Beranda blog Halaman 480

Kampus Ponpes Hidayatullah Bintan Didik Santri Sekaligus Bertani

0

Di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bintan, Kepulauan Riau, santri tidak hanya diajarkan ilmu agama tetapi diarahkan juga menghidupkan pertanian tentang bagaimana bercocok tanam dan kegiatan lain seperti olahraga karate dan sains.

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”yIB_T4BVlBg?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Pohon Sengon Berdampak Positif Bagi Pesantren Hidayatullah Balikpapan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Mahakam Berau Kementerian LHK yang telah memberikan bibit pohon sengon sebanyak 8.000 batang rupanya memberikan dampak positif bagi pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pasalnya, bibit pohon yang diberikan secara gratis oleh Persemaian Permanen BPDASHL Mahakam Berau itu membawa perekonomian lebih baik bagi pesantren yang berlokasi di Jl Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur itu.

Pembina Kelompok Tani Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Rusdi, mengatakan pihaknya sangat bersyukur sekali mendapatkan ribuan batang bibit pohon sengon ini secara cuma-cuma. Menurutnya, pohon tersebut sangat membantu untuk perekonomian pesantren.

“Pohon ini punya nilai jual kalau sudah besar. Kalau pohon ini mempunyai ukuran diameter sekitar 30 atau 40 cm harga jualnya sekitar Rp 200 ribu sampai 300 ribu per-batang,” beber Rusdi kepada JPNN.com di Balikpapan, Kamis (12/12).

Sebagai awalan, lanjut Rusdi, pihaknya telah menanam 8.000 batang dengan luas tanah sekitar 10 hektar yang sebelumnya ditumbuhi tanaman yang kurang bernilai ekonomi. Penanaman tersebut langsung dikerjakan oleh anggota kelompok tani pesantren Hidayatullah dan dibantu santri.

Rusdi menjelaskan, pohon yang ditanam sejak 2017 diharapkan dalam dua tahun ke depan akan tumbuh besar. Rencananya mereka akan menebang pohon tersebut untuk dijual.

“Butuh waktu sekitar 5 tahun supaya pohon ini punya nilai jual yang tinggi. Paling dua sampai tiga tahun lagi kami akan panen pohon sengon ini. Pohon ini kemungkinan akan kami jual. Nantinya uang hasil jual untuk kebutuhan biaya operasional pondok pesantren,” tuturnya.

“Kami jual kepada pengepul. Biasanya kalau pengepul akan datang sendiri untuk memborong kayu ini. Apalagi lahannya juga mudah bisa dimasuki truk,” sambungnya.

Rusdi menyebut kemungkinan mereka akan melakukan penanaman pohon serupa ataupun dengan jenis pohon yang lain, apalagi bisa bermanfaat untuk orang banyak.

“Kami juga berencana akan menanam pohon durian, jambu, gaharu dan beberapa pohon lainnya. Kami juga sudah mengajukan permohonan kepada BPDASHL Mahakam Berau untuk menyiapkan bibitnya,” tegasnya.

Rusdi berharap, ke depannya BPDASHL Mahakam Berau bisa memberikan bibit tanaman produktif. Sebab, bibit tersebut lebih cepat berkembang.

“Jujur saja pesantren ini memang sangat perlu sekali bibit yang unggul untuk segera kami tanam. Soalnya kami melihat bibit pohon itu ketika sudah besar dapat membantu ekonomi kami juga,” pungkas Rusdi.(mg9/jpnn)

Riyanto Sofyan: Pasar Halal telah Jadi Pasar Besar Dunia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Prinsip ekonomi dalam Islam itu seimbang dan lengkap serta tersusun sangat rapi. Hanya saja ekosistem kehidupan ini akan menjadi rusak jika ada yang zalim.

“Karena ada yang rakus, ada yang zalim, sehingga ada kemiskinan dan lain sebagainya,” terang Chairman PT Sofyan Hotels Tbk, Riyanto Sofyan saat menjadi nara sumber Majelis Reboan di Meeting Room II DPP Hidayatullah Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Majelis Reboan tersebut membahas perihal Pengembangan Pariwisata Halal Sebagai Motor Penggerak Ekonomi Umat, Peluang dan Tantangannya.

Ia menambahkan, Islam yang diturunkan melalui Rasulullah SAW itu tujuannya ada dua. Pertama al-falah, artinya kesuksesan, keberhasilan. Kedua, hayatan thoyyibah (kehidupan yang baik).

