SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Guna mendorong peningkatan layanan berupa penyajian informasi yang cepat dan menarik, BMH Perwakilan Jawa Tengah menggelar pelatihan jurnalistik dan fotografi untuk segenap amilnya di Semarang (24/12).
“Pelatihan ini merupakan kebutuhan yang penting mendesak bagi BMH, mengingat begitu banyak program dan aksi kebaikan yang berjalan berkat dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak untuk membantu sesama. Sebagai sarana informasi dan laporan cepat, kemampuan amil dalam hal ini sangatlah dibutuhkan,” terang Kepala BMH Perwakilan Jawa Tengah, Misdawi.
Hadir sebagai narasumber adalah Pemimpin Redaksi Majalah Mulia, Imam Nawawi dan tim BMH TV, M. Faza Aulia.
Dalam uraian yang disimak oleh 15 amil dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah itu, Imam Nawawi menerangkan bahwa secara prinsip menulis berita adalah hal yang sangat sederhana.
“Menulis berita itu sederhana, mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Dengan catatan ada kemauan dan mengerti unsur-unsur yang perlu dituangkan did alam sebuah karya jurnalistik, utamanya apa yang dikenal dengan istilah 5W dan 1 H,” terangnya.
Dalam kesempatan tersebut, para peserta tidak saja mendapatkan penjelasan tentang jurnalistik, namun juga ada sesi praktik, dimana masing-masing peserta wajib menulis berita selama 15 menit.
Bahri, seorang amil BMH dari Pati mengaku senang dengan pelatihan ini.
“BMH ini banyak kegiatan dan program namun belum semua dapat disajikan dalam bentuk berita. Dengan adanya pelatihan ini, insha Allah sudah tahu bagaimana menulis berita dan akan diterapkan dengan sebaik-baiknya ke depan,” ujarnya.
Pesan yang sangat penting disampaikan oleh Imam Nawawi bahwa sebenarnya semua orang tahu menulis itu penting, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mau melakukannya.
“Untuk BMH, wajib semua program dan beritanya dituliskan, bukan untuk narsis, tapi agar umat, masyarakat, dan pemerintah tahu bahwa kebaikan-kebaikan di negeri ini itu masih ada dan nyata. BMH adalah lembaga yang teurs menggulirkan itu semua,” tutupnya.*
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Acara Musyawarah Nasional (Munas) ke-V Muslimat Hidayatullah (Mushida) memberlakukan aturan ketat dalam rangka mematuhi imbauan pemerintah meningkatkan penerapan protokol kesehatan Covid-19 selama libur Natal dan tahun baru 2021.
Atas komitmen tersebut, segenap utusan peserta Munas ini terutama yang hadir secara offline harus mematuhi protokol yang telah ditetapkan. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Pengurus Wilayah (PW) Mushida Jawa Timur.
Ketua PW Muslimat Hidayatullah Jawa Timur, Retno Setyo Utami, menyatakan rombongan dari Jatim yang siap berangkat mengikuti Munas V Mushida di Kampus Hidayatullah Depok berjumlah empat orang.
“In syaa Allah rapid test antigen akan dilakukan di Lab Parahita. Bismillah semoga bisa berangkat semua,” tutur Retno.
Sebagaimana yang diimbau oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dalam surat edarannya, bahwa untuk meningkatkan penerapan protokol kesehatan Covid-19 selama libur Natal dan tahun baru 2021 maka pelaku perjalanan dalam negeri harus menunjukkan surat keterangan hasil negatif menggunakan rapid tes antigen paling lama 3×24 jam sebelum keberangkatan sebagai persyaratan perjalanan.
Dikatakan Retno, persiapan untuk rapid test antigegn ini dilakukan dengan menjaga kondisi kesehatan agar mendapatkan hasil tes yang bagus.
Selain itu, mereka juga perlu memastikan keamanan rumah selama ditinggal dengan menyiapkan berbagai keperluan suami, bekal konsumsi selama ditinggal serta kenyamanan anak-anak yang kebetulan di waktu yang sama sedang dalam masa liburan sekolah.
“Persiapan lain yang dilakukan saat ini adalah menyiapkan kondisi rumah karena mau ditinggal, sedangkan anak-anak libur (sekolah),” tambah Ibu lima anak ini.
