Beranda blog Halaman 6

Refleksi Dulu Reaksi Kemudian, Kunci Melangkah Gembira di Tengah Ujian Kehidupan

0

BANYAK orang merasa hidupnya berat. Bukan karena masalahnya selalu besar, tetapi karena cara menyikapinya yang belum tepat. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, yang pertama kali muncul adalah dorongan untuk menyalahkan—orang lain, keadaan, bahkan takdir. Padahal, tidak semua yang kita hadapi harus dilawan dari luar. Ada bagian yang justru harus kita periksa dari dalam.

Realitas kehidupan memang tidak selalu sejalan dengan keinginan. Kita akan bertemu dengan banyak hal yang berbeda, bahkan bertentangan dengan apa yang kita yakini. Di titik inilah banyak orang mulai lelah, kehilangan arah, lalu sibuk mencari siapa yang salah. Namun, semakin kita fokus pada kesalahan di luar diri, semakin kita kehilangan kendali atas diri sendiri.

Di sinilah pentingnya mengubah arah pandang. Bukan berarti kita menutup mata terhadap masalah, tetapi kita menempatkan diri sebagai pihak yang punya kendali untuk merespons. Sebab dalam banyak keadaan, yang menentukan bukan hanya apa yang terjadi, tetapi bagaimana kita menyikapinya.

Pasang Sikap Ini

Jangan buru-buru salahkan orang dan keadaan. Kita pasti akan bertemu dengan banyak hal dan bahkan ada yang berbeda, bahkan bertentangan.

Daripada sibuk mengutuk keadaan apalagi orang lain, langkah tepat kalau kita melihat ke dalam. Seperti mobil, kita cek, apakah bensin cukup, oli masih bagus dan sebagainya.

Begitu juga dalam hidup manusia, cek ke dalam. Apakah niat masih kuat, apakah tekad masih membaja. Kalau jawabannya yes, tugas kita satu: “Gas Kebaikan”.

Sebelum Bereaksi

Kalimat sederhana itu sesungguhnya menyimpan satu prinsip penting dalam menjalani hidup: refleksi diri sebelum reaksi.

Seperti kendaraan yang tidak akan bisa berjalan jauh tanpa perawatan, manusia pun tidak akan mampu melangkah dengan baik tanpa evaluasi diri yang jujur.

Masalahnya, banyak orang ingin hasil yang baik tanpa mau memastikan “mesin dirinya” dalam kondisi prima. Niat mulai melemah, tapi tidak disadari. Tekad mulai goyah, tapi tidak diperbaiki. Akhirnya, ketika hidup terasa berat, yang disalahkan selalu keadaan, bukan kesiapan diri.

Padahal, ketika seseorang berani melihat ke dalam, ia akan menemukan banyak hal yang bisa diperbaiki. Dari situ lahir energi baru. Dari situ muncul kembali semangat untuk melangkah. Dan dari situ pula, kebaikan menjadi sesuatu yang bisa terus digerakkan, bukan sekadar diinginkan.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling sedikit masalah, tetapi siapa yang paling siap menghadapinya. Dan kesiapan itu tidak lahir dari luar, tetapi dari dalam diri yang terus dirawat, diperbaiki, dan diarahkan.

Maka jika hari ini terasa berat, mungkin bukan karena hidup terlalu keras. Bisa jadi karena kita belum sempat berhenti sejenak untuk mengecek diri sendiri.

Jika niat masih kuat dan tekad masih membaja, maka tidak ada alasan untuk berhenti.

Saatnya kita gas kebaikan!

Mas Imam Nawawi

Memosisikan Pengetahuan, Komparasi Antara Indonesia dan Iran

0

SAAT membaca Iran, nyaris semua orang terpesona. Meski negara itu nyaris setengah abad hidup dalam embargo ekonomi, kenyataannya mereka baik-baik saja, bahkan maju dari sisi ilmu. Sedangkan Indonesia, kekayaan alamnya luar biasa, tapi kemajuan ilmu masih jauh dari harapan.

Seperti tulisan Sri Aisyah, Dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas dalam artikel “Motor SPPG Vs Riset Dosen: Menakar Prioritas Pembangunan” di kompas.com, situasinya tampak tidak berimbang, kalau dikomparasikan dengan Iran.

Pemerintah Indonesia telah menyiapkan 25.000 unit motor untuk petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kemudian hanya sekitar 13.000 proposal penelitian dosen didanai melalui skema BIMA. Hal ini dalam pandangan Sri membuat tagline kampus berdampak akn sulit hadir dalam pembuktian.

Padahal universitas idealnya melahirkan pengetahuan, memberi rumusan solusi atas problematika bangsa yang berbasis data, serta dapat menguji kebijakan dengan pendekatan ilmiah. Kampus seharusnya bukan hanya bisa mencetak lulusan. Apalagi yang tak bisa mandiri dan kreatif ketika dunia kerja tak memerlukan mereka.

Kalau berbicara Iran, kondisinya jauh berbeda. Negara itu setiap tahun, sejak awal 2020 mampu menerbitkan 70.000 sampai 80.000 artikel ilmiah. Artinya Iran mampu menjadi negara yang menjaga tradisi intelektual sekaligus mengembangkannya.

Sikap Objektif

Langkah komparatif ini tentu bukan untuk mengutuk negeri sendiri, akan tetapi mengajak semua pihak berpikir dan bertindak, bahwa Indonesia akan maju kalau membangun tradisi ilmu dengan baik. Harapannya semua elemen bangsa mampu bersikap objektif bahwa kemajuan tidak bisa lepas dari ilmu.

