Beranda blog Halaman 4

Berhenti Fokus pada Kompetitor: Cara Bertahan di Arena Tanpa Kehilangan Diri

0

HIDUP tidak selalu tentang kompetisi. Akan tetapi sering manusia tidak bisa mengelak dari kompetisi. Sehingga kemudian ia dihadapkan pada tiga situasi.

Pertama, ia terhempas dari kompetisi alias kalah total. Kedua, ia terus ikut kompetisi walaupun tidak jadi pemenang utama. Ketiga, ia menggapai posisi sebagai pemenang utama dan siap mempertahankan kemenangannya.

Di konteks kompetisi yang positif, tentu kebanyakan orang tidak ingin terhempas dari arena kompetisi. Hampir setiap orang ingin terus ikut kompetisi. Oleh karena itu satu strategi jitu perlu ditemukan.

Secara umum manusia bertindak karena ada dorongan. Dorongan itu bisa berasal dari dirinya sendiri, orang lain, ataupun campuran keduanya. Banyak pihak percaya, semakin kuat dorongan dari dalam diri maka kualitas tindakannya akan semakin bagus.

Oleh karena itu strategi berkompetisi perlu terhubung dengan motivasi dari dalam diri. Bukan berarti motivasi dan masukan orang lain tidak penting. Bukan begitu. Akan tetapi hendaklah motivasi dari dalam diri lebih mendominasi. Semoga kekuatan strategi bersifat ajeg.

Salah satu contoh strategi tersebut adalah menetapkan tantangan baru bagi diri sendiri. Selanjutnya tantangan tersebut menjadi target dalam periode tertentu. Berbagai sumber daya dikerahkan sedemikian rupa agar target tergapai.

Apabila strategi ini konsisten dilaksanakan, semoga daya kompetitif terus terbangun. Mungkin tahta juara pertama belum tercapai. Meskipun demikian seseorang akan terus menjadi bagian dari serunya kompetisi.

Sebuah pertanyaan kemudian muncul, apa yang terjadi jika strategi berkompetisi lebih banyak disusun berdasarkan kondisi kompetitor? Seseorang akan kehilangan strategi terbaiknya. Karena ia bingung melihat para kompetitor dengan berbagai keunggulan-keunggulan baru mereka. Rasanya semua keunggulan itu ingin disaingi, tapi apa daya tidaklah mungkin dilakukan. Sumber daya yang tersedia sangat terbatas.

Sebaliknya dengan pengenalan diri yang mantap, baik keunggulan dan kekurangan, seseorang lebih memungkinkan untuk menyusun strategi terbaik. Step by step-nya relatif tepat. Berikutnya ia juga tahu aktivitas yang kompatibel dengan dirinya. Kenikmatan mengembangkan diri sangat mungkin dirasakan. Rasanya sedemikian menggairahkan.

Dengan pengenalan diri yang mantap juga, seseorang lebih mampu menceritakan dan memposisikan diri secara tepat. Ini memudahkan terjadinya kolaborasi. Sehingga kemungkinan sukses lebih besar.

Lebih jauh, terkait penyesuaian strategi, kebanyakan orang berpikir melakukannya berdasarkan perubahan lingkungan eksternal belaka. Padahal lebih mantap bila perubahan strategi dilakukan secara proaktif. Ada proses berpikir berkelanjutan tentang situasi dalam diri dan juga luar diri, kemudian diambil keputusan yang relevan. Sebuah kalimat merangkumnya, “Seluruh ikhtiar sukses tidak menunggu.”

Ohya, satu lagi disampaikan. Selain pada konteks pribadi, semoga tulisan ini dapat diterapkan pada konteks organisasi. Bahwa satu organisasi butuh proaktif dalam bertumbuh, agar tetap relevan dengan berbagai kompetisi yang ada.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

Serap Spirit dari Gunung Tembak, Sarasehan Hidayatullah Banten Bahas Arah Dakwah Jangka Panjang

0

SERANG (Hidayatullah.or.id) — Sarasehan Halaqah Wustho Kader Hidayatullah Banten digelar di Yayasan Fatahillah, Serang, pada Selasa, 26 Rabi’ul Awal 1448 (08/09/2026). Forum pembinaan kader tersebut menghadirkan Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Provinsi Banten, Dr. Ahmad Suja’i, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber.

Dalam forum tersebut, Ahmad Suja’i membagikan sejumlah gagasan yang diperolehnya dari Diklat Murabbi Wustha Nasional yang berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Materi yang disampaikan berorientasi pada penguatan identitas organisasi, desain kaderisasi, pengembangan dakwah, serta pembacaan posisi Hidayatullah dalam dinamika sosial dan kebangsaan.

Ahmad Suja’i menekankan bahwa pembinaan halaqah adalag sebagai bagian dari proses mempersiapkan kader menghadapi agenda dakwah jangka panjang.

Salah satu pokok bahasan adalah Grand Desain Hidayatullah untuk 50 tahun kedua, terutama bagi kader yang saat ini berusia di bawah 50 tahun. Ahmad Suja’i menekankan spirit dari Gunung Tembak ini sebagai kerangka jangka panjang untuk menyiapkan kapasitas kader dalam menghadapi perubahan zaman.

Ahmad Suja’i juga mengajak peserta melakukan analisis terhadap potensi kader memasuki ruang dakwah melalui jalur politik, sembari menekankan pentingnya penguatan jati diri Hidayatullah. Menurutnya, ekspansi peran kader perlu tetap bertumpu pada fondasi nilai dan identitas organisasi.

Dalam konteks manhaj, ia membahas Sistematika Wahyu (SW) dan kemungkinan penggunaan istilah Manhaj Nubuwah untuk membaca perkembangan zaman. Konsep tersebut, menurutnya, perlu dimassifkan melalui berbagai ruang publik seperti seminar terbuka dan kuliah umum.

Pembahasan juga mencakup perspektif Hidayatullah mengenai Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ahmad Suja’i menyampaikan bahwa dalam perspektif Hidayatullah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah dipahami sebagai konsep dan dasar syariat, bukan sekadar firqah atau kelompok.

