Beranda blog Halaman 425

Tokoh Tana Toraja Antusias Sambut Program Keumatan Hidayatullah Sulsel

TANA TORAJA (Hidayatullah.or.id) — Para tokoh agama dan tokoh masyarakat Tana Toraja, menyambut antusias program keumatan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan.

Keberadaan sebuah lembaga pendidikan Islam menjadi diantara harapan terbesar dari umat Islam di Tana Toraja. Harapan tersebut mengemuka dalam kesempatan Safari Ramadhan DPW Hidayatullah Sulsel di kawasan eksotik itu.

Pesan dan harapan dari beberapa tokoh umat Islam Tana Toraja diutarakan saat ditemui oleh Tim Safari Ramadhan Hidayatullah Sulawesi Selatan.

“Makanya yang kami butuhkan adalah pembinaan yang sifatnya berkelanjutan, walaupun tentu kami tetap mengapresiasi kepedulian lembaga-lembaga Islam yang telah melibatkan diri dalam pembinaan keumatan secara insidentil, misal safari seperti ini”, kata Muhammad Yasim, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatab Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, beberapa waktu lalu.

Yasim menambahkan, Kemenag Tana Toraja dan Toraja Utara senantiasa membuka diri untuk dapat bersinergi mengoptimalkan layanan keumatan di daerah ini tanpa melihat ‘bendera’ lembaganya.

“Apatahlagi jika ada lembaga, seperti Hidayatullah ini misalnya, yang bermaksud mendirikan sekolah Islam atau pesantren, pasti kita dukung karena disini baru ada satu pesantren yang dikelola oleh Muhammadiyah”, terangnya.

Di kesempatan lain, Dandim 1414/Tana Toraja, Letkol Czi Zainal Arifin, menyampaikan hal serupa saat menerima kunjungan tim safari Ramadhan Hidayatullah Sulawesi Selatan di ruang kerjanya di Kompleks Koramil 1414/Tator di Rantepao, Toraja Utara.

Letkol Czi Zainal Arifin mengatakan, niat yang baik tentu juga harus ditindak lanjuti dengan cara yang baik. Dia menukaskan, kita harus menjadi pemersatu dari seluruh komponen umat Islam di daerah ini, bukan sebaliknya, justru menjadi sumber perpecahan.

“Padahal yang diperdebatkan juga bukan soal prinsip,” pesan Dandim 1414/Tana Toraja yang saat ini sedang menggencarkan pembangunan masjid di beberapa daerah di Tana Toraja.

Ia juga menegaskan untuk senantiasa melibatkan pemerintah dalam setiap kegiatan keagamaan yang dilakukan.

“Agar sinergi itu ada, sehingga hidup berkerukunan dalam keberagaman ini semakin terjaga,” imbuhnya.

Respon baik juga diberikan oleh salah satu tokoh umat Islam Toraja Utara, Saparuddin Linopadang, Anggota DPRD Kab. Toraja Utara.

“Jika Hidayatullah serius, saya respon. Saya siapkan lokasi, silahkan ditindaklanjuti,” kata Saparuddin yang merupakan satu-satunya Anggota Dewan yang beragama Islam di DPRD Toraja Utara.

Sementara itu, Sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan yang juga tergabung dalam Tim Safari Ramadhan, Ust Sumariadi, mengatakan silaturahim dengan tokoh umat Islam serta para pemangku di Tana Toraja ini memang menjadi agenda penting pihaknya, agar mendapatkan arahan dan bimbingan dalam menjalankan amanah pembinaan umat Islam di kawasan.

“Selain itu juga ingin menyampaikan rencana Hidayatullah menghadirkan lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren di Tana Toraja,” kata Sumariadi.

Diketahui, Tana Toraja, yang hari ini sudah terbagi menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara, memang lebih dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang dikunjungi banyak pelancong bahkan dari mancanegara.

Selain itu, Tana Toraja juga dikenal sebagai daerah berpenduduk muslim minoritas di Sulawesi Selatan. Terhitung hanya ada beberapa Kecamatan yang menjadi basis pertumbuhan penduduknya mayoritas beragama Islam, diantaranya Kecamatan Mengkendek di Tana Toraja dan Kecamatan Rantebua di Toraja Utara.

Safari Ramadhan di Tana Toraja adalah rangkaian terakhir dari seluruh agenda safari tahun ini yang dilakukan serentak di 24 Kab/Kota se-Sulawesi Selatan. (ybh/hio)

Dai Mengabdi di Pegunungan Latimojong Layani Warga Belajar Mengaji

0

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Dai Mengabdi utusan dari Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Parepare yang bertugas di sebuah desa di ketinggian pegunungan Latimojong, terus melayani masyarakat dan warga muslim yang ingin belajar mengaji.

“Pagi, siang, sore selalu ada warga yang ke masjid untuk belajar mengaji,” kata Muhammad Syukur Asirun dalam keterangannya, Kamis (22/4/2021).

Syukur Asirun adalah salah satu dari 15 santri Sekolah Dai Parepare yang bertugas di sebuah desa di ketinggian pegunungan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Para dai muda ini diterjunkan pada awal Ramadhan lalu ini kini telah berada di berbagai daerah di Sulawesi Selatan dalam program Sebar Da’i Ramadhan yang di gagas oleh Laznas BMH Sulsel dan Yayasan H. Kalla.

