Beranda blog Halaman 408

Bentang Keberkahan Dukung Kemandirian Ekonomi DKI

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Daerah Khusus Ibukota (DPW DKI) Jakarta kian memantapkan ikhtiarnya membangun kemandirian ekonomi umat.

Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Muhammad Isnaini, mengatakan berbagai upaya terus dilakukan dalam membangun kemandirian organisasi untuk menunjang program mainstream. .

Langkah langkah yang ditempuh untuk mewujudkan harapan tersebut, jelas dia, tak terpisahlan dengan program dakwah Hidayatullah DKI Jakarta sebagai barometer nasional.

“Kemandirian ekonomi adalah bagian dari gagasan yang tak terpisahkan dari Program Rumah Quran yang juga sekaligus Rumah Pemberdayaan,” katanya usai diterima Haji Agus Yulianto, pengusaha Elud Bakery & Cake di kediamannya beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan tersebut, Haji Agus Yulianto pun menyatakan turut mendukung program kemandirian ekonomi yang digalakkan oleh DPW DKI Jakarta melalui Rumah Pemberdayaan.

“Dukungan ini menandai semakin meluasnya bentang keberkahan dan jaring jaring kebaikan yang dilakukan Elud Bakery dalam membangun umat dan bangsa ini,” kata Isnaini.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Haji Agus Yulianto sebagai pengusaha mengatakan siap memberikan sumbangan pengalaman dan alih kemampuan untuk pengembangan Salwa Donuts.

Salwa Donuts yang beroperasi sejak belasan tahun ini sendiri merupakan amal usaha yang kini dikelola oleh DPW Hidayatullah DKI Jakarta.

Isnaini menukaskan, produk penganan khas ini ditargetkan dapat lebih luas masuk ke lapisan market baik untuk kelas menengah atas maupun UMKM sehingga dapat lebih banyak orang yang diberdayakan. (ybh/hio)

Pemuda Islam Jangan Kalah dengan Semangatnya Karl Max

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemuda terutama pemuda Hidayatullah harus meneladani karakter Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebagai seorang ideolog sejati dengan Al Qur’an sebagai inspirasinya dan mukjizat akhir zaman.

“Itulah nafas nafas seorang idelog, yang, kalau kita lihat dalam peradaban Barat, juga sama,” kata Imam saat membuka Rapat Konsolidasi Nasional Pemuda Hidayatullah bagian Indonesia Wilayah Tengah dan Timur, Senin.

Imam lantas mencontohkan sosok Karl Heinrich Marx atau biasa disebut Karl Max, yang dikenal sebagai intelektual murni. Satu satunya kekayaan yang ada pada diri Karl Max adalah wacana dan pemikirannya tentang materialisme.

Karl Max, yang mengusung perjuangan ideologi materialisme yang banyak mempengaruhi laku otoritarian dan diktatorisme, ia begitu gigih bahkan menjalani penderitaan hidup demi apa yang diyakininya.

Karena itu, lanjut Imam, pemuda jangan kalah dengan semangatnya Karl Max, yang penuh totalitas mengusung ideologi kapitalisme dan komunismenya.

“Karl Max tidak mendapatkan dukungan apapun dari siapapun, hingga kemudian berkelana lalu ia bertemu Friedrich Engels yang kelak menjadikan pikiran pikiran Max bertebaran dan hari ini memiliki banyak pengikut,” terang Imam.

Berkaca dari hal itu, Imam mengatakan, seorang idelog melihat apa yang dilakukan hari ini adalah nafas panjang dan dia mengajak kader Pemuda Hidayatullah menyadari itu. “Karena, tanpa kesadaran ideologi ini, kita tidak akan memiliki energi besar,” cetusnya.

Lebih jauh Imam mengatakan, seorang idelog itu selalu berbicara tentang mimpinya yang akan datang ketika apa yang menjadi pikirannya, keyakinan, dan harapannya betul betul bisa dipercaya banyak orang dan kemudian berbondong bondong mewujudkannya.

Menurutnya, sebagai muslim dengan Al Qur’an sebagai sumber inspirasinya, maka mestinya pemuda lebih dari sekedar apa yang dilakukan Karl Max yang sepanjang hidupnya menderita demi ide ide materialismenya.