Ia turut menguraikan perspektif al-wasathiyah Hidayatullah dalam konteks Indonesia. Indonesia, terangnya, ditempatkan sebagai daarul dakwah dan al-dar al-murakkabah yang mencerminkan masyarakat majemuk sehingga menuntut adanya semangat membangun dan merawat harmoni bangsa.

Materi lainnya menyentuh konsep imamah jama’ah serta Ahlul Halli wal Aqdi dalam perspektif wasathiyah Hidayatullah. Dalam catatan materi, Pancasila ditempatkan sebagai bagian dari panduan kehidupan Islami yang dirumuskan oleh para tokoh Indonesia dengan latar belakang aktivisme Islam.

Di bagian akhir, Ahmad Suja’i menekankan posisi murabbi dalam proses kaderisasi. Tugas utama murabbi dirumuskan dalam tiga orientasi, yakni manhajisasi atau ideologisasi, spiritualisasi, dan kulturalisasi.

Sarasehan tersebut menjadi ruang konsolidasi pemikiran bagi kader Hidayatullah Banten untuk memahami arah pembinaan sekaligus menerjemahkan gagasan organisasi ke dalam kerja dakwah.

Kuatkan Manhaj Sistematika Wahyu: PP Pemuda Hidayatullah Gelar Polhukam Forum

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah menggelar Polhukam Forum secara daring via Zoom Meeting pada Sabtu (05/09/2025). Mengusung tema “Sistematika Wahyu Sebagai Dasar Perjuangan Pemhida”, agenda ini diikuti oleh pengurus PP Pemuda Hidayatullah serta Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah dari berbagai daerah.

Ketua Departemen Politik dan Hukum (Kadep Polhukam) PP Pemuda Hidayatullah, Mohammad Jundy, memantik jalannya diskusi. Ia menegaskan bahwa forum ini digagas untuk menyegarkan kembali pemahaman Sistematika Wahyu sebagai manhaj utama gerakan Hidayatullah, khususnya bagi kalangan kader muda.

Hadir sebagai pemateri utama, Ketua Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah, Ustadz Imam Nawawi. Dalam paparannya, ia menceritakan sejarah lahirnya konsep Sistematika Wahyu yang diinisiasi oleh pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said, setelah merenungi karya Buya Malik Ahmad yang berjudul Tafsir Sinar.

Ustadz Imam Nawawi menguraikan secara komprehensif maksud dari setiap surah yang terkandung dalam Sistematika Wahyu, mulai dari Surah Al-’Alaq hingga Surah Al-Fatihah. Ia menyampaikan pentingnya internalisasi nilai-nilai tersebut dalam setiap gerakan Pemuda Hidayatullah.

“Sistem pewarisan nilai Sistematika Wahyu yang paling manjur kepada generasi muda adalah melalui Leadership Training Center (LTC) Pemuda Hidayatullah,” ujar Ustadz Imam Nawawi mengakhiri pemaparannya.

Melalui forum ini, Kader Muda yang berhimpun di Pemuda Hidayatullah diharapkan mempunyai pemahaman mendalam terkait Sistematika Wahyu serta menjadikannya sebagai panduan gerakan dan mengimplementasikannya di setiap program kerja yang dicanangkan.

Dari Banjir, Karhutla, hingga Erupsi Krakatau: Saatnya Kita Gotong Royong Pulihkan Luka Indonesia

0

Oleh: Haniffudin Chaniago

Saudaraku sebangsa dan setanah air.

Jika kita menengadah ke langit dan menatap bumi pertiwi sepanjang rentang waktu dari Januari hingga September 2026 ini, rasanya hampir tak ada hari yang terlewat tanpa hantaman ujian alam. Negeri kita yang kaya dan indah ini sedang diuji ketegarannya melalui berbagai macam bencana yang datang silih berganti.

Berdasarkan data resmi penanggulangan bencana nasional dari BNPB per 6 September 2026, tercatat sebanyak 1.712 kejadian bencana telah melanda berbagai penjuru tanah air. Angka ini bukan sekadar deretan statistik di atas kertas, melainkan potret duka sekaligus panggilan nurani bagi kita semua. Mulai dari rentetan gempabumi yang terus menguji ketabahan saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT), ancaman kekeringan yang melanda, terjangan banjir dan tanah longsor, tingginya angka Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang mencapai 611 kejadian, hingga yang terbaru, peningkatan aktivitas vulkanik serta erupsi gunung berapi di Selat Sunda, Krakatau.

Dampak kemanusiaan yang ditimbulkannya sungguh menyayat hati. Sebanyak 390 jiwa meninggal dunia, 13 orang hilang, 2.080 orang mengalami luka-luka, serta lebih dari 4.219.438 jiwa terpaksa menderita dan mengungsi meninggalkan rumah mereka. Di sektor infrastruktur, sebanyak 111.533 rumah warga rusak (terdiri dari 57.869 rusak ringan, 24.521 rusak sedang, dan 29.143 rusak berat), serta 2.951 fasilitas umum, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan turut porak-poranda.

Refleksi Diri: Koreksi Bersama Pemerintah dan Rakyat

Rangkaian musibah ini menuntut kita untuk melakukan introspeksi mendalam (muhasabah nasional), baik bagi jajaran penyelenggara negara maupun seluruh elemen masyarakat.

Bagi Pemerintah, rentetan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan karhutla, serta dinamika geologis yang terjadi, adalah alarm keras untuk terus mengevaluasi kebijakan tata ruang, memperketat penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan, serta memperkuat sistem mitigasi bencana berbasis teknologi dan komunitas yang berkelanjutan. Negara harus hadir bukan hanya saat tanggap darurat, tetapi juga dalam kepastian pemulihan jangka panjang bagi wilayah-wilayah rentan.

Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, musibah ini adalah cermin untuk melihat kembali sejauh mana kita memperlakukan alam dan sesama. Seringkali, ego kolektif dan pengabaian terhadap kelestarian lingkungan memperparah dampak dari bencana yang terjadi. Sudah saatnya kita menanggalkan perpecahan, menghentikan saling menyalahkan, dan bersatu padu menghadapi tantangan zaman dengan kesadaran ekologis yang tinggi.

