Beranda blog Halaman 442

Senin Siang Tim Rescuer Fokus Pencarian Korban dan Serpihan Sriwijaya SJ-182

KEPULAUAN SERIBU (Hidayatullah.or.id) — SAR Hidayatullah bersama tim rescuer gabungan hingga siang ini terus bekerja dengan berfokus melakukan pencarian korban dan mengumpulkan serpihan puing kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

Kepala Divisi Operasi SAR Hidayatullah, Murdianto, mengatakan meski di lokasi pencarian banyak potensi rescuer, namun untuk pencarian dengan penyelaman dilakukan secara hati hati mengingat titik medan yang disebut cukup rawan.

“Untuk pencarian dengan penyelaman dilakukan oleh rescuer dengan seleksi ketat yang harus melalui beberapa pintu. Armada evakuasi dan relawan dibatasi untuk antisipasi kecelakaan relawan,” kata Murdianto dalam keterangannya, Senin (11/1/2021).

Murdianto melanjutkan, evakuasi dengan penyelaman ini melibatkan crane atau alat berat untuk menaikkan bangkai pesawat yang harus dilakukan ahli operator alat berat.

Murdianto menambahkan, potensi sumberdaya SAR gabungan di lokasi bahu membahu bekerja yang dikoordinatori langsung oleh Badan SAR Nasional (Barasnas).

Mereka dikerahkan untuk membantu pencarian serpihan dan korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1/2021).

Personel dan sarana yang dikerahkan secara umum dalam rangka untuk mendukung kegiatan SAR yang dilaksanakan Basarnas, TNI Angkatan Laut serta tim.

Operasi mengumpulkan serpihan pesawat dan pencarian korban dilaksanakan dengan komando dari Basarnas, termasuk waktu pelaksanaan. Tim rescuer gabungan menyesuaikan dengan keputusan dari Basarnas serta dilakukan sesuai prosedur yang ada.

Sementara itu, Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI (Mar) Rasman selaku SAR Mission Coordinator (SMC) mengatakan bahwa area pencarian diperluas menjadi enam sektor. Hal ini disampaikan pada konferensi pers yang dilakukan pagi ini di posko Pelabuhan JICT 2, Jakarta.

Sebelumnya, pada hari pertama dan kedua kemarin dibagi dalam empat sektor. Pencarian dikonsentrasikan di bawah air tetapi juga tetap dilakukan pencarian di atas permukaan hingga ke pantai-pantai. Pencarian di bawah air akan menggunakan Remotely Operated Underwater Vehicle (ROV).

“Unsur-unsur yang terlibat hari ini juga bertambah. Hingga hari ini ada sekitar 2600 personil yang terlibat langsung dalam operasi pencarian dan pertolongan kecelakaan SJ-182,” kata Rasman.

Adapun alut laut yang digunakan diantaranya 53 kapal yang memiliki spesifikasi untuk pencarian dan pertolongan, kemudian sea rider, jetski, RIB yang berjumlah sekitar 20 unit. Jumlah ini menurut SMC sudah sangat cukup untuk diefektifkan penggunaannya sesuai keperluan di lapangan.

Sementara itu alut udara standby sebanyak 13 unit yang siap digunakan sewaktu-waktu diperlukan untuk pelaksanaan operasi hari ini. Sedangkan ambulance yang standby ada 12 unit. Hal-hal yang disampaikan tersebut masih dapat berubah sesuai kondisi di lapangan.

Jumlah alut yang terlibat dan digunakan juga sewaktu-waktu mengalami perubahan seiring masih adanya penambahan dari berbagai potensi yang menawarkan bantuannya dalam operasi pencarian SJ-182. (ybh/hio)

SAR Hidayatullah Turut Bantu Evakuasi Korban Jatuhnya Sriwijaya SJ-182

KEPULAUAN SERIBU (Hidayatullah.or.id) — Relawan SAR Hidayatullah bersama BMH bergabung dengan Tim Rescue Gabungan dalam rangka mendukung pencarian dan evakuasi korban jatuh pesawat Sriwijaya SJ-182.

Pada pukul 10:30 WIB, tim awal SAR Hidayatullah bersama BMH menuju ke Pantai Tanjung Kait, Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Tangerang, Provinsi Banten. Tepat Pukul. 12.41 WIB tim SAR Hidayatullah melapor ke posko induk di pantai Tanjung Kait.

Pada pukul 16:53 SAR Hidayatullah bersama BMH tiba di lokasi. Pada saat team rescuer dan penyelam marinir telah menemukan serpihan peleg pesawat, moncong depan pesawat, dan bagian serpihan lainya dan beberapa pakaian korban dewasa dan anak.

Pada pukul 18:13 WIB, di kapal berikutnya SAR Hidayatullah membantu evakuasi serpihan pesawat berupa gir mesin turbo, sayap pesawat, serta telah ditemukan rambut dan beberapa serpihan tubuh manusia.

“Kondisi tim SAR gabungan sampai saat kami melaporkan, masih terus bekerja,” kata Kadiv Operasi SAR Hidayatullah Pusat Murdianto seperti dilansir laman resmi SAR Hidayatullah.

