Beranda blog Halaman 415

Khatib Idul Adha Pegunungan Arfak Dilepas Lebih Lebih Dini

ARFAK (Hidayatullah.or.id) — Karena harus menempuh perjalanan yang memakan waktu cukup lama dan dengan medan yang tidak mudah dilalui, Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat melalui Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) melakukan pelepasan dai khutbah Idul Adha 1442 H ke Kabupaten Pegunungan Arfak Papua Barat lebih awal.

Pengiriman dai ini dilakukan sehari sebelum memasuki Hari Raya Idul Adha 1442 H atau Idul Adha 2021 pada 10 Dzulhijjah 1442 H yang jatuh pada Selasa tanggal 20 Juli 2021.

Pelepasan dai yang dilakukan oleh Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat Ust Hasdar Ambal. Adapun dai yang bertugas adalah Ust Burhanuddin Ibnu yang turut dibersamai rekan lainnya selama perjalanan darat tersebut.

Dalam keterangannya, Ust Hasdar Ambal mengatakan beberapa kawasan binaan masyarakat muslim di pedalaman Kabupaten Pegunungan Arfak Papua Barat termasuk titik dakwah yang tidak ringan terutama karena medan jalan dan jarak tempuhnya yang cukup menantang.

“Pembinaan rutin kita lakukan dengan mengutus dai terjun langsung kepada masyarakat,” kata Ust Hasdar.

Diketahui, Kabupaten Pegunungan Arfak merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Manokwari di Provinsi Papua Barat. Pegunungan Arfak adalah gugusan gunung yang membentang di bagian kepala burung Pulau Papua.

Ust Burhanuddin Ibnu dan dai dai yang bergiliran diutus ke Arfak memang harus berhitung dengan cermat untuk menuju ke kawasan ini. Khususnya memastikan keandalan armada yang digunakan harus betul betul tangguh dan tak sedang bermasalah.

“Armada mobil dipastikan betul harus dalam kondisi prima. Soalnya perjalanan yang ditempuh cukup lama dan selama dalam perjalanan tidak ada bengkel yang bisa disinggahi apalagi kalau malam hari,” imbuh Hasdar.

Diketahui, Dari Manokwari untuk menuju ke Kabupaten yang memiliki ketinggian 2.950 meter di atas permukaan laut (dpl) ini harus ditempuh oleh kendaraan double gardan atau four wheel drive (4WD).

“Pengiriman dai ke Kabupaten Arfak rutin kami lakukan bukan hanya untuk mengisi hari-hari besar,” imbuhhnya seraya menambahkan Kabupaten Arfak adalah daerah minorotas muslim sehingga menjadi tanggungjawab Hidayatullah sebagai ormas yang bergerak di bidang dakwah untuk meluaskan Islam rahamatan lil ‘alamin di kawasan. (ybh/hio)

Kirim Hewan Qurban ke Suku Dayak Muallaf Pedalaman

0

MAHULU (Hidayatullah.or.id) — Menjelang Hari Raya Idul Adha 1442 H, lembaga Islamic Medical Service (IMS) bekerjasama dengan BMH, Pos Dai, dan DPD Hidayatullah Mahakam Ulu mulai melakukan pengiriman ekspedisi hewan qurban ke berbagai titik, salah satunya ke wilayah suku Dayak muallaf pedalaman (Suku Dayak) yang ada di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (17/07/2021).

Ust Edy Harianto selaku Sekretaris DPD Hidayatullah Kabupaten Mahakam Ulu mengatakan bahwasanya hewan qurban ini nantinya akan di salurkan ke beberapa kampung muallaf yang ada di Kalimantan Timur, khususnya di daerah Mahakam Ulu.

“Ada beberapa kampung muallaf yang kita akan dituju pada kesempatan ini, diantaranya, Kampung Long Melaham ada 90 KK muallaf, Kampung Mamahak Ulu ada 50 KK muallaf dan Kampung Rukun Damai ada 45 KK muallaf,” Kata Edy.

