BOGOR (Hidayatullah.or.id) Pengetatan dan penerapan protokol kesehatan perlu sama sama diindahkan, inilah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Rumah Qur’an Umar Bin Khattab Bogor, yang mengadakan cek rapid Antigen kovid 19 bekerja sama dengan tim medis dari islamik Medikal Servis IMS), Selasa, 18 Juni 2021.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Nashirul Haq menanggapi rencana Kementerian Agama (Kemenag) yang akan melakukan sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para dai dan penceramah.
Menurut dia, jika rencana tersebut hanya bertujuan untuk memberikan wawasan kebangsaan, maka cukup serahkan saja kepada ormas.
“Sebenarnya kalau sasarannya untuk pegawai Kemenag itu tidak masalah karena memang kewenangan pemerintah. Tapi kalau untuk swasta atau dai umum, kemudian ada yang berbasis ormas, ya diserahkan saja kepada masing-masing ormas,” ujar Kiai Nashirul saat dihubungi Republika.co.id, Jum’at (4/6).
Dia mengatakan, di setiap ormas Islam justru sangat banyak tokoh yang memiliki wawasan kebangsaan lebih baik. Menurut dia, mereka nanti bisa memberikan wawasan kebangsaan, seperti membangun loyalitas kepada negara, kecintaan tanah air, dan memberikan pemahaman yang baik tentang Pancasila.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri menyampaikan keterangan terkait pelantikan pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di gedung KPK, Jakarta, Selasa (1/6/2021). KPK resmi melantik 1.271 pegawai yang lulus tes wawasan kebangsaan (TWK) untuk menjadi ASN.
“Jadi, kita para dai, misalnya kami di Hidayatullah, memahami Pancasila itu tidak formalitas. Benar-benar kita kaji dari sisi historisnya, latarbelakangnya, dan lain-lain,” ucap Kiai Nashirul.
Selain itu, menurut dia, para dai Hidayatullah juga selalu menghubungkan lima sila dalam Pancasila dengan ajaran Islam. Namun, jika sampai diformalkan menjadi sertifikasi wawasan kebangsaan, ia justru khawatir terjadi kasus seperti Tes Wawasan Kebangsaan (TWK ) para pegawai KPK.
“Justru kita khawatir, nanti kalau ini diformalitaskan, itu nanti terjadi seperti kejadian yang di KPK. Malah ingin membenturkan antara Pancasila dan Alqur’an,” katanya.
Dia pun menegaskan bahwa wawasan kebangsaan para dai Hidayatullah tidak perlu diragukan lagi. Karena, menurut dia, mereka tidak pernah membenturkan antara kebangsaan dan keumatan.
“Itu satu kesatuan. Antara Pancasila dan ajaran Islam itu tidak pernah kita pertentangnan. Justru kita ingin mengisi Pancasila itu dengan nilai-nilai yang benar-benar diperjuangkan oleh founding father kita,” jelas Kiai Nashirul. (Republika)
LAMONGAN (Hidayatullah.or.id) — Layanan keumatan di bidang dakwah dan pendidikan akan terus berkesinambungan dengan adanya energi silaturrahim dan semangat menjalin sinergi dengan berbagai pihak.
Hal itulah yang dilakukan oleh Kampus Hidayatullah Lamongan yang beralamat di Jalan Airlangga, RT 03 RW 01, Dusun Keduwul, Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Pilihan Rizki Amaliyah Lubis (22) menjadi Guru Tahfiz Qur’an di dusun terpencil kaki Gunung Sibayak benar-benar diacungi jempol rombongan Ustadz Parlaungan Nasution saat meninjau progres pembangunan Masjid Nurul Yaqin di Dusun Lau Gedang Desa Suka Makmur Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, belum lama ini.
Betapa tidak, di tengah banyak anak gadis seusianya beraktivitas di perkotaan dengan segala glamour gaya hidup, Rizki Amaliyah memilih menjadi Guru Tahfiz Qur’an bagi anak-anak mu’allaf Karo yang bermukim di desa terpencil yang berada di cekungan kaki Gunung Sibayak.
Berbincang dengan Koranmedan.online di sela peninjauan pembangunan masjid Nurul Yaqin Lau Gedang, Rizki Amaliyah kukuh menjadi Guru Tahfiz atas dorongan hati nurani setelah menamatkan pendidikan di Pesantren Hidayatullah mengikuti jejak abangnya Habibullah Lubis yang lebih dulu memilih menjadi Guru Tahfiz Qur’an di Jaranguda Berastagi Kabupaten Karo.