Menyalakan Lentera Kolaborasi dan Gotong Royong

Saudaraku, di tengah duka dan debu reruntuhan, kekuatan terbesar bangsa ini bukanlah pada kekayaan alamnya, melainkan pada kebersamaan hatinya. Nilai luhur gotong royong adalah warisan paling autentik yang harus kita hidupkan kembali hari ini.

Rasa simpati yang singgah di dada kita harus segera ditransformasikan menjadi empati dan aksi nyata. Bantuan sekecil apa pun baik berupa uluran tangan logistik, tenaga relawan, doa yang tulus, maupun dukungan moril sangat berarti untuk meringankan beban berat yang dipikul oleh jutaan saudara kita di pengungsian.

Pemuda Hidayatullah berdiri bersama para pemuda dan seluruh elemen bangsa untuk menggerakkan solidaritas lintas sektoral, turun tangan langsung meringankan penderitaan rakyat.

Memulihkan Hutan, Merawat Lingkungan, Menatap Masa Depan

Banjir, kekeringan, dan karhutla yang mendominasi catatan bencana tahun ini adalah pesan tegas dari alam bahwa bumi kita sedang sakit dan kelelahan. Oleh karena itu, agenda pemulihan (recovery) tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga pada pemulihan ekologis.

Kita harus bahu-membahu melakukan reboisasi, merawat hutan yang gundul, menjaga daerah resapan air, dan menghentikan eksploitasi alam yang merusak. Merawat lingkungan adalah bagian integral dari menjaga kelangsungan hidup anak cucu kita di masa depan.

Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik balik kebangkitan bangsa. Dengan persatuan yang kokoh, kolaborasi yang tulus antara pemerintah, masyarakat, dan gerakan kepemudaan, insya Allah kita mampu melewati badai ini. Mari kita basuh luka Indonesia dengan kerja nyata, kasih sayang, dan komitmen kuat untuk merawat bumi serta sesama.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan perlindungan, ketabahan, dan keberkahan bagi bangsa Indonesia tercinta. Aamiin yaa rabbal Alamiin

Haniffudin Chaniago, S.E.
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah

Erupsi Gunung Anak Krakatau, DPP Hidayatullah Tegaskan Pentingnya Muhasabah dan Kesiapsiagaan

0

PERNYATAAN RESMI JURU BICARA DPP HIDAYATULLAH
MUHAMMAD ISNAENI

ERUPSI ANAK KRAKATAU: MOMENTUM MUHASABAH, PENGUATAN KESIAPSIAGAAN, DAN TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Bismillahirrahmanirrahim.

DPP Hidayatullah menyampaikan keprihatinan dan mengajak seluruh masyarakat untuk menyikapi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dengan tenang, penuh kewaspadaan, serta tidak panik.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026, telah menyebabkan sebaran abu vulkanik mencapai sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Badan Geologi menetapkan Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga) dengan rekomendasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

1. Pendekatan Teologis: Bencana sebagai Momentum Muhasabah

Dalam perspektif Islam, fenomena alam tidak semestinya hanya dibaca sebagai peristiwa geologis, tetapi juga sebagai ayat kauniyah Allah SWT yang mengingatkan manusia akan keterbatasan dirinya dan kebesaran Sang Pencipta.

Allah SWT berfirman:

Dan tidaklah Kami memperlihatkan kepada mereka sesuatu tanda kecuali tanda itu lebih besar daripada tanda-tanda yang sebelumnya.
(QS. Az-Zukhruf: 48)

Karena itu, kita tidak boleh gegabah memberikan penilaian bahwa setiap bencana merupakan hukuman langsung atas dosa tertentu. Namun, seorang Muslim juga tidak sepatutnya kehilangan dimensi spiritual dengan memandang bencana semata-mata sebagai fenomena alam tanpa mengambil ibrah dan muhasabah.

Peristiwa ini hendaknya mendorong kita untuk memperkuat taubat, istighfar, doa, kepedulian sosial, serta kesadaran ekologis.

Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah Allah di muka bumi. Karena itu, menjaga keseimbangan alam, menghindari kerusakan lingkungan, dan melindungi keselamatan manusia merupakan bagian dari amanah keagamaan.

Maka, menghadapi bencana harus dibangun keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar, doa dan mitigasi, spiritualitas dan ilmu pengetahuan.

2. Pendekatan Taktis: Negara Harus Hadir dan Masyarakat Harus Siaga

DPP Hidayatullah meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memastikan seluruh mekanisme penanggulangan bencana berjalan secara cepat, terkoordinasi dan berbasis data.

Kita mengapresiasi langkah BMKG, PVMBG/Badan Geologi, BNPB, BPBD, otoritas penerbangan, pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait yang terus melakukan pemantauan serta memberikan peringatan kepada masyarakat.

Namun, situasi ini harus diperlakukan sebagai situasi kesiapsiagaan, bukan sekadar peristiwa sesaat.

Pemerintah perlu memastikan:

  1. Satu komando informasi publik, sehingga masyarakat memperoleh informasi yang jelas, cepat dan tidak simpang siur.
  2. Pemantauan sebaran abu vulkanik secara real-time, terutama wilayah Jabodetabek, Banten dan Jawa Barat.
  3. Kesiapan fasilitas kesehatan, khususnya untuk menangani gangguan pernapasan, iritasi mata dan dampak kesehatan lainnya.
  4. Perlindungan kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas dan masyarakat dengan gangguan pernapasan.
  5. Kesiapan sekolah dan ruang publik untuk menyesuaikan aktivitas apabila konsentrasi abu meningkat.
  6. Koordinasi lintas sektor antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, relawan dan masyarakat.

Keselamatan rakyat harus menjadi orientasi utama setiap kebijakan.

3. Pendekatan Teknis: Abu Vulkanik Jangan Dianggap Sekadar Debu Biasa

Masyarakat perlu memahami bahwa abu vulkanik bukanlah debu biasa. Partikel vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan, mata, serta mengurangi kualitas udara dan jarak pandang.