“Dua hal itu hanya bisa tercapai jika ada yang dijaga. Pertama adalah ad-din (agama Islam). Ini berbeda dengan pandangan umum yang menyebutkan kebutuhan utama manusia hidup itu adalah sandang, pangan, papan. Dalam syariah, kebutuhan yang pertama justru ad-din (keimanan), kemudian an-nafs (jiwa), al-aql (akal sehat), an-nasl (keturunan), dan al-maal (harta),” tegasnya dalam rilis yang diterima redaksi.

“Kalau ad-din sudah ada di dalam diri kita, maka semua urusan akan selesai,” imbuhnya.

Lebih lanjut Riyanto menjabarkan, pasar halal benar-benar telah menjadi pasar besar dunia. “Pasar halal sekarang yang terbesar di dunia. Jadi bukan hanya ceruk pasar lagi. Sudah jadi pasar utama,” ujarnya.

Ia mengemukakan, pasar halal telah berevolusi, mulai dari makanan, keuangan, hingga gaya hidup.

Gaya hidup di dalamnya ada pariwisata. Kata Sofyan, data dari SICTA-WTO menyebutkan, ada 185 aktivitas usaha di bidang pariwisata yang memiliki pengaruh ekonomi terbesar.

“Kemudian World Bank menyebutkan pariwisata menjadi kontributor terbesar secara efisien dan cepat dalam peningkatan GDP, dan pertukaran warga dunia,” ulasnya.

Sekarang, lanjut dia, bagaimana Indonesia mampu memenangkan persaingan pasar halal global ini, terutama dalam bidang pariwisata.

“Langkah strategis yang harus dilakukan Indonesia adalah menciptakan dan mengembangkan icon serta mempromosikan paket wisata halal unggulan Indonesia. Kemudian promosi dan aktif melaksanakan leadership initiatives guna meningatkan brand equity Indonesia sebagai destinasi utama wisata halal dunia,” urainya.

Langkah tersebut harus diambil karena pasar pariwisata halal sangat tinggi. “Pada saat yang sama hal itu dapat menggerakkan seluruh komponen penggerak ekonomi kecil dan menengah di dalam negeri,” papar Riyanto Sofyan.

Majelis Reboan adalah forum disuksi dan sharing perihal ekonomi di Indonesia yang dibidani langsung oleh Kepala Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah, Asih Subagyo. Majelis ini rutin diselenggaran sepekan sekali pada hari Rabu.*

Islam sebagai Sistem Hidup Paripurna, Utuh Menyeluruh

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Memandang Islam idealnya bukan sekedar ajaran, terlebih yang berdimensi ritual, tetapi juga harus dipandang sebagai sebuah sistem, utuh, dan menyeluruh.

“Islam ini adalah sistem hidup, ia sempurna, karena semua hal yang dibutuhkan manusia ada ulasannya, ada aturannya, dimana setiap aturannya tuntas dan paripurna,” terang anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ahkam Sumadiana, dalam tausiyah selepas shalat Shubuh di Masjid Baitul Karim, Komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta (6/12/2019).

Pria yang hobi olahraga bulutangkis itu melanjutkan bahwa tidak mungkin orang bisa meragukan Islam sebagai sistem hidup.

“Bukti Islam sebagai sistem hidup yang sempurna dan paripurna bisa dilihat aspek yang diatur. Hingga persoalan WC ada aturannya dan dibahas secara tuntas, mulai dari tata cara masuk hingga keluar, tuntas,” terangnya.

“Jika masalah WC saja tuntas dan sempurna, tidak mungkin Islam tidak mengatur aspek yang lebih dari itu, seperti ekonomi, pendidikan, politik dan lain sebagainya,” urainya menambahkan.

Oleh karena itu, pria asli Gunung Kidul Yogyakarta itu mendorong umat Islam sadar bahwa Islam menghendaki umatnya melihat Islam sebagai sistem.

“Ketika kita mampu melihat dinul haq (Islam) ini sebagai sistem maka kita akan memahami bahwa dalam hidup ini bukan sekedar ibadah, kita dituntut untuk menjalankan perintah Allah dalam sebuah sistem, sistemik, dan sistematis. Inilah tugas umat Islam paling penting yang harus segera dimulai sekarang juga,” tutupnya.*/Imam Nawawi

Pimpinan Umum Hidayatullah Ingatkan Istiqamah Ber-Qur’an

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad mengajak para pemuda Indonesia untuk memiliki idealisme yang sangat kuat. Ia sampai menyebut bahwa pemuda harus punya idealisme yang “amat sangat”.