Edy juga mengatakan bahwasanya masih ada beberapa kampung pedalaman yang belum tersentuh hewan kurban dikarenakan jumlah hewan yang masi kurang atau belum terpenuhi, diantaranya Kampung Long Apari dan Kampung Long Pangahai yang ada di daerah berbatasan Indonesia dan Malaysia.*/Alamsyah

Jelang Idul Adha, BMH Gelar Event Virtual Edukasi Qurban

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) –– Guna memberikan layanan dakwah dan edukasi, terutama kepada kaum Muslimin, terkhusus generasi milenial yang menjadi panitia kurban, BMH menghadirkan virtual event pelatihan pemotongan hewan kurban sesuai dengan syariah, Ahad (18/7/2021).

Event virtual edukatif itu dilakukan melalui tiga media sosial, yakni Youtube BMH TV, Fanspage Baitul Maal Hidayatullah dan Instagram @official.bmh.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, ulama muda Pesantren Hidayatullah Depok, Ustadz Rasfiuddin, SSy, MIRK.

Jebolan magister syariah IIUM Malaysia ini menjelaskan bahwa dalam penyembelihan hal pertama yang harus diperhatikan ialah adab.

“Islam memberikan aturan dalam hal menyembelih. Ada orang menyembelih semaunya dia. Padahal (Islam) itu ada aturannya, ada tatacaranya. Mulai dari pisau,” katanya.

Ustadz Rasfiuddin menjelaskan, pisau atau parang sembeleh yang dipakai itu bukan sembarang pisau. “Usahakn pisau yang memang benar-benar disiapkan, sehingga hewan mudah kala disembelih,” ulasnya.

Dia mengatakan, Rasulullah SAW juga sudah memberikan panduan mengenai hal ini.

“Barangsiapa yang ingin membunuh (dalam bentuk qishas) harus benar-benar baik dalam pelaksanaannya. Dan, juga ketika ingin menyembelih hewan, maka harus berbuat baik dalam menyembelih hewan itu,” imbuh Ustadz Rasfi menjelaskan keterangan dari Nabi SAW.

Selain itu, juga dalam penyembelihan hewan hendaknya dijauhkan dari hewan yang masih hidup dan menunggu giliran untuk disembelih.

“Bahkan lebih dari itu, kala hendak menggiring hewan kurban ke tempat penyembelihan, hendaknya dengan tidak disertai kekerasan. Pernah Umar bin Khathab marah kepada seorang yang menggiring hewan kurban ke tempat penyembelihan dengan cara dicambuk. Itu tidak boleh,” tegas Ustadz Rasfi.

Menurutnya, apabila adab ini dimengerti dan dijalankan, hewan kurban akan tenang.

“Nah, kalau tidak diterapkan, inilah kenapa hewan itu ada yang lompat. Karena kala diambil tidak diambil dengan kelembutan, tapi malah diambil paksa. Kalau jenis sapi atau kerbau, diambil paksa malah akan ngamuk,” urainya.

Virtual event ini juga menghadirkan praktik penyembelihan hewan kurban sesuai syariah yang langsung dicontohkan oleh Ustadz Rasfiuddin.

Beliau menerangkan, dalam menyembelih usahakan hewan tenang, posisikan senyaman mungkin. Kemudian lokasi yang ditempatkan pisau pada lehernya tepat dua jari di bagian leher. Dengan begitu, langsung bisa memutus dua saluran sekaligus, yakni saluran nafas dan pencernaan, sehingga hewan qurban bisa mati dengan segera.

“Kemudian, apabila telah disembelih, tunggu sampai hewan benar-benar mati, barulah kemudian dilanjutkan proses selanjutnya,” paparnya.

Seorang netizen sangat antusias dengan gelaran virtual event ini. Di akun Instagram BMH, ia langsung bertanya.

“Kak, nanti kambing yang kita amanahkan di BMH akan dapat dokumentasi seperti ini kan? Saya sudah kurban Kak (ke BMH) melalui market place,” katanya.

Hal itu menunjukkan bahwa edukasi dan dakwah dalam hal yang sebenarnya sudah umum ini tetap dibutuhkan oleh masyarakat.

Mereka yang tidak tahu akan menjadi sangat senang dengan ibadah kurban. Mereka yang menjadi panitia akan lebih punya persiapan, bukan saja sisi teknis, tetapi juga aturan dalam syariah.*/Herim

Sikapi Pandemi Covid-19, Hidayatullah Imbau Utamakan Keselamatan Jiwa

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, menghimbau terutama pada jamaah, kader dan simpatisan untuk selalu berikhtiar menerapkan protokol kesehatan secara ketat sebagai upaya mendahulukan keselamatan jiwa.