Karena itu, DPP Hidayatullah mengimbau masyarakat yang terdampak sebaran abu untuk:

  • Menggunakan masker yang memadai ketika berada di luar ruangan.
  • Mengurangi aktivitas di luar rumah apabila abu vulkanik sedang turun atau kualitas udara memburuk.
  • Menggunakan pelindung mata apabila diperlukan.
  • Menutup pintu dan jendela rumah ketika konsentrasi abu meningkat.
  • Tidak mengusap mata dengan tangan yang terkena abu.
  • Membersihkan abu dengan cara yang tidak membuatnya kembali beterbangan.
  • Memperhatikan kondisi anak-anak, lansia dan kelompok rentan.
  • Mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG/Badan Geologi, BNPB, BPBD dan pemerintah daerah.
  • Tidak menyebarkan video, informasi atau klaim yang belum terverifikasi.

Untuk wilayah yang terdampak lebih berat, pemerintah perlu memastikan ketersediaan masker, air bersih, fasilitas kesehatan, ruang perlindungan sementara, serta dukungan logistik.

4. Keselamatan Penerbangan dan Aktivitas Masyarakat Harus Menjadi Prioritas

Sebaran abu vulkanik juga memiliki implikasi serius terhadap keselamatan penerbangan. BMKG melaporkan sebaran abu pada berbagai ketinggian dan telah menerbitkan peringatan penerbangan secara berkala. Kondisi tersebut bahkan berdampak pada operasional sejumlah bandar udara.

Karena itu, keputusan untuk menyesuaikan atau menghentikan sementara aktivitas penerbangan apabila berdasarkan pertimbangan keselamatan harus dipahami sebagai langkah perlindungan masyarakat, bukan gangguan pelayanan.

Begitu pula masyarakat yang hendak melakukan perjalanan hendaknya tidak memaksakan diri apabila kondisi keselamatan belum memungkinkan.

5. Jangan Panik, tetapi Jangan Meremehkan

Kami mengajak masyarakat untuk tidak terjebak pada dua sikap ekstrem: panik berlebihan atau meremehkan keadaan.

Data Badan Geologi menunjukkan bahwa kondisi Gunung Anak Krakatau tetap harus diwaspadai. Pada saat yang sama, pemantauan BMKG terhadap sensor tsunami di sekitar Selat Sunda hingga Minggu pagi tidak menunjukkan anomali muka air laut.

Artinya, masyarakat harus bersikap tenang tetapi siaga; kritis tetapi tidak paranoid; mengikuti ilmu pengetahuan tetapi tetap mendekatkan diri kepada Allah SWT.

6. Hidayatullah: Menguatkan Spirit Ta’awun

Dalam situasi seperti ini, seluruh jaringan Hidayatullah di berbagai daerah hendaknya mengambil peran sebagai bagian dari kekuatan masyarakat.

Masjid, pesantren, sekolah, kampus, majelis taklim, kader dan seluruh jaringan Hidayatullah perlu menjadi pusat ketenangan, edukasi, doa, kepedulian dan pelayanan sosial bagi masyarakat.

Jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan informasi tentang bencana, tetapi tidak mendapatkan pendampingan.

Jika diperlukan dan sesuai kondisi lapangan, jaringan Hidayatullah dapat mengoptimalkan semangat ta’awun, membantu distribusi kebutuhan dasar, mengedukasi masyarakat tentang mitigasi, serta memberikan dukungan kepada kelompok masyarakat yang terdampak.

Penutup

Kami mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau ini sebagai momentum untuk memperkuat iman, ilmu, solidaritas dan kesiapsiagaan bangsa.

Bencana mengajarkan kepada kita bahwa manusia memiliki keterbatasan. Karena itu, kita membutuhkan Allah dalam doa, membutuhkan ilmu dalam membaca fenomena alam, membutuhkan pemerintah dalam perlindungan, dan membutuhkan sesama manusia dalam membangun solidaritas.

Doa tanpa ikhtiar adalah kelemahan. Ikhtiar tanpa doa adalah kesombongan. Keduanya harus berjalan bersama.

Mari kita perbanyak istighfar dan doa, sekaligus memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan.

Semoga Allah SWT melindungi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di wilayah terdampak, memberikan keselamatan kepada seluruh petugas dan relawan, serta memberikan kekuatan kepada pemerintah dan seluruh elemen bangsa dalam menghadapi setiap potensi bencana.

Tenang dalam menghadapi keadaan, sigap dalam melakukan tindakan, dan tawakal kepada Allah SWT.

Jakarta, 6 September 2026

Muhamamd Isnaeni, S.EWakil Sekretaris Jenderal III


Juru Bicara DPP Hidayatullah

LPH Kaltara dan LSH Hidayatullah Perkuat Kompetensi Juru Sembelih Halal

0

BULUNGAN (Hidayatullah.or.id) — Penguatan rantai pasok daging halal menjadi perhatian Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah Perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara). Bersama LSH Hidayatullah Pusat, LPH Kaltara menggelar Pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) dan sertifikasi pada 30–31 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan itu diikuti 29 peserta, mayoritas pengelola dan karyawan Rumah Potong Hewan (RPH) serta Rumah Potong Unggas (RPU) dari berbagai wilayah Kaltara.

Sebanyak 17 peserta berasal dari Bulungan, sembilan dari Kabupaten Tana Tidung (KTT), dua dari Tarakan, dan satu dari Malinau.

Selama dua hari, peserta mempelajari Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sekaligus mengikuti praktik penyembelihan di RPU dan RPH. Pelatihan dipandu Instruktur Juleha Nasional dari LSH Hidayatullah Pusat, Ustadz Nanang Hanani.

Asisten I Kabupaten Bulungan, H. Jamal, yang membuka kegiatan mewakili Bupati Bulungan, mengapresiasi pelatihan tersebut. Menurutnya, penguatan kompetensi Juleha menjadi bagian penting dalam memastikan jaminan kehalalan pangan sekaligus mempersiapkan daerah menghadapi pemberlakuan kewajiban halal pada Oktober 2026.

“Kami menargetkan agar seluruh RPH dan RPU di Bulungan memiliki Juleha yang sudah terstandar dan mengantongi sertifikat halal, sehingga daging yang dikonsumsi masyarakat terjamin aman dan sesuai syariat Islam,” ujar Jamal.

Ketua DPW Hidayatullah Kaltara, Ustadz Irsan Sulaiman, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari dakwah yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Sebelumnya, Hidayatullah Kaltara juga telah menggelar seminar halal.

