Beranda blog Halaman 465

Kemenangan Atas Pandemi Saat Ramadan?

0

Virus Covid-19 atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian. Untuk Indonesia menurut pemerintah 582 orang telah dinyatakan meninggal dunia.

Virus ini ganas luar biasa, seluruh dunia dibuat kelimpungan dan sebagian malah sampai lumpuh, seperti Italia dan Inggris. Tetapi, di sisi lain kita bisa melihat bahwa virus ini pula membuat manusia kembali ke ‘awal’ sebagai makhluk lemah yang selama ini mungkin tak begitu disadari seiring perkembangan sains dan teknologi.

Kini manusia dipaksa melupakan kebisingan yang selama ini menemani mereka, bahkan sampai lupa jati diri mereka sendiri apa tujuan mereka diciptakan. Di beberapa Eropa dikabarkan telah diizinkan dikumandangkan Adzan.

Bahkan ada sebuah Negara di Eropa yang meminta imam masjid membacakan ayat Al-Qur’an. Sebuah pemandangan yang jika benar terjadi maka bias diambil hipotesis bahwa masyarakat Eropa mulai butuh kekuatan spiritual dalam hal ini kemukjizatan Al-Qur’an.

Dengan demikian ada semacam isyarat tidak langsung bahwa umat Islam harus bergerak dan terdepan menjawab pandemi ini. Nah, mungkinkah umat Islam sadar dan terpanggil untuk ini?

Momentum Kemenangan

Sebagaimana sejarah, Ramadhan selalu menjadi bulan berkah yang di dalamnya Allah turunkan beragam kemenangan untuk umat Islam. Mulai dari Perang Badar, Fathu Makkah, bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia itu juga jatuh pada bulan Ramadhan.

Sebagai kaum muslimin tentu kita sangat antusias dengan kedatangan bulan suci Ramadhan menjadi. Pertanyaannya apakah bisa umat Islam menjadikan momentum Ramadhan sebagai kemenangan atas pandemi?

Tentu saja tidak ada sebuah kepastian, tetapi jika wabah ini disikapi dengan mental kembali membangun keimanan dan ketaqwaan insya Allah akan berhasil. Tinggal bagaimana secara spirit umat Islam benar-benar mengimplementasikan ketaqwaan kepada Allah.

Taqwa itu sederhana, mulai dari definisi menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, hingga amal-amal konkret, seperti sedekah, infak, dan berbuat kebaikan kepada sesama.

Tentu ini sangat menantang, karena satu sisi secara ekonomi sekarang kondisinya memburuk. Orang yang biasa berpenghasilan akan mengalami penurunan. Di sini akan terjadi tarik-menarik dalam jiwa, infak tidak, sedekah tidak. Jika iman dan taqwanya kuat, maka ia akan memilih tetap berinfak, tetap bersedekah. Karena sedekah atau infak sangat baik kalau dilakukan di saat sempit dan masyarakat amat membutuhkan.

Dalam surat At-Talaq (65) ayat 2-3, Allah berfirman “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (dari segala masalah). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

Dalam ayat ini, Allah akan memberikan jawaban yang tidak terduga bagi setiap umatnya jika kita benar benar bertaqwa atas-Nya, termasuk persoalan wabah Covid-19. Apa senjata terbaik menghadapinya, tentu saja taqwa.

Situasi ini sebenarnya akan memudahkan umat Islam pada derajat tinggi yang menjadi tujuan disyariatkannya puasa itu sendiri, yakni taqwa.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Ketika umat muslim menjalankan ibadah puasa dengan serius serta bersungguh sungguh karena Allah pasti derajat taqwa kian dekat untuk diraih dan upaya menjalankan ibadah tidak bertentangan dengan protokol kesehatan yang dihimbau oleh pemerintah atas seruan physical distancing/social distancing.

Jadi, daripada sibuk mengurus isu-isu yang lain, sebaiknya umat Islam konsentrasi untuk mengisi Ramadhan dengan amal ibadah dengan sebaik-baiknya. Jika tulus dilakukan, ikhlas karena Allah, bukan tidak mungkin Allah akan angkat wabah ini. Pada saat itu terjadi, semoga mata dunia sadar bahwa Islam adalah solusi atas segala problematika kehidupan umat manusia. Langkah ini juga akan lebih mendorong optimisme hadir dan kita giat beribadah selama Ramadhan. Semoga saja Allah benar-benar tolong kita semua untuk menang atas wabah ini. Allahu a’lam.*


Nurhayati , Mahasiswi STIS HIdayatullah Jurusan Akhwal Syakhsiyyah

Ponpes Hidayatullah Makassar Sinergi Himbau Masyarakat Tetap di Rumah

0


MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah menerima kunjungan silaturahmi Poros Pemuda Indonesia (PPI) Sulsel sekaligus menyerahkan bantuan masker dan sembako Kegiatan dilakukan selama dua hari, 17-18 April 2020.

