0 atau society 5.0.

Dan ini yang menyebabkan mereka menjadi digital native. Artinya dalam kesehariannya tidak dapat dilepas dari perangkat digital. Melihat kenyataan ini, maka gelombang milenial ini menjadi tantangan bagi Hidayatullah.

Rejuvenasi Sebuah Keniscayaan

Realitas di atas merupakan tantangan bagi organisasi ke depan dalam melakukan rejuvenasi disetiap level. Peremajaan pengurus dalam sisi usia, berarti menyiapkan kader-kader muda untuk : dilakukan pemetaan talenta dan potensinya sejak dini; kemudian dilakukan pendidikan dan pelatihan yang memadai untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya sesuai dengan talenta dan potensi masing-masing; ditugaskan pada tugas-tugas yang menantang untuk menguji kekaderannya; selanjutnya dilakukan pendampingan (coaching) dan monitoring terhadap kader yang ditugaskan, sehingga menjadi terarah dalam melaksanakan tugasnya; kemudian dilakukan monitoring dan evaluasi sehingga mendapatkan feedback, dari sini nanti bisa diarahkan apakah kader tersebut bisa lanjut pada tahapan beringkutnya, atau kemudian kembali ke fase pertama lagi.

Sedangkan dalam konteks melakukan rejuvenasi bagi kader yang secara usia sudah tidak “muda” lagi, akan tetapi masih memiliki jiwa, semangat dan energi selayaknya generasi muda, maka proses upgrading yang dilakukan juga dapat dilakukan sebagaimana tahapan di atas. Dalam hal ini, akan disesuaikan dan dikelompokkan dengan kompetensi masing-masing potensi kader. Oleh karenanya, kedepan organisasi akan memiliki standar dan kualifikasi kader yang akan ditugaskan dalam mengemban amanah di setiap level tersebut.

Dengan demikian maka, rejuvenasi organisasi dalam berbagai konteksnya tersebut di atas, merupakan sebuah keniscayaan. Karena percepatan perubahan lingkungan eksternal dan internal organisasi, harus mampu direspon dengan cepat dan tepat. Jika tidak, maka organisasi akan di gilas oleh jamannya. Inilah mengapa menjadi alasan sekaligus jawaban, bahwa rejuvenasi itu harus dilakukan.

Pesan Kiai Abdullah Said Rahimallah, saat ini menjadi menemukan monentumnya,”Inilah tantangan yang harus kami jawab sekarang dan esok. Mampukah kita mempertahankan apa yang telah dicapai kini ? dan mampukah kita meningkatkannya di hari mendatang ? Mari kita jawab dengan praktek dan kenyataan. Selamat berjuang di alam realita, bukan di alam cerita. Selamat bertemu di alam kenyataan, tidak di alam pernyataan.” Wallahu a’lam.*

Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah. Artikel ini telah tayang sebelumnya di portal berita Hidayatullah dot com

BAN-PT Lakukan Asesmen Lapangan APT STIE Hidayatullah

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) melakukan Asesmen Lapangan (AL) Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) secara daring terhadap Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Depok (STIE Hidayatullah Depok) Prodi Akuntansi selama dua hari, Senin-Selasa, 02-03 Agustus 2021 untuk akreditasi terbaru.

Dalam kesempatan asesmen ini, tim asesor yang ditunjuk oleh BAN-PT adalah Prof. Dr. Wayan Suartana S.E, M.Si. Ak dari Universitas Udayana, dan Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E, M.Si., Ak dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya.

Diketahui, akreditasi BAN-PT adalah kegiatan penilaian untuk menentukan kelayakan Program Studi dan Perguruan Tinggi sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Tinggi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012.

Seyogyanya kegiatan akreditasi kampus maupun prodi dilakukan oleh para asesor yang telah ditugaskan untuk mengunjungi lokasi Perguruan Tinggi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Namun, terhitung sejak bulan Maret 2019 Dewan Eksekutif BAN-PT mengambil langkah agar kegiatan asesmen lapangan dilakukan secara daring, untuk membantu program pemerintah dalam menghadapi wabah pandemic Corona Virus 19.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Depok pada tahun 2020 juga telah melaksanakan kegiatan asesmen lapangan pada prodi manajemen dengan daring, dan ditahun ini 2021 kembali dilaksanakan asesmen lapangan untuk prodi Akuntansi.

