MIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah yang merupakan wadah gabungan organ otonom pendukung dibawah koordinasi SAR Hidayatullah terus bertahan di lokasi tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran yang menimpa puluhan rumah petak di Jalan Seroja, Mimika, Papua, pada Minggu (13/12/2020).
Kepala SAR Hidayatullah Papua, Muhammad Syakir, menyebutkan dapur umum masa krisis ini sudah berlangsung 3 hari yang dikelola bersama dengan relawan Kompak dan Dapoor Noortiz serta sejumlah warga.
“Bersama yang telah dibentuknya, bahkan tim sangat maksimal dalam melakukan pengaturan makanan setiap hari kepada para korban,” katanya seperti juga dilansir Liputan4, Rabu (16/12/2020).
Syakir menambahkan, penutupan aktifitas di dapur umum pasca kebakaran dilakukan setelah ada kesepakatan bersama relawan gabungan.
“Untuk sementara ketersediaan stok logistik masih cukup dan aman karena hingga saat ini logistis terus berdatangan baik dari organisasi, relawan komunitas dan kalangan individu,” katanya.
Pihaknya mewakili tim gabungan relawan mengucapkan terimakasih kepada donatur yang sudah berkontribusi memberikan bantuan kepada korban seraya medoakan semoga Allah SWT membalas dan melipatgandakan pahalanya.
Aktifitas dapur umum untuk korban kebakaran di Jalan Seroja Kabupaten Mimika, sejak hari Rabu resmi ditutup, sedangkan posko pelayanan tetap berlanjut hingga batas tertentu. (ybh/hio)
SEORANG kawan bercerita, selama satu tahun ia berkendara ke mana-mana tanpa sedikit pun merasa khawatir. Ia menjelajahi jalanan di kota-kota yang dikunjunginya tanpa takut ditilang oleh polisi lalu lintas.
Sampai pada suatu hari, ia dicegat oleh polisi dan saat itu baru tahu jika SIM-nya sudah mati sejak setahun sebelumnya. Ia hanya diam termangu-mangu. Ternyata, selama ini ketenangannya tidak dibangun di atas pijakan yang valid. Ia memang tenang, tapi sebenarnya tertipu.
Bagaimana jika masalahnya lebih gawat dibanding urusan dokumen berlalu-lintas di jalan raya? Bukankah akan sangat mengerikan jika kita mengalami hal-hal semacam ini?
Misalnya, dalam urusan kehidupan beragama untuk perjalanan menuju akhirat. Sebab, ketertipuan jenis terakhir ini bisa jadi tidak disadari sekarang. Ia baru diketahui secara pasti tatkala berhadapan dengan Allah di Hari Perhitungan, pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan segala alasan tidak bisa diterima begitu saja.
Allah menyinggung kisah orang-orang yang tertipu ini dalam Al-Qur’an. Perhatikan firman-Nya dalah surah al-Kahfi: 103-105:
“Katakanlah: “Maukah kalian Kami beritahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan-Nya. Maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian pun bagi (amalan) mereka pada Hari Kiamat nanti.”
Betapa banyak orang yang hidupnya tulus dan penuh pengabdian, namun sebetulnya ia tidak mengabdi kepada Allah. Bisa jadi, ia justru mengarahkan pengabdiannya kepada perusahaan-perusahaan dan majikan-majikan duniawi.
Dedikasinya luar biasa, pengorbanannya sangat besar, dan kesungguhannya telah menginspirasi banyak orang. Bahkan ia rela menomerduakan keluarga, kerabat, kawan, dan tanah airnya. Sayangnya, sekali pun tidak terbetik nama Allah di hatinya, sehingga amalnya akan menguap bagaikan fatamorgana di gurun sahara.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an,
“Dan orang-orang kafir itu amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. An-Nuur: 39).
Lalu, apa sebenarnya yang membuat manusia-manusia seperti ini tertipu sedemikian rupa, sehingga tidak menyadari kesia-siaan amalnya kecuali setelah segala sesuatunya amat-sangat terlambat? Menurut Al-Qur’an, penyebab pertamanya adalah tidak mau menuruti bimbingan Allah dan merasa cukup dengan kemampuannya sendiri.
Pada saat itulah, setan akan menempel di hatinya dan menjadi penasehat utama dalam seluruh urusan hidupnya. Maka, sangat boleh jadi, pilihan-pilihannya terlihat hebat dan mengagumkan, namun sesungguhnya tidak bernilai sedikit pun di mata Allah.
Allah menjelaskannya dalam surah az-Zukhruf: 39-40:
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (yakni, Al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkannya). Maka, setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu sungguh menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di Hari Kiamat), dia pun berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antara aku dan kamu (yakni, setan) seperti jarak antara timur dan barat.” Maka, setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia). (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu, karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu. Maka, apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya), dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?”
Keberpalingan dari bimbingan Allah seringkali tidak memberi efek langsung terhadap kehidupan duniawi seseorang. Bahkan, sangat boleh jadi seseorang yang kafir lagi durjana menikmati kehidupan yang sangat nyaman dan lapang.
Wajahnya tetap rupawan, rumahnya terlihat megah, kendaraannya semakin mengkilat, uangnya pun bertambah banyak. Bahkan, ia menjadi idola dan dikerumuni banyak orang, atau memiliki massa melimpah dan dielu-elukan khalayak ramai di mana pun ia hadir.
Hanya saja, jangan tanya bagaimana nasibnya di akhirat nanti. Sebagaimana Allah katakan dalam surah al-Kahfi diatas, “Kami tidak mengadakan suatu penilaian pun bagi (amalan) mereka.”
Menurut al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam Tafsir Zaadul Masir, maksud pernyataan ini adalah: mereka tidak dianggap samasekali, tidak memiliki nilai dan kedudukan sedikit pun di sisi Allah. Na’udzu billah!
Saat ini, ketika Allah masih memberi kesempatan dan waktu, ada baiknya kita menyelisik bagian-bagian hidup kita, satu demi satu. Bertanyalah kepada diri sendiri, tentang pernikahan kita, anak-anak kita, pekerjaan kita, rumah kita, kendaraan kita, gelar-gelar pendidikan yang kita sandang, jabatan-jabatan yang kita emban, dan segala atribut maupun status yang kita miliki.
Untuk siapakah semua ini?
Bila nama Allah tidak terbetik di sana, atau bahkan tidak layak disebut-sebut karena statusnya yang haram dan nista, segeralah berhenti.
Sangat boleh jadi segala ketenangan kita selama ini hanyalah tipuan-tipuan setan yang hendak melalaikan dari jalan yang lurus. Berbenahlah, sebab Allah sangat gembira melihat hamba-hamba-Nya yang mau memperbaiki diri. Wallahu a’lam.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali meraih penghargaan dalam kiprahnya. Kali ini dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). BMH dinyatakan sebagai pemenang Penghargaan Pendisribusian ZIS Terbaik LAZ Nasional, Senin (14/12/2020).
“Alhamdulillah Laznas BMH kembali mendapat penghargaan dari Baznas. Ini adalah sebuah kesyukuran bagi keluarga besar BMH yang selama ini terus mendapatkan kepercayaan umat dan berbagai pihak di Tanah Air untuk terus menggulirkan gerakan kebaikan melalui pendayagunaan dana zakat, infak, dan shodaqoh,” terang CEO BMH, Marwan Mujahidin di Jakarta.
“Semua ini adalah wujud dedikasi umat Islam itu sendiri yang memberikan kepercayaan kepada BMH untuk ikut terlibat dalam gerakan zakat Tanah Air untuk sama-sama membangun masyarakat yang cerdas, mandiri dan bermartabat,” imbuhnya dalam rilisnya.
Penghargaan tersebut diserahkan secara online melalui aplikasi Zoom meeting pada Senin (14/12) pukul 09.00 sampai 11.00 WIB.
Penghargaan ini ditetapkan setelah Puskas (Pusat Kajian Strategis) Baznas dan Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama melakukan implementasi kajian Indeks Kepatuhan Syariah Organisasi Pengelola Zakat (IKSOPZ) di lebih dari 350 OPZ di seluruh Indonesia.*/Herim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah wasyukrulillah, washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi wamauwwala, wa ba’du.
Menyikapi hiruk pikuk informasi yang terjadi belakangan ini maka Biro Humas DPP Hidayatullah mengimbau kepada semua anggota dan kader Hidayatullah agar:
Berhati-hatilah dalam menerima dan menyebarkan informasi. Informasi yang salah, jelas tak berfaedah untuk disebarkan. Informasi yang benar pun belum tentu berguna untuk disebarkan.
Jika menerima informasi penting, sebaiknya tidak dibagikan ke grup-grup diskusi di media sosial, apalagi di grup terbuka. Kirimkan informasi itu secara pribadi kepada pihak yang berwenang untuk mengetahuinya.
Informasi yang telah dipublikasikan oleh media-media kita, seperti Hidayatullah.com dan Hidayatullah.or.id, atau channel dan situs-situs resmi milik organisasi, baik tingkat pusat maupun tingkat wilayah/daerah, silahkan disebarkan dan menjadi bahan diskusi yang sehat di antara kita.
Tetaplah berdoa dan perkuat GNH agar kita semua, juga bangsa ini, dijaga oleh Allah Ta’ala dari fitnah dan kehendak jahat pihak-pihak yang menginginkan kehancuran.
Hadanallahu wa iyyakum ajmain Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad mewakafkan tanah dan gedung miliknya untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas dai guna mendorong kuatnya dakwah yang mencerdaskan, mencerahkan dan mensejahterakan umat, bangsa dan negara.
“Wakaf itu berupa tanah dan gedung dakwah yang kemudian diberi nama Gedung Peradaban Hidayatullah Sulawesi Selatan yang berlokasi di Jalan Pattito Tasi, Kecamatan Baccukiki, Kota Parepare Sulawesi Selatan,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Selatan, Kadir (14/12).
KH Abdurrahman berharap, wakaf tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya bagi dakwah umat.
“Ini adalah amal jariyah keluarga untuk dakwah umat di negeri ini, terkhsusu di Sulawesi Selatan agar kiranya dapat menjadi pusat penggemblengan dai-dai umat masa depan,” ujarnya.
Kadir menambahkan bahwa Gedung Peradaban ini akan difokuskan menjadi tempat Pusdiklat bagi calon dai dan upgrading dai.
“Di gedung tiga lantai yang berdiri di lahan seluas 257 meter persegi ini diklat calon dai akan digelar guna mendorong perluasan jangkauan dakwah umat. Semoga sesuai nama gedung ini, kelak dai-dai yang berdakwah dapat mendorong terwujudnya peradaban Islam yang agung,” tutur Kadir.*/ImamNawawi
BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah selain dalam rangka menghasilkan keputusan dan ketetapan yang yang berkualitas, forum ini juga diharapkan dapat meningkatkan semangat juang para kader, mempererat ukhuwah, dan meneguhkan komitmen keummatan dan kebangsaan.
Demikian ditekankan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq saat membuka Musyawarah Wilayah Hidayatullah Provinsi Banten, Ahad (13/12/2020).
Nashirul mengimbuhkan, komitmen keummatan dan kebangsaan tersebut diindikatori oleh sejauh mana waktu, tenaga dan sumberdaya yang kita korbankan serta seserius apa ibadah dan doa kita berdampak dan memberikan kontribusi terhadap kemajuan Islam dan memberikan manfaat kepada ummat.
“Ada hal yang wajib disyukuri namun tidak sedikit yang harus diistighfarkan.” katanya seraya menambahkan untuk mewujudkan terbangunnya peradaban yang agung sebagai visi gerakan, Hidayatullah telah menjadikan tarbiyah (Pendidikan) dan dakwah sebagai mainstream (arus utama).
“Karena itu tarbiyah dan dakwah haruslah menjiwai seluruh kebijakan dan program organisasi,” katanya.
Lebih jauh ia menjelaskan Musyawarah Wilayah sebagai pertemuan lima tahunan memiliki wewenang mendengarkan laporan pertanggung jawaban DPW kepada DPP, menetapkan ketua dan anggota Dewan Pengurus Wilayah, serta menetapkan keputusan-keputusan lainnya.
Karenanya, terang dia, pemilihan Ketua DPW bukanlah agenda utama sebagaimana yang terjadi di Musywil ormas atau orpol pada umumnya.
“Mekanisme di Hidayatullah Ketua DPW ditunjuk oleh Dewan Pengurus Pusat setelah dilakukan penyerapan aspirasi dan musyawarah pengurus harian DPP. Selanjutnya anggota DPW disusun oleh tim formatur yang terdiri dari utusan DPP, Ketua DPW, dan Ketua Dewan Murabbi Wilayah,” ujarnya.
Menyadari betapa beratnya amanah ini, Nashirul mewasiatkan, hendaknya kita selalu menumbuhkan ketawakkalan yang tinggi untuk senantiasa memohon bantuan dan ma’unah dari Allah SWT.
“Kesadaran akan keterbatasan dan ketidakmampuan itu pula hendaknya mendorong untuk melibatkan semua potensi yang ada, baik di internal pengurus maupun potensi kader, jamaah dan masyarakat secara umum,” katanya.
Dia menandaskan, agenda prioritas pada periode 2020-2025 dalam mewujudkan visi organisasi melalui gerakan tarbiyah dan dakwah diawali dengan tri-konsolidasi, yaitu: konsolidasi ideologi, konsolidasi organisasi dan konsolidasi wawasan. (ybh/hio)
BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas kader dai dalam meneguhkan pengkhidmatannya bagi umat, bangsa dan negara, Hidayatullah akan meluncurkan Gerakan Talaqqi Nasional.
“Insya Allah kita akan luncurkan program Gerakan Talaqqi Nasional dalam rangka meningkatkan kemampuan ulumuddin setiap kader, khususnya perbaikan bacaan al-Qur’an melalui metode talaqqi,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq dalam sambutan tertulis membuka Musyawarah Wilayah Hidayatullah, Ahad (13/12/2020).
Selain bekal kemampuan tersebut, juga penguatan dan peningkatan kualitas kader secara ruhiyah (spiritualitas), tsaqafiyah (intelektualitas) dan profesionalitas.
“Peningkatan kualitas ruhiyah dan tsaqafiyah melalui transformasi jatidiri Hidayatullah, baik secara formal melalui jenjang pendidikan maupun jalur non-formal melalui daurah marhalah dan halaqah,” imbuhnya.
Kemudian agenda berikutnya, penguatan sistem melalui kebijakan sentralisasi, standarisasi dan integrasi. Kebijakan tersebut merupakan perwujudan dari organisasi modern yang maju dan progresif dengan kepemimpinan yang kuat, jamaah yang loyal dan solid.
Selain itu, ekspansi dakwah harus menjadi arus gerakan melalui dakwah fardiyah, bina aqidah, pengembangan jaringan Majelis Qur’an atau Rumah Quran secara nasional. Gerakan dakwah juga perlu digencarkan dengan memperbanyak pendirian Sekolah Dai di Kampus Utama dan kampus-kampus yang dipandang mampu menyelenggarakannya untuk melahirkan lulusan yang siap dikirim berdakwah ke mana saja, terutama untuk menjadi Muallim Grand MBA, Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an Hidayatullah (MQH).
Nashirul berpesan, untuk suksesnya gerakan tarbiyah dan dakwah sebagai mainstream gerakan, maka semua program harus disinkronkan dan diintegrasikan dengan melanjutkan kebijakan sinergitas program mainstream yang telah berjalan sejak periode 2015-2020 yang lalu.
“Kita meyakini bahwa kaderisasi serta kemandirian ekonomi akan terwujud manakala seluruh elemen dan institusi melakukan sinergitas yang baik,” katanya.
Selanjutnya di bidang ekonomi, Hidayatullah juga terus berupaya membangun kemandirian di bidang ekonomi dan keuangan, baik secara kelembagaan maupun secara keummatan dan kewargaan.
Dia menyebutkan potensi ekonomi di internal Hidayatullah cukup besar jika diintegrasikan dengan bidang pendidikan, dakwah dan pembinaan anggota.
“Sekarang sudah saatnya kita membangun paradigma jihad iqtishad, bahwa membangun dan memberdayakan ekonomi ummat merupakan bagian penting dari jihad,” pungkasnya. (ybh/hio)
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq mendorong segenap jamaah, kader dan dai Hidayatullah untuk selalu menguatkan gerakan menyerukan ajakan kepada umat untuk menjadi umat terbaik (khairah ummah).
Hal itu disampaikan dalam sambutan tertulisnya pada acara pembukaan Musyawarah Wilayah Hidayatullah Sulsel yang digelar di Makasar, Sulawesi Selatan, Sabtu (12/12/2020)
“Melalui Musywil ini para pengurus organisasi di tingkat wilayah dan daerah disegarkan kembali orientasi hidupnya, dipertajam visi perjuangannya, dikuatkan komitmennya agar berfikir dan bekerja lebih keras, melakukan karya nyata, melahirkan kader berkualitas,” katanya.
“Mencerahkan ummat dan mengajak untuk bersama-sama bangkit menjadi ummat terbaik, ummat yang merdeka dan mandiri, ummat yang maju dan terdepan dalam melakukan berbagai kebajikan, kebaikan ummat dan bangsa, Indonesia yang bermartabat,” lanjutnya seperti disampaikan Kepala Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Asih Subagyo Skom Mkom hadir mewakili Ketua Umum Dr Nashirul Haq Lc MA membuka Musyawarah Wilayah Hidayatullah Sulsel tersebut.
Disebutkan, Hidayatullah selama 47 tahun telah berkiprah dan berkhidmat untuk agama, ummat, dan bangsa melalui berbagai program di bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi keummatan.
“Dengan segenap kemampuan yang akan terus dikembangkan, Hidayatullah berkomitmen menghadirkan program-program yang mampu mendorong terwujudnya perubahan masyarakat Indonesia yang maju dan bermartabat di bawah naungan kasih sayang dan ridha Allah SWT,” terangnya.
Beliau mengungkapkan, sebuah karunia yang patut disyukuri dan dipelihara bahwa kader-kader Hidayatullah hingga saat ini masih memiliki kesiapan untuk mengemban tugas dengan kalimat sami’na wa atha’na tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa pilih, dan tanpa pertimbangan duniawi.
Dia berpesan kepada kader yang dimanahi sebagai pengurus DPW periode 2020-2025 nanti hendaknya menyadari bahwa kepemimpinan adalah sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan kepada umat.
Musyawarah Wilayah merupakan forum musyawarah terlengkap di tingkat wilayah yang diselenggarakan sekali dalam lima tahun. Musyawarah Wilayah ini diselenggarakan dalam rangka mendengar Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Wilayah sebagai bahan evaluasi bersama atas kiprah dan kinerja anggota dan kader Hidayatullah pada umumnya dan kader yang mendapatkan amanah untuk mengelola jamaah dan organisasi Hidayatullah di Wilayah Sulsel selama periode 2015-2020. (ybh/hio)
PEMIMPIN yang adil, ditempatkan pada urutan pertama dari 7 golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah, pada hari tidak ada naungan selain dari-Nya.
Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, ‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang mengisi hari-harinya dengan ibadah, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah di mana keduanya bertemu dan berpisah karena Allah, seorang yang dibujuk berzina oleh lawan jenis yang berpangkat dan rupawan lalu menjawab, ‘Aku takut kepada Allah,’ seseorang yang bersedekah diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir di kesunyian dengan menitikkan air mata,’” (HR Bukhari dan Muslim)
Makna tersirat yang dapat kita tangkap dari hadits di atas, menggambarkan betapa beratnya berlaku adil bagi orang yang mendapatkan amanah sebagai pemimpin.
Dalam konteks itulah sesungguhnya, menjadi pemandangan yang sangat ironis dan sungguh tragis, sebab orang justru berlomba untuk mendapatkan amanah itu, bahkan rela mempertaruhkan sekian banyak asset yang dimilikinya.
Tak dapat ditampik, bahwa posisi sebagai pemimpin dalam sebuah komunitas, disamping menjadi simbol prestasi yang mendongkrak harkat dan martabat, yang otomatis menjadi kebanggan diri dan keluarga besarnya, sekaligus menjadi alasan pembenar untuk mendapatkan sekian banyak tunjangan dan aneka ragam fasilitas.
Namun, ketidakmampuan seorang pemimpin berlaku adil, bukan sebatas menimbulkan kekecewaan orang-orang yang dipimpinnya, dan melampiaskan kekecewaan itu dengan aneka ragam bentuknya, tapi juga menjadi sumber malapetaka dalam kehidupan akhirat, dan karenanya amanah itu menjadi sumber penyesalan yang tiada tara, dimana penyesalan tersebut tidak membawa arti apa-apa, untuk meringankan apa lagi terbebas dari siksa yang tak terperikan.
Teriring doa buat para sahabat di Hidayatullah, di tengah euforia pasca Munas, Muswil dan Musda, wabilkhusus yang mendapatkan amanah baru, semoga senantiasa bermunajat dengan sungguh-sungguh, agar Allah tetap memberi hidayah dan kekuatan, tak lupa untuk membuka ruang sebesar mungkin, agar bisa mendapatkan nasihat dan peringatan dari manapun sumbernya, hingga tidak salah dalam membuat keputusan dan mengangkat program kerja.
Semakin tinggi amanah yang diberikan, maka semakin berat tanggung jawabnya di akhirat. Kalau untuk di internal Hidayatullah saja sudah terbayang beratnya, maka berhati-hatilah dan sebaiknya berpikir ulang hingga ribuan kali, bagi yang juga punya minat dan mimpi untuk menjadi pemimpin publik di negara ini, yang nyaris tak menyisakan ruang kecuali syubhat dan haram.
Peringatan Rasulullah kepada sahabat beliau Abu Dzar, semoga dapat menjadi renungan bersama.
“Aku (Abi Dzar) berkata, “Hai Utusan Allah, tidakkah kau memakaiku (untuk sebuah jabatan)?” Maka Rasul-pun menjawab: “Sungguh kau itu lemah, sedangkan (jabatan) itu sungguh ialah amanah, dan akan menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi yang mengambil haknya (dengan benar) dan menjalankan kewajiban di dalamnya”.
BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Gelaran Musyawarah Wilayah Hidayatullah pekan ini masih berlangsung diberbagai wilayah, seperti di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan termasuk Banten.
Hadir membuka Muswil Hidayatullah Banten adalah Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, MA.
Dalam sambutan pembukaan, pria yang juga akrab disebut dengan nama UNH itu memberikan apresiasi kepada DPW Hidayatullah Banten dan selanjutnya menekankan poin-poin penting yang harus dipahami oleh para kader.
“Saya melihat, perkembangan Hidayatullah di Banten sangat signifikan. Ini harus terus ditingkatkan,” ucapnya.
“Bahkan, kalau melihat historis penugasan Ketua dan Sekretaris DPW periode yang akan berakhir sekarang ini, luar biasa. Mereka belum terima SK, baru dapat informasi, sudah berangkat,” imbuhnya yang disambut pekikan takbir hadirin.
Menurut Nashirul itulah bagian dari jati diri Hidayatullah, dimana setiap kader, harus siap ditugaskan untuk dakwah dan tarbiyah kapan dan kemanapun.
“Ini kesyukuran kita. Kekuatan Hidayatullah ada pada keteguhannya membangun mental kader, bukan semata wawasan dan kecerdasan. Sebab, mental itu harus ditempa langsung, tidak cukup teori dan penjelasan. Harus dirasakan langsung nikmatnya bertugas itu,” tegasnya.
Oleh karena itu, kolumnis Majalah Hidayatullah ini mendorong agar para kader menjalankan tiga kunci utama untuk kultur lembaga yang solid.
“Konsolidasi idiil secara langsung dikawal oleh Dewan Murobbi, yang ada di Pusat dan juga Wilayah. Jadi, kalau ada kader futur semangat perjuangannya, maka bisa “melapor” ke Dewan Murobbi. Karena Dewan Murobbi ini yang bertugas menguatkan semangat perjuangan para kader di lapangan.
Kemudian, konsolidasi organisasi ini erat kaitannya dengan kesadaran dan komitmen diri kita kepada regulasi yang telah ditetapkan, yang di lembaga ini telah memadukan konsep imamah jama’ah dengan manajemen modern. Jadi, tidak sebatas manajemen, ada ruhnya yakni imamah jama’ah, inilah Sistematika Wahyu.
Nah, yang selanjutnya adalah konsolidasi wawasan, ini kaitannya dengan keilmuan sehingga kita mampu menjadi manusia yang bijaksana. Terutama di era media sosial, kata-kata dalam setiap status yang kita buat harus memiliki kekuatan baik yang mengundang kecerdasan para pembaca maupun yang memberikan pencerahan, sehingga yang kita sebarkan adalah kekuatan dakwah, bukan kalimat yang kosong dari nilai kebijaksanaan. Akibatnya gara-gara status media sosial banyak energi terkuras bahkan harus berurusan panjang dengan berbagai pihak, sayang sekali,” urainya.
Terakhir UNH berpesan agar para pengurus yang dipilih pada periode mendatang harus menetapkan setiap program yang diagendakan dan dijalankan benar-benar dilandasi dan dijiwai oleh nilai-nilai dakwah dan tarbiyah.*ImamNawawi