Beranda blog Halaman 414

Sinergi Pemuda Gelar Sunatan Massal di Lamahala

0

FLORES TIMUR (Hidayatullah.or.id) – Realitas sosial pada masyarakat di Desa Lamahala Jaya, Adonara Timur, Flores Timur – NTT secara ekonomi terbilang jauh dari kata mapan dan mampu. Oleh karena itu, sebuah wadah komunitas yang tergabung dalam Ikatan Pemuda – Pemudi Brandos Lamahala Jaya, termasuk Pemuda Hidayatullah di dalamnya, menggelar kegiatan Sunatan Massal Gratis untuk Anak Yatim dan Dhuafa, Sabtu (24/07/2021).

Dalam sambutan pembukaan kegiatan, Ketua Panitia Pelaksana Karlan Damsyah menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tanggu jawab sosial kami sebagai pemuda untuk membantu para keluarga yang tergolong kurang mampu.

“Kami hanya ingin membantu keluarga kurang mampu agar mereka bisa menyunati anak mereka dalam pelaksanaan sunatan massal gratis,” ungkap Karlan.

Sambungnya lagi, bahwa kegiatan ini juga berkat dukungan moril maupun materil dari pihak donatur yang telah menyuport kegiatan ini.

“Kami sangat berterimakasih kepada segenap donatur yang telah mendonasikan sebagian hartanya untuk bisa menyuskeskan kegiatan kami,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Perwakilan dari Pengurus Ikatan Pemuda – Pemudi Brandos Ramadhan Ahmad, mengutarakan pada sambutannya, bahwasannya berkat kolektif kolegial Pemuda Brandos mampu mencubit kita sebagai insan yang berakal yang sejatinya selalu terkoneksi dengan hubungan vertikal dan horizontal sebagai hamba mampu merealisasikan tanggung jawab sosialnya.

“Bonus demografi mengubah paradigma kaum muda berpikir dan bertindak lebih kepada implikasi yang nyata kepada sesama. Lantas, patut kita acungi jempol bahwa dari pemuda hadir sebuah peradaban baru juga membuka lembar baru kebajikan” ungkap Ramadhan.

Dalam masih kesempatan yang sama, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Lamahala Jaya menyampaikan turut bangga dan senang ada anak muda yang mampu peduli terhadap sesama dalam hajatan sosial sebagai bentuk kontribusi pembangunan di lingkup desa.

“Saya mewakili pemerintah desa turut bangga kepada pemuda brandos yang mencatatkan dirinya sebagai agen perubahan di Desa Lamahala Jaya. Insya Allah, kedepan kita saling bahu membahu mengadakan kegiatan berbasis sosial kemasyarakatan yang berdampak.” imbuh bapak suluk.

Acarapun ditutup dengan pembacaan do’o oleh Bapak Imam Masjid Jami’ Al-Ma’ruf Lamahala Jaya juga khitanan massal oleh Tenaga Medis yang sudah bersedia di arena kegiatan.*/Dhani El Muchardy

Kakanwil Kemenag Sulbar Apresiasi Hidayatullah

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) Dr. HM. Muflih B. Fattah, MM, mengapresiasi peran Hidayatullah dalam pembangunan, utamanya di bidang dakwah dan pendidikan. Ia pun memuji ketaatan kader Hidayatullah dalam menjalankan tugas dakwah.

Hal itu disampaikannya dalam bincang santai ketika menerima rombongan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulbar di ruang kerjanya, Senin (26/7/2021).

Orang nomor satu di jajaran Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat ini mengaku sudah lama mengenal Hidayatullah. Dia juga sudah mengenal dan memahami Hidayatullah sejak awal karirnya.

Terlebih ketika menyoal militansi kader Hidayatullah menerima perintah mutasi dan berusaha mudah menjalaninya tanpa menunggu waktu lama dan syarat yang banyak.

“Termasuk taat juga kalau disuruh nikah,” kelakar khas putra asli Sulbar ini.

Pada kesempatan itu, selain dalam rangka mengeratkan jalinan silaturrahim, rombongan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulbar juga sekaligus melaporkan rencana pernikahan massal barokah enam pasang kadernya di DPD Hidayatullah Polman medio Agustus mendatang.

Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulbar turut mengundang Kakanwil untuk menghadiri acara walimatul urs tersebut serta berharap terus terjalin silaturrahim dan perhatian berkesinambungan dalam rangka memantapkan program layanan keumatan.

