Beranda blog Halaman 481

Gubernur Resmikan Pembangunan Rusunawa Pesantren Hidayatullah Manokwari

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Rumah Susun Sederhana (Rusunawa) yang dibangun di komplek pendidian atau di pesantren yang mengurus tentang pendidikan da keagamaan, maka tentu akan memberikan nilai-nilai yang strategis dalam membentuk karakter anak bangsa yang berkepribadian luhur.

“Dengan dibangunnya rusunawa ini diharapkan kepada seluruh santri memiliki asrama yang layak huni sehingga lebih nyaman ketika berada di pemondokan,” kata Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan saat menyampaikan sambutannya pada acara peletakan baru pertama pembangunan Rusunawa Pondok Pesantren Hidayatullah, Manokwari, Sabtu (23/11/2019).

Gubernur Dominggus Mandacan menekankan, rusunawa di pesantren bukan saja menjadi tempat penampungan santri dengan kriteria tertentu, tapi mereka yang ditempa diharapkan dapat menjadi corong dan duta pembawa nilai-nilai positif kepada masyarakat, yang akan membebaskan penyakit sosial khususnya masalah minunam keras (miras).

“Rusunawa ini berada di lingkungan pesantrean maka diharapkan memiliki peraturan khas yang mesti diatur sedemikian rupa sehingga mereka yang tinggal di sini menjadi lebih tertib, displin, pintar dan tepat waktu dalam menempuh pendidikan, harus ada pembatasan tinggal bagi santri sehingga mereka tidak santai, mereka juga mesti memiliki semangat solidaritas satu sama lain,” pesan gubernur.

Di sisi lain, Gubernur Dominggus Mandacan menyatakan, Manokwari sebagai Ibu Kota Provinsi Papua Barat menjadi icon pembangunan sumber daya manusia, diharapkan dengan adanya rusunawa ini bisa membantu pembangunan sumber daya manusia di Papua Barat khususnya Manokwari.

Gubernur Dominggus Mandacan menambahkan, pembangunan rusunawa dari APBN tahun 2019 ini merupakan hasil perjuangan pemerintah provinsi yag didukung oleh semua pihak terkait. Terima kasih kepada pemilik ulayat yang telah memberikan tanahnya kepada pondok pesantren dalam rangka pembangunan keagamaan di Papua Barat khususnya di Manokwari.

”Semoga dengan terbangunnya rusunawa di lingkungan pondok pesantren ini akan memberikan manfaat yang lebih besar dalam membangun anak-anak bangsa yang berkarakter,” tutup gubernur. (rbm/papuakita)

Seminar Milenial, Annisa Kutim Ajak Generasi Muslim Jaga NKRI

KUTAI TIMUR (Hidayatullah.or.id) -– Seminar Milenial sebagai program kerja Go To Campus Annisa Hidayatullah Kutai Timur (Kutim) berlangsung sukses di Masjid Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta, Ahad, (17/11/2019) lalu.

Bertajuk “Peran Generasi Muslim Dalam Menjaga Keutuhan NKRI”, Unit Kegiatan Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Masjid (UKM IMAM) STAI Sangatta serta Annisa dan Syabab Hidayatullah Kutim sebagai pelopor kegiatan.

Hadir membuka acara, Abdurrahim Yunus, DEA selaku Puket III STAI Sangatta. Sementara narasumber, Ustadz Dzulkifli MS, S.Pd.I yang juga menjabat sebagai Kepala Departemen Dakwah dan Pengkaderan DPD Hidayatullah serta Kaprodi MPI STAI Sangatta, Mahfud Ifendi M.Pd.I.

Dalam materinya, Dzulkifli mengungkapkan, konsep Islam dalam membangun tatanan negara dimulai dari menata diri sendiri, kemudian rumah tangga, masyarakat, serta negara.

Menurutnya, konsep panutan dan referensi utama dalam segala aspek kehidupan adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai profil manusia sempurna.

Disebutkan, tahapan terbentuknya pribadi Muslim yang menjadi embrio lahirnya negara yang berperadaban terangkum dalam 5 surah sebagai kerangka, yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5 berisi tentang ketauhidan, Surat Al-Qalam ayat 1-7 orientasi hidup ber-Quran, Surat Al-Muzammil ayat 1-10 berisi nutrisi rohani menguatkan spirit menghadapi problema hidup.

