Beranda blog Halaman 413

Milad Hidayatullah ke 50, Sejenak Menepi Menakar Diri

Oleh Dzulkifli M. Salbu

LIMA PULUH tahun perjalanan Hidayatullah tentu bukan waktu yang singkat. Sudah cukup jauh kita berjalan. Tak ada salahnya, sejenak kita menepi. Menghela nafas untuk mengembalikan stamina, sembari memastikan, apakah kita masih on the track.

Hal ini penting, sebab sedikit saja kita keluar jalur, maka akselerasi sekalipun yang kita lakukan justru menjadi musibah, karena akan makin menjauhkan kita dari tujuan utama. Begitu nasehat yang sering disampaikan para pembimbing.

Salah satu pertanyaan sederhana yang bisa jadi acuan adalah, benarkah saat ini kita masih berjuang? Jika iya, di mana letak perjuangan kita?

Allahuyarham Abdullah Said pernah mengatakan, jika jalan yang kita tempuh sama seperti jalan yang pernah dilalui oleh Rasulullah dan para sahabat, maka dipastikan kita pun akan menemui apa yang pernah dirasakan oleh Rasulullah dan sahabatnya.

Berjuang memang tidak identik dengan penderitaan. Akan tetapi secara objektif harus diakui bahwa pengorbanan yang kita lakukan, untuk terbangunnya peradaban Islam sebagai visi besar Hidayatullah, masih sangat minim, masih sangat berjarak dengan Rasulullah dan para sahabat.

Fakta sederhana, yang diamanahi mengabdi di amal usaha, baik di pendidikan, ekonomi, yayasan atau amal usaha lainnya, kadang terjebak dalam rutinitas tugas, tanpa pernah menyadari atau mencicipi sensasi nikmatnya berjuang.

Terkadang pertanyaan nakal menggelitik perasaan, dimana letak perjuangan kita di Hidayatullah? Jika kita seorang guru, kita digaji. Pengurus yayasan ada natura, yang mengelola usaha ada bagi hasil, menghadiri rapat atau musyawarah, biaya ditanggung lembaga, dinikahkan. Dilengkapi kendaraan dinas, rumah dinas, dan fasilitas lainnya, secara umum tak ada bedanya, bahkan tidak mustahil bisa lebih sejahtera dari ASN.

Para petinggi lembaga telah melakukan rekayasa sosial, dengan membuat regulasi secara maksimal, agar seluruh kader menjadi muslim ideal, ada; GNH, halaqah, mutasi, dan program lain yang bernuansa spiritual. Nah, jika ini juga masih ditawar, masih beranikah kita mengaku berjuang?

Tulisan ini tak bermaksud mengecilkan perjuangan para kader yang telah menjual diri di lembaga ini. Namun terselip harapan, tulisan ini menjadi bahan evaluasi, untuk mengantisipasi potensi penyimpangan, yang bisa saja terjadi setiap saat.

Sebab tak menutup kemungkinan, jabatan struktural yang sakral, bisa dimanfaatkan oleh oknum yang nakal, amanah fungsional bisa disalah gunakan oleh mereka yang bermental kriminal, katanya ingin profesional, padahal itu alasan abal-abal, orientasinya finansial yang terbungkus dengan bahasa yang sangat rasional.

Kelihatan ingin menambah amal, padahal untuk menambah modal. Kalau sudah begini, yang haram jadi halal, kawan seiring akan dijegal, demi tujuan yang bersifat material.

Terkadang lupa kalau ada ajal, yang akan datang sesuai jadwal. Dia menjadi tumbal, oleh syetan yang pembual. Pikirannya dangkal, kebijakannya janggal, keputusannya tak masuk akal, semoga aqidahnya tidak ikut terjual, yang membuat imannya jadi batal.

Terakhir, besar harapan semoga milad Hidayatullah ke 50, tidak membuat kita hanyut dalam eforia atas capaian spektakuler yang telah diraih Hidayatullah.

Wassalam
Dzulkifli M. Salbu
Banjarbaru 9 Agustus 2021

DPP Hidayatullah Lakukan Asesmen Standarisasi Yayasan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah mulai tahun 2021 ini melakukan penataan berkelanjutan berupa program kegiatan asesmen standarisasi Yayasan Pesantren Hidayatullah.

Pelaksanaan asesmen ini dilakukan berdasarkan amanat Pedoman Organisasi (PO) No. 3 Tahun 2015 dengan melibatkan unsur terkait berkenaan dengan keorganisasian, kelembagaan, keuangan dan lain sebagainya.

“Program dimulai dari Kamous Induk dan Kampus Utama. InsyaAllah akan disusul berikutnya oleh Kampus kampus Madya dan Pratama se-Indonesia,” kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Abdul Ghofar Hadi kepada Hidayatullah.or.id, Ahad, 29 Zulhijjah 1442 (8/8/2021).

Ia menambahkan, kegiatan asesmen standarisasi yayasan ini diawali dengan tahapan sosialisasi dan bimbingan teknis.

Kemudian selanjutnya disusul dengan asesmen secara online untuk melakukan verifikasi kesiapan Kampus Induk maupun Kampus Utama.