“Jika makanan yang dikonsumsi halal, insyaallah akan berpengaruh sangat baik bagi tumbuh kembang generasi muda di Kaltara, karena di sana ada keberkahan yang Allah berikan,” tuturnya mewakili panitia.

Sementara itu, Ketua LPH Hidayatullah Kaltara, Gus Aray Ramli, menilai penguatan kompetensi Juleha perlu dimulai dari sektor hulu. Pasalnya, keterbatasan Juleha tersertifikasi di RPH dan RPU kerap menjadi kendala bagi pelaku usaha dalam mengurus sertifikasi halal.

“Banyak pelaku usaha yang ingin membuat sertifikat halal untuk produknya, tapi terkendala karena RPU atau RPH tempat mereka menyuplai daging belum memiliki Juleha. Makanya kita ingin membereskan masalah di hulunya terlebih dahulu,” kata Gus Aray.

Menurut dia, tersedianya Juleha yang kompeten dan tersertifikasi akan membantu memperlancar proses sertifikasi halal bagi pelaku usaha di sektor hilir.

Pelatihan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem halal di Kaltara, mulai dari proses penyembelihan hingga produk yang dikonsumsi masyarakat.

Hidayatullah Perkuat Tata Kelola Aset Lewat Digitalisasi Data Terintegrasi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust. KH. Naspi Arsyad, Lc., membuka seminar online bertajuk “Transformasi Digitalisasi Aset Menuju Pengelolaan Data yang Terintegrasi”, Sabtu (05/09/2026).

Seminar yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan tata kelola aset dan data Hidayatullah secara terintegrasi. Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB, dengan ruang pertemuan Zoom telah dibuka sejak pukul 07.00 WIB.

Dalam sambutannya, KH. Naspi Arsyad menekankan bahwa data merupakan aset strategis yang sangat penting bagi organisasi. Menurutnya, ketidakakuratan data dapat menimbulkan persoalan ketika organisasi membutuhkan angka dan informasi yang valid sebagai dasar pengambilan keputusan.

Ia mencontohkan perbedaan angka terkait jumlah anggota Hidayatullah yang pernah muncul dalam berbagai kesempatan. Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan pentingnya membangun sistem pendataan yang rapi, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Yang kita akan bahas pagi ini yaitu data,” ujar KH. Naspi.

Ia menjelaskan, data yang tersusun dengan baik akan membantu organisasi mengambil keputusan secara lebih tepat sekaligus memperkecil potensi kekeliruan.

“Kalau data itu tersusun dengan baik, pengambilan keputusan itu bisa tepat. Memperkecil potensi kekeliruan dalam mengambil keputusan,” jelasnya.

Data Harus Menjadi Dasar Strategi Organisasi

KH. Naspi menilai kesadaran mengelola data secara profesional, terlebih hingga melakukan digitalisasi, perlu menjadi budaya bersama di seluruh jaringan Hidayatullah.

Menurutnya, pengelolaan data tidak cukup berhenti pada pencatatan. Data harus terus diperbarui sehingga mampu menggambarkan kondisi organisasi secara aktual.

“Jangan sampai ketika ditanya soal data, jawabannya adalah data dua tahun lalu. Pokoknya ketika ditanya soal data, jawabannya adalah data saat itu. Fakta pada saat itu,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar proses digitalisasi data tidak dipandang sebagai pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Sebaliknya, hal tersebut merupakan pekerjaan berkelanjutan yang membutuhkan konsistensi seluruh jaringan.

“Digitalisasi data itu selesai dalam satu malam? Nggak ada. Ini kerja tahunan,” katanya.

Salah satu indikator keberhasilan sistem tersebut, lanjutnya, adalah tersedianya data yang near real time, sehingga organisasi dapat memperoleh gambaran kondisi terkini ketika dibutuhkan.

Menjadi Warisan bagi Kepengurusan Berikutnya

Lebih jauh, KH. Naspi berharap proses penataan dan digitalisasi data yang dilakukan saat ini dapat menjadi fondasi kuat bagi kepengurusan Hidayatullah pada periode berikutnya.

Ia menilai, tersedianya data yang valid mengenai anggota, kader, jaringan, DPD, amal usaha, badan usaha, peserta didik, wali murid, binaan, hingga aktivitas pengajian akan memudahkan organisasi menyusun strategi.

“Minimal satu paradigma yang harus muncul, bahwa ketika periode kita sekarang ini berjibaku menyusun data, setidaknya ini menjadi shadaqah jariyah bagi pengurus berikutnya,” ungkapnya.

Dengan sistem data yang terintegrasi, organisasi juga dapat melihat perkembangan dari waktu ke waktu, termasuk pertumbuhan anggota dan kader.

“Dengan data ini kita bisa melihat, ternyata pertumbuhan anggota kita sekian, pertumbuhan kader kita sekian. Ada apa ini? Dengan data ini ada apa?” tuturnya.

Ia berharap penguatan tata kelola data dapat membawa Hidayatullah beranjak dari pola kerja yang serba manual dan berbasis perkiraan menuju pengelolaan organisasi yang lebih profesional, terukur, dan berbasis data.

“Ini yang harus menjadi spirit dalam mengolah data,” pungkasnya.

Seminar tersebut menghadirkan Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Ust. Dr. Nanang Nopatria, M.Pd., dan Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Ust. Dede Heri Bakhtiar, M.M., sebagai narasumber.

Kegiatan diikuti sekretaris dan operator DPW serta DPD Hidayatullah seluruh Indonesia, sekretaris Orpen tingkat pusat, serta sekretaris amal usaha dan badan usaha tingkat pusat.

Di akhir sambutannya, KH. Naspi secara resmi membuka rangkaian upgrading dan pelatihan digitalisasi data tersebut. Ia juga meminta agar materi seminar ditindaklanjuti dengan pendampingan dan evaluasi, sehingga proses penataan serta digitalisasi data benar-benar berjalan di seluruh jaringan Hidayatullah.