Berbagai tugas keagamaan dan sosial mereka laksanakan seperti, menjadi imam salat, mengajar mengaji, membersihkan masjid, dan membantu warga sekitar.

Menurut Ustadz Syukur, hanya ada satu masjid di desa yang tinggali oleh lebih dari 1.000 orang warga ini. Jarak rumah di sini pun berjauhan, dengan jalanannya yang belum diaspal.

“Setiap malam kami berusaha untuk menyampaikan ceramah tarawih. Kami ingin keberadaan kami di Desa Tabang ini memberikan manfaat lebih,” terang dai kelahiran Konawe Sultra ini.

Ia mengaku selalu bersyukur, karena semua ikhtiar itu mendapatkan dukungan dan respon yang baik dari warga dan pemerintah setempat.

“Termasuk menjadi dai tetap dalam safari dakwah dari dusun ke dusun bersama pemerintah desa setempat,” pungkasnya.

Untuk diketahui, SDH Parepare adalah program pendidikan da’i dengan masa belajar selama setahun. Mahasantri berasal dari berbagai wilayah di Indonesia khususnya di kawasan timur Indonesia.

Saat ini SDH Parepare telah meluluskan dua angkatan dan bersiap untuk menerima angakatan ketiga per Juli mendatang.*/Sumariyadi

DPW Hidayatullah Papua Barat Gelar Daurah Muallim Grand MBA

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memantapkan program Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur`an (Grand MBA) serta menyiapkan Muallim Rumah Qur’an, Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah (DPW) Papua Barat menyelanggarakan Daurah Muallim Grand MBA yang berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Arfai II, Manokwari, Papua Barat, pada tanggal 23-25 April 2021.

Kegiatan ini adalah bentuk keseriusaan DPW Hidayatullah Papua Barat untuk membumikan dan memberantas buta baca Al-Qur’an di Bumi Kasuari, serta tindak lanjut dari program Rumah Qur’an yang merupakan Program Hidayatullah secara Nasional.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat Ust Muhammad Hasdar Ambal, menyampaikan pentingnya bagi setiap dai dan daiyah untuk memahami Al-Quran secara total, baik secara teks dan konteksnya. Karena Al-Qur’an adalah paduan bagi setiap dai dalam membersamai ummat.

“Pemahaman kita terhadap Al-Qur’an ini harus terus kita asah dengan terus belajar. Dengan ikutnya kita dalam daurah ini, adalah bentuk keseriusan kita membersamai umat di Papua Barat,” kata Ust Hasdar.

“Selain itu, para muallim harus siap untuk menjadi pelopor berdirinya Rumah-rumah Al-Qur’an di Papua Barat,” lanjutnya.

Perserta yang hadir dalam Daurah Muallim Grand MBA tersebut adalah perwakilan utusan dai dan daiyah Hidayatullah yang ada di Manokwari. Ada 2 orang utusan dari Kabupaten Teluk Bintuni serta 1 orang peserta dari Kota Senja Kaimana.

Sementara itu, Instruktur Nasional Grand MBA, Ustadz Muhdi Muhammad yang hadir sebagai pemateri, menyampaikan bahwa Grand MBA bukanlah sekedar belajar dan mengajar Al-Qur’an tapi merupakan gerakan membangun kesadaran masyarakat dengan nilai-nilai dan kemukjizatan Al-Qur’an.

“Kita sering dengar bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat. Tetapi, apakah kita sudah merasakan kemukjizatan Al-Qur’an di dalam kehidupan kita. Mari kita terus dalami Al-Qur’an dengan menggali makna serta menjadikannya sebagai pedoman hidup kita,” jelas Ust Muhdi yang merupakan alumni salah satu perguruan tinggi Hidayatullah ini.

Selain membedah buku-buku Grand MBA dan metode mengajarkannya, dauroh kali ini menekankan pentingnya menjadikan Grand MBA sebagai “aset” yang harus dijaga oleh setiap muallim serta dai dan daiyah Hidayatullah.

“Kita harus bangga sudah punya aset (baca: Metode GRAND MBA) ini. Untuk itu wajib untuk kita jaga dan kita ajarkan untuk kader dan ummat,” kata Muhdi mengingatkan.

Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis. (Refra S/MKW)

Safari Ramadhan Hidayatullah Sulsel Moment Kuatkan Sinergi Keumatan dan Kebangsaan

MAKASSAR (HIdayatullah.or.id) — Ramadhan tahun ini hendaknya menjadi momentum konsolidasi spiritual dan keummatan, demikianlah pesan Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Dr. H. Nashirul Haq, Lc., saat digelarnya Tarhib Nasional Hidayatullah menyambut Ramadhan 1442 H.

Topik inilah pulalah yang menjadi tema Safari Ramadhan DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan tahun ini yang dilaksanakan secara serentak di 24 Kab/Kota.

“Topik tersebut dirasa sangat pas karena mencakup kebutuhan kita secara internal dan gerakan keumatan dan kebangsaan kita secara eksternal”, kata Ust Nasri Bohari.

Nasri yang juga Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan ini mengatakan tema besar tersebut juga menjadi target pihaknya, yakni bagaimana memastikan seluruh warga dan kader Hidayatullah se-Sulawesi Selatan benar-benar disiplin menjalankan ibadah agar dapat meraup spirit ramadhan tahun ini secara optimal.

