MALUKU UTARA (Hidayatullah.or.id) — Qurban Berkah Nusantara yang senantiasa hadir setiap momentum Idul Adha yang diinisiasi BMH senantiasa hadir menyambangi dan menyapa Warga Negara Indonesia hingga pelosok negeri, kali ini kurban BMH sampai pelosok Maluku Utara, tepatnya di Desa Patlean Kabupaten Halmahera Timur (31/7).
“Menyampaikan amanah kurban hingga pelosok Halmahera terbilang tidak bisa instan. Perjalanan panjang dan medan ekstim harus dilalui. Kala itu tim berangkat pada 29 Juli 2020 dari Ternate menuju Sofifi dengn menggunakan Speed Boat, dengan waktu tempuh satu jam,” terang Kepala BMH Perwakilan Maluku Utara, Arif Ismail (3/8/2020).
“Setelah itu lanjut perjalanan menuju ke Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara selama 5 jam dengan menggunakan kendaraan roda 2. Sepanjang perjalanan hujan panas adalah teman yang harus diakrabi. Pas hujan pakaian basah, biarkan saja, nanti kering di badan tidak menjadi halangan bagi tim,” imbuhnya.
Sampai di Tobelo ternyata belum akhir perjalanan. Tim Qurban Berkah Nusantara BMH harus menunggu kapal kayu untuk menyebrang ke Desa Wasileo, Kecamatan Maba Timur.
Yang ditunggu datang, kapal pun berangkat pada malam hari jam 12 menyebrangi lautan bebas, di tengah jalan kapal bertemu hujan angin, gelombang yang membuat kapal terombang-ambing.
“Dalam penyeberangan delapan jam itu, sebagian tim mabuk laut,” jelas Arif.
Namun, kendala belum usai, tiba di Desa Wasileo tidak ada jembatan untuk kapal bersandar di dermaga.
“Satu-satunya jalan menunggu perahu desa menjemput di tengah laut. Alhamdulillah ada yang jemput,” jelas Arif tersenyum.
Dari Desa Waliseo, 30 Juli 2020, Tim Qurban Berkah Nusantara BMH melanjutkan perjalanan menyusuri hutan dengan menggunakan kendaraan roda dua.
“Tidak disangka perjalan kami harus melewati tanah yang becek, sesekali kami terjatuh karena jalanam yang sangat licin, naik turun gunung, melewati sungai karena tidak adanya akses jembatan,” tuturnya.
Namun seperti janji Allah, bersama kesulita ada kemudahan, akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua hari Tim Qurban Berkah Nusantara BMH akhirnya tiba di desa tujuan, yakni Desa Patlean dengan selamat.
“Kalau sudah tiba di tujuan masha Allah, hilang semua lelah dan kengerian yang dihadapi sepanjang perjalanan. Apalagi kami disambut baik oleh masyarakat, seperti orang yang mereka rindukan,” ungkap Arif Ismail.
Prosesi penyembelihan hewan kurban pun berlangsung tepat pada Hari Raya Idul Adha (31/7).
“Tiga ekor sapi dan 16 ekor kambing akhirnya tunai disampaikan kepada yang berhak menerima, yakni warga desa pedalaman Halmahera yang memberikan kebahagiaan kepada 178 Kepala Keluarga,” kata Arif.
Bahrawi Hasbullah (44 tahun) warga Desa Patlean menyampaikan kebahagiaannya.
“Kami sangat bersyukur dan terimakasih kepada BMH,” ucapnya.
Selain di Desa Patlean kurban juga dilakukan di Desa SP 2 dan Wasileo, Kecamatan Maba Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.
“Perjalanan panjang dan penuh kisah kesabaran dan kepasrahan kepada Allah Ta’ala ini dapat kami lakukan karena niat baik dan ketaatan umat dalam menjalankan ibadah kurban yang diamanahkan melalui BMH, sehingga masyarakat pedalaman, yang sulit dijangkau pun dapat berbahagia di Hari Raya Idul Adha,” pungkas Arif Ismail.*/Herim
Idul Adha menyapa kita kembali. Sekalipun kali ini di masa pandemi, namun kini banyak jiwa yang lebih siap dan berani, gelaran Sholat Idul Adha akan dilakukan di berbagai lapangan dan masjid. Takbir menggema semalam suntuk, bukan saja di pedesaan, tetapi juga sebagian perumahan. Ada luapan kegembiraan, kebahagiaan, dan kemenangan menyeruak di dalam dada.
Inilah momentum yang sepertinya akan terus mendatangkan cahaya terang di seluruh belahan bumi, seiring dengan kembalinya power umat Islam atas kembalinya Masjid Hagia Sophia. Sebuah titik balik kebanggaan dan mungkin kebangkitan umat Islam di seluruh dunia.
Lepas dari itu semua, hari ini, 10 Dzulhijjah 1441 H adalah hari dimana tauhid dimurnikan, dibersihkan, dicemerlangkan, sehingga lahir ketangguhan batin yang mengantarkan raga bahkan logika tunduk secara totalitas kepada kehendak Tuhan.
Hal itulah yang dipentaskan oleh sejarah hingga dunia kini tidak sekedar kagum tapi harus mengikuti, meneladani, dan menjalankan dengan sepenuh hati, sebuah ritual yang sarat makna dan penuh luapan emosi serta kekuatan iman, sehingga Idul Adha benar-benar memiliki maghnet power besar dalam segala dimensi kehidupan, tidak saja spiritual tetapi juga ekonomi, sosial, hingga peradaban itu sendiri.
