DALAM kehidupan, manusia kerap menilai kemuliaan seseorang dari harta, jabatan, kedudukan, atau penampilan lahiriah. Padahal, di sisi Allah SWT ukuran kemuliaan bukanlah apa yang tampak di mata manusia, melainkan kebersihan hati, keikhlasan, dan kualitas amal saleh yang dilakukan semata-mata mengharap ridha-Nya.
Melalui khutbah berjudul “Amal Seseorang Adalah Cerminan Derajatnya”, Muhammad Agung Tranajaya, M.Si mengingatkan bahwa setiap amal yang dilakukan akan menentukan derajat seorang hamba di sisi Allah SWT. Tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia dan tidak ada pula keburukan yang luput dari perhitungan-Nya. Karena itu, setiap Muslim diajak untuk senantiasa memperbaiki amal, menjaga keikhlasan, memperbanyak muhasabah, serta istiqamah dalam menjalankan ketaatan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) edisi 25 Muharram 1448 H / 2026 M untuk memperkaya materi dakwah dan menjadi pengingat bahwa kemuliaan sejati ditentukan oleh iman, amal saleh, dan ketakwaan kepada Allah SWT
Unduh : KHUTBAH JUMAT Amal Seseorang Adalah Cerminan Derajatnya
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rabu, 8 Juli 2026, Departemen Pembinaan Anggota menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembinaan Wali Murid Sekolah Hidayatullah untuk wilayah Sulawesi dan Papua. Kegiatan ini diikuti oleh 62 peserta yang terdiri atas kepala sekolah, kepala departemen perkaderan, serta ketua yayasan Hidayatullah dari berbagai daerah di zona Sulawesi dan Papua.
Hadir sebagai narasumber, Dr. Abdul Ghaffar Hadi, M.Si. selaku Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah dan Muh. Farhan, M.Pd. selaku Ketua Departemen Dikdasmen DPP Hidayatullah. Keduanya menyampaikan materi mengenai penguatan sinergi antara madrasah dan keluarga dalam mendukung keberhasilan pendidikan dan pembinaan karakter santri.
Dalam arahannya, Kepala Departemen Pembinaan Anggota, Ustaz Iwan Abdullah, M.Si., menekankan pentingnya setiap sekolah Hidayatullah membentuk Madrasah Orang Tua Santri sebagai pusat pembinaan dan penguatan kemitraan antara orang tua dan lembaga pendidikan. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga oleh keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi anak di lingkungan keluarga.
Ia menjelaskan bahwa Madrasah Orang Tua Santri memiliki beberapa tujuan strategis, di antaranya:
Meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan anak, sehingga mereka lebih memahami cara mendampingi proses belajar, membentuk karakter, dan memberikan motivasi kepada putra-putrinya.
Menyelaraskan pendidikan di rumah dan di madrasah, agar nilai-nilai keislaman, akhlak, dan pembiasaan yang diajarkan di sekolah dapat diperkuat dalam kehidupan keluarga.
Meningkatkan komunikasi antara guru dan orang tua, sehingga perkembangan akademik, perilaku, serta kebutuhan peserta didik dapat dipantau dan dibina secara bersama.
Membantu menyelesaikan berbagai permasalahan anak sejak dini, melalui kolaborasi antara guru dan orang tua dalam mencari solusi atas kendala belajar, kedisiplinan, maupun perkembangan sosial santri.
Selain memberikan manfaat bagi orang tua, pembinaan wali murid juga membawa dampak positif bagi sekolah. Kemitraan yang kuat antara sekolah dan keluarga akan meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui beberapa aspek, yaitu:
meningkatnya kerja sama antara sekolah dan orang tua dalam mendukung proses pendidikan;
terbangunnya komunikasi yang lebih efektif mengenai perkembangan akademik, karakter, dan kebutuhan peserta didik;
tumbuhnya kepercayaan orang tua terhadap sekolah karena mereka dilibatkan secara aktif dalam proses pendidikan;
meningkatnya dukungan orang tua terhadap berbagai program sekolah;
terciptanya lingkungan pendidikan yang kondusif melalui kesamaan visi dalam pembinaan karakter dan akhlak santri.
Melalui Bimbingan Teknis ini, diharapkan seluruh satuan pendidikan Hidayatullah di wilayah Sulawesi dan Papua dapat segera mengimplementasikan Madrasah Orang Tua Santri sebagai program pembinaan yang berkelanjutan. Dengan sinergi yang erat antara sekolah, keluarga, dan yayasan, diharapkan lahir generasi santri yang unggul dalam ilmu, kokoh dalam akidah, mulia akhlaknya, serta siap memberikan kontribusi terbaik bagi umat dan bangsa.
MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Kamis, 9 Juli 2026 – Dalam rangka menyambut Tahun Ajaran Baru 2026/2027, Pondok Pesantren Hidayatullah Medan menyelenggarakan Pelatihan Metode Al-Hidayah pada Kamis, 9 Juli 2026, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh dewan guru, wali kelas, serta kepala sekolah dari seluruh jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, MTs, hingga MA.
Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya Pondok Pesantren Hidayatullah Medan dalam meningkatkan kompetensi para pendidik, khususnya dalam bidang pengajaran Al-Qur’an.
Melalui kegiatan ini, seluruh peserta dibekali metode pembelajaran Al-Qur’an yang efektif, sistematis, dan sesuai dengan kaidah tajwid sehingga mampu memberikan pembelajaran terbaik kepada para santri.
Untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut, panitia menghadirkan _Ustadz Supriyadi, S.E., anggota BKPTQ Hidayatullah, sebagai narasumber utama.
Dalam pelatihan ini, beliau memberikan materi sekaligus praktik penerapan Metode Al-Hidayah yang dapat langsung diaplikasikan dalam kegiatan belajar mengajar.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Ustadz Isa Abdul Barri, S.Pd., S.Ag menegaskan bahwa peningkatan kualitas guru merupakan salah satu prioritas utama dalam membangun pendidikan yang unggul.
“Guru adalah ujung tombak pendidikan. Karena itu, peningkatan kompetensi guru, khususnya dalam pengajaran Al-Qur’an, menjadi ikhtiar yang tidak boleh berhenti.
Kami berharap seluruh pendidik mampu mengajarkan Al-Qur’an dengan baik dan benar sehingga para santri memiliki bacaan yang berkualitas, mencintai Al-Qur’an, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah bagian dari komitmen Pondok Pesantren Hidayatullah Medan untuk terus memberikan layanan pendidikan yang bermutu dan melahirkan generasi Qurani yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman,” ujar beliau.
Melalui pelatihan ini, Pondok Pesantren Hidayatullah Medan berharap kualitas pembelajaran Al-Qur’an di seluruh unit pendidikan semakin meningkat.
Dengan tenaga pendidik yang kompeten dan profesional, diharapkan lahir generasi yang unggul, berkarakter Islami, serta memiliki kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an dengan baik sebagai bekal kehidupan di dunia dan akhirat. Ujarnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Penguatan ekosistem halal nasional menjelang pemberlakuan kebijakan Wajib Halal Oktober 2026 menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pertemuan Menteri Keuangan RI, Purbaya, dengan perwakilan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah di sela penyelenggaraan Halal Expo Indonesia (HEI) 2026, Selasa (8/7/2026), di Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, Ubaidillah Navis, Ketua Divisi Media LPH Hidayatullah, memaparkan perkembangan lembaga sekaligus berbagai capaian yang telah diraih dalam mendukung penguatan sistem jaminan produk halal di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa LPH Hidayatullah berhasil meraih peringkat kedua Lembaga Pemeriksa Halal terbaik di Indonesia pada 2025 serta telah memperoleh kewenangan untuk melakukan pemeriksaan pada seluruh ruang lingkup produk halal.
Selain memperluas jaringan layanan di berbagai daerah, LPH Hidayatullah juga terus meningkatkan kualitas pemeriksaan halal sebagai bagian dari dukungan terhadap implementasi kebijakan wajib halal yang akan berlaku secara penuh pada Oktober 2026.
Menanggapi pemaparan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya menyampaikan apresiasi atas kontribusi LPH Hidayatullah dalam pengembangan industri halal nasional.
“Semoga LPH Hidayatullah terus maju dan semakin bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Purbaya.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Pada kesempatan itu, Ubaidillah Navis menyerahkan Majalah HalalSight kepada Menteri Keuangan sebagai media yang memperkenalkan berbagai program, layanan, dan capaian LPH Hidayatullah. Pertemuan juga diakhiri dengan penyerahan cendera mata serta sesi foto bersama.
Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 merupakan salah satu ajang terbesar yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, lembaga halal, akademisi, dan masyarakat dalam satu ekosistem industri halal. Pameran ini menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat daya saing industri halal Indonesia di pasar global.
Pada penyelenggaraan tahun ini, LPH Hidayatullah turut membuka booth layanan informasi sertifikasi halal, konsultasi pemeriksaan halal, serta sosialisasi implementasi kebijakan Wajib Halal Oktober 2026. Kehadiran tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi pelaku usaha dalam memperoleh informasi dan pendampingan terkait proses sertifikasi halal.
Melalui partisipasi dalam HEI 2026, LPH Hidayatullah menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun ekosistem halal nasional. Sinergi antara pemerintah, lembaga pemeriksa halal, dan pelaku usaha diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan industri halal Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing produk nasional di pasar internasional.
Jakarta (Hidayatullah.or.id) — 08 Juli 2026. Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) akan menyelenggarakan Milad ke-59 BMIWI yang dirangkaikan dengan Pencanangan Hari Majelis Taklim Nasional pada Ahad, 12 Juli 2026, pukul 12.00–15.00 WIB, bertempat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Kegiatan ini ditargetkan dihadiri sekitar 4.000 anggota majelis taklim dari berbagai daerah di Indonesia.
Mengusung tema: “BMIWI Bersama Majelis Taklim untuk Indonesia: Melestarikan Tradisi Ilmu dan Meneguhkan Peradaban Berlandaskan Nilai-Nilai Islam.”
Momentum ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat eksistensi majelis taklim sebagai lembaga pendidikan Islam nonformal yang berperan strategis dalam membangun karakter umat, memperkuat ketahanan keluarga, serta meningkatkan kualitas kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Acara akan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Dra. Hj. Arifah Fauzi, M.Si., Ketua Komisi X DPR RI Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, M.P.P., Ketua Umum MUI K.H. M. Anwar Iskandar, serta Anggota Pokja Majelis Taklim Kementerian Agama RI Ustazah Dra. Hj. Yati Priyati, M.A. Bersama para pimpinan dan Presidium BMIWI, mereka diharapkan memberikan penguatan terhadap peran majelis taklim dalam pembangunan bangsa.
Ketua Presidium BMIWI Periode 2025–2026, Dr. Iin Kandedes, M.A., menyampaikan bahwa pencanangan Hari Majelis Taklim Nasional merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi jutaan jamaah majelis taklim yang selama ini berkontribusi dalam dakwah, pendidikan umat, pemberdayaan perempuan, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan. Momentum ini juga diharapkan menjadi penggerak lahirnya kebijakan yang semakin memperkuat peran majelis taklim di Indonesia.
Melalui peringatan Milad ke-59 ini, BMIWI mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperkokoh sinergi dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak mulia, dan berperadaban, dengan menjadikan majelis taklim sebagai pusat pembinaan umat yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Pernahkah kita berdiri di depan kelas, memandang wajah-wajah polos anak didik kita, lalu tiba-tiba batin ini bertanya: “Apakah kata-kataku hari ini akan membekas di hati mereka, atau menguap begitu saja bersama angin?”
Memang, mendidik di zaman ini susahnya minta ampun kalau kita hanya modal urat leher. Kita sering kelelahan berteriak menyuruh mereka disiplin, memaksa mereka hormat, atau mendikte mereka agar berakhlak mulia. Tapi, pernahkah kita merenung, jangan-jangan selama ini kita sibuk menuntut tanpa pernah menuntun? Kita sibuk menyuruh, tapi lupa memberi contoh.
Ada satu kaidah klasik yang harus kita tancapkan dalam-dalam di dada: Satu teladan nyata, jauh lebih berisik dan bertenaga daripada seribu instruksi verbal!
Allah SWT sudah mengingatkan kita dengan kalimat yang sangat bergetar dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3).
Ini tamparan keras bagi kita yang berprofesi sebagai guru atau ustadz. Rasulullah SAW bahkan mengibaratkan pendidik yang hanya pandai bicara seperti lilin. Beliau bersabda bahwa seseorang yang mengajak orang lain kepada kebaikan sementara dia sendiri melupakannya, bagaikan lilin yang menerangi orang lain namun membakar dirinya sendiri (HR. Ahmad). Na’udzubillah! Kita menerangi jalan murid-murid kita menuju surga, tapi kita sendiri terbakar runtuh karena kemunafikan perilaku kita.
Dunia akademik pun membenarkan hal ini, Saudaraku. Dr. M. Hidayatullah dalam risetnya di Universitas Ahmad Dahlan menegaskan sebuah kebenaran ilmiah: bahwa integrasi nilai Al-Qur’an ke dalam kompetensi kepribadian guru—artinya nilai itu hidup dalam laku sang guru—adalah variabel paling krusial bagi keberhasilan kurikulum moral di sekolah. Jadi, kalau gurunya sendiri retak karakternya, kurikulum secanggih apa pun akan roboh.
Dulu, ulama besar Ibnu Mubarak sampai menghabiskan waktu puluhan tahun hanya untuk mempelajari “adab” dari para gurunya sebelum beliau meneguk kedalaman “ilmu”. Kenapa? Karena yang beliau lihat adalah bagaimana gurunya duduk, bagaimana gurunya berbicara, dan bagaimana gurunya memperlakukan manusia. Bukan sekadar apa yang tertulis di kitab hitam di atas putih.
Saya ingin membagikan sedikit cerita. Secuil pengalaman pribadi yang mengubah cara pandang saya seumur hidup tentang dunia pendidikan.
Ketika awal-awal saya menapakkan kaki ke dunia guru di sekolah—saat masih menjadi ustadz muda yang minim pengalaman—saya merenungkan hadits Rasulullah SAW yang sangat indah ini: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian mengerjakannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).
Rasulullah itu, kalau berpapasan dengan anak-anak kecil yang sedang bermain di sudut Madinah, beliau tidak gengsi. Beliau yang pertama kali menyapa dan mengucapkan salam kepada mereka (HR. Bukhari & Muslim).
Bayangkan, kekasih Allah, pemimpin negara, manusia agung, berinisiatif menyapa anak kecil duluan! Maka, saya bulatkan tekad. Saya coba praktikkan itu di sekolah.
Setiap pagi, saya mengajak beberapa ustad untuk berdiri di gerbang. Ketika melihat murid berjalan melangkah masuk, atau ketika berpapasan dengan wali murid yang mengantar, saya buru-buru mengambil inisiatif. Saya pasang senyum paling tulus, lalu saya ucapkan salam dan menyapa mereka terlebih dahulu.
“Assalamu’alaikum, selamat pagi Mas! Gimana kabarnya hari ini?” “Assalamu’alaikum Ibu, bapak, sehat?”
Awalnya? Ah, suasananya terasa agak kaku. Beberapa murid tampak kaget, mungkin heran melihat ustadznya kok malah menyapa duluan. Wali murid pun ada yang tersenyum canggung.
Tapi tahu apa yang terjadi kemudian?
Kuasa Allah… Tidak butuh waktu lama, efek domino sosiologis itu terjadi. Sebuah keajaiban kecil mengubah iklim sekolah kami. Hanya dalam hitungan minggu, suasananya berubah total!
Setiap kali berpapasan, sebelum jarak kami dekat, para murid justru saling berebut. Mereka berlarian, memasang wajah sumringah, dan berusaha lebih awal untuk mengucapkan salam dan menyapa saya. Wali murid yang tadinya cuek, kini turun dari motor dengan senyum mengembang, menyapa dengan takzim.
Gerbang sekolah berubah menjadi oase yang penuh cinta dan rasa hormat. Tanpa ada aturan tertulis yang ditempel di dinding, tanpa ada hukuman bagi yang lupa menyapa. Semua berjalan natural, mengalir begitu saja, bermula dari satu senyuman dan satu ketukan salam yang konsisten di awal waktu.
Mengapa “Keteladanan ” Ini Berhasil ?
Secara ilmiah, apa yang kita lakukan ini bukan fiksi atau bualan belaka. Riset mendalam dari Munir, Komarudin, dan Anwar di jurnal Idaroqatuna membuktikan secara empiris bahwa penanaman karakter sopan santun yang dimulai dari inisiatif guru secara konsisten (sustained modeling) akan memicu tindakan replikasi positif yang masif dari siswa dan wali murid.
Bahkan dalam kacamata psikologi pendidikan di Universitas Indonesia, peneliti R. Pratama menyebut fenomena ini sebagai Social Contagion Effect atau efek penularan sosial. Ketika seorang figur otoritas—seperti kita para guru, ustadz—memberikan stimulus emosi positif berupa senyuman dan sapaan tulus, lingkungan di sekeliling kita secara psikologis akan otomatis mereplikasi dan meniru perilaku tersebut demi mencapai harmoni sosial. Kita menanam energi baik, maka kita memanen kepatuhan yang lahir dari cinta, bukan ketakutan.
Subhanallah! Sinkron sekali antara dalil langit dan temuan ilmiah bumi. Begitu pula soal kedisiplinan. Jangan harap murid-murid kita taat aturan kalau kita sendiri suka melanggar.
Mendidik dengan keteladanan juga menuntut kejujuran dan kerendahan hati (tawadhu). Ingatlah kisah Umar bin Khattab, sang Khalifah perkasa yang tidak malu mengakui kesalahannya di depan publik saat dikritik oleh seorang wanita tua mengenai pembatasan mahar. Umar berkata, “Wanita itu benar dan Umar salah.”
Maka di kelas pun begitu. Jika kita salah menulis rumus atau keliru menyampaikan informasi, jangan gengsi untuk meminta maaf di depan murid. Katakan, “Astagfirullah, Bapak keliru, terima kasih ya sudah dikoreksi.” Jangan takut wibawa kita runtuh!
Begitu juga dalam urusan spiritual. Jangan jadi guru yang hobi berteriak memakai pengeras suara di kantor, “Ayo anak-anak sholat dhuha! Ayo ke masjid!” sementara kita sendiri masih asyik menyeruput kopi di ruang guru. Keliru! Melangkah lah terlebih dahulu. Berdirilah di shaf terdepan sebelum bel berbunyi. Muridmu akan melihat punggungmu yang bersujud, dan mereka akan mengikutimu tanpa perlu dipaksa.
Pendidikan itu bukan sekadar transfer ilmu (transfer of knowledge), melainkan transfer kepribadian (transfer of personality). Kita sedang mengukir jiwa manusia, bukan mencetak benda mati.
Mari kita evaluasi diri kita masing-masing. Mari hiasi ruang kelas kita dengan kelembutan, integritas, dan keteladanan nyata. Jadilah sosok yang menginspirasi, yang jika kita hadir dirindukan, dan jika kita tiada, mereka merasa kehilangan.
Mulailah esok pagi di gerbang sekolah. Bentangkan senyummu, ulurkan salammu, dan sapa jiwa-jiwa suci itu dengan penuh cinta. Ketuk pintu hati mereka sebelum antum mengisi otak mereka dengan ilmu.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap tutur kata dan perbuatan kita agar layak menjadi uswah hasanah bagi anak didik kita, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah SAW di jannah-Nya kelak. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
K.H. Akhmad Yunus,M.Pd.I / Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen
Daftar Pustaka
Hidayatullah, M. (2021). Penguatan Kompetensi Kepribadian Guru Melalui Internalisasi Nilai-Nilai Al-Qur’an. Jurnal Pendidikan Islam Universitas Ahmad Dahlan, 9(2), 145-158. Munir, A. M., Komarudin, A. N., & Anwar, S. A. (2025). Strategi Penanaman Karakter Sopan Santun Melalui Pembiasaan Salam, Senyum, Dan Sapa. Idaroqatuna: Jurnal Manajemen dan Pendidikan Islam, 7(1), 89-104. Pratama, R. (2026). Analisis Pembiasaan Budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) dalam Perspektif Social Contagion Effect di Sekolah. Jurnal Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia, 14(2), 210-225.
PANGKALPINANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah Perwakilan Kepulauan Bangka Belitung memperkuat sinergi dengan Pengawas (PJPH) Bangka Belitung melalui pertemuan silaturahmi yang membahas penguatan kolaborasi dalam percepatan sertifikasi halal bagi pelaku usaha.
Pertemuan yang berlangsung di Cafe Ayaka, Kota Pangkalpinang, Selasa (30/6/2026) atau bertepatan dengan 14 Muharram 1448 H itu dipimpin Ketua LPH Hidayatullah Perwakilan Bangka Belitung, Ust. Furadi Mansur, S.E., S.Ag., dan dihadiri para perwakilan PJPH dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Hadir dalam kegiatan tersebut Koordinator PJPH Bangka Belitung Siti Zahara, serta perwakilan PJPH dari Bangka Tengah, Bangka Barat, Kota Pangkalpinang, dan Kabupaten Bangka. Pertemuan difokuskan pada penguatan koordinasi serta kolaborasi dalam mendukung pelaksanaan sertifikasi halal bagi pelaku usaha di daerah.
Koordinator PJPH Bangka Belitung, Siti Zahara, berharap silaturahmi tersebut menjadi awal terbangunnya kerja sama yang berkelanjutan antarpemangku kepentingan dalam ekosistem halal.
“Semoga melalui silaturahmi ini terjalin kerja sama yang baik dan berkelanjutan. Koordinasi, kolaborasi, serta berbagi pengalaman dalam melayani para pelaku usaha harus terus kita bangun sebagai ikhtiar memastikan seluruh produk yang beredar di Bangka Belitung terjamin kehalalannya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua LPH Hidayatullah Perwakilan Bangka Belitung, Furadi Mansur, menegaskan bahwa penguatan ekosistem halal memerlukan sinergi yang erat antara seluruh pihak yang terlibat, mulai dari regulator hingga lembaga pemeriksa halal.
“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem halal, baik BPJPH, PJPH, maupun LPH, untuk terus membangun komunikasi dan memperkuat sinergi. Tujuannya bukan hanya menghasilkan produk yang halal, tetapi juga thayyib, sehingga memberikan jaminan kualitas dan keamanan bagi masyarakat,” katanya.
Selain menjadi ajang silaturahmi, pertemuan tersebut juga menjadi forum berbagi pengalaman dan membahas berbagai tantangan dalam implementasi sertifikasi halal di Bangka Belitung. Suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh keakraban, mencerminkan semangat kolaborasi dalam membangun ekosistem halal yang semakin kuat.
Sebagai tindak lanjut, LPH Hidayatullah Perwakilan Bangka Belitung dan PJPH Bangka Belitung berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dalam berbagai program dan kegiatan halal di seluruh wilayah Kepulauan Bangka Belitung sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan industri halal dan meningkatkan daya saing pelaku usaha daerah.
“Mas, siapa nama calon istrimu?” Suara Bapak di balik telepon terdengar penasaran.
“Belum tahu, Pak. Masih dimusyawarahkan,” jawab pemuda itu tenang, tanpa keraguan.
Di seberang sana, Bapak di Jawa Timur terdengar helaan napas berat. “Ini kurang tiga hari lagi menikah kok belum tahu nama istrinya? Kamu ini kayak beli kucing dalam karung saja!”
Pemuda itu tersenyum tipis, lalu menjawab dengan nada takzim yang meneduhkan. “Bukan begitu, Pak. Kalau beli kucing dalam karung, kita memang tidak melihat detailnya. Tapi kalau di sini, semua calon mempelai putra dan putri dilihat dengan cermat oleh panitia para ustadz senior yang sudah dipercaya dan berpengalaman. Diseleksi rekam jejaknya, dipilih yang setara, dibekali ilmunya, dan didoakan di setiap memanjang malam. Jadi insya Allah, semuanya cantik dan shalihah.”
Keheningan melingkupi jeda telepon sejenak, sebelum akhirnya sang bapak melunak, luluh oleh keyakinan sang anak. “Ya sudah… Semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik ya, Mas.” “Aamiin Yaa Rabbal Alamin.”
Itulah kisah 24 tahun lalu, tepatnya 7 Juli 2002 saat penulis menjadi salah satu peserta pernikahan mubarakah 48 pasang di Pesantren Hidayatullah Balikpapan
Menggugat Logika Modern: Antara Pacaran dan Ruang Iman “Menikah tanpa kenal dulu? Kok bisa ya?” Pertanyaan itu hampir selalu terlontar, spontan dan penuh keheranan, dari mereka yang baru pertama kali mendengar tradisi Nikah Mubarakah di Pesantren Hidayatullah. Di zaman ketika hubungan asmara harus diawali dengan pacaran berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun maka konsep pernikahan mubarakah dianggap aneh, kuno, atau tidak masuk akal.
Ironisnya, dunia modern menganggap wajar pacaran lama yang mendetail hingga melampaui batas syariat, yang tak jarang berakhir pada kekecewaan atau “kecelakaan” sebelum akad. Terkadang pacaran bertahun-tahun tapi umur pernikahan hanya hitungan bulan. Bagi sebagian orang, tidak melihat wajah calon pasangan hingga dua hari menjelang pernikahan dianggap “menyalahi sunnah”. Bukankah Rasulullah ﷺ pernah meminta sahabatnya untuk melihat (nazhar) calon istrinya?
Tentu saja sunnah itu mulia dan di pernikahan mubarakah juga diboleh melihat calon pasangannya tapi lewat foto atau perantara orang lain dan jika diperlukan bisa melihat langsung. Namun di sini, ada ruang iman: sebuah manifestasi ketaatan yang radikal dan keyakinan utuh bahwa jodoh yang digariskan Allah melalui perantara para murabbi (ustadz) adalah yang terbaik. Di titik ini, orientasi perkawinan telah bergeser dari sekadar memuat ego visual, menjadi ketulusan murni karena Allah semata.
Ikhtiar di Meja Musyawarah dan Sajadah Istikharah Bagi yang belum pernah terlibat dalam kepanitiaan penjodohan massal ini, keajaiban bagaimana Allah mempersatukan dua hati yang asing memang sulit dinalar. Padahal, bagi para santri, proses ini berjalan sangat alamiah. Inilah esensi pernikahan yang dibingkai oleh ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepemimpinan ( imamah ). Ada proses tarbiyah (pendidikan jiwa) yang panjang di balik ketenangan mereka. Sebuah keyakinan yang menghunjam dalam: bahwa jodoh sudah tertulis di Lauhul Mahfudz dan tidak akan pernah tertukar.
Setiap orang punya jalan bertemunya masing-masing. Ada yang lewat orang tua, sahabat, biro jodoh, atau jemari yang berselancar di media sosial tentu dengan konsekuensinya masing-masing. Namun, Nikah Mubarakah menawarkan jalur yang berbeda: jalur musyawarah dan munajat. Di balik layar, Tim Penjodohan ( Steering Committee ) bukan sekadar perantara biasa. Mereka adalah para ustadz dan ustadzah senior yang memiliki kapasitas, kapabilitas, serta pengalaman spiritual selama bertahun-tahun.
Proses penjodohan ini setidaknya melibatkan pertimbangan multi-dimensi yang sangat ketat: • Aspek Spiritual : Tingkat ketaatan dan keshalihan. • Aspek Intelektual: Latar belakang pendidikan dan kapasitas keilmuan. • Aspek Sosial: Latar belakang keluarga dan kesiapan mental. • Aspek Manusiawi: Keselarasan fisik dan penampilan.