SAR Hidayatullah bersama BMH menurunkan sejumlah sumber daya di lokasi berupa armada kendaraan Triton dan ambulance serta personil relawan diantaranya Sapriadi (water rescue), Muhammad Hamka (vertikal rescue), Iyan Antono (sea survival), Abdul Rahman (vertikal rescue), Abdul Karim (water rescue) dan Muslim yang bertugas di bagian reportase.

SAR Hidayatullah bergabung bersama dengan TNI-Polisi di lokasi beserta berbagai unsur/unit relawan rescuer seperti Basarnas, Basarnas Special Group (BSG) Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla), Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) dan potensi rescur lainnya.

Di posko ini, relawan SAR Hidayatullah turut mendukung upaya evakuasi dengan membantu mengkondisikan berbagai hasil temuan berupa barang-barang korban dan pecahan rangka pesawat dari lokasi jatuhnya di antara Pulau Lancang dan Laki.

Sementara itu, di lokasi yang menjadi titik jatuhnya pesawat, penyelaman dan pencarian terus dilakukan hingga malam ini oleh pasukan khusus dari Komando Pasukan Katak, Detasemen Jalamangkara (Denjaka) dan Batalyon Intai Amfibi (Taifib) Marinir TNI Angkatan Laut. (ybh/hio)

Sulawesi Tenggara Awali Rapat Kerja dengan Dua Ayat

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah Sulawesi Tenggara (Sultra), Ahmad MS, mengawali sambutannya dalam Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sulawesi Tenggara pada 9/1 di Kampus Madya Hidayatullah Kendari, dengan dua ayat al-Qur’an. Ayat pertama adalah Shaff [61] ayat 4, dan kedua surat al-Hujarat [49] ayat 12.

Kedua ayat ini disampaikan Ahmad MS ketika memberikan sambutan setelah sebelumnya acara rakerwil secara resmi dibuka oleh Sekretris Jenderal DPP Hidayatullah, Candra Kurnianto.

Ayat pertama berbunyi, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
(As-Saff [61]: 4).

Ayat ini, menurut Ahmad, mengharuskan seluruh kader dan anggota Hidayatullah, khususnya di Sulawesi Tenggara, menyusun barisan yang rapi. Caranya dengan bersungguh-sungguh melaksanakan program sentralisasi dan standarisasi yang diamanahkan oleh Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah.

Adapun ayat kedua berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang,” (Al-Hujurat [49]: 12).

Ayat kedua ini, kata Ahmad, memberi pesan agar seluruh kader dan anggota Hidayatullah selalu membangun soliditas. Caranya, jauhi prasangka. “Jangan sampai ada yang bilang ini begini dan itu begitu. Prasangka seperti ini akan melemahkan kita,” jelas mantan ketua DPW Sumatera Selatan ini.

Jika soliditas sudah luntur maka sebaik apa pun program yang disusun, hasilnya tak akan maksimal. Sebaliknya, kata Ahmad, jika DPW solid, amal-amal usaha solid, kader solid, maka akan terbangun shaf yang rapi di Hidayatullah. “Jika shaf kita rapi maka Allah akan mencintai jamaah ini, dan Allah akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita,” jelas Ahmad.

Karena itu Ahmad mengimbau agar musyawarah-musyawarah di antara pengurus harus digalakkan. Begitu juga program taaruf antar kader perlu dilakukan.

Dewan Murobbi Wilayah Sultra sendiri, kata Ahmad, dalam waktu dekat akan mengunjungi seluruh dewan pengurus daerah di seluruh Sulawesi Tenggara. “Termsuk DPD yang sangat terpencil dan katanya hanya ada kader satu orang di sana, akan saya kunjungi,” kata Ahmad lagi. */Mahladi

Hidayatullah sebagai Elemen Perekat Kesatuan Bangsa

TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Walikota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Dakwah Hidayatullah Kota Tarakan sekaligus membuka acara Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara, Sabtu (09/01/2021).

Dalam sambutannya, Walikota Tarakan mengapresiasi, serta mendukung peran dakwah dai Hidayatullah yang memberikan peran besar terhadap pembangunan di kota Tarakan.

Hidayatullah, dan kiprahnya. Menurutnya sangat pesat perkembangannya, khususnya Kota Tarakan, yang tentu saja sangat menggembirakan pemerintah.

Terlebih lagi lanjut beliau, “Hidayatullah dengan gerakannya selaras dengan agenda pemerintah” kata dia.

“Bahkan harapannya bahwa suatu saat nanti bisa menjadi salah satu elemen perekat kesatuan bangsa,” lanjutnya.

Ketua DPW Hidayatullah Kalimatan Utara, Ustadz Endi Haryono sangat berharap agar pada momen Rakewil ini seluruh elemen kader dapat mensinergikan kekuatan untuk meminimalisir kelemahan sekaligus menciptakan peluang yang mampu membawa organisasi ini menjadi lebih baik lagi.