“Ini untuk keselamatan jiwa kita. Hifdzun nafs ini yang harus didahulukan,” katanya dalam acara pengarahan Menyikapi PPKM dan Pelaksanaan Idul Adha 1442 secara virtual yang diikuti oleh unsur Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah se-Indonesia, Kamis (15/7/2021).

Beliau tak menampik masalah pandemi ini merupakan hal pelik terutama karena ramainya seliweran informasi tentangnya. Oleh sebab itu, ia menekankan sikap bijak dan proporsional dalam menyikapinya.

“Jadi ini harus clear, bapak-bapak sekalian. Sikap wasathiyah kita. Bahwa ini adalah pandemi, bahwa ada yang memanfaatkan untuk ini dan itu, memang iya. Tetapi, karena ia sudah menjadi wabah, maka kita harus menyikapinya sesuai dengan tuntunan syariah dan tuntunan kesehatan,” imbuhnya.

Ia pun meminta para kader untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan, keimanan, dan melakukan ikhtiar yang sungguh sungguh dalam menghadapi wabah ini.

Alhamdulilllah ‘ala kullihal, kita bersyukur memuji Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya meksipun kita dalam kondisi yang sangat memprihatinkan saat ini, tetapi kita masih bisa menjaga dan memelihara keimanan kita dengan sikap sabar, optimis, dan ikhtiar,” imbuhnya.

Dalam kondisi yang seperti saat sekarang ini, terangnya, kita harus bersikap wasathiyah. Menurutnya, sikap yang terbaik adalah menerima kondisi ini sebagai sebuah takdir dan itu adalah bagian daripada keimanan.

“Kita sikapi dengan sabar, optimisme dan disertai dengan ikhtiar dan mujahadah yang maksimal. Nggak bisa lagi kita kemudian berfikir bahwa ini adalah ini itu lalu kemudian kita pasrah. Kita tidak seperti itu. Kita sikapi semua secara proporsional,” tegasnya.

Dalam hal ini, DPP Hidayatullah juga mengimbau para kader, terutama yang berada di zona merah dan orange, untuk memperketat protokol kesehatan serta memaksimalkan funsgi Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid19 yang sudah dibentuk di setiap kampus kampus Hidayatullah.

Beliau mengatakan, saat ini juga belum bisa diprediksi kapan pandemi ini berakhir. Bahkan saat ini sudah gelombang kedua. Diperkirakan akan bertahun setahun atau dua tahun menurut prediksi umum. Demikian juga PPKM.

Beliau melihat, masa pembatasan tersebut boleh jadi bertambah dua pekan bahkan sudah ada wacana hingga enam pekan. Hal itu bisa saja terjadi karena belum ada tanda tanda bahwa ini akan menurun.

“Nah, oleh karenananya, karena ini jangka panjang, maka kita sebagai sebuah harakah, kita tidak bisa menunggu berakhir baru kemudian kita bergerak,” imbuhnya.

Beliau mengatakan bahwa Hidayatullah sebagai jamaah, harakah, ormas, dan sebagai pesantren dengan beragam programnya, sudah harus berfikir keras untuk melakukan inovasi dan kreatifitas bagaimana semua program yang ada dapat berjalan dengan baik dengan cara yang inovatif.

“Tidak bisa lagi kita tunda-tunda. Oleh karenanya, kemarin di Pleno DPP, saya menegaskan bahwa semua bidang dan departemen beserta seluruh jajarannya secara nasional harus mencari solusi. Disinilah akan muncul the power of kepepet,” imbuhnya.

Dalam pada itu, Hidayatullah tingkat nasional secara rutin juga melakukan musyawarah atau rapat koordinasi dengan pimpinan ormas ormas Islam dan pihak pihak terkait lainnya dalam menghadapi masalah ini.

“Pada dua malam yang lalu, 6 pimpinan omas Islam tingkat pusat dialog dengan seorang dokter yang cukup kompeten dan berintegritas membahas masalah ini. Beliau juga seorang ustadz karena beliau paham sekali dalil dalil,” ujarnya.

Adapun terkait vaksin, DPP Hidayatullah mempersilahkan kader untuk melakukannya, terutama kader yang mobilitasnya tinggi. Namun, kader yang memiliki penyakit bawaan sebaiknya berhati hati dan berkonsultasi dengan dokter.