Setiap berkas nama tidak hanya dibaca, tetapi dibawa dalam sujud-sujud panjang dan istikharah berkali-kali, berhari-hari. Ini adalah ikhtiar bumi yang mengetuk pintu langit.
Solusi dan Oase Perlawanan Budaya Pernikahan adalah mitsaqan ghalizha yaitu perjanjian yang agung dan suci. Sebab kesuciannya (pernikahan), maka jalurnya harus bersih, dan momentum walimahnya harus sakral sebagai syiar Islam.
Di tengah gempuran tren pernikahan modern yang acap kali terjebak dalam hedonisme budaya Barat atau justru terkontaminasi mistisisme lokal yang menyimpang, Nikah Mubarakah hadir sebagai sebuah oase. Ia adalah bentuk perlawanan budaya yang elegan; membuktikan bahwa kesucian pratek ibadah terlama ini bisa dipertahankan tanpa kehilangan estetikanya.
Meniti Jalan Sakinah: Menerima Ketidaksempurnaan Bagi para peserta Nikah Mubarakah, babak baru justru dimulai setelah kalimat “Qobiltu…” menggema. Cinta dalam konsep ini tidak dicari sebelum nikah, melainkan ditumbuhkan dan dirawat setelah sah. Sakinah, mawaddah, dan rahmah bukanlah hadiah gratis yang jatuh dari langit, melainkan buah dari mujahadah (perjuangan) dan ilmu. Pernikahan menyadarkan menyadarkan kita sejak awal: kalian tidak sedang menikah dengan malaikat atau bidadari yang tanpa celah.
Suami adalah manusia biasa, istri pun wanita yang tak sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Di atas kesadarannya, memaparkan jiwa yang tadinya asing ini mulai saling belajar memahami kekurangan, merasakan kelebihan, dan melangkah bersama menuju surga-Nya.
Dr. Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I., M.Si / Penulis adalah Ketua DPP Hidayatullah Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota, sekaligus Peserta Pernikahan Mubarakah 48 Pasang tahun 2002
BANGKA TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidz Hidayatullah Bangka Belitung sukses menggelar prosesi Haflah Akhirussanah bagi santri kelas akhir jenjang SMP dan SMA. Acara yang berlangsung khidmat ini digelar di Teru, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah, Ahad (21/6/2026) atau bertepatan dengan 5 Muharram 1448 H.
Dalam pelaksanaan Haflah tahun ini mengusung tema “Berilmu untuk berkarya, Beriman untuk mulia, dan Berakhlaq untuk menginspirasi”. Sekaligus menjadi harapan bagi para santri yang telah menyelesaikan pendidikan jenjang SMP dan SMA.
Integrasi Tiga Kecerdasan Jadi Kunci Sukses Pendidikan
Dalam sambutannya, Ketua Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Babel, Ustadz Taufik Hidayat, Lc., S.M., M.Pd, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas pencapaian para santri alumni. Beliau menekankan bahwa wisuda ini bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu.
“Wisuda ini bukanlah akhir dari sebuah pembelajaran, melainkan langkah awal agar para lulusan terus berkembang dan berproses untuk mencapai cita-cita yang diinginkan,” ujar Taufik.
Lebih lanjut, Taufik mengutip sebuah penelitian dari seorang profesor di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang mampu mengintegrasikan tiga potensi kecerdasan, yaitu Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ).
“Alhamdulillah, model pendidikan di Ponpes Tahfidz Hidayatullah Babel ini menganut ketiga hal di atas. Ini menjadi landasan dasar dan fokus utama dalam proses serta pelaksanaan pendidikan kami,” tambahnya. Beliau juga mengajak para orang tua murid untuk tetap konsisten melanjutkan tonggak pendidikan islam ini ke jenjang yang lebih tinggi di lingkungan Pesantren Hidayatullah.
Transformasi Kawasan Angker Menjadi Pusat Peradaban
Apresiasi luar biasa juga datang dari pemerintah setempat. Camat Simpang Katis, Bapak Romadin, S.Ag, memberikan kesaksian menyentuh mengenai dampak positif kehadiran pesantren ini bagi lingkungan sekitar.
“Dulu tempat ini dikenal sangat angker oleh masyarakat sekitar. Namun, setelah hadirnya pondok pesantren ini, kawasan menjelma menjadi sebuah institusi pendidikan yang mulia. Tempat ini kini melahirkan para penghafal Qur’an dan calon pemimpin masa depan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ungkap Romadin bangga.
Ditutup dengan Unjuk Bakat Para Santri
Suasana haru sekaligus bangga menyelimuti akhir acara ketika para santri alumni SMP dan SMA menampilkan kemampuan mereka dalam sesi tasmi’ (memperdengarkan) hafalan Al-Qur’an. Tidak hanya itu, mereka juga menunjukkan kecakapan global melalui pidato dalam tiga bahasa yang dibawakan secara memukau.
