Beranda blog Halaman 429

Silaturrahim Pemuda Lintas Organisasi Kuatkan Gerakan Kolaborasi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan organisasi kepemudaan Islam tingkat pusat menggelar silaturrahim sekaligus kopi darat membincang sejumlah hal mengenai masalah kebangsaan, keummatan dan keindonesiaan di Procope Coffee Shop, Jl. Bintaro Utama 3A, Bintaro, Tangerang, Banten, Rabu (20/1/2021).

Pada kesempatan itu hadir anggota DPD RI, Tamsil Linrung, yang sekaligus dipersilahkan menyampaikan wejangan sekaligus brainstorming dalam bincang bincang hangat tersebut.

Tamsil yang dikenal sebagai politisi senior dan jejaringnya yang luas dalam dan luar negeri, mengemukakan harapannya pada pemuda agar selalu menguatkan peran dalam membangun bangsa, menguatkan peran keummatan serta selalu berupaya melahirkan berbagai inovasi.

“Semoga silaturrahim seperti ini selalu dijaga dan ditingkatkan,” kata Tamsil.

Di kesempatan yang sama, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi, menyampaikan pemuda perlu bergerak secara sinergis dan kolaboratif.

Sebab, lanjut Imam, membangun bangsa ini tidak mungkin dilakukan oleh satu kelompok atau beberapa pihak saja, namun harus dilakukan secara bersama-sama dengan adanya saling ketersambungan ide, ketersambungan wawasan dan saling keterhubungan hati antar satu dengan lainnya.

“Karena itu, kolaborasi ini perlu terus kita tingkatkan. Mungkin pada gerakan kami, misalnya, ada yang kurang atau belum memadai, maka hal itu bisa didukung oleh organ yang lain. Demikian pula sebaliknya,” kata Imam.

Sementara itu, Ketum HMI MPO Affandi Ismail yang juga tuan rumah berharap pertemuan ini bukan pertama dan terakhir.

Dia berharap, ke depan kolaborasi ini dapat mewujud dalam bentuk program konkrit seperti pengembangan ekonomi pemuda termasuk penguatan wacana gerakan kepemudaan. “Itu harapan kita,” kata Affandi.

Hadir dalam pertemuan santai di Procope Coffee yang sejuk dan nyaman dengan berbagai menu penganan khas bercita rasa tinggi, Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Susanto Triyogo, Ketum JPRMI Yosse Hayatullah.

Turut pula memberikan curah gagasan Ketum Gerakan Pemuda Al Washliyah Wizdan Fauran Lubis, Ketum PB Pemuda Muslimin Indonesia H. Ervan Taufiq, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) Aziz Fauzul Adzim serta sejumlah perwakilan organisasi kepemudaan lainnya. (ybh/hio)

Santri Hidayatullah Mamuju Kehilangan Adriani Kadir Dokter Muhammadiyah yang Baik Hati

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Klinik kesehatan terkenal yang berlokasi di Rimuku, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, itu kini rata dengan tanah.

Bangunan 5 lantai yang sekaligus rumah dan klinik tempat praktik Hj Adriani Kadir M Kes itu ambruk saat gempa berkekuatan 6,2 SR itu mengguncang Mamuju. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulbar ini pun wafat dalam kejadian itu. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

“Rumah dr. Adriani 5 lantai rubuh. Selama ini warga dan santri Hidayatullah berobat secara gratis,” tulis Ustadz Akib Junaid Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Jumat (15/01/2021), seraya menggunggah foto gedung klinik almarhumah yang tampak sudah rata dengan tanah.

Bagi Hidayatullah Sulbar, sosok dokter yang baik hati ini memang penuh kepedulian. Dai yang juga pembina santri di Pesantren Hidayatullah Mamuju, Syamsuddin, mengatakan dr. Adriani Kadir adalah salah seorang dokter yang dia kenal baik, juga sangat besar perhatian dan kepeduliannya terhadap sesama.

“Di antara kebaikannya itu adalah beliau selalu dengan senang hati memberikan pelayanan medis saat santri-santri dan para asatidz di pesantren berobat ke kliniknya. Selalu Gratis. Tidak mau dibayar,” kata Syamsuddin.

Kebaikan beliau ini dilakukannya sudah sejak lama. Syamsuddin menceritakan, pernah suatu ketika ia mengantar istrinya berobat ke klinik almarhumah. “Pas saya ingin membayar di kasir, petugas kasirnya bilang, “kata dokter tidak usah dibayar,'” katanya.

“Mungkin karena alamat yang saya tulis di buku resepsionis adalah alamat pesantren, sehingga beliau tidak memperkenankan jasa dan obat yang diberikan dibayar dengan rupiah,” imbuh Syamsuddin.

Syamsuddin menambahkan, ternyata beliau memang detail memperhatikan data orang yang berkunjung ke kliniknya. Sehingga tidak semua yang datang berobat di klinik beliau harus membayar, meski dengan pelayanan medis yang selalu baik kepada siapa saja.

“Saya percaya, banyak doa yang tercurah untuk beliau. Sebagaimana saya percaya bahwa kebaikan-kebaikan yang telah beliau perbuat, insya Allah akan Allah ganjar dengan balasan yang lebih baik. Aamiin!,” imbuhnya.

Diketahui, dr Adriani Kadir adalah salah seorang kader terbaik Muhammadiyah, yang ditempatkan di Kota Mamuju, bertugas sebagai dokter. Almarhumah merupakan alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sidrap akhir tahun 1980-an dan sekaligus pula adalah alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin awal tahun 1990-an.

Seperti dilansir laman Suara Muhammadiyah, selain sebagai pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Mamuju, dr Adriani Kadir pun merupakan Ketua Majelis Pembina Kesehatan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Barat sekaligus sebagai Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Mamuju.

Di samping itu, almarhumah pun berada dalam lingkungan keluarga yang aktif di Muhammadiyah. Suaminya, Ir. H. Salihi Saleh, M.Si., adalah Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat sekaligus sebagai Ketua Badan Pelaksana Harian Universitas Muhammadiyah Mamuju.

Semoga Allah Ta’ala menyayangi, mengampuni, dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi, Aamiiin. (ybh/hio)

Kakanwil Kemenag Sulteng Resmikan Asrama Santri Ponpes Hidayatullah Palu

PALU (Hidayatullah.or.id) — Pondok pesantren (ponpes) merupakan salah satu lembaga pendidikan yang tertua di Indonesia. Peran strategis dan sangat positif pesantren sangat penting dalam rangka untuk membina generasi kita.

Demikian disampaikan Kakanwil Kemenag Sulteng Rusman Langke saat peresmian Asrama Santri Pondok Pesantren Hidayatullah Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) belum lama ini.

Menurut, Rusman, pondok pesantren telah melahirkan generasi islam yang luar biasa serta melahirkan intelektual yang menguasai ilmu pengetahuan umum maupun pengetahuan agama.

“Olehnya pondok pesantren menjadi kewajiban kita semua untuk terus kita tingkatkan baik dari segi leadership dan manajemennya karena disinilah lahir generasi muda Islam untuk menjadi pemimpin yang akan datang,” katanya.

Dia menambahkan pondok pesantren telah berbukti menorehkan prestasi luarbiasa, tak terkecuali Pesantren Hidayatullah khususnya di Palu dan Sulawesi Tengah secara umum dalam perannya menopang program pembangunan bangsa.

“Olehnya menjadi tugas kita semua dalam rangka untuk meningkatkan kualitas output dari pada ponpes,” ujarnya.

Rusman pula mengajak untuk belajar dan menebarkan Islam yang rahmatan lil alamin. “Bahwa Islam itu adalah rahmat bagi diri kita, keluarga kita, masyarakat, bangsa dan negara yang kita cintai,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan, bahwasanya telah menjadi komitmen kita bahwa kita berada di NKRI, maka kita jaga bersama sama, dengan pemerintah untuk memberikan pemahaman kepada anak anak kita untuk mendakwahkan Islam yang rahmat dan cinta damai.

Acara peresmian asrama santri ini ditandai dengan pengguntingan pita dan penandatangan prasasti oleh Kakanwil Kemenag Sulteng. Hadir pada kegiatan tersebut Kabid Pakis Kemenag Sulteng Gasim Yamani bersama jajarannya dan pengurus Ponpes Hidayatullah.(ybh/hio)

Tanggap Bencana, Hidayatullah Makassar Rest Transit Relawan

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar membuka layanan sebagai rest transit atau tempat persinggahan bagi relawan dan pejuang kemanusiaan yang membutuhkan tempat untuk beristirahat.

Rest transit ini sebagai salah satu tanggap darurat bencana pascagempa berkekuatan magnitudo 6,2, yang melanda kabupaten Majene pada Jumat 15 Januari 2021 pukul 02.28 Wita. Gempa yang berpusat di 2,98 LS, 118,94 BT atau 6 kilometer Timur Laut Majene ini menelan banyak korban.

Bagi pejuang kemanusiaan yang akan ke Majene dan Mamuju atau sebaliknya dan membutuhkan tempat untuk transit sementara di Makassar, bisa datang ke Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar Jln Tamalanrea Raya, Poros BTP Blok M No. 26 Makassar.

Adapun nomor kontak yang bisa dihubungi adalah Ust Muhajir 081287959652 dan Kadir Al Qitrie 085255799111. Tanggap darurat bencana ini didukung oleh BMH, SAR Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah, IST Peduli Bencana, LPIH Sulsel dan Albayan Media Corp.

Seperti dikutip dari laman SAR Hidayatullah, Gempa Sulbar yang berpusat di 2,98 LS, 118,94 BT atau 6 kilometer Timur Laut Majene ini juga mengakibatkan jaringan telekomunikasi terputus dan menyebabkan gedung gedung ambruk.

Saat ini Tim BMH-SAR Hidayatullah telah membuka posko relawan dan bantuan di Jalan Abdul Syakur No. 02, Kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Karema, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Adapun kebutuhan mendesak masyarakat terdampak saat ini adalah alat alat evakuasi, logistik, tenda dan kebutuhan harian lainnya seperti bahan konsumsi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan, lokasi gempa 2.99 Lintang Selatan (LS), 118.89 Bujur Timur (BT). Pusat gempa 4 km Barat Laut Mejene, Sulawesi Barat. BMKG menyatakan, gempa pada kedalaman 10 kilometer tersebut, tidak berpotensi tsunami. (ybh/hio)

Kirim Logistik SAR Hidayatullah Tembus Malunda – Tapalang

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — TIM BMH-SAR Hidayatullah melakukan pendistribusian bantuan logistik melalui jalan lintas Majene – Mamuju dalam respon aksi tanggap darurat bencana pascagempa berkekuatan magnitudo 6,2, yang melanda Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, pada Jumat 15 Januari 2021 pukul 02.28 Wita.

“Alhamdulillah, hari Sabtu jam satu siang, jalan penghubung Majene – Mamuju Jembatan Bolong Tapalang sudah bisa dilewati,” kata Ketua SAR Hidayatullah Irwan Harun langsung dari lokasi, Sabtu (16/1/2021).

Sebelumnya, gempa bumi yang terjadi Jumat dini hari ini selain membikin ambruk Gedung Kantor Gubernur Sulbar dan infrastruktur lainnya, gempa ini juga mengakibatkan Jembatan Bolong atau Jembatan Kuning yang menjadi akses utama penghubung Majene – Mamuju ini sempat tak bisa dilalui karena terhalang longsoran material bebatuan dan bongkahan pepohonan yang roboh.

Sementara itu, pantauan SAR Hidayatullah di lokasi pasca gempa, masyarakat korban bencana gempa saat ini sangat membutuhkan logsistik bahkan ada beberapa daerah terisolir yang kesulitan makanan pascagempa yang berpusat di 2,98 LS, 118,94 BT atau 6 kilometer Timur Laut Majene ini.

“Kebutuhan konsumsi terutama, ini yang sangat mendesak saat ini selama tanggap darurat bencana pascagempa,” kata Irwan.

SAR Hidayatullah bersama BMH saat ini terus mengupayakan mendistrisbukan bantuan logistik ke daerah daerah rawan dan terisolir yang membutuhkan. (ybh/hio)

Lansia dan Anak Korban Banjir Kalsel Butuh Perhatian

BARABAI (Hidayatullah.or.id) — Tim BMH-SAR Hidayatullah melakukan aksi tanggap darurat bencana banjir yang terjadi di sejumlah titik di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Bukan saja Banjarmasin, Ibu kota Kalimantan Selatan, yang sudah terendam banjir sejak 14 Januari 2021, sejumlah titik wilayah lainnya juga dilanda banjir.

Korlap Tim BMH-SAR Hidayatullah Tanggap Bencana Banjir Kalsel, Mohammad Amries, dalam keterangannya, menyebutkan ada beberapa daerah yang terdampak banjir yaitu Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Banjarmasin, Tapin, Kota Banjar Baru, Kota Tanah Laut, Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong.

“Yang perlu penanganan dan perharian serius terumata adalah lansia dan anak-anak,” kata Amries dalam keterangan SAR Hidayatullah yang diterima media ini, Sabtu (16/1/2021).

Amries mengatakan, korban banjr dari kalangan lansia dan anak-anak memerlukan penanganan khusus karena kerentanan yang ada di tengah kondisi banjir yang belum surut. “Terutama kerentanan kesehatan lansia dan kebutuhan pokok anak usia dini,” kata Amries.

Amries mengatakan tim SAR gabungan terus bergerak bersama masyarakat untuk melakukan evakuasi dan mendistribusikan bantuan yang dibutuhkan. “Kami juga bahu-membahu dengan relawan dari berbagai elemen masyarakat,” kata Amries.

Amries menyebutkan, ada sebanyak 27.111 rumah terendam banjir serta ada sekitar 112.709 warga yang mengungsi akibat banjir Kalsel ini mengutip laporan Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

“Tim BMH-SAR Hidayatullah juga telah membuka posko di Masjid Agung Barabai,” lanjut Amries dari Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Dia menyebutkan beberapa kebutuhan mendesak masyarakat terdampak banjir seperti makanan siap saji, air mineral, lilin, popok bayi, pembalut wanita, obat obatan, anti nyamuk.

Juga kebutuhan penting lainnya selama masa tanggap darurat seperti pakaian dalam wanita dan popok anak-anak, air bersih untuk keperluan mck, genset, alat penerangan, kabel, stop kontak, terpal, serokan air, pel lantai dan lain-lain.

Dia menambahkan, kader dan jamaah Hidayatullah Kalsel juga aktif melakukan evakuasi untuk membantu korban banjir lainnya. Bahkan dari BMH-SAR Hidayatullah Kaltim mengirim 8 personil dengan 2 armada ambulance BMH.

“Sudah merapat ke sini untuk turut membersamai dalam respon aksi tanggap darurat bencana banjir Kalsel,” pungkasnya. (ybh/hio)

Ulama Mangkat, Bencana Meningkat, Bagaimana Membacanya?

SEBAGAI insan beriman sudah barang tentu kita tidak boleh berhenti memaknai apa yang ada sekedar fenomena biasa.

Sekalipun tetap penting dipahami bahwa semua pemaknaan mesti dilakukan berdasarkan ajaran Islam.

Kemangkatan Ulama Besar Tanah Air, sekelas Syekh Ali Jaber tentu bukan hal biasa. Terlebih tuntunan mengenai hal ini dihadirkan oleh Rasulullah SAW.

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama.” (HR Al-Thabrani).

Hal ini berarti umat akan kehilangan cahaya yang selama ini bersinar dan menyinari kehidupan melalui beragam taushiyah, teladan dan tentu saja seruan-seruan kebaikan.

Allahuyarham Ustadz Abdullah Said pernah menyampaikan dalam satu taushiyahnya bahwa bukan urusan mudah memang menghadirkan cahaya (ulama) bagi umat. Masa itu, wafatnya A. Hasan, Daud Beurueh dan Buya Hamka sampai detik ini belum lagi muncul dalam kehidupan umat.

Maka, wajar jika seorang Tabi’in, perawi yang haditsnya tersebar di Kutubus Sittah, Imam Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah pernah berkata, “Sesungguhnya aku diberitakan mengenai wafatnya seorang ahlus sunnah (ulama), seakan-akan aku kehilangan sebagian anggota tubuhku.”

Musibah Alam di Tanah Air

Belum lama rasanya kita meninggalkan 2020 yang juga penuh dengan musibah kini musibah demi musibah berupa bencana alam kembali melanda.

Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang tahun 2020 telah terjadi 2.925 bencana alam. Banjir menjadi bencana alam dengan jumlah terbanyak tahun itu di Indonesia. Data ini dihitung sejak tanggal 1 Januari sampai 29 Desember 2020.

Kini di awal tahun 2021 bencana alam kembali terjadi. Mulai dari banjir besar di Kalimantan Selatan dan gempa bumi di Mamuju Sulawesi Barat yang mengakibatkan kerusakan cukup serius. Bahkan tim BMH di Mamuju sampai detik naskah ini disusun, belum bisa dihubungi dengan lancar.

Ternyata di awal tahun 2021 telah terjadi 76 kejadian bencana alam terhitung sejak 1 hingga 10 Januari 2021. Ini berdasarkan rilis dari katadata.co.id.

Memandang Bencana Alam

Lantas apa makna dari musibah ini? Penting bagi kita melihat kembali nilai-nilai Islam, agar semua ini dapat mendorong kebaikan dalam diri kita secara kolektif kembali tumbuh dan berkembang.

“Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (Al-Isra'[17]: 16).

Ayat ini jelas menerangkan bahwa ketika ada pengabaian terhadap perintah Allah sementara peringatan telah diberikan, malah semakin durhaka dan menjadi-jadi, alamat suatu negeri kian mendekat dengan masa kehancuran.

Ini berarti, semua pihak, terutama yang merasa dirinya kuat, punya pengaruh dan kekuasaan harus benar-benar mendengarkan seruan kebaikan dari orang-orang yang dekat dengan Allah, mulai dari ustadz hingga ulama, bahkan rakyat kecil sekalipun yang mereka lapar dan dahaga serta menjadi korban kezaliman.

Sejarah telah dikisahkan di dalam Alquran. Bagaimana terdahulu hujan batu melanda Kota Sodom. Kala itu masyarakat Sodom mengabaikan seruan Nabi Luth alayhissalam untuk menghentikan perilaku menyimpang (LGBT). Mereka malah kian durhaka, maka hujan batu pun melanda kehidupan mereka (QS. Hud [11]: 82).

Gempa bumi juga pernah terjadi di masa Nabi Syu’aib alayhissalam. Itu juga terjadi dengan kekuatan dahsyat hingga luluh lantak seluruh kota tempat Nabi Syu’aib berdakwah. Fakta itu dapat ditemui dalam Alquran Surah Hud ayat 94-95.

Pada akhirnya, langkah terbaik dalam membaca dan memaknai semua ini adalah kembali kepada Allah. Jangan pernah beranggapan bahwa dalam hidup di dunia ini tidak ada Tuhan, tidak ada Allah Yang Maha Kuasa. Sebab hal itu adalah kezaliman besar dan kebodohan nyata.

Allah telah mengingatkan dengan tegas. “Dan (ingatlah) bahwa Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya, secara main-main. (QS. Al Anbiya [21]: 16).

Ayat tersebut menerangkan bahwa adanya langit dan bumi dan di antara keduanya itu diciptakan melainkan dengan makna dan tujuan agar manusia mengenal Kemahakuasaan Allah SWT.

Dalam kata yang lain, ketika alam mengalami sebuah pergerakan yang kemudian menjadikan manusia terguncang kehidupannya dan disebutlah itu sebagai musibah, maka jelas di sana sedang ada peringatan. Siapa lagi yang memberi peringatan jika bukan Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, tidak ada jalan terbaik dari ini semua selain terus berupaya meningkatkan iman dan taqwa kepada-Nya dan mempertajam jiwa tauhid di dalam dada kita semua. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi (Ketua Umum Pemuda Hidayatullah)

BMH SAR Hidayatullah Tanggap Darurat Bencana Gempa Mamuju

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Tim BMH – SAR Hidayatullah melakukan aksi tanggap darurat bencana di Majene-Mamuju pasca wilayah tersebut diguncang gempa. Gempa bumi dengan magnitudo 6,2 yang mengguncang Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, ini terjadi pada Jumat 15 Januari 2021 pukul 02.28 Wita.

Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi anggap Darurat Bencana Gempa Mamuju BMH – SAR Hidayatullah, Bashori, semalam melaporkan bahwa bencana alam ini mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.

Sebagaimana dilaporkan, sejumlah bangunan di kawasan kantor Gubernur Sulawesi Barat roboh, begitu juga dengan dua buah hotel, yakni Grand Maleo Hotel dan Matos Hotel bangunannya juga rusak parak.

Hingga pagi ini tim SAR bersama warga terus melakukan upaya evakuasi. Gempa yang berpusat di 2,98 LS, 118,94 BT atau 6 kilometer Timur Laut Majene ini juga mengakibatkan jaringan telekomunikasi terputus, termasuk komunikasi media ini dengan tim lapangan yang belum terhubung dengan baik.

Ketua SAR Hidayatullah, Irwan Harun, yang dihubungi secara terpisah, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan. Ia menyebutkan, tim relawan sudah bergerak melakukan upaya mitigasi sejak semalam sejak gempa pertama terjadi. “Kita minta warga tetap waspada,” kata Irwan.

Dia mengatakan, dari intensitas pantauan yang dilakukan, warga yang ada di pesisir pantai Majene juga diminta tetap waspada dengan bergeser ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kemungkinan tsunami.

Saat ini Tim BMH-SAR Hidayatullah telah membuka posko relawan dan bantuan di Jalan Abdul Syakur No. 02, Kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Karema, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

“Kebutuhan mendesak masyarakat terdampak saat ini adalah alat alat evakuasi, logistik, tenda dan kebutuhan harian lainnya seperti bahan konsumsi,” imbuh Harun.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan, lokasi gempa 2.99 Lintang Selatan (LS), 118.89 Bujur Timur (BT). Pusat gempa 4 km Barat Laut Mejene, Sulawesi Barat. BMKG menyatakan, gempa pada kedalaman 10 kilometer tersebut, tidak berpotensi tsunami.

Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebutkan gempa ini diduga dipicu oleh Sesar Naik Mamuju (Mamuju thrust). “Terbukti bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” kata Daryono kepada Tirto.

Guncangan gempa dirasakan di Polewali dalam skala intensitas V-VI MMI, sedangkan Mamuju, Majene IV MMI, Mamuju Utara dan Mamuju Tengah III-IV MMI, dan Toraja dan Mamasa III MMI, serta di Pinrang, Poso, Pare-pare dan Wajo II-III MMI.

Akibat guncangan gempa ini pula, banyak warga lari berhamburan keluar rumah karena terkejut guncangan kuat yang terjadi secara tiba-tiba. Melihat peta shakemap hasil analisis BMKG gempa ini berpotensi merusak.

Logika Ilahiyah, Kiat dari Ustadz Khairil Bais dalam Menyikapi Setiap Problema

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Tak ada manusia yang bebas dari masalah. Masalah selalu ada. Selesai masalah satu, datang masalah yang lain. Namun, bagi seorang muslim yang tercerahkan, berbeda caranya melihat masalah dengan yang belum tercerahkan.

Demikian benang merah nasihat anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust Ir Khairil Bais saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pesantren Mahasiswa (Pesmadai) di Aula Utama Gedung Abdurrahman, Jln Raya Kalimulya, Kebon Duren, Kecamatan Cilodong, Depok, Jawa Barat, Senin (11/1/2021).

“Kiat menghadapi masalah adalah dengan menyikapi dengan logika Ilahiyah. Kalau ada aksioma ilahiyah, saya mengistilahkan kiat ini dengan logika Ilahiyah,” kata Khairil.

Logika Ilahiyah, menurut Khairil, adalah menyerahkan semua masalah, ujian, cobaan atau problema yang dihadapi kepada Dzat agung Yang Maha Penyelesai Masalah dengan tak lupa menimbang kembali diri kita sebagai hamba-Nya.

“Masalah kalau dipikir memang tidak ada selesainya, makanya kita pakai logika Ilahiyah saja. Logika kita tidak mampu menjangkau setiap masalah, karena itu penyelesaiannya kembalikan kepada logika Allah. Kita minta bantuan kepada Allah,” katanya.

Yang tidak kalah penting, dia melanjutkan, masalah jangan saja diadukan kepada Allah SWT tetapi juga mesti menjadi bahan untuk muhasabah diri. Instrospeksi diri. Sebab, kata dia, jangan-jangan kita ada kesalahan atau dosa kepada orang lain yang tidak disadari.

“Setiap ada musibah harus dipandang positif sebagai penggugur dosa dan penghilang bala’. Semoga dengan musibah itu, ia menjadi proses penyelesai masalah yang kita hadapi,” katanya.

Lebih jauh ia berpesan kepada pemuda untuk terus bekerja keras mumpung masih diberi kesempatan sehat. Dia mengatakan, kita harus mengembalikan semangat Hidayatullah dengan menguatkan gerakan kepemudaan.

“Kita butuh sumberdaya yang memiliki integritas dan kompetensi untuk melayani Indonesia ini dengan dakwah Islam yang membumi,” ujarnya. Karena itu dia berharap keberadaan Pesmadai memang tidak di Jakarta saja tapi bisa mengembang ke semua daerah.

Di kesempatan yang sama, pembina Pesmadai, Suhardi Sukiman, menyambut baik arahan Ust Khairil tersebut. Karenanya, ia berharap Raker ini melahirkan konsep standarisasi pengelolaan yan merupakan hal utama yang sangat penting segera dilakukan.

“Para senior sudah tua sehingga akan kewalahan untuk melakukan lompatan, sebenarnya bisa saja melakukan lompatan tapi sambil pegang lutut karena faktor usia. Karena itu, kita yang muda ini harus melanjutkan melakukan lompatan lompatan gerakan yang dinamis, progresif dan beradab,” imbuh Suhardi yang juga Ketua Posdai DKI Jakarta ini.

Suhardi menambahkan, keberadaan kita di Hidayatullah tidak boleh punya kepentingan pragmatis karena itulah nilai nilai yang selalu ditanamkan oleh pendahulu agar bagaimana kepentingan pribadi yang sesaat itu harus dinegasikan dengan selalu meluruskan niat dalam kerja kerja dakwah hanya karena Allah SWT. (ybh/hio)

SAR Hidayatullah Turut Dalam Identifikasi dan Penyelaman Bawah Laut Titik Sriwijaya

Perjalanan tim rescue gabungan menuju antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu. (Foto: screencapture hidayatullah.or.id)

KEPULAUAN SERIBU (Hidayatullah.or.id) — Utusan relawan SAR Hidayatullah turut bersama dengan Tim Rescuer Gabungan dalam melakukan upaya identifikasi dan penyelaman bawah laut titik jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang berlokasi antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu.

Tim Rescuer Gabungan pada Selasa siang melakukan identifikasi dan penyelaman bawa laut. Mereka dikerahkan untuk membantu pencarian serpihan dan korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh tidak lama usai lepas landas dari bandara Soekarno Hatta menuju Pontianak.

Diantara personel dari SAR Hidayatullah yang turut dalam evakuasi ini yaitu Murdianto yang sudah bersertifikat penyelam dan Sapriadi untuk water rescue. Mereka dikerahkan secara umum dalam rangka untuk mendukung kegiatan SAR yang dilaksanakan Basarnas, TNI Angkatan Laut serta tim.

Keterangan dari Ketua SAR Hidayatullah, Irwan Harun, yang berada di posko Pelabuhan Tanjung Priok di JICT II Tanjung Priok, Jakarta Utara, Tim SAR gabungan ini akan bertahan selama di lokasi atau paling tidak hingga 5 hari ke depan.

Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI (Mar) Rasman selaku SAR Mission Coordinator (SMC) mengatakan Basarnas berharap Cockpit Voice Recorder (CVR) bisa ditemukan hari ini setelah Flight Data Recorder (FDR) Sriwijaya Air SJ 182 berhasil ditemukan oleh penyelam TNI AL pada, Selasa, 12 Januari 2021 kemarin.

Rasman mengatakan, pencarian akan difokuskan menjadi enam sektor sesuai dengan unsur laut yang terlibat di dalam misi pencarian di hari kelima ini.

Namun demikian, pencarian sifatnya simultan, artinya tidak hanya fokus terhadap CVR saja. Pencarian terhadap korban juga difokuskan termasuk juga puing-puing untuk diangkat ke permukaan.

Basarnas berharap kondisi kesehatan tim SAR di lapangan tetap terpelihara. Karena menurut dia, setelah memasuki empat hari pencarian, kondisi fisik perlu ada recovery.

“Oleh karena itu, kami akan membagi atau mengatur ritmenya supaya yang kemarin mungkin sudah menyelam sekian lama, ya tentu nanti akan kami untuk digilir dengan melihat kondisi yang bersangkutan,” katanya.

Kondisi para penyelam menjadi penting untuk diperhatikan, mengingat saat ini Basarnas terus bertumpu kepada mereka untuk bisa mendapatkan hasil yang terbaik. (ybh/hio)