Sebelum rombongan DPW Hidayatullah pamit, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulbar yang dikenal tawadhu ini mengharapkan kunjungan selanjutnya dengan usulan program keumatan yang bisa disinergikan.*/Bashori

Doa Cinta

ADA KEBIASAAN orang Badui yang suka bertanya kepada Rasulullah dengan kepolosan dan keluguannya. Padahal para sahabat sangat berhati-hati kalau bertanya kepada Rasulullah.

Ada beberapa hadist menerangkan cerita pertanyaan orang badui dan itu menjadi kebaikan untuk umat Islam secara keseluruhan. Berikut ini diantaranya.

Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik, ada seorang laki-laki (yang dimaksud orang Badui) bertanya tentang hari Kiamat.

“Ya Rasulullah, kapankah datangnya hari Kiamat?”

Nabi tidak menjawabnya tapi balik bertanya kepada laki-laki tersebut

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari Kiamat?”

Spontan laki-laki Badui itu menjawab, “Belum ada ya Rasulullah, selain kecintaanku kepada Allah dan Engkau Rasulullah”. Rasulullah lalu menimpali, “Engkau bersama orang yang kami cintai” ( HR. Al-Bukhori)

Anas bin Malik sungguh sangat senang dengan hadist di atas, hingga beliau berkata “Tiada yang mengembirakan hati kami daripada hadist Rasulullah, “Seseorang bersama yang dia cintai.”

Beliau juga mengatakan, “Aku mencintai Nabi salallahu ‘alaihi wasalam, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap dapat berkumpul bersama mereka dengan bekal kecintaanku kepada mereka, kendati aku belum bisa beramal sebagaimana mereka beramal.”

Kiamat adalah peristiwa besar dan misteri kedatangannya, wajar jika sejak dulu hingga sekarang orang penasaran untuk mengetahui kepastian datangnya hari kiamat. Termasuk laki-laki Badui di atas, meski dia belum mempersiapkan amal yang banyak.

Tapi dia punya modal yang laur biasa yaitu cinta. Dengan modal cinta dapat membawa seseorang ke surga bahkan bisa berkumpul dengan orang yang dicintainya itu. Bukan cinta sembarangan tapi cinta kepada Allah dan Rasulullah.

Tidak mudah mencintai Allah dan Rasulullah, apalagi mendapatkan cintanya Allah dan Rasulullah. Sehingga Rasulullah mengajarkan sebuah doa untuk bisa mendapatkan cinta hakiki:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنْ الْمَاءِ الْبَارِدِ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kecintaan-Mu, dan kecintaan orang yang mencintai-Mu, serta amalan yang menyampaikanku kepada kecintaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan-Mu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku serta air dingin. (Doa ini diambil dari hadits riwayat Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi.)

Bahkan doa ini disunnahkan dibaca setiap selesai shalat wajib. Saking penting doa cinta ini. Maka beruntung bagi seseorang yang memperoleh kecintaan Allah.

Orang yang memperoleh cinta Allah akan senantiasa mendapatkan perlindungan dari setiap bahaya dan mendapatkan bimbingan serta petunjuk pada setiap kemaslahatan. Dijamin pasti bahagia dan selamat di dunia akhirat.

Demikian juga bagi hamba yang bisa mencintai Allah melebihi apa pun termasuk dirinya sendiri, maka kebahagiaan akan diperolehnya.

Bisa mencintai istri dan dicintai istri saja sudah sangat bahagia, apalagi bisa mencintai dan dicintai oleh Allah dan Rasulullah.

UST ABDUL GHOFAR HADI

Pandemi Momentum Tepat untuk Konsolidasi Keumatan dan Kebangsaan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sengatan dan dampak dari pandem covid-19 kian terasa parah dan mengkhawatirkan. Kondisi ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan konsolidasi keumatan dan kebangsaan dengan bersatu untuk kepentingan bersama, umat dan bangsa.

Demikian hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq atau UNH dalam acara acara Taushiyah dan Takbiran Nasional 1442 Ormas Islam beberapa waktu lalu seperti disitat sebagian dari channel Hidayatullah ID, Senin (26/7/2021).

“Semua pihak harus menghilangkan ego sektoral atau menanggalkan kepentingan pribadi dan kelompok, apalagi dalam menghadapi pandemi seperti ini yang diperparah dengan krisis ekonomi. Maka, tidak etis, jika ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk kepentingan bisnis, politik dan sebagainya,” katanya.