“Untuk sementara ini kita persilahkan kepada kader untuk melakukan vaksinasi jika memang sangat membutuhkan. Sangat membutuhkan, artinya, banyak urusan dan tugas penting yang terkendala kalau tidak vaksin. Seperti saat sekarang ini, kalau mau terbang mensyaratkan harus vaksin. Begitu juga untuk mengurus macam macam, administrasi, dan lain lain. Kalau itu dianggap darurat, maka vaksin,” jelasnya.

Tetapi, tambahnya, bagi mereka yang ada gangguan kesehatan misalnya tensi darah yang tinggi atau terlalu rendah, dibolehkan untuk tidak vaksin dengan meminta surat pengantar dari Puskesmas. Begitu juga yang baru saja positif dalam 3 bukan terakhir ini. (ybh/hio)

Jalankan Amanah Satgas dalam Tangani Covid-19 masa PPKM

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menjadi salah satu lembaga dari anggota Forum Zakat yang mendapat Surat Tugas dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 tertanggal 10 Juli 2021.

Direktur Program dan Pemberdayaan BMH Pusat Zainal Abidin mengatakan pihaknya termasuk lembaga yang diberikan amanah tugas mendukung pelaksanaan tugas penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

“BMH termasuk lembaga yang diberikan amanah tugas mendukung pelaksanaan tugas penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) di wilayah yang melaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat darurat,” terang Zainal Abidin mengenai Surat Tugas dimaksud (12/7/2021).

Dengan demikian, lanjut dia, amil BMH yang terdaftar dapat melaksanakan tugas penyaluran bantuan (distribusi bantuan pangan dan obat-obatan, penyemprotan disinfektan, pelayanan ambulans, pelayanan jenazah, dan konsultasi kesehatan) kepada warga terdampak Covid-19.

“Semoga dengan hadirnya BMH dalam Satgas ini dapat menjadikan amanah kebaikan para donatur dapat tetap disampaikan kepada yang berhak menerima di tengah situasi yang berat bagi bangsa ini,” imbuh Zainal.

Surat Tugas ini sendiri berlaku dari 11 Juli 2021 hingga 31 Juli 2021.*/Herim

Pemimpin Harus Memiliki Bekal Spiritual dengan Bertahannuts

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust Dr H Nashirul Haq mengatakan seorang pemimpin harus memiliki bekal spiritual yang memadai dan hal itu dapat ditempa melalu proses tahannuts atau menyendiri untuk berfikir dan beribadah kepada Allah SWT.

“Bertahannuts sebenarnya bukan hanya sekedar beribadah kemudian mengumpulakn amal sebanyak-banyaknya, akan tetapi ini adalah proses menyiapkan diri sebelum menerima amanah yang besar,” katanya.

Hal itu disampaikan beliau dalam acara Kegiatan Transformasi Manhaj Pekanan mahasiswa yang digelar di Aula Utama Kampus STIE Hidayatullah Depok, Rabu (14/7/2021).

Ia mengatakan, bekal ruhani amat penting dimiliki oleh seorang pemimpin agar ia memiliki keteguhan. Orang yang lemah ibadahnya bisa dipastikan akan mudah down, malas serta lamban melakukan kebaikan (futur) dan pasti banyak mengeluh.

“Jangankan menyelesaikan masalah dalam urusan perjuangan dakwah ini, dalam urusan pribadi dan keluarganya saja belum tentu bisa ia selesaikan,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, ia mengingatkan kepada generasi muda untuk menjaga ibadah dan merawat tradisi tahannuts ini, atau, dalam tradisi Hidayatullah dikenal dengan isitilah “bergua hiro”.

Tahannuts atau tahannuf adalah kebiasaan orang-orang hanif pada masa sebelum datangnya Islam atau salah satu perjalanan pra wahyu sebelum diangkatnya Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.

Beliau melanjutkan, suksesnya Nabi melewati fase bergua hiro tidak lepas dari dukungan sang istri tercinta, Ummul Mukminiin Khadijah Radiyallahu ‘Anha. Oleh sebab itu Ust Nashirul Haq berpesan kepada para peserta kajian manhaj ini agar kelak mencari pendamping hidup yang sepadan dan sevisi. Karena, jika tidak, maka akan sangat berat dia akan melewati perjuangan ini.