“Kegiatan ini sekaligus meminta kesediaan FPI dan Ponpes Hidayatullah mendoakan agar musibah pandemi covid-19 bisa segera berlalu. Sekaligus hendak meminta mereka ikut mengimbau masyarakat berpartisipasi aktif mencegah penyebaran covid-19,” ujar Ketua PPI Sulsel Taqwa Bahar terkait kegiatan sosial yang dilakukannya.

Pada pertemuan itu, Front Pembela Islam (FPI) Sulawesi Selatan yang juga ikut hadir dan Pondok Pesantren Hidayatullah sepakat mengimbau umat Muslim menggelar salat tarwih pada bulan puasa nanti digelar di rumah selama pandemi covid-19.

Apalagi bagi umat Muslim yang bermukim di Kota Makassar. Pemerintah Kota Makassar akan menerapkan Pembatasan Sosial Besar-Besar (PSBB) mulai Jumat (24/4/2020). Ini dilakukan karena Makassar menjadi episentrum penyebaran covid-19 di Sulawesi Selatan.

Imbauan kedua ormas Islam tersebut juga sesuai permintaan Kementerian Agama Ri kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk melaksanakan ibadah tarwih di rumah selama pandemi covid-19.

“Kami juga mengimbau masyarakat tidak menggelar kegiatan yang sifatnya mengundang keramaian selama Ramadan,” ujar Ketua FPI Sulsel Habib Muhsin saat menerima kunjungan pengurus Poros Pemuda Indonesia (PPI), kemarin.

Menurut Habib Muhsin, FPI Sulsel mendukung Pemkot Makassar menerapkan PSBB. Hal ini dinilai jalan terbaik untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. FPI siap mengambil bagian untuk membantu pemerintah jika dibutuhkan.

Imbauan serupa disampaikan Pimpinan Pesantren Hidayatullah Ustad Abdul Majid. Ia merespon positif kebijakan pemerintah terkait pelaksanaan ibadah selama bulan Ramadhan untuk tetap di rumah saja. Ia juga meiminta tidak menggelar buka puasa bersama.

Masyarakat justru dapat memanfaatkan waktu berbuka puasa dengan keluarga tanpa disibukkan dengan aktivitas di luar rumah.

Ia pun menegaskan perlunya menaati ketentuan pemerintah dalam menerapkan jaga jarak (physical distancing). Juga mengapresiasi Tim Satgas Covid-19 yang dibentuk Polda Sulsel yang antusias dalam penanganan covid-19.

Sebagian mendukung penuh kebijakan pemerintah dan kerja keras Satgas Covid 19 Polda Sulsel, di depan pintu pagar masuk pondok pesantren ada spanduk tertulis “lock down”.

“Semua aktivitas belajar mengajar di Ponpes Hidayatullah BTP Makassar sementara ditiadakan,” jelasnya. (*)

Pemuda Hidayatullah Gelar Aksi Kemanusiaan di Manokwari

0

Manokwari (Hidayatullah.or.id) — Wabah Covid-19 telah meluas dampak yang ditimbulkannya. Bukan saja para lansia dan pekerja informal yang terdampak. Para pekerja dari kalangan muda pun harus merasakan akibat yang cukup serius dari pandemi ini.

Menyikapi hal tersebut, Pemuda Hidayatullah sebagai salah satu organisasi kepemudaan di Tanah Air merasa harus turun tangan, membantu dan bergerak nyata di tengah-tengah masyarakat.

“Alhamdulillah, pada hari ini (18/4) Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Papua Barat menggelar kegiatan pengiriman bantuan sembako untuk masyarakat terdampak di Sidey, Manokwari,” terang Sekretaris Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Papua Barat, Jamal Savalas.

Kegiatan ini berlangsung secara sinergis antara Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Manokwari dengan Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Papua Barat.

“Bantuan sembako ini diterima oleh para santri, masyarakat, dan kaum dhuafa yang tersebar di Distrik Sidey,” imbuh Jamal.

Salah satu penerima manfaat sembako ini adalah Riski Budianto. Ia mengaku senang mendapatkan perhatian dari kaum muda.

“Saya sangat berterimakasih kepada Pemuda Hidayatullah Manokwari, saya bangga anak-anak muda bisa ikut hadir membantu langsung kebutuhan masyarakat. Dengan adanya bantuan-bantuan sembako ini sangat membantu meringankan beban kami. Semoga Pemuda Hidayatullah Papua Barat, terkhusus Pemuda Hidayatullah Manokwari, bisa menjadi Pemuda yang selalu ada di lini terdepan dalam segala kebaikan,” ucap santri Madrasah Aliyah itu.