“Makanya diperlukan konsolidasi internal di setiap daerah”, katanya dalam keterangannya kepada Hidayatullah.or.id, Jum’at (23/4/2021).

Untuk gerakan keumatan, Nasri melanjutkan, para dai disebar memenuhi panggilan umat, bahkan hingga ke pelosok memberikan layanan pencerahan agar umat dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh khidmat.

Selain itu, Nasri juga mengingatkan tim safari untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan yang standar mengingat kondisi pandemi saat ini yang masih mewabah.

Karena itu, lanjut beliau, jikapun kita dibatasi melakukan kegiatan yang bersifat publik maka yang kita galakkan adalah dakwah fardiyah menyasar semua kalangan termasuk tokoh-tokoh dari unsur pemerintah, ormas Islam maupun masyarakat umum.

“Setidaknya menyampaikan keberadaan Hidayatullah di daerah tersebut dan kesiapan kita untuk senantiasa bersinergi dengan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah dalam membangun umat dan bangsa”, terangnya menandaskan.

Sementara itu, Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan Ust Reskyaman, menyebutkan, safari Ramadhan DPW Hidayatullah Sulsel tahun ini ke 24 Kab/Kota tersebut dibagi menjadi tiga zona sehingga tim safari pun dibuat tiga tim dengan melibatkan seluruh pengurus wilayah dan unsur pengurus daerah.

“Pelaksanaanya serentak, dimulai 5-15 Ramadhan, tepatnya pada tanggal 17-27 April. Kita batasi agar seluruh anggota tim safari juga tetap dapat melaksanakan i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan” kata Reskyaman.*/Sumariadi

Sinergi IMS dan Baznas Bazis Launching Program Hapus Tato Roadshow se-DKI Jakarta

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Islamic Medical Service (IMS) dan Baznas (BAZIS) DKI Jakarta bersinergi melakukan launching program Hapus Tato Roadshow se-DKI Jakarta yang dimulai pada Selasa (20/04/2021).

Acara peluncuran program hapus tato ini di buka langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta, Marullah Matali. Dalam sambutannya, Marullah mengapresiasi diangkatnya program ini.

“Hari ini IMS dan Basnaz (BAZIS) membuka pintu kebaikan berupa program hapus tato. Ayo kita gunakan sebaik baiknya, kalau sudah hijrah jangan belok arah lagi,” kata Marullah Matali kepada peserta hapus tato yang ada di lokasi acara.

Marullah menyampaikan, pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berharap kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah DKI Jakarta.

“Mumpung ini bulan Ramadhan, bulan baik, hari baik, jadi kalau mau masuk ke pintu yang baik di hari yang baik, bulan yang baik, ketemu orang baik dan sumber dana yang baik, Insya Allah memuluskan niatan yang baik menuju kebaikan-kebaikan lainnya,” kata Marullah Matali.

Ketua Baznas (BAZIS) DKI Jakarta KH.DR. Ahmad Luthfi Fathullah, M.A, yang tutut hadir dalam peluncuran program ini, mengutarakan kerjasama pihaknya dengan IMS ini akan terus dikuatkan dan diluaskan manfaatnya.

“Insya Allah kegiatan ini akan berjalan di beberapa titik yang ada di Jakarta. Selain di Jakarta Utara, juga akan dilaksanakan di Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, ibu kota Jakarta dan yang terakhir akan dilaksanakan di Pulau Seribu,” kata KH.DR. Ahmad Luthfi Fathullah.

Sementara itu, Direktur IMS Imron Faizin menyampaikan apresiasi dan ucapkan terimakasih kepada Baznas (BAZIS) DKI Jakarta yang telah mendukung penuh progam hapus tato ini. Dia juga menyampaikan apresiasikepada Pemerintah Provinsi Jakarta dan para pihak yang terlibat demi suksesnya program keummatan ini.

Imron berharap, di acara launching hapus tato yang diselenggarakan di Jakarta Islamic Center (JIC) ini terus berkelanjutan dan harapannya pihak pemerintah bisa terjun langsung dalam mendukung dan mensponsori kegiatan-kegiatan kebajikan ini.

“Karena dampaknya sangat baik bagi mereka yang berada di fase hijrah menuju yang lebih baik,” kata Imran.

Imran menyebutkan, program ini sudah berjalan 3,5 tahun dan sudah melayani 5.500-an orang dan terus bertambah. Dia mengatakan, saat ini saja masih banyak sahabat tobat (sobat) atau sahabat hijrah yang berharap dihapus tatonya.

“Tentunya kita ingin bisa melayani secara maksimal. Harapan kami program ini dapat terus berjalan dengan baik dan berharap dukungan dari masyarakat,” tukas Imran.

Dia mengungkapkan, Insya Allah setelah pihaknya keliling di 5 masjid di DKI, selanjutnya ia akan keliling pasar-pasar di DKI untuk meluaskan program ini.

Terakhir, Imran berpesan kepada sahabat marginal untuk sebaiknya mengurungkan keinginan menato tubuh. Karena selain tidak sehat dan berbahaya bagi kesehatan kulit, merajah tubuh juga dilarang agama.

“Bagi yang sudah punya tato namun ingin menghapus akan tetapi terkendala biaya, ayo daftarkan diri anda pada program hapus tato gratis Ramadhan ini,” imbuhnya.