“Langkah dan pilihan saya ini tidak terlepas dari hidayah Allah SWT. Kalau tanpa hidayah dan petunjuk serta bimbingan Allah, mungkin saya tidak berada di dusun terpencil bawah kaki Gunung Sibayak ini sampai sekarang,” tutur Rizki Amaliyah yang sudah menjadi Guru Tahfiz di Dusun Lau Gedang sekitar 12 bulan lebih.
“Allah jualah yang memberi rezeki kepada kami para Guru Tahfiz yang mengabdi di desa-desa terpencil Kutalimbaru Deliserdang melalui bantuan para dermawan sehingga kami dapat terus bertahan di dusun terpencil ini dengan senang hati,” tukas Rizki Amaliyah Lubis seperti dilansir Koran Medan Online.
Sehari-harinya Rizki tinggal di pondok rumah Tahfiz Qur’an sederhana yang berada di kaki bukit lembah Lau Gedang bersama anak-anak didik di sepetak tanah yang dibeli yayasan.
Dinginnya suhu pegunungan di malam hari plus tidak adanya sinyal seluler, tetap tidak menyurutkan semangatnya untuk bertahan.
Untuk menghibur diri dan mendapatkan sinyal selular sesekali Rizki mendatangi rumah Tahfiz yang lebih dulu dirintis abangnya di Desa Jaranguda Kecamatan Berastagi. Jaraknya dari lembah Lau Gedang lebih kurang 5 kilometer dengan kondisi jalan tanah berbatu.
“Syukur alhamdulillah ada saja yang membantu. Kami dan anak-anak Tahfiz Qur’an yang sekitar 20-an orang sangat merasa cukup. Dan kami merasa bergembira walaupun makan seadanya. Alhamdulillah sayur-mayur banyak tumbuh di sekitar kami,” tutur Rizki.
Saat ini pondok rumah Tahfiz Qur’an Lau Gedang berniat memperbaiki pondok yang lebih baik dan lapang.*/Zul Anwar Ali Marbun
KETULUSAN, iman, dan lurusnya niat adalah rahasia-rahasia hati. Semua itu bukan gas yang bisa dicium aromanya atau benda padat yang bisa diindra wujudnya.
Akan tetapi, sudah menjadi kehendak Allah bahwa kejujuran iman dan kebersihan jiwa di dalam diri seseorang akan Dia tampakkan sebagian tanda-tandanya, agar orang lain bisa mengenali, mencintai, meneladani, dan bergabung dalam barisannya.
Jumlah mereka mungkin saja sedikit dan tersingkir di pojok-pojok kehidupan, namun mereka eksis berkat dukungan Tuhannya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an, QS. Al-Fath: 29,
“Muhammad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka di dalam Taurat…..”
Menurut Al-Qur’an, diantara tanda terpenting umat Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam yang sejati adalah adanya bekas sujud di wajah mereka. Apakah maksudnya?
Terdapat banyak keterangan tentangnya dalam Tafsir Ibnu Katsir. Misalnya, menurut Ibnu ‘Abbas, maksudnya: baik jalan hidupnya (dalam urusan dunia dan agama).
Menurut Mujahid dan lain-lain, maknanya: khusyu’ dan tawadhu’. As-Suddi berkata, “Shalat membuat wajah mereka menjadi bagus.”
Sebagian ulama’ Salaf berkata, “Barangsiapa yang banyak mengerjakan shalat lail, niscaya wajahnya menjadi bagus pada siang hari.”
Manshur pernah menanyakan ayat ini kepada Mujahid, dan beliau menjawab, “Khusyu’.” Ia bertanya lagi, “Saya dulu menyangka bahwa maksudnya adalah bekas sujud (yang menghitam) di wajah ini?” Beliau menjawab, “Bisa jadi tanda itu ada diantara kedua mata seseorang yang hatinya bahkan lebih keras daripada Fir’aun”.
Demikianlah sesungguhnya yang dimaksud oleh ayat ini. “Bekas sujud di muka” bukanlah kulit yang menebal dan menghitam di jidat, akan tetapi tindak-tanduk, perilaku, tutur kata, akhlak, dan jalan hidup (way of life) yang baik serta menentramkan hati siapa saja yang melihatnya.