Iran sendiri telah memiliki spirit yang jelas tentang urgensi ilmu atau pengetahuan. Mereka punya tagline “Yang berkuasa yang berpengetahuan”. Ini menandakan bahwa suatu bangsa akan maju kalau pemimpinnya memiliki ilmu dan pengetahuan.

Ungkapan itu bukan semata indah dan menarik tapi memang relevan untuk menjawab tantangan. Karena dalam banyak fakta sejarah, pengetahuan tanpa kekuasaan melahirkan ketidakberdayaan ilmu dan keadilan. Kemudian kekuasaan tanpa pengetahuan akan mengundang para pemimpin yang bermental tiran.

Jadi, sikap objektif sangat Indonesia perlukan untuk bisa melakukan pembangunan manusia, yang akhirnya akan berdampak pada pembangunan bangsa dan negara. Dalam hal kebijakan, memang idealnya tergambar atau terbukti melalui dukungan penuh terhadap pembangunan manusia dengan ilmu.

Mulai dari Bercerita

Sebagian pihak mungkin masih berpandangan bahwa membangun manusia dengan ilmu itu sulit. Tapi itu akan terasa berbeda kalau kita menyimak pemikiran Gita Wirjawan, sosok yang punya program podcast Endgame di Youtube dengan konten-konten edukasi yang mendalam.

Ia mengatakan bahwa skala perdagangan di Asia Tenggara itu baru mencapai 23 persen. Kemudian di Uni Eropa sudah sampai 65 persen. Bagi Gita itu bukan semata soal ilmu komunikasi, tapi kurangnya interaksi dengan sarana cerita.

Gita menegaskan, “Berarti kita masih kurang bercerita satu sama lain. Kita sering berjabat tangan, tapi tidak memahami barang atau jasa apa yang bisa dikirim atau peluang apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan skala perdagangan.”

Itulah alasan mengapa Perguruan Tinggi seperti LSPR membekali lulusannya dengan kemampuan bercerita yang baik. Hal itu karena mereka sadar bahwa kemampuan bercerita potensial menarik investasi dan modal. Dalam kata yang lain manusia yang unggul punya kemampuan bercerita. Dan itu bukan semata penting bagi pribadi tapi juga krusial bagi pembangunan bangsa.

Bercerita lebih jauh adalah kemampuan yang akan muncul kalau seseorang tekun membaca, mengamati dan memahami kemudian juga aktif berinteraksi. Jika Indonesia ingin maju, maka ilmu adalah kunci.

Oleh karena itu menarik ungkapan Bung Karno dalam salah satu pidatonya, bahwa ilmu itu penting, tapi akan lebih berharga kalau ilmu itu kita gunakan atau praktikkan dalam kehidupan. Akan luar biasa kalau itu kemudian menjadi praktik hidup bangsa, bahkan berpengaruh menjadi praktik kehidupan dunia kemanusiaan.

Langkah sederhananya, ilmu itu menjadi jiwa dalam menentukan kebijakan, siapa mengurus apa atau apa diurus oleh siapa, yang paling berilmu.*

Mas Imam Nawawi

Peran Strategis Kader Senior dalam Menjaga Memori dan Arah Perjalanan Organisasi

0

KADER senior itu mutiara organisasi, baik organisasi bisnis atau nirlaba. Mereka sosok-sosok yang telah teruji konsistensinya. Dari mereka, terpancar mata air inspirasi sehingga yunior terdorong untuk aktif berkontribusi.

Kader senior juga ‘buku sejarah’ yang hidup. Data, fakta, dan makna sejarah organisasi disimpan rapi oleh mereka. Dengan duduk bersama mereka, semoga untaian sejarah masa lalu bisa digali untuk diambil hikmahnya. Kemudian untaian hikmah itu diproyeksikan ke masa depan.

Kader senior merupakan mata air semangat. Mereka mengikuti perjalanan organisasi sejak awal sehingga memahami semangat apa yang perlu senantiasa hadir. Bahkan tidak jarang mereka menjadi contoh terbaik untuk memperagakan semangat tersebut di organisasi.

Oleh karena itu ada harapan kepada para senior untuk mau dan mampu membimbing para yunior. Pendekatannya mungkin kultural. Akan tetapi jauh lebih baik jika organisasi merancang pendekatan yang memadukan kultural dengan formal.

Hal ini dibutuhkan agar senior tetap selaras dengan organisasi. Dalam hal kebijakan organisasi, misalkan. Apabila senior mendapat informasi utuh tentang kebijakan organisasi, lebih dimungkinkan untuk senior membangun perspektif positif.

Oleh karena itu langkah pertama organisasi dalam menyiapkan senior sebagai pembimbing (coaching atau mentoring) adalah memastikan mereka mendapatkan informasi organisasi yang utuh. Sebuah saluran khusus untuk menyampaikan informasi organisasi mungkin sangat berguna. Seorang penanggung jawab diamanahi untuk mengelola saluran khusus ini.

Langkah selanjutnya adalah membangun kapasitas profesional kader. Ada dua tujuan terkait hal ini. Pertama, agar kader memiliki kemampuan keuangan yang cukup. Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, keuangan yang cukup lebih memudahkan kader untuk berinvestasi pada pengembangan diri. Kedua, agar kader memiliki citra positif terhadap dirinya. Citra positif ini dibutuhkan sebagai modal sharing dengan para yunior nantinya.