Dalam pada itu, UNH juga menekankan agar hendaknya mengakhiri polarisasi sisa sisa dari Pilpres kemarin yang membuat kita tidak bersatu dalam menghadapi problema bangsa kita dan dunia saat sekarang ini.

“Maka, mari kita bersatu untuk kita teguh karena bercerai berai itu akan meruntuhkan kekuatan kita. Selama kita bersatu padu, maka Insya Allah, kita akan kuat dan Allah SWT akan senantiasa memberikan pertolongannya kepada kita,” katanya.

Dia pun mengajak untuk bersama merajut persatuan umat yang dimulai dari organisasi massa Islam dan para pimpinan pimpinannya.

“Insya Allah kita solid. Kita kuat, berwibawa, bermartabat dan meraih kemenangan bi idznillah, dan, Insya Allah, kita akan bisa menghadapi kondisi saat ini dengan sebaik baiknya,” ujarnya.

Selain itu, UNH juga mendorong penyikapan atas pandemi ini untuk memperbaiki diri. Ia mengatakan, kita harus menjadikan ujian ini sebagai wadah peningkatan kualitas iman sekaligus sebagai kafarat atas dosa dosa yang terdahulu.

Diterangkan, bahwa seseorang itu diuji oleh Allah berdasarkan kadar kualitas keimanannya. Maka semakin kuat keimanan seseorang maka semakin berat ujiannya. Dan, bagi orang beriman, segala bentuk ujian itu dijadikan sebagai momen sebagai kafarat.

“Dalam banyak hadits disebutkan bahwa tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali menjadi kafarat baginya. Bahkan duri yang menusuknya pun akan menjadi kafarat atas dosa dosa yang telah lalu,” katanya.

Dalam kondisi sulit seperti saat sekarang ini juga bisa menjadi dimanfaatkan untuk menggali potensi yang terpendam. Sebab, terangnya, new reality hari ini menuntut kita untuk berfikir dan bekerja secara cerdas, kreatif dan inovatif dalam menjalankan aktifitas kita sehari hari.

“Dalam kondisi sulit dan sempit pasti ada karya besar yang lahir. Pasti lahir orang orang yang hebat. Fa inna ma’al usri yusra inna ma’al usri yusra. Ada orang orang hebat yang akan lahir dalam kondisi sulit seperti ini. Ada karunia Allah yang akan diberikan kepada orang yang tangguh menghadapi ujian seperti hari ini,” imbuhnya manandaskan. (ybh/hio)

Menghadapi Pandemi dengan Memadukan Protokol Langit dan Protokol Bumi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, mengatakan dalam menghadapi pandemi covid-19 harus disikapi tidak saja dengan menggunakan protokol kesehatan berbasis ilmu pengetahuan dan sains, melainkan juga memadukannya dengan apa yang disebutnya sebagai “protokol langit”.

“Kita harus memadukan antara ikhtiar dan doa secara maksimal. Dalam istilahnya, yaitu memadukan antara protokol langit dan protokol bumi,” katanya beberapa waktu lalu dalam acara Taushiyah dan Takbiran Nasional 1442 Ormas Islam.

Beliau mengimbuhkan, segala bentuk ikhitiar dan doa harus dilakukan secara bersamaan dalam menghadapi pandemi ini.

“Protokol langit dalam bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Sedangkan protokol bumi adalah menjalankan protokol kesehatan sebagaimana telah kita pahami dan upayakan bersama,” katanya.

Jika keduanya sudah dilaksanakan secara sungguh sungguh, lanjutnya, maka apapun ketentuan Allah SWT maka itulah yang terbaik di sisi-Nya.

“Maka salah satu doa yang diajarkan oleh Nabiullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam setiap kali seorang mukmin menghadapi musibah adalah Allaahumma ajirnii fii mushiibatii wa akhlif lii khairan minhaa. Ya Allah, berilah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya,” lanjutnya seraya menyelipkan kiat doa.

Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) ini berpesan kepada diri dan kaum muslimin untuk tetap bersabar dalam menghadapi situasi ini. Sebab, terang dia, boleh jadi setelah ini Allah akan memberikan sebuah karunia bagi orang orang yang menjalaninya dengan penuh kesabaran, penuh optimisme dan penuh husnudzon kepada Allah SWT.