Menaladani Jiwa Kenabian Rasulullah

0

Kehidupan Muhammad bin Abdullah adalah  kehidupan yang sempurna. Setiap pria normal niscaya memimpikannya : Istrinya cantik dan mulia, putri-putrinya menyejukkan pandangan mata, mapan secara ekonomi, dan terpercaya (al-amin) dalam kaumnya.

Namun begitu, jiwanya tetap gelisah. Di usia 40-an, untuk meredahkan kegelisahan hatinya, seringkali ia menuju Jabal Nur, ber-tahannuts di gua Hira yang berada di lerengnya. Sungguh jauh jarak tempat itu dari rumahnya dan sulit untuk mendakinya.

Kegelisahan yang begitu kuat seolah  mengalahkan segala letih itu. Dengan bertahanuts dia berharap mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam hatinya. Bertahanuts cara yang ia pilih, karena cara itulah yang biasanya dilakukan orang-orang salih jaman dulu, jika mereka menginginkan pencerahan.

Dari ketinggian gua Hira, Muhammad dapat melihat kota Makkah secara keseluruhan. Di bawah langit Makkah yang bertabur bintang tanah kelahirannya itu tampak hening dan tenang. Kecintaan dan kecemasan berkelindan di benaknya saat memandangnya. Ia mencintai kota itu karena ia lahir dan tumbuh di kota itu dengan segala romantikanya. Juga sebagian besar warga kota itu adalah kerabatnya.

Adapun ia mencemaskannya karena ia menyaksikan kota itu tidak lagi ramah. Kerusakan moral menggejala dimana-mana. Orang-orang yang lemah dan kurang beruntung tidak lagi diperhatikan. Hukum bertindak keras terhadap orang-orang lemah, namun lembek bagi orang-orang berkuasa.  Kekayaan hanya berputar di segelintir orang. Orang-orang kaya dan berkuasalah yang menguasai kota itu dari segala aspeknya. Dan mereka, para pengelola kota itu adalah juga termasuk paman-pamannya sendiri.

Ia dan kaumnya adalah ibarat orang-orang yang menaiki sebuah kapal yang sama. Beberapa penghuni kapal itu sedang berusaha merusak kapal tersebut, entah mereka sadari atau tidak. Jika tindakan mereka tidak dihentikan, maka bukan hanya para perusak itu yang akan celaka, tapi seluruh penghuni kapal itu akan binasa, termasuk dirinya. Namun, apa yang dapat ia lakukan ?

Demikianlah, rasa tanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan kaumnya itulah yang membawa Muhammad bertahanuts ke gua Hira untuk bermunajat kepada Sang Pencipta, meminta solusi bagi nasib kaumnya. Jiwa yang semacam ini dipunyai oleh setiap nabi/rasul  dan juga para pembaharu di setiap zaman.

Setiap kali Allah hendak menjadikan seseorang pembaharu bagi kaumnya, maka Dia akan tanamkan dalam hati hamba-Nya tersebut rasa benci terhadap praktek-praktek kaumnya yang menyimpang dari jalan kebenaran di satu sisi, di sisi lain Dia beri taufiq kepadanya untuk menemukan solusinya.  Kita bisa menyebut jiwa yang sedemikian itu sebagai Jiwa Kenabian. 

Kelak Al-Qur’an mengungkapkan  Jiwa Kenabian Sang Rasul Terakhir itu dengan narasi yang indah:

“Sungguh telang datang kepada kalian seorang rasul dari (kaum) kalian sendiri. Terasa berat olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keselamatan dan keimanan) atas kalian, terhadap orang-orang beriman dia amat belas kasihan lagi penyayang.” ( Qs.: 128)

Bagaimana dengan kita? .*Pos Dai

Hidup, Dengan Menghidupkan Hati

0

Di sebuah masjid perumahan di bilangan Bogor Jawa Barat, pada saat khutbah Jum’at (21/12) sang khotib menyebutkan kondisi memperihatinkan yang terjadi pada sebagian besar umat Islam, dimana yang tidak penting menjadi prioritas, sedangkan yang prioritas justru diabaikan.

“Banyak di antara kita yang membaca Al-Qur’an, lima menit pun tidak sanggup. Tetapi betah berjam-jam lamanya membaca Whatsapp, sehingga kita tidak merasa penting memperhatikan iman dan hati kita,” tegasnya.

Dalam era dimana informasi bak gelombang yang datang tiada henti, manusia kerapkali larut pada apa yang menarik perhatian banyak orang (viral), sehingga tanpa sadar, jari-jemari kita, mata dan konsentrasi kita tertarik untuk menyimaknya, pada saat yang sama kita perlahan, tanpa sadar, semakin jauh dari Al-Qur’an.

