JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Jakarta Selatan meresmikan Poltangan Southgate sebagai basecamp sekaligus kantor baru yang telah renovasi di bilangan Poltangan III, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat, 23 Ramadhan 1447 (13/3/2026).
Peresmian ini menjadi bagian dari upaya rebranding kantor DPD sebagai ruang kolaborasi bagi kegiatan dakwah, belajar mengajar, dan pemberdayaan masyarakat.
Peresmian markas yang berlokasi di kawasan Poltangan tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Kegiatan juga dirangkai dengan buka puasa bersama serta forum diskusi Focus Group Discussion (FGD) bersama komunitas Ojol Mengaji yang selama ini aktif belajar Al-Qur’an di Jakarta dan sekitarnya.
Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta, Ade Syariful Alam, mengapresiasi berbagai kegiatan yang telah dijalankan oleh DPD Hidayatullah Jakarta Selatan. Ia berharap ke depan semakin banyak inovasi dan terobosan yang lahir dari kolaborasi tersebut.
“Saya mengapresiasi berbagai kegiatan yang sudah dilakukan oleh teman-teman DPD. Semoga kedepan semakin banyak gebrakan baru yang bisa diwujudkan bersama,” ujar Ade.
Diharapkan Ade, Poltangan Southgate tidak hanya menjadi tempat kerja, tetapi juga menjadi titik temu berbagai inisiatif kebaikan. “Harapannya Southgate ini menjadi ruang kolaborasi ide dan gerakan kebaikan yang memberi dampak lebih luas bagi umat,” katanya.
Ia juga mengapresiasi komunitas Ojol Mengaji yang tetap berkomitmen mendekatkan diri kepada Al-Qur’an di tengah kesibukan mencari nafkah. “Ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa di tengah kesibukan bekerja, kita tetap harus menyediakan waktu untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPD Hidayatullah Jakarta Selatan, Azim Arrasyid, menyampaikan bahwa keberadaan Poltangan Southgate diharapkan menjadi rumah bersama bagi berbagai aktivitas dakwah dan pengembangan program kemasyarakatan.
“Tempat ini kita niatkan sebagai rumah bersama, tempat bertumbuh dan berkembang. Karena itu harus dibuat nyaman dan layak untuk menjadi ruang diskusi dan kolaborasi,” ujar Azim.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Laznas BMH atas dukungan yang diberikan sehingga renovasi kantor dapat diselesaikan tepat waktu.
Dengan diresmikannya Poltangan Southgate, lanjutnya, DPD Hidayatullah Jakarta Selatan berharap tempat tersebut dapat menjadi pusat kegiatan dakwah dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus ruang kolaborasi berbagai elemen dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Insiden kekerasan brutal yang menimpa dunia aktivisme hak asasi manusia di Indonesia kembali terjadi dan memicu keprihatinan mendalam dari berbagai lapisan masyarakat. Wakil Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman cairan kimia yang diduga kuat merupakan air keras pada Kamis malam, 12 Maret 2026. Peristiwa tragis ini berlangsung di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, tepatnya setelah korban menyelesaikan agenda diskusi publik.
Menanggapi fenomena kekerasan yang mengkhawatirkan ini, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muhammad Isnaeni, memandang bahwa serangan fisik terhadap para pembela HAM bukan sekadar tindakan kriminal biasa, melainkan sebuah ancaman serius terhadap integritas ruang dialektika dalam sistem demokrasi yang sedang diupayakan oleh bangsa Indonesia.
Isnaeni menekankan bahwa tindakan semacam ini menciptakan preseden buruk bagi kebebasan berpendapat di tanah air.
Menurut Isnaeni, teror yang terjadi terhadap Andrie Yunus merupakan gejala yang sangat mengkhawatirkan, terutama karena sasarannya adalah individu yang sedang aktif bersuara demi kepentingan publik.
“Teror yang terjadi kemarin menimpa saudara kita aktivis KontraS ini tentu adalah sebuah fenomena atau gejala yang sangat mengkhawatirkan. Aksi brutal ini mencederai proses pertukaran gagasan yang sehat dalam kehidupan bernegara” katanya dalam keterangan kepada media ini, Sabtu, 24 Ramadhan 1447 (14/3/2026).
Lebih lanjut, Muhammad Isnaeni memberikan sorotan khusus pada momentum terjadinya peristiwa ini yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Dia menilai aksi kekerasan tersebut sangat kontradiktif dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas yang seharusnya dijunjung tinggi.
“Yang pertama, tentu kita mengecam dan mengutuk terhadap tindakan ini. Hal ini mencederai proses dialektika yang dibangun dalam suasana demokrasi yang sedang kita rawat di tengah-tengah atau sedang berlangsungnya bulan suci Ramadan. Ini tentu satu hal yang sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan,” tutur Isnaeni.
Berdasarkan fakta-fakta yang dihimpun dari kronologi kejadian, serangan tersebut terjadi sekitar pukul 23.37 WIB di Jalan Salemba I. Andrie Yunus yang baru saja meninggalkan kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) usai merekam podcast bertajuk Remiliterisasi dan Judicial Review UU TNI diserang oleh dua orang tidak dikenal yang mengendarai sepeda motor dari arah berlawanan.