“Semoga kita semua selalu dalam keadaan baik dan sehat. Semoga yang sakit disembuhkan. Yang mengalami kesulitan dimudahkan dan yang telah dipanggil oleh Allah diampuni segala dosa dan kesalahannya, diterima amalnya dan mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya,” katanya.

Beliau menambahkan, dalam kondisi yang kita hadapi seperti saat sekarang ini, spiritualitas dan kedekatan diri kepada Allah SWT harus lebih ditingkatkan, termasuk kesabaran dan sikap optimis menjalani kehidupan di hari hari mendatang.

“Karena kita yakin selalu ada hikmah besar yang terkandung di dalam setiap ketetapan dari Allah SWT,” ujarnya.

Lebih jauh, pria yang karib disapa UNH ini mengingatkan bahwa sebagai orang beriman kita harus yakin bahwasanya setiap Allah menurunkan cobaan dan ujian ujian ada hikmah besar yang menyertainya. Sehingga, terangnya, sikap yang seharusnya dimunculkan adalah sabar, tawakkal dan optimis seraya berdoa semoha Allah SWT memberikan karunia yang lebih baik lagi.

Beliau lantas menukil sebuah hadirs dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang diriwayatkan Imam Muslim:

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”

UNH menerangkan bahwa orang beriman itu keadaannya selalu baik. Dalam keadaan ia susah mendapatkan ujian dan cobaan, ia bersabar dan itu baik baginya. Dalam keadaan ia mendapatkan kenikmatan, dia bersyukur.

“Dalam mengarungi kehidupan ini selalu ada ketentuan Allah yang tidak bisa kita hindari, yang, boleh jadi, sebenarnya untuk kebaikan dan kemaslahatan hambanya namun hamba yang dhaif yang belum mengetahuinya,” imbuhnya seraya mengutip firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 216:

وَعَسٰۤى اَنۡ تَكۡرَهُوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ خَيۡرٌ لَّـکُمۡ‌ۚ وَعَسٰۤى اَنۡ تُحِبُّوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمۡؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

“Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal menurut Allah baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal buruk bagimu. Allah Maha Tahu, sedang kita tidak tahu”.

Beliau menukaskan, bahwa mungkin kondisi yang kita hadapi saat ini adalah sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi itu boleh jadi baik bagi Allah SWT agar kita bermuhasabah. “Agar kita menyadari segala keterbatasan dan kelemahan kita,” pungkasnya. (ybh/hio)

Menjadi Saudara Rasulullah

SEPULANG dari haji wada’, Rasulullah menyempatkan diri untuk takziyah ke pemakanan Uhud. Kemudian Rasulullah berkumpul dengan para sahabatnya, tiba-tiba Rasulullah bersabda, “Saya rindu bertemu saudara-saudaraku”.

Tentu para sahabat heran, hening diam sejenak dan bertanya-tanya dalam hatinya,

“Ya Rasulullah, bukankah kami ini saudaramu?” kata Abu Bakar kemudian.
“ Bukan, kalian adalah sahabatku” jawab Rasulullah.

“Kami juga saudaramu, Ya Rasulullah,” kata Abu Bakar lagi seolah ingin diakui juga sebagai saudara Rasulullah.

Rasulullah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kemudian beliau bersabda,

“Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tapi mereka beriman kepadaku dan mencintai aku melebihi cintanya kepada anak dan orangtuanya. Merekalah saudaraku dan kelak akan bersamaku. Beruntunglah orang-orang yang bertemu kepadaku dan beriman kepadaku. Beruntung pula orang-orang yang tidak pernah bertemu kepadaku tapi mereka beriman kepadaku”.

Para sahabat saja ingin menjadi saudara Rasulullah. Artinya, menjadi saudara Rasulullah itu memiliki kedudukan yang istimewa.

Peluang itu ada pada kita yang hidup ratusan tahun setelah Rasulullah wafat dan kita tidak pernah melihat dan berjumpa dengan Rasulullah.

Kita bisa melihat akhlak Rasulullah melalui membaca dan memaknai mukjizat yang Allah berikan yaitu kitab suci al Qur’an.

Kita mendengar sabda Rasulullah melalui hadis-hadistnya yang ditulis dan dibacakan para ulama.

Kita bisa mengenal Rasulullah dari kitab-kitab shirah yang disampaikan oleh para kyai dan ustadz.