“Bagaimana mungkin kita tidak yakin bahwa diri kita adalah seorang ideolog sedangkan Al Qur’an itu mengajak kita untuk berfikir panjang melihat dengan jangkauan yang lintas batas. Kita juga diajak melihat alam kubur dan alam akhirat,” kata Imam.

Spirit ideolog tersebut itu semua tidak menuntut kita untuk melakukan hal hal seperti Nabi Musa membelah laut, atau seperti Nabi Daud yang mengelola besi dengan tangannya. “Tapi cukup dengan ketaatan kepada Allah SWT,” ujarnya.

Bagi Imam, kerja kerja di Pemuda Hidayatullah melalui berbagai pelatihan, insya Allah, akan menjadi jawaban bahwa ke depan kita akan memiliki pemimpin yang baik, beriman, dan bertakwa.

Dengan demikian, Imam melanjutkan, jangan pernah ragu apalagi timbul perasaan dan pikiran “rugi” jika menjalankan amanah di Pemuda Hidayatullah ini.

“Yakinlah, setiap kali training yang kita lakukan, di sana Allah akan melihat bahwa ada upaya nyata dari barisan Pemuda Hidayatullah untuk melahirkan pemimpin masa depan yang lebih baik,” tukasnya.

Tiga Peran Instruktur

Dalam kesempatan Konsolidasi Nasional Pemuda Hidayatullah bagian Tengah & Timur meliputi Daerah Istimewa Provinsi Bali, Papua, Papua Barat, Kalimantan dan Sulawesi yang berlangsung secara virtual, Imam menyampaikan peran penting seorang instruktur yang mengawal program Leadership Training Center (LTC) dan Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ) yang menjadi gawean nasional Pemuda Hidayatullah.

Menurut Imam Nawawi, seorang instruktur berarti menyandang predikat istimewa. Apa itu?

“Sahabat sahabat yang telah selesai mengikuti forum TOT LTC dan LPQ adalah mereka yang telah menyandang predikat sebagai instruktur. Itu berarti, manhaj dan apa yang kita peroleh di dalam arena TOT itu menjadi satu bagian dari karakter yang harus melekat di dalam diri kita,” kata Ketum Imam.

Seorang instruktur, jelas Imam, jika merujuk bahasa manhaj, berarti dia adalah seorang murabbi yang oleh karena itu ia punya tanggungjawab besar untuk mengerti tentang masalah masalah hidup, tidak saja dari perspektif ilmu keduniawiaan tetapi juga ukhrawi.

“Maka dengan demikian, seorang instruktur itu tidak akan pernah nyenyak tidurnya. Tidak pernah tenang hidupnya sampai betul betul dia memiliki mutarabbi yang dapat dipastikan akan melanjutkan estafeta perjuangan dakwah,” katanya.

Menurut Imam, instruktur juga adalah seorang leader atau pemimpin. Maka sudah semestinya pemimpin itu menghadirkan karya.

Dan, dalam rangka untuk menguatkan apa yang disebut dengan sistem imamah jamaah, terang Imam, maka sudah barang tentu leadership yang dimiliki harus diarahkan pada landasan yang kokoh yaitu pada manhaj dan sistem organisasi itu sendiri.

Yang tak kalah penting, dengan menyandang dua status tadi (murabbi dan leader), maka seorang instruktur juga adalah seorang ideolog.

“Ideolog itu dia bekerja, berkarya dan berjuang walaupun sekelilingnya baik manusia, fakta maupun realita menentang atau memperolok-olok. Ideolog tetap berjuang walaupun semua kelihatannya mustahil,” katanya.

“Orang orang yang memiliki kapasitas idelog ini tidak akan pernah perduli dengan rumitnya keadaan, semustahil apapun keadaan itu menghalangi apa yang menjadi tujuannya,” lanjutnya.

Imam melanjutkan, kita bisa belajar sisi ideologi ini pada bagaimana sikap Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam ketika ditawari menjadi raja, mendapat istri yang cantik cantik dan harta yang melimpah.