“Mari kita bekerja untuk memberi kontribusi yang signifikan untuk perkembangan organisasi yang berdaya saing dan memberi pengaruh positif bagi bangsa dan negara,” ungkapnya.*/Naser Muhammad

Semangat Juang dan Teladan dari dr Saifuddin Hamid

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Islam selalu memberikan dorongan agar umatnya membaca dengan sebaik-baiknya, bahkan pada tingkat membaca dengan nama Rabb, “Iqra’ Bismirabbik.”

Menariknya, ruang itu selalu terbuka, bahkan dari orang-orang yang tak jauh dari kebiasaan dan kehidupan kita. Satu di antaranya kita bisa lakukan itu atas kepergian sosok pejuang kesehatan, dr. Saifuddin Hamid.

Direktur Islamic Medical Service (IMS), Ust Imran Faizin mengabariku melalui pesan pendek di Whatsapp bahwa telah meninggal dunia, dokter senior dan sosok pendiri dari Islamic Medical Service, dr. Saifuddin Hamid pada hari ini Jum’at 24 Jumadil Awwal 1442 H (8/1/21).

“IMS sedang berduka, tadi sebelum Jum’at dokter pengawas IMS meninggal,” tulisnya yang langsung kubalas dengan doa semoga Allah muliakan beliau di alam barzakh.

Hobi dr Saifuddin Hamid

Menurut Ustadz Imran Faizin, sosok dr Saifuddin Hamid tak ubahnya manusia umumnya, termasuk dalam keseharian, memiliki hobi yang selalu dilakukan setiap ada kesempatan.

Namun, hobi bukan sembarang hobi. “Setiap libur beliau selalu mengadakan bakti sosial. Jadi, tak mau beliau ada waktu senggang, melainkan memberi manfaat bagi sesama,” katanya.

Berkat hobi itu, dr Saifuddin Hamid tak pernah mau ketinggalan dalam setiap aksi bakti sosial di pedalaman. Sebuah titik lokasi yang tak dekat tentunya dan butuh waktu dalam perjalanan.

“Kalau dalam perjalanan, kala malam dan lelah menerpa, beliau memilih tidur di masjid atau mushola, bahkan SPBU untuk istirahat daripada menginap di hotel. Ini bukan soal uang, ya, tapi memang itulah hobinya,” imbuh Ustadz Imran.

Hobi kemanusiaannya memang sangat kental, pada 13 September 2017 bersama BNPB berangkat ke Rohingya untuk memberikan bantuan kepada para pengungsi di sana, yang kondisinya amat memprihatinkan.

“Keadaan pengungsi sangat memprihatinkan sekali,” ungkapnya seperti dirilis hidayatullah.com (30/9/17) pukul 08.00 WIB.

Legacy

Hidup harus memberikan nilai warisan yang positif (legacy) tampaknya benar-benar dapat kita lihat dari sosok dokter senior ini.

“Beliau bersama IMS telah mengkhitan ribuan muallaf,” kata Ustadz Imran.

Lebih dari itu, upayanya untuk menjaga hubungan vertikal dengan Allah Ta’ala sangat intens beliau lakukan.

“Untuk urusan spiritual, beliau selalu umroh dalam beberapa bulan sekali. Tiap tahun juga mendampingi jamaah haji. Jadi padat aktivitas beliau serta sarat makna dan pengabdian kepada umat,” sambungnya.

Kini sosok yang tinggal di seberang Al-Jazeera, Cipinang Cempedak Jakarta Timur itu telah tiada. Segenap keluarga besar IMS dan bahkan Hidayatullah berduka atas kepergian dokter yang gigih dan penuhl legacy ini.

Sekretaris Jenderal Pemuda Hidayatullah, Majelis bin Mustofa menuturkan bahwa dr Saifuddin Hamid juga sangat peduli terhadap generasi muda.

“Selama hidup beliau, sempat beberapa kali mendukung dan bekerjasama membantu BEM STIE Hidayatullah Depok, tepatnya saat seluruh mahasiswa mengadakan kegiatan bakti sosial di Sukabumi,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Jakarta, M. Isnaini mengatakan, “Masya Allah… cukup dekat dengan beliau, beliau sangat baik dan tulus dalam usaha keummatan bersama IMS, beliau dokter senior yang kaya legacy,” ucapnya.

Tidak tertinggal, Direktur Baitul Wakaf, Rama Wijaya menyampaikan, “dr Syaifuddin, pejuang media dan kemanusiaan. Semoga khusnul khotimah dan Allah SWT menerima semua amal baiknya.”

Pimpinan Pesantren Hidayatullah Yogyakarta, Ustadz Syakir Syafi’i juga memberikan kesaksiannya.

“dr Saifuddin Hamid adalah sosok yang cukup lekat di mata kader-kader Jogja, karena beliau bersama IMS sangat sering bolak-balik melakukan aksi kemanusiaan di Jogja dan sekitarnya, khususnya dalam tanggap bencana musibah letusan Merapi.”

Pada akhirnya, generasi muda Hidayatullah dalam hal ini adalah segenap kader dan pengurus serta anggota Pemuda Hidayatullah harus mengambil spirit hidup beliau yang sederhana, namun penuh dedikasi dalam kehidupan umat.