Kondisi ini, tentu penting kita pahami agar diri tak hidup sekedar bisa melihat, tetapi juga berarti dalam kehidupan ini. Dan, untuk sampai pada kondisi tersebut, tidak mungkin bisa diupayakan, jika kau Muslimi justru jauh dari Al-Qur’an.

Jadi, Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber penting yang dapat menjadikan hati manusia hidup dan menghidupkan kebaikan-kebaikan. Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan hati yang hidup adalah hati yang bisa mengambil manfaat dari setiap ajaran dan peringatan dari Al-Qur’an.

Dengan kata lain, agar hidup ini juga menghidupkan hati, kemudian menghidupkan kebaikan-kebaikan Islam di dalam kehidupan, tidak ada cara terbaik dan sangat penting dan mendesak untuk terus dilakukan, selain daripada berupaya senantiasa membaca kitab suci Al-Qur’an.

Seperti apa hati yang hidup itu? Qatadah berkata, orang itu punya pandangan yang tajam. Ia tak mudah silau oleh godaan gemerlap kehidupan dunia.

Kemudian, Ad-Dhahhak menyimpulkan, pemilik hati yang hidup adalah manusia yang bisa memaksimalkan potensi akalnya untuk memahami dengan benar tujuan kehidupan ini.

Jika sedemikian kebutuhan hati terhadap Al-Qur’an, lantas sudahkah kita membacanya dengan sungguh-sungguh. Atau setidaknya, adakah daftar membaca Al-Qur’an dalam agenda aktivitas selama 24 jam. Paling minimal, adakah lantunan ayat suci Al-Qur’an kita dengar dalam sehari-semalam aktivitas kehidupan kita?

Pertanyaan di atas penting kita ajukan bagi diri sendiri, agar tidak semakin jauh diri berjarak dengan Al-Qur’an, yang menjadikan ruhani kita gersang, lapar, haus, dan tidak mendapatkan nutrisi bergizi, sehingga pikiran dan tindakan tidak lagi sehat alias sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.

Tidakkah kita perhatikan, bagaimana baju, celana, kaos kaki dan sepatu kita perlu dicuci setiapkali dipakai? Seperti apa yang melekat pada badan, hati pun penting kita perhatikan, agar senantiasa bersih.

Dari Ibn Umar ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Hati ini berkarat seperti berkaratnya besi jika terkena air. Lalu beliau ditanya: Apa pembersihnya? Sabda beliau: banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran.” (HR. Al-Baihaqi).

Mari perhatikan bagaimana sejarah masuk Islam-nya sebagian kafir Quraisy. Sebagian karena melihat keagungan akhlak Rasulullah, tetapi tidak sedikit yang masuk Islam karena mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Umar bin Khathab, termasuk sahabat Nabi dari kalangan kafir Quraisy yang memeluk Islam karena mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Jadi, hati yang keras, beku, dan membatu, bisa lunak dan kembali hidup dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’an.

Pantas jika kemudian Malik bin Dinar memberikan suatu penjelasan dengan berseru, “Wahai ahlu Al-Qur’an? Apa yang telah Al-Qur’an tanam pada hati-hati kalian? Sesungguhnya Al Quran itu mampu menghidupkan hati layaknya hujan yang menyuburkan tanah yang tandus sekalipun.”

Semakin hati seseorang hidup, maka akan lebih mudah dirinya mengenal dan mengikuti kebenaran yang telah diteladankan oleh Rasulullah, lebih mudah mengendalikan emosi, lebih paham tentang arti kemuliaan, tujuan hidup yang hakiki, sehingga ia bisa selamat dari segala macam cara berpikir materialis yang nampak bagi kebanyakan orang sebagai keberhasilan. Andai pun kemudahan hidup berupa materi berada dalam genggamannya, maka semua itu semakin memuluskan jalannya menebar kebaikan dan meraih ridho Allah Ta’ala.

Terakhir, tanpa harus mengutip hadits pahala membaca Al-Qur’an, patut kita renungkan bersama, bahwa Al-Qur’an oleh Rasulullah disebut sebagai warisan (pusaka) yang menjamin kebaikan hidup setiap Muslim.

“Aku tinggalkan dua pusaka yang kamu sekali-kali tidak akan pernah sesat selagi kalian berpegang teguh pada keduanya; yakni Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasul-Nya.” (HR. Imam Malik).

Dengan demikian, jika ada yang harus dipegang, dibaca, dicintai, kapan dan dimanapun, itu adalah Al-Qur’an dan Hadits.

