Beranda blog Halaman 4

Sapa Santri di Kudus, Sekjen DPP Hidayatullah Ajak Aktif Berperan dalam Perjuangan Ilmu

0

KUDUS (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noepatria, mengajak para santri untuk tidak hanya menjadi penonton dalam perjalanan perjuangan umat, tetapi turut mengambil bagian melalui proses belajar, pendalaman ilmu, dan keterlibatan dalam aktivitas yang konstruktif.

Ajakan tersebut disampaikan dalam tausiyah Subuh yang dihadiri para santri SMP–SMK Lukman Al-Hakim Hidayatullah Kudus serta pengurus Yayasan Hidayatullah Kudus di kompleks pesantren Jalan Raya Kudus–Jepara, Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu, 1 Dzulqaidah 1447 (18/4/2026).

Nanang mengingatkan pentingnya menumbuhkan rasa syukur kepada Allah atas kesempatan menjalani ibadah pada waktu Subuh. Ia menyebut bahwa nikmat iman, kesehatan, dan kehidupan merupakan karunia yang patut disyukuri oleh setiap muslim.

Ia kemudian menegaskan bahwa seorang muslim diperintahkan untuk terus beribadah kepada Allah dan menjaga konsistensi dalam menjalankan ajaran-Nya. Nanang merujuk pada konsep istiqamah sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an dengan frasa “tsummalladzīna istaqāmū”, yang menunjukkan pentingnya keteguhan dalam menjalankan ketaatan.

Menurutnya, istiqamah dalam menjalani perjuangan tidak dapat dipisahkan dari proses kesabaran dan ketekunan. Hal tersebut juga berlaku dalam perjalanan menuntut ilmu yang memerlukan kedisiplinan serta kesungguhan dalam belajar.

Ia menyebut bahwa kebiasaan wirid pada waktu pagi, sore, dan malam dapat menjadi salah satu sarana untuk menjaga konsistensi spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Nanang juga menyampaikan bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap perkembangan zaman. Ia menjelaskan bahwa para santri merupakan generasi yang dipersiapkan untuk melanjutkan peran dakwah pada masa mendatang.

Ia juga menekankan pentingnya pembinaan karakter. Ia menekankan pentingnya pemberian tanggung jawab kepada para santri sebagai bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan.

Tanggung jawab tersebut, menurutnya, dapat membantu mengasah kemampuan organisasi, memperkuat identitas diri, serta membentuk ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Ia juga menyampaikan bahwa santri diharapkan memiliki kemampuan untuk memotivasi diri serta memberi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan manajemen, kepemimpinan, serta pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari bekal yang perlu dipersiapkan.

Dalam penutup pesannya, Nanang kembali menegaskan pentingnya keterlibatan aktif para santri dalam proses pembelajaran dan pengembangan diri.

“Jangan hanya menjadi penonton dalam perjuangan ini. Ambil bagian dengan terus belajar, mentadabburi ilmu, dan aktif dalam berbagai kegiatan yang positif,” ujarnya.

Rakornas Bidang Pelayanan Umat Hidayatullah Bahas Penguatan Program Nasional

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah diselenggarakan secara hibrida dari Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta pada Jumat, 29 Syawal 1447 (17/4/2026). Forum nasional ini mempertemukan para ketua departemen Bidang Pelayanan Umat dari berbagai wilayah di Indonesia untuk melakukan koordinasi program serta penyelarasan arah pelayanan kepada masyarakat.

Rakornas tersebut menghadirkan pemaparan program dari departemen yang berada di bawah Bidang Pelayanan Umat, yaitu Departemen Dakwah dan Penyiaran, Departemen Sosial, Departemen Seni Budaya dan Olahraga, serta Departemen Kesehatan. Seluruh ketua departemen tingkat wilayah mengikuti kegiatan ini sebagai bagian dari proses koordinasi program secara nasional.

Sejumlah isu strategis disampaikan oleh para pimpinan departemen. Penguatan dakwah menjadi salah satu topik utama yang disampaikan dalam forum. Program dakwah diarahkan untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat melalui penguatan koordinasi antara para penggerak dakwah di wilayah dengan struktur organisasi di tingkat pusat.

Pendekatan dakwah juga dikaitkan dengan upaya memperluas jangkauan pelayanan umat di tengah masyarakat melalui kegiatan pembinaan, penyiaran nilai-nilai Islam, serta penguatan peran masjid sebagai pusat aktivitas dakwah.

Ketua Departemen Kesehatan, Muhammad Ikhsan Taufik, menekankan pentingnya menjaga kesehatan kader sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan aktivitas pelayanan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa kader merupakan sumber daya utama organisasi.

