Beranda blog Halaman 521

Tasmin Latif Bakal Calon DPD RI asal Sulsel Sebut Pentingnya Pendidikan Politik

0

PALOPO (Hidayatullah.or.id) – Bakal calon anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) 2019-2023 dari Sulawesi Selatan (Sulsel), Tasmin Latif, mengatakan pendidikan politik untuk masyarakat Indonesia sangat penting, baik bagi pejabat maupun masyarakat secara umum.

Pasalnya, lanjut dia, masyarakat menghadapi kondisi dimana di satu titik mengalami pelemehan di banyak sektor seperti ketertinggalan ekonomi dan di sisi lainnya masyarakat mengalami krisis keteladanan di tengah praktik politik dewasa ini.

“Sehingga masyarakat pun menjadi pragmatis. Mereka memilih pemimpin bukan karena kapasitas dan keteladanan mereka, akan tetapi yang menjadi pertimbangan utama memilih adalah materi (uang),” kata Tasmin ketika menjadi pembicara dalam acara Pengajian Akbar di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Ahad (9/9/2018).

Lebih jauh mantan ketua HMI Makassar tahun 90-an ini mengatakan, bahwa usaha melibatkan dirinya dalam dunia politik praktis, dengan maju menjadi calon DPD RI 2019 dari Sulsel, adalah jawaban atas kegelisahannya melihat sistem politik negeri ini yang semakin sekuler dan liberal.

“Bukti konkretnya adalah bahwa secara umum, para politikus dalam menjalankan politiknya menghalalkan segala cara untuk menang,” imbuh kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Di akhir acara pengajian akbar yang dihadiri oleh para perangkat desa dan imam-imam masjid sekitar Telluwanua ini, Tasmin Latif kembali mengingatkan segenap hadirin, agar menjadikan pendidikan politik sebagai solusi atas kesemrawutan sistem bernegara saat ini.

Panitia pelaksana mengatakan acara yang dihadiri ratusan warga masyarakat Kelurahan Batuwalenrang Kecamatan Telluwanua Kota Palopo ini, bertujuan untuk mengambil dan menjadikan spirit 1 Muharram 1440 H sebagai power perubahan, dalam realitas sistem bernegara yang semakin semrawut. */Andi Alfian Salassa

STIKMA Internasional Proyeksi Jadi Universitas Hidayatullah

MALANG (Hidayatullah.or.id) – Perguruan tinggi di bawah naungan Hidayatullah, Sekolah Tinggi Teknologi (STT) STIKMA Internasional Malang menggelar sidang terbuka dan wisuda sarjana Strata I Tahun Akademik 2017/2018 bertempat di Hall Hotel Kartika Graha, Malang, Sabtu (1/09/2018).

Ketua Sekolah Tinggi Teknologi (STT) STIKMA Internasional Malang Nanang Noerpatria, M.Pd, mengatakan sebanyak 17 sarjana diantaranya adalah dai dan daiyah nusantara yang akan dikirim mengabdi di masyarakat ke berbagai penjuru nusantara.

“Kami berkomitmen mencetak generasi informatika serta animator andal dengan predikat sarjana,” katanya.

Nanang mengatakan, lulusan STT STIKMA Internasional Malang punya kemampuan mumpuni baik di bidang akademik maupun non-akademik.

Untuk meningkatkan mahasiswanya berprestasi di berbagai bidang, STT STIKMA Internasional pun terus meningkatkan fasilitas dan mutu SDM,” ujar dia.

Upaya untuk meningkatkan kualitas itu dilakukan melalui unit kegiatan mahasiswa (UKM). Diantaranya Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis/Penelitian (UKMP) di bidang penalaran, PKM, penulisan buletin dan study club. Lalu ada juga UKM olahraga seperti sepakbola serta Robo-IT mencakup rotation robotic dan berkaitan dengan bidang IT.

Dalam pada itu STT STIKMA Internasional juga menyelenggarakan SMB mencakup broadcasting dan fotografi dan Badan Dakwah Kampus (BDK) sebagai wdah dakwah kampus serta aktif lomba MTQ regional, nasional serta aktif di b erbagai hak keislaman.