Saat ditawarkan hal yang amat menggiurkan itu, Rasulullah hanya mengatakan, seandainya matahari diletakkan di tangan kanannya dan rembulan di tangan kirinya, maka hal itu tidak akan pernah menghentkan dakwahnya. (ybh/hio)

Silaturrahim Dai Hidayatullah Bandung Raya dan Garut

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Jalinan sinergi dan ukhuwah yang kokoh menjadi modal penting untuk menggerakkan dakwah dalam rangka berkhidmat pada agama dan bangsa. Salah satu jembatan untuk meneguhkan nilai kultural tersebut adalah dengan merutinkan penyelenggaraan forum sinergi.

Hal itulah pula dilakukan sebulan sekali oleh Hidayatullah Bandung Raya dan Garut (Braga) yang pada kali ini digelar pada Sabtu-Ahad, 12-13 Juni 2021 lalu, bertepatan 1-2 Zulqoidah 1442 H.

Acara yang bertempat di Kampus Qur’an Center Hidayatullah Cilengkrang, Bandung ini mengambil tema “Memupuk Semangat Juang Kader Menuju Hidayatullah Braga yang Berkah, Berjaya Menjadi Garda Utama”.

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Departemen Pembinaan Keluarga dan Pendidikan Anak Usia Dini (DPK PAUD) Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ust Endang Abdurahman.

Ust Endang dalam taushiyahnya menyampaikan pentingnya selalu merawat kultur berjamaah karena dengan itu kita semakin kokoh, utamanya dalam mengintensifkan dakwah pembinaan umat. Selain itu, menurut Endang, setiap kader dai perlu untuk selalu menginternalisasi jati diri Hidayatullah.

“Dan selalu istiqamah dalam membina diri serta menghargai setiap perjuangan para perintis dan pendiri lembaga,” kata Endang.

Lebih jauh, disampaikan panitia bahwa forum ini merupakan komunitas pengajian dan pembinaan dai Hidayatullah Braga yang bertujuan untuk menguatkan peran dalam berdakwah.

Diterangkan pula bahwasanya program silaturrahim yang dirangkai lailatul ijtima ini merupakan momen berkumpulnya orang-orang muntuk mendapatkan dan menghidupkan sunnah Nabi SAW untuk menambah ilmu, mendapatkan semangat ukhwah Islamiyah agar lebih dekat kepada Allah SWT.

Sementara itu, Ust Dadang Abu Hamzah, sebagai Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Bandung memberikan movitasi kepada para dai agar tetap semangat dan pantang menyerah.

“Jika ada hambatan dan rintangan jangan pernah berhenti. Badai pasti akan berlalu, hanya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh serta istiqamah yang pasti akan mendapat keberuntungan dan kebahagiaan,” ungkapnya.

Acara yang dihadiri oleh pengurus DPW, DPD dan jamaah Hidayatullah se-Bandung Raya ini di akhiri dengan senam kebugaran dan kerja bakti bersama menata kampus Qur’an Center Hidayatullah Cilengkrang, Bandung.

Diketahui ada 10 pesantren dan Rumah Qur’an Hidayatullah untuk wilayah se-Bandung Raya yang membina santri tahfizh qur’an dengan jumlah pengelola 50 orang.

Mereka membina 500 santri dari berbagai tingkat pendidikan, serta ratusan majelis taklim. Oleh karena itu, kegiatan lailatul Ijtima merupakan sarana penguatan dan siraman ruhani para dai dalam menjaga spirit perjuangan dalam memikul amanah membawa risalah Islamiyah.*/Asep Juhana

Teguhkan Kiprah Dai Mengabdi di Pedalaman Pulau Rupat

0

RIAU (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) Riau bekerjasama dengan Tafaqquh menguatkan pengabdian dakwah dai yang bertugas membina muallaf pedalaman di Pulau Rupat dengan pengadaan alat transportasi laut.

Adapun perangkat dakwah yang diadakan untuk meneguhkan kiprah dai di pedalaman Pulau Rupat ini adalah berupa kapal dakwah beserta mesin speed boat Yamaha 40 PK Jet Turbo.

Ketua Posdai Riau Ust Muhammad Ihsan Taufik mengatakan, bantuan kapal dakwah ini dimanfaatkan untuk mempermudah serta memperluas jangkauan dakwah para dai di Pulau Rupat.