Selamat jalan dokter kebanggaan umat yang tak pernah lelah berjuang menebar manfaat dan maslahat. Semoga kami yang di belakang dapat mengambil semangat dan keteladanan yang telah engkau torehkan dalam berbakti kepada umat. Semoga engkau dalam rida dan surga Allah Ta’ala.

Imam Nawawi (Ketua Umum Pemuda Hidayatullah)

Kampus Utama Hidayatullah Medan Tuan Rumah Sosialisasi Asesmen Nasional Tingkat MTs

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Deli Serdang, Sumatera Utara, menjadi tuan rumah penyelenggaraan Sosialisasi Asesmen Nasional Tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang diikuti oleh unsur pendidik perwakilan berbagai sekolah madrasah Se Kabupaten Deli Serdang yang dibuka hari ini, Kamis (7/1/2021).

Seperti diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) kini terus menyosialisasikan Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional pada 2021.

Asesmen Nasional merupakan program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengatakan perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil.

Asesmen Nasional juga tidak menggantikan peran UN dalam mengevaluasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual. Melainkan menggantikan peran UN sebagai sumber informasi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan.

Merangkum laman Direktorat Sekolah Dasar berdasarkan paparan materi diskusi Rapat Koordinasi Asesmen Nasional, 6 Oktober 2020, Asesmen Nasional untuk kelas 5 Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) akan digelar pada bulan Agustus 2021.

Sementara, Kelas 8 SMP/MTs akan mengikuti Asesmen Nasional pada pekan ketiga Maret 2021, dilanjutkan paket C pada pekan keempat. Di awal April 2021, giliran Paket A dan Paket B mengikuti Asesmen Nasional. Lalu, Untuk kelas 11 SMA/MA dilaksanakan pada pekan pertama Maret 2021, dan Kelas 11 SMK pada pekan kedua Maret 2021.

Direktur Sekolah Dasar Kemendikbud Sri Wahyuningsih menerangkan, Asesmen Nasional terdiri dari tiga bagian yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar. Asesmen Nasional dilaksanakan menggunakan komputer dan secara daring alias online. Murid mengerjakan pada sesi dengan jadwal yang ditentukan dan dengan diawasi. Sedangkan Guru dan kepala satuan pendidikan mengerjakan survei secara mandiri dengan periode waktu yang cukup panjang.

Untuk jenjang SD/MI, di hari pertama Asesmen Nasional dilakukan tes literasi 75 menit dan survei karakter 20 menit. Hari kedua dilakukan tes numerasi 75 menit dan Survey Lingkungan Belajar 20 menit.

Untuk jenjang SMP/MTs, SMA/MA dan SMK, di hari pertama dilakukan tes literasi 90 menit dan Survei Karakter 30 menit. Hari kedua, tes numerasi 90 menit dan Survei Lingkungan Belajar 30 menit.

Pembaca yang budiman juga bisa mengunduh dokumen tanya jawab seputar Asesmen Nasional dan perbedaan Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional (UN) di situs resmi Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Puspendik Kemdikbud) atau klik tautannya [di sini].*/(ybh/hio)

Ponpes Hidayatullah Membina Santri di Boven Digoel Papua

0

BANGUNAN-bangunan sederhana itu berdiri tidak jauh dari pemukiman warga setempat. Beberapa bagian bangunan masih dalam tahap akhir penyempurnaan. Sekilas terlihat tidak begitu menarik dipandang mata, namun siapa sangka di situlah tempat dibinanya para generasi Penghafal Al-Qur’an dan menjadi jantung kegiatan Pondok Pesantren Hidayatullah Boven Digoel, Provinsi Papua.

Kondisi bangunan yang masih dalam tahap penyelesaian itu tidak menyurutkan semangat para ustadz, untuk tetap semangat dalam mendidik santri. Apalagi masyarakat yang semakin menaruh kepercayaan ke pesantren ini untuk mendidik anak-anak mereka belajar dan menghafalkan al-Qur’an. Hal tersebut menjadi semangat dan motivasi bagi para ustadz yang ada.

“Pesantren Hidayatullah ini adalah pesantren pertama yang ada di Boven Digoel. Alhamdulillah, dari waktu ke waktu respon masyarakat sekitar semakin baik, bahkan yang jauh dari daerah sini pun mengantarkan anak-anak mereka untuk belajar al-Qur’an di sini,” ujar Zainal selaku pimpinan pesantren.

Jumlah yang santri yang belajar sekarang ada 200-an anak. Ada yang mukim, ada juga yang pulang ke rumah. Para santri berasal dari berbagai suku. Ada yang berasal dari Bugis-Makasar, ada yang Jawa dan juga putra-putri asli daerah. Dengan berjalannya waktu, kini telah berdiri satu lembaga pendidikan yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs), dengan jumlah murid pertama sebanyak 40 anak.

“Alhamdulillah, pada 2019 dengan ikhtiar yang kuat, kami telah membuka sekolah formal. Walau dengan ruang belajar yang masih terbatas, kami harapkan tidak menyurutkan semangat para santri untuk tetap belajar,” ujar Zainal.