Kemudian, tahapan terakhir adalah dilakukan asesmen secara offline atau visitasi lapangan oleh tim Asesor untuk Kampus Induk maupun Kampus Utama yang semuanya berasal dari unsur pengurus Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

“Mohon doa sekalian agar semua kegiatan asesmen ini berjalan dengan sukses dan lancar,” pungkasnya. (ybh/hio)

Islamic Medical Service Buka Layanan Homecare Gratis untuk Dai dan Masyarakat Duafa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pelayanan kesehatan di rumah saat ini menjadi sebuah kebutuhan di lingkup masyarakat, apalagi di masa pandemi Covid-19.

Islamic Medical Servis (IMS) sebagai salah satu lembaga sosial kesehatan merespon perihal tersebut dengan membuka program layanan datang ke rumah (homecare) sebagai bentuk partisipasi dalam penanganan kasus Covid-19 yang kian melonjak.

Direktur IMS Imron Faizin mengatakan progam homecare ini sudah berjalan di daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasio (Jabodetabek) dan sudah ada puluhan dai dan masyarakat duafa yang telah mendapatkan layanan ini.

“Melaului homecare, para dai dan masyarakat dhuafa bisa mendapatkan layanan kesehatan berupa kunjungan dari petugas medis ke rumahnya,” ujar Imron.

Imron menerangkan bahwasanya program ini dimaksudkan untuk menjangkau para dai dan warga yang tidak bisa menjangkau layanan puskesmas maupun rumah sakit, baik mereka yang sakit biasa, dan sedang melakukan isolasi mandiri di rumah.

Dia menambahkan, dalam homecare ini ada perawat yang setiap Ahad mengecek dan memberikan pelayanan kesehatan langsung di rumah dai dan warga yang terdapampak ujian berupah sakit.

“Program ini juga melibatkan tim Satgas Covid-19 Hidayatullah Jabodetabek dan semoga dengan adanya program ini dapat sedikit meringankan beban para dai dan masyarakat duafa,” pungkas Imron yang juga Kadep Kesehatan DPP Hidayatullah ini.*/Alamsyah Jilpi

Membaca Catatan Harian Abba, Resonansi Milad Hidayatullah ke-50

Oleh Mujahid M. Salbu*

SAAT tiba di Batam sekitar enam bulan lalu dan membongkar barang bawaan dari Balikpapan, ternyata terselip buku catatan harian Abba (ayahanda) Rahimahullah, dua buku catatan harian itu tahun 1982 dan tahun 1999.

Buku agenda harian itu semacam diorama dengan resonansi yang mengesankan karena merefleksikan aktivitas sekumpulan pemuda yang memiliki cita-cita besar membangun kampus sebagai wadah menghadirkan Islam yang indah (ilmiah, alamiah dan islamiyah).

Mereka datang dari penjuru nusantara, meninggalkan kehidupan yang sudah nyaman; sebagai guru, karyawan di perusahaan minyak, pedagang, dan lainnya.

Di Gunung Tembak, atas ajakan ustadz Abdullah Said Rahimahullah, mereka menjalani kehidupan penuh perjuangan; tempat tinggal dan makanan seadanya.

Jika ada waktu senggang, saya membaca kembali catatan yang ditulis tangan. Kebiasaan Abba sejak dulu mencatat setiap kejadian, termasuk yang biasa-biasa, misalnya saat beliau pulang dari Karang Bugis, mampir membeli ikan bandeng dan majalah Tempo, harian Kompas, Manuntung, dll, termasuk mampir membeli ikan bandeng lengkap dengan harganya dicatat.

Ini pula yang akhirnya menjadi oleh-oleh terindah buat kami yang masih bocah; majalah Tempo dan harian Kompas, dulu kalau hari Jumat, Kompas menyediakan bonus tabloid Bola. Kadang juga membawa buku-buku terbaru.

Selain itu beliau juga mencatat yang terbilang penting; merangkum materi pembicaraan ketika Ustadz Abdullah Said Rahimahullah membrifing pengurus atau diskusi dan juga ceramah dari pimpinan dan pengurus lain.

Dari catatan harian tersebut, ternyata budaya diskusi telah tumbuh di era 80-an. Beberapa kali dibuat forum dan pengurus bergantian menjadi narasumber kemudian ada yang ditunjuk sebagai penyanggah dan juga moderator. Dalam catatan itu nama-nama yang terlibat dalam diskusi semua dicatat.

Selain aktif berdiskusi, para pengurus awal harus aktif di lapangan dan ini porsinya lebih besar. Misalnya menggali empang, mencabut tunggul, dalam pembinaan hampir semua juga terlibat, ustadz Usman Palese Rahimahullah misalnya pernah menjabat sebagai kepala asrama yang mengurusi santri. Lalu ada puang Baking Rahimahullah sebagai kepala keamanan, ustadz Wakiyo Rahimahullah sebagai kepala koperasi dan lainnya.

Seni kepemimpinan ustadz Abdullah Said, sedikit banyak terungkap di catatan harian itu, misalnya, bagaimana dalam sebuah brifing menjelang ke Jakarta, sang pemimpin berpesan agar disiapkan asupan khusus berupa telur setengah matang dan susu untuk petugas pencari kayu bakar, pertimbangannya, getaran mesin geregaji kayu atau senso bisa berdampak pada kondisi dada mereka. Sedemikian detailnya beliau memikirkan para kadernya.

Abba juga menuangkan dalam buku agendanya sebuah statement ustadz Abdullah Said dalam sebuah pertemuan, “Saya kadang menunda menegur seseorang yang melakukan kesalahan, jika saya merasa yang bersangkutan belum siap untuk ditegur.”