“Karena selama ini untuk menyebrang ke desa seberang, para dai harus menempuh perjalanan darat yang jauh, jalanan yang rusak dan jika melalui jalur laut para dai berangkat menggunakan kapal pinjaman,” kata Ust Ihsan.

Ihsan pun menyampaikan pihaknya menghaturkan terimakasih jazakumullah khair kepada Tafaqquh yang telah turut mensupport pengadaan mesin speadboat 40 PK ini dan infaq operasional dakwah sebesar Rp. 12.715.000.

Tidak lupa, ia juga menyampaikan ucapkan jazakumullah khair kepada para Muhsinin yang sampai saat ini terus mensupport dakwah pedalaman ini.

“Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan,” katanya dengan pengharapan munajat yang dalam. Aamiin Allahumma Aamiin. (ybh/hio)

Ikhtiar Mendampingi Muallaf Selat Kongki Kepulauan Riau

KEPRI (Hidayatullah.or.id) — “Ibu-ibu siap untuk terus belajar membaca al Qur’an?” tanya Ust Abdul Aziz, kepada sejumlah ibu-ibu muallaf di Selat Kongki, Kepulauan Riau.

“Siap, pak ustadz.” Jawab mereka penuh semangat.

Sebagai bentuk kepedulian pembinaan yang berkesinambungan, DPW Hidayatulah Riau didukung BMH Kepri, menugaskan seorang pembimbing agama di Selat Kongki.

Alhasil, Abdullah, ketua RT setempat bersyukur telah menghafal surah-surah pendek seperti al Ikhlas dan An Nas. Untuk pembelajaran baca tulis al Qur’an, Abdullah sudah sampai jenjang Iqra’ 3.

Di perkampungan muslim muallaf di selat Kongki yang terletak di atas air terdapat sekitar 60 jiwa. Sebenarnya mereka telah resmi masuk Islam sejak 2006, namun, menurut Sabrian, penyuluh yang ditugaskan di sana yang berdomisili di pulau Penaah, baru tiga bulan terakhir pembinaan mulai aktif dilakukan.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lingga yang juga kepala Departemen Pendidikan DPD Hidayatullah Lingga menyampaikan dalam sambutannya di masjid Selat Kongki, bahwa al Quran adalah benteng yang harus perkuat, sehingga para warga hendaknya menjaga semangat dalam mempelajari al Quran.

Saat tim sinergi BMH, DPW Hidayatullah Kepri, DPD Hidayatullah Lingga dan kampus Pratama Lingga tiba jelang ashar, seorang pria paruh baya tengah belajar tata cara berwudhu dibimbing Sabrian.

Pemandangan sedikit lucu tapi mengharukan saat shalat ashar, beberapa jamaah pria masih agak kebingungan melakukan gerakan shalat.

Kedatangan tim sinergi Hidayatullah selain bersilaturrahim juga membawa sejumlah oleh-oleh berupa makanan dan pakaian shalat pria dan wanita untuk dewasa dan anak-anak yang langsung dipakai menunaikan shalat ashar berjamaah di masjid yang dibangun BMH itu.

Selain masjid, BMH juga membangun sumur bor karena warga muslim muallaf di kampung ini sebelumnya harus mengambil air menggunakan sampan kecil mencari air bersih di sumber air yang terletak cukup jauh dari perkampungan.

Saat ini, alhamdulillah air bersih telah mengalir ke rumah-rumah melalui pipanisasi.

Sementara, Ketua BMH Kepri Abdul Aziz menuturkan rasa haru atas kondisi perkampungan muslim muallaf yang semakin baik dengan adanya fasilitas ibadah dan fasilitas penunjang berupa sumur bor sumbangan dari para sahabat donatur.

Selanjtnya menurut Aziz, BMH akan membangun Rumah Qur’an dan menyakurkan qurban saat Idul Adha.

Pengurus DPW Hidayatullah Kepri, Mujahid M. Salbu menyampaikan komitmen DPW untuk bersinergi dalam hal pembinaan kaum muslimin di pulau-pulau khususnya muslim muallaf di Selat Kongki.