Pelaku menyiramkan cairan kimia menggunakan gelas berbahan stainless steel yang mengenai wajah, mata, dada, serta tangan korban. Serangan ini mengakibatkan luka bakar serius sebesar 24 persen pada tubuh Andrie, hingga pakaian yang dikenakannya pun meleleh akibat reaksi kimia tersebut.
Melihat tingkat kekejaman dan dampak yang ditimbulkan, Isnaeni mendesak pemerintah dan aparat kepolisian untuk segera mengusut tuntas aktor di balik serangan ini. Ia menengarai adanya maksud tertentu untuk menyebarkan pesan ketakutan bagi para aktivis lainnya.
Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Isnaeni (Foto: Bilal Tadzkir/ hidayatullah.or.id)
“Oleh karena itu, poin kedua kita mendesak kepada pemerintah, dalam hal ini aparat keamanan untuk sesegera mungkin mengungkap siapa pelaku, siapa dalang di balik teror yang sengaja untuk kemudian mengirimkan pesan agar ketakutan itu menjadi sesuatu yang hinggap di tengah-tengah masyarakat khususnya para aktivis yang ingin bersuara terhadap sesuatu dan fenomena atas kebijakan atau apapun yang terjadi di republik ini,” tegasnya.
Isnaeni juga mengimbau agar aparat keamanan bertindak secara profesional dan cepat agar keresahan di tengah masyarakat tidak semakin meluas. Profesionalisme aparatur dalam mengungkap dalang intelektual di balik teror ini dianggap krusial untuk mengembalikan rasa aman publik.
“Karenanya, kita meminta kepada aparat keamanan, ya, minta pemerintah khususnya aparat keamanan bertindak secara profesional dan secepatnya mengungkap dalang di balik ini karena ini tentu sangat meresahkan,” katanya.
Selain menyampaikan kecaman, Wasekjen DPP Hidayatullah ini juga menunjukkan empati yang mendalam atas musibah yang menimpa Andrie Yunus.
Saat ini, Andrie tengah mendapatkan penanganan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) oleh enam dokter spesialis dan dijadwalkan menjalani operasi transplantasi membran amnion pada jaringan matanya yang rusak. Isnaeni mendoakan agar korban segera diberikan kesembuhan dan pemulihan total.
Muhammad Isnaeni berharap agar Andrie Yunus tetap memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan setelah pulih nanti.
Dia mengingatkan bahwa data yang valid dan argumentasi yang kuat harus tetap menjadi landasan dalam berdialektika agar ruang demokrasi tetap terjaga dengan sehat dan produktif bagi kemajuan bangsa.
Hal ini dianggap dia sangat penting untuk menjaga kohesivitas antar anak bangsa agar tetap harmonis dan tidak terpecah oleh teror-teror fisik yang berusaha membungkam nalar kritis.
“Kita berharap agar ruang dialektika ini betul-betul bisa kita jaga dengan baik agar kondisivitas ya kohesivitas antar anak bangsa ini sehat dan bisa lebih produktif atau lebih menghasilkan yang baik bagi negara,” tandasnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Komunitas Ojol Mengaji didorong untuk menyusun arah gerakan yang lebih terencana sekaligus mewujudkan cita-cita besar mereka, termasuk membangun masjid bagi para pengemudi ojek online. Dorongan tersebut mengemuka dalam forum buka puasa bersama dan diskusi yang digelar di Poltangan Southgate, markas Hidayatullah Jakarta Selatan.
Pengurus Komunitas Ojol Mengaji, Virqi Khebot menyampaikan kegiatan komunitasnya sudah berjalan sejak tahun 2019. Meski sempat terhambat pertumbuhannya karena Covid 2020.
“Alhamdulillah kami juga melewati badai pandemi itu, dulunya kegiatan ini berjalan setiap hari yang dibina sama pengurus DPD Hidayatullah Jaksel. Kami berharap ke depan bisa lebih eksis dan programnya lebih optimal ke depan,”ujar Virqi dalam suasana Focus Group Discussion FGD, Jumat, 23 Ramadhan 1447 (13/3/2026).
Sebulan lalu, lanjut Virqi, mereka mengunjungi Masjid Sejuta Pemuda. Perjalanan kesana bagian dari salah satu program komunitas yakni Tadabur Alam. Nah dari sana pihaknya punya mimpi bersama, bagaimana mewujudkan masjid untuk Ojol Mengaji. “Masjid Sejuta Pemuda itu buka 24 jam. Sangat ramah terhadap pekerja harian seperti kami,” tegas Virqi.
Direktur Prodaya Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Syamsudin, menilai gerakan Ojol Mengaji memiliki dampak positif yang nyata bagi para anggotanya, khususnya dalam membentuk karakter melalui kegiatan belajar Al-Qur’an dan pengajian.
“Kalau kita lihat dari pengalaman yang disampaikan tadi, dampak dari belajar mengaji itu luar biasa. Orang bisa menjadi lebih sabar, lebih tenang, dan lebih kuat menghadapi kehidupan,” ujar Syamsudin.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat membawa perubahan sosial yang lebih luas jika semakin banyak pengemudi ojek online yang terlibat dalam kegiatan serupa.
Syamsudin menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin mendikte arah gerakan komunitas, melainkan membantu memfasilitasi gagasan dan harapan yang lahir dari para anggotanya sendiri.
“Saya percaya yang paling tahu kebutuhan komunitas Ojol Mengaji adalah teman-teman sendiri. Kami hadir hanya untuk memfasilitasi agar harapan-harapan itu bisa terwujud,” katanya.
Ia juga mendorong komunitas tersebut mulai merumuskan visi yang lebih jelas, setidaknya untuk tiga tahun ke depan, agar gerakan yang telah berjalan selama enam tahun itu dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Saya belum tahu Ojol Mengaji ini ingin dibawa ke mana ke depan. Tadi ada ide menarik, misalnya membangun masjid untuk para ojol. Secara branding juga keren. Tapi apakah itu hanya bercanda atau benar-benar serius?” ujarnya.
Menurut Syamsudin, keberlanjutan sebuah gerakan tidak mungkin bergantung pada satu pihak saja. Kolaborasi antara komunitas, lembaga, dan masyarakat menjadi kunci untuk menghadirkan dampak yang lebih besar.
“Tidak mungkin hanya dari DPD saja, tidak mungkin hanya dari BMH saja, dan tidak mungkin hanya dari Ojol Mengaji saja. Tapi kalau potensi itu kita satukan, insyaAllah kita bisa menghadirkan gerakan yang lebih besar,” katanya.
Sementara itu, Ketua Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Rahmat Ilahi Hadist, mengajak anggota komunitas untuk tidak ragu mewujudkan cita-cita besar tersebut.
Rahmat menyampaikan bahwa gagasan membangun masjid bagi komunitas ojek online merupakan niat baik yang patut diperjuangkan bersama.
“Hari ini hari terbaik, hari Jumat. Bulan ini juga bulan terbaik, bulan Ramadan. Dan tempat ini adalah yang terbaik, sebab tidak ada tempat terbaik di muka bumi selain disitu juga kita bersujud kepada Allah. Maka niat baik ini insyaAllah memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Rahmat juga menceritakan pengalaman hidupnya yang pernah bekerja sebagai tukang ojek, penjual koran, hingga berdagang donat ketika menempuh pendidikan di Jakarta. Pengalaman tersebut membuatnya merasa dekat dengan para pengemudi ojek online yang hadir dalam kegiatan tersebut.
“Saya pernah jadi tukang ojek waktu kuliah di Jakarta. Jadi saya merasa tidak ada jarak dengan bapak-bapak sekalian,” katanya.
Menurut Rahmat, sebuah cita-cita besar tidak perlu ditakuti hanya karena terlihat sulit diwujudkan. Bahkan jika masih berupa mimpi, niat tersebut tetap memiliki nilai di sisi Allah. “Kita boleh bermimpi setinggi langit. Kalau pun jatuh, kita akan jatuh di antara bintang-bintang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam Islam, niat baik sudah bernilai ibadah meskipun belum terwujud. Jika kemudian niat tersebut benar-benar terlaksana, maka nilainya menjadi lebih besar lagi.
Karena itu, Rahmat mengajak anggota komunitas Ojol Mengaji untuk mulai mengambil langkah kecil namun konsisten, seperti menyisihkan sebagian rezeki untuk mewujudkan cita-cita bersama tersebut.
“Misalnya dari rezeki yang kita dapatkan setiap hari, kita sisihkan sedikit untuk niat membangun masjid. Dari yang kecil itu bisa menjadi magnet yang menghadirkan kebaikan yang lebih besar,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kekuatan utama komunitas terletak pada kebersamaan dan semangat persaudaraan. “Kita semua ini seperti bintang. Ada yang terang, ada yang redup. Tapi ketika kita bersatu, semuanya akan bersinar. Itulah ukhuwah Islamiyah,” ujarnya.
Melalui pertemuan tersebut, berbagai pihak berharap komunitas Ojol Mengaji dapat terus berkembang sebagai gerakan dakwah berbasis komunitas yang tidak hanya memperkuat spiritualitas anggotanya, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial yang lebih luas bagi masyarakat.
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Terjemah Q.S. Asy-Syams: 7-10)
Menafsirkan ayat ini, para mufassir sepakat bahwa menyucikan jiwa merupakan hal penting dan mendasar. Karena penyucian jiwa mempengaruhi aspek diri lain manusia seperti akhlak. Semakin suci jiwa, maka seluruh diri dan kehidupan manusia akan berpotensi semakin baik. Demikian pula sebaliknya.
Oleh karena itu setiap insan hendaklah berikhtiar sungguh-sungguh untuk menyucikan jiwa. Salah satu caranya dengan menumbuhsuburkan keimanan. Sehingga kemudian kekufuran menghilang.
Dengan suburnya iman, pikiran akan dipandu oleh orientasi ukhrawi, hati dilembutkan oleh kecintaan terhadap kebaikan-kebaikan, fisik dikelola oleh tindakan-tindakan berkualitas, sementara pergaulan diatur dalam bingkai ta’awun bil birr wat taqwa (kerjasama pada kebaikan serta takwa). Selamatlah seorang insan dari ujian syubhat dan syahwat. Berkualitaslah hidupnya. Bukan hanya lahiriah, kesejahteraan juga meliputi kehidupan batiniyahnya.
Dalam konteks kaderisasi, tazkiyatun nafs tidak hanya berdimensi individual, tapi juga sosial dan organisasional. Di dimensi individual, sebagaimana telah disampaikan, tazkiyatun nafs mengantarkan seorang kader untuk bebas dari ujian syubhat yang menyerang pemikiran dan juga ujian syahwat yang menyerang hawa nafsunya. Alhasil kehidupan kader sedemikian baik, memungkinkan pertumbuhan potensi dirinya secara berkelanjutan.
Di dimensi sosial, dengan bebasnya kader dari ujian syubhat dan syahwat, kader bisa mengoptimalkan kontribusi positifnya kepada lingkungan sekitarnya serta kepada rekan-rekan sesama kader. Sementara kontribusi negatifnya hampir nol. Alhasil kehadirannya berdampak. Sosoknya senantiasa dinantikan.
Di dimensi organisasi, bebasnya kader dari ujian syubhat dan syahwat amat penting. Di satu sisi organisasi terjaga dari human error. Di sisi lainnya terasakan perkembangan yang pesat sebagai dampak dari pengembangan kualitas para kadernya.
Oleh karena itu tazkiyatun nafs kader perlu terus dijaga dan diikhtiarkan oleh organisasi. Suatu sistem kendali kader mesti dibangun. Muatan utamanya pada penjagaan ibadah, penguatan dirasah Islamiyah, dan reviu pelaksanaan tugas-tugas perkaderan. Ketiganya ibarat pilar yang bekerja secara simultan menopang tazikyatun nafs kader.
Sejarah dahulu dan kontemporer mencatat bahwa masalah organisasi/komunitas sering diawali oleh rusaknya seorang tokoh, seorang kader. Memastikan tazkiyatun nafs kader terus berlangsung akan jadi ikhtiar penting dalam menjaga keseluruhan organisasi. Ibarat perahu, tak akan pernah ditemukan lubang. Air dari luar tak akan masuk ke dalamnya. Perahu terus berjalan mencapai tujuan, tanpa sedikitpun kekhawatiran.
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Rektor Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, Dr. M. Sidik, M.Pd.I., menyatakan bahwa reputasi sebuah institusi akademik pada era pendidikan tinggi modern salah satunya sangat dipengaruhi oleh kualitas tampilan website dan jurnal ilmiah yang dikelola oleh perguruan tinggi tersebut.
Hal itu disampaikan Sidik saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Pengelolaan Website Institusi dan Kostumisasi Tampilan Jurnal Berbasis Open Journal System (OJS) yang diselenggarakan oleh IAI Hidayatullah Batam beberapa waktu lalu dan disitat pada Jum’at, 23 Ramadhan 1447 (13/3/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara hibrida melalui Zoom Meeting serta diikuti langsung oleh peserta yang hadir di Ruang Rapat Kampus Marina IAI Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau. Bimbingan teknis ini ditujukan untuk meningkatkan standar pengelolaan teknologi informasi di lingkungan kampus, khususnya terkait pengembangan website institusi dan pengelolaan jurnal akademik berbasis Open Journal System.
Dalam sambutannya, Sidik menjelaskan bahwa penguatan pengelolaan website dan jurnal institusi menjadi bagian penting dari strategi peningkatan reputasi akademik. Ia menegaskan bahwa kualitas tampilan digital yang dimiliki oleh perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai sarana informasi, tetapi juga menjadi representasi profesionalitas institusi dalam lingkungan pendidikan tinggi.
“Dampak terhadap reputasi institusi diharapkan dari maksimalnya pengelolaan website institusi dan kostumisasi tampilan jurnal berbasis OJS,” ujar Sidik.
Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan bimbingan teknis ini dimaksudkan sebagai langkah strategis untuk memperkuat kompetensi tenaga kependidikan di bidang pengelolaan teknologi informasi. Program ini diwajibkan bagi tenaga kependidikan, khususnya tim teknologi informasi yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan website kampus serta jurnal ilmiah berbasis OJS.
Menurut Sidik, peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknologi informasi menjadi bagian dari proses pengembangan institusi pendidikan tinggi. Melalui kegiatan pelatihan ini, para peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai praktik pengelolaan website serta penyesuaian tampilan jurnal ilmiah agar sesuai dengan standar pengelolaan publikasi akademik.
Ia juga menjelaskan bahwa pelaksanaan bimbingan teknis tidak lagi berfokus pada pengenalan konsep dasar pengelolaan website maupun OJS. Materi yang diberikan diarahkan pada praktik langsung yang lebih mendalam, termasuk proses identifikasi kendala yang dihadapi dalam pengelolaan sistem digital kampus. Pendekatan tersebut disebut sebagai proses analisis teknis yang bertujuan memperbaiki kualitas tampilan website institusi serta antarmuka jurnal berbasis OJS.
Sidik menambahkan bahwa kehadiran peserta secara langsung dalam kegiatan ini memberikan kesempatan bagi berlangsungnya diskusi yang lebih intensif setelah sesi pemaparan materi. Diskusi tersebut memungkinkan para peserta untuk mengidentifikasi berbagai kendala teknis maupun administratif yang muncul dalam pengelolaan sistem digital kampus.
Menurut Sidik, pelaksanaan bimbingan teknis ini menjadi bagian dari upaya IAI Hidayatullah Batam dalam memperkuat tata kelola sistem informasi akademik yang mendukung aktivitas pendidikan, penelitian, dan publikasi ilmiah.
“Dengan peningkatan kemampuan pengelolaan website dan jurnal berbasis OJS, institusi berharap pengembangan layanan digital kampus dapat berjalan secara lebih optimal,” kata Sidik menandaskan.
Pentingnya Tampilan Digital
Sebagai narasumber utama, panitia menghadirkan Fauji Nurdin St. Mudo, dosen Universitas Murakata sekaligus Crossref Ambassador yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan website institusi serta kostumisasi tampilan jurnal berbasis OJS. Dalam pemaparannya, Fauji menjelaskan pentingnya tampilan digital sebagai wajah pertama yang dilihat oleh publik ketika mengakses informasi sebuah lembaga pendidikan.
Ia mengilustrasikan fungsi website dan jurnal digital dengan analogi yang sederhana. “Tampilan website ibarat halaman depan rumah institusi kita, begitu pula tampilan OJS ibarat halaman depan rumah jurnal suatu institusi,” ujar Fauji Nurdin.
Melalui analogi tersebut, Fauji menjelaskan bahwa pengelolaan tampilan digital memiliki peran penting dalam membangun citra profesional institusi pendidikan tinggi.
Oleh karena itu, pengembangan website dan jurnal ilmiah menurutnya perlu dilakukan secara sistematis dengan memperhatikan aspek teknis, visual, serta kemudahan akses bagi pengguna.
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis penulisan artikel jurnal terakreditasi Sinta dan Scopus beberapa waktu lalu dan disitat pada Jum’at, 23 Ramadhan 1447 (13/3/2026). Program akademik ini ditujukan untuk meningkatkan standar kualitas publikasi ilmiah para dosen yang menjadi tenaga pengajar tetap di lingkungan kampus tersebut.
Kegiatan ini berlangsung di Aula Kampus I Batu Aji, Batam, Kepulauan Riau, dan diikuti oleh para dosen homebase dari berbagai program studi.
Pelaksanaan bimbingan teknis berlangsung selama empat jam, dimulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Agenda utama kegiatan adalah penguatan kemampuan menulis artikel ilmiah yang memenuhi standar jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi. Selain itu, kegiatan ini juga membahas pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan sebagai alat bantu dalam proses penulisan karya ilmiah.
Rektor IAI Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Sidik, M.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab akademik dosen dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi, khususnya pada bidang penelitian dan publikasi ilmiah. Ia menyampaikan bahwa kualitas karya tulis ilmiah yang diterbitkan oleh dosen memiliki peran penting dalam membangun reputasi institusi pendidikan tinggi.
“Produktivitas dan kualitas seorang dosen terlihat dari kualitas artikel jurnal yang ia terbitkan,” ujarnya saat membuka kegiatan bimbingan teknis tersebut pada 17 Ramadhan 1447 Hijriah atau bertepatan dengan 7 Maret 2026.
Sidik menyampaikan bahwa reputasi perguruan tinggi pada era pendidikan tinggi modern sangat dipengaruhi oleh kontribusi ilmiah yang dipublikasikan melalui jurnal akademik. Oleh karena itu, peningkatan kualitas penulisan artikel ilmiah menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik dosen sekaligus mendukung peningkatan mutu institusi.
Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan bimbingan teknis ini tidak dimaksudkan berhenti pada sesi pelatihan semata. Menurutnya, proses pembimbingan diharapkan berlanjut hingga para peserta mampu menghasilkan artikel ilmiah yang siap diajukan ke jurnal nasional terakreditasi minimal Sinta 2 maupun jurnal internasional bereputasi.
“Harapannya kegiatan ini tidak berhenti sampai di ruangan ini saja, tetapi berlanjut hingga artikel yang ditulis benar-benar terbit di jurnal,” kata Sidik.
Bimbingan teknis tersebut diwajibkan bagi seluruh dosen homebase di IAI Hidayatullah Batam sebagai bagian dari penguatan kompetensi akademik. Sidik menyebutkan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi titik awal bagi para dosen untuk memulai proses penulisan ilmiah secara lebih produktif.
Ia juga menyampaikan bahwa publikasi artikel ilmiah memiliki kaitan langsung dengan pengembangan karier akademik dosen. Artikel yang terbit di jurnal bereputasi dapat menjadi salah satu persyaratan dalam proses kenaikan jabatan fungsional, termasuk menuju jenjang Lektor Kepala. Selain itu, publikasi ilmiah juga berkontribusi terhadap proses akreditasi program studi maupun institusi.
Strategi Penulisan Artikel Jurnal
Untuk memberikan pendalaman materi, panitia menghadirkan Yandra Rivaldo, S.E., M.M., dosen sekaligus Kepala Bidang Penelitian di Universitas Ibnu Sina.
Dalam kegiatan ini, Yandra memaparkan berbagai strategi penulisan artikel jurnal, baik untuk publikasi nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi. Ia juga memiliki pengalaman sebagai editor serta reviewer pada sejumlah jurnal internasional.
Materi yang disampaikan mencakup langkah-langkah sistematis dalam menyusun artikel ilmiah, mulai dari penentuan topik penelitian, struktur penulisan, hingga strategi menyiapkan naskah agar sesuai dengan standar jurnal yang dituju.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses penulisan artikel akademik.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi presentasi dan pembahasan artikel ilmiah yang ditulis oleh salah satu peserta. Dalam sesi ini, Dr. Syamsidah Lubis, M.Pd., dosen homebase Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, memaparkan karya tulisnya yang membahas kurikulum pendidikan. Presentasi tersebut menjadi bagian dari praktik langsung dalam kegiatan bimbingan teknis.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAI Hidayatullah Batam, Muthma’innah, menyampaikan bahwa setelah kegiatan ini diharapkan karya ilmiah dari para dosen dapat segera dipersiapkan untuk proses pengajuan ke jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi, termasuk yang terindeks Scopus.
DILI (Hidayatullah.or.id) — Dai Hidayatullah, Ustadz Jumadi, menjalankan penugasan pengabdian dakwah dalam program SEA Loves Al-Qur’an yang digagas Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah melalui Departemen Hubungan Antarbangsa. Salah satu rangkaian kegiatan dakwah tersebut berlangsung di Musolla Golgota, Kota Dili, Timor Leste, pada Senin, 19 Ramadhan 1447 (9/3/2026) dalam bentuk pelaksanaan ibadah Ramadhan bersama komunitas Muslim setempat.
Kegiatan tersebut meliputi pelaksanaan Shalat Isya berjamaah, Shalat Tarawih, Shalat Witir, serta penyampaian ceramah keislaman. Dalam kegiatan tersebut, Ustadz Jumadi bertindak sebagai imam Shalat Isya, Tarawih, dan Witir sekaligus menyampaikan kultum Ramadhan kepada jamaah yang hadir.
Musolla Golgota merupakan tempat ibadah yang didirikan oleh komunitas pedagang Muslim yang sebagian besar berasal dari Sulawesi. Sebelumnya para pedagang tersebut menjalankan aktivitas perdagangan pakaian di sekitar kawasan Masjid An-Nur Dili.
Namun, setelah pemerintah setempat melakukan penertiban kawasan jalan di wilayah tersebut, para pedagang dipindahkan ke lokasi baru di daerah Golgota.
Perpindahan lokasi usaha tersebut membuat para pedagang Muslim berkumpul di satu kawasan yang sama. Kondisi tersebut kemudian mendorong mereka untuk bersepakat mendirikan sebuah musolla sederhana sebagai tempat pelaksanaan ibadah berjamaah.
Musolla Golgota kemudian menjadi pusat aktivitas ibadah bagi komunitas Muslim di kawasan tersebut. Selain digunakan untuk shalat berjamaah, tempat ini juga dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan keagamaan, termasuk pengajian dan ceramah Ramadhan.
Kegiatan ibadah Ramadhan tersebut berlangsung dengan tertib dan khidmat. Jamaah yang hadir mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan hingga seluruh kegiatan selesai dilaksanakan.
Penugasan dakwah Ustadz Jumadi di Kota Dili merupakan bagian dari kegiatan pelayanan keagamaan bagi komunitas Muslim di kawasan tersebut. Melalui program SEA Loves Al-Qur’an, Hidayatullah menugaskan dai untuk menjalankan kegiatan pembinaan keagamaan di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk dalam rangka mendampingi komunitas Muslim diaspora selama bulan Ramadhan.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ustadz Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd., mendorong para pembina umat (murabbi) untuk menjadikan i’tikaf sebagai bagian dari proses pembinaan kader, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Menurutnya, pembinaan spiritual akan berjalan lebih efektif apabila para pembina turut memberikan teladan dalam menghidupkan ibadah di penghujung bulan suci.
Ia menyampaikan bahwa praktik ibadah yang dijalankan bersama dapat memperkuat kualitas ruhiyah serta menumbuhkan kesadaran kolektif dalam membangun kehidupan keagamaan yang lebih mendalam.
Pernyataan tersebut disampaikan Tasyrif Amin dalam kegiatan Forum Riyadhah Murabbi yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom pada Selasa, 20 Ramadhan 1447 (10/3/2026). Forum ini diikuti oleh para kader dan pembina dari berbagai wilayah di Indonesia.
Kegiatan tersebut sebagai ruang pembinaan spiritual untuk membantu peserta memaksimalkan momentum sepuluh hari terakhir Ramadhan melalui peningkatan kualitas ibadah, terutama dengan menghidupkan tradisi i’tikaf di masjid.
Tasyrif Amin menjelaskan bahwa sejak masa awal berdirinya gerakan dakwah Hidayatullah, Ramadhan selalu ditempatkan sebagai momentum penting untuk memperkuat spiritualitas para kader. Ia menyebutkan bahwa tradisi tersebut telah berkembang sejak periode perintisan yang berlangsung di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.
“Hidayatullah sejak masa rintisan selalu menjadikan Ramadhan sebagai momentum istimewa. Salah satu yang ditekankan adalah i’tikaf sebagai sarana menghidupkan spiritualitas kader,” ujarnya.
Ia juga mengingat kembali pengalaman masa awal pembinaan ketika pemahaman tentang fikih i’tikaf belum sepenuhnya dipahami secara mendalam oleh para kader. Meskipun demikian, semangat untuk menghidupkan ibadah tersebut tetap dijaga dan dilaksanakan secara bersama-sama sebagai bagian dari penguatan spiritual.
“Waktu itu kami belum terlalu memahami fiqih i’tikaf secara mendalam, termasuk fiqih prioritasnya. Yang kami pahami adalah bahwa i’tikaf itu penting. Karena itu para kader yang beraktivitas di lapangan akan kembali ke kampus dan menghidupkan masjid saat Ramadhan agar spiritualitas tetap terjaga,” jelasnya.
Dalam forum yang sama, Ustadz Tasyrif kembali menegaskan pentingnya peran para murabbi atau pembina dalam membimbing kader melalui keteladanan langsung. Ia menyampaikan bahwa pembinaan spiritual tidak hanya disampaikan melalui arahan atau ceramah, tetapi juga melalui praktik ibadah yang dicontohkan secara nyata oleh para pembina.
Menurutnya, ketika pembina turut melaksanakan i’tikaf dan menghidupkan ibadah di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, para kader akan lebih mudah memahami nilai spiritual yang ingin ditanamkan dalam proses pembinaan.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar aktivitas yang bersifat teknis dapat diatur secara lebih proporsional selama periode akhir Ramadhan. Pengaturan tersebut dimaksudkan agar para pembina memiliki ruang yang lebih luas untuk memfokuskan diri pada penguatan ibadah dan pembinaan spiritual.
SORE itu saya berbincang dengan seorang pemuda di halaman masjid. Wajahnya ramah, namun tampak sedikit pemalu.
“Saya Tino,” katanya memperkenalkan diri.
Saya tersenyum lalu menebak, “Martino ya?”
Ia langsung terkejut. Matanya membesar.
“Lho… kok tahu nama saya?” tanyanya heran.
Saya tertawa kecil. “Biasanya Tino itu singkatan dari Martino.”
Ia mengangguk sambil tersenyum, masih tampak kagum.
Saya lalu bertanya dengan penasaran, “Kalau boleh tahu, sejak kapan kamu masuk Islam?”
Tino menjawab pelan namun mantap, “Tahun 1444 Hijriah.”
Saya semakin tertarik dengan kisahnya.
“Bagaimana Allah memberikan hidayah kepadamu?”
Ia terdiam sejenak, lalu mulai bercerita.
“Sejujurnya… saya di sini hampir tidak pernah bertemu orang Islam. Keluarga saya semuanya Katolik. Tapi suatu hari saya menonton YouTube… ceramah-ceramah tentang akhir zaman.”
“Saya jadi takut,” lanjutnya. “Lalu saya mulai berpikir… apakah agama yang saya jalani ini benar? Saya terus menonton ceramah-ceramah itu sampai akhirnya muncul keinginan untuk mencari orang Islam.”
“Padahal sebelumnya kamu belum kenal Muslim?” tanya saya.
“Belum,” jawabnya. “Karena itu saya mulai berjalan-jalan di kota, bertanya kepada banyak orang: di mana saya bisa bertemu orang Islam di Dili?”
Beberapa orang akhirnya memberi jawaban yang sama.
“Mereka berkata, di Dili hanya ada satu masjid besar… yaitu Masjid An-Nur.”
Maka dengan tekad kuat, ia pun datang ke masjid itu.
“Saya datang ke masjid,” kata Tino. “Saya katakan kepada orang-orang di sana bahwa saya ingin masuk Islam.”
Saya menatapnya dengan haru.
“Jadi kamu datang sendiri?” tanya saya.
“Iya,” jawabnya tenang. “Saya datang sendiri… lalu saya menyerahkan diri kepada Allah dan memeluk Islam.”
Kami pun terdiam sejenak.
Di tengah kota yang mayoritas non-Muslim, Allah menghadirkan hidayah kepada seorang pemuda hanya melalui video ceramah di internet—lalu menuntunnya langkah demi langkah sampai ke pintu masjid.
Benarlah firman Allah:
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)
Kisah Tino mengingatkan kita: Hidayah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita sangka.
Bahkan dari sebuah video di YouTube… lalu berakhir di pintu masjid.
*) Ust. Jumardi,penulis dai Hidayatullah bertugas di Timor Leste
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Program Mentoring Alumni Pelatihan Kepemimpinan sebagai upaya mengawal implementasi kepemimpinan berbasis manhaj sekaligus memperkuat tata kelola organisasi yang unggul di lingkungan Hidayatullah.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Hidayatullah Institute ini berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada 25–26 Februari serta 4–5 Maret 2026. Peserta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, meliputi pimpinan wilayah, pengelola lembaga pendidikan, serta pengurus organisasi di lingkungan Hidayatullah.
Program tersebut merupakan tindak lanjut dari rangkaian pelatihan kepemimpinan yang dilaksanakan Hidayatullah Institute sejak 2021 hingga 2025. Dalam kurun waktu tersebut, tercatat sebanyak 629 alumni dari 18 batch pelatihan telah mengikuti program pengembangan sumber daya insani. Para alumni tersebut saat ini berperan di berbagai unit amal usaha Hidayatullah, termasuk dalam struktur organisasi, lembaga pendidikan, serta institusi sosial dan dakwah.
Melalui program mentoring ini, Hidayatullah Institute berupaya memastikan bahwa materi kepemimpinan dan manajemen yang telah dipelajari peserta dapat diterapkan dalam praktik pengelolaan organisasi. Pendampingan dilakukan dengan pendekatan diskusi dan evaluasi terhadap implementasi program kepemimpinan di masing-masing wilayah.
Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Organisasi, Dr Dudung Amadung Abdullah, dalam sambutannya menekankan pentingnya kepemimpinan yang berpijak pada manhaj perjuangan Hidayatullah dan didukung sistem pengelolaan organisasi yang profesional.
“Organisasi yang kuat tidak hanya dibangun oleh semangat perjuangan, tetapi juga oleh sistem pengelolaan yang baik, kepemimpinan yang visioner, serta kemampuan mengelola sumber daya secara efektif,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa melalui program mentoring ini para alumni diharapkan mampu menghadirkan kepemimpinan yang transformatif sekaligus mendorong perbaikan tata kelola organisasi di berbagai tingkatan.
Direktur Utama Hidayatullah Institute sekaligus Ketua Departemen Sumber Daya Insani DPP Hidayatullah, Sumariadi, M.Pd., menjelaskan bahwa mentoring merupakan bagian dari upaya memastikan proses kaderisasi kepemimpinan berlangsung secara berkelanjutan.
“Mentoring ini menjadi ruang pembelajaran bersama sekaligus ruang evaluasi agar implementasi program kepemimpinan dan manajemen yang telah dipelajari dapat berjalan secara efektif di masing-masing wilayah dan lembaga,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, program ini menghadirkan sejumlah pimpinan Hidayatullah sebagai mentor, di antaranya Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc., Bendahara Umum DPP Hidayatullah Suwito Fatah, S.Pd., S.E., M.M., Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah Hani Akbar, S.Sos.I., M.Pd., serta Ketua DPP Hidayatullah Bidang Pendidikan Muzakkir Usman, Ph.D.
Mentoring dilaksanakan dalam beberapa sesi berdasarkan kelompok peserta. Sesi pertama pada 25 Februari diikuti oleh Ketua DPD serta Ketua, Sekretaris, dan Bendahara DPW. Sesi berikutnya pada 26 Februari diikuti oleh pengelola Kampus Induk, Kampus Utama, serta pengelola BMH. Pada 4 Maret kegiatan diikuti oleh para kepala sekolah, sedangkan sesi terakhir pada 5 Maret diikuti oleh pengurus Muslimat Hidayatullah.
Dalam setiap sesi, peserta mempresentasikan perkembangan implementasi program kepemimpinan dan manajemen yang telah dijalankan di wilayah masing-masing. Para mentor kemudian memberikan arahan dan masukan untuk memperkuat pelaksanaan program tersebut.
Selain diskusi dan evaluasi, kegiatan juga menghadirkan sesi Success Story yang disampaikan Direktur Program Hidayatullah Institute, Samsul Bahri.
Samsul memaparkan sejumlah pengalaman implementasi program kepemimpinan dan manajemen organisasi di beberapa wilayah sebagai referensi pembelajaran bagi peserta.
Melalui program mentoring ini, Hidayatullah Institute menargetkan terbangunnya kapasitas kepemimpinan yang lebih kuat di kalangan alumni pelatihan. Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pengelolaan organisasi yang profesional dan berorientasi pada pelayanan umat.