Bagi Ismail Raji Al-Faruqi tauhid berarti menentang dikotomisasi dalam keilmuan, sehingga tidak ada lagi istilah ilmu umum dan ilmu agama. Semua ilmu satu, bersumber dari Allah Ta’ala. Bahkan dengan Tauhid, Al-Faruqi berupaya untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan, sehingga semua ilmu diharapkan membawa manfaat dan maslahat, bukan mafsadat.
Mafsadat pengetahuan sekarang, seperti belakangan banyak terjadi, dimana ekonomi tidak memiliki empati kepada yang miskin. Dimana kesehatan tidak memiliki perasaan kepada yang tidak memiliki biaya pengobatan, bahkan pendidikan yang belakangan tak bisa diakses oleh keluarga yang tidak punya hanphone dan paket internetan. Bahkan banyak pemimpin lupa diri akan amanah, sehingga memandang rakyat tak ubahnya sapi perah yang bisa diperlakukan sesuka hati.
Ketauhidan Nabi Ibrahim
Untuk memudahkan diri kita memahami mengapa Nabi Ibrahim “berani” menjalankan apapun perintah Allah (termasuk menyembelih sang putra yang dicintai), tidak lain karena kokohnya tauhid di dalam diri ayah dari Ismail dan Ishaq itu.
Kita ketahui bahwa idealnya setiap Muslim masuk Islam adalah secara total, keseluruhan alias kaffah. Ini berarti jiwa sadar dan tunduk atas sebuah realitas bahwa sesungguhnya alam kehidupan ini berporos pada yang satu, yakni Allah Ta’ala, dari Allah dan akan kembali kepada Allah, sehingga kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah,” benar-benar meresap dalam jiwa, lahir dan batin.
Salah satu penegasan Al-Faruqi mengenai tauhid dalam implementasi pada ilmu adalah kesatuan kebenaran dan pengetahuan. Ini bermakn abahwa jika kebenaran bersumber pada realitas, dan jika semua realitas bersumber dari Tuhan, maka kebenaran tidak mungkin lebih dari satu. Jadi, apa pun perintah Allah adalah benar, termasuk perintah menyembelih sang putra.
Nabi Ibrahim pun menjalankan perintah itu setelah melalui serangkaian peristiwa yang disana kita juga mendapati bagaimana adab orang tua menyampaikan sebuah urusan kepada buah hati, yang ternyata dilalui dengan cara dialog, lembut dan tidak tergesa-gesa apalagi memaksakan.
Dalam kata yang lain, umat Islam, terkhusus generasi muda Muslmi harus mampu menangkap esensi tauhid dalam peristiwa bersejarah hari ini untuk selanjutnya menginternalisasikan mutiara dari mengapa Nabi Ibrahim tampil totalitas hingga tidak ragu di dalam mengamalkan apapun yang Allah perintahkan. Langkah ini sangat penting agar muncull izzah di dalam dada kaum muda Islam.
Ketika tauhid kokoh maka spirit rela berkorban atau pengorbanan akan hadir dengan kokohnya. Logika dan kemampuan diri sepenuhnya diletakkan di bawah titah Allah Ta’ala, sehingga yang hadir hanyalah ketundukan, akhlak, dan keindahan.
Kita sama-sama ketahui, Nabi Ibrahim di kala muda adalah rasionalis hebat, ia melihat apapun dicerna, dicermati, dan diteliti apakah sesuatu layak dan pantas disebut Tuhan dan disembah, hingga akhirnya mendapati kebenaran bahwa memang “Tiada Tuhan selain Allah.
Lantas pengorbanan apa yang dapat kita lakukan di masa modern seperti sekarang?
Ingat, sebelum masuk fase berkorban, sejatinya yang paling penting dicatat adalah kokohnya tauhid, iman, dan tentu saja ibadah kepada Allah dari ritual hingga suprarasional. Kalau kita tinjau secara kronologis hidup manusia, perintah berkorban ini hadir saat Nabi Ibrahim benar-benar matang sebagai sosok manusia, setelah sekian lama menanti keturunan. Artinya, sejak awal yang dipegang teguh oleh Nabi Ibrahim adalah ketauhidan.
Ketauhidan tentu saja tidak sesederhana bahasan tauhid yang selama ini ada, tapi bagaimana masuk dalam diri, mengkristal dan mengakar, hingga tidak ada lagi pola pikir dan perilaku, melainkan sesuai dengan kehendak Tuhan. Ketika ini tiba, maka apapun selanjutnya perintah Allah, kita tidak memiliki ruang kecil pun untuk ragu.
Dalam kata lain, idealnya begitu seorang Muslim menjumpai momentum Idul Adha maka tidak ada yang paling ia cinta selain Allah, tidak ada yang ia taati selain Allah, dan tidak ada keraguan atas apapun perintah-Nya, melainkan tunduk dan total di dalam menjalankannya. Ketika diri melihat hewan qurab disembelih, maka kita siap menyembelih nafsu hewani di dalam diri yang sangat destruktif bagi iman, logika, dan kemanusiaan itu sendiri.
Sederhananya, seperti yang diungkapkan oleh Ustadz Abdullah Said dalam Kuliah Syahadat (halaman: 171).
