Beranda blog Halaman 443

Merdeka dan Bebas Atas Penyembahan Selain Allah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Direktur lembaga studi pengembangan peradaban (LSIP) Hidayatulla, Suharsono menjelaskan bagaimana makna sebuah kemerdekaan untuk saat ini. Hal itu disampaikan dalam program bincang yang diadakan biro humas Dewan pengurus pusat (DPP) Hidayatullah yang ditayangkan pada 17 Agustus 2020.

Suharsono menjelaskan pada umumnya arti kemerdekaan jika mengacu pada masa lalu ialah memperjuangkan kemerdekaan dari para penjajah sebagaimana yang dilakukan para pahlawan.

“Sejatinya tujuan proklamasi kemerdekaan pada zaman dahulu ialah memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan” jelasnya.

Suharsono lalu menjelaskan bahwa untuk saat ini tujuan dari kemerdekaan sudah jauh berbeda. Untuk saat ini tugas kita ialah membebaskan penyembahan selain Allah. Hal itu dikarenakan perbedaan perjuangan pada masa lalu dan juga saat ini.

“Untuk saat ini, jauh lebih dalam makna kemerdekaan ialah makna kemerdekaan adalah terbebasnya manusia dari berbagai macam penyembahan selain hanya kepada Allah SWT semata”  lanjut Suharsono “Tidak ada lagi yang dipertuhankan selain Allah SWT dan dari berbagai macam isme-isme lain” jelasnya.

Ia juga berpesan kepada seluruh kader Hidayatullah bahwa perjuangan ini seharusnya menjadi motivasi untuk terus melakukan dakwah kepada masyarakat.

“tentunya bagi hidayatullah sebagai organisasi islam, kemerdekaan seperti ini harus menjadi inspirasi meluruskan pehamaan masyarakat, karena misi yang penting untuk saat ini ialah memerdekan masyarakat sehingga terbebasnya isme isme lain” Pungkas Suharsono.

Untuk mengikuti pembicaraan beliau pembaca bisa langsung mengikutinya melalui tayangan bincang pada laman YouTube Hidayatullah Indonesia. Silakan klik laman berikut: https://www.youtube.com/watch?v=JKz38YMV6Tw *Amanjikefron

Saatnya Kaum Muda Kokohkan Semangat Hadirkan Manfaat

0

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kaum muda identik dengan semangat dan etos perjuangan yang berkobar. Namun, kini bukan urusan mudah menjaga hal yang amat istimewa pada diri kaum muda itu. Derasnya arus digital yang ditangkap secara kontraproduktif banyak menyeret kaum muda tenggelam dalam kesia-siaan.

“Kaum muda saat ini membutuhkan kehadiran para pioner dalam kebaikan yang membawa kebermanfaatan, ruang ini harus diisi oleh segenap anggota, kader dan pengurus Pemuda Hidayatullah,” terang Ketua Umum Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi kala memberi sambutan pembukaan dalam Muswil (Musyawarah Wilayah) Pemuda Hidayatullah DOY dan Jateng Bagian Selatan (Bagsel) VII, Ahad  (16/8).

Muswil itu mengangkat tema “Meneguhkan Visi Pemuda Menuju DIY-Jateng Bagsel yang Unggul dan Berperadaban.” Acara ini digelar selama sehari (16 Agustus 2020) di Pesantren Hidayatullah Yogyakarta.

“Musyawarah Wilayah ini harus kita maknai sebagai proses yang menjadikan kita semakin matang dalam pemikiran, tangguh dalam gerakan dan bermanfaat dalam kiprah,” imbuh Imam Nawawi.

Acara yang dihadiri puluhan peserta dari daerah se-DIY dan Jawa Tengah Bagian Selatan itu berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang diberlakukan di masa pandemi ini.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah dan Jateng Bagsel, Ustadz M Syakir Syafi’i mendorong agar kaum muda memiliki visi hidup yang mulia, yakni visi hidup berperadaban.

“Pemuda harus bervisi peradaban, yang itu berarti mulai dari ilmu hingga kekayaan harta harus dimiliki untuk didayagunakan sepenuhnya menolong agama Allah. Sebagian harus bergerak menempa diri menjadi ulama, penguasa (yang adil) dan aktivis yang idealis,” urainya.

Kaum muda pada akhirnya akan dikenang karena peran dan kiprahnya, bukan kedudukannya dalam struktur organisasi.

“Nilai kaum muda pada akhirnya akan ditentukan pada peran dan kiprah yang dilakukan, bukan jenjang atau level kedudukan dalam kepemimpinan atau struktur organisasi,” jelasnya

Teladan dalam Dakwah dari Pelaku Dakwah di Sulawesi Selatan

HAMPIR sepekan lamanya saya mendapatkan anugerah dari Allah Ta’ala melalui Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ust Mardhatillah dan Ust Safruddin berkunjung ke sebagian besar lokasi Pesantren Hidayatullah di Sulawesi Selatan.

Sebuah perjalanan panjang, karena melibas jalanan mulai Makassar hingga Wawondula, Luwuk Timur, yang membutuhkan waktu tempuh (jika tidak singgah singgah) nyaris 13 jam dengan jarak membentang sepanjang 601,8 Kilometer.