Selanjutnya, Surat Al-Muddatsir 1-7 yang poinnya mendakwahkan dan menyebar kasih sayang serta kebaikan, lalu Surat Al-Fatihah gambaran utuh terciptanya tatanan masyarakat penuh kasih sayang, berkeadilan, dan perdamaian.

Sementara, Mahfud Ifendi dalam paparanya menerangkan mengenai Indonesia sebagai negara plural/majemuk dengan berbagai suku bangsa, budaya, dan bahasa membutuhkan integrasi nasional sebagai bentuk dari usaha nyata dalam menjaga keutuhan NKRI.

Disamping itu, peran pemuda sebagai warga negara dapat dirumuskan dalam 7 poin. Salah satunya adalah mengimplementasikan 45 butir pengamalan Pancasila.

“Mengobarkan semangat nasionalisme dalam jiwa, serta toleransi terhadap keberagaman yang terdapat pada bangsa kita dan Pancasila sebagai DNA bangsa Indonesia,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Panitia sekaligus penanggung jawab Annisa Hidayatullah Kutim, Sitti Aisyah, menerangkan tentang dua hal yang menjadi fokus mereka dalam menjalankan kegiatan tersebut.

Menurutnya, fokus pertama yaitu memberikan pemahaman kepada para peserta seminar tentang peran yang harus dijalankan sebagai individu generasi pelanjut tonggak utama dalam mengokohkan NKRI.

“Usaha seperti apa yang harus dilakukan serta bagaimana bersikap sebagai pribadi Muslim yang tangguh,” tuturnya.

Dan yang kedua, lanjut dia, melalui seminar tersebut dapat menjalin silaturahim dengan pihak kampus STAI Sangatta serta menguatkan jalinan ukhuwah Islamiyah.

Turut hadir dalam acara tersebut sejumlah elemen organisasi kepemudaan di antaranya lembaga organisasi kemahasiswaan BEM STAIS, STIPER, STIE, serta Pemuda Muhammadiyah (PM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Nasyiatul Aisyiah (NA), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan PC PMII Kutim. (Neni)

Santri Hidayatullah Doakan Haluan Riau Terus Mengedukasi

0

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Santri di Yayasan Al Fath Kampus Hidayatullah Pekanbaru mendoakan Haluan Riau terus menjadi media yang mengedukasi masyarakat. Harapan terus disampaikan dikala tim media tersebut menyambangi Yayasan Al-Fath Kampus Pondok Pesantren Hiayatullah di Jalan Indera Puri Ujung, Bencah Lesung, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, dalam sebuah kegiatan bertajuk “Haluan Riau Berbagi”, Jum’at (29/11/2019).

Kedatangan Tim Haluan Riau Berbagi langsung dikoordinir, Pimpinan Perusahaan Haluan Riau, Jeffry dan didampingi Pemimpin Redaksi Haluan Riau, Doni Rahim serta rombongan staff Redaksi Haluan Riau.

Rangkaian kegiatan diawali dengan salat Jum’at berjamaah di Masjid Pondok Pesantren Hidayatullah yang berada dalam lingkungan Yayasan Al-Fath, tepat nya di Jalan Indera Puri, RT 03/RW 11, Bencah Lesung, Tenayan Raya.

Kedatangan Tim disambut hangat anak-anak panti. Terlihat mereka sudah memenuhi Masjid dan siap untuk memulai salat Jumat.

Usai salat Jumat, rangkaian kegiatan dimulai. Pimpinan Yayasan Al-Fath HIdayatullah Pekanbaru, Us A Bachtiar AR mengucapkan terimakasih atas kunjungan dari Tim Haluan Riau Berbagi. Dirinya mendoakan, semoga apa yang diberikan dapat menjadi keberkahan tersendiri.

“Alhamdulillah, besarnya rasa terimakasih dari kami tidak bisa kami ucapkan dengan kata-kata lagi. Tentu, kami hanya dapat mendoakan, supaya yang menerima dan yang memberi sama-sama dapat keberkahannya,” kata Bachtiar.

Lalu, dirinya jelaskan bahwa saat ini anak didik panti asuhan itu berjumlah lebih kurang 120 orang. Lokasi binaan nya itu sudah berdiri sejak tahun 1999, yang mana dia lah sebagai pendiri.

“Dibalik perbukitan ini, saya berjuang dan membangun panti. Namun, Alhamdulillah sejak dibangun tahun 1999, sekarang sudah berkembang, ada sekolahnya, ada ponpesnya,” sebutnya.

Namun, saat ini Yayasan Al-Fath masih perlu bantuan dalam mengembangkannya, agar bangunan yang berdiri di lereng perbukitan itu sudah layak dan nyaman untuk anak-anak asuhannya.
“Kami terharu ya, mendapat kunjungan dari bapak-bapak dan ibu-ibu, seperti ini lah kondisi kami, berada di lereng perbukitan,” singkatnya.

“Semoga kedepan nya, Haluan Riau dapat memberikan Haluan bagi masyarakat Riau. Berikan informasi yang dapat mengedukasi orang banyak,” pesan Bachtiar yang diiringi suara takbir.

Sementara itu, Pimpinan Perusahaan Haluan Riau, Jeffry mengatakan agenda tersebut merupakan rangkaian rutinitas untuk meningkatkan rasa sosial sesama umat. Dan tak luput juga merupakan rangkaian HUT Haluan Riau ke 19.

“Kita juga berterimakasih ke Pak ustad dan adik-adik semua, karena sudah menerima kami disini. Ya semoga ini semua menjadi keberkahan bagi kita,” ucap Jeffry.

Dan juga, Pemimpin Redaksi Haluan Riau, Doni Rahim, akan datang kembali ke Yayasan Al-Fath tersebut. Kedatangan itu, kata Doni, akan memberikan pelatihan atau workshop tentang tata cara penulisan yang baik dan benar.

Ini karena, Doni melihat anak-anak dilingkungan Yayasan Al-Fath memiliki bakat untuk di kembangkan menjadi penulis.

“Kedepan nya, mungkin kami akan memberikan pembelajaran bagi adik-adik yang disini, bagaimana cara penulisan, proses pembuatan berita hingga diterbitkan,” singkat Doni.

Langkah itu, sebut Doni, merupakan sebuah rasa kepedulian terhadap Yayasan Al-Fath. Lantaran, saat ini dunia pekerjaan masih membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mempunyai bakat dalam menulis. (hrc/hio)

STIE Hidayatullah Komitmen Ciptakan Dai Enterpreneur Tangguh

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Depok menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) ke-6 yang digelar di Aula Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Senin (25/11/2019).

Dalam sambutannya, Ketua STIE Hidayatullah Dr (c). Agus Suprayogi, ST, SE.Sy, M.Si, menyampaikan terima kasih kepada stakeholder dan shareholder atas dukungannya baik materil maupun immateril dari proses pendidikan hingga terselenggaranya acara wisuda yang mengangkat tema Menciptakan Dai Enterpreneur yang Tangguh itu.

“Semoga STIE Hidayatullah semakin tumbuh dan berkembang, sehingga menjadi best of the best diantara universitas-universitas terbaik di Indonesia dan berada di barisan terdepan dalam menunaikan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu; Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat,” kata Agus.

Dia mengimbuhkan, melalui pilar pendidikan diharapkan peran STIE Hidayatullah dapat mencetak insan-insan cendekiawan dan intetelektual yang berkontribusi dan berperan penuh dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

Melalui pilar Penelitian diharapkan peran STIE Hidayatullah dapat menghasilkan karya-karya ilmiah dalam menciptakan masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based society).

Agus mengatakan, pendidikan dan penelitian dari STIE Hidayatullah sangat dibutuhkan bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (resources based) yang dimiliki Indonesia melalui pendekatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (knowledge based), sehingga dapat merubah daya saing Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah (comparative advantage) menjadi Negara yang memiliki produk output yang memiliki nilai ekonomis tinggi (competitive advantage).

“Sedangkan melalui pilar Pengabdian Masyarakat diharapkan peran STIE Hidayatullah dalam mencetak dai-dai sarjana yang memiliki jiwa dan semangat kewirausahaan serta berwawasan ilmu pengetahuan (knowledge based enterpreneurship) dalam rangka penciptaan lapangan kerja serta mengurangi pengangguran,” katanya.

Hal ini, lanjutnya, diharapkan dapat menjadi sebagai triger keluarga besar STIE Hidayatullah agar terus menerus meningkatkan prestasinya, dengan mengandalkan mahasiswa dan alumni dalam berbagai strata, maka STIE Hidayatullah akan menjadi kampus terkemuka dan berprestasi melalui peran Tridharma Pergururan Tinggi.

Masih dalam kesempatan yang sama, dalam pidatonya Agus juga menyoroti perkembangan zaman dengan segala dinamikanya seperti industri 4.0 dan beragam tantangannya. Termasuk fokus pemerintahan kabinet Indonesia Maju Jilid II dimana tantangan utama yang dihadapi dan menjadi program adalah mengatasi masalah pengangguran dan mengurangi kemiskinan.

“Pengangguran merupakan dampak dari ketidakseimbangan antara suplay and demand penyerapan tenaga kerja. Ketersediaan lapangan pekerjaan tidak mampu menyerap tenaga kerja yang setiap tahunnya terakumulasi dengan bertambahnya lulusan lembaga pendidikan,” imbuhnya.

Dia menyebutkan, pengangguran menimbulkan dampak penurunan pendapatan dan daya beli keluarga yang pada akhirnya menimbulkan kemiskinan serta “social problem” seperti gangguan ketertiban dan keamanan.

Data menyebutkan peningkatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 mencapai 5.17%, secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 diperkirakan hanya mencapai 5,08%. Prediksi ini jauh dari target pemerintah 5,3% pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, sedangkan penurunan tingkat pengangguran pada tahun 2018 mencapai 5,34% dan diproyeksikan pada tahun 2019 mencapai 5,28%. Disisi lain, penurunan angka kemiskinan pada tahun 2018 mencapai 9,82% dan diproyeksikan pada tahun 2019 turun menjadi 9,41%.

Karena itu, menurut Agus, salah satu solusi dalam mengatasi pengangguran adalah menumbuhkan dan mengembangkan jiwa kewirausahaan. Dan berdasarkan pengalaman, upaya penumbuhan wirausaha baru, tidak bisa dilakukan secara parsial dan oleh satu instansi saja.

“Program penumbuhan wirausaha baru harus dilakukan secara comprehensive dengan melibatkan seluruh instansi Hidayatullah yang ada baik di pusat maupun daerah, lembaga pendidikan, badan usaha dan organisasi pendukung,” kata Agus.

Dia menambahkan, STIE Hidayatullah harus mampu mengambil prakarsa mengkonversi pengetahuan kewirausahaan yang ada di dunia usaha ke masyarakat akademik, antara lain melalui proses “learning by doing” yang mampu mempercepat proses pematangan menjadi calon wirausaha.

“Oleh karenanya STIE Hidayatullah diharapkan menjadikan dirinya sebagai perguruan tinggi unggulan yang mampu melahirkan entrepreneur intelektual,” tandasnya. (ybh/hio)

Hidayatullah Terima 17 Perwakilan Badan Wakaf Tulungagung

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 17 pengurus Perwakilan Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (26/11), mengunjungi Kantor Pusat Dakwah Hidayatullah di Jl Cipinang Cempedak No 14, Jakarta Timur. Kedatangan mereka, menurut pimpinan rombongan, Dr H Muhtarom, M.Ag, untuk bertukar pikiran soal pengelolaan wakaf produktif.

“Selama ini kami baru mengelola wakaf barang tidak bergerak. Karena itu kami ingin menggali informasi cara mengelola wakaf produktif,” jelas Muhtarom saat memberi sambutan pengantar dalam silaturahim tersebut.

Muhtarom juga mengakui BWI Tulungagung belum lama berdiri. “Baru enam bulan,” jelasnya lagi. Namun, mereka serius ingin mengembangkan usaha wakaf ini. Terbukti, dalam kunjungan tersebut, mereka menurunkan tim secara penuh. Mulai dari unsur asosiasi nazir, dewan pembina, akademisi, hingga perwakilan ormas Islam NU dan Muhammadiyah Tulungagung.

Sementara itu, Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah, Asih Subagyo, menceritakan sejumlah dinamika yang dialami Baitul Wakaf Hiayatullah (BWH) dalam mengelola wakaf. Ada pewakaf yang meminta dibangunkan masjid, lalu BWH mengusulkan agar dibangunkan dua lantai. Lantai dasar untuk masjid dan lantai kedua dipakai untuk perkantoran.

Ada juga pewakaf yang mau mendirikan pesantren lalu BWH mengusulkan agar sebagian lahan ditanami perkebunan yang produktif. Bahkan saat ini, kata Asih, Hidayatullah sedang menggarap wakaf media. Yakni, wakaf produktif yang hasilnya dimanfaatkan untuk menghidupi media massa Islam.

“Tugas berat kita adalah memahamkan kepada masyarakat bahwa wakaf bisa juga berbentuk uang dan saham,” jelas Asih lagi.

Hadir juga dalam pertemuan itu Direktur Baitul Wakaf Hidayatullah, Rama Wijaya.*/Mahladi

Anak Kandung NKRI, Hidayatullah Terus Berkhidmat untuk Negeri

0

WATAMPONE (Hidayatullah.or.id) — Alhamdulillah, secara sadar Hidayatullah ini telah menamai dirinya sebagai jama’atun minal muslimin yang sekaligus telah ditetapkan menjadi jatidiri. Dan positioning ini sangat strategis mengingat ormas Hidayatullah lahir sebagai anak kandung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demikian disampaikan anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ir Ahkam Sumadiana dalam sesi taushiah subuh acara Rakorwil, Monitoring & Evaluasi (Monev) Program Kerja Semester II Tahun 2019 DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ahad (24/11/2019).

“Sehingga Hidayatullah merupakan saudara kandung dari ormas Islam yang lahir duluan terutama NU dan Muhammadiyah. Tentu saja Hidayatullah juga harus belajar banyak dari saudara tuanya terutama dalam mendakwahkan Islam wasathiyah,” kata Ahkam.

Menurut Ahkam, kita harus bersyukur, sebagai ormas yang sangat muda, Hidayatullah telah memiliki potensi yang sangat besar untuk berkidmat, bersinergi dan berkonstribusi terhadap masyarakat, bangsa maupun ummat.

“Yang selanjutnya kita harus meningkatkan kualitas dan daya saing agar ummat Islam bukan menjadi pecundang,” imbuhnya.

Ahkam mengimbuhkan, mengingat syarat perjuangan harus sistemik yaitu menuntut adanya komponen secara lengkap dan menyeluruh serta saling memiliki keterikatan antara yang satu dengan yang lain, maka Hidayatullah telah menyediakan komponen-komponen yang sangat urgent untuk menghadapi berbagai macam ideologi sekaligus siap ber-fastabiqul khairat dengan ummat Islam lainnya.

“Bahkan, bagi Hidayatullah, komponen tersebut sekaligus menjadi keunggulan komperatif walaupun belum terpenuhi secara sempurna, setidaknya Hidayatullah sudah memiliki beberapa hal-hal,” imbuhnya.

Pertama, Ahkam menyebutkan, Hidayatullah memiliki standar nilai yang menjadi pegangan ummat Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Kedua, adanya struktur dan sistem manajemen yang mampu ditegakkan secara vertikal dan horizontal.

Ketiga, Hidayatullah menjadikan manhaj nubuwwah sebagai metodologi dakwah, karena memang metode ini sudah terbukti dan teruji dalam membangun peradaban Islam yang bagi santri Hidayatullah mengistilahkan dengan manhaj Sistematika Wahyu.

“Hidayatullah adalah lembaga perjuangan milik ummat yang mampu menyatukan berbagai macam suku yang ada, tanpa ada diskriminasi tetapi dapat meleburkan diri dalam sebuah keluarga besar dan mewujudkan ukhuwah islamiyah,” tandasnya.

Rakorwil, Monitoring & Evaluasi Program Kerja Sesemter II Tahun 2019 DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan ini digelar selama tiga hari yaitu mulai 22 hingga 24 November 2019 di Watampone dengan mengangkat tema “Optimalisasi Program Mainstream, Menuju Sukses Gerakan Dakwah dan Tarbiyah”.

Hadir dalam acara tersebut sekaligus membuka acara Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Drs Mardhatillah. Tampak pula jajaran dan segenap pembina dan pengawas kampus Hidayatullah se-Sulawesi Selatan. (ybh/hio)

Indonesia Sebagai Rujukan Peradaban Islam

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin menyatakan sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia selayaknya dapat menjadi tempat rujukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan Islam.

“Indonesia pantas menjadi rujukan karena semenjak pertama kali masuk ke Indonesia pada Abad ke- 8, perkembangan Islam di tanah air sangat pesat dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat asli nusantara,” ujar Wapres saat membuka Expert Meeting di Hotel Pullman Jakarta yang di gelar 25 hingga 26 November 2019, Selasa (26/11/2019).

Lebih lanjut, Wapres nengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui cara yang damai, melalui aktivitas perdagangan, dan hubungan sosial antar masyarakat.

“Kondisi ini membuat perkembangan Islam di Indonesia menjadi Islam yang moderat dan menjadi bagian dari kehidupan sosial dan kultural di Indonesia,” terangnya seperti dilansir laman Wakil Presiden RI.

Wapres menambahkan bahwa seluruh kekayaan dan pengalaman perjalanan Islam di Indonesia turut berkontribusi terhadap persatuan dan kesatuan bangsa serta menjadikan Indonesia sebagai negara demokrasi dengan penduduk mayoritas muslim terbesar didunia.

“Dengan fakta tersebut, Indonesia layak menjadi rujukan peradaban dunia Islam yang moderat dan modern,” paparnya.

Untuk menjadikan Indonesia sebagai rujukan dalam mempelajari peradaban Islam, sambung Wapres, dibutuhkan pusat penelitian dan ilmu pengetahuan yang berkualitas.

“Salah satu bentuk dari adanya pusat penelitian dan ilmu pengetahuan tersebut maka dibentuk Perguruan Tinggi Islam unggulan, yakni Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), yang memiliki kualitas internasional dengan reputasi global,” imbuhnya.

Wapres berharap UIII mampu berada di garda terdepan dalam kajian Islam secara umum dan menjadi kiblat dunia dalam bidang kajian Islam Indonesia.

“UIII juga diharapkan menjadi pusat penyebaran kebudayaan dan peradaban Islam yang modern, toleran, dan berkemajuan,” pintanya.

Selain itu, Wapres juga berharap lulusan UIII dapat menjadi duta dalam mempromosikan Indonesia sebagai referensi kompatibilitas Islam dan demokrasi, serta rujukan dunia bagi perwujudan Islam yang rahmatanlil‘alamiin.

“Lulusan UIII nantinya diharapkan menjadi ahli, ilmuwan atau pemikir, serta cendekiawan Muslim terkemuka yang moderat, demokratis, humanis dan berwawasan global,” pesannya.

Sebelumnya, Rektor UIII Komaruddin Hidayat mengatakan sudah saatnya Indonesia menjadi salah satu kiblat dunia untuk mendalami Islam dan kehidupan masyarakat muslim, khususnya di tengah pergulatannya dengan modernitas.

“Keberhasilan Indonesia memelihara kehidupan umat beragama yang harmonis dalam tatanam yang demokratis menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia akademik dunia untuk laboratorium pengembangan keilmuan di bidang sosial-keagamaan,” ujarnya. (RN, KIP-Setwapres)

Lurus Orientasi Ilmu, Raih Berkah Dunia Akhirat

ORANG berilmu dan tidak berilmu itu berbeda. Keduanya tidak sama. Antara orang yang mengetahui dan tidak mengetahui. Itu sudah pasti. Secara ketetapan teori ataupun realitas dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang tahu dan mengerti dianggap bisa mengerjakan sesuatu dengan baik dan benar. Sedang orang yang tidak tahu jika bekerja biasanya akan asal-asalan. Paling tidak hasil kerjanya kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Firman Allah:

“Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang bisa mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar [39]: 9).

Dalam ayat lain,

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama,” (QS. Al-Fathir [35]: 28).

Mukjizatnya, al-Qur’an menyebut perbedaan itu dengan uslub istifham inkari (redaksinya bertanya tapi sesungguhnya mengingkari). Apakah keduanya sama? Ya jelas tidak. Itu tak mungkin sama. Barangkali begitu nada dan kalimat ayat tersebut jika diterjemahkan kembali. Bagi orang beriman, sekadar berbeda rupanya belum cukup. Sebab masalahnya bukan asal tidak sama. Lalu selesai begitu saja.

Tapi bagaimana perbedaan itu sesungguhnya? Kalau sudah berilmu, apa setelahnya? Paling utama tentu saja mengembalikan segala sesuatu yang dipunyai manusia kepada iman. Termasuk ilmu. Patokan awal ilmu bermanfaat jika terkait dengan hidayah.

Iman itu sumber kebahagiaan. Untuk itu, ilmu yang menjauhi hidayah hanyalah awal dari bencana. Ilmu tanpa hidayah berarti yang didapat bukan berkah dan merasa bahagia. Tapi bisa celaka yang berujung sengsara. Dunia dan Akhirat kelak.

Inilah pentingnya orientasi ilmu. Tak heran para ulama sejak dulu tak bosan mengingatkan. Mengulang-ulang kembali terkait niat belajar atau motivasi menuntut ilmu. Bahwa kewajiban yang digariskan dalam menuntut ilmu bukan sekadar tanpa tujuan.

Perintah bersungguh-sungguh mencari ilmu tak lain beririsan dengan tujuan hidup itu sendiri. Sebab orientasi ilmu yang benar hakikatnya sama dengan kewajiban menghambakan diri kepada Sang Pencipta.

Dengan pemahaman di atas, maka orang berilmu seharusnya menjadi orang-orang yang paling takut ketika disebut nama Tuhannya. Sebab dengan ilmu yang dimiliki, mereka adalah kumpulan manusia yang paling paham hakikat hidup ini. Mereka dianggap sangat mengerti hukum-hukum agama dan kewajiban menegakkan syariat.

Mereka juga berada di garda terdepan dalam urusan santun dan meninggikan adab ketika bermuamalah kepada sesama manusia. Serta banyak lagi manfaat positif dari ilmu tersebut.

Orang berilmu berarti punya keyakinan akan ke-MahaKuasa-an Allah Ta’ala. Imannya menjadi kuat. Ibadahnya lagi terjaga. Allah menjadi satu-satunya sandaran hidupnya. Bukan lagi bersandar kepada manusia atau ciptaan lainnya yang biasa dipertuhankan oleh manusia-manusia lalai dan tidak berilmu.

Dengan bersandar keyakinan kepada-Nya, cara pandang orang berilmu niscaya ikut berubah. Jika orang-orang bekerja hanya untuk dunianya saja. Maka orang beriman mengejar nasibnya di Akhirat melalui kehidupan dunianya saat ini.

Kisah tukang sihir di zaman Fir’aun layak jadi renungan sebagai penutup. Tatkala akalnya tercelup hidayah iman. Ilmu dan amalnya seketika berubah. Kalau dulu mereka adalah penyokong segala tindak tanduk dan ketetapan Fir’aun.

Kini sikap itu berubah 180 derajat. Gagah ‎berani mereka mendeklarasikan keimanan di tengah lapangan terbuka. Tepat di hadapan wajah Fir’aun. Tanpa secuil rasa takut sedikitpun. Mereka sadar dan penuh yakin dengan ucapan tauhid tersebut.

Firman Allah,

“Mereka berkata: Tidak masalah, sesungguhnya kepada Tuhan kamilah, kami akan kembali. ‎Sesungguhnya kami sudah sangat berharap Allah mengampuni dosa-dosa dan ‎kesalahan-kesalahan kami, dan kami betul-betul berharap menjadi orang-orang awal ‎beriman.” (QS. Asy-Syuara [26]: 50-51).‎

MASYKUR SUYUTHI

Direktur LBH Hidayatullah Beri Training Hukum di LP Paledang

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah DR Dudung A. Abdullah menjadi pamateri dalam pelatihan hukum kepada para warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Bogor atau dikenal dengan Lapas Paledang.

Dudung memberikan pencerahan seputar pengetahuan hukum bersama sejumlah advokat lainnya dari Kantor Hukum DR Dudung dan Rekan (DRDR), bertempat di Aula pada hari Jumat (22/11/2019).

Sebanyak 100 orang warga binaan yang rata-rata sedang menjalani proses hukum mendapat pengetahuan baru seputar dunia hukum. Training ini merupakan program rutin bulanan kerjasama antara Lapas Paledang dengan Kantor Hukum DRDR.

Selain DR Dudung Amadung Abdullah, SH, yang juga ounder Kantor Hukum DRDR, hadir pula advokat Hidayatullah, SH dan Alfarika Setiawan, SH.

Adapun materi yang diberikan oleh para pembicara pada kesempatan tersebut diantaranya kiat menghadapi perkara hukum, hak-hak terdakwa dan tersangka dalam proses hukum, serta tahapan penyelesaian perkara pidana.

Dudung juga menjelaskan tentang tokoh-tokoh besar di Indonesia dan dunia yang pernah menjalani hukuman penjara, namun kemudian berhasil menjadi pemimpin dunia dan memberi warna pada pembangunan negerinya bahkan dunia.

“Dengan training ini diharapkan warga binaan bisa memahami aturan hukum dengan baik, sehingga kedepannya mereka bisa menjadi wara negara yang taat hukum,” demikian papar Dudung.

Acara yang berlangsung selama dua jam berlangsung hidup dan interaktif. Warga Binaan yang menjadi peserta mengikuti dengan antusias hingga acara selesai.

Diantara mereka juga mengajukan pertanyaan seputar kasus yang mereka hadapi serta beberapa pengalaman yang mereka alami selama berhadapan dengan hukum.

Salah seorang peserta menyampaikan bahwa selama ini dia tidak paham tentang aturan dan prosedur hukum, sehingga ketika berhadapan dengan hukum dia merasa kalut dan bingung, tidak memahami langkah yang harus dilakukan. Padahal dia merasa bahwa ia hanya korban dari ketidaktahuan hukum.

Selesai Acara, Kepala Bina Rohani Lapas Paledang, Oman Fadilah, yang juga mendampingi hingga acara selesai, berharap agar kegiatan ini berlangsung rutin karena sangat bermanfaat bagi warga binaan. Roni menyampaikan bahwa pihak LP merasa terbantu dengan adanya kegiatan tersebut.

Kepala LP Paledang, Teguh Wibowo, BcIP, SH, MSi, dalam sambutan penghantar saat program kerjasama training ini dilaksanaan berharap training ini bisa memberikan wawasan bagi para warga binaan tentang hukum.

Sehingga, lanjut Teguh, kedepannya mereka bisa menjadi warga negara yang taat hukum. Selain itu, selepas menyelesaikan hukuman di Lapas, mereka bisa kembali ke tengah-tengah masyarakat dengan menjunjung dan mentaati aturan hukum.

Disamping itu, Kalapas juga berharap agar para warga binaan yang sekarang sedang berhadapan dengan hukum atau dalam proses penyelesaian hukum, bisa memahami hak-haknya sebagai tersangka maupun terdakwa. (drd/hio)

BMT Berperan Penting Bangun Keuangan Syariah di Indonesia

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Direktur Eksekutif Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) Ventje Rahardjo Soedigno mengapresiasi perkembangan Baitul Mal Wattamwil (BMT) di Indonesia. Menurutnya BMT memiliki peran penting dan strategis dalam membangun keuangan syariah di Indonesia.

“BMT di Indonesia memiliki peran penting dan strategis dalam membangun keuangan syariah di Indonesia. Menarik, banyak negara lain ingin belajar tentang BMT di Indonesia untuk diterapkan di negaranya,” terang Ventje saat memberikan sambutan membuka acara Indonesia Islamic Microfinance Leaders Forum di Ballroom Aryaduta Jakarta yang di selenggarakan KNKS, Rabu siang (20/11/2019) hingga pada malam harinya.

Dia mengatakan bahwa Indonesia yang menduduki peringkat pertama keuangan syariah di dunia saat ini tidak lepas dari kehadiran BMT yang mana selama ini informasi dan data BMT belum diketahui oleh lembaga pemeringkat indeks keuangan syariah dunia.

Selain itu, dalam forum tersebut juga dipaparkan tentang pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia yang dinilai sangat menggembirakan. Berdasar lembaga pemeringkat indeks keuangan syariah dunia pada tahun 2019 ini, Indonesia bertengger di peringkat nomor satu padahal pada tahun 2018 lalu masih diperingkat 6.

Forum yang bertema Peran Kepemimpinan dalam Pengelolaan BMT di Era 4.0 ini dinilai sangat penting dan strategis mengingat pemerintah dan insan syariah di Indonesia sangat berharap Indonesia pada tahun 2024 bisa menjadi pusat keuangan syariah dunia.

Forum ini diisi juga dengan talkshow yang menghadirkan para pembicara ahli di bidangnya. Diantaranya; Ahmad Juwaini (Direktur Keuangan Inklusif, Dana Sosial Keagamaan, dan Keuangan Mikro Syariah KNKS), Dr. Aries Mufti (Pelaku dan Penggerak Keuangan Mikro Syariah dan UMKM), Dr. Ahmad Subagyo (Ketua Indonesia Microfinance Expert Association) dan Andreas Sanjaya (CEO iGrow).

Menarik dalam Talkshow ini hadir pula Sandiaga Salahuddin Uno inisiator OK Oce dan pelaku Usaha serta penggerak keuangan mikro syariah dan UMKM di Indonesia. Kehadiran Sandi kian menambah semarak acara yang berlangsung intensif ini.

Kegiatan yang berlangsung hingga malam hari ini juga diisi dengan diskusi yang dipimpin oleh Bagus Aryo selaku Kepala Divisi Keuangan Mikro Syariah KNKS melibatkan para peserta perwakilan BMT se-Indonesia.

Terakhir dalam penutupan acara, Ahmad Juwaini berharap pertumbuhan BMT terus naik dan bisa suistanable hingga bisa menyokong penguatan keuangan syariah Indonesia. Acara ini turut dihadiri jajaran petinggi Hidayatullah Micro Finance (HMF) sebagai peserta undangan.*/Hidayatullah Abu Corry