“Semua sahabat Nabi menampakkan perubahan sikap, yang tadinya penakut menjadi pemberani, mereka berubah, utamanya dalam bersikap terhadap berhala-berhala dan tuhan-tuhan palsu. Kebiasaan-kebiasaanl ama yang sudah melembaga tiba-tiba ditampiknya, mereka benar-benar menampakkan perubahan yang mencolok, jauh berbeda dengan sebelumnya. Perubahan ini sangat mendasar, menyangkut semua aspek kehidupan, itulah sikap (pemuda bertauhid yang siap berkorban).” Allahu a’lam.*
Oleh: Imam Nawawi (Ketua Umum Pemuda Hidayatullah)
KUPANG (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) mengadakan musyawara wilayah (Muswil) (23/7/2020). Acara tersebut bertempat di Aula Bersama Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang NTT adapun kegiatan ini juga mengundang para peserta secara virtual.
Imam Nawawi selaku ketua umum pemuda Hidayatullah pada sambutanya menjelaskan bahwa para pemuda Hidayatullah semestinya dapat merespon banyak hal yang sedang terjadi dan juga bersemangat menghidupkan spirit sistematika wahyu (SW) sebagai landasan utama Hidayatullah dalam berdakwah.
“Para pemuda Hidayatullah seharusnya mempunyai minat baca sehingga dapat dapat merespon banyak hal yang terjadi di negeri ini dan juga meningkatkan semangat SW sebagai landasan utama dalam pergerakan dakwah” jelasnya.
Selain itu Imam juga mengatakan bahwa kehadiran organisasi pemuda Hidayatullah telah mendapat respon dan juga perhatian dari para pendiri Hidayatullah yang sangat positif maka alangkah baiknya jika para pemuda Hidayatullah dapat mengaktualisasikan spiritual secara baik. mengamalkan dan mendakwahkan islam secara kaffah.
“Sejatinya pemuda Hidayatullah dapat mengaktualisasikan islam secara kaffah dan Kita harus seperti batu karang, kita harus seperti pohon yg memiliki akar yang kuat menjulang ke bawah” pungkasnya.
Ketua dewan pengurus wilayah (DPW) Hidayatullah NTT Usman Mamang juga dalam sambutannya mengatakan bahwa pemuda Hidayatullah harus memberikan kekuatan positif sehingga kemajuan gerakan dakwah dan tarbiyah islam semakin eksis di NTT.
“Pemuda Hidayatullah harus tampil memberikan dorongan kekuatan untuk kemajuan gerakan dakwah dan tarbiyah agar semakin eksis di NTT” ucap Usman.
Formatur yg terpilih sebagai pengurus ketua pemuda hidayatullah NTT periode tahun 2020-2023:
Ketua Hafsi Al Gadri, Sekertaris Umar Dani Sulaiman, Bendahara Al Gistoh Abbas. Devisi Dakwah Arif Mauboi, Devisi Tarbiyah Budiman Ahmad, Devisi Pengkaderan Ahmad Malikai, Devisi Humas Surahmanto Mauboi.*Usman Aidil Wandan
Jika sebuah organisasi bahkan negara terasa kian banyak masalah daripada anugerah, pesmisme daripada optimisme, maka hal yang perlu dilakukan adalah kembali ke titik awal, mengapa negara ini didirikan.
Hal ini akan membantu semua pihak kembali pada kesadaran mendasar mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan dalam kehidupan ini. Sebagaimana para pendiri bangsa ini berpikir mengapa mereka harus berjuang untuk mendapat kemerdekaan.
Sebuah organisasi atau negara dihadirkan sebagai alat bersama mencapai tujuan terbaik dalam kehidupan, baik secara lahir maupun batin. Dan, tentu saja, segala hal yang menyangkut kehidupan individu dan organisasi itu sendiri mesti benar-benar relevan atau mencerminkan nilai dan karakter dasar yang menjadi nilai dan goal dari sebuah organisasi dihadirkan.
Bagi Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, Hidayatullah adalah rumah peradaban, dimana setiap individu dan organisasi harus berjalan dengan irama manhaj yang kokoh, solid, dan dinamis. Oleh karena itu sangat relevan jika kajian yang senantiasa beliau introdusir adalah revitalisasi syahadat. Mengapa syahadat? Itulah awal bagaimana individu dan organisasi berjalan secara tepat dan konsisten.
Dalam kata yang lain, semakin dimengerti mengapa sebuah organisasi bahkan negara dibentuk, akan semakin memudahkan generasi penerus mengerti mental dan sikap juang seperti apa yang harus mereka hadirkan. Dan, ini sangat penting, karena kita ketahui bersama, kehidupan ini akan terus berubah, yang ibarat perjalanan laut, gelombang tak bisa kita kendalikan apalagi diprediksi.
Sikap Tegas Rasulullah Muhammad
Berbicara organisasi bahkan sampai tingkat negara, umat Islam bahkan dunia tidak bisa lepas dari keteladanan Nabi Muhammad.
Frithjof Schuon, pira keturunan Jerman mengakui hal itu, bahwa jika ada pemimpin mampu melakukan gerakan dengan capaian-capaian spektakuler dengan keterbatasan sumber daya dan dalam waktu yang sangat singkat, maka siapapun tidak akan ada yang mengungguli Nabi Umat Islam itu.
Sayangnya, kebanyakan orang tertarik melihat hasil, tidak pada proses dan latarbelakang. Hadirnya orang seperti Umar bin Khathab itu bukan dengan cara melawan serangan fitnah yang dilancarkan oleh pembesar Quraisy, tetapi akhlak yang dipertontonkan oleh umat Islam.