Muslimat Hidayatullah akan menggelar agenda lima tahunan yaitu Musyawarah Nasional yang ke-5 secara virtual pada 26-27 Desember 2020/11-12 Jumadil Ula 1442 H. Kali ini acara akan dilaksanakan di Kampus Peradaban Hidayatullah Depok dan diikuti oleh perwakilan berbagai wilayah dari 34 Provinsi se-Indonesia.
Sebelumnya telah berlangsung beberapa rangkaian Pra Munas yang terdiri dari tiga Webinar Series dan lima Sidang Komisi yang diikuti secara virtual oleh Mushida se-Indonesia.
Dalam mengikuti agenda virtual, terdapat beberapa tantangan yang berbeda bagi tiap wilayah, termasuk bagi Mushida Jatim.
Retno mengatakan beberapa tantangan itu antara lain adalah mengatur waktu antara sidang komisi dengan kegiatan sekolah (pembagian rapot), sinyal yang kurang jelas dan perlunya support yang kuat antara tim inti untuk melibatkan pengurus-pengurus daerah dalam mengikuti agenda Sidang Komisi.
“Pada hari H kami biasanya saling mengingatkan dan menyemangati, kemudian saling berkirim foto. Ada juga beberapa daerah yang membuat nobar terutama di daerah yang hijau (zona) coronanya,” jelas Retno yang juga guru di SD Luqman Al Hakim Surabaya ini.
Di akhir wawancara Retno menyampaikan harapan demi kelancaran dan keberkahan agenda Munas V Hidayatullah. “Harapanya semoga Munas V Mushida melahirkan kader-kader loyal dan militant dalam susunan kepengurusan PP Mushida periode 2020-2025,” harapnya.
“Semoga semua peserta Munas sehat walafiat sampai negeri asalnya kembali, dan semoga Mushida bisa memberi konsep-konsep baru yang lebih bermanfaat bagi umat di era pandemi ini,” tambahnya memungkasi.*/Salma Madaniyyah
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Menjelang acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah yang akan digelar pada 28-30 Desember, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Sidang Pleno Hidayatullah yang digelar selama 3 hari di Kota Depok, Jawa Barat.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, dalam pembukaan acara menyampaikan harapannya kegiatan ini semakin menguatkan langkah dan gerakan Hidayatullah. Seraya dengan itu dia berdoa segenap kader dan pengurus selalu dalam kesehatan dan kondisi yang optimal.
“Semoga kita diberikan kekuatan, kesehatan dan hidayah untuk kesuksesan Sidang pleno Hidayatullah ini,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, beliau mengajak hadirin untuk mengirimkan doa untuk kesembuhan beberapa pengurus yang kurang sehat yaitu Ust Endang Abdurrahman, Ust Syaiful Anwar, Ust Jamaluddin Nur, Ust Muhammad Syakir Syafii dan Ust Naspi Arsyad.
“Semoga semuanya diberikan kesehatan dan kesembuhan,” doanya.
Semua acara dari Sidang Pleno hingga Rakernas dipusatkan di Kota Depok. Pertimbangannya adalah untuk efisiensi dan suasana ibadah lebih kondusif.
Sidang pleno digelar satu kali dalam setahun yang agendanya diantaranya membahasan Pedoman Organisasi (PO), pembahasan program kerja, pembahasan APBO dan lain sebagainya.
“Pola pembahasan lebih sederhana. Bahan diberikan ke Dewan Mudzakarah sebelumnya sehingga tak perlu ada presentasi dari ketua bidang,” imbuhnya.
Program kerja ini turunan dari visi misi, achievement, arah kebijakan organisasi yang diputuskan pada Munas 5 Hidayatullah lalu. Program kerja ini adalah 5 tahun dan diturunkan pada program tahunan. Sehingga ada program yang baru mulai tahun pertama, belum bisa dilihat hasilnya.
Berangkat dari achievement umum yaitu meningkatnya kualitas iman ilmu, amal dan profesionalitas, maka semua bidang mengacu ke achievement di atas.
Di bidang tarbiyah, bagaimana terwujudnya gerakan perkaderan dan pendidikan baik non formal, informal dan formal di semua lini dan komponen Hidayatullah yang efektif dan efesien.
Pada bidang dakwah dan pelayanan umat, yakni menggerakan kader dan anggota Hidayatullah dalam gerakan dakwah dan layanan umat.
Bidang organisasi melakukan koordinasi, supervisi, monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas departemen-departemen di bawah koordinasinya. Serta bidang ekonomi, terwujudnya kemandirian jamaah dan organisasi menuju peradaban Islam.