Ketua STIE Hidayatullah Dr. Agus Suprayogi, ST, SE.Sy, MSi, dalam pembukaan kegiatan ini menyambut gembira adanya asesmen lapangan ini. Menurutnya, kegiatan akreditasi tentunya sangat diperlukan oleh semua perguruan tinggi tanpa terkecuali STIE Hidayatullah Depok agar mutu pendidikan terus terjaga bahkan meningkat.

“Dan ini juga sebagai acuan untuk memberikan informasi tentang sudah siapnya suatu perguruan tinggi tersebut dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar sesuai standarisasi yang diberikan oleh pemerintah,” katanya.

Untuk itu, dalam kegiatan ini disamping sivitas akademika, juga melibatkan beberapa alumni dan pengguna eksternal untuk berinteraksi secara daring dengan para asesor.

Pelaksanaan AL daring dilakukan dengan media aplikasi zoom yang disiapkan oleh BAN-PT dengan asesor sebagai host. Pelaksanaan AL daring dimulai dengan agenda pembukaan yang menghadirkan semua unsur pimpinan STIE Hidayatullah, ketua yayasan, dan segenap pengurus perguruan tinggi. Acara ini berlangsung lancar dengan waktu yang sangat padat. (ybh/hio)

Bangun Wawasan Global dengan Membaca Sirah Nabawiyah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Salah satu hal penting yang harus menjadi bekal bagi pemuda Islam dewasa ini adalah membangun wawasan global. Diantara yang perlu dilakukan dalam upaya tersebut adalah dengan membaca sejarah Nabi (sirah nabawiyah) yang tidak saja memuat wawasan Islam secara global melainkan juga menjadi rujukan aktual dalam memahami peta sejarah dan dinamika kontemporer dari zaman ke zaman.

Hal itu disampaikan Ketua Departemen Hubungan Antar Bangsa DPP Hidayatullah, Babeh Dzikrullah, dalam acara webinar internasional Hidayatullah 50 Tahun Global Forum yang digelar Yayasan Albayan Kampus Utama Hidayatullah Makassar, Sabtu, 28 Zulhijah 1442 (7/8/2021) malam.

“Sejarah Rasulullah jika dibaca serius maka pikiran dan wawasan kita akan terbuka dan terdorong sebagai muslim internasionalis. Sebagaimana jika kita ucapkan laillahaillaha maka dunia otomatis menjadi kecil sekali,” kata Babeh.

Babeh berpesan kepada peserta webinar yang juga diikuti oleh segena santri Hidayatullah Makassar, bahwa setiap muslim sepatutnya menggantungkan dan berusaha mewujudkan cita-citanya dengan bersandarkan pada contoh dan keteladanan Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa shallam.

“Selain dari sunnah Rasulullah, kita di Hidayatullah juga ikhtiar perjuangannya merujuk pada perjuangan orang-orang terbaik terdahulu (shalafus saleh),” katanya.

Babeh menekankan bahwa kemenangan Islam itu semata atas pertolongan Allah, karena itu dituntut kesabaran dalam segala usaha yang dilakukan. Menurutnya, kesabaran adalah modal utama dari perjuangan.

Ia juga mengingatkan pentingnya kesungguhan. Babeh mencontohkan kesungguhan dalam perjuangan Dinasti Utsmaniah mempersiapkan selama 200 tahun penaklukan Konstantinopel.

Menurut Babeh, ada empat syarat untum meraih kemenangan. Pertama, ketaatan total pada Allah dengan kecintaan pada Quran dan sunnah. Kedua, membangun diri, keluarga dan masyarakat sebagaimana cara (sunnah) Rasulullah.

Ketiga, istiqomah di jalan fisabilillah dengan meninggikan kedekatan dengan Allah ta’ala melalui ibadah seperti qiyamul lail, sedekah, dan menjaga persaudaraan. Keempat, “istiqomahlah sampai akhir hayat,” katanya.

Babeh melanjutkan, Hidayatullah sebagai sebuah haraqah gerakan dakwah saat ini sedang membangun dirinya supaya sesuai peradaban Islam yang telah dijelaskan dan disediakan Allah dalam Quran dan hadits.