Cikal Bakal Perintisan

Pondok Pesantren Hidayatullah Boven Digoel beralamat di Jalan Trans Papua Titik Nol, Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, berjarak 424 km dari Kabupaten Merauke. Dirintis pertama kali oleh Ustadz Rasto pada 2010, kemudian dilanjutkan pada tahun 2017 hingga sekarang oleh Ustadz Zainal.

Awalnya bermula dari sebuah kontrakan di daerah Kampung Sokaggo. Rumah kontrakan itu menjadi multi fungsi: rumah tingggal, mushola, kantor, asrama dan tempat mengaji anak-anak sekitar.

Para perintis terus bergerak. Mengajar ngaji, menggalang dukungan dan tak lupa mencari lahan untuk pesantren. “Sa’i” mereka tidak percuma. Kesungguhan mereka membuat Allah SWT senang. Munajat mereka yang tak pernah berhenti di sepertiga malam, didengar Allah SWT.

Sang Pemilik Kehidupan pun menurunkan bantun-Nya lewat Aniansyah yang mewakafkan tanahnya seluas 25 x 25 meter yang terletak di Jalan Trans Papua. Kemudian seiring berjalan waktu hasil dari infaq masyarakat dibelilah tanah seluas 25 x 50 meter di samping tanah sebelumnya.

Kini di atas lahan itu telah berdiri beberapa lokal bangunan yang terdiri dari sekolah, asrama santri, serta beberapa petak untuk rumah pengasuh (masih tahap pembangunan).

Minim Fasilitas

Kini pesantren yang mempunyai fokus pada kegiatan sosial, dakwah dan pendidikan ini telah menyelenggarakan sekolah formal, pusat pendidikan anak shaleh (PPAS), rumah dakwah, taman pengajian al-Qur’an (TPA). Selain membuka sekolah formal, pesantren ini juga membuka progam khusus Tahfidzul Qur’an yang dipaketkan bersama sekolah formal.

Fasilitas di pesantren yang belum memadai, mengharuskan bangunan yang ada digunakan secara serbaguna. Para pengurus terus berusaha untuk melengkapi sarana prasarana pendidikan.

Saat ini tengah dalam tahap merampungkan dua gedung, yang akan digunakan sebagai asrama dan sekolah. Walaupun biaya pembangunan yang dibutuhkan besar, pengurus yakin pertolongan Allah SWT pasti akan datang dari tangan-tangan dermawan yang ikhlas.

Selain menyelenggarakan pendidikan formal, pengurus pesantren turut aktif membina masyarakat setempat, dengan membuka rumah dakwah dan membina beberapa majelis taklim yang ada di sekitar maupun yang berada jauh dari daerah pesantren. Dengan pembinaan tersebut, diharapkan masyarakat dapat mengenal pesantren lebih dekat.

“Alhamdulillah, kami juga turut aktif dalam membina beberapa majelis taklim sekitar. Pengajian biasa diselenggarakan di sini tiap bulannya. Semoga kami selalu istiqomah,” lanjutnya.

Selain membina masyarakat, Zainal dan pengurus lainnya intens bersilaturahim dengan tokoh masyarakat, maupun tokoh pemerintahan di Boven Digul. Berkat silaturahim tersebut, banyak yang menaruh simpati, hingga banyak tokoh pemerintahan yang berkunjung ke pesantren.

“Alhamdulilah, selain respon warga masyarakat, beberpa tokoh masyarakat maupun pemerintahan juga sempat berkunjung kesini. Wakil Bupati juga sempat bersilaturahim kepesantren. Alhamdulillah, banyak yang peduli terhadap anak-anak di sini,” ujar Zainal.

Memang faslitas pendukung maupun tenaga dai yang ada di pesantren belum memenuhi kapasitas. Namun semangat yang besar dari para pengurus yang ada untuk melahirkan generasi Qur’ani di daerah yang dulunya menjadi tempat pembuangan pejuang kemerdekaan ini harus disapresiasi bagi semua pihak.

Zainal dan pengurus yakin, mereka tidak sendiri dalam mendidik para santri. Mereka yakin ada Allah yang memudahkan perjuangan melalui angan-tangan dermawan yang ikhlas membantu.*/Supriyanto Refra

Ketika Suami Mengeluh Istrinya Selalu Terlambat Shalat Subuh

0

“SEORANG suami seharusnya tahu diri. Istri yang sekarang ini ketika kecil dirawat oleh ayah bundanya dengan kasih sayang. Disusukan oleh ibunya, kencing dan tinjanya diurus oleh ibunya. Bila sakit, yang susah dan kalang kabut adalah orangtuanya.

Calon suami tidak pernah perduli dengan keadaan itu. Apakah calon istrinya mau mati konyol, dia tidak mau tahu menahu. Setelah anak itu menjadi gadis, barulah datang calon suami melamar. Tahu beres saja. Langsung diambil, dalam keadaan dinikmati saja.