Adapun bidang kesekretariatan, bagaimana menjadikan Pusat Dakwah Hidayatullah sebagai pusat gerakan, pusat komando, pusat administrasi dan show window Hidayatullah.
“Kita mengangkat satu tema untuk rapat pleno, sidang pleno, MMS dan rakernas ini, sebagai semangat untuk mewujudkannya 5 tahun ke depan yaitu Konsolidasi Idiil, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standarisasi, Sentralisasi dan Integrasi yang Sistemik,” tutupnya.
Di kesempatan yang sama, Ketua Dewan Mudzakarah (DM) Ust Fathul Adzim yang merupakan mitra, mengapresiasi langkah cepat pengurus DPP terutama pengurus harian, yang, sejak dilantik terus terbang mengawal musyawarah wilayah. Kemudian membuat program kerja dalam waktu singkat.
“Kemudian dalam musyawarah wilayah, DM mengamati berlangsung sukses dan bagus. Perlu dikuatkan struktur DPW yang besar sehingga beberapa program bisa goal,” katanya.
Namun, di sisi lain, Fathul juga memberikan masukan terkait beberapa hal termasuk diantaranya banyaknya Ketua DPW baru sehingga perlu perhatian DPP untuk membimbing dalam leadership dan manajerial keorganisasian.
Pihaknya merekomendasikan bagi DPW yang berprestasi dan kurang prestasi untuk dijembatani agar dinamika kemajuannya bisa semakin progresif dan berkesinambungan.
Dia mengatakan, sidang pleno ini adalah yang pertama maka menurutnya perlu ada beberapa bidang baru, perlu revisi dan perubahan, apalagi untuk program 5 tahun ke depan.
“Maka perlu dirancang kembali untuk ada pembahasan atau diskusi pada bidang terkait. Sehingga sidang pleno tinggal motivasi. DM siap menjadi mitra DPP,” katanya.
“Semoga sidang pleno ini menghasilkan program yang maksimal utk kemajuan Hidayatullah,” pungkasnya.*/Abdul Ghofar Hadi
DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Setiap kita harus bersungguh-sungguh dalam meraih impian yang dicita-citakan. Dengan semangat, kesungguhan, keuletan, ketelatenan dan kesabaran yang tidak pernah padam, maka yang diimpikan akan membuahkan barokah. Namun, apapun capaian yang berhasil diraih, harus tetap meneguhkan diri kita sebagai seorang dai.
Demikian disampaikan Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Hamim Thohari ketika mengisi taushiyah shubuh di Masjid Al Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan disela sela Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Sumatera Utara (Sumut) yang digelar 5-6 Desember 2020.
“Silahkan para santri punya cita-cita apa saja, mau jadi dokter, jadi insinyur, menjadi polisi, menjadi pengusaha, tapi satu hal yang perlu diketahui, diingat dan dipahami bahwa karir dan prosesi termulia dalam pandang Allah adalah menjadi dai, menjadi juru dakwah,” kata Ust Hamim seraya menukil firman Allah Subhanahu Wa Ta’aladalam Al Qur’an surah Fussilat (41) ayat Ayat 33:
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)”
Beliau menekankan, untuk menjadi manusia terbaik, menjadi manusia terhebat dan terunggul tiada cara lain kecuali menjadi dai.
“Dan, di sinilah, di tempat ini, di kampus utama Hidayatullah Medan ini, para santri dilatih, digembleng dan dibina untuk menjadi kader mujahid dakwah,” imbuhnya.
Hamim menerangkan, menjadi dai adalah menjadi manusia pilihan Allah. Dan menjadi manusia pilihan Allah seharusnya menjadi pilihan kita semua. Hanya lewat dan melalui dakwah, maka Islam ini bisa sampai ke seluruh penjuru bumi.
“Bermula dari Jazirah Arab kemudian tersebar dan tersiar ke seluruh penjuru dunia, sampai ke Indoseia, bahkan sampai ke pelosok di tempat dimana kita tinggal dan hidup. Kita semua harus menyiapkan diri untuk menjadi mujahid dakwah,” katanya berpesan.
Beliau menambahkan, di semua daerah di tempat kita bertugas harus tersedia tempat untuk menjadi pintu dakwah sehingga Islam ini bisa jaya dibumi nusantara ini. Dia menamsilkan, kalau ada santri ditanya oleh orangtuanya: “Apa cita-citamu, nak?” Kemudian jawabannya adalah: “Aku ingin menjadi mujahid dakwah yang akan bertugas ke penjuru bumi”, maka itu adalah jawaban yang sangat keren.
“Santri Hidayatullah harus siap untuk tugas dakwah sampai keluar negeri. Sebab sekarang ini perwakilan Hidayatullah di Mesir sudah dibuka. Siapa saja sekarang ini bisa menjadi ilmuwan dan berangkat ke Mesir. Dan kita bisa ke Eropa, pintu sudah dibuka,” ungkapnya.
Diutarakannya, saat ini sudah terbuka kesempatan bagi santri untuk belajar ke luar negeri. Hamim mengaku sangat yakin 10 tahun yang akan datang Hidayatullah akan menyebarkan dakwah sampai keluar negeri.
“Dari Istanbul kita masuk ke Eropa. Istanbul akan menjadi pintu masuk ke Eropa. Kita sudah punya jaringan di Istanbul. Allah siapkan bumi dan langit ini untuk kita. Allah akan tundukkan semua untuk kita. Dan jalan yang paling mudah untuk memasuki Eropa adalah melalui jalan dakwah,” imbuhnya mantap.
Dia menyampaikan Kampus Utama Hidayatullah Medan akan menjadi “menara air”, bukan “menara gading”. Menara air akan memberi manfaat ke semua penjuru, sedang menara gading hanya besar dan indah dipandang oleh orang, tetapi tidak memberi manfaat apa apa.
“Kampus Utama Hidayatullah Medan ini akan menjadi pusat peradaban, pusat kebaikan, pusat gerakan dakwah. Alhamdulillah masjidnya sudah indah, maka harus dihadirkan muadzin yang suaranya indah untuk memanggil umat untuk berjamaah. Allah itu Maha Indah mencintai keindahan,” kata dia.
Maka sebab itu, ia menegaskan, kita harus jaga keindahan kampus ini. Tanaman-tanamannya dan tamannya harus dijaga keindahannya. Harus selalu dan senantiasa dihadirkan keindahan di sini di tempat ini.
“Shalat berjamaah adalah pemandangan yang paling indah. Oleh karena itu, jangan sampai rusak keindahan shalat berjamaah ini karena ada yang santri yang ngantuk. Kader harus semangat. Tidak pengantukan,” katanya berseloroh seraya menutup taushianya.(cam/ybh)
MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Hamim Thohari mengatakan kader dai Hidayatullah jangan hanya menikmati keindahan dan kenikmatan berislam sendirian atau dinikmati komunitasnya saja di mana dia berada. Kader Hidayatullah justru harus keluar menyebarkan rahmat Islam bahkan ke seluruh dunia.
“Keberadaan organisasi kita Hidayatullah sebagai wadah untuk menebarkan risalah Islam yang agung. Harus kita wujudkan ,kita menangkan dan kita perjuangkan. Kampus Hidayatullah harus banyak melahirkan kader yang bisa disebar ke seluruh daerah dan ke seluruh wilayah Nusantara bahkan ke seluruh dunia,” katanya.
Hal itu disampaikan beliau dalam taushiyah shubuh di Masjid Al Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan disela sela Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Sumatera Utara (Sumut) yang digelar 5-6 Desember 2020.
Dia mengatakan, diselenggarakannya Musyawarah Wilayah Hidayatullah Sumut diharapkan akan terbangun jaringan dakwah yang lebih lengkap dan lebih cepat, terorganisir, terstruktur dan massif sedemikian rupa.
Menurut beliau, kegiatan kegiatan yang bersifat koordinatif seperti Musyawara Wilayah penting untuk terus memantapkan langkah ke depan dalam rangka berkhidmat untuk agama, bangsa dan segenap alam semesta.
Termasuk rangkaian acara yang berpusat di masjid seperti taushiah, halaqah Al Qur’an dan kegiatan laporan perjalanan dakwah langsung di hadapan jamaah merupakan bentuk sosialisasi yang sangat luar biasa.
“Dari acara ini santri akan melihat para orangtuanya, para gurunya, para seniornya berkumpul, berdiskusi, bermusyawarah membicarakan kemajuan Islam. Kemudian mereka akan meniru dan tumbuh keinginan menjadi dai seperti para orangtua dan para seniornya yang sudah berkiprah berbagai wilayah dan daerah di Nusantara ini. Ini adalah ajang sosialisasi sekaligus kaderisasi,” katanya.