“Sebenarnya para kader Hidayatullah telah dibekali dengan manhaj yang luar biasa berupa salah satu surah yang selalu dibahas yaitu Al-Muzzammil dimana dalam surah ini terdapat beberapa azimat yang kemudian dikenal dengan istilah Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) sebagai modal spiritual para kader. Bahkan, bisa dikatakan, Surat Almuzzamil adalah metode tahannuts dimasa modern,” ungkapnya.

Beliau pun menekankan pentingnya mengejawantah spirit daripada perikehidupan Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagaimana telah ditulis dalam tinta emas Sirah Nabawiyah, dimana setiap peristiwa yang dialami oleh para rasul bukanlah kebetulan melainkan rekayasa Ilahiyah.

“Ini sebuah isyarat bahwa melahirkan pemimpin hebat dan tangguh itu perlu proses dan penggemblengan yang kontinyu. Pemimpin tidak bisa lahir secara kebetulan, tidak ada yang kebetulan. Hal demikian bisa dibuktikan dalam sejarah, yang berhasil memimpin dunia adalah mereka yang disiapkan sejak kecil,” imbuhnya.

Lebih jauh beliau menjelaskan bahwa fase bergua hiro adalah salah satu peristiwa pra wahyu yang dilalui oleh Nabiullah Muhammad SAW sebagai salah satu bentuk tarbiyah Ilahiyah yang langsung direkayasa oleh Allah SWT dalam rangka mempersiapkan pemimpin yang handal yang sanggup membawa risalah agama Islam ini.

“Fase pra wahyu ini diyakini oleh Hidayatullah sebagai sebuah proses yang harus dikontekstualkan dalam kehidupan para kadernya untuk melahirkan pemimpin yang Ideal kemudian hari nanti,” pungkasnya.

Kegiatan Transformasi Manhaj ini dipandu oleh Rasfiuddin Sabaruddin S.sy, MIRK, yang juga Wakil Ketua I bagian Akademik STIE Hdayatullah. Kegiatan pekanan yang dilakukan oleh STIE Hidayatullah ini sebagai upaya transformasi manhaj langsung dari para senior. (ybh/hio)

[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Idul Adha 1442 Hijriyah

BERIKUT naskah khutbah Idul Adha 1442 Hijriyah rilis DPP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin.

DOWNLOAD

Sugeng Tindak Pak Kamto

PAK KAMTO. Begitu biasanya saya memanggil. Beliau asli Klaten. Sejak dulu saya kenal, tetap saja sederhana dan murah senyum.

Tahun 1994, tepatnya tanggal 23 Mei, pertama kali kenal beliau. Saat itu, Saya selesai ta’aruf bakda Maghrib, di mushola asrama Pesantren Assakinah Hidayatullah Yogya. Garasi yang disulap jadi mushola tersebut, dapat memuat santri dewasa, sekitar 30 orang. Pesennya sederhana,”Yang sabar dan ikhlas Mas”.

Beliau termasuk santri Awal di Pesantren Hidayatullah Yogya. Saat beliau masih mahasiswa akhir di IKIP Yogya (sekarang UNY), hingga lulus, yang setahu saya ijazahnya tidak pernah diambil. Mentor yang sabar bagi Kami, untuk memahami bagaimana berjuang.

Memberi contoh dalam beribadah. Meski terkantuk-kantuk karena capek di siang hari, tetap menegakkan qiyamul lail di malam hari.

Mengajari bagaimana dengan kesederhanaan dan kemampuan terbatas, kita mesti tetap memberikan yamg terbaik dan melayani orang lain. Salah satunya, saat itu adalah bagaimana adik-adik di Panti Asuhan tetap bisa menjalankan aktifitasnya. Dan berbagai hal yang tak cukup untuk dituliskan dan diceritakan disini.

Beliaulah pimpinan proyek pertama, pembangunan Pesantren Hidayatullah di Balong-Donoharjo-Ngaglik Sleman. Tinggal di Bivak, untuk memgatur tukang dan beberapa santri dewasa yang bertugas disitu. Juga setiap Sabtu-Ahad, kami santri dewasa mesti kerjabakti di mBalong itu. Masjid adalah bangunan yang pertamakali dibangun, saat itu.

Tahun 1996, beliau menjadi salah satu kader yang ikut nikah mubarakah di Surabaya. Saya dan pak Sur, menyiapkan rumah beliau di Monjali.