Dikatakan Mujahid, jika Rumah Qur’an selesai dibangun, pihaknya bersama jejaring selanjutnya akan memberi pendampingan metode pembelajaran Al Qur’an.

“Kebahagiaan saudara-saudara sesama muslim muallaf di selat Kongki adalah kebahagiaan kita juga, sebab seperti disebutkan dalam sebuah hadits bahwa orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara,” kata Mujahid yang juga wartawan senior ini.

Penulis buku ‘Indahnya Jalan Dakwah’ ini menambahkan, hidayah Allah Ta’ala yang sampai ke penduduk selat Kongki merupakan tanggungjawab kaum muslimin untuk melanjutkan dengan bimbingan sebagai benteng tauhid mereka agar tidak kembali ke agama yang dianut sebelumnya. (ybh/hio)

Pemuda Harus Jalani Proses “Menggembala” untuk Menjadi Leader

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Milenial atau pemuda perlu menempa dirinya dengan mengaktualisasi proses “menggembala” agar semakin terlatih saat kelak ia menjadi seorang pemimpin atau leader.

Demikian benang merah materi Kajian Manhaj yang disampaikan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Hidayatullah Ust H. Hamim Thohari yang diikuti mahasiswa semester 2 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok, Jum’at (12/6/2021).

“Menggembala kambing adalah proses pengikisan thaga’. Pada saat itu profesi penggembala kambing adalah strata sosial paling bawah apalagi yang digembalakan adalah kambing milik orang lain,” kata Ust Hamim.

Mengembala kambing juga merupakan hal spesial karena ia merupakan pekerjaan yang digeluti oleh para nabi, sebagaimana diterangkan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam salah satu sabdanya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada Nabi kecuali pernah menjadi penggembala kambing.” Mereka para sahabat bertanya, “Apakah engkau juga wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Iya, saya telah menggembala dengan imbalan beberapa qirath (mata uang dinar) dari penduduk Mekah.” (HR. Bukhari, no. 2262)

Dan ternyata, lanjutn Hamim, dibalik menggembala itu mental ksatria Baginda Nabi itu terbentuk. Dan itulah, terang beliau, proses tarbiyah yang Allah rekayasa untuk Nabi yang mulia lalui.

“Mengingat hewan ternak yang paling unik dan tidak mudah dikendalikan itu adalah kambing,” imbuhnya.

Beliau pun berpesan kepada mahasiswa untuk menempa diri sebagaimana Nabi menempa dirinya dengan penuh kedisiplinan dan ketekunan.

Paling tidak, kata beliau, ada beberapa hikmah yang harus diketahui dari proses Nabi menggembala. Dan, tambahnya, hal ini menjadi bahagian penting yang setiap kader Hidayatullah harus ketahui untuk mereaktualisasinya dalam konteks kekinian.

Diantara hikmah mengembala itu, menurut Hamim, adalah ketekunan mencari, mengelola dan memberdayakan sehingga semua sumber daya dapat bermanfaat dan memberi maslahat.

“Pertama, Pathfinding. Seorang pengembala itu terus mencari. Mencari apa. Mencari padang gembala yang subur. Seorang kader pemimpin juga harus seperti itu,” katanya.

Dari proses tersebut juga akan melahirkan kemampuan Directing atau kecakapan dalam mengarahkan, sebagaimana kelihaian seorang penggembala dalam menggiring hewan ternak ke padang gembala.

Lalu ada kemampuan Controlling atau mengawasi. Kemampuan tersebut lahir dan berkelindan sebagaimana pengembala mampu mengkondisikan agar hewan ternaknya tidak tersesat atau terpisah dari kelompok.

Demikian pula kecakapan dalam memberikan perlindungan dan rasa aman agar hewan ternak selamat dari segala mara bahaya serta jauh dari ancaman hewan pemangsa dan pencuri. Aktualisasi perlindungan itu terejawantah dalam prinsip manajemen organisasi yaitu Protecting.

Lebih jauh, Hamim menjelaskan, hikmah dari proses Nabi menggembala juga menumbuhkan spirit perenungan (Reflection) dan kepekaan spiritual sehingga ia melandaskan semuanya hanya karena Allah SWT serta adanya penghargaan yang tinggi kepada alam dan manusia.