Beliau mengimbuhkan, hal yang tak kalah penting dan tidak boleh dilupakan adalah bahwah kegiatan taushiyah selepas shalat berjamaah di masjid seperti ini menjadikan anak-anak dan para santri bisa menyaksikan para orangtua dan para seniornya berkumpul bersama.
“Makan bersama, bercanda bersama, berdiskusi dan bersilaturrahmi, merencanakan langkah dan strategi perlangkahan dakwah kedepan,” tukasnya. (cam/ybh)
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar Rapat Pleno yang diselenggarakan selama 2 hari di Kampus Hidayatullah Depok, Jawa Barat, 21-22 Desember 2020.
Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Dr Nasirul Haq, MA yang membuka acara ini memaparkan arah, kebijakan dan strategi Hidayatullah lima tahun ke depan.
Agenda prioritas pada periode 2020-2025 dalam mewujudkan visi organisasi melalui gerakan tarbiyah dan dakwah diawali dengan tri-konsolidasi, yaitu: konsolidasi ideologi, konsolidasi organisasi dan konsolidasi wawasan.
Konsolidasi ideologi ingin memastikan proses internalisasi keimanan atau manifestasi iman dalam setiap aspek kehidupan seorang kader bahkan dalam setiap dinamika organisasi berlangsung dengan intens dan berkualitas sehingga setiap kader bisa merepresentasikan diri sebagai ideolog-ideolog Islam yang mampu berkorban dan punya kesiapan mengambil resiko maksimum untuk izzul islam wal muslimun.
Demikian juga kepemimpinan dalam sebuah Organisasi pergerakan seperti Hidayatullah, harus tergambar suatu kesadaran ideologis yang memadai serta kinerja yang memiliki dampak positif dan kontributif terhadap problem-problem keummatan.
“Kita ingin menjalankan program kerja secara konsisten dengan manhaj yang kita anut selama ini,” katanya seraya menekankan bahwasanya melalui Hidayatullah kita jadikan wasilah dalam rangka menggapai ridha Allah SWT dengan gerakan dakwah dan tarbiyah.
“Kita berorganisasi hanyalah sebuah wasilah, sesungguhnya kita sedang berislam. Kita hadir dalam rangka berQuran dan mendakwahkan Al Quran sebagai jatidiri yang harus menjadi spirit,” pungkasnya.
Insya Allah Hidayatullah akan menggelar Rapat Kerja Nasional pada akhir bulan Desember ini dalam rangka memantapkan program kerja 5 tahun mendatang serta melakukan berbagai penguatan dan evaluasi terhadap berbagai hal.(amj/ybh)
Malam masih pekat, seperti biasa saya membuka PC kesayangan di rumah, kemudian ketemu buku Haryatmoko yang berjudul “Etika Publik untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi.”
Sekalipun terbit pada tahun 2011, buku itu seakan relevan dibaca oleh siapapun yang kini berada di dalam pemerintahan maupun legislatif di DPR.
Satu uraian menarik ada di halaman 165 tentang Transparansi Menghadapi Korupsi Kartel-Elite.
Di sana dituliskan, “Bagaimana mungkin wakil rakyat bisa mengawasi korupsi atau pelanggaran seperti itu kalau partai atau pemimpin mereka menjadi bagian di dalam transaksi besar itu?
Kemudian dilanjutkan, “Apalagi alat penegak hukum (polisi, jaksa) yang jabatan pemimpinnya ditentukan oleh penguasa politik; bahkan seandainya ada aparat yang jujur dan penuh dedikasi pun, tidak bisa tidak juga harus menuruti kemauan kartel-elite itu.
Banyak strategi manipulatif lain yang membuat masyarakat tidak sadar telah diperdaya sehingga kasus-kasus korupsi menguap begitu saja dan koruptor menikmati impunity (tiada sanksi hukum).”
Penjelasan di atas bukanlah uraian baru, namun itulah yang selama ini belum bisa diatasi oleh negeri ini, sekalipun koruptor terus ditangkap dan seruan anti korupsi tidak pernah berhenti disuarakan.
ICW mencatat, sebagaimana rilis sebuah media online, bahwa ada 169 kasus korupsi sepanjang semester I 2020.
Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Wana Alamsyah mengatakan, terdapat 169 kasus korupsi selama periode semester satu tahun 2020.
Hal ini ia katakan berdasarkan pemantauan yang dilakukan ICW sejak 1 Januari hingga 30 Juni 2020. “Kasusnya ada sekitar 169 kasus korupsi sepanjang semester satu 2020,” kata Wana melalui telekonferensi, Selasa (29/9/2020).
Dari 169 kasus korupsi yang disidik oleh penegak hukum, kata Wana, 139 kasus di antaranya merupakan kasus korupsi baru.
Hal ini menunjukkan bahwa realitas bangsa Indonesia masih belum beranjak dari kegelapan berupa langkanya cahaya kejujuran. Ini berarti, keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan bangsa masih menjadi mimpi besar seluruh rakyat Indonesia.
Dakwah dan Tarbiyah
Menyadari kondisi tersebut, apa peran yang bisa kita hadirkan untuk mewujudkan mimpi rakyat Indoensia tersebut? Bagi Pemuda Hidayatullah, jelas, langkah yang harus dikuatkan adalah gerakan dakwah dan tarbiyah.
Dakwah secara umum berarti memperkuat gerakan edukasi, pencerahan dan penyadaran generasi milenial perihal pentingnya menjadi manusia yang jujur, yakin sepenuh hati bahwa rezeki sudah Allah tentukan, sehingga yang perlu jadi mainstream dalam hidup adalah kerja penuh kesungguhan, ikhlas, dan hadirkan mindset dalam diri tidak makan kecuali hasil keringat sendiri.
Mungkin ini terkesan biasa, namun kala ini mewujud dalam bentuk kesadaran dan budaya baru generasi milenial, ke depan mereka bukan lagi orang yang setiap pemilu datang pikirannya, apa yang saya dapatkan dari orang yang akan saya pilih. Tapi sebuah langkah pasti bahwa orang atau partai yang dipilihnya benar-benar jujur, dapat dipercaya dan benar-benar terbukti membela rakyat.
Tarbiyah berarti mengajak generasi milenial kembali pada tradisi-tradisi progresif beradab dalam bentuk aktif dalam komunitas keilmuan, pelatihan, dan kreativitas yang dapat mendorong skill dan kemampuan menjawab tantangan bahkan mandiri dan terdepan secara ekonomi, sehingga keberadaannya mampu memberi kontribusi bagi bangsa dan negara, bukan malah jadi beban dan sampah pembangunan.
Upaya ini bisa dilakukan dengan menjadikan sarana media sosial sebagai alat komunikasi dan publikasi perihal beragam program pendidikan yang dijalankan dan ditawarkan, sehingga semakin banyak generasi muda tersentuh dan terlayani dengan program ini.
Jika ini bergulir dan terus berjalan, maka pencerahan akan terus terjadi dan keadaan perlahan pasti akan dapat kita ubah menjadi lebih baik.
Oleh karena itu, isu, problem, dan segala PR bangsa Indonesia tak cukup dikutuk, tapi harus kita temukan solusi mengatasinya, meski dengan memulai satu langkah yang sederhana. Pepatah mengatakan, “Perjalanan 1000 mil itu dimulai dari satu langkah.”
Di sini, kaum muda harus siap bekerja keras, bekerja sungguh-sungguh dan bekerja ikhlas yang dibuktikan dengan komitmen pada apa yang telah direncanakan untuk segera dituangkan dalam nafas kehidupan sehari-hari. Insha Allah dengan penyempurnaan ikhtiar dalam wujud doa dan musyawarah, keadaan ini perlahan akan bisa kita ubah, insha Allah.
Terlebih dalam kajian Manhaj Sistematika Wahyu kita temukan satu fakta luar biasa, bahwa kejahiliyahan kaum kafir Quraisy bisa diatasi dengan langkah nyata Iqra’ Bismirabbik yang terus digulirkan dan dihadirkan dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain, Pemuda Hidayatullah insha Allah bisa dan akan Allah mampukan untuk mewujudkan mimpi seluruh rakyat Indonesia. Bersemangatlah wahai kaum muda tercinta.*
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Walikota Balikpapan Rahmad Mas’ud menerima kunjungan audiensi silaturrahim rombongan Pengurus Daerah (PD) Pemuda Hidayatullah Balikpapan di ruang kerjanya di Balaikota Balikpapan, Senin (14/11/2020).
Pada kesempatan tersebut rombongan yang dipimpin oleh Ketua PD Pemuda Hidayatullah Balikpapan, Imam Muhammad Fathi Farhat, menyampaikan terimakasih atas kesediaan Wawali pada kesempatan tersebut.
Imam juga sekaligus melaporkan hasil Musyawarah Daerah Pemuda Hdayatullah Balikpapan yang digelar awal bulan ini. Pihaknya meminta doa restu dan menjajaki sinergi kepada kepungurusan baru Pemuda Hidayatullah Balikpapan.
Masih dalam kesempatan yang sama, Imam juga melaporkan kepada Wawali tentang beragam program Pemuda Hidayatullah Balikpapan yang kini sudah dan akan berjalan seperti Ojol Mengaji, Pasukan Oranye, Yatim Dhuafa Mengaji dan lain sebagainya.
Wawali Rahmad menerima hangat kedatangan rombongan tamunya dengan sapaan hangat. Ia juga sempat menanyakan dulu apakah berpuasa sunnah pada hari itu sebelum menyajikan penganan khas.
“Kami punya 6 titik utama di kecamatan yang ada di Balikpapan untuk menghadirkan rumah atau majelis Quran khusus orang tidak mampu dan sudah mempunyai kurikulum dalam penyelenggaraannya,” kata Imam.
Rahmat juga menyambut baik berbagai program yang ditawarkan oleh Pemuda Hidayatullah Balikpapan dalam melakukan gerakan pengarusutamaan memasyarakatkan Al Qur’an terutama untuk kalangan butu aksara kitab suci.
“Program kalian adalah gambaran visi misi kami di pemerintahan nanti, bagaimana Balikpapan ini bisa menjadi Berimandah. Bersih, Indah, Aman, Nyaman dan Bersedekah,” kata Wawali.
Wawali menyampaikan apresiasi dan menyatakan dukungannya untuk mendorong penguatan kontribusi Pemuda Hidayatullah Balikpapan dalam pembangunan terutama dalam pembangunan manusia yang beriman, bertakwa, progresif beradab.
“Pemerintah sangat mengapresiasi dan siap membantu untuk suksesnya program Pemuda Hidayatullah,” tandas Wawali.
Sebelum memungkasi pertemuan, pada kesempatan tersebut Pemuda Hidayatullah memberikan cindremata kepada Wawali Balikpapan yang memiliki makna dan falsafah tersendiri yang diharapkan menjadi bekal spirit bagi Wakil Walikota dalam memimpin Kota Beriman ini. (ybh/hio)
MIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah yang merupakan wadah gabungan organ otonom pendukung dibawah koordinasi SAR Hidayatullah terus bertahan di lokasi tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran yang menimpa puluhan rumah petak di Jalan Seroja, Mimika, Papua, pada Minggu (13/12/2020).
Kepala SAR Hidayatullah Papua, Muhammad Syakir, menyebutkan dapur umum masa krisis ini sudah berlangsung 3 hari yang dikelola bersama dengan relawan Kompak dan Dapoor Noortiz serta sejumlah warga.
“Bersama yang telah dibentuknya, bahkan tim sangat maksimal dalam melakukan pengaturan makanan setiap hari kepada para korban,” katanya seperti juga dilansir Liputan4, Rabu (16/12/2020).
Syakir menambahkan, penutupan aktifitas di dapur umum pasca kebakaran dilakukan setelah ada kesepakatan bersama relawan gabungan.
“Untuk sementara ketersediaan stok logistik masih cukup dan aman karena hingga saat ini logistis terus berdatangan baik dari organisasi, relawan komunitas dan kalangan individu,” katanya.
Pihaknya mewakili tim gabungan relawan mengucapkan terimakasih kepada donatur yang sudah berkontribusi memberikan bantuan kepada korban seraya medoakan semoga Allah SWT membalas dan melipatgandakan pahalanya.
Aktifitas dapur umum untuk korban kebakaran di Jalan Seroja Kabupaten Mimika, sejak hari Rabu resmi ditutup, sedangkan posko pelayanan tetap berlanjut hingga batas tertentu. (ybh/hio)
SEORANG kawan bercerita, selama satu tahun ia berkendara ke mana-mana tanpa sedikit pun merasa khawatir. Ia menjelajahi jalanan di kota-kota yang dikunjunginya tanpa takut ditilang oleh polisi lalu lintas.
Sampai pada suatu hari, ia dicegat oleh polisi dan saat itu baru tahu jika SIM-nya sudah mati sejak setahun sebelumnya. Ia hanya diam termangu-mangu. Ternyata, selama ini ketenangannya tidak dibangun di atas pijakan yang valid. Ia memang tenang, tapi sebenarnya tertipu.
Bagaimana jika masalahnya lebih gawat dibanding urusan dokumen berlalu-lintas di jalan raya? Bukankah akan sangat mengerikan jika kita mengalami hal-hal semacam ini?
Misalnya, dalam urusan kehidupan beragama untuk perjalanan menuju akhirat. Sebab, ketertipuan jenis terakhir ini bisa jadi tidak disadari sekarang. Ia baru diketahui secara pasti tatkala berhadapan dengan Allah di Hari Perhitungan, pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan segala alasan tidak bisa diterima begitu saja.
Allah menyinggung kisah orang-orang yang tertipu ini dalam Al-Qur’an. Perhatikan firman-Nya dalah surah al-Kahfi: 103-105:
“Katakanlah: “Maukah kalian Kami beritahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan-Nya. Maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian pun bagi (amalan) mereka pada Hari Kiamat nanti.”
Betapa banyak orang yang hidupnya tulus dan penuh pengabdian, namun sebetulnya ia tidak mengabdi kepada Allah. Bisa jadi, ia justru mengarahkan pengabdiannya kepada perusahaan-perusahaan dan majikan-majikan duniawi.
Dedikasinya luar biasa, pengorbanannya sangat besar, dan kesungguhannya telah menginspirasi banyak orang. Bahkan ia rela menomerduakan keluarga, kerabat, kawan, dan tanah airnya. Sayangnya, sekali pun tidak terbetik nama Allah di hatinya, sehingga amalnya akan menguap bagaikan fatamorgana di gurun sahara.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an,
“Dan orang-orang kafir itu amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. An-Nuur: 39).
Lalu, apa sebenarnya yang membuat manusia-manusia seperti ini tertipu sedemikian rupa, sehingga tidak menyadari kesia-siaan amalnya kecuali setelah segala sesuatunya amat-sangat terlambat? Menurut Al-Qur’an, penyebab pertamanya adalah tidak mau menuruti bimbingan Allah dan merasa cukup dengan kemampuannya sendiri.
Pada saat itulah, setan akan menempel di hatinya dan menjadi penasehat utama dalam seluruh urusan hidupnya. Maka, sangat boleh jadi, pilihan-pilihannya terlihat hebat dan mengagumkan, namun sesungguhnya tidak bernilai sedikit pun di mata Allah.
Allah menjelaskannya dalam surah az-Zukhruf: 39-40:
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (yakni, Al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkannya). Maka, setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu sungguh menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di Hari Kiamat), dia pun berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antara aku dan kamu (yakni, setan) seperti jarak antara timur dan barat.” Maka, setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia). (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu, karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu. Maka, apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya), dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?”
Keberpalingan dari bimbingan Allah seringkali tidak memberi efek langsung terhadap kehidupan duniawi seseorang. Bahkan, sangat boleh jadi seseorang yang kafir lagi durjana menikmati kehidupan yang sangat nyaman dan lapang.
Wajahnya tetap rupawan, rumahnya terlihat megah, kendaraannya semakin mengkilat, uangnya pun bertambah banyak. Bahkan, ia menjadi idola dan dikerumuni banyak orang, atau memiliki massa melimpah dan dielu-elukan khalayak ramai di mana pun ia hadir.
Hanya saja, jangan tanya bagaimana nasibnya di akhirat nanti. Sebagaimana Allah katakan dalam surah al-Kahfi diatas, “Kami tidak mengadakan suatu penilaian pun bagi (amalan) mereka.”
Menurut al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam Tafsir Zaadul Masir, maksud pernyataan ini adalah: mereka tidak dianggap samasekali, tidak memiliki nilai dan kedudukan sedikit pun di sisi Allah. Na’udzu billah!
Saat ini, ketika Allah masih memberi kesempatan dan waktu, ada baiknya kita menyelisik bagian-bagian hidup kita, satu demi satu. Bertanyalah kepada diri sendiri, tentang pernikahan kita, anak-anak kita, pekerjaan kita, rumah kita, kendaraan kita, gelar-gelar pendidikan yang kita sandang, jabatan-jabatan yang kita emban, dan segala atribut maupun status yang kita miliki.
Untuk siapakah semua ini?
Bila nama Allah tidak terbetik di sana, atau bahkan tidak layak disebut-sebut karena statusnya yang haram dan nista, segeralah berhenti.
Sangat boleh jadi segala ketenangan kita selama ini hanyalah tipuan-tipuan setan yang hendak melalaikan dari jalan yang lurus. Berbenahlah, sebab Allah sangat gembira melihat hamba-hamba-Nya yang mau memperbaiki diri. Wallahu a’lam.