Perhatian dan perlakuan ustadz Abdullah Said Rahimahullah kepada para kader terdahulu yang sangat detail diungkapkan karena beliau pernah dipimpin oleh tokoh-tokoh besar dan merasa para tokoh besar itu tidak memberikan perhatian yang detail dan maksimal kepada para kadernya.

Perjalanan awal Hidayatullah ditandai dengan keterbatasan termasuk kebutuhan pokok seperti beras, hal ini terungkap lewat sebuah risalah rapat tahun 1982. Jika hari ini, di beberapa tempat Hidayatullah melalui Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kerap membagikan beras ke warga tidak mampu.

Sebaliknya di tahun 80-an, dalam setiap rapat bulanan diatur strategi mencari beras untuk memenuhi kebutuhan warga dan santri meski sering terjadi keajaiban, tiba-tiba ada donatur yang datang membawa beras puluhan karung. Bahkan pengurus diberi target misalnya ustadz Manandring mencari beras satu karung, puang Rahman Rahimahullah dua karung dan seterusnya.

Semoga dilain kesempatan saya bisa menuangkan kembali kilas balik perjalanan Hidayatullah yang terangkum dalam catatan harian Abba sejak tahun 80-an hingga beliau wafat pada tahun 2010.

Batam, 28 Dzulhijjah 1442 H

*)Penulis adalah Sekwil DPW Hidayatullah Kepulauan Riau & anak dari almarhum Ust Mansur Salbu, salah satu perintis awal Hidayatullah yang menulis buku Sejarah Hidayatullah/ Mencetak Kader.

Kampus Ber-Qur’an Itu Bernama Hidayatullah

Oleh Mahladi Murni

مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ

“Dengan karunia Tuhanmu (al-Qur’an), engkau (Muhammad) bukanlah orang gila.” (al-Qolam [68]: 2).

Ayat ini menjadi salah satu inspirasi Abdullah Said saat membangun sebuah perkampungan pengkaderan di Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Abdullah Said meyakini bahwa manusia ber-Qur’an bukanlah orang gila meskipun banyak orang yang masih menganggap asing orang-orang tersebut.

Abdullah Said ingin membuktikan kebenaran ayat tersebut lewat sebuah perkampungan kecil yang biasa ia sebut “kampus”. Dan, kampus ber-Qur’an tersebut bernama Hidayatullah.

Yang menarik, orang-orang yang tinggal di kampus ini tidak semata belajar membaca al-Qur’an, namun juga belajar menerapkan al-Qur’an. Ini diakui oleh Syamsurijal Palu, salah seorang perintis Hidayatullah, dalam acara Sarasehan Pendiri dan Perintis Hidayatullah di Tanjung Uncang, Batam, Kepulauan Riau, pada Juni 2015.

“Sebelum bergabung dengan Hidayatullah, saya telah sering mempelajari al-Qur’an. Namun, ketika itu, saya merasa ada yang kurang. Saya merasa baru mempelajari al-Qur’an, tetapi belum ber-Qur’an. Di Kampus Hidayatullah, saya baru mengalami proses ber-Qur’an.,” jelas Syamsurijal.

Ia juga mengaku amat percaya diri setelah bergabung dengan Hidayatullah. “Terasa sekali Allah memberikan garansi yang membuat kita tak merasa rendah, apalagi hina dan takut, di hadapan manusia,” kata Syamsurijal lagi.

Ketika itu, masih banyak masyarakat yang menganggap apa yang dilakukan Abdullah Said dan rekan-rekannya sebagai pekerjaan gila. Namun, Abdullah Said tak mempedulikannya.

Ia, Syamsurijal, dan kader Hidayatullah lainnya, terus saja berdakwah dan membangun kampus. “Bukankah dulu Rasulullah juga dianggap gila?” kata Syamsurijal mengutip perkataan Abdullah Said saat membesarkan hati mereka.

Justru sebaliknya, kata Abdullah Said lagi, orang-orang yang tinggal di Kampus Hidayatullah tak akan merasa gila. Sebab, jadwal hidup mereka sudah diatur sesuai dengan aturan Sang Pencipta, termasuk cara berpakaian, bergaul antara pria dan wanita, bekerja, dan bermuamalah.

Bahkan, di kampus Hidayatullah, pernikahan akan dimudahkan. Ini terbukti dengan diselenggarakannya pernikahan massal —atau pernikahan mubarokah— di kampus ini. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.

Pernikahan masal pertama diselenggarakan pada 6 Maret 1977, diikuti oleh 2 pasang kader. Yang terbesar pada 1997, diikuti oleh 100 pasang kader.

Buat sebagian orang, menjalani kehidupan ber-Qur’an mungkin tidak mudah. Namun, Abdullah Said meyakini, bila sudah terbiasa akan terasa mudah. Dalam beberapa ceramah, Abdullah Said sering menganalogikan mudahnya hidup ber-Qur’an dengan kebiasaan memakan tempe dan ikan.

Orang Jawa, kata Abdullah Said, suka sekali makan tempe. Sebab, sejak lahir, mereka sudah terbiasa dengan tempe. Setiap hari mereka mendengarnya, melihatnya, lalu memakannya, bahkan menjadikannya santapan utama. Ini berbeda dengan orang Bugis yang sejak kecil sudah diperkenalkan dengan ikan. Setiap hari mereka sudah terbiasa menyantap ikan. Bahkan mereka merasa ada yang kurang jika tak ada ikan yang yang tersaji.