“Apa yg terjadi dalam kehidupan ini bukanlah hal kebetulan melainkan rekayasa Al Khaliq Sang Maha Pencipta, terkhusus apa yang terjadi dalam proses perjalanan Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,” katanya.

Ia menegaskan, seorang kader leader yang sedang disiapkan mengemban amanah memikul tugas sebagai dai paling tidak harus memiliki 5 karakter tersebut, yakni kemampuan pathfinding, directing, controlling, protecting dan reflection.

Sementara itu, moderator Rasfiuddin Sabaruddin S.sy, MIRK, yang juga Wakil Ketua I bagian Akademik STIE Hdayatullah, mengatakan kegiatan kajian pekanan yang dilakukan oleh STIE Hidayatullah ini sebagai upaya transformasi manhaj langsung dari para senior.

Sebelumnya, pihaknya juga beberapa pekan lalu sudah menghadirkan narasumner lainnya seperti Ust H. Abdul Azis Qahhar, Ust Abu ‘Ala Abdullah dan Ust Dr. H. Tasyrif Amin. (ybh/hio)

Jamaah Hidayatullah Jatim Bantu Palestina Lewat BMH

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Jamaah Hidayatullah se-Jawa Timur melalui Pengurus Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk saudara di Palestina melalui Laznas Baitul Maal Hidayatullah (9/6/2021).

Bantuan diserahkan langsung di kantor Laznas BMH dan diterima oleh Tim Program & Pendayagunaan BMH Jawa Timur.

“Dalam kesempatan tersebut, donasi yang terhimpun senilai Rp 100.555.500, itu diserahkan di kantor Laznas BMH di Mulyosari, Surabaya,” kata Ketua BMH Perewakilan Jawa Timur, M. Gani Irwansyah.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, Amun Roewi menyampaikan,  bahwa bantuan yang diserahkan melalui Laznas BMH tersebut dihimpun lewat penggalangan dana yang dilakukan kepada seluruh jamaah di Jawa Timur.

“Alhamdulillah kemarin kita sudah lakukan penggalangan dana dari seluruh jamaah, semoga bermanfaat bagi saudara-saudara kita di Palestina, yang membutuhkan bantuan kesehatan, pendidikan dan ekonomi,” ucap  Amun Roewi.*/Herim

Penguatan Spirit Hidayatullah Manokwari Tutup Bulan Syawal

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, menandai penghujung bulan Syawal 1442 Hijriyah dengan menggelar acara silaturrahim sekaligus kesempatan penguatan kapasitas kader, Kamis (10/6/2021).

Sebagaimana diketahui, kini kita sudah berada di akhir bulan Syawal yang jatuh pada hari Jumat, 11 Juni 2021.

Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Papua Barat, Ust Muhammad Sulton, dalam taushiahnya pada kesempatan tersebut mengingatkan bahwa kunci daripada kekuatan itu adalah karena adanya pertolongan Allah SWT.

Pertolongan itu, lanjut dia, hanya bisa hadir apabila kita sudah layak untuk dibantu. Oleh sebab itu, kita harus memantaskan dan melayakkan diri untuk dibantu Allh SWT.

“Siapa yang menolong agama Allah maka ia akan diteguhkan oleh Allah, namun kita harus terus memuhasabah diri apakah sudah benar telah berjuang menolong agama-Nya atau mengaku aku saja,” imbuhnya.

Dalam perjuangan dan pengabdian dakwah dalam rangka membela agama, salah satu kunci yang amat penting untuk mendatangkan bantuan-Nya adalah dengan menjaga soliditas dan persatuan.

Karena itu, lanjut Sulton, setiap juru dakwah bertugas tidak saja menyampaikan kabar gembira dari Allah dan memberi peringatan (basyiran wa nadziran) melainkan mereka juga harus menjadi juru damai yang mempersatukan, mempersaudarakan dan saling menguatkan.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat,” kata Sulton yang menukil Al-qur’an surat Al-Hujurat ayat 10.