Ia pula menyampaikan terima kasih kepada Baznas (Bazis) DKI atas supportnya sehingga program ini dapat berjalan. Demikian juga kepada Pemprov DKI yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan ini dapat dilakukan di wilayah DKI Jakarta.*/Amanji Abdullah Kefron

Sinergi Hidayatullah – MUI Teluk Bintuni Gelar Pelatihan Al Quran

0

TELUK BINTUNI (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, menggelar kegiatan training standarisasi baca Al-Qur’an angkatan I yang dilaksanakan mulai tanggal 15 hingga 22 April 2021 di Pesantren Hidayatullah Teluk Bintuni.

Dalam kegiatan ini menghadirkan trainer Gerakan Dakwah Mengajar Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) Pusat Ust Muhdi Muhammad dan 3 orang instruktur dari DPW Hidayatullah Papua Barat.

Sekretaris DPW Hidayatullah Papua Barat Miftahuddin, S.H.I menyampaikan kegiatan pendidikan Al Qur’an ini adalah program yang digagas oleh Hidayatullah melalui Departemen Dakwah Wilayah Papua Barat yang pada helatan perdana ini bekerjasama dengan MUI Teluk Bintuni.

“Kita akan menggelar juga di kabupaten dan kota, termasuk, yang memungkinkan dijangkau, ke distrik-distrik yang ada di Papua Barat ini. Insya Allah setelah Ramadhan ini digelar juga di Manokwari,” kata Miftahuddin dalam keterangannya, Kamis (22/4/2021).

Dia mengatakan, kegiatan pembinaan keumatan dengan bekerjasama dengan MUI ini bukan yang pertama digelar. Sebelum-sebelumnya, berbagai program juga disinergikan dengan berbagai elemen umat dan masyarakat.

“Program dakwah tidak bisa berjalan ketika dilakukan secara sendiri-sendiri, terutama dalam mengajarkan Al-Qur’an. Umat Islam perlu terus kita ajak bersama sama untuk dekat dengan Al Qur’an,” imbuhnya.

Miftahuddin mengutarakan, negara Indonesia yang penduduknya mayoritas Islam namun tingkat kemampuan membaca dan pemahaman terhadap Al-Qur’an masih rendah. Dengan latar belakang inilah, kata dia, Hidayatullah secara nasional menurunkan program Grand MBA ke wilayah dan dilaksanakan di kabupaten kota yang ada di wilayah masing-masing terutama Papua Barat.

“Semoga kedepannya tidak hanya Teluk Bintuni, namun semua kabupaten kota di Papua Barat dapat kami gelar kegiatan yang sama,” imbuhnya.

Pihaknya menyampaikan terimakasih serta apresiasi yang tinggi atas dukungan dan perhatian berbagai pihak baik perseorangan, swasta maupun pemerintah dalam mensukseskan kegiatan ini.

“Pemerintah daerah sangat kami butuhkan dukungannya, agar program-program keumatan bisa berjalan sehingga SDM kita akan semakin meningkat terutama dalam pengentasan buta aksara Al-Qur’an,” tukasnya.

Dia menambahkan, kegiatan ini bertujuan untuk memberantas baca tulis Al-Qur’an. Adapun peserta yang hadir adalah para guru mengaji yang telah berkiprah di Teluk Bintuni.

Materi yang diberikan adalah metode Grand MBA yaitu Gerakan Dakwah Mengajar Belajar Al-Qur’an. Ini merupakan program yang diturunkan DPP Hidayatullah dalam mendekatkan masyarakat dengan Al-Qur’an.

Dengan metode ini peserta didik diharapkan akan mudah dan cepat dalam belajar serta memahami Al-Qur’an.

Selain mahir dalam membaca Al-Qur’an metode pembelajaran Grand MBA juga mengajarkan agar mudah memahami dan menerjemahkan Al-Qur’an sehingga memudahkan dalam memahami kandungan Al-Qur’an.

Instruktur Nasional Grand MBA Ust Muhdi Muhammad, S.Sos.I yang hadir sebagai pemateri menyampaikan bahwa umumnya peserta sudah memiliki kemampuan baca Qur’an terstandar. Kendati demikian, ia mendorong untuk terus meningkatkan kemampuan.

“Alhamdulillah sebagian sudah memiliki dasar-dasar terhadap pengetahuan Al-Qur’an, disamping itu peserta mempunyai komitmen untuk menjadi pengajar Al-Qur’an,” kata Muhdi.

Ia mengatakan sangat optimis dengan kegiatan ini. Kedepannya, terang dia, masyarakat Teluk Bintuni lebih khusus umat Islam tidak perlu lagi khawatir, karena dengan metode Grand MBA dihadirkan untuk menjadi solusi untuk kemudahan belajar Al Qur’an.

“Grand MBA sesuai denvan kaidah serta hukum bacaannya dengan menggunakan sistem 8 jam dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua MUI Teluk Bintuni Ust Ahmad Subuh Refideso, SH.I dalam sambutannya mengatakan bahwa training standarisasi baca Al-Qur’an ini merupakan program yang disinergikan dengan Hidayatullah dalam rangka mengatasi permasalahan mendasar pada masyarakat muslim Teluk Bintuni yaitu baca tulis Al-Qur’an.

Ahmad pun berharap dengan kegiatan ini, masyarakat pun semakin memiliki wawasan baik praktik maupun teori dalan membaca Al-Qur’an yang terstandar sesuai kaidah.