Langkah selanjutnya adalah organisasi memfasilitasi terbangunnya komunitas belajar. Tujuannya membangun kapasitas para kader senior sebagai pembimbing. Dikarenakan isinya sudah bukan orang biasa, maka aktivitas komunitas belajar lebih banyak diisi dengan refleksi, saling berbagi, dan membangun proyeksi bersama.

Sebagai langkah penyeimbang, kepada para kader yunior, organisasi melakukan persuasi agar para kader yunior belajar kepada senior. Tidak lupa organisasi merilis pengingat tentang pentingnya menghormati senior. Jabatan, setinggi apapun, tidak menghalangi setiap orang di organisasi untuk melakukannya. Apalagi jabatan bukan ukuran prestise, justru amanah yang senantiasa perlu dituntaskan kewajibannya.

Terakhir, organisasi dianjurkan untuk memberi insentif khusus kepada para senior. Ini disesuaikan dengan kemampuan organisasi. Bentuknya juga beragam.

Dengan seluruh langkah yang dilakukan, semoga kerekatan dan kedekatan terbangun. Organisasi, kader senior dan yuniornya saling menguatkan. Organisasi, bisnis atau nirlaba, semakin laju menggapai targetnya.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

Talkshow Silatwal Hidayatullah di Gunung Tembak Tegaskan Integrasi Ketaatan dan Strategi Kaderisasi

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kampus Ummulquraa Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, menjadi tuan rumah acara Silaturrahim Syawal (Silatwal) 1447 Hidayatullah se-Indonesia. Pembuka helatan ini ditandai dengan kegiatan Talkshow Silatwal menghadirkan tiga ketua perwakilan wilayah Hidayatullah sebagai narasumber yang berlangsung pada pada Jumat, 22 Syawal 1447 (10/4/2026).

Hadir sebagai pembicara utama adalah Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Selatan Irsyad Istoyo, Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat Muhammad Rusydan, dan Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara Lutfiuddin. Ketiganya berbagi laporan perjalanan mengenai integrasi ketaatan spiritual dan strategi pembangunan kader yang adaptif terhadap dinamika zaman.

Forum dibuka dengan premis bahwa ketaatan merupakan fondasi eksistensial bagi setiap individu dalam institusi. Ditegaskan bahwa keikutsertaan dalam gerakan ini harus didasari oleh semangat tajdid atau pembaruan komitmen yang bersumber pada nilai-nilai Al-Quran, disamping mengukuhkan kembali semangat berjemaah sebagai modal utama dalam menghadapi tantangan dakwah global yang kian kompleks.

Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat, Muhammad Rusydan, menyoroti bahwa kehadiran kader di forum tersebut, meskipun harus menempuh jarak geografis yang sangat jauh, merupakan manifestasi dari ruh ketaatan yang menjadi identitas utama organisasi.

“Intinya adalah ketaatan, dan di situlah ruh sesungguhnya,” katanya. Dia menjelaskan bahwa setelah memantapkan niat untuk berjuang, setiap anggota harus melanjutkannya dengan ketaatan yang kokoh.

Rusydan menyerukan kepada para kader agar senantiasa mantapkan ketaatan kepada Allah, kepada Rasul dan kepada “ulil amri minkum”. Rusydan memandang ketaatan bukan semata mekanisme organisasi tetapi juga energi spiritual yang menyatukan visi dan gerak jemaah dalam menjalankan misi dakwah di berbagai pelosok negeri.

Beralih pada perspektif operasional, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara, Lutfiuddin, memaparkan pentingnya manajemen rekrutmen yang sistematis sebagai ujung tombak perkembangan organisasi. Lutfiuddin memandang bahwa arus utama gerakan Hidayatullah yang berfokus pada tarbiyah dan dakwah harus membuahkan hasil nyata dalam bentuk pertumbuhan anggota yang berkualitas.

Dengan 17 kabupaten dan kota yang ada di Sulawesi Tenggara, Lutfiuddin melihat urgensi bagi setiap pimpinan daerah untuk mengoptimalkan proses kaderisasi secara konsisten.

Lutfiuddin berpendapat bahwa yang terpenting adalah perkaderan, rekrutmen, dan pembinaan anggota. Ia memberikan simulasi strategis mengenai efektivitas penyelenggaraan Daurah Marhala Ula di tingkat daerah. Menurut perhitungannya, jika setiap kabupaten mampu menjalankan tanggung jawab rekrutmen secara maksimal, maka pertumbuhan jumlah kader akan mengalami akselerasi yang signifikan.

“Pencapaian rekrutmen kita itu akan meloncat di era digitalisasi ini jika pembinaan dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan,” katanya, seraya menekanka pihaknya di Sultra terus melakukan penguatan dan pembenahan ditengah berbagai keterbatasan yang ada.

Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Selatan, Irsyad Istoyo, melengkapi diskusi dengan membagikan refleksi kepemimpinan berdasarkan pengalaman panjangnya di berbagai posisi strategis. Irsyad menekankan bahwa di tengah kemajuan teknologi, aspek keteladanan pemimpin tetap menjadi faktor kunci dalam membina generasi muda.