Sementara itu, Ketua Bidang Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah drg Fathul Adhim, MkKM, mengeapresiasi pihak kampus yang telah memberikan program beasiswa Pascasarjana kepada wisudawan terbaik. Program tersebut merupakan bagian dari upaya untuk mengkader dosen.

“Ada tekad yang kuat dari pengelola maupun yayasan untuk mewujudkan Universitas Hidayatullah,” imbuhnya.

STT STIKMA Internasional rencananya bakal melakukan merger internal dengan Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Lukman Al Hakim (STAIL) Surabaya dan konsekwensi dari merger ini adalah pembentukan Universitas Hidayatullah. (del/hio)

Kader Hidayatullah Harus Hadapi dan Nikmati Tantangan

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Halaqah gabungan yang digelar sekali dalam satu bulan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jabodebek kini mulai aktif setelah rehat selama Ramadhan hingga Idul Adha.

Dalam kesempatan penuh kekeluargaan itu hadir sebagai pemateri Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Ust Muhammad Sholeh Usman, yang digelar di Masjid Hidayaturrahman, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Sabtu (1/9/2018).

Dalam paparannya, pria asli Jeneponto, Sulawesi Selatan, Indonesia, itu menyampaikan bahwa Hidayatullah lahir dan terus berkembang karena spirit para pendiri.

“Apa spirit tersebut? Tiada lain adalah keyakinan kuat bahwa tantangan ada jalan terbaik membuktikan kebenaran janji-janji dan pertolongan Allah. Maka dan keadaan minim fasilitas, orangtua kita tak pernah kehilangan spirit dalam dakwah,” terangnya mengawali paparan.

Kondisi tersebut menurut Sholeh Usman adalah bagian dari manifestasi sistematika Wahyu, dimana rangkaian awal-awal surah di dalamnya tidak saja dipahami sebatas teoritik, tapi menjadi bagian dari amalan dan karakter hidup.

“Kalau Sistematika Wahyu hanya dikaji dengan pendekatan akademik teoritik, maka sebentar saja itu ulasan akan selesai. Dan boleh jadi kita akan kehabisan bahan,” jelasnya.

“Tetapi, jika Sistematika Wahyu juga diterapkan dan diinternalisasi, maka akan ada dimensi lain yang terus mendorong kita mampu memahaminya secara lebih utuh dan hidup,” tegasnya.

Cara itulah, terangnya, yang nantinya akan membuat jiwa seorang kader tak pernah lari dari tantangan tapi menghadapi dan menikmatinya.

“Nah, ketika itu hidup dalam diri kita, tidak ada lagi itu namanya takut apalagi dari tugas dan tantangan. Karena manusia yang lari dari tantangan perjuangan tidaklah mungkin bisa masuk surga. Bagaimana mau masuk, sabar saja tidak mau. Maunya hidup enak dan nyaman, jelas ini akan dijauhi oleh kader yang benar-benar memahami visi Hidayatullah,” pungkasnya.*/Abu Ilmia

Ketua Umum DPP Hidayatullah Bertemu HRS, Bahas Ijtima’

0

MAKKAH (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nashirul Haq, Lc. MA., mengunjungi Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS) di Makkah, Arab Saudi pada Selasa (4/9/2018).

Pertemuan selama tiga jam tersebut berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.

Dalam silaturahim tersebut, Habib Rizieq banyak bercerita tentang ijtima’ ulama yang penyelenggaraannya sempat diundur dari rencana semula akhir Agustus lalu.

Habib juga banyak menjelaskan soal kondisi umat Islam di Tanah Air dan peran ulama dalam memberikan solusi bagi permasalahan umat.

Nashirul sependapat dengan Habib bahwa Indonesia tak akan bisa dilepas dari ulama. Bahkan peran ulama amat besar ketika Indonesia masih memperjuangkan kemerdekaannya hingga sekarang.