Saat Ibu Saya meninggal dunia 1996 dan Bapak meninggal dunia tahun 2010, beliau hadir ke Tulungagung. Selanjutnya, saat tahun 1998 saya yang menikah di Pangkalpinang-Babel, beliau utusan dari Yogya yang hadir.

Kemudian waktu terus bergulir. Tahun 1999, saya dapat amanah ke Jakarta. Beliau juga mendapat berbagai amanah dakwah, di Sragen. Beberapa kali berjumpa, dalam berbagai kesempatan.

Tahun 2016, saat menghadiri kegiatan BMH di Solo, beliau mengajak saya ke Yayasan An-Nahl Sragen, untuk mengisi kajian dihadapan santri dan pengurus. Lokasi yayasan An-Nahl ada di beberapa tempat, itulah ladang amal beliau hingga akhir hayat.

Terakhir jumpa beliau bulan Januari 2021. Beliau datang ke rumah bersama Bu Endang istri beliau, sehabis beliau mengantarkan santrinya ke Depok. Saya tidak bisa ngobrol banyak, hanya dari jauh, saat itu saya sedang isoman.

Kemudian dapat kabar bahwa, beberapa hari ini kondisi beliau drop. Dirawat di Al Kahfi Mojosongo Solo. Tidak bisa masuk Rumah Sakit, karena semua penuh. Beliau dibantu oksigen, dan sempat menipis.

Saya terus memantau hingga pukul 21 WIB perkembangan beliau, melalui ustadz Abdul Munir. Dilaporkan, sempat kritis sekitar jam 19 saya dikirim videonya. Lalu jam 20 lewat mendapatkan oksigen baru dan keadaan beliau membaik.

Ternyata Allah lebih mencintai beliau dan memanggilnya pada hari ini: Senin, 12 Juli 2021 tepat pukul 23.00 WIB. Berita tersebar di grup WA.

Selamat jalan sang Mujahid, Ust Ahmad Salim Sukamto. Selamat jalan mentor dan Kangmasku. Surga menantimu, Saya menjadi saksi bahwa antum Ahlul Khair wa Ahlul Jannah. In syaa Allah syahid fi sabiliLlah.

Santri dan Sahabatmu,
Asih Subagyo

Pola Makan, Masalah Obesitas dan Kiat Islam Mengatasinya

KETIKA menelusuri kehidupan para ulama terdahulu dan mendengarkan nasihat-nasihat mereka, kami mendapati anjuran yang berulang-ulang untuk mempersedikit makan dan minum.

Mereka pun mencontohkannya secara nyata. Bahkan, banyak di antara mereka yang seakan-akan berpuasa sepanjang hayat. Kisah semacam ini sangat mudah ditemukan dalam karya-karya klasik dan bertebaran dalam biografi banyak ulama termasyhur.

Akan tetapi, tatkala membaca artikel-artikel modern, kami mendapati hal sebaliknya. Yang mudah ditemukan justru anjuran minum sekian liter air dalam sehari, mengkonsumsi makanan yang mengandung sekian kilo kalori (kkal) dan cukup serat, kriteria berat badan ideal, dll.

Hampir tidak ditemukan anjuran berpuasa. Bahkan, bagi orang-orang yang mengalami kelebihan berat badan (obesitas) sekali pun, anjurannya tetaplah makan dan minum dalam kadar tertentu, bukannya memperbanyak puasa.

Belakangan, kami baru menyadari bahwa perbedaan pijakan dan sudut pandanglah yang melatarbelakangi kedua kecenderungan tersebut. Peradaban Islam dibangun di atas pemeliharaan ruh, sementara materi mengikuti dan menjadi pelayannya. Akan tetapi, peradaban modern (Barat) ditegakkan di atas pondasi materialisme yang menafikan peran jiwa.

Kedua cara berpikir itu kemudian mengembangkan pola-pola budaya dan peradaban yang seringkali saling berseberangan secara diametral.