Demikian pula al-Qur’an. “Kalau sejak bangun tidur sudah al-Qur’an yang dibaca dan dibicarakan, akhirnya al-Qur’anlah yang akan lengket di otak dan di perasaan kita,” kata Abdullah Said dalam buku Mencetak Kader karya Mansyur Salbu.

Bahkan, orang yang sudah demikian akrab dengan al-Qur’an akan merasa sia-sia hidup tanpa Qur’an. “Kalau bukan karena itu, yakni untuk membangun peradaban Islami berlandaskan al-Qur’an, buat apa kita berpayah-payah menekuni pekerjaan ini,” kata Abdullah Said lagi.

Namun, bukan berarti tak ada kader yang goncang dan menyerah. Terhadap kader yang demikian, Abdullah Said biasanya memberi nasehat: “Saya telah kehabisan kata-kata untuk meyakinkan Anda tentang prospek di lembaga perjuangan ini. Bahasa Indonesia terlalu miskin untuk mengungkapkan apa yang semestinya dijelaskan untuk meyakinkan Anda. Maka, berangkatlah Anda mencari tempat yang lebih bagus dari tempat ini. Kalau Anda telah menemukannya, segeralah memberi informasi kepada kami. Insya Allah kita akan berlomba-lomba menuju tempat itu.”

Penyakit Thagha

Di awal perintisan Hidayatullah, Abdullah Said amat mengkhawatirkan berjangkitnya penyakit thagha (melampaui batas) pada diri kadernya. Karena itu, kata Hasan Ibrahim, salah seorang pendiri Hidayatullah saat memberi ceramah itiqaf di Masjid Baitul Karim, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, pada September 2010, rumah para penghuni kampus di Gunung Tembak sama. “Tak boleh ada yang lebih mencolok dibanding yang lain,” kata Hasan Ibrahim.

Keadaan ekonomi warga Hidayatullah ketika itu juga nyaris sama. Tidak ada yang memiliki motor. Semua menggunakan sepeda. Bahkan, kata Hasan Ibrahim lagi, saking khawatirnya Abdullah Said dengan penyakit thagha ini, ia pernah menegur salah seorang penghuni kampus yang mengecat rumahnya.

“Dia diceramahi lama sekali. Dia diingatkan agar tidak terjangkiti penyakit meterialis, cinta dunia. Sebab, akan juga dijangkiti penyakit takut mati,” cerita Hasan lagi.

Kesamaan ini tak sekadar terlihat pada kondisi ekonomi. Dalam hal berpakaian pun, warga Hidayatullah di Gunung Tembak nyaris sama. Semua laki-laki berpakaian koko putih dan berkopiah, sedang perempuan berjilbab lebar. Ini menjadi ciri sangat khas kader Hidayatullah pada masa itu.

Pengikisan penyakit thagha juga dilakukan dengan cara menempatkan para kader yang mulai banyak bergabung di kampus Hidayatullah pada posisi yang kontradiktif dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman sebelumnya.

Mereka dilatih untuk beramal tanpa terbebani oleh status dan jabatan sebelumnya. Mereka mengisi bak wadhu, bak mandi, membajak sawah, menggali empang, membantu tukang, mencari donatur, dan lain-lain.

Amal-amal seperti ini, selain akan mengikis perasaan sombong, juga akan menjadi cerita yang indah bagi para kader kelak. Bahkan, mereka juga tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang siap ditugaskan berdakwah ke manapun juga.

Beginilah cara Abdullah Said membangun perkampungan pengkaderan yang dulu dicita-citakannya. Perkampungan berbentuk kampus itu kian lama kian membesar karena dukungan dan partisipasi masyarakat di Balikpapan. Luas kampus bahkan sudah mencapai 120 hektar.

Sebuah masjid besar bernama Ar-Riyadh juga berdiri kokoh di kampus ini. Bahkan, masjid ini adalah bangunan pertama yang dibangun Abdullah Said, dan menjadi bangunan pertama juga yang akan Anda saksikan manakala Anda memasuki kawasan kampus.

Kawasan putri terpisah dengan kawasan putra. Dinding pemisahnya berupa pagar kayu setinggi 1.5 meter, memanjang ke belakang dan melingkar, tertutup dari luar.

Di tengah-tengah kampus itu ada danau buatan sebagai resapan air bagi kawasan Desa Gunung Tembak. Lalu, di belakangnya lagi ada ladang tempat para santri bercocok tanam.

Selamat datang di Kampus Perjuangan, Hidayatullah Gunung Tembak, kampus pengkaderan, kampus ber-Qur’an.*/

50 Tahun Konsisten dalam Perubahan

“HIDAYATULLAH sudah berubah ya?” tanya Aco. “Tidak, Hidayatullah sejak dulu ya seperti ini,” kata Becce’.

“Berubah, Hidayatullah yang saya kenal tidak seperti ini,” kata Aco.

“Kamu lihat Hidayatullah berubah dilihat dari sisi apanya, Bang Aco?” tanya balik Becce’.

“Hidayatullah dulu hanya mengurusi santri yatim piatu, rumahnya juga kecil-kecil, kendaraannya juga tidak ada yang roda empat,” jawab Aco.

