Beranda blog Halaman 50

Membangun “Pabrik” Kader Pemimpin

DALAM sejarah peradaban, keberlanjutan (sustainability) bukanlah sebuah kebetulan atau alamiah. Ia adalah buah dari desain besar yang bernama kaderisasi. Sebuah negara, institusi, organisasi, bahkan keluarga akan mengalami “kematian sejarah” jika ia gagal melahirkan generasi pengganti yang lebih tangguh dari pendahulunya. Menyiapkan kader bukanlah sekadar pilihan personal, melainkan amanah keumatan yang menjadi penentu masa depan umat.

Di dunia ini pernah terlahir peradaban yang bisa bertahan ratusan tahun dengan pergantian beberapa generasi karena kaderisasi berjalan dengan baik. Salah satu alasan mengapa Utsmaniyah mampu bertahan selama lebih dari 600 tahun adalah keberadaan Sekolah Enderun di Topkapi. Ini contoh “kaderisasi” paling sistematis di zamannya. Mereka mengambil input talenta terbaik, menempa mereka dengan proses tarbiyah jasmani dan rohani yang ketat, hingga menghasilkan output birokrat dan panglima sekaliber Muhammad Al-Fatih. Mereka memastikan bahwa suksesi kepemimpinan didasarkan pada meritokrasi, bukan sekadar warisan biologis tapi digabungkan dengan kompetensi.

Satu sisi ada juga peradaban yang berjalan sesaat atau satu generasi saja karena tidak menyiapkan kader dengan baik. Contoh Kekaisaran Mongol setelah era Genghis Khan dan Kublai Khan. Mengapa? Karena mereka hebat dalam penaklukan (acquisition), namun gagal dalam kaderisasi sistemis (pengembangan bakat). Kepemimpinan mereka bersifat atomistik, bergantung pada karisma individu  sehingga saat sang tokoh wafat maka imperium hancur dan punah.

Keruntuhan peradaban sering kali berasal dari internal yaitu melemahnya kaderisasi. Adapun faktor eksternal sebagai titik balik yang mempercepat kehancuran.

Dialektika Kader: Antara Takdir Fitrah dan Rekayasa Kaderisasi

Perdebatan klasik mengenai apakah pemimpin itu dilahirkan (born) atau dibentuk (made) menemukan titik temu yang indah dalam Islam. Rasulullah SAW mengibaratkan manusia seperti “logam” (ma’adin); ada yang bak emas, ada yang bak perak dan perunggu.

Namun, seberapa pun mahalnya emas, ia tidak akan menjadi perhiasan yang indah tanpa proses pemurnian, pembakaran, dan penempaan. Di sinilah letak peran pendidikan (tarbiyah) berbasis kaderisasi dan lingkungan (bi’ah). Kita tidak bisa hanya mengandalkan faktor genetika meski itu juga aspek yang tidak bisa disepelekan, namun jika hanya mengandalkan previlige tanpa mengikuti proses kaderisasi menjadi pemimpin maka kehancuran menunggu waktu saja.

Tugas besar kita bukan sekadar mengumpulkan orang, melainkan membangun sebuah “Pabrik Kader”. Sebuah sistem manufaktur talenta yang terintegrasi untuk mengubah potensi mentah (fitrah) menjadi kompetensi kepemimpinan yang nyata.

Istilah “pabrik” di sini bukan berarti menyamakan manusia dengan mesin, melainkan sebuah penekanan pada presisi proses dan standarisasi kualitas. Dalam manajemen kaderisasi modern, pabrik ini bekerja mengintegrasikan aspek Input, Process, Output, dan Outcome:

Penggunaan istilah pabrik juga sebuah kritik terhadap pola kaderisasi “asal-asalan” yang selama ini terjadi di banyak organisasi. Terkadang input calon kader dengan kualitas apa adanya, tanpa seleksi dan kreteria. Sebagian memiliki input yang bagus tapi tidak memiliki proses yang jelas dan sistematis.

Banyak lembaga yang punya berhasil melahirkan output dengan kuantitas banyak tapi kompetensi kurang memadai. Salah satu sebabnya mesin prosesnya tidak berjalan dengan baik, prosesor sebagai pusat kendali dan teladan tidak ada.

Kemudian  outcome (sejauh mana alumni tersebut berkontribusi) kepada almamater ataupun masyarakat secara luas kurang mendapatkan porsi perhatian. Padahl ini menjadi titik balik evaluasi yang krusial dan pengembangan kaderisasi.

Istilah “Pabrik Kader” juga merupakan antitesis dari “Accidental Leadership (Kepemimpinan kebetulan). Banyak organisasi Islam terjebak dalam pola survival mode karena mereka tidak memiliki stok pemimpin cadangan, banyak orang tapi seperti tidak ada orang. Mereka mengalami apa yang disebut dalam teori manajemen sebagai Leadership Gap atau ada jurang antara kompleksitas tantangan zaman dengan kapasitas pemimpin yang tersedia.

Membangun “Pabrik Kader” berarti kita berkomitmen pada disiplin manajerial dengan memperhatikan empat proses di atas. Kita tidak lagi menunggu pemimpin jatuh dari langit; kita menjemputnya dengan sistem yang terukur. Karena kepemimpinan yang kuat bukan lahir dari kebetulan, melainkan hasil dari rekayasa sistemik yang matang.

Pabrik kader bisa dalam bentuk formal, non formal dan informal. Institusinya bisa mengikuti sesuai dengan kebutuhan dan tujuan dari out put yang akan dilahirkan dari pabrik kader tersebut. Perlu nafas panjang untuk mengelola pabrik kader karena hasilnya tidak instan, bin salabin yang tiba-tiba mendidik sesaat langsung menjadi kader.