“Hal ini yang belum banyak diketahui oleh banyak kaum Muslimin terutama para pengajar Al-Qur’an di Teluk Bintuni. Selain itu dalam mengajarkan Al-Qur’an ternyata ada metode yang sangat mudah untuk mengajarkan Al-Qur’an yaitu Grand MBA milik Hidayatullah,” kata Ust Ahmad.

Adapun tindak lanjut dari program ini adalah berdirinya rumah-rumah Qur’an. “Besar harapan kami secara bertahap generasi Islam di Teluk Bintuni akan semakin dekat dan mencintai Al-Qur’an,” kata Ust Ahmad menukaskan.

Salah seorang peserta, Kabir Kokop, guru TPQ utusan dari Distrik Aranday yang ikut training baca tulis Al-Qur’an ini, mengaku sangat bersyukur telah menjadi bagian dari peserta kegiatan training yang diselanggarakan oleh MUI Teluk Bintuni dan Hidayatullah ini.

“Insya Allah akan menjadi bekal dalam memahami Al-Qur’an serta diajarkan kepada genesasi muda lainnya yang berada di kampung,” imbuh Kabir.

Kabir mengatakan, Alhamdulillah setelah mengikuti kegiatan ini, “kitorang secara pribadi mendapatkan pengetahuan baru tentang kaidah-kaidah baca tulis Al-Qur’an, yang kemudian akan kitong terapkan kepada adik-adik di kampung,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan, masyarakat muslim yang berada di kampungnya, baik dari kalangan dewasa hingga anak-anak sebagai generasi emas Papua Barat banyak yang ingin belajar mengaji.

Namun, lanjutnya, mereka terkendala dengan tenaga pengajar yang sedikit, bahkan boleh dikatakan tidak ada tenaga pengajar Al-Qur’an yang benar-benar paham akan ilmunya.

“Saya juga berharap, kedepannya kegiatan serupa dapat dilaksanakan di daerah-daerah pesisir pedalaman, seperti di Aranday, Yakora, dan kampung baru serta daerah lainnya karena disana masih sangat membutuhkan para tenaga pengajar Al-Qur’an,” tutupnya.

Kegiatan ini pula didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH), Pemuda Hidayatullah Teluk Bintuni dan Pos Dai Papua Barat. (ybh/hio)

Rakornas Kesekretariatan untuk Tertib Administrasi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bidang Kesekretariatan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kesekretariatan yang diselenggarakan selama 3 hari dibuka pada Selasa (20/4/2021).

Dalam sambutannya membuka acara yang digelar secara virtual ini, Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Ir Candra Kurnianto, mengatakan, fungsi dan peran kesekretariatan penting untuk selalu disegar-segarkan agar kegiatan organisasi dapat berjalan dengan baik.

“Rakor ini selain sebagai ajang konsolidasi, juga untuk pemantapan koordinasi kaitannya dengan peran vital kesekretariatan,” kata Candra.

Dia melanjutkan, sistem kesekretariatan organisasi sejauh ini meski telah mengalami kemajuan yang baik, namun menurutnya masih perlu untuk terus dikuatkan pada semua level struktural.

Apalagi, terang dia, kesekretariatan menjadi unit dalam organisasi yang berfungsi melayani kebutuhan data maupun informasi seluruh unit-unit lain terkait dengan urusan administrasi.

“Sehingga terkait administrasi dan pendataan ini memang sangat penting sekali, bukan saja bagi kantor pusat tapi juga wilayah dan bahkan hingga unit terkecil di bawahnya,” imbuhnya.

Dia mengimbuhkan, data atau sistem pendataan yang baik tidak saja penting dalam dunia bisnis, bahkan ia sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi kepentingan berbagai institusi termasuk organisasi untuk melakukan pengukuran dan pengambilan keputusan.

“Siapa pun yang menguasai big data akan menjadi pemenang,” katanya memungkasi, menukil sebuah adagium populer mengenai pentingnya basis data.

Acara rakornas ini dihadiri oleh sejumlah narasumber diantaranya Wakil Sekretaris Jenderal I Abdul Ghaffar Hadi, Ketua Biro Humas DPP Hidayatullah Mahladi Murni, Kepala Kantor DPP Hidayatullah Saihul Islam dan Bakamka Pusat Dakwah Hidayatullah Ir Muhammad Musyafir .

Rakornas Kesekretariatan yang digelar selama 3 hari ini dilakukan secara online dipesertai Sekretaris Wilayah Hidayatullah se-Indonesia dibagi dalam format pemetaan cluster wilayah Indonesia Barat, Tengah, dan Timur untuk memaksimalkan kegiatan dan penyesuaian waktu. (ybh/hio)

Kisah di Balik Rakaat Shalat

ADA BANYAK hal dalam Islam yang disyariatkan tanpa dijelaskan sebabnya, misalnya jumlah rakaat shalat wajib yang berbeda-beda, atau putaran thawaf yang tujuh kali dan melawan arah jarum jam, atau bertayammum menggunakan tanah/debu.

Kita diminta tunduk tanpa menggugat, apalagi mengkreasikan bentuk baru. Inilah yang disebut dengan “ta’abbudiyah”, yaitu hal-hal yang mana kepatuhan kepada ketentuan syariat di dalamnya merupakan bagian paling asasi dari ibadah itu sendiri.