Termasuk loyalitas kaum Muslimin, tidak dibentuk oleh semata doktrin, tetapi perilaku dan keteladanan. Saat umat Islam harus sedekah, maka Nabi yang paling loyal dalam urusan penting ini. Jadi, doktrin hakikatnya adalah diteladankan, bukan didengang-dengungkan semata.
Lebih jauh, dalam memandang realitas Nabi Muhammad tidak terjebak pada apa yang berkembang, tapi apa yang harus dibangun. Oleh karena itu, Darul Arqam menjadi pusat pembentukan mindset para sahabat. Dengan demikian, bergulirnya waktu diikuti oleh lahirnya pemahaman kokoh dan perilaku solid kaum Muslimin dalam mengejawantahkan keimanan.
Sekarang, banyak organisasi bahkan negara, terseret pada apa yang berkembang, sehingga lepas dari basis yang menjadikan akar kehidupan bangsa dan negara hidup dan berkembang. Ini berlaku di beragam negara di dunia, bahkan negara maju dan adidaya sekalipun.
Jika hal itu yang dijalankan, maka jelas tidak akan ada idealitas baru yang bisa dibentuk. Setingkat negara pun harus merespon “produk-produk” kelompok kreatif yang tidak terlihat, mulai dari isu, teknologi, hingga isme yang sampai sekarang, semua negara terjebak pada masalah tersebut.
Dalam kata lain, kita tidak mungkin mengubah keadaan jika tidak memiliki konsep idealitas yang hendak diwujudkan. Hal ini pasti, karena pandangan kita selalu terseret pada realitas. Sementara realitas itu pasti berubah bahkan bagi kelompok tertentu realitas bisa direkayasa.
Jika kaum Muslimin belajar dengan mendalam, mengapa ayat-ayat pertama Alquran yang turun kepada Nabi Muhammad berbicara dengan nuansa filosofis-progressif, maka kita akan ketahui, bahwa hari ini adalah kesempatan untuk membentuk konsep bahkan blue print idealitas yang seharusnya. Selanjutnya, tekun mengamalkan, mengembangkan secara intelektual dan mensyiarkan ke seluruh dunia.
Langkah ini terkesan jauh dan tidak modern, tapi sebuah prinsip yang dalam bahasa Alquran disebut dengan istilah “sunnatullah” maka sungguh aksesoris perkembangan zaman tak akan benar-benar mampu menggantikannya.
Oleh karena itu, kembalilah pada kesadaran idealitas apa yang akan kita wujudkan, sampai ditemukan konsep, metodologi, hingga penyebaran gagasan yang memadai. Bukan terus-menerus memandang realitas lalu berangan-angan atau pesimis dengan ungkapan-ungkapan yang tak merangsang intelektual dan spiritual bekerja maksimal. Allahu a’lam.
MELAWI (Hidayatullah.or.id) — Musibah angin puting beliung menimpa masyarakat di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Kamis, 16 Juli 2020.
Merespons hal tersebut, BMH dan sejumlah LAZ yang tergabung di Forum Zakat Kalbar melakukan aksi peduli secara kolaboratif.
“Alhamdulillah, Selasa (21/7) kami melakukan aksi kolaboratif membantu korban musibah angin puting beliung yang terjadi di Pontianak Barat dan Utara,” terang Kepala BMH Perwakilan Kalimantan Barat, Ahmad Baidai.
Dalam aksi ini, FoZ membantu 151 lembar seng kepda warga di Jalan Khatulistiwa, Gang Flora. Kelurahan Batu Layang. Pontianak Utara.
Masyarakat penerima manfaat pun berbahagia dengan adanya bantuan tersebut. Tidak terkecuali lurah setempat.
“Terima kasih kepada lembaga zakat serta seluruh masyarakat yang telah ikut serta membantu saudara kita ini,” ungkap Lurah Batu Layang, Mahsyar.
“Insya Allah untuk kebutuhan seng sudah mencukupi. Saat ini yang sangat dibutuhkan adalah sembako,” tambah Mahsyar.
LUWU UTARA (Hidayatullah.or.id) — TASK Hidayatullah Peduli Luwu Utara terus melakukan aksi kepedulian pasca banjir bandang Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, hingga saat ini, Senin (20/07/2020).
Aksi kepedulian antara lain membantu upaya evakuasi para korban banjir bandang, membersihkan masjid, membersihkan permukiman, dan lain sebagainya.
Pekan kemarin pun, misalnya, TASK Hidayatullah antara lain menyisir Sungai Radda dan area pemukiman warga sekitar yang runtuh bercampur lumpur pasir, bersama tim gabungan. Aksi digelar di Desa Radda, Dusun Petambua dan Dusun Meli, Sabtu (18/07/2020).
“Hasilnya, (tim) menemukan 1 korban, perempuan Verawati, tahun,” jelas Hamim salah seorang relawan TASK Hidayatullah, Ahad (19/07/2020). Korban tersebut pun dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
TASK Hidayatullah juga membantu membersihkan perumahan di sekitar Hotel Yuniar.
Di sini, tim menemukan seorang perempuan dalam keadaan meninggal dunia, tanpa identitas, dan hingga kemarin belum teridentifikasi.
“(Juga) kegiatan pembersihan lumpur di Masjid Raya Syuhada Masamba,” sebutnya.
Masjid ini diketahui turut terendam lumpur saat banjir bandang melanda Luwu Utara, Senin malam pekan kemarin.