“Kalau melihat jumlah dan fasilitasnya ya tentu berubahlah, itu mengikuti perkembangan zaman. Dulu jumlahnya sedikit dan sekarang ya tidak,” kata Becce’.

“Terus yang kamu maksud tidak berubah itu apanya?” tanya Aco lagi.

“Cita-cita atau idealismenya, karakter ibadah kadernya yang tetap menjaga shalat berjamaah, shalat lail dan sunnah lainnya, kesantunan dalam mendakwahkan Islam,” jawab Becce’.

Saat masih kumpulan santri kecil, perbincangan masalah Hidayatullah berubah dan tidak berubah menjadi diskusi hangat dan bahkan terkadang memanas di kalangan para santri. Karena kengototan dari masing-masing pihak dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

Sebenarnya tidak ada salah dari pendapat dialog imajiner (Aco dan Becce’) sesuai dengan pemahaman yang dimilikinya. 50 tahun perjalanan Hidayatullah tentu banyak berubah.

Tidak mungkin Hidayatullah mempertahankan diri dengan keterbatasan sarana, fasilitas, bentuknya, program kerjanya seperti 50 tahun lalu. Justru ketika tidak berubah maka Hidayatullah dianggap tidak berkembang bahkan akan dianggap ketinggalan zaman.

Perubahan adalah sunnatullah, sebagaimana pribadi kita sebagai manusia juga berubah secara fisik dari tahun ke tahun. Islam dari pertama kali hingga sekarang juga mengalami dinamika perubahan kecuali rukun Iman, rukun Islam dan hal-hal yang prinsip. Adapun bentuk masjid, cara berdakwah, manajemen masyarakat muslim berubah-ubah sesuai dengan zamannya

Hidayatullah hari ini dianggap eksis dan berkembang karena sangat dinamis dalam melakukan perubahan. Dari awalnya dalam bentuk sebagai sebuah pesantren, selanjutnya berubah menjadi organisasi sosial (orsos). Kemudian berubah lagi menjadi organisasi massa (ormas) sejak tahun 2000. Ini era perubahan cukup fundamental dan banyak pro-kontra dari para kader Hidayatullah.

Alhamdulillah, karena itu hasil ijtihad kolektif dan musyawarah dari para senior maka 21 tahun setelah perubahan dari Orsos menjadi Ormas menjadi langkah strategis.

Selanjutnya berubah lagi menjadi Badan Hukum Perkumpulan (BHP) Hidayatullah sesuai regulasi. Ini memudahkan dalam konsolidasi Hidayatullah yang semakin besar dengan jaringan yang semakin banyak.

Ada nilai dan prinsip yang harus tetap ada sejak 50 tahun lalu hingga mungkin 50 tahun atau 500 tahun Hidayatullah ke depan. Di antaranya idealisme untuk berislam secara baik dan benar sesuai dengan manhaj nubuwwah. Ini diaktualisasikan dengan program jenjang marhalah dan halaqah ula, wustha dan ulya.

Karakter dari para kader Hidayatullah yang khas sejak dulu adalah senantiasa menjaga ibadah. Dari shalat wajib berjamaah di masjid, shalat lail dan shalat sunnah rawatib.

Meminjam istilah almarhum Dr. Abdul Manan bahwa cacat spritual bagi kader Hidayatullah yang meninggalkan shalat lail atau lalai tidak membaca al-Qur’an satu juz dalam sehari.

Tarbiyah dan dakwah sebagai konsentrasi gerakan dari awal Hidayatullah, hingga sekarang dipatenkan menjadi mainstream gerakan organisasi ini. Hal ini mewarisi tugas para nabi dan rasul untuk mengajak dan mengajarkan hidup bertauhid dan menyembah kepada Allah.

Mentalitas ketaatan dari para kader juga tidak boleh berubah. Sami’na wa atho’na (kami taat dan kami mendengar) menjadi prinsip dari para kader dalam menjalankan tugas dakwah.

Penugasan menjadi perkaderan terbaik di organisasi ini dari dulu hingga sekarang dan akan mendatang. Inilah prinsip yang mempercepat perkembangan Hidayatullah dari hutan Kalimantan bisa ke Aceh, Papua dan ibukota Jakarta.

Ada banyak nilai dan karakter Hidayatullah yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang, meski zaman berubah dan ditugaskan di mana saja, yang sekarang terangkum dalam jati diri Hidayatullah.

Kesimpulannya dalam milad 50 tahun ini, Hidayatullah banyak mengalami perubahan tapi masih konsisten dengan jati dirinya. Sehingga para kader harus menguatkan jati dirinya sebagai kader Hidayatullah agar bisa mengikuti perubahan menuju cita-cita besar Hidayatullah membangun peradaban Islam.*/Abdul Ghofar Hadi

Kunker Kasipendis Kemenag ke Kampus Manokwari Selatan

MANSEL (Hidayatullah.or.id) — Kepala Seksi (Kasi) Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua Barat, Edy Yorkuran, S.HI dan Kasi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas) Islam, Penyelenggara Pendidikan, dan Haji Kemenag Manokwari Selatan, Hj. Damayanti Rambe, S.Sos, melakukan kunjungan kerja ke Yayasan Peduli Insan Kampus Hidayatullah Manokwari Selatan (Mansel) beralamat Jl. Kenangan, RT. 01 RW. 01, Kampung Margorukun, Kamis, 27 Zulhijjah 1442 (5/8/2021).