Sekilas, jumlah rakaat shalat memang terkesan janggal. Terkadang pikiran nakal kita menerka-nerka, mengapa shalat Isya’ harus empat rakaat padahal di saat itu kita sangat mengantuk dan kelelahan?

Mengapa shalat Zhuhur dan Ashar terdiri dari empat rakaat, padahal jam istirahat kantor begitu pendek atau kita sangat capek setelah beraktivitas seharian? Di sisi lain, mengapa rakaat shalat Subuh cuma dua dan Magrib hanya tiga, sementara ketika itu justru relatif longgar dan segar?

Sebenarnya, kita tidak benar-benar memahami rahasia di balik kehendak Allah yang gaib ini. Namun, mari mencermati riwayat-riwayat yang ada untuk sedikit memuaskan rasa penasaran. Siapa tahu, kita juga bisa memahami sebagian dari hikmah di dalamnya.

Dan, dalam kadar tertentu, ketika penjelasan definitif tidak bisa didapatkan, maka sekedar mengetahui kisah-kisah yang melatarbelakangi penetapan suatu kewajiban pun sudah cukup.

Ummul Mu’minin ‘Aisyah berkata, “Allah mewajibkan shalat – dulu pada saat pertamakali Dia mewajibkannya – masing-masing sebanyak dua rakaat, baik ketika bermukim maupun bepergian. Lalu, shalat ketika bepergian dibiarkan tetap (dua rakaat), sedangkan shalat ketika bermukim ditambah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, beliau berkata, “(Dulu) shalat ketika bepergian dan bermukim diwajibkan sebanyak dua rakaat. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bermukim di Madinah maka shalat ketika bermukim ditambah masing-masing dua rakaat. Shalat Fajar dibiarkan (yakni, tetap dua rakaat) karena panjangnya bacaan (di dalamnya), dan shalat Magrib (ditambah satu rakaat saja) karena ia bagaikan Witir bagi shalat di siang hari.” (Riwayat Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Hadits hasan-shahih).

Begitulah, pada zaman permulaan Islam shalat diwajibkan sebanyak dua rakaat saja. Ketika itu situasi tidak aman dan kaum muslimin senantiasa dibayangi ketakutan. Mereka selalu diintai, diganggu, dihalangi, bahkan disiksa bila menegakkan shalat.

Dengan kasih sayang-Nya, Allah meringankan beban-beban itu karena kondisi pada saat bermukim sama gentingnya dengan ketika bepergian. Jangan membayangkan bepergian di Jazirah Arab pada zaman itu senyaman naik kereta api, armada travel, atau pesawat udara di zaman kita.

Dulu, banyak suku Badui yang gemar merampok siapa saja yang mereka jumpai, dan – tentu saja – padang gurun bukanlah wilayah yang gampang untuk dilintasi.

Keadaan pun berubah setelah peristiwa Hijrah dan Islam tersebar luas. Situasi semakin aman dan tenang. Kaum muslimin bisa mengerjakan shalat di mana pun tanpa khawatir. Bahkan, Allah menjadikan seluruh permukaan bumi sebagai masjid dan tanahnya sebagai sarana bersuci.

Kapan pun dan di mana pun waktu shalat tiba, kita bisa bersujud di atas bumi Allah dan bersuci dengan debunya bila tidak ada air (Riwayat Muslim, dari Jabir dan Hudzaifah).

Hadits ‘Aisyah di atas juga menyingkap penggalan kisah lain: “mengapa shalat Subuh tetap dua rakaat?” Ternyata, dulu Rasulullah dan para Sahabat biasa membaca surah-surah panjang di dalamnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membaca surah as-Sajdah dan al-Insan dalam shalat Subuh di hari Jum’at, dan keduanya terdiri dari 30-an ayat (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah, dan Abu Dawud dari Ibnu ‘Abbas).

Beliau juga pernah membaca surah al-Mu’minun dalam shalat Subuh, namun sekitar ayat ke-50 beliau batuk sehingga langsung ruku’. Aslinya, surah ini memuat 118 ayat (Riwayat Ibnu Majah dari ‘Abdullah bin as-Sa’ib. Hadits shahih). Menurut Abu Barzah al-Aslami, Rasulullah biasa membaca 60 sampai 100 ayat dalam shalat Subuh (Riwayat Ibnu Majah. Hadits shahih).

Anas bin Malik juga bercerita, “Abu Bakar mengimami kami shalat Fajar, lalu beliau membaca surah Ali ‘Imran. Setelah selesai, dikatakan kepada beliau: ‘Matahari sudah hampir terbit!’ Beliau menjawab: ‘Andai pun ia sudah terbit, ia tidak akan mendapati kita termasuk orang-orang yang lalai.’” (Riwayat al-Bushiri. Seluruh perawinya bisa dipercaya).

Jabir bin Zaid (Tabi’in, w. 93 H) juga bercerita, “Ibnu ‘Abbas mengimami kami shalat Subuh, lalu beliau membaca surah al-Baqarah.” (Riwayat al-Bushiri).

Bila surah Ali ‘Imran berisi 200 ayat dan al-Baqarah memuat 286 ayat, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat tidak mungkin membaca Al-Qur’an dengan cepat dan serampangan, tapi justru dengan khusyu’ dan penuh perenungan, maka bisa dibayangkan seberapa lama shalat Subuhnya!

Hadits ‘Aisyah tersebut juga menjelaskan mengapa rakaat shalat Magrib berjumlah tiga, sebab ia diserupakan dengan shalat Witir. Kita mengerjakan tiga atau satu rakaat Witir sebagai penutup rangkaian shalat Tahajjud atau Tarawih di malam hari, demikian pula tiga rakaat Magrib merupakan penutup rangkaian shalat di siang hari.

Alhasil, setiap pergantian waktu malam maupun siang kita disyariatkan untuk menutup bilangan rakaat shalat dengan yang ganjil. Sebab, Allah itu tunggal/ganjil, dan Dia pun menyukai yang tunggal/ganjil (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Ustadz Alimin Mukhtar

Jalan Seratus Tahun yang Tak Boleh Terjeda

Oleh: Mahladi Murni (Kabiro Humas DPP Hidayatullah)

Halaqoh sore itu belum saya tutup. Saya, sebagai koordinator halaqoh, masih memberi kesempatan kepada Ust Sholeh Usman, ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, untuk memberi pelengkap kajian manhaj Sistematika Wahyu yang baru saja disampaikan oleh murobbi kami, Ust Nursyamsa Hadits. Waktu sudah menunjuk hampir pukul 5 sore.

Tetiba Ust Candra Kurnianto, sekjen DPP Hidayatullah yang juga anggota halaqoh kami, memberi kabar mengejutkan, “Ustadz Abdul Mannan sudah tiada.”

Ust Sholeh Usman spontan berteriak, “Ya Allah … ya Allah.” Ust Nursyamsa menutup mukanya dengan kedua tangannya seraya menyebutkan asma Allah. Ust Candra terduduk lemas di atas kursi. Mukanya memerah. Matanya basah. Isak tangis tiba-tiba membahana di ruang rapat Gedung Dakwah Hidayatullah lantai 2.

Saya juga tertunduk, tak kuasa pula membendung air mata ini. Beliau adalah guru, tokoh, pemimpin, sekaligus pemikir organisasi ini. Wafatnya beliau adalah kehilangan besar bagi Hidayatullah.

Ingatan saya langsung melayang kepada sebuah buku bertajuk Grand Design Hidayatullah 2021-2121. Buku hebat tentang Hidayatullah 100 tahun ke depan. Itulah karya terakhir beliau, buah pikir beliau untuk organisasi yang beliau rintis ini.

Tanggal 3 September 2020, materi buku itu sudah selesai. Di dalamnya tertulis gambaran tentang Hidayatullah satu abad ke depan serta upaya mewujudkannya. Beliau kemudian menelepon saya, meminta agar saya menemui beliau di Pesantren Hidayatullah, Depok, Jawa Barat.

Seperti biasa, setiap kali beliau memanggil saya, maka kami akan bertemu di Masjid Ummul Quro yang terletak di tengah-tengah pesantren Depok. Lalu, siang itu, beliau bercerita tentang materi buku itu. Kata beliau, jika kelak materi buku itu telah selesai diedit dan didesain menjadi buku, lalu diserahkan kepada Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust Abdurrahman Muhammad, maka tuntaslah tugas beliau.

Masya Allah, meskipun ketika itu beliau mulai sakit-sakitan, namun beliau masih memikirkan Hidayatullah. Saya membayangkan bagaimana beliau melewati malam-malam dengan sholat lail yang tak pernah beliau tinggalkan, lalu merangkai huruf demi huruf sehingga menjadi materi buku itu.

Sebenarnya, menulis buku bukan sekali ini beliau lakukan. Jauh sebelumnya, beliau pernah menulis buku tentang peradaban Islam. Beliau juga memanggil saya ketika materi buku itu sudah selesai. “Pak Mahladi, tolong edit materi buku ini. Buat menjadi cair, sehingga enak dibaca,” kata beliau ketika itu.

“Tidak ustadz! Saya tidak berani mengubah gaya tulisan ustadz yang khas. Saya hanya akan mengedit kesalahan tulis saja,” jawab saya ketika itu.

Beliau tercenung, lalu mengangguk. “Ya, antum benar,” kata beliau.

Sejak itu, saya sering diminta untuk mengedit buku-buku beliau, hingga buku terakhir itu.

Akhir Januari 2021, buku Grand Desain Hidayatullah telah rampung. Saya melihat raut wajah beliau sumringah ketika menimang-nimang buku itu. Besok, kata beliau, buku itu akan beliau serahkan kepada Ust Abdurrahman Muhammad, pemimpin tertinggi Hidayatullah, di Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Kembali kepada kisah halaqoh yang terjeda setelah mendapat berita duka. Semua terdiam dan larut dalam suasana duka. Ust Sholeh Usman mengajak seluruh anggota halaqoh untuk mengangkat tangannya lalu beliau melantunkan doa dengan khusuk.

“Ya Allah, eratkan ukhuwah kami, dan bantulah kami berjuang menegakkan agama-Mu …” begitulah petikan doa Ust Sholeh Usman dengan suara terbata-bata dan diamini oleh seluruh peserta halaqoh.

Doa itu seakan menegaskan bahwa Hidayatullah 100 tahun ke depan sebagaimana diimpikan oleh Ust Abdul Mannan allahuyarham serta seluruh kader Hidayatullah akan sulit terwujud manakala ukhuwah tidak dijaga. Begitu juga jalan menuju impian itu tak akan mudah dilalui tanpa pertolongan Allah Taala.

Selamat jalan guru kami. Semoga Allah Ta’ala menguatkan langkah-langkah kami untuk meniti jalan 100 tahun yang telah engkau tinggalkan kepada pemimpin-pemimpin kami. Aamiin ya Rab *

Selamat Jalan Ustadz DR Abdul Mannan

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sore ini saya tinggalkan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, lebih awal. Qodarullah, datang Bang Malik mendekati kami dan mengatakan ingin ikut kembali ke Depok.

Di tengah perjalanan, saat kendaraan melaju di tol saya sempat bertanya kepada Bang Malik, perihal kondisi Ustadz Dr. Abdul Mannan.

Alhamdulillah beliau membaik. Kemarin saya telpon Bu Sarah (putri sulungnya),” ucapnya yang kusambut dengan ucapan ‘Alhamdulillah.

Waktu pun bergulir, usai singgah di kisaran Cilodong untuk satu keperluan, saya dan rombongan segera melaju ke Pesantren Hidayatullah Depok.

Tak ada firasat, tak ada tanda-tanda tertentu yang datang, tiba-tiba di sebuah grup WA muncul berita duka langsung dari salah satu anak beliau, Bapak Muhammad Sulthon.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Baru saja kembali kepada Allah, Ayahanda saya Bapak Abdul Mannan.

Semoga Allah mengampuni dosa beliau.

Mohon kerelaan jama’ah Hidayatullah untuk memaafkan kesalahan beliau selama hidup. Terima kasih banyak atas kasih sayang jamaah semua kepada Ayah saya selama ini. Jazakumullah khairan katsira.”

Beliau meninggal dunia pada 8 Ramadhan 1442/ 20 April 2021 sekira pukul 17:00 WIB di RS Mitra Keluarga Depok.

Bukan hanya saya, banyak pihak seakan tak percaya dengan berita itu. Beberapa kolega dari daerah langsung telpon dan kirim pesan via WA kepada saya, ingin memastikan berita duka ini.

Tegas yang Penyayang

Ustadz Dr. H. Abdul Mannan, MM adalah sosok yang tegas. Beliau tidak mengatakan melainkan telah beliau lakukan dan rasakan.

Kalimat-kalimatnya disampaikan dengan intonasi khas yang menjadikan banyak orang menangkap bahwa ketegasannya amat kuat.

Saya sendiri selama mendampingi beliau menyaksikan berulang kali perihal ketegasan ini. Jika sudah mengambil keputusan maka tidak akan pernah diubah. Jika memiliki tekad sesulit apapun akan beliau lakukan.

Saat saya mendampingi beliau di STIE Hidayatullah Depok, pernah dalam sebulan – setiap hari – saya diminta mendampingi beliau keliling Depok untuk menyambangi satu persatu mahasiswa STIE yang KKN di masjid selama 8 bulan.

“Bagaimana kabarmu, Di,” tanya beliau ke seorang mahasiswa yang KKN di Kalibaru Depok. Melihat di kamar tinggal tidak ada rice cooker dan persediaan beras, beliau langsung mengeluarkan uang dari saku celananya.

“Ini buat beli rice cooker dan beli beras, ya.”

Begitu terus dari satu masjid ke masjid lain, yang seingat saya tidak kurang hampir 30 masjid.

Saat di mimbar pengajian Malam Kamis di Depok kala itu, beliau sampaikan bahwa dalam dakwah jangan pernah ada takut. Allah menjamin rezeki setiap kita. Namun, di balik itu semua, beliau turun tangan, mendatangi satu persatu murid-muridnya untuk memastikan mereka tidak kekurangan apapun.

Teladan Kedisiplinan

Satu keteladanan yang amat kuat dari Ustadz Dr. Abdul Mannan, MM adalah kedisiplinan.

“Wi,” biasa beliau memanggil saya dengan sapaan itu. “Besok kita ke JCC, jam 6 pagi, ya,” katanya menginformasikan agar saya menemani beliau.

Jam 6 kurang 10 menit saya sudah di perempatan Perum Hankam menanti beliau datang.

Lebih-lebih kalau soal kuliah, pengajian dan agenda di masjid, beliau akan memanggil saya dan meminta saya untuk mengkondisikan mahasiswa dengan baik.

“Jam 8 malam sudah harus kumpul semua, Wi,” katanya saat mengingatkan pengajian Malam Kamis kala itu.

Dari perintah-perintah beliau itu, lambat laun membentuk karakter kedisiplinan dalam diri saya. Sangat tidak enak rasanya terlambat dalam satu momentum, apalagi jika tidak karena hal yang bisa terkategori udzur.

Pengalaman ini juga dirasakan oleh hampir semua murid-murid beliau, terutama yang saya tahu di STIE Hidayatullah Depok. Jika ada mahasiswa terlambat, beliau persilakan mengikuti kuliah di luar pintu.

Kini sosok Ustadz Dr. Abdul Mannan telah menghadap keharibaan Ilahi. Semua berduka, bahkan hampir semua nyaris tidak percaya. Selamat jalan Ustadz Dr. Abdul Mannan, MM. Kami mencintaimu karena Allah. Semoga Allah muliakan dikau di sisi-Nya. Aamiin.*/Imam Nawawi (Ketum PP Pemuda Hidayatullah)