Dakwah Inklusif Hidayatullah Perluas Kebermanfaatan untuk Umat dan Bangsa

0

Hidayatullah mendorong penguatan dakwah inklusif sebagai bagian dari ikhtiar memperluas kebermanfaatan gerakan bagi umat dan bangsa. Dakwah tidak hanya diarahkan untuk memperkuat internal organisasi, tetapi juga hadir di tengah berbagai persoalan masyarakat melalui kolaborasi dan pelayanan nyata.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Diskusi Kamisan yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta, Kamis (03/09/2026). Forum mengangkat tema “Dakwah Inklusif, Memperluas Kebermanfaatan, Meneguhkan Jati Diri, Menguatkan Kolaborasi” dengan menghadirkan intelektual muslim asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus Direktur An Nahl Institute, Dr. KH Ahmad Buchory Muslim.

Diskusi tersebut menempatkan dakwah inklusif bukan sekadar jargon organisasi, tetapi sebagai konsekuensi dari prinsip Islam sebagai rahmat bagi semesta. Inklusivitas dipandang tidak berarti mengaburkan identitas keislaman, melainkan memperluas ruang pengabdian agar nilai-nilai Islam semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Naspi Arsyad sebelumnya mengingatkan para dai agar tidak membatasi ruang dakwah dan memilih-milih sasaran. Pesan itu disampaikan dalam Lailatul Ijtima’ Rayon Bandung Raya dan Garut, 23 Agustus 2026.

Menurut Naspi, orang-orang baik terdapat di berbagai tempat dan latar belakang. Karena itu, dai perlu membangun komunikasi, menghadirkan kedekatan, serta membuka ruang kebaikan seluas-luasnya.

Arah tersebut bukan gagasan yang muncul secara tiba-tiba. Hidayatullah memiliki rekam jejak dalam mendorong dakwah yang terbuka dan tidak terjebak pada ekstremisme.

Pada 2017, misalnya, Syabab Hidayatullah menggelar dialog internasional bersama Mufti Perlis, Prof. Madya Dato’ Dr. Mohd. Asri Zainal Abidin, dengan tema “Islam Jalan Tengah Menyikapi Ekstremisme Pemikiran”.

Dalam forum tersebut, KH Hamim Thohari mengingatkan agar istilah wasathiyah digunakan secara proporsional dan dikembalikan kepada makna yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Karena itu, dakwah inklusif tidak tepat dipahami sebagai upaya mengurangi prinsip keislaman. Sebaliknya, inklusivitas menjadi jalan untuk membawa nilai-nilai Islam dari ruang internal menuju kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Ketika Hidayatullah memasuki 50 tahun kedua, KH Hamim Thohari yang ketika itu menjabat Ketua Dewan Pertimbangan juga menekankan pentingnya organisasi menjadi lebih terbuka dan inklusif. Kaderisasi diarahkan agar semakin ekspansif dengan mengajak masyarakat terlibat dalam berbagai program Hidayatullah.

Arah tersebut sejalan dengan pesan pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said: “Selamat datang di alam realita, bukan alam cerita. Selamat berjuang di alam kenyataan, bukan alam pernyataan.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa dakwah tidak cukup berhenti pada gagasan dan pernyataan, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan yang memberikan manfaat nyata.

Dari Wacana Menuju Kebermanfaatan

Peradaban Islam tidak dibangun hanya melalui produksi wacana internal, tetapi melalui kehadiran yang dirasakan masyarakat.

Pendidikan yang membuka akses, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, pembinaan keluarga, kepedulian terhadap lingkungan, hingga keterlibatan dalam persoalan kebangsaan merupakan bagian dari ruang pengabdian yang dapat diperkuat melalui dakwah.

Karena itu, medan dakwah tidak semestinya berhenti pada lingkungan internal. Masyarakat miskin, pelaku UMKM, pemuda, akademisi, pekerja, penyandang disabilitas, warga binaan pemasyarakatan, masyarakat desa hingga kelompok sosial lainnya merupakan bagian dari ruang pengabdian.

Jaringan Hidayatullah di berbagai daerah juga perlu diposisikan bukan sekadar sebagai infrastruktur organisasi, tetapi sebagai simpul pelayanan masyarakat.

Setiap daerah memiliki karakter, budaya, kebutuhan, dan potensi yang berbeda. Karena itu, pendekatan dakwah perlu membaca konteks lokal, memberi ruang bagi kearifan masyarakat, serta mendorong penguatan kapasitas warga.

Dai tidak datang untuk menggurui atau menciptakan jarak sosial. Dai perlu hadir sebagai bagian dari masyarakat, memahami persoalan yang dihadapi, kemudian menawarkan nilai Islam dalam bentuk yang relevan dan solutif.

Setidaknya ada empat agenda yang perlu diperkuat.

Pertama, memperluas ruang silaturahmi kader dan dai melampaui lingkungan internal organisasi. Kedua, memastikan program dakwah semakin berbasis kebutuhan masyarakat dan potensi lokal.

Ketiga, memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, komunitas, akademisi, serta berbagai elemen kebangsaan tanpa kehilangan prinsip keislaman.

Keempat, mengukur keberhasilan dakwah dari tingkat kemanfaatannya, seperti akses pendidikan, penguatan ekonomi, pendampingan sosial, pembinaan keagamaan, serta solusi terhadap persoalan nyata masyarakat.

Merangkul dalam Berbagai Keadaan

Arah dakwah tersebut mulai terlihat dalam sejumlah praktik. Pelatihan ekonomi yang melibatkan kelompok rentan dan penyandang disabilitas serta menekankan pemanfaatan potensi lokal menjadi salah satu bentuk bagaimana dakwah dapat hadir melalui pemberdayaan masyarakat.

Pada Agustus 2026, Hidayatullah juga membawa pembinaan keagamaan ke lingkungan lembaga pemasyarakatan. Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi warga binaan untuk mendapatkan pembinaan sekaligus kesempatan memperbaiki diri dan kembali ke tengah masyarakat.

Hal itu menunjukkan bahwa inklusivitas akan memiliki makna ketika dakwah mampu menyentuh manusia dalam berbagai keadaan, bukan hanya mereka yang sejak awal telah dekat dengan lingkungan dakwah.

Dakwah inklusif bukan berarti Hidayatullah kehilangan jati diri. Justru jati diri diuji ketika nilai-nilai yang diyakini mampu hadir sebagai solusi bagi masyarakat luas.