Setelah itu si istri meninggalkan ayah dan ibunya mengikuti suami, dengan satu harapan semoga perlakuan dan kasih sayang yang dia dapati dari ayah dan ibu bisa diberikan oleh suami.

Jadi seorang suami harus mampu memberikan kasih sayang pada istrinya, sebagaimana ayah dan ibu memberikan kasih sayang kepadanya.

Pernah seorang suami melapor kepada saya bahwa istrinya selalu terlambat shalat shubuh. Dibangunkan, tidak mau bangun. Dia pulang dari shalat shubuh, tapi istrinya masih berbaring di tempat tidur.

Disuruh bangun shalat dia menggeliat liat saja. Saya katakan bahwa saya perlu bicara dulu dengan istrinya.

Kepada si istri saya bertanya, kenapa shalat shubuhnya selalu terlambat? Ia menjawab, “Habis Ustadz, kita dibangunkan kaya’ ayam!”.

“Bagaimana cara membangunkannya?”
“Kalau disuruh, dia tendang kaki saya, ‘He, he, bangun!’ Mana mau saya bangun kalau begitu”
“Jadi, bagaimana maumu?”
“Ya…, kaya’ ibu dulu membangunkan saya”
“Digendong?” Sambil tersipu sipu dia menjawab, “Ya…, begitulah barangkali”.

Ternyata si istri ini minta digendong. Carilah satu cara yang tidak betul betul menggendong tapi suasananya seperti digendong.

Katakanlah pada istri, “Aduhai sayang, si manis yang cantik… Bangunlah di subuh hari menikmati keindahan. Apakah perlu digendong?”

Nah, itu yang dibutuhkan oleh istri tadi. Bagi dia itu lebih penting daripada emas yang bergantungan di telinga dan kain yang mahal-mahal.

(Dikutip dari ceramah pendiri Hidayatullah Ust Abdullah Said sebagaimana dinukil dalam buku “Sistematika Wahyu, Metode Alternatif Menuju Kebangkitan Islam Kedua”, hal. 47-48)

Potensi 1,6 Milyar Muslim Dunia

Istiqlal Mosque Eid ul Fitr Jamaah 5

PADA tahun 1975, ahli demografi Carl Haub merasa penasaran terhadap berapa sebenarnya jumlah manusia yang pernah hidup di muka bumi.

Dengan menggunakan 50.000 tahun Sebelum Masehi sebagai titik tolak, ia pun mulai menerapkan angka kelahiran kasar (yaitu perkiraan angka kelahiran tahunan per seribu orang) kepada tiap populasi, lalu menjumlahkan seluruhnya. Hasilnya? Pada tahun tersebut, sekitar 103 milyar manusia pernah dilahirkan, dan hanya 4 persen yang masih hidup saat itu.

Berdasar perhitungan kasar ini, majalah National Geographic Indonesia edisi Juni 2011 memperkirakan pada 2011 jumlah totalnya mencapai 108 milyar. Sekitar 7 milyar masih hidup dengan kisaran 57 juta jiwa yang meninggal tiap tahun.

Tentu saja setelah 2 tahun berlalu, jumlah tersebut sudah meningkat. Pada saat artikel ini ditulis, jumlahnya telah mencapai 7,196 milyar dan terus tumbuh rata-rata 1,14 persen per tahun. Sekitar 50 tahun mendatang jumlah penduduk bumi akan stabil pada angka 10 milyar. Demikian rilis situs Worldometers (Real Time World Statistics, http://www.worldometers.info).

Pertanyaannya adalah, apa potensi dan peluang yang bisa kita ambil dari milyaran orang ini, sebagai pribadi muslim? Tetapi, sebelum itu, mari menyepakati satu hal: bahwa potensi dan peluang tersebut adalah hal-hal yang berhubungan dengan akhirat, bukan duniawi. Kita hanya berbicara tentang persiapan kita menuju kehidupan yang abadi, bukan rencana-rencana bisnis dan kenyamanan hidup yang fana.

Agar dapat membayangkan situasinya secara lebih baik, mari kita pahami fakta-fakta lainnya. Hasil survei Pew Research Center AS (2009), umat Islam dunia mencapai 1/4 total jumlah penduduk dunia (sekitar 1,6 Milyar). Jumlah tersebut melonjak hampir 100% dalam beberapa tahun terakhir.

Secara lebih terinci, CIA Fact Sheet (2007) mencatat jumlah penganut Kristen 33.32% (Katolik Roma 16.99%, Protestan 5.78%, Ortodoks 3.53%, Anglikan 1.25%), Muslim 21.01%, Hindu 13.26%, Budha 5.84%, Sikh 0.35%, Yahudi 0.23%, Baha’i 0.12%, dan agama lainnya 11.78%, ateis 2.32%.

New York Times pernah menulis bahwa 25% Muslim Amerika adalah mualaf. Menurut Ustadz Syamsi Ali (Imam Masjid New York yang asli Indonesia), sampai tahun 2013 ini sekitar 4 ribu orang masuk Islam setiap tahun di Amerika. Dari keseluruhan jumlah Muslim di Eropa, sekitar 60% adalah penduduk asli. Nama Muhammad menjadi nama paling banyak digunakan untuk bayi di Inggris (2010).