Ulama diharapkan bisa mengawal negara hingga tercipta keadaan baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur (negeri yang baik).

Untuk mencapai itu, kata Nashirul, ormas-ormas Islam harus bekerja sama, bersinergi, dan saling menguatkan.

“Hidayatullah dan FPI sepakat bahwa kita harus bisa saling menerima perbedaan dalam masalah khilafiyah fikhiyah yang sifatnya furu’yah,” jelas Nashirul saat dihubungi Hidayatullah.com Rabu (5/9/2018) pagi.

Salah satu wujud kepedulian ulama kepada bangsa ini adalah diselenggarakannya ijtima’. Khusus menyangkut kepemimpinan negara, para ulama telah menggelar ijtima’ pertama, dan akan kembali menggelar ijtima’ kedua.

Dalam penyelenggaraan ijtima’ kedua kelak, kata Nashirul, para ulama harus betul-betul menimbang manfaat dan mudharat terpilihnya seorang pemimpin bagi perkembangan dakwah Islam di Tanah Air.

“Bila perlu ada komitmen yang jelas dari para pemimpin tersebut,” jelas Nashirul.

Selain itu, ijtima’ mendatang harus mencerminkan persatuan ulama dalam membicarakan hal-hal besar menyangkut bangsa. Persatuan ini mudah-mudahan bisa dicontoh umat agar mereka juga tidak mudah dipecah belah.

Nashirul berharap Habib Rizieq tetap dikaruniai kesehatan oleh Allah Ta’ala dan bisa segera pulang kembali ke Tanah Air.

“Mari kita doakan beliau agar tetap sehat dan istiqomah dalam memperjuangkan Islam,” tutur Nashirul.

Habib sendiri memberi apresiasi kepada Hidayatullah.

“Hidayatullah low profile. Gerakannya smart (cerdas), selalu eksis dan mengakar,” kata Habib Rizieq sebagaimana ditirukan Nashirul.*

Asesor Visitasi ke SMP Integral Al-Hikmah Bulukumba

0

BULUKUMBA (Hidayatullah.or.id) – Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi Sulawesi Selatan melakukan kunjungan pemantauan sekolah ke SMP Integral Al Hikmah Hidayatullah Bulukumba yang memenuhi syarat akreditasi, beberapa waktu lalu.

Dua asesor tersebut, Ishak Shamad dan Hasanuddin, juga mendatangi empat sekolah yang terbagi dua kabupaten lainnya. Dalam kunjungannya itu Ishaq Shamad menuturkan bahwa untuk memenuhi akreditasi harus memiliki delapan standar.

Kedelapan standar itu menyangkut standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian.

“Kedatangan ke Sekolah SMP Integral Al-Hikmah untuk mencocokkan dan menggali data dan informasi yang sesuai penilaian,” ucapnya.

Kepala sekolah SMP Integral Al Hikmah Hidayatullah Bulukumba, Muhammad Firmang, menyambut baik dua aksesor akreditasi sekolah.

“Sekolah ini baru kali ini didatangi asesor, semoga nilai akreditasi memenuhi harapan yang menyejukkan,” kata Firmang.

Sebelum melanjutkan visitasi sekolah sasaran yang lain, para guru dan staff sekolah berfoto bareng asesor.*/ANDI ALFIAN MILYARDO SALASSA

Geliat Dakwah dan Pendidikan Hidayatullah Sriwedari Muntilan

0

MUNTILAN (Hidayatullah.or.id) – Alhamdulillah, Hidayatullah Muntilan terus bergeliat dalam kiprah dakwah dan pendidikan. Salah satu cabang Hidayatullah di Jawa Tengah ini bak magnet yang teguh pada komitmennya memainkan peranan kohesif di tengah masyarakat.

Muntilan sendiri adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang menjadi pusat perdagangan dan jasa di bagian Selatan Kabupaten Magelang.

