Beranda blog Halaman 479

TOT Pandu Hidayatullah Digelar di Wilayah Papua Barat

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan Training of Trainer (TOT) Pandu Hidayatullah se-Wilayah Papua Barat yang pembukannay dilaksanakan di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Sabtu (21/12/2019.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan guru-guru terpilih yang tergabung dalam Pendidikan Integral Hidayatullah, mulai tingkat MI/SD, MTs/SMP & MA/SMA seluruh Papua Barat dengan jumlah peserta sebanyak 40 peserta. Kegiatan ini dilaksanakan dengan kepesertaan skala wilayah selama 3 hari (21-23 Desember 2019).

Selaku Ketua Panitia, Muhammad Sodri, mengatakan, sebagai mana yang kita ketahui, Papua Barat merupakan daerah yang dalam skala nasional masih relatif tertinggal mutu pendidikannya dari beberapa daerah di Indonesia.

Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, diantaranya persoalan SDM yang belum memadai. Sehingga dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, menurut Sodri, maka sangat perlu dilaksanakan pelatihan guru sebagai upgrading sebagaimana tema kegiatan ini “Menyiapkan Generasi Hebat untuk Indonesia Lebih Bermartabat”.

Senada dengan itu, Kepala Departemen Pendidikan Hidayatullah Wilayah Papua Barat, Suwadi, dalam sambutannya menjelaskan secara singkat apa itu Pandu Hidayatullah. Pandu Hidayatullah, kata dia, adalah sebutan internal gerakan Pramuka yang dinaungi ormas Hidayatullah yang telah mengantongi izin resmi dari Kwarnas dengan nama Satuan Komunitas (SAKO) Pramuka Hidayatullah.

Di Indonesia telah ada 6 Sako Kepramukaan yang telah mendapat izin dari Kwarnas dan Sako Pramuka Hidayatullah adalah Sako yang ke 7. Melalui kepercayaan pemerintah ini, diharapkan Sako Pramuka Hidayatullah dengan segera mencetak trainer-trainer baru, sehingga terjadi percepatan dalam hal pendidikan melalui kepramukaan.

Suwadi menambahkan, sebagaimana program pemerintah mencerdaskan anak bangsa, terkhusus di Papua Barat, Hidayatullah melalui kegiatan TOT ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman para guru dalam mendidikan terutama dalam hal kepanduan.

Dia melanjutkan, TOT ini adalah kegiatan perdana yang dilaksanakan di Papua Barat, sehingga sangat ditekankan kepada para guru yang tergabung dalam pendidikan Hidayatullah se-Papua Barat.

Peserta yang mengikuti kegiatan ini berasal dari beberapa Kabupaten, yakni Kabupaten Kaimana, Kabupaten Fakfak, Kabupaten Sorong, Kota Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Bintuni dan Kabupaten Manokwari dengan jumlah keseluruhan 40 peserta.

Kegiatan pembukaan TOT ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda & Olahraga Kabupaten Manokwari, Nelles Dowansiba, S.Pd, M.Si.

Dalam sambutannya, Nelles Dowansiba mengatakan peran pemerintah terkhusus Dinas Pendidikan adalah mencerdaskan anak bangsa dan pelaksananya adalah lembaga-lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta.

“Saya sangat mengapresiasi Hidayatullah dalam mendidik dan membina anak murid, terutama anak-anak Papua. Sebab dalam mendidik mereka harus dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Dan wujud apresiasi itu, saya sudah dua kali datang lansung ke sekolah ini untuk melakukan kunjungan,” kata Nelles.

Ia menambahkan, sebagaimana yang sama kita ketahui, Manokwari sebagai kota Injil, sangat menjunjung tinggi sikap toleransi ummat, sehingga melalui pendidikan Hidayatullah kami menitipkan pesan yang sangat berharga untuk anak-anak kami.

“Kerja sama selalu kami jalin dan semoga kemitraan ini bisa terus berlanjut dan semakin ditingkatkan,” katanya menandaskan.

Hadir sebagai narasumber instruktur Ketua Sako Pramuka Hidayatullah Syarif Daryono, S.Pd.I, MM, M.Si dari Jogja dan Ahmad Hamim selaku Kepala Departemen Operasi SAR Hidayatullah Pusat.

Turut hadir dalam acara pembukaan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Kepala-kepala Sekolah Pendidikan Integral Hidayatullah Manokwari (MI, MTs, MA) Pengurus Mushida Wilayah Papua Barat, Pengurus PW Syabab Hidayatullah, SAR Hidayatullah Papua Barat & Ketua Baitul Maal Hidayatullah serta pimpinan lembaga lainnya.*/Miftahuddin

Orang yang Sehat Berfikir dan Mengambil Peran Terdepan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Seorang mujahid dakwah harus sehat fisik mental dan fikirannya. Diantara yang bisa menjadi tolok ukur mental sehat itu adalah berani, tidak boleh pengecut, dan selalu mengambil peran terdepan dalam kebaikan.

Demikian disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dalam taushiyah pengarahannya dalam acara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Hidayatullah di Jakarta, 17/12/2019.

“Orang sehat harus selalu berfikir dan mengambil peran terdepan. Itulah sehat yang prima. Orang tidak sehat, tidak mau mengambil beban dan resiko. Dia cenderung pengecut,” katanya.

Alhamdulillah, lanjutnya, Allah berkenan memberikan kekuatan kepada kita berupa kesehatan. Hanya dengan sehat inilah kita bisa mengerjakan berbagai aktivitas, apalagi kegiatan Rakernas ini.

“Tanpa sehat kita tidak bisa berakernas. Rakernas ini rapat untuk bekerja. Setelah beriman kita bekerja. Rakernas ini untuk membuahkan hasil baik berupa materi ataupun spirit,” ujarnya.

Pada umumnya, jelasnya, yang dikatakan orang sehat itu sehat secara fisik saja. Kebanyakan orang tidak melihat bahwa pekerjaan untuk memcapai suatu pencapaian tujuan, baik itu pribadi keluarga, maupun lembaga adalah suatu hal yang sehat.

“Orang hanya melihat sehat secara jasmani, meski demikian tidak ada orang yang sehat jasmani seratus persen. Ukuran umumnya, kalau sudah sehat 60 persen, itu sudah sehat. Meski ada sakit gigi, sakit ini dan itu sudah dianggap sehat,” terangnya.

Namun, imbuhnya, untuk beraktifitas ternyata tidak cukup sekedar jasmani tapi harus sehat mental dan fikiran.

“Alhamdulillah, kita semua yang hadir disini sehat jasmani, dan pasti sehat mental dan pikiran juga. Karena sudah bisa hadir di Rakernas ini,” katanya.

Beliau menerangkan bahwa orang-orang beriman adalah orang sehat yang memiliki tawakkal yang tinggi serta tidak banyak keluhan.

“Orang yang banyak ngeluh itu tidak sehat. Orang sehat Allah akan dikasih kesadaran yang banyak. Orang tidak sehat kalau diberi tugas, diberi amanah, kadang banyak sekali pertimbangannya, kadang dia mengatakan rumah saya tidak aman, urusan tetek bengek menjadi alasan,” jelasnya seraya mengutip Al Quran Surah Ibrahim Ayat 12, yang artinya:

“Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri.”

Ia mengingatkan, bahwa puncaknya orang orang yang diberikan kenikmatan kesehatan oleh Allah SWT adalah mereka yang bertawakkal dan bersabar pada jalan perjuangan.

“Kalau sehat mental saja terbatas energinya. Jika sehat rohani, kita tidak akan pernah kehabisan energi sumber daya. Orang yang sehat rohani, akan ada kekhusyuaan dalam dirinya,” terangnya.

Dia lalu berkisah tentang peristiwa yang sempat dilalui Rasulullah Muhammad SAW dikala di-isra’mir’raj-kan, dimana Rasulullah diperlihatkan semua aktivitas dan kesibukan orang-orang dan nabi nabi terdahulu.

Kala itu Nabi Muhammad hampir mengambil kesimpulannya sendiri. Bahwa tidak perlu lagi kembali, tapi Allah beritahukan bahwa ada yg lebih tinggi dari kenikmatan iman itu, yaitu jihad.

“(Memang, red) nikmat beriman di rumah, sama anak isteri, shalat dan tadarrus bersamanya, tetapi aktivitas berjuang di luar rumah jauh lebih tinggi manfaatnya, jauh lebih tinggi perjuangannya,” tandasnya seraya berpesan agar kader dai tak henti mencerahkan umat dengan dakwah apapun bentuknya.*/Sarmadani Karani

Mendaras Dakwah Cinta, Keteladanan dan Doa

0

Ketua DPW Hidayatullah Provinsi Papua berbincang seputar geliat dan kiprah dakwah di Provinsi Papua. Dia mengatakan, dakwah di Papua dilakukan dengan cinta, keteladanan dan doa. Apa maksudnya? Ikuti perbincangan kami bersama pria murah senyum ini.

Tujuh DPW Raih Predikat Pembukaan Jaringan dan Administrasi Terbaik

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 7 (tujuh) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah(DPW) Hidayatullah meraih predikat pemerataan pembukaan jaringan serta pertumbuhan dan tertib administrasi terbaik. Penghargaan tersebut dilakukan di ajang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Tahun 2019 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Adapun DPW Hidayatullah yang berhasil meraih predikat dalam Kategori Pemerataan Pembukaan Jaringan Hidayatullah di seluruh kabupaten/kota yaitu DPW Hidayatullah Provinsi Sulawesi Selatan, DPW Hidayatullah DI Yogyakarta, DPW Hidayatullah Provinsi Bali dan DPW Hidayatullah Provinsi Banten.

Sementara DPW Hidayatullah yang berhasil meraih Kategori Pertumbuhan dan Tertib Administrasi yaitu DPW Hidayatullah Jawa Timur, DPW Hidayatullah Kalimantan Timur dan terbaik ketiga oleh DPW Hidayatullah Bengkulu.

Penganugerahan apresiasi tersebut diberikan langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Dr Nashirul Haq, Lc. M.A. di sela rangkaian acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2019 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah.

Ketua Departemen Organisasi DPP Hidayatullah, Haji Syamsudin, S.E, M.M dalam sambutannya mengatakan bahwa apresiasi tersebut diberikan diharapkan menjadi pelecut semangat bagi pengurus struktural Hidayatullah tingkat wilayah.

“Membuka jaringan baru Hidayatullah adalah amanah Munas (Musyawarah Nasional, red) tahun 2015 di Balikpapan,” ungkapnya.

Olehnya itu, kata dia menambahkan, di periode kepengurusan 2016-2020, penambahan 120 jaringan baru Hidayatullah di kabupaten/kota menjadi program prioritas.

Atas dasar itulah, menurutnya, Departemen Organisasi DPP Hidayatullah memberikan apresiasi kepada DPW yang telah menyelesaikan amanah tersebut di tingkat kota/kabupaten.

“Tetapi, amanah tersebut tidak hanya sampai disini, sebab DPW yang telah merampungkan jaringannya di tingkat Kab/Kota diminta untuk segera membuka jaringan baru di tingkat kecamatan (DPC),” tambah ustadz dua istri tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, Hidayatullah telah berada di 353 Kota/Kabupaten. Prosentasenya sekitar 68.7 persen dari total 514 Kota/Kabupaten di seluruh Indonesia.*/Abdul Aziz Ibnu Basyir

Cikal Perpustakaan Pendidikan Ulama Zuama Kampus STIS Hidayatullah Gunung Tembak

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak nikmat kepada semua hamba. Salah satunya nikmat bantuan sarana perpustakaan

Syekh Ali dari Qatar yang selama konsentrasi di dunia dakwah sejak umur 15 tahun di negaranya. Niat awal hanya silaturahim ke Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, belum lama ini.

Namun, setelah tiba dan interaksi dengan para ustadz maka beliau menyatakan ketertarikannya pada program Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah Balikpapan.

Karena ada harapan besar lahirnya ulama dan pemimpin untuk dakwah dan tarbiyah Islam ke depan. Sehingga salah satu bentuk empati beliau dgn melengkapi fasilitas perpustakaan yg eksklusif standart internasional.

Ini agar ada motivasi dan inspirasi bagi para mahasiswa. Ruang itu juga untuk penerimaan tamu tamu dari para syekh Timur Tengah. Insyaallah kitab kitab akan segera dikirim ketika beliau kembali ke Qatar. (LPPH Gunung Tembak)

Pelatihan Pengajaran Bahasa Arab Guru se-Jabodetabek

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Demi memperdalam kecintaan kepada Bahasa Al-Quran, Yayasan Jayakarta Fathan Mubiina (JFM) mengumpulkan guru-guru Bahasa Arab Se-Jabodetabek dalam Seminar Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Arab.

Bertempat di Aula Emas, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, pada Ahad (22/12), Alhamdulillah telah terselenggara Seminar Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Arab yang diikuti oleh puluhan dai dan guru-guru Bahasa Arab dari Jakarta dan sekitarnya.

Seminar yang terselenggara atas inisiasi Yayasan Jayakarta Fathan Mubiina (JFM) ini menghadirkan Syaikh Muhammad Ramadhan, seorang praktisi pendidikan Bahasa Arab asal Mesir yang sudah menghabiskan waktu selama tujuh tahun di Indonesia meneliti mengenai pengajaran Bahasa Arab.

Hasil dari penelitian beliau itu beliau bawa sebagai tesis yang mengantar beliau meraih gelar magister dengan nilai sempurna.

Ketua Dewan Pembina JFM, Ustadz Ryan Abu Haq, yang juga Ketua DPD Hidayatullah Jakarta Selatan, dalam sambutannya pada pembukaan acara menyampaikan bahwa seminar ini adalah salah satu dari sekian program unggulan JFM, yang diharapkan dapat memberikan pencerahan bagi para dai-dai muda yang juga berprofesi sebagai pengajar Bahasa Arab.

Senada dengan beliau, anggota Dewan Pembina JFM, Babeh Dzikrullah, yang juga Ketua Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah, dalam sambutannya pada akhir acara menyampaikan bahwa seminar ini adalah langkah kongkrit JFM dalam menargetkan pembinaan pada tiga kalangan masyarakat; ulama muda, pengusaha muda, dan profesional muda.

Dengan pemantapan praktis pendidikan Bahasa Arab, beliau berharap upaya peningkatan kapasitas para dai dan guru ini akan menjadilan mereka ulama muda yang berada di garda terdepan dalam gerakan membumikan Bahasa Al-Quran di Indonesia.

Oleh karena itu sebagai tindak lanjut, para lulusan seminar ini bersepakat membentuk Arabic Club Jayakarta dan mendaulat Syaikh Muhammad Ramadhan sebagai pembina sekaligus mentor para anggota.

Ketua Panitia Penyelenggara, La Dahlan, dalam keterangannya menyampaikan penghargaan sebesar-besarnya kepada para dai dan guru yang sudah meluangkan waktu untuk hadir.

Tak lupa, beliau sampaikan terima kasihnya yang tulus kepada dua lembaga zakat nasional, YBM (Yayasan Baitul Maal) PLN dan BMH (Baitul Maal Hidayatullah) yang berkenan menjadi sponsor bagi acara ini sehingga dapat terlaksana dengan lancar.

Dahlan juga berharap, acara semacam ini dapat terus terselenggara agar penggunaan Bahasa Al-Quran semakin menjadi kesadaran yang kuat di tengah umat Islam. “Semua demi visi besar kami, membangun Perdaban Islam,” pungkasnya.*/Ahmad D Rajiv

Pernyataan Sikap DPP Hidayatullah tentang Penyiksaan Muslim Xinjiang

0
Aksi protes dunia internasional terhadap penyiksaan muslim Uighur di Xinjiang / Foto: Wikipedia

Pernyataan Sikap
Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

BismillahirRahmanirRahim

Alhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du

Peristiwa penahanan sekitar satu juta Muslimin Uighur di kamp-kamp interniran di Turkistan Timur (kini disebut Xinjiang), menorehkan luka mendalam di tubuh kaum Muslim di seluruh dunia. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kaum Muslim, di mana pun berada, bagaikan satu tubuh. Jika yang satu sakit maka yang lain ikut merasakan sakit (Riwayat Muslim).

Terlebih lagi, sejumlah media di dalam dan di luar negeri mengabarkan dugaan kuat adanya penyiksaan di kamp-kamp penahanan tersebut. Jika ini benar maka Pemerintah China bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Apa pun dalihnya, ini tak dibenarkan.

Sehubungan dengan itu maka kami, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas tragedi kemanusiaan tersebut. Kami mendesak kepada pemerintah Indonesia agar segera melakukan upaya-upaya diplomatik kepada pemerintah China agar tragedi tersebut segera dihentikan.

Kepada kaum Muslim di mana pun berada, kami menyerukan agar ikut memberikan kepedulian atas tragedi ini, baik dengan cara turut mendesak berbagai pihak yang memiliki kewenangan langsung atau tidak langsung untuk menghentikan tragedi ini, maupun lewat aksi penggalangan bantuan untuk meringankan beban penderitaan saudara kita di Uighur.

Hidayatullah sendiri, melalui Baitul Mal Hidayatullah, telah melakukan penggalangan dana untuk disalurkan kepada kaum Muslim yang terzalimi di Propinsi Xinjiang tersebut. Selain itu, Hidayatullah akan terus mengikuti secara seksama peristiwa ini dan akan ikut serta bersama berbagai kompenen bangsa untuk menyuarakan desakan agar tragedi kemanusiaan ini segera diakhiri.

Terakhir, mari kita doakan saudara kita kaum Muslim di Uighur agar segera terlepas dari kezaliman ini. Kita doakan pula agar mereka tetap istiqomah dalam Islam, dan semoga Allah Ta’ala angkat derajat mereka yang mampu bersabar dalam menghadapi cobaan berat ini. Aamiin.

Jakarta,19 Desember 2018

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Dr. Nashirul Haq
Ketua Umum

Hidayatullah Tebarkan Optimisme: Umat Sehat, Bangsa Sehat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Nasional Hidayatullah yang diselenggarakan di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta (17-20/12/2019) mendorong para kader ormas itu agar siap menjadi generasi yang aktif bekerja menghadirkan maslahat bagi umat dan membangun bangsa.

“Rapat kerja ini artinya rapat untuk bekerja. Dan, bekerja merupakan perintah pokok dari Allah Subhanahu Wata’ala, agar kita bisa mendapatkan hasil yang baik dan maslahat. Bahkan harus bekerja keras kita, wa amilush shalihat,” terang Pimpinan Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad, Selasa (17/12/2019).

Agar bisa menjadi generasi yang aktif terus bekerja, menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan, sudah tentu sangat butuh terhadap yang namanya sehat.

“Semua itu bisa dilakukan, kalau kita sehat. Bukan lagi sekadar sehat badan, sehat secara fisik. Tetapi juga sehat secara mental, pikiran, dan spiritual. Perjuangan besar, cita-cita besar, itu tidak bisa dipikul oleh orang yang sekadar sehat badannya, harus juga sehat mental, pikiran, dan spiritualnya, sehingga tidak mudah loyo, tidak gampang putus asa. Tapi optimis dan terus optimis,” jelasnya.

Di hadapan seluruh jajaran DPP dan DPW Hidayatullah seluruh Indonesia, Ustadz Abdurrahman berpesan agar seluruh kader, dai, dan jamaah Hidayatullah menebar virus sehat ini.

“Semua harus pastikan dirinya sehat, indikasinya sederhana, tebarkan optimisme, bukan pesimisme ke tengah-tengah umat. Insya Allah sehat umat, sehat bangsa, sehat negara. Dan, banyak hal bisa diselesaikan di negeri ini. Karena semua akan bisa bekerja keras untuk sama-sama menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan,” urainya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq menyampaikan, sebelum tahun 2020 ada beberapa hal yang perlu diperhatikan Hidayatullah.

Antara lain peningkatan kualitas sumber daya insani melalui berbagai pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non-formal.

“Pendidikan non-formal salah satunya adalah pendidikan marhalah. Baik marhalah tingkat pertama hingga tingkat ketiga,” ujarnya.

Nashirul juga berharap ke depan Hidayatullah terus semakin meningkatkan kemampuannya dalam mendidik para generasi bangsa. Sehingga berbagai pihak terkait didorong melakukan sinergi.

“Sistem sinergitas pendidikan kita mampu melahirkan kader penopang Hidayatullah,” ujarnya.* Imam Nawawi/Abdul Mansur

Rakernas Hidayatullah Kuatkan Dakwah dan Pendidikan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Organisasi Massa (Ormas) Hidayatullah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta. Rakernas dibuka hari ini, Selasa (17/12), dan akan berlangsung hingga 20 Desember 2019.

Dalam sambutannya, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr Nashirul Haq Lc, MA menjelaskan bahwa dalam forum tahunan ini diharapkan seluruh kader dan jamaah Hidayatullah dapat semakin menguatkan hati, menyatukan langkah untuk penguatan dakwah menuju Indonesia bermartabat.

“Kita berharap bahwa forum ini benar-benar kita jadikan sebagai momen untuk menyatukan hati, pikiran, ide dan gagasan kita. Membulatkan tekad, menyatukan langkah, agar azam kita lebih kuat lagi dalam mengemban amanah dalam dakwah untuk Indonesia bermartabat,” terangnya kala memberikan sambutan di hadapan ratusan hadirin (17/12).

Menurut pria murah senyum itu, langkah tersebut harus diupayakan sebagaimana tema yang diangkat dalam Rakernas tahun ini yaitu “Konsolidasi Nasional untuk Pencapaian Target Organisasi.”

“Target organisasi secara umum adalah peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya insani, itu yang pertama. Yang kedua, stabilisasi dan rekrutmen anggota. Ketiga, penguatan sistem dakwah dan tarbiyah. Terakhir adalah kemandirian ekonomi kader dan jama’i,” urainya seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Menurut Nashirul, hal itu adalah wujud dari komitmen Hidayatullah dalam berkhidmat ikut serta membangun umat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Langkah ini sangat penting sebagai wujud khidmat kita semua dalam ikut serta membangun umat, mencerdaskah kehidupan bangsa, menjadi negeri yang lebih bermartabat,” tutupnya. (Republika)

Mushida Jabodebek Didorong Terus Tingkatkan Kapasitas Diri

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, MA, hadir menjadi narasumber dalam acara Upgrading Murobbiyah diselenggarakan Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Jabodebek diikuiti perwakilan daiyah dari berbagai daerah di Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Sabtu (14/12/2019).

Dalam pemaparannya, Nashirul mendorong segenap kader daiyah Mushida berazzam untuk meningkatkan kapasitas diri baik dari sisi spiritual, intelektual dan juga penguatan kiprah pembinaan umat di bidang dakwah dan tarbiyah.

Ia menerangkan, dalam dakwah mencerahkan masyarakat, tidaklah mungkin dapat dilakukan secara spontan dan tuntas seketika itu juga. Penempaan diri dan juga pembinaan umat merupakan pekerjaan yang tidak mudah yang butuh waktu dan kesabaran, sebab, demikianlah Islam menuntun kita.

“Kenapa Al Qur’an diturunkan sedikit-sedikit, tidak sekaligus. Karena ajaran Islam ini tak mungkin bisa dilaksanakan sekaligus. Ada tahapan sistematisnya. Dan karena ini adalah proses yang dijalani Rasulullah dan para sahabatnya, dan demikianlah Allah mentarbiyah Nabi dan para sahabatnya juga berdasarkan pola turunnya Al Qur’an, maka pola dakwah dan tarbiyah itulah pula yang kita ikuti yang kita istilahkan dengan Sistematika Wahyu,” kata Nashirul.

Maka, imbunya lagi, inilah sebenarnya yang menjadi concern kita yakni bagaimana mencerahkan umat dengan Tauhid yang artinya semuanya sejalan dengan apa yang diperintahkan Allah SWT.

Namun dalam proses pembinaan tersebut, lanjutnya, ada tantangan tidak sederhana yang justru datangnya dari dalam diri kita sendiri, yaitu dominasi syahwat dan syubhat.

“Melemahnya kita dominan karena umat Islam itu sendiri. Karena telah dominasi syahwat, yang bentuknya hubbud dunya wa karohiyatul maut . Cinta dunia dan takut mati. Begitu kata Nabi,” ujarnya.

Diantara problem syubhat yang menjangkiti umat tersebut adalah liberalisme. Beliau berpandangan, liberalisme adalah kehendak berpikir, bertindak, dan kebebasan memahami atau menafsirkan Islam sekehendaknya, misalnya, dengan alasan hak asasi manusia.

Jika kebebasan ini tak berusaha dibendung, gejala ini dikhawatirkan meluas dan apalagi hal ini dinilai telah masuk mewarnai rancangan undang-undang yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam dan Pancasila.

Disinilah kemudian pentingnya berislam secara berjamaah dalam satu kesatuan gerak dan tidak bercerai berai. Hal tersebut sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya Surah Ali Imran ayat 103: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”.

Beliau menjelaskan, lafaz dalam Al Qur’an Surah Ali Imran ayat 103 ini mengandung dua prinsip utama yaitu berpegang teguh pada kebenaran tali agama Allah yaitu Al-Qur’an dan Sunnah dan itulah Ahlussunnah. Dan, yang kedua, selalu dalam kepemimpinan.

“Makanya Umar bin Khattab mengatakan Innahu laa islama illa bil jamaah walajamaata illa bil imaroh wala imarota illa bit-toah yang memuat pesan pentingnya persatuan. Jangan bercerai berai,” pungkasnya.

Acara upgrading ini berlangsung intensif setengah hari. Ketua PW Muslimat Hidayatullah Jabodebek, Marsiti, mengatakan acara rutin triwulanan ini merupakan program rutin yang diikuti oleh para daiyah/ murobbiyah.

“Tujuan dari acara ini diantaranya adalah untuk meningkatkan kualitas diri para murobbiyah Mushida, baik dalam hal keilmuan, tsaqofah Islamiyah maupun penguatan pemahaman materi manhaj,” ujar Marsiti menandaskan. (ybh/hio)