Sebagaimana dikatakan oleh ulama’ Salaf, “Sesungguhnya kebaikan itu memiliki cahaya di hati, sinar di wajah, kelapangan pada rezeki, dan rasa cinta di hati manusia”.
Lantas, bagaimana jika ada orang-orang yang rajin mengerjakan shalat namun akhlaknya buruk dan kata-katanya menyakitkan semua orang?
Imam Ibnu Katsir berkata, “Sungguh sesuatu yang tersembunyi di dalam jiwa akan tampak pada wajah. Bila isi hati seorang mukmin itu benar (yakni, lurus) bersama Allah, niscaya Allah memperbaiki lahiriahnya di hadapan sesama manusia, sebagaimana diriwayatkan dari Umar bin Khatthab, “Barangsiapa yang memperbaiki rahasia isi hatinya, niscaya Allah memperbaiki yang tampak dari dirinya”.
Utsman bin Affan juga berkata, “Tidak seorang pun yang menyembunyikan suatu rahasia hati melainkan Allah pasti menampakkannya pada raut wajahnya dan juga ucapannya yang tidak disengaja.” – yakni, keseleo lidah.
Mungkin isi hati orang-orang itu buruk dan niat-niat mereka pun menyimpang, sehingga jiwanya menjadi gelap. Kegelapan itu kemudian merembet ke seluruh anggota tubuhnya dan menyesakkan siapa saja yang melihat atau berinteraksi dengannya.
Alangkah baiknya jika mereka terlebih dahulu memperbaiki isi hatinya, sehingga tidak menodai citra umat Muhammad dengan perilakunya yang menjijikkan.
Sangat boleh jadi, seseorang senantiasa mengerjakan shalat dan beramar ma’ruf nahi munkar, namun yang terbersit di hatinya adalah meninggikan diri sendiri dan meremehkan orang lain. Ia telah terjebak tipudaya setan.
Dikisahkan bahwa seorang ayah mengajak anaknya mengerjakan shalat lail di bulan Ramadhan. Ketika melihat banyak orang yang tidur di masjid dan tidak bangun, si anak berkata, “Alangkah jeleknya orang-orang itu, tidak mau bangun mendekatkan diri kepada Tuhannya!”
Sang ayah menegurnya, “Nak, lebih baik engkau pulang dan tidur, daripada menghina orang lain dengan perkataanmu itu”.
Sang ayah benar. Belum tentu shalat yang akan dikerjakan anaknya diterima Allah, akan tetapi penghinaan yang dia lakukan sudah jelas catatan dosanya.
Belum tentu amar ma’ruf nahi munkar yang kita kerjakan ditulis sebagai amal yang ikhlas di sisi-Nya, namun meremehkan orang lain sudah pasti maksiat.
Bisikan-bisikan ‘ujub (merasa hebat) seperti ini mudah menghinggapi orang yang beramal shalih, sebab setan tidak pernah rela jika manusia ikhlas.
Bila dari hari ke hari hatinya dipenuhi bisikan kotor ini, maka tiada berguna shalat dan puasanya, sebab jiwanya terus-menerus ternajiskan oleh maksiat-maksiat tersembunyi.
Para Sahabat Nabi adalah orang-orang yang sangat tulus hatinya dan sangat baik amal perbuatannya, sehingga siapa saja yang memandang mereka akan terkagum-kagum oleh tindak-tanduk dan perilakunya yang mempesona.
Diriwayatkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dari Imam Malik bin Anas, bahwa tatkala kaum Nasrani melihat para Sahabat yang ikut serta dalam penaklukan Syam, mereka berkata, “Demi Allah, sungguh mereka itu lebih baik dibanding Al-Hawaariyyun (para sahabat setia Nabi ‘Isa), menurut cerita-cerita yang kami dengar!”
Alhasil, bila Anda ingin shalat dan seluruh amal kebajikan membekas dan memperbaiki kehidupan, maka tatalah isi hati dan sikap Anda ketika berhubungan dengan Allah. Jangan sampai melenceng. Hal ini pun bisa diberlakukan pada orang lain semisal anak, istri, murid, staf, pemimpin, rakyat, dst.
Sungguh, Allah tidak bisa ditipu, dan setiap rahasia pasti terbongkar jika Dia menghendakinya! Wallahu a’lam.
GOWA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang Dakwah Hidayatullah gabungan se-Sulawesi dengan 6 DPW; Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, Sabtu (5/6/2021).