Dalam konteks ini, Sulton terutama mendorong penguatan dakwah pendidikan yang telah dicanangkan menjadi arus utama gerakan Hidayatullah.

“Tanggungjawab kita bersama dalam membangun pendidikan dan generasi Islam yang hebat,” kata Sulton.

Dia mengatakan, sinergitas sangat dituntut dari semua anggota agar semua bisa berjalan dengan bingkai jamaah.

Sulton menambahkan, pendidikan Hidayatullah yang mengusung jargon “Pendidikan Integral Berbasis Tauhid” mengintegrasikan antara nilai-nilai kependidikan nasional dan spirit Al-Qur’an dalam setiap materi yang diberikan kepada siswa serta mengaplikasikan dalam keseharian.

“Maka sangat optimis generasi Islam kedepan Insya Allah akan dahsyat. Tentunya, semua ini kita lakukan adalah untuk mengharap ridha Allah dan dinilai dengan amal sholeh. Ikhlas adalah kunci utama sebab ganjaran kerja kita akan dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda,” imbuhnya.

Silaturrahim Syawal 1442 keluarga besar Hidayatullah Manokwari ini dilaksanakan di Kampus Madya Hidayatullah Manokwari, Jl. Trikora Kelurahan Anday, Kecamatan Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari.

Kegiatan silaturrahim ini sekaligus dirangkai dengan pembacaan surat tugas kepala sekolah di Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah Manokwari oleh Ahmad Taufiq, sebagai ketua yayasan.

Kepala sekolah yang dilantik yakni Muhammad Rusdan sebagai kepala sekolah MI, Ahmad Arifuddin sebagai kepala sekolah MTs, dan Jajang Suryaman sebagai kepala sekolah MA.

Silaturrahim Syawal ini mengangkat tema “Eratkan Ukhuwah, Raih kesuksesan Dakwah & Tarbiyah” dengan penceramah Ust Muhammad Sulton selaku anggota DMW Hidayatullah Papua Barat.*/Miftahuddin

Mensos Dorong Hidayatullah Terus Berkiprah di Bidang Sosial Keumatan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Sosial Tri Rismaharini mendorong Hidayatullah sebagai salah satu organisasi Islam besar di Indonesia meneruskan dan terus mengembangkan kiprah di bidang sosial keummatan. Hal itu disampaikan Mensos saat menerima pengurus DPP Hidayatullah di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Rabu (9/6/2021).

Dalam kesempatan tersebut, hadir Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah sekaligus direktur Sahabat Anak Indonesia (SAI) Musliadi Raja bersama Ketua Departemen Organisasi Samsuddin.

“Hidayatullah sejak dulu turut berkontribusi dalam hal pembinaan masyarakat,” ujar Mensos Risma seraya menyambut baik program Hidayatullah dengan mainsteam gerakan dakwah dan tarbiyah.

Sementara itu, Musliadi Raja mengatakan selain memaparkan mengenai berbagai program yang telah dicanangkan Hidayatullah di bidang sosial, pihaknya juga melaporkan sejumlah pelayanan keumatan diantaranya penguatan lembaga Sahabat Anak Indonesia yang merupakan wadah koordinasi panti panti asuhan Hidayatullah se-Indonesia.

“Insya Allah bidang sosial akan semakin dikuatkan, terutama pada pendampingan pendidikan basis keagamaan, pemberdayaan, perlindungan dan kesejahteraan anak,” kata Musliadi.

Musliadi berharap silaturrahim ini terus terjalin dan dapat terbangun kemitraan strategis dengan pemerintah sebagaimana keberadaan serta peran penting ormas untuk turut mendukung dan berpartisipasi dalam pembangunan nasional. (ybh/hio)

Pantau Kesehatan Santri, IMS Lakukan Swab Antigen di Ponpes Umar bin Khattab

BOGOR (Hidayatullah.or.id) Pengetatan dan penerapan protokol kesehatan perlu sama sama diindahkan, inilah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Rumah Qur’an Umar Bin Khattab Bogor, yang mengadakan cek rapid Antigen kovid 19 bekerja sama dengan tim medis dari islamik Medikal Servis IMS), Selasa, 18 Juni 2021.

Lihat berita video selengkapnya di sini.