Tentu, kita semua berharap dapat menjalani hidup yang dalam 24 jam senantiasa ada bacaan Al-Qur’an membasahi bibir kita, menenangkan jiwa kita, dan menghidupkan hati kita. Sebab, hanya dengan cara itulah hidup ini akan menghidupkan hati, yang berarti, kehadiran kita di muka bumi memberikan manfaat, memberikan arti, dan menebarkan kebaikan-kebaikan ajaran Islam.

Apabila suatu hari, lisan ini berujar keji, maka kita segera sadar, telah jauh diri dari Al-Qur’an, baik dari membacanya, lebih-lebih memahami dan mengamalkannya. Jika suatu saat, pikiran ini begitu menginginkan dunia, sadarlah diri bahwa boleh jadi bacaan Al-Qur’an baru sampai di lisan, belum menembus kedalam kesadaran hati. Al-Qur’an adalah parameter hidup kita, dan jauh dekatnya Al-Qur’an dalam hidup ini, bisa kita lihat dari pikiran, ucapan, dan tindakan kita sendiri.

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Pesantren Tahfidz di Kon-Sel Bagikan Ikan Bandeng

Konawe Selatan (Hidayatullah.or.id) — Keberadaan masyarakat rentan ekonomi yang kian hari kian serius dihantam oleh wabah Covid-19 menjadikan BMH terus berupaya bagaimana sebisa mungkin dapat menjangkau mereka yang membutuhkan seluas mungkin. Salah satunya dengan mengemas panen ikan bandeng di Pesantren Tahfidz Hidayatullah Konawe Selatan menjadi ikan kering alias ikan asing untuk disalurkan ke masyarakat terdampak di Kendari.

“Alhamdulillah, jika sebelumnya panen ikan bandeng telah membahagiakan para santri, dai, dan guru ngaji, serta masyarakat terdampak di Konawe Selatan, hari ini (16/4) kemasan ikan bandeng yang disiapkan bisa membahagiakan masyarakat terdampak wabah Covid-19 di Kendari,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Tenggara, Fatahillah.

Ikan asin itu menjadi pelengkap yang cukup membahagiakan para penerima manfaat. “Subhanallah, ada ikan asin juga ini,” ungkap Halimah seorang janda yang sehari-hari berprofesi sebagai petani.

“Jujur, dapat sembako dari BMH ini sudah luar biasa. Ini ada ikan bandeng pula, masya Allah, terimakasih, ya. Semoga BMH semakin maju, donaturnya sehat semua, rezeki ini, rezeki,” sambung Halimah dengan wajah sumringah.

Selain Halimah penerima manfaat dari program bantuan ketahanan pangan ini adalah tukang ojek dan ojek online, buruh lepas dan janda.

“Sebanyak 100 paket sembako sudah kami salurkan kepada yang berhak menerima, kebahagian sangat terasa oleh mereka yang menerima paket tersebut. Namun bukan hanya itu kebahagiaan dirasakan juga oleh mitra program BMH yang telah mensuplai salah satu paket yang dibagikan oleh BMH yaitu ikan kering bandeng merek SAHIDA yang merupakan produk tambak ikan bandeng pesantren tahfidz Hidayatullah Konawe Selatan yang menjadi binaan BMH,” tutup Fatahillah.

Spirit Peradaban Ustad Abdullah Said

0

Tidak sedikit orang berwacana, bahkan dengan kecerdasan yang mumpuni disertai data yang memadai. Tetapi, begitu ditutup acara, seperti air yang dituangkan di tengah-tengah aspal, ia menguap entah ke mana.

Hal itulah yang menjadikan Ustaz Abdullah Said tak begitu tertarik dengan kecerdasan yang ditampilkan terus tapi tidak menggerakkan dan menguatkan dakwah. Itu juga yang mendorong beliau tak memilih menghimpun kekayaan lalu mendukung dakwah. Tapi beliau memilih menjadi pihak yang berjuang, memikirkan, mengamalkan, dan mengembangkan dakwah Islam. Tak boleh sendiri, harus berjamaah, maka dipilihlah pesantren sebagai wadah perjuangan.

Sebuah langkah strategis yang penuh hikmah dan pelajaran. Relevan dengan ungkapan bijak, “Jika kamu ingin berjalan cepat, maka berjalanlah sendiri. Tapi jika ingin berjalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama.”

Sebenarnya Allah telah mengungkapkan bahwa orang Islam yang bisa berhimpun, berjamaah, solid, kokoh bak bangunan, yang satu dengan lainnya saling menguatkan sangat Allah cintai. Daripada sekedar sosok orang yang banyak bicara tapi kurang aksi nyata. Sebuah isyarat bahwa apa yang diperjuangkan oleh Allahuyarham Ustaz Abdullah Said adalah hal strategis, patut dijaga dan dikembangkan.

Oleh karena itu, teramatlah memprihatinkan jika ada kader yang kajian formalnya adalah kelembagaan, manhaj, namun dalam kehidupan sehari-hari, basis melihat kehidupan, perjuangan, justru lepas dari kenyataan indah yang telah Ustaz Abdullah Said wariskan.

Hidayatullah menghendaki setiap kader berbuat nyata dengan basis logika Ilahiyah yang dikukuhkan oleh argumen-argumen iman dan peradaban. Di sini, diskusi, cara bernarasi dan bahkan memilih diksi, bahkan saat bercanda sekalipun mengarah pada kebaikan-kebaikan iman dan persaudaraan. Bukan yang selainnya.

Pesan untuk Pemuda

Kapan sosok kader akan sampai pada kesadaran melihat apa pun dengan cara pandang Quran dan manhaj adalah ketika kualitas syahadatnya terjaga. Indikasinya ada dua menurut beliau dalam karyanya, “Kuliah Syahadat.”

“Apabila selesai dengan satu urusan, segeralah mengangkat urusan yang lain. Sibukkan diri dalam kegiatan, ambil dan pikul tanggungjawab sebanyak-banyaknya. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada, semua waktu punya harga yang tinggi, jangan dilewatkan. Kehilangan waktu sudah pasti kerugian dan kekalahan.” (lihat halaman 156).

Sebuah kriteria unggul yang kalau benar-benar menjadi karakter dalam diri setiap kader, Subhanallah, tentulah progresifitas itu akan hadir setiap kali kita berbicara, diskusi, apalagi bertindak nyata. Dalam situasi wabah seperti ini misalnya, Pemuda Hidayatullah itu harus hadir dan bertindak nyata, jangan lagi cerita apalagi sekedar berpanjang-panjang komentar pada hal-hal yang tak ada gunanya diperhatikan.

Indikasi kedua, “Kepada Tuhanmu, engkau pusatkan seluruh perhatian dan kekuatan untuk mencurahkan seluruh pinta dan harapan. Dengan demikian lewat ibadah, utamanya di tengah malam bisa dilakukan penyadapan haul dan quwwah Ilahi.” (halaman 156).

Itulah kunci utama untuk menjadikan jamaah ini benar-benar kokoh. Lebih lanjut Ustaz Abdullah Said menjelaskan.

“Manakala onderdil dan seluruh instrumen dalam diri organisasi tidak mengerti apa tugasnya, dan tidak bergerak bila tidak disuruh sebagai akibat kerapuhan manajemen atau program kerja yang sporadis serabutan – sibuk tetapi tidak mengarah maju ke depan, sistem kerja tidak melahirkan mekanisme yang lincah, bahkan proses pengambilan keputusan tidak merangsang dan tidak mendorong otak untuk inovatif dan kreatif – maka dapat dikatakan bahwa organisasi tersebut sedang tertimpa suatu akibat, sebagai hukuman, sama sekali bukan proses terminal.” (halaman 161).

Inilah spirit dan warisan yang telah dicontohkan oleh Ustaz Abdullah Said untuk kaum muda dimana pun berada. Peradaban itu seperti pohon yang baik, akarnya menghujam ke dalam bumi  dan cabangnya menjulang ke langit dan eksistensinya memberi buat berupa manfaat dan maslahat kepada kehidupan.

Itulah visi organisasi ini yang harus menjadikan setiap kader mulai sadar dan meningkatkan kualitas diri, mulai dari syahadat, ibadah, dakwah, tarbiyah, literasi, hingga amal-amal sosial secara nyata, terutama dalam situasi wabah seperti saat ini. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Santri Tahfizh Kon-Sel Panen Hasil Budidaya Ikan Bandeng

KONAWE SELATAN (Hidayatullah.or.id)Nuansa kebahagiaan menyelimuti pesantren tahfizh binaan BMH di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

“Alhamdulillah, pada Selasa  (14/4) Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Sulawesi Tenggara melakukan kegiatan panen ikan bandeng di tambak Pesantren Tahfizh  Hidayatullah Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Sebuah penantian yang akhirnya menghasilkan kebahagiaan bagi santri dan para pengasuh di sini,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Tenggara, Fatahillah.

Panen ini merupakan hasil panjang dari program Pesantren Berdaya yang digagas oleh BMH selama ini.

“Nama program ini adalah Pesantren Berdaya, sebuah program produktif yang diharapkan dapat memberikan dorongan kemandirian bagi pesantren. Alhamdulillah tercapai target dan tujuan dari program ini, sehingga pesantren bisa mandiri dan berdaya,” imbuhnya.

Ia menambahkan, melalui program ini, pesantren tidak saja membekali santri dengan pendidikan agama, tetapi juga life skill. Dalam konteks ini bagaimana mereka bisa mengenal, mengerti dan bisa menjadi pengusaha di bidang budidaya ikan bandeng.

Setelah panen, hasilnya akan dijual dalam dua bentuk. “Pertama dijual dalam bentuk ikan segar, jadi ambil langsung jual ke masyarakat. Kedua, panen lalu diolah untuk dijadikan produk ikan kering dan dikemas, sehingga bisa menjadi varian produk pesantren. Namun, mengingat situasi wabah, kemasan ikan kering bandeng ini akan segera disalurkan untuk keluarga terdampak wabah Covid-19,” tutur Fatahillah.

Ustaz Lutfiuddin, pimpinan Pesantren Tahfizh  Hidayatullah Konawe Selatan mengungkapkan kegembiraannya karena tambak budidaya ikan bandeng di pesantrennya berhasil panen dengan baik. 

“Alhamdulillah, akhirnya tambak kami sudah berhasil dan bisa menghasilkan pemasukan  yang bisa membantu memenuhi kebutuhan pendanaan pesantren,” jelasnya.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BMH yang sejak awal membantu membuatkan lahan kosong di area pesantren menjadi tambak. Bukan hanya itu,  BMH juga mendampingi dan membantu pemasaran hasil tambak pesantren,” sambungnya.

LDK STAIL Bersama Pemuda Hidayatullah Gelar Aksi Kemanusian di Bengkulu

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Menyikapi dampak serius dan kian luas dari wabah Covid-19, LDK Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Surabaya, Rumah Quran Al-Fatih bersama corwdfunding pemuda.org serta Bunda Al-Fatih menggelar aksi kemanusiaan. Aksi kemanusiaan berupa pembagian paket sembako itu menyasar   warga terdampak Covid-19.

Aksi kemanusiaan itu dilaksanakan di Desa Padang Kedeper, Kecamatan MErigi, Kelindang, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Kamis (16/4).

Ketua LDK STAIL Surabaya, Ahlun Nazir mengungkapkan bahwa program ini adalah bentuk tanggung jawab kaum muda yang masih menimba ilmu perihal kepekaan dan kepedulian terhadap sesama.

“Aksi yang LDK STAIL lakukan hari ini bersama Rumah Quran Al-Fatih, pemuda.org dan Bunda Al-Fatih adalah wujud tanggung jawab sosial guna mengasah kepekaan dan kepedulian kaum muda. Ternyata di lapangan kami mendengar langsung tangisan, keluhan, dan rasa syukur orang-orang yang menerima manfaat dari program ini. Ini adalah pembelajaran sangat berarti bagi kami anak-anak muda,” kata Ahlun Nazir.

Pada tahap awal ini,  20 paket bantuan ketahanan pangan telah disalurkan.  Para  penerima manfaat  adalah 14 orang dari kelompok lansia (14 orang),  orang anak yatim (empat orang),  orang sakit (satu orang)  dan  disabilitas (satu orang).

Aksi kemanusiaan ini mendapatkan tanggapan  positif Kepala Desa Padang Kedeper, Sudirjono. “Kami tak melihat berapa yang kalian berikan kepada warga kami, tapi kepedulian kalian ini adalah anugerah besar bagi kami. Semoga semakin banyak lahir pemuda-pemuda yang seperti kalian, peduli dan bertindak langsung menolong orang yang membutuhkan uluran tangan,” ucapnya.

Demikian pula para penerima manfaat.  Mereka tidak saja berterima kasih,  tetapi juga ada rasa haru dan bangga. Sebab,  yang datang mengantarkan bantuan adalah sekolompok anak-anak muda. 

Sementara itu, General Manager pemuda.org Ainuddin Chalik mengatakan, pihaknya memang selalu membuka diri dalam sinergi kemanusiaan khususnya di tengah wabah seperti sekarang.

“Pemuda.org adalah crowdfunding yang dikelola oleh Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, senantiasa siap dan terbuka untuk sinergi program dan aksi kemanusiaan. Alhamdulillah, kami telah melakukan aksi kemanusiaan tersebut  di Depok, Lombok, sekarang Bengkulu dan akan disusul di beberapa daerah lainnya,” tutupnya.

Karena Ilmu, Manusia Biasa Bisa Berjaya

0

Pada tahun 97 H khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berthowab di baitul Atiq. Usai berthowab, beliau menghampiri orang kepercayaannya dan bertanya, “Di manakah temanmu itu ?” Sambil menunjuk ke sudut barat Masjidil Haram dia menjawab, “Di sana, beliau sedang berdiri untuk salat.”