Rangkaian acara Haflah Akhirussanah ini kemudian resmi ditutup dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Kepala KUA Simpang Katis, Bapak Romanza, S.H.I.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat kemitraan antara sekolah dan wali murid diselenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembinaan Wali Murid Zona Kalimantan pada hari Rabu, 1 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 45 peserta dari para kepala sekolah, Ketua Yayasan dan Kadep Perkaderan, serta penanggung jawab pembinaan wali murid dari satuan pendidikan di wilayah se Kalimantan.
Bimtek ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk meningkatkan kualitas pembinaan wali murid sebagai mitra strategis sekolah dalam mendukung keberhasilan pendidikan peserta didik. Melalui pembinaan yang terarah, diharapkan terbangun kesamaan visi antara sekolah dan orang tua dalam mendidik generasi Rabbani
Kegiatan Zoom virtual ini dihadiri oleh yaitu Ketua Bidang Perkaderan, Dr. Abdul Ghafar Hadi, Kepala Departemen Pembinaan Anggota Iwan Abdullah , dan Departemen Dikdasmen DPP Hidayatullah Muh. Farhan,MSi. Para narasumber memberikan penguatan mengenai pentingnya pembinaan wali murid sebagai bagian dari strategi penguatan kualitas pendidikan dan kaderisasi.
Dalam arahannya, para pemateri menegaskan bahwa pendidikan yang berhasil memerlukan sinergi yang erat antara sekolah dan keluarga. Sekolah tidak dapat bekerja sendiri dalam membentuk karakter dan membangun budaya belajar peserta didik.
Ketua Bidang Perkaderan & Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah Dr Abdul Ghaffar Hadi, MSi, meyampaikan Nilai Strategis Pembinaan wali murid diantaranya : 1. Keberhasilan Sekolah Sangat ditentukan oleh Sinergi dengan Wali Murid
1. Keberhasilan Sekolah Sangat ditentukan oleh Sinergi dengan Wali Murid
Sekolah tidak dapat menjalankan fungsi pendidikan secara maksimal tanpa dukungan keluarga. Waktu peserta didik di rumah umumnya lebih banyak dibandingkan di sekolah, sehingga nilai, kebiasaan, dan karakter yang ditanamkan di sekolah perlu diperkuat oleh orang tua.
Keberhasilan sekolah bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari terbentuknya karakter, akhlak, dan budaya belajar yang baik, yang semuanya memerlukan keterlibatan aktif keluarga.
2. Pembinaan Wali Murid Menjadi Indikator Sekolah yang Maju
Sekolah yang maju tidak hanya unggul dalam kurikulum, sarana, atau prestasi, tetapi juga mampu membangun hubungan yang erat dengan wali murid.
Ciri-ciri sekolah yang memiliki hubungan baik dengan wali murid antara lain: Komunikasi berlangsung secara terbuka, rutin, dan saling menghargai, Orang tua merasa menjadi bagian dari komunitas sekolah. Program sekolah mendapat dukungan dan partisipasi yang tinggi. Permasalahan peserta didik diselesaikan melalui kerja sama, bukan saling menyalahkan. Terdapat forum pembinaan, silaturahmi, dan edukasi bagi orang tua secara berkala.
Hubungan seperti ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah dan memperkuat citra lembaga pendidikan.
3. Mengajak Orang Tua Menguatkan Barisan Umat Islam
Bagi sekolah Islam, pembinaan wali murid memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar komunikasi pendidikan. Pembinaan menjadi sarana memperkuat ukhuwah dan membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Melalui pembinaan, sekolah dapat: Menguatkan pemahaman orang tua mengenai tanggung jawab pendidikan dalam Islam. Membangun kebersamaan dalam dakwah dan penguatan nilai-nilai keislaman.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya mendidik peserta didik, tetapi juga menjadi pusat pembinaan keluarga.
4. Efek Berganda (Multiplier Effect) Pembinaan Wali Murid
Pembinaan wali murid memberikan dampak yang luas dan berkelanjutan. Beberapa efek berganda tersebut antara lain:
Bagi peserta didik: meningkatnya motivasi belajar, kedisiplinan, karakter, dan prestasi.
Bagi orang tua: bertambahnya wawasan tentang pola asuh, pendidikan, dan pembinaan akhlak anak.
Bagi sekolah: meningkatnya kepercayaan masyarakat, dukungan terhadap program sekolah, serta terciptanya lingkungan belajar yang kondusif.
Ketika orang tua yang telah mengikuti pembinaan membagikan pengalaman dan nilai-nilai positif kepada keluarga atau lingkungan sekitarnya, manfaat pembinaan meluas melampaui komunitas sekolah.