Selain itu, TASK Hidayatullah juga melakukan assesment di posko pengungsian di Desa Radda.
“Mendirikan WC darurat dan penyediaan sarana air bersih bagi warga sekitar,” sebutnya.
Masih di perumahan warga sekitar Hotel Yuniar, tim membersihkan rumah warga dan menyediakan air bersih.
“Memasang satu mesin air untuk membantu proses bersih bersih warga sekitar,” sebutnya.
Sedangkan di daerah Lombok, masih Masamba, TASK Hidayatullah membantu warga sekitar mengevakuasi barang yang masih layak guna.
Sebanyak 6 personil dikerahkan untuk mengangkat barang-barang warga yang tersisa.
Di daerah Panampung, TASK Hidayatullah melakukan pendistribusian logistik bantuan berupa sembako dan perlengkapan bayi.
Masih di Masamba, di dapur umum, relawan TASK memasakkan makanan untuk para relawan dan pengungsi.
TASK Hidayatullah hingga pekan kemarin terdiri dari Tim SAR Hidayatullah, BMH, Pemuda Hidayatullah, dan DPD Hidayatullah Luwu Utara.
“Kebutuhan saat ini, (antara lain) perlengkapan shalat untuk mushalla darurat,” sebutnya kemarin.
Kebutuhan lainnya berupa beras, tempat penampungan air untuk di tempat pengungsian, pipa dan selang, obat salep dan bedak anti gatal gatal, dan sebagainya.
(Kami) menerima bantuan beras 2 ton dari Pos Dai Sulteng,” kata Hamim menambahkan.*
SUDAH menjadi adat antar bangsa jika ada pelarian politik (minta suaka politik) kepada suatu negara, maka negara itu tidak boleh menyerahkannya kepada negara yang menuntutnya. Sebab, pelarian politik tidak identik dengan orang jahat seperti koruptor.
Beberapa tokoh politik di negara-negara jiran, pernah meminta suaka kepada Kerajaan Saudi Ibnu Sa’ud saat itu. Menurut undang-undang antar bangsa, orang yang minta suaka politik tidak boleh diserahkan. Tetapi, bagi Ibnu Sa’ud ada yang lebih tinggi dari peraturan produk manusia, yaitu undang-undang yang inhern dengan fitrah manusia, ghirah (cemburu) beragama.
Bagi Bangsa Arab, betapa hinanya kalau muru’ah (harga diri) dilanggar. Namanya akan jatuh, karena memperoleh sanksi sosial (hukum tidak tertulis) dari komunitas Arab. Seorang yang meminta keselamatan, akan dilindungi sekalipun harus mengorbankan nyawa.
Dalam sejarah Iraq, pernah tercatat kisah Perdana Menteri Al Kailani, yang dikenal tokoh pro Jerman. Semasa ia menjadi Perdana Menteri, Kailani telah memproklamirkan perang kepada Inggris.
Padahal bantuan Jerman yang diharapkannya tidak kunjung datang. Kesudahannya, Inggris menghancurkan Iraq dibawah kepemimpinannya. Bandara Habbaniyah diduduki. Al Kailani kalah dan melarikan diri.
Secara rahasia, dia datang ke Riyadh dan meminta suaka pada Ibnu Saud. Sa’ud tidak menolak. Bagi Saud, menolak orang yang meminta jaminan adalah kehinaan. Sekalipun, berkali-kali utusan Iraq datang ke Riyadh untuk mendesak agar Al Kailani diserahkan.
Kasus serupa pernah juga terjadi di Suriah. Rezim Adib Syisyakli yang tidak didukung rakyat berakhir dengan kemenangan lawan politiknya, Hasyim Al Attasi. Adib Syisyakli terpaksa melarikan diri sebelum 12 peluru di tubuhnya dikeluarkan.
Dia meminta perlindungan kepada Riyadh. Setelah Ibnu Sa’ud mangkat, digantikan oleh putranya, Sa’ud, ia tetap teguh memegang tradisi ghirah (harga diri dan kebanggan) yang lebih kuat pengaruhnya dari masa ke masa.
Sultan Pasya Atrasyi, seorang pemimpin Suriah yang terkenal sebagai panglima laskar pembela Islam memberontak kekuasaan Prancis tahun 1925. Awalnya, ia setia kepada pemerintah penjajah. Ia tidak bisa berbuat banyak ketika Prancis menduduki tanah airnya. Tetapi, tahun 1925 ia mengambil sikap sebagai pemimpin pemberontak.
Pada suatu hari seorang pemimpin yang ekstrim dikejar-kejar penjajah Prancis, namanya Idham Khan Jar. Pada saat pencarian, sampailah ia di Jabal Druzz, kediaman Sultan Atrasyi untuk minta perlindungan.
Sayangnya, Sultan tidak di rumah. Hanya ada para khadam (pembantu) dan keluarganya. Tapi tentara Prancis tetap mengepung dan menangkap. Esoknya, Sultan gemetar mendengar kisah penghinaan harga diri itu. Baginya, sungguh malu seorang tamu ditangkap di rumah tuan rumah.
Sultan akhirnya mengirim surat permohonan kepada Prancis supaya tawanan itu dikembalikan. Sayangnya, suratnya hanya dibalas ejekan. Sultan akhirnya menulis surat selebaran kepada seluruh pengikutnya. Baginya, rasa malu menyerahkan tamu kepada penjajah tak bisa ditebus kecuali dengan nyawa.