Wasathiyah bukan sekadar berada di posisi tengah, tetapi mencerminkan sikap adil, proporsional, terbuka, dan mampu menghadirkan maslahat tanpa kehilangan prinsip.

Karena itu, memperluas dakwah merupakan kebutuhan dalam perjalanan gerakan. Hidayatullah perlu bergerak dari “kita” menuju “umat” dan “bangsa”, dari ruang internal menuju ruang publik, serta dari pernyataan menuju kenyataan.

Pada akhirnya, dakwah tidak cukup hanya menunjukkan keberadaan sebuah organisasi. Dakwah harus menghadirkan kebermanfaatan.

Jika Islam diyakini sebagai jalan kebahagiaan bagi manusia, maka dakwah tidak boleh berhenti pada mereka yang telah mengenalnya. Dakwah harus hadir di tengah persoalan, membuka pintu kebaikan, merangkul tanpa diskriminasi, dan membuktikan bahwa nilai Islam membawa rahmat bagi kehidupan.

Jati diri gerakan bukan dibuktikan dengan mempersempit lingkaran, melainkan dengan memperluas kebermanfaatan.

Kuliah Umum STIE Hidayatullah Tantang Mahasiswa Baru Tidak Jadi Sarjana Biasa

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah, Muhammad Saddam, S.Ak., M.Ak., menantang mahasiswa baru untuk mengubah orientasi kuliah. Ia mendorong mahasiswa tidak sekadar mengejar ijazah, tetapi membangun kapasitas diri agar mampu menjadi sarjana yang kompeten, berkarakter, dan memberi dampak.

Pesan tersebut disampaikan Saddam dalam Kuliah Umum (Studium Generale) di Kampus STIE Hidayatullah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (05/09/2026). Kegiatan itu diikuti ratusan mahasiswa.

Di hadapan mahasiswa baru, Saddam mengingatkan bahwa dunia kerja semakin kompetitif di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat. Karena itu, mahasiswa perlu mempersiapkan diri sejak awal masa perkuliahan.

Saddam memaparkan sejumlah data untuk menggambarkan tantangan yang akan dihadapi mahasiswa setelah lulus. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, terdapat 904.440 sarjana yang masih berstatus penganggur di Indonesia.

Persaingan mendapatkan pekerjaan juga semakin ketat. Dalam Job Fair Bekasi 2025, misalnya, lebih dari 25.000 pencari kerja memperebutkan 2.557 lowongan yang tersedia dari 63 perusahaan.

Tantangan tersebut semakin kompleks dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Saddam mengutip laporan World Economic Forum (WEF) 2025 yang memproyeksikan 39 persen keahlian inti pekerja akan mengalami perubahan hingga 2030.

Bahkan, 41 persen perusahaan disebut berencana mengurangi tenaga kerja karena sejumlah pekerjaan rutin mulai dapat diotomatisasi, termasuk bidang akuntansi, administrasi, entri data, hingga penyusunan laporan berkala.

Menurut Saddam, kondisi tersebut harus menjadi momentum bagi mahasiswa untuk membangun keunggulan sejak di bangku kuliah.

Ia menyebut mahasiswa memiliki sekitar 1.460 hari selama masa studi empat tahun untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional sekaligus membangun kontribusi yang lebih luas.

Karena itu, mahasiswa didorong tidak hanya mengejar kelulusan atau pekerjaan rutin. Mereka perlu membangun kapasitas secara holistik, meliputi ilmu, akhlak, kompetensi, jaringan, pengalaman, karya, dan dampak nyata.

Saddam berharap mahasiswa STIE Hidayatullah kelak tampil sebagai Sarjana Hidayatullah yang memiliki karakter Islami, kompeten secara profesional, berdaya saing global, serta memiliki kepedulian terhadap umat dan bangsa.

Ia juga mendorong mahasiswa mengambil peran sebagai agen kontrol, agen perubahan, sekaligus bagian dari persediaan kader pemimpin masa depan.

“Jangan jadi sarjana biasa. Karena sarjana bukan akhir perjalanan, tapi awal pengabdian,” pesan Saddam kepada mahasiswa.

“Apakah Menikah Semengerikan Itu?” Meniti Jalan Berkah Lewat Nikah Mubarakah

0

Menjelajahi linimasa media sosial hari ini sering terasa sesak. Narasi yang lewat di layar ponsel seolah seragam: drama keretakan rumah tangga, curahan hati korban perselingkuhan, kabar pilu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga sengkarut nafkah dan intrik keluarga besar. Rentetan kabar kelam ini memantik satu tren ungkapan yang diamini banyak muda-mudi: pernikahan itu menakutkan .

Bagi generasi muda, kegelisahan ini nyata. Keraguan itu bukan lagi sekedar gurauan di kolom komentar, melainkan sudah menjelma tembok yang menahan langkah mereka menuju pelaminan. Banyak yang memilih untuk menunda, bahkan ada yang mulai membatalkan mengikat komitmen seumur hidup.

Namun, benarkah dunia pernikahan semengerikan yang tergambar di layar kaca gawai? Mengapa kecemasan ini begitu masif menyergap, dan bagaimana cara bijak mengurai benang kusut ketakutan ini?

Mengapa Generasi Hari Ini Takut Menikah?

Ketakutan untuk menikah tidak lahir di ruang hampa. Jika dibedah secara jernih, ada beberapa simpul pemicu yang saling mengikat di balik keraguan generasi muda:

Terjebak Algoritma Konten Negatif

Jagat maya bekerja dengan sistem yang sering mengangkat sensasi. Algoritma lebih cepat melipatgandakan drama dan skandal dibandingkan potret rumah tangga yang adem ayem. Akibatnya, paparan kisah pilu yang terus-menerus memicu trauma tidak langsung (vicarious trauma). Banyak anak muda yang akhirnya menarik kesimpulan sepihak bahwa komitmen panjang hanya akan berakhir nestapa.

Bayang-Bayang Luka Masa Silam

Tidak sedikit generasi hari ini tumbuh dari sisa-sisa luka keluarga: perceraian orang tua, hilangnya figur ayah, atau pertengkaran rumah tangga yang terekam sejak belia. Trauma psikologis ini kerap menancapkan ketakutan bawah sadar bahwa sejarah kelam kelak tersebut akan terulang di rumah tangga mereka sendiri.