Sebagai upaya untuk terus menggerakkan dan menggeliatkan dakwah di kawasan, dalam kesempatan tersebut Hidayatullah se-Sulawesi nyatakan tekad untuk menghadirkan 2000 Rumah Qur’an untuk melayani umat dalam pemberantasan buta aksara Al Qur’an.
Acara yang berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan ketat ini dihadiri oleh Bidang Dakwah dan Layanan Umat DPP Hidayatullah dan Ketua Departemen Dakwah DPD dan DPW perwakilan 6 provinsi di Sulawesi itu.
“Tercatat lebih kurang 60-an peserta”, kata Reskyaman, Penanggung Jawab acara yang juga Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan.
Dalam sambutannya, Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah Iwan Abdullah, mengatakan ini adalah Rakor yang ketiga yang diselenggarakan dengan format gabungan dari beberapa wilayah, setelah se-Kalimantan di Berau dan se-Sumatera di Batam.
Iwan menyebutkan, selain mengkonsolidasi pengurus, khususnya penanggung jawab dakwah di tingkat daerah dan wilayah, Rakor ini juga mencanangkan beberapa target prioritas, diantaranya, Launching Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH), standarisai pengurus DKM Hidayatullah dan standarisasi pelaksanaan Taklim Diniyah dan Halaqah Diniyah.
“Serta penguatan dari seluruh program dakwah hasil Rakernas tahun 2021,” kata Iwan menambahkan.
Nasri Bohari selaku Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, dalam pembukaan, mengatakan, kegiatan musyawarah yang membahas penguatan program dakwah ini bukan saja sebagai momen silaturrahim, melainkan juga kesempatan menginjeksi spirit para dai.
“Kegiatan seperti ini yang kita harapkan sebab potensi dan respon umat terhadap dakwah ini luar biasa, menuntut peningkatan kompetensi kita sebagai pelayan umat dan pelaku dakwah,” kata Nasri.
Selain itu, lanjutnya, dengan adanya agenda ini, ia berharap terus mengharapkan keterlibatan pemerintah untuk bersinergi mensukseskan kegiatan-kegiatan dakwah dan layanan umat lainnya sehingga gerakan ini dapat bersifat massif.
Suherman selaku Staf Ahli Bidang Kesejahteraan Rakyat yang hadir mewakili Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, merespon baik kegiatan Rakor Dakwah tersebut yang menurutnya sejalan dengan visi misi pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang beriman, berdaya saing dan sejahtera.
“Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pasti siap bersinergi sebab kehadiran lembaga-lembaga dakwah seperti Hidayatullah ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mensukseskan program dan layanan sosial kemasyarakatan, saya siap memfasilitasi, Insya Allah”, tegas Suherman.
Rakor Dakwah se-Sulawesi kali ini berlangsung selama dua hari, 5-6 Juni yang ditempatkan di Kampus Peradaban Pondok Pesantren Hidayatullah Bollangi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Acara ini juga dihadiri unsur Dewan Pengurus Pusat sekaligus menjadi narasumber diantaranya Nursyamsa Hadis (Ketua Bidang Dakwah dan Layanan Umat), Shohibul Anwar (Ketua Departemen Penyiaran Islam) serta pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar.
Rakor Dakwah se-Sulawesi ini sekaligus meluncurkan 2000 RQH yang ditekadkan akan eksis selama periode kepengurusan kali ini.*/Sumaryadi
TABALONG (Hidayatullah.or.id) – Pondok Pesantren Hidayatullah Maburai melakukan syukuran dan panen ikan nila bioflok di Desa Maburai, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, Kamis (3/5/2021).
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Tabalong, Yuhani, mengapresiasi budidaya ikan nila yang telah dijalankan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah.
“Program budidaya ikan nila ini sejalan dengan visi misi pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang agamis, sejahtera dan mandiri,” kata Yuhani membacakan sambutan tertulis Bupati.
Yuhani juga berharap, santri mendapatkan pembelajaran terkait dengan pemasaran produk yang efektif, ditopang dengan manajemen keuangan yang baik sehingga setelah lulus para santri bisa berwirausaha secara mandiri.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tabalong, Mohamad Mugeni, yang turut hadir menyaksikan kegiatan tersebut mengapresiasi Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Tabalong yang telah mengembangkan sektor perikanan dengan sistem bioflok dalam rangka membangun kemandirian pesantren dan pemberdayaan ekonomi warga.