Perjalanan ini sangat mengesankan, karena setidaknya memberikan bukti konkret tentang dakwah itu sendiri, perjalanan indah, penuh tantangan, namun tetap dan selalu mendatangkan kebahagiaan luar biasa.

Termasuk bagaimana keteladanan dalam dakwah terus dirajut hingga saat ini, bahkan oleh Bapak Pimpinan sendiri dengan menjalankan tiga program dakwah besar di Parepare dan Pinrang.

Di Parepare, Ust Mardhatillah dan Ust Muharram mengantarkan saya melihat proyek Rumah Quran di Parengki, yang lokasinya tepat berada di pantai yang bersih dengan air laut yang biru dan jernih.

Sebelum banyak kisah diterangkan, memakan buah kelapa muda adalah menu wajib di sana. Saya pun melicin tandas sebuah kelapa muda langsung dari pohonnya yang begitu tinggi sembari disapu dan menikmati rayuan semilir angin pantai yang sejuk.

Tadinya di sana bertemu dengan Ust Sarmadani dan Ust Anwar. Keduanya pun mengajak kita semua sholat dzuhur di satu lokasi yang juga sedang dijalankan proyek pembangunan pesantren di lahan seluas 13 hektar di Lamatanre, Pinrang, yang juga diinisiasi dan dipantau langsung oleh Pimpinan Umum Hidayatullah.

Di Lamatanre, saya langsung dikejutkan dengan program yang sangat strategis sekaligus program ketahanan pangan yang nyata. Begitu turun dari Kijang Innova, saya langsung dapati seorang dai yang sedang asyik memanen cabe.

Di lahan itu ada juga jagung, kacang hijau, yang sebagian dipanen khusus untuk di bawa ke Jakarta untuk para senior di DPP. Bahkan juga ada empang yang menjadi tempat budidaya ikan.

Dan, kini, sekalipun program masih tahap awal, pembebasan lahan telah dimulai untuk mendukung tercapainya visi besar Hidayatullah di lahan tersebut.

Hal ini memberikan sebuah petunjuk besar bagi kaum muda bahwa dakwah harus terus dihidupkan, dikobarkan dan tentu saja dirawat dengan penuh kesungguhan. Bukan sekedar dengan kemampuan retorika tapi aksi nyata, memanfaatkan lahan yang ada sebagai penopang juga teladan dakwah itu sendiri.

Bergeser ke Masamba

Tak cukup rupanya saya diajak hanya di Parepare, malamnya saya bersama Sarmadani, Muharram dan Lukman Hakim diberangkatkan ke Masamba, lokasi yang baru saja dilanda banjir besar.

Namun, aksi sepanjang hari di Parengki dan Lamatanre tak membuat tubuh kami semua kuat langsung tiba di Masamba. Terlebih dalam perjalanan itu hanya Sarmadani yang lihai membawa roda empat bernama Hilux itu melibas medan panjang yang membentang.

Tepat pukul 00.00 pada 11 Agustus 2020 rombongan Masamba ini tiba di Pesantren Hidayatullah Belopa, Luwuk. Kami pun istirahat di sana hingga pagi hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Masamba dan tiba di lokasi menjelang Dzuhur.

Maksud hati hendak duduk walau sebentar, tapi seorang relawan, Abdul Aziz langsung menyambar saya untuk melihat kegiatan trauma healing yang dilakukan di musholla darurat oleh Muslimat Hidayatullah dan pada dai Hidayatullah.

Di situ ada Ust Ilham Syawal, Ust Imran dari DPW Hidayatullah Sulbar ditemani oleh Ust Ihsan sedang serius berdiskusi dengan jama’ah yang merupakan para pengungsi dari kaum ibu tentang waktu yang tepat untuk mereka menguatkan aqidah dan ibadah di dalam pengungsian.

Saya melihat langsung bagaimana para dai Hidayatullah itu tulus dan sabar di dalam membina masyarakat yang menjadi pengungsi. Bahkan semua berlangsung secara sistemik hanya berdasarkan kesadaran.

Jika ada relawan dan ustadz yang sudah lebih dari dua pekan bertugas di pengungsian, maka relawan dan ustadz dari daerah lain akan segera datang menggantikan. Terus terjadi seperti itu. Ini benar-benar luar biasa.

Hingga tiba waktu adzan dhuhur. Saya kembali ditarik ke Posko Pengungsian BMH yang telah memberikan layanan instalasi air bersih kepada pengungsi, penerangan, hingga WC umum yang di situ juga ada mushola darurat khusus pembinaan anak-anak dan remaja.

Usai makan siang, saya diajak ke hulu Sungai Radda. Di sana kutemukan bahwa sungai ini aslinya adalah sungai kecil, sahabat masyarakat di Masamba. Namun siapa sangka, sahabat bernama sungai itu tiba-tiba meluap, memboyong bebatuan, pasir, dan tentu saja gelombang air yang begitu dahsyat. Hingga saya tiba di Masamba saya dapati banyak rumah tertimbun pasir dan lumpur.

Alhamdulillah, di balik peristiwa besar yang mengerikan itu kini anak-anak dan masyarakat yang mengungsi justru bisa tersenyum.

“Kami bisa sholat sekarang,” kata Pak Fadli seorang warga pengungsi dari Desa Meli.