Dai asal Solo ini menyarankan agar pola kepemimpinan tidak lagi bersifat instruktif searah, melainkan lebih mengedepankan pendekatan dialogis dan pendampingan yang intensif kepada para kader di lapangan. “Pemimpin harus memberikan support kepada para kader muda, dampingi dia, dan ajak dia dialog,” katanya.

Irsyad mencontohkan integritas pribadi dengan memilih untuk memberikan kepercayaan penuh kepada sistem administrasi modern dan tidak terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan teknis guna menjaga transparansi. Saat ditanya mengenai metode paling efektif dalam menanamkan nilai-nilai perjuangan, Irsyad dengan lugas menjawab bahwa yang pertama adalah berikan keteladanan.

Acara Talkhsow Silaturrahim Syawal 1447 yang dipandu Ketua DKM Ar Ariyadh Nasiruddin ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan Hidayatullah sangat bergantung pada sinergi antara ketaatan yang tulus dan profesionalisme dalam pengelolaan sumber daya manusia. Para ketua DPW sepakat bahwa penguatan barisan melalui rekrutmen yang masif serta kepemimpinan yang teladan akan menjadi arsitektur utama dalam membangun peradaban Islam di masa depan.

Kerja Sama OJK Kepri dan IAI Hidayatullah Batam Tingkatkan Literasi Keuangan Masyarakat

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kepulauan Riau dan Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam menjalin kerja sama dalam upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan silaturahim yang berlangsung di kantor OJK Kepulauan Riau pada Jumat, 22 Syawal 1447 (10/4/2026).

Kunjungan dari pihak kampus disambut langsung oleh pimpinan OJK Kepri, Sinar Danandjaya. Pertemuan membahas sejumlah rencana kolaborasi yang berkaitan dengan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan keuangan.

Dalam diskusi tersebut, kedua pihak membicarakan sejumlah program kerja yang dapat dilaksanakan secara bersama. Program yang dibahas antara lain pengembangan duta literasi keuangan, penyelenggaraan seminar, kuliah umum, serta kegiatan Training of Trainers (ToT) yang ditujukan bagi mahasiswa maupun masyarakat.

Sinar Danandjaya menjelaskan bahwa OJK memiliki mandat untuk melakukan edukasi mengenai literasi keuangan kepada masyarakat luas, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.

“OJK memiliki kewenangan untuk mensosialisasikan program literasi keuangan untuk seluruh elemen masyarakat, termasuk civitas akademika di lingkungan perguruan tinggi,” ujar Sinar,

Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan perguruan tinggi menjadi salah satu pendekatan penting dalam memperluas jangkauan edukasi keuangan. Melalui keterlibatan mahasiswa dan civitas akademika, informasi mengenai pengelolaan keuangan dapat disampaikan kepada masyarakat secara lebih luas.

Rektor IAI Hidayatullah Batam, Dr. Muh. Sidik, dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa kampus telah memberikan materi teori mengenai pengelolaan keuangan melalui kegiatan perkuliahan, khususnya di Fakultas Ekonomi. Ia menyampaikan harapan agar OJK dapat menjadi mitra dalam memberikan pengalaman praktis yang dapat melengkapi pembelajaran tersebut.

“OJK dan IAI memiliki kesamaan program kampus untuk melaksanakan tridharma perguruan tinggi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kerja sama ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan yang sehat.

Sidik juga menyinggung pentingnya literasi keuangan dalam menghadapi berbagai risiko finansial yang berkembang di masyarakat. Ia menyampaikan bahwa peningkatan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan diharapkan dapat membantu masyarakat menghindari praktik pinjaman online yang berisiko.

Dalam pertemuan tersebut, pihak OJK juga menegaskan pentingnya edukasi finansial yang berkelanjutan bagi masyarakat. Perwakilan OJK, Luthfi, menjelaskan bahwa literasi keuangan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memahami pengelolaan keuangan secara lebih baik.

“Pentingnya literasi keuangan agar masyarakat tidak terlibat pinjol, punya aset, dan dana darurat,” katanya.

Melalui kerja sama ini, OJK Kepulauan Riau dan IAI Hidayatullah Batam merencanakan berbagai kegiatan edukasi yang ditujukan bagi mahasiswa serta masyarakat umum. Program-program tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab.

Audiensi tersebut dihadiri oleh pimpinan OJK Kepulauan Riau Sinar Danandjaya bersama Luthfi, Rektor IAI Hidayatullah Batam Dr. Muh. Sidik, Wakil Rektor I Dr. Moh. Ramli, Kepala Biro Kepegawaian, Kepala Program Studi Manajemen Bisnis Syariah, serta pimpinan Bank BTN Batam Indra Sakti Agung Nugroho.

Sinergi LPH Hidayatullah dan Mushida Halal Centre dalam Penguatan Ekosistem Halal Nasional

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Musimat Hidayatullah meluncurkan Mushida Halal Centre dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah dalam rangkaian forum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026 di Komplek Wisma & Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta pada Kamis, 21 Syawal 1447 (9/4/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung dengan dihadiri Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal SS., SH., MH., yang turut memberikan sambutan sekaligus sosialisasi mengenai arah penguatan ekosistem produk halal di Indonesia. Agenda ini menjadi bagian dari upaya pengembangan infrastruktur ekonomi umat yang berlandaskan prinsip kepatuhan syariat serta standar profesional dalam pengelolaan industri halal.