Dengan diiringi kedua putranya khalifah bertandang menuju laki-laki yang di maksud. Beliau dapatkan ia dalam keadaan shalat, hanyut dalam ruku’ dan sujudnya. Sementara orang-orang duduk di belakang, di kanan dan kirinya. Maka duduklah khalifah di penghabisan majlis itu begitu pula dengan kedua anaknya.

Kedua putra mahkota itu mengamati dengan seksama, seperti apa gerangan laki-laki yang dimaksud oleh amirul mukminin. Ternyata dia adalah seorang tua Habsyi berkulit hitam, keriting rambutnya dan pesek hidungnya.

Apabila duduk laksana burung gagak yang berwarna hitam. Usai shalat, khalifah Sulaiman segera mengucapkan salam dan orang tua itu pun membalasnya dengan yang serupa. Kemudian sang khalifah pun menghadap kepadanya dan bertanya tentang manasik haji, rukun demi rukunnya. Dan orang tua tersebut menjawab setiap pertanyaan dengan rinci dan ia sandarkan pendapatnya kepada hadits Rasulullah Saw.

Setelah cukup dengan pertanyaannya, sang khalifah pun beranjak menuju tempat sa’i. Di tengah perjalanan sa’i antara Shafa dan Marwah, kedua pemuda itu mendengar seruan para penyeru, “Wahai kaum muslimin, tiada yang berhak berfatwa di tempat ini kecuali Atha’ bin Rabbah. Jika tidak bertemu dengannya hendaknya menemui Abdullah bin Abi Najih.”

Seorang pemuda itu langsung menoleh kepada ayahnya sembari berkata, “Petugas amirul mukminin menyuruh manusia agar tidak meminta fatwa kepada seorangpun selain Atha’ bin Rabah dan temannya, namun mengapa kita tadi justru datang dan meminta fatwa kepada seorang laki-laki yang tidak memberikan prioritas kepada khalifah dan tidak pula memberi hak penghormatan khusus kepada khalifah.”

Sulaiman berkata kepada putranya, “Wahai anakku, pria yang kamu lihat dan engkau melihat kami berlaku hormat di hadapannya tadilah yang bernama Atha’ bin Rabah, orang yang berhak berfatwa di masjid al-Haram. Beliau mewarisi ilmu Abdullah bin Abbas dengan bagian yang banyak.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Wahai anakku, carilah ilmu, karena dengan ilmu rakyat bawahan bisa menjadi terhormat, para budak bisa melampaui derajat para raja.” (Disadur dari kitab Shuwaru min Hayati at-Tabi’in karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya).

Ilmu, Pelita Kemuliaan

Sesungguhnya kemuliaan bukan hanya milik orang yang bertahta atau berharta. Bukan pula milik para rupawan dan memiliki popularitas. Tetapi, kemuliaan bisa diraih oleh setiap hamba. Ia bisa diraih oleh orang bawahan, rakyat jelata, bahkan oleh budak sekalipun.

Kisah di atas bukti nyata bahwa kemuliaan bisa diraih oleh siapa saja. Betapa uniknya seorang hamba bersahaja seperti Atha’ bin Rabah yang dalam status sosial dia termasuk orang rendahan bahkan pernah berstatus sebagai budak, tapi kemuliaannya menjulang tinggi. Apa sesungguhnya yang istimewa pada diri Atha’ bin Rabah?

Sementara di masa kecilnya, dia hanyalah seorang budak milik seorang wanita penduduk Mekkah. Dia juga bukan sosok yang rupawan.

Yang istimewa pada diri Atha’ adalah karena ilmu yang dimilikinya. Berkat ilmunya itu dia disegani dan dinanti fatwa-fatwanya. Dengan ilmunya itu dia berada pada puncak kemuliaan. Hal itu diakui oleh Abdullah bin Umar r.a.

Suatu ketika Abdullah bin Umar r.a. berkunjung ke Mekkah untuk umrah. Orang-orang mengerumuni beliau untuk menanyakan persoalan agama dan meminta fatwa kepada beliau, lalu beliau berkata : “Sungguh aku heran kepada kalian wahai penduduk Mekkah, mengapa kalian mengerumuni aku untuk bertanya tentang masalah-masalah tersebut padahal di tengah-tengah kalian ada Atha’ bin Rabbah.”

Itulah istimewanya ilmu. Dengannya orang biasa bisa berjaya. Rakyat bawahan menjadi bermartabat. Seseorang bekas budak menjadi terhormat melampaui derajad para raja. Dan apa yang diraih Atha’ bin Rabah merupakan bukti kebenaran janji Allah SWT dalam firman-Nya,

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

“……niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah : 11) *Hidcom