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa organisasi yang memiliki program pengembangan kepemimpinan internal yang kuat (pabrik kader) memiliki ketahanan tiga kali lipat lebih tinggi dalam menghadapi krisis ekonomi global. Tentu dibandingkan dengan organisasi yang tidak memiliki program kaderisasi. Maka masa depan sebuah organisasi ataupun peradaban ditentukan oleh kaderisasi.

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah

Disrupsi Digital, Polarisasi Informasi dan Perubahan Cepat Geopolitik Global Menjadi Tantangan Gen Z

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH), Rizki Ulfahadi, mengingatkan bahwa generasi Z saat ini dihadapkan pada tantangan disrupsi digital, polarisasi informasi, serta perubahan geopolitik global yang berlangsung cepat. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut mahasiswa memiliki fondasi intelektual dan spiritual yang kokoh agar mampu membaca realitas secara utuh dan bertanggung jawab.

Rizki mengutarakan itu dalam rangkaian Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan PP GMH secara daring pada Sabtu, 12 Sya’ban 1447 (31/1/ 2026), yang mengangkat tema “Daya Kritis Mahasiswa: Modal Gen Z Membaca Dunia”.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan menjadi ruang diskusi lintas kampus untuk membahas peran strategis mahasiswa dalam merespons dinamika kebangsaan dan global.

Rizki Ulfahadi menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga arah perjalanan bangsa. Ia menyampaikan bahwa daya kritis mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari nilai dan integritas.

Menurut pria asal Sumatera Barat ini, identitas keislaman dan keindonesiaan merupakan pijakan utama dalam membangun perspektif yang menyeluruh ketika membaca fenomena sosial, politik, dan budaya.

“Daya kritis harus dibangun di atas nilai dan integritas. Mahasiswa tidak boleh tercerabut dari identitas keislaman dan keindonesiaannya. Justru dari sanalah lahir perspektif yang utuh dalam membaca realitas,” ujarnya.

Rizki menjelaskan, Dialog Kebangsaan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan jejaring intelektual mahasiswa lintas daerah. Melalui kegiatan tersebut, PP GMH menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan forum-forum diskusi strategis yang mendorong lahirnya mahasiswa yang kritis, berintegritas, dan berkontribusi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kegiatan ini juga sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi agenda Indonesia Emas 2045. Sebagai organisasi berbasis kader, kami berharap dialog ini menjadi titik awal konsolidasi pemikiran mahasiswa dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai, ilmu, serta keberpihakan pada kepentingan umat dan bangsa,” imbuhnya.

Kecermatan Membaca Konteks

Dialog ini menghadirkan tokoh literasi nasional, Imam Nawawi, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Imam Nawawi menekankan pentingnya penguatan budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis di kalangan generasi Z, khususnya mahasiswa.

Penulis buku Mindset Surga ini menyampaikan bahwa derasnya arus informasi global menuntut kemampuan membaca konteks dan memilah informasi secara cermat.

Menurut Imam Nawawi, daya kritis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyampaikan kritik, tetapi juga mencakup kecakapan memahami dinamika sosial-politik, menilai relevansi informasi, serta menawarkan solusi yang berbasis pengetahuan.

“Mahasiswa harus menjadi pembaca dunia yang aktif, bukan sekadar konsumen informasi,” tegas Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) ini, lalu menekankan peran mahasiswa sebagai subjek aktif dalam produksi dan pemaknaan pengetahuan.

Ia juga menjelaskan bahwa pada era informasi yang berlimpah, mahasiswa perlu mengembangkan nalar kritis agar tidak terjebak pada pengulangan narasi populer tanpa memahami esensi di baliknya.

Menurutnya, nalar kritis merupakan kemampuan untuk memberi jarak terhadap otoritas, tren, maupun algoritma digital, sehingga ruang bagi pertanyaan yang jujur dan pemikiran independen tetap terjaga.

“Nalar kritis bukan sekadar kemampuan berdebat, tetapi kemampuan menunda kepatuhan pada otoritas, tren, atau algoritma demi memberi ruang bagi pertanyaan yang tulus dan pemikiran independen, sehingga mahasiswa dapat membedakan fakta dari propaganda serta data dari narasi yang bermuatan kepentingan tertentu,” papar Imam.

Diskusi ini dipandu oleh moderator, Giri Novela, yang juga menjabat sebagai Ketua Departemen Organisasi dan Pengembangan Jaringan PP GMH.

Selama forum berlangsung, sesi tanya jawab menunjukkan antusiasme peserta. Mahasiswa dari berbagai kampus menyampaikan pandangan, pertanyaan, serta refleksi kritis terkait tantangan generasi muda dalam menghadapi banjir informasi, budaya instan, dan fenomena post-truth di era digital.

Bergembira karena Datangnya Ramadhan, Tanda Hati yang Masih Hidup

0

GEMBIRA menyambut bulan Ramadhan bukanlah perkara sepele dalam ajaran Islam. Ia bukan sekadar rasa senang karena pergantian waktu atau datangnya satu bulan tertentu dalam kalender.

Lebih dalam dari itu, kegembiraan atas hadirnya Ramadhan adalah ekspresi iman yang hidup, tanda hati yang peka, dan bukti kecintaan seorang hamba terhadap musim ketaatan yang Allah bentangkan.

Para ulama sejak generasi awal telah menaruh perhatian besar pada makna kegembiraan ini. Mereka menegaskan bahwa menghadirkan rasa gembira ketika datang musim-musim ibadah, terlebih Ramadhan, adalah bagian dari pengamalan iman. Karena Islam tidak hanya mengatur gerak lahiriah, tetapi juga kehidupan batin, termasuk rasa, harap, dan cinta kepada Allah.