Ia memulai selebaran dengan pepatah Arab, “An Naaru Al ‘Aaru” (api mesiu lebih baik daripada menanggung malu). Maka barangsiapa di antara para pengikutku yang masih memahami arti hidup, ghirah, muru’ah, malu, silakan bergabung bersama, memberontak penjajah Prancis.
Yang takut mati, tidak memiliki rasa cemburu (dayus), silakan hidup terus dengan berselimutkan kehinaan. Kehinaan identik dengan kematian, sekalipun secara fisik terlihat gagah. Dalam hitungan menit, berkumpullah beratus-ratus pahlawan lengkap dengan senjata.
Pemberontakan hebat akhirnya terjadi terhadap Prancis. Itulah pemberontakan paling seru dalam sejarah bangsa Arab setelah Perang Dunia I. Prancis mempertontonkan keganasan dan kekejaman tiada tara terhadap penduduk. Kota Damaskus sendiri dihujani dengan bom.
Karena kekuatan tak seimbang, Sultan akhirnya kalah. Namun baginya, kekalahan tidak menjadi masalah dibanding rasa malu dan kehormatan.
Setelah tidak ada perlawanan lagi, Sultan akhirnya mengundurkan diri ke padang pasir. Sampai tahun 1936, keluar pengampunan massal dari Prancis. Saat itu pula pemimpin-pemimpin yang dalam pengasingan muncul kembali di bumi Suriah.
Wanita, Ghirah, dan Agama
Ghirah dan muruah bukan saja milik umat Islam. Tetapi milik semua bangsa dan agama. Biasanya, ghirah dan harga diri dikenal berkaitan dengan cinta dan wanita. Namun ada juga yang berkaitan dengan agama.
Jika adik perempuan kita atau istri kita diganggu orang, lalu kita berbalik melawan, berarti dalam diri kita masih ada ghirah. Tetapi membiarkan orang lain meniduri istri kita, menunjukkan bahwa kita sudah kehilangan pegangan dan tuntunan agama.
Dalam catatan sejarah, disamping penjajah merampas hasil rempah-rempah kita, juga mengusung program misionarisasi. Program yang selalu diangkat oleh penasehat pemerintah Belanda Snouck Hurgronje atau dikenal dengan nama Abdul Ghafur Al-Holandi adalah ciptakan tasykik (keraguan), tasybih (salah paham) dan taghrib (pembaratan) terhadap Islam.
Dalam kitab “Tajul Muluk” (mahkota para Sultan), sebelum Indonesia berdiri, pendahulu kita telah mewariskan kepada bumi pertiwi ini kultur bernegara (civic culture), persatuan, sosial kontrol dan spirit jihad. Warisan terakhir inilah yang mengantarkan rakyat Indonesia berhasil mengusir penjajah.
Kata Bung Tomo, tak ada ruh tanpa ada suara takbir. Ia, bahkan mungkin kehilangan inspirasi untuk menggerakkan arek-arek Suroboyo berjihad dengan bambu runcing untuk melawan penjajah.
Akhir-akhir ini Barat dengan berbagai cara yang canggih berupaya menghilangkan ghirah umat Islam melalui; makanan, pakaian, hiburan, olah raga dan pemikiran.
Sehingga, sekalipun banyak umat Islam yang memakai atribut Islam, tetapi pikiran dan jiwa Islam telah mulai terkubur. Apa yang kita pikir dan apa yang kita kerjakan adalah sekedar tiruan-tiruan mereka.
Pada zaman klasik, sekalipun secara fisik penjajah mengeruk kekayaan alam kita, tetapi mereka berfikir seribu kali untuk memasuki wilayah-wilayah keagamaan yang sangat personal.
Sekarang, berfikir bebas, melecehkan al-Qur’an, menghina Nabi, menafsirkan seenaknya ayat-ayat, menuduh para ulama salaf dan menghina ulama, seolah menjadi kebanggan kaum akademis. Tak perlu jauh-jauh orang asing atau orientalis. Bahkan itu dilakukan orang-orang yang mengaku cendekiawan Muslim sendiri.
Jika agama dilecehkan, kemudian kita diam seribu bahasa, pasif, dan tidak bereaksi, berarti alamat ghirah dan muruah dalam diri seseorang sudah hilang. Hidup yang kehilangan ghirah dan muruah, sama dengan kematian.
Tanpa ghirah, beragama menjadi kosong, kering, tidak berefek pada perubahan pola pikir dan kepribadian. Dan jika ghirah telah hilang, indikator kita menyediakan diri untuk dijajah.
Seharusnya dengan ghirah dan muruah, kita tidak mungkin bisa terkalahkan. Karena kening kita hanya bersedia ditundukkan kepada Zat Yang Maha Perkasa */Ust. Shalih Hasyim
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Untuk menjaga semangat pemuda, dalam menghadapi pandemi yang telah berjalan beberapa bulan belakangan, Pemuda Hidayatullah Jawa Timur, mengadakan seminar motivasi online, Sabtu (18/7).
Hadir sebagai nara sumber utama; Zain Abidin dan Fauzi Noerwenda. Dalam paparannya, Mas Zein, begitu sapaan akrab Zain Abidin, memberi tips bagi pemuda, agar bisa tetap survive di tengah pandemi, sekalipun tinggal di rumah saja.
“Kunci pertama, hidupkan rumah dan penghuni rumah,” ungkapnya. Yang dimaksud dengan menghidupkan rumah, lanjut founder Motivator Muslim itu, ialah ‘mendesain’ rumah dengan berbagai kegiatan positif.