“Aset termahal Hidayatullah adalah kader, maka kesehatan kader adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi,” ujarnya.

Ketua Departemen Seni, Budaya dan Olahraga Syarif Daryono juga menyinggung pentingnya kebiasaan olahraga sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi fisik kader yang terlibat dalam berbagai aktivitas pelayanan umat.

Sementara itu, Ketua Departemen Sosial, Imron Faizin, menyoroti kebutuhan penguatan sistem data dalam pengelolaan program sosial. Ia menyampaikan bahwa basis data yang terstruktur diperlukan untuk mendukung pengelolaan Jaminan Sosial Kesehatan Kader (Jamsoskad).

Imron juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap anak-anak kader yang orang tuanya telah menjalani pengabdian dalam kegiatan organisasi. Menurutnya, perhatian terhadap aspek tersebut menjadi bagian dari penguatan tata kelola program sosial.

Rakornas dibuka dan ditutup oleh Ketua Bidang Pelayanan Umat DPP Hidayatullah, Shohibul Anwar. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa pelayanan kepada masyarakat merupakan salah satu ruang aktualisasi peran organisasi dalam kehidupan sosial.

Dia menegaskan, Rakornas ini menjadi ruang koordinasi nasional bagi pengelola program pelayanan umat untuk menyelaraskan langkah serta memperkuat pelaksanaan program di berbagai wilayah.

Ia juga mendorong agar program pelayanan umat yang dijalankan dapat diselaraskan dengan arah pembangunan pemerintah daerah di masing-masing wilayah.

“Program pelayanan umat perlu dikorelasikan dengan arah pembangunan pemerintah daerah agar kontribusi yang diberikan dapat berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, Shohibul Anwar juga menyampaikan pentingnya dukungan pemerintah terhadap berbagai program pelayanan masyarakat. Ia menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab dalam menjaga kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok yang berada dalam kondisi rentan.

KH Mahrus El-Mawa Buka Silaturrahim Nasional Rabithah Ma’ahid Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kepala Subdirektorat Pendidikan Diniyah dan Ma’had Aly Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) RI, KH. Dr. Mahrus El-Mawa, M.Ag., secara resmi membuka helatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Rabithah Ma’ahid Hidayatullah (RMH) yang bertempat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Jakarta, pada Jum’at, 29 Syawal 1447 (17/4/2026).

Dalam sambutannya, KH Mahrus El-Mawa yang hadir mewakili Direktur Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Gurutta Dr. Basnang Said, M.Ag., menekankan pentingnya sinergi kolektif antarlembaga pendidikan Islam di tengah transformasi yang sedang dialami oleh institusi pesantren di Indonesia.

Pada kesempatan itu Mahrus merefleksikan pengalaman personal saat bertugas di wilayah timur Indonesia. Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap eksistensi jaringan pesantren Hidayatullah yang telah menjangkau daerah-daerah terpencil di pelosok negeri. Mahrus mengenang bagaimana kehadiran institusi ini di wilayah seperti Jayapura memberikan dampak yang signifikan bagi dakwah Islam.

“Kalau tempat daerah seperti ini Hidayatullah luar biasa dan saya dulu langgaran Majalah Hidayatullah,” ujarnya, seraya menyebutkan bahwa konten dakwah yang disajikan melalui media tersebut sangat menarik dan menyejukkan. Pengalaman sejarah ini menjadi landasan bagi dirinya untuk menyambut baik penyelenggaraan Silatnas RMH yang kini menaungi lebih dari 300 pesantren di seluruh Indonesia.

Dalam pada itu, Mahrus menyampaikan informasi strategis mengenai penguatan struktur kelembagaan pesantren di tingkat nasional. Dia mengungkapkan bahwa pendidikan pesantren telah mengalami peningkatan status yang penting dengan terbitnya payung hukum terbaru. “Pesantren sekarang sudah naik menjadi eselon 1, sudah keluar Perpres-nya nomor 18 tahun 2026,” tuturnya.

Lebih lanjut, beliau memproyeksikan bahwa Ma’had Aly berpotensi berkembang menjadi direktorat tersendiri di masa mendatang, selaras dengan upaya melengkapi struktur organisasi Direktorat Jenderal Pesantren yang baru dibentuk tersebut. Hal ini diharapkan dapat memperkuat integrasi data pendidikan yang saat ini mencatat total sekitar 42.000 pesantren di seluruh tanah air.

Selaku Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Mahrus menegaskan bahwa perbedaan wadah organisasi tidak boleh menjadi penghalang bagi terciptanya kolaborasi produktif dalam membina umat.