Landasan utama tentang kegembiraan yang benar ditegaskan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itulah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

Ayat ini menegaskan bahwa kegembiraan yang diperintahkan dalam Islam bukan kegembiraan duniawi semata. Bukan pula sekadar rasa puas karena harta, kedudukan, atau keberhasilan materi. Kegembiraan yang bernilai adalah kegembiraan karena karunia agama, iman, hidayah, dan kesempatan untuk taat kepada Allah.

Makna firman Allah, “Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan,” menunjukkan bahwa iman, Islam, Al-Qur’an, As-Sunnah, serta peluang untuk beribadah jauh lebih bernilai daripada seluruh harta dunia yang dikumpulkan manusia. Harta bersifat sementara dan pasti ditinggalkan, sedangkan iman dan amal saleh adalah bekal yang akan menyertai seorang hamba menuju akhirat.

Dalam penjelasan para ulama, ayat ini mengarahkan manusia agar bergembira dengan petunjuk dan agama yang benar, yaitu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Inilah kegembiraan yang paling pantas dirasakan seorang mukmin. Sebab ia berkaitan dengan keselamatan hidup, ketenangan hati, dan masa depan yang abadi.

Sebuah kisah yang sering disebutkan untuk memperjelas makna ini adalah peristiwa ketika harta pajak dari Irak dibawa kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. Jumlah unta yang datang sangat banyak hingga mengagumkan. Umar ra memuji Allah dengan ucapan, Alhamdulillah.

Namun, ketika ada yang berkata, “Ini adalah karunia dan rahmat Allah,” beliau menegaskan bahwa harta bukanlah maksud karunia dan rahmat Allah dalam ayat tersebut. Yang dimaksud adalah iman dan hidayah, sedangkan harta hanyalah sesuatu yang dikumpulkan manusia di dunia.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa melimpahnya harta bukan ukuran utama kegembiraan seorang beriman. Kegembiraan sejati adalah ketika Allah memberi iman dan membuka kesempatan untuk beramal serta menegakkan ketaatan.

Makna ini juga ditegaskan oleh para ulama kontemporer. Tidak ada amalan khusus yang disyariatkan untuk menyambut Ramadhan selain menyambutnya dengan rasa gembira, syukur, dan bahagia kepada Allah. Sebab dipertemukan dengan Ramadhan adalah nikmat besar.

Rasulullah ﷺ sendiri membahagiakan para sahabat dengan kabar datangnya Ramadhan, menjelaskan keutamaannya, serta pahala besar bagi orang yang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.

Menyambut Penuh Kesungguhan Persiapan

Generasi salafus shalih menyambut Ramadhan dengan kesungguhan yang luar biasa. Mereka mempersiapkan diri jauh hari, menyambutnya dengan harapan dan kegembiraan, karena mereka memahami betapa luasnya karunia Allah di bulan ini.

Waktu mereka dipenuhi dengan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, doa, sedekah, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya. Mereka sadar bahwa Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya pahala, dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan dibelenggunya setan-setan.

Ramadhan bagi mereka adalah musim semi iman, masa panen amal, dan pasar besar bagi kebaikan. Tidak ada bulan yang lebih berharga bagi seorang mukmin selain Ramadhan.

Kondisi ini patut dibandingkan dengan keadaan kita hari ini. Bagi sebagian orang, Ramadhan justru lebih identik dengan kesibukan mengurus makanan, hiburan, dan berbagai kesenangan duniawi. Waktu yang seharusnya digunakan untuk ibadah sering tersita oleh hal-hal yang kurang bernilai.

Tentu tidak semua demikian, karena masih ada hamba-hamba Allah yang diberi taufik untuk memuliakan Ramadhan. Namun secara umum, perbedaan ini layak menjadi bahan muhasabah bersama.

Betapa jauhnya perbedaan kegembiraan salafus shalih dengan kegembiraan kita. Kegembiraan mereka lahir dari peluang memperbanyak ibadah, sedangkan kegembiraan kita sering bercampur dengan urusan dunia.

Karena itu, sudah seharusnya kita memperbaiki cara menyambut Ramadhan. Menjadikan kegembiraan sebagai bentuk syukur karena Allah masih memberi umur, kesempatan, dan kemampuan untuk taat.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan hati kita, dan menjadikan Ramadhan sebagai bulan perubahan menuju ketaatan yang lebih baik.

Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan bimbinglah kami, wahai Rabb seluruh alam.[]

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis adalah Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara, alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, pengasuh kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Hidayatullah Sulsel Tegaskan Orientasi Amal Shaleh yang Terstruktur dan Berkelanjutan

0

BONE (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muhammad Saleh Usman, menegaskan bahwa istilah “program kerja” dalam perspektif Al-Qur’an pada hakikatnya adalah amal shaleh. Ia menyampaikan bahwa aktivitas organisasi sebagai ikhtiar kolektif yang terstruktur untuk menguatkan iman dan mewujudkan amal shaleh secara berkelanjutan dalam bingkai dakwah.

Penegasan tersebut disampaikan Muhammad Saleh Usman saat membuka Rapat Kerja Daerah Gabungan Kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo yang digelar di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Salaonro, Jalan Poros Watansoppeng – Pampanua, Kecamatan Lili Rilau, Kabupaten Soppeng, pada Senin, 14 Sya’ban 1447 (2/1/2026).

Dalam forum tersebut, Saleh menekankan pentingnya kepemimpinan Qur’ani sebagai fondasi pengelolaan organisasi, sekaligus penguatan amal shaleh sebagai landasan utama perumusan dan pelaksanaan program.

Saleh menjelaskan bahwa seluruh program yang dijalankan organisasi pada dasarnya merupakan wujud amal shaleh. Oleh karena itu, setiap program perlu dikomunikasikan dengan baik serta dilandasi niat yang benar.

“Semua program yang kita jalankan hakikatnya adalah amal sholeh. Oleh karena itu, harus dikomunikasikan dengan baik dan dilandasi niat yang benar,” ujarnya.