“Semoga dengan program budidaya ikan nila ini semakin menunjang kemandirian pesantren dan turut serta memberdayakan masyarakat,” kata Mugeni yang sekaligus ikut melakukan penebaran bibit ikan nila untuk usaha selanjutnya.
Mugeni berharap budidaya sektor perikanan yang dikelola Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Tabalong dapat terus dikembangkan.
Lebih jauh ia berharap, program ini juga bisa menjadi media pendidikan dan pelatihan bagi santri yang dididik di Pesantren Hidayatullah Kabupaten Tabalong agar kelak mereka bisa menjadi wirausahawan yang tekun dan mandiri.
“Selain sebagai santri yang yang ahli agama, tapi merek juga familir berwirausaha khususnya dalam mengembangkan perikanan melalui sistem bioflok,” ujarnya.
Ia juga berharap, sektor perikanan Tabalong bisa terus berkembang, kemudian dapat memberikan lapangan pekerjaan dan meningkatkan nilai ekonomi untuk kesejahteraan rakyat.
“Selanjutnya, meningkatkan ketahanan pangan dan mendukung kesehatan masyarakat kita terutama dalam pengendalian stunting bagi masyarakat Tabalong,” harapnya.
Di tempat yang sama, Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Tabalong Ust Abdurrahman mengatakan ikan nila yang telah dipanen ini telah melalui proses pembesaran selama kurang lebih 6 bulan. Ia berharap kedepan usaha yang dikelola mandiri ini dapat menjadi sumber pendapatan untuk pendanaan operasional pondok pesantren.
“Alhamdulillah, hasilnya bisa dibilang baik. Cukup bagus. Untuk kedepannya, Insya Allah, hasil ini bisa menjadi tambahan atau menjadi komersial untuk pendanaan di yayasan Hidayatullah ini,” katanya.
Turut hadir pada acara tersebut, Pimpinan Ponpes Hidayatullah Maburai, Dinas Perikanan Tabalong, Dandim 1008 Tanjung, Kapolres Tabalong dan Kepala Kementerian Kelautan dan Perikanan Mandiangin. (ybh/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta Muhammad Isnaini mengatakan pihaknya bersiap menyambut dan turut mensukseskan gelaran silaturrahim yang juga Rapat Koordinasi (Rakor) II Majelis Ormas Islam (MOI) DKI Jakarta,
Diterangkan dia, Majelis Ormas Islam (MOI) DKI Jakarta yang merupakan wadah berhimpun organisasi Islam mengagendakan Rapat Koordinasi yang akan digelar pada Sabtu, 5 Juni 2021.
Menurutnya, rakor gabungan organisasi massa Islam se-DKI Jakarta ini merupakan momentum penting untuk meneguhkan persaudaraan, persatuan dan sinergitas.
“Terkhusus DKI Jakarta, momentum rakor MOI ini diharapkan semakin meneguhkan sinergitas antar ormas yang semakin solid dan kuat,” kata Isnaini di Jakarta, Kamis (3/6/2021).
Menurut Isnaini, Jakarta bukan saja sebagai barometer Indonesia di mata dunia internasional. Jakarta juga, lanjutnya dia, adalah parameter kesinambungan kebaikan dalam membangun kekuatan, persatuan, kesejahteraan dan sinergitas umat Islam.
“Oleh sebab itu, momentum rakor MOI ini tepat sekali menjadi peneguh Ibukota Jakarta menjadi benchmark dan pilot projects sinergitas dan kesatuan umat,” kata Isnaini.
Ke depan, Isnaini berharap, majelis organisasi Islam dapat mengambil peran dalam segala aspek dan spektrum hajat dan kepentingan umat.
Lebih jauh, Isnaini mengungkapkan pihaknya sangat mendukung terwujudnya Forum MOI di Tingkat DKI yang semoga dengan itu, terang dia, koalisi dan sinergi ormas Islam semakin menguatkan persaudaraan.
Diketahui, gabungan organisasi massa Islam se Jakarta yang tergabung dalam Majelis Ormas Islam (MOI) DKI Jakarta akan mengadakan Rapat Koordinasi (Rakor) ke II yang rencananya digelar di Hotel Daily In Syariah, Jl. Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu, 5 Juni 2021.