Dalam sejarahnya, Kecamatan Muntilan diketahui sudah ada sejak peralihan kekuasaan atas Karesidenan Kedu dari Kesultanan Yogyakarta kepada pemerintah kolonial Inggris pada tahun 1812.
Pada awal keberadaannya, kecamatan ini merupakan tempat pemukiman orang Tionghoa. Pada masa Perang Diponegoro, laporan Belanda menyebutkan bahwa salah satu benteng dari proyek Benteng Stelsel dari Jendral De Kock dibangun di kecamatan ini.

Muntilan juga dikenal dengan tokoh pastur Pastur F. van Lith yang pada tahun 1894 memulai penyiaran agama Katolik di sini. Dalam waktu sepuluh tahun van Lith telah berhasil membangun suatu komunitas umat Katolik Jawa.

Seiring waktu, Muntilan terus berkembang menjadi daerah yang penuh harmoni. Selain terdapat situs-situs sejarah seperti seminari dan candi, daerah ini juga terdapat makam Kyai Raden Santri Gunungpring di Desa Gunungpring yang menjadi destinasi wisata reliji.

Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Dusun Ngerangan, Sriwedari, Muntilan, Magelang, ini menjadi salah satu lembaga yang turut berkecimpung membangun kawasan dengan dakwah dan pendidikan sebagai mainstream gerakannya.

Alhamdulillah, kini Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Muntilan telah mengemban amanah menyelenggarakan kegiatan pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) Hidayatullah Khusus Putri dengan program unggulan Tahfidzul Qur’an. (ybh/hio)

Ngaji Bareng Surah Al-Mulk Ayat 3-5: Kesempurnaan Tuhan

SURAH ini Makkiyah (turun di Makkah), ke-77 dalam tartib nuzuli (urutan penurunan) dan ke-67 dalam tartib mushhafi (urutan pencantuman dalam mushhaf Al-Quran), berisi 30 ayat.

 

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ (3)
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”

ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (4)
“Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ (5)
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”

Di antara yang kita ambil sebagai pelajaran:

Sebagaimana nama surah ini, al-Mulk (kerajaan), di sini dipaparkan sebagian gambaran kerajaan alam semesta ciptaan Allah, dan bagaimana ia menjadi bukti keberadaan Penciptanya.

Ayat ketiga diawali dengan “alladzi kholaqo sab’a samaawaatin” (الذي خلق سبع سماوات طباقا) yang menyempurnakan dua kalimat sebelumnya yang juga dibuka dengan “alladzi”, yaitu pada ayat pertama dan kedua: “alladzi bi-yadihil mulku” (الذي بيده الملك) dan “alladzi kholaqol mawta…” (الذي خلق الموت). Ketiga kalimat ini setara dan seluruhnya menjelaskan sifat-sifat Allah.

Setelah menyitir tentang manusia pada ayat kedua, yakni tentang kehidupan dan kematian manusia berikut tujuannya; pada ayat ketiga Allah menyitir ciptaan-Nya yang teragung sesudah manusia yaitu langit dan seisinya.

Manusia adalah ciptaan-Nya yang sangat hebat, demikian pula langit dan seisinya. Bila direnungi dengan hati terbuka, keduanya akan mengantarkan untuk mengenal Allah.

Kata “samaawaat” (سماوات) adalah jamak. Bentuk tunggalnya “samaa'” (سماء), yang makna aslinya: segala sesuatu yang di atas kita. Dalam Al-Quran juga sering disitir “tujuh lapis langit”. Apa hakikatnya? Apakah ini lapisan yang saling berhimpit atau ada ruang antara di antara tiap dua lapisan? Keterangan dari hadis menunjukkan bahwa ada ruang antara. Tapi kita tidak tahu persis batasan tiap lapisan ini.

Lahiriah ayat menyebut “zayyannas samaa’ad dunya” (زيّنّا السماء الدنيا), yakni “Kami hias langit dunia”. Kata “dunia” dalam bahasa Arab berarti yang paling dekat, yakni langit yang terlihat oleh kita dari bumi.