“Tidak bisa kalau pemuda tidak punya idealisme yang amat sangat,” ujarnya saat dalam acara temu para dai dan pemuda di Kota Depok, Jawa Barat, dalam rangkaian acara Pra Munas ke-7 Syabab (Pemuda) Hidayatullah, Ahad (08/12/2019).

Ustadz Abdurrahman pun mengingatkan para aktivis Muslim, khususnya para kadernya, agar memiliki semangat dan idealisme yang kuat dalam menjalankan amanah membangun agama, bangsa, dan negara Indonesia ini.

Idealisme yang kuat, jelasnya, diperlukan dalam menyikapi berbagai persoalan dan realita kehidupan dunia secara global maupun nasional saat ini.

Ustadz Abdurrahman pun mengingatkan kepada para pengajar baik dosen di perguruan tinggi maupun guru di sekolah dan madrasah, agar tetap istiqamah menjalankan amanah yang diberikan dalam mendidik generasi muda Islam.

“Hai para guru dosen, jangan tidur melihat keadaan ini. Jangan mau ngajar ini karena mau hidup, jangan mengajar karena mau menerima gaji tiap bulan. Tapi mengajar ini karena kewajiban dari Allah,” pesannya dengan tegas.

Ustadz Abdurrahman mengatakan, manusia yang idealis akan lahir dari pendidik dan pemimpin yang beridealisme tinggi.

“Tidak akan lahir manusia manusia idealis kalau tidak ada guru yang idealis, tidak lahir manusia yang idealis yang amat sangat kalau tidak ada pemimpin yang idealis,” ungkapnya.

“Sehingga kita menjaga bahwa ini betul betul amanah,” ujarnya, seraya mengatakan bahwa tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah.

“Pahami suatu tugas bahwa itu tugas dari Allah,” imbuhnya.

Ustadz Abdurrahman berpesan bahwa untuk menghadapi fenomena global, dimana berbagai negara-negara adidaya telah menunjukkan kekuatan “supernya” masing-masing, maka para pemuda harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Tidak bisa, katanya, menghadapi dunia dengan kekuatan biasa, tapi harus dihadapi dengan kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang biasa itu adalah sesuatu yang dipandang manusia. Sedangkan kekuatan yang luar biasa itu kekuatan dari langit yaitu dari Allah.

“Yang dari langit itu yang luar biasa,” ujarnya. “Makanya Qur’an itu luar biasa.”

Oleh karena itu, Ustadz Abdurrahman kembali mengingatkan dan mengajak umat Islam terkhusus para kadernya untuk betul-betul dekat kepada Al-Qur’an. Selain dibaca, Al-Qur’an juga harus diyakini betul.

Membaca Al-Qur’an pun harus rutin setiap hari. Misalnya, kata dia, minimal satu hari satu juz, mengutip sebuah program One Day One Juz (ODOJ) yang marak sejak beberapa tahun lalu.

Di Hidayatullah sendiri, program sejenis telah diluncurkan dengan cakupan yang lebih luas, tidak cuma pada membaca Al-Qur’an minimal satu juz satu hari. Program ini disebut Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) yang diluncurkan pada acara Silaturahim Nasional Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan, penghujung tahun 2018 lalu.

“Ini dulu, diyakini betul Qur’an ini. Ada GNH ya, (atau) One Day One Juz. Kalau pemuda beridealisme, One Day Three Juz. Kalau pemimpin One Day Two Juz, kalau pemuda One Day Three Juz,” ungkapnya mencontohkan.

Menurutnya, kalau ada pemuda yang “klemek-klemek”, gerakannya tidak kencang, selalu terlambat, bisa jadi dia belum ber-Qur’an.

Untuk diketahui, Munas ke-7 Syabab Hidayatullah mengusung tema “Meneguhkan Visi Pemuda Menyongsong Indonesia Maju, Bersama Syabab Hidayatullah Tinggikan Martabat Bangsa”, akan digelar di Jakarta bulan depan, tepatnya pada Jumat-Senin (17-20/01/2020).* (SKR)

Dakwah Mendukung Wisata Halal di Desa Sembalun

0

Perbincangan bersama Ustadz A Rahman Sembahulun, dai yang juga sekaligus Kepala Kemangkuan Adat Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), di kantor Posdai Pusat, Jakarta, Ahad (1/12/2019). Jangan lupa like dan subscribe.