“Maka seluruh kader Hidayatullah dan ummat harus tanamkan perhatian pada pusat-pusat peradaban Islam; Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, kota penting Islam seperti Baghdad, Damaskus dan lainnya,” tandasnya.*/Firman/ Hidayatullahmakassar.id

Tetaplah Melangkah Meski Terjeda

Oleh Mahladi Murni

TAHUN 1998 adalah tahun duka cita bagi Hidayatullah. Pada tahun itu, tepatnya 4 Maret 1998, Ust Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, wafat. Semua berduka. Perjalanan panjang pun sejenak terjeda.

“Sorot mata yang tajam itu kini sudah tiada. Mata itu telah tertutup rapat. Tiada bedanya dengan orang yang tengah tertidur lelap,” tulis Ust Manshur Salbu, kader senior Hidayatullah, dalam bukunya Mencetak Kader.

“Semua warga Hidayatullah akan selalu mengingat pesan yang pernah beliau sampaikan sambil berurai air mata, bahwa Hidyatullah harus terus berjalan (sepeninggal beliau nanti),” tulis Ust Manshur Salbu pada halaman lain buku tersebut.

Jeda ini tak boleh lama. Maka, bebeberapa hari setelah wafatnya Ust Abdullah Said, berkumpullah para kader senior di Kampus Hidayatullah Karang Bugis, Kalimantan Timur. Ini adalah kampus pertama yang dibangungun Allahuyarham Ust Abdullah Said sebelum membangun kampus induk di Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Dalam pertemuan tersebut, semua kader sepakat untuk menunjuk Ust Abdurrahman Muhammad sebagai pengganti Allahuyarham Ust Abdullah Said. Setelah berkali-kali menolak karena merasa belum pantas, akhirnya tak ada pilihan lain bagi Ust Abdurrahman Muhammad selain menerima beban berat tersebut.

Tongkat estafet telah terpegang. Jeda telah usai. Langkah kembali dilanjutkan. Ust Abdurrahman Muhammad, sebagai nakhoda baru, menginginkan kepemimpinan kolektif dalam mengendalikan biduk Hidayatullah. Ia merasa perlu didampingi oleh banyak kader senior dan memutuskan segala sesuatu lewat syuro.

Sejalan dengan itu, pada tanggal 13 Juli 2000, atau 11 Jumadil Tsani 1421 H, Hidayatullah mengubah wujudnya dari yayasan (organisasi sosial) menjadi organisasi massa (ormas) Islam. Pada tahun itu juga digelar Musyawarah Nasional (Munas) pertama Hidayatullah di Balikpapan, Kalimantan Timur. Inilah proses metamorfosis yang harus dilalui Hidayatullah.

Sejak saat itu, Hidayatullah memiliki sejumlah lembaga tingkat pusat yang berkedudukan di Jakarta. Sedangkan Ust Abdurrahman Muhammad sendiri, sebagai pemimpin tertinggi di Hidayatullah, tetap berkedudukan di Kampus Gunung Tembak. Lembaga-lembaga tingkat pusat ini berfungsi membantu Ust Abdurrahman Muhammad menjalankan roda organisasi.

Lembaga-lembaga tingkat pusat ini, dari periode ke periode, selalu berubah-ubah, sesuai kebutuhan saat itu. Pada periode terakhir –setelah Munas ke-5 tahun 2020– lembaga-lembaga tersebut terdiri atas Dewan Pertimbangan, Majelis Penasehat, Dewan Mudzakarah, Dewan Murobbi Pusat, dan Dewan Pengurus Pusat.

Di tingkat wilayah juga dibentuk Dewan Pengurus Wilayah (DPW) bersama perangkat-perangkatnya. Saat ini, DPW Hidayatullah telah ada di 34 propinsi di Indonesia. Demikian pula Dewan Pengurus Daerah (DPD), telah ada di 374 kabupaten/kota di seluruh Indonesia (atau 73% dari total jumlah Kabupaten/Kota di Indonesia).

Visi dan misi organisasi telah ditetapkan. Pedoman Dasar Organisasi juga telah disusun. Hal-hal yang bersifat kultural, seperti jati diri dan gerakan nawafil, telah dirumuskan. Perekrutan kader telah dibuka lebar. Semua masyarakat bisa ikut terlibat dalam gerakan Hidayatullah dengan melewati sejumlah marhalah. Pembinaan kader dilakukan lewat wadah halaqoh.

Sekolah-sekolah Hidayatullah telah berdiri. Hingga tahun 2020, tak kurang dari 313 sekolah integral telah tersebar di seluruh Indonesia, plus 6 perguruan tinggi. Demikian juga amal-amal usaha, mulai dari Baitul Mal Hidayatullah, Baitul Waqaf Hidayatullah, Baitut Tanwil Hidayatullah, Islamic Medical Service, Search and Rescue, Lembaga Bantuan Hukum, Sahabat Anak Indonesia, Pos Dai, hingga Kelompok Media Hidayatullah.

Gedung-gedung dan perkantoran telah dibangun. Program demi program telah dijalankan. Hidayatullah —sebagaimana pesan Allahuyarhan Ust Abdullah Said— atas izin Allah Ta’ala, terus berjalan.

Lalu, saat semua pimpinan lembaga Hidayatullah berkumpul di Batam, Kepulauan Riau, pada Oktober 2015, Ust Abdurrahman Muhammad mengingatkan tentang kisah seorang wanita tua yang tinggal bersama binatang ternaknya di dekat sebuah kerajaan milik raja yang zalim.

Suatu hari, kata Ust Abdurrahman Muhammad, wanita tua tersebut hendak pergi ke luar kota untuk satu keperluan. Karena tak ada yang menjaga hewan ternaknya, ia pun berdoa kepada Tuhan agar berkenan menjaga rumah dan binatang ternaknya dari raja yang zalim itu.

Namun, betapa terkejutnya wanita tua itu, ketika pulang dari perjalanan jauhnya, mendapati rumah dan hewan ternaknya sudah tak ada lagi. Rupanya, raja zalim itu telah menghancurkan semuanya.

Wanita tua itu merasa kecewa dengan Tuhan. Ia terus bertanya, mengapa Tuhan tak sudi menolongnya? Padahal, ia telah beribadah sepanjang siang dan malam. Bukankah seharusnya raja zalim itu yang dibinasakan Tuhan, bukan dirinya yang lemah? Bukankah Tuhan Maha Melihat dan Maha Perkasa?

“Boleh jadi suatu saat nanti kita seperti wanita tua itu,” kata Ust Abdurrahman Muhammad. Kita merasa telah banyak berbuat untuk agama ini. Kita ingin cepat mendapatkan hasil. Namun, ketika Allah Ta’ala tidak mengabulkan apa yang kita inginkan, kita kecewa. Kita memprotes takdir. Kita tak mau bersabar dalam berjuang.

Kalau pun ada di antara kita yang berhasil membangun organisasi secara fisik, kata Ust Abdurrahman Muhammad lagi, jangan buru-buru berbangga hati. Justru kita perlu waspada dengan semua itu. Sebab, banyak tawaran yang akhirnya menjadikan kita tawanan. Kita terperangkap oleh tujuan jangka pendek.

Lebih celaka lagi, ungkap Ust Abdurrahman Muhammad, jika kita terperangkap oleh kerumitan yang melalaikan. Perbedaan-perbedaan yang bersifat cabang (furu) seringkali menimbulkan perdebatan yang menyita banyak waktu. Akibatnya, perjalanan menuju visi akan terhenti. Padahal, perjalanan ini masih panjang.

Inilah sekelumit kisah perjalanan Hidayatullah. Hari ini, Selasa, 10 Agustus 2021, atau 1 Muharram 1443 H, “Kampung Pengkaderan” yang dulu dicita-citakan oleh Ust Abdullah Said, telah berusia 50 tahun. Ia telah beranjak muda, tak lagi berwujud “perkampungan”. Ia telah berubah menjadi pergerakan yang dengan izin Allah Ta’ala akan terus membesar.

Selamat milad setengah abad Hidayatullah. Teruslah bergerak, namun tidak dengan cara menabrak. Teruslah berjalan, namun tidak dengan mengundang murka Tuhan. * (Tamat)