Sedikitnya ada 13 ormas Islam yang telah tergabung dan menyatakan hadir yaitu IKADI, PUI, Hidayatullah, Al Washliyah, Mathlaul Anwar, DDII, Persis, Syarikat Islam, Ittihadul Muballighin, Al Irsyad Al Islamiyah, Wahidah Islamiyah, Perti dan Parmusi. (ybh/hio)
MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat bersilaturrahim dengan Balai Prasarana Permukiman Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat (PUPR) Wilayah Papua Barat di kompleks Perkantoran Gubernur Papua Barat, Jl. Brigjend O. Atururi, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, Rabu (2/6/2021).
Hadir dalam silaturrahim ini hadir jajaran DPW Hidayatullah Papua Barat yaitu sekretaris Miftahuddin, Ahmad Sodri selaku bendahara dan Zainuddin Namudat selaku Ketua Departemen Asset.
Rombongan diterima langsung oleh Kepala Satuan Kerja (Satker) Balai Prasarana Permukiman Cipta Karya Wilayah Papua Barat, Wahyu Tri Nugroho.
Zainuddin Namudat yang dipersilahkan untuk membuka pertemuan silaturrahim itu menyampaikan, selain tujuan silaturrahim, kunjungan kali ini sekaligus membahas hal-hal yang bisa disinergikan antara BPP Cipta Karya Wilayah Papua Barat dengan DPW Hidayatullah Papua Barat.
“Kami berterima kasih telah diterima dan bisa bersilaturrahim yang diharapkan dapat saling mensinergikan program kami,” kata Namudat.
Sekretaris DPW Hidayatullah Papua Barat Miftahuddin dalam kesempatan tersebut memperkenalkan dan menjelaskan beragam program Hidayatullah Papua Barat serta kiprahnya yang kini telah memiliki 8 cabang pesantren di setiap kabupaten/ kota di Papua Barat.
Miftahuddin juga memaparkan mengenai Hidayatullah Papua Barat yang memiliki mainstream gerakan yaitu pendidikan dan dakwah.
Di bidang pendidikan, lanjut Miftahuddin, Hidayatullah Papua Barat menjadi tempat pendidikan bagi sedikitnya 1.500 santriwan/ santriwati mulai jenjang TK, SD/MI, MTs/SMP & MA/SMA.
“Ditambah lagi dengan santri potensial yang kami kuliahkan baik di dalam Papua Barat maupun di luar Papua Barat,” kata Miftahuddin.
Miftahuddin melanjutkan, dalam bidang dakwah, pihaknya memiliki titik banyak binaan yang tersebar pula di setiap kabupaten/ kota di Papua Barat.
“Bahkan hingga pedalaman kami masuki. Sebab itu membangun SDM adalah komitmen kami, sehingga permasalahan SDM di Papua Barat bisa teratasi,” imbuhnya.
Kepala Satuan Kerja (Satker) Balai Prasarana Permukiman Cipta Karya Wilayah Papua Barat, Wahyu Tri Nugroho, dalam sambutannya mengatakan, mengaku sangat senang bisa dikunjungi oleh pihak Hidayatullah Papua Barat. Hal ini, menurutnya, merupakan sebuah keberkahan.
“Saya salut dan sangat mengapresiasi Hidayatullah dalam perannya membangun umat terutama dalam bidang keagamaan. Hidayatullah mampu hadir dimana-mana dengan program dakwah dan pendidikannya. Semoga Hidayatullah semakin eksis kedepannya,” kata Wahyu.
Ia pun sempat mengemukakan tentang adanya program bantuan sanitasi dari Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat (PU) pusat, dimana bantuan sanitasi ini diperuntukkan bagi pondok pesantren di Indonesia termasuk Papua Barat.
“Bantuan sanitasi berbentuk program pembangunan MCK, ini sudah berjalan untuk tahap satu. Semoga di tahap kedua bisa dapat bantuan tersebut. Rencananya bantuan sanitasi tahap kedua akan segera turun pertengahan tahun ini,” tukasnya memungkasi.
Silaturrahim ini berlangsung khidmat penuh keakraban yang diakhiri dengan foto bersama. (ybh/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Daerah Khusus Ibukota Jakarta menggelar acara Halal bi Halal Silaturrahim Syawal bertajuk “Kabid Talk: Peluang & Tantangan Dakwah di Ibukota”, di Komplek Rumah Qur’an (RQ) Istiqomah, Cikaret, Selasa (1/1/2021).