Kita mendapati Abu Sulaiman ad-Darani (seorang zahid, w. 215 H) berkata, “Barangsiapa yang kekenyangan, maka ada enam bencana yang masuk kepadanya, yaitu (1) kehilangan manisnya bermunajat kepada Allah, (2) sulit menghafalkan hikmah, (3) tidak bisa berempati kepada sesama makhluk sebab bila kekenyangan ia akan menyangka semua orang juga kenyang sepertinya, (4) berat menunaikan ibadah, (5) bertambahnya syahwat, dan (6) bahwa segenap kaum muslimin berkerumun di sekitar masjid-masjid sementara orang-orang yang kekenyangan akan berkerumun di sekitar tempat-tempat pembuangan kotoran.” (Ihya’ Ulumiddin, III/87).

Beliau juga berkata, “Setiap hal memiliki penanda. Penanda keterlantaran (jiwa) adalah tidak mau menangis. Setiap hal juga memiliki karat, dan karat hati adalah terlalu kenyang. Pondasi semua kebaikan adalah merasa takut terhadap dunia, dan kunci dunia adalah kekenyangan sedangkan kunci akhirat adalah lapar.” (Siyaru A’lamin Nubala’, X/183-184).

Di sisi lain, media massa kita justru dipadati konten yang mengedepankan pemanjaan fisik, termasuk bagaimana makan dan minum yang paling nikmat.

Wisata kuliner dan kompetisi Superchef hanyalah contoh kecil dari fenomena ini, sebab jaringan pemikiran yang mendasarinya tidaklah sesederhana itu. Bahkan, sekarang kita juga mendengar adanya pakar meracik kopi, ahli cicip makanan, master kue, dan entah apa lagi. Semua ini sebetulnya merefleksikan suatu budaya tertentu.

Pernyataan Abu Sulaiman ad-Darani di atas memiliki pijakan yang kuat. Al-Qur’an sendiri pernah menggambarkan salah seorang musuh Rasulullah sebagai ‘Utullin (lihat Qs. Al-Qalam: 13).

Menurut Abu Darda’, sebutan al-‘utull menunjuk kepada semua orang yang gemar menuruti syahwat mulut dan kemaluan, berperangai keras, banyak makan-minum, dan gemar menumpuk kekayaan tetapi pelit bukan main (lihat: Tafsir fi Zhilalil Qur’an, VI/3663).

Dengan kata lain, terlalu banyak makan-minum merupakan salah satu sifat negatif yang dibenci Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menganjurkan agar tidak berlebihan dalam makan-minum.

Beliau bersabda,

“Tidaklah seorang manusia memenuhi suatu wadah yang lebih buruk dibanding perutnya. Cukuplah bagi seorang anak Adam beberapa kali makan yang akan menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa menghindar lagi, maka sepertiga (perut) untuk makanan, sepertiga lagi untuk minuman, dan sepertiga lainnya untuk nafasnya.” (Riwayat Tirmidzi dari Miqdam bin Ma’di Karib. Hadits hasan-shahih).

Di bulan Ramadhan, terkadang fenomena berlebihan dalam makan-minum justru menggejala. Sungguh ironis, sebab puasa sebetulnya ditujukan untuk mengendalikan kerakusan.

Ada sebagian orang yang porsi makan sahurnya wajar-wajar saja, tetapi kita akan terkejut melihat seberapa banyak yang dilahapnya pada saat berbuka; belum lagi aneka camilan dan jus yang disantapnya seusai shalat tarawih.

Padahal, Rasulullah menggambarkan seorang mukmin sebagai pribadi yang sedikit makannya, sementara orang kafir adalah sosok yang rakus.

Nafi’ menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar tidak akan makan kecuali dicarikan seorang miskin untuk menemaninya. Suatu kali, didatangkanlah seseorang sebagaimana biasa, namun ia makan banyak sekali.

Ibnu ‘Umar kemudian berkata, “Hai Nafi’, jangan kaubawa lagi orang ini masuk kepadaku. Aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Seorang mukmin makan dalam (porsi) satu usus, sedang seorang kafir makan dalam (porsi) tujuh usus.’” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Sepertinya, kerakusan pada makanan-minuman ini pula yang menghalangi kita dari karunia-karunia agung di bulan Ramadhan. Kita tidak bisa merasakan kenikmatan apa-apa di dalamnya selain payahnya menahan lapar, haus, dan melek di malam hari.

Sebagaimana pernyataan Abu Sulaiman ad-Darani di muka, kekenyangan telah menjauhkan kita dari nikmatnya bermunajat kepada Allah. Kita pun sukar merenungi hikmah-hikmah kenabian dan tidak dapat berempati kepada penderitaan orang lain. Semangat beribadah kita tidak kunjung menguat, bahkan semakin merosot justru ketika Lailatul Qadar semakin mendekat.