Ia menarik benang merah dari pesan monumental Rasulullah SAW saat peristiwa Haji Wada’ sebagai landasan teologis untuk menjaga persatuan nasional. KH Mahrus mengingatkan bahwa esensi kemuliaan seorang manusia di mata sang pencipta bukan ditentukan oleh afiliasi kelompok, melainkan oleh integritas ketakwaan yang universal.

“Di antara kita ini tidak ada yang lebih mulia di mata Allah kecuali orang bertakwa,” tegas KH Mahrus saat mengutip pesan dari Kanjeng Rasul yang menekankan kesetaraan umat manusia. Ia menekankan bahwa deklarasi asasi manusia dalam perspektif Islam mewajibkan setiap mukmin untuk tetap bersatu dan bersaudara.

KH Mahrus pun mengaku sangat menyayangkan apabila perbedaan pandangan atau organisasi justru memicu keretakan ukhuwah atau sikap merasa paling benar sendiri. Menurutnya, kebenaran mutlak hanyalah milik Allah semata, sementara manusia hanya bisa berupaya mendekatinya melalui ijtihad yang jernih.

Mengakhiri sambutannya, KH Mahrus mengajak seluruh elemen pesantren untuk senantiasa mengedepankan prinsip hablum minannas dan memperkokoh tali persaudaraan.

Ia berharap agar keberadaan Rabithah Ma’ahid Hidayatullah dapat terus bersinergi dengan Kementerian Agama dalam memajukan kualitas pendidikan Islam. Dengan pembacaan basmalah, acara Silatnas RMH secara resmi dinyatakan dibuka, membawa harapan akan terciptanya keberkahan dan kemajuan bagi dunia pesantren di masa depan.

Nanang Noerpatria Tekankan Pendidikan Pesantren sebagai Jiwa dari Gerakan Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr Nanang Noepatria, M.Pd, mengemukakan bahwa pilar pendidikan pesantren merupakan bagian dari jiwa gerakan organisasi Hidayatullah yang terus bertransformasi menghadapi tantangan zaman.

“Bangga bahagia senang sekali kegiatan ini karena ini sejatinya adalah core dari pendidikan di Hidayatullah,” kata Nanang dalam sambutannya pada pembukaan acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) Rabithah Ma’ahid Hidayatullah (RM) di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Jakarta, pada Jum’at, 29 Syawal 1447 (17/4/2026).

Nanang menekankan bahwa pertemuan ini memiliki signifikansi historis bagi organisasi. Ia menyampaikan bahwa pendidikan merupakan inti dari seluruh perjuangan dakwah yang dilakukan oleh Hidayatullah.

Ia menjelaskan, fokus pembahasan dalam silaturrahim nasional ini secara spesifik mengarah pada penguatan kurikulum dan eksistensi Maahad Aly. Nanang menjelaskan bahwa pengembangan institusi ini memerlukan supervisi dari tokoh-tokoh yang memiliki kompetensi akademik serta integritas spiritual yang mumpuni.

Ia menyebutkan peran penting Kasubdirektorat Pendidikan Diniyah dan Ma’had Aly Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI KH. Dr. Mahrus El-Mawa, M.Ag., dalam mengawal proses ini agar berjalan sesuai dengan standar mutu pendidikan tinggi.

“Lebih khusus lagi, wabil khusus, nanti insyaallah Ma’had Ali yang akan dikawal oleh beliau Kiai Haji Mahrus El-Mawa,” katanya, seraya menyapa KH Mahrus El-Mawa yang membuka acara tersebut.

Meskipun Sekretaris Jenderal hadir sebagai perwakilan pimpinan tertinggi, Nanang menekankan tanggung jawab manajerial yang harus mencakup seluruh aspek organisasi secara komprehensif. Hal ini, terang dia, sebagai komitmen pimpinan pusat untuk memastikan setiap departemen, termasuk Departemen Pesantrenan yang dipimpin K.H. Muhammad Syakir Syafi’i, berjalan sesuai visi besar.

“Sekretaris Jenderal, namanya general. Akhirnya apapun bisa. Harus hadir di semua lini, semua sudut yang ada di gedung Pusat Dakwah Hidayatullah ini,” selorohnya disambut tawa hadirin.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap otoritas keilmuan, Nanang meminta KH Mahrus El-Mawa untuk secara resmi membuka acara tersebut. “Kami mengharapkan Pak Kiai, ini khusus untuk Pak Kiai, untuk membuka acara RMH ini secara resmi,” ungkapnya. Ia berharap agar agenda ini memberikan manfaat luas bagi umat.