Muhammad Faisal mengatakan bahwa pendirian Mushida Halal Centre merupakan langkah yang relevan dengan perkembangan industri halal yang semakin kompetitif di tingkat global. Ia menegaskan bahwa LPH Hidayatullah berperan dalam mendukung penguatan integritas produk halal melalui mekanisme pemeriksaan dan sertifikasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“LPH Hidayatullah berkomitmen sepenuhnya mendukung visi Indonesia menjadi pusat industri produk halal dunia,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa lembaga yang dipimpinnya telah ditetapkan sebagai Lembaga Pemeriksa Halal Utama dengan akreditasi resmi dari otoritas terkait. Status tersebut menjadi dasar bagi LPH Hidayatullah dalam menjalankan fungsi pemeriksaan halal terhadap berbagai jenis produk yang beredar di masyarakat.

Menurut Faisal, kerja sama antara Mushida Halal Centre dan LPH Hidayatullah juga memiliki landasan organisasi yang jelas. Ia merujuk pada Ketetapan Musyawarah Nasional Hidayatullah V yang menegaskan peran organisasi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya kehalalan pangan. Kolaborasi ini, tekannya, untuk memperkuat literasi halal dan meningkatkan standar kualitas produk yang dihasilkan oleh anggota dan pelaku usaha di berbagai wilayah.

Faisal menekankan peran penting perempuan dalam kegiatan ekonomi keluarga melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dalam kerja sama ini, LPH Hidayatullah akan memberikan layanan pemeriksaan halal secara profesional guna mendukung kepastian hukum bagi konsumen serta memastikan bahwa produk yang dihasilkan memenuhi ketentuan syariat.

Faisal menjelaskan bahwa ruang lingkup layanan LPH Hidayatullah meliputi pemeriksaan dan pengujian kehalalan berbagai jenis produk. Layanan tersebut mencakup produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, produk kimia, produk biologi, produk rekayasa genetik, serta berbagai barang gunaan lainnya.

Ia menyampaikan bahwa saat ini LPH Hidayatullah menempati posisi peringkat kedua secara nasional dalam bidang layanan pemeriksaan halal. Capaian tersebut, menurutnya, menjadi dasar bagi lembaga tersebut dalam memperluas jaringan kerja sama serta meningkatkan kualitas pelayanan audit lapangan maupun pengujian laboratorium.

Dalam nota kesepahaman yang ditandatangani pada kesempatan tersebut, kedua pihak juga menyepakati program percepatan sertifikasi halal bagi pelaku usaha yang berada di lingkungan Mushida. Program ini diarahkan untuk membantu pelaku usaha memperoleh sertifikasi melalui jalur reguler sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Melalui kerja sama tersebut, diharapkan pelaku usaha yang tergabung dalam Mushida dapat meningkatkan kualitas produk sekaligus memenuhi standar halal yang dibutuhkan oleh konsumen. Kolaborasi antara Mushida Halal Centre dan LPH Hidayatullah ini juga diarahkan untuk memperluas penguatan ekosistem halal yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Buka Pelatihan Kepemimpinan Kampus, Muzakkir Ajak Maksimalkan Kecanggihan Teknologi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D., mengatakan bahwa teknologi pada masa kini tidak lagi sekadar menjadi alat bantu, tetapi telah berkembang menjadi lingkungan kehidupan bagi generasi muda.

“Teknologi bukan sekadar media pendukung, melainkan telah menjadi environment bagi generasi muda saat ini,” ujarnya dalam pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat Basic bagi Kampus Madya Hidayatullah se-Indonesia yang berlangsung pada 10–14 April 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta.

Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas kepemimpinan di lingkungan jaringan pendidikan Hidayatullah. Organisasi ini memiliki ekosistem kelembagaan yang terdiri dari 118 kampus dan 129 yayasan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Muzakkir, pertumbuhan jumlah lembaga dalam beberapa tahun terakhir mendorong kebutuhan peningkatan kualitas tata kelola agar mampu menjawab perkembangan regulasi serta ekspektasi publik terhadap institusi pendidikan.

Pelatihan ini dilaksanakan di bawah koordinasi Hidayatullah Institute yang berperan sebagai pusat pengembangan kompetensi kepemimpinan. Lembaga tersebut mengembangkan pendekatan yang berfungsi sebagai corporate university untuk menyediakan modul pembelajaran dan pelatihan bagi para pimpinan lembaga.

Langkah ini, lanjutnya menerangkan, diambil setelah adanya hasil asesmen Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah periode 2020–2025 yang mencatat adanya perbedaan kualitas pengelolaan dan kapasitas manajerial di berbagai wilayah.

Program pelatihan diikuti oleh 41 peserta yang merupakan pengurus inti dari sejumlah kampus madya Hidayatullah di Indonesia. Para peserta terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Bendahara yang dalam struktur organisasi dikenal sebagai unsur KSB. Kurikulum pelatihan tingkat dasar ini untuk membangun keseragaman dalam pendekatan manajerial, khususnya dalam perencanaan organisasi yang mengacu pada Rencana Induk Pengembangan organisasi.

Muzakkir Usman menekankan pentingnya konsep Kepemimpinan Manhaji sebagai dasar pengembangan kepemimpinan di lingkungan Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa pendekatan tersebut mengintegrasikan Sistematika Wahyu sebagai kerangka nilai yang dipadukan dengan praktik manajemen modern.