“Saya senang, karena di pengungsian bisa lebih banyak belajar Alquran,” sahut lainnya, seorang anak bernama Nurul Hijrah.

Dalam hati saya berkata, “Subhanallah, inilah berkah dakwah. Bayangkan jika dalam situasi sulit dan berat, para pengungsi ini tidak mendapat sentuhan dakwah. Maha Suci Allah yang menggerakkan kita semua terlibat membantu mereka yang dalam kesulitan.”

Sore pun menjelang, Sarmadani mengajak saya melihat Pesantren Hidayatullah Masamba yang selamat dari terjangan banjir.

Sebuah keajaiban, karena posisi pesantren ini tidak lebih tinggi dari pemukiman warga yang telah luluh lantak. “Allah yang melindungi,” kata Ust Ilham Syawal.

Namun, dasar Ust Sarmadani yang nampaknya dapat arahan khusus dari Ust Mardhatillah, ternyata Masamba bukan akhir perjalanan ini.

“Mumpung sudah di Masamba, sekalian kita ke ujung Sulsel, ke Luwuk Timur saja kita,” ucap ustadz murah senyum dan lihai dalam banyak hal itu.

Memilih Berdakwah

Perjalanan pun berlanjut, mulai dari Lambara, Wawondula, kemudian kembali ke arah Makassar dengan singgah ke Angkona, Bungadidi, Palopo, dan Sidrap.

Sebuah sajian istimea terjadi di Angkona. Saya bertemu Ust M Yusuf Gatti. Fisiknya sudah jelas menunjukkan beliau tak lagi muda.

Bahkan, dalam setiap tugas dakwah Yusuf selalu meninggalkan pesantren yang telah eksis dirintis dengan kembali memilih untuk merintis pesantren. Sekarang di Angkona, Luwuk Timur.

Saya penasaran dengan ustadz yang tak lagi muda ini. Kesempatan ngobrol pun tiba, sontak saya tanya, mengapa Ust Yusuf Gatti terlihat selalu asyik ngurus dakwah di pesantren. “Saya selalu berdoa semoga Allah tidak menjadikan hati ini cinta kepada dunia walau sesaat,” jawabnya.

Lebih jauh ia bertutur, bahwa dirinya ingin menjadikan dakwah sebagai sarana menuju kebahagiaan akhirat. “Kalau mau berburu dunia, sudah banyak orang tergelincir. Maka saya memilih dakwah di pesantren ini, karena saya yakin inilah jalan terbaik menuju kebahagiaan di akhirat. Di sini saya belajar ikhlas dan terus beramal,” tegasnya.

Saya pun terharu dengan apa yang dijelaskan oleh Ustadz Yusuf Gatti, sosok yang terus semangat dan penuh keteladanan dalam dakwah.

Kembali ke Makassar dan hingga kini di Jakarta, saya seakan mendapatkan sebuah ilmu dari guru kehidupan, yakni semua Ustadz yang hingga kini konsisten dakwah di Sulawesi Selatan.

Terimakasih Ustadz Mardhatillah, Ustadz Safruddin, Ustadz Sarmadani, Ustadz Ilham Syawal, Ustadz Muharram, Ustadz Yusuf Gatti, serta sahabat muda penuh semangat, Lukman Hakim.

Perjalanan ini sangat berarti dan memberikan makna lebih mendalam bagaimana seharusnya diri dalam dakwah, yang idealnya tak sekedar bisa kita lakukan, tapi mesti bisa kita teladankan agar nyala dakwah terus berkobar menyinari kehidupan.

Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Ketua DPW Sulawesi Barat; Jangan Pernah Kehilangan Spirit Berjuang

0

MAHAHE (Hidayatullah.or.id) — Merawat semangat mengabdi dan menjaga soliditas kader di lembaga ini salah satunya dengan selalu hadir dalam halaqah baik harian, pekanan atau seperti yang sekarang ini dilakukan, Halaqah Kubro.

Diadakan triwulanan dan diikuti oleh seluruh kader Hidayatullah se Sulawesi Barat. Kali ini DPD Hidayatullah Mamuju Tengah jadi tuan rumah persisnya di kampus Hidayatullah Mahahe, pada tanggal 15 16 Agustus ini.

Kembali menyoal efektifitas halaqah dalam meningkatkan kualitas kader dalam mengemban amanah sebagai dai di semua lini tugas, ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Imran M. Djufri, S.Pd.I menyebutkan bahwa justru halaqah menjadi ukuran ketaatan kader.

Ia menegaskan, perlu segera dievaluasi kalau kader tidak hadir tanpa ada keterangan. Karena jangan sampai dengan seringnya tidak mengikuti halaqah justru akan melemah orientasi berjuangnya.

“Jangan kehilangan spirit berjuang” pungkasnya.

Sebagaimana maklum rangkaian halaqah kubro selain perbaikan bacaan al-Quran yang meliputi tahsin, tartil dan tajwid juga tafsir yang dikaji secara tematik untuk menguatkan ghiroh kader dalam menjalankan tugas tugasnya.

Hal senada ditekankan oleh kepala departemen Perkaderan dan Pembinaan Anggota DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Habibi Nursalam.