Penutupan sambutan Nanang diwarnai dengan harapan tulus agar kegiatan ini senantiasa dalam bimbingan Ilahi. “Semoga acara ini diberkahi oleh Allah. Dimudahkan oleh Allah dan mendapat rida dari Allah,” pungkasnya.

Hidayatullah Surabaya Kembangkan Program Literasi Keislaman dengan Kajian Kitab Rutin

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Surabaya terus melakukan akselerasi dalam upaya pengembangan kapasitas masyarakat salah satunya dengan memperkuat program literasi keislaman melalui penyelenggaraan Kajian Subuh Berjamaah yang dilaksanakan secara rutin setiap Senin hingga Jumat di Masjid Aqshal Madinah, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan keilmuan yang menghadirkan kajian kitab rujukan klasik dan kontemporer bagi jamaah.

Program ini diselenggarakan secara berkala pada waktu setelah salat Subuh. Pengurus DPD Hidayatullah Surabaya, Zaenal Muttaqin, menjelaskan bahwa pemilihan waktu pagi dimaksudkan untuk memanfaatkan momentum waktu yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Ia menyampaikan bahwa jamaah biasanya memiliki kondisi pikiran yang lebih siap untuk mengikuti kajian keilmuan pada waktu tersebut.

“Kami ingin menghidupkan tradisi keilmuan yang kuat di lingkungan pondok dan masyarakat umum. Setiap harinya, ada kitab spesifik yang dikaji bersama para asatidzah yang ahli di bidangnya,” ujar Zaenal Muttaqin dalam keterangannya dikutip dari laman DPW Hidayatullah Jatim, Jum’at, 28 Syawal 1447 (17/4/2026).

Kajian Subuh Berjamaah tersebut menghadirkan sejumlah pengajar yang membahas kitab dengan tema yang berbeda pada setiap hari. Pada hari Senin, kajian disampaikan oleh KH Abdul Kholiq, Lc., M.H.I., yang mengulas kitab Ash Shahwah Al Islamiyah. Selasa diisi oleh Ust. H.M. Nur Fuad, M.A., dengan pembahasan kitab Minhajul Muslim. Sementara itu, pada hari Rabu, Ustadz Nur Huda, M.Pd.I., menyampaikan kajian kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum.

Rangkaian kajian dilanjutkan pada hari Kamis dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin yang disampaikan oleh Ustadz Marni Mulyana, Lc., M.Th.I. Adapun pada hari Jumat, kajian diisi oleh KH. Drs. Ec. Abdul Rachman yang membahas Tafsir As Sa’di.

Kegiatan ini mendapatkan perhatian dari tingkat wilayah. Ketua Departemen Dakwah Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur, Aep Saepudin, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kajian yang dilakukan secara terstruktur tersebut.

“Apresiasi setinggi-tingginya untuk DPD Surabaya. Kajian yang tertata secara kurikulum—dengan rujukan kitab yang jelas—adalah kunci dalam mencetak masyarakat yang tercerahkan. Kami berharap program ini menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain di Jawa Timur untuk menghidupkan masjid dengan ilmu,” ujarnya.

Selain diikuti secara langsung oleh jamaah yang hadir di masjid, kajian tersebut juga disiarkan melalui kanal YouTube Aqshal Madinah Channel. Fasilitas ini disediakan bagi masyarakat yang tidak dapat mengikuti kegiatan secara langsung di lokasi.

Pengelola kegiatan juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mendukung operasional program dakwah tersebut melalui kontribusi yang disalurkan ke rekening Bank Syariah Indonesia atas nama DKM Aqshal Madinah.

Begini Cara Islam Membangun Ketahanan Mental Generasi Sejak Dini

ISU kesehatan mental semakin mendapat perhatian hari-hari ini. Didasarkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan dan ditambah dengan tekanan sosial yang semakin berat, kesehatan mental menduduki posisi hampir sejajar dengan kesehatan fisik. Apalagi statistik penderita mental menunjukkan angka yang tidak bisa lagi diabaikan.

Tahun 2025 lalu angka penderita mental, dari ringan hingga berat, diprediksi menyentuh angka 28 juta orang. Dilaporkan sekira 15-17 juta orangnya berada di usia remaja. Padahal 20 tahun lagi Indonesia diharapkan sudah berada di fase Indonesia Emas.

Problema ini kemudian memacu eksplorasi ilmiah untuk mencari solusi. Bidang medis sudah tentu jadi sasaran eksplorasi ilmiah. Berikutnya bidang ilmu sosial dan keagamaan.

Lebih jauh di bidang keagamaan, terutama Islam, sudah tercatat beberapa hal mendasar agar seorang insan senantiasa sejahtera dalam hidupnya. Mari mengulik lebih dalam.