Tapi untuk menjadi saudara Rasulullah tidak cukup hanya mengenalnya tapi mengimaninya dan mencintainya melebihi cinta kita kepada anak, saudara dan orang tua.

Aktualisasi beriman kepada Rasulullah mentaati perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya. Artinya, saat mendengar atau membaca hadist maka seolah memang melihat dan mendengar nasehat Rasulullah sehingga ada keterpanggilan dan semangat untuk menjalankan perintahnya. Seperti hadist tentang keutamaan menjaga waktu shalat, mengamalkan shalat sunnah rawatib, puasa Senin Kamis dan banyak sunnah yang lainnya.

Ada banyak cara dan contoh untuk bisa dicintai Rasulullah. Ada sahabat Bilal bin Rabah yang sandalnya sudah ada di surga karena amalan yang istiqamah dalam melaksanakan sunnah shalat setelah wudhu.

Ada sahabat yang setiap mau tidur memaafkan semua kesalahan orang lain. Ada juga yang senantiasa setiap pagi bersedekah, ada yang memperbanyak membaca shalawat.

Rasulullah rindu ingin bertemu dengan saudara-saudaranya. Sekarang apakah kita yang mengaku dan ingin menjadi saudara juga merindukan Rasulullah?

Rasa rindu itu ada perasaan menggebu dan semangat untuk bertemu dengan mempersiapkan sejak sekarang ini untuk ikhlas beramal ibadah, beramal sholeh dan mengambil tugas Rasulullah yaitu dakwah tarbiyah untuk memperjuangan agama Islam bisa tegak di dunia ini. Wallahu a’lam bis shawwab

UST ABDUL GHOFAR HADI

BMH Kirim Bantuan Sembako untuk Masyarakat Pulau Seraya Kepri

0

KEPRI (Hidayatullah.or.id) — Di masa pandemi hampir semua sektor terdampak secara ekonomi, apalagi dengan diberlakukannya PPKM.

Demikian halnya dengan masyarakat nelayan di Pulau Seraya, pendapatan mereka menurun drastis.

Menyikapi kondisi ini BMH Kepri terpanggil untuk turut meringankan beban kesulitan yang dialami para nelayan di Pulau Seraya.

Tim BMH Kepri hadir ke Pulau Seraya yang langsung dipimpin Kepala BMH Perwakilan Kepulauan Riau, Abdul Aziz guna menyambangi masyarakat dengan membawa amanah kebaikan kaum Muslimin.

“Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban kaum muslimin di Pulau Seraya yang juga terdampak dari masa pandemi dan PPKM. Bantuan yang disalurkan BMH Kepri merupakan bantuan dari para dermawan yang selama ini selalu mempercayakan donasi Zakat, Infaq dan Sedekah mereka melalui BMH.” terang Abdul Aziz bersemangat.

Salah seorang warga, Haji Amran, sangat berterima kasih atas bantuan yang diterima.

“Perhatian ini adalah bagian dari ikatan persaudaran sesama muslim sehingga kami mengucapkan terima kasih kepada BMH dan para donatur yang berkenan membantu kami,” ujar H Amran sumringah.

Selain menyalurkan bantuan ke Pulau Seraya, di masa pandemi ini, BMH Kepri juga telah menyambangi kampung muallaf di Pulau Caros, Batam dan kampung muallaf di Selat Kongki, Kojong Kabupaten Linga.

“Tekad BMH Kepri untuk terus menebarkan kebaikan tanpa batas dengan menyalurkan bantuan para donatur dengan tepat sasaran dan amanah,” tutup Abdul Aziz.*/

Hidayatullah Makassar Wakili Sulsel Seleksi Ponpes Unggulan Festival Ekonomi Syariah KTI 2021

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) –– Pesantren Hidayatullah kampus utama Makassar terpilih mewakili pondok pesantren se-Sulsel mengikuti seleksi program Ponpes Unggulan tingkat nasional.

Ponpes yang dibina Yayasan Albayan Hidayatullah itu menjadi wakil Sulsel dan regional Sulawesi untuk program pengembangan ekonomi dan kemandirian pesantren pada Festival Ekonomi Syariah KTI 2021 dari Bank Indonesia (BI).