Menurut Ustadz Syamsi Ali, sebagaimana dirilis www.hidayatullah.com (29 November 2013), diantara tantangan terbesar dakwah di Amerika saat ini adalah membina para mualaf, dan mengkader para imam, dai, serta ulama’ dari kalangan warga asli sehingga Islam tidak lagi dianggap sebagai tamu.

Di saat bersamaan, Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Tidak kurang 209 juta penduduknya adalah muslim, disusul India dengan 176 juta, Pakistan 167 juta, dan Bangladesh 133 juta. Setelah itu Nigeria, Mesir, Iran, Turki, Aljazair, dan Marokko; di jajaran 10 negara berpenduduk muslim terbesar.

Apa peran yang dapat kita mainkan sebagai bagian dari komunitas muslim terbesar di dunia? Apa sumbangsih kita kepada sesama muslim di belahan dunia lainnya?

Dr. Abdul Mannan (Ketua Umum Ormas Hidayatullah periode 2010-2015) pernah mengatakan, bahwa saat ini kaum muslimin Indonesia mestinya menyiapkan diri secara lebih baik untuk menyambut saudara-saudaranya dari seluruh penjuru dunia. Seiring carut-marutnya situasi politik dan keamanan di sejumlah negara muslim lain, terutama Timur Tengah, mata kaum mualaf sekarang mulai beralih ke Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia.

Bagaimana pun, terbetik kekhawatiran tertentu bagi sebagian kalangan untuk belajar Islam ke negeri-negeri muslim di kawasan lainnya. Bukan masalah ilmu dan ulamanya, bukan pula literatur dan institusinya, tetapi kondisi politik dan keamanannya. Walau kita sangat prihatin dan sedih dengan keadaan tersebut, akan tetapi kita tidak boleh berdiam diri. Selalu ada hikmah yang bisa dipetik dari setiap kejadian, agar semangat hidup tetap terjaga dan pikiran terus positif.

Apakah kita telah mempersiapkan diri sebaik mungkin? Bagaimana strategi pesantren, Madrasah, Ma’had ‘Aly, Perguruan Tinggi Islam, dan berbagai Lembaga Pendidikan Islam lainnya untuk memanfaatkan peluang ini? Bersediakah kita membuka pintu dan mengundang saudara-saudara kita dari Eropa dan Amerika untuk belajar Islam di negeri ini? Bukan hanya secara teori, namun dalam keseluruhan aspek budaya dan peradabannya?

Tidakkah kita berharap menjadi orang yang dicerahkan wajahnya di Hari Kiamat kelak? Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini,

“Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami, lalu ia menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar. Bisa jadi orang yang diberitahu itu lebih mengerti dibanding orang yang mendengarnya (secara langsung).” (Riwayat Tirmidzi, dari Ibnu Mas’ud. Hadits shahih).

Tidakkah kita ingin mendapat pahala sebagai pembimbing jutaan mualaf dari Eropa dan Amerika itu? Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan maka ia akan mendapat pahala setara dengan orang yang melakukannya.” (Riwayat Abu Dawud, dari Abu Mas’ud al-Anshari. Hadits shahih).

Jadi, mari berbenah dan menata diri, sehingga menjadi pribadi maupun masyarakat muslim yang layak dijadikan guru sekaligus pembimbing dalam ber-Islam oleh para mualaf itu. Manfaatkan potensi 1,6 milyar muslim ini!. Wallahu a’lam.

Alimin Mukhtar. Rabu, 01 Shafar 1435 H.

Almarhum Manna Pasannai Tak “Berposisi” Tapi Bertahta di Hati

0
Almarhum Manna Pasannai (atas motor) berbincang dengan Ketua STIS Hidayatullah Ust Masykur Suyuthi

SINJAI (Hidayatullah.or.id) — Kabar duka sekejab menyeruak di segenap sudut sudut ruang nyata maupun ruang maya. Ada yang terkejut lantas berdoa. Ada yang teringat lantas terkenang. Demikianlah ketika kematian saatnya tiba menemui hamba.

Meninggalnya kader dai Hidayatullah, Ust Abdul Manna Pasannai, pada Senin malam, 4 Januari 2021 sekitar pukul 22:55 WIB di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menyisakan sungkawa mendalam bagi orang yang mengenalnya.

Di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Balikpapan, Pak Manna, demikian ia karib disapa, tidak menonjol sebagai dai yang pandai berceramah dari mimbar ke mimbar. Namun, bagi banyak santri, khususnya orang orang yang pernah berinteraksi langsung dengannya, namanya selalu di hati.

“Beliau tak ‘berposisi’ tapi bertahta di hati,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi, mengenang pria yang selalu bersemangat itu.

Pak Manna banyak menghabiskan masa pengabdiannya di dapur umum. Saban waktu dia mengurus makanan para santri, pagi, siang dan malam. Posisi yang barangkali tak dianggap bergengsi, namun Pak Manna menjalani amanah tersebut penuh bakti.