Sebagai permulaan, marilah membuka Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 155 yang berbunyi,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Dan sungguh akan Kami (Allah) berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Ayat ini jelas menggambarkan bahwa seorang insan akan mengalami ujian di dunia. Bentuknya beraneka rupa. Insan satu sama lain mungkin akan mendapatkan ujian yang berbeda.

Oleh karena itu, sebagaimana juga disebutkan dalam ayat yang sama, kesabaran perlu dibangun. Mulai kapan? Mulai dari ayunan alias bayi.

Dalam hal ini orangtua diharapkan menjadi teladan tentang kesabaran. Sehingga anak bisa membangun mindset bahwa kesabaran itu sesuatu yang mungkin dimiliki. Semoga titik ini jadi awalan yang baik.

Berikutnya orangtua perlu mengantarkan anak untuk memiliki stabilitas emosi berbasis pemahaman takdir yang benar. Perihal ini disebutkan oleh Al-Qur’an surat Al-Hadid ayat 22-23,

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ. لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami (Allah) menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”

Bagaimana praktiknya? Ada dua wujud utamanya. Pertama, adanya dialog tentang takdir. Kedua, penerimaan kenyataan hidup didasarkan takdir.

Dialog tentang takdir bermakna ada pembelajaran dari orangtua kepada anak tentang takdir. Dalam hal ini orangtua bisa meminta ustadz atau guru untuk menyampaikannya kepada anak. Sekolah atau majelis taklim jadi wadahnya.

Sementara tentang penerimaan kenyataan hidup didasarkan takdir, orangtua memegang peranan penting alias hampir tidak tergantikan. Saat mengalami apa saja, menyenangkan atau tidak, arahan pertama kepada anak adalah kalimat thoyyibah. Agar anak senantiasa terhubung kepada Allah ta’ala.

Berikutnya anak diajarkan untuk meraih banyak kebaikan. Semuanya diawali niat karena Allah ta’ala. Ditekankan kepada anak bahwa Dia Sang Pemilik Kuasa. Jika Dia menghendaki, maka terjadilah apa yang terjadi. Tugas insan hanya berusaha sekuat tenaga.

Ketika anak gagal meraih sesuatu yang diharapkan, orangtua bisa mengajak dialog, lagi-lagi dengan bersandar pada takdir. Anak dipahamkan kembali tentang kuasa dan cinta Allah ta’ala. Bahwa jika hari ini suatu keinginan baik belum terpenuhi, bisa jadi esok akan terwujud. Atau keinginan baik itu diwujudkan-Nya dalam bentuk lain yang jauh lebih baik.

Harapannya anak tidak menjadi tertekan. Bahkan anak melihat peluang berkembang di bidang lain. Tinggal anak memilih, tetap bergelut di bidang lama atau merintis jalan di bidang baru. Di sini semoga mental fleksibel terbentuk.

Saat dewasa semoga fleksibilitas membantu sang anak untuk menjalani dan mengembangkan hidupnya. Bahwa satu pilihan yang telah dipilihnya sangat mungkin berubah. Demikian itu tidaklah salah asalkan dilandasi dengan pertimbangan matang menuju maslahat yang lebih baik.

Dua poin terakhir yang disodorkan agama adalah memilih lingkungan suportif serta membangun kesiapan didampingi ahli. Lingkungan suportif dicirikan dengan apresiatif terhadap kebaikan serta proporsional atas kesalahan, sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 160.

مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَاۚ وَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

“Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan).”

Adapun membangun kesiapan didampingi ahli didasarkan pada potensi sakit mental pada siapa saja. Vonis ‘insan lemah’ sangat perlu dijauhkan, diganti dengan ‘insan dalam ujian’. Tak butuh lama, insya Allah, situasinya menjadi baik kembali.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

Hidayatullah Perkuat Sistem Perkaderan untuk Manfaat Lebih Luas di Tengah Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menegaskan komitmennya untuk menghadirkan proses perkaderan yang lebih terarah, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman sehingga setiap kader dapat berkembang, berperan, serta memberi manfaat lebih luas di tengah masyarakat. Penegasan tersebut mengemuka dalam pertemuan daring bidang perkaderan tingkat nasional yang diselenggarakan sebagai bagian dari persiapan menuju Workshop Perkaderan Nasional pada Kamis, 27 Syawal 1447 (16/4/2026).

Pertemuan ini dipimpin oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Rekrutmen, Pembinaan Anggota, dan Perkaderan, Dr. Abdul Ghofar Hadi. Forum tersebut mempertemukan para penggerak kader dari berbagai wilayah di Indonesia dengan tujuan menyelaraskan visi serta memperkuat arah kebijakan perkaderan organisasi.