Bila seluruh bintang-bintang itu adalah hiasan untuk langit terendah, padahal kita tahu letak bintang-bintang itu sendiri sangat jauh, tampaknya “tujuh lapis langit” itu adalah sesuatu yang berada di luar daya akal kita untuk sanggup memahaminya.
Atau, lapisan-lapisan langit itu transparan sehingga yang berada di lapisan lain pun bisa terlihat dari bawahnya? Allah lebih tahu hakikatnya.

Siapa pun yang dengan sengaja memperhatikan kesempurnaan penciptaan langit, tidak akan muncul kesan darinya selain kerdilnya dirinya dan keagungan Dzat yang menciptakan langit seisinya.

Keluasan ukuran, keragaman isi, kerumitan hukum, dan keseimbangan sistem di dalamnya sudah akan memicu ketakjuban dan pengakuan bahwa semua ini dirancang dengan seksama oleh kekuatan yang sadar, berilmu, dan sangat kuasa. Tidak ada kebetulan dan ketidaksengajaan pada setiap detilnya. Dari yang terkecil sampai yang terbesar, semua ditempatkan dan ditata sedemikian rupa.

Berapa kali pun kita meneliti setiap jengkal langit, kita tidak akan mendapati cacat, celah, lobang, dan ketidakteraturan di dalamnya.

Kata “hasiir” (حسير) arti aslinya: terjatuh dalam kelelahan tapi tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Kita hanya akan kembali dengan tangan hampa, jika berharap menemukan cela di sana.

Dalam Al-Quran, bintang-bintang diciptakan dengan tiga tujuan. Pertama, sebagai hiasan untuk memperindah semesta (Qs al-Mulk: 5, ash-Shaffat: 6). Kedua, untuk penunjuk arah (Qs an-Nahl: 16, al-An’am: 97). Ketiga, sebagai “peluru” untuk membidik setan/jin yang mencuri dengar berita langit (Qs al-Mulk: 5, al-Hijr: 18).

Setan/jin dibidik dengan pecahan dari bintang-bintang itu, bukan dengan seluruhnya. Dalam surah al-Jinn (72) juga disitir tentang hal ini (ayat 8-10), bahwa dulu mereka punya pos-pos yang mereka duduki di langit, tapi kemudian mereka diusir dengan tembakan-tembakan api yang dahsyat.

Hikmahnya: sebagai rahmat bagi umat Muhammad, agar jin/setan tidak tahu banyak berita-berita langit terkait penduduk bumi, sehingga mereka tidak bisa banyak membisiki dukun dan penyihir yang kemudian menyesatkan manusia dari jalan Allah; sebagaimana pada umat-umat terdahulu.

Anjuran untuk memperhatikan alam semesta dengan maksud merenungi ayat-ayat Allah dan memuji keagungan-Nya. Bertafakkur terhadap alam semesta adalah tradisi para Nabi.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Nabi Ibrahim, sebagaimana disitir dalam surah al-An’am: 75-79. Setelah memperhatikan fenomena terbit dan tenggelamnya bintang, bulan, dan matahari — yang waktu itu disembah kaumnya — beliau kemudian menyadari ada yang lebih pantas disembah, yaitu Pencipta benda-benda langit itu.

Wallahu a’lam.

Suhardi Dorong Pemuda Tekuni Industri Kreatif Digital

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda (Syabab) Hidayatullah Suhardi Sukiman menjadi peserta undangan sosialisasi dan pelatihan program Gapura Digital yang diselenggarakan oleh Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia bekerjasama dengan Google Indonesia.

Acara yang digelar pada Selasa, 28 Agustus 2018 di Ruang Rapat Lantai I Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 7 Jakarta Pusat.

Suhardi Sukiman kepada redaksi seusai acara mengatakan kegiatan sosialisasi tersebut penting untuk menambah pemahaman tentang potensi industri digital khususnya internet.

Karena itu, melalui pintu sinergi yang telah dibukanya tersebut, ia berharap generasi muda khsusunya pemuda Hidayatullah juga aktif mengembangkan kompetensi di bidang tersebut.

Dia pun mendorong pemuda yang punya minat di industri kreatif seperti hobi desain grafis, e-commerce dan sebagainya untuk menekuninya karena potensi ekonominya yang menjanjikan. Selain itu, industri ini juga telah menjadi karakter anak-anak millenial yang digital nomad.

“Saya berharap anak-anak muda Hidayatullah yang memiliki minat di bidang industri kreatif, perlu untuk mengikuti kelas-kelas mentoring yang disediakan. Apalagi ini gratis dengan pemateri yang berkelas di bidangnya,” katanya.

Departemen Ekonomi PP Syabab Hidayatullah pun segera melakukan tindak lanjut terkait peluang tersebut. Diantaranya akan mengutus peserta dalam kelas Pendalaman SEO (Search Engine Optimization & Search Engeni Marketing (SEM) Insya Allah pada 9 September mendatang di Hotel Santika Depok dan beragam kelas lainnya.

Kegiatan Gapura Digital tersebut merupakan pelaksanaan Program Kemitraan Ekonomi Umat yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang bekerjasama dengan Google Indonesia dalam rangka menjajaki pelaksanaan Program Gapura Digital bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang siap untuk membuka peluang usaha ke tingkat selanjutnya melalui digital khususnya di pondok pesantren dan organisasi berbasis keagamaan.

Gapura Digital adalah program yang mendukung Usaha Kecil Menengah Indonesia untuk memajukan bisnis melalui digital. Terdapat serangkaian topik yang lengkap mulai dari tren digital, membangun portal usaha hingga SEO/SEM. Peserta dapat memilih topik yang diinginkan atau ikuti semua kelasnya untuk mendapatkan sertifikat dari Google. (ybh/hio)

Ngaji Bareng Surah Al-Mulk Ayat 1-2: Ujian Hidup dan Keberkahan-Nya

0

SURAH ini Makkiyah (turun di Makkah), ke-77 dalam tartib nuzuli (urutan penurunan) dan ke-67 dalam tartib mushhafi (urutan pencantuman dalam mushhaf Al-Quran), berisi 30 ayat.

Ayat 1-2

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِير (1) الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (2)
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Di antara yang kita petik darinya:

Dalam Al-Quran, ayat di permulaan surah biasanya menjadi pengikat tema dari ayat-ayat selanjutnya; meski tidak selalu begitu. Al-Quran itu khas, disusun tidak seperti buku-buku karangan manusia. Seluruh surah ini akan menegaskan apa yang dinyatakan pada permulaannya.

“Tabaaroka” memiliki beberapa makna: maha suci, maha tinggi, pemberi barokah. Ketiganya merupakan sifat Allah.

Seluruh kerajaan semesta ada di tangan-Nya. Segenap kekuasaan manusia, dalam level mana pun, pada dasarnya ada dalam kuasa-Nya. Allah-lah yang menaikkan dan menurunkan, menjatuhkan dan menampilkan. Tidak ada yang lepas dari kuasa dan kehendak-Nya.

Kuasa Allah mencakup segala sesuatu, efektif tanpa batasan apa pun, beda dengan kuasa kita. Kuasa dan wibawa presiden suatu negara bisa tidak berarti apa-apa di hadapan suku terasing yang tidak mengenalnya, atau di luar wilayah negaranya.

Perintah bos bisa efektif di bidangnya, tapi ketika di parkiran ia tunduk kepada aba-aba tukang parkir. Kita bisa saja kehilangan kuasa samasekali, tetapi Allah tidak.

“Dia menciptakan kematian dan kehidupan…”, di sini kematian disebut lebih dahulu karena hanya kematian yang bisa membuat manusia takut dan mempersiapkan akhirat. Adapun perasaan bahwa kehidupan masih panjang dan lapang, seringkali membuatnya lalai.

Makna lain: Allah menciptakan kehidupan untuk menguji kalian, dan menciptakan kematian untuk membalas amal perbuatan kalian semasa hidup. Pernyataan “supaya Dia menguji kamu” di sini terkait kehidupan. Bahwa, hidup ini ujian, bukan pesta kelulusan. Ada orang-orang yang gagal paham atas realitas ini. Mereka tidak sibuk “mengerjakan soal-soal ujiannya” atau “belajar untuk menyiapkan diri menyongsong ujian”, akan tetapi malah sibuk berpesta-pora seperti orang yang telah lulus ujian. Inilah yang disebut “ghurur” (ketertipuan) dan “ghoflah” (kelalaian). Kelak, mereka akan terkejut mendapati lembar nilainya kosong dan catatan rapornya penuh pelanggaran dan angka merah! Na’udzu billah.

“Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”, adalah kalimat tanya yang menggantung. Jawabannya ada di tangan kita, para peserta ujian kehidupan ini. Allah tidak memastikan orang per orang, tapi hanya menggambarkan sifat orang yang lulus dan merinci kriteria-kriterianya.

Ujian hidup ini fair, tanpa kecurangan dan tidak bisa direkayasa. Kisi-kisi soalnya sudah disebarkan melalui Al-Quran, dan bimbingan belajarnya sudah diberikan oleh tentor terbaik, Nabi Muhammad, melalui Sunnahnya. Kurang apa lagi?

“Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”, merupakan warning sekaligus hiburan. Seimbangkanlah keduanya di dalam hati. Di satu sisi, kita diperingatkan agar tidak sembrono di hadapan seluruh kuasa dan keperkasaan-Nya.

Jangan mimpi bisa melawan dan menipu Allah. Di sisi lain, kita dihibur dengan ampunan-Nya yang teramat lapang. Allah tahu kelemahan dan kebodohan kita, sehingga sering patah semangat dan malas, bahkan ambruk dan terjerumus dosa. Kembalilah ke jalan Allah, karena pintu ampunan-Nya begitu luas.

Wallahu a’lam.

Bupati Pinrang Irwan Apresiasi Kontribusi Hidayatullah untuk Pembangunan Bangsa

0

PINRANG (Hidayatullah.or.id) – Kabupaten Pinrang menjadi tuan rumah Silaturrahim Dai Hidayatullah se-Sulawesi Selatan yang diselenggarakan di bilangan Parengki, Pantai Lowita, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Ahad (26/8/2018).

Pada kesempatan tersebut, hadir H.A.Irwan Hamid dan H. Alimin yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pinrang sebagai Bupati-Wakil Bupati Pinrang terpilih dalam Pilkada Serentak lalu.

Keduanya menghadiri tabligh akbar Silaturrahim Dai Hidayatullah se-Sulawesi Selatan tersebut sekaligus melakukan peresmian Rumah Quran Pustaka Hidayatullah Parengki.

Dalam sambutannya, Bupati Pinrang terpilih ini menuturkan rasa bahagianya dapat menghadiri acara tersebut. Setalian dengan itu ia mengapresiasi kontribusi Hidayatullah dalam pembangunan bangsa khususnya di Pinrang.

“Alhamdulillah sebagai bupati saya bersyukur karena Hidayatullah telah berkontribusi mengambil bagian dari apa yang menjadi agenda program pemerintah dalam keagamaan,” ucapnya.

Senada dengan itu, Wakil Bupati terpilih, H.Alimin menyampaikan, apa yang dilakukan Hidayatullah di tempat ini adalah bagian dari kontribusi untuk bangsa dan negara terkhusus di kabupaten Pinrang.

“Selaku pemerintah daerah, menjadi bagian dari perhatian khusus kami untuk berkembangnya Hidatullah di Pinrang,” kata Alimin.

Silaturrahim Dai Hidayatullah se-Sulawesi Selatan ini dihadiri pengurus organisasi, badan/amal usaha dan kader Marhalah Wustha
Hidayatullah se-Sulawesi Selatan.

Pertemuan ini juga sekaligus dalam rangka konsolidasi organisasi sebagai upaya untuk mengoptimalkan persiapan mengikuti Silaturahim
Nasional (Silatnas) III Hidayatullah di Balikpapan, bulan November mendatang.*/ANDI ALFIAN MILYARDO SALASSA