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”M3gkW73Wx68?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Perbankan Syariah Perlu Pahami Karakteristik Pasar

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Reboan yang rutin dilaksanakan di DPP Hidayatullah Jakarta, Rabu (4/12) membahas masa depan perbankan syariah di era industri 4.0. Diskusi itu mengundang Head of Islamic Enterprise and Alliances Bank Muamalat Indonesia, Agus Andipratama Amir.

Dalam kesempatan itu, Agus menjelaskan bahwa ada kondisi riil yang harus dihadapi perbankan syariah selama kurun 10 tahun terakhir.

“Pertama, kalau kita bandingkan antara 2007 dengan 2017, jumlah Bank Umum Syariah (BUS) meningkat, dari 3 ke 13. Unit Usaha Syariah (UUS) dari 25 ke 21 (turun). Kemudian Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) dari 114 menjadi 167. Jadi dari sisi penyedia layanan jasa syariah naik sekitar 42 persen,” terangnya dalam rilis yang diterima media ini.

Dari data tersebut, Agus menjelaskan bahwa masa depan bank syariah ada pada kemampuan bank itu sendiri dalam memahami pasar.

“Sekarang karakteristik dari market invest sendiri seperti apa, karena satu-satunya cara untuk bank syariah bisa memberikan pelayanan terbaiknya adalah bila bank tadi mengerti karakteristik pasar yang dihadapi,” tegasnya.

Berbicara pasar memang terbagi dalam tiga bagian, dan satu di antaranya ada yang disebut loyalis syariah.

“Loyalis syariah adalah pasar yang berani mengatakan bahwa apapun kondisinya, apapun tantangannya, tiada industri keuangan lain bagi saya kecuali keuangan syariah. Masalahnya yang punya profil seperti ini hanya dua persen,” ungkapnya.

Maka tantangan perbankan syariah, menurutnya, harus memenuhi tiga hal. “Yaitu produk, harga, dan servis. Yang saya rasa sebagai konsumen, di mana pun, tiga variabel ini mutlak,” imbuhnya.

Di akhir sesi diskusi, host Majelis Reboan yang juga kepala Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah, Asih Subagyo menegaskan, tantangan perbankan syariah harus dijawab secara bersama-sama oleh umat Islam sendiri.

“Market share (pangsa pasar) bank syariah memang meningkat, tetapi hingga Oktober 2019 ini masih di kisaran 6,04 persen. Artinya, mayoritas umat masih belum menjadikan bank syariah sebagai pilihan. Ini PR besar bagi umat yang harus segera dituntaskan. Dan ini tugas para ulama, dai, mubaligh dan lain sebagainya, untuk memberikan pencerahan ke umat,” tutupnya.(imw/hio)

Sinergi Sultanbatara Dirikan Sekolah Dai di Parepare

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Mendirikan Sekolah Dai adalah pilihan tepat dalam menjawab tuntutan dakwah dan tarbiyah saat ini. Demikianlah kesepakatan tekad pengurus DPW Hidayatullah zona Sultanbatara atau Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara bersama dengan Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) serta didukung oleh BMH.

Sebagai upaya melahirkan kader dai dan serta penguatan mutu sumber daya insani untuk meluaskan misi organisasi diperlukan lembaga khusus untuk mencetak dai yang siap mengemban amanah dakwah ke berbagai daerah.

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Drs. Nasri Bohari, M.Pd, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara dalam memulai rapat koordinasi gabungan 3 DPW Hidayatulllah tersebut.

Rapat dilakukan di kantor DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara di Komplek Citraland Blok H.1/18 Anduonohu, Kota Kendari, itu dihadiri pengurus inti 3 DPW tersebut dan Posdai.

Didasari keprihatinan tentang tuntutan realitas umat Islam, khususnya di kawasan Indonesia wilayah timur akan pembinaan, pencerahan dan bimbingan langsung dari para muballigh dan dai, diharapkan ini menjadi program bersama dan berkelanjutan yang dipusatkan di kampus madya kota Parepare, Sulsel.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan Drs. Mardhatillah, mengatakan, Hidayatullah yang memilih dakwah dan tarbiyah sebagai mainstream gerakannya, harus disikapi secara konsisten dan sungguh-sungguh.

“Pilihan ini akan menjadi alat ukur keberadaan dan kiprah Hidayatullah di manapun dan sekaligus menjadi barometer dakwah,” kata Mardhatillah.

Senada dengan itu, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Imran M. Jufrie, mengutarakan pentingnya untuk terus melakukan terobosan dakwah yang selaras dengan perkembangan zaman yang diantaranya adalah dengan mendirikan Sekolah Dai sebagai pusat pengembangan sumber daya dai yang kelak siap mengemban amanah dakwah untuk membangun negeri.