Kesan mendalam misalnya diceritakan oleh Sarmadani saat menjadi santri di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Menurutnya, Manna Pasanai adalah sosok pejuang yang sederhana.

Sarmadani punya kenangan tak terlupakan bersama Pak Manna ketika almarhum menjadi petugas dapur umum. Bagaimana tidak terkenang, dulu saat dirinya masih santri, kadang secara diam-diam dia menyelinap di antara santri Kuliah Muballigh/ Muballighat (KMM), untuk turut mendapat porsi yang cukup untuk makan siang.

“Kadang beliau melotot, dan bertanya, “santri dari mana ini”. Santri dari Manggar, jawab saya singkat. Beliau hanya tersenyum, dan menyodorkan sepiring nasi, komplit dengan sayur dan lauknya,” kisah Sarmadani yang sekarang berdinas di Ujung Pandang ini.

Menurut Sarmadani, Pak Manna merupakan sosok yang tidak pernah juga menuntut banyak. Ia hanya taat ber-Hidayatullah hingga akhir hayatnya.

Sarmadani juga mengemukakan mengenai kebiasaan Pak Manna yaitu ketekunannya dalam beribadah. Meski tertatih, karena usia, dia tidak pernah absen untuk ke masjid. Sholat duduk di antara jamaah. Banyak anak muda yang dikalahkannya, kalau bicara semangat untuk shalat jamaah di masjid.

Senada dengan Sarmadani, salah seorang santri yang pernah menerima tempaan almarhum yaitu Muhammad Idris terkenang dengan ketelatenan Pak Manna dalam menjalankan tugas sebagai kepala dapur umum santri.

Memang menjadi kepala dapur perlu ketegasan. Bagi yang pernah nyantri pasti paham dengan kemelut yang acapkali terjadi di dapur umum.

Seringkali ada santri yang berupaya melakukan aksi “penyelundupan” untuk mendapatkan jatah makan lebih. Terkadang aksi yang demikian itu perlu ketegasan dan almarhum sangat ahli mengawasi hal seperti ini.

“Logat bugisnya yang kental seringkali menjadikan suasana menjadi segar dan bersahabat,” kata Idris mengenang Pak Manna dalam setiap tugas mengawal santri setiap waktu makan tiba.

Bagi Idris, Pak Manna juga dikenal disipilin termasuk dalam ketepatan beliau untuk berangkat dan shalat berjamaah ke masjid.

“Shalat berjamaah seakan menjadi bagian dari dirinya yang tak dapat dipisahkan. Sepanjang perjalanan ke masjid beliau akan menegur santri yang belum bersiap untuk shalat. Selalu hadir di lapangan untuk kerja bakti, seakan tak mau kalah dengan santri,” ungkap Idris.

Ketua PD Pemuda Hidayatullah Balikpapan, Imam Muhammad Fatih Farhat, pun punya kenangan tersendiri. Baginya, Pak Manna adalah salah satu dari sekian orangtua yang paling akrab ke semua kalangan di Hidayatullah.

“Mulai sapaan khas, candaanya yang kental, hingga kedekatannya dengan semua orang seperti family sendiri bahkan orangtua yang senantiasa mencairkan suasana dimana dan kapan saja,” tulisnya.

Selain di dapur, rupanya Pak Manna juga pernah memandu kegiatan Training Center (TC) santri putri atau dalam istilah sekarang seleksi masuk menjadi santri. Hal ini diceritakan oleh Miftah Assa’adah.

Saat mengarahkan kegiatan TC santri putri yang diharuskan membersihkan danau yang disesaki daun teratai, Pak Manna begitu tegas, tampak galak dan tidak ada kompromi. Ia bahkan sampai mengajari cara yang benar membersihkan danau itu.

“Miftah! bukan begitu, ambil batangnya dari dalam air, tarik, nanti yang lain ikut semua! Takut bettul tangan lentiknya rusak…!,” teriaknya seperti dinukil dari kisah Miftah Assa’adah di laman Facebook miliknya.

Tak lama berselang, beliau datang dengan nampan penuh gorengan buatan istrinya serta secerek air es. “Ayo-ayo naik, cuci tangan baru makan ini, habiskan kalau kurang minta lagi.”

Tak terdengar lagi suara sangarnya. Kali ini Miftah dan teman temannya mendengarnya berbicara sangat lembut bak seorang ayah pada anaknya. Sambil menikmati gorengan mereka mendengar celotehnya.

“Jadi santri putri itu jangan manja, harus kuat. Nanti di cabang kau akan belah kayu sendiri, tiup api ditungku, urus suami plus masakin santri,” kata Pak Manna berpesan seperti diutarakan Miftah Assa’adah.

“Begitulah Pak Manna akrab dengan kehidupan kami. Beliau bagai bapak, satpam juga tukang bagi kami. Sedikit-sedikit Pak Manna, hingga beberapa di antara kami turut memanggilnya ayah sebagaimana anak-anak biologis beliau,” kata Miftah Assa’adah mengenang.

Semoga Allah Ta’ala menyayangi Ust Abdul Manna’ Pasannai, mengampuni dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus tertinggi, Aamiin. (ybh/hio)