“Manhaji menjadi bagian penting dalam membangun kepemimpinan yang mampu mengelola lembaga pendidikan secara efektif tanpa melepaskan nilai ideologis yang menjadi dasar gerakan,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa pelatihan ini memasukkan pembahasan mengenai manajemen sumber daya manusia serta literasi keuangan sebagai bagian dari penguatan tata kelola organisasi. Proses tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas pimpinan kampus dalam mengelola lembaga pendidikan secara profesional.

Selain aspek kepemimpinan, perkembangan teknologi menjadi topik dalam pembahasan pelatihan. Dalam pemaparannya, Muzakkir Usman menjelaskan bahwa generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan digital yang membentuk cara belajar, berinteraksi, dan mengakses informasi. Oleh karena itu, para pemimpin lembaga pendidikan diarahkan untuk memahami perubahan tersebut melalui pendekatan yang adaptif.

Salah satu metode yang diperkenalkan dalam pelatihan adalah Design Thinking yang menekankan penyelesaian masalah berbasis kebutuhan manusia. Pendekatan ini dipadukan dengan penggunaan metode Project Management dalam pengelolaan program pendidikan serta pengembangan kemandirian ekonomi pesantren.

Pelatihan ini juga mencakup sesi praktik melalui kegiatan Outing Class yang membahas pengelolaan pesantren modern dan strategi penguatan ekonomi lembaga. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membantu para peserta merumuskan solusi terhadap berbagai tantangan kelembagaan secara sistematis.

Melalui pelatihan ini, Muzakkir menambahkan, Hidayatullah menargetkan terbentuknya standar kompetensi kepemimpinan yang lebih seragam bagi para pimpinan kampus madya dan utama. Program tersebut diharapkan menjadi dasar bagi penguatan tata kelola lembaga pendidikan dalam jaringan Hidayatullah di berbagai wilayah Indonesia.

Nanang Noerpatria Apresiasi Halal Bihalal Al-Irsyad sebagai Penguat Persatuan Umat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd., menghadiri undangan kegiatan Halal Bihalal dan Haflatul ‘Id yang diselenggarakan oleh organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis, 21 Syawal 1447 (9/4/2026). Kegiatan tersebut dihadiri berbagai tokoh masyarakat, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, serta sejumlah perwakilan diplomatik dari negara sahabat, termasuk Duta Besar Palestina dan Sudan untuk Indonesia.

Dalam keterangannya kepada media ini setelah acara berlangsung, Nanang Noerpatria menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum perjumpaan tersebut. Menurutnya, pertemuan lintas tokoh dan organisasi Islam seperti yang digagas Al-Irsyad Al-Islamiyyah memiliki peran penting dalam memperkuat ukhuwah dan membangun dialog konstruktif antar-elemen umat.

“Kami mengapresiasi kegiatan Halal Bihalal dan Haflatul ‘Id yang diselenggarakan Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Kegiatan semacam ini penting untuk terus dilanjutkan karena menjadi ruang pertemuan yang memperkuat persaudaraan dan sinergi umat,” ujar Nanang.

Acara tersebut juga menjadi momentum refleksi setelah bulan Ramadhan sekaligus forum silaturahmi antara para tokoh keagamaan, pemimpin organisasi Islam, serta perwakilan negara sahabat yang memiliki perhatian terhadap isu-isu kemanusiaan dan pendidikan di dunia Islam.

Nanang menilai kehadiran Duta Besar Palestina dan Sudan menambah dimensi internasional dalam pertemuan tersebut, mengingat kedua negara memiliki hubungan diplomatik dan sejarah kerja sama yang kuat dengan Indonesia dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan dan solidaritas kemanusiaan.

Nanang menyampaikan bahwa Al-Irsyad Al-Islamiyyah dikenal sebagai organisasi yang berpegang pada prinsip washatiyah. Konsep washatiyah tersebut, menurutnya, memiliki relevansi penting dalam menghadapi dinamika masyarakat global yang semakin kompleks.

“Al-Irsyad Al-Islamiyyah selama ini dikenal berpegang teguh pada prinsip washatiyah yang menawarkan solusi praktis dan futuristik bagi masyarakat modern dan postmodern,” kata Nanang.

Ia menjelaskan bahwa wasathiyah Islam menekankan keseimbangan antara nilai spiritual, rasionalitas, dan kemaslahatan sosial. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, pendekatan tersebut dinilai mampu memperkuat stabilitas sosial sekaligus menjaga harmoni antar kelompok masyarakat.

Selain itu, Nanang juga menyoroti fokus Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada sektor pendidikan. Menurutnya, pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang berakhlak mulia serta menghasilkan generasi yang memiliki kapasitas intelektual dan integritas moral. “Al-Irsyad menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban yang berakhlak mulia dan moderat,” ujarnya.

Secara historis, Al-Irsyad Al-Islamiyyah dikenal sebagai salah satu organisasi pendidikan Islam yang memiliki jaringan sekolah dan lembaga pendidikan di berbagai wilayah Indonesia sejak didirikan pada awal abad ke-20. Melalui lembaga-lembaga pendidikan tersebut, organisasi ini berperan dalam membangun tradisi intelektual, penguatan karakter, serta pengembangan kepemimpinan di kalangan generasi muda Muslim.

Nanang menilai bahwa kontribusi organisasi pendidikan Islam seperti Al-Irsyad memiliki arti strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Menurut berbagai laporan pendidikan nasional, jumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia mencapai puluhan ribu, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, yang berperan signifikan dalam sistem pendidikan nasional.