Imran menambahkan, dengan pengarusutamaan gerakan dakwah dan tarbiyah, maka sudah selayaknya kader Hidayatullah terus melakukan inovasi dakwah dan jangan sampai terjebak pada aktifitas rutin belaka yang stagnan dan uncompetitive.

Program pendirian Sekolah Dai tersebut adalah juga merespon arahan dan instruksi DPP Hidayatullah untuk memenuhi permintaan dai yang sangat besar. Program yang sama telah hadir untuk bagian barat Indonesia, tepatnya di Ciomas, Bogor, Jawa Barat sekitar 4 tahun yang lalu dan sedang berjalan untuk angkatan ke-V tahun ini.

Penyelenggaraan program pendidikan dai untuk wilayah Sultanbatara ini akan dibuka untuk angkatan pertama pada akhir tahun 2019 di Kampus Hidayatullah Parepare.

Turut hadir pada kesempatan tersebut pengurus Posdai Sultanbatara dan ketua badan pembina Yayasan Kampus Madya Hidayatullah Parepare, Drs Tasyrif Amin, yang sekaligus memberikan arahan dan penguatan dari program tersebut.*/Muhammad Bashori

Al Qur’an Obat Kegersangan Hati, Bekal Utama Gapai Bahagia

SOAL motivasi, tidak ada yang bisa menandingi al-Qur’an. Jangankan melampaui mukjizat kitab suci umat Islam, mendekati kehebatannya saja tiada satupun yang mampu.

Ini berlaku sejak diturunkannya wahyu pertama pada 1400 tahun lebih yang silam. Hingga Hari Ditiupnya sangkakala, pertanda habisnya masa kehidupan di alam dunia ini. Tak heran, al-Qur’an dipenuhi dengan lembar-lembar sejarah yang sarat inspirasi. Kisah-kisahnya telah lama berlalu. Namun pelajarannya berlaku sepanjang masa.

Hebatnya, al-Qur’an tidak cuma soal motivasi biasa-biasa saja. Layaknya buku karangan manusia yang disesaki dengan ratusan kata-kata penyemangat jiwa. Al-Qur’an bukan pula hanya berisi tips-tips pengembangan diri dan sejenisnya. Sebagaimana yang sering didapati di training-training atau pelatihan yang diadakan. Tapi Kalam Ilahi tersebut juga berisi janji pasti dan solusi mumpuni untuk semua persoalan yang dihadapi manusia.

Contohnya, sebagian manusia modern kadang mengeluh hari ini. Mengaku bahwa bahagia yang dikejarnya tak kunjung ketemu. Hari-harinya justru diratapi setiap waktu. Dadanya sesak. Ia merasa hanya beralih dari satu duka ke lara berikutnya. Masalahnya tak pernah henti mendera. Ibarat gelinding bola salju, makin hari masalah itu terus menggunung. Akibatnya jiwanya stress. Pikirannya kalut. Seolah tak ada lagi solusi dalam hidupnya.

Dalam kondisi demikian, tiba-tiba timbul bisikan dalam hati. Bukankah dia punya Tuhan Yang Maha Penolong? Tapi kenapa dirinya seolah dibiarkan begitu saja. Tidakkah al-Qur’an pernah memberi janji? Namun kemana gerangan pertolongan itu? Dia pun mulai menggugat. Merasa tak ada yang peduli dengan keadaannya. Keyakinannya berangsur pudar. Seiring bintik-bintik keraguan itu terus tumbuh berkecambah dalam hatinya.

Masalahnya, dan inilah yang tak disadarinya. Rupanya dia sendiri yang selama ini menjauhi al-Qur’an. Mushafnya dibiarkan tergeletak berdebu. Teronggok begitu saja. Tanpa pernah dibukanya apalagi dipelajari.

Sekian banyak ilmu dikejarnya tanpa kenal rasa lelah. Dia lupa bahwa ilmu pasti, yaitu jalan keluar tersebut justru pada al-Qur’an yang diabaikannya. Ilmu tentang urusan-urusan dunia yang fana begitu diminatinya. Sedang terhadap perkara agama dan menyangkut kehidupan setelah mati yang pasti justru terabaikan.

Ia tampak sibuk bekerja untuk meraih bahagia. Tapi yang didapat justru kepayahan yang tak berbilang. Jiwanya kering. Fisiknya letih. Justru nafsunya yang kian lapar. Ibarat meneguk air laut, makin ditelan hausnya malah kian menjadi-jadi.

Ia benar-benar lupa. Atau mungkin lalai kalau di dalam al-Qur’an, ada banyak kisah yang serupa dengan jalan hidupnya. Tentang orang-orang yang mesti menanggung beban hidup dan beratnya ujian yang menimpanya.

Bedanya, sosok-sosok inspiratif dalam al-Qur’an tersebut punya iman yang teguh. Keyakinannya kepada Tuhannya tak pernah pudar. Setegar batu karang di lautan, seperti itu teguhnya kesabaran orang tersebut. Bahwa sabar yang disertai iman itu niscaya sanggup menyelesaikan masalahnya. Bahwa shalat yang sekira ditegakkan setiap waktu adalah sarana paling efektif mengadukan setiap persoalan hidupnya. Apakah hasilnya bisa dinikmati di dunia atau ditangguhkan dengan balasan di surga? Itu biar jadi kehendak Allah saja.

Baca kisah Nabi Yusuf, misalnya. Bisa apa Yusuf kecil saat dibuang ke dalam sumur tua oleh saudara-saudaranya yang penuh iri? Usianya masih anak-anak. Tenaganya begitu lemah. Sumurnya teramat dalam. Dindingnya sempit. Tempatnya jarang dilalui manusia. Tepat di tengah sahara.

Lalu, bisa apa Yusuf saat itu? Adakah solusi baginya? Bisakah ia keluar dengan selamat dari sumur tua itu? Sanggupkah dia bertahan dengan tubuh kedinginan berhari-hari? Dan masih ada sederet keraguan lainnya, jika itu yang dipermasalahkan.

Al-Qur’an menoreh kisah ajaib tersebut. Jawabnya, Yusuf bisa berdoa. Yusuf pernah dibekali ilmu dan dimotivasi ayahnya, Nabi Ya’qub, tentang Zat Yang Maha Kuasa. Bahwa meski dicebur dalam sumur tak bertuan, ada Tuhannya yang pasti bersamanya selalu.

Solusinya, Yusuf tawakkal dengan amal shalehnya, sebagai anak yang penurut lagi qurratu a’yun (penyejuk mata). Harapannya, ada doa sang ayah yang tak kunjung putus untuk kebaikan generasi pelanjutnya.

Inilah barakah ilmu yang sebenarnya. Manfaatnya bukan sekadar diri yang termotivasi atau terbakar semangatnya. Tapi motivasi ilmu itu menular hingga melahirkan gugusan keyakinan yang begitu kuat. Keyakinannya tak pernah pudar.

Bahwa bersama kesulitan yang mengadang selalu ada jalan yang terang benderang. Siapa sangka, atas izin Allah, tiba-tiba ada rombongan pejalan kaki yang melewati sumur itu? Siapa pula yang memotivasi dan menggerakkan hati mereka untuk menurunkan timba ke dalam sumur tersebut? Jawabnya, Allah-lah yang memberi motivasi dan Allah juga yang menjawab keyakinan itu.

MASYKUR SUYUTHI

Silaturrahim Al Bayan Hidayatullah Makassar ke Wakapolda Sulsel

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar melakukan silaturahim kepada Wakapolda Sulsel, Brigjen Pol Adnas di rumah jabatannya, Jalan Monginsidi Makassar, Ahad (1/12/2019). Pada silaturahim tersebut juga hadir perwakilan beberapa lembaga dakwah di Sulawesi Selatan.

“Silaturahim tersebut untuk melaporkan perkembangan pesantren dan santri-santri Hidayatullah Makassar dan pesantren tahfizhul Quran Ummul Qura Pucak Maros,” kata Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar, Suwito Fatah dalam keterangannya diterima media ini.

Suwito menambahkan, dalam kesempatan terseut Brigjen Pol Adnas menyampaikan terima kasih atas kehadiran pengurus Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar.

Wakapolda pun berharap, dengan amanah yang diemban, para pengurus Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar harus melahirkan kebaikan-kebaikan sehingga semakin berkah.

“Kami akan silaturahim ke Pesantren Hidayatullah Makassar untuk bertemu dengan adik-adik santri di sana,” ujar Adnas.

Pengurus Hidayatullah Makassar mengucapkan terima kasih atas sambutan wakapolda Sulsel.

“Kami mendoakan, semoga wakapolda Sulsel diberikan keberkahan dalam menjalankan amanah di Sulawesi Selatan,” ujar Suwito Fatah.(prl/hio)