“Selanjutnya, setiap anggota keluarga harus turut aktif dalam mendukung suksesi kegiatan yang direncanakan. Itulah yang dimaksud dengan menghidupkan penghuni rumah,” gugahnya.
Selain itu, pengusaha material bangunan itu pun mengajak para peserta, untuk tidak meninggalkan doa. “Doa inilah senjata utama orang beriman. Jadilah pendoa yang profesional. Dengan cara memahami dan meyakini betul setiap untaian yang dimunajatkan kepada Allah,” ujarnya.
Sementara itu, setali tiga uang dengan pemateri pertama. Fauzi Noerwanda, membagi tips, bagaimana pemuda bisa tampil sebagai juara. “Beranilah menerima tantangan. Jangan takut mengambil risiko,” ucapnya.
“Seorang yang berani mengambil risiko, dialah yang kelak akan berdiri sebagai pemenang,” tambahnya lagi, dengan mengutip pernyataan petinju legendaris, Muhammad Ali.
Selain seminar motivasi online, pada hari yang sama juga diadakan pelantikan secara virtual seluruh pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Jawa Timur.
Prosesi pelantikan secara virtual itu dihadiri langsung oleh ketua umum (ketum) dan beberapa pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah.
Imam Nawawi, ketum Pemuda Hidayatullah, berpesan kepada peserta untuk menjaga idealisme dalam berjuang. “Caranya, dengan ber-iqra (membaca). Dengan jalur ini, setiap individu hakekat diri sebagai seorang pemuda muslim, sehingga akan melahirkan gerakan,” ungkapnya.
Pada penghujung sambutan, kembali penulis buku Mindset Surga itu, menggugah para peserta, untuk melahirkan karya-karya yang bermanfaat bagi umat.
“Jangan lupa untuk terus berusaha menjaga tiga ketangguhan. Yaitu; ketangguhan dalam organisasi. ketangguhan produk, dan ketangguhan berwacana,” pungkasnya.
Kita memang harus merespon apa yang terus berkembang, terlebih segala hal yang secara langsung berdampak bagi kelangsungan hidup umat Islam di negeri ini, seperti hadirnya RUU kontroversial seperti RUU HIP hingga beragam isu yang secara terang seakan menginjak-injak nilai luhur dan adat ke-Timur-an yang selama ini hidup di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, hal mendasar yang mesti dipahami, bagaimanapun apa yang belakangan muncul tak lebih dari sebuah akibat atau konsekuensi logis dari ketidaksigapan pergerakan umat di dalam konstalasi politik di negeri ini. Dalam kata lain, apa yang belakangan terjadi adalah buah dari upaya gerakan konkret beragam pihak dengan pemahaman atau isme yang tentu saja kering bahkan nir dari nilai-nilai adab dan kemanusiaan.
Menghadapi situasi seperti ini, langkah yang harus ditempuh minimal dua. Pertama terus merespon dengan basis data dan argumen yang superior melalui beragam saluran yang sah secara konstitusional. Kedua, terus menguatkan gerakan pembangunan sumber daya manusia yang spirit dan idealismenya tak dapat ditukar oleh apapun juga. Sebab, sebuah bangsa dan negara akan tetap utuh dan tegak berdiri, selama generasi mudanya memiliki spirit hidup sebagaimana para pendiri bangsa tegak dan berdiri menghadapi hegemoni penjajah.
Ibn Khaldun menjabarkan bahwa sebuah peradaban akan segera runtuh jika generasi pelanjutnya hanya mampu menjadi penerus dengan mental penikmat, bukan pejuang yang siap berkorban habis-habisan. Ini berarti, langkah ke dua sangat menentukan hidup dan matinya gerakan umat Islam di negeri ini di masa mendatang.
Langkah kedua cenderung tidak populer namun penting dan menentukan. Seperti yang diambil oleh Al-Ghazali dalam merespon kelemahan umat Islam dalam menghadapi tentara Salib. Anehnya, di dalam karya besarnya, Ihya‘ Ulumiddin, Al-Ghazali tidak menulis satu bab tentang jihad. Malah, dalam kitab yang ditulis sekitar masa Perang Salib itu, Al-Ghazali menekankan pentingnya apa yang disebut jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu). Akan tetapi dari jihad melawan hawa nafsu itulah segala kebaikan yang dibutuhkan dalam jihad dalam arti turun ke medan laga benar-benar dapat disambut penuh antusias oleh kaum Muslimin.
Relevan dengan apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad ﷺ “Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat mudghah. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Itulah al-qalb.” (HR Muslim).
Meneguhkan hati dan hadirnya idealisme serta visi sejati seorang Muslim tidak bisa tidak harus dengan ilmu. Dalam kajian Ustadz Abdullah Said itu perlu dilakukan dengan meresapi dan menginternalisasikan makna dari Iqra’ Bismirabbik, sampai pada tahap dimana tidak ada keraguan sedikit pun akan pertolongan Allah Ta’ala.
Dan, itu sebenarnya telah diteladankan oleh Nabi ﷺ kala umat Islam masih lemah, sedikit, dan harus sabar di dalam menghadapi keganasan dan kebiadaban orang kafir dari kalangan Quraisy. Kala itu, Nabi ﷺ tidak merespon langsung kekejaman dan kejahatan pembesar Quraisy.