Dalam arahannya, Abdul Ghofar Hadi menekankan bahwa pembinaan kader memerlukan proses yang berkesinambungan dan terstruktur. Menurutnya, proses pembentukan kader tidak dapat berhenti pada tahap awal rekrutmen, tetapi harus dilanjutkan melalui pembinaan yang konsisten.

“Kader harus terus ter-tarbiyah. Ini langkah strategis agar kualitas setiap kader tetap terjaga dan meningkat. Di sinilah peran murabbi menjadi sangat penting,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan sistem perkaderan sangat dipengaruhi oleh keterpaduan antara murabbi dan mekanisme pembinaan yang dijalankan organisasi. Tanpa keselarasan tersebut, proses pengembangan kader dinilai sulit mencapai hasil yang optimal.

Abdul Ghofar juga menegaskan bahwa penguatan sistem perkaderan tidak hanya berkaitan dengan jumlah kader yang terlibat, tetapi juga kualitas pembinaan yang diberikan. Oleh karena itu, setiap tahapan dalam proses kaderisasi perlu dirancang dengan perencanaan yang matang.

Dalam pertemuan tersebut, perhatian juga diarahkan pada pentingnya tahap persiapan sebelum pelaksanaan program. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan suatu kegiatan tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaannya, tetapi juga oleh kesiapan perencanaan yang dilakukan sebelumnya.

Menurutnya, Workshop Perkaderan Nasional yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat dirancang sebagai ruang pembelajaran yang dapat memberikan keterampilan baru bagi para peserta. Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga menghadirkan materi yang dapat diterapkan secara langsung di wilayah masing-masing.

Workshop tersebut, kata Abdul Ghofar, menjadi bagian dari upaya organisasi dalam memastikan bahwa proses perkaderan berjalan secara sistematis. Melalui kegiatan ini, para penggerak kader di berbagai daerah diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih terarah mengenai strategi pembinaan anggota.

Ia menambahkan bahwa penguatan perkaderan bertujuan agar setiap kader memiliki kapasitas untuk berkontribusi secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan yang disiapkan tidak hanya menekankan pada pemahaman konsep, tetapi juga pada kesiapan kader untuk mengimplementasikan program pembinaan di wilayah masing-masing.

Pertemuan daring tersebut menjadi tahap awal dalam rangkaian agenda menuju pelaksanaan Workshop Perkaderan Nasional yang direncanakan akan melibatkan penggerak kader dari berbagai daerah di Indonesia.

Penyerahan Sawah Satu Hektare oleh Bunda Aisah Perkuat Pengelolaan Zakat Produktif untuk Pendidikan dan Dakwah

0

PANDEGLANG (Hidayatullah.or.id) — Tidak semua kebaikan, entah itu zakat, infak dan sedekah, berhenti pada penyaluran. Sebagian memilih jalan yang lebih panjang: menghadirkan manfaat yang terus tumbuh dari waktu ke waktu.

Langkah itu terlihat dari keputusan Bunda Aisah yang menyerahkan lahan sawah seluas 1 hektare kepada BMH di Pandeglang, Banten, pada Rabu, 26 Syawal 1447 (15/4/2026).

Penyerahan dilakukan secara resmi di hadapan notaris sebagai bentuk komitmen untuk menjadikan aset tersebut dikelola secara produktif.

“Hari ini saya menyerahkan 1 hektare sawah untuk dikelola oleh BMH guna mendukung kegiatan pendidikan dan dakwah umat,” ujarnya.

Pilihan menjadikan zakat dalam bentuk lahan produktif menunjukkan arah yang berbeda. Bukan hanya memberi, tetapi juga membangun sistem kebermanfaatan yang berkelanjutan. Sawah tersebut diharapkan tidak sekadar menghasilkan, tetapi juga menjadi sumber dukungan bagi program pendidikan dan dakwah.

Kepercayaan ini menandai hubungan yang semakin kuat antara donatur dan lembaga pengelola zakat. Ketika amanah diberikan dalam bentuk aset, maka yang dibangun bukan hanya bantuan, melainkan keberlanjutan.

Public Relations BMH Pusat, Imam Nawawi, menilai langkah tersebut memiliki dampak strategis bagi penguatan peran lembaga.

“Langkah Bunda Aisah ini sangat penting dalam menguatkan peran Laznas. Dengan pengelolaan produktif, manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ungkapnya.

Dari satu hektare sawah, terbuka peluang manfaat yang terus mengalir. Hasilnya dapat menopang pendidikan, menguatkan dakwah, dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat.

Di titik ini, Imam menambahkan, zakat tidak lagi hanya hadir sebagai solusi jangka pendek. Ia menjadi instrumen yang membangun, menumbuhkan, dan menjaga keberlangsungan kebaikan bagi umat.[]

Menimbang Kasus Kekerasan Seksual Verbal dalam Perspektif Etika dan Nilai Keagamaan

SALAH satu isu yang mengisi ruang publik akhir-akhir ini adalah terungkapnya kekerasan seksual secara verbal di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Enam belas orang mahasiswa membentuk grup percakapan tertutup lalu menjadikannya sebagai wadah membincangkan seksualitas perempuan. Nama-nama perempuan disebutkan di grup tersebut disertai ujaran-ujaran yang merendahkan mereka secara seksual.

16 orang mahasiswa ini kemudian menjalani konfrontasi terbuka dengan pada korban pada tanggal 14 April 2026. Tidak hanya mahasiswa, sejumlah dosen bahkan guru besar terlihat hadir. Para korban bicara, menyampaikan rasa sakit mereka. Para pelaku juga bicara, mengakui kesalahan mereka.

Sanksi yang dijatuhkan kepada 16 mahasiswa pelaku kekerasan seksual verbal belum diputuskan. Meskipun demikian semoga ini semua menjadi momen refleksi banyak pihak. Tiga pihak disebutkan di sini: Mahasiswa, keluarga, dan perguruan tinggi.

Sebelumnya kiranya tepat mendudukkan perbuatan 16 orang mahasiswa ini dalam timbangan syar’i. Termasuk kesalahan manakah perbuatan mereka?

Beberapa ciri dapat diidentifikasi sebagai berikut. Pertama, perbincangan dilakukan tanpa diketahui korban. Kedua, isi perbincangan lebih banyak berkaitan dengan tubuh korban. Ketiga, korban tidak menyukai perbincangan tentangnya.

Berdasarkan ketiga ciri tersebut, perbuatan mereka masuk kategori ghibah. Adapun definisi ghibah, sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.”

Dengan ghibah, korban dinyatakan sebagai pihak yang layak direndahkan. Dalam konteks peristiwa ini, para perempuan yang jadi korban diposisikan rendah dan layak dilecehkan. Tentu apabila kekuasaan nantinya digenggam para pelaku, pelecehan seksual sangat mungkin dilakukan kepada banyak perempuan.

Maka, sekali lagi, mari merefleksikan peristiwa ini.

Mahasiswa

Mahasiswa butuh sadar bahwa dua peran ada di pundak mereka, yakni insan akademik dan calon pemimpin. Sebagai insan akademik, mereka diharapkan bisa mengimplementasikan keilmuan dan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan sebagai calon pemimpin, mereka diharapkan menunjukkan perilaku penuh etika.

Mengghibah korban secara seksual tentu jauh dari idealitas insan akademik dan calon pemimpin. Apalagi mereka merupakan penelaah keilmuan hukum. Jika mentalitas seperti itu, wajar jika publik khawatir tentang wajah hukum ke depan.

Dalam hal ini para mahasiswa diharapkan terus menyuburkan kebaikan pada dirinya sekaligus mengurangi potensi-potensi buruk. Input, seperti konten media sosial, perlu disaring. Demikian pula pertemanan diseleksi. Aktivitas ibadah diperkuat.

Keluarga

Keluarga merupakan benteng. Oleh karena itu hendaklah keluarga ikut memperhatikan anggota keluarganya. Walaupun setingkat mahasiswa, anggota keluarga masih perlu dibimbing.

Salah satu bimbingannya dilakukan lewat penugasan-penugasan semisal tugas menjadi imam shalat. Membersihkan rumah juga bisa jadi alternatif. Hal yang paling penting adalah komunikasi yang relatif setara ketimbang tahap usia sebelumnya.

Mendalami siapa yang menjadi teman itu wajar. Orangtua bisa melakukannya kepada anaknya yang berstatus mahasiswa. Asalkan tadi, teknik komunikasi diupayakan setara antarorang dewasa.

Pada situasi seorang anak butuh bimbingan ahli, orangtua bisa mendampinginya untuk menjalani terapi bersama ahli. Semoga solusi didapatkan segera. Sang anak bisa berkuliah lagi dengan prima.

Perguruan Tinggi

Sebagai lembaga pendidikan tingkat paling tinggi, perguruan tinggi diharapkan berperan sebagai wadah penanaman nilai-nilai akademis dan kepemimpinan. Mahasiswa dibimbing untuk mampu menginternalisasi nilai-nilai ke dalam dirinya. Sehingga saat terjun di masyarakat pasca lulus, mahasiswa sudah siap berkontribusi.