Yayasan Peduli Insan Kampus Hidayatullah Manokwari Selatan menjadi yayasan perdana di tahun 2021 di Kabupaten Manokwari selatan yang dikunjungi.

Kunjungan ini dipandu oleh Ketua Pembina Yayasan Peduli Insan Pondok Tahfidz Hidayatulllah Ust. Sulton S.Pd.I. Acara silaturrahim dan silatul informasi dalam kunjungan kerja Kemenag di Pondok Tahfidzh Hidayatullah ini berlangsung khidmad dan penuh kekeluargaan.

Dalam kesempatan ini, Ketua Yayasan Ust. Maghfuri, S.Pd menyampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada pihak Kanwil Kemenag Papua Barat dan Kemenag Mansel atas silaturrahimnya serta arahannya agar keberadaan Pondok Tahfidz Hidayatullah Yayasan Peduli Insan Mansel ini dapat diakui bukan hanya secara de facto tapi juga secara de jure sesuai peraturan yang berlaku.

“Ibu-Bapak, antusias masyarakat akan keberadaan pondok tahfidz ini sangat besar, mulai dari wakaf tanah, bantuan material, dukungan moril tokoh masyarakat, tokoh adat dan lain sebagainya, sehingga dalam waktu beberapa bulan atau insya Allah kurang dari setahun rumah ustadz, mushalla, dan asrama telah berdiri di tanah wakaf ini,” lanjut Maghfuri.

Sambil mengamati master plan yayasan yang terpampang di dinding depan mushalla pondok, Kasi Pendis berpesan untuk kedepan, yayasan melengkapi pondok tahfidz dengan pendidikan madrasah agar pendidikan secara formalpun tetap berjalan di lingkungan pondok.

Diakhir acara diskusi, dilakukan acara serah terima berkas awal yang selanjutkan akan disempurnakan oleh pihak yayasan sebagai bentuk Komitmen yayasan bersinergi dan taat aturan dalam menjalankan amanah dakwah di Kabupaten Mansel tercinta.*/Miftah

Depdikdasmen Hidayatullah Jatim Gelar Diklat Guru Online

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru dan Tata Usaah (TU)/ Admin, Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Depdikdasmen) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan latihan (diklat) online jenjang SD/MI hingga SMA/MA/SMK jaringan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) Hidayatullah Jawa Timur.

Penanggungjawab acara, Baijuri, M.Pd, mengatakan pandemi covid-19 yang telah berlangsung hingga saat ini yang turut mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.

Hal ini menurutnya menjadi tantangan yang tidak ringan bagi dunia pendidikan, sehingga lembaga pendidikan harus melakukan peningkatan kualitas proses pembelajaran maupun administrasi sekolahnya.

DPW Hidayatullah Jawa Timur sebagai barometer pendidikan Hidayatullah nasional merespon dengan gerak cepat untuk melakukan diklat online untuk guru dan TU/Admin SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA jaringan PIBT Hidayatullah Jawa Timur yang digelar secara berjenjang pada tanggal 2-21 Agustus 2021.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan blended learning sebagai proses pembelajaran dengan menggunakan aplikasi milik Google dan menstandarisasi administrasi sekolah dan madrasah,” kata Baijuri.

Disamping itu juga, lanjut Baijuri, kegiatan diklat online ini bermanfaat untuk seluruh guru dan TU/Admin SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA jaringan PIBT Hidayatullah Jawa Timur dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran maupun administrasi sekolah.

Kegiatan yang bertemakan “Standarisasi Proses Pembelajaran dan Administrasi Menghadapi Pendidikan Era 5.0” diikuiti 221 peserta dengan rincian 170 guru, 41 TU dan diisi dua pemateri yaitu Adi Purwanto, M.Pd (Ketua Depdik DPW Hidayatullah Jawa Timur) dan Agung Prayoga, S.Pd (Bidang Akademik Depdik DPW Hidayatullah Jawa Timur).

Di akhir acara, sebagai tindak lanjut, diberikan sejumlah penugasan dan evaluasi hasil tugas secara kontinyu. (ybh/hio)

Tempat Hijrah yang Menjadi Tonggak Sejarah


Suasana silaturrahim nasional atau Silatnas Hidayatullah yang dulu dikenal dengan usrah. Acara ini digelar kali pertama pada tahun 1973 di Karang Bugis, Balikpapan.

Oleh Mahladi Murni

Keinginan KH Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, untuk membangun sebuah kampung pengkaderan semakin kuat manakala menyaksikan fenomena pemberontakan G 30 S PKI tahun 1965. Sebelum pemberontakan itu terjadi, tulis Mansyur Salbu dalam buku Mencetak Kader, tokoh-tokoh PKI sebenarnya telah diberangus. Namun, mereka berhasil bangkit dan membangun kembali kekuatan dengan cara menyusup ke semua organisasi yang ada ketika itu.

Abdullah Said berpendapat, penyusupan seperti ini amat berbahaya. Hanya organisasi yang memiliki ikatan emosional yang kuat saja yang bisa membendungnya. Dan, ikatan emosional yang kuat hanya bisa dibentuk dari kegiatan pengkaderan.