“Alhamdulillah tentunya ini kepercayaan dari lembaga BI yang membanggakan kami dan menjadi motivasi mewujudkan visi Ponpes Hidayatullah Makassar yang unggul dan maju untuk semua bidang dan program yang dilaksanakan,” jelas Ketua Yauasan Albayan Hidayatullah Makassar, Ust Suwito Fatah MM di sela proses penelian secara daring, Jumat (23/7/2021).

Kegiatan ekonomi dan kemandirian Ponpes Hidayatullah Makassar yang diikutkan pada seleksi itu unit konveksi, Albayan Konveksi.

Albayan Konveksi belum lama ini juga dipercaya oleh Bank Indonesia menjadi peserta pada expo ekonomi syariah di Trans Mall. Menampilkan berbagai produk busana muslimah hingga seragam sekolah.

Albayan Konveksi merupakan salah satu unit usaha yang dikembangkan Yayasan Albayan untuk kemandirian ekonomi pondok. Selain peternakan ayam (Albayan Ternak) dan Rumah Pemotongan Ayam, hingga unit rumah makan cepat saji bekerjasama dengan Om Chick Resto.

Ketua Departemen Ekonomi Yayasan Albayan Hidayatullah Ust Alyas mengungkapkan dari penjurian awal seleksi ponpes unggulan iti ditetapkan empat ponpes terbaik yakni Ponpes Yatofa NTB, Ponpes Abdussalam Kalimantan Barat, Ponpes Hidayatullah Makassar Sulsel dan Ponpes Ushuludin Kalimantan Selatan.

Indepth interview kepada empat ponpes terbaik itu oleh Dr Basniang Said dari Kemenag, Dr Yasmine Nasution akademisi UI dan Dr Yono Harsono dari BI.*/Firman L

BMH Jatim Salurkan 3.718 Hewan Kurban ke daerah Krisis Air Bersih

0

LUMAJANG (Hidayatullah.or.id) – Sebanyak 4.854 orang telah ikut berkurban tahun ini. Dalam hal ini, ada sebanyak 3.178 hewan kurban telah disalurkan. Itulah raihan yang berhasil dicatatkan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Jawa Timur dalam momentum Idul Adha 1442.

Pencapaian tersebut terbilang progresif. Bahkan BMH Jawa Timur sukses menyalurkan hewan kurban tersebut berbarengan dalam program Qurban Plus Sedekah Jariyah Sumur Bor. Rinciannya adalah 164 ekor sapi dan 3.014 ekor kambing.

Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Perwakilan Jawa Timur, Imam Muslim, mengatakan para pekurban (mudhohi) telah mengamanahkan dan memepercayakan ibadah kurbannya melalui Laznas BMH Perwakilan Jawa Timur.

“Meski saat ini kita dalam masa sulit karena pandemi ini, Alhamdulillah rasa ingin berbagi masyarakat sangat tinggi. Para donatur dan dermawan itu memilih program Qurban Laznas BMH,” kata Imam Muslim.

Muslim menjelaskan, sebanyak 89.425 jiwa telah menerima manfaat daging kurban dari Laznas BMH. Mereka tersebar di 38 kabupaten/kota, 65 desa krisis air bersih, 83 pesantren dan panti asuhan, serta 33 Rumah Quran di Jawa Timur.

“Semoga dengan adanya program penyaluran daging kurban ini, bisa meringankan beban warga terutama karena pandemi,” ujar Muslim.

Sepenarian dengan itu, kurban tersebut juga didistribusikan ke titik pemukiman muallaf yang menjadi binaan para dai yang bertugas di sejumlah titik seperti di Tengger.

“Kami sangat senang bisa mendapatkan distribusi kurban untuk mualaf Tengger di sini. Semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan,” ungkap Ustadz Bukhori, dai Laznas BMH yang bertugas mengabdi di Lereng Tengger, Senduro, Lumajang.

Dalam melaksanakan kegiatan kurban kali ini, tim panitia BMH menerapkan protokol kesehatan dengan sangat ketat. Prosesi pemotongan hewan dilaksanakan secara tertutup, dengan hanya dihadiri petugas.

Selain itu, untuk menghindari penyebaran pandemi dan aktifitas yang melibatkan massa yang besar, distribusi juga dilakukan dari rumah ke rumah demi menghindari kerumunan warga.*

Refkesi Qurban: Bukan Daging tapi Pengorbanannya

0
Ilustrasi: Hewan qurban disalurkan oleh BMH pada Idul Adha 1442 Hijriyah untuk rakyat Kenya, negara yang berada di benua utara Afrika (Foto: dok. Hidayatullah.or.id)

HARI raya Idul Adha 1442 H ini terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Terutama di daerah Jawa dan Bali dengan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat. Salah satu aturannya adalah melarang kaum muslimin melaksanakan shalat Idul Adha di masjid maupun di lapangan.