Halal bi Halal ini menghadirkan ketua ketua bidang Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yaitu Ketua Bidang Tarbiyah Abu A’la Abdullah, Ketua Bidang Dakwah & Pelayanan Umat Nursyamsa Hadis, Ketua Bidang Organisasi Asih Subagyo dan Ketua Bidang Perekonomian Wahyu Rahman.
Ketua Bidang Tarbiyah Abu A’la Abdullah dalam kesempatan itu mengapresiasi kiprah Hidayatullah wilayah dalam keterlibatannya berkhidmat untuk Jakarta dan berharap agar langkah yang telah diambil tersebut semakin diteguhkan dengan kehadiran rumah rumah Qur’an di berbagai titik.
Karena itu, lanjut Abdullah, untuk menggerakkan program keumatan tersebut, Hidayatullah DKI Jakarta butuh sumber daya yang tidak sedikit terutama ketersediaan kader yang siap dimana saja.
“Perbanyak kader dan anggota untuk menaklukkan Jakarta, tahapannya berawal dari simpatisan dahulu,” katanya seraya menambahkan bahwa kader sebagai inti penggerak mesti diperbanyak.
Selain itu, Abdullah menambahkan, yang tidak kalah penting adalah pembinaan internal pada setiap tenaga dan kader dai melalui pembinaan ruhiyah melalui program halaqah.
Senada dengan itu, Ketua Bidang Organisasi Asih Subagyo mengutarakan seiring dengan perkembangan dakwah dan layanan keumatannya, Hidayatullah Jakarta dituntut untuk menyiapkan sumber daya yang memiliki kecakapan dan kemampuan mengorganisasi.
Diantara yang dapat dilakukan untuk kebutuhan tersebut, terang Asih, adalah mengirimkan sumber daya untuk dididik menjadi tenaga terlatih dan terampil sesuai kompetensinya ke lembaga pendidikan mitra seperti ke Sekolah Dai dan PTH untuk selanjutnya dikembalikan setelah lulus.
Sementara Ketua Bidang Dakwah & Pelayanan Umat Drs. Nursyamsa Hadis menekankan pentingnya integritas sumber daya manusia karena bermodalkan sumber daya materiil, kepintaran dan kecerdasan saja itu tidak cukup. Hal inilah, menurut Nursyamsa yang menjadi prasyarat lahirnya profesionalitas.
“Syarat profesional adalah transparansi, taat Qur’an Hadits dan taat aturan main organisasi,” Nursyamsa.
Masih dalam suasana bulan puasa yang baru saja dilalui, Nursyamsa mengingatkan untuk terus melanjutkan spirit Ramadhan, salah satunya yaitu istiqamah dalam menjalankan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) yakni memakmurkan masjid dengan shalat fardhu berjamaah, baca Al-Quran, shalat tahajjud, wirid pagi petang, dakwah fardiyah dan berinfaq.
Tak lupa, dari program keumatan di bidang ekonomi juga menjadi perhatian dimana Jakarta dinilai bisa menjadi hulu letup dengan dikuatkannya ekosistem ekonomi dalam rangka membangun kemandirian secara nasional.
Ketua Bidang Perekonomian Wahyu Rahman mengatakan pada kepengurusan periode 2021 – 2025 Hidayatullah mencanangkan kemandirian ekonomi jamaah dan organisasi dalam mendukung terwujudnya peradaban Islam.
Menurut Wahyu, salah satu langkah dan upaya pemandirian organisasi adalah dengan mengoptimalkan fungsi fungsi organisasi di struktur amal usaha. Sepenarian dengan itu, ditekankan pula pentingnya akuntabilitas yang harus berjalan di seluruh amal usaha organisasi.
“Jika hal ini dapat dilakukan maka kita bisa membuat program yang lebih besar. Peluang ekonomi sudah banyak sekali, tinggal kemauan dari kita, mau atau tidak untuk mengoptimalkannya,” pungkasnya.
Halal bi Halal Silaturrahim Syawal Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Daerah Khusus Ibukota Jakarta ini dihadiri oleh beberapa pengurus DPP Hidayatullah lainnya serta unsur pengurus orpen, badan dan amal usaha seperti Rumah Qur’an (RQ), Posdai, SAR Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, Sakinah Grosir, IMS, BTH, SAI, LBH, serta jaringan Pondok Tahfidz Qur’an dan lain sebagainya. (ybh/hio)