Namun, wadah pengkaderan tersebut bukan seperti training centre di mana orang akan datang dan pergi. Wadah tersebut harus berwujud perkampungan di mana orang-orang akan menetap.

Bahkan, menurut Abdullah Said, di perkampungan itulah syariat Islam bisa ditegakkan secara baik sebagaimana perkampungan yang dibangun oleh Sheikh Sidi Abdullah di Desa Syanggit, Libya.

Cita-cita membangun perkampungan seperti ini sebenarnya pernah pula dilontarkan oleh KH Mas Mansur saat Kongres Muhammadiyah ke-29 di Yogyakarta tahun 1941. Di kongres itu, Mas Mansur bercerita panjang lebar tentang lembaga pendidikan yang dilihatnya di Syanggit, desa yang sama dengan apa yang diidam-idamkan oleh Abdullah Said.

“Mungkinkah Muhammadiyah membuat lembaga pendidikan seperti itu?” tanya Mas Mansur kepada peserta kongres saat itu.

Usulan Mas Mansyur ternyata disetujui oleh kongres. Namun, wujudnya tidak sama dengan apa yang diusulkan Mas Mansur. Lembaga pendidikan yang dibuat berbentuk Perguruan Tinggi Islam (Universitas Muhammadiyah) sesuai usulan Konsul Muhammadiyah Surakarta, Mulyadi Joyomartono.

Belajar dari kisah Mas Mansur ini, Abdullah Said sadar bahwa tak mudah mewujudkan rencana yang ia cita-citakan. Keadaan di Syanggit berbeda dengan di Indonesia. Syeikh Sidi, pemilik Syanggit, adalah orang kaya. Ia menyumbangkan semua hartanya untuk perjuangan, bukan meminta sumbangan dari orang lain. Di Indoensia, figur seperti ini sangat sulit dijumpai ketika itu.

Namun, tekad Abdullah Said sudah bulat. Ia memang bukan saudagar kaya sebagaimana Syeikh Sidi. Ia hanya punya semangat dan keyakinan bahwa Allah Ta’ala akan menolong hamba-Nya yang berjuang menegakkan agama-Nya. Ia juga rela hidup sederhana.

Rupanya, jalan yang harus ia tempuh untuk mewujudkan cita-cita ini tak mudah. Gelombang kehidupan yang awalnya hanya berupa riak-riak kecil, memaksanya untuk meninggalkan kampung halamannya di Sulawesi Selatan. Di penghujung tahun 1969, ia hijrah ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Inilah skenario Allah Ta’ala yang terbaik. Justru di tempat hijrah inilah ia semakin dekat dengan cita-cita itu.

Tiba di Balikpapan, setiap hari Abdullah Said mengamati kehidupan beragama masyarakat di sana. Yang ia dapati hanya kegersangan. Masyarakat terlalu jauh tenggelam dalam kehidupan yang hedonis. Anak-anak muda lebih tertarik kepada materi ketimbang urusan akhirat. Kota Minyak itu terasa panas.

Dari pengamatan itu, Abdullah Said mulai berpikir tentang cara mencetak kader. Ia sadar, cita-citanya membangun sebuah kampung pengkaderan tak bisa dilakukan sendirian. Ia perlu “pasukan” yang siap mengorbankan dirinya untuk berjuang di jalan Allah Ta’ala.

Lantas, bagaimana cara merekrut anak-anak muda di sana? Abdullah Said yang pernah bergelut di organisasi Muhammadiyah itu memutuskan untuk menggunakan metoda pelatihan (training)

Namun, metoda ini hanya sekadar cara untuk merekrut kader. Cita-cita Abdullah Said tetap ingin membangun sebuah kampung pengkaderan, bukan sekadar membangun sebuah pusat pelatihan (training center).

Rupanya, kepiawaian berceramah yang diberikan Allah Ta’ala kepada Abdullah Said menjadikan ia tak merasa sulit mengajak anak-anak muda tersebut bergabung bersamanya. Hanya saja, Abdullah Said merasa itu saja belum cukup. Beliau masih harus mengajak sejumlah anak muda berpengalaman dari Tanah Jawa untuk ikut berjuang bersamanya di sini.

Lagi-lagi, Allah Ta’ala memberi jalan kemudahan baginya. Tercatatlah sejumlah nama seperti Hasan Ibrahim, santri Pesantren Krapyak yang belajar di Akademi Tarjih Muhammadiyah, Muhammad Hasyim HS, yang pernah nyantri di Pondok Modern Gontor, dan Muhammad Nazir Hasan yang ketika itu juga sedang belajar di Akademi Tarjih Muhammadiyah, semua bersedia membantu Kiai Abdullah Said mewujudkan impiannya membangun kampung perkaderan di Balikpapan.

Tanggal 1 Muharram 1393 Hijriyah atau 5 Februari 1973, Allah Ta’ala menganugerahkan kepada Abdullah Said sebuah tempat di Karang Bugis, Kalimantan Timur, yang kemudian menjadi sebuah pesantren dan diberi nama Hidayatullah.

Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Hidayatullah meskipun pusat pembinaan kemudian dipindahkan dari Karang Bugis ke Gunung Tembak pada 1976. Dari Gunung Tembak inilah justru cerita tentang Hidayatullah dimulai.