Persoalan fundamental kebanyakan perguruan tinggi, terutama di Indonesia, adalah kerangka berpikir tentang pendidikan yang berakar pada sekulerisme. Akibatnya pendidikan lebih banyak diarahkan pada aktivitas intelektual dengan mengabaikan ruhiyah. Hasilnya pendidikan menghasilkan insan akademis yang siap saling menerkam, bukan saling kerja dalam kebaikan.

Selain itu, karena akhirat tidak jadi orientasi, maka pengendalian diri lebih didasarkan pada akuntabilitas formal. Pencatatan amal dan konsekuensi surga-neraka lebih banyak jadi candaan. Akibatnya mudah ditebak, berbagai kebijakan diakali. Pelanggaran hukum mudah dilakukan, apalagi dengan pengawasan yang longgar.

Sebagai penutup, disadari bahwa peristiwa ini dimungkinkan hanya gunung es. Masih banyak permasalahan lain yang terjadi tanpa diketahui publik. Sudah waktunya untuk perguruan tinggi mendesain kembali worldview-nya yang diikuti dengan kebijakan-kebijakan administratifnya.[]

FU’AD FAHRUDIN

Sekjen Nanang Noerpatria Hadiri Peluncuran Kantor Pusat Asia-Pasifik untuk Al-Quds dan Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Nanang Noerpatria, menghadiri agenda Soft-Launching Headquarter Asia-Pacific for Al-Quds & Palestine (ASPAC) yang diselenggarakan di Aula Lantai 4 Gedung Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat, Matraman, Jakarta, pada Rabu, 26 Syawal 1447 (15/4/2026).

Kehadiran Nanang Noerpatria dalam kegiatan tersebut mewakili Hidayatullah sebagai bagian dari dukungan terhadap upaya kolaborasi regional dalam memperkuat solidaritas terhadap Masjid Al-Aqsa dan Palestina. Acara peluncuran kantor pusat ASPAC di kawasan Asia-Pasifik ditandai dengan penandatanganan bersama oleh sejumlah tokoh dan pimpinan organisasi Islam yang hadir.

Inisiatif pembentukan kantor pusat Asia-Pasifik ini digagas oleh Masyarakat Indonesia untuk Masjid Al-Aqsa dan Palestina (MIMAP) dalam rangka untuk memperkuat koordinasi gerakan advokasi, pendidikan publik, serta penyaluran bantuan kemanusiaan yang berkaitan dengan isu Al-Aqsa dan masyarakat Palestina di kawasan Asia-Pasifik.

Beberapa tokoh yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. Amirsyah Tambunan, Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) KH Dr. Imam Ad Daruquthni, Executive Director Headquarter ASPAC Irvan Nugraha, Ketua Steering Committee Headquarter ASPAC Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, serta perwakilan Global Coalition for Al-Quds and Palestine (GCQP) Ahmed Attawna.

Nanang Noerpatria menyampaikan dukungannya terhadap pembentukan kantor pusat ASPAC di kawasan Asia-Pasifik. Ia menyebut keberadaan kantor tersebut sebagai sarana koordinasi bagi berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap isu Al-Aqsa dan Palestina.

Nanang menjelaskan bahwa kantor pusat tersebut diharapkan dapat menjadi titik pertemuan bagi berbagai inisiatif solidaritas lintas negara di kawasan Asia-Pasifik.

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan komitmen berbagai pihak untuk menyuarakan dukungan terhadap Palestina melalui mekanisme yang terukur dan sesuai dengan prinsip hukum internasional.

Ia juga menyinggung tiga fokus utama yang menjadi agenda kerja Headquarter Asia-Pacific MIMAP. Fokus pertama berkaitan dengan diplomasi melalui penguatan jaringan kerja sama dengan parlemen, organisasi masyarakat, serta lembaga hak asasi manusia di kawasan Asia-Pasifik.

Fokus kedua adalah penguatan edukasi publik yang mencakup peningkatan literasi sejarah mengenai Al-Aqsa serta pelaksanaan program kampanye kesadaran yang melibatkan generasi muda.

Sementara itu, terangnya, fokus ketiga berkaitan dengan kegiatan kemanusiaan yang meliputi penyaluran bantuan terverifikasi untuk sektor pendidikan, layanan kesehatan, dan pemulihan pascakonflik di Palestina.

Nanang berharap Kantor Pusat Asia-Pasifik untuk Al-Quds dan Palestina ini menjadi hub bagi gerakan solidaritas lintas negara sebagai simbol komitmen umat Islam Indonesia dan Asia Pasifik untuk terus membela Al-Aqsa dan Palestina dengan cara-cara yang terukur, legal, dan bermartabat.