Nafsu syahwat pun tidak meredup, sebaliknya makin berkobar seiring mendekatnya Idul Fitri. Masjid-masjid tidak bertambah ramai, namun pasar dan pusat perbelanjaan sampai menambah jam buka maupun stok barang karena meluapnya animo pembeli dan membludaknya pengunjung.

Sekarang, mari meneliti diri sendiri: “berapa kali dan berapa banyak kita makan dalam sehari?” Sungguh, di bulan Ramadhan Allah menyuruh kita berpuasa, bukan memindah jam makan! Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar. Senin, 18 Sya’ban 1435 H.

Denyuti Negeri dengan Terus Bergulirnya Sekolah Dai

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Sekolah Dai Hidayatullah kembali bergulir. Penyelenggaraan program Sekolah Dai untuk angakatan ke-7 ini ditandai dengan Kuliah Perdana (studium generale) yang digelar hari ini di Komplek Sekolah Dai, Jln Pasir Peundey, RT/RW 04/01, Desa Sukharja, Kampung Cibinong, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Senin (12/7/2021).

Kuliah perdana Sekolah Dai Ciomas Bogor ini menghadirkan Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drs. Shohibul Anwar, M.Pd.I, yang diikuti oleh 30 peserta didik yang merupakan utusan dari dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepala Program Sekolah Dai Ciomas Bogor, Ust Saefuddin Abdullah, Lc, dalam keterangannya, mengatakan, Sekolah Dai menyelenggarakan pendidikan 1 tahun dengan full beasiswa bagi peserta didik yang dinyatakan lulus seleksi.

Selain full beasiswa, Sekolah Dai juga memiliki 3 program takhassus yaitu Takhasus Al-Qur’an, Takhasus Bahasa Arab dan Takhasus Pengkaderan Dai.

Sekolah Dai membidik pemuda yang siap dididik dan dibina untuk menjadi kader muallim dan setelah menyelesaikan pendidikannya siap menjadi dai mengabdi di masyarakat.

Sekolah Dai Jakarta membatasi kuota penerimaan dengan hanya menerima 20 mahasantri dan Sekolah Dai Ciomas Bogor 50 batas maksimal peserta.

Walaupun saat ini kondisi negeri dalam keadaan kurang baik ditengah gempuran pandemi yang mempengaruhi semua aspek terutama sektor ekonomi, Sekolah Dai tetap berupaya hadir dan bergulir dengan segala keterbatasan yang ada.

“Posdai melalui program Sekolah Dai terus istiqamah dalam mencetak kader yang siap berdakwah ke berbagai penjuru negeri,” Ketua Posdai Pusat Ust Samani Harjo.

Dakwah adalah gerakan membangun negeri. Oleh sebab itu, Samani melanjutkan, Sekolah Dai yang mendenyuti dakwah harus terus berjalan terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan sumber daya dai yang siap mengabdi di berbagai penjuru nusantara.

Dia berharap, melalui peran yang telah dilakukan Posdai melalui alumni Sekolah Dai yang dikirim berdakwah ke berbagai titik termasuk ke daerah terdepan, terluar, tertinggal, dan minortas, akan turut mendenyuti bumi Indonesia dengan kalimat thayyibah.

“Dalam diri para dai mengalir darah Merah Putih yang dalam setiap kiprahnya memancarkan kalimat Laa Ilaaha Illallah. Itulah mengapa Posdai memiliki jargon Bersama Dai Membangun Negeri,” kata Ust Samani.

Setiap tahunnya, Sekolah Dai melakukan wisuda dan penugasan dai bagi peserta didik yang telah dinyatakan lulus dari program ini. Penugasan dai terakhir digelar pada bulan Mei lalu yang bertepatan hari ke 27 Ramadhan 1442 H.

Pada penugasan angkatan ke-6 Sekolah Dai itu melepas 29 dai bertugas mengabdi ke berbagai titik di Indonesia yang turut dilepas Direktur Yayasan Baitul Maal Umat Islam Bank Negara Indonesia (Bamuis BNI) Sudirman dan Deputi Bidang Dakwah & Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah Ust Hamim Thohari. (ybh/hio)