Pemerintah khawatir ada kerumunan yang tidak bisa dikendalikan sehingga bisa memicu kluster baru covid-19. Apalagi tren penyebaran covid-19 varian delta sangat cepat dan mudah.

Satu sisi pemerintah tidak melarang kegiatan pemotongan hewan Qurban. Tentu dengan pengawasan yang ketat dengan protokoler kesehatan. Sehingga di beberapa titik RT, RW atau masjid dan mushola ada pemotongan hewan qurban.

Anak-anak yang paling banyak bergembira dan semangat menyaksikan kegiatan pemotongan hewan qurban. Dari beberapa hari sebelum hewan qurban disembelih, mereka sudah datang bergantian bermain-main dengan hewan qurban. Mungkin jarang ada penyembelihan kambing atau sapi dalam jumlah tertentu.

Penyembelihan hewan qurban di hari raya Idul adha adalah syariat Allah yang sunnah diamalkan oleh orang-orang beriman. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat al Kautsar “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah”.

Dalam hadits Mikhnaf bin Sulaim secara marfu’ berbunyi: “(wajib) atas penduduk setiap rumah pada tiap tahunnya untuk berqurban.”

Rasulullah dalam hadist juga menyampaikan, “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan dia tidak berqurban, maka janganlah ia dekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah).

Hadist ini bernada ancaman sebagai bentuk penekanan terhadap keseriusan perintah berqurban. Apa tidak takut, bagaimana perasaan kita, tidak boleh rumah Allah sebagai sebaik-baiknya rumah. Artinya kita diakui sebagai golongan umat Muhammad. Na’udzu billahi mindzalik

Makna dari berqurban bukan sekedar menyembelih hewan qurban dan bisa makan daging qurban. Tapi menapaktilasi pengorbanan Nabiyullah Ibrahim yang diperintahkan Allah menyembelih putra tersayangnya Ismael kecil. Sebuah perintah luar biasa dari Allah tapi bisa dilaksanakan dengan ketaatan yang luar biasa dari Nabiyullah Ibrahim dan nabi Ismael kecil.

Sehingga pengorbanan menyembelih hewan qurban itu sangat kecil dan sederhana dibandingkan perintah Allah kepada Ibrahim dan Ismael. Tapi tidak semua orang kaya atau mampu secara harta, ada keterpanggilan untuk berqurban.

Berqurban bukan karena dia kaya atau miskin tapi ketaatannya kepada Allah. Karena banyak tukang becak, penjual sayur klontong, petugas kebersihan yang bisa berkorban setiap tahun.

Karena hanya keterpanggilan iman yang bisa menggerakkan seseorang mau berqurban, sebagaimana ketaatan Ibrahim dan Ismael adalah tingkat keimanan yang sangat tinggi sehingga tidak ada keraguan, keengganan, penawaran sedikitpun untuk melaksanakan perintah Allah.

Allah mengingatkan dalam surat al Hajj ayat 37 : “ Tidaklah daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai ridho Allah, tapi ketaqwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya”.

Sehingga bukan daging dan darahnya yang Allah butuhkan dari berqurban tapi ketaqwaan, keikhasan, niat dan amal sholehnya yang dinilai oleh Allah. Meski berqurban juga mengandung dimensi sosial untuk berbagi daging kepada tetangga, saudara dan orang lain.

Ada banyak cara untuk berqurban dengan mudah dan murah yaitu dengan menabung setiap bulan bersama teman-temannya. Sehingga setiap tahun tidak terasa bisa berqurban, tinggal terus meluruskan niat dan meningkatkan keikhlasan berqurban karena Allah.

Bagi yang belum bisa berqurban, jangan puas hanya mendapatkan daging qurban dari tetangga atau pembagian dari panitia. Jangan juga risau saat tidak mendapatkan daqing qurban dari tetangga atau panitia.

Tapi, harus ada kegelisahan dan kerisauan dalam imannya, bagaimana caranya saya bisa berqurban untuk membuktikan ketaatan dan keimanan kepada Allah?

Ust Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wasekjen DPP Hidayatullah