  • Beban Finansial dan Tuntutan Standar Hidup

Meningkatnya harga kebutuhan pokok, pemutusan hubungan kerja, serta harga perumahan yang semakin kian melambung membuat pernikahan sering diposisikan sebagai liabilitas ekonomi yang berat. Belum lagi persepsi keliru bahwa pernikahan harus dimulai dengan pesta megah yang bernilai fantastis. Mereka yang baru merintis kemandirian pun langsung merasa gamang dan belum layak.

  • Cemas Kehilangan Ruang Bertumbuh

Bagi kalangan muda, khususnya perempuan, ada kekhawatiran besar bahwa akad nikah akan merenggut ruang aktualisasi diri, kemandirian finansial, dan potensi intelektual. Kematian akan terjebak dalam hubungan kekuasaan yang kaku tanpa ruang dialog menjadi salah satu faktor penahanan langkah yang sangat kuat.

  • Jebakan Ekspektasi Hubungan Sempurna

Gambaran pasangan ideal tanpa celah yang kerap diagungkan budaya populer menciptakan standar yang tidak realistis. Alih-alih berproses dan belajar bertumbuh bersama pasangan, banyak yang akhirnya menuntut kepastian serba sempurna sebelum berani memulai.

Meluruskan Sudut Pandang Lewat Kacamata Islam

Islam tidak memandang rasa gentar anak muda sebagai aib, melainkan alarm penting untuk menata ulang cara pandang. Dalam tutunan syariat, rumah tangga bukanlah penjara yang membatasi langkah, melainkan ruang aman yang sarat berkah:

  • Ikatan Luhur Pembawa Kedamaian (Mitsāqan Ghalīzhan)

Al-Qur’an menyebut pernikahan sebagai perjanjian yang amat kukuh. Ia bukan sekadar ikatan hukum formal atau transaksi sosial belaka, melainkan jalan meraih ketenangan batin (sakīnah), kasih sayang yang mendalam (mawaddah), dan rahmat yang saling menjaga (rahmah). Rumah tangga dirancang menjadi tempat berteduh paling nyaman dari bisingnya dunia, bukan medan yang menguras energi.

  • Kemitraan Setara dalam Kebaikan

Islam menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai mitra yang saling menguatkan. Melalui prinsip mu’āsyarah bil ma’rūf , hubungan suami-istri dibangun di atas tuturan yang santun, sikap adil, serta saling menghormati hak masing-masing. Ketika prinsip ini dijalankan, pernikahan justru menjadi ruang subur untuk saling mendukung karir, wawasan, dan potensi terbaik kedua belah pihak.

Nikah Mubarakah Pesantren Hidayatullah Sebagai Solusi

Menghadapi kecemasan zaman ini, mencela rasa takut anak muda bukanlah jalan keluar. Yang dibutuhkan adalah langkah nyata yang solutif dan realistis. Menjawab kegelisahan tersebut, Pesantren Hidayatullah menghadirkan program Nikah Mubarakah , sebuah ikhtiar sistematis yang mengembalikan pernikahan pada kemurnian dan kemudahannya:

  • Menegakkan Prinsip Kemudahan ( Taysīr ) dan Melawan Gengsi

Pernikahan sejatinya berporos pada keberkahan, bukan kemewahan. Panitia Nikah Mubarakah merancang prosesi walimah yang sederhana, tertib, dan jauh dari budaya konsumtif serta beban gengsi sosial. Mahar dirancang berkah tanpa memberatkan mempelai pria. Kesiapan finansial diukur dari etos kerja keras dan tanggung jawab nafkah, bukan tumpukan harta berlebih di garis awal.

  • Membekali Calon Pengantin dengan Ilmu yang Utuh

Ketakutan sering dihilangkan dari ketidaktahuan. Melewati kelas bimbingan pranikah yang komprehensif, peserta dibekali pemahaman hak dan kewajiban syariat, psikologi pasangan, resolusi konflik, kecakapan komunikasi, hingga tata kelola finansial keluarga. Bekal keilmuan ini mengubah keraguan yang mengambang menjadi kesiapan nyata yang diukur.

  • Memilih Pasangan Berdasarkan Karakter dan Keimanan

Paras rupa dan materi duniawi bersifat fana, namun akhlak mulia dan ketakwaan adalah jangkar utama dalam menakhodai bahtera rumah tangga. Melalui mekanisme musyawarah yang matang serta salat istikharah, panitia membantu mempertemukan pasangan yang selaras dalam visi hidup, moral, dan akidah. Keselarasan nilai ini menghadirkan rasa aman bahwa setiap permasalahan akan diselesaikan melalui musyawarah, bukan amarah.

  • Pendampingan Jiwa dan Membiasakan Komunikasi Sehat

Bagi calon mempelai yang membawa sisa trauma masa lalu, proses pemulihan batin menjadi agenda krusial. Pendampingan dalam program ini calon melatih pasangan untuk saling mendengarkan secara tulus, menumbuhkan kerendahan hati, serta berani menyampaikan batasan dan harapan secara sehat sejak awal membangun komitmen.

Menata Niat, Memulai Langkah

Kegelisahan generasi muda ini sejatinya menyimpan sisi positif: sebuah sinyal kesadaran kritis. Anak muda hari ini tidak lagi memandang pernikahan sekadar formalitas adat yang dijalani secara serampangan tanpa perhitungan matang.

Meski begitu, kesadaran kritis tidak berubah sampai menjadi keputusasaan. Pernikahan memang menuntut kedewasaan dan tanggung jawab, tetapi ia bukan monster yang harus dihindari.

Dengan memerdekakan diri dari jeratan gengsi, memperluas bekal ilmu pranikah, mengutamakan keluhuran budi pekerti dalam memilih pasangan, serta menata niat semata-mata karena Allah, pernikahan akan kembali ke hakikat mulianya: dermaga tempat hati berlabuh, ruang bertumbuh seumur hidup, dan jalan terang menuju ketenteraman jiwa.

**) Dr. Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I., M.Si. adalah Ketua DPP Hidayatullah Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota