PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Shohibul Anwar, S.Pd, M.H.I, menjadi narasumber dalam kegiatan Kuliah Umum yang diselenggarakan Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara (Sultan Batara) di Gedung Peradaban DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan di Kota Parepare, Kamis, 28 Rabiul Awal 1443 (4/11/2021).
Kuliah Umum yang mengangkat tema “Mencetak Dai Bermartabat dan Berwawasan” ini dihadiri oleh sebanyak 25 santri Sekolah Dai yang sebaran utusannya dari tiga wilayah yaitu, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat.
Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust Shohibul Anwar, dalam materinya memaparkan pentingnya seorang dai memiliki wawasan yang luas dan konfrehensif sehingga dapat menjadi pencerah umat.
Ia juga menyampaikan beragam kiat dan bekal praktis untuk para calon dai yang akan ditugaskan usai mengikuti pendidikan selama 2 tahun di Sekolah Dai ini.
Lebih jauh, Ust Shohibul Anwar yang juga pembina Posdai pusat ini menjabarkan mengapa berdakwah amat penting dijalankan oleh umat Islam. Serta mengetengahkan urgennya kerja kerja dakwah sehingga ia harus ada yang menekuni secara serius dan konsisten.
Pada kesempatan tersebut, turut mendampingi beliau yaitu Direktur SDH Sultanbatara Parepare Ust Habibi Nur Salam dan sejumlah pengurus lainnya. (ybh/hio)
IBADAH oleh sebagian besar umat Islam dianggap sebagai rutinitas saja. Tidak banyak yang menyadari bahwa di dalam ibadah itu terkandung nilai dan sumber kekuatan yang luar biasa. Padahal, mungkin telah cukup banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan untuk ibadah.
Dapat dikatakan, sebagian besar ibadah kita belum menghasilkan apa-apa selain capek. Benarkah apa yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ. “Alangkah banyaknya orang yang melakukan shalat sedang mereka tidak memperoleh apa apa, kecuali sebatas kelelahan saja.”
Ketidak efektifan itu bukan hanya untuk shalatnya saja, tetapi juga untuk ibadah yang lain. Puasa misalnya yang telah dilakukan secara rutin, setiap tahun selama sebulan penuh, terbukti belum berhasil memperbaiki akhlaq umat Islam. Masih saja terdapat laku kejahatan dan sikap ketidaktaatan. Malah begitu hari raya tiba, seolah terhapus semua. Ibaratnya panas setahun dihapus hujan sehari. Puasa sebulan dihapus lebaran sehari.
Kondisi ini sangat menyedihkan, apalagi apabila diukur dengan prinsip-prinsip efisiensi sekarang. Tidak terlalu salah jika ada sebagian orang menuduh umat Islam biasa menghambur-hamburkan waktu hanya sekedar untuk sesuatu yang tidak perlu.
Sekalipun persepsi mereka salah karena menganggap rangkaian ibadah sebagai perilaku yang tidak produktif, tetapi bila dicocokkan dengan produkfitas umat Islam yang masih rendah, tentu tuduhan ini cukup beralasan.
Bila sebelum dan setelah melakukan ibadah ternyata tidak ada perubahan apa-apa, apakah salah orang mengatakan percuma dengan segala macam ibadah itu? Kenyataan memang yang malas tetap malas, yang culas tetap saja culas.
Kita syukuri akhir-akhir ini masalah ibadah menjadi perhatian lebih luas. Tidak sebatas pada diskusi dan seminar, tapi cukup marak dalam praktek keseharian. Setiap kantor, baik instansi pemerintah maupun swasta, bahkan di markas-markas TNI berdiri masjid dan mushalla. Jamaah masjid juga selalu penuh, utamanya pada shalat Dzuhur dan Ashar.
Ada pula kegairahan baru di kalangan umat Islam untuk menunaikan ibadah haji. Bila dulu pejabat naik haji merasa malu, kini justru tumbuh rasa malu bila sudah menduduki jabatan tertentu belum juga menunaikan haji. Dari sisi ini, pantaslah disyukuri.
Di sisi lain, ada yang patut disayangkan. Bahwa justru disaat itu nampak muncul berbagai laporan tentang tindak korupsi dan kolusi dalam tingkat yang mengkhawatirkan.
Bahkan, sebuah majalah ekonomi asing menulis bahwa tingkat korupsi di Indonesia termasuk tertinggi di Asia dan bahkan di dunia. Biaya perusahaan untuk melayani “pesanan” pejabat tertentu, tak bisa diduga jumlahnya.
Meskipun mungkin kita tidak terlatu sepakat; tapi berita itu harus di terima dengan lapang dada. Mungkin memang itu sekadar provokasi, tetapi jangan menganggap hal demikian tak bisa terjadi. Bagaimanapun korupsi yang telah menjadi persoalan nasional dan ini harus segera dipecahkan bersama.
Malu rasanya bila Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini dicap sebagai bangsa yang korup. Apalagi jika korupsi dianggap sebagai bagian dari budaya bangsa.
Semestinya, peningkatan menjalankan ibadah di ikuti dengan kesadaran. Semakin intens seseorang menjalankan ibadah, semakin tinggi kesadaran moralnya. Buah dari ibadah adalah akhlaqul karimah. Orang yang berakhlaq tak mungkin melakukan korupsi, berkolusi, dan memanipulasi.
Bagaimana mungkin orang yang aqidahnya sudah baik, ibadahnya khusyu’, akhlaqnya terpuji sampai bisa berbuat kejahatan? Bagaimana mungkin dua sikap berlawanan ini bisa menyatu dalam diri seseorang? Tidak mungkin itu sudah pasti.*/Hidcom
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menilai Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi perlu dicabut atau disempurnakan kembali. Sebab, jelas Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq pada Kamis, 28 Rabiul Awal 1443 (4/11/2021), peraturan tersebut cacat.
“Kami menilai permendikbud nomor 30 bertentangan dengan tujuan mulia yang ingin dicapai Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Undang Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. Karena itu, Permendikbud tersebut cacat dan harus dicabut atau disempurnakan,” jelas Nashirul.
Di dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 3, jelas Nashirul, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sementara pada Permendikbud Nomor 30 pasal 5 disebutkan bahwa tindakan seksual akan dianggap pelanggaran jika tidak ada persetujuan dari korban.
Dengan logika ini, praktik perzinaan, lesbi, dan homo, bukan lagi dianggap pelanggaran Permendikbud. Sebab, praktik-praktik haram tersebut didasarkan atas suka sama suka, bukan paksaan. “Ini jelas merusak keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia yang ingin dibangun oleh sistem pendidikan di Indonesia sebagaimana tertera dalam UUD 1945,” kata Nashirul lagi.
Selain itu, Permendikbud Nomor 30 juga tidak sesuai dengan pasal 5 UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Di dalam UU tersebut dikatakan bahwa tujuan didirikannya perguruan tinggi adalah untuk mengembangkan potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan berbudaya.
Jika permendikbud ini diteruskan, kata Nashirul, maka runtuhlah bangunan peradaban mulia yang selama ini diperjuangkan oleh para pendidik sejak sekolah tingkat dasar. Sebab, ketika masuk perguruan tinggi, para peserta didik berpeluang untuk terjebak dalam pergaulan bebas. Mereka bisa melakukan praktik zina tanpa ada undang-undang atau peraturan yang melarangnya.
“Ini sangat berbahaya. Sejarah banyak mencatat kehancuran sebuah generasi ketika zina, homo, dan lesbi dibiarkan begitu saja,” kata Nashirul.
Sementara itu, Ketua Departemen Hukum DPP Hidayatullah, Dr Dudung A Abdullah menjelaskan bahwa tak ada UU atau peraturan pemerintah di negara ini yang melarang praktik perzinaan kecuali untuk mereka yang telah menikah atau anak di bawah umur.
Seharusnya, kata Dudung lagi, Permendikbud Nomor 30 ini menjadi solusi atas ketiadaan tersebut. Sayangnya, Permendikbud ini secara tidak langsung justru melegalkan praktik perzinaan, homo, dan lesbi di perguruan tinggi.
Nashirul juga menjelaskan bahwa selama ini Hidayatullah telah menjadikan pendidikan sebagai arus utama gerakan selain dakwah. Kampus-kampus perguruan tinggi Hidayatullah telah berupaya keras mencetak manusia unggul dengan pendidikan barbasis tauhid.
Demikian pula sekolah dan pesantren Hidayatullah yang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia. Ini semua sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.
Seharusnya, kata Nashirul lagi, pemerintah mendukung upaya-upaya positif seperti ini dengan membuat payung hukum agar peserta didik tak berani melakukan praktik-praktik yang bisa merusak tujuan pendidikan nasional, bukan malah sebaliknya. (Mahladi)
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Rahmanuddin, santri Pondok Pesantren Hidayatullah Palopo yang mewakili Kota Palopo menjuarai turnamen bela diri taekwondo pada ajang Poltek Cup Taekwondo Open Tournamen Ke-18 yang di adakan di Kota Makassar, 28-31 Oktober 2021.
Saat ini Rahmanuddin telah mendapat 2 medali yakni emas dan perunggu. Terakhir, perunggu diraih pada kompetisi beladiri pada Kejuaraan Nasional Tahun 2019 di Toraja sebelum Covid-19.
“Alhamdulillah, terimakasih kepada semua guruku yang telah mendidik dan membimbing saya sehingga bisa sampai tahap ini,” kata Rahmanuddin yang bercita cita mengharumkan nama Indonesia dalam kancah turnamen taekwondo internasional.
Selain aktif dalam kegiatan beladiri, santri yang berasal dari Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, ini dikenal disiplin, gemar berlatih, dan juga taat dalam menjalankan kegiatan belajar dan ibadah di Pondok Pesantren Hidayatullah Palopo.
Ustadz Amrullah selaku pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Palopo berharap kiranya Rahmanuddin bisa melanjutkan prestasinya di ajang beladiri taekwondo pada level yang lebih tinggi sehingga dapat membanggakan Kota Palopo dan Indonesia secara umum, sekaligus menjawab tantangan bahwa santri juga bisa ikut dalam kompetisi beladiri taekwondo.
“Jadi Rahmanuddin ini adalah anak yang sangat sederhana dan rajin. Selain aktif dalam kegiatan beladiri, dia juga disiplin dalam kegiatan belajar dan ibadah,” ucap Amrullah.
Amrullah berharap, anak santrinya tersebut terus mengembangkan bakatnya dengan tetap menjaga kultur pesantren kapan dan dimanapun berada.
“Semoga bakat yang beliau miliki terus ditingkatkan dan tentunya ini menunjukkan bahwa santri juga bisa berprestasi dalam berbagai bidang kehidupan” kata Amrullah memungkasi.*/Alamsyah Jilpi
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Dr KH Anwar Abbas menyerukan agar umat kuasai kapital jika ingin menjadi penentu. Dia mengingatkan bagaimana umat Islam Indonesia yang mayoritas tak punya kuasa langsung menentukan nasib bangsa dan negara.
“Yang menjadi penentu (arah bangsa) adalah yang menguasai sumber daya material di Indonesia. Kita saat ini mayoritas namun bukan lah penentu,” ujar Buya Anwar dalam acara Kuliah Peradaban mengangkat topik “Peran Umat Islam Membangun NKRI Dulu, Sekarang, dan Besok”, digelar secara hibryd yang disiarkan secara langsung di channel Hidayatullah ID, Selasa, 26 Rabiul Awal 1443 (2/10/2021).
Buya Anwar mengingatkan bahwa peradaban berkaitan erat dengan kemajuan. Dia juga memnyampaikan terjemah Al-Qur’an bahwa “Era (kekuasaan) itu akan Allah pergulirkan di antara manusia”.
“Tidak akan ada satu bangsa yang mampu mempertahankan kekuasaannya selama-lamanya,” ungkapnya.
Anwar Abbas mengungkap bahwa menurut prediksi pakar, pada tahun 2040/2050, Indonesia akan menjadi negara maju dengan penghasilan bruto tertinggi keempat di dunia. “Yang menjadi pertanyaannya, ketika negeri ini menjadi negara maju siapa yang akan menjadi penentu.”
12 Posisi Strategis
Buya Anwar juga menyebut bahwa kontribusi umat Islam bagi bangsa ini bisa dilihat dari 12 posisi strategisnya: agamawan, cendekiawan, politisi, pengusaha, birokrat, jurnalis, professional, pendidik, pekerja sosial, budayawan, tentara/polisi, yuridikatif.
“Kedua belasnya adalah penentu ritme kehidupan kita berbangsa. Semuanya di tangan umat, tapi kenapa kita tak bisa menjadi penentu, karena ada satu posisi yang tidak kita tempati, yakni pengusaha,” papar Buya Anwar yang juga salah satu Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah tersebut.
Buya Anwar mengingatkan bahwa yang menjadi penentu adalah yang menguasai sumber daya material di Indonesia.
“Jumlah etnis Tionghoa hanya 3% tapi mereka lah yang menjadi penentu. Mereka menguasai kapital dan kemudian dapat menguasai politik,” ungkapnya.
Oleh karena itu, menurut Buya Anwar, umat Islam harus menghijrahkan mentalitas, “dari mental pekerja menjadi mental pengusaha”.
“Sulit bagi kita untuk memajukan bangsa ini selama generasi kita tak memiliki mentalitas pengusaha. Negara tak bisa maju jika tak ada uang. Pendidikan kita tak mengajarkan bagaiman cara mendapatkan uang itu,” imbuhnya.
Buya Anwar pun berharap agar umat Islam segera mengambil langkah agar bisa menjadi penentu saat Indonesia menjadi negara maju. Untuk itu, dia menasehatkan agar membiasakan anak didik untuk berbisnis
“Saya berharap Hidayatullah bisa memulai, melalui jaringan pendidikannya yang sudah tersebar. (Agar kelak) Dari 10 orang terkaya, 9 antaranya dari kalangan Muslim, 6 di antaranya dari Hidayatullah,” pungkasnya.*/Fida A/ Hidayatullah.com
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Dr. Nashirul Haq, mengatakan umat Islam dewasa ini menghadapi tantangan persatuan yang tidak ringan ditengah berbagai gempuran upaya adu domba antar sesama.
“Umat Islam menghadapi kondisi yang tidak menguntungkan barangkali, tidak solid. Dan memang itulah tantangannya,” kata ustadz yang karib disapa UNH ini dalam acara Kuliah Peradaban mengangkat topik “Peran Umat Islam Membangun NKRI Dulu, Sekarang, dan Besok”, digelar secara hibryd yang disiarkan secara langsung di channel Hidayatullah ID, Selasa, 26 Rabiul Awal 1443 (2/10/2021).
UNH menyampaikan itu seraya menukil hadits masyhur yang menceritakan dialog Nabi dengan para sahabatnya. Diuraikan UNH, ketika itu, Nabi bertanya, “idza futihat ‘alaikum faris warrum fa ayyu kaumin antum (kalau kalian sudah menaklukkan Persia dan Romawi, kalian mau menjadi umat seperti apa?
Kemudian, salah seorang sahabat, Abdurrahman bin Auf, menjawab “nakulu kama amarnallah” (tentu kami akan tetap setia dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya). Namun, yang mengagetkan, Nabi menimpali jawaban Abdurrahman itu dengan mengatakan “awa gairu zalik” (jangan jangan tidak demikian atau jangan sampai sebaliknya).
Nabi melanjutkan dengan menyampaikan kekhawatirannya, yaitu jangan jangan malah menjadi umat yang berlomba-lomba mendapatkan jabatan dan materi (tatanafasun), kemudian diantara sesamanya saling hasad, iri, dan dengki (summa tatahasadun), kemudian saling membenci (summa tatabaghadun), lalu kemudian saling membelakangi (summa tatadabarun).
“Memang ini ujian dari Allah dan itu nampaknya sudah menjadi sunnatullah. Makanya, umat Islam yang sangat besar jumlahnya di Indonesia saat sekarang ini tidak memiliki peran yang signifikan,” katanya.
Oleh karena kian lekatnya kecintaa pada dunia, akhirnya umat Islam menjadi bulan bulanan sebagaimana yang ditamsilkan oleh Nabi dalam salah satu haditsnya bahwa umat Islam akan diperebutkan seperti makanan di atas meja padahal jumlahnya dominan.
“Allah akan mencabut rasa takut, segan, musuh-musuh kalian kepada kalian. Karena kalian terkena al-wahn, hubbud dunya wa karahiyatul maut. Jadi, dunia ini yang membuat persatuan umat ini menjadi terganggu,” imbuhnya seraya mengatakan umat kian menyadari pentingnya persatuan.
“Sekarang ini hampir semua ormas mengusung tema al-wasathiyah, tentang bagaimana kita mementingkan kepentingan umat yang lebih besar dibanding kepentingan diri dan golongan. Jangan ada klaim, hanya dia yang berjasa, hanya dia yang berhak menikmati kemerdekaan ini. Inilah tantangan kita,” tukasnya lagi.
Di sisi yang lain, UNH mengemukakan masalah keumatan lainnya dimana sekarang ini ada upaya menghilangkan peran umat Islam dalam buku sejarah yang didesain sedemikian rupa diduga ingin menghilangkan peran umat Islam.
Dalam pada itu, umat juga menghadapai tantangan tidak ringan di bidang pendidikan. Kata UNH, tujuan pendidikan adalah melahirkan anak didik, pertama yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, demokratis, bertanggungjawab.
“Jadi apa yang menjadi tujuan pendidikan nasional, sesungguhnya sangat ideal sekali. Dan, kalau itu diperhatikan, sejalan dengan konsep pendidikan Hidayatullah. Membentuk generasi yang paripurna dari semua aspek, iman, taqwa dan lainnya. Kemudian dari sisi aqliyah berilmu. Dari sisi jasad, sehat. Ibadiyah dan Ijtima’iyah itu juga ada, cakap, kreatif dan bertanggungjawab,” ujarnya.
Di sinilah, terang UNG, Hidayatullah dengan mainstream pendidikan dan dakwah memiliki peran strategis melahirkan anak-anak yang siap memimpin seperti Jenderal Soedirman, melahirkan politisi seperti Pak Natsir, atau mencetak ekonom seperti Haji Samanhudi.
“Jadi benar-benar ada spirit yang kuat. Ada tokoh Islam masa lalu yang menjadi panutan didukung oleh posisi yang ada,” tambahnya.
Hidayatullah kata UNH patut bersyukur yang ditakdirkan belakangan hadir dengan kombinasi gerakan antara NU dan Muhammadiyah. “Ya, mudah-mudahan kita bisa melahirkan generasi-generasi yang siap mengemban kepemimpinan ke depan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut UNH juga menguraikan secara singkat berkenaan dengan peran umat Islam dalam membangun Indonesia sejak di masa jauh sebelum kemerdekaan hingga hari ini dan tantangan di hari esok.
Acara ini dihadiri juga oleh pengajar, ulama, dan ahli ekonomi Islam Indonesia yaitu Dr. K.H. Anwar Abbas. Acara juga akan disiarkan kanal online tivi yang tergabung dalam Hidayatullah Media Network (HMN) yaitu LPPH Gutem, Albayan TV, BMHtv, Posdai TV, Hidayatullah TV, HidDepokTV, dan channel Suara Hidayatullah.(imam/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Gedung Pusat Dakwah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah kembali mengadakan pengajian bertajuk Kuliah Peradaban pada pukul 15:30 WIB digelar secara hibryd yang disiarkan secara langsung di channel Hidayatullah ID, Selasa, 26 Rabiul Awal 1443 (2/10/2021).
Kuliah Peradaban kali ini menghadirkan sosok pengajar, ulama, dan ahli ekonomi Islam Indonesia yaitu Dr. K.H. Anwar Abbas.
Anwar Abbas juga adalah Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dan juga mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.
Bersamanya, juga akan turut hadir menjadi narasumber yaitu Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. K.H. Nashiru Haq, MA.
Acara Kuliah Peradaban yang digelar untuk kali kedua ini mengangkat tema Peran Umat Islam Membangun NKRI Dulu, Sekarang, dan Esok. Pengajian ini akan dipandu oleh Ust Abdul Ghofar Hadi.
Acara juga akan disiarkan kanal online tivi yang tergabung dalam Hidayatullah Media Network (HMN) yaitu LPPH Gutem, Albayan TV, BMHtv, Posdai TV, Hidayatullah TV, HidDepokTV, dan channel Suara Hidayatullah.(ybh/hio)
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — SAR Hidayatullah sukse selenggerakan diklat selama 8 hari di Bandung, Jawa Barat. SAR Hidayatullah adalah lembaga ormas Hidayatullah yang bertugas untuk mengkoordinasikan, memobilisasi sumberdaya dalam tanggap darurat bencana, melakukan mitigasi, kesiapsiagaan bencana, dan rehabilitasi pasca bencana.
Kegiatan pendidikan dan pelatihan SAR Hidayatullah kali ini dilaksanakan selama delapan hari sejak tanggal 23-30 Oktober 2021.
Kegiatan diklatsar ini di ikuti oleh 32 orang peserta yang dilaksanakan di dua tempat, di Pondok Pesantren Hidayatullah Kampus II Soreang dan Situ Cileunca Bandung.
Komandan Pusat SAR Hidayatullah, Irwan Harun Nurdiansyah, dalam keterangannya mengatakan diklat yang telah bergulir di sejumlah wilayah ini merupakan bagian dari program SAR Hidayatullah dalam mempersiapkan sumber daya relawan kemanusiaan yang andal, cakap, dan siaga dalam setiap bencana.
Menurut Harun, Indonesia yang merupakan merupakan negara kepulauan, tidak lepas dari ancaman bencana alam. Bahkab, secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
“Ini yang penting diantisipasi dengan melakukan upaya kewaspadaan ini melalui diklat SAR Hidayatullah,” kata Harun.
Harun menyebutkan, pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa – Nusa Tenggara, dan Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.
Kondisi tersebut, kata dia, sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor.
Mengutip Peta Bencana yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPT) yang disadur dari penelitian Arnold. E.P, dkk berjudul “Southest Asia Association on Seismology and Earthquake Engineering. Indonesia: Series on Seismology Volume V tahun 1986, Harun menyebutkan, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat.
Di satu sisi, wilayah Indonesia yang beriklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan lalu digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Namun, sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan.
Di sisi yang lain, dari tahun ke tahun sumber daya hutan di Indonesia semakin berkurang, sementara itu pengusahaan sumber daya mineral juga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang secara fisik sering menyebabkan peningkatan risiko bencana.
“Karena itu, SAR Hidayatullah, sebagaimana perannya, berupaya untuk selalu memobilisasi sumberdaya dalam tanggap darurat bencana, melakukan mitigasi, dan kesiapsiagaan bencana,” pungkasnya.
Sebelumnya, SAR Hidayatullah juga mennggelar diiklat di DKI Jakarta, Balikpapan, Kalimantan Timur, Mamuju Sulawesi Barat, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Ternate, Maluku Utara, dan mengutus puluhan anggota relawan mengikuti bimtek search and rescue (SAR) yang digelar Basarnas.(ybh/hio)
SORONG (Hidayatullah.or.id) — Anggota DPRD Provinsi Papua Barat Abdullah Gazam melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan gedung BLK Komunitas di Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong, Jln. Supriadi SP3 Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat, Ahad, 24 Rabiul Awal 1443 (31/10/2021).
Turut hadir dalam acara ini jajaran PW PKB Papua Barat, DPW Hidayatullah Papua Barat, PC PKB Kabupaten Manokwari, Ketua DPD Hidayatullah Kota Sorong, Muslimat Hidayayullah Kabupaten Sorong, Fatayat NU Kota Sorong, Pemuda Hidayatullah Kabupaten Sorong, Forum Alumni Hidayatullah Kabupaten Sorong dan wali santri Ponpes Hidayatullah Kabupaten Sorong.
Dalam sambutannya Anggota DPRD Provinsi Papua Barat Abdullah Gazam menyampaikan, bahwa, Alhamdulillah di tahun ini Papua Barat mendapatkan gedung BLK Komunitas dari pemerintah pusat melalui Kementerian Ketenagakerjaan sebanyak 10 paket.
“Dan Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong ini adalah penerima BLK pertama yang melakukan acara pelatakan batu pertama gedung BLK di tahun 2021. Jadi Hidayatullah Kabupaten Sorong selangkah lebih maju,” kata Gazam.
Abdullah Gazam yang juga selaku ketua PW PKB Papua Barat menambahkan mengapa pondok pesantren ini penting untuk mendapat perhatian, karena, terang dia, di pondok pesantren merupakan tempat melakukan pendidikan dan peningkatan SDM tetapi belum atau jarang sekali tersentuh bantuan.
“Sehingga hari ini adalah “sentuhan Allah” yang kiranya akan terus berkelanjutan kedepan. Karena pondok pesantren juga membutuhkan perhatian yang lebih dari kita semua termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, provinsi dan kabupeten kota,” katanya.
Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong Ust. Anang Ma’ruf, S.Pd.I dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas bantuan Gedung BLK Komunitas, jurusan Komputer yang diberikan oleh pemerintah ini.
“Kiranya bantuan ini bukan bantuan yang pertama dan terakhir, masih banyak yang kami perlulan untuk menunjang pendidikan di pondok pesantren ini terutama gedung asrama,” imbuh Anang.
Kata Anang, karena minimnya asrama yang ada sehingga ditahun ini pihaknya mengalihfungsikan dua ruang kelas menjadi asrama sementara.
“Semoga melaui anggota dewan provinsi bisa memberikan perhatian berkelanjutan untuk Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong ini,” pungkasnya seraya menyebut Abdullah Gazam.
Disela acara ini dilakukan pelantikan Ketua Forom Alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong yang baru terbentuk sehari sebelumnya dan menunjuk Ust Raju Atid Sewu, SH sebagai ketua.
Diharapkan dengan terbentuknya Forum Alumni ini bisa mempererat Ukhuwah dan bisa menjadi wadah untuk merangkul seluruh alumni yang tersebar di seluruh Indonesia.
Acara dilanjutkan dengan simbolis peletakan batu pertama dan meninjau lokasi Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong yang masih terus melakukan pengembangan.*/Miftahuddin
JIKA ia seorang Mukmin, shalatnya hadir menemani di daerah kepalanya. Puasa di samping kanan dan zakatnya di samping kiri. Perbuatan lain seperti infak, silaturrahmi, amar makruf, dan akhlak baiknya ada di kakinya.
Kemudian dua malaikat datang dari sebelah kepala. Shalatnya berkata, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.” Malaikat tadi pindah ke sisi kanannya, dan dicegat oleh puasanya, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.” Mereka pindah ke samping kiri. Dijawab oleh zakat, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.”
Lalu mereka mendatangi dari sebelah kaki. Sedekah, silaturrahmi, amar makruf, dan akhlak baiknya, mencegat, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.” Akhirnya mereka berkata, “Duduklah.” Ia duduk mendekat seperti matahari yang hendak tenggelam. “Biarkan aku shalat,” pintanya.
“Kamu mau shalat? Beritahu kami tentang beberapa hal yang akan kami tanyakan. Apa yang engkau ketahui tentang lelaki yang dahulu pernah bersamamu? Apa yang kaukatakan tentang lelaki yang dahulu pernah bersamamu? Apa yang engkau katakan tentangnya, dan bagaimana persaksianmu terhadapnya?”
Ia menjawab, “Dia adalah Muhammad. Kami bersaksi bahwa dia Rasulullah. Datang membawa kebenaran dari Allah.“ Dikatakan kepadanya, “Atas keyakinan itu kamu hidup dan atas keyakinan itu pula kamu akan dibangkitkan, insya Allah.” Kemudian dikabulkanlah pintu surga. Dikatakan padanya, “Inilah tempat yang telah Allah janjikan padamu.”
Ia menjadi gembira dan bertambah riang. Kuburnya diluaskan hingga tujuh puluh hasta dan disinari cahaya terang. Jasadnya dikembalikan sebagaimana semula. Ruhnya diletakkan dalam hembusan burung yang bergantung di surga.
Inilah yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala;
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS Ibrahim: 27).
Lalu disebutkan keadaan orang kafir yang bertolak belakang. Ia berkata, “Kuburnya disempitkan sehingga hancur tulang-tulangnya. Itulah “Kehidupan sempit” yang dimaksud dalam firman Allah:
“Baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 16).
Abu Dzar Al-Ghifari berkata, “Wahai manusia, aku adalah penasehat bagimu. Aku merasa kasihan kepadamu. Dirikanlah shalat di kegelapan malam untuk menghadapi dahsyatnya alam kubur. Berpuasalah di dunia untuk menghadapi hari kebangkitan dan bersedekahlah untuk menghadapi hari yang berat. Wahai manusia, aku adalah penasehat bagimu. Aku merasa kasihan kepadamu.” (Tarih Dimasyqa, 22/214).*/Hidcom