Ia melihat bahwa semangat kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan Halal Bihalal Al-Irsyad dapat memperkuat kontribusi organisasi-organisasi Islam dalam pembangunan bangsa. “Dengan semangat kebersamaan yang terus dijaga, Al-Irsyad Al-Islamiyyah menunjukkan kontribusi nyata bagi kemajuan umat, bangsa, dan negara,” tutup Nanang Noerpatria.

KH Naspi Arsyad Sebut Industri Produk Halal Telah Menjadi Kebutuhan Eksistensial Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan pergeseran paradigma masyarakat terhadap urgensi produk halal kini yang bukan lagi sekadar pilihan teknis melainkan telah bertransformasi menjadi kebutuhan eksistensial bagi setiap individu muslim. Hal itu disampaikan Naspi dalam acara Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah (LPHH) di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Kamis, 20 Syawal 1447 (9/4/2026).

KH Naspi Arsyad menjelaskan bahwa dinamika kesadaran halal di Indonesia telah mengalami evolusi yang signifikan jika dibandingkan dengan dekade 1990-an. Pada masa lalu, isu halal belum menjadi perhatian utama dan masyarakat cenderung tidak terlalu mempersoalkan aspek legalitas formal halal pada restoran atau produk pangan yang mereka konsumsi.

Namun, lanjutnya, seiring dengan menguatnya semangat hijrah di tengah masyarakat, prinsip halal kini telah merasuk menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas dan cara hidup muslim kontemporer. Naspi menegaskan bahwa halal memiliki dimensi luas yang mencakup keselamatan perjalanan hidup di dunia maupun di akhirat.

“Halal ini tidak sekedar terkait dengan pangan kita, tapi dia terkait dengan perjalanan hidup dunia dan akhirat kita,” katanya, seraya merujuk pada hadis yang dimaktubkan oleh Imam An Nawawi dalam Al Arbain An Nawawiyah mengenai seorang lelaki yang berdoa dengan sungguh-sungguh namun doanya tertolak.

KH Naspi Arsyad menekankan pernyataan Nabi Muhammad SAW bahwa meskipun seseorang melakukan perjalanan panjang yang letih dan berdoa dengan penuh harapan, namun jika makanannya haram, minumannya haram, dan apa yang ia konsumsi haram, maka sangat mustahil doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Lebih lanjut, KH Naspi Arsyad melakukan refleksi sosiopolitik terkait kondisi bangsa Indonesia saat ini. Ia memberikan hipotesis bahwa hambatan dalam mewujudkan cita-cita nasional sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan harapan para pendiri bangsa mungkin memiliki keterkaitan dengan pengabaian terhadap prinsip konsumsi halal di masa lalu.

“Boleh jadi keadaan negara kita Indonesia yang tercinta ini belum menjelma seperti yang kita harapkan, salah satunya karena umat Islam Indonesia beberapa tahun silam berjalan dalam durasi yang panjang tidak mempedulikan makanan halalnya,” katanya.

Fenomena itu, imbuhnya melanjutkan, boleh jadi muncul karena sering kali aspek rasa, kecocokan lidah, serta harga yang terjangkau lebih diutamakan dibandingkan verifikasi kehalalan produk tersebut.

Naspi juga berbagi pengalaman empiris saat melakukan perjalanan dakwah ke tujuh negara di Eropa, di mana mencari makanan yang terjamin kehalalannya merupakan tantangan yang luar biasa berat.

Karens itu, baginya, menjaga kehalalan makanan adalah sebuah pertaruhan spiritual yang besar karena konsekuensinya adalah tertutupnya pintu komunikasi hamba dengan Tuhannya melalui doa.

Naspi Arsyad mengimbau umat untuk melakukan introspeksi diri secara mendalam apabila terdapat doa-doa yang telah lama dipanjatkan namun belum kunjung dikabulkan. Ia menekankan bahwa tindakan meremehkan prinsip halal dalam makan dan minum di masa lalu bisa menjadi faktor penghambat utama dikabulkannya munajat kepada Allah SWT.

Momentum Halal Bihalal ini diharapkan menjadi titik balik bagi penguatan peran LPHH dalam mengawal standarisasi halal demi kemaslahatan umat dan keberkahan bangsa secara menyeluruh.

Prinsip Prinsip Dasar Kaderisasi Kepemimpinan untuk Menjaga Keberlanjutan

0

PERANG antarnegara menceritakan banyak hal. Satu yang mencolok adalah cerita tentang alutsista dari negara-negara tersebut. Lebih jauh ada cerita tentang sejarah peradaban dan rantai kaderisasi kepemimpinan.

Sementara itu, sebagaimana disepakati para ahli pengembangan sumber daya insani, kaderisasi kepemimpinan perlu bersifat holistik. Seluruh potensi yang ada pada individu perlu dikembangkan secara simultan. Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan yang seksama, minimal sebuah pengantar yang memuat prinsip-prinsip fundamental.

Potensi Spiritual

    Manusia diberi kekuatan spiritual agar tahu arah perjalanan hidupnya. Sehingga ia bisa mengarahkan segenap energi yang dimilikinya ke arah yang benar. Setiap kejadian juga diresponnya dengan tepat.

    Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, potensi spiritual dikembangkan agar seorang kader pemimpin memiliki visi hidup yang benar sekaligus kokoh. Berikutnya dari visi hidup tersebut ia bisa menyusun serangkaian penjelasan dan juga tindakan, baik personal dan kolektif, secara sistematis. Sehingga visinya mewujud dalam kekuatan nyata yang berpengaruh.

    Tentu saja akan banyak tantangan dalam mewujudkan orientasinya. Spiritualitas jugalah yang memberi kekuatan kepada sang kader pemimpin untuk mampu bertahan. Dalam hal ini seorang kader pemimpin perlu belajar untuk merasakan energi dari munajat-munajat khusyu’-nya.

    Potensi Intelektual

      Manusia diberi potensi intelektual sebagai alat utama untuk mempertajam dan mencapai visi hidupnya. Demikian pula dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, potensi intelektual amat penting dikembangkan agar visi bisa terus ditingkatkan kualitasnya. Strategi pencapaian visi juga memerlukan intelektual yang mumpuni.

      Dalam hal ini para kader pemimpin perlu dididik untuk memiliki mentalitas pembelajar mandiri, tidak sekedar menelan berbagai pengetahuan. Karena mentalitas pembelajar mandiri akan mengantarkan sang kader pemimpin untuk menjadi pemberi solusi (problem solver) yang unggul. Sehingga kehadirannya senantiasa berarti.

      Di tingkatan yang lebih tinggi, problem solver akan menjelma menjadi developer (pengembang). Sifatnya proaktif. Situasi yang baik akan semakin ditingkatkan kebaikannya.

      Sisi lain dari developer adalah defence (pertahanan dari bahaya). Sebagian sumber daya digunakan untuk membangun sistem pertahanan. Agar saat bahaya datang, situasi tidak kolaps.

      Potensi Emosional

        Kehidupan di dunia adalah lahan ujian. Wujudnya bisa kenikmatan, bisa pula kesengsaraan. Manusia mungkin sudah berpengetahuan untuk bisa menjalani semua ujian dengan baik. Akan tetapi pengetahuan ternyata tidak cukup. Seseorang perlu energi gerak agar pengetahuannya mewujud. Energi gerak itu ada pada potensi emosionalnya.

        Emosi yang terkendali akan melahirkan gerak manusia yang relatif terkendali. Respon yang dihasilkan tidak serampangan, tapi pas. Sehingga berbagai situasi yang dihadapi, pada akhirnya, tidak menguras emosi terlalu banyak.

        Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, seorang kader pemimpin butuh memahami urgensi emosi terhadap kepemimpinan. Ia perlu memahami sisi positif dan negatif emosi. Selanjutnya ia memahami kadar emosi terbaik di setiap situasi.

        Dalam khazanah pendidikan Islam, penguatan potensi emosi berkaitan erat dengan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Sedangkan basis tazkiyatun nafs adalah mengeluarkan semua potensi buruk di satu sisi, serta menguatkan potensi baik di sisi lainnya. Seorang kader pemimpin perlu dididik dalam kerangka tazkiyatun nafs ini. Agar kebersihan jiwa memiliki akar yang teguh, berbuah emosi yang sangat terkendali.

        Potensi Sosial

          Manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan orang lain. Karena ada proses saling memberi dan saling bantu dalam kehidupan yang dijalaninya.

          Oleh karena itu manusia perlu memiliki mengaktifkan potensi sosialnya. Sehingga empatinya tumbuh, mengawali komunikasi dan interaksi yang nyaman. Semoga hidupnya dikelilingi oleh kebajikan-kebajikan.

          Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, seorang kader pemimpin perlu dididik dengan banyak cara agar empatinya tumbuh. Dialog, praktik kerja, pengamatan, dan keteladanan merupakan beberapa cara yang bisa ditempuh. Satu hal yang tidak boleh tertinggal dari setiap cara pendidikan sosial adalah refleksi. Sang kader pemimpin memahami betul apa yang menjadi pesan dari setiap fragmen pendidikan yang dilaluinya.

          Seorang pemimpin sering diukur dengan empatinya. Oleh karena itu kiranya penting untuk sang kader pemimpin terus mengasahnya. Bergaul dengan banyak kalangan secara terkendali itu salah satu cara yang bisa dipilihnya.

          Menyuarakan empati merupakan aktivitas sosial yang tidak boleh dilewatkan. Maka sang kader pemimpin perlu disiapkan untuk memiliki keterampilan komunikasi yang baik, mencakup lisan serta tulis, individual atau publik.

          Potensi Finansial

            Manusia memiliki kebutuhan hidup. Ia harus berusaha agar kebutuhan hidupnya terpenuhi. Kemandirian perlu tumbuh dalam dirinya.
            Dengan kemandirian, seorang manusia akan berusaha bekerja mencari uang. Berikutnya ia akan mengelola keuangannya agar cukup. Di tahap lebih tinggi, ia tidak segan menabung atau berinvestasi.

            Dalam konteks kaderisasi kepemimpinan, seorang kader pemimpin diantarkan untuk memiliki sikap mandiri. Tidak hanya keuangan, tapi pemikiran dan sikap. Sehingga ia memiliki keterampilan dalam pengelolaan sekaligus standing position yang jelas.

            Kaderisasi kepemimpinan itu satu bagian penting dari lestarinya komunitas, organisasi, atau apapun. Menguatkan prosesnya terus-menerus semoga jadi investasi jangka panjang. Satu pemimpin selesai dalam khidmatnya, kader pemimpin lain sudah siap melanjutkan. Terbentuk rantai penjagaan komunitas yang tidak terputus.

            Wallah a’lam.

            FU’AD FAHRUDIN