Tekad untuk mewujudkan cita-cita membangun sebuah kampung perkaderan semakin menguat ketika Kiai Abdullah Said mendapat suntikan semangat dari Buya Hamka saat berkunjung ke Balikpapan. “Teruskan usaha ini Nak. Ini adalah usaha yang mulia,” ujar Buya Hamka sambil menepuk-nepuk bahu Abdullah Said.

Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, cita-cita Abdullah Said bukan lagi sekadar membangun kampung perkaderan, namun membangun peradaban Islam. Cita-cita ini tertulis jelas dalam visi organisasi Hidayatullah yang dirumuskan kemudian. (Bersambung)

Artikel ini sebelumnya telah diterbitkan Hidayatullah dot com

Hidayatullah “Kapal” Umat

SEBENTAR lagi Hidayatullah memasuki usia ke-50 tahun pada 1 Muharram 1443 nanti, sejak dirintis pada 1 Muharram 1393 Hijriyah atau tanggal 5 Februari 1973 di Balikpapan. Di usianya yang setengah abad ini, Hidayatullah harus tetap on the track dengan pembawaannya yang khas sebagai “kapal umat”.

Sebagai kapal umat, maka Hidayatullah memposisikan dirinya sebagai mediator dan pemersatu yang merangkul siapapun dari umat Islam dalam mengarungi bahtera Ilahi yang penuh kenikmatan, karena, memang, Islam adalah agama yang menawarkan kegembiraan yang luar biasa.

Hidayatullah harus jadi kapalnya umat yang besar kokoh dan kuat. Disamping ia juga menyadari bahwa dalam mengarungi bahtera perjuangan ini, tidak melulu angin sepoi nan sejuk yang datang menerpa, justru seringkali gelombang besar yang datang menggoyang.

Kapal memang perlu besar dan kokoh agar kuat menempuh perjalanan, apalagi menempuh masa yang panjang. Tapi, ingat, kita jangan disibukkan membikin kapal yang mewah. Jangan kita disibukkan membikin kapal yang bagus tapi kurang serius mencerahkan penumpang.

Jangan-jangan setelah kapal jadi dengan sempurna dengan segala kemewahannya, mereka tidak mau naik kapal yang kita bikin, karena mereka bisa membangun perahu sendiri, membikin sekoci sendiri dan merasa bisa menyelamat diri sendiri.

Kapal nabi Nuh dibangun di atas gunung atas perintah Allah. Untuk menyelamatkan manusia dari banjir super bandang yang akan terjadi. Kelak kemudian banjir itu benar benar menenggelamkan bumi dengan semua isinya. Hanya nabi Nuh dan makhluk yang ada dalam kapal yang selamat.

Nabi Nuh memang menghadapi ujian dakwah yang teramat berat, bahkan ia harus menghadapi langsung pembangkangan yang dilakukan anak dan istrinya dengan penuh kesabaran.

Nuh tidak menyerah tapi tenaganya sudah tak kuasa untuk bertahan. Dakwah Nabi Nuh pun sudah mentok, sudah tidak ada cara lagi untuk mengingatkan umat saat itu agar mau menyembah Allah.

Nabi Nuh dengan penuh kesabaran saban hari mengingatkan umatnya yang bandel itu agar tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka juga diingatkan agar tidak mencintai dunia melebihi cintanya pada akhirat.

Dan ternyata, hanya sedikit yang mengindahkan ajakan Nabi Nuh, itupun sebagian besar dari mereka adalah orang yang lemah, yang terpinggirkan yang tidak punya pengaruh di masyarakat.

Padahal, Nabi Nuh bedakwah selama hampir seribu tahun, siang dan malam, kepada semua orang, hampir tidak ada rumah yang tidak didatangi Nabi Nuh.

Hampir semua penduduk saat itu pernah ditemui Nabi Nuh untuk diseru ke jalan yang benar. Hasilnya; Nuh dikucilkan, seruannya dicibir, bahkan jiwa raganya diancam. Hingga akhirnya ketentuan Allah datang.

Ada yang bertamsil dengan berpendapat, bahwa Hidayatullah layaknya perahu Nabi Nuh yang bertujuan untuk menyelamatkan umat agar tidak tenggelam dalam kesesatan.

Dengan “kapal” yang memuat pengajaran dan pelita penerang, Hidayatullah ingin mengeluarkan umat dari himpitan persoalan-persoalan dunia dan akhirat. Hal ini adalah kewajiban jama’ai sekaligus infirodi. Ini tugas seorang khalifah, tugas para penerus Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad SAW, hingga kita hari ini.

Hidayatullah punya kewajiban untuk menebar risalah Islam dari Allah SWT ini agar manusia bahagia hidupnya dan jauh dari kerisauan, kedengkian, dan tidak merana hatinya, karena, dengan Allah sudah cukup baginya.

Kita perlu meneladani usaha seperti yang dilakukan oleh Nabi Nuh yang membikin perahu dengan kerja keras siang malam selama hampir 1000 tahun demi menyelamatkan umat, lalu bagaimana dengan usaha kita? Apakah kita sudah melakukan kerja kerja itu? Kalau sudah, apakah kita sudah bersungguh-sungguh dalam melakukannya?

Jawabannya tentu bukan di dalam tulisan ini tetapi akan dibuktikan oleh perjalanan kita selanjunya pada tahun tahun mendatang. Selamat berjuang, selamat Milad Hidayatulllah yang ke 50 tahun.

A. Suyanto, santri Hidayatullah