“Ikuti saja (halaqah ini) karena urusan ukhuwah dengan sendirinya akan cair belum lagi selalu ada pencerahan dan penyegaran dalam berjuang dari para senior lembaga“.*Bashori

Hidayatullah Berduka, Ustadz Anshar Amiruddin Meninggal Dunia

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Keluarga besar ormas Hidayatullah berduka. Salah seorang ustadz yang merupakan anggota Dewan Mudzakarah, Ir H Anshar Amiruddin, meninggal dunia.

Ustadz Anshar, demikian dikenal, wafat di RS Hermina, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (14/08/2020) malam waktu setempat.

Sebelum berpulang ke Rahmatullah, almarhum sempat dirawat di RS tersebut setelah beberapa hari sejak sekitar pekan pertama September 2020 jatuh sakit dikabarkan karena tipus.

Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi jamaah Hidayatullah, khususnya sanak keluarga almarhum.

“Ayahanda kami baru saja dipanggil menghadap Rabbnya di hari yang paling mulia di bulan mulia, mohon dimaafkan jika ada kesalahan beliau,” ujar Kahar Muzakkar alias Musa, salah seorang putra almarhum, kepada hidayatullah.com dan rekan-rekannya, Jumat malam via grup WhatsApp.

Menurut penutusan Musa, sang ayah pergi dalam keadaan yang mengharukan dan Insya Allah, husnul khatimah.

“Beliau insyaAllah syahid. Beliau mengucapkan kalimat syahadat dengan lancar di akhir napas beliau,” tuturnya, lantas diaminkan oleh para jamaah.

“Dia mengucap laa ilaaha illaAllah… di akhir nafasnya,” ujar Khalil Rahman, putra lainnya, dalam pesannya yang beredar di grup-grup jamaah Hidayatullah.

“Beliau tidak pergi, beliau syahid dan hidup di sisi Allah,beliau sempat mengucapkan kalimat syahadat di penghujung napas beliau,” tambah Musa lagi saat dikonfirmasi.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr Nashirul Haq mewakili jajarannya menyampaikan belasungkawa atas kepergian Ustadz Anshar.

Ustadz Nashirul memandang sosok sebagai kader terbaik tersebut.

“Ust Ir H Anshar Amiruddin salah satu kader terbaik Hidayatullah telah kembali kepada-Nya.

Jalan sejarah telah dilewatinya dengan dedikasi yang kuat untuk berada di jalan dakwah. Berbagi spirit, ilmu, nasihat, dan adab di tengah umat.

Segenap Pengurus DPP dan Keluarga Besar Jamaah Hidayatullah se Indonesia mengucapkan “Selamat Jalan Menuju Rahmat dan Ampunan-Nya,” pernyataan tertulis Ustadz Nashirul, Jumat malam.

Salah seorang Ketua Bidang di DPP Hidayatullah, Asih Subagyo, turut menyampaikan doa dan belasungkawa atas wafatnya almarhum.

“Telah usai tugas Ustadz di dunia ini, ustadz. Meski pertemuan kita tidak intensif, bersebab jarak, namun saya bersaksi bahwa antum (almarhum, red) adalah orang sholeh, yang mewakafkan hidupmu untuk berdakwah di jalan Allah. Menurut Putra antum, yang mendampingi saat antum naza’, di akhir hayatmu, antum dengan jelas mengucapkan Laa ilaaha illaLlah. Asbab itulah, pintu jannah, terbuka lebar bagimu ya ustadzku. In Syaa Allah antum akan dikumpulkan dengan ara ambiya, syuhada dan orang-orang sholeh. Semoga engakau tenag di sisi sang Khaliq. Aaminn ya rabbil ‘alaamiin,” tulis Asih.

Semasa hidup, Anshar dikenal sebagai salah satu dai kondang Hidayatullah. Ceramah-ceramahnya selalu menyentak jamaah. Para santri membentang dari barat sampai timur Indonesia.

Almarhum dinilai sebagai “Bapak Ideologis” bagi santrinya.

Salah seorang sahabat almarhum, Ustadz Zainuddin Musaddad yang juga Departemen Adab & Pembinaan Keluarga DPP Hidayatullah, turut mendoakan almarhum.

“Ihwan Anshar panggilan beliau saat pertama kali mengenalkan Hidayatullah kepada kami di IKIP Makassar, tahun 1986. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un…. Selamat jalan guru dan shahabat kami,” ujarnya di grup WhatsApp jamaah Hidayatullah.

Salah seorang santrinya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Usman Aidil Wandan, punya kenangan khusus dengan almarhum.

Suatu saat, saat berjumpa Usman tahun 2013, Ustadz Anshar mengungkapkan keinginan kuatnya berdakwah di NTT. Untuk daerah Timur, Ustadz Anshar sudah pernah berdakwah di Papua.

“Cuma Kupang ini kira-kira kapan (ke sana), Nak?” ujar Ustadz Anshar sebagaimana ditirukan Usman kepada hidayatullah.or.id, Jumat malam.

Lalu, pada tahun 2019 jelang Ramadhan, pihak DPW Hidayatullah NTT pun mengundang Ustadz Anshar.

“Ana diamanahkan di DPW bagian dakwah dan humas agar bisa menghubungi beliau dan Alhamdulillah beliau bersedia untuk datang ke Kupang di tengah padatnya jadwal.

Waktu itu beliau baru saja dari Jakarta ada pertemuan bersama DPP. Setelah pertemuan itu terbang ke Balikpapan. Selang dua hari di Balikpapan beliau langsung terbang ke Kupang,” tuturnya.

Dalam dakwahnya di Kupang, Ustadz Anshar mengajak para santri dan jamaah untuk senantiasa ikhlas. Acara saat itu digelar terkait pembangunan rumah Qur’an di Kelapa Lima, Kota Kupang.

“Bangunan rumah Qur’an di Kelapa Lima, Kota Kupang itu telah dimulai dari bangunan dasarnya/pondasinya dari orang-orang ikhlas. Begitupun para asatidz yang telah berjuang bersama-sama membangun umat ini.

Insya Allah orang-orang ikhlas akan memperoleh balasan pahala berlipat ganda,” pesannya.

Usman pun sempat meminta wejangan supaya bisa ceramah atau khutbah yang baik seperti Ustadz Anshar.

“Mulai dulu dari diri antum, Nak. Kemudian jangan ada sedikit pun rasa takut, kamu harus berani menyampaikan kebenaran. Kepada siapapun lawan bicaramu tetap rendah hati. Qiyamullail jangan pernah tinggalkan, itulah sumber qaulan tsaqila,” pesannya.

Dalam acara pada Ramadhan 1440H lalu itu, Ustadz Anshar memberikan hadiah sebuah sorban kepada Usman.

“Seolah olah pemberian sorban usai beliau mengisi Tabligh Akbar/Tahrib Ramadhan 2019 lalu di Asrama Haji Kota Kupang mengisyaratkan bahwa beliau pengin mengucapkan atau berkata, ‘Nak, lanjutkan perjuangan Abah yaaa!’ Ana betul-betul sedih sekali kehilangan beliau,” ungkapnya.

Usman mengaku juga pernah meminta doa dari Ustadz Anshar, yang kemudian mendoakan Usman. “Doanya kurang lebih begini, ‘Semoga suatu saat kita dapat dipertemukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala di syurga-Nya yaa, Nak! Aamiin!”

“Qodarullah hari ini beliau telah dipanggil Allah Subhanahu Wata’ala. Di akhir hayatnya mengucapkan kalimah tauhid, laa ilaaha illallah. Mudah-mudahan pahala jariyah berupa ilmu yang diajarkan kepada kami oleh beliau mengalir hingga hari pembalasan. Allahumma Aamiin…,” kata Usman seraya berdoa.

Dalam sebuah ceramahnya di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Hidayatullah Ummul Quroo, Gunung Tembak, Balikpapan, Ustadz Anshar pernah menyampaikan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau.

“Beruntung dan berbahagialah kita telah mengikuti jejak langkah Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” ujarnya saat itu sebagai vidoe Youtube LPPH Gutem.

“Dunia ini akan dihapus ceritanya oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Kalau dunia saja kita bangun, kita akan kecewa karena itu adalah hakikat daripada sebuah kehancuran,” ujarnya.

Sehingga, kata Ustadz Anshar saat itu, Allah telah memperingatkan semua manusia, “Ketahuilah bahwa dunia ini adalah permainan, senda gurau, dan perhiasan-perhiasan, asesoris, dan kalian saling bangga-banggakan dan berlomba-lomba memperbanyak harta dan anak,” mengutip salah satu firman Allah.* (SKR)

Hidayatullah Luwu Utara Salurkan Bantuan Secara Efektif

0

MASAMBA (Hidayatullah.or.id) — Bencana banjir yang menimpa sebagian besar warga kecamatan Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Masamba dan kecamatan Malangke dalam kabupaten Luwu Utara 13 Juli silam masih terus menyisakan duka oleh lebih 1500 korban dan terdampak .

Sejak esoknya harinya, karena kejadian di malam hari, bantuan langsung mengalir dari semua elemen masyarakat mulai dari perorangan, komunitas sepeda motor besar, skuter matik hingga kerukunan keluarga di provinsi tetangga, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara.

Semuanya langsung berinteraksi dan berbagi bantuan dengan para korban di pengungsian yang dapat dijangkau oleh masyarakat umum seperti yang terbanyak di pengungsian desa Meli karena mendapat informasi dari sosial media.

Ustadz Ilham Syawal, S.H.I ketua DPD Hidayatullah kabupaten Luwu Utara yang juga diamanahi sebagai kordinator Tanggap Aksi Sosial Perencanaan (TASK) menyebutkan ada juga korban bencana banjir yang memilih mengungsi di rumah rumah keluarga di luar wilayah tersebut.

Misalnya ada yang mengungsi di rumah sepupu di kecamatan Sabbang atau memilih berkumpul di rumah keluarga yang berdomisili di Luwu Timur.

“Sehingga kami DPD Hidayatullah Luwu Utara sejak ditutupnya masa tanggap darurat memilih langsung mengantarkan bantuan ke pengungsi yang rumah rumah keluarga seperti tersebut atas” ungkap Syawal.

Lanjutnya, ketika dikonfirmasi menyebutkan rata rata korban yang mengungsi di rumah keluarga tidak diketahui oleh masyarakat umum lantaran tidak ada tanda tanda kalau di rumah tersebut ada pengungsi semisal tulisan atau terpasangnya tenda.

“Kami sudah nyaman di (rumah keluarga) sini saja karena di tenda pengungsian semua kebutuhan serba terbatas” alasan salah satu korban asal desa Meli yang tinggal di rumah keluarganya di Sabbang.

Melihat kondisi kurang tersentuhnya bantuan sebagaimana pengungsi di tenda tenda umumnya itulah pengurus Hidayatullah Luwu Utara memilih penyaluran bantuan langsung ditujukan ke korban secara efektif.

Seraya berharap pemerintah setempat dapat memfokuskan pemulihan kesejahteraan korban*Bashori

Ketua Umum Pemuda Hidayatullah: Dakwah Harus Menginpirasi

0

PARE-PARE (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi menjadi pembicara dalam dalam masa orientasi Sekolah Dai Hidayatullah di Pesantren Hidayatullah di Jalan Sakinah, Bacukiki Barat, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, pada Senin (10/8/2020). Sekolah dai sendiri merupakan salah satu amal usaha yang dimiliki Hidayatullah dan telah melahirkan banyak dai-dai yang disebar diseluruh Indonesia

Dalam uraiannya, Imam Nawawi memberikan mendorong agar para calon santri Sekolah Dai Hidayatullah berani tampil percaya diri dalam mendakwahkan Islam, karena sesungguhnya islam adalah kebutuhan fitrah yang dibutuhkan manusia.

“Kaum muda hari ini harus memahami betapa Islam itu indah dan dibutuhkan fitrah manusia” Jelasnya.

Maka dari itu Imam menjelaskan bahwa sesungguhnya sekolah dai merupakan wadah belajar yang sangat baik untuk menempah kesiapan para dai baik secara fisik maupun secera spritual.

“Maka kesempatan belajar dan menempa diri di Sekolah Dai Hidayatullah ini harus menjadi kesempatan untuk merasakan betul manisnya iman. Sehingga, santri   siap secara mental dalam mendakwahkan Islam, punya rasa percaya diri dan superioritas karena apa yang disampaikan dirasakan betul manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya

Ia juga menjelaskan bahwa santri juga harus membuka diri, mengembangkan wawasan sehingga menjadi  sosok-sosok dai yang bisa memberikan sistem penjelas betapa indahnya ajaran Islam kepada umat dengan menyesuaikan bahasa serta budaya yang ada di masyrakat dimana tugas dakwah diemban tanpa melanggar syariat agama.

“Disamping juga jangan lupa bekali diri dengan skill tertentu, sehingga dakwah bisa mandiri dan menginspirasi umat,” imbuhnya.

Kepala Sekolah Dai Hidayatullah Parepare, Ustaz Sumaryadi menegaskan bahwa program Sekolah Dai ini adalah dalam rangka menguatkan barisan kaderisasi dan pendidikan kader dai muda untuk berdakwah di masyarakat.

“Sekolah Dai Hidayatullah di Parepare ini dimaksudkan untuk melahirkan kader dai muda yang siap terjun ke medan dakwah dengan semangat tinggi, skill yang memadai dan tentu saja berangkat dari ilmu yang diamalkan, sehingga ada keberkahan.

Sumaryadi mengatakan bahwa sesungguhnya dakwah tak sekedar butuh ilmu tapi juga pengamalan yang dijiwai dan dirasakan keindahannya dalam diri sendiri.  Mereka tetap harus menjadi sosok pembelajar hingga mati, karena dakwah dinamis dan berkesinambungan,” tutupnya.*Amanjikefron

Peradaban Islam yang Kian Dekat

0

Memperhatikan beragam dinamika mutakhir, baik global maupun nasional, tanda-tanda kebangkitan peradaban Islam semakin dekat. Hal itu ditandai oleh dua hal, pertama berskala global, yakni kembalinya Masjid Aya Sofya. Kedua, berskala nasional, yakni meningkatnya kesadaran umat untuk berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

Kembalinya Aya Sofya ternyata bukan semata menghadirkan euforia, tetapi komitmen lebih membaja dari Turki dalam beragam aksi-aksi nyata kemanusiaan. Dikabarkan, ketika ledakan besar terjadi di Lebanon, Turki adalah negara yang telah mengirimkan bantuan; medis dan kemanusiaan.

Sedikitnya 20 dokter dan 400 ton gandumg telah dikirom oleh Turki ke Beiurt pada Rabu, 6 Agustus 2020, tepat sehari setelah ledakan terjadi. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Mehmet Nuri Ersoy mengatakan di twitter bahwa Turki telah “mengambil tindakan untuk menyembuhkan luka Lebanon.”

Kita memahami bersama bahwa asas peradaban adalah iman. Iman itu menghunjam dalam batin dan sistem kesadaran manusia sehingga melahirkan tindakan-tindakan yang hakikatnya adalah manifestasi dari keimanan itu sendiri. Tidak bisa dimungkiri bahwa peradaban Islam terbaik adalah di masa Rasulullah ﷺ. Namun, penting juga diperhatikan bahwa capaian-capaian intelektual yang menghadirkan kekuatan, pengaruh, sekaligus kemajuan adalah bagian dari prestasi gemilang dari sejarah panjang peradaban Islam itu sendiri.

Tentu saja masyarakat dunia sebagian tersentak, bahwa Aya Sofya ternyata sebuah masjid yang penuh spirit dan sejarah. Di saat yang sama, dunia mulai melihat secara telanjang bahwa Spanyol dahulu adalah pusat peradaban Islam terbesar di Eropa yang nyaris semua masjidnya kini berubah menjadi katedral.

Kondisi itu, cepat atau lambat akan memantik kesadaran sekaligus ketertarikan umat manusia dan tentu saja umat Islam itu sendiri untuk selanjutnya meningkatkan kualitas ber-Islam-nya dari sekedar ritual menjadi intelektual dan spiritual secara fundamental. Dalam kata yang lain, cara beragama Islam seperti era 80-an akan menemui masa akhir, dimana kala itu agama dipandang cukup hanya sarungan dan wiridan dan bermain di wilayah-wilayah pinggiran.

Terlebih, Turki secara nyata menjadi negara yang kini terdepan merespon kejadian mengerikan di Beirut. Artinya mulai tampak hadirnya sebuah entitas dari kekuatan umat Islam yang secara peradaban jauh lebih patut dibanggakan sekaligus dipelajari, karena saat dunia sibuk dengan isu Corona, ternyata Turki mampu hadir menggelontorkan biaya yang tidak sedikit untuk membantu mereka yang terluka, yang disebutkan mencapai 5000 orang di Beirut.

Dari sini kita dapat memetik pelajaran langsung bahwa spirit ibadah di masjid, kebanggaan terhadap masjid harus mendorong umat ini semakin terdepan dalam merespon kesulitan dan kesusahan yang terjadi di berbagai negara di belahan dunia. Namun, itu dapat diwujudkan manakala umat Islam mampu memadukan dua kekuatan sekaligus, religiusitas dan kekuasaan. Turki adalah contoh terkini, bagaimana sebuah nilai dapat dimanivestasikan dengan gagah berani.

Kemudian skala nasional dimana masyarakat kembali menemukan figur penting di dalam membangun bangsa dan negara merupakan sebuah fenomena yang tidak bisa dianggap biasa. Betapa tidak, dalam situasi carut-marut politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan, para intelektual bangsa bahkan ulama telah terdepan sejak lama menyuarakan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Sekalipun dalam upaya tersebut, sebagian berhadapan dengan tantangan berat. Namun konsentrasi, fokus, bahkan spirit untuk terus memperjuangkan nilai-nilai Islam semakin menyala-nyala. Tampak memang harus menerima ketidakadilan dari sisi hukum, namun itu bukan seperti malam yang menyapu sinar mentari, lebih seperti sebuah intan yang dibakar, ditempa, dan diproses untuk menjadi perhiasan terbaik di dunia.

Bisa diibaratkan, apa yang belakangan diterima oleh umat Islam, terutama oleh para tokoh, intelektual dan ulama seperti apa yang harus dialami umat Islam di masa Makkah, lemah dan tak berdaya. Namun kesadaran, visi, dan karakter yang dibangun semakin menguat dan menunjukkan warna ke-Islam-an. Dalam kata yang lain, babak baru keberIslaman umat Islam di Indonesia sedang berlangsung dan ini akan terus meningkat, bahkan mungkin meroket untuk selanjutnya memberi warna bahkan arah bagaimana membawa negeri ini maju, sejahtera dan berpengaruh di kancah internasional, seperti yang kini telah dicapai oleh Turki.

Meminjam cara berpikir Durkheim (Sosiolog) apa yang sedang berlangsung di Tanah Air hakikatnya adalah fakta sosial yang belakangan terbentuk adalah menguatkan kesadaran publik akan moralitas yang akan terus menggumpal bahkan mengkristal. Dimana semakin tidak amanah para pengelola kebijakan, kekuatan moral itu akan semakin kuat dan menjulang ke langit.*

Imam Nawawi (Ketua Umum Pemuda Hidayatullah)

Rakornas MMS Digelar Virtual, Tekankan Kuatkan Spiritual

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan Umum Hidayatullah Ust H Abdurrahman Muhammad membuka Rapat Koordinasi Majelis Syura Hidayatullah (MMS) yang digelar secara virtual, Selasa (4/8/2020).

Dalam sambutannya, beliau menekankan pesan penjagaan spiritual. Diutarakannya, semangat dan keimanan tidak boleh turun ditengah pandemi yang kini belum diketahui kapan akan berakhir.

“Setiap saat kita harus lebih baik dan mampu melewati segala sesuatu lebih sabar. Harus lebih baik dan lebih sabar lagi dalam bermujahadah, karena keimanan kita seharusnya lebih baik lagi di setiap hari,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa sebagai seorang muslim harus tampil sebagai generasi penggerak dan bangga menampilkan bahwa dirinya adalah kader Hidayatullah.

“Kader Hidayatullah harus bangga menunjukkan jati dirinya sebagai kader dan mampu menjadi penggerak di gelanggang keummatan,” imbuhnya.

Dalam rapat yang dilakukan secara online ia juga berpesan untuk selalu mengikuti protokol kesehatan dan keselamatan sebagaimana anturan yang berlaku.

Dia mengatakan, semangat untuk mencapai tujuan koordinasi ini tidaklah berkurang meski hanya melalui online dan tidak ada tatap wajah secara langsung.

Saat ini yang jauh hanyalah fisik namun sesungguhnya spiritual kita akan selalu dekat, ujarnya.

“Secara ideal sesungguhnya apa yang diharapkan dalam kordinasi tidak boleh berkurang sedikitpun walau tanpa tatap wajah. Kita hanyalah jauh secara fisik, namun tidak secara spritual,” pungkasnya dari Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.*/Amanji Kefron

Walikota Sambut Kedatangan Santri Hidayatullah Surabaya

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Walikota Surabaya Tri Rismaharini menerima kunjungan dari jajaran Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya di Taman Surya Balai Kota Surabaya, Kamis (30/7/2020).

Mereka diskusi tentang rencana kembalinya santri ke pondok pesantren sembari mematuhi protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19 ini.

Setelah berdiskusi panjang lebar tentang kesiapan pesantren menyambut santri di tengah wabah ini, kemudian Walikota Risma meminta kepada mereka untuk melakukan rapid tes terlebih dahulu, baik santri yang baru datang ke pondok, semua guru atau ustadnya, petugas kebersihan dan keamanan, serta orang-orang yang beraktifitas di pondok pesantren itu, terutama yang keluar-masuk pondok pesantren.

“Jadi, nanti semuanya harus dirapid tes tes dulu, semuanya tanpa terkecuali, kita sediakan gratis nanti, kita fasilitasi. Bahkan kalau perlu, orang tua santri yang mengantar ke pondok juga harus dites,” kata Wali Kota Risma dalam pertemuan tersebut.

Menurutnya, jika nanti ditemukan ada yang reaktif ketika dirapid tes, maka akan dites swab dan akan diisolasi dulu sembari menunggu hasil tes swabnya. Kemudian, jika santri itu sudah negative atau sudah sembuh, maka akan dikembalikan lagi ke pondok pesantren.

“Kalau imunnya kuat, mungkin tidak lama kok Ustad isolasinya, nanti kami tes lagi. Nah, jika sudah negative, kami akan kirim lagi ke njenengan (Anda),” katanya.

Selain itu, Walikota Risma juga meminta mereka untuk memperketat protokol kesehatannya, baik jalan masuk dan keluarnya santri, penyediaan fasilitas cuci tangan, bilik sterilisasi, serta kamar mandinya harus selalu bersih dan steril. Bahkan, Wali Kota Risma siap membantu mereka wastafel dan bilik sterilisasi.

“Insyallah nanti akan kami bantu lagi,” tegasnya.

Di samping itu, Presiden UCLG ASPAC ini juga meminta mereka untuk mengurangi jam masuknya, tidak boleh sama dengan jam masuk sebelum pandemi. Ia juga tak lupa menganjurkan untuk tidak menggunakan AC di ruangan, karena hal itu bisa berpotensi menularkan virus baru ini.

“Jadi, tolong semua protokol kesehatan yang sudah disiapkan nanti diserahkan kepada kami, nanti akan ada tim yang evaluasi ke sana terkait persiapan protokol kesehatan ini,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya Ust Syamsuddin mengatakan pondok pesantren ini santrinya sangat banyak, sekitar 2.250 orang. Makanya, ia menilai perlu untuk meminta saran dan masukan serta bantuan dari Wali Kota Risma karena para santri itu akan segera kembali ke pondok.

“Jadi, kami meminta dukungan dari Bu Wali terkait santri yang boarding atau yang mondok ini, karena mereka itu terdiri dari SMP dan SMA serta mahasiswa,” kata Syamsuddin.

Ia bersama pengurus pondok lainnya akhirnya bisa bernafas lega setelah Walikota Risma menyetujui dan mengizinkan mereka untuk mengaktifkan kembali pondoknya.

Bahkan, Walikota Risma juga sudah siap untuk memberikan fasilitas rapid tes kepada semuanya, sehingga mereka semakin senang dan bersyukur.

“Kami sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Bu Wali. Sebab, beliau sangat detail memahami situasi dan kondisi Surabaya dan sangat cepat melakukan respon terkait permasalahan-permasalahan di Surabaya,” kata dia.

Oleh karena itu, berdasarkan diskusi dengan Walikota Risma, maka rapid tes akan dilakukan pada saat kembalinya para santri yang dilakukan secara bertahap.

Tahap pertama santri itu akan kembali pada tanggal 2 Agustus 2020, tahap kedua pada tanggal 3 Agustus 2020 dan tahap ketiga pada tanggal 16 Agustus 2020.

Syamsuddin mengatakan, pada tanggal 2 Agustus akan diikuti oleh sekitar 300 orang yang terdiri dari santri, semua guru dan pengurus pesantren, serta orang-orang yang beraktivitas di pesantren.

“Kemudian tanggal 3 mungkin akan diikuti oleh 150 orang dan tanggal 16 mungkin 100 orang. Jadi, ini bertahap kembalinya ke pondok. Semoga lancar semuanya dan tidak ada hal-hal yang tidak kita inginkan,” pungkasnya. (Humas Pemkot Surabaya)