Dalam arahannya, Saleh juga mengingatkan bahwa aspek finansial memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas dakwah, namun tidak dapat dijadikan ukuran utama dalam beramal.

Ia menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah menjadikan kesiapan materi sebagai syarat pokok dalam menjalankan dakwah. Dia mengingatkan bahwa kekuatan dakwah bertumpu pada keyakinan dan konsistensi, bukan pada besarnya dukungan finansial.

Sebagai contoh, Saleh menyebut perkembangan dakwah di wilayah Bone dan Soppeng yang menurutnya tumbuh dari keyakinan dan komitmen, bukan dari kekuatan materi. Ia menggambarkan keterbatasan sumber daya tidak menjadi penghalang bagi keberlangsungan dakwah selama dilandasi niat yang lurus dan kerja nyata.

Dalam pada itu, Saleh mengutip QS At-Taubah ayat 105 untuk menegaskan bahwa keyakinan harus diwujudkan dalam bentuk amal dan kerja yang nyata. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kuantitas amal tidak otomatis bernilai di sisi Allah apabila disertai dengan niat yang keliru atau praktik kezaliman. Penekanan ini disampaikan untuk menjaga orientasi amal agar tetap berada dalam koridor keikhlasan.

“Bahkan amal para ahli Al-Qur’an, mujahid, dan dermawan bisa gugur jika tidak ikhlas karena Allah,” tegasnya.

Muhammad Saleh Usman menegaskan bahwa dakwah harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, baik di wilayah pedesaan, perkotaan, maupun kalangan pejabat dan pemangku kebijakan.

Dia menekankan bahwa seluruh program kerja harus dibangun di atas kesepakatan dan kemauan bersama. Ia mengibaratkan sebuah program tidak akan terwujud tanpa kesepahaman, sebagaimana sebuah gazebo tidak akan berdiri jika tidak ada kerja sama antar pihak.

Ia juga mengurai sejumlah faktor yang kerap melahirkan sikap “tidak mau” dalam menjalankan program, di antaranya karena tidak memahami program, terjadi salah paham, atau faktor kondisi personal seperti sakit. Karena itu, ia menegaskan pentingnya kehadiran pendamping atau konselor dalam struktur untuk membantu memahamkan program kepada kader.

“Jika kita mengaku sebagai kader, maka hindari segala sesuatu yang bisa merusak ukhuwah,” tegas pria yang sebelumnya mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah ini.

Pada kesempatan tersebut, Ketua DPW juga menekankan bahwa Marhalah Ula merupakan standar dasar keimanan, keislaman, dan ketakwaan seseorang secara hakiki, yang harus menjadi pijakan bersama dalam menjalankan seluruh agenda dakwah dan organisasi.

Rapat Kerja Daerah Gabungan ini juga ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan pengurus Dewan Pengurus Cabang oleh Dewan Pengurus Daerah Bone. Pengurus yang ditetapkan meliputi DPC Tanete Riattang Barat dengan ketua Ustadz Bachtiar, DPC Amali dengan Ustadz Darman, DPC Patimpeng dengan Ustadz Munshif, DPC Kahu dengan Ustadz Herman, DPC Ponre dengan Ustadz Kaharuddin, serta DPC Sibulue dengan Ustadz A. Muh. Ishak.

Rakerda berlangsung intensif sehari penuh dengan agenda utama sinkronisasi program dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat lintas kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo. Selain itu, forum ini diarahkan untuk memperkuat soliditas struktur organisasi di tingkat daerah dan cabang agar pelaksanaan program berjalan selaras dengan prinsip amal shaleh sebagai orientasi utama gerakan.

Dewan Murabbi Paparkan Makna Al Harakah Al Jihadiyah sebagai Gerakan Hidup

0

BATU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Timur, Muhammad Juweni, menegaskan bahwa makna Al Harakah Al Jihadiyah tidak boleh dipahami secara sempit maupun sekadar simbolik. Ia menyampaikan bahwa konsep tersebut merupakan identitas perjuangan organisasi yang harus dimaknai sebagai ruh gerakan, hadir dan menjiwai seluruh aktivitas kader tanpa dibatasi oleh profesi, posisi, atau berbagai ruang pengabdian dalam kehidupan.

Penegasan tersebut disampaikan Muhammad Juweni dalam Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Kampus Hidayatullah Batu pada Jumat hingga Sabtu, 12-13 Sya’ban 1447 (31 Januari–1 Februari 2026). Forum ini dihadiri pengurus Hidayatullah dari berbagai struktur di seluruh wilayah Jawa Timur dan menjadi bagian dari agenda konsolidasi organisasi.

Dalam pengantar materinya, Juweni mengingatkan kembali Al Harakah Al Jihadiyah Al Islamiyah sebagai salah satu jati diri utama Hidayatullah yang membentuk arah dan karakter perjuangan organisasi.

“Al Harakah Al Jihadiyah adalah gerakan hidup. Ia menuntut kesungguhan total dalam mengamalkan Islam di seluruh lini kehidupan,” ujar Juweni.

Menurut Juweni, tantangan organisasi pada masa kini adalah pada konsistensi dalam menjaga karakter dasar. Oleh karena itu, Rakerwil ditegaskan Juweni sebagai ruang muhasabah agar seluruh aktivitas organisasi tetap berada dalam koridor jihad fii sabilillah.

Materi lanjutan disampaikan oleh anggota DMW Jawa Timur, Muhammad Syuhud, yang menegaskan bahwa jihad fii sabilillah merupakan amal puncak dalam Islam dan menjadi landasan seluruh gerak kader Hidayatullah.

Ia menyampaikan bahwa tidak ada amal lain yang memiliki keutamaan yang dipadukan dengan jihad fii sabilillah, sehingga orientasi niat menjadi aspek utama dalam setiap aktivitas kader.

“Tidak ada amal yang pahalanya dipadukan dengan jihad fii sabilillah. Oleh karena itu, yang terpenting adalah memastikan setiap profesi—guru, dai, pengelola lembaga, pengusaha, maupun pengurus—dijalani dengan niat jihad,” ujar Syuhud.

Dia menekankan bahwa jihad dapat tercermin dalam kesungguhan menjalankan amanah sebagai hamba (Abdullah) dan sebagai pemakmur bumi atau khalifatullah.

Dalam pandangannya, keberadaan dalam meniti jalan perjuangan adalah pilihan sadar untuk hidup dalam khidmat dakwah dan tarbiyah jangka panjang.

“Berada dalam Al Harakah Al Jihadiyah berarti siap berproses, siap berkorban, dan siap istiqamah, meski hasilnya tidak selalu instan,” kata Syuhud.

Dalam pemaparannya, Syuhud mengaitkan makna jihad dengan manhaj Sistematika Wahyu yang menjadi dasar gerakan Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa perjuangan Islam dibangun secara bertahap, mengikuti pola turunnya wahyu.

Menurutnya, Wahyu Makkiyah berfungsi sebagai pondasi dan kerangka pembentukan akidah serta kepribadian, sementara Wahyu Madaniyah menyempurnakan bangunan peradaban.

“Wahyu Makkiyah adalah pondasi dan kerangka. Wahyu Madaniyah menyempurnakan bangunan. Ini pelajaran bahwa jihad adalah proses panjang yang menuntut kesabaran dan konsistensi,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Syuhud menegaskan bahwa Hidayatullah menempatkan diri sebagai organisasi kemasyarakatan yang wasathiyah yang menghadirkan keseimbangan, hikmah, dan peran pemersatu umat.

Seperti diketahui, enam jati diri Hidayatullah adalah Sistematika Wahyu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al Harakah Al Jihadiyah Islamiyah, Imamah dan Jamaah, Jama’atun Minal Muslimin, dan Al Wasathiyah, yang menjadi pedoman dalam gerakan dakwah dan pendidikan Hidayatullah untuk membangun peradaban Islam dengan manhaj tarbiyah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta menekankan kepemimpinan, persatuan, dan keseimbangan.[]

Mengapa Umat Islam adalah Umat Terbaik?

0

UNGKAPAN bahwa umat Islam adalah umat terbaik telah lama beredar dalam ruang diskursus keislaman. Namun, pemaknaan atas predikat tersebut sering kali berhenti pada klaim normatif tanpa penggalian syarat dan konsekuensinya.

Saya menemukan satu jawaban tegas kala membaca buku Pengantar Tafsir Modern Jilid 1 (Judul asli: Al-Tafsir al-Hadith: Tartib al-Suwar Hasba al-Nuzul) karya Syaikh Muhammad ‘Izzat bin Abdul Hadi bin Darwish bin Ibrahim bin Hasan Darwazah.

Dalam karyanya, pendidik yang lebih dikenal dengan nama Izzat Darwazah ini tidak semata menempatkan predikat umat terbaik sebagai status bawaan, melainkan sebagai capaian yang bergantung pada sikap dan orientasi hidup umat Islam terhadap Al-Qur’an.

Menurut Darwazah, umat Islam hanya dapat disebut sebagai umat terbaik selama mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya, petunjuk, dan peta jalan (road map) dalam menjalani kehidupan dunia.

Dengan kata lain, Darwazah menegaskan bahwa keunggulan umat tidak ditentukan oleh jumlah, identitas formal, atau romantisme sejarah, melainkan oleh kesediaan untuk menundukkan seluruh aspek kehidupan pada nilai-nilai wahyu.

Darwazah menegaskan bahwa predikat tersebut mengandung beban tanggung jawab yang berat. Umat Islam dituntut untuk bersedia menanggung konsekuensi dari amanah yang mereka emban, menyadari peran tersebut, dan melaksanakannya secara nyata.

Amanah itu mencakup kesediaan menyeru manusia kepada jalan kebaikan, kebenaran, dan petunjuk, serta menghidupkan amar makruf nahi munkar dalam pengertian yang substantif dan berkelanjutan.

Lebih jauh, Darwazah juga menekankan pentingnya membangun tradisi saling menguatkan dalam kesabaran dan kebenaran, serta membiasakan diri menghargai kebaikan, keadilan, kebajikan, kasih sayang, ihsan, kedermawanan, kemuliaan, kejujuran, dan komitmen terhadap janji.

Dalam pengembangannya, Syaikh Darwazah yang menulis buku tafsirnya berdasarkan kronologis turunnya ayat (tartib nuzuli) ini mendorong umat Islam untuk benar-benar menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.

Kesibukan ini bukan sekadar aktivitas ritual, melainkan keterlibatan intelektual dan spiritual melalui upaya memahami, merenungkan, menafsirkan, menyimpulkan hukum, memetik ilham, dan mereguk inspirasi.

Dorongan yang juga menjadi pesan penting dari Rasulullah ini sejalan dengan prinsip dasar wahyu pertama, iqra’ bismirabbik, serta berbagai perintah Al-Qur’an agar manusia berpikir (yatafakkarun, ta‘qilun, ulul albab).

Kehidupan yang Memiliki Arah

Dari penjelasan tersebut, tampak bahwa kriteria umat terbaik bermuara pada satu hal mendasar, yakni kehidupan yang memiliki arah. Hidup yang terarah berarti menjadikan kebaikan sebagai tujuan, dengan Al-Qur’an sebagai penuntun utama.

Perkataan seseorang menjadi bernilai ketika berpijak pada Al-Qur’an. Perjalanan, tugas, dan silaturahmi menjadi bermakna ketika diarahkan untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Bahkan jabatan dan kekuasaan hanya bernilai sejauh dipahami sebagai amanah dan sarana menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Dengan demikian, dalam posisi dan peran apa pun, umat Islam dapat diarahkan menjadi unggul selama orientasi hidupnya mengikuti arah yang ditentukan Al-Qur’an. Kebaikan yang dimaksud bukan kebaikan subjektif, melainkan kebaikan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. Prinsip ini menuntut konsistensi antara keyakinan dan praksis sosial.

Pada tataran personal, gagasan Syaikh Darwazah yang lahir di Nablus, Palestina, ini mengajak setiap kita untuk melakukan introspeksi diri. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah Al-Qur’an benar-benar menjadi episentrum kesadaran, atau justru nilai-nilai material yang selama ini mengendalikan cara berpikir dan berperilaku.

Upaya menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan melalui pendekatan yang dikembangkan oleh Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, yakni dengan mendalami ayat-ayat dalam surah-surah awal yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat tersebut meliputi lima ayat Surah Al-‘Alaq, tujuh ayat Surah Al-Qolam, sepuluh ayat Al-Muzammil, sepuluh ayat Al-Mudatsir, serta keseluruhan Surah Al-Fatihah.

Pendekatan ini terbukti membentuk pribadi-pribadi yang memiliki kekuatan spiritual dan kepekaan dakwah. Para murid dan kader Ust. Abdullah Said tampil di tengah masyarakat dengan dakwah yang efektif karena menyampaikan Islam bukan semata-mata secara kognitif, melainkan melalui keindahan ajaran yang mereka hayati dan amalkan.

Praktik seperti tekun membaca dalam arti luas, meyakini Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, membiasakan tahajud, berdakwah dengan niat membesarkan nama Allah, serta membangun akhlak sebagaimana pesan utama Surah Al-Fatihah, menjadi manifestasi nyata dari kehidupan Qur’ani yang terarah.[]

*) Mas Imam Nawawi, penulis adalah pegiat literasi Hidayatullah

Menjadikan Bulan Sya’ban sebagai Ruang Refleksi Spiritual dan Kesadaran Kemanusiaan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., mengajak umat Islam menjadikan bulan Sya’ban sebagai momentum untuk menyelami kembali spiritualisme Islam dalam makna yang lebih luas dan mendalam. Menurutnya, Sya’ban tidak sekadar fase transisi menuju Ramadhan, tetapi periode penting untuk menata kesiapan spiritual, moral, dan sosial umat.

Dalam konteks tersebut, Naspi mengingatkan doa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang berbunyi: “Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan,” yang berarti, “Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah umur kami hingga bulan Ramadhan.”

Doa ini, jelasnya, merupakan tuntunan Nabi Muhammad saw yang menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak munajat sebagai persiapan batin disamping persiapan fisik sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Di pertengahan bulan ini, sebagian umat Islam juga memperingati Nisfu Sya’ban. Naspi memaknai peringatan ini sebagai ruang refleksi untuk menyucikan jiwa, baik secara personal maupun dalam konteks kehidupan berbangsa. Dalam kerangka refleksi tersebut, ia juga mengajak umat Islam untuk terus mendoakan Palestina yang hingga saat ini masih berada dalam kondisi terjajah dan mengalami ketidakadilan struktural.

“Ini adalah momentum yang mengingatkan umat pada pentingnya kesungguhan perjuangan dan kesungguhan ibadah. Persiapan menuju Ramadhan sebagaimana spirit yang terkandung dalam bulan Sya’ban ini memiliki dimensi sosial dan kemanusiaan,” katanya di Jakarta, Senin, 15 Sya’ban 1447 (3/2/2026) sembari menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipisahkan dari kepekaan terhadap realitas penderitaan dan ketidakadilan yang dialami sesama manusia.

Kesungguhan ibadah, jelas Naspi, harus berjalan seiring dengan kesadaran moral untuk memperjuangkan keadilan. Ia menekankan bahwa dimensi spiritual dalam Islam selalu memiliki implikasi sosial, termasuk dalam bentuk dukungan moral dan spiritual terhadap perjuangan pembebasan Palestina dari penjajahan. Dengan demikian, tegasnya, ibadah tidak berhenti pada relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga mewujud dalam kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan global.

Oleh karena itu, periode Sya’ban dipandang Naspi relevan sebagai titik jeda untuk melakukan evaluasi diri sebelum memasuki fase ibadah yang lebih intensif di bulan Ramadhan.

Momentum ini, menurutnya, juga dapat dimanfaatkan untuk meneguhkan kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Melalui peningkatan kualitas spiritual, umat Islam diharapkan mampu memperkuat persaudaraan, menumbuhkan rasa kebersamaan, dan membangun solidaritas sosial yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lebih lanjut, Naspi menegaskan bahwa aktualisasi ibadah ritual dalam momentum istimewa ini seharusnya bermuara pada pembentukan laku hidup yang positif dan berkeadaban. Ia mengaitkan hal tersebut dengan spirit Surah Al-‘Alaq yang menekankan pentingnya membaca dan pengetahuan sebagai fondasi pembebasan manusia.

“Spirit membaca yang dibingkai dengan iqra’ bismirabbik merupakan proses pembacaan realitas yang berlandaskan kesadaran ketuhanan, sehingga melahirkan masyarakat yang berpengetahuan,” katanya menandaskan.

Pondok Pesantren Hidayatullah Medan Peserta Hebitren Sumut dalam Kunjungan Wamen Koperasi

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Medan turut ambil bagian dalam kegiatan Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (Hebitren) Sumatera Utara yang digelar bersama Koperasi Sekunder Bisnis Pesantren (KSBP) Sumatera Utara di lingkungan Pondok Pesantren Al Kautsar Al Akbar, Medan.

Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 11 Sya’ban 1447 (30/1/2026), dan menjadi bagian dari agenda kunjungan kerja Wakil Menteri Koperasi Republik Indonesia, Farida Farichah, ke Sumatera Utara.

Acara ini turut dihadiri Direktur Umum dan Hukum Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) Deva Rachman, S.Sos,. M.Si.

Kunjungan tersebut adalah forum silaturahim sekaligus peninjauan langsung terhadap perkembangan ekonomi pesantren dan koperasi pesantren di wilayah Sumatera Utara.

Melalui Hebitren, pesantren-pesantren yang memiliki unit usaha dipertemukan dalam satu ruang koordinasi untuk memperkuat jejaring, berbagi praktik baik, serta membangun sinergi dengan pemerintah.

Dalam agenda yang dipusatkan di kantor KSBP Sumatera Utara tersebut, Wakil Menteri Koperasi RI disambut oleh pengurus koperasi pesantren dan para pimpinan pesantren yang hadir.

Rangkaian kegiatan mencakup perkenalan dengan pengurus KSBP Sumut, penyampaian arahan Wakil Menteri Koperasi, serta peninjauan langsung sejumlah unit usaha pesantren, seperti toko koperasi, unit digital printing, konveksi, hingga Sarana Produksi Pangan Gizi (SPPG) milik Ponpes Al Kautsar Al Akbar.

Pondok Pesantren Hidayatullah Medan menjadi salah satu peserta yang diundang secara resmi dalam kegiatan tersebut. Kehadiran Pesantren Hidayatullah Medan mencerminkan keterlibatan aktif pesantren ini dalam ekosistem ekonomi pesantren di Sumatera Utara, khususnya dalam penguatan koperasi dan usaha berbasis komunitas.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Ust. Isa Abdul Baary, menyampaikan bahwa keikutsertaan pesantrennya dalam forum Hebitren Sumatera Utara merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren.

“Kami memandang kunjungan ini sebagai dorongan moral dan strategis untuk terus memperkuat kemandirian ekonomi pesantren. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi umat,” ujar Isa Abdul Baary dalam keterangannya.

Ia menjelaskan bahwa penguatan ekonomi pesantren menjadi penopang penting bagi keberlanjutan fungsi pendidikan dan pembinaan santri. Melalui unit-unit usaha yang dikelola secara profesional dan berjejaring, pesantren diharapkan mampu mengembangkan sumber pembiayaan mandiri sekaligus membuka ruang pemberdayaan bagi masyarakat sekitar.

Kegiatan Hebitren Sumatera Utara ini juga dimaknai sebagai langkah konkret mempererat hubungan antara pesantren dan pemerintah. Kehadiran Wakil Menteri Koperasi RI memberikan ruang dialog langsung mengenai kebijakan, dukungan, serta tantangan yang dihadapi koperasi pesantren di daerah.

Dalam agenda tersebut, pesantren tidak hanya diposisikan sebagai penerima kebijakan, tetapi sebagai mitra strategis dalam penguatan ekonomi nasional berbasis nilai gotong royong dan prinsip syariah.

Ust. Isa Abdul Baary menilai bahwa kolaborasi antara Hebitren, KSBP, pesantren, dan pemerintah memiliki potensi besar untuk mempercepat penguatan koperasi pesantren.

“Dengan sinergi yang terbangun, pesantren dapat berkembang menjadi model ekonomi berbasis komunitas yang produktif, profesional, dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Ia juga berharap bahwa kegiatan seperti ini dapat membuka akses yang lebih luas bagi pesantren untuk meningkatkan kapasitas usaha, baik dari sisi manajemen, jaringan pemasaran, maupun akses pembiayaan.

Menurutnya, ekonomi pesantren yang kuat akan berdampak langsung pada kualitas pendidikan, kesejahteraan santri, serta kontribusi sosial pesantren di tengah masyarakat.

Kunjungan kerja Wakil Menteri Koperasi RI ke Hebitren Sumatera Utara ditutup dengan sesi ramah tamah dan diskusi bersama para pimpinan pesantren dan lembaga.

Amun Rowie Tekankan Peran Strategis Kader Senior dalam Regenerasi Gerakan Dakwah

0

BATU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie, menyampaikan bahwa kader senior memiliki peran strategis dalam menjaga nilai, arah, serta kesinambungan pengalaman perjuangan organisasi.

Ia menegaskan bahwa proses regenerasi tidak dimaksudkan untuk memutus mata rantai pengabdian, melainkan memastikan estafet dakwah berjalan dengan tetap berpijak pada nilai-nilai yang telah dibangun oleh para pendahulu.

Pernyataan tersebut disampaikan Amun Rowie saat memberikan arahan dalam Rapat Kerja Wilayah Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur yang berlangsung di Kampus Hidayatullah Batu, Jawa Timur, pada Jumat hingga Sabtu, 12-13 Sya’ban 1447 (31 Januari–1 Februari 2026).

Dalam arahannya, Amun menegaskan bahwa Hidayatullah merupakan organisasi perjuangan yang tidak mengenal konsep pensiun dalam dakwah.

Ia menyampaikan bahwa pengabdian dalam organisasi bersifat berkelanjutan, seiring dengan tanggung jawab moral dan nilai perjuangan yang melekat pada setiap kader.

“Pensiun boleh ada di amal usaha, tetapi tidak dalam organisasi perjuangan. Kita berjuang sampai akhir,” ujarnya di hadapan peserta Rakerwil.

Rakerwil DPW Hidayatullah Jawa Timur diikuti oleh berbagai unsur struktur organisasi. Peserta mencakup perwakilan Dewan Pengurus Pusat, Dewan Murabbi Wilayah, Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Pengurus Daerah, badan-badan organisasi, amal usaha, serta organisasi pendukung Hidayatullah se-Jawa Timur. Kehadiran lintas unsur ini mencerminkan keterpaduan struktur organisasi dalam merumuskan arah kerja wilayah.

Amun Rowie menjelaskan bahwa regenerasi kader harus dilaksanakan secara terencana dan berkesinambungan, dengan pembagian peran yang jelas antara kader senior dan kader junior.

Menurutnya, kader senior tetap memegang fungsi strategis sebagai penjaga nilai, penentu arah, serta penyimpan pengalaman perjuangan organisasi.

Sementara itu, kader junior didorong untuk tampil sebagai penggerak lapangan dan pelaksana program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Pembagian peran tersebut, menurut Amun, bertujuan menjaga keseimbangan antara kesinambungan nilai dan kebutuhan akan energi baru dalam organisasi.

Dengan pola ini, proses kaderisasi tidak hanya menghasilkan pergantian struktur, tetapi juga memastikan transfer nilai dan pengalaman berlangsung secara utuh. Ia menekankan bahwa regenerasi tidak identik dengan penghapusan peran kader lama, melainkan penataan ulang peran sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Dalam pemaparannya, Amun juga mengungkapkan data komposisi kepengurusan Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah di Jawa Timur. Ia menyebutkan bahwa sekitar 30 persen pengurus DPD saat ini berasal dari kader baru. Komposisi tersebut menunjukkan adanya proses penyegaran organisasi yang berjalan seiring dengan upaya menjaga ruh perjuangan yang telah dibangun sebelumnya.

Menurut Amun, kehadiran kader baru dalam struktur kepengurusan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang sehat. Namun demikian, ia menegaskan bahwa penyegaran tersebut harus tetap berada dalam koridor nilai dan visi perjuangan Hidayatullah. Dengan demikian, keberlanjutan dakwah tidak hanya dijaga melalui regenerasi usia, tetapi juga melalui konsistensi nilai dan arah gerakan.

Dia mengatakan, Rapat Kerja Wilayah DPW Hidayatullah Jawa Timur menjadi forum penting untuk menyamakan persepsi terkait pola kaderisasi dan pembagian peran antar generasi.

Melalui forum ini, kembali dia menegaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh munculnya kader baru, tetapi juga oleh peran aktif kader senior dalam membimbing, mengarahkan, dan menjaga marwah perjuangan.

Forum Rakerwil Jawa Timur, Suwito Abdul Fattah Tekankan Relevansi Hidayatullah dalam Dinamika Nasional

0

BATU (Hidayatullah.or.id) — Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Suwito Abdul Fattah, menyampaikan bahwa pada usia organisasi yang telah melampaui setengah abad, Hidayatullah sebagai salah satu pilar pembangunan bangsa dituntut untuk semakin relevan dengan dinamika nasional.

Ia mengatakan bahwa organisasi perlu hadir sebagai mitra strategis negara dengan tetap berpijak pada nilai-nilai agama, Pancasila, dan Undang-Undang Dasar 1945. Penegasan tersebut disampaikan Suwito dalam forum Rapat Kerja Wilayah Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Kampus Hidayatullah Batu pada Jumat hingga Sabtu, 12-13 Sya’ban 1447 (31 Januari–1 Februari 2026).

Suwito mendorong forum ini menjadi ruang konsolidasi dan penegasan arah gerak organisasi, dengan penekanan bahwa seluruh program kerja tidak berhenti pada tataran perencanaan, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Suwito, yang dikenal memiliki pengalaman panjang dalam penguatan tata kelola organisasi dan filantropi Islam, menyampaikan bahwa ukuran keberhasilan organisasi tidak dapat disederhanakan pada aspek tata kelola semata. Ia menekankan bahwa program kerja harus keluar dari ruang konseptual dan menjangkau kebutuhan riil masyarakat.

“Program kerja jangan berada di menara gading. Ia harus dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Suwito, sembari mengingatkan bahwa kerja-kerja organisasi harus memberi dampak nyata, bukan sekadar memenuhi kewajiban laporan atau penyerapan anggaran.

Menurut Suwito, keberhasilan tidak diukur dari besarnya forum musyawarah atau kelengkapan dokumen perencanaan. Ia menekankan bahwa yang lebih penting adalah sejauh mana program Hidayatullah mampu menjawab kebutuhan umat secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, ia menegaskan Rakerwil menjadi forum strategis untuk menyatukan arah dan memperkuat orientasi pengabdian.

“Musyawarah ini bagian dari syariat. Kalau dijalankan dengan ukhuwah dan kesungguhan, insyaallah menghadirkan keberkahan. Rakerwil harus menjadi ruang menyatukan arah, bukan mempertahankan ego,” ujarnya.

Agenda Besar Nasional

Suwito juga menyinggung sejumlah agenda besar nasional, termasuk penguatan ketahanan pangan, pengembangan energi hijau, serta investasi sumber daya manusia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas.

Ia menyampaikan bahwa potensi sumber daya yang dimiliki Hidayatullah perlu dikelola secara terukur agar memberikan dampak yang luas bagi masyarakat.

“Program kerja itu harus dirasakan bukan hanya ke dalam, tapi juga ke luar. Manajemen waktu dan energi harus jelas, supaya manfaatnya sampai ke umat,” katanya, seraya mendorong agar menghindari pola kerja formalistik yang berfokus pada penyelesaian administrasi semata.

Ia mengingatkan bahwa masih terdapat kecenderungan menganggap program selesai ketika laporan disampaikan dan anggaran terserap. Menurutnya, indikator keberhasilan justru terletak pada kepuasan masyarakat di luar struktur organisasi.

“Indikator keberhasilan itu bukan kepuasan pengurus. Yang kita ukur justru kepuasan di luar struktur, apakah masyarakat merasa terlayani, terbantu, dan dilindungi,” tegasnya.