Namun demikian beliau tak berhenti menempa lahirnya generasi yang tangguh iman dan syahadatnya, sehingga dalam situasi sulit seperti itu dakwah bergulir seperti angin yang berhembus. Bahkan beberapa kader terbaik berhasil dikirimkan menguatkan dakwah ke Yatsrib yang kemudian menjadi Madinah. Satu di antaranya adalah sosok pemuda bernama Mush’ab bin Umair, hingga kala tiba masa Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, tidak sedikit anak-anak remaja Madinah yang hafal sebagian besar dari ayat Al-Qur’an yang telah diwahyukan.
Masa 13 tahun di Makkah memang terlihat seakan umat Islam tidak ada perlawanan, namun di sana pesona Islam sebagai agama sekaligus peradaban terus bersinar, hingga para pembesar Quraisy seperti Umar bin Khathab masuk Islam. Artinya, dalam konsentrasi membina iman dan Islam kaum Muslimin cahaya Islam tak mampu dihadang oleh kebengisan kaum kafir Quraisy. Justru sebaliknya, banyak orang yang tertarik dan menjadi Muslim yang tangguh dalam keimanan.
Pada saatnya, kala dua tahun telah berada di Madinah dan panggilan jihad dikumandangkan, kaum Muslimin telah siaga dan berangkat dengan gagah berani. Terbukti 313 umat Islam mampu mengalahkan 1000 pasukan kafir Quraisy. Sayangnya tidak sedikit yang memahami bahwa fakta kemenangan di Perang Badar bukanlah hasil gagah-gagahan, tapi penempaan panjang kaum Muslimin dalam mengamalkan nilai dan ajaran Islam. Sebab betapa pun jihad adalah satu amal mulia, tapi tanpa kemuliaan pelakunya, kemuliaan jihad akan sirna.
Dengan demikian, jika pemuda Islam ingin unggul dalam gerakan masa depan harus mengambil dua langkah sekaligus dengan penekanan lebih kuat pada upaya melahirkan manusia-manusia yang kokoh aqidah dan keimanannya, sehingga kala tiba masa untuk bertarung dalam konteks peradaban, mentalitas kader muda umat benar-benar telah siap dan cakap untuk menjawabnya.
Jika tidak, boleh jadi umat ini akan terus menjadi “tukang” respon dimana tidak ada agenda utama yang bersifat strategis dan dapat diandalkan dalam jangka panjang guna meraih kemenangan dakwah dan pendidikan.
PAPUA BARAT (Hidayatullah.or.id) — Menekuni dakwah memang bukan perkara mudah namun tetap harus dijalani dengan penuh mujahadah dan istiqomah. Itulah yang selama ini dilakukan oleh Pemuda Hidayatullah Papua Barat, tepatnya di Kabupaten Kaimana.
Ketua Pemuda Hidayatullah Kaimana, Fadhlurrahman Anshari menerangkan bahwa untuk dakwah dari pintu ke pintu di kampung seberang yang harus dijangkau dengan sewa longboat Pemuda Hidayatullah tak cukup harus punya kekuatan dana yang memadai, tetapi juga mental dan semangat yang harus membara.
“Papua punya kondisi berbeda. dalam dakwah kita tidak mungkin kumpulkan warga di masjid atau balai pertemuan. Karena itu berarti harus siap dengan biaya konsumsi yang tidak sedikit. Karena itu, salah satu cara kami datang juga di hari Jumat, sehingga bisa sekalian mengisi khutbah. Maka solusinya kami dakwah dari rumah ke rumah. Terlebih kalau kajian seperti di Jawa atau wilayah lain, di sini masih belum bisa dijangkau oleh masyarakat, jadi dakwahnya ya ngobrol, sembari selipkan nilai-nilai Islam di setiap obrolan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, untuk sampai ke kampung seberang tersebut, pihaknya harus menyewa longboat. Perjalanan menyeberangi laut itu ditempuh dalam waktu tiga jam, kemudian berpindah ke kampung berikutnya ditempuh satu jam perjalanan laut.
“Lain longboat lain BBM, jadi kami harus benar-benar himpun dana baru bisa dakwah ke kampung seberang. Sekali berangkat dakwah setidaknya butuh dana trasportasi Rp 3 juta,” urainya lebih lanjut.
Meski demikian sekali dalam sebulan Pemuda Hidayatullah Kaimana rutin dakwah ke kampung seberang yang terdiri dari Kampung Seraran, Kampung Ukiara dan Kampung Sumun. Semuanya berada di Distrik Arguni Bawah.
“Asal ada dana berangkat, biasa kami berangkat, Rp 1,5 juta cukup sampai untuk dakwah. Pulangnya biasa kami memancing ke laut, hasilnya kami jual ke pasar. Alhamdulillah kemarin mancing dapat cukup banyak, sehingga dapat dana Rp 1,2 juta untuk bisa pulang ke Pesantren Hidayatullah Kaimana. Sisanya biasa kami lobi-lobi kecil lah pemilik longboat atau penjual BBM-nya,” ucapnya berseloroh.
Dalam rencana kunjungan dakwah berikutnya Pemuda Hidayatullah Kaimana telah bersinergi dengan Wakaf Quran Suara Hidayatullah dan Pemuda.org untuk penyaluran wakaf Alquran.
“Insya Allah edisi berikutnya akan ada penyaluran wakaf Alquran. Dan, semoga di hari raya Idul Adha juga Pemuda Hidayatullah Kaimana dapat membawa hewan kurban ke desa binaan kami di seberang itu,” pungkas pria yang akrab disapa Bang Alul itu.