MANSEL (Hidayatullah.or.id) — Kepala Seksi (Kasi) Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua Barat, Edy Yorkuran, S.HI dan Kasi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas) Islam, Penyelenggara Pendidikan, dan Haji Kemenag Manokwari Selatan, Hj. Damayanti Rambe, S.Sos, melakukan kunjungan kerja ke Yayasan Peduli Insan Kampus Hidayatullah Manokwari Selatan (Mansel) beralamat Jl. Kenangan, RT. 01 RW. 01, Kampung Margorukun, Kamis, 27 Zulhijjah 1442 (5/8/2021).
Yayasan Peduli Insan Kampus Hidayatullah Manokwari Selatan menjadi yayasan perdana di tahun 2021 di Kabupaten Manokwari selatan yang dikunjungi.
Kunjungan ini dipandu oleh Ketua Pembina Yayasan Peduli Insan Pondok Tahfidz Hidayatulllah Ust. Sulton S.Pd.I. Acara silaturrahim dan silatul informasi dalam kunjungan kerja Kemenag di Pondok Tahfidzh Hidayatullah ini berlangsung khidmad dan penuh kekeluargaan.
Dalam kesempatan ini, Ketua Yayasan Ust. Maghfuri, S.Pd menyampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada pihak Kanwil Kemenag Papua Barat dan Kemenag Mansel atas silaturrahimnya serta arahannya agar keberadaan Pondok Tahfidz Hidayatullah Yayasan Peduli Insan Mansel ini dapat diakui bukan hanya secara de facto tapi juga secara de jure sesuai peraturan yang berlaku.
“Ibu-Bapak, antusias masyarakat akan keberadaan pondok tahfidz ini sangat besar, mulai dari wakaf tanah, bantuan material, dukungan moril tokoh masyarakat, tokoh adat dan lain sebagainya, sehingga dalam waktu beberapa bulan atau insya Allah kurang dari setahun rumah ustadz, mushalla, dan asrama telah berdiri di tanah wakaf ini,” lanjut Maghfuri.
Sambil mengamati master plan yayasan yang terpampang di dinding depan mushalla pondok, Kasi Pendis berpesan untuk kedepan, yayasan melengkapi pondok tahfidz dengan pendidikan madrasah agar pendidikan secara formalpun tetap berjalan di lingkungan pondok.
Diakhir acara diskusi, dilakukan acara serah terima berkas awal yang selanjutkan akan disempurnakan oleh pihak yayasan sebagai bentuk Komitmen yayasan bersinergi dan taat aturan dalam menjalankan amanah dakwah di Kabupaten Mansel tercinta.*/Miftah
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru dan Tata Usaah (TU)/ Admin, Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Depdikdasmen) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan latihan (diklat) online jenjang SD/MI hingga SMA/MA/SMK jaringan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) Hidayatullah Jawa Timur.
Penanggungjawab acara, Baijuri, M.Pd, mengatakan pandemi covid-19 yang telah berlangsung hingga saat ini yang turut mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.
Hal ini menurutnya menjadi tantangan yang tidak ringan bagi dunia pendidikan, sehingga lembaga pendidikan harus melakukan peningkatan kualitas proses pembelajaran maupun administrasi sekolahnya.
DPW Hidayatullah Jawa Timur sebagai barometer pendidikan Hidayatullah nasional merespon dengan gerak cepat untuk melakukan diklat online untuk guru dan TU/Admin SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA jaringan PIBT Hidayatullah Jawa Timur yang digelar secara berjenjang pada tanggal 2-21 Agustus 2021.
“Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan blended learning sebagai proses pembelajaran dengan menggunakan aplikasi milik Google dan menstandarisasi administrasi sekolah dan madrasah,” kata Baijuri.
Disamping itu juga, lanjut Baijuri, kegiatan diklat online ini bermanfaat untuk seluruh guru dan TU/Admin SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA jaringan PIBT Hidayatullah Jawa Timur dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran maupun administrasi sekolah.
Kegiatan yang bertemakan “Standarisasi Proses Pembelajaran dan Administrasi Menghadapi Pendidikan Era 5.0” diikuiti 221 peserta dengan rincian 170 guru, 41 TU dan diisi dua pemateri yaitu Adi Purwanto, M.Pd (Ketua Depdik DPW Hidayatullah Jawa Timur) dan Agung Prayoga, S.Pd (Bidang Akademik Depdik DPW Hidayatullah Jawa Timur).
Di akhir acara, sebagai tindak lanjut, diberikan sejumlah penugasan dan evaluasi hasil tugas secara kontinyu. (ybh/hio)
Suasana silaturrahim nasional atau Silatnas Hidayatullah yang dulu dikenal dengan usrah. Acara ini digelar kali pertama pada tahun 1973 di Karang Bugis, Balikpapan.
Oleh Mahladi Murni
Keinginan KH Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, untuk membangun sebuah kampung pengkaderan semakin kuat manakala menyaksikan fenomena pemberontakan G 30 S PKI tahun 1965. Sebelum pemberontakan itu terjadi, tulis Mansyur Salbu dalam buku Mencetak Kader, tokoh-tokoh PKI sebenarnya telah diberangus. Namun, mereka berhasil bangkit dan membangun kembali kekuatan dengan cara menyusup ke semua organisasi yang ada ketika itu.
Abdullah Said berpendapat, penyusupan seperti ini amat berbahaya. Hanya organisasi yang memiliki ikatan emosional yang kuat saja yang bisa membendungnya. Dan, ikatan emosional yang kuat hanya bisa dibentuk dari kegiatan pengkaderan.
Namun, wadah pengkaderan tersebut bukan seperti training centre di mana orang akan datang dan pergi. Wadah tersebut harus berwujud perkampungan di mana orang-orang akan menetap.
Bahkan, menurut Abdullah Said, di perkampungan itulah syariat Islam bisa ditegakkan secara baik sebagaimana perkampungan yang dibangun oleh Sheikh Sidi Abdullah di Desa Syanggit, Libya.
Cita-cita membangun perkampungan seperti ini sebenarnya pernah pula dilontarkan oleh KH Mas Mansur saat Kongres Muhammadiyah ke-29 di Yogyakarta tahun 1941. Di kongres itu, Mas Mansur bercerita panjang lebar tentang lembaga pendidikan yang dilihatnya di Syanggit, desa yang sama dengan apa yang diidam-idamkan oleh Abdullah Said.
“Mungkinkah Muhammadiyah membuat lembaga pendidikan seperti itu?” tanya Mas Mansur kepada peserta kongres saat itu.
Usulan Mas Mansyur ternyata disetujui oleh kongres. Namun, wujudnya tidak sama dengan apa yang diusulkan Mas Mansur. Lembaga pendidikan yang dibuat berbentuk Perguruan Tinggi Islam (Universitas Muhammadiyah) sesuai usulan Konsul Muhammadiyah Surakarta, Mulyadi Joyomartono.
Belajar dari kisah Mas Mansur ini, Abdullah Said sadar bahwa tak mudah mewujudkan rencana yang ia cita-citakan. Keadaan di Syanggit berbeda dengan di Indonesia. Syeikh Sidi, pemilik Syanggit, adalah orang kaya. Ia menyumbangkan semua hartanya untuk perjuangan, bukan meminta sumbangan dari orang lain. Di Indoensia, figur seperti ini sangat sulit dijumpai ketika itu.
Namun, tekad Abdullah Said sudah bulat. Ia memang bukan saudagar kaya sebagaimana Syeikh Sidi. Ia hanya punya semangat dan keyakinan bahwa Allah Ta’ala akan menolong hamba-Nya yang berjuang menegakkan agama-Nya. Ia juga rela hidup sederhana.
Rupanya, jalan yang harus ia tempuh untuk mewujudkan cita-cita ini tak mudah. Gelombang kehidupan yang awalnya hanya berupa riak-riak kecil, memaksanya untuk meninggalkan kampung halamannya di Sulawesi Selatan. Di penghujung tahun 1969, ia hijrah ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Inilah skenario Allah Ta’ala yang terbaik. Justru di tempat hijrah inilah ia semakin dekat dengan cita-cita itu.
Tiba di Balikpapan, setiap hari Abdullah Said mengamati kehidupan beragama masyarakat di sana. Yang ia dapati hanya kegersangan. Masyarakat terlalu jauh tenggelam dalam kehidupan yang hedonis. Anak-anak muda lebih tertarik kepada materi ketimbang urusan akhirat. Kota Minyak itu terasa panas.
Dari pengamatan itu, Abdullah Said mulai berpikir tentang cara mencetak kader. Ia sadar, cita-citanya membangun sebuah kampung pengkaderan tak bisa dilakukan sendirian. Ia perlu “pasukan” yang siap mengorbankan dirinya untuk berjuang di jalan Allah Ta’ala.
Lantas, bagaimana cara merekrut anak-anak muda di sana? Abdullah Said yang pernah bergelut di organisasi Muhammadiyah itu memutuskan untuk menggunakan metoda pelatihan (training)
Namun, metoda ini hanya sekadar cara untuk merekrut kader. Cita-cita Abdullah Said tetap ingin membangun sebuah kampung pengkaderan, bukan sekadar membangun sebuah pusat pelatihan (training center).
Rupanya, kepiawaian berceramah yang diberikan Allah Ta’ala kepada Abdullah Said menjadikan ia tak merasa sulit mengajak anak-anak muda tersebut bergabung bersamanya. Hanya saja, Abdullah Said merasa itu saja belum cukup. Beliau masih harus mengajak sejumlah anak muda berpengalaman dari Tanah Jawa untuk ikut berjuang bersamanya di sini.
Lagi-lagi, Allah Ta’ala memberi jalan kemudahan baginya. Tercatatlah sejumlah nama seperti Hasan Ibrahim, santri Pesantren Krapyak yang belajar di Akademi Tarjih Muhammadiyah, Muhammad Hasyim HS, yang pernah nyantri di Pondok Modern Gontor, dan Muhammad Nazir Hasan yang ketika itu juga sedang belajar di Akademi Tarjih Muhammadiyah, semua bersedia membantu Kiai Abdullah Said mewujudkan impiannya membangun kampung perkaderan di Balikpapan.
Tanggal 1 Muharram 1393 Hijriyah atau 5 Februari 1973, Allah Ta’ala menganugerahkan kepada Abdullah Said sebuah tempat di Karang Bugis, Kalimantan Timur, yang kemudian menjadi sebuah pesantren dan diberi nama Hidayatullah.
Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Hidayatullah meskipun pusat pembinaan kemudian dipindahkan dari Karang Bugis ke Gunung Tembak pada 1976. Dari Gunung Tembak inilah justru cerita tentang Hidayatullah dimulai.
Tekad untuk mewujudkan cita-cita membangun sebuah kampung perkaderan semakin menguat ketika Kiai Abdullah Said mendapat suntikan semangat dari Buya Hamka saat berkunjung ke Balikpapan. “Teruskan usaha ini Nak. Ini adalah usaha yang mulia,” ujar Buya Hamka sambil menepuk-nepuk bahu Abdullah Said.
Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, cita-cita Abdullah Said bukan lagi sekadar membangun kampung perkaderan, namun membangun peradaban Islam. Cita-cita ini tertulis jelas dalam visi organisasi Hidayatullah yang dirumuskan kemudian. (Bersambung)
SEBENTAR lagi Hidayatullah memasuki usia ke-50 tahun pada 1 Muharram 1443 nanti, sejak dirintis pada 1 Muharram 1393 Hijriyah atau tanggal 5 Februari 1973 di Balikpapan. Di usianya yang setengah abad ini, Hidayatullah harus tetap on the track dengan pembawaannya yang khas sebagai “kapal umat”.
Sebagai kapal umat, maka Hidayatullah memposisikan dirinya sebagai mediator dan pemersatu yang merangkul siapapun dari umat Islam dalam mengarungi bahtera Ilahi yang penuh kenikmatan, karena, memang, Islam adalah agama yang menawarkan kegembiraan yang luar biasa.
Hidayatullah harus jadi kapalnya umat yang besar kokoh dan kuat. Disamping ia juga menyadari bahwa dalam mengarungi bahtera perjuangan ini, tidak melulu angin sepoi nan sejuk yang datang menerpa, justru seringkali gelombang besar yang datang menggoyang.
Kapal memang perlu besar dan kokoh agar kuat menempuh perjalanan, apalagi menempuh masa yang panjang. Tapi, ingat, kita jangan disibukkan membikin kapal yang mewah. Jangan kita disibukkan membikin kapal yang bagus tapi kurang serius mencerahkan penumpang.
Jangan-jangan setelah kapal jadi dengan sempurna dengan segala kemewahannya, mereka tidak mau naik kapal yang kita bikin, karena mereka bisa membangun perahu sendiri, membikin sekoci sendiri dan merasa bisa menyelamat diri sendiri.
Kapal nabi Nuh dibangun di atas gunung atas perintah Allah. Untuk menyelamatkan manusia dari banjir super bandang yang akan terjadi. Kelak kemudian banjir itu benar benar menenggelamkan bumi dengan semua isinya. Hanya nabi Nuh dan makhluk yang ada dalam kapal yang selamat.
Nabi Nuh memang menghadapi ujian dakwah yang teramat berat, bahkan ia harus menghadapi langsung pembangkangan yang dilakukan anak dan istrinya dengan penuh kesabaran.
Nuh tidak menyerah tapi tenaganya sudah tak kuasa untuk bertahan. Dakwah Nabi Nuh pun sudah mentok, sudah tidak ada cara lagi untuk mengingatkan umat saat itu agar mau menyembah Allah.
Nabi Nuh dengan penuh kesabaran saban hari mengingatkan umatnya yang bandel itu agar tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka juga diingatkan agar tidak mencintai dunia melebihi cintanya pada akhirat.
Dan ternyata, hanya sedikit yang mengindahkan ajakan Nabi Nuh, itupun sebagian besar dari mereka adalah orang yang lemah, yang terpinggirkan yang tidak punya pengaruh di masyarakat.
Padahal, Nabi Nuh bedakwah selama hampir seribu tahun, siang dan malam, kepada semua orang, hampir tidak ada rumah yang tidak didatangi Nabi Nuh.
Hampir semua penduduk saat itu pernah ditemui Nabi Nuh untuk diseru ke jalan yang benar. Hasilnya; Nuh dikucilkan, seruannya dicibir, bahkan jiwa raganya diancam. Hingga akhirnya ketentuan Allah datang.
Ada yang bertamsil dengan berpendapat, bahwa Hidayatullah layaknya perahu Nabi Nuh yang bertujuan untuk menyelamatkan umat agar tidak tenggelam dalam kesesatan.
Dengan “kapal” yang memuat pengajaran dan pelita penerang, Hidayatullah ingin mengeluarkan umat dari himpitan persoalan-persoalan dunia dan akhirat. Hal ini adalah kewajiban jama’ai sekaligus infirodi. Ini tugas seorang khalifah, tugas para penerus Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad SAW, hingga kita hari ini.
Hidayatullah punya kewajiban untuk menebar risalah Islam dari Allah SWT ini agar manusia bahagia hidupnya dan jauh dari kerisauan, kedengkian, dan tidak merana hatinya, karena, dengan Allah sudah cukup baginya.
Kita perlu meneladani usaha seperti yang dilakukan oleh Nabi Nuh yang membikin perahu dengan kerja keras siang malam selama hampir 1000 tahun demi menyelamatkan umat, lalu bagaimana dengan usaha kita? Apakah kita sudah melakukan kerja kerja itu? Kalau sudah, apakah kita sudah bersungguh-sungguh dalam melakukannya?
Jawabannya tentu bukan di dalam tulisan ini tetapi akan dibuktikan oleh perjalanan kita selanjunya pada tahun tahun mendatang. Selamat berjuang, selamat Milad Hidayatulllah yang ke 50 tahun.
USIA 50 tahun bagi sebuah gerakan Islam (ormas/harakah) dalam konteks Indonesia, bisa dibilang masih muda, meskipun juga ada yang menganggap telah dewasa. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.
Jika dikelompokkan berdasarkan periodesasi sejarah bangsa ini, maka setidaknya ormas Islam di Indonesia di bagi dalam 4 (empat) tahapan, yaitu: lahir pra-kemerdekaan, lahir paska kemerdekaan (Orde Lama), lahir masa Orde Baru, dan lahir di Era Reformas dan sesudahnya.
Sehingga, jika menilik katagorisasi ini, maka Hidayatullah yang lahir pada 1 Muharam 1393 H atau bertepatan dengan 5 Pebruari 1973 itu, merupakan ormas yang lahir di awal Orde Baru.
Mantan Wapres RI, M Jusuf Kalla, dalam beberapa kesempatan selalu mengulang pernyataannya bahwa Hidayatullah merupakan ormas Islam di Indonesia yang tercepat pertumbuhannya. Beliau juga menyampaikan bahwa, Hidayatullah selalu hadir di tempat-tempat yang terpencil, terisolir dan tertinggal.
Pernyataan tersebut, bukan hanya pemanis bibir. Akan tetapi, menjadi terkonfirmasi, jika melihat sebaran jaringan Hidayatullah, hingga saat ini di 34 Propinsi, 374 Kabupaten/Kota, 310 Sekolah, 620 Pesantren dlsb. Sehingga, dari data-data tersebut menunjukkan bahwa sebagai organisasi,Hidayatullah senantiasa tumbuh dan berkembang. Tidak jumud maupun stagnan.
Fakta tersebut, sekaligus menjawab dan menggugurkan analisa beberapa pihak yang memprediksi dengan bermacam argumen, bahwa Hidayatullah akan mati, bersamaan dengan meninggalnya pendirinya. Akan tetapi kenyataan membuktikan lain. Bahwa pascawafatnya muassis Hidayatullah, Allahuyarmam KH. Abdullah Said tahun 1998, ternyata Hidayatullah terus bertumbuh dan semakin ekspansif.
Hal ini menegaskan dan membuktikan bahwa, nilai-nilai dan khiththah perjuangan, berhasil beliau tanamkan dengan sangat baik, kepada kader-kader terbaiknya, di semua lini. Sehingga mampu mengkonsolidasikan jama’ah menjadi sebuah organisasi yang solid.
Kader adalah Kunci
Sebagai organisasi masa yang berbasis kader, sebagaimana ditegaskan dalam Pedoman Dasar Organisasi (PDO), maka inti dari kekuatan dari Hidayatullah itu sesungguhnya terletak pada kader-kadernya. Sejak awal lembaga ini berdiri, maka kader-kader Hidayatullah merupakan mujahid dakwah yang siap disebar dan ditebar ke berbagai penjuru mata-angin.
Dengan semboyan sami’na wa atho’na, tanpa tapi tanpa nanti. Mereka adalah para du’at yang siap mengemban risalah dakwah dimanapun berada. Meski dengan modal keilmuan yang terbatas dan bekal yang sangat minim. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana mampu melahirkan kader militan seperti itu?
Jawabnya adalah terletak pada perkaderannya. Dalam proses perkaderan, maka peran pengkader menjadi lebih dominan dibanding materi dan metode perkaderan itu sendiri.
Murabbi, merupakan sosok yang memberikan tauladan, yang bisa dilihat dan dicontoh oleh mad’u-nya. Sehingga transfer of value dalam hal ini, sesungguhnya lebih dominan dibanding transfer of knowledge.
Penanaman akidah yang kemudian menjadi dasar bagi kader untuk berkarya, dipadukan dengan bekal ruhiyah, melalui riyadhah dengan melakukan ibadah mahdhoh dan ghairu mahdhoh yang intens langsung dibimbing, dicontohkan dan dikontrol oleh masing-masing murabbi. Dan inilah, sebenarnya menjadi substansi dari perkaderan itu. Celupan (sibghah) dari murabbi sebagai pengkader, langsung dipraktekkan dalam keseharian kehidupan dan aktifitas kader.
Organisasi dan Kepemimpinan
Hal lain yang tidak kalah penting adalah, bagaimana Hidayatullah mampu mengkonsolidasikan diri dalam sebuah organisasi modern tetapi tanpa meninggalkan turats. Meskipun secara struktur mengalami perubahan, namun tidak merubah substansinya.
Dari sini, kearifan dan kebijaksanaan kader-kader senior dalam membimbing kader-kader yang lebih muda, memiliki peranan penting dalam menyusun bangunan organisasi yang sesuai dengan jamannya. Sehingga mampu melahirkan sebuah organisasi yang lincah disatu sisi, disisi lain adalah dengan adanya struktur ini, menjadikan kepemimpinan dalam organisasi itu sendiri menjadi lebih efektif dan efisien.
Selanjutnya hasil dari proses perkaderan sebagaimana diuraikan di atas, adalah melahirkan kader-kader yang ta’at, berkarakter, berintegritas dan berkomitmen dalam dakwah Islam. Sehingga dengan mudah para kader tersebut beradaptasi dengan struktur organisasi dimanapun ditugaskan.
Juga termasuk amanah di amal usaha dan badan usaha Hidayatullah. Dengan demikian maka program-program Hidayatullah dapat dieksekusi dengan efektif dan efisien. Dan inilah yang menjadikan Hidayatullah tetap eksis hingga kini.
Tantangan ke Depan
Pencapaian setengah abad pertama Hidayatullah tersebut di atas merupakan manivestasi dari implementasi visi dan misi organisasi. Sudah barang tentu patut disyukuri. Dan masih banyak yang harus ditingkatkan dan diperbaiki.
Akan tetapi, tantangan kedepan merupakan sebuah keniscayaan. Sehingga ke depan, organisasi dituntut untuk tidak hanya sekedar mampu merespons dinamika keummatan, akan tetapi mampu menjawab dan memberi solusi problematika keummatan itu sendiri.
Olehnya, kedepan organisasi dituntut untuk melahirkan dan menciptakan kader-kader yang mampu menjawab tantangan jaman tersebut. “Mesin-mesin” perkaderan ini mesti dibangun dengan berbagai model, untuk mencetak dan melahirkan kader-kader sebagaimana yang diinginkan tersebut. Selanjutnya Organisasi mengkonsolidasikan, menjadi kekuatan umat.
Sudah barang tentu hal ini bukan perkara mudah. Akan tetapi dengan semakin tumbuhya organisasi, ternyata berbanding lurus dengan peningkatan kuantitas dan kualitas kader. Disinilah diperlukan kejelian untuk memilih dan memilah serta menangkap peluang ini, agar organisasi terus bertumbuh dan sustain.
Dengan demikian, tema setengah abad Hidayatullah: Bersama Umat Membangun Bangsa Bermatabat akan terwujud. Dan ini akan menginspirasi pada peringatan seabad kelak, dengan tema menjadi : Bersama Umat Membagun Dunia Bermartabat. Wallahu a’lam.*
*Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah. Artikel ini sebelumnya telah tayang di Hidayatullah dot com
SYANGGIT adalah sebuah desa di Libya, tepatnya di sebelah selatan kota Tripoli. Dari desa inilah kita memulai cerita panjang tentang sebuah harakah bernama Hidayatullah. Harakah yang lahir pada 1 Muharam 1393 H ini akan genap berusia setengah abad pada beberapa hari mendatang, yakni pada 1 Muharram 1443.
Desa Syanggit menjadi inspirasi awal bagi Ustad Abdullah Said, sang pendiri Hidayatullah, untuk membangun sebuah kampung peradaban Islam yang sekarang berdiri di Desa Gunung Tembak, Kalimantan Timur.
Seperti apa gambaran Desa Syanggit? KH Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah yang hidup pada kurun 1896-1946 M ini pernah mengunjungi desa tersebut saat beliau belajar di Mesir, lalu menuliskannya dalam buku kumpulan tulisannya berjudul Mutu Manikam. Buku ini yang kemudian dibaca oleh Mukhsin Kahar, nama asli Abdullah Said ketika ia masih muda.
Desa Syanggit dipimpin seorang ulama bernama Sheikh Sidi Abdullah. Desa ini dihuni oleh 5 ribu santri. Mereka tinggal di sebuah asrama besar yang terdiri atas 100 kamar yang luas.
Kegiatan para santri Syanggit dimulai pukul 04.00, sebelum azan Shubuh berkumandang. Santri-santri ini bangun, bersiap diri menjalankan shalat Subuh. Shalat diimami langsung oleh Sheikh Sidi.
Setelah shalat Subuh, para santri masuk ke kamarnya masing-masing. Biasanya mereka tak tidur lagi. Mereka mengulang-ulang pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya, kemudian mempersiapkan diri untuk mengikuti pelajaran di kelas.
Pukul 07.00 pelajaran dimulai hingga pukul 10.00. Selama tiga jam ini mereka berada di ruang kelas. Setelah itu mereka diperbolehkan belajar di luar kelas.
Ada yang pergi ke tepi sungai, ada juga yang duduk di bawah pohon. Mereka membawa buku pelajarannya masing-masing. Kegiatan di luar kelas ini berlangsung hingga tiba waktu Zhuhur.
Setelah shalat zuhur, mereka makan siang. Setelah itu mereka tidur hingga pukul 15.30. Usai shalat ashar mereka latihan pidato dan berdebat.
Antara shalat Maghrib dan Isya mereka diberi kebebasan untuk beribadah sendiri-sendiri. Ada yang tadarrus al-Quran, wirid, tafakkur, berdiskusi tentang hadits, ada juga yang menulis.
Ba’da Isya mereka mengikuti pelajaran akhlak hingga pukul 23.00. Setelah itu, santri-santri shalat tahajjud hingga pukul 24.00. Usai shalat tahajjud barulah santri-santri diperkenankan masuk kamar masing-masing untuk tidur.
Demikian kegiatan penghuni desa ini setiap hari. Khusus pada hari Jumat mereka berolah raga: menunggang kuda, berenang, dan latihan perang-perangan.
Di tengah desa terdapat sebuah sungai. Di sekitar sungai itu penuh tanaman kurma dan tin. Ada juga ladang gandum.
Desa ini memiliki 100 ekor sapi dan 250 ekor kambing peliharaan. Ada juga beberapa ekor unta dan kuda. Itu semua milik Syeikh Sidi.
Santri-santri setiap pagi mendapat suguhan segelas susu sapi. Pada tengah hari mereka mendapat lagi satu gelas susu sapi dengan satu potong roti, keju, serta zaitun.
Ba’da ashar santri-santri tersebut mendapat gorengan korma beserta secangkir susu kambing. Ba’da Isya mereka mendapat lagi suguhan setengah potong roti, tiga buah tin, dan setengah gelas susu sapi.
Lama belajar di pondok ini sekitar 5 tahun. Di antara 5 ribu santri, ada 500 orang penghafal Qur’an, dan hampir 1.000 orang yang menghafal kitab Muwatta karangan Imam Malik.
Gedung perpustakaannya cukup besar, tapi tidak ada buku filsafat. Kitab Ihya’ Ulumuddin juga tidak didapati pada deretan buku-buku di perpustakaan itu.
Kalau ada santri yang sakit dikeluarkan dari pondok untuk ditempatkan di ruang perawatan dan ditemani 2 orang yang ditunjuk oleh si sakit.
Semua santri pandai berenang dan menunggang kuda. Dan, hebatnya lagi, tak ada satupun penghuni pondok yang terlihat merokok. Sebab, merokok memang dilarang keras di tempat ini.
Uniknya lagi, tak seorang pun perempuan terlihat di desa itu. Bahkan, anak-anak perempuan sekalipun. Seolah-olah desa ini adalah desa laki-laki.
Kalau ada santri yang telah lulus, Syeikh Sidi mengadakan syukuran untuk menjamu seluruh santri dengan memotong 3 ekor sapi dan 5 ekor kambing. Santri-santri yang lulus tersebut diantar oleh Syeikh Sidi, seluruh guru, dan para santri hingga keluar desa. Di kala akan berpisah, mereka semua meneriakkan takbir.
Inilah desa pengkaderan yang diidam-idamkan oleh KH Abdullah Said. Menurut penuturan Ustad Mansyur Salbu, sahabat Abdullah Said, dalam bukunya berjudul Mencetak Kader, Abdullah Said berencana membangun perkampungan semacam itu di Indonesia, meskipun tidak betul-betul persis seperti itu.
Di desa itulah para ulama dan pakar akan berkumpul dan mengajar. Mereka semua menetap di sana, dibangunkan rumah tinggal yang nyaman, dan dicukupi biaya hidup mereka.
Di desa itu pula syariat Islam akan ditegakkan. Pergaulan antar masyarakat akan diatur, pernikahan akan dimudahkan.
Di sana juga akan disiapkan perkebunan dan peternakan kambing dan sapi. Lingkunganya akan ditata rapi sehingga penghuninya akan betah berlama-lama tinggal di sana.*/Mahladi Murni (bersambung)
KEHADIRAN Hidayatullah (1 Muharram 1392 H) erat kaitannya dengan kesadaran akan tantangan keumatan yang membutuhkan spirit juang yang tidak saja kuat, kokoh, modern dan sistematis, serta rapi, tetapi juga berlandaskan pada manhaj nabawi.
Manhaj Nabawi yang dimaksud ialah bagaimana Allah SWT secara langsung mentarbiyah Nabi Muhammad ﷺ melalui 5 surat Alquran yang turun di awal kenabian, sehingga lahir keteladanan, kemampuan membaca dengan mendalam dalam bingkai Iqra’ bismirabbik, akhlak mulia, dan tentu saja visi berquran yang kokoh, spirit dakwah yang tangguh dan ibadah yang tak kenal lelah.
Semua itu pada akhirnya mampu mendorong lahirnya satu komunitas, bahkan masyarakat yang berperadaban yang tegak di atas nilai-nilai iman dan juga sangat progresif di beragam bidang kehidupan yang memungkinkan pencerahan dan ekspansi kebaikan dapat terus digulirkan, yakni masyarakat Madinah.
Jika melihat sisi konsepsi dakwah dan tarbiyah yang dipilih dan dikuatkan bahkan diteladankan oleh Ustadz Abdullah Said di dalam gerakan keumatan Hidayatullah, sudah jelas, dimensi individu saja harus siap berjibaku dengan penempaan diri yang demikian “ketat” secara ruhiyah.
Terlebih kala tiba waktu untuk tandang ke gelanggang, jelas, kesiapan dan kekokohan spiritual yang di dalamnya meliputi akhlak dan visi, kemudian ibadah dan dakwah, idealnya benar-benar tegak, sehingga sampailah diri pada satu kondisi mental bahwa tidak ada yang mawjud, melainkan Allah Ta’ala.
Dan, sebagaimana ditegaskan para ulama bahwa iman itu naik dan turun, jelas, kesadaran dakwah dan tarbiyah dalam realitanya menuntut satu kesadaran spirit juang menempa diri yang tak kenal kata final hingga tiba ajal.
Komitmen Pemuda Hidayatullah
Bercermin pada basis yang menjadikan KH Abdullah Said sukses membangun gerakan dakwah dan tarbiyah dengan organisasi bernama Hidayatullah, maka Pemuda Hidayatullah sangat penting memahami nilai dasar itu (basis) sebagai energi pembentuk karakter dan kepribadian. Di saat yang sama amatlah penting menjadikan kekayaan yang bernama manhaj nabawi sebagai pola transformasi dalam gerakan dakwah dan tarbiyah di tengah-tengah umat.
Oleh karena itu, tagline yang diangkat oleh Pemuda Hidayatullah adalah Progresif Beradab, sebuah spirit untuk terus menghadirkan kemajuan, baik pada skala pribadi hingga gerakan dakwah dan masyarakat itu sendiri.
Progresif berarti menjalankan amanah Nabi Muhmammad ﷺ bahwa bagaimana setiap hari kita bisa terus berproses menjadi pribadi yang senantiasa lebih baik. Disaat yang sama gerakan dakwah dan tarbiyah juga terus mengalami kemajuan demi kemajuan yang komprehensif.
Oleh karena itu, komitmen ini dihadirkan dalam tiga program utama yang sejak 2020 telah digulirkan, yakni pelatihan kepemimpinan untuk generasi muda bangsa, kemudian pendidikan Al-Quran bersanad untuk anak-anak muda, serta training literasi dengan target dapat digelar di setiap kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Akhlak dan Ketangguhan Wacana
Jika ditanya apa goal dari gerakan Pemuda Hidayatullah maka jawabannya ada dua. Pertama kemuliaan akhlak. Kedua, ketangguhan wacana.
Akhlak menjadi pusat gerakan tarbiyah sekaligus dakwah. Sukses tidaknya dakwah dan tarbiyah bisa dicek melalui akhlak yang melekat pada diri setiap kader dan anggota.
Akhlak tentu tidak dalam makna sebatas etiket, tetapi juga adab sekaligus etos, sehingga kala dikatakan berakhlak, maka dia profesional dalam amanah keprofesian, tangguh dalam amanah keorganisasian, berdaya tahan tinggi dalam segala macam rintangan mencerdaskan umat.
Kemudian ketangguhan wacana. Sebagian orang masih memandang wacana sebagai hal yang tidak penting, padahal disadari atau tidak, semua yang beredar di era digital dan menjadi bahasan banyak orang semuanya bersifat wacana.
Diantara arti wacana ialah kemampuan berpikir secara sistematis, kemampuan memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat, dan pertukaran ide secara verbal. Jadi, ketangguhan wacana berarti menghendaki Pemuda Hidayatullah tampil sebagai juru bicara-juru bicara peradaban.
Dan, menuju kepada idealitas tersebut, sekali lagi tak cukup sebatas kecerdasan, pendidikan tinggi dengan beragam gelar akademik, tetapi kesadaran jiwa akan nilai dasar Islam kemudian konsistensi di dalam mengemban nilai-nilai luhur ini.
Di sinilah spirit juang terus ditantang. Karena pada akhirnya niat ikhlas menjadi penentu dari segalanya. Secara psikologis tentu ini tidak mudah bagi kaum muda yang umumnya ingin eksis dan sangat enerjik secara fisik dan pemikiran.
Tetapi, jika ini berhasil ditanamkan, maka bukan saja capaian permukaan yang akan digapai, melainkan sisi yang amat fundamental di dalam perjuangan membangun peradaban Islam, yakni ilmu dan amal. Allahu a’lam.*
*) IMAM NAWAWI,penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah. Artikel ini sebelumnya telah diterbitkan di portal berita Hidayatullah.com
Pakar parenting Ustadz Zainuddin Musaddad. [Foto: Media Center UmmulQura Hidayatullah]
BALIKPAPAN (Hidayatullaj.or.id) — Kinerja dan prestasi guru di sekolah itu hanya efek. Ia adalah hasil dari kesuksesan yang tercipta di rumah. Demikian penyampaian Ustadz Zainuddin Musaddad, pegiat parenting dalam acara Seminar Keluarga yang diadakan oleh Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah Balikpapan.
Acara yang mengusung tema “Guru Hebat Sukses di Rumah Berprestasi di Sekolah” ini digelar di Aula Serba Guna Prasmanan, Kelurahan Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Menurut Abah Zain, demikian sapaan akrabnya, asalnya menjadi guru berarti sudah punya ilmu mengajar. Di sana bakat dan minat biasanya sudah menyatu. Ada jadwal, kurikulum, dan juga metode.
“Semua sudah punya aturan SOP. Tapi itu semua tidak bisa melahirkan kehebatan guru kalau tidak ditopang oleh jiwa pendidik,” terang Pendiri Rumah Qur’an Ahlul Jannah, Balikpapan ini.
Lebih jauh, Abah Zain mengingatkan pentingya shalat berjamaah lima waktu dan ibadah-ibadah lainnya sebagai sumber utama kebahagiaan dan kesuksesan manusia.
“Jadi kebahagiaan itulah yang akan memancar dan menghasilkan semangat untuk berbagi manfaat di lingkungannya,” lanjut Abah Zain. “Keteladanan, itu kuncinya,” ucapnya lagi.
Sehingga, masih menurut Abah Zain, kebutuhan keluarga akan Sakinah Mawaddah dan lain sebagainya itu bukan dicari di luar rumah. Ia juga bukan kalimat yang hanya ada di Makkah, Madinah, atau di lapisan langit ketujuh.
“Kebahagiaan itu dicipta di dalam rumah. Ia harus diprogramkan bersama keluarga,” terang anggota Dewan Murabbi Pusat ini kembali.
Acara parenting berlangsung hingga menjelang Zhuhur serta dirangkai dengan silaturahim bakda Hari Raya Idul Adha lalu.
Tampak hadir dalam ruang aula tersebut, Ustadz Hamzah Akbar, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Ustadz Abdurrohim (Direktur Badan Perencanaan dan Pengkajian Sumber Daya Insani –BP2SDI- Ummul Qura), Ustadz Zaim Azhar (Ketua STIS Hidayatullah), dan ratusan guru dan dosen lainnya.
.
“Alhamdulillah, acara berlangsung lancar hingga selesai. Semoga ini menjadi ikhtiar kita semua, menunaikan amanah sebaga tenaga pendidik agar lebih optimal di tengah masa pandemi sekarang,” ucap Sukman, Penanggung jawab acara.
Terpantau, meski dihadiri oleh ratusan peserta seminar, sejumlah aturan Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19 tetap terlaksana dan diindahkan oleh peserta. “Iya, ini komitmen panitia sejak awal insyaAllah,” tutup Sukman.*/Mujtahidah
SOFIFI (Hidayatullah.or.id) — Judul di atas memang merupakan satu fakta. Mengingat perjalanan ke lokasi yang hari ini digelar khitan massal, pemeriksaan kesehatan gigi, sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat, serta kegiatan sikat gigi massal, dan lainnya dilakukan di sebuah desa bernama Patlean.
“Perjalanan bakti sosial di Daerah Terpencil, Pedalaman dan Kepulauan (DTPK) ini dimulai dari Ternate dengan speed boat selama satu jam, menuju Sofifi, Ibu Kota Provinsi Maluku Utara,” terang Kepala BMH Perwakilan BMH Maluku Utara, Arif Ismail (2/8/2021).
Setiba di Sofifi, tim melanjutkan perjalanan dengan roda dua menuju Tobelo, Halahera Barat dengan menempuh waktu 6 jam perjalanan.
“Kondisi hujan waktu kammi melintas, beruntung tetap bisa tepat waktu sampai di Pelabuhan Tobelo, karena setelah itu harus menggunakan kapal yang kala terlambat bisa menunggu esok hari,” imbuhnya.
Perjalanan pun beralih ke kapal kayu KM Rahmat Ilahi dan butuh waktu 8 jam untuk sampai di Desa Patlean dan Wasileo, Kecamatan Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur.
“BMH hadir ke lokasi yang selain pedalaman, terpencil di lokasi kepulauan seperti ini, dalam rangka hadirkan tubuh kuat warga pedalaman tersebut,” jelas Arif.
Hal ini didasari oleh fakta bahwa masyarakat pedalaman penting sekali terus didorong agar meningkatk kesadarannya terhadap perilaku hidup sehat dan bersih untuk tubuh mereka yang lebih kuat.
“Harapannya dengan tubuh bersih dan kuat, imun terjaga, mereka juga tidak mudah diserang penyakit atau bahkan virus seperti yang sekarang merebak dan menjadi wabah,” katanya.
Telah siap hadir dalam kegatan bertema “Bersinergi Mewujudkan Tubuh Kuat-Senyum Sehat Bahagia” ini 25 relawan dan tenaga medis yang juga didukung oleh IDI, Dinas Kesehatan Halmahera Timur, PGDI, PKK, PPNI, IAI, IBI, PATELKI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan dan juga IAKMI.(hio/rls)
MILAD adalah memperingati kelahiran, tentu bukan hanya sekedar mengingat hari, tanggal, bulan dan tahun. Bukan juga mengingat nama-nama tokoh, tempat bersejarah atau peristiwa-peristiwa penting.
Milad adalah menyerap inspirasi dari masa lalu yang menjadi pondasi kondisi hari ini. Menggali dan berusaha meneladani nilai-nilai dan spirit yang dimiliki oleh para pendiri. Kemudian mewarisi dan melanjutkan estafeta idealisme dan cita-cita besar yang ditancapkan oleh para ideolog lembaga.
Memperingati milad 50 tahun Hidayatullah, tentu tidak lepas dari sosok Ustadz Abdullah Said sebagai pendiri Hidayatullah. Dengan idealisme, keberanian, mujahadah dan munajatnya meletakkan pondasi yang kuat kepada generasi awal Hidayatullah tentang memperjuangan Islam dengan mengikuti pola sistematika turunnya wahyu.
Secara pribadi, beliau tidak meninggalkan harta warisan kepada putra-putrinya. Itu diulang-ulang disampaikan dan dibuktikan hingga beliau wafat, memang tidak ada harta kekayaan yang diwariskan.
Padahal, sebagai pendiri Hidayatullah yang kini tumbuh besar dan berkembang di seluruh pelosok nusantara, jika dihitung tentu memiliki asset yang tidak sedikit. Beliau berhak untuk mendapatkan, kalau tidak semuanya, ya beberapa persen dari keseluruhan aset yang ada.
Namun, beliau secuilpun tak meminta. Ini sebagai salah satu bukti keikhlasan dan ketulusan beliau mendirikan Hidayatullah bukan untuk kepentingan pribadi dan keluarga tapi untuk umat Islam.
Inilah satu nilai yang harus kita warisi dalam ber-Hidayatullah untuk ikhlas dalam memperjuangan Islam melalui Hidayatullah.
Keikhlasannya bukan hanya di hati tapi diwujudkan dan nampak dalam prinsip dan sikap dalam hidupnya. Memurnikan niat karena Allah dalam memperjuangan agama Allah itu menjadi nilai mendasar dalam ber-Hidayatullah.
Godaan bukannya tak pernah ada, bahkan selalu datang bertubi-tubi. Bukan perkara mudah bagi beliau untuk dapat menjaga nawaitu suci ini. Pernah kali waktu beliau ditawari untuk menjadi anggota dewan tingkat pusat, menjadi pejabat ini dan itu. Semua ditolak dengan cara yang baik. Karena sikap teguhnya itu, tentulah beliau tidak lepas dari cibiran, intimidasi bahkan ancaman dibui.
Keikhlasan Ustadz Abdullah Said pun kian nampak dari magnet “qoulan tsaqila” yang dianugerahkan Allah padanya. Sehingga tausyiah dan tulisan beliau senantiasa menarik dan menghinoptis mempengaruhi banyak orang. Pada pribadi dan penampilannya ada kharisma yang berwibawa dan disegani oleh siapa saja.
Ustadz Muhammad Hasyim HS, sebagai sahabat dan menyertai Ustadz Abdullah Said dari awal memberikan kesaksian, bahwa jika beliau sudah berceramah maka bisa membuat orang menangis, tertawa, tertegun sambil kepala mengangguk-angguk. Baik anak-anak, remaja, orang-tua, pejabat, pengusaha dan siapa saja yang mendengar dan membacanya dengan tulus.
Disinilah kita mendapati pesan Milad 50 Tahun Hidayatullah bukan sekadar pengingat terlampauinya setengah abad usia, melainkan sebagai momentum meneguhkan ikhtiar untuk terus mendekat kepada Dzat Iradat, Allah Subhanahu Wata’ala, yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.
Lantas, bagaimana menjaga nilai utama lembaga berupa keikhlasan berjuang dalam konteks Hidayatullah bagi generasi kita yang hidup setelah Hidayatullah 50 tahun? Setidaknya tiga hal yang perlu menjadi catatan, atau setidak-tidaknya menjadi bahan renungan untuk perlangkahan berikutnya.
Pertama, bangunan orientasi atau tujuan ber-Hidayatullah adalah karena keinginan kita berhimpun bersama memperjuangan Islam dalam satu kepemimpinan jamaah yang ia tak terpisahkan dengan kaum muslimin lainnya (jama’atun minal muslimin).
Hari ini Hidayatullah sudah besar, dikenal dan mendapatkan kepercayaan umat. Maka kemudahan mendapatkan fasilitas dan materi adalah menjadi tantangan dan godaan dari para kader.
Bukan berarti kemudian harus menghindar atau menolak fasilitas dan materi yang ada itu tetapi menyikapinya dengan proposional. Tidak menjadikan lalai, tergiur atau menjadikan fasilitas dan materi menghalangi untuk taat dalam satu kepemimpinan.
Kedua, penting menjaga keikhlasan dengan berhalaqah setiap pekan. Ini bukan sekedar berkumpul, membaca al Qur’an tapi update informasi perkembangan lembaga dan upgrade kompetensi, komitmen diri dalam ber-Islam.
Berhalaqah adalah jalan kader untuk terantar dan terkondisikan belajar, menghafal al Qur’an, bermuhasabah, mendapatkan nasehat dan silaturahim dengan sesama kader.
Ketiga, melaksanakan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH). Ini sumber spirit untuk menguatkan spritual dan menjaga ruhani para kader.
Dengan senantiasa menegakkan GNH maka mengantar para kader istiqamah karena hari demi hari dan waktu demi waktu terjaga ibadahnya.
“Azimat” Al Muzzammil Ini juga senantiasa yang ditekankan dan diwariskan Ustadz Abdullah Said kepada santri awal yang hingga hari ini masih istiqamah melaksanakan GNH istilah sekarang